• Tidak ada hasil yang ditemukan

Globalisasi dan Kesejahteraan Studi Kasu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Globalisasi dan Kesejahteraan Studi Kasu"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

1

Globalisasi ekonomi ditandai oleh semakin terintegrasinya perekonomian negara-negara di dunia. Sampai saat ini, dampak globalisasi bagi setiap negara khususnya negara berkembang masih menjadi perdebatan di kalangan ekonom dan peneliti. Beberapa penelitian seperti Rao dan Vadlamannati (2011) menyatakan bahwa globalisasi sangat berperan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, Ezcurra dan Rodriguez-Pose (2013) membuktikan bahwa globalisasi berdampak pada ketimpangan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dampak globalisasi pada kesejahteraan masyarakat pada 33 provinsi di Indonesia. Indikator yang digunakan untuk mengukur globalisasi adalah perkembangan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) 33 provinsi di Indonesia. Sedangkan indikator yang mengukur kesejahteraan adalah Indeks Pembangunan Manusia 33 provinsi di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan perkembangan realisasi investasi PMA berdampak positif terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan dampak positif dari globalisasi di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang tentunya membutuhkan investasi asing untuk dapat mengatasi masalah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Indonesia.

Kata kunci: Globalisasi Ekonomi, Kesejahteraan.

ABSTRACT

Economic globalization is characterized by the integration of the economy from countries around the world. The impact of globalization, especially for developing countries, is still gaining attention among economists and researchers. Several studies such as Rao and Vadlamannati (2011) stated that globalization was instrumental for enhancing the economic growth of a country. However, Ezcurra and Rodriguez-Pose (2013) prove that globalization is promoting economic inequality. This research aims to analyze how globalization influences social welfare in 33 provinces in Indonesia. The indicators used in measuring the development of globalization is the realization of Foreign Direct Investment (FDI) of 33 provinces in Indonesia. While the indicators for measuring welfare is human development index of 33 provinces in Indonesia. Methods of data analysis used in this study is the analysis of the panel data regression. The results showed that the increase in the development of the realization of foreign direct investment has positive impact in the human development index. Results of this study showed a positive effect of globalization in Indonesia. Indonesia as a developing country would need foreign direct investment to be able to address the problem of unemployment and improve the welfare of communities in Indonesia.

(5)

1

Globalisasi ekonomi ditandai oleh semakin terintegrasinya perekonomian negara-negara di dunia. Sampai saat ini, dampak globalisasi bagi setiap negara khususnya negara berkembang masih menjadi perdebatan di kalangan ekonom dan peneliti. Beberapa penelitian seperti Rao dan Vadlamannati (2011) menyatakan bahwa globalisasi sangat berperan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, Ezcurra dan Rodriguez-Pose (2013) membuktikan bahwa globalisasi berdampak pada ketimpangan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dampak globalisasi pada kesejahteraan masyarakat pada 33 provinsi di Indonesia. Indikator yang digunakan untuk mengukur globalisasi adalah perkembangan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) 33 provinsi di Indonesia. Sedangkan indikator yang mengukur kesejahteraan adalah Indeks Pembangunan Manusia 33 provinsi di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan perkembangan realisasi investasi PMA berdampak positif terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan dampak positif dari globalisasi di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang tentunya membutuhkan investasi asing untuk dapat mengatasi masalah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Indonesia.

Kata kunci: Globalisasi Ekonomi, Kesejahteraan.

ABSTRACT

Economic globalization is characterized by the integration of the economy from countries around the world. The impact of globalization, especially for developing countries, is still gaining attention among economists and researchers. Several studies such as Rao and Vadlamannati (2011) stated that globalization was instrumental for enhancing the economic growth of a country. However, Ezcurra and Rodriguez-Pose (2013) prove that globalization is promoting economic inequality. This research aims to analyze how globalization influences social welfare in 33 provinces in Indonesia. The indicators used in measuring the development of globalization is the realization of Foreign Direct Investment (FDI) of 33 provinces in Indonesia. While the indicators for measuring welfare is human development index of 33 provinces in Indonesia. Methods of data analysis used in this study is the analysis of the panel data regression. The results showed that the increase in the development of the realization of foreign direct investment has positive impact in the human development index. Results of this study showed a positive effect of globalization in Indonesia. Indonesia as a developing country would need foreign direct investment to be able to address the problem of unemployment and improve the welfare of communities in Indonesia.

(6)

2

PENDAHULUAN

Globalisasi merupakan suatu kondisi di mana penduduk suatu negara dapat

mengkonsumsi produk dari negara lain, berinvestasi di negara lain, dan memperoleh

pendapatan di negara lain (Carbaugh, 2011). Di era globalisasi seperti saat ini, tidak

ada lagi negara yang menganut sistem perekonomian tertutup. Negara-negara di

dunia telah terintegrasi melalui aktivitas perdagangan antara suatu negara dengan

negara lainnya.

Globalisasi ekonomi yang ditandai dengan adanya keterbukaan suatu negara

terhadap perdagangan internasional memiliki dampak terhadap pertumbuhan

ekonomi. Pengalaman beberapa negara seperti Cina dan Meksiko menunjukkan

adanya dampak positif dari globalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Wei dan

Liefner (2012) menyatakan bahwa reformasi ekonomi dalam bentuk keterbukaan

perdagangan Cina dengan negara-negara di dunia yang terjadi di Cina pada tahun

1970-an telah membawa peningkatan terhadap perekonomian Cina. Dampak dari

reformasi ekonomi tersebut telah meningkatkan investasi asing ke Cina, serta telah

meningkatkan Industrial production di Cina, dan juga meningkatkan ekspor Cina ke

berbagai negara di dunia.

Kondisi peningkatan pertumbuhan ekonomi akibat globalisasi ekonomi seperti

yang terjadi di Cina juga terjadi di Meksiko. Ponzio (2005) menyatakan bahwa

globalisasi ekonomi1 yang terjadi di Meksiko pada abad ke-18 telah membawa

Meksiko menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Peningkatan

pertumbuhan tersebut berasal dari sektor pertambangan, di mana pada waktu itu,

Meksiko memiliki perak sebagai komoditas ekspor unggulan negaranya.

Penelitian-penelitian lainnya yang mendukung bahwa globalisasi berdampak positif terhadap

pertumbuhan ekonomi adalah Moudatsou (2003); Warr (2004); Read (2004);

Chaudhary et al (2007); Rao dan Vadlamannati (2011); serta Gurgul dan Lach

(2014).

Namun, tidak semua peneliti setuju bahwa globalisasi ekonomi memberikan

dampak positif terhadap peningkatan perekonomian suatu negara. Berdasarkan

pengalaman Rusia dalam peralihan sistem perekonomian negara tersebut dari sistem

1 Globalisasi ekonomi yang terjadi di Meksiko juga didukung dengan adanya reformasi ekonomi yang

(7)

3

komunis menjadi sistem ekonomi pasar, Stiglitz (2002: 153) menunjukkan bahwa

globalisasi ekonomi yang berlangsung di Rusia cenderung berdampak pada

peningkatan kemiskinan dan ketimpangan (inequality). Berbeda dengan beberapa

penelitian sebelumnya tentang dampak globalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi,

disini, Stiglitz (2002: 152) menunjukkan realita yang bertolak belakang—yaitu

globalisasi justru menyebabkan terjadinya penurunan Pendapatan Domestik Bruto

(PDB) di Rusia.

Beberapa penelitian lainnya yang mendukung fenomena seperti yang

diungkapkan Stiglitz (2002) tentang dampak globalisasi terhadap inequality

diantaranya adalah Han et al (2012); Mah (2013); Ezcurra dan Pose (2013); dan

Asteriou et al (2014). Secara umum, penelitian-penelitian tersebut menyimpulkan

bahwa: pertama, globalisasi cenderung menyebabkan terjadinya ketimpangan pada

pendapatan masyarakat (Han et al, 2012: 297; Mah, 2013: 657). Kedua, globalisasi

ekonomi cenderung memberikan dampak ketimpangan ekonomi, di mana

negara-negara yang memiliki teknologi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang

tinggi akan cenderung mengeksploitasi negara-negara berkembang yang memiliki

Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah (Ezcurra dan Pose, 2013). Ketiga,

globalisasi keuangan melalui Foreign Direct Investment (FDI), dan keterbukaan

pasar modal terhadap investor asing cenderung merupakan faktor yang menyebabkan

terjadinya ketimpangan pendapatan (Asteriou et al, 2014).

Penelitian ini secara umum akan membahas mengenai dampak globalisasi

ekonomi di perekonomian Indonesia terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Salah satu indikator globalisasi ekonomi di Indonesia adalah adanya arus masuk

investasi asing langsung (FDI) yang mengalir ke perekonomian Indonesia. Bank

Indonesia (2013: 81) mencatat investasi asing langsung ke Indonesia pada tahun

2012 mencapai 19,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau mengalami peningkatan

sebesar 3,2% dari tahun 2011. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, sektor

manufaktur merupakan sektor utama investasi langsung asing di Indonesia dengan

nilai investasi sebesar 9 miliar dolar AS. Sementara itu, Singapura merupakan negara

yang mendominasi investasi langsung asing di Indonesia yang kemudian disusul

(8)

4

Jika dilihat dari data perkembangan realisasi PMA menurut lokasi, selama

periode tahun 2010 sampai dengan 2012 tampak bahwa investasi asing paling

banyak mengalir ke daerah Jawa Barat, Jakarta, Banten dan Jawa Timur. Daerah

pulau jawa merupakan daerah paling dominan mendapatkan realisasi investasi asing

dengan rata-rata nilai investasi sebesar 2 juta dolar AS per tahun. Sementara

beberapa daerah seperti Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku

merupakan daerah yang paling sedikit menerima investasi asing selama periode

tahun 2010 sampai dengan 2012.

Selama periode 2010 sampai dengan 2012 terdapat kecenderungan terjadinya

peningkatan dalam realisasi investasi asing di 33 provinsi di Indonesia. Apakah

peningkatan investasi asing tersebut berpengaruh terhadap peningkatan

kesejahteraan masyarakat di masing-masing daerah pada 33 provinsi di Indonesia.

Apakah dengan adanya investasi asing tersebut, masyarakat Indonesia menjadi

semakin sejahtera—yang dilihat dari adanya peningkatan indeks pembangunan

manusia.

METODE

Pada penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur globalisasi

ekonomi di Indonesia adalah menggunakan perkembangan realisasi investasi PMA

menurut lokasi yang dipublikasikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal

(BKPM) periode tahun 2010 sampai dengan 2012 untuk 33 provinsi di Indonesia.

Indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat adalah

menggunakan data Indeks Pembangunan Manusia periode tahun 2010 sampai

dengan 2012 untuk 33 provinsi di Indonesia yang dipublikasikan oleh Badan Pusat

Statistik (BPS).

Analisis yang digunakan untuk melihat pengaruh globalisasi ekonomi terhadap

Indeks Pembangunan Manusia adalah menggunakan analisis regresi data panel.

Adapun model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

HDIit= α + βFDIit+ εit

Di mana, HDIit merupakan indeks pembangunan manusia provinsi i pada tahun

t; α merupakan konstantan; β merupakan koefisien parameter regresi; FDIit

(9)

5

residual. Dalam analisis regresi data panel terdapat tiga model yang dapat digunakan.

Ketiga model tersebut adalah Pooled Least Square (PLS), Fixed Effect Model (FEM)

dan Random Effect Model (REM). Chow Test dan Hausman Test akan digunakan

untuk menentukan model yang akan digunakan dalam penelitian ini. Pengolahan

data akan dilakukan dengan menggunakan software Eviews 6.0.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1 menunjukkan hasil analisis regresi data panel untuk model PLS, FEM

dan REM. Berdasarkan hasil analisis yang disajikan di Tabel 1, dapat dilihat bahwa

variabel penanaman modal asing (FDIit) pada ketiga model masing-masing

memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan

manusia (HDIit) di 33 provinsi di Indonesia dengan tingkat kepercayaan 1%. Namun,

dari ketiga hasil tersebut akan dipilih satu hasil dari satu model tertentu, di mana

penentuan model yang akan digunakan dalam penelitian ini akan menggunakan

Chow test dan Hausman test.

Tabel 1. Hasil Analisis Data Panel

PLS FEM REM

α 71,942 72,125 72,108

β 0,000698 0,000398 0,000428

t-stat 2,706 2,683 3,020

prob 0,0080*** 0,0092*** 0,0032***

R2 0,070 0,981 0,086

Adj-R2 0,060 0,972 0,077

Sumber : Hasil Pengolahan Eviews 6.0 (data diolah)

Keterangan : *** merupakan tingkat signifikansi pada tingkat kepercayaan 0,01 (1%).

Berdasarkan hasil pengujian2 Chow test dan Hausman test maka diperoleh

model yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah REM. Hasil analisis dengan

REM pada Tabel 1 menunjukkan bahwa FDIit memiliki pengaruh yang positif dan

signifikan terhadap HDIit dengan nilai koefisien sebesar 0,000428. Dengan

demikian, setiap penambahan 1 juta dolar AS PMA di masing-masing daerah di 33

provinsi di Indonesia, maka adanya penambahan investasi asing tersebut akan

(10)

6

meningkatkan indeks pembangunan manusia di masing-masing daerah sebesar

0,000428. Meskipun FDI memberikan pengaruh yang positif terhadap HDI, namun jika dilihat dari nilai koefisien β yang cenderung kecil, dapat dikatakan bahwa pengaruh FDI dalam meningkatkan HDI relatif kecil. Dengan kata lain, masuknya

FDI ke 33 provinsi di Indonesia hanya memberikan dampak yang relatif kecil

terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan HDI.

Temuan yang serupa juga diperoleh Gohou dan Soumare (2012) di Afrika.

Gohou dan Soumare juga menemukan adanya dampak positif FDI terhadap HDI

dengan tingkat signifikansi 1%. Koefisien β yang diperoleh dalam penelitian Gohou

dan Soumare (2012: 86) juga relatif kecil, yaitu sebesar 0,0000438. Bahkan pada

perbandingan dampak FDI terhadap HDI dibeberapa negara-negara Afrika yang

telah diklasifikasikan, hasilnya pun juga relatif kecil, yaitu berkisar antara 0,0000326

untuk koefisien terkecil dan 0,0061543 untuk koefisien terbesar. Pada hasil analisis

untuk klasifikasi negara Afrika yang berpendapatan menengah dan rendah pun tidak

menunjukkan adanya nilai koefisien yang relatif lebih besar.

Hasil nilai koefisien β yang ditemukan di penelitian ini dan dalam penelitian

Gohou dan Soumare (2012) menimbulkan suatu keraguan tentang efektifitas

masuknya FDI terhadap peningkatan HDI. Kecenderungan yang terlihat adalah FDI

memberikan dampak yang relatif kecil terhadap peningkatan kesejahteraan

masyarakat. Masuknya FDI ke 33 provinsi di Indonesia memang berdampak positif

dan signifikan terhadap peningkatan HDI. Namun, dampak yang dihasilkan masih

terlalu kecil untuk percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang

diukur dari HDI.

Dampak FDI terhadap peningkatan kesejahteraan di Indonesia berbeda bila

dibandingkan dengan hasil temuan beberapa penelitian. Di Pakistan, FDI merupakan

salah satu kebijakan pro-poor—karena FDI berkontribusi terhadap penurunan

tingkat kemiskinan, di mana untuk setiap kenaikan satu persen FDI, maka akan

menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 0,44% - 0,47% (Zaman et al, 2012: 1225).

Sementara itu, Davies dan Quinlivan (2006: 875) menemukan bahwa peningkatan

perdagangan internasional akan meningkatkan HDI dari 0,27 menjadi 0,32, di mana

hal ini menunjukkan bahwa peningkatan HDI dapat meningkatkan Pendapatan

(11)

7

Meskipun beberapa variabel dari penelitian Zaman et al (2012) dan Davies dan

Quinlivan (2006) berbeda dengan penelitian ini, tetapi berdasarkan dua penelitian

tersebut seharusnya dampak yang dihasilkan dengan adanya FDI dan peningkatan

aktivitas perdagangan adalah penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan

kesejahteraan masyarakat yang cukup besar. Untuk itu, keraguan tentang dampak

masuknya FDI terhadap peningkatan HDI di 33 provinsi di Indonesia yang

memberikan dampak relatif kecil menjadi semakin terbukti. Mengapa masuknya FDI

ke Indonesia hanya memberikan dampak yang kecil, yaitu hanya sebesar 0,0000438.

Faktor yang menyebabkan rendahnya dampak FDI terhadap HDI di Indonesia

diungkapkan dalam penelitian Reiter dan Steensma (2010). Penelitian yang

dilakukan oleh Reiter dan Steensma ini sekaligus menjadi jawaban atas

permasalahan rendahnya dampak FDI terhadap HDI di Indonesia. Menurut Reiter

dan Steensma (2010), hubungan antara FDI dan peningkatan HDI akan semakin kuat

jika korupsi di negara tersebut rendah. Selain itu, Reiter dan Steensma (2010) juga

berpendapat bahwa masuknya FDI akan menjadi semakin berdampak positif

terhadap HDI apabila kebijakan FDI di negara tersebut membatasi investor asing

untuk masuk ke beberapa sektor ekonomi dan ketika kebijakan pembatasan tersebut

lebih diskriminatif terhadap investor asing relatif terhadap investor domestik.

Gambar 1. Corruption Perception Index Indonesia, 2004 – 2013.

Di Indonesia, pemerintah melalui BKPM telah mengatur kebijakan-kebijakan

berinvestasi ke berbagai daerah-daerah di Indonesia dengan Daftar Negatif Investasi

0 100 200

2004 2005

2006 2007

2008 2009

2010 2011

2012 2013

137

140 130 143

126 111 110

100 118

114

(12)

8

(DNI)3. Untuk itu, faktor yang menyebabkan rendahnya dampak FDI terhadap HDI

di Indonesia adalah tingkat korupsi yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan data

Corruption Perception Index (CPI) tahun 2004 – 2013, dapat dilihat bahwa

Indonesia rata-rata menempati peringkat 123 yang membawa Indonesia kedalam

kelompok negara-negara yang memiliki tingkat korupsi yang sangat tinggi. Dengan

demikian, relatif kecilnya nilai koefisien β yang menunjukkan kecilnya dampak

masuknya FDI terhadap peningkatan HDI di 33 provinsi di Indonesia menjadi dapat

dipahami dengan adanya data tingginya korupsi di Indonesia.

KESIMPULAN

Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan dampak positif globalisasi yang

diukur oleh FDI di perekonomian Indonesia. Dampak positif tersebut

mengindikasikan bahwa Indonesia sebagai negara berkembang tentunya

membutuhkan investasi asing untuk dapat mengatasi masalah pengangguran dan

meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Indonesia. Namun, jika melihat nilai koefisien β dari hasil analisis, maka masuknya FDI memberikan dampak yang relatif kecil terhadap HDI, yaitu hanya sebesar 0,0000438. Berdasarkan hasil penelitian Reiter dan Steensma (2010), rendahnya koefisien β dapat dikaitkan dengan tingkat korupsi di Indonesia. Fakta yang diperoleh dari CPI menunjukkan

bahwa Indonesia memiliki tingkat korupsi yang sangat tinggi, sehingga menjadi

logis apabila dengan tingkat korupsi yang tinggi tersebut, efektifitas masuknya FDI

menjadi semakin kecil terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

3 DNI diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 36 Tahun 2010 tentang daftar bidang

(13)

9

DAFTAR PUSTAKA

Asteriou, Dimitrios., Dimelis, Sophia dan Moudatsou, Argiro., 2014, “Globalization and Income Inequality: a Panel Data Econometric Approach for the EU27 Countries”, Economic Modelling, Vol. 36, pp. 592 – 599.

Bank Indonesia, 2013, Laporan Perekonomian Indonesia 2012, Jakarta.

Carbaugh, Robert J., 2011, Global Economics 13th Edition, Mason OH: South-Western Cengage Learning.

Chaudhary, Muhammad Aslam., Shirazi, Nasim Shah dan Choudhary, Munir A. S., 2007, “Trade Policy and Economic Growth in Bangladesh: a Revisit”,

Pakistan Economic and Social Review, Vol. 45, No. 1, pp. 1 – 26.

Davies, Antony, dan Quinlivan, Gary, 2006, “A Panel Data Analysis of the Impact of Trade on Human Development”, The Journal of Socio-Economics, Vol. 35, pp. 868 – 876.

Ezcurra, Roberto dan Pose, Andres Rodriguez, 2013, “Does Economic Globalization affect Regional Inequality? A Cross-country Analysis”, World Development, Vol. 52, pp. 92 – 103.

Gohou, Gaston dan Soumare, Issouf, 2012, “Does Foreign Direct Investment Reduce Poverty in Africa and are There Regional Differences?” World Development, Vol. 40, No. 1, pp. 75-95.

Gurgul, Henryk dan Lach, Lukasz, 2014, “Globalization and Economic Growth: Evidence from Two Decades of Transition in CEE”, Economic Modelling, Vol. 36, pp. 99 – 107.

Han, Jun., Liu, Runjuan., dan Zhang, Junsen., 2012, “Globalization and Wage

Inequality: Evidence from Urban China”, Journal of International

Economics, Vol. 87, pp. 288 – 297.

Harahap, Poltak, 2010, Kumpulan Modul Tutorial Ekonometri, Yogyakarta: Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Mah, Jai S., 2013, “Globalization, Decentralization and Income Inequality: The Case of China”, Economic Modelling, Vol. 31, pp. 653 – 658.

(14)

10

Ponzio, Carlos Alejandro, 2005, “Globalisation and Economic Growth in the Third World: Some Evidence from Eighteenth-Century Mexico”, Journal of Latin American Studies, Vol. 37, No. 3, pp. 437 – 467.

Rao, B. Bhaskara dan Vadlamannati, Krishna Chaitanya, 2011, “Globalization and Growth in the low income African Countries with the Extreme Bounds Analysis”, Economic Modelling, Vol. 28, pp. 795 – 805.

Read, Robert, 2004, “The Implications of Increasing Globalization and Regionalism for the Economic Growth of Small Island States”, World Development, Vol. 32, No. 2, pp. 365 – 378.

Reiter, S.L., dan Steensma, H. Kevin., 2010, “Human Development and Foreign Direct Investment in Developing Countries: The Influence of FDI Policy and Corruption”, World Development, Vol. 38, No. 2, pp. 1678 – 1691.

Stiglitz, Joseph E., 2002, Globalization and its Discontents, 500 Fifth Avenue, New York: W.W. Norton & Company, Inc.

Warr, Peter, 2004, “Globalization, Growth, and Poverty Reduction in Thailand”,

ASEAN Economic Bulletin, Vol. 21, No. 1, pp. 1 – 18.

Wei, Y.H. Dennis, dan Liefner, Ingo, 2012, “Globalization, Industrial Restructuring, and Regional Development in China”, Applied Geography, Vol. 32, pp. 102 – 105.

(15)

11

LAMPIRAN

Perhitungan dari Chow test4 dan Hausman Test. Adapun persamaan Chow test

adalah sebagai berikut:

Di mana:

: Restricted Residual Sum Square dari model PLS : Unrestricted Residual Sum Square dari model FEM

: Jumlah data cross section

: Jumlah data time series

: Jumlah variabel independen

Adapun hipotesis yang akan di uji adalah sebagai berikut:

Ho : Model PLS (restricted)

H1 : Model FEM (unrestricted)

Apabila nilai Fstat > Ftabel, maka hipotesis nol ditolak sehingga model yang digunakan

adalah FEM. Sebaliknya, Apabila Fstat < Ftabel, maka tidak menolak hipotesis nol

sehingga model yang digunakan adalah PLS. Perhitungan Fstat adalah sebagai

berikut:

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai Fstat sebesar 111,144. Nilai Ftabel

pada numerator 32, denominator 65 dan tingkat kepercayaan 5% sebesar 1,65. Maka

diperoleh nilai Fstat > Ftabel, maka hipotesis nol ditolak. Dengan demikian

berdasarkan Chow test, model yang digunakan dalam penelitian ini adalah

menggunakan FEM. Namun, untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih

meyakinkan tentang model yang akan digunakan. Maka tahapan selanjutnya adalah

melakukan Hausman test. Pada Hausman test, hipotesis yang akan diuji adalah:

Ho : Penelitian menggunakan REM

H1 : Penelitian menggunakan FEM

(16)

12

Apabila nilai Hausman test hasil pengujian > 2Tabel, maka hipotesis nol ditolak, sehingga model yang digunakan adalah FEM. Sebaliknya, apabila nilai Hausman

test hasil pengujian < 2Tabel, maka kesimpulan yang diambil adalah tidak menolak hipotesis nol—sehingga model yang digunakan adalah REM. Perhutungan Hausman

test akan dilakukan dengan menggunakan program Eviews 6.0. Adapun hasil

perhitungan Hausman test adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Hasil Hausman Test

Correlated Random Effects - Hausman Test Pool: REM

Test cross-section random effects

Test Summary

Chi-Sq.

Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 0.442295 1 0.5060

Sumber: Hasil Pengolahan Eviews 6.0

Berdasarkan Tabel 2, diperoleh nilai Chi-Square statistik sebesar 0,4423. Nilai

2

 Tabel pada df 1 dengan tingkat kepercayaan 5% sebesar 3,841. Maka dapat disimpulkan bahwa nilai Chi-Square statistik < 2Tabel. Dengan demikian, model yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah REM.

Gambar

Tabel 1. Hasil Analisis Data Panel
Gambar 1. Corruption Perception Index Indonesia, 2004 – 2013.
Tabel 2. Hasil Hausman Test

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian, variabel investasi yang terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) menunjukkan hasil

Hasil analisis jalur antara variabel independen yaitu investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan investasi penanaman modal asing (PMA) dan variabel

Tabel 4.1 Data Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Kabupaten Lampung

Hasil analisis jalur antara variabel independen yaitu investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan investasi penanaman modal asing (PMA) dan variabel

Mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah melalui investasi, khususnya Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) melalui iklim yang kondusif bagi

investasi Penanaman Modal Asing (PMA) tidak berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan.Sedangkan variabel PMDN memiliki pengaruh

Investasi didapatkan dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) Sedangkan kenaikan upah akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap penyerapan

Analisis Pengaruh Perkembangan Penanaman Modal Dalam Negeri PMDN Dan Penanaman Modal Asing PMA Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Di Provinsi Jawa Tengah Periode 1985-2014.. Pengaruh