• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertenunan Boi-Tulus Tekstil Di Kecamatan Balige (1950-1998)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pertenunan Boi-Tulus Tekstil Di Kecamatan Balige (1950-1998)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sejarah adalah segala kejadian yang ada hubungannya dengan kegiatan

manusia sedemikian rupa sehingga mengakibatkan adanya perubahan politik, sosial,

ekonomi, dan kebudayaan pada waktu serta tempat tertentu1

. Indonesia merupakan

bangsa yang besar, yang memiliki keberagaman kehidupan dengan macam banyak

peristiwa sejarah. Salah satunya adalah sejarah industri pertenunan (tekstil). Menenun

adalah proses pembuatan

dengan cara memasuk-masukkan benan

benang

pemasangan benang-benang lungsin secara sejajar satu sama lainnya di alat tenun

sesuai lebar kain yang diingini2

Indonesia adalah salah satu negara penghasil seni tenunan terbesar di dunia

khususnya dalam hal keanekaragaman hiasan. Kreasi para penenun generasi

terdahulu banyak dipengaruhi unsur-unsur budaya asing akibat pengaruh hubungan

perdagangan dengan negara-negara tetangga yang telah berlangsung beratus-ratus .

1 Sutrasno, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Pradya Paramita,1975, hal. 8

(2)

tahun yang silam. Kondisi tersebut memberikan sumbangan cukup besar bagi

kekayaan keanekaragaman jenis tenunan bangsa Indonesia.3

Perkembangan industri tenun di Indonesia tidak dapat diketahui secara pasti,

namun kemampuan masyarakat Indonesia dalam hal menenun dan merajut

pakaiannya sendiri sudah dimulai sejak adanya kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.

Dalam bentuk kerajinan, yaitu tenun-menenun dan membatik hanya berkembang

disekitar lingkungan istana begitu pula hasil kerajinan membatik hanya ditujukan

untuk kepentingan seni dan budaya serta dikonsumsi/digunakan sendiri

Indonesia merupakan negara yang kaya akan nilai kebudayaan dan kesenian.

Nilai kebudayaan dan kesenian yang tinggi sangat erat hubungannya dengan pola

sosial yang berkembang di masyarakat. Salah satu ciri sosial kemasyarakatan yang

menjunjung tinggi kebudayaan dan keseniannya adalah adanya ritual dan aturan

untuk setiap segi kehidupan bermasyarakat. Upacara ritual kemasyarakatan sarat

dengan simbol yang mengarah kepada kedamaian dalam bermasyarakat. Salah satu

simbol adalah adanya keberagaman pakaian adat atau pakaian khas daerah. Tiap

daerah memiliki kekhasan dalam berbusana.

4

Sejarah pertekstilan Indonesia dimulai dari industri rumahan sejak tahun 1929

dimulai dari sub-sektor pertenunan dan perajutan dengan menggunakan alat Textile

Inrichting Bandung (TIB) Gethouw atau yang dikenal dengan nama Alat Tenun

Bukan Mesin (ATBM) yang diciptakan oleh Daalennoord pada tahun 1926 dengan .

3 Dikutip dari: http://kampung-mandar.web.id/artikel/tenunan-mandar.html

(3)

produknya berupa tekstil tradisional seperti sarung, kain panjang, lurik, stagen

(sabuk), dan selendang. Penggunaan ATBM mulai tergeser oleh Alat Tenun Mesin

(ATM) yang pertama kali digunakan pada tahun 1939 di Majalaya-Jawa Barat,

dimana di daerah tersebut mendapat pasokan listrik pada tahun 19355

Pada masyarakat Toba khususnya di Balige, kepandaian menenun juga sudah

sejak lama ada (tidak diketahui secara pasti). Hal ini dapat dilihat dari kepandaian

dalam membuat Ulos.Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana sekali yaitu

dibuat dari kayu dan bambu alat tenun ini di Indonesia disebut dengan alat tenun

gedogan. Bagi masyarakat Toba pada zaman dahulu, Ulos tidak saja digunakan untuk

pakaian sehari-hari, tetapi juga untuk upacara adat. Selajan dengan itu tenunan

tradisional khususnya kain Ulos terus diproduksi oleh masyarakat. Kegiatan menenun

menjadi salah satu mata pencarian masyarakat khususnya kaum perempuan di

daerah-daerah Toba, dan juga Balige. Bagi masyarakat Balige, disamping kain ulos terdapat

pula sebuah kain yang menarik yaitu kain sarung. Kain ini lazim disebut dan dikenal

dengan nama kain sarung Balige atau dalam bahasa Toba disebut dengan mandar

Balige. Sarung balige ini mulai diproduksi di Balige sejak tahun 1930-an yaitu sejak

berdirinya industri pertenunan modern ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) buatan

Textile Inrichting Bandung (TIB) di Balige. Kain sarung ini merupakan ide dan

kreatifitas dari para pengusaha Balige.

. Dan sejak itu

industri tenun (tekstil) di Indonesia mulai memasuki era teknologi dengan

menggunakan ATM.

5 Herlison Enie dan Koestini Karmayu, Pengantar Teknologi Tekstil, Jakarta, Departemen

(4)

Munculnya industri dan pengusaha tenun di Balige terjadi pada masa kolonial,

yakni di tahun 1930-an. Ini berlangsung berkat diterapkannya kebijaksanaan

pengembangan industri rakyat oleh Pemerintah kolonial. Dapat dikatakan, pada masa

inilah munculnya para pengusaha perintis industri tenun di Balige. Pada tahun 1935

tercatat tiga pengusaha perintis yang cukup besar yaitu Baginda Pipin Siahaan, H.O.

Timbang Siahaan, dan Karl Sianipar.6

6Herry Gendut Janarto, Matiur M. Panggabean Bunga Pansur Dari Balige, Jakarta: PT

Gramedia, 2010, hal: 7

Masing-masing mereka menggunakan alat

tenun gedogan dan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Setelah kemerdekaan perkembangan usaha tenun ini mendapat perhatian

pemerintah pada tahun 1960-an. Pemerintah Soekarno kala itu menerapkan kebijakan

penjatahan benang tenun pada paruh pertama tahun 1960-an. Kebijakan ini ditempuh

dengan tujuan mempertahankan kelangsungan ekonomi rakyat sekaligus menjamin

ketersediaan sandang murah. Benang tenun bersubsidi dijatah menurut jumlah

pemilikan alat tenun. Usaha tenun di Balige semakain bertambah akibat kebijakan

tersebut, dan industri yang mulai mengalami perkembangan pada masa itu salah

satunya adalah industri Pertenun Boi-Tulus Tekstil yang menghasilkan produk utama

(5)

Puncak kejayaan usaha tenun di Balige dimulai pada 1950-an hingga tahun

1970. Pada masa-masa ini lah Balige sering dijuluki sebagai kota pertenunan.7

Kemudian semakin dipersulit dengan adanya krisis ekonomi di tahun 1998.

Seperti industri-industri lain di indonesia, industri di Balige pun mengalami dampak

dari krisis ekonomi ini. Krisis ekonomi ini mengakibatkan sebagian pengusaha

mengalami kebangkrutan karena penurunan pesanan dan kenaikan biaya produksi.

Akibatnya banyak industri tenun di Balige yang tutup. Para pengusaha industri tenun Tetapi

kemudian diawal tahun 1970-1998 industri tenun Balige mengalami pasang surut

karena ketidak mampuan pengusaha lokal Balige dalam menghadapi persaingan

pasar, terhentinya pasokan subsidi benang, kemudian dibarengi oleh perkembangan

teknologi tekstil ATM. Sebenarnya memberikan keuntungan sebagian besar pada

pengusaha lokal Balige terutama dalam hal proses produksi, dimana proses produksi

menggunakan ATM lebih cepat dibandingkan dengan ATBM. Akan tetapi,

berkembangnya teknologi ini tidak dibarengi dengan tingkat pendidikan dan

pengetahuan para pengusaha lokal dalam mengembangkan keterampilan. Sebagian

pengusaha tidak menyiapkan generasi penerus secara baik, terbukti hampir tidak ada

generasi penerus di Balige saat itu meneruskan pendidikan kesekolah tinggi teknologi

tekstil. Akibatnya pengolahan usaha oleh generasi penerus tidak lebih baik

dibandingkan oleh pendahulunya, sementara tantangan yang dihadapinya jauh lebih

rumit.

7 Lihat juga di

(6)

tersebut beralih pada usaha lain yang lebih menjanjikan seperti berdagang, membuka

pertokoan dan bahkan kembali pada sektor pertanian. Berbeda dengan industri tenun

cap jempol ( pertenunan Boi-Tulus Tekstil) yang sampai pada saat ini masih dapat

bertahan dan menjadi salah satu industri tenun terbesar di Balige, walaupun pada

tahun 1998 terkena imbas dari krisis ekonomi. Hal inilah yang menjadi daya tarik

untuk mengkaji sejarah dan peranan industri ini.

Kilang Tenun Boi-Tulus Tekstil ini didirikan oleh Julius Sianipar pada tahun

1950. Pada awal pendiriannya industri ini berada di Lumban Silintong tepatnya di Jln.

Pelabuhan Balige kemudian dipindahkan ke Jalan utama kota yaitu Jalan Tarutung

Balige pada tahun 1980. Pembangunan gedung baru dilakukan di atas areal tanah

seluas 1.200 m2 dengan bangunan semi permanen seluas 1.000 m2 yang terdiri rumah

pemilik, gedung produksi, dapur pencelupan, gudang, asrama karyawan, bengkel,

dapur karyawan, kamar mandi. Serta dilengkapi dengan alat tenun mesin (ATM) dan

alat bantu produksi lainnya (seperti mesin kelos, mesin palet, mesin hank, dan mesin

hanian) dan menetap sampai saat ini. Akibat dari penambahan jumlah mesin-mesin

tenun sehingga tempat awal semakin sempit dan tidak cocok lagi untuk proses

produksi. Selain faktor tersebut, pemindahan ini bertujuan juga untuk mempermudah

proses pemasaran karena jalan ini merupakan jalan utama dan dekat dengan onan

Balige dengan jarak sekitar 0,5 km dan padat penduduk. Boi-Tulus Tekstil

merupakan industri berskala menengah. Industri Skala menengah adalah industri

(7)

hingga paling banyak Rp 10 M, atau memiliki hasil penjualan tahunan Rp 2,5 M

sampai paling tinggi Rp 50 M8

Industri pertenunan Boi-Tulus Tekstil merupakan salah industri tenun di

Balige yang mampu bertahan sampai sekarang. Indusri mempunyai peranan dalam

meningkatkan ekonomi terutama dalam penyerapan tenaga kerja, penyedia sandang,

serta pengurangan kemiskinan, disamping itu juga merupakan salah satu produk khas

dan dikategorikan sebagai produk andalan dan menjadi ikon kota Balige. .

Industri ini memproduksi dua kain tenunan yaitu mandar (kain sarung katun)

dan ulos. Sasaran dari industri tenun ini adalah seluruh lapisan masyarakat, ini dilihat

dari harga yang terjangkau dan murah. Kain tenun mandar bisa dibentuk,

dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan banyak mempunyai ragam fungsi yaitu

untuk pakaian Sholat, untuk kain lampin atau pembungkus bayi agar tetap hangat,

taplak meja, gorden pintu dan jendela, sarung bantal, seprei tempat tidur, bahkan kain

tenun ini dapat dibentuk menjadi pakaian modern baik untuk pria dan wanita.

Sedangkan kain Ulos memiliki nilai potensi yang cukup besar karena memiliki nilai

sejarah dan ciri khas tersendiri. Kain ulos didominasi oleh masyarakat adat Batak.

Meskipun jumlah tenunan ulos dari tahun ketahun cukup banyak, tetapi permintaan

masyarakat khususnya untuk kegiatan upacara adat Batak masih tetap ada. Ini

disebabkan bahwa dalam adat Batak ulos yang digunakan untuk acara adat tidak

lazim digunakan lebih dari satu kali. Sehingga permintaan akan ulos akan tetap ada.

8

(8)

Berdasarkan berbagai masalah dan pemikiran di atas, penulis merasa tertarik

untuk mengkajinya. Maka penelitian ini diberi judul “ Pertenun Boi-Tulus Tekstil

Di Kecamatan Balige (1950-1998) ”. Adapun alasan penulis membatasi penulisan

mulai dari tahun 1950-1998, disebabkan karena pada tahun 1950 kilang tenun ini

didirikan oleh pemiliknya yaitu bapak Julius Sianipar dengan Alat Tenun Bukan

Mesin (ATBM) sebanyak 10 unit. Dengan jumlah tenaga kerja upahan sebanyak 12

orang dan dibantu oleh angota keluarga sendiri. Sedangkan tahun 1998 sebagai akhir

dari penulisan ini disebabkan karena pada tahun tersebut industri tenun Boi-Tulus

memilih berhenti berproduksi untuk sementara guna untuk mengatasi terjadinya

kerugian yang fatal karena diakibatkan oleh krisis ekonomi.

1.2. Rumusan Masalah

Perlu dibuat suatu rumusan sebagai landasan utama dalam sebuah penelitian

dan substansi dari penelitian. Berdasarkan dari latar belakang yang telah dijelaskan di

atas dan dalam mempermudah penulis dalam penulisan ini maka dibuatlah suatu

rumusan masalah yang berisi batasan-batasan penelitian dan ruang lingkup fokus

permasalahan.

Bertitik tolak dari latar belakang di atas penulis membuat beberapa

permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya industri pertenunan di Balige?

2. Bagaimana sejarah berdiri dan perkembangan industri tenun Boi-Tulus Tekstil

(9)

3. Bagaimana keberadaan industri tenun Boi-Tulus Tekstil terhadap kecamatan

Balige 1950-1998?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Hasil sebuah penelitian, pastinya mempunyai tujuan dan manfaat. Penelitian

ini dituliskan untuk memberikan pemahaman yang dapat berguna bagi berbagai

kepentingan-kepentingan baik sebagai ilmu maupun kepentingan lainnya dan dapat

menambah wawasan.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menjelaskan latar belakang sejarah industri pertenun di Balige.

2. Untuk menjelaskan sejarah berdiri dan perkembangan industri tenun

Boi-Tulus Tekstil dari tahun 1950-1998.

3. Untuk menjelaskan keberadaan industri tenun Boi-Tulus Tekstil terhadap

kecamatan Balige 1950-1998.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Memberi informasi bagi peneliti dan para pembaca mengenai latar belakang

perkembangan dan dampak yang dibawa dari berdirinya industri tenun

Boi-Tulus Tekstil

(10)

3. Dengan adanya penelitian ini juga dapat memberi masukan bagi pemerintah

Kabupaten Toba Samosir dalam rangka mengambil kebijakan untuk

pembangunan sektor perindustrian.

4. Menambah literatur dalam penulisan sejarah perindustrian khususnya industri

pertenunan (tekstil)

1.4. Tinjauan Pustaka

Untuk melakukan kegiatan penelitian dan penulisan, perlu dilakukan tinjauan

pustaka dengan menggunakan buku-buku yang berhubungan dengan judul tulisan ini.

Ada beberapa buku yang digunakan sebagai tinjauan pustaka dalam penelitian ini dan

mampu mencari kerangka teoritis sebagai acuan penelitian.

Dr.Tulus T.H. Tambunan (2009) dalam bukunya “Usaha Mikro, Kecil, Menengah di

Indonesia” menjelaskan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mempunyai

suatu peranan yang sangat vital didalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di setiap

negara, baik di negara yang sedang berkembang maupun di negara maju. UMKM sangat

penting tidak hanya kerena kelompok usaha ini menyerap paling banyak tenaga kerja tetapi

banyak juga berkonstribusi terhadap pembentukan ataupun pertumbuhan produk domestik

bruto (PDB). Buku ini juga menjelaskan bagaimana proses perkembangan UMKM dan

permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kelompok usaha tersebut di Indonesia hingga

saat ini.

Ir. Singgih Wibowo, dkk (2000) dalam bukunya “Pedoman Mengelola Perusahaan

Kecil” menjelaskan bagaimana mendirikan dan pedoman mengelola perusahaan kecil dengan

(11)

,dan pedomannya agar perusahaan kecil mampu bertahan hidup sukses dan bahkan hidup

berkembang dan tumbuh besar hingga generasi penerusnya.

Jusuf Irianto (1996) dalam bukunya “Industri Kecil Dalam Prespektif Pembinaan

Dan Pengembangan” menjelaskan bahwa paling tidak ada empat masalah besar yang

dihadapi kalangan dunia usaha skala kecil dan menengah di Indonesia, yaitu: persoalan

manajemen internal, permodalan, teknologi, dan pemasaran. Buku ini juga menjelaskan

tentang upaya pengembangan, pembinaan pengusaha kecil dalam kerangka peningkatan

akses terhadap modal dan perkreditan.

Thee Kian Wie dalam bukunya “ Industrialisasi Di Indonesia, Beberapa

kajian”, menjelaskan bagaimana Indonesia sejak awal dasawarsa 1990-an muncul

sebagai salah satu negara berkembang dengan sektor industri manufaktur terbesar

diantara seratus lebih negara berkembang. Dalam buku ini disorot tajam dari

berbagai aspek, yaitu kinerja sektor industri manufaktur Indonesia sebagai

keseluruhan sejak pertengahan dasawarsa 1980-an, peranan industri kecil dan

menengah dalam industrialisasi Indonesia, penanaman modal asing dan peranan

teknologi.

Herlison Enie dan Ny. Koestini Karmaya (1980) dalam bukunya “Pengantar

Teknologi Tekstil” menjelaskan bagaimana proses pembuatan kain, yang terdiri dari

proses pembuatan Benang, pembuatan kain dan penyempurnaan kain yang siap untuk

(12)

1.5. Metode Penelitian

Dalam penelitian sejarah yang ilmiah, pemakaian metode sejarah sangatlah

penting. Untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan sebagai bahan penulisan

yang relevan dengan pokok permasalahan maka dilakukanlah pendekatan penelitian

terhadap objek sejarah yang akan dituliskan. Penelitian dilaksanakan dengan

mengumpulkan sumber-sumber dari berbagai pihak yang relevan dengan pokok

kajian diatas. Data-data tersebut dapat diperoleh baik dari lapangan maupun dari

kepustakaan. Untuk lebih jelasnya, penulisan penelitian sejarah ini harus melewati

beberapa tahapan agar diperoleh suatu penilaian atau pemaparan sejarah yang lebih

objektif.

Tahap – tahap yang dilakukan dalam penelitian sejarah, antara lain :

1. Heuristik, yaitu mengumpulkan data atau menemukan sumber sejarah. Pada

tahap awal ini ada dua sumber heuristik yang dapat diperoleh, Studi lapangan

atau observasi (field research) dan studi pustaka ( Library Research ). Data dari

hasil studi lapangan dapat diperoleh melalui wawancara dengan berbagai

informan yang terkait dengan penelitian, seperti wawancara dengan karyawan

dan pemilik pabrik tenun BOI-TULUS, dan juga dinas perindustian dan

perdagangan kabupaten Tobasa. Dari wawancara ini akan diperoleh sumber lisan

yang dapat dijadikan alat untuk melakukan studi perbandingan dengan sumber

tertulis sehingga data yang diperoleh lebih akurat. Sedangkan studi kepustakaan

(13)

2. Kritik sumber, merupakan upaya untuk mendapatkan otentisifitas dan kredibilitas

sumber. Yang dimaksud dengan kritik adalah kerja intelektual dan rasional yang

mengikuti metodologi sejarah guna mendapatkan objektifitas suatu penelitian.

dengan demikian sumber sejarah dapat digunakan dengan aman. Dalam hal ini

yang selalu diingat bahwa sumber itu harus : dapat dipercaya (credible),

penguatan saksi mata (eyewitness), benar (truth), tidak dipalsukan (unfabricated),

dan handal (reliable). Kritik ekstern adalah usaha mendapatkan keaslian sumber

dengan melakukan penelitian fisik terhadap suatu sumber seperti, jenis kertas

yang digunakan, tinta tulisan. Sedangkan kritik intern adalah kritik yang

mengacu pada kebenaran sumber, artinya apakah isi atau fakta dokumen ini

terpercaya, tidak dimanipulasi, dan lain- lain

3. Langkah ketiga yang dilakukan adalah interpretasi. Dalam tahapan ini data yang

diperoleh dianalisis sehingga melahirkan suatu analisis yang sifatnya lebih

objektif dan ilmiah dari objek yang diteliti. Objek kajian masa lampau serta

minimnya data dan fakta yang membuat interpretasi menjadi sangat vital dan

dibutuhkan keakuratan serta analisis yang tajam. Interpretasi, merupakan tahap

dimana peneliti berusaha menghubungkan data – data yang didapat di lapangan

dengan fakta yang ada. Sehingga data tersebut menjadi data yang objektif.

4. Histiografi, merupakan tahap akhir dalam metode sejarah atau dapat juga

dikatakan sebagai penulisan terakhir. Histiografi ini merupakan merupakan hasil

dari penelitian yang secara kronologis dan sistematis, mulai dari pengumpulan

(14)

BAB II

SEJARAH INDUSTRI PERTENUNAN DI BALIGE

2.1. Gambaran Umum Kota Balige

2.1.1. Letak Geografis

Balige adalah Ibukota Kabupaten Toba Samosir9

Kecamatan Balige terletak pada ketinggian 905-1.200 meter dari permukaan

laut sehingga suhu udara cukup lembab. Luas wilayah mencapai 91,05 km2 dan

tersebar di 35 desa/kelurahan. Luas lahan di kecamatan Balige seluas 9.105 Ha dan

dimanfaatkan untuk lahan sawah sebanyak 2.926 Ha dan sisanya merupakan lahan

kering. Lokasi bangunan/perumahan dan lainya. Areal lahan sawah terluas ada di , yang merupakan salah satu

kota tersibuk di sekitar kawasan Danau Toba. Hal itu dikarenakan kota Balige

merupakan jalur lintas Sumatera yang menghubungkan daerah Balige dengan

Tarurung disebelah selatan, dan Pematang Siantar di sebelah utara. Kondisi tersebut

lambat laun membuat kota Balige berkembang dengan merespon kebutuhan para

pendatang maupun yang akan maenyebrang, dengan memberikan jasa maupun usaha

dagang dan membangun kios – kios maupun toko yang pada akhirnya membentuk

suatu area bisnis.

9 Daerah Tingkat II Kabupaten Toba Samosir atau sering di sebut dengan Tobasa adalah

(15)

Desa Baruara seluas 237 Ha dan luas lahan sawah terkecil berada di Desa Siboruan

dan kelurahan Balige I masing-masing dengan luas 20 Ha.10

• Sebelah Utara berbatasan dengan Danau Toba.

Kecamatan Balige terdiri dari 29 Desa dan 6 kelurahan dengan ibukota

kecamatan yaitu kelurahan Napitupulu Bagasan. Untuk lebih jelas Kecamatan Balige

berbatasan dengan:

• Sebelah Selatan berbatan dengan Kabupaten Tapanuli Utara.

• Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tampahan.

• Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Laguboti11

Balige merupakan suatu kota yang berada di sebelah selatan tepi danau toba

kota ini merupakan lahan yang subur dan padat penduduk. Kota ini dibelah dua oleh

lintasan jalan raya trans-sumatera, ibu kota kecamatan ini terletak sekitar 43 km di

sebelah utara kota tarutung (ibu kota kabupaten) dan berada sekitar 230 km di sebelah

selatan kota Medan (ibu kota provinsi). Ciri utama kota ini adalah adanya tegakan

empat bangunan balariung besar beraksitektur rumah adat batak toba di pusat kota

yaitu kompleks onan Balige dan berdiri tegak patung pahlawan revolusi Mayjen

Anumerta D.I Panjaitan disisi selatan jalan utama kota, dan bagunan museum

beraksitektur rumah batak di sebelah utara jalan kota. Di sepanjang sisi kanan dan kiri

jalan utama tadi berdiri bagunan-bangunan rumah-toko, rumah penginapan, rumah

makan dan kedai, dan bank yang menberikan ciri pasar pada kota itu.

10 Kantor kecamat Balige

(16)

Sebagai Ibukota Kecamatan, Balige berkembang dengan pesat dan menjadi

pusat aktifitas masyarakat, seperti pusat jalur transportasi, pusat perdagangan

(ekonomi), pusat pendidikan dan juga sebagai pusat pemerintahan. Bukan hanya itu

saja, akan tetapi masih banyak industri – industri kecil dan menengah yang beroperasi

di Balige. Hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan ekonomi masyarakat dan

pendapatan kota Balige. Dimana industri kecil dan menengah ini akan mengurangi

pengangguran yang ada didaerah ini, dan kehidupan masyarakat bisa lebih

berkembang dengan baik.

2.1.2. Keadaan Penduduk

Sebelum tahun 1966, secara resmi Indonesia belum memiliki kebijakan

kependudukan yang komprehensif. Dalam rencana Pembangunan Nasional Semesta

Berencana juga tidak pernah ada kebijakan kependudukan yang ditujukan untuk

menurunkan angka kelahiran dan angka kematian yang akhirnya berpengaruh pada

angka pertumbuhan penduduk12

Pertumbuhan angka kelahiran penduduk di Balige memang cukup tinggi, hal

ini dapat kita pahami oleh karena mata pencaharian penduduk yang paling dominan

adalah bertani. Mata pencaharian sebagai petani dalam proses produksinya

membutuhkan sumber tenaga. Sumber tenaga yang paling mungkin adalah dengan . Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali sangat

berpengaruh bagi berhasilnya proses pembangunan nasional itu sendiri. Pertumbuhan

jumlah penduduk memang cukup sulit untuk dapat diatasi. Butuh program–program

yang tepat serta terarah agar pertumbuhan penduduk dapat diminimalisir.

12 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Dinamika Kebijakan

(17)

memakai tenaga keluarga petani itu sendiri. Sehingga tidak mengherankan bila

jumlah anak dalam satu keluarga dari kalangan petani bisa mencapai 8 sampai 10

orang anak.

Dari segi etnis, agama, dan okupasi (pendudukan, penggunaan, atau

penempatan) penduduk kota kecil balige dan sekitarnya dapat dibedakan ke dalam satu kelompok mayoritas dan empat kelompok minoritas. Kelompok mayoritas

adalah etnis Batak Toba (penduduk asli) yang umumnya beragama kristen protestan

dan katolik dengan bidang okupasi utama pertanian pangan, perdagangan/jasa, dan

industri tenun. Sedangkan kelompok minoritas meliputi kaum pendatang, yaitu etnis

Cina yang beragama Budha dengan bidang okupasi utama perdagangan/jasa, etnis

batak mandailing, etnis Minangkabau, dan etnis Jawa yang umumnya beragama

Islam. Tiga kelompok etnis ini umumnya bergerak dibidang usaha dagang/jasa.

Disamping lima kelompok etnis tersebut masih ada penduduk dari etnis lain,

misalnya Nias, Batak Karo, Batak Pakpak, tetapi jumlahnya sangat kecil dan tidak

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Berdasarkan hasil analisis analisis regresi dalam penelitian ini, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Variabel penelitian yang dapat mempengaruhi meningkatnya kepatuhan

Penyelesaian Sengketa pemilihan kepala desa diatur dalam Peraturan Daerah kabupaten Sumbawa Barat Nomor 6 Tahun 2016 tentang Pemilihan, Pengangkatan dan Pemberhentian

For both present operations and the prposed new operations, compute (a) the degree of operating leverage, (b) the bereak even point in dolar sales, and (c) the mergin of safety in

Berdasarkan hasil pengujian pada hipotesis ketiga dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Bank BNI Syariah dan Bri Syariah mampu mencapai kinerja yang sangat baik apabila diukur

21 STAIN WATAMPONE HUKUM TATANEGARA ISLAM S1 √ 22 STAIN ZAWIYAH CUT KALA LANGSA TADRIS MATEMATIKA S1 √ TADRIS BAHASA INGGRIS S1 √. 23 UIN JAKARTA PAUD

Konsentrasi terendah bahan pada tabung yang ditunjukkan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih (tidak ada pertumbuhan mikroba) adalah KHM dari bahan uji. Selanjutnya biakan

9 Bentuk yang digambarkan di atas peta harus sesuai dengan bentuk yang sebenarnya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta).. Pada daerah yang relatif kecil (30 km