• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sintesis Dimetil Kitosan dan Trimetil Kitosan Klorida melalui Reaksi Kitosan dengan Formaldehid dan Asam Formiat Diikuti Reaksi dengan Metil Iodida

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sintesis Dimetil Kitosan dan Trimetil Kitosan Klorida melalui Reaksi Kitosan dengan Formaldehid dan Asam Formiat Diikuti Reaksi dengan Metil Iodida"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kitin dan Kitosan

Kitin tersebar luas di alam terutama pada hewan dan sejumlah protozoa. Kitin

merupakan bahan organik yang melimpah kedua setelah selulosa. Produksi kitin

dan kitosan berkisar 700 metrik ton pertahun, dan pemasarannya diperkirakan

sekitar 5 triliun yen, sekitar 85% kitosan yang di produksi di Jepang digunakan

untuk mengolah air limbah industri pangan (Alasalvar & Tailor, 2002). Pada saat

ini, hanya sedikit jumlah limbah cangkang yang dimanfaatkan sebagai pakan

ternak dan bahan sumber kitin sehingga pengolahannya menimbulkan pencemaran

lingkungan. Akhir-akhir ini nilai komersial dari kitin melonjak karena sifat-sifat

yang menguntungkan dari turunannya. Salah satu turunan kitin yang paling

banyak di kembangkan adalah kitosan (Kumar, 2000). Kitin dan kitosan adalah

nama untuk dua kelompok senyawa yang dibatasi dengan stokiometri, kitin adalah

poli N-asetil glukosamin yang terdeasetilasi sedikit. Derajat deasetilasinya

biasanya bervariasi diantara 8-15%, tetapi tergantung pada sumber yang

digunakan untuk memperoleh kitin, dan metode yang digunakan untuk isolasi dan

pemurnian. Sedangkan kitosan adalah kitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin

dengan derajat deasetilasi antara 80-90% (Urugami and Tokura, 2006).

2.1.1 Kitin

Kitin merupakan biopolimer alami yang melimpah yang terdapat pada kulit luar

kepiting, udang, dinding sel jamur dan serangga. Kitin mempunyai rumus umum

(C8H13O5N)n dimana, kadar C = 47,29%; H = 6,45%; N = 6,89%; O = 39,37%

(Windholz, 1976). Kitin tersebar merata dan yang terbanyak kedua dialam setelah

(2)

N-asetilglukosamin). Struktur kitin (gambar 2.1) mirip dengan struktur selulosa

(gambar 2.2), tetapi memiliki gugus asetamido (NHCOCH3) pada posisi C-2.

O

Gambar 2.1 Struktur Kitin ( Rudal dan Kenchinton, 1973)

O

Gambar 2.2 Struktur Selulosa ( Rudal dan Kenchinton, 1973)

Struktur kitin berdasarkan susunan rantai polimernya, dari hasil difraksi

sinar-X dapat dibagi tiga bagian yaitu kitin α, kitin , kitin . Bentuk α terdapat

sebagai susunan anti paralel, bentuk terdiri atas dua rantai paralel dan fibril sedangkan bentuk yang terdiri dari dua paralel dari tiga rantai dan yang ketiga

anti paralel. Ketiga bentuk struktur kitin tersebut stabil dalam larutan alkali,

namun kitin yang paling stabil adalah bentuk kitin α ( Rudal dan Kenchinton,

1973).

Kitin merupakan bahan yang mirip dengan selulosa yang sama-sama

mempunyai sifat-sifat dalam kelarutannya dan kereaktifitasnya yang rendah. Kitin

berwarna putih, keras, tidak elastis, dan polisakarida yang mengandung nitrogen.

Kitin dapat larut didalam HCl, H2SO4, H3PO4, dikloro asetat, trikloroasetat, asam

formiat, dan dalam larutan pekat garam netral yang panas.

Karena keberadaan atom nitrogen, molekul kitin cenderung bergabung

dengan makro molekul lain dan menyebabkan jenis struktur dan sifat fisiokimia

(3)

N-asetil dari kitin bereaksi dengan α-asam amino (terutama tirosin), dan protein

kutikular akan membentuk kompleks stabil namun mudah terdisosiasi setelah pH

berubah. Kitin dapat dianggap sebagai basa lemah, oleh karena itu dapat

mengalami reaksi netralisasi sebagai senyawa yang bersifat alkali. Keistimewaan

sifat kitin adalah berasal dari alam, biodegradable, biokompatibel, tidak toksik,

struktur molekulnya dapat dimodifikasi. Sifat-sifat istimewa inilah menjadi

pendorong untuk digunakan dalam industri yaitu modifikasi sehingga biopolimer

ini digunakan sebagai bahan yang multi guna (Taranathan dan Kittur, 2003)

Reaksi modifikasi pada kitin pada umumnya sulit dilakukan karena

kurangnya kelarutan. Reaksi pada kondisi heterogen menimbulkan beberapa

permasalahan termasuk tingkat reaksi yang rendah, kesulitan dalam substitusi

regioselektif, ketidakseragaman struktur produk dan degradasi parsial yang

disebabkan kondisi reaksinya yang kuat (Kaban, 2007).

2.1.2 Kitosan

Kitosan adalah polisakarida alam yang diperoleh dari deasetilasi kitin. Jika

sebagian besar gugus asetil pada kitin disubstitusikan oleh atom hidrogen menjadi

gugus amino dengan penambahan larutan basa kuat berkonsentrasi tinggi,

hasilnya dinamakan kitosan atau kitin terdeasetilasi. Kitosan mempunyai rumus

umum (C6H9NO3)n atau disebut sebagai poli (1-4)

2-amino-2-deoksi-D-glikopiranosa (gambar 2.3). Kitin bukan merupakan senyawa tunggal tetapi

merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan derajat polimerisasi

yang berbeda. Kitin dan kitosan adalah nama untuk dua kelompok senyawa yang

dibatasi dengan stokiomeri. Derajat deasetilasi biasanya bervariasi antara 8-15%,

tetapi tergantung pada sumber yang digunakan untuk memperoleh kitin dan

metode yang digunakan untuk isolasi dan pemurnian. Kitosan adalah kitin yang

terdeasetilasi sebanyak mungkin dengan derajat deasetilasi antara 50-70%

(4)

O

O O

O

O H

H2C OH

NH2 H

HO H

H

H H2C

OH

H HO

NH2 H H H

n

H

Gambar 2.3 Poli (1-4) 2-amino-2-deoksi-D-glikopiranosa (Bastman, 1989)

Pada umumnya polisakarida alami seperti selulosa, dekstran, pektin,

alginat, agar-agar, bersifat netral atau sedikit asam, sedangkan kitin dan kitosan

bersifat basa (Kumar, 2000). Kitosan adalah padatan amorf putih yang tidak larut

dalam alkali dan asam mineral kecuali pada keadaan tertentu. Kitosan merupakan

molekul polimer yang mempunyai berat molekul tinggi. Kitosan dengan berat

molekul tinggi didapati mempunyai viskositas yang baik dalam suasana asam

(Onsoyen and Skaugruad, 1990).

Kitosan larut pada kebanyakan larutan asam organik seperti asam asetat,

asam piruvat, dan asam formiat pada pH sekitar 4 tetapi tidak larut dalam pelarut

air, aseton dan alkohol. Dalam asam mineral pekat seperti HCl dan HNO3 kitosan

larut pada konsentrasi 0,15-1,1% tetapi tidak larut pada konsentrasi 10%. Kitosan

tidak larut dalam H2SO4 pada berbagai konsentrasi, sedangkan dalam H3PO4 tidak

larut pada konsentrasi 1% sementara pada konsentrasi 0,1% sedikit larut.

Kelarutan kitosan dipengaruhi oleh bobot molekul, derajat deasetilasi, dan rotasi

spesifiknya yang beragam bergantung pada sumber dan metode isolasi serta

transformasinya (Sugita dkk, 2009)

Kitosan dapat membentuk gel dalam N- metilmorpholin N-oksida yang

digunakan dalam formulasi pelepasan obat terkendali. Kandungan nitrogen dalam

kitin berkisar 5-8% tergantung pada tingkat deasetilasi sedangkan nitrogen pada

kitosan kebanyakan dalam bentuk gugus amin, maka kitosan dapat bereaksi

melalui gugus amin dalam pembentukan N-asilasi dalam reaksi Schiff,

merupakan reaksi yang penting (Kumar, 2000)

Kitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan anti bakteri

(5)

elektrostatik. Kitosan memiliki gugus fungsional amina (-NH2) yang bermuatan

positif sangat kuat, sehingga dapat berikatan dengan dinding sel bakteri yang

relatif bermuatan negatif. Ikatan ini mungkin terjadi pada bagian elektronegatif di

permukaan dinding sel bakteri, selain itu gugus amina (-NH2) pada kitosan

memiliki pasangan elektron bebas sehingga dapat menarik mineral Ca2+ yang terdapat pada dinding sel bakteri dengan membentuk ikatan kovalen koordinasi.

Interaksi inilah yang menyebabkan perubahan permeabilitas dinding sel dari

bakteri sehingga terjadi ketidak seimbangan tekanan internal sel dan

menyebabkan kebocoran elektrolit intraseluler. N-piridinilmetil kitosan

merupakan salah satu turunan kitosan yang memiliki aktivitas bakterisida

kuarterner yang disintesis dengan kitosan dan 3-piridinkarboksialdehid dalam

1-metil-2-pirolidon (Sajomsang dan Gonil, 2010).

Trimetil kitosan merupakan turunan kitosan kuarterner yang permanen,

dimana dapat larut dengan kelarutan tinggi pada rentang pH yang luas (Martins et.

al, 2012)

2.1.3 Kegunaan Kitin dan Kitosan

Beberapa aplikasi kitin dan kitosan antara lain sebagai berikut:

2.1.3.1Bidang industri

Kitin dan kitosan berperan sebagai koagulan polielektrolit pengolahan limbah

cair, pengikat dan penjerap ion logam, mikroorganisme, mikroalga, pewarna,

residu, pestisida, lemak, tanin, PCB (poliklorinasi bifenil), mineral, asam organik,

media kromatografi analis, gel dan pertukaran ion, penyalut berbagai serat alami

dan sintesis, pembentuk film dan membran mudah terurai, meningkatkan kualitas

(6)

2.1.3.2Bidang pertanian dan pangan

Kitin dan kitosan dapat digunakan sebagai bahan pencampur ransum pakan

ternak, antimikroba, antijamur, serta bahan pangan, penstabil, pembentuk gel,

pembentuk tekstur, pengental, pengemulsi produk olahan makanan, pembawa zat

aditif makanan, pemberi rasa, zat gizi, pestisida, herbisida, virusida tanaman dan

penjernih sari buah.

2.1.3.3Bidang kedokteran

Biopolimer ini juga berguna sebagai anti koagulan, antitumor, antivirus,

pembuluh darah-kulit dan ginjar sintetik, bahan pembuat lensa kontak, aditif

kosmetik, membran dialis, bahan shampo dan kondisioner rambut, zat hemostatik,

penstabil liposom, bahan ortopdik, pembalut luka dan benang yang mudah

diserap, serta mempertinggi daya kekebalan (Sugita dkk,2009).

2.2 Modifikasi Kitosan

Adanya gugus amina (NH2) dan hidroksil (OH) dari kitosan (gambar 2.4)

menyebabkan kitosan mudah di modifikasi secara kimia (Goosen, 1997)

O

O O

H OH

NH2 H

HO H

H

gugus hidroksil alkohol primer pada C-6

gugus amina gugus

hi-droksil alkohol sekunder pada C-3

n H

Gambar 2.4 Gugus Aktif Pada Kitosan (Goosen, 1997)

Gugus hidroksi dan amin dapat memberikan jembatan hidrogen secara

(7)

yang kuat, membuat kitosan tidak larut dalam air (Goosen, 1997) seperti gambar

Gambar 2.5 Jembatan Hidrogen Pada Molekul Kitosan

(a) Intermolekul (b) Intramolekul (Goosen 1997)

Gugus fungsi dari kitosan ( OH primer pada C-6 dan sekunder pada C-3

dan gugus NH2 pada C-2) membuat kitosan mudah di modifikasi secara kimia dan

ditransformasikan menjadi turunannya antara lain:

2.2.1 Trimetil Kitosan

Trimetil kitosan merupakan turunan kitosan kuarterner yang stabil dan memiliki

kelarutan tinggi dalam jarak pH yang luas. Trimetil kitosan dapat berguna sebagai

pengangkut protein. Modifikasi turunan kitosan kuarterner dapat secara langsung

dilakukan dengan mereaksikan kitosan dengan metil iodida dalam pelarut metil

pirolidon (NMP) juga dengan penambahan natrium hidroksida dan natrium iodida

(8)

O

Gambar 2.6 Reaksi Pembentukan Trimetil Kitosan Dari Kitosan Secara Langsung

(Dung et. al, 1994)

Sintesis kitosan kuarterner juga dapat dilakukan dengan mereaksikan

kitosan dengan aldehid membentuk basa Schif dalam asam asetat. Basa Schif

yang terbentuk direduksi dengan natrium borohidrid membentuk N-alkil kitosan.

Selanjutnya direaksikan kembali dengan metil iodida dengan natrium iodida dan

Natrium hidroksida dalam pelarut metil pirolidon (Guo et.al, 2007). Reaksi ini

bisa dilihat dalam gambar 2.7.

O

Gambar 2.7 Reaksi Pembentukan Trimetil Kitosan Dari Basa Schiff

(9)

Sintesis turunan kitosan quarterner yang lain juga dapat dibentuk dengan

mereaksikan kitosan dengan piridinilaldehid dalam kondisi asam asetat.

Kemudian direaksikan dengan natrium sianoborohidrid untuk mereduksi basa

Schiff menjadi N-piridinil metil kitosan. Selanjutnya direaksikan dengan metil

iodida, natrium iodida dan natrium hidroksida sehingga diperoleh N-piridinil metil

kitosan termetilasi. Reaksi ini dapat dilihat dalam gambar 2.8 ( Sajomsang et.al,

2010)

O

O O

NH2

HO

OH

kitosan

CH3COOH O

O O

N HO

OH

HC

O

O O

NH HO

OH

H2C

CH3I

NaI,NaOH NMP

O

O O

N HO

OH

H3C CH3

I

basa Schiff

piridinil kitosan termetilasi

n n

n

n

N N

N CHO

NaCNBH3

N

CH3

I

Gambar 2.8 Reaksi Pembentukan Piridinil Metil Kitosan Termetilasi

(10)

2.2.2 N-asilasi

Dapat diperoleh dari reaksi amidasi antara kitosan dan anhidrida ftalat dalam

pelarut DMF dan kondisi refluks (gambar 2.9).

O

O O

HOH2C

NH2 HO

O O

O

DMF

130oC

O

O O

HOH2C

NH HO

O

HO

O

n

n n

kitosan

anhidrid ftalat

N-ftaloyl kitosan

Gambar 2.9 Reaksi Pembentukan N-Ftaloil Kitosan (Robert, 1992)

Pereaksi yang paling umum digunakan untuk N-asilasi kitosan adalah asil

anhidrida dan telah digunakan dalam kondisi heterogen dan homogen. Tiga

sistem yang telah diuji adalah : (a) anhidrid asetat – asam asetat glacial-HClO4;

(b) anhidrida asetat pada temperatur ruangan selama 120 jam yang diikuti proses

refluks anhidrida asetat selama dua jam; (c) anhidrida asetat-metanol pada

temperatur ruangan. Dari ketinganya, metode yang paling baik digunakan adalah

metode yang terakhir (Robert, 1992).

2.2.3 O-asilasi

Gugus amino kitosan lebih reaktif dari pada gugus hidroksilnya, sehingga untuk

menghasilkan O-asilasi kitosan perlu dilakukan proteksi atau perlindungan

terhadap gugus amin selama proses asilasi untuk menghasilkan O-asil kitosan.

Metode proteksi yang dilakukan antara lain melalui pembuatan basa Schiff disusul

O-asetilasi menggunakan larutan asetat anhidrid-piridin untuk mencegah

(11)

menghasilkan senyawa ester yang merupakan kitosan asetat. Dalam hal ini kitosan

terlebih dahulu direaksikan dengan asetaldehida membentuk aldimin untuk

melindungi gugus amina. Kitosan laurat diperoleh dari reaksi trans esterifikasi

antara metil laurat dengan kitosan asetat. Selanjutnya dilakukan deproteksi dengan

menambahkan natrium bikarbonat untuk memperoleh kitosan laurat. Reaksi ini

dapat dilihat dalam gambar 2.10 (Manalu, 2008)

O

Gambar 2.10 Reaksi Pembentukan O-Laurat Kitosan (Manalu, 2008)

2.2.4 N-O-asilasi

N-dan O-asilasi kitosan juga dapat diperoleh bersamaan dengan menggunakan

(12)

mencampurkan suksinat anhidrit kedalam campuran kitosan dalam asetat 2% dan

metanol 1:1 (v/v). Dilakukan pengadukan selama 3 jam kemudian dibiarkan

selama 30 menit.

O

Gambar 2.11 Reaksi Pembentukan N,O-Asilasi Kitosan (Zoubi et. al, 2011)

2.2.5 Basa Schiff

Basa schiff merupakan turunan kitosan yang pembahasannya belum seluas N-asil

kitosan atau eter kitosan karena rendahnya kestabilan basa Schiff yang

menyebabkan basa Schiff mudah mengalami hidrolisis asam dan telah digunakan

sebagai proteksi terhadap gugus amina. Turunan basa Schiff dapat diperoleh dari

reaksi film kitosan dengan aldehid alifatik, bukan saja yang linear-asetaldehid

kedekanal juga yang bercabang dan aldehid aromatik (Zoubi et. al, 2011).

(13)

Gambar 2.12 Reaksi Pembentukan Basa Schiff Kitosan (Zoubi et. al, 2011)

Aldimin kitosan disebut juga sebagai basa Schiff kitosan (gambar 2.12).

Aldimin kitosan merupakan hasil reaksi antara aldehida dengan kitosan, dimana

aldehida terikat pada gugus amina (-NH2) kitosan yang akan membentuk suatu

gugus imina (-C=N) yang merupakan ciri khas terbentuknya aldimin. Aldimin

juga dapat dibuat dengan mereaksikan aldehida dengan senyawa yang

mengandung gugus amina siklik maupun alifatis. Ginting (2013), mereaksikan

aldehida campuran yang merupakan hasil ozonolisis dari asam tidak jenuh dari

minyak kemiri dengan anniline yang merupakan sumber amina siklik. Aldimin

kitosan juga dapat dihasilkan dengan mereaksikan kitosan dengan campuran

aldehida yang berasal dari hasil ozonolisis minyak kelapa sawit dengan kondisi

refluks pada suhu 60oC selama 6 jam (Parry, 2013). Manalu (2008) mereaksikan asetal dehida dengan kitosan yang menghasilkan aldimin kitosan (Gambar 2.13)

yang berfungsi sebagai gugus pelindung untuk melindungi gugus amina pada

kitosan sehingga dapat berbentuk suatu ester kitosan.

O

O O

HOH2C

NH2

HO

n

CH3COOH 1% O

O O

HOH2C

N HO

HC

H2O kitosan

aldimin kitosan (basa Schiff)

n n

CH3CHO

CH3

n

Gambar 2.13 Reaksi Pembentukan Aldimin Kitosan (Manalu, 2008)

2.2.6 N-alkil kitosan

Metode yang paling mudah untuk N-alkilasi kitosan adalah reaksi antara kitosan

dan alkil halida (gambar 2.14) yaitu metode yang menyelidiki reaksi kitosan

dengan metil-etil iodida dalam keberadaan beberapa amina tersier, piridin, dimetil

(14)

O

Gambar 2.14 Reaksi Alkilasi Kitosan (Roberts, 1992)

2.2.7 Kitosan posfat

Dapat dilakukan dengan melarutkan kitosan kedalam larutan NaOH 45% selama 2

jam. Kemudian direaksikan dengan dietil kloroposfat 97%, dan diperoleh O-dietil

posfat kitosan (gambar 2.15).

O

o- dietil fospat kitosan

Gambar 2.15 Reaksi Pembentukan Kitosan Posfat (Ginting 2004)

(15)

Kitoan sulfat diperoleh dengan mereaksikan kitosan dengan ClSO3H-piridin yang

dicampur selama 1 jam pada suhu 100oC (gambar 2.16). Hasil yang diberikan

mengandung dua gugus sulfat setiap satu D-glukosamin anhidrid. Perlakuan lain

adalah dengan menggantikan piridin dengan DMF, karena kompleks SO3-DMF

melebihi DMF maka reaksi dibuat pada suhu kamar. Hasil yang diberikan

mengandung satu gugus N-sulfat dan satu gugus O-sulfat dalam setiap

D-glukosamin (Ginting, 2004).

O

Gambar 2.16 Reaksi Pembentukan N,O-Kitosan Sulfat (Ginting, 2004)

2.2.9 Karboksimetil kitosan

Karboksimetil kitosan merupakan salah satu turunan kitosan yang berasal dari

kitin yang diisolasi dari invertebrata laut (misalnya udang, kepiting), darat,

serangga, jamur dan ragi. Karboksi metil kitosan mempunyai sifat yang penting

yaitu larutdalam air, kapasitas gel tinggi, toksisitas rendah dan biokompatibel

yang baik sehingga aplikasinya akan lebih luas (Erna dkk, 2009). Reaksi

pembentukan karboksi metil kitosan dapat dilihat pada (gambar 2.17) berikut:

(16)

Gambar 2.17 Reaksi Pembentukan Karboksimetil Kitosan (Erna, 2009)

2.3. Metil Iodida

Alkil iodida adalah alkil halida yang paling mudah terbentuk. Destilasi dengan

pemanasan konstan dari alkohol dengan asam hidriodat adalah sebuah metode

umum untuk pembentuka alkil iodida. Seperti yang terjadi pada klorida dan

bromida, hasil dari alkil iodida dalam reaksi ini mungkin mengalami penyusutan

dalam kasus alkohol sekunder dan tersier sebagai hasil penyusutan kerangka.

R-OH HI R-I H

2O

Sebuah alternatif yang paling efektif secara partikular untuk perubahan

dari di-ol menjadi di-iodo adalah sebuah campuran dari KI dan H3PO4 95%.

Reagen tersebut memecah tetrahidrofuran dan tetrahidrofiran untuk hasil dari

senyawa iodo (Vogel, 1989)

Iodo metana atau metil iodida adalah suatu senyawa kimia dengan rumus

molekul CH3I. Senyawa ini merupakan cairan dengan densitas dan tekanan uap

yang tinggi. Senya wa ini meupakan turunan dari metana dengan salah satu atom

hidrogen digantikan oleh atom iodin. Senyawa ini dapat bercampur sempurna

dengan pelarut-pelarut organik. Sifat-sifat dari metil dapat dilihat dalam tabel 2.1

berikut:

Tabel 2.1 Sifat-Sifat Metil Iodida

Formula CH3I

Massa molar 141,94 gram/mol

Warna Bening

Aroma Seperti eter

Densitas 2,28 gram/ml

Titik lebur -66,5oC

(17)

Kelarutan dalam air 14 gram/liter

Sumber: http://en.wikipedia.org 2.4 Metil Pirolidon

Dapat menyebabkan iritasi kulit, iritasi mata, merusak produktifitas atau

keguguran, iritasi pernapasan, kerusakan pada hati sistem pernapasan, tulang

rusuk, kerusakan limfa, kerusakan kelenjar adrenalin untuk pemakaian jangka

panjang. 1- Metil 2-pirolidon memiliki rumus molekul C5H9NO (gambar 2.18),

dengan berat molekul 99,13 gram/ mol. Memiliki sifat sensitif terhadap cahaya

dan higroskopis.

N O

CH3

Gambar 2.18 Struktur Metil Pirolidon (tcichemical.com)

2.5 Asam formiat dan Formaldehid 2.5.1 Formaldehid

Larutan formaldehid disebut juga dengan formalin. Dapat larut sebanyak 37%

(w/w) gas formaldehid dalam air. Tidak memiliki warna dan berbau tajam pedas.

Dapat larut dalam air, aseton dan alkohol. Uapnya dapat menyebabkan iritasi

sampai membran lendir dan kulit, gangguan pencernaan seperti sakit perut,

hematuria, protenuria, manuria, asidosis, vertigo, koma, dan kematian (anonim).

Formalin dengan rumus kimia H2CO ialah larutan gas formaldehid 37% dalam air.

(18)

Formaldehid adalah gas. Sedikit molekulnya sangat larut dalam air dan

berkombinasi membentuk hidrat metilen, (HO-CH2-OH). Ini adalah bentuk dari

formaldehid yang ada dalam bentuk larutan. Reaktivitas kimianya sama seperti

bentuk formaldehid. Molekul metilen hidrat dapat bereaksi satu dengan yang lain

membentuk suatu polimer (Gambar 2.19) (Kiernan, 2002).

H2O C O

H

H

C H

H O

H OH

n

Formaldehid Polimer Formaldehid

H2 C

O H2 C

O H2 C

O H2 C

O

60OC

(OH-)

4 C O

H

H

Formaldehid 4 monomer Paraformaldehid

Gambar 2. 19 : Bentuk Polimer Formaldehid dan Depolimerisasi Paraformaldehid

(Kiernan 2002)

2.5.2 Asam formiat

HCOOH atau asam formiat memiliki berat molekul 46,02 gram/mol dan

mengandung (C=26,10%; H=4,38%; O=69,52%). Pertama kali ditemukan oleh S.

Fisher pada tahun 1670 yang diisolasi dari semut. Diperoleh dengan memanaskan

karbon monoksida dan NaOH dibawah tekanan untuk menghasilkan natrium

formit dan selanjutnya dengan asam sulfat. Asam formiat memiliki bau khas

Gambar

Gambar 2.1 Struktur Kitin ( Rudal dan Kenchinton, 1973)
Gambar 2.3 Poli � (1-4) 2-amino-2-deoksi-D-glikopiranosa (Bastman, 1989)
Gambar 2.4 Gugus Aktif Pada Kitosan (Goosen, 1997)
Gambar 2.5 Jembatan Hidrogen Pada Molekul Kitosan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan untuk laju alir kritis dari masing-masing sumur agar gas yang diproduksikan berada di bawah limit tersebut serta perlu

Kata (Kridalaksana, 2008: 110) adalah 1) morfem atau kombinasi morfem yang oleh para bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai

Menerima, memeriksa dan mengevaluasi hasil laporan sesuai dengan ...yang diberikan dari pejabat yang berwenang dengan prosedur yang berlaku agar

In 2013, an application of the Terra MODIS satellite data for the environmental monitoring of oil-producing areas of four oil fields of Tomsk region allowed

Bagian Organisasi Kepegawaian dan Hukum Biro AUAK IAIN Antasari paling lambat tanggal 15 Januari 2015 ;.. Menyusun Sasaran Kerja Pegawai (SKP) Tahun 2015 agar mengacu

Substansi terbitan berkala ilmiah sangat ditentukan oleh artikel yang dimuatnya sehingga artikel tadi seyogianya merupakan tulisan yang didasarkan pada hasil penelitian

It has been shown that strongly localized EM field near the surface of single 3D dielectric particle may be form by non- spherical and non-symmetrical mesoscale particles both as in

Panitia Pengadaan Barang / Jasa Lainnya selaku Kelompok Kerja pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Bina Marga