BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kitin dan Kitosan
Kitin tersebar luas di alam terutama pada hewan dan sejumlah protozoa. Kitin
merupakan bahan organik yang melimpah kedua setelah selulosa. Produksi kitin
dan kitosan berkisar 700 metrik ton pertahun, dan pemasarannya diperkirakan
sekitar 5 triliun yen, sekitar 85% kitosan yang di produksi di Jepang digunakan
untuk mengolah air limbah industri pangan (Alasalvar & Tailor, 2002). Pada saat
ini, hanya sedikit jumlah limbah cangkang yang dimanfaatkan sebagai pakan
ternak dan bahan sumber kitin sehingga pengolahannya menimbulkan pencemaran
lingkungan. Akhir-akhir ini nilai komersial dari kitin melonjak karena sifat-sifat
yang menguntungkan dari turunannya. Salah satu turunan kitin yang paling
banyak di kembangkan adalah kitosan (Kumar, 2000). Kitin dan kitosan adalah
nama untuk dua kelompok senyawa yang dibatasi dengan stokiometri, kitin adalah
poli N-asetil glukosamin yang terdeasetilasi sedikit. Derajat deasetilasinya
biasanya bervariasi diantara 8-15%, tetapi tergantung pada sumber yang
digunakan untuk memperoleh kitin, dan metode yang digunakan untuk isolasi dan
pemurnian. Sedangkan kitosan adalah kitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin
dengan derajat deasetilasi antara 80-90% (Urugami and Tokura, 2006).
2.1.1 Kitin
Kitin merupakan biopolimer alami yang melimpah yang terdapat pada kulit luar
kepiting, udang, dinding sel jamur dan serangga. Kitin mempunyai rumus umum
(C8H13O5N)n dimana, kadar C = 47,29%; H = 6,45%; N = 6,89%; O = 39,37%
(Windholz, 1976). Kitin tersebar merata dan yang terbanyak kedua dialam setelah
N-asetilglukosamin). Struktur kitin (gambar 2.1) mirip dengan struktur selulosa
(gambar 2.2), tetapi memiliki gugus asetamido (NHCOCH3) pada posisi C-2.
O
Gambar 2.1 Struktur Kitin ( Rudal dan Kenchinton, 1973)
O
Gambar 2.2 Struktur Selulosa ( Rudal dan Kenchinton, 1973)
Struktur kitin berdasarkan susunan rantai polimernya, dari hasil difraksi
sinar-X dapat dibagi tiga bagian yaitu kitin α, kitin , kitin . Bentuk α terdapat
sebagai susunan anti paralel, bentuk terdiri atas dua rantai paralel dan fibril sedangkan bentuk yang terdiri dari dua paralel dari tiga rantai dan yang ketiga
anti paralel. Ketiga bentuk struktur kitin tersebut stabil dalam larutan alkali,
namun kitin yang paling stabil adalah bentuk kitin α ( Rudal dan Kenchinton,
1973).
Kitin merupakan bahan yang mirip dengan selulosa yang sama-sama
mempunyai sifat-sifat dalam kelarutannya dan kereaktifitasnya yang rendah. Kitin
berwarna putih, keras, tidak elastis, dan polisakarida yang mengandung nitrogen.
Kitin dapat larut didalam HCl, H2SO4, H3PO4, dikloro asetat, trikloroasetat, asam
formiat, dan dalam larutan pekat garam netral yang panas.
Karena keberadaan atom nitrogen, molekul kitin cenderung bergabung
dengan makro molekul lain dan menyebabkan jenis struktur dan sifat fisiokimia
N-asetil dari kitin bereaksi dengan α-asam amino (terutama tirosin), dan protein
kutikular akan membentuk kompleks stabil namun mudah terdisosiasi setelah pH
berubah. Kitin dapat dianggap sebagai basa lemah, oleh karena itu dapat
mengalami reaksi netralisasi sebagai senyawa yang bersifat alkali. Keistimewaan
sifat kitin adalah berasal dari alam, biodegradable, biokompatibel, tidak toksik,
struktur molekulnya dapat dimodifikasi. Sifat-sifat istimewa inilah menjadi
pendorong untuk digunakan dalam industri yaitu modifikasi sehingga biopolimer
ini digunakan sebagai bahan yang multi guna (Taranathan dan Kittur, 2003)
Reaksi modifikasi pada kitin pada umumnya sulit dilakukan karena
kurangnya kelarutan. Reaksi pada kondisi heterogen menimbulkan beberapa
permasalahan termasuk tingkat reaksi yang rendah, kesulitan dalam substitusi
regioselektif, ketidakseragaman struktur produk dan degradasi parsial yang
disebabkan kondisi reaksinya yang kuat (Kaban, 2007).
2.1.2 Kitosan
Kitosan adalah polisakarida alam yang diperoleh dari deasetilasi kitin. Jika
sebagian besar gugus asetil pada kitin disubstitusikan oleh atom hidrogen menjadi
gugus amino dengan penambahan larutan basa kuat berkonsentrasi tinggi,
hasilnya dinamakan kitosan atau kitin terdeasetilasi. Kitosan mempunyai rumus
umum (C6H9NO3)n atau disebut sebagai poli (1-4)
2-amino-2-deoksi-D-glikopiranosa (gambar 2.3). Kitin bukan merupakan senyawa tunggal tetapi
merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan derajat polimerisasi
yang berbeda. Kitin dan kitosan adalah nama untuk dua kelompok senyawa yang
dibatasi dengan stokiomeri. Derajat deasetilasi biasanya bervariasi antara 8-15%,
tetapi tergantung pada sumber yang digunakan untuk memperoleh kitin dan
metode yang digunakan untuk isolasi dan pemurnian. Kitosan adalah kitin yang
terdeasetilasi sebanyak mungkin dengan derajat deasetilasi antara 50-70%
O
O O
O
O H
H2C OH
NH2 H
HO H
H
H H2C
OH
H HO
NH2 H H H
n
H
Gambar 2.3 Poli (1-4) 2-amino-2-deoksi-D-glikopiranosa (Bastman, 1989)
Pada umumnya polisakarida alami seperti selulosa, dekstran, pektin,
alginat, agar-agar, bersifat netral atau sedikit asam, sedangkan kitin dan kitosan
bersifat basa (Kumar, 2000). Kitosan adalah padatan amorf putih yang tidak larut
dalam alkali dan asam mineral kecuali pada keadaan tertentu. Kitosan merupakan
molekul polimer yang mempunyai berat molekul tinggi. Kitosan dengan berat
molekul tinggi didapati mempunyai viskositas yang baik dalam suasana asam
(Onsoyen and Skaugruad, 1990).
Kitosan larut pada kebanyakan larutan asam organik seperti asam asetat,
asam piruvat, dan asam formiat pada pH sekitar 4 tetapi tidak larut dalam pelarut
air, aseton dan alkohol. Dalam asam mineral pekat seperti HCl dan HNO3 kitosan
larut pada konsentrasi 0,15-1,1% tetapi tidak larut pada konsentrasi 10%. Kitosan
tidak larut dalam H2SO4 pada berbagai konsentrasi, sedangkan dalam H3PO4 tidak
larut pada konsentrasi 1% sementara pada konsentrasi 0,1% sedikit larut.
Kelarutan kitosan dipengaruhi oleh bobot molekul, derajat deasetilasi, dan rotasi
spesifiknya yang beragam bergantung pada sumber dan metode isolasi serta
transformasinya (Sugita dkk, 2009)
Kitosan dapat membentuk gel dalam N- metilmorpholin N-oksida yang
digunakan dalam formulasi pelepasan obat terkendali. Kandungan nitrogen dalam
kitin berkisar 5-8% tergantung pada tingkat deasetilasi sedangkan nitrogen pada
kitosan kebanyakan dalam bentuk gugus amin, maka kitosan dapat bereaksi
melalui gugus amin dalam pembentukan N-asilasi dalam reaksi Schiff,
merupakan reaksi yang penting (Kumar, 2000)
Kitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan anti bakteri
elektrostatik. Kitosan memiliki gugus fungsional amina (-NH2) yang bermuatan
positif sangat kuat, sehingga dapat berikatan dengan dinding sel bakteri yang
relatif bermuatan negatif. Ikatan ini mungkin terjadi pada bagian elektronegatif di
permukaan dinding sel bakteri, selain itu gugus amina (-NH2) pada kitosan
memiliki pasangan elektron bebas sehingga dapat menarik mineral Ca2+ yang terdapat pada dinding sel bakteri dengan membentuk ikatan kovalen koordinasi.
Interaksi inilah yang menyebabkan perubahan permeabilitas dinding sel dari
bakteri sehingga terjadi ketidak seimbangan tekanan internal sel dan
menyebabkan kebocoran elektrolit intraseluler. N-piridinilmetil kitosan
merupakan salah satu turunan kitosan yang memiliki aktivitas bakterisida
kuarterner yang disintesis dengan kitosan dan 3-piridinkarboksialdehid dalam
1-metil-2-pirolidon (Sajomsang dan Gonil, 2010).
Trimetil kitosan merupakan turunan kitosan kuarterner yang permanen,
dimana dapat larut dengan kelarutan tinggi pada rentang pH yang luas (Martins et.
al, 2012)
2.1.3 Kegunaan Kitin dan Kitosan
Beberapa aplikasi kitin dan kitosan antara lain sebagai berikut:
2.1.3.1Bidang industri
Kitin dan kitosan berperan sebagai koagulan polielektrolit pengolahan limbah
cair, pengikat dan penjerap ion logam, mikroorganisme, mikroalga, pewarna,
residu, pestisida, lemak, tanin, PCB (poliklorinasi bifenil), mineral, asam organik,
media kromatografi analis, gel dan pertukaran ion, penyalut berbagai serat alami
dan sintesis, pembentuk film dan membran mudah terurai, meningkatkan kualitas
2.1.3.2Bidang pertanian dan pangan
Kitin dan kitosan dapat digunakan sebagai bahan pencampur ransum pakan
ternak, antimikroba, antijamur, serta bahan pangan, penstabil, pembentuk gel,
pembentuk tekstur, pengental, pengemulsi produk olahan makanan, pembawa zat
aditif makanan, pemberi rasa, zat gizi, pestisida, herbisida, virusida tanaman dan
penjernih sari buah.
2.1.3.3Bidang kedokteran
Biopolimer ini juga berguna sebagai anti koagulan, antitumor, antivirus,
pembuluh darah-kulit dan ginjar sintetik, bahan pembuat lensa kontak, aditif
kosmetik, membran dialis, bahan shampo dan kondisioner rambut, zat hemostatik,
penstabil liposom, bahan ortopdik, pembalut luka dan benang yang mudah
diserap, serta mempertinggi daya kekebalan (Sugita dkk,2009).
2.2 Modifikasi Kitosan
Adanya gugus amina (NH2) dan hidroksil (OH) dari kitosan (gambar 2.4)
menyebabkan kitosan mudah di modifikasi secara kimia (Goosen, 1997)
O
O O
H OH
NH2 H
HO H
H
gugus hidroksil alkohol primer pada C-6
gugus amina gugus
hi-droksil alkohol sekunder pada C-3
n H
Gambar 2.4 Gugus Aktif Pada Kitosan (Goosen, 1997)
Gugus hidroksi dan amin dapat memberikan jembatan hidrogen secara
yang kuat, membuat kitosan tidak larut dalam air (Goosen, 1997) seperti gambar
Gambar 2.5 Jembatan Hidrogen Pada Molekul Kitosan
(a) Intermolekul (b) Intramolekul (Goosen 1997)
Gugus fungsi dari kitosan ( OH primer pada C-6 dan sekunder pada C-3
dan gugus NH2 pada C-2) membuat kitosan mudah di modifikasi secara kimia dan
ditransformasikan menjadi turunannya antara lain:
2.2.1 Trimetil Kitosan
Trimetil kitosan merupakan turunan kitosan kuarterner yang stabil dan memiliki
kelarutan tinggi dalam jarak pH yang luas. Trimetil kitosan dapat berguna sebagai
pengangkut protein. Modifikasi turunan kitosan kuarterner dapat secara langsung
dilakukan dengan mereaksikan kitosan dengan metil iodida dalam pelarut metil
pirolidon (NMP) juga dengan penambahan natrium hidroksida dan natrium iodida
O
Gambar 2.6 Reaksi Pembentukan Trimetil Kitosan Dari Kitosan Secara Langsung
(Dung et. al, 1994)
Sintesis kitosan kuarterner juga dapat dilakukan dengan mereaksikan
kitosan dengan aldehid membentuk basa Schif dalam asam asetat. Basa Schif
yang terbentuk direduksi dengan natrium borohidrid membentuk N-alkil kitosan.
Selanjutnya direaksikan kembali dengan metil iodida dengan natrium iodida dan
Natrium hidroksida dalam pelarut metil pirolidon (Guo et.al, 2007). Reaksi ini
bisa dilihat dalam gambar 2.7.
O
Gambar 2.7 Reaksi Pembentukan Trimetil Kitosan Dari Basa Schiff
Sintesis turunan kitosan quarterner yang lain juga dapat dibentuk dengan
mereaksikan kitosan dengan piridinilaldehid dalam kondisi asam asetat.
Kemudian direaksikan dengan natrium sianoborohidrid untuk mereduksi basa
Schiff menjadi N-piridinil metil kitosan. Selanjutnya direaksikan dengan metil
iodida, natrium iodida dan natrium hidroksida sehingga diperoleh N-piridinil metil
kitosan termetilasi. Reaksi ini dapat dilihat dalam gambar 2.8 ( Sajomsang et.al,
2010)
O
O O
NH2
HO
OH
kitosan
CH3COOH O
O O
N HO
OH
HC
O
O O
NH HO
OH
H2C
CH3I
NaI,NaOH NMP
O
O O
N HO
OH
H3C CH3
I
basa Schiff
piridinil kitosan termetilasi
n n
n
n
N N
N CHO
NaCNBH3
N
CH3
I
Gambar 2.8 Reaksi Pembentukan Piridinil Metil Kitosan Termetilasi
2.2.2 N-asilasi
Dapat diperoleh dari reaksi amidasi antara kitosan dan anhidrida ftalat dalam
pelarut DMF dan kondisi refluks (gambar 2.9).
O
O O
HOH2C
NH2 HO
O O
O
DMF
130oC
O
O O
HOH2C
NH HO
O
HO
O
n
n n
kitosan
anhidrid ftalat
N-ftaloyl kitosan
Gambar 2.9 Reaksi Pembentukan N-Ftaloil Kitosan (Robert, 1992)
Pereaksi yang paling umum digunakan untuk N-asilasi kitosan adalah asil
anhidrida dan telah digunakan dalam kondisi heterogen dan homogen. Tiga
sistem yang telah diuji adalah : (a) anhidrid asetat – asam asetat glacial-HClO4;
(b) anhidrida asetat pada temperatur ruangan selama 120 jam yang diikuti proses
refluks anhidrida asetat selama dua jam; (c) anhidrida asetat-metanol pada
temperatur ruangan. Dari ketinganya, metode yang paling baik digunakan adalah
metode yang terakhir (Robert, 1992).
2.2.3 O-asilasi
Gugus amino kitosan lebih reaktif dari pada gugus hidroksilnya, sehingga untuk
menghasilkan O-asilasi kitosan perlu dilakukan proteksi atau perlindungan
terhadap gugus amin selama proses asilasi untuk menghasilkan O-asil kitosan.
Metode proteksi yang dilakukan antara lain melalui pembuatan basa Schiff disusul
O-asetilasi menggunakan larutan asetat anhidrid-piridin untuk mencegah
menghasilkan senyawa ester yang merupakan kitosan asetat. Dalam hal ini kitosan
terlebih dahulu direaksikan dengan asetaldehida membentuk aldimin untuk
melindungi gugus amina. Kitosan laurat diperoleh dari reaksi trans esterifikasi
antara metil laurat dengan kitosan asetat. Selanjutnya dilakukan deproteksi dengan
menambahkan natrium bikarbonat untuk memperoleh kitosan laurat. Reaksi ini
dapat dilihat dalam gambar 2.10 (Manalu, 2008)
O
Gambar 2.10 Reaksi Pembentukan O-Laurat Kitosan (Manalu, 2008)
2.2.4 N-O-asilasi
N-dan O-asilasi kitosan juga dapat diperoleh bersamaan dengan menggunakan
mencampurkan suksinat anhidrit kedalam campuran kitosan dalam asetat 2% dan
metanol 1:1 (v/v). Dilakukan pengadukan selama 3 jam kemudian dibiarkan
selama 30 menit.
O
Gambar 2.11 Reaksi Pembentukan N,O-Asilasi Kitosan (Zoubi et. al, 2011)
2.2.5 Basa Schiff
Basa schiff merupakan turunan kitosan yang pembahasannya belum seluas N-asil
kitosan atau eter kitosan karena rendahnya kestabilan basa Schiff yang
menyebabkan basa Schiff mudah mengalami hidrolisis asam dan telah digunakan
sebagai proteksi terhadap gugus amina. Turunan basa Schiff dapat diperoleh dari
reaksi film kitosan dengan aldehid alifatik, bukan saja yang linear-asetaldehid
kedekanal juga yang bercabang dan aldehid aromatik (Zoubi et. al, 2011).
Gambar 2.12 Reaksi Pembentukan Basa Schiff Kitosan (Zoubi et. al, 2011)
Aldimin kitosan disebut juga sebagai basa Schiff kitosan (gambar 2.12).
Aldimin kitosan merupakan hasil reaksi antara aldehida dengan kitosan, dimana
aldehida terikat pada gugus amina (-NH2) kitosan yang akan membentuk suatu
gugus imina (-C=N) yang merupakan ciri khas terbentuknya aldimin. Aldimin
juga dapat dibuat dengan mereaksikan aldehida dengan senyawa yang
mengandung gugus amina siklik maupun alifatis. Ginting (2013), mereaksikan
aldehida campuran yang merupakan hasil ozonolisis dari asam tidak jenuh dari
minyak kemiri dengan anniline yang merupakan sumber amina siklik. Aldimin
kitosan juga dapat dihasilkan dengan mereaksikan kitosan dengan campuran
aldehida yang berasal dari hasil ozonolisis minyak kelapa sawit dengan kondisi
refluks pada suhu 60oC selama 6 jam (Parry, 2013). Manalu (2008) mereaksikan asetal dehida dengan kitosan yang menghasilkan aldimin kitosan (Gambar 2.13)
yang berfungsi sebagai gugus pelindung untuk melindungi gugus amina pada
kitosan sehingga dapat berbentuk suatu ester kitosan.
O
O O
HOH2C
NH2
HO
n
CH3COOH 1% O
O O
HOH2C
N HO
HC
H2O kitosan
aldimin kitosan (basa Schiff)
n n
CH3CHO
CH3
n
Gambar 2.13 Reaksi Pembentukan Aldimin Kitosan (Manalu, 2008)
2.2.6 N-alkil kitosan
Metode yang paling mudah untuk N-alkilasi kitosan adalah reaksi antara kitosan
dan alkil halida (gambar 2.14) yaitu metode yang menyelidiki reaksi kitosan
dengan metil-etil iodida dalam keberadaan beberapa amina tersier, piridin, dimetil
O
Gambar 2.14 Reaksi Alkilasi Kitosan (Roberts, 1992)
2.2.7 Kitosan posfat
Dapat dilakukan dengan melarutkan kitosan kedalam larutan NaOH 45% selama 2
jam. Kemudian direaksikan dengan dietil kloroposfat 97%, dan diperoleh O-dietil
posfat kitosan (gambar 2.15).
O
o- dietil fospat kitosan
Gambar 2.15 Reaksi Pembentukan Kitosan Posfat (Ginting 2004)
Kitoan sulfat diperoleh dengan mereaksikan kitosan dengan ClSO3H-piridin yang
dicampur selama 1 jam pada suhu 100oC (gambar 2.16). Hasil yang diberikan
mengandung dua gugus sulfat setiap satu D-glukosamin anhidrid. Perlakuan lain
adalah dengan menggantikan piridin dengan DMF, karena kompleks SO3-DMF
melebihi DMF maka reaksi dibuat pada suhu kamar. Hasil yang diberikan
mengandung satu gugus N-sulfat dan satu gugus O-sulfat dalam setiap
D-glukosamin (Ginting, 2004).
O
Gambar 2.16 Reaksi Pembentukan N,O-Kitosan Sulfat (Ginting, 2004)
2.2.9 Karboksimetil kitosan
Karboksimetil kitosan merupakan salah satu turunan kitosan yang berasal dari
kitin yang diisolasi dari invertebrata laut (misalnya udang, kepiting), darat,
serangga, jamur dan ragi. Karboksi metil kitosan mempunyai sifat yang penting
yaitu larutdalam air, kapasitas gel tinggi, toksisitas rendah dan biokompatibel
yang baik sehingga aplikasinya akan lebih luas (Erna dkk, 2009). Reaksi
pembentukan karboksi metil kitosan dapat dilihat pada (gambar 2.17) berikut:
Gambar 2.17 Reaksi Pembentukan Karboksimetil Kitosan (Erna, 2009)
2.3. Metil Iodida
Alkil iodida adalah alkil halida yang paling mudah terbentuk. Destilasi dengan
pemanasan konstan dari alkohol dengan asam hidriodat adalah sebuah metode
umum untuk pembentuka alkil iodida. Seperti yang terjadi pada klorida dan
bromida, hasil dari alkil iodida dalam reaksi ini mungkin mengalami penyusutan
dalam kasus alkohol sekunder dan tersier sebagai hasil penyusutan kerangka.
R-OH HI R-I H
2O
Sebuah alternatif yang paling efektif secara partikular untuk perubahan
dari di-ol menjadi di-iodo adalah sebuah campuran dari KI dan H3PO4 95%.
Reagen tersebut memecah tetrahidrofuran dan tetrahidrofiran untuk hasil dari
senyawa iodo (Vogel, 1989)
Iodo metana atau metil iodida adalah suatu senyawa kimia dengan rumus
molekul CH3I. Senyawa ini merupakan cairan dengan densitas dan tekanan uap
yang tinggi. Senya wa ini meupakan turunan dari metana dengan salah satu atom
hidrogen digantikan oleh atom iodin. Senyawa ini dapat bercampur sempurna
dengan pelarut-pelarut organik. Sifat-sifat dari metil dapat dilihat dalam tabel 2.1
berikut:
Tabel 2.1 Sifat-Sifat Metil Iodida
Formula CH3I
Massa molar 141,94 gram/mol
Warna Bening
Aroma Seperti eter
Densitas 2,28 gram/ml
Titik lebur -66,5oC
Kelarutan dalam air 14 gram/liter
Sumber: http://en.wikipedia.org 2.4 Metil Pirolidon
Dapat menyebabkan iritasi kulit, iritasi mata, merusak produktifitas atau
keguguran, iritasi pernapasan, kerusakan pada hati sistem pernapasan, tulang
rusuk, kerusakan limfa, kerusakan kelenjar adrenalin untuk pemakaian jangka
panjang. 1- Metil 2-pirolidon memiliki rumus molekul C5H9NO (gambar 2.18),
dengan berat molekul 99,13 gram/ mol. Memiliki sifat sensitif terhadap cahaya
dan higroskopis.
N O
CH3
Gambar 2.18 Struktur Metil Pirolidon (tcichemical.com)
2.5 Asam formiat dan Formaldehid 2.5.1 Formaldehid
Larutan formaldehid disebut juga dengan formalin. Dapat larut sebanyak 37%
(w/w) gas formaldehid dalam air. Tidak memiliki warna dan berbau tajam pedas.
Dapat larut dalam air, aseton dan alkohol. Uapnya dapat menyebabkan iritasi
sampai membran lendir dan kulit, gangguan pencernaan seperti sakit perut,
hematuria, protenuria, manuria, asidosis, vertigo, koma, dan kematian (anonim).
Formalin dengan rumus kimia H2CO ialah larutan gas formaldehid 37% dalam air.
Formaldehid adalah gas. Sedikit molekulnya sangat larut dalam air dan
berkombinasi membentuk hidrat metilen, (HO-CH2-OH). Ini adalah bentuk dari
formaldehid yang ada dalam bentuk larutan. Reaktivitas kimianya sama seperti
bentuk formaldehid. Molekul metilen hidrat dapat bereaksi satu dengan yang lain
membentuk suatu polimer (Gambar 2.19) (Kiernan, 2002).
H2O C O
H
H
C H
H O
H OH
n
Formaldehid Polimer Formaldehid
H2 C
O H2 C
O H2 C
O H2 C
O
60OC
(OH-)
4 C O
H
H
Formaldehid 4 monomer Paraformaldehid
Gambar 2. 19 : Bentuk Polimer Formaldehid dan Depolimerisasi Paraformaldehid
(Kiernan 2002)
2.5.2 Asam formiat
HCOOH atau asam formiat memiliki berat molekul 46,02 gram/mol dan
mengandung (C=26,10%; H=4,38%; O=69,52%). Pertama kali ditemukan oleh S.
Fisher pada tahun 1670 yang diisolasi dari semut. Diperoleh dengan memanaskan
karbon monoksida dan NaOH dibawah tekanan untuk menghasilkan natrium
formit dan selanjutnya dengan asam sulfat. Asam formiat memiliki bau khas