• Tidak ada hasil yang ditemukan

WARNA DAN MAKNANYA DALAM KEHIDUPAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "WARNA DAN MAKNANYA DALAM KEHIDUPAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Yusuf Hilmi Adisendjaja

WARNA DAN MAKNANYA DALAM KEHIDUPAN

Dibacakan pada Seminar Sehari Bersama Alam II diselenggarakan oleh BEM FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia

24 Mei 2003

Oleh:

Yusuf Hilmi Adisendjaja

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN

ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2003

(2)

I. PENDAHULUAN

Warna memiliki makna dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan organisme. Bukan hanya manusia tetapi juga binatang dan tumbuhan berkepentingan dengan warna. Manusia dapat memanfaatkan warna baik untuk berbagai kepentingan kehidupan sehari-hari maupun untuk menggali ilmu dan pengetahuannya. Warna dapat dilihat oleh manusia dan beberapa kelompok binatang karena adanya alat indera penglihatan.

Dalam kehidupan sehari-hari warna sering digunakan untuk menarik perhatian misalnya di dalam dunia perdagangan, periklanan digunakan kombinasi warna agar suatu produk menjadi menarik. Lampu pengatur lalu lintas juga menggunakan warna. Militer menggunakan kombinasi warna agar dapat mengaburkan penglihatan musuh. Bahkan warna dan kombinasinya dapat mempengaruhi situasi seperti menimbulkan rasa tenang, membangkitkan suasana gembira, murung, sedih dan marah. Manusia menggunakan warna pakaian agar dapat menarik perhatian, bahkan kombinasi warna yang digunakan untuk merias wajahpun yang sering digunakan perempuan dimaksudkan agar kelihatan tambah cantik dan menarik.

Dahulu orang memilih warna hanya berdasarkan kepada perasaannya saja, tetapi masa sekarang dengan kemajuan teknologi memilih warna merupakan pengetahuan tersendiri yang dilakukan dengan percobaan-percobaan di laboratorium sehingga dapat menghasilkan warna dan kombinasinya yang hampir tak terbatas jumlahnya.

Di dalam teori warna dikenal istilah warna dasar yang terdiri dari merah, kuning dan biru, warna ini disebut dengan warna primer. Selain istilah tersebut dikenal juga warna sekunder, warna tersier, lingkaran warna, hue, warna monokromatis, warna analog, warna komplementer dan warna kontras. Warna-warna tersebut sering dipilih oleh manusia untuk memenuhi “rasa” yang dimiliki dan diinginkannya. Bagaimana dengan warna di alam atau dalam dunia kehidupan?

Keindahan warna di alam dan kombinasinya serta pola-pola warna jauh lebih tak terbatas. Keindahan warna di alam sering dituangkan oleh para seniman dalam suatu lukisan atau sebuah nyanyian, seperti lagu pelangi. Namun demikian tetap saja tidak akan pernah seindah warna aslinya walaupun ada sebuah iklan yang memiliki slogan

seindah warna aslinya. Di alam sering ditemui warna-warna mencolok, lembut dan

(3)

pada saat tertentu dan juga yang dimiliki tumbuh-tumbuhan dapat merupakan tanda peringatan bagi musuhnya atau daya tarik bagi organisme lain. Apakah warna dan pola warna yang dimiliki hewan dan tumbuhan tersebut merupakan suatu kebetulan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ahlipun masih bertentangan, ada yang berpendapat bahwa hal tersebut terjadi secara kebetulan dan tidak mempunyai tujuan, tetapi ahli lain menyangkal hal tersebut bahwa setiap titik, setiap garis, dan setiap pola yang sekecil-kecilnyapun memiliki fungsi tertentu. Pendapat terakhir inipun sekarang semakin berkembang karena ditunjang oleh bukti-bukti ilmiah. Mustahil Alloh, S.W.T.

menciptakan sesuatu tanpa ada gunanya. Sekarang, marilah kita tinjau warna dan

(4)

II. WARNA DALAM DUNIA KEHIDUPAN

A. Mata pada Manusia dan Hewan.

Mata merupakan indera penglihatan sehingga manusia dapat melihat segala sesuatu termasuk melihat warna. Mata memiliki beberapa bagian, diantaranya bola mata. Bola mata memiliki tiga lapisan, yaitu sclera, choroid, dan retina. Di sini tidak akan dibicarakan tentang anatomi mata secara menyeluruh tetapi hanya akan dibahas tentang bagian mata yang berperan dalam melihat warna, yaitu retina.

Retina memiliki 10 lapisan, tebalnya kira-kira 0,5 mm. Lapisan paling luar tersusun atas sel epitel yang memiliki pigmen melanin. Lapisan epitel berpigmen ini langsung berhubungan dengan choroid. Fungsi dari lapisan pigmen ini untuk mencegah pemantulan cahaya melalui mata. Albino, tak mampu membentuk pigmen melanin karena kelainan genetik termasuk kurangnya pigmen pada lapisan epitel berpigmen pada retina. Akibatnya, cahaya setelah melalui retina tak dapat diabsorbsi, tetapi dipantulkan ke semua arah melalui mata sehingga bayangannya menjadi tak jelas. Pada orang albino penglihatannya menjadi dua sampai tiga kali kurang jelas dibanding orang normal. Berikutnya adalah lapisan sel-sel batang dan sel-sel kerucut (rods dan cones). Kedua sel ini merupakan sel-sel yang peka terhadap cahaya, jumlahnya kira-kira 7 juta sel kerucut dan beberapa ratus juta sel batang. Keduanya tersebar merata di dalam retina. Sel-sel batang tersebar di bagian perifer (tepi, samping) dari retina dan dirangsang oleh cahaya redup oleh karena itu penting untuk melihat pada saat cahaya redup dan dalam gelap. Bagian eksternal dari sel batang memiliki pigmen rhodopsin (visual purple) yang akan memudar karena ada cahaya dan akan menghasilkan sensasi cahaya. Sel-sel kerucut sebagian besar terletak di

fovea centralis atau disebut juga macula lutea. Bagian ini kira-kira 4 mm dari arah bintik buta (blind spot). Sel-sel kerucut mengandung iodopsin. Sel kerucut hanya

dapat dirangsang oleh cahaya terang dan ini penting untuk melihat pada saat terang dan untuk melihat warna.

Sel-sel batang dan kerucut dihubungkan dengan sel saraf pada retina. Di bawah sel-sel photoreceptor ini terdapat lapisan sel saraf bipolar yang di bagian dalamnya terdapat ganglion sel saraf. Sel batang dan sel kerucut terdapat di bagian luar sedangkan sel-sel ganglion (lapisan sel saraf) terdapat di bagian dalam membentuk

(5)

lapisan retina bagian dalam yang bergabung dengan vitreous humor. Cahaya yang jatuh pada retina akan melalui vitreous humor harus melalui semua lapisan untuk mencapai photoreceptor. Serabut lapisan ganglion sel saraf akan membentuk saraf mata

1. Penglihatan Warna (Color Vision)

Kemampuan melihat warna dapat dilakukan oleh semua hewan vertebrata tetapi tidak bersifat universal. Adanya sel-sel kerucut atau pigmen pada retina tidak berarti bahwa hewan tertentu ada dalam posisi untuk menanggapi warna. Kebanyakan hewan Teleostei, reptilia dan kebanyakan burung (Aves) dapat melihat warna, sedangkan pada Amphibia diragukan. Pada mammalia kemampuan melihat warna sangat berkembang seperti pada manusia dan primata, sedangkan pada hewan nokturnal seperti kucing, anjing dan yang lainnya tidak dapat mempersepsi warna dan sel-sel batang mendominasi retina. Demikian halnya dengan hewan yang hidup di laut yang dalam sel-sel batang mendominasi Sebaliknya sel kerucut sangat melimpah pada hewan yang aktif di siang hari.

Sel-sel batang pada vertebrata sangat sensitif terhadap intensitas cahaya rendah oleh karena itu dipercaya lebih dapat membedakan keadaan terang dan gelap dibanding membedakan warna. Sel-sel kerucut memiliki rentang yang lebih tinggi terhadap cahaya. Sel kerucut lebih berfungsi hanya dalam cahaya terang dan berfungsi pula sebagai reseptor warna. Pada hewan vertebrata ada tiga tipe sel kerucut, masing-masing sangat sensitif terhadap warna tertentu, seperti merah, hijau dan biru. Sensasi terhadap warna antara dipersepsi oleh stimulasi oleh ketiga tipe sel kerucut dengan tingkatan yang berbeda. Teori: The Young Helmholtz Trichomatic merupakan teori yang paling banyak diterima untuk penglihatan warna.

Keberadaan penglihatan warna juga telah ditunjukkan pada hewan tingkat rendah dengan observasi perilaku setiap takson dan mengembangkan refleks kondisi. Contoh lebah dapat membedakan empat warna, yaitu merah-kuning-hijau (6500 – 5300 A°) dan biru-hijau (5100-4800 A°), biru-violet (4700-4000 A°), dan ultraviolet (4000-3000 A°). Beberapa insekta nokturnal tak mampu melihat warna.

Penglihatan warna dapat ditunjukkan dengan demonstrasi berikut: Simpan seekor ayam di ruangan gelap dan taburkan beras di sekitarnya. Sinari ruangan dengan

(6)

dengan warna tertentu. Ayam akan mematuk beras dalam cahaya merah, kuning, dan hijau, tetapi tak akan mematuk pada cahaya biru. Hal ini berarti ayam tak mampu melihat cahaya biru dan oleh karena itu dikatakan buta dalam warna biru. Hal yang sama dapat dilakukan juga terhadap lebah madu yang tidak sensitif terhadap warna merah.

Zat warna yang ada pada kulit sangat berguna untuk menahan cahaya ultra violet dari sinar matahari yang dapat merusak jaringan kulit. Bila terlalu lama berjemur di bawah sinar matahari warna kulit akan menjadi lebih gelap. Di lain pihak ada sejenis ikan dan salamander yang hidup di dalam gua yang gelap tak memiliki warna sama sekali. Warna putih dengan sedikit kemerah-merahan disebabkan oleh warna darah yang ada di permukaan kulit. Jika hewan tersebut dipelihara di akuarium di bawah sinar matahari, setelah beberapa hari akan timbul bintik-bintik warna coklat kehitaman di bagian tubuh yang terkena sinar matahari. Hal ini dan juga yang kita alami jika sering terkena sinar matahari dapat terjadi karena adanya pembentukan pigmen.

Pada umumnya yang berwarna itu hanya bagian-bagian yang terkena cahaya matahari. Cahaya matahari akan merangsang pembentukan pigmen di dalam kulit sedangkan lingkungan yang gelap mengakibatkan binatang menjadi tidak berwarna. Selain tidak berwarna, binatang yang hidup di gua juga tak mampu melihat warna. Berkaitan dengan hal tersebut ada aturan yang cukup berlaku umum tetapi tentu ada pengecualian-pengecualian. Aturan tersebut adalah aturan Gloger, yang berbunyi:

Pada species hewan yang homoeoterm (berdarah panas), pigmen hitam meningkat di habitat yang hangat dan lembab, pigmen kuning kecoklatan dan merah sangat umum di habitat iklim kering, dan pigmen akan berkurang di daerah beriklim dingin.

Secara umum dapat dikatakan bahwa warna hanya dapat terlihat pada bagian-bagian yang terkena cahaya matahari saja.

2. Warna sebagai Sistem Pertahanan

Suatu hewan akan tampak tidak jelas bagi pemangsanya atau predatornya jika warna tubuh hewan sesuai dengan latar belakang habitatnya atau memiliki pola warna yang dapat mengaburkannya atau menyerupai lingkungannya yang tak dapat dimakan. Apa yang dilakukan militerpun meniru apa yang terjadi di alam. Contoh:

(7)

Pewarnaan kripsis (Crypsis) ditunjukkan oleh belalang dan ulat, warna tembus cahaya (transparency) dari kebanyakan hewan plankton (zooplankton) yang hidup di permukaan laut dan danau. Contoh yang paling menakjubkan adalah contoh ikan sargassum, tubuh ikan ini menyerupai ganggang sargassum, banyak hewan invertebrata yang menyerupai ranting, daun dan bagian bunga, ulat viceroy butterfly (Limenitis archipppus) yang menyerupai kotoran burung. Hewan-hewan kripsis bersifat dapat dimakan (palatable), tetapi morfologi dan warna (dan pilihan latar belakangnya) mengurangi kemungkinan digunakan sebagai sumber.

Adanya pola warna tertentu , bercak-bercak atau pola pewarnaan tubuh yang menyebabkan hewan sangat mirip dengan corak latar belakang lingkungan yang ditempatinya disebut kemiripan protektif.

Pewarnaan disruptif, jika pola pewarnaan kriptik yang bentuknya sedemikian rupa sehingga memberikan kesan visual terputus-putus atau terpisahnya gambaran menyeluruh tubuh hewan.

Pewarnaan obliteratif, bagian dorsal tubuhnya yang terdedah pada cahaya berwarna lebih gelap karena mengandung pigmen yang lebih banyak sedang bagian ventral yang tidak terkena cahaya berwarna lebih terang.

Kemiripan agresif, jika warna atau bentuk tubuh hewan sangat menyerupai obyek tertentu seperti daun, bunga, atau ranting.

Pewarnaan aposematik (peringatan). Pewarnaan kripsis merupakan strategi pertahanan organisme yang dapat dimakan, sedangkan hewan yang beracun atau berbahaya sering menampakkan pola dan warna yang jelas dan mencolok (terang) misal kuning-hitam, atau hitam mengkilat atau hijau terang. Pewarnaan aposematik biasa disertai dengan zat toksik yang dapat dikeluarkan atau dikandung oleh tubuhnya sehingga tidak bersifat palatable bagi predatornya. Kupu-kupu monarch (Danaus plexipus) memiliki pewarnaan aposematik selain memiliki pertahanan secara kimia dengan kardiak glikosid. Burung yang mencoba memakannya akan selalu mengingatnya bahwa kupu-kupu tersebut tak dapat dimakan. Hal yang dapat diingatnya adalah pola warna. Contoh lain ular hijau atau ular weling yang memiliki bisa yang mematikan.

(8)

Pewarnaan deflektif, jika hewan memiliki suatu bercak yang mencolok pada bagian tubuh yang relatif kurang penting dengan maksud untuk mengelabui musuhnya, misal bercak menyerupai mata pada sayap kupu-kupu atau sirip pada ikan.

Mimikri, merupakan bentuk adaptasi struktural yang khas yang ada kaitannya dengan warna. Ada dua jenis mimikri, yaitu mimikri Batesia dan mimikri Muleria.

Mimikri Batesia, jika spesies mimik (yang meniru) menjadi sangat serupa dengan species lain yang tidak palatable, yang memperlihatkan pewarnaan aposematik serta populasinya melimpah sebagai model. Species mimik mendapat keuntungan keserupaan morfologi ini karena hewan predator telah belajar dari pengalaman pahit memangsa species model yang tidak palatabel dan akan menghindari species mimik. Efektifitas mimikri Batesia akan berkurang bila kelimpahan species mimik meningkat menyamai atau melebihi kelimpahan species model.

Mimikri Muleria, jika species mimik dan species model keduanya bersifat tidak palatabel, sehingga hewan predator berpeluang untuk belajar dengan lebih cepat untuk menghindari kedua species mimik dan model.

3. Pola Warna sebagai Tanda Pengenal

Biasanya warna pada hewan itu berkelompok merupakan suatu pola. Sering kita lihat berupa titik-titik, garis memanjang atau melingkar pada tubuh yang tujuannya belum jelas. Pola warna tersebut disebut pola warna primitip, contohnya pada antilop dan ikan sirip jambul. Pola warna ini muncul sejak pertama kali hewan tersebut muncul jutaan tahun lalu dan masih kita jumpai seperti sekarang pada beberapa jenis ikan. Anehnya pola primitip muncul pada beberapa jenis hewan muda dan akan hilang pada saat menjelang dewasa, misalnya pada anak celeng, anak tapir, anak burung emu.

Pola warna yang lebih maju memiliki bentuk dan warna yang khas, biasanya bagian kepala dan badan bagian belakang memiliki warna yang lebih terang dibanding bagian lain yang memiliki warna yang khas pula. Bagian kepala dan badan bagian belakang merupakan bagian yang pertama kali tampak jika bertemu dengan binatang lain. Pengenalan sesama jenis, sahabat atau musuh umumnya ditentukan pada pertemuan pertama tersebut.pertama. Pada beberapa jenis binatang walaupun hidup di daerah yang sama atau hubungan kekerabatannya sangat dekat tidak akan

(9)

mengadakan perkawinan. Hal ini disebabkan karena perbedaan pola warna pada kepala. Dengan demikian pola warna pada bagian kepala atau bagian lainnya merupakan tanda pengenal untuk melakukan atau tidak melakukan perkawinan. Contoh pada kera ayun dari Amerika Selatan dan kera lampai dari Sumatera. Keduanya merupakan contoh pola warna yang maju.

Contoh tanda yang khas sebagai tanda pengenal antar jenis dalam satu golongan hewan banyak ditemukan pada hewan, banyak jenis bebek yang mudah dikenali karena memiliki warna tertentu pada sayapnya yaitu yang disebut cermin. Burung pinguin memperlihatkan perbedaan warna bulu pada kepalanya.

Tenggorokan anak burung memiliki pola warna yang mencolok agar mudah dikenali oleh induknya pada saat akan memberikan makan. Hal ini dapt didemonstrasikan dengan membuat tenggorokan tiruan dari kertas yang diberi warna maka induk akan menyuapi mulut tiruan.

Contoh pola warna pada kepala ada pada burung rangkong. Burung ini memiliki pembuluh pada lehernya yang mengeluarkan lemak kuning. Dengan cara menggosok-gosokkan paruhnya ke lehernya maka pembuluh lemak tadi akan menjadi kuning.

Bagian belakang binatang juga sangat penting bagi kehidupan binatang yaitu saat perkawinan. Hal ini dapat dijumpai pada kera Afrika dan Asia. Kera Mandril Afrika baik yang jantan maupun yang betina memiliki pantat yang berwarna merah dan biru tua. Pada kera Lampung betinanya mempunyai pantat yang berwarna merah dan inipun hanya pada saat berbiak saja.

Bagian belakang badan yang berwarna putih pada banteng, antilop, rusa dan kelinci luar, disebut dengan cermin. Hal ini dimaksudkan agar bila ada bahaya akan tampak pada cermin dan bila pemimpinnya lari maka anak-anaknya yang ada di belakang induknya akan berlari mengikuti cermin induknya. Dengan demikian binatang muda akan selalu ada di dekat induknya dan pengawasan induknya. Kita bisa melihat anak rusa di taman akan mengikuti gerak sepeda yang spatbor bagian belakangnya berwarna putih.

(10)

4. Pola Warna Pembeda Jenis kelamin

Pada kebanyakan binatang sukar sekali untuk membedakan jenis kelaminnya. Secara kasar dapat dikatakan bahwa binatang jantan memiliki gaya menyerang sedanghkan yang betina memiliki sifat lebih diam. Pada umumnya binatang jantan memiliki warna yang lebih mencolok dan lebih indah daripada betinanya yang kurang bervariasi dan agak suram. Contoh pada ayam dan cenderawasih. Untuk hewan yang jelas perbedaan antara jantan dan betinanya tidaklah sulit, tetapi pada hewan yang tidak jelas perbedaan jenis kelaminnya agak sulit. Dengan adanya pola warna yang berbeda maka akan lebih mudah membedakannya. Hal ini terutama terjadi pada kelompok burung. Namun demikian pada jenis ikanpun dapat dijumpai misalnya, ikan sepat siam jantan pada musim berbiak memiliki warna yang lebih

mencolok.

Ayam hutan jantan memiliki warna lebih mencolok dibanding betinanya yang berwarna suram kelabu. Kasuari Afrika baik jantan maupun betinanya mengerami telurnya, betina yang berwarna kelabu mengeram pada waktu siang hari sedang yang jantan berwarna agak tua kehitaman mengeram pada malam hari. Hal ini dilakukan agar tidak tampak jelas oleh musuhnya. Mengapa pola warna hewan jantan lebih mencolok. Hal ini karena hewan betina lebih suka kawin dengan hewan jantan yang lebih indah bulunya.

5. Kamuflase

Kemiripan warna dengan latar belakang tempat hidupnya. Maksudnya agar terhindar dari serangan musuhnya. Hewan yang hidup di daerah bermusim dingin dan musim panas memiliki kemampuan mengubah warna tubuhnya sejalan dengan perubahan musim. Misalnya kelinci salju dan rubah kutub, pada musim panas memiliki warna kelabu pirang, sedangkan pada musim dingin warnanya berganti menjadi putih bersih.

Pada serangga banyak sekali ditemui kamuflase: Kupu-kupu kalima memiliki sayap bentuk daun, Belalang ranting berjalan mirip dengan ranting, belalang lain memiliki sayap berwarna hijau dan lebar menyerupai daun. Di padang pasir dan padang rumputpun banyak terjadi kamuflase, seperti pada rubah, hyena, singa, rusa, burung kasuari Afrika, burung emu, burung puyuh, kadal, ular dan banyak serangga.

(11)

Di hutan tropik lebih banyak lagi, karena batang pohon yang beraneka warna, mulai kelabu, pirang sampai yang hitam. Daun dan bunga yang beraneka ragam ditambah gerakan dan bayang-bayang karena sinar matahari merupakan habitat yang sangat tepat untuk mencari contoh kamuflase, mulai berbagai jenis burung, kadal, ular, kupu-kupu, bahkan harimau

(12)
(13)

WARNA DALAM DUNIA KEHIDUPAN

A. BINATANG

1. PENGLIHATAN WARNA



VERTEBRATA:



TELEOSTEI, REPTILIA DAN AVES

DAPAT MELIHAT WARNA

,



AMPHIBIA DIRAGUKAN



MAMMALIA BERKEMBANG:

MANUSIA DAN PRIMATA



AYAM MAMPU MELIHAT CAHAYA

MERAH, KUNING, DAN HIJAU,

TETAPI TAK AKAN MEMATUK PADA

CAHAYA BIRU



HEWAN NOKTURNAL: KUCING,

ANJING DAN YANG LAINNYA TIDAK

DAPAT MEMPERSEPSI WARNA



HEWAN LAUT DALAM: SEL-SEL

BATANG MENDOMINASI



SEL KERUCUT SANGAT MELIMPAH

(14)



SEL BATANG (RATUS JUTA)

MELIHAT PADA SAAT CAHAYA

REDUP DAN DALAM GELAP



SEL KERUCUT (7 JUTA) PENTING

UNTUK MELIHAT SAAT TERANG

DAN WARNA



HEWAN TINGKAT RENDAH



LEBAH DAPAT MEMBEDAKAN EMPAT

WARNA, YAITU

MERAH-KUNING-HIJAU (6500 – 5300 A

°°°°

), BIRU-HIJAU

(5100-4800 A

°°°°

), BIRU-VIOLET (4700-4000

A

°°°°

), DAN ULTRAVIOLET (4000-3000 A

°°°°

).



LEBAH MADU TIDAK SENSITIF

TERHADAP WARNA MERAH



BEBERAPA INSEKTA NOKTURNAL

TAK MAMPU MELIHAT WARNA.

2. FUNGSI WARNA

a. SISTEM PERTAHANAN



PEWARNAAN KRIPTIK



KEMIRIPAN PROTEKTIF



PEWARNAAN DISRUPTIF



PEWARNAAN OBLITERATIF



KEMIRIPAN AGRESIF



PEWARNAAN APOSEMATIK

(PERINGATAN)

(15)

b. POLA WARNA TANDA PENGENAL

c. POLA WARNA PEMBEDA JENIS KELAMIN

d.

KAMUFLASE

B. TUMBUHAN

1. JENIS PIGMEN:



KHLOROFIL (HIJAU), WARNA DASAR



KAROTEN (JINGGA), PENCERAH &

PENGAWET



XANTOFIL (KUNING)



FUKOSANTIN (COKLAT)



FIKOERITRIN (MERAH)



FIKOSIANIN (BIRU)



ANTOSIANIN (MERAH DAN BIRU), Pigmen

penghias



VIOLANIN (UNGU)

2. FUNGSI:

a. PIGMEN UNTUK FOTOSINTESIS (khlorofil

dan karoten)

b.

BERPERAN DI DALAM PENYERBUKAN

DAN PENYEBARAN BIJI

c. PENARIK SERANGGA DAN HEWAN LAIN

KARENA WARNA YANG MENARIK

(16)

SIFAT:

1. MAMPU MENYERAP CAHAYA PADA

FOTOSINTESIS, KHLOROFIL DAN

KAROTENOID (KAROTEN DAN XANTOFIL)

2. KAROTENOID TAHAN TERHADAP PROSES

PENCERNAAN DAN MERUPAKAN SUMBER

VITAMIN A

3. DIPENGARUHI OLEH pH, e.g: antosianin dengan

basa menjadi biru. Bunga Hydrangea di tanah

bersifat asam berwarna merah muda, di tanah

dengan pH basa berwarna biru.

4. ANTOSIANIN MEMILIKI RENTANG WARNA

PALING BERAGAM DARI MERAH JAMBU

SAMPAI BIRU, JUGA PUTIH e.g: African violet

5. MENGALAMI PERUBAHAN MUSIMAN DI

DAERAH TEMPERATA

Karena sintesis khlorofil menurun selama musim

gugur dan pemecahan khlorofil terus berlangsung,

karoten dan xantofil yang tadinya tertutup muncul

ke permukaan. Perubahannya:

hijau-kuning-kuning keemasan karena ada tanin.

Warna merah karena antosianin. Antosianin

meningkat jika banyak tersedia karbohidrat di

daun.

(17)

C. GENETIK WARNA

1. WARNA DITENTUKAN SECARA GENETIK

(MELANIN PADA RAMBUT, MATA DAN

KULIT MANUSIA DAN BINATANG)

Misal: Rambut hitam dan coklat tua oleh genotip

BB, rambut putih (blonde) genotip bb, albino

bergenotip aa.

Gen yang menentukan warna rambut dan mata

berbeda.

Rambut merah memiliki pigmen merah sehingga

diperlukan dua pasang gen, yaitu B-b dan R-r.

Kombinasi pasangan genotipnya adalah:

BBRR = rambut perang (hitam kemerahan)

BbRr = rambut putih kemerahan (arbei)

BbRR = rambut merah menyala

BbRr = rambut merah

2. DIPENGARUHI OLEH PROSES

METABOLISME

3. DIPENGARUHI OLEH KONDISI

LINGKUNGAN

e.g: Orang berambut merah yang bekerja di

tambang tembaga berubah menjadi hijau, tetapi

tidak terjadi pada rambut hitam dan coklat

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,