• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan model pembelajaran brainwriting pada teks eksplanasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "penerapan model pembelajaran brainwriting pada teks eksplanasi"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu KD dalam Kurikulum 2013 yang wajib dikuasai siswa yaitu menyusun teks deskripsi. Menyusun dalam hal ini berarti mencipta atau memproduksi sebuah teks baik lisan maupun tulis. Menyusun sebuah teks tulis atau menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya dalam kehidupan pendidikan tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Menyusun teks deskripsi mengharuskan siswa mampu mengungkapkan pengalaman yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Dalam menulis teks deskripsi, penulis harus mengungkapkan semua yang dilihat, didengar, dicium, dicicipi, dan dirasakannya. Keterampilan menulis teks sebenarnya sudah diajarkan sejak sekolah dasar, namun hal tersebut tidak selalu menjadikan siswa terampil menulis. Menulis bukan sekedar menyusun kata-kata tetapi menyampaikan ide atau gagasan kepada pembaca. Masih ditemukan siswa yang kesulitan ketika pembelajaran menulis. Siswa sulit menemukan ide, mengembangkan ide, dan merangkai kata-kata menjadi sebuah teks yang padu. Oleh sebab itu, kegiatan menulis membutuhkan tenaga, waktu, serta perhatian yang sungguh-sungguh.

Berdasarkan alasan di atas, perlu adanya pemanfaatan media pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi siswa dalam menyusun teks deskripsi. Selain pemanfaatan media pembelajaran, perlu adanya inovasi dalam menggunakan model pembelajaran agar pikiran siswa terbuka dengan hal yang baru. Hal tersebut bertujuan agar siswa tidak mengalami kejenuhan selama proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran menyusun teks deskripsi adalah model pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa. Pembelajaran kontekstual diterapkan dengan menggunakan media audio visual. Media audio visual merupakan media yang relevan digunakan dalam pembelajaran teks deskripsi. Pembelajaran kontekstual diterapkan karena dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam menyusun teks deskripsi. Siswa dapat mengamati lingkungan sekeliling mereka untuk memunculkan gagasan dan kreatifitas mereka dalam menulis teks deskripsi.

(2)

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian sebagai berikut. 1) Bagaimanakah kemampuan menulis teks deskripsi kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo

sebelum menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual?

2) Bagaimanakah kemampuan menulis teks deskripsi siswa kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo sesudah menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual?

3) Bagaimana pengaruh penggunaan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual untuk keterampilan menulis teks deskripsi pada siswa kelas VII MTs Al-Ittihad?

1.3 Tujuan Penelitian

1) Untuk mendeskripsikan kemampuan menulis teks deskripsi kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo sebelum menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual.

2) Untuk mendeskripsikan kemampuan menulis teks deskripsi siswa kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo sesudah menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual.

3) Untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual dalam menyusun teks deskripsi.

1.4 Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik sering disebut sebagai hipotesis nol (Ho). Hipotesis nol merupakan hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel X dan variabel Y. Hipotesis ini dinyatakan dalam rumus sebagai berikut.

Ho= μ1 _ μ2 Ha= μ1 > μ2 Keterangan:

Ho: hipotesis nol. Tidak ada perbedaan kemampuan menyusun teks deskripsi antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual dalam pembelajaran pada siswa kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo.

H1: hipotesis alternatif. Ada perbedaan kemampuan menyusun teks deskripsi antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual dalam pembelajaran pada siswa kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo.

μ1: kelompok eksperimen. μ2: kelompok kontrol.

(3)

1) Teks deskripsi merupakan teks yang dipelajari oleh kelas VII pada kurikulum 2013. 2) Siswa menggunakan strategi yang berbeda dalam memahami teks deskripsi.

1.6 Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, perlu ada pembatasan masalah. Hal tersebut perlu dilakukan agar penelitian lebih fokus dan mendalam. Oleh karena itu, masalah yang diteliti adalah pengaruh penggunaan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual untuk keterampilan menyusun teks deskripsi pada siswa kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo.

1.7 Manfaat Hasil Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoretis maupun praktis.

1) Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai pengayaan kajian keilmuan yang memberikan bukti secara ilmiah tentang pengaruh model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual terhadap kemampuan menyusun teks deskripsi.

2) Manfaat Praktis

a. Manfaat bagi guru adalah menambah pengetahuan dan wawasan guru tentang model pembelajaran kontekstual dengan media audio visual yang dapat digunakan untuk memunculkan ide dan memudahkan siswa dalam pembelajaran menyusun teks deskripsi.

b. Manfaat bagi siswa adalah penggunaan model pembelajaran kontekstual (CTL) dengan media audio visual dapat memotivasi siswa dalam menuangkan ide pada pembelajaran menyusun teks deskripsi.

c. Manfaat bagi pihak sekolah adalah terciptanya proses pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya menyusun teks deskripsi yang lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. 1.8 Penegasan Istilah

Penegasan istilah bermanfaat agar fokus penelitian lebih terarah. Selain itu, penegasan istilah ini bermanfaat untuk menyamakan persepsi terkait penelitian. Penegasan istilah tersebut antara lain.

1) Keefektifan adalah suatu keadaan yang ditandai adanya perbedaan yang signifikan antara siswa yang diberikan perlakuan dengan siswa yang tidak diberikan perlakuan sehingga membawa keberhasilan dalam proses menyusun teks deskripsi.

2) Teks deskripsi adalah bentuk tulisan yang menggambarkan, melukiskan sesuatu objek tertentu sehingga pembaca seolah-olah dapat menangkap objek tertentu dengan pancaindera secara nyata atau langsung.

(4)

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Teori

2.1.1Pengertian Teks

Teks dapat disamakan dengan naskah, yaitu semacam bahan tulisan yang berisi materi tertentu, seperti naskah materi kuliah, pidato atau lainnya (Mulyana, 2005: 9). Teks sering dipandang sebagai tulisan yang panjang. Kata teks menghadirkan bayangan tentang buku, surat, atau surat kabar. Menurut Brown dan Yule (dalam Soetikno, 1996: 6) teks mengacu pada rekaman verbal tindak komunikasi. Pengertian teks sebagai rekaman cetak sudah dikenal dalam penyelidikan kesusastraan. Sebuah teks mungkin disajikan secara berbeda pada edisi yang berbeda-beda pula, dengan bentuk huruf yang berbeda, pada ukuran kertas yang berbeda, dalam satu atau dua kolom, dan dari satu edisi ke edisi berikutnya kita masih menganggap bahwa sajian yang berbeda-beda itu merealisasikan teks yang sama.

Sebuah teks adalah terdiri atas unit-unit bahasa dalam penggunaannya. Unit-unit bahasa tersebut adalah merupakan unit gramatikal seperti klausa atau kalimat namun tidak pula didefinisikan berdasarkan ukuran panjang kalimatnya. Teks terkadang pula digambarkan sebagai sejenis kalimat yang super yaitu sebuah unit gramatikal yang lebih panjang daripada sebuah kalimat yang saling berhubungan satu sama lain. Jadi, sebuah teks terdiri dari beberapa kalimat sehingga hal itulah yang membedakannya dengan pengertian kalimat tunggal.

Selain itu, sebuah teks dianggap sebagai unit semantik yaitu unit bahasa yang berhubungan dengan bentuk maknanya. Dengan demikian, teks dalam realisasinya berhubungan dengan klausa yaitu satuan bahasa yang terdiri atas subjek dan predikat dan apabila diberi intonasi final akan menjadi sebuah kalimat. Berdasarkan beberapa definisi teks di atas, dapat disimpulkan bahwa teks adalah sebuah tulisan yang berisi materi tertentu meliputi setiap jenis ujaran yang komunikatif. Teks juga memenuhi beberapa syarat, yakni kohesi, koherensi, intensionalitas, akseptabilitas, informativitas, situasionalitas, dan intertekstualitas.

2.1.2 Kemampuan Menulis

Menulis merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa yang produktif selain keterampilan berbicara. Melalui menulis, penulis dapat menuangkan gagasan atau isi pikiran, serta menyusun informasi dalam bentuk tulisan. Tulisan merupakan media yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide, perasaan, dan kemampuan seorang penulis.

(5)

Widodo, 1993:2) menulis pada dasarnya merupakan pertimbangan dalam mempresentasikan kesatuan fenomena melalui seperangkat proses. Hasil proses menulis itu berupa wacana dan teks. Unsur-unsur yang bersifat kontekstual digunakan dalam menulis.

2.1.3 Teks Deskripsi

Kata deskripsi berasal dari bahasa Latin describere yang berarti menulis tentang, atau membeberkan suatu hal. Deskripsi merupakan sebuah bentuk tulisan yang bertalian dengan usaha para penulis untuk memberikan perincian-perincian dari objek yang sedang dibicarakan (Keraf, 1982: 93). Menurut Dalman, (2009: 13) deskripsi adalah ragam wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Sasarannya adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya imajinasi atau daya khayal pembaca sehingga dia seolah-olah melihat, mengalami, dan merasakan sendiri apa yang dialami penulisnya.

Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata tentang suatu benda, tempat, suasana, atau keadaan. Seorang penulis deskripsi mengharapkan pembacanya, melalui tulisannya, dapat “melihat” apa yang dilihatnya, dapat “mendengar” apa yang didengarnya, “mencium bau” yang diciumnya, “mencicipi” apa yang dimakannya, “merasakan” apa yang dirasakannya, serta sampai kepada “kesimpulan” yang sama dengannya (Marahimin, 1994: 33).

Alwasilah (2007: 114) deskripsi adalah gambaran verbal ikhwal manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Cara penulisannya menggambarkan sesuatu sedemikan rupa sehingga pembaca dibuat mampu (seolah merasakannya, melihat, mendengar, atau mengalami) sebagaimana dipersepsi oleh pancaindera.

Suparno dan Yunus (2007: 46) menyatakan karangan deskripsi adalah suatu bentuk karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai dengan citra penulisnya. Teks deskriptif adalah teks yang memberikan informasi suatu hal atau benda secara detail. Hal yang dipaparkan dalam teks ini bisa menggambarkan ciri-ciri secara khusus benda yang digambarkan (Wahono, dkk. 2013: 7). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa teks deskripsi adalah bentuk tulisan yang menggambarkan, melukiskan sesuatu objek tertentu sehingga pembaca seolah-olah dapat menangkap objek tertentu dengan pancaindera secara nyata atau langsung.

2.1.4 Jenis-jenis Teks Deskripsi

Berdasarkan tujuannya, Keraf (1982: 94) membedakan deskripsi terdiri atas dua macam yaitu:

1) Deskripsi Sugestif

(6)

tenaga rangkaian kata-kata yang dipilih oleh penulis untuk menggambarkan ciri, sifat, watak dari objek tersebut. Dengan kata lain, deskripsi sugestif berusaha menciptakan suatu penghayatan terhadap objek tersebut memulai imajinasi pembaca.

2) Deskripsi Ekspositoris

Deskripsi ini hanya bertujuan untuk memberikan identifikasi atau informasi mengenai objeknya, sehingga pembaca dapat mengenalnya bila bertemu atau berhadapan dengan objek tersebut. Penulis tidak berusaha untuk menciptakan kesan atau imajinasi pada diri pembaca.

Menurut Anwar dan Ade (2007: 95) jenis deskripsi ada dua macam, yaitu deskripsi teknis dan deskripsi sugestif.

1) Deskripsi teknis adalah deskripsi yang diterangkan dalam karangan atau paragraf yang memberikan uraian langsung dan objektif mengenai rupa, letak, atau struktur dari sesuatu. Deskripsi tersebut dirancang terutama untuk memberikan informasi, ditujukan atau dialamatkan pada pembaca, dan secara ekstensial merupakan ekspositori.

2) Deskripsi sugestif adalah deskripsi yang membangkitkan kesan atau impresi tentang tempat, pemandangan, atau orang, yang membentuk atau menyusun wacana khusus. Deskripsi sugestif yang bersifat emosional ditandai dengan penekanan, perhatian, atau imbauan.

Menurut Akhadiah, dkk. (1992: 132-133) jenis karangan deskripsi dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Deskripsi Tempat

Tempat memegang peranan penting dalam setiap peristiwa dan setiap peristiwa tidak dapat dilepaskan dari lingkungan dan ikatan tempat. Semua peristiwa tentu terjadi pada suatu tempat. Tempat merupakan gelanggang berlangsungnya peristiwa-peristiwa. Semua kisah akan selalu mempunyai latar belakang tempat. Jalannya sebuah peristiwa akan lebih menarik kalau dikaitkan dengan tempat terjadinya peristiwa tersebut.

2) Deskripsi Orang

(7)

2.1.5 Ciri Teks Deskripsi yang Baik

Menurut Keraf (1982: 97) dalam menyusun sebuah deskripsi yang baik, dituntut dua hal, pertama kesanggupan berbahasa dari penulis, yang kaya akan nuansa bentuk; kedua kecermatan pengamatan dan ketelitian penelitian. Dengan kedua persyaratan tersebut, seorang penulis sanggup menggambarkan objeknya dalam rangkaian kata-kata yang penuh arti dan tenaga, sehingga mereka yang membaca gambaran tadi dapat menerima seolah-olah mereka sendiri melihatnya. Pilihan kata yang tepat dapat melahirkan gambaran yang hidup dan segar di dalam imajinasi pembaca. Lebih lanjut lagi, sasaran yang ingin dicapai oleh seorang penulis deskripsi adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya khayal pada para pembaca, seolah-olah mereka melihat sendiri objek secara keseluruhan sebagai yang dialami secara fisik oleh penulisnya. Menulis suatu karangan deskripsi yang baik dituntut tiga hal (Akhadiah, dkk. 1997), sebagai berikut.

1) Kesanggupan berbahasa kita yang memiliki kekayaan nuansa dan bentuk.

2) Kecermatan pengamatan dan keluasan pengetahuan kita tentang sifat, ciri, dan wujud objek yang dideskripsikan.

3) Kemampuan kita memilih detail khusus yang dapat menunjang ketepatan dan keterhidupan deskripsi.

2.2 Media Pembelajaran

Media pembelajaran harus dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal dengan cara yang menyenangkan. Media sebagai perantara antara guru dan siswa agar terdapat variasi dalam pembelajaran sehingga tidak terjadi verbalisme secara keseluruhan. Penggunaan media yang sesuai dalam pembelajaran akan memudahkan dan mempertinggi penguasaan siswa terhadap materi. Sadiman (2011: 6) mengatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca.

Media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televise, buku, Koran, majalah, dan sebagainya. Alat-alat semacam radio dan televise kalau digunakan dan diprogramkan untuk pndidikan maka merupakan media pembelajaran (Rossi dan Breidle dalam Sanjaya, 2011:163).

(8)

Media tidak akan berperan dengan baik apabila digunakan tidak sesuai dengan isi dan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Tujuan pembelajaran harus dijadikan acuan dalam menentukan sebuah media yang akan digunakan. Apabila media tidak sesuai dengan isi dan tujuan pembelajaran, maka akan menghambat dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Perkembangan teknologi semakin mendorong pembaruan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi untuk proses belajar mengajar. Guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Tidak menutup kemungkinan, alat-alat-alat-alat yang digunakan harus sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, guru harus mampu mengembangkan keterampilan dalam menentukan media yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Menurut Hamlik 1994:6 (dalam Arsyad, 2013:2) guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup memadai tentang media pembelajaran, meliputi:

1) Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. 2) Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

3) Seluk beluk proses belajar.

4) Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan. 5) Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran. 6) Pemilihan dan penggunaan media pendidikan.

7) Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan. 8) Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran. 9) Usaha inovasi dalam media pendidikan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa…

Fungsi dari media pembelajaran adalah sebagai berikut:

1) Sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.

2) Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

3) Media pembelajaran dapat mengurangi terjadinya verbalisme.

4) Media pembelajaran dapat membuat siswa lebih mudah dan lebih cepat dalam menangkap tujuan dan bahan ajar (Anitah, 2007: 6-9).

Jenis-jenis dari media pembelajaran, yaitu:

1) Media audio visual merupakan kombinasi dari media audio dan media visual atau disebut media pandang dengar.

(9)

3) Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan terdiri atas media yang dapat diproyeksikan dan media yang tidak dapat diproyeksikan (Sadiman, 2011: 8).

Menurut peneliti berdasarkan pendapat para ahli, media merupakan alat yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan pesan atau materi pembelajaran kepada siswa agar pesan atau materi pembelajaran tersebut dapat dipahami dengan cepat dan mudah oleh siswa. 2.3 Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).

2.4 Evaluasi Keterampilan Menulis Teks Deskripsi

Evaluasi pembelajaran perlu disesuaikan dengan materi dan jenis tes yang digunakan. Maka dari itu, perlu adanya modifikasi rubrik untuk menilai hasil tes siswa dalam menyusun teks deskripsi. Modifikasi diperlukan supaya hasil penilaian lebih rinci dan akurat. Hal ini disesuaikan dengan pengertian teks deskripsi yaitu bentuk tulisan yang menggambarkan, melukiskan sesuatu objek tertentu sehingga pembaca seolah-olah dapat menangkap objek tertentu dengan pancaindera secara nyata atau langsung. Dari pengertian tersebut, ada lima aspek yang perlu dinilai yaitu isi, organisasi isi, penggunaan bahasa, kosakata, dan mekanik. Setiap aspek dibagi menjadi beberapa kriteria dan uraian. Uraian bersifat terukur karena digunakan sebagai acuan pemberian skor pada tulisan.

2.5 Penelitian yang Relevan

(10)

Wates Kulon Progo”. Penelitian tersebut menggunakan jenis PTK (Penelitian Tindakan Kelas), metode field trip digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan nilai keterampilan menulis siswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode field trip dapat meningkatkan nilai menulis karangan deskripsi siswa kelas IV di SD N 4 Wates, Kulon Progo.

Relevansi penelitian yang dilakukan oleh Adhif Ardiansyah dengan penelitian ini yaitu sama-sama membahas keterampilan menulis teks deskripsi. Perbedaan dari penelitian yang dilakukan oleh Adhif dengan penelitian ini adalah dari segi desain penelitian, penelitian Adhif menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sedangkan penelitian ini menggunakan eksperimen. Selain itu, penelitian Adhif menggunakan metode field trip, sedangkan penelitian ini menggunakan media audio visual.

Penelitian yang relevan selain yang dilakukan oleh Adhif Ardiansyah adalah penelitian yang dilakukan oleh Lina Apriyani (2013) yang berjudul “Keefektifan Strategi Questions Info Paragraphs (QUIPS) dalam Pembelajaran Menulis Karangan Deskripsi pada Siswa kelas XI SMK YPE Sawunggalih Kutoarjo”. Pada penelitian tersebut terdapat perbedaan keterampilan menulis karangan deskripsi yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan strategi Questions Info Paragraphs (QUIPS) dan siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan strategi Questions Info Paragraphs (QUIPS). Pembelajaran menggunakan strategi Questions Info Paragraphs (QUIPS) efektif digunakan dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas XI SMK YPE Sawunggalih Kutoarjo.

Relevansi dalam penelitian ini dapat dari aspek desain penelitian yang dilakukan yaitu sama-sama menggunakan metode eksperimen semu (kuasi eksperimen). Kedua penelitian ini juga membahas keterampilan yang sama yaitu menulis teks deskripsi. Perbedaan dari penelitian yang dilakukan oleh Lina Apriyani dengan penelitian ini adalah dari segi strategi dan media yang digunakan, penelitian Lina Apriyani menggunakan strategi Questions Info Paragraphs (QUIPS), sedangkan penelitian ini menggunakan media audio visual.

BAB III

(11)

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experimental) dengan rancangan pretest-posttest design. Metode eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang mengganggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud ingin melihat suatu akibat dari suatu kelakuan.

Penelitian eksperimen berusaha menentukan apakah suatu perlakuan mempengaruhi hasil sebuah penelitian. Pengaruh ini dinilai dengan cara menerapkan perlakuan tertentu pada satu kelompok (sering disebut kelompok eksperimen), dan tidak menerapkannya pada kelompok yang lain (sering disebut kelompok kontrol). Kedua kelompok ini diberikan tes awal dan tes akhir. Kemudian, menentukan bagaimana dua kelompok tersebut sesuai hasil akhir.

Tabel: Desain Penelitian Tes Awal dan Tes Akhir

Kelompok Tes Awal Variabel Bebas Tes Akhir

Eksperimen

X = perlakuan menggunakan media audio visual O1 = tes awal kelompok eksperimen

O2 = tes akhir kelompok ekperimen O3 = tes awal kelompok kontrol O4 = tes akhir kelompok control

3.2 Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini berupa penggunaan model pembelajaran kontekstual (CTL) untuk menyusun teks deskripsi. Variabel yang kedua adalah variabel terikat. Variabel terikat dalam penelitian ini berupa kemampuan menyusun teks deskripsi pada siswa kelas VII MTs Al-Ittihad Poncokusumo setelah diberikan perlakuan berupa penggunaan media audio visual (program Explore Indonesia Kompas TV).

3.3 Populasi dan Sampel 1) Populasi

(12)

2) Sampel

Penyampelan dengan teknik cluster random sampling atau pengambilan sampel dengan cara acak sederhana untuk menentukan kelas yang diberikan perlakuan dan kelas yang tidak diberikan perlakuan. Pengambilan sampel acak ini yaitu mula-mula ditetapkan dua kelas yang akan dijadikan sampel dengan cara pengundian, kemudian dari dua kelas tersebut diundi lagi untuk menetapkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pembelajaran menyusun teks deskripsi pada kelompok eksperimen dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL), sedangkan pada kelas kontrol pembelajaran menyusun teks deskripsi dilakukan tanpa menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL).

3.4 Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang dimaksud adalah tes kemampuan menyusun teks deskripsi. Tes ini dilakukan dua kali, yaitu tes awal dan tes akhir. Tes awal (prates) digunakan untuk melihat kemampuan awal siswa, sedangkan tes akhir (pascates) digunakan untuk melihat kemampuan akhir menyusun teks deskripsi siswa. Kedua tes ini dilakukan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen peneletian yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis:

1) Instrumen Tes

Tes adalah cara (yang dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas (baik berupa pertanyaan-pertanyaan (yang harus dijawab) atau perintah-perintah (yang harus dikerjakan) oleh testee, sehingga (atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut) dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee (Sudijono, 2011:67).

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis dalam bentuk uraian yang diberikan kepada sampel penelitian untuk mengetahui keefektifan penggunaan media audio visual (program explore Indonesia Kompas TV) terhadap keterampilan menulis teks deskripsi. Hasil dari tes tersebut akan dibandingkan untuk mengetahui perbedaan nilai atau kemampuan siswa dalam menyusun karangan dengan menggunakan media audio visual (program explore Indonesia Kompas TV) dan tidak menggunakan media audio visual (program explore Indonesia Kompas TV).

Penilaian kemampuan siswa dalam tes menulis karangan meliputi aspek isi, organisasi isi, kosakata, pengembangan bahasa dan mekanik. Berikut tabel skor penilaian menyusun karangan:

Skor Penilaian Menulis Teks Deskripsi

ASPEK SKOR

Isi 30

(13)

Kosakata 15 Pengembangan Bahasa 20

Mekanik 15

Jumlah 100

Pedoman Penilaian Keterampilan Menulis Teks Deskripsi

ASPEK SKOR KRITERIA

Isi 27-30  Tulisan baik sesuai dengan judul.

 Kalimat utama sangat relevan dengan kalimat penjelas serta dapat memberikan kesan awal objek kepada pembaca.

 Tulisan yang dihasilkan mampu menciptakan gambaran pembaca, seolah-olah pembaca dapat merasakan dan melihat dengan jelas objek yang dideskripsikan.

22-26  Tulisan baik tetapi kurang sesuai dengan judul.  Kalimat utama relevan dengan kalimat penjelas

serta dapat memberikan kesan awal objek kepada pembaca.

 Tulisan yang dihasilkan mampu menciptakan gambaran pembaca, tetapi pembaca tidak dapat merasakan dan melihat objek yang

dideskripsikan.

17-21  Tulisan kurang sesuai dengan judul.

 Kalimat utama relevan dengan kalimat penjelas serta kurang memberikan kesan awal objek kepada pembaca.

 Tulisan yang dihasilkan cukup menimbulkan gambaran pembaca.

13-16  Tulisan tidak sesuai dengan judul.

 Kalimat utama Kurang relevan dengan semua kalimat penjelas dan kurang memberikan kesan awal objek kepada pembaca.

 Tulisan yang dihasilkan kurang menimbulkan gambaran pembaca.

Organisasi Isi 18-20  Paragraf mempunyai lebih dari 5 kalimat penjelas yang sesuai dengan ide pokok.

 Keseluruhan uraian kalimat berupa fakta yang bersifat memaparkan.

 Urutan kalimat sangat logis.

14-17  Paragraf mempunyai 5 kalimat penjelas yang sesuai dengan ide pokok.

(14)

 Urutan kalimat logis.

10-13  Paragraf mempunyai 4 kalimat penjelas yang sesuai dengan ide pokok.

 50% kalimat berupa fakta yang bersifat memaparkan.

 Urutan kalimat cukup logis.

7-9  Paragraf mempunyai 3 kalimat penjelas yang sesuai dengan ide pokok.

 25% kalimat berupa fakta yang bersifat memaparkan.

 Urutan kalimat kurang logis.

Kosakata 13-15  Menggunakan makna denotasi dengan tepat.  Jumlah kata yang digunakan >150 kata 9-12  Menggunakan makna denotasi dengan cukup

tepat.

 Jumlah kata yang digunakan 75-150 kata 6-8  Menggunakan makna denotasi dengan kurang

tepat.

 Jumlah kata yang digunakan <75 kata Pengembangan

Bahasa

18-20  Kalimat sederhana dan efektif

14-17  Kalimat sederhana tetapi kurang efektif

10-13  Kalimat kompleks tetapi tidak rancu

7-9  Kalimat kompleks dan rancu

Mekanik 13-15  Penggunaan tanda baca, huruf kapital, kata depan, konjungsi benar dan tepat

9-12  Penggunaan tanda baca, huruf kapital, kata depan, konjungsi benar 50%

6-8  Penggunaan tanda baca, huruf kapital, kata depan, konjungsi benar 25%

3.6 Teknik Analisis Data

1) Penerapan Teknik Analisis Data

(15)

yang menggunakan teknik uji-t haruslah memenuhi persyaratan uji normalitas dan uji homogenitas.

2) Uji Persyaratan Analisis Data a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan membuktikan kenormalan data yakni mengetahui apakah data-data yang diteliti memiliki distribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini, uji normalitas sebaran dilakukan terhadap skor tes awal dan tes akhir baik pada kelompok eksperimen maupun pada kelompok kontrol. Pengujian normalitas sebaran data ini menggunakan teknik uji normalitas kolmogorov-smirnov. Kriteria penilaiannya yaitu apabila p < taraf signifikansi 5% (_= 0,05) menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, tetapi apabila p > taraf signifikansi 5% (_=0,05) menunjukkan bahwa data tersebut berdistribusi normal. Untuk menguji normalitas distribusi data dua kelompok digunakan bantuan komputer program SPSS 16.0.

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas varians dimaksudkan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil dari populasi memiliki varians yang sama dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan satu sama lain. Pengujian homogenitas varians dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 16.0. Jika signifikansinya lebih besar dari 5% (_=0,05) berarti skor hasil tes tersebut tidak memiliki perbedaan varians atau homogen, tetapi jika signifikansinya kurang dari 5% (_=0,05) berarti kedua varians tidak homogen.

3.7 Tahapan Penelitian 1) Tahap Praeksperimen

Pada tahap ini dilakukan tes awal, yaitu memberikan tes menyusun teks deskripsi pada siswa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tes awal dilakukan untuk mengetahui keterampilan awal dalam menyusun teks deskripsi kedua kelompok tersebut. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen harus pada tingkatan pemahaman yang sama sebelum diadakannya penelitian. Tes awal menggunakan metode yang biasanya dipakai oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Setelah tes awal dilakukan, hasil tersebut diuji menggunakan uji-t dengan bantuan komputer program SPSS. Uji-t dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan keterampilan menyusun teks deskripsi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika hasilnya tidak ada perbedaan yang signifikan atau hampir sama, maka eksperimen dengan kedua kelompok tersebut dapat dilanjutkan.

2) Tahap Eksperimen

(16)

kontekstual (CTL). Peneliti adalah pihak yang akan menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL) pada kelompok eksperimen.

3) Tahap Pascaeksperimen

Referensi

Dokumen terkait

Universitas Nusa Cendana (Undana) sebagai bagian integral dari masyarakat NTT berusaha membantu meningkatkan pengembangan peralatan teknologi tepat guna untuk

Berdasarkan TUJUAN “Strategi Pengembangan Wisata Halal di kota Pematangsiantar sebagai penyangga destinasi pariwisata prioritas danau Toba”, bandingkan elemen-elemen pada

Hal ini membuktikan bahwa transparansi sebagai keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi material dan relevan

Perbankan sendiri selain berfungsi menyalurkan kredit dan menghimpun dana, mereka juga berfungsi sebagai bank devisa yang artinya bisa memberikan

Framework Trilateral Cooperative Arrangement Indonesia - Malaysia - The Philippines on Immediate Measures to Address Security Issues in the Maritime Areas of Common

Dari hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: penerapan pembelajaran Fisika dengan model kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas

awal fermentasi mikroorganisme akan memecah sumber karbon gula sederhana seperti glukosa, setelah glukosa habis selanjutnya mikroba akan memecah substrat yang

LAR memiliki pengaruh negatif terhadap CAR, karena jika LAR suatu bank meningkat berarti mengindikasikan terjadi peningkatan total kredit yang diberikan dengan persentase