• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGUASAAN LITERASI SAINS PESER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PENGUASAAN LITERASI SAINS PESER"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGUASAAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK DALAM MEMECAHKAN MASALAH PENCEMARAN LINGKUNGAN

Risa Hartati*

*Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan

literasi sains peserta didik ditinjau dari aspek pengetahuan dan aspek kompetensi literasi

sains. Sampel penelitian ini terdiri dari 32 siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di

Kabupaten Lampung Utara pada tahun ajaran 2014/2015 yang dipilih dengan

menggunakan teknik

cluster random sampling

. Instrumen penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah tes literasi sains materi pencemaran lingkungan yang

digunakan untuk mengukur penguasaan literasi sains aspek pengetahuan dan kompetensi

sains siswa. Data hasil penelitian dianalisis dengan melakukan perhitungan persentase

penguasaan literasi sains dari masing-masing aspek yang diukur dengan menggunakan

program

Microsoft Office Excel

. Hasil analisis menunjukkan bahwa 64% masalah

pencemaran lingkungan dapat diselesaikan oleh siswa, artinya hasil penguasaan literasi

sains aspek pengetahuan siswa untuk memecahkan masalah pencemaran lingkungan

tergolong “cukup baik”.

Sedangkan penguasaan literasi sains aspek kompetensi sains

untuk kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah siswa tergolong “baik”, kemampuan

menggunakan bukti ilmiah siswa tergolong “baik”; sedangkan kemampuan menjelaskan

fenomena ilmiah siswa tergolong “cukup baik”.

Kata Kunci : Literasi Sains, Pengetahuan Sains, Kompetensi Sains, Pencemaran

Lingkungan

PENDAHULUAN

Kehidupan manusia saat ini dipengaruhi oleh sains dan teknologi. Sains sebagai ilmu dan teknologi sebagai implementasi dari ilmu akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Sudah sepantasnya pendidikan mengimbangi keduanya sebagai suatu proses memperoleh dan mengimplementasi penge-tahuan. Persoalan yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia, di bidang pendidikan adalah kualitas pendidikan. Di Indonesia, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk me-ningkatkan kualitas pendidikan, namun sejauh ini belum menampakkan hasil yang memadai.

PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi literasi yang bertujuan untuk meneliti secara berkala tentang kemampuan peserta didik usia 15 tahun dalam membaca (reading literacy), matematika (matematis literacy), dan sains (scientific literacy). PISA mengukur kemampuan peserta didik pada akhir usia wajib belajar untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam rangka menghadapi tantangan yang ada di masyarakat dewasa ini.

(2)

Toharudin, dkk (2013) mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan seseorang untuk memahami sains, mengomunikasikan sains (lisan dan tulisan), serta menerapkan pengetahuan sains untuk memecahkan masalah sehingga memiliki sikap dan kepekaan yang tinggi terhadap diri dan ling-kungannya dalam mengambil keputusan berdasar-kan pertimbangan-pertimbangan sains. Definisi literasi sains ini memandang literasi sains bersifat multi-dimensional, bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains, melainkan lebih dari itu. PISA juga menilai pemahaman peserta didik terhadap karakteristik sains sebagai penyelidikan ilmiah, kesadaran akan betapa sains dan teknologi membentuk lingkungan material, intelektual dan budaya, serta keinginan untuk terlibat dalam isu-isu terkait sains, sebagai manusia yang reflektif. Literasi sains penting untuk dikuasai oleh peserta didik dalam kaitannya dengan cara peserta didik itu dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi dan kemajuan, serta perkembangan ilmu pengetahuan.

Laugksch dalam Toharudin, dkk (2013) menyatakan bahwa pada dasarnya literasi sains meliputi dua kompetensi utama. Pertama, kompetensi belajar sepanjang hayat (longlife education), termasuk membekali para peserta didik untuk belajar di sekolah yang lebih lanjut. Kedua, kompetensi dalam menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang dipengaruhi oleh perkembangan sains dan masyarakat. Literasi sains berfokus pada implikasi dari problematika yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang bersifat lokal, regional, dan nasional. Literasi sains juga penting karena dapat memberikan kontribusi pada kehidupan sosial, ekonomi, serta memperbaiki pengambilan keputusan di tingkat masyarakat dan personal. Untuk tujuan penilaian, definisi literasi sains PISA dapat dicirikan oleh empat aspek yang saling terkait, yaitu aspek konteks, pengetahuan,

kompetensi, dan sikap sains (OECD, 2006; OECD, 2009; OECD, 2012).

Aspek konteks mengarahkan peserta didik untuk dapat mengenali situasi dalam kehidupan yang melibatkan sains dan teknologi. Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki nilai tertentu bagi individu dan masyarakat dalam meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup dan dalam pengembangan kebijakan publik. Oleh karena itu, soal-soal literasi sains berfokus pada situasi terkait pada diri individu, sosial, dan peraturan global sebagai konteks, atau situasi spesifik untuk latihan penilaian. Asesmen literasi sains PISA tidak menilai konteks, tetapi menilai kompetensi, pengetahuan, dan sikap yang berhubungan dengan konteks (OECD, 2006; OECD, 2009; OECD, 2012).

Aspek pengetahuan mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami alam atas dasar pengetahuan ilmiah yang mencakup pengetahuan alam dan pengetahuan tentang ilmu pengetahuan itu sendiri. Tujuannya adalah untuk menggambar-kan sejauh mana peserta didik dapat menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks yang relevan dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, penilaian pengetahuan akan dipilih dari bidang utama fisika, kimia, biologi, ilmu bumi dan ruang angkasa, serta teknologi (OECD, 2006; OECD, 2009; OECD, 2012).

(3)

kesimpulan, memberikan alasan untuk mendukung atau menolak kesimpulan dan mengidentifikasikan asumsi-asumsi yang dibuat dalam mencapai kesimpulan, mengomunikasikan kesimpulan terkait bukti dan penalaran dibalik kesimpulan dan membuat refleksi berdasarkan implikasi sosial dari kesimpulan ilmiah. (OECD, 2006; OECD, 2009; OECD, 2012).

Aspek sikap sains menunjukkan minat dalam ilmu pengetahuan, dukungan untuk penyelidikan ilmiah, dan motivasi untuk bertindak secara bertanggung jawab terhadap, misalnya, sumber daya alam dan lingkungan. Perhatian PISA untuk sikap terhadap ilmu pengetahuan didasarkan pada keyakinan bahwa literasi sains seseorang mencakup sikap tertentu, kepercayaan, orientasi motivasi, rasa self efficacy, nilai-nilai, dan tindakan utama. Merujuk pada PISA 2006, sikap sains dalam literasi sains terdiri dari tiga kategori, yaitu: (1) mendukung inkuiri sains, (2) ketertarikan terhadap sains, dan (3) tanggung jawab terhadap sumber daya lingkungan (OECD, 2006)

Sesuai dengan definisi literasi sains dalam PISA, dalam proses penilaian literasi sains pertanyaan (item) tes memerlukan penggunaan kompetensi sains dalam konteks dengan melibat-kan penerapan pengetahuan sains dan mencermin-kan sikap responden terhadap materi ilmiah dan teknologi. Pada penelitian ini, konteks sains ya g diteliti adalah Pe e ara Li gku ga , di a a eli atka e erapa pengetahuan sains, yaitu pencemaran udara, pencemaran air, dan efek rumah kaca. Pada gambar 1 disajikan komponen dasar dari kerangka yang digunakan untuk menilai kemampuan literasi sains peserta didik.

Indonesia merupakan salah satu negara yang secara konsisten mengikuti PISA. Namun sangat disayangkan, prestasi Indonesia selalu berada di bawah standar internasional yang telah ditetapkan bahkan cenderung mengalami penurunan. Pada tabel 1 disajikan peringkat literasi sains Indonesia sejak tahun 2000-2012.

Gambar 1. Bagan untuk mengonstruksi dan menganalisis literasi sains peserta didik

Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa secara umum literasi sains peserta didik Indonesia rendah, yaitu berada pada nilai rata-rata yang ditetapkan oleh OECD. Kondisi ini mendorong perlunya dilakukan upaya-upaya perbaikan terhadap pem-belajaran sains di sekolah secara bertahap dan berkesinambungan. Upaya perbaikan kualitas pembelajaran di sekolah perlu didukung informasi tentang sejauh mana capaian literasi sains peserta didik ditinjau dari aspek-aspeknya.

Tabel 1. Data Literasi Sains Indonesia

Tahun

Sumber: OECD (2012) & Suciati, et al. (2014)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan literasi sains peserta didik ditinjau dari aspek pengetahuan dan aspek kompetensi literasi sains. Data-data yang diperoleh diharapkan dapat dijadikan rujukan sebagai dasar untuk melakukan upaya perbaikan kualitas pembelajaran sains di sekolah.

(4)

METODE

Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode deskriptif (deskriptif – kuantitatif) yaitu penelitian yang deskripsi atau gambarannya menggunakan ukuran, jumlah atau frekuensi. Penelitian yang dilakukan tidak memberikan perlakuan, manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya (Sukmadinata, 2012).

Subjek Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh kelas VIII yang terdaftar pada semester II di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Lampung Utara pada tahun ajaran 2014/2015. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling, sehingga diperoleh satu kelas yang berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 13 laki-laki dan 19 perempuan.

Intrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes literasi sains materi pencemaran lingkungan yang dikembangkan oleh peneliti. Instrumen ini telah melewati tahap validasi oleh 2 orang dosen ahli dan validasi item tes melalui proses uji coba yang kemudian dianalisis melalui program AnatesV4 dan SPSS Statistics 17 untuk mengetahui validitas, daya beda, tingkat kesukaran soal, dan reliabilitas instrumen.

Instrumen ini terdiri dari tes pilihan ganda yang terdiri dari 25 soal dengan empat pilihan yang digunakan untuk mengukur aspek pengetahuan dan kompetensi siswa yang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan. Dari 25 soal yang digunakan, 10 soal (40%) merupakan soal tentang pengetahuan yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara, 7 soal (28%) berkaitan dengan masalah pencemaran air, dan 8 soal (32%) berkaitan dengan materi efek rumah kaca. Sedangkan soal untuk mengukur aspek kompetensi siswa terdiri

dari 4 soal (16%) kemampuan meng-identifikasi isu ilmiah, 8 soal (32%) kemampuan menggunakan bukti ilmiah, dan 13 soal (52%) kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah.

Prosedur Penelitian

Tes literasi sains diberikan kepada siswa kelas VIII yang sudah pernah mendapatkan materi Pencemaran Lingkungan. Tes ini dilakukan selama 2 jam pelajaran (2 x 40 menit).

Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis dengan melakukan perhitungan persentase penguasaan literasi sains dari masing-masing aspek yang diukur dengan menggunakan program Microsoft Office Excel. Hasil analisis data kemudian diinter-pretasikan secara deskriptif berdasarkan kriteria hasil belajar siswa menurut Arikunto (2013).

Tabel 2. Kriteria Hasil Belajar Siswa Nilai Kualifikasi 80 – 100 Sangat Baik

66 – 79 Baik

56 – 65 Cukup

40 – 55 Kurang

30 – 39 Sangat Kurang Baik

HASIL DAN PEMBAHASAN

Besarnya capaian yang diperoleh siswa dalam menjawab soal-soal literasi sains dapat dilihat berdasarkan banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar pada tiap butir soal. Tabel 3 menyajikan besarnya persentase jawaban benar yang dijawab oleh siswa untuk tiap butir soal.

Tabel 3. Persentase Jawaban Benar untuk Tiap Butir

Soal

No. Soal

Skor Maks.

Jumlah Siswa Menjawab

Benar

Persentase (%)

1 1 16 50

2 1 24 75

3 1 19 59

(5)

No.

Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa terdapat 21 soal yang dapat dijawab dengan benar oleh lebih dari 50% siswa, sedangkan 4 soal lainnya, yaitu nomor 5, 6, 20, dan 22, kurang dari 50% siswa yang dapat menjawab soal dengan benar. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa terdapat 63% siswa dapat menjawab soal-soal literasi sains dengan benar. Persentase tersebut didapatkan dengan membandingkan skor capaian siswa dengan skor maksimum yang seharusnya dicapai siswa jika semua siswa menjawab soal dengan benar.

Deskripsi Penguasaan Literasi Sains Aspek Pengetahuan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, aspek pengetahuan yang dinilai pada instrumen literasi sains melibatkan 3 pengetahuan sains, yaitu pencemaran udara, pencemaran air dan efek rumah kaca. Soal tes literasi sains di konstruksi dengan menggunakan konteks masalah dalam kehidupan sehari-hari untuk menggali penge-tahuan siswa. Persentase jawaban

benar untuk setiap aspek pengetahuan disajikan pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Persentase Jawaban Benar Untuk Setiap Aspek Pengetahuan

Aspek

Berdasarkan tabel 4, diketahui bahwa persentase siswa yang menjawab benar soal pencemaran udara sebesar 62% dari 10 soal. Persentase siswa yang menjawab benar soal pencemaran air sebesar 70% dari 7 soal. Sedangkan, persentase siswa yang menjawab soal materi efek rumah kaca sebesar 59% dari 8 soal. Persentase tersebut didapatkan dengan membandingkan rata-rata jumlah skor capaian siswa dengan skor maksimum yang seharusnya dicapai oleh siswa jika semua siswa menjawab soal dengan benar.

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4, terlihat bahwa siswa lebih banyak dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan materi pencemaran air yaitu sebesar 70%, lalu sebanyak 62% masalah yang berkaitan dengan materi pencemaran udara berhasil dijawab dengan benar oleh siswa. Sedangkan untuk masalah yang berkaitan dengan materi efek rumah kaca, hanya 59% soal yang berhasil siswa jawab dengan benar.

Hasil analisis terkait penguasaan literasi sains aspek pengetahuan pada masalah pencemaran lingkungan disajikan pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Persentase Penguasaan Literasi Sains Aspek Pengetahuan

(6)

Aspek Pengetahuan

Jumlah Soal

% Porsi

Soal

% Penguasaan Pengetahuan

Efek Rumah

Kaca 8 32 19

Jumlah 25 100 64

Tabel 5 menjelaskan persentase penguasaan literasi sains aspek pengetahuan berdasarkan porsi soal yang digunakan untuk masing-masing aspek pengetahuan literasi sains. Dari tabel tersebut diketahui bahwa porsi soal untuk materi pencemaran udara sebesar 40% dari keseluruhan soal, dengan persentase penguasaan pengetahuan siswa sebesar 25%. Untuk materi pencemaran air, porsi soal sebesar 28%, dengan persentase penguasaan pengetahuan siswa sebesar 20%. Sedangkan untuk materi efek rumah kaca, porsi soal sebesar 32% dari keseluruhan soal, dengan persentase penguasaan pengetahuan siswa sebesar 19%.

Data pada tabel 5 menunjukkan bahwa porsi soal mempengaruhi persentase penguasaan pengetahuan siswa. Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa persentase penguasaan penge-tahuan materi pencemaran udara lebih tinggi dibandingkan dengan materi pencemaran air dan efek rumah kaca. Hal ini disebabkan karena porsi soal pencemaran udara merupakan porsi terbesar yang terdapat pada soal, yaitu sebesar 40%, sedangkan porsi soal pencemaran air dan efek rumah kaca hanya mengambil porsi sebesar 28% dan 32% saja. Namun demikian, peneliti menganalisis penguasaan literasi sains aspek pengetahuan secara keseluruhan, yaitu sebesar 64% masalah pencemaran lingkungan dapat diselesaikan oleh siswa. Jika merujuk pada pendapat Arikunto (2013), hasil penguasaan literasi sains aspek pengetahuan siswa untuk memecahkan masalah pencemaran lingkungan tergolong

ukup aik .

Deskripsi Penguasaan Literasi Sains Aspek Kompetensi

Aspek kompetensi literasi sains yang diukur pada penelitian ini terdiri dari 3 kategori kompetensi, yaitu: kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah, menggunakan bukti ilmiah, dan menjelaskan fenomena ilmiah. Ketiga kategori ini diukur melalui tes pilihan ganda untuk mengetahui sejauh mana kompetensi sains ini dikuasai oleh siswa. Persentase jawaban benar untuk setiap aspek kompetensi disajikan pada tabel 6 berikut ini.

Tabel 6. Persentase Jawaban Benar Untuk Setiap Aspek Kompetensi

Kategori Kompetensi

Jumlah Soal

% Jawaban Benar

Mengidentifikasi

Isu Ilmiah 4 66

Menggunakan

Bukti Ilmiah 8 68

Menjelaskan

Fenomena Ilmiah 13 60

Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa persentase siswa yang menjawab benar soal kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah sebesar 66% dari 4 soal. Persentase siswa yang menjawab benar soal kemampuan menggunakan bukti ilmiah sebesar 68% dari 8 soal. Sedangkan, persentase siswa yang menjawab soal kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah sebesar 60% dari 13 soal. Persentase tersebut didapatkan dengan membandingkan rata-rata jumlah skor capaian siswa dengan skor maksimum yang seharusnya dicapai oleh siswa jika semua siswa menjawab soal dengan benar.

(7)

siswa dengan benar. Sedangkan untuk kategori kompetensi menjelaskan fenomena ilmiah, hanya 60% soal yang dapat dijawab dengan benar oleh siswa.

Hasil penelitian terkait penguasaan literasi sains aspek kompetensi pada masalah pencemaran lingkungan disajikan pada tabel 7 berikut ini.

Tabel 7. Persentase Penguasaan Aspek Pengetahuan

Kategori Kompetensi

Jumlah Soal

% Porsi Soal

% Penguasaan Kompetensi

Mengidentifikasi

Isu Ilmiah 4 16 11

Menggunakan

Bukti Ilmiah 8 32 22

Menjelaskan Fenomena Ilmiah

13 52 31

Jumlah 25 100 64

Hampir sama dengan keterangan sebelumnya, tabel 7 menjelaskan persentase penguasaan literasi sains aspek kompetensi berdasarkan porsi soal yang digunakan untuk masing-masing kategori kompetensi literasi sains. Dari tabel tersebut diketahui bahwa porsi soal untuk kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah sebesar 16% dari keseluruhan soal, dengan persentase penguasaan kompetensi siswa sebesar 11%. Untuk kemampuan menggunakan bukti ilmiah, porsi soal sebesar 32%, dengan persentase penguasaan pengetahuan siswa sebesar 22%. Sedangkan untuk kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah, porsi soal sebesar 52% dari keseluruhan soal, dengan persentase penguasaan pengetahuan siswa sebesar 31%.

Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa persentase kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah lebih tinggi dibandingkan dua kemampuan lainnya. Hal ini disebabkan karena porsi soal yang digunakan untuk mengetahui kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah merupakan porsi terbesar yang terdapat pada soal, yaitu sebesar 52%, sedangkan porsi soal untuk mengetahui

kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah dan menggunakan fenomena ilmiah masing-masing sebesar 11% dan 22% saja. Namun demikian, peneliti menganalisis penguasaan literasi sains aspek kompetensi dengan melihat capaian siswa per-kategori kompetensi sains. Jika merujuk pada pendapat Arikunto (2013), kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah siswa (66%) tergolo g aik ; ke a pua e ggu aka bukti ilmiah siswa (68%) juga tergolong aik ; seda gka ke a pua e jelaska fenomena ilmiah siswa (60%) tergolong

cukup baik .

Capaian skor terbesar dalam aspek kompetensi literasi sains yaitu kemampuan menggunakan bukti ilmiah. Capaian ini ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam menafsirkan bukti ilmiah pada soal melalui interpretasi data ilmiah berupa tabel, grafik, dan persentase data ilmiah. Selain itu, siswa juga dapat mengidentifikasi asumsi-asumsi yang dicapai untuk mencapai suatu kesimpulan dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan. Meskipun kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah memiliki porsi yang sedikit pada soal literasi sains, namun memberikan data yang cukup berarti. Capaian kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah ini menjelaskan bahwa siswa dapat dengan baik mengidentifikasi kata-kata kunci untuk formasi ilmiah yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah pencemaran lingkungan di soal yang telah diberikan. Sedangkan untuk kemampuan men-jelaskan fenomena ilmiah, dari data yang diperoleh menjelaskan bahwa siswa cukup baik dalam mengaplikasikan pengetahuan sains dalam situasi yang diberikan di soal. Siswa juga dapat mendeskripsikan atau menafsirkan fenomena dan memprediksi perubahan yang akan terjadi melalu masalah-masalah pencemaran lingkungan. Capaian kemampuan ini juga memberikan informasi bahwa siswa dapat dengan cukup baik memberikan eksplanasi atas masalah yang disajikan di soal.

(8)

kesiapan peserta didik dalam rangka menghadapi tantangan yang ada di masyarakat dewasa ini. Terlebih dari itu, literasi sains juga dapat menjadi tolak ukur bagi penentuan karier mereka di masa depan, akan berkecimpung di bidang sains atau tidak (Lim, et al.; 2012). Untuk itu, berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas literasi sains siswa, diantaranya membantu siswa dalam menguasai kemampuan dasar literasi sains, menurut Norris & Phillips (Fang & Wei; 2010) terbagi menjadi dua kemampuan yaitu, fundamental sense dan derived sense. Fundamental sense dari literasi sains merupakan kemampuan siswa untuk membaca dan memahami teks sains. Derived sense dari literasi sains merupakan pengetahuan penting tentang konten sains. Atau dengan kata lain, siswa dapat meningkatkan kemampuan literasi sains berupa konsep, keterampilan, pemahaman, dan nilai yang tertuang dalam teks (bacaan). Karena sejatinya, membaca teks merupakan hal dasar dalam memahami sains, tanpa teks dan membaca maka praktek sosial dalam sains mungkin tidak akan terjadi.

Selain itu, pemilihan pendekatan pembelajaran juga perlu diperhatikan untuk pencapaian literasi sains yang optimal. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa pendekatan konstruktivisme yang menggunakan strategi pembelajaran autentik hands-on dan meman-faatkan proses penyelidikan untuk membuat hubungan antara pengetahuan sebelumnya dan membangun pengetahuan baru, telah ditemukan untuk meningkatkan hasil belajar sains dan mengembangkan literasi sains (Wendt & Szapkiw, 2014). Esiobu & Soyibo (dalam Chang, et al.: 2010) menyatakan hal yang serupa, di mana metode dan strategi pembelajaran kontruktivisme telah terbukti memiliki efektivitas dalam membantu proses belajar siswa, baik berdampak untuk aspek kognitif maupun afektif. Namun ternyata Rodrigues; 2004 (dalam Chang, et al: 2010) menemukan bahwa siswa dari budaya barat dapat menerima dengan baik proses pembelajaran self-exploring (penjelajahan

mandiri) dibandingkan dengan siswa Asia yang masih mengharapkan bimbingan langsung dari guru dalam proses pembelajaran. Artinya, bagi guru maupun pendidik yang berorientasi pada pengembangan kemampuan literasi sains siswa, sebaiknya memperhatikan dengan cermat pendekatan, metode, atau strategi pembelajaran apa yang sebaiknya digunakan untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil penguasaan literasi sains aspek pengetahuan siswa untuk memecahkan masalah pencemaran lingkungan tergolong ukup aik . “eda gka pe guasaa literasi sains aspek kompetensi sains untuk kemampuan mengidentifikasi isu ilmiah siswa tergolo g aik , kemampuan menggunakan bukti ilmiah siswa tergolong aik ; seda gka ke a pua e jelaska fenomena ilmiah siswa tergolo g ukup

aik .

Kemampuan literasi sains siswa dapat ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya membantu siswa dalam menguasai kemampuan dasar literasi sains (fundamental sense dan derived sense) dan pemilihan pendekatan, metode, atau strategi pembelajaran yang tepat untuk mendukung perkembangan literasi sains siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2013). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Bumi Aksara

(9)

Fang, Z. & Wei, Y. (2010). Improving Middle “ hool “tude ts’ “ ie e Litera y Through Reading Infusion. The Journal of Educational Research. v103 n4, pp:262-273.

Fraenkel, et.al. (2011). How to Design and Evaluate Research in Education 8th Edition. San Fransisco: Mc Graw Hill

Hariadi, E. (2009). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Literasi Sains Siswa Indonesia Berusia 15 Tahun. Jurnal Pendidikan Dasar, Volume 10, No.1

Lin, H.S., Hong, Z.R., & Huan, T.C. (2012). The Role of Emotional Factors in Building Public Scientific Literacy and Engagement with Science. International Journal of Science Education, Vol. 34, No. 1, 1 January 2012, pp. 25-42

OECD. (2006). PISA 2012 Assessing Scientific, Reading, and Mathematical Literacy,

OECD Publishing.

http://dx.doi.org/10.1787/ 9789264190511-en

OECD. (2010). PISA 2009 Results: What Students Know and Can Do – Student Performance in Reading, Mathematics and Science (Volume I). http://dx.doi.org/10.1787/

9789264091450-en

OECD. (2012). PISA 2012 Results in Focus What 15-year-olds know and what they can do with what they knot.

http://www.oecd.org/

pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf

OECD. (2013). PISA 2012 Assessment and Analytical Framework: Mathematics, Reading, Science, Problem Solving and Financial Literacy, OECD Publishing. http://dx.doi. org/10.1787/9789264190511-en

Rustaman, N. Y. (2004). Literasi Sians Anak Indonesia 2000 & 2003. Makalah Litsains 2003.

Suciati, et al. (2014). Identifikasi Kemampuan Siswa Dalam Pembelajaran Biologi Ditinjau dari Aspek-aspek Literasi Sains. Prosiding Pendidikan Sains UNS, Volume 1, No.1.

Sukmadinata. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Toharudin, U., Hendrawati, S., & Rustaman, A., (2011). Membangun Literasi Sains Peserta Didik. Bandung: Humaniora

Gambar

Gambar 1. Bagan untuk mengonstruksi dan  menganalisis literasi sains peserta didik
Tabel 2. Kriteria Hasil Belajar Siswa
tabel 3,
Tabel 5 menjelaskan persentase
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya diperoleh analisis keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika siswa, terlihat bahwa hasil keterampilan

Berdasarkan deskripsi kriteria penilaian buku ajar fisika berdasarkan kategori literasi sains pada Tabel 1, maka kategori sains sebagai batang tubuh pengetahuan, sains

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan awal literasi sains mahasiswa pendidikan IPA sebagian besar berada pada

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan awal literasi sains siswa yang terdiri atas empat kategori yaitu nominal, fungsional, prosedural

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai aspek literasi sains ranah kognitif adalah: 1 Peran sains role of science 52,50%, kategori rendah; 2 Berpikir dan bekerja secara ilmiah

Berdasarkan indikator dalam kompetensi literasi sains yaitu, menjelaskan fenomena- fenomena secara ilmiah merupakan pernyataan yang muncul pada langkah kedua dalam model pembelajaran

Nilai ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains peserta didik berada pada kategori rendah, b Rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik MTs Negeri 1 Lampung Barat dipengaruhi

Persentase Skor per Indikator Literasi Sains pada Mahasiswa Tadris Biologi IAIN Kudus No Indikator Persentase Kategori 1 Menjelaskan fenomena ilmiah secara tepat berdasarkan ilmu