MEMORI BANDING
Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar Nomor : 29/Pdt.G/2014/PN.Bsk, tanggal 18 Agustus 2015
Batusangkar, 28 Agustus 2015
Kepada Yth.
Ketua Pengadilan Tinggi Padang di
Padang
melalui :
Ketua Pengadilan Negeri Batusangkar di
Batusangkar.
Dengan hormat,
Untuk dan atas nama Bupati Tanah Datar selaku Pemohon Banding, yaitu
M. Rezha Fahlevie, SH : Kasubag. Bantuan Hukum dan HAM Setda Kabupaten Tanah Datar yang beralamat di Jl. St. Alam Bagagarsyah, Pagaruyung, Batusangkar.
Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : 180/01/Hukum dan HAM-2015, tanggal 5 Januari 2015 yang yang telah diregister oleh Panitera Pengadilan Negeri Batusangkar tanggal 7 Januari 2015 dibawah Nomor : 02/SK/PDT/2015/PN.BS.
Dengan ini menyampaikan Memori Banding Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar Nomor : 29/Pdt.G/2014/PN.Bsk, tanggal 18 Agustus 2015 yang amarnya
berbunyi sebagai
berikut
:---Mengadili :
A. Dalam Eksepsi
- Menolak eksepsi Tergugat untuk seluruhnya B. Dalam Pokok Perkara
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya ;
2. Menyatakan perbuatan dan tindakan Tergugat yang tidak memberikan IUP Eksplorasi kepada Penggugat selama 8 (delapan) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) Undang- Undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara adalah perbuatan melawan hukum;
Datar, Propinsi Sumatera Barat, Kode Wilayah 02.07-05.05TD, luas 351,4 Ha selama 8 (delapan) tahun semenjak 8 Januari 2007 sampai dengan 7 Januari
2015;-4. Menyatakan Penggugat dijamin dan berhak atas IUP Operasi Produksi Komoditas Tambang Bijih Besi dengan Lokasi Usaha Pertambangan di Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Batipuh dan Nagari III Koto, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar Kode Wilayah 02.07-05.05TD, luas 351,4
Ha;-5. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp. 5.371.000,-00 (lima juta tiga ratus tujuh puluh satu ribu rupiah)
Bahwa atas Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar Nomor :29/Pdt.G/2014/PN.BSK yang diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal 18 Agustus 2015, Bupati Tanah Datar selaku Pemohon Banding, telah menyatakan Permohonan Banding pada hari Jum’at, 28 Agustus 2015 sesuai dengan Akta Permintaan Banding Nomor : 8/2015 Perdata NOmor 29/Pdt.G/2014/PN.Bsk. Dengan demikian, Permohonan Banding ini diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan menurut pasal 199 ayat (1) Rbg yang menyatakan :
---Dalam hal dimungkinkan pemeriksaan dalam tingkat banding, maka pemohon banding yang ingin menggunakan kesempatan itu, mengajukan permohonan untuk itu yang bila dipandang perlu, disertai dengan suatu risalah banding dan surat-surat lain yang berguna untuk itu atau permohonan itu dapat diajukan oleh seorang kuasa seperti dimaksud dalam ayat (3) Pasal 147 dengan suatu surat kuasa khusus kepada panitera dalam waktu 14 hari terhitung mulai hari diucapkannya keputusan pengadilan negeri, sedangkan tenggang waktu itu adalah empat belas hari setelah putusan diberitahukan menurut Pasal 190 kepada yang bersangkutan, jika ia tidak hadir pada waktu putusan diucapkan.
Demikian pula penyerahan Memori Banding ini melalui Pengadilan Negeri Batusangkar masih dalam tenggang waktu yang disyaratkan, mengingat berkas perkara ini sebelumnya belum diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tinggi
Padang.---Berdasarkan hal-hal tersebut, maka adalah layak dan beralasan hukum jika Pengadilan Tinggi Padang yang memeriksa dan mengadili perkara ini menerima
Permohonan dan Memori Banding
ini.---Bahwa segala sesuatu yang diuraikan dalam Memori Banding ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Eksepsi dan Jawaban, Duplik dan
Kesimpulan Tergugat/ Pemohon
29/Pdt.G/2014/PN.Bsk tersebut tidak tepat dan tidak benar. Dengan alasan-alasan sebagai berikut
:---A. Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru dalam mempertimbangkan kewenangan Pengadilan Negeri (Peradilan Umum) dalam memeriksa dan mengadili perkara aquosebagaimana dalam putusan selanya. ---Dimana dalam pertimbangan hukumnya, Majelis Hakim merujuk pada peraturan-peraturan yang berhubungan dengan ojek TUN yaitu : UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah yaitu dengan UU No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU No.5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dan terakhir dengan UU. No.51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas UU No.5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, maka hal yang menjadi objek dalam sengketa TUN adalah Keputusan TUN (Pasal 1 angka 10 UU PTUN) dengan pengertian dari Keputusan TUN (Pasal 1 angka 9 UU No.51/2009) adalah
:---“suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata”.
---Bahwa Majelis Hakim merujuk pada ketentuan Pasal 2 UU No.9 Tahun 2004 yang menyebutkan keputusan-keputusan yang tidak termasuk dalam pengertian Keputusan TUN, yaitu :---a. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata; b. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum;
dan seterusnya sampai dengan huruf
perdata;--Bahwa atas hal tersebut Pemohon Banding tidak sependapat dan keberatan atas pertimbangan hukum Majelis Hakim Tingkat Pertama sebagaimana diuraikan diatas. Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru menerapkan hukum terutama Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana terakhir telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009.
-Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam menjatuhkan putusan sela dalam perkara a quo hanya mempertimbangkan dalil-dalil yang diajukan oleh Penggugat/ Termohon Banding semata tanpa mempertimbangkan dalil-dalil dari Tergugat/Pemohon Banding yakni dengan hanya mempertimbangkan uraian posita gugatan. Dengan adanya kalimat “perbuatan melawan hukum” dan “menimbulkan”
kerugianMajelis Hakim telah mengkonstair bahwa perkara a quo merupakan perkara
yang berkaitan dengan Pasal 1365 KUH Perdata. Padahal tindakan Tergugat (Pemohon Banding) secara jelas dan terang merupakan murni tindakan dalam ranah administrasi negara, dimana Pemohon Banding tidak mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara yaitu tidak memperpanjang IUP
Eksplorasi---Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru menyatakan perbuatan Tergugat (Pemohon Banding) yang tidak memperpanjang IUP Eksplorasi Penggugat (Termohon Banding) merupakan perbuatan yang masuk dalam ranah hukum perdata.
-Bahwa yang termasuk dengan dengan Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentangPerubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dimanaKeputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata, misalnya keputusan yang menyangkut masalah jual beli yang dilakukan antara instansi pemerintah dan
perseorangan yang didasarkan pada ketentuan hukum
perdata.---Bahwa berdasarkan fakta di persidangan secara jelas dan nyata tidak pernah ada perikatan apapun antara Penggugat (Termohon Banding) dengan Tergugat (Pemohon Banding),selain adanya permohonan penerbitan IUP Eksplorasi dan selanjutnya permohonan perpanjangan IUP
merupakan hal yang absurd dan kabur. Sebab dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sudah menjamin kepada setiap orang maupun badan usaha mendapat IUP Eksplorasi dan IUP
Produksi.---Bahwa sudah sepantasnya Majelis Hakim Tingkat Pertama menilai kehendak yang dimintakan olehPenggugat (Termohon Banding) dalam perkara a quo. Sebab tidak serta merta Penggugat (Termohon Banding) dapat menyandang suatu hak tanpa
pemberian suatu hak oleh pemberi
hak.---Bahwa menurut hemat kami, bahwa hak yang dimintakan oleh Penggugat (Termohon Banding) adalah murni dalam ranah hukum perizinan, dimana IUP Eksplorasi yang dimohonkan perpanjangannya kepada Tergugat (Pemohon Banding) adalah diwujudkan dalam suatu Keputusan Tata Usaha Negara dalam bentukbentuk izin (vergunning), sebagai instrument yuridis
pemerintahan.---Bahwa Instrumen yuridis tersebut adalah dalam rangka tugas dan kewenangan pemerintah dalam menciptakan dan menjaga ketertiban, keteraturan dan keamanan. Oleh karenanya instrument yuridis ini merupakan bagian dari fungsi pengaturan yang dimiliki oleh pemerintah. Sebagai instrument yuridis pemerintahan, oleh karenanya tindakan atau perbuatan Tergugat harus dipandang sebagai perbuatan atau tindakan dalam kerangka hukum administasi negara yang bersifat konkret, final dan
individual.---Sejalan dengan hal tersebut menurut Sjachran Basah, “izin adalah perbuatan hukum administrasi negara bersegi satu yang menghasilkan peraturan dalam hal kontrol berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku” (Sjahran Basah.
1995:30)---Bahwa perbuatan Tergugat yang menerbitkan izin atau tidak menerbitkan izin haruslah dipahami sebagai tindakan hukum pemerintah yang berada dan dijalankan dalam lapangan hukum publik, dimana tindakan atau perbuatan dimaksud dalam kedudukannya sebagai penguasa maupun sebagai alat perlengkapan pemerintahan yang memiliki tugas dan tanggungjawab. Bahwa perbuatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan yang menimbulkan akibat hukum dibidang hukum administrasi negara dalam rangka pemeliharaan kepentingan
negara dan
melampaui waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak tidak diterimanya permohonan Penggugat (Termohon Banding), sehingga hal tersebut beralih menjadi kewenangan peradilan
umum.---Apabila tenggang waktu untuk mengajukan gugatan telah melampaui waktu, maka harus dipandang sebagai kondisi “daluarsa” sehingga dengan demikian akibat hukumnya gugatan menjadi gugur. Namun Faktanya Majelis Hakim menilai bahwa apabila suatu perkara yang merupakan kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara tetapi sudah melampaui tenggang waktu mengajukan gugatan, maka dengan sendirinya kewenangan peradilan umum dalam hal ini Pengadilan Negeri
Batusangkar.---Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru dalam pertimbangannya dengan menyimpulkan bahwa Penggugat (Termohon Banding) dalam petitumnya tidak pernah meminta dilakukan pembatalan atas suatu ketetapan tata usaha negara, sehingga bukan menjadi kewenangan peradilan tata usaha
negara.---Bahwa tindakan Tergugat (Pemohon Banding) yang tidak memproses perpanjangan IUP Eksplorasi Penggugat, harus dipahami bahwa Tergugat (Pemohon Banding) telah menerbitkan ketetapan (beschiking) yang merupakan ketetapan (beschiking) yang bersifat fiktif negatif sebagai pejabat tata usaha negara yang memiliki kewenangan untuk hal dimaksud. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 yakni sebagai berikut
:---“Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hal tersebut disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara”
Berdasarkan hal tersebut menurut hemat kami, apabila Penggugat (Termohon Banding) merasa keberatan atas tindakan atau perbuatan Tergugat (Pemohon Banding), maka bukanlah kewenangan Peradilan Umum untuk menguji tindakan administrasi Pejabat Tata Usaha Negara dalam menerbitkan atau tidak menerbitkan keputusan tata usaha negara dalam hal ini Izin Usaha Eksplorasi Pertambangan yang dimohonkan Penggugat (Termohon
negara.---Berdasarkan uraian tersebut, maka sudah sepantasnya Majelis Hakim Tingkat Banding judex factiemenyatakan menerima eksepsi Pemohon Banding sepanjang mengenai kompetensi
absolute.---B. Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru menolak Eksepsi mengenai Gugatan Penggugat tidak didasarkan pada hukum yang benar; Gugatan Penggugat mengandung cacat error in persona; Gugatan Penggugat Kurang Pihak; Gugatan
Penggugat obscure libel (tidak jelas dan
kabur).---Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru dalam mempertimbangkan dalil-dalil pada eksepsi yang diajukan Tergugat (Pemohon Banding). Dimana Majelis Hakim menggunakan hanya 1 (satu) teori dalam menyimpulkan perkara ini yakni teori individualisasi. Meskipun dalam teori individualisasi juga dimungkinkan namun masih terdapat kekurangan dari teori ini. Sebab untuk menilai dan menyimpulkan suatu perkara dibutuhkan teori pembanding agar terdapat keadilan bagi para
pihak.---Bahwa alasan yang diajukannya gugatan dalam perkara a quo didasarkan adanya perbuatan melawan hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) yang disangkakan kepada Tergugat (Pemohon Banding). Meskipun dalam “perbuatan melawan hukum” (PMH) tidak perlu dibuktikan adanya unsur “persetujuan” atau “kesepakatan” dan juga “causa yang diperbolehkan”, namun Timbulnya kerugian akibat dari suatu PMH merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata. Hubungan sebab akibat dari adanya suatu kerugian akibat dari suatu PMH juga merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi sebagaimana Pasal 1365
KHUPerdata.---Bahwa berdasarkan posita angka 11 dalam gugatannya Penggugat (Termohon Banding)
mendalilkan
:---“Tindakan Tergugat yang tidak memproses perpanjangan IUP Eksplorasi Penggugat bertentangan dengan Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum dan merugikan Penggugat”.
(patut) dalam
bermasyarakat.---Bahwa Pasal 42 ayat (1) UU .No. 4 Tahun 2009 dan penjelasannya , sebagai berikut :
IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka
waktu paling lama 8 (delapan) tahun.
Penjelasan :
Jangka waktu 8 (delapan) tahun meliputi penyelidikan umum 1(satu) tahun; eksplorasi 3 tiga) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun; serta studi kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun.
Bahwa berdasarkan hal tersebut menurut hemat kami, maka sudah sepantasnya Termohon Banding menguraikan hubungan antara kerugian yang diderita akibat perbuatan yang yang dilakukan oleh Pemohon Banding. Sementara dalam gugatan ini tidak pernah satupun bentuk kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan Termohon Banding dengan permohonan adanya penerbitan ganti
kerugian.---Bahwa dilain pihak Majelis Hakim Tingkat Pertama berpendapat perumusan kejadian perkara didasarkan pada permasalahan keperdataan dalam hal-hal yang diatur dalam UU. No. 4 Tahun 2009. Hal ini merupakan pendapat keliru sebab pemberian IUP Eksplorasi dari negara kepada perusahaan, koperasi dan perseorangan bukanlah dalam ranah keperdataan melainkan administrasi negara.
Sebab timbulnya hak tidak lahir karena perikatan atau perjanjian melainkan lahir dari perbuatan administrasi negara yang diimplementasikan dalam bentuk keputusan tata usaha negara dalam ini Keputusan Bupati Tanah Datar tentang IUP
Eksplorasi.---Bahwa menimbang pendapat Majelis Hakim Peradilan Tingkat Pertama yang mendasarkan pada teori bahwa adalah hak setiap Penggugat untuk menggugat dan menentukan pihak-pihak yang akan digugatnya, semestinya tidak dipandang secara sempit.
-Bahwa dalam perkara a quo terdapat rangkaian peristiwa yang harus uraikan oleh Penggugat yang melibatkan beberapa pihak didalamnya, yakni mulai dari pihak-pihak terkait persyaratan perizinan sampai dengan pihak-pihak-pihak-pihak mana yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan
sesuai dengan adagium hukum : jus in causa positum (dalam fakta terkandung hukum)
-Bahwa berdasarkan Penjelasan Umum UU No. 4 Tahun 2009 yang terangkum dalam pokok-pokok pikiran angka 2 (dua) dan angka 6 (enam) , dinyatakan :
Angka 2
Pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan usaha yang berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat setempat untuk melakukan pengusahaan mineral dari batubara berdasarkan izin, yang sejalan dengan otonomi daerah, diberikan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
Angka 6
Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha pertambangan harus dilaksanakan dengarl memperhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi, dan partisipasi masyarakat
Oleh karenanya Pemerintah Daerah sebagai institusi yang diberikan kewenangan untuk memberikan kesempatan kepada kepada badan usaha yang berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat setempat untuk melakukan pengusahaan mineral dari batubara yang sejalan dengan otonomi
daerah memiliki kekuasaan penuh
didalamnya.---Kewenangan dimaksud dapat dipandang sebagai kewenangan Pemerintah Daerah dalam menentukan persyaratan perizinan yang berskala otonomi lokal sesuai dengan karakteristik setempatnya dengan tidak bertentangan dengan peraturan
perundang- undangan.
-Bahwa kewenangan dalam pelaksanaan otonomi dimaksud juga diamanatkan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan sebagaimana tertuang dalam Pasal 14 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yakni :
Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi.
Bahwa berdasarkan Pasal 9 ayat (3) Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, dinyatakan :
disepakati berdasrkan masyawarah dan mufakat di KAN, diketahui oleh pemerintahan nagari.
Berdasarkan hal tersebut Tungku Tigo Sajarangan sebagai lembaga yang berasal unsur KAN memiliki kewenangan dalam pengusaan ulayat, dimana wilayah IUP Eksplorasi yang dimintakan perpanjangan seluruhnya merupakan berstatus tanah ulayat.
-Oleh sebab itu dukungan dari Tungku Tigo Sajarangan merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Termohon Banding.
---Dengan tidak adanya dukungan dari Tungku Tigo Sajarangan ataupun Penolakan dari Tungku Tigo Sajarangan jelas adalah diluar kekuasaan dari Pemohon Banding. untuk dapat menerbitkan IUP
Eksplorasi.---Berdasarkan hal tersebut jelas terangkum uraian peristiwa yang ternyata tidak pernah diuraikan dan dibuktikan oleh Termohon Banding selama pemeriksaan perkara ini di Tingkat Pertama.---Fakta :
Bahwa tidak diperpanjangnya IUP Eksplorasi Penggugat karena adanya penarikan dukungan dari Tigo Tungku Sajarangan (KAN, BPRN dan Wali Nagari III Koto) yang semula mendukung kegiatan eksplorasi biji besi yang dilakukan oleh Penggugat.
Bahwa apabila Penggugat merasa dirugikan, maka hal tersebut akibat tindakan sepihak KAN, BPRN dan Wali Nagari III Koto yang menarik dukungannya sebagai syarat penerbitan perpanjangan IUP Eksplorasi. Oleh karenanya sepantas Penggugat mengajukan tuntutan terhadap Tigo Tungku Sajarangan (KAN, BPRN dan Wali Nagari III
Koto).---Bahwa sesuai dengan Hukum Acara Perdata, gugatan Penggugat yang tidak lengkap atau tidak sempurna karena kurang pihak dapat dinyatakan
tidak dapat
diterima.---Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam pertimbangan menolak Gubernur Sumatera Barat sebagai pihak dalam perkara ini disebabkan Kuasa Hukum Tergugat (Pemohon Banding) tidak dapat membuktikan sejumlah keputusan keperdataan yang dilakukan pemerintah Kabupaten Tanah Datar dengan Termohon Banding adalah keliru dan tidak
(UU No. 4 Tahun 2009) bukan lahir karena perikatan atau perjanjian melainkan pendelegasian kewenangan dari negara kepada badan usaha yang berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat setempat untuk melakukan pengusahaan mineral dari batubara berdasarkan
izin.---Bahwa berdasarkan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, makaPenyelenggaraan Urusan Pemerintahan bidang energi dan sumber daya mineral dibagi antara Pemerintah
Pusat dan Daerah provinsi. Dimana merujuk pada Matriks Pembagian Urusan
Pemerintahan Konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota, Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, Sub Bidang Batubara dan Mineral, maka penerbitan Izin Usaha Pertambangan mineral logam dan batubara dalam rangka penanaman modal dalam negeri pada wilayah izin usaha pertambangan Daerah yang berada dalam (satu) Daerah provinsi termasuk wilayah laut sampai dengan 12 mil laut merupakan kewenangan propinsi dalam hal ini Gubernur Propinsi Sumatera
Barat.---Berdasarkan hal tersebut, kewenangan pemberian IUP Eksplorasi menjadi kewenangan Gubernur Propinsi Sumatera Barat. Oleh karena itu sudah sepantasnya Pemerintah Propinsi Sumatera Barat dalam hal ini Gubernur Sumatera Barat juga harus
digugat.---Berdasarkan uraian tersebut, maka sudah sepantasnya Majelis Hakim Tingkat Banding judex factiemenyatakan menerima eksepsi Pemohon Banding sepanjang mengenai Eksepsi mengenai Gugatan Penggugat tidak didasarkan pada hukum yang benar; Gugatan Penggugat mengandung cacat error in persona; Gugatan Penggugat Kurang Pihak; Gugatan Penggugat obscure libel (tidak jelas dan
kabur).---C. Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru mempertimbangkan pemeriksaan pokok perkara yang mengabulkan gugatan Penggugat (Termohon Banding)
seluruhnya.---Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama tidak konsisten dalam pertimbangannya terutama berkenaan dengan perbuatan melawan hukum dan adanya perikatan hukum keperdataan antara Penggugat dengan
Tergugat.---Bahwa diawal pertimbangannya Majelis Hakim Tingkat Pertama menyatakan
(halaman 48 alinea
:---“Menimbang, bahwa PMH dengan jelas kita jumpai di dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ditentukan : Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Pasal ini menunjukan bahwa hubungan hukum antara dua subyek hukum atau lebih tidak diperjanjikan, tetapi muncul setelah ada perbuatan yang menimbulkan kerugian kepada orang lain…
Namun pada pertimbangan hukum lainnya Majelis Hakim Tingkat Pertama
menyatakan (halaman 49 alinea
1)
:---“Menimbang, bahwa terjadi perikatan hukum keperdataan antara Penggugat diawali dengan adanya Surat Permohonan PT. Selaras Bumi Banua (selaku Pengguna saat ini) Nomor 011/SBB-SK/V/2005 tanggal 5 April 2005 dan Nomor 028/SSB-D/V/2006 tanggal 26 Mei 2006 perihal Permohonan Ijin Kuasa Pertambangan Eksplorasi Bijih Besi, yang diajukan kepada Tergugat selaku Kepala Daerah di Kabupaten Tanah Datar dan oleh Pihak Tergugat permohonan tersebut setelah dipertimbangkan bahwa yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1453/K/29/MEM/2000 tanggal 3 Nopember 2000 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintah di Bidang Pertambangan Umum…”
Dengan demikian terlihat bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama berada dalam keraguan tentang perkara ini termasuk perbuatan melawan hukum atau wanprestasi yang lahir karena perjanjian atau
perikatan.---Bahwa berdasarkan teori hukum, maka gugatan perbuatan melawan hukum tidak dapat dicampur adukkan dengan gugatan wanprestasi sebab PMH lahir dari perikatan karena undang-undang, sedang-kan wanprestasi lahir dari perikatan karena
perjanjian.---Bahwa terdapat keberpihakan Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam perkara ini dengan seolah beban pembuktian dipikul oleh Tergugat, sementara sesuai dengan asas hukum acara perdata dan Pasal 283 RBg dinyatakan “barangsiapa mendalilkan suatu hak atau mengajukan suatu peristiwa hukum untuk menegaskan haknya atau untuk membatalkan adanya hak orang lain, harus mebuktikan hak atau peristiwa itu”.
(Tergugat).---Bahwa faktanya Tungku Tigo Sajarangan merupakan perwakilan dari KAN, BPRN dan Weali Nagari, dimana Saksi Hendri, SH merupakan Wali Nagari III Koto adalah juga sebagai pemilik lahan memberikan kesaksian bahwa saksi secara pribadi dan mewakili kaumnya merasa keberatan dengan adanya kegiatan eksplorasi yang dijalankan oleh Termohon
Banding.---Begitu juga Saksi Asrizal yang merupakan Sekretaris KAN Nagari Koto yang juga sebagai pemilik lahan merasa keberatan dengan adanya kegiatan eksplorasi yang dijalankan oleh Termohon
Banding.---Dengan demikian apabila Majelis Hakim Tingkat Pertama meragukan pembuktian yang diajukan oleh Pemohon Banding (Tergugat) bahwa tidak ada satupun pemilik lahan yang berkeberatan jelas adalah
keliru.---Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama tidak obyektif terhadap beban pembuktian yang diajukan oleh Termohon Banding (Penggugat), dimana Majelis Hakim berpendapat Penggugat (Termohon Banding) telah memenuhi semua kewajibannya yang dibebankan oleh Tergugat, khususnya mengenai persetujuan pemilik
lahan.---Bahwa faktanya Penggugat (Termohon Banding) tidak pernah membuktikan dari 351, 4 Ha wilayah IUP Eksplorasi telah seluruh pemilik lahan menyetujuinya. Sementara dalam alat bukti surat yang diajukan Termohon Banding (Penggugat) hanya 14 pemilik lahan yang setuju atau lebih kurang 30 % saja dari keseluruhan wilayah IUP
Eksplorasi.---Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru dalam pertimbangannya yang menyatakan : (halaman 54 alinea 3 Putusan )
“Menimbang, bahwa tiada suatu kewajiban yang ditetapkan oleh Tergugat mengenai adanya ijin dari pemilik lahan, namun demikian Penggugat telah dapat menunjukkan bukti persetujuan…”
Bahwa sesuai Pasal 135 UU No. 4 Tahun 2009, maka Pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi hanya dapat melaksanakan kegiatannya setelah mendapat
persetujuan dari pemegang hak atas tanah
kegiatan.---Bahwa tidak benar adanya keterangan Saksi Hendri, SH dan Saksi Asrizal menyatakan yang melakukan penolakan adalah bukan pemilik lahan sebagaimana ternagkum dalam keterangan Saksi dalam putusan Pengadilan Tingkat Pertama, melainkan Saksi menggunakan kalimat “bukan hanya”.
---Bahwa ketrangan Saksi tersebut bertalian dengan bukti surat yang diajukan oleh Pemohon Banding (Tergugat) Bukti Surat
T-4---Bahwa fakta yang sebenarnya adalah saksi-saksi yang diajukan oleh Pemohon Banding (Tergugat) yakni Saksi Hendri, SH dak Saksi Asrizal, mengungkapkan dipersidangan sebagian pemilik lahan melakukan penolakan terhadap kegiatan eksplorasi dan adanya kegagalan sosialisasi yang dilakukan oleh Penggugat (Termohon
Banding)---Bahwa selanjutnya Majelis Hakim Tingkat Pertama telah salah mengkonstair alat bukti yang diajukan oleh Termohon Banding (Penggugat) terkait dengan soal adanya kekhawatiran kerusakan lingkungan dengan merujuk alat bukti surat Penggugat (Termohon Banding) bukti Surat P-63 ; bukti surat P-64 dan Bukti surat P-65 yang merupakan surat berkenaan Fisibility Study (studi
kelayakan).---Bahwa apabila Majelis Hakim Tingkat Pertama berpendapat masih ada tempo waktu yang masih dimiliki oleh Termohon Banding (Penggugat) selama 1 (satu) sebagaiaman pertimbangan Majelis Hakim halaman 58 alinea 2, maka sudah sepantasnya Majelis Hakim Tingkat Pertama mempertimbangan tahapan kegiatan IUP eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) UU.No. 4 Tahun 2009, dimana untuk tahun ke 8 (delapan) adalah kegiatan Fisibility Study (studi
kelayakan).---Faktanya :
Hasil Fisibility Study (studi kelayakan) dari kegiatan eksplorasi dari Termohon Banding telah selesai dan oleh karenanya Termohon banding seharusnya sudah masuk pada tahap IUP Produksi. (Bukti Surat P-63; 64 dan 65)
Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru menyatakan bahwa Tergugat (Termohon Banding) mempunyai kewenangan untuk menentukan wilayah izin usaha pertambangan dan wilayah yang menjadi objek perkara a quo bukan tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha
pertambangan.---Dengan demikian maka IUP Eksplorasi yang telah diterbitkan oleh Pemohon Banding (Tergugat) haruslah dinyatakan gugur karena bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.---Bahwa berdasarkan UU No. 4 Tahun 2009, maka wilayah pertambangan ditentukan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Oleh karenanya putusan Majelis Hakim Tingkat Pertama terkait wilayah yang diperkenankan untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan telah bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan.---Bahwa putusan maajelis hakim tingkat pertama adalah putusan yang tidak bisa dijalankan sebab putusan dimaksud hanya menetapkan adanya hak IUP Eksplorasi dan IUP Operasi produksi bagi termohon banding , sementara permohonan banding tidak memiliki kompetensi untuk menyatakan hak dimaksud , diluar kewenangan sebagaimana dalam pasal 14 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah
Daerah.---Bahwa putusan Pengadilan Tingkat Pertama tidak serta merta bisa dijalankan sebab IUP Operasi Produk yang di nyatakan sebagai hak oleh Majelis Hakim Tingkat Pertama kepada Termohon Banding baru ada jika telah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan
termasuk salah satunya izin pemilik
lahan-
---D. Pengajuan Alat Bukti Surat berupa Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 16 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya dan Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Datar Nomor 2 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Datar Tahun 2011
-2031.---Bahwa bersamaan dengan diajukan Memori Banding ini, Pemohon Banding bermohon kepada Majelis Hakim Tingkat Banding Judex Factie kiranya berkenan mempertimbangan 2 (dua) alat bukti Surat beruppa peraturan perundangan-undangan yang belum pernah diajukan sebelumnya pada pembuktian di Pengadilan Tingkat Pertama yakni :---1. Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 16 Tahun 2008 tentang Tanah
Ulayat dan Pemanfaatannya.---Bukti :
Peranan KAN dan Pemerintahan Nagari terkait dengan pemanfaatan tanah ulayat di Sumatera
Barat.---2. Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Datar Nomor 2 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Datar Tahun 2011
Bahwa lokasi yang menjadi wilayah IUP Eksplorasi oleh Termohon Banding tidak termasuk dalam kawasan
pertambangan.---Berdasarkan pertimbangan dan alasan serta fakta-fakta yang telah diuraikan di atas, kiranya Majelis Hakim Tingkat Banding berkenan menjatuhkan putusan sebagai berikut :
Mengadili
1. Menerima Permohonan Banding dari Pembanding semula Tergugat.
2. Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar Nomor : 29/Pdt.G/2014/PN.Bsk, tanggal 18 Agustus 2015.
Mengadili Sendiri
Dalam Eksepsi
1. Mengabulkan eksepsi Tergugat untuk seluruhnya.
2. Membebankan biaya perkara yang timbul kepada Penggugat.
Atau apabila Majelis Hakim berpendapat lain, ex aequo ex bono, mohon putusan yang seadil-adilnya…
Hormat Kami Kuasa Pemohon Banding,