1
Globalisasi ekonomi ditandai oleh semakin terintegrasinya perekonomian negara-negara di dunia. Sampai saat ini, dampak globalisasi bagi setiap negara khususnya negara berkembang masih menjadi perdebatan di kalangan ekonom dan peneliti. Beberapa penelitian seperti Rao dan Vadlamannati (2011) menyatakan bahwa globalisasi sangat berperan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, Ezcurra dan Rodriguez-Pose (2013) membuktikan bahwa globalisasi berdampak pada ketimpangan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dampak globalisasi pada kesejahteraan masyarakat pada 33 provinsi di Indonesia. Indikator yang digunakan untuk mengukur globalisasi adalah perkembangan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) 33 provinsi di Indonesia. Sedangkan indikator yang mengukur kesejahteraan adalah Indeks Pembangunan Manusia 33 provinsi di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan perkembangan realisasi investasi PMA berdampak positif terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan dampak positif dari globalisasi di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang tentunya membutuhkan investasi asing untuk dapat mengatasi masalah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Indonesia.
Kata kunci: Globalisasi Ekonomi, Kesejahteraan.
ABSTRACT
Economic globalization is characterized by the integration of the economy from countries around the world. The impact of globalization, especially for developing countries, is still gaining attention among economists and researchers. Several studies such as Rao and Vadlamannati (2011) stated that globalization was instrumental for enhancing the economic growth of a country. However, Ezcurra and Rodriguez-Pose (2013) prove that globalization is promoting economic inequality. This research aims to analyze how globalization influences social welfare in 33 provinces in Indonesia. The indicators used in measuring the development of globalization is the realization of Foreign Direct Investment (FDI) of 33 provinces in Indonesia. While the indicators for measuring welfare is human development index of 33 provinces in Indonesia. Methods of data analysis used in this study is the analysis of the panel data regression. The results showed that the increase in the development of the realization of foreign direct investment has positive impact in the human development index. Results of this study showed a positive effect of globalization in Indonesia. Indonesia as a developing country would need foreign direct investment to be able to address the problem of unemployment and improve the welfare of communities in Indonesia.
1
Globalisasi ekonomi ditandai oleh semakin terintegrasinya perekonomian negara-negara di dunia. Sampai saat ini, dampak globalisasi bagi setiap negara khususnya negara berkembang masih menjadi perdebatan di kalangan ekonom dan peneliti. Beberapa penelitian seperti Rao dan Vadlamannati (2011) menyatakan bahwa globalisasi sangat berperan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, Ezcurra dan Rodriguez-Pose (2013) membuktikan bahwa globalisasi berdampak pada ketimpangan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dampak globalisasi pada kesejahteraan masyarakat pada 33 provinsi di Indonesia. Indikator yang digunakan untuk mengukur globalisasi adalah perkembangan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) 33 provinsi di Indonesia. Sedangkan indikator yang mengukur kesejahteraan adalah Indeks Pembangunan Manusia 33 provinsi di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan perkembangan realisasi investasi PMA berdampak positif terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan dampak positif dari globalisasi di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang tentunya membutuhkan investasi asing untuk dapat mengatasi masalah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Indonesia.
Kata kunci: Globalisasi Ekonomi, Kesejahteraan.
ABSTRACT
Economic globalization is characterized by the integration of the economy from countries around the world. The impact of globalization, especially for developing countries, is still gaining attention among economists and researchers. Several studies such as Rao and Vadlamannati (2011) stated that globalization was instrumental for enhancing the economic growth of a country. However, Ezcurra and Rodriguez-Pose (2013) prove that globalization is promoting economic inequality. This research aims to analyze how globalization influences social welfare in 33 provinces in Indonesia. The indicators used in measuring the development of globalization is the realization of Foreign Direct Investment (FDI) of 33 provinces in Indonesia. While the indicators for measuring welfare is human development index of 33 provinces in Indonesia. Methods of data analysis used in this study is the analysis of the panel data regression. The results showed that the increase in the development of the realization of foreign direct investment has positive impact in the human development index. Results of this study showed a positive effect of globalization in Indonesia. Indonesia as a developing country would need foreign direct investment to be able to address the problem of unemployment and improve the welfare of communities in Indonesia.
2
PENDAHULUAN
Globalisasi merupakan suatu kondisi di mana penduduk suatu negara dapat
mengkonsumsi produk dari negara lain, berinvestasi di negara lain, dan memperoleh
pendapatan di negara lain (Carbaugh, 2011). Di era globalisasi seperti saat ini, tidak
ada lagi negara yang menganut sistem perekonomian tertutup. Negara-negara di
dunia telah terintegrasi melalui aktivitas perdagangan antara suatu negara dengan
negara lainnya.
Globalisasi ekonomi yang ditandai dengan adanya keterbukaan suatu negara
terhadap perdagangan internasional memiliki dampak terhadap pertumbuhan
ekonomi. Pengalaman beberapa negara seperti Cina dan Meksiko menunjukkan
adanya dampak positif dari globalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Wei dan
Liefner (2012) menyatakan bahwa reformasi ekonomi dalam bentuk keterbukaan
perdagangan Cina dengan negara-negara di dunia yang terjadi di Cina pada tahun
1970-an telah membawa peningkatan terhadap perekonomian Cina. Dampak dari
reformasi ekonomi tersebut telah meningkatkan investasi asing ke Cina, serta telah
meningkatkan Industrial production di Cina, dan juga meningkatkan ekspor Cina ke
berbagai negara di dunia.
Kondisi peningkatan pertumbuhan ekonomi akibat globalisasi ekonomi seperti
yang terjadi di Cina juga terjadi di Meksiko. Ponzio (2005) menyatakan bahwa
globalisasi ekonomi1 yang terjadi di Meksiko pada abad ke-18 telah membawa
Meksiko menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Peningkatan
pertumbuhan tersebut berasal dari sektor pertambangan, di mana pada waktu itu,
Meksiko memiliki perak sebagai komoditas ekspor unggulan negaranya.
Penelitian-penelitian lainnya yang mendukung bahwa globalisasi berdampak positif terhadap
pertumbuhan ekonomi adalah Moudatsou (2003); Warr (2004); Read (2004);
Chaudhary et al (2007); Rao dan Vadlamannati (2011); serta Gurgul dan Lach
(2014).
Namun, tidak semua peneliti setuju bahwa globalisasi ekonomi memberikan
dampak positif terhadap peningkatan perekonomian suatu negara. Berdasarkan
pengalaman Rusia dalam peralihan sistem perekonomian negara tersebut dari sistem
1 Globalisasi ekonomi yang terjadi di Meksiko juga didukung dengan adanya reformasi ekonomi yang
3
komunis menjadi sistem ekonomi pasar, Stiglitz (2002: 153) menunjukkan bahwa
globalisasi ekonomi yang berlangsung di Rusia cenderung berdampak pada
peningkatan kemiskinan dan ketimpangan (inequality). Berbeda dengan beberapa
penelitian sebelumnya tentang dampak globalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi,
disini, Stiglitz (2002: 152) menunjukkan realita yang bertolak belakang—yaitu
globalisasi justru menyebabkan terjadinya penurunan Pendapatan Domestik Bruto
(PDB) di Rusia.
Beberapa penelitian lainnya yang mendukung fenomena seperti yang
diungkapkan Stiglitz (2002) tentang dampak globalisasi terhadap inequality
diantaranya adalah Han et al (2012); Mah (2013); Ezcurra dan Pose (2013); dan
Asteriou et al (2014). Secara umum, penelitian-penelitian tersebut menyimpulkan
bahwa: pertama, globalisasi cenderung menyebabkan terjadinya ketimpangan pada
pendapatan masyarakat (Han et al, 2012: 297; Mah, 2013: 657). Kedua, globalisasi
ekonomi cenderung memberikan dampak ketimpangan ekonomi, di mana
negara-negara yang memiliki teknologi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang
tinggi akan cenderung mengeksploitasi negara-negara berkembang yang memiliki
Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah (Ezcurra dan Pose, 2013). Ketiga,
globalisasi keuangan melalui Foreign Direct Investment (FDI), dan keterbukaan
pasar modal terhadap investor asing cenderung merupakan faktor yang menyebabkan
terjadinya ketimpangan pendapatan (Asteriou et al, 2014).
Penelitian ini secara umum akan membahas mengenai dampak globalisasi
ekonomi di perekonomian Indonesia terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Salah satu indikator globalisasi ekonomi di Indonesia adalah adanya arus masuk
investasi asing langsung (FDI) yang mengalir ke perekonomian Indonesia. Bank
Indonesia (2013: 81) mencatat investasi asing langsung ke Indonesia pada tahun
2012 mencapai 19,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau mengalami peningkatan
sebesar 3,2% dari tahun 2011. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, sektor
manufaktur merupakan sektor utama investasi langsung asing di Indonesia dengan
nilai investasi sebesar 9 miliar dolar AS. Sementara itu, Singapura merupakan negara
yang mendominasi investasi langsung asing di Indonesia yang kemudian disusul
4
Jika dilihat dari data perkembangan realisasi PMA menurut lokasi, selama
periode tahun 2010 sampai dengan 2012 tampak bahwa investasi asing paling
banyak mengalir ke daerah Jawa Barat, Jakarta, Banten dan Jawa Timur. Daerah
pulau jawa merupakan daerah paling dominan mendapatkan realisasi investasi asing
dengan rata-rata nilai investasi sebesar 2 juta dolar AS per tahun. Sementara
beberapa daerah seperti Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku
merupakan daerah yang paling sedikit menerima investasi asing selama periode
tahun 2010 sampai dengan 2012.
Selama periode 2010 sampai dengan 2012 terdapat kecenderungan terjadinya
peningkatan dalam realisasi investasi asing di 33 provinsi di Indonesia. Apakah
peningkatan investasi asing tersebut berpengaruh terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat di masing-masing daerah pada 33 provinsi di Indonesia.
Apakah dengan adanya investasi asing tersebut, masyarakat Indonesia menjadi
semakin sejahtera—yang dilihat dari adanya peningkatan indeks pembangunan
manusia.
METODE
Pada penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur globalisasi
ekonomi di Indonesia adalah menggunakan perkembangan realisasi investasi PMA
menurut lokasi yang dipublikasikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) periode tahun 2010 sampai dengan 2012 untuk 33 provinsi di Indonesia.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat adalah
menggunakan data Indeks Pembangunan Manusia periode tahun 2010 sampai
dengan 2012 untuk 33 provinsi di Indonesia yang dipublikasikan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS).
Analisis yang digunakan untuk melihat pengaruh globalisasi ekonomi terhadap
Indeks Pembangunan Manusia adalah menggunakan analisis regresi data panel.
Adapun model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
HDIit= α + βFDIit+ εit
Di mana, HDIit merupakan indeks pembangunan manusia provinsi i pada tahun
t; α merupakan konstantan; β merupakan koefisien parameter regresi; FDIit
5
residual. Dalam analisis regresi data panel terdapat tiga model yang dapat digunakan.
Ketiga model tersebut adalah Pooled Least Square (PLS), Fixed Effect Model (FEM)
dan Random Effect Model (REM). Chow Test dan Hausman Test akan digunakan
untuk menentukan model yang akan digunakan dalam penelitian ini. Pengolahan
data akan dilakukan dengan menggunakan software Eviews 6.0.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1 menunjukkan hasil analisis regresi data panel untuk model PLS, FEM
dan REM. Berdasarkan hasil analisis yang disajikan di Tabel 1, dapat dilihat bahwa
variabel penanaman modal asing (FDIit) pada ketiga model masing-masing
memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan
manusia (HDIit) di 33 provinsi di Indonesia dengan tingkat kepercayaan 1%. Namun,
dari ketiga hasil tersebut akan dipilih satu hasil dari satu model tertentu, di mana
penentuan model yang akan digunakan dalam penelitian ini akan menggunakan
Chow test dan Hausman test.
Tabel 1. Hasil Analisis Data Panel
PLS FEM REM
α 71,942 72,125 72,108
β 0,000698 0,000398 0,000428
t-stat 2,706 2,683 3,020
prob 0,0080*** 0,0092*** 0,0032***
R2 0,070 0,981 0,086
Adj-R2 0,060 0,972 0,077
Sumber : Hasil Pengolahan Eviews 6.0 (data diolah)
Keterangan : *** merupakan tingkat signifikansi pada tingkat kepercayaan 0,01 (1%).
Berdasarkan hasil pengujian2 Chow test dan Hausman test maka diperoleh
model yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah REM. Hasil analisis dengan
REM pada Tabel 1 menunjukkan bahwa FDIit memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap HDIit dengan nilai koefisien sebesar 0,000428. Dengan
demikian, setiap penambahan 1 juta dolar AS PMA di masing-masing daerah di 33
provinsi di Indonesia, maka adanya penambahan investasi asing tersebut akan
6
meningkatkan indeks pembangunan manusia di masing-masing daerah sebesar
0,000428. Meskipun FDI memberikan pengaruh yang positif terhadap HDI, namun jika dilihat dari nilai koefisien β yang cenderung kecil, dapat dikatakan bahwa pengaruh FDI dalam meningkatkan HDI relatif kecil. Dengan kata lain, masuknya
FDI ke 33 provinsi di Indonesia hanya memberikan dampak yang relatif kecil
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan HDI.
Temuan yang serupa juga diperoleh Gohou dan Soumare (2012) di Afrika.
Gohou dan Soumare juga menemukan adanya dampak positif FDI terhadap HDI
dengan tingkat signifikansi 1%. Koefisien β yang diperoleh dalam penelitian Gohou
dan Soumare (2012: 86) juga relatif kecil, yaitu sebesar 0,0000438. Bahkan pada
perbandingan dampak FDI terhadap HDI dibeberapa negara-negara Afrika yang
telah diklasifikasikan, hasilnya pun juga relatif kecil, yaitu berkisar antara 0,0000326
untuk koefisien terkecil dan 0,0061543 untuk koefisien terbesar. Pada hasil analisis
untuk klasifikasi negara Afrika yang berpendapatan menengah dan rendah pun tidak
menunjukkan adanya nilai koefisien yang relatif lebih besar.
Hasil nilai koefisien β yang ditemukan di penelitian ini dan dalam penelitian
Gohou dan Soumare (2012) menimbulkan suatu keraguan tentang efektifitas
masuknya FDI terhadap peningkatan HDI. Kecenderungan yang terlihat adalah FDI
memberikan dampak yang relatif kecil terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Masuknya FDI ke 33 provinsi di Indonesia memang berdampak positif
dan signifikan terhadap peningkatan HDI. Namun, dampak yang dihasilkan masih
terlalu kecil untuk percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang
diukur dari HDI.
Dampak FDI terhadap peningkatan kesejahteraan di Indonesia berbeda bila
dibandingkan dengan hasil temuan beberapa penelitian. Di Pakistan, FDI merupakan
salah satu kebijakan pro-poor—karena FDI berkontribusi terhadap penurunan
tingkat kemiskinan, di mana untuk setiap kenaikan satu persen FDI, maka akan
menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 0,44% - 0,47% (Zaman et al, 2012: 1225).
Sementara itu, Davies dan Quinlivan (2006: 875) menemukan bahwa peningkatan
perdagangan internasional akan meningkatkan HDI dari 0,27 menjadi 0,32, di mana
hal ini menunjukkan bahwa peningkatan HDI dapat meningkatkan Pendapatan
7
Meskipun beberapa variabel dari penelitian Zaman et al (2012) dan Davies dan
Quinlivan (2006) berbeda dengan penelitian ini, tetapi berdasarkan dua penelitian
tersebut seharusnya dampak yang dihasilkan dengan adanya FDI dan peningkatan
aktivitas perdagangan adalah penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat yang cukup besar. Untuk itu, keraguan tentang dampak
masuknya FDI terhadap peningkatan HDI di 33 provinsi di Indonesia yang
memberikan dampak relatif kecil menjadi semakin terbukti. Mengapa masuknya FDI
ke Indonesia hanya memberikan dampak yang kecil, yaitu hanya sebesar 0,0000438.
Faktor yang menyebabkan rendahnya dampak FDI terhadap HDI di Indonesia
diungkapkan dalam penelitian Reiter dan Steensma (2010). Penelitian yang
dilakukan oleh Reiter dan Steensma ini sekaligus menjadi jawaban atas
permasalahan rendahnya dampak FDI terhadap HDI di Indonesia. Menurut Reiter
dan Steensma (2010), hubungan antara FDI dan peningkatan HDI akan semakin kuat
jika korupsi di negara tersebut rendah. Selain itu, Reiter dan Steensma (2010) juga
berpendapat bahwa masuknya FDI akan menjadi semakin berdampak positif
terhadap HDI apabila kebijakan FDI di negara tersebut membatasi investor asing
untuk masuk ke beberapa sektor ekonomi dan ketika kebijakan pembatasan tersebut
lebih diskriminatif terhadap investor asing relatif terhadap investor domestik.
Gambar 1. Corruption Perception Index Indonesia, 2004 – 2013.
Di Indonesia, pemerintah melalui BKPM telah mengatur kebijakan-kebijakan
berinvestasi ke berbagai daerah-daerah di Indonesia dengan Daftar Negatif Investasi
0 100 200
2004 2005
2006 2007
2008 2009
2010 2011
2012 2013
137
140 130 143
126 111 110
100 118
114
8
(DNI)3. Untuk itu, faktor yang menyebabkan rendahnya dampak FDI terhadap HDI
di Indonesia adalah tingkat korupsi yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan data
Corruption Perception Index (CPI) tahun 2004 – 2013, dapat dilihat bahwa
Indonesia rata-rata menempati peringkat 123 yang membawa Indonesia kedalam
kelompok negara-negara yang memiliki tingkat korupsi yang sangat tinggi. Dengan
demikian, relatif kecilnya nilai koefisien β yang menunjukkan kecilnya dampak
masuknya FDI terhadap peningkatan HDI di 33 provinsi di Indonesia menjadi dapat
dipahami dengan adanya data tingginya korupsi di Indonesia.
KESIMPULAN
Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan dampak positif globalisasi yang
diukur oleh FDI di perekonomian Indonesia. Dampak positif tersebut
mengindikasikan bahwa Indonesia sebagai negara berkembang tentunya
membutuhkan investasi asing untuk dapat mengatasi masalah pengangguran dan
meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Indonesia. Namun, jika melihat nilai koefisien β dari hasil analisis, maka masuknya FDI memberikan dampak yang relatif kecil terhadap HDI, yaitu hanya sebesar 0,0000438. Berdasarkan hasil penelitian Reiter dan Steensma (2010), rendahnya koefisien β dapat dikaitkan dengan tingkat korupsi di Indonesia. Fakta yang diperoleh dari CPI menunjukkan
bahwa Indonesia memiliki tingkat korupsi yang sangat tinggi, sehingga menjadi
logis apabila dengan tingkat korupsi yang tinggi tersebut, efektifitas masuknya FDI
menjadi semakin kecil terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
3 DNI diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 36 Tahun 2010 tentang daftar bidang
9
DAFTAR PUSTAKA
Asteriou, Dimitrios., Dimelis, Sophia dan Moudatsou, Argiro., 2014, “Globalization and Income Inequality: a Panel Data Econometric Approach for the EU27 Countries”, Economic Modelling, Vol. 36, pp. 592 – 599.
Bank Indonesia, 2013, Laporan Perekonomian Indonesia 2012, Jakarta.
Carbaugh, Robert J., 2011, Global Economics 13th Edition, Mason OH: South-Western Cengage Learning.
Chaudhary, Muhammad Aslam., Shirazi, Nasim Shah dan Choudhary, Munir A. S., 2007, “Trade Policy and Economic Growth in Bangladesh: a Revisit”,
Pakistan Economic and Social Review, Vol. 45, No. 1, pp. 1 – 26.
Davies, Antony, dan Quinlivan, Gary, 2006, “A Panel Data Analysis of the Impact of Trade on Human Development”, The Journal of Socio-Economics, Vol. 35, pp. 868 – 876.
Ezcurra, Roberto dan Pose, Andres Rodriguez, 2013, “Does Economic Globalization affect Regional Inequality? A Cross-country Analysis”, World Development, Vol. 52, pp. 92 – 103.
Gohou, Gaston dan Soumare, Issouf, 2012, “Does Foreign Direct Investment Reduce Poverty in Africa and are There Regional Differences?” World Development, Vol. 40, No. 1, pp. 75-95.
Gurgul, Henryk dan Lach, Lukasz, 2014, “Globalization and Economic Growth: Evidence from Two Decades of Transition in CEE”, Economic Modelling, Vol. 36, pp. 99 – 107.
Han, Jun., Liu, Runjuan., dan Zhang, Junsen., 2012, “Globalization and Wage
Inequality: Evidence from Urban China”, Journal of International
Economics, Vol. 87, pp. 288 – 297.
Harahap, Poltak, 2010, Kumpulan Modul Tutorial Ekonometri, Yogyakarta: Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.
Mah, Jai S., 2013, “Globalization, Decentralization and Income Inequality: The Case of China”, Economic Modelling, Vol. 31, pp. 653 – 658.
10
Ponzio, Carlos Alejandro, 2005, “Globalisation and Economic Growth in the Third World: Some Evidence from Eighteenth-Century Mexico”, Journal of Latin American Studies, Vol. 37, No. 3, pp. 437 – 467.
Rao, B. Bhaskara dan Vadlamannati, Krishna Chaitanya, 2011, “Globalization and Growth in the low income African Countries with the Extreme Bounds Analysis”, Economic Modelling, Vol. 28, pp. 795 – 805.
Read, Robert, 2004, “The Implications of Increasing Globalization and Regionalism for the Economic Growth of Small Island States”, World Development, Vol. 32, No. 2, pp. 365 – 378.
Reiter, S.L., dan Steensma, H. Kevin., 2010, “Human Development and Foreign Direct Investment in Developing Countries: The Influence of FDI Policy and Corruption”, World Development, Vol. 38, No. 2, pp. 1678 – 1691.
Stiglitz, Joseph E., 2002, Globalization and its Discontents, 500 Fifth Avenue, New York: W.W. Norton & Company, Inc.
Warr, Peter, 2004, “Globalization, Growth, and Poverty Reduction in Thailand”,
ASEAN Economic Bulletin, Vol. 21, No. 1, pp. 1 – 18.
Wei, Y.H. Dennis, dan Liefner, Ingo, 2012, “Globalization, Industrial Restructuring, and Regional Development in China”, Applied Geography, Vol. 32, pp. 102 – 105.
11
LAMPIRAN
Perhitungan dari Chow test4 dan Hausman Test. Adapun persamaan Chow test
adalah sebagai berikut:
Di mana:
: Restricted Residual Sum Square dari model PLS : Unrestricted Residual Sum Square dari model FEM
: Jumlah data cross section
: Jumlah data time series
: Jumlah variabel independen
Adapun hipotesis yang akan di uji adalah sebagai berikut:
Ho : Model PLS (restricted)
H1 : Model FEM (unrestricted)
Apabila nilai Fstat > Ftabel, maka hipotesis nol ditolak sehingga model yang digunakan
adalah FEM. Sebaliknya, Apabila Fstat < Ftabel, maka tidak menolak hipotesis nol
sehingga model yang digunakan adalah PLS. Perhitungan Fstat adalah sebagai
berikut:
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai Fstat sebesar 111,144. Nilai Ftabel
pada numerator 32, denominator 65 dan tingkat kepercayaan 5% sebesar 1,65. Maka
diperoleh nilai Fstat > Ftabel, maka hipotesis nol ditolak. Dengan demikian
berdasarkan Chow test, model yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan FEM. Namun, untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih
meyakinkan tentang model yang akan digunakan. Maka tahapan selanjutnya adalah
melakukan Hausman test. Pada Hausman test, hipotesis yang akan diuji adalah:
Ho : Penelitian menggunakan REM
H1 : Penelitian menggunakan FEM
12
Apabila nilai Hausman test hasil pengujian > 2Tabel, maka hipotesis nol ditolak, sehingga model yang digunakan adalah FEM. Sebaliknya, apabila nilai Hausman
test hasil pengujian < 2Tabel, maka kesimpulan yang diambil adalah tidak menolak hipotesis nol—sehingga model yang digunakan adalah REM. Perhutungan Hausman
test akan dilakukan dengan menggunakan program Eviews 6.0. Adapun hasil
perhitungan Hausman test adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Hausman Test
Correlated Random Effects - Hausman Test Pool: REM
Test cross-section random effects
Test Summary
Chi-Sq.
Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 0.442295 1 0.5060
Sumber: Hasil Pengolahan Eviews 6.0
Berdasarkan Tabel 2, diperoleh nilai Chi-Square statistik sebesar 0,4423. Nilai
2
Tabel pada df 1 dengan tingkat kepercayaan 5% sebesar 3,841. Maka dapat disimpulkan bahwa nilai Chi-Square statistik < 2Tabel. Dengan demikian, model yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah REM.