• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Antara Kadar Serum Lipid Dengan Volume Prostate Pada Penderita Benign Prostate Hyperplasia Di RSUP H. Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan Antara Kadar Serum Lipid Dengan Volume Prostate Pada Penderita Benign Prostate Hyperplasia Di RSUP H. Adam Malik Medan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prostat

Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, di depan

rectum dan membungkus uretra posterior.( Roehrborn CG et al., 2010 ).Letak kelenjar

prostat dimulai dengan dasar kerucut (basis) sebagai terusan dari leher vesika sedang

puncak kerucut yang disebut apeks terletak di atas fascia diaphragma urogenitalis.

Prostat pada umur dewasa muda berukuran lebar 3-4 cm dan panjangnya 4-6 cm dengan

ketebalannya kira-kira 2-3 cm dan beratnya20 - 40 gram.( Roehrborn et al .,2010

danJohn T et al.,2010 ).

Gambar 2.1. Anatomi Prostat

Prostat terdiri dari 70% kelenjar dan 30% stroma fibromuskular. Komponen

stroma ini terdiri atas otot polos, fibroblast, pembuluh darah, saraf, kolagen dan jaringan

penyanggah yang lain. Stroma dan kelenjar berkontraksi selama ejakulasi untuk

(2)

daerah anterior sedangkan bagian kelenjar terletak di bagian posterior( Roehrborn CG et

al., 2010, John T et al., 2010 dan Rahardjo D, 2009 ).

McNealmengusulkan suatu konsep anatomi zona berdasarkan dari gambaran

anatomi dan histologi prostat. Dasar pembagian zona dari McNeal ini dijadikan dasar

untuk menentukan letak dan asal keganasan prostat.Menurut McNeal, prostat dibagi

menjadi 3 zona, yaitu zona perifer (70% dari volume prostat dewasa muda), zona sentral

(25%), dan zona transisi (5%). Keganasan prostat 60-70% berasal dari zona perifer,

10-20% dari zona transisi, dan 5-10% dari zona sentral. 60% keganasan dari zona sentral

biasanya jenis karsinoma dengan gradasi rendah (low-grade), clear cell carsinoma(

Nickel J et al.,1999 )

Gambar 2.2. Zona-zona Prostat( Nickel J et al.,1999 )

Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari

cairan ejakulat. Sekret kelenjar prostat adalah cairan seperti susu yang dialirkan melalui

duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan

bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Semen berisi sejumlah asam sitrat

sehingga pH nya agak asam. Selain itu dapat ditemukan enzim yang bekerja sebagai

fibrinolisin yang kuat, fosfatase asam, enzim-enzim lain dan lipid. Sekret prostat

(3)

merupakan 25% dari seluruh volume ejakulat( Roehrborn et al., 2010 dan Taiwo SS et

al.,2006 ).

Prostat manusia mendapat dua macam persarafan yaitu parasimpatik (kolinergik)

dan simpatik (noradrenergik) melalui pleksus pelvikus otonomik yang terletak dekat

prostat. Pleksus ini mendapat masukan parasimpatik dari medulla spinalis setinggi S2-S4 dan serat-serat simpatik dari nervus hipogastrikus presakralis (T10-L2).Kedua sistem persarafan itu dalam prostat membentuk jaringan persarafan yang terjadi dari gabungan

kolinergik dan noradrenergik dan mempunyai reseptor-reseptor di dalam otot polos

prostat. Saraf-saraf otonom mempersarafi prostat dan juga vesika seminalis, uretra, dan

corpora cavernosa dari pleksus pelvikus yang bersama pembuluh darah membentuk

kompleks saraf dan pembuluh darah (neurovascular bundle) dan kompleks ini berjalan

di bagian posterior dari prostat dari kranial menuju apeks prostat dan umumnya sejajar

dengan dinding rectum (John T et al., 2010). Stimulasi parasimpatik meningkatkan

sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan

pengeluaran cairan prostat kedalam uretra posterior, seperti pada saat ejakulasi. Sistem

simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsul prostat, dan leher

buli-buli. Di tempat-tempat itu banyak terdapat reseptor adrenergik-α. Rangsangan simpatik

menyebabkan dipertahankannya tonus otot polos tersebut( Roehrborn CG et al.,2010 ).

2.2 Hiperplasia Prostat Jinak 2.2.1 Definisi

Hiperplasia prostat jinak adalah suatu diagnosis histologis yang ditandai oleh proliferasi

elemen seluler dari prostat. Hiperplasia prostat melibatkan kedua elemen stroma dan

(4)

Gambar 2.3 Gambaran Prostat Normal Dibandingkan dengan BPH 2.2.2 Epidemiologi

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau hiperplasia prostat jinak adalah tumor jinak

yang tersering pada laki-laki, dan insidennya terkait dengan umur pasien. Jika

hiperplasia cukup besar, nodul-nodul dapat menekan dan mempersempit kanal uretra

sehingga terjadi obstruksi uretra parsial maupun total. Prevalensi histologis hiperplasia

prostat jinak pada penelitian autopsi meningkat dari sekitar 20% pada laki-laki 41-50

tahun menjadi 50% pada laki umur 51-60 tahun, sampai akhirnya 90% pada

laki-laki di atas 80 tahun. Gejala pada kasus ini juga terkait dengan umur pasien. Pada umur

55 tahun, sekitar 25% dari laki-laki mengeluhkan gejala obstruksi berkemih. Pada umur

75 tahun, 50% laki-laki melaporkan penurunan kekuatan dan kaliber dari aliran

urin(Taiwo SS et al.,2006).

Di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), subbagian urologi, setiap

tahun ditemukan antara 200 sampai 300 penderita baru dengan prostat hipertrofi. Istilah

hipertrofi sebenarnya kurang tepat oleh karena yang sebenarnya terjadi adalah

hiperplasia dari kelenjar periuretral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli

ke perifer dan menjadi kapsul bedah (surgical capsule).(Furqan, 2003).

Faktor risiko untuk perkembangan hiperplasia prostat jinak belum dapat

diketahui dengan baik. Beberapa studi mengemukakan pendapat bahwa terdapat faktor

predisposisi genetik dan beberapa mengatakan berhubungan dengan perbedaan ras.

(5)

seperti histamine, bronkodilator dapat meningkatkan risiko hiperplasia prostat jinak(

Pondei K et al., 2012 dan Philip M et al., 2007 )

2.2.3 Etiologi

Etiologi hiperplasia prostat jinak masih belum dapat dipastikan hingga saat ini, tetapi

kelainan ini diduga multifaktorial dan berada di bawah kontrol endokrin. Prostat terdiri

dari komponen stromal dan epitelial, keduanya dapat memperbanyak nodul-nodul

hiperplastik dan juga gejala-gejala yang berhubungan dengan hiperplasia prostat. Kedua

komponen ini dapat menjadi target dalam penanganan medis kasus hiperplasia prostat(

Pondei K et al.,2012 ).

Hiperplasia prostat jinak merupakan salah satu penyebab LUTS pada pria

berusia lanjut. Secara histopatologi, hiperplasia prostat jinak dikarakteristikkan oleh

peningkatan jumlah sel-sel stroma dan epitel dalam area periuretral prostat. Etiologi

yang pasti dari hiperplasia prostat jinak masih meragukan. Dalam pengamatan,

peningkatan jumlah sel oleh proliferasi epitel dan stroma atau gangguan program

kematian sel mengarah kepada akumulasi seluler. Androgen, estrogen, interaksi

epitel-stroma, growth factor, dan neurotransmitter mungkin memainkan peranan baik tunggal

ataupun kombinasi dalam menyebabkan proses hiperplasi( Rahardjo D, 2009 ).

Testosteron dihasilkan oleh sel leydig atas pengaruh hormon Luteinizing

hormon (LH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis ini

menghasilkan LH atas rangsangan Luteinizing Hormon Releasing Hormon (LHRH). Di

samping testis, kelenjar anak ginjal juga menghasilkan testosteron atas pengaruh ACTH

yang juga dihasilkan oleh hipofisis. Jumlah testosteron yang dihasilkan oleh testis

kira-kira 90% dari seluruh produksi testosteron, sedang yang 10% dihasilkan oleh kelenjar

adrenal. Sebagian besar testosteron dalam tubuh berada dalam bentuk serum binding

hormon (SBH). Hanya sekitar 2% testosteron dalam keadaan bebas dan testosteron

inilah yang memegang peranan dalam proses terjadinya inisiasi pembesaran prostat.

Testosteron bebas ini dengan pertolongan enzim 5-alfa reduktase akan dihidrolise

menjadi dihidrotestosteron (DHT). Dalam bentuk DHT inilah yang kemudian akan

(6)

DHT-reseptor kompleks. DHT-reseptor kompleks ini kemudian akan masuk ke dalam

inti sel dan akan mempengaruhi asam ribonukleat (RNA) untuk menyebabkan

terjadinya sintesis protein sehingga dapat terjadi proliferasi sel (Taiwo SS et al.,2006).

Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan

testosteron-estrogen, hal ini disebabkan oleh karena berkurangnya produksi testosteron dan juga

terjadinya konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposis di daerah perifer

dengan pertolongan enzim aromatase. Estrogen inilah yang kemudian menyebabkan

terjadinya hiperplasia stroma (Taiwo SS et al.,2006).

Dalam patogenesis terjadinya hiperplasia prostat jinak disebut pula pentingnya

faktor interaksi stroma dan epitelial. Hal ini banyak dipengaruhi oleh growth factor.

basic fibroblast growth factor (b-GFGF) dapat menstimulasi sel stroma dan merupakan

faktor yang penting pada perkembangan prostat jinak. Konsentrasi b-FGF ini lebih besar

ditemukan pada penderita hiperplasia prostat jinak dibanding pada orang normal karena

bertambahnya umur (John et al.,2010).

2.2.4 Patologi

Hiperplasia prostat jinak seutuhnya merupakan proses hiperplasia, yaitu peningkatan

jumlah sel. Stroma tersusun dari kolagen dan otot polos. Komponen histologis yang

dominan dapat menentukan potensi responsivitas terhadap terapi medis. Alpha-blockers

dapat menghasilkan respon yang baik pada pasien hiperplasia prostat jinak dengan

komponen otot polos yang signifikan, sedangkan jika komponen sel epitel yang lebih

dominan, kemungkinan respon akan lebih baik terhadap penghambat 5α-reduktase.

Pasien dengan komponen kolagen dalam stroma dapat tidak memberikan respon

terhadap bentuk terapi medis apapun(Pondei K et al.,2012).

Seiring berjalannya hiperplasia, lama-kelamaan zona luar dari prostat akan

terdesak, membentuk suatu formasi yang disebut surgical capsule. Kapsul ini

memisahkan zona transisi dari daerah perifer kelenjar dan berfungsi sebagai batas

pembelahan untuk enukleasi pada prostatektomi (pembedahan yang mengangkat bagian

prostat di sekitar uretra yang berjalan dari bagian perifer prostat dan kapsul

(7)

Pada taraf awal setelah tejadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang

bertambah pada leher vesika dan daerah prostat, kemudian detrusor akan mencoba

mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat. Sebagai akibatnya serat

detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa

buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampak apabila dilihat dari dalam vesika

dengan sistoskopi. Mukosa vesika dapat menerobos ke luar diantara serat detrusor

sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila

besar dinamakan divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi yang

apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami

dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi sehingga akan terjadi retensi urin

total(Taiwo SS et al.,2006).

2.2.5 Patofisiologi

Gejala hiperplasia prostat jinak dapat terkait dengan komponen obstruktif dari prostat

atau respon sekunder dari kandung kemih terhadap resistensi saluran kemih (komponen

iritatif). Gejala obstruktif disebabkan oleh karena detrusor gagal berkontraksi dengan

cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus,

sedangkan gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan yang tidak sempurna

pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesika sehingga

vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh( Pondei K et al.,2012 dan Taiwo SS

(8)

2.2.6 Diagnosis

Untuk mendiagnosis suatu BPH melalui :

a. Gambaran Klinis

Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih. Keluhan pada

saluran kemih itu sendiri terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritatif seperti terlihat

pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Gejala Obstruksi dan Iritasi

Obstruksi Iritasi

- Hesitansi - Frekuensi

- Pancaran miksi lemah - Nokturi

- Intermitensi - Urgensi

- Miksi tidak puas - Disuri

- Menetes setelah miksi

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah

bawah digunakan system scoring yaitu Skor Internasional Gejala Prostat atau I-PSS

(International Prostatic Symptom Score). System scoring I-PSS terdiri atas tujuh

pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan

yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Dari skor I-PSS dapat

dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat yaitu, (1) ringan : skor 0-7, (2) sedang:

(9)

Tabel 2.2 International Prostate Symptoms Score (IPSS)

Selain 7 pertanyaan pada IPSS juga terdapat pertanyaan tunggal mengenai kualitas

hidup (quality of life/QoL) yang terdiri atas 7 kemungkinan jawaban (John T et

al.,2010).

Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup pasien.

Bila LUTS dikaitkan dengan BPH, tingkat gangguan dari gejala atau yang

mempengaruhi kualitas hidup harus dipertimbangkan disaat menentukan pilihan

tatalaksana terbaik.Masalah medis yang lain mungkin dapat mempengaruhi tatalaksana

BPH.

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik, colok dubur, danpemeriksaan neurologis harus dilakukan pada

semua pasien. Ukuran serta konsistensi prostat harus diperhatikan walaupun tidak

(10)

prostat jinak biasanya akan teraba pembesaran prostat yang elastis, berbatas tegas, serta

permukaannya rata. Jika terdeteksi indurasi, dokter harus memikirkan kemungkinan

kanker, serta pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan (PSA, transrectal ultrasound,

dan biopsi) ( Pondei K et al., 2012 ).

c. Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium

Urinalisis adalah pemeriksaan yang penting yang dilakukan pada pasien urologi.

Dimana pemeriksaan ini akan memberikan informasi yang penting mengenai urinalisa

yang lengkap yang terdiri dari kimia dan mikroskopik analisis. Jika dicurigai adanya

suatu keganasan dari prostat maka perlu diperiksa kadar penanda tumor yaitu PSA

(Campbell-Walsh Urology, 2007).

2. Pencitraan

Untuk menentukan volume prostat pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah

dengan menggunakan USG. Pemeriksaan USG dianggap sebagai pemeriksaan yang

baik untuk mendeteksi pembesaran prostat, tidak ada bahaya radiasi, dan juga relatif

murah. Pemeriksaan USG dapat dilakukan secara trans abdominal atau transrectal

(Trans Rectal Ultrasonography, TRUS)( John T et al.,2010 dan Taiwo SS et al.,2006).

2.3. Profil Lipid 2.3.1. Definisi

Profil lipid adalah unsur-unsur lemak dalam plasma yang terdiri darikolesterol,

trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Tiga unsur yangpertama berkaitan

dengan protein tertentu (Apoprotein) membentuklipoprotein yaitu kilomikron, VLDL

(Very Low Density Lipoprotein),LDL (Low Density Lipoprotein) dan HDL (High

Density Lipoprotein)masing-masing mempunyai unsur lemak dengan kandungan yang

berbeda-beda.Ikatan ini memungkinkan unsur lemak itu dapat larut dalam darahdan

kemudian dikirim ke seluruh jaringan tubuh. Penetapan kadar lipiddarah dalam plasma

dilakukan dengan mengukur kadar total kolesterol,HDL kolesterol, LDL kolesterol dan

(11)

Tabel 2.3. Klasifikasi Lipoprotein Berdasarkan Densitas(Ultrasentrifuge)

Sumber: Diadaptasi dari Henry, J.B. Todd-Sanford-Davidsohn: Clinical diagnosis and mana-gement by laboratory methods (17th ed. P; 183), Philadelphia: Saunders,1984 (Kee JL, 2008)

2.3.2. Jenis-Jenis Lipid a. Kolesterol Total

Kolesterol (C27 H45 OH) adalah alkohol steroid, semacam lemakyang ditemukan dalam lemak hewani, minyak, empedu, susu, kuningtelur, yang sebagian besar disintesis oleh

hati dan sebagian kecildiserap dari diet. Keberadaan dalam pembuluh darah pada kadar

tinggiakan cenderung membuat endapan/ kristal/ lempengan yang akanmempersempit

atau menyumbat pembuluh darah (Sutedjo, 2008).

Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapathubungan antara

kadar kolesterol dalam darah dengan resiko penyakitprostat. Hasil penelitian yang

dilakukan di divisi urologi, universitas california di Amerika Serikat menunjukkan

bahwa terdapat korelasiantara kadar kolesterol dengan risiko terjadinya BPH.

Winarno (1991) menyatakan bahwa kandungan total kolesteroldarah yang

normal adalah 240 mg/dl. Sedangkan National CholesterolEducation Program (NCEP)

pada Adult Treatment Panel III ( ATPIII)tahun 2001 menetapkan bahwa kadar total

kolesterol darah normaladalah ≤200 mg/dl, sedang/ ambang batas tinggi adalah

200-239mg/dl, dan tinggi adalah ≥240 mg/dl. Kategori ketiga inilah yangtermasuk

hiperkolesterolemia. Kelas Subgroup

Lipoprotein

Komposisi

(12)

Tabel 2.4. Angka Total Kolesterol

No Total Kolesterol Darah Kadar (mg/dl)

1 2 3

Normal

Sedang / Ambang Batas Tinggi (border line high) Tinggi

≤200

200-239

≥240

Sumber: National Cholesterol Education Program (NCEP) pada Adult TreatmentPanel III (ATP-III) 2001 (Soeharto, 2004)

b. Trigliserida

Trigliserida merupakan senyawa yang terdiri dari 3 molekul asamlemak yang

teresterisasi menjadi gliserol, disintesis dari karbohidratdan disimpan dalam bentuk

lemak hewani. Dalam serum dibawa olehlipoprotein, merupakan penyebab utama

penyakit arteri dibandingkolesterol. Peningkatan trigliserida biasanya diikuti oleh

peningkatanVLDL (Very Low Density Lipoprotein). Pada peristiwa

hidrolisislemak-lemak ini akan masuk dalam pembuluh darah dalam bentukhidrolisislemak-lemak bebas (Sutedjo,

2008).

Trigliserida adalah salah satu jenis lemak bukan kolesterol yangterdapat dalam

darah dan berbagai organ tubuh. Dari sudut ilmukimia, trigliserida merupakan substansi

yang terdiri dari gliserol yangmengikat gugus asam lemak. Makan- makanan yang

mengandunglemak akan meningkatkan kadar trigliserida dalam darah dancenderung

meningkatkan kadar kolesterol. Ada beberapa faktor yang dapatmempengaruhi kadar

trigliserida dalam darah seperti kegemukan,makan lemak, makan gula biasa dan minum

alkohol (Soeharto, 2004).

Tabel 2.5. Ambang Batas Trigliserida dalam Darah

No Trigliserida Darah Kadar (mg/dl)

(13)

c. HDL atau Kolesterol Baik

HDL (High Density Lipoprotein) merupakan salah satu dari tigakomponen lipoprotein

yaitu kombinasi lemak dan protein,mengandung kadar protein tinggi, sedikit trigliserida

dan fosfolipid,mempunyai sifat umum protein dan terdapat pada plasma darah,disebut

juga lemak baik yang membantu membersihkan penimbunanplak pada pembuluh darah

(Sutedjo, 2008).

Seperti halnya dengan total kolesterol dan LDL, untuk menilai tinggirendahnya kadar

HDL digunakan angka standar dari NCEP.

Tabel 2.6. Angka HDL Kolesterol

No HDL Kolesterol Darah Kadar (mg/dl)

1

Sumber: National Cholesterol Education Program (NCEP) pada Adult TreatmentPanel III (ATP-III) 2001 (Soeharto, 2004)

d. LDL atau Kolesterol Jahat

LDL (Low Density Lipoprotein) adalah lipoprotein dalam plasmayang mengandung

sedikit trigliserida, fosfolipid sedang dan kolesteroltinggi. LDL mengandung paling

banyak kolesterol dari semualipoprotein dan merupakan pengirim kolesterol utama

dalam darah.Sel-sel tubuh memerlukan kolesterol untuk bisa tumbuh danberkembang

sebagaimana mestinya. Sel-sel ini memperoleh kolesteroldari LDL. Walaupun demikian

jumlah kolesterol yang bisa diserapoleh sebuah sel ada batasannya. Oleh karena itu

makin banyak lemakjenuh atau makan makanan yang mengandung kolesterol yang

tinggiakan mengakibatkan kadar kolesterol dalam darah tinggi (Sutedjo,2008).

LDL kolesterol sering dianggap sebagai indikator dalampemeriksaan penyakit

degeneratif karena LDL kolesterol banyakmengandung kolesterol.Berdasarkan

penelitian Gocke et.al,peningkatan LDL kolesterol berkaitan erat dengan insidensi

terjadinya penyakitBPH.

Untuk menilai tinggi rendahnya kadar LDL dalam darah,umumnya kita

membandingkan dengan angka standard dari NCEP.

(14)

No LDL Kolesterol Darah Kadar (mg/dl)

Garis Batas Tinggi (borderline High) Tinggi

Sumber: National Cholesterol Education Program (NCEP) pada Adult TreatmentPanel III (ATP-III) 2001 (Soeharto, 2004)

2.3.3. Definisi Dislipidemia

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan

peningkatanmaupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang

palingutama adalah kenaikan kadar kolesterol total (>240mg/dl), kolesterol

LDL(>160mg/dl), kenaikan kadar trigliserida (>200 mg/dl) serta penurunan kadar HDL

(<40mg/dl).

2.3.4 Epidemiologi Dislipidemia

Di Indonesia prevalensi dislipidemia semakin meningkat. Penelitian MONICA diJakarta

1988 menunjukkan bahwa kadar rata-rata kolesterol total pada pria adalah 199,8 mg/dl,

tahun 1993 meningkat menjadi 204,8 mg/dl.

2.4. Hubungan Lipid Profil dengan BPH

Penyebab terjadinya BPH sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Perkembangan

massa pada BPH bersifat selektif, dan potensial berkaitan dengan lingkungan dan gaya

hidup (McVary, 2004).

Hingga saat ini terdapat hipotesis yang terkait mengenai penyebab terjadinya

BPH yaitu:Hipotesis mengenai peran dihydrotestosterone (DHT) dan inflamasi kronik,

dimana teori ini yang dianggap lebih sesuai dalam perkembangan BPH. Perkembangan

prostat dipengaruhi oleh androgen dan estrogen.Androgen terdiri dari testosteron dan

dihydrotestosterone (DHT).Di dalam prostat terjadi konversi testosteron menjadi

(15)

merangsang proliferasi dan regulasi apoptosis pada prostat melalui interaksi

stromal-epitelial, growth factor dan neurotransmitter (Briganti et al, 2009;Roehrborn CG, 2008;

van der Sluis et al, 2010, Aritonang et al, 2014).

Testosteron sendiri, yang merupakan hormon utama testis adalah suatu steroid.

Hormon ini disintesis dari kolesterol di sel-sel leydig, dan juga terbentuk dari

androstenedion yang disekresikan oleh korteks adrenal. Testosteron disini yang nantinya akan dirubah menjadi DHT oleh 5α-reduktase dibeberapa jaringan sasaran. DHT inilah yang kemudian akan diikat oleh reseptor yang berada di dalam sitoplasma sel prostat

sehingga membentuk DHT-reseptor kompleks. DHT-reseptor kompleks ini kemudian

akan masuk ke dalam inti sel dan akan mempengaruhi asam ribonukleat (RNA) untuk

menyebabkan terjadinya sintesis protein sehingga dapat terjadi proliferasi sel (Taiwo SS

et al.,2006).

Lipid merupakan komponen penting dalam pembentukan steroid termasuk

testosteron.Lipid yang secara biologis penting adalah asam-asam lemak dan

derivat-derivatnya, lemak netral (trigliserida), fosfolipid dan senyawa-senyawa terkait, serta

sterol. Asam-asam lemak ini dapat jenuh (tidak ada ikatan ganda) atau tak jenuh

(terdehidrogenasi, dengan aneka jumlah ikatan ganda). Fosfolipid adalah unsur pokok

membran sel, sedangkan sterol itu sendiri mencakup berbagai hormon steroid dan

kolesterol.Sebagian lipid plasma tidak bersirkulasi dalam bentuk bebas. Asam-asam

lemak bebas (sering disebut FFA, UEA, atau NEFA) terikat pada albumin, sementara

kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid ditranspor dalam bentuk kompleks lipoprotein.

Ada 4 jenis lipoprotein, yaitu : kilomikron, very low density lipoprotein (VLDL), low

density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL).

Kolesterol yang merupakan salah satu komponen lipid adalah prekursor

hormon-hormon steroid dan asam lemak, merupakan unsur pokok yang penting di membran sel.

Kolesterol diabsorpsi dari usus dan dimasukkan ke dalam kilomikron yang dibentuk di

dalam mukosa. Setelah kilomikron mengeluarkan triglseridanya di jaringan adiposa,

kilomikron sisanya menyerahkan kolesterolnya ke hati. Hati dan jaringan-jaringan lain

juga mensintesis kolesterol. Sedikit kolesterol di hati diekskresi di empedu, baik dalam

bentuk bebas maupun sebagai asam empedu. Sedikit kolesterol empedu direabsorpsi

dari usus. Kebanyakan kolesterol di hati digabungkan ke dalam VLDL, dan semuanya

(16)

Kegemukan dan hiperkolesterolemia menurut beberapa penelitianmemiliki

hubungan yang positif terkait dengan terjadinya BPH (Neuhouse ML, Soygur T et al.,

2004), dan diperkirakan bahwa asupan lemak meningkatkan risiko terjadinya penyakit

tersebut. Suzuki et al, membuktikan bahwa asupan lemak tak jenuh ini ada

hubungannya dengan terjadinya pembesaran prostat, gejala LUTS dan BPH. Hubungan

antara usia dengan perubahan komposisi asam lemak dari epitel prostat dan stroma pada

pria dengan BPH disini masih diteliti (Weisser H et al., 2002).

Faktor asupan makanantinggilemakdapat meningkatkan risiko terjadinya

penyakit BPH. Diet inimeningkatkan risiko terjadinya BPHsebesar 25%. Diet tinggi

lemakakan meningkatkansintesis kolesterol, yang juga akan meningkatkansintesis

terhadap androgen. Asupan tinggi asam lemak tak jenuh menyokong untuk terjadinya

peroksidasi lipid dari membran sel dan mempengaruhi terjadinya ketidakseimbangan.

Lipid peroksida menyebabkan perubahan biokimia intraseluler, yang juga akan

meningkatkan konsentrasi 5-alpha-reductase dan DHT prostat, dan dengan demikian

akan meningkatkan epitel dan stroma growth.Tingkat kejenuhan dari asam lemak dalam

membran sel juga muncul untuk mempengaruhi kerja dari 5-alpha-reductase (Suzuki S

et al., 2002).

Dengan bertambahnya berat badan, sel-sel lemak menjadi lebih besar dan

cenderung memproduksi lebih estrogen, yang mendorong sel-sel prostat untuk

mensintesis lebih DHT (Suzuki S et al., 2002).

Disamping teori tersebut pada pasien obesitas, beberapa penelitian menemukan

adanya proses peningkatan inflamasi kronik oleh karena peningkatan sekresi sitokin

proinflamasi oleh lemak visceral. Inflamasi merupakan proses yang melibatkan elemen

humoral (sitokin) dan selular (leukosit, monosit, dan makrofag). Pada proses inflamasi

normal ada keseimbangan antara faktor pro-inflamasi (produksi growth factor dan

angiogenesis) dan anti inflamasi (penghambat proses tersebut), sehingga terjadi proses

resolusi. Namun pada inflamasi kronik, utamanya terjadi aktivasi sel T dan fagosit

mononuklear secara kronik, sehingga menyebabkan persistensi faktor pro-inflamasi

sehingga terjadi gangguan proses inflamasi. Hal ini kemudian akan merangsang proses

inflamasi dengan memproduksi semakin banyak sitokin dan growth factor. Sel T

mempengaruhi pembentukan matrix dan sekresi epithelial, kemudian merangsang

(17)

fibromuskular secara autokrin atau parakrin. Jumlah pembesaran prostat sebanding

dengan lama dan tingkat keparahan inflamasi (Parikesit et al, 2014)

Hal berbeda ditemukan beberapa penelitian. Penelitian Lekili et al, 2006 juga

menemukan tidak ada korelasi yang signifikan antara volume prostat degan kolesterol

total, trigliserida, LDL dan HDL. Penelitian Guptaet al, 2006 dan Zucchetto et al 2005

tidak menemukan adanya korelasi yang signifikan antara serum lipid dengan volume

prostat.

Penelitian terbaru menyatakan peranan androgen dalam perkembangan BPH

belum secara jelas diketahui. Ditemukan kadar androgen pada prostat normal dan BPH

ternyata hampir sama. Kadar testosteron serum pada orang normal (351.58-538 ng/dL)

sedangkan pada BPH (361.7-847 ng/dL) sementara kadar DHT serum pada orang

normal (31.5-40.35 ng/dL) dan pada BPH (38.58-61.09 ng/dL). Dilihat dari kadar DHT

intra prostatik pun tidak menunjukkan adanya perbedaan dimana pada orang normal

kadar DHT intraprostatnya berkisar antara 0.7-9.3 ng/g sementara BPH 1.0-8.15 ng/g

(Briganti et al 2009; Wang et al, 2012; Aritonang et al, 2014). Penelitian tersebut

(18)

Gambar 2.4Hubungan lipid dengan peningkatan volume prostat pada BPH (Modifikasi dari Aritonang et al, 2014)

Chronic Inflammation

Tissue Remodeling

Growth factors

• Infections and trauma • Obesity

Lipid Profile •↑ Total cholesterol •↑ Triglyceride •↑ LDL cholesterol

•↓ HDL

ANDROGEN (Testosterone &

DHT)

ESTROGEN

APOPTOSIS

CELL PROLIFERATION

Gambar

Gambar 2.1. Anatomi Prostat
Gambar 2.2. Zona-zona Prostat( Nickel J et al.,1999 )
Gambar 2.3  Gambaran Prostat Normal Dibandingkan dengan BPH
Tabel 2.1  Gejala Obstruksi dan Iritasi
+6

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai International Prostate Symptom Score (IPSS) dan gejala yang paling sering muncul dari 7 gejala IPSS pada pasien BPH di

Wein, Kavoussi, Novick, Partin, Peters. Campbell-Walsh Urology Ninth Ed. Philadephia: Saunders-Elsevier: 2007. Williams NS, Bulstrode CJK, O’Connel PR. TBaihe Prostate and

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor resiko terjadinya BPH dan kanker prostat, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar serum PSA pada pria

Pada awalnya sel kanker serviks berasal dari epitel serviks yang mengalami.. mutasi genetik sehingga mengubah

Kami juga memohon izin kepada Kerabat / Bapak / Ibu untuk memeriksa kadar profil lipid pada Pasien yang sedang menjalani penanganan dari penyakit yang dideritanya

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor resiko terjadinya BPH dan kanker prostat, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar serum PSA pada pria

Namun apabila lesi ini sudah menyebabkan aterosklerosis dan menyumbat arteri koroner yang memasok darah dan oksigen ke sel-sel otot jantung maka dapat

Bungaran Sihombing, SpU; Wakil Ketua Subdevisi Bedah Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan Pembimbing penulisan tesis, terima kasih yang sedalam-dalamnya dan