I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. fungsi fonetik, mastikasi, dan estetik (Jubhari, 2007). Hal tersebut dapat

Download (0)

Full text

(1)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

Kehilangan gigi biasa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain trauma, karies, dan penyakit periodontal. Kehilangan gigi akan menyebabkan gangguan fungsi fonetik, mastikasi, dan estetik (Jubhari, 2007). Hal tersebut dapat menimbulkan dampak emosional bagi setiap individu misalnya rasa kurang percaya diri atau merasa malu akan penampilannya. Selain itu, kehilangan gigi geligi juga mengakibatkan berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas pengunyahan dan berbicara serta dapat mempengaruhi estetis (Wulan, 2013).

Terdapat berbagai pilihan dalam melakukan perawatan di bidang kedokteran gigi untuk kehilangan gigi sebagian, seperti gigitiruan sebagian lepasan, gigitiruan cekat dan implan. Gigitiruan sebagian lepasan dijadikan pilihan perawatan sejak beberapa dekade yang lalu setelah ditemukan resin akrilik dan logam, sebagai bahan restorasi gigi (Thakral dkk., 2012).

Resin Akrilik mulai diperkenalkan sebagai basis gigitiruan pada tahun 1937 dan kemudian digunakan secara luas dalam bidang Kedokteran Gigi sejak tahun 1946 (Craig, 1997). Resin akrilik terdiri dari serbuk dan cairan. Cairan dan bubuk diaduk dengan proporsi yang tepat, diperoleh masa yang dapat dibentuk dan dimasukkan ke dalam rongga cetakan (Anusavice, 1996).

Pada tahun 1940an, 95% bahan basis gigitiruan terbuat dari resin akrilik dan populer hingga saat ini (Tandon dkk., 2010). Resin akrilik mempunyai keunggulan yaitu mudah diolah, konduksi panas yang baik, permeabilitas yang rendah pada cairan rongga mulut, mempunyai stabilitas warna, dapat dipolis dan

(2)

cukup kaku. Tetapi pada beberapa pasien, resin akrilik terbukti mempunyai sifat alergi oleh karena monomer residual (Takabayashi, 2010). Selain itu, menurut Salman dan Saleem (2011) resin akrilik polimerisasi panas memiliki sifat mudah fraktur.

Selama beberapa tahun, dokter gigi kembali ke teknik tradisional gigitiruan sebagian lepasan logam untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan edentulous sebagian. Namun gigitiruan logam ini sering rapuh dan kaku, menyebabkan iritasi jaringan, memiliki insiden patah yang lebih tinggi, memiliki dukungan logam dan clasps yang buruk. Dengan kemajuan terbaru dalam hal bahan, gigitiruan fleksibel memberikan pilihan yang layak untuk merawat berbagai kondisi edentulous (Levin, 2002; Prashanti dkk., 2010).

Thermoplastic nylon lebih banyak dipilih sebagai bahan basis gigitiruan karena mempunyai banyak keuntungan, diantaranya estetik baik, mempunyai elastisitas tinggi, serta tahan terhadap fraktur (Saied, 2011). Bahan thermoplastic nylon memiliki keuntungan lebih tipis dibanding dengan resin akrilik sehingga nyaman digunakan dan memiliki efek menyerap tekanan sehingga dapat melindungi jaringan yang masih ada (Billmayer, 1984). Fleksibilitas thermoplastic nylon membuat bahan ini dapat beradaptasi dengan konstan dan fleksibel dalam rongga mulut serta tidak menyebabkan alergi seperti pada resin akrilik (DiTolla, 2004). Fleksibilitas bahan thermoplastic nylon memberi efek stress-breaker sehingga mengakibatkan jaringan gingiva distimulus secara perlahan selama proses pengunyahan dan dapat mengurangi tekanan yang tidak diinginkan pada gigi asli yang masih ada (Negrutiu dkk., 2005).

(3)

Menurut Stern (1964), penggunaan thermoplastic nylon sebagai bahan basis gigitiruan telah dibahas pada literatur tahun 1950 walaupun tidak direkomendasikan untuk penggunaan umum pada saat itu. Beberapa kerugian yang dilaporkan mengenai bentuk awal thermoplastic nylon adalah kerentanan warna basis bahan untuk berubah, mengalami stain, penyerapan air yang tinggi dan pembentukan kekasaran permukaan. Thermoplastic nylon akan mengalami kejenuhan dalam penyerapan air setelah direndam ke dalam air selama 7 hari dengan suhu 37˚C (Power dan Sakaguchi, 2006).

Kopi merupakan minuman yang tidak hanya terkenal di Indonesia tetapi juga terkenal di seluruh dunia. Hal ini karena seduhan kopi memiliki aroma yang khas. Masyarakat memiliki kebiasaan meminum kopi setiap harinya. Berbagai kalangan status sosial menggemari kopi dengan tujuan konsumsi yang berbeda-beda, antara lain untuk mencegah penyakit syaraf, menurunkan resiko kanker payudara, mencegah diabetes dan berkhasiat merevitalisasi sel kulit baru dan menjaga kelembapan (Anonim, 2011).

Konsumsi kopi dunia dari tahun 2001 s/d 2008 mengalami kenaikan rata-rata sekitar 2%. Konsumsi kopi dunia tahun 2008 diperkirakan sebesar 7.680,0 ribu ton, terdiri dari kopi arabika sebesar 4.909,0 ribu ton dan kopi robusta sebesar 2.771,0 ribu ton. Kenaikan konsumsi kopi dunia dikarenakan konsumsi kopi di negara produsen kopi tumbuh sangat cepat, meskipun di negara-negara komsumen juga mengalami kenaikan. Pertumbuhan konsumsi kopi yang terjadi di negara-negara produsen seiring dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara produsen tersebut yang kebanyakan adalah Negara berkembang

(4)

termasuk Negara Indonesia dan Brazil. Menurut Konsultan International Coffee Organization (ICO) yaitu P &A Marketing International, memperkirakan bahwa pertumbuhan konsumsi kopi global dalam periode 2005-2015 meningkat 35,5% (Departemen Perindustrian, 2009).

Kopi digolongkan sebagai minuman phsicostimultant yang menyebabkan orang tetap terjaga dan mengurangi kelelahan. Oleh karena itu tidak mengherankan di seluruh dunia kopi menjadi minuman favorit, terutama bagi kaum pria (Saputra, 2008). Selain itu, masyarakat yang memakai gigitiruan juga banyak yang merupakan peminum kopi.

Ada kurang lebih 60 jenis jenis kopi tetapi dalam garis besarnya ada tiga jenis kopi yaitu kopi robusta, kopi arabika dan kopi liberika. Jenis biji kopi yang terkenal sebagai bahan minuman adalah kopi arabika dan kopi robusta. Saat ini kopi jenis robusta mendominasi perkebunan di Indonesia terutama Jawa Timur sekitar 95%. Kopi ini memiliki sifat unggul dan sangat cepat berkembang sehingga banyak dibudidayakan sebagai tanaman industri (Steenis, 1975).

Minum kopi sebenarnya baik untuk kesehatan bila tidak dikonsumsi secara berlebihan. Meminum kopi sebaiknya tidak melebihi dua cangkir setiap harinya atau setara dengan 180 ml kopi, karena untuk setiap 180 ml kopi jenis kopi arabika setara degan 600 mg kafein. Kadar kafein yang terdapat pada kopi robusta dua kali lebih banyak dari kopi arabika (Spillane, 1990). Efek negatif jika mengkonsumsi kafein secara berlebihan antara lain kecanduan, bertambah stress, hipertensi, resiko kanker mulut dan penyakit lambung (Sofiana, 2011). Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan meminum kopi dengan frekuensi

(5)

rata-rata dua cangkir sehari pada usia 30-39 tahun (Wardani, 2012). Apabila waktu meminum kopi dua cangkir setiap harinya dapat dikonversikan, perendaman selama 7 hari dapat diartikan sebagai penggunaan selama 6 bulan dan perendaman selama 14 hari dapat diartikan sebagai penggunaan selama 1 tahun.

Kopi mengandung asupan mineral, antara lain memberikan hingga 8% dari kebutuhan harian Cr dan merupakan salah satu sumber penting dari Mg, yaitu 63,7 mg/cangkir (100ml). Kopi juga merupakan sumber penting dari polifenol, diantaranya asam kafeat, asam klorogenat, asam koumarat, asam ferulat, dan asam sinapat (Hecimovic dkk., 2011).

Asam klorogenat merupakan senyawa yang memberikan kontribusi terhadap sifat keasaman pada minuman kopi. Kadar asam klorogenat pada biji arabika bervariasi antara 6-7%, sedangkan pada biji kopi robusta sekitar 7-11% dan meningkat seiring dengan tingkat kemasakan, memiliki titik leleh 208˚C dan memiliki citarasa yang pahit sama seperti citarasa kafein (Widyotomo dkk., 2012).

Zat aktif asam klorogenat diduga berperan besar dalam merusak ikatan thermoplastic nylon. Asam klorogenat menyebabkan kopi bersifat asam sehingga memiliki ion H+ lebih banyak (Amaliyah, 2014). Apabila gugus karboksil dari thermoplastic nylon bereaksi dengan radikal bebas yang bersifat asam maka akan mengakibatkan penurunan kekuatan mekanik karena gugus karboksil dari thermoplastic nylon akan terpecah. Gugus karboksil dari thermoplastic nylon terpecah maka akan menyebabkan degradasi pada ikatan kimiawi thermopastic nylon (Sastrohamidjojo, 2011).

(6)

Hidrolisis asam klorogenat dengan air menghasilkan ion klorogenat dan ion hidronium. Atom O dari ion klorogenat yang memiliki ion negatif kemungkinan akan bereaksi dengan atom N dari polimer thermoplastic nylon kemudian membentuk gugus hidroksil, atom C merupakan serat yang terikat pada atom N terputus. Pemutusan rantai panjang poliamida menyebabkan ikatan menjadi lebih pendek dan menurunkan sifat fisik dari thermoplastic nylon (Amaliyah, 2014). Semakin lemah ikatan, semakin lemah pula sifat material tersebut (Salman dan Saleem, 2011).

Plasticizer adalah bahan anorganik dengan berat molekul rendah yang ditambahkan ke dalam polimer berfungsi untuk menaikkan elastisitas polimer (Noort, 2007; William, 1993). Menurut Bursztyn (2010), plasticizer dapat larut ke dalam pelarut organik. Apabila plasticizer terlarut berarti sifat elastisitas dari thermoplastic nylon menjadi berkurang (Noort, 2007).

Fenol merupakan struktur yang terbentuk dari benzene tersubstitusi dengan gugus –OH (Fessenden, 1982). Benzena sendiri dikenal sebagai pelarut organik yang baik untuk berbagai proses di industri seperti industri rubber, sepatu, pelarut cat, komponen dalam bahan bakar motor, komponen dalam detergent, pestisida dan pembuatan farmasi (Maywati, 2012).

Elastisitas basis gigitiruan thermoplastic nylon diperlukan untuk menjamin basis gigitiruan mampu menahan beban yang timbul pada saat berfungsi tanpa menyebabkan perubahan bentuk secara permanen. Elastisitas bahan dipengaruhi oleh modulus elastisitas atau kekakuan bahan (McCabe, 2008).

(7)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, timbul permasalahan: apakah ada pengaruh lama perendaman dalam minuman kopi arabika dan kopi robusta terhadap modulus elastisitas thermoplastic nylon sebagai bahan basis gigitiruan?

C. Keaslian Penelitian

Sepengetahuan penulis, penelitian mengenai pengaruh lama perendaman dalam minuman kopi robusta terhadap modulus elastisitas thermoplastic nylon sebagai bahan basis gigitiruan belum pernah dilakukan. Penelitian pernah dilakukan oleh Amaliyah (2014) dengan judul ”Deformasi Plastis Nylon Thermoplastic setelah direndam dalam Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea robusta)”. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat peningkatan deformasi plastis nylon thermoplastic setelah direndam dalam ekstrak biji kopi robusta 12,5%. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada penggunaan minuman kopi arabika dan kopi robusta terhadap modulus elastisitas thermoplastic nylon.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama perendaman minuman kopi arabika dan robusta terhadap modulus elastisitas thermoplastic nylon sebagai bahan basis gigitiruan.

(8)

E. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. memberikan informasi ilmiah mengenai pengaruh minuman kopi arabika dan kopi robusta terhadap elastisitas basis gigitiruan thermoplastic nylon.

2. Sebagai tambahan informasi kepada masyarakat mengenai dampak minuman kopi arabika dan kopi robusta terhadap elastisitas permukaan basis gigitiruan thermoplastic nylon yang mereka gunakan.

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in