1
PRIORITAS PENGELOLAAN ZONA KONSERVASI AIR TANAH
DI KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA
Management Priority of Groundwater Conservation Zone in Kulon
Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
Rezha Ramadhika
1, Heru Hendrayana
21Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ABSTRACT
Management priority of groundwater conservation zone is an effort to prevent the degradation of the quantity and quality of groundwater based on Groundwater Basin (GWB) Management concept, which can be used as a reference in the implementation of groundwater management program in Kulon Progo. The purpose of this study were (a) determine the configuration and aquifer system of GWB, (b) determine the boundary conditions of GWB laterally and vertically, (c) determining the values of the parameters used in determination of conservation zones, and (d) determining the management priority of groundwater conservation zones. The method used to determine the management priority of groundwater conservation zones by determining the value of parameter management priorities, namely: (a) availability and potential groundwater, (b) the position of the groundwater level, (c) the quality of groundwater, (d) environment of groundwater, (e) the availability of sources of water other than groundwater, (f) the priority use of groundwater, and (g) the importance of society and development. Then the weighting technique and overlaying of each parameter can be specified management priority of groundwater conservation zones in the study area. The research area has two groundwater basins, namely Wates GWB and Unassigned GWB. Hydrogeological of study area is a coastal aquifer system consisting of alluvial-beach subsystems with sand-clay lithology and some sand lenses, and then sand dunes subsystem with loose sand sediment lithology. Basement aquifer composed of Tertiary rocks are relatively impermeable. The type of main aquifer is a free-boundary aquifer with thickness increasing from north to south. Direction of groundwater flow relatively from north to south. Management priority of groundwater conservation zones in the study area is divided into four zones, namely Zone Priority I, I, III and IV.
Keywords: Groundwater Basin, Configuration and Aquifer System, Conservation Zone, Management
Priority
ABSTRAK
2
Kemudian dengan teknik pembobotan dan penampalan dari setiap parameter dapat ditentukan prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah pada daerah penelitian. Daerah penelitian terdapat dua cekungan air tanah yaitu CAT Wates dan CAT yang belum ditetapkan. Hidrogeologi daerah penelitian merupakan sistem akuifer pantai yang terdiri dari Subsistem Aluvial Pantai dengan litologi endapan pasir-lempung dan lensa-lensa pasir serta Subsistem Gumuk Pasir dengan litologi endapan pasir lepas. Dasar akuifer tersusun oleh batuan Tersier bersifat relatif kedap air. Tipe akuifer utama adalah akuifer bebas dengan ketebalan semakin bertambah dari utara ke selatan. Arah aliran air tanah relatif utara – selatan. Prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah di daerah penelitian terbagi menjadi 4 zona, yaitu Zona Prioritas I, I, III dan IV.
Kata kunci: Cekungan Air Tanah, Konfigurasi dan Sistem Akuifer, Zona Konservasi, Prioritas Pengelolaan
PENDAHULUAN
Pada umumnya kegiatan manusia
mempengaruhi kondisi lingkungan, khususnya lingkungan air tanah akibat kegiatan industri, daerah permukiman dan kegiatan pertanian. Menurut Hendrayana dan Putra, 2008, dalam upaya mencegah degradasi kuantitas dan kualitas air tanah, konservasi air tanah merupakan salah satu komponen penting dalam pengelolaan air tanah yang berkelanjutan. Dalam penentuan zona konservasi perlu dilakukan identifikasi geometri dan konfigurasi Cekungan Air Tanah di Kabupaten Kulon Progo untuk mengetahui ruang lingkup daerah penelitan. Hasil dari penelitian ini menghasilkan geometri dan konfigurasi sistem
akuifer, zona konservasi dan prioritas
pengelolaan zona konservasi air tanah pada Kabupaten Kulon Progo. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan
untuk menjadi acuan pemerintah dalam
melaksanakan program kerja kegiatan konservasi di Kabupaten Kulon Progo dan pengelolaan air tanah secara berkelanjutan dapat tercapai.
LOKASI PENELITIAN
Lokasi penelitian mencakup seluruh wilayah administrasi Kabupaten Kulon Progo dengan luas wilayah sekitar 586.3 km2.
Geomorfologi Regional
Menurut Van Bemmelen (1949) daerah penelitian secara geomorfologi dapat dibedakan menjadi 6 (enam) satuan geomorfologi sebagai berikut: (a) Satuan Pegunungan Kulon Progo, (b) Satuan Perbukitan Sentolo, (c) Satuan Teras Progo, (d) Satuan Dataran Aluvial, (e) Satuan Dataran Pantai dan (f) Satuan Gumuk Pasir.
Stratigrafi Regional
Menurut penelitian Rahardjo, 1977,
Kabupaten Kulon Progo terdiri dari 5 (lima)
formasi berumur Tersier dan 2 (dua) formasi berumur Kuarter.
Batuan Tersier ini merupakan basement dari CAT di Kabupaten Kulon Progo yaitu Formasi Nanggulan, Andesit Tua, Kebo Butak, Jonggrangan dan Sentolo. Sedangkan batuan kuarter merupakan pengisi dari cekungan air tanah, meliputi Formasi Volkanik Merapi Muda dan Endapan alluvium.
METODE
Dalam metodologi penentuan prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah di Kabupaten Kulon Progo yang pertama kali dilakukan adalah menentukan konfigurasi dan geometri sistem akuifer dari CAT yang ada pada daerah tersebut dengan korelasi data hasil survey geolistrik yang tersebar di daerah penelitian, baik yang berasal sekunder maupun data primer. Kemudian pengumpulan data yang diperlukan sebagai parameter konservasi air tanah. Setelah itu dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) dilakukan pembobotan sesuai prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah. Terakhir dilakukan penampalan untuk mendapatkan zona konservasi air tanah dan peta prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah. Secara rinci dapat dilihat pada diagram alir (lihat Gambar 1).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penentuan Batas CAT
Cekungan Air Tanah (CAT) atau
groundwater basin adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua
kejadian hidrogeologis seperti proses
pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung (PP No. 43, 2008).
3 Kabupaten Kulon Progo memiliki dua cekungan
air tanah, yaitu Cekungan Air Tanah Wates yang
merupakan CAT No. 45 dan pada bagian utara dari CAT Wates terdapat satu CAT yang belum di tetapkan namun pada penelitian kali ini akan diusulkan nama CAT Menoreh untuk memudahkan identifikasi. Peta Batas Cekungan Air Tanah di Kabupaten Kulon Progo dapat dilihat pada Gambar 2.
Batas Horisontal CAT Wates
Tipe dan batas horisontal CAT Wates dapat ditentukan dari hasil korelasi data survey geolistrik sebagai berikut (lihat (Gambar 3): (a) Batas Horisontal H2 (Groundwater Divide), (b) Batas Horisontal H3 (External Head-Controlled
Boundary), (c) Batas Horisontal H4 (Inflow Boundary) dan (d) Batas Horisontal H5 (Outflow
Boundary).
Batas Vertikal CAT Wates
Tipe dan batas vertikal CAT Wates dapat ditentukan dari hasil korelasi data survey geolistrik sebagai berikut (lihat Gambar 4) : (a) Batas Vertikal V1 (Free Surface Boundary). (b) Batas Vertikal V2 (Internal Head-Controlled Boundary) dan (c) Batas Vertikal V3 (Internal Zero-Flow/No Flow Boundary).
Konfigurasi Sistem Akuifer CAT Wates
Berdasarkan konsep satuan hidrostratigrafi, maka konfigurasi sistem akuifer di CAT Wates termasuk ke dalam Sistem Akuifer Pantai
4
(Coastal Aquifer System) dan memiliki 2 (dua) subsistem (lihat Gambar 4) yaitu :
Subsistem Alluvial - Pantai (Kelompok Akuifer 1)
Subsistem Gumuk Pasir (Kelompok
Akuifer 2)
Dasar Akuifer / Kelompok Non Akuifer
Secara geomorfologis rangkaian
Perbukitan Kulonprogo dan Perbukitan Sentolo yang tersusun oleh batuan Tersier juga membatasi CAT Wates berturut-turut di bagian barat laut dan timur laut. Sedangkan secara geologis, CAT Wates dibatasi oleh Formasi Kebo Butak, Andesit Tua dan Sentolo. Litologi utama penyusun CAT Wates adalah Formasi Wates dan sebagian Formasi Yogyakarta serta endapan
Merapi Muda pada bagian timur
(Kusumayudha,2010).
Secara umum air tanah mengalir dari utara ke selatan dengan landaian hidraulika yang secara bergradasi semakin kecil (lihat Gambar 8). Di daerah selatan, terdapat subsistem gumuk pasir yang memiliki pola aliran cenderung berlawanan yaitu utara – selatan mengikuti pola morfologi dari gumuk pasir tersebut secara local (Santosa,2010).
Di dalam CAT Wates, semakin ke arah selatan terjadi penurunan gradien topografi yang disertai dengan penurunan gradien hidraulika serta nilai-nilai karakteristik akuifer, sehingga kecepatan aliran air tanah ke arah selatan juga akan semakin berkurang.
Ketebalan sistem akuifer CAT Wates sangat beragam, secara umum ketebalan semakin bertambah besar ke arah selatan dengan ketebalan akuifer mencapai lebih dari 70 meter di daerah Pantai Temon, sedangkan di daerah Pantai Wates mencapai sekitar 50 meter. Ketebalan akuifer ini berkurang menuju tepian cekungan bagian utara, barat dan timur menjadi sekitar 30 m.
Berdasarkan data log bor, dapat diketahui bahwa endapan Kuarter Wates yang menyusun daerah dataran Wates atau daerah lepasan air tanah di bagian selatan, merupakan campuran dari rombakan dari Formasi Sentolo, Kebo Butak dan Andesit Tua. Pada log litologi tersebut dapat diketahui adanya pecahan batugamping dan koral. Serta pengaruh fluvial tersusun dari endapan material lempung, lanau, pasir halus serta lensa pasir dan lempung yang
berada di sekitar aliran Kali Serang
(Kinanda,2016). Dapat disimpulkan, bahwa lensa pasir dan lempung yang berada diantara lempung pasir tersebut merupakan hasil proses fluviatil.
Konfigurasi secara horisontal dan
vertikal dari penyebaran masing-masing
kelompok akuifer utama dan dasar akuifer / kelompok non akuifer, dapat dilihat pada Konfigurasi hidrostratigrafi sistem akuifer CAT
Wates (Utara-Selatan) (Gambar 6) dan
Konfigurasi hidrostratigrafi sistem akuifer CAT Wates (Barat-Timur) (Gambar 7). Seluruh konfigurasi hidrostratigrafi tersebut memiliki persebaran pada Peta lokasi sumur bor dan survey geolistrik di CAT Wates (Gambar 5).
Batas Horisontal CAT Menoreh
Tipe dan batas horisontal CAT Menoreh dapat ditentukan dari hasil interpretasi Peta Geologi, dengan batas berupa Batas Horisontal H2 dan Batas Horisontal H5 (lihat Gambar 8).
Batas Vertikal CAT Menoreh
Tipe dan batas vertikal CAT Menoreh dapat ditentukan dari hasil interpretasi Peta Geologi dengan batas sebagai berikut (lihat Gambar 9) : (a) Batas Vertikal V1 (Free Surface Boundary). (b) Batas Vertikal V2 (Internal Head-Controlled Boundary) dan (c) Batas Vertikal V3 (Internal Zero-Flow/No Flow Boundary).
Konfigurasi Sistem Akuifer CAT Menoreh
Sistem akuifer CAT Menoreh merupakan kelompok akuifer koluvium yang berupa endapan
berumur Kuarter. Berdasarkan profil
hidrostratigrafi dapat diketahui, bahwa
persebaran dari kelompok akuifer koluvium mengikuti morfologi dari daerah CAT tersebut (lihat Gambar 11). Hal tersebut dipengaruhi karena kelompok akuifer ini terbentuk dari material hasil pelapukan maupun rombakan dari
formasi yang berumur Tersier. Sehingga
ketebalan dari kelompok akuifer ini terpengaruh dari tingkat pelapukan dari daerah tersebut.Pada daerah penelitian ketebalan berkisar antara 10-20 meter. Namun juga beberapa tempat juga ditemukan ketebalan hingga mencapai 30 meter.
5 hasil pelapukan Formasi Sentolo yang terdiri dari
lapukan lempung pasir, lempung gampingan dan lensa-lensa pasir.
Sedangkan pada bagian timur CAT Menoreh di sepanjang aliran Kali Progo terdapat endapan Merapi Muda yang merupakan endapan fluviovolkanik, yaitu adanya pengaruh proses fluviatil pada saat pengendapannya tersusun oleh pasir kasar, pasir konglomeratan sampai pasir sedang-halus.
Secara umum, kelompok akuifer
Koluvium menunjukkan produktivitas sedang hingga tinggi dan didominasi kedalaman muka air tanah sekitar 3 meter dari permukaan tanah namun juga ditemukan beberapa tempat yang setempat yang ditemukan kedalaman mencapai hingga 15 meter. Kelompok akuifer Koluvium ini termasuk kedalam kelompok akuifer bebas.
Berdasarkan profil hidrogeologi pada sistem akuifer CAT Menoreh dapat diketahui dasar dari sistem akuifer ini merupakan batuan berumur Tersier. Berdasarkan profil hidrogeologi tersebut juga dapat disimpulkan, bahwa CAT Menoreh dilandasi batuan Tersier dari Formasi
Sentolo, Kebo Butak dan Andesit Tua.
Berdasarkan sifat fisik dan karakteristik hidraulika yang tercermin pada nilai-nilai karakteristik akuifer (seperti nilai K, T dan S), maka batuan-batuan berumur Tersier tersebut berfsifat sebagai lapisan non akuifer dan berfungsi sebagai dasar akuifer (aquifer basement) atau dasar cekungan (basin basement) dari sistem akuifer CAT Menoreh, dan disebut sebagai Kelompok Non Akuifer.
Parameter Zona Konservasi
Daerah imbuhan dan lepasan air tanah
Penentuan batas antara daerah imbuhan air tanah dan daerah lepasan air tanah sangat penting dalam menyusun rancangan penetapan
cekungan air tanah. Menurut penelitian
Hendrayana & Vicente, 2015, batas daerah imbuhan air tanah dan daerah lepasan air tanah di Kabupaten Kulon Progo ditetapkan melalui analisis data geologi dan hidrogeologi yang ada, yaitu dengan mendasarkan metoda sebagai berikut :
Analisis morfologi tekuk lereng Analisis pemunculan mata air
Analisis kedudukan dan kerapatan kontur muka air tanah
Hubungan antara kedudukan muka air tanah dan air permukaan
Daerah resapan dan imbuhan (lihat Gambar 12) berkaitan dengan ketersediaan air tanah pada CAT yang saling berhubungan satu sama lainnya, karena apabila sistem pada daerah resapan terganggu keseimbangannya maka akan merusak sistem yang ada pada daerah lepasan air tanah, sehingga secara umum akan merusak keseluruhan sistem air tanah pada Kabupaten Kulon Progo.
Elevasi dari daerah imbuhan CAT Wates (recharge area) terletak antara elevasi 15 m sd 25 m dml dan daerah lepasan (discharge area) mempunyai elevasi antara 15 sd 0 m dml. Daerah imbuhan mempunyai garis kontur elevasi muka air tanah relatif lebih rapat dibandingkan daerah lepasan yang mimiliki garis kontur elevasi muka air tanah yang jarang. Persebaran daerah imbuhan air tanah berada pada bagian utara di CAT Wates
yang memiliki kontur mulai meninggi.
Sedangkan untuk daerah lepasannya berada pada bagian yang lebih datar berada diselatan daerah imbuhan air tanah.
Elevasi dari daerah imbuhan CAT Menoreh (recharge area) terletak antara elevasi 90 m sd 700 m dml dan daerah lepasan (discharge area) mempunyai elevasi antara 20 sd 225 m dml. Daerah imbuhan mempunyai garis kontur elevasi muka air tanah relatif lebih rapat dibandingkan daerah lepasan yang mimiliki garis kontur elevasi muka air tanah yang jarang. Persebaran daerah imbuhan air tanah berada pada bagian barat di CAT Menoreh yang memiliki kontur mulai meninggi. Sedangkan untuk daerah lepasannya berada pada bagian yang lebih datar berada diselatan daerah imbuhan air tanah.
Zona perlindungan mata air
Zona perlindungan mata air merupakan kawasan semu dengan radius 1000 meter yang ditentukan oleh persebaran mata air pada Kabupaten Kulon Progo yang berkaitan dengan sumber air strategis untuk kepentingan umum. Kawasan ini diperlukan untuk melindungi keberlanjutan pemanfaatan air tanah pada mata air. Kabupaten Kulon Progo sendiri terdapat beberapa mata air dengan debit yang berarti (lihat Gambar 13)
Karakteristik potensi akuifer
Potensi akuifer berhubungan dengan
6
dimanfaatkan pada Kabupaten Kulon Progo.
Pada penelitian ini menggunakan nilai
transmissivitas sebagai parameter karakteristik
potensi akuifer. Besar kecilnya nilai
transmissivitas pada Kabupaten Kulon Progo akan berpengaruh terhadap besarnya kemampuan ketersediaan air tanah yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Nilai transmisivitas dari Kabupaten Kulon Progo sebagian besar berkisar 510 m2/hari yang termasuk kedalam nilai cukup
tinggi yang melampar merata di bagian selatan wilayah penelitian (lihat Gambar 14). Hal ini dipengaruhi litologi penyusun daerah tersebut berupa endapan kuarter dari Formasi Wates dan Yogyakarta serta Endapan Merapi Muda. Pada bagian utara Kabupaten Kulon Progo juga terdapat nilai transmissivitas kurang dari 100 m2/hari yang termasuk kedalam nilai rendah,
tersebar pada bagian barat daerah penelitian. Hal ini dipengaruhi litologi penyusun daerah tersebut berupa batuan breksi dan andesit yang memiliki nilai permeabilitas yang rendah.
Kedalaman muka air tanah
Kedalaman muka air tanah umumnya tergantung pada besar kecilnya pemanfaatan yang ada pada suatu daerah. Pemanfaatan air tanah secara berlebihan yang tidak memperhatikan kuantitas ketersediaan air tanah yang ada akan dapat menyebabkan bertambahnya kedalaman muka air tanah di Kabupaten Kulon Progo. Pada umumnya kedalaman muka air tanah pada Kabupaten Kulon Progo berada pada 0-5 m dari permukaan (lihat Gambar 15). Namun ditemukan setempat pada Kecamatan Temon dan Samigaluh dengan kedalaman muka air tanah mencapai 10 m.
Kualitas air tanah
Daya hantar listrik adalah salah satu parameter kualitas kimia air tanah yang menunjukan sifat menghantarkan listrik dari air. Air yang banyak mengandung garam akan
mempunyai harga daya hantar listrik.
Berdasarkan nilai daya hantar listrik dapat dibuat klasifikasi air seperti pada Tabel 1, kualitas air tanah di Kabupaten Kulon Progo pada umumnya termasuk Aman dan Aman Sekali (lihat Gambar 16). Namun ditemukan setempat pada Kecamatan Panjatan yang termasuk kedalam zona rawan.
Tabel 1. Klasifikasi Air Berdasarkan Nilai Daya Hantar Listrik (modifikasi Bouwer,1978)
No Nilai DHL (mikroS/cm ) Macam air
1 < 750 Baik sekali – baik 2 750 – 1500 Baik – diijinkan 3 > 1500 Diijinkan - Tidak dapat dipakai
Pemanfaatan air tanah
Pemanfaatan air tanah ini secara langsung akan mempengaruhi kondisi akuifer yang ada
sehingga dalam perkembangannya kondisi
akuifer tersebut akan berubah seiring berubahnya jumlah pemanfaatan air tanah. Oleh karena itu, pemanfaatan air tanah ini harus diperhatikan dengan sebaik – baiknya disesuaikan dengan kebutuhan sehingga tidak merusak tatanan akuifer yang telah ada. Potensi degradasi kuantitas air tanah pada Kabupaten Kulon Progo dilihat dari pemanfaatan air tanahnya berada di tingkat tinggi, sedang dan rendah (lihat Gambar
17). Dengan pemanfaatan tertinggi pada
Kecamatan Pengasih dan Sentolo. Sedangkan pemanfaatan terendah pada Kecamatan Temon.
Klas resiko lahan terhadap degradasi kuantitas dan kualitas air tanah
Pemanfaatan air tanah akan sangat berkaitan dengan pemanfaatan lahan yang berkembang pada suatu daerah. Tata guna lahan dalam kehidupan manusia merupakan aspek yang tidak dapat dikesampingkan, karena dalam upaya manusia memenuhi berbagai kebutuhan dan keperluan hidupnya manusia memanfaatkan lahan untuk keperluan yang berbeda-beda. Perbedaan pemanfaatan tersebut berdasarkan kebutuhan dari manusia itu sendiri dan kemampuan, serta kecocokan lahan dalam penggunaanya. Tiap-tiap pemanfaatan lahan
memiliki nilai dan bobotnya terhadap
pengaruhnya pada prioritas konservasi. Daerah pada Kabupaten Kulon Progo pada umumnya digunakan sebagai Tegalan, semak/belukar, sawah, kebun, dan pemukiman (lihat Gambar 18).
Peta konservasi air tanah
Dengan melakukan penampalan pada 3
parameter utama zona konservasi yaitu
7 transmissvitas akuifer lebih besar dari 500 m2/hari, nilai konduktvitas hidrolika sebesar 17
m/hari, dengan ketebalan akuifer rata-rata 30 m. Kualitas air tanah baik dengan nilai DHL < 750
μS/cm. Pada zona ini diperlukan tindakan
perlindungan, pelestarian dan pemantauan pemanfaatan air tanah dimana pada daerah dalam CAT Wates, pemanfaatan air tanah dijaga agar tidak mencapai interface dan pada CAT Menoreh pemanfaatan air tanah perlu dikontrol dikarenakan ketebalan akuifer yang cukup tipis, sehingga sangat memungkinkan terjadinya degradasi kuantitas. tanah. Nilai transmissvitas akuifer lebih besar dari 500 m2/hari, nilai konduktivitas hidrolika
sebesar 17 m/hari, dengan ketebalan akuifer rata-rata 30 m. Kualitas air tanah sangat baik dengan nilai DHL 750 – 1000 μS/cm. Pada zona ini diperlukan tindakan perlindungan, pelestarian, pengawetan, pengendalian kualitas air tanah dan pemantauan pemanfaatan air tanah dimana pada daerah dalam CAT Wates, pemanfaatan air tanah dijaga agar tidak mencapai interface dan pada CAT Menoreh pemanfaatan air tanah perlu dikontrol dikarenakan ketebalan akuifer yang cukup tipis, sehingga sangat memungkinkan terjadinya degradasi kuantitas
c. Zona Kurang Aman
Potensi air tanah baik dan mempunyai tingkat kerusakan air tanah Kurang Aman. Zona ini memiliki potensi air tanah baik, umumnya kedudukan muka air tanah pada kedalaman dari 5
– 10 m dari permukaan tanah. Nilai
transmissvitas akuifer 1 - 100 m2/hari, nilai
konduktivitas hidrolika sebesar 0.01 m/hari, dengan ketebalan akuifer rata-rata 20 m. Kualitas air tanah sangat baik dengan nilai DHL < 750
μS/cm. Pada zona ini diperlukan tindakan
perlindungan, pelestarian, pengawetan,
pengendalian pemanfaatan air tanah dan
pemantauan.
d. Zona Rawan
Potensi air tanah sedang dan mempunyai tingkat kerusakan air tanah RAWAN. Zona ini memiliki potensi air tanah sedang, umumnya kedudukan muka air tanah pada kedalaman lebih dari 10 m dari permukaan tanah. Nilai transmissvitas akuifer 1 - 100 m2/hari, nilai
konduktivitas hidrolika sebesar 0.01 m/hari, dengan ketebalan akuifer rata-rata 20 m. Kualitas air tanah sangat baik dengan nilai DHL < 750
μS/cm. Pada zona ini diperlukan tindakan
perlindungan, pelestarian, pengawetan,
pemantauan, pengawasan dan pengendalian
pemanfaatan air tanah dikarenakan nilai
transmisvitas yang kecil, sehingga pemanfaatan air tanah dijaga agar tidak melebihi kemampuan akuifer dalam memenuhi kebutuhan air tanah.
Penentuan nilai klas parameter prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah
Nilai dari klas-klas parameter ditentukan berdasarkan aspek kerentanan akuifer (aquifer susceptibility) terhadap proses pemanfaatan air tanah dan atau resiko terhadap kerusakan kuantitas dan kualitas air tanah dari suatu
parameter. Konsep yang digunakan pada
pembagian nilai ini adalah “semakin tidak
rentannya suatu parameter terhadap terjadinya kerusakan kuantitas dan atau kualitas air tanah maka nilainya semakin kecil dalam aspek kepentingannya (necessity) untuk dilakukan suatu
tindakan konservasi”.
Dalam hal ini, klas parameter dengan nilai kerentanan terendah untuk terjadinya kerusakan kuantitas dan atau kualitas air tanah akibat kondisi alamiah maupun aspek pemanfaatan dan atau pencemaran air tanah ditentukan bernilai 1 dan klas kerentanan yang lebih tinggi berturut-turut bernilai 2, 3 dan seterusnya sesuai dengan pembagian klas tiap parameter yang digunakan. Adapun, pembagian klas setiap parameter yang digunakan pada penentuan prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah di wilayah Kabupaten Kulon Progo dapat dilihat pada Tabel 2 s/d Tabel 8.
Tabel 2. Nilai Klas Aspek Wilayah Imbuhan dan Lepasan Air tanah
Klas Parameter Deskripsi
8
Tabel 3. Nilai Klas Aspek Zona Perlindungan Mataair/ Sumber Air Baku
Klas Parameter Deskripsi
kepentingan
1 - 100 Transmissivitas rendah, degradasi
100 – 500 Transmissivitas sedang, degradasi
> 500 Transmissivitas tinggi, degradasi
Tabel 5. Nilai Klas Aspek Kedalaman Muka Air tanah
Klas Parameter
> 1500 Konsentrasi garam terlarut
750 – 1500 Konsentrasi garam terlarut
< 750 Konsentrasi garam terlarut
Tabel 7. Nilai klas Aspek Resiko Kerusakan Air tanah Akibat Tata Guna Lahan
Klas Parameter
9 Tabel 8. Nilai Klas Aspek Pemanfaatan Air Tanah
Penentuan bobot parameter prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah
Pada suatu proses overlay, bobot parameter merupakan salah satu hal yang vital untuk ditentukan. Secara sederhana, dapat juga diasumsikan bahwa setiap parameter memiliki bobot pengaruh yang sama, tetapi pada kenyataannya suatu parameter akan lebih penting dibandingkan parameter yang lain.
Pada penentuan prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah, penentuan bobot menjadi sangat penting oleh karena satu parameter akan
memiliki prioritas lebih dalam kerangka
konservasi, semisal parameter daerah imbuhan-lepasan air tanah adalah parameter yang utama dalam konservasi oleh karena kelestarian, keberlanjutan pemanfaatan air tanah sangat bergantung pada kelestarian zona imbuhan. Sesuai dengan Undang-Undang dan Peraturan yang berlaku, nampak bahwa urutan parameter prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah telah ditetapkan sebagai berikut (dari yang terpenting):
1. Peta daerah imbuhan – lepasan air tanah; atau peta daerah resapan air tanah (Re); 2. Peta kedalaman muka air tanah (Ked); 3. Peta perubahan kualitas/mutu air tanah
(DHL);
4. Peta klas resiko lahan terhadap degradasi kuantitas dan kualitas air tanah (Lahan);
5. Peta karakteristik potensi akuifer
(Transmisivitas) yang mewakili potensi air tanah (Tr);
6. Peta zona perlindungan mataair dan
perlindungan sumber air baku (Ab);
7. Peta debit pemompaan/pemanfaatan air
tanah sekarang yang didasarkan pada wilayah administrasi (Pump).
Dengan menggunakan metoda AHP
(Analytical Hierarchy Process), bobot
masing-masing parameter diatas dihitung dan didapatkan bobot-bobot seperti diperlihatkan pada Tabel 9.
Besaran bobot-bobot ini memiliki nilai
konsistensi (CI) mendekati 0 (≈ 0) dan nilai
konsistensi yang dapat diterima dalam teori AHP adalah < 0,1, sehingga bobot-bobot tersebut dapat digunakan.
Tabel 9. Matrik AHP (Analytical Hierarchy Process) Penentuan Bobot Parameter
Peta prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah
Untuk menentukan daerah prioritas pengelolaan zona konservasi air tanah, peta konservasi air tanah ditampalkan lagi dengan parameter daerah imbuhan dan lepasan air tanah, daerah sempadan mata air, tingkat pemanfaatan air tanah dan tataguna lahan. Setelah dilakukan penampalan, maka dapat terlihat Kabupaten Kulon Progo termasuk kedalam zona prioritas I,
> 1.000.000 Potensi degradasi kuantitas air
< 500.000 Potensi degradasi kuantitas air
tanah kecil
10
Gambar 2. Peta batas CAT Wates dan Menoreh
11 Gambar 4. Tipe batas vertikal CAT Wates
12
Gambar 6. Konfigurasi sistem akuifer CAT Wates (Barat – Timur)
13 Gambar 8. Tipe batas horizontal CAT Menoreh
14
Gambar 10. Lokasi sayatan hidrostratigrafi di CAT Menoreh
15 Gambar 12. Peta daerah imbuhan dan lepasan air tanah di Kabupaten Kulon Progo
16
Gambar 14. Peta zona transsmisivitas di Kabupaten Kulon Progo
17 Gambar 16. Peta zona daya hantar listrik di Kabupaten Kulon Progo
18
Gambar 18. Peta tataguna lahan di Kabupaten Kulon Progo
19
KESIMPULAN
Berdasarkan pengelompokan satuan-satuan hidrostratigrafi di dalam CAT Menoreh dapat dikelompokan menjadi (a) Sistem Akuifer Koluvium dan (b) Dasar Akuifer. Sedangkan dalam CAT Wates dikelompokan menjadi (a) Subsistem Alluvial - Pantai / Akuifer Bebas (Kelompok Akuifer 1); (b) Subsistem Gumuk Pasir / Akuifer Bebas (Kelompok Akuifer 2) dan (c) Dasar Akuifer / Kelompok Non Akuifer. 1. Secara umum air tanah di CAT Menoreh
menuju dari perbukitan Kulon Progo menuju Sungai Progo yaitu dari barat ke timur, sedangkan pada bagian CAT Wates mengalir dari utara ke selatan dengan landaian hidraulika yang secara bergradasi semakin kecil. Di daerah selatan, terdapat subsistem gumuk pasir yang memiliki pola aliran cenderung berlawanan yaitu utara – selatan mengikuti pola morfologi dari gumuk pasir tersebut secara lokal.
2. Ketebalan sistem akuifer CAT Wates dan CAT Menoreh sangat beragam, secara umum
ketebalan di CAT Wates semakin bertambah besar ke arah selatan dengan ketebalan akuifer mencapai lebih dari 70 meter di daerah Pantai Temon, sedangkan di daerah Pantai Wates mencapai sekitar 50 meter. Pada daerah utara cekungan ketebalan akuifer sekitar 30 m. Ketebalan akuifer ini juga berkurang menuju tepian cekungan bagian barat dan timur menjadi sekitar 30 m. Untuk CAT Menoreh memiliki ketebalan akuifer hingga 30 meter, namun sebagian besar memiliki ketebalan kurang dari 10 meter dengan persebaran mengikuti tingkat pelapukan batuan.
3. Zona konservasi pada Kabupaten Kulon Progo termasuk kedalam tingkat kerusakan air tanah Aman, Cukup Aman, Kurang Aman dan Rawan. Tingkat prioritas pengelolaan pada daerah ini terbagi menjadi Prioritas I, Prioritas II, Prioritas III dan Prioritas IV.
20
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih
kepada Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, UGM yang telah memberikan pendanaan penelitian kepada penulis sehingga segala kebutuhan untuk penelitian dapat terpenuhi dengan baik
DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, R, W. 1949. The Geology of Indonesia, Vol. 1A. Government Printing Office,The Hauge. Amsterdam
Bouwer, H.,1978. Groundwater Hydrology. Mc Graw-Hill series in water resources and environmental engineering. New York Hendrayana, H., dan Putra, D.P.E. 2008.
Konservasi Airtanah “Sebuah Pemikiran”. Jurusan Teknik Geologi-Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta Hendrayana, H., dan Vicente, V.A.D.S,. 2015.
Cadangan Airtanah Berdasarkan Geometri dan Konfigurasi Sistem Akuifer Cekungan
Airtanah Yogyakarta-Sleman. Jurusan
Teknik Geologi, Fakultas Teknik,
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta Kinanda, A,. 2016. Geokimia Airtanah di
Wilayah Sub Daerah Aliran Sungai Tinalah dan Sub Daerah Aliran Sungai Serang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Kusumayudha, S.B,. 2010. Model Konseptual
Hidrogeologi Kubah Kulon Progo
berdasarkan pemetaan dan Analisis
Geometri Fraktal. Jurnal of Proccedings PIT
IAGI 39th Annual Convention and
Exhibition. Lombok
Santosa, L,W., 2010. Pengaruh Genesis
Bentuklahan Terhadap Hidrostratigrafi Akuifer dan Hidrogeokimia dalam Evolusi Airtanah Bebas. Program Pascasarjana Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Rahardjo,W dan Rusidi, S., 1977. Geological Report to Accompany Geological Map of The Yogyakarta Quadrangle, Java Bandung:
Geological Survey of Indonesia