BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem penyelenggaran kekuasaan negara yang dipandang paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern dewasa ini adalah sistem demokrasi.1
Demokrasi secara sederhana diartikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (democracy is government from people, by people and for people).2 Terlebih lagi memang konsep demokrasi didirikan atas dasar logika
persamaan dan gagasan bahwa pemerintahan memerlukan persetujuan dari yang diperintah, dalam hal ini adalah rakyat.3 Itu artinya baik dari segi teoritis maupun
praktis demokrasi erat kaitannya dengan prinsip kedaulatan rakyat, dimana sistem penyelenggaraan negara yang demokratis itu menjamin bahwa rakyat terlibat secara penuh dalam merencanakan, mengatur, dan mengawasi serta menilai pelaksanaan fungsi-fungsi kekuasaan.4
Indonesia sebagai negara yang merdeka dengan tegas menganut paham kedaulatan rakyat dengan menuangkannya dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Sebagai salah satu bentuk tindak lanjut dalam mengakomodir kedaulatan dan keterlibatan rakyat tersebut, maka dari itu dituangkanlah dalam Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatur mengenai jaminan kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat di Indonesia. Ketentuan senada pun sejatinya terlihat dalam dokumen internasional yang tertuang dalam konferensi International Commision of Jurirsts
di Bangkok pada tahun 1965 yang menjadikan kebebasan berpendapat dan
1 Jimly Asshiddiqie (1), Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, edisi revisi, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK RI, 2006), hlm.114.
2 U.S Department of State’s Bureau of International Information Programs, “Defining Democracy”, http://www.ait.org.tw/infousa/zhtw/docs/whatsdem/whatdm2.htm, diunduh pada 30 September 2015.
3Robert A. Dahl, Perihal Demokrasi: Menjelajah Teori dan Praktek Demokrasi Secara Singkat, diterjemahkan oleh A.Rahman Zainuddin, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 2.
kebebasan berserikat sebagai ciri utama negara yang memiliki pemerintahan demokratis di bawah Rule of Law.5 Dengan diaturnya kebebasan berserikat dalam
kedua ketentuan diatas, dapat diketahui bahwasannya kebebasan berserikat telah diakui dan disepakati sebagai bagian yang penting di negara Indonesia secara khusus dan masyarakat global secara umum sehingga perlu diatur secara tegas dan spesifik.
Pada dasarnya kebebasan berserikat lahir dari kecenderungan dasar manusia untuk hidup bermasyarakat dan berorganisasi baik secara formal maupun informal.6 Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles yang mengemukakan
bahwa manusia adalah makhluk sosial yang kodratnya untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain karena masing-masing manusia tidak mampu hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain.7 Menurut Prof. Jimly
kecenderungan tersebut merupakan suatu keniscayaan, dimana kehidupan berorganisasi timbul untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang sama dari individu-individu serta untuk mencapai tujuan bersama berdasarkan persamaan pikiran dan hati.8 Kebebasan berserikat menjadi penting
karena merupakan manifestasi puncak dari kebebasan hati nurani, kebebasan berkeyakinan dan kebebasan menyatakan pendapat seseorang. Selain itu, hak-hak tersebut juga merupakan sarana bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam pemerintahan sehingga jaminan terhadap hak-hak tersebut merupakan prasyarat mutlak demokrasi. Tanpa adanya kemerdekaan berserikat, harkat kemanusiaan dapat berkurang karena dengan sendirinya seseorang tidak dapat mengekspreksikan pendapat menurut keyakinan dan hati nuraninya.9
5 South-East Asian and Pacific Conference of Jurists, Bangkok, February 15-19, 1965, The Dynamics Aspect of The Rule of Law in The Modern Age, (Bangkok: International Commission of Jurists, 1965), hlm.39-50.
6 Muchamad Ali Safa’at, Pembubaran Partai Politik: Pengaturan dan Praktik Pembubaran Partai Politik dalam Pergulatan Republik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm.14.
7 Herbert Gintis and Carel van Schail, “Zoon Politicon: The Evolutionary Roots of Human Sociopolitical Systems”, http://tuvalu.santafe.edu/~bowles/Gintis.pdf, diunduh pada 30 September 2015.
8Jimly Asshiddiqie (2), Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2005), hlm. 44.
Akan tetapi faktanya, selalu saja ada jarak antara rakyat yang berdaulat tersebut dengan penyelenggara negara itu sendiri. Maka dari itu, konsep abstrak kebebasan berserikat perlu dikonkretifsasi sehingga diperlukan suatu institusi dan mekanisme khusus yang menjamin kebebasan berserikat tersebut. Institusi dan mekanisme itu termanifetasi dan terinternalisasi kepada tiga hal yakni lembaga perwakilan, partai politik dan pelaksanaan pemilihan umum secara berkala.10
Lembaga perwakilan, partai politik, dan pemilihan umum merupakan satu kesatuan sistem yang integral dan sulit dipisahkan, dimana aktivitas partai politik dalam memperjuangkan program dan menyampaikan aspirasi dari rakyat diadvokasikan melalui lembaga perwakilan. Kemudian, anggota lembaga perwakilan tersebut pada umumnya adalah orang-orang dari partai politik yang diperoleh melalui mekanisme pemilihan umum.11 Pemilu tanpa disertai partai
politik hanya akan mempertahankan status quo dan itu artinya hanya sekadar perangkat konservatif yang memberikan keabsahan umum pada struktur dan kepemimpinan lama.12
Dalam suatu negara yang menganut paham demokrasi dan kedaulatan rakyat, keberadaan partai politik memegang fungsi yang sangat strategis. Hal itu karena negara demokrasi memang dibangun di atas sitem kepartaian.13 Bahkan
menurut R.M. Maciver, demokrasi tidak dapat berjalan tanpa adanya partai politik itu sendiri, karena partai politik berfungsi sebagai struktur perantara (intermediate structure) antara rakyat (civil society) dengan negara (state).14 Lebih lanjut
menurut Miriam Budiardjo pentingnya partai politik tertuang dalam 4 fungsi
September 2015.
10 Jimly Asshiddiqie (3), Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen Dalam Sejarah: Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara, (Jakarta: UI-Press, 1996), hlm.25-26.
11Bintan R. Saragih dan Moh. Kusnadi, Ilmu Negara, edisi revisi, cetakan keempat, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hlm. 266.
12 Safaat, op.cit ., hlm.16.
13Sulastomo, “Membangun Sistem Politik Bangsa” dalam Masyarakat Warga dan Pergulatan Demokrasi: Menyambut 70 Tahun Jakob Oetama, (Jakarta: Kompas, 2001), hlm. 62.
yakni komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen politik dan pengatur konflik politik.15
Fungsi komunikasi politik artinya partai politik berkomunikasi dengan rakyat dalam bentuk menerima aspirasi dan menyampaikan program-program politik yang kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk program serta diperjuangkan menjadi keputusan pemerintah. Itu artinya partai politik adalah jembatan antara mereka yang memerintah (the rulers) dengan mereka yang diperintah (the ruled).
Lalu fungsi sosialisasi politik berarti partai melakukan penanaman nilai-nilai ideologi dan loyalitas kepada negara dan partainya. Kemudian, fungsi rekrutmen politik berarti partai politik melakukan kaderisasi dan seleksi terhadap calon-calon anggota lembaga perwakilan yang berbakat dan nantinya calon-calon tersebut akan dipilih oleh rakyat. Terakhir fungsi pengatur konflik politik diartikan partai politik mengelola aturan main dan pelembagaan kelompok-kelompok sosial sehingga dapat meminimalisir potensi gerakan massal yang merusak dengan cara revolusi atau kudeta.
Berdasarkan jabaran argumentasi diatas, dapat diketahui bahwasannya kebebasan berserikat dan eksistensi dari partai politik merupakan syarat mutlak dari ciri negara yang demokratis. Salah satu konsekuensinya dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah diatur dalam Pasal 22E ayat (3) bahwa partai politik diakui sebagai bagian dari tata kehidupan bernegara dengan menjadikannya sebagai peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, bahkan berdasarkan Pasal 6A ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 juga menyatakan bahwa pemilihan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Maka dari itu keberadaan partai politik yang penting tersebut juga harus diakui kedudukannya dalam lalu lintas hukum sebagai suatu subjek hukum tersendiri, itu artinya partai politik harus memiliki status sebagai badan hukum atau rechtpersoon yang beranggotakan perorangan warga negara sebagai natuurlijke persoons. Apalagi partai politik masuk dalam kualifikasi empat unsur suatu badan hukum yakni:
1. Harta kekayaan yang terpisah dari kekayaan subjek hukum yang lain;
2. Mempunyai tujuan ideal tertentu yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;
3. Mempunyai kepentingan sendiri dalam lalu lintas hukum;
4. Memiliki organisasi kepengurusan yang teratur menurut peraturan perundang-undangan dan peraturan internalnya; dan
5. Didaftarkan dan memperolah status sebagai badan hukum.16
Manfaat dari diakuinya partai politik sebagai badan hukum adalah dapat melakukan tindakan hukum baik yang bersifat publik maupun perdata sekaligus juga mengetahui batasan hak dan kewajibannya.
Meskipun demikian, kebebasan berserikat yang termanisfestasi dalam partai politik harus memiliki batasan dalam konteks masyarakat demokratis, hal ini semata-mata demi keamanan nasional dan keselamatan negara, untuk mencegah kejahatan serta untuk melindungi kesehatan dan moral, serta untuk melindungi hak dan kebebasan lain.17 Pembatasan tersebut harus ditafsirkan secara
ketat bahwa pembatasan harus diatur dalam aturan hukum, harus dilakukan semata-mata untuk mencapai tujuan dalam masyarakat demokratis, dan harus benar-benar dibutuhkan dan bersifat proporsional sesuai dengan kebutuhan sosial.18 Terlebih lagi, di dalam Pasal 28 J ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945
dikatakan bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasan haruslah diberikan suatu batasan. Dimana ketentuan Pasal 28 J ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 secara lengkap seperti berikut:
“Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nila-nilai agama, keamana, dan ketertban umum dalam suatu masyarakat yang demokrasi.”
Maka dari itu menurut Prof. Jimly Asshidiqie dalam suatu negara yang demokratis, pembubaran partai politik hanya dapat dilakukan berdasarkan
alasan-16 Jimly Asshiddiqie(2), op.cit., hlm.74-75.
17Moh. Saleh, “Akibat Hukum Pembubaran Partai Politik,” Jurnal Konstitusi Volume I No. 1, (November 2011), hlm. 7.
alasan rasional dan proporsional melalui mekanisme due process of law serta berdasarkan putusan pengadilan. Dalam konteks ini, pembubaran yang dimaksud adalah ketika telah berakhirnya eksistensi hukum dari partai politik, dimana proses terjadinya pembubaran berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Pasal 41 bisa terjadi karena tiga hal, yakni atas keputusan sendiri, menggabungkan diri dengan partai politik lain, atau dibubarkan berdasarkan keputusan otoritas negara. Dalam penelitian ini, Penulis fokus pada pembubaran partai politik variasi ke tiga yakni pembubaran yang dilakukan oleh keputusan otoritas negara secara paksa (enforced dissolution).19 Perbedaan antara
pembubaran dengan cara keputusan otoritas negara secara paksa dengan pembubaran jenis lainnya adalah pembubaran jenis ini harus dipandang sebagai pemberian sanksi dari negara terhadap partai politik yang inkonstitusional dan melanggar peraturan perundang-undangan.
Khususnya di Indonesia, praktek pembubaran partai politik pernah beberapa kali terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya. Pada masa penjajahan Belanda, beberapa partai yang pernah dibubarkan antara lain adalah Indische Partij (IP), Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno terjadi pembubaran terhadap Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) serta beberapa partai politik lain yang tidak diakui statusnya sebagai badan hukum. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto memang tidak terjadi pembubaran partai politik, akan tetapi dilakukannya fusi sehingga menjadi tiga partai politik saja dan menutup ruang kebebasan membentuk partai politik baru.20 Pada masa Abdurrahman Wahid pun
Partai Golkar juga pernah ingin dibubarkan dengan maklumat Presiden RI Tanggal 23 Juli 2001 akan tetapi hal tersebut dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sejak dikeluarkannya ketetapan MPR Nomor I/MPR/2001.21
Dimana dalam prakteknya partai politik sejatinya memiliki kewajiban untuk mengamalkan Pancasila, melaksanakan UUD 1945 dan peraturan
19Safa’at, op.cit., hlm. 32. 20 Ibid.
perundang-undangan dibawahnya serta tidak menganut, mengembangkan dan menyebarkan ajaran komunisme, marxisme, leninisme serta melakukan kegiatan yangnmembahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.22 Apabila partai politik tidak menjalankan kewajiban-kewajiban
yuridisnya, maka terdapat sanksi dan yang paling berat adalah dengan dibubarkan.
Pemberian sanksi oleh negara harus dipandang sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam mengawasi partai politik sebagai upaya menjaga eksistensi partai politik itu sendiri agar berjalan sesuai dengan koridor yang telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Instrumen sanksi merupakan upaya preventif dan represif dalam rangka pengawasan partai politik. Hal ini sangat penting mengingat karena tanpa adanya sanksi terdapat kemungkinan partai politik keluar dari jalur yang telah ditetapkan dalam peraturan sangat besar dan menjadi lebih besar. Apabila hal tersebut terjadi dikhawatirkan kredibilitas partai politik kepada masyarakat semakin terancam sehingga partai politik tidak dipercaya lagi dalam menjalankan fungsinya.23 Apalagi saat ini partai politik tidak
mendapatkan kepercayaan yang cukup memadai dari masyarakat, dimana berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh lembaga kajian nonprofit Populi Center pada 16-22 Januari 2015 didapati hasil hanya 12.5 persen responden saja yang percaya akan kinerja partai politik.24
Mengingat kebebasan berserikat adalah hak konstitusional warga negara yang tercantum dalam Pasal 28 dan 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 dan itu artinya kebebasan berserikat adalah hak yang teramat penting sehingga perlu dituangkan dalam konstitusi. Terlebih lagi beberapa ahli berkeyakinan bahwa kebebasan berserikat adalah salah satu bentuk natural rights yang bersifat fundamental dan melekat dalam perikehidupan bersama umat manusia, maka menjadi suatu pertanyaan besar, apakah pembubaran partai politik tidak berakibat
22Indonesia, Undang-Undang Partai Politik, UU No.2 Tahun 2008, LN No. 2 Tahun 2008, TLN No. 4801, Ps. 40 ayat (1) dan (5).
23 Allan FGW dan Harry S., “Pemberian Legal Standing kepada Perseorangan atau Kelompok Masyarakat dalam Usul Pembubaran Partai Politik,” Jurnal Hukum Ius Quia Iustum Nomor. 4, (Oktober, 2013), hlm. 524.
pada hak konstitusional dalam berserikat? Apalagi berdasarkan penjabaran sebelumnya, diketahui bahwa salah satu manifestasi kebebasan berserikat yang paling nyata adalah adanya partai politik di suatu negara.
Permasalahan kedua adalah terkait dengan legal standing. Saat ini kewenangan dalam melakukan pembubaran partai politik berada di lembaga peradilan bernama Mahkamah Konstitusi. Dasar kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam pembubaran partai politik tertuang dalam Pasal 24C (1) Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Mahkamah Konstitusi dapat membubarkan suatu partai politik melalui putusan yang bersifat final dan mengikat (legally binding). Selain itu wewenang Mahkamah Konstitusi dalam memutus pembubaran partai politik juga terdapat dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan Pasal 41 butir c Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik serta Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 12 Tahun 2008 Tentang Prosedur Beracara Dalam Pembubaran Partai Politik.
Lebih lanjut, Mahkamah Konstitusi dapat membubarkan partai politik yang telah terdaftar dan berstatus sebagai badan hukum dalam Kementrian Hukum dan HAM apabila terbukti dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi melakukan bentuk pelanggaran konstitusional.25 Adapun alasan-alasan
membubarkan suatu partai politik telah tertuang dalam Pasal 68 (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dimana partai politik tersebut terbukti memiliki ideologi, asas, tujuan, program, dan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal ini sebagaimana diamanatkan pada Pasal 40 ayat (2) huruf a Undang-Undang Partai Politik yang menyatakan bahwa partai politik dilarang melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan. Lebih ekstrim lagi, partai politik yang menganut, mengembangkan dan menyebarluaskan paham komunisme, marxisme, dan leninisme berdasarkan Pasal 40 ayat (5) Undang-Undang Partai Politik sudah pasti harus dibubarkan karena hal tersebut bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia.
Akan tetapi, permasalahan selanjutnya muncul ketika peletakan pembubaran partai politik di Mahkamah Konstitusi hanya bisa dimohonkan oleh pemerintah yang dapat diwakili oleh Jaksa Agung dan/atau Menteri yang ditugaskan. Hal itu terlihat dalam Pasal 68 (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi jo Pasal 3 Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 12 Tahun 2008 tentang Prosedur Beracara Dalam Pembubaran Partai Politik yang kemudian dipertegas melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 53/PUU-IX/2011 yang memonopoli legal standing dalam pembubaran partai politik hanya dapat diajukan oleh pemerintah.
Konsekuensi logis dari dimonopolinya legal standing dalam mengajukan pembubaran partai politik adalah nihilnya permohonan mengenai pembubaran partai politik di Mahkamah Konstitusi. Sejak pertama kali Mahkamah Konstitusi di bentuk pada tahun 2003 hingga akhir tahun 2015 faktanya belum ada satupun permohonan yang masuk ke meja panitera Mahkamah Konstitusi.26 Disinyalir hal
ini ada kaitannya dengan permohonan pembubaran partai politik yang hanya dapat diajukan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Presiden dan jajarannya.27
Akibat dari dimonopolinya legal standing pembubaran partai politik jelas menutup pihak lain untuk mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi, seperti perseorangan atau kelompok masyarakat. Implikasinya adalah tumpulnya peran warga negara dalam mengawasi kinerja partai politik, padahal dalam negara yang demokratis peran warga negara sebegai pemegang kedaulatan tertinggi sangatlah strategis, apalagi dalam hal pengawasan partai politik yang notabene -nya adalah penyuplai wakil-wakil rakyat di pemerintahan.28
Jika ditelaah dari ketentuan yuridis, berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dapat diketahui bahwa partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia
26Mahkamah Konstitusi, “Perkara Belum Diregistrasi: Perkara Pembubaran Partai Politik”, http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Beranda#, diunduh 1 Oktober 2015.
27 Indonesia, Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, UU No. 24 Tahun 2003, LN No. 98 Tahun 2003, TLN No. 4316, Ps. 68 ayat (1).
secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita. Itu artinya jika ditelaah lebih lanjut maka patut dipertanyakan jika hanya Presiden yang memiliki
legal standing dalam pembubaran partai politik di Mahkamah Konstitusi disebabkan karena 4 alasan, pertama keberadaan partai politik tidak hanya ditujukan bagi Presiden tapi warga negara secara keseluruhan, kedua partai politik dibentuk oleh warga negara maka seharusnya warga negara pula yang dapat membubarkannya, ketiga dengan hanya ada legalstanding dari pemerintah tentunya sangat membatasi hak asasi manusia dalam hal mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi padahal Indonesia telah menganut prinsip kesamaan dihadapan hukum yang di akomodir dalam Pasal 27 ayat (1), 28 C ayat (2), 28 D ayat (1) dan 28 I ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, keempat dengan hanya Presiden yang menjadi legal standing dalam pembubaran partai politik membuat banyak partai politik yang berpotensi untuk dibubarkan tetapi tidak dimohonkan ke Mahkamah Konstitusi mengingat Presiden tersandera karena adanya hubungan kontrak politik yang terjalin dalam sistem koalisi.
Dua permasalahan terkait pembubaran partai politik yakni hak konstitusional warga negara dalam berserikat yang dibatasi dan legal standing
dalam mengajukan pembubaran partai politik di Mahkamah Konstitusi yang hanya di miliki oleh pemerintah membuat Penulis tertarik untuk membahasnya lebih lanjut dalam karya tulis berbentuk skripsi dengan judul “Tinjauan Yuridis atas Legal Standing Pembubaran Partai Politik di Mahkamah Konstitusi”
1.2 Pokok Permasalahan
Penelitian ini mengangkat permasalahan utama yaitu:
1. Apakah gagasan tentang pembubaran partai politik berakibat terhadap hak konstitusional warga negara dalam berserikat?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan penelitian yang akan dilakukan adalah untuk memberikan pemahaman yang komprehensif dengan memberikan kajian yang lebih mendalam tentang kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pembubaran partai politik. Adapun tujuan penelitian ini secara khusus adalah untuk:
1. Untuk mengetahui hubungan dan akibat hukum dari pembubaran partai politik terhadap hak konstitusional warga negara dalam berserikat.
2. Untuk mengetahui Legal Standing yang hanya dimiliki Pemerintah dalam pembubaran partai politik di Mahkamah Konstitusi apakah melanggar hak konstitusional warga negara ataukah tidak.
1.4 Kerangka Teori
1.4.1 Teori Kedaulatan Rakyat
Istilah kedaulatan lazim dipahami sebagai sovereignity atau majesty yang diadopsi dari bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan Belanda yang telah banyak dipengaruhi oleh Bahasa Latin. Semua istilah tadi menunjuk kepada akar pengertian yang sama yaitu kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Akan tetapi sejatinya akar kata kedaulatan itu sendiri merupakan saduran dari bahasa Arab yang berasal dari akar kata daulat atau dulatan, yang dalam makna klasik artinya sebagai pergantian atau peredaran. Dengan demikian, pengertian kedaulatan itu dalam makna klasiknya berkaitan erat dengan gagasan mengenai kekuasaan tertinggi yang didalamnya sekaligus terkandung dimensi waktu dan proses peralihannya sebagai fenomena yang bersifat alamiyah.29
Teori kedaulatan rakyat memiliki hubungan yang erat dengan konsepsi perjanjian masyarakat atau kontrak sosial dalam konteks asal mula pembentukan
negara.30 Dimana timbulnya teori kedaulatan rakyat merupakan reaksi atas teori
kedaulatan raja yang kebanyakan menghasilkan tirani dan kesengsaraan bagi rakyat.31 Maka dari itu J.J Rousseau menggemakan konsep kedaulatan baru yang
yang memposisikan rakyat sebagai penguasa tertinggi lewat bukunya Du Contract Social. Buku tersebut merupakan pengembangan pemikiran dari Jean Bodin mengenai kedaulatan dalam buku Six Livres de la Republique. Jean Bodin mengatakan bahwa kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang mengatasi warga negara, anak buah, dan undang-undang. Konsep ini jika diurai dapat ditarik menjadi 3 unsur, yakni:
1) Kekuasaan itu bersifat tertinggi, tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi, dan asli dalam arti tidak berasal dari atau bersumber kepada kekuasaan lain yang lebih tinggi.
2) Mutlak dan sempurna dalam arti tidak terbatas dan tidak ada kekuasaan lain yang membatasinya.
3) Utuh, bulat, dan abadi, dalam arti tidak terpecah-pecah dan tidak terbagi-bagi.
Maka dari itu konsep kedaulatan sejatinya bersifat unite dalam arti terdapat semangat dan kemauan umum rakyat adalah suatu kesatuan dengan mana mereka sebagai kesatuan berhak memerintah dan menolak diperintah. Karena rakyat adalah satu maka negara juga adalah satu, dan dengan sendirinya konsep kedaulatan ini juga bersifat bulat dan tak dapat dipecah-pecah. Jika rakyat berdaulat, maka rakyatlah satu-satunya pemegang kekuasaan tertinggi, bukan yang lain. Disimpulkan oleh Bodin, bahwa kedaulatan adalah milik setiap bangsa sebagai kesatuan yang bersifat turun-temurun, sehingga kedaulatan tidak dapat berubah-ubah begitu saja, ketika berada di tangan rakyat maka selamanya akan tetap ada di tangan rakyat. Kemudian dalam teori fiksinya mengenai perjanjian masyarakat (kontrak sosial), Rousseau menyatakan bahwa dalam suatu negara,
natural liberty telah berubah menjadi civil liberty dimana rakyat sebagai penguasa tertinggi memiliki hak-haknya. Itu artinya, secara sederhana dapat diartikan
30 “Pengertian Kedaulatan Rakyat” http://www.pengertianahli.com/2013/09/pengertian-kedaulatan-rakyat.html, diunduh pada 5 Oktober 2015.
bahwa kedaulatan rakyat adalah meletakan kekuasaan tertinggi disuatu negara di tangan rakyat.32
Khususnya dalam konstitusi di negara Indonesia penegasan kedaulatan rakyat secara nyata dapat dilihat dalam Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Pasal tersebut merupakan bentuk kemerdekaan dan penghargaan kepada rakyat selaku elemen tertinggi. Sebelumnya, kedaulatan tersebut di jewantahkan dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, akan tetapi kepercayaan tersebut ternoda dengan tirani kekuasaan selama 32 tahun yang dilakukan oleh Presiden selaku mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat. Menurut Jimly Asshiddiqie, perubahan tersebut menjadikan tidak hanya MPR sajalah yang melakukan kedaulatan rakyat secara tunggal, akan tetapi mandat rakyat dijalankan oleh cabang-cabang kekuasaan negara berdasarkan Undang-Undang Dasar.33
1.4.2 Teori Hak Asasi Manusia: Hak Konstitusional Warga Negara
Sejak berakhirnya Perang Dunia ke-II, gerakan HAM di level internasional semakin intensif terlebih lagi setelah didirikannya PBB. Sejalan dengan hal tersebut banyak negara yang memasukkan jaminan dan perlindungan HAM itu secara tertulis ke dalam konstitusinya, terlebih lagi setelah kejatuhan rezim komunis pada akhir abad ke-20. Perancangan konstitusi negara pasca Perang Dunia II terfokus pada dua masalah pokok:
1. Penegasan HAM sebagai pembatasan wilayah otonomi individu yang tak boleh dilanggar oleh negara.
2. Pembentukan Mahkamah Konstitusi sebagai pengadilan khusus untuk menjaga dan melindungi hak-hak asasi tersebut.34
32 Nike K. Rumokoy, “Kedaulatan dan Kekuasaan Dalam UUD 1945 Dalam Pembentukan Hukum Di Indonesia,” Jurnal Hukum Unsrat Vol. XVII/No. 1 (April – Juni 2009), hlm. 96.
Dimasukkannya HAM ke dalam konstitusi tertulis berarti memberi status kepada hak-hak itu sebagai hak-hak konstitusional. Perlindungan yang dijamin oleh konstitusi bagi hak konstitusional itu adalah perlindungan terhadap pelanggaran oleh perbuatan negara atau public authorities, bukan terhadap pelanggaran oleh individu lain.35
Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap pribadi manusia. Maka dari itu hak asasi manusia (the human rights) itu berbeda dari pengertian hak warga negara (the citizen’s rights). Apabila hak asasi manusia itu telah tercantum dengan tegas dalam UUD 1945, sehingga secara otomatis hak asasi manusia tersebut telah resmi menjadi hak konstitusional setiap warga negara atau “constitutional rights”.
Namun tetap harus dipahami bahwa tidak semua “constitutional rights” identik dengan “human rights”. Terdapat hak konstitusional warga negara (the citizen’s constitutional rights) yang bukan atau tidak termasuk ke dalam pengertian hak asasi manusia (human rights). Misalnya, hak setiap warga negara untuk menduduki jabatan dalam pemerintahan adalah “the citizen’s constitutional rights”, tetapi tidak berlaku bagi setiap orang yang bukan warga negara. Karena itu, tidak semua “the citizen’s rights” adalah “the human rights”, akan tetapi dapat dikatakan bahwa “the human rights” bisa juga sekaligus merupakan “the citizen’s rights”.
Hak-hak tertentu yang dapat dikategorikan sebagai hak konstitusional Warga Negara adalah:
a. Hak asasi manusia tertentu yang hanya berlaku sebagai hak konstitusional bagi Warga Negara Indonesia saja. Misalnya, (i) hak yang tercantum dalam Pasal 28D ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap Warga Negara berhak atas kesempatan yang sama dalam pemerintahan”; (ii) Pasal 27 ayat (2) menyatakan, “Tiap-tiap Warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan 34 I Dewa Gede Palguna, Pengaduan Konstitusional (Constitutional Complaint) Upaya Hukum terhadap Pelanggaran Hak-Hak Konstitusional Warga Negara, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm. 132-133.
yang layak bagi kemanusiaan; (iii) Pasal 27 ayat (3) berbunyi, “Setiap Warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara”; (iv) Pasal 30 ayat (1) berbunyi, “Tiap-tiap Warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”; (v) Pasal 31 ayat (1) menentukan, “Setiap Warga Negara berhak mendapat pendidikan”; Ketentuan-ketentuan tersebut khusus berlaku bagi Warga Negara Indonesia, bukan bagi setiap orang yang berada di Indonesia;
yang merupakan tanggungjawab negara asalnya sendiri untuk memberikan perlakuan khusus itu;
c. Hak Warga Negara untuk menduduki jabatan-jabatan yang diisi melalui prosedur pemilihan (elected officials), seperti Presiden dan Wakil Presiden, Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Wali Kota dan Wakil Walikota, Kepala Desa, Hakim Konstitusi, Hakim Agung, anggota Badan Pemeriksa Keuangan, anggota lembaga permusyawaratan dan perwakilan yaitu MPR, DPR, DPD dan DPRD, Panglima TNI, Kepala Kepolisian RI, Dewan Gubernur Bank Indonesia, anggota komisi-komisi negara, dan jabatan-jabatan lain yang diisi melalui prosedur pemilihan, baik secara langsung atau secara tidak langsung oleh rakyat.
Penekanan status sebagai warga negara ini penting untuk menjamin bahwa jabatan-jabatan tersebut tidak akan diisi oleh orang-orang yang bukan warga negara Indonesia. Dalam hal warga negara Indonesia dimaksud telah menduduki jabatan-jabatan sebagaimana dimaksud di atas, maka hak dan kewajibannya sebagai manusia dan sebagai warga negara terkait erat dengan tugas dan kewenangan jabatan yang dipegangnya. Kebebasan yang dimiliki oleh setiap orang dibatasi oleh status seseorang sebagai warga negara, dan kebebasan setiap warga negara dibatasi pula oleh jabatan kenegaraan yang dipegang oleh warga negara yang bersangkutan. Karena itu, setiap warga negara yang memegang jabatan kenegaraan wajib tunduk kepada pembatasan yang ditentukan berdasarkan tugas dan kewenangan jabatannya masing-masing;
e. Hak untuk melakukan upaya hukum dalam melawan atau menggugat keputusan-keputusan negara yang dinilai merugikan hak konstitusional Warga Negara yang bersangkutan. Upaya hukum dimaksud dapat dilakukan (i) terhadap keputusan administrasi negara (beschikkingsdaad van de administratie), (ii) terhadap ketentuan pengaturan (regelensdaad van staat orgaan), baik materiil maupun formil, dengan cara melakukan substantive judicial review (materiile toetsing) atau procedural judicial review
1.4.3 Teori Pembubaran Partai Politik
Pembubaran partai politik sejatinya bisa terjadi karena tiga cara, yakni membubarkan diri atas keputusan sendiri, menggabungkan diri dengan partai politik lain, atau dibubarkan berdasarkan keputusan otoritas negara.36 Dalam karya
tulis ini penulis fokus mengkaji pembubaran kategori terakhir yakni yang dibubarkan secara paksa oleh otoritas negara dalam hal ini Mahkamah Konstitusi (enforce dissolution).
Pembubaran dalam bahasa Inggris adalah dissolution. Menurut kamus hukum Black’s Law, dissolution berarti : (1) the act of bringing to an end; termination ; (2) the cancellation or abrogation of a contract, with the effect of annuling the contract’s binding force and restoring the parties to their original positions ;dan (3) the termination of a corporation’s legal existence by expiration of its charter, by legislative act, by bankruptcy, or by other means ; the event immediately preceding the liquidation or winding-up process.37
Pembubaran partai politik dalam penelitian ini adalah pembubaran secara paksa yang disebabkan oleh adanya tindakan, keputusan hukum, kebijakan, atau aturan negara yang mengakibatkan hilangnya eksistensi partai politik sebagai subjek hukum penyandang hak dan kewajiban. Pembubaran mengakibatkan perubahan eksistensi hukum suatu partai politik dari ada menjadi tidak ada. Pembubaran secara paksa dalam penelitian ini meliputi pembubaran yang dilakukan oleh otoritas negara baik secara langsung berupa keputusan hukum, maupunsecara tidak langsung melalui aturan atau kebijakan yang mengakibatkan adanya peristiwa pembubaran partai politik.
Dalam konteks ini pembubaran partai politik yang difokuskan tertuju pada pengertian pembubaran yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi, bukan kepada pembekuan sementara yang dilakukan oleh pengadilan negeri. Selain itu, pembubaran partai politik yang dimaksud adalah ketika berakhirnya eksistensi hukum partai politik. Itu artinya karya tulis ini tidak hanya berfokus pada proses
pengadilan di Mahkamah Konstitusi saja, tetapi lebih jauh dari itu yakni akibat hukum putusan Mahkamah Konstitusi yang perlu ditindaklanjuti oleh Menteri terkait untuk diumumkan dalam berita negara.38
Pada prakteknya pengaturan tentang partai politik berbeda-beda antarnegara bergantung pada bagaimana partai politik diposisikan serta kepentingan nasional yang harus dilindungi. Di negara-negara baru kawasan Asia dan Afrika, menurut Weiner dan Lapalombara, pada umumnya pengaturan partai politik terkait dengan dua elemen integrasi nasional, yaitu masalah kontrol terhadap seluruh wlayah nasional dan masalah loyalitas.39 Maka dari itu
pembubaran partai politik di tiap negara erat kaitannya dengan sejarah politik nasional yang menumbuhkan memori kolektif suatu bangsa.40
1.5 Kerangka Konsep 1.5.1 Partai Politik
Secara etimologis, partai memiliki akar kata part yang berarti bagian atau golongan.41 Kemudian, politik erat kaitannya dengan menghimpun kekuatan,
meningkatkan kualitas dan kuantitas kekuatan, mengawasi dan mengendalikan kekuatan, serta menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan kekuasaan dalam negara dan institut lainnya.42
Jika digabungkan kedua frasa tadi, maka definisi yang cukup komprehensif mengartikan bahwa partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela
38 Jimly Asshiddiqie, Kemerdekaan Berserikat, op.cit., hlm.144. UU No.2 Tahun 2008 39 Myron Weiner dan Joseph Lapalombara, The Impact of Parties on Political Development, dalam Joseph Lapalombara and Myron Weiner, Political Parties and Political Development, (New York: Princeton University Press, 1966), hal.414
40 Nancy L. Rosenblum, “Banning Parties: Religious and Ethnic Partianship in Multicultural Democracies”, I.L. & Ethics Hun. Rts., 2007., hal.36.
41 Safa’at, op.cit., hlm. 30-31.
kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.43
Partai dapat dipahami dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, partai adalah penggolongan masyarakat dalam organisasi secara umum yang tidak terbatas hanya pada organisasi politik. Sedangkan dalam arti sempit, partai adalah partai politik yaitu organisasi masyarakat yang bergerak di bidang politik.44
Penelitian ini fokus pada pengertian partai dalam arti sempit yakni yang ditujukan hanya kepada partai politik. Ruang lingkup partai politik dalam karya tulis ini terbatas pada partai politik yang telah lolos verifikasi oleh KPU untuk menjadi peserta pemilihan umum pada periode tersebut.
1.5.2 Badan Hukum Publik
Badan hukum adalah salah satu subjek hukum yang merupakan persona ficta atau orang yang diciptakan oleh hukum sebagai persona serta memiliki hak dan kewajiban. Sedangkan, badan hukum publik adalah badan hukum yang didirkan berdasarkan hukum publik atau yang menyangkut kepentingan publik atau orang banyak atau negara umumnya.45 Suatu badan hukum, dapat dikatakan
badan hukum publik apabila:
1. Subjek yang membentuknya adalah kekuasaan umum atau negara bukan orang perorangan;
2. Sifat kegiatannya tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, melainkan publik;
3. Tujuan yang hendak dicapai bergerak dalam kegiatan di lapangan hukum publik;
4. Kepentingannya bersifat umum dan khalayak orang banyak.
1.5.3 Legal Standing
Legal Standing adalah keadaan dimana seseorang atau suatu pihak
43 Indonesia, Undang-Undang Partai Politik, UU No.2 Tahun 2008, op.cit., Ps.1. 44 Safa’at, loc.cit.
ditentukan memenuhi syarat dan oleh karena itu mumpunyai hak untuk mengajukan permohonan penyelesaian perselisihan atau sengketa atau perkara di depan MK.46Legal standing adalah adaptasi dari istilah personae standi in judicio yang artinya adalah hak untuk mengajukan gugatan atau permohonan di depan pengadilan.47Sudikno Mertokusumo, menyatakan ada dua jenis tuntutan
hak yakni:
1. Tuntutan hak yang mengandung sengketa disebut gugatan, dimana sekurang-kurangnya ada dua pihak. Gugatan termasuk dalam kategori peradilan contentious (contentieus jurisdictie) atau peradilan yang sesungguhnya.
2. Tuntutan hak yang tidak mengandung sengketa disebut permohonan dimana hanya terdapat satu pihak saja. Permohonan termasuk dalam kategori peradilan volunteer atau peradilan yang tidak sesungguhnya.48
Pemohon selanjutnya wajib menguraikan dengan jelas dalam permohonanya tentang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya. Sehingga untuk berperkara di MK pemohon harus dengan jelas mengkualifikasikan dirinya apakah bertindak sebagai perorangan warga negara Indonesia, sebagai kesatuan masyarakat hukum adat, sebagai badan hukum publik atau privat atau sebagai lembaga negara. Selanjutnya menunjukkan hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan akibat keberlakuan undang- undang. Jika kedua hal di atas tidak dapat dipenuhi maka permohonan untuk berperkara di MK tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard).
1.6 Metode Penelitian
46Mahkamah Konstitusi, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, cetakan pertama, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI, 2010), hlm. 98.
47 Harjono, Konstitusi Sebagai Rumah Bangsa Pemikiran Hukum Dr. Harjono, S.H.,M.C.L. Wakil Ketua MK, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2008), hlm. 176.
Penelitian Tinjauan Yuridis atas Legal Standing Pembubaran Partai Politik di Mahkamah Konstitusi ini merupakan penelitian yuridis-normatif atau lebih dikenal dengan istilah penelitian hukum kepustakaan.49 Selain itu penelitian ini
juga dilengkapi dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis dan pendekatakan komparatif (comparative approach) agar penelitian ini tidak terbatas pada penelitian atas hukum yang berlaku (normatif) saja, akan tetapi lebih dari itu yakni bagaimana seharusnya hukum diterapkan.
Penelitian yuridis-normatif mengacu kepada norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan norma-norma lain yang berlaku dan mengikat di masyarakat. Perolehan data dilakukan melalui penelitian kepustakaan yakni melalui pengumpulan data sekunder, yang mencakup bahan hukum primer, sekunder, dan bahan hukum tersier. Selain memperoleh data melalui penelitian kepustakaan yang didapat melalui pengumpulan data sekunder, penelitian ini juga didukung dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara kepada pakar hukum Tata Negara untuk mengetahui pandangan keilmuan mereka yang relevan dengan skripsi ini.
Bahan hukum primer, terdiri dari bahan-bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan, yurisprudensi, traktat dan bahan hukum dari zaman penjajahan.50 Khusus untuk penelitian ini, bahan hukum primer yang akan
digunakan antara lain:
1. Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen.
2. Konstitusi RIS.
3. Undang-Undang Dasar Sementara.
4. Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen.
49 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 13.
5..Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi, Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003, LN No. 98 Tahun 2003, TLN No. 4316.
6. Undang-Undang tentang Partai Politik, Undang-Undang Nomor 2 .Tahun 2008, LN No. 2 Tahun 2008, TLN No. 4801.
7. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 12 Tahun 2008 tentang Prosedur Beracara dalam Pembubaran Partai Politik.
8. Peraturan Presiden tentang Pengakuan, Pengawasan, dan Pembubaran Partai-Partai, Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 1960, LN No. 140 Tahun 1960.
9. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan.
Selain bahan hukum primer, Penulis juga akan menggunakan bahan hukum sekunder, yakni bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum dan sebagainya.51 Dalam penelitian ini, bahan
hukum sekunder yang digunakan adalah buku-buku yang membahas mengenai partai politik dan sejarah ketatanegaraan Indonesia. Sedangkan bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus, ensiklopedia dan sebagainya.52 Dalam penelitian ini, bahan hukum tersier yang akan digunakan
adalah Black Law Dictionary dan kamus hukum lainnya.
Penelitian ini juga disebut sebagai penelitian yang bersifat deskriptif-analitis. Adapun analisis yang dilakukan menggunakan metode kualitatif, yaitu analisis data yang dilakukan berdasarkan kualitas data untuk memperoleh inti permasalahan secara mendalam dan komprehensif. Melalui metode pengolahan tersebut, akan mendapatkan laporan mengenai apa yang terjadi, mengapa sesuatu terjadi dan akibat dari kejadian tersebut. Sehingga selanjutnya dapat diperoleh gambaran secara holistik tentang permasalahan yang terjadi.
Sedangkan tipe penelitian ini dapat dilihat dari beberapa sudut, yaitu:
1. Dari sudut sifatnya, penelitian yang penulis lakukan bersifat eksplanatoris (menjelajah), karena penulisan ini bertujuan untuk menggambarkan atau menjelaskan lebih dalam suatu gejala, dan penelitian ini bersifat mempertegas hipotesa yang ada.53
2. Dari sudut bentuknya, penelitian yang penulis lakukan merupakan penelitian evaluatif, karena penulis akan memaparkan serta memberikan penilaian serta saran atas peristiwa yang telah terjadi.54
3. Dari sudut tujuannya, penelitian yang penulis lakukan merupakan penelitian problem finding, karena tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan permasalahan dan solusi sebagai akibat suatu kegiatan.55
4. Dari sudut ilmu yang digunakan, penelitian ini merupakan penelitian monodisipliner, karena penelitian ini didasarkan pada satu disiplin ilmu, yakni ilmu hukum.56
1.7 Kegunaan Teoritis dan Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan manfaat bagi pihak-pihak terkait baik secara teoritis maupun praktis dalam konteks ketatanegaraan dan demokrasi di Indonesia.
1. Kegunaan Secara Teoretis
53 Sri Mamudji, et al., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005), hlm. 4.
a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang hubungan dan akibat hukum pembubaran partai politik terhadap hak konstitusional warga negara dalam berserikat.
b. Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lanjutan, baik sebagai bahan awalan maupun sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya mengingat peluang dan tantangan terkait pembubaran partai politik akan terus berkembang.
2. Kegunaan Secara Praktis
a. Penelitian ini bermanfaat bagi Partai Politik dan kadernya untuk memahami sejarah pembubaran partai politik di Indonesia sehingga menjadi mawas diri dalam melakukan segala aktivitas kepartaian.
b. Penelitian ini bermanfaat bagi Pemerintah khususnya Presiden sebagai gambaran atas permasalahan yang terjadi dalam legal standing
pembuaran partai politik di Indonesia.
c. Penelitian ini bermanfaat bagi Mahkamah Konstitusi sebagai gambaran atas permasalahan yang terjadi dalam pembubaran partai politik di Indonesia khususnya mengenai legal standing.
d. Penelitian ini bermanfaat untuk civitas akademika dan masyarakat pada umumnya untuk mengetahui gambaran mengenai sejarah pembubaran partai politik ditinjau dari perspektif hukum tata negara sekaligus menjadi rujukan mengenai bagaiamana seharusnya legal standing
dalam pembubaran partai politik.
1.8 Sistematika Penulisan
Agar pembahasan tetap terarah dan sesuai dengan tujuan dari karya tulis ini maka perlu dijabarkan dengan jelas mengenai sistematika penulisannya. Sistematika dalam penulisan skripsi ini terdiri menjadi empat bab, dengan rincian susunan sebagai berikut:
Bab pertama dalam skripsi ini dimulai dengan pendahuluan yang memuat tentang latar belakang permasalahan yang penulis angkat sehingga penulis sangat tertarik untuk membahasnya, pokok permasalahan, tujuan penelitian, kerangka konsep, metode penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB 2: SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMBUBARAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA
Bab kedua ini akan membahas mengenai sejarah perkembangan partai politik di Indonesia. Kemudian bab ini juga akan membahas mengenai pengaturan pembubaran partai politik menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia dan pembubaran partai politik dari masa pemerintahan Soekarno hingga Joko Widodo serta dilengkapi dengan perbandingan praktek pembubaran partai politik di dua negara yakni Jerman dan Korea Selatan.
BAB 3 : ANALISIS LEGAL STANDING DALAM SENGKETA
PEMBUBARAN PARTAI POLITIK DI MAHKAMAH KONSTITUSI
Bab ini akan membahas mengenai relevansi antara pembubaran partai politik dengan hak konstitusional warga negara khususnya adalah hak kebebasan berserikat. Kemudian, bab ini juga akan meninjau pemberian legal standing
pembubaran partai politik yang hanya diberikan kepada pemerintah dari berbagai sudut pandang. Penulis sekaligus juga memberikan solusi atas permasalahan legal standing dalam sengketa pembubaran partai politik di Mahkamah Konstitusi ini.
BAB 4 : PENUTUP
BAB 2
SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMBUBARAN PARTAI
POLITIK DI INDONESIA
2.1 SEJARAH PERKEMBANGAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA
Pentingnya sejarah partai politik diuraikan dalam karya tulis ini ditujukan sebagai pertimbangan bahwa sejarah pada hakekatnya mengungkap berbagai peristiwa besar pada masa lalu, agar dapat dijadikan bahan penunjang dan pembanding kenyataan di era saat ini dan proses perbaikan ke era yang akan datang. Hal ini sejalan dengan pandangan Ahmad Syafii Maarif yang menyatakan bahwa sejarah adalah jembatan penghubung masa silam dan masa kini, dan sebagai petunjuk arah ke masa depan.57 Demikian juga halnya dengan sejarah
Partai politik di Indonesia yang mana merupakan produk masa lalu yang perlu diungkap dan dikaji kembali agar dapat dimanfaatkan dalam menyikapi
perkembangan partai politik di Indonesia, baik pada era saat ini dan terlebih lagi di era yang akan datang.
Pada umumnya partai politik digunakan oleh beberapa negara atau rakyat terjajah sebagai salah satu sarana untuk membebaskan dirinya dari hegemoni penjajahan. Kebanyakan negeri atau rakyat yang terjajah tertarik pada partai politik, karena partai politik itu dapat menjadi kekuatan tandingan untuk menantang penjajahan, dan memiliki potensi sebagai sarana yang dapat diandalkan untuk mencapai kemerdekaan. Konsep partai politik sudah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan. Hal ini tidak terlepas dari adanya modernisasi yang muncul di Eropa. Inggris adalah negara yang pertama kali memperkenalkan institusi partai politik yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Pada akhir abad 19 dan dan awal abad 20 partai politik mulai menyentuh kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.58
Di Indonesia sendiri, partai politik pertama kali lahir di zaman Kolonial Belanda sebagai manifestasi bangkitnya kesadaran nasional.59 Sebagaimana
diungkapkan oleh Umaidi Radi, munculnya partai politik di Indonesia dapat dibaca sebagai dampak dari perubahan sosial, politik, dan ekonomi di negeri Belanda maupun Hindia Belanda pada waktu itu. Titik tolak yang paling relevan dalam hal ini adalah adanya kebijakan politik etis yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Aspek terpenting dari politik etis adalah diperkenalkannya sistem pendidikan modern (Barat) bagi putera-puteri Inlander. Tujuan pendidikan pada dasarnya bukanlah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan hanya sekadar memenuhi tuntutan kebutuhan administrasi dan birokrasi kolonial pada tingkat rendahan, seperti klerk (juru tulis) atau dokter.60
Di Indonesia, keberadaan partai politik juga muncul bersamaan dengan berkembangnya hak mengemukakan pikiran dan pendapat tepatnya ketika kaum intelektual muda mulai mempelopori gerakan nasional yang timbul sebagai
58Jimly Asshiddiqie (2), op.cit., hlm. 159.
59 Dawud, “Tingkat Kepercayaan Masyarakat Muslim Terhadap Partai Politik Berasas Islam (Studi Kasus di Kecamatan Kebumen Pada Pemilu 2014)”, (skripsi Sarjana UIN Syartif Hidayatullah, Jakarta, 2014.), hlm. 21.
semangat untuk memperoleh kemerdekaan atas penderitaan bangsa karena penjajahan Belanda. Setelah melalui perjuangan bersenjata yang tidak berujung, upaya mencapai kemerdekaan akhirnya ditempuh dengan cara lain yakni diplomasi.61 Maka dari itu dibentuklah organisasi nasional seperti Budi Utomo
pada tanggal 20 Mei Tahun 1908 dan Indische Vereeniging pada tahun 1909 di Belanda.62 Pada tanggal 20 Mei Tahun 1908 untuk pertama kalinya di Indonesia
berdiri sebuah organisasi nasional yang dinamakan sebagai Budi Utomo. Organisasi kebangsaan ini pada awalnya hanya sebagai perkumpulan masyarakat yang tidak secara resmi menamakan dirinya sebagai partai politik namun pada perkembangannya memiliki program dan aktivitas politik. Maka dari itu menurut Edward Mandala, organisasi Budi Utomo pada saat itu belum dapat dikategorikan sebagai sebuah partai politik yang modern seperti dalam pengertian yang disebutkan oleh Sigmund Neumann, Carl J. Friedrich, Rh. Soltau, Huszar dan Stevenson, atau Miriam Budiardjo karena Budi Utomo saat itu lebih tepat disebut sebagai embrio dari partai politik.63 Selain itu, kelahiran Budi Utomo juga
merupakan cikal bakal lahirnya organisasi modern di Indonesia, maka dari itu tidak heran apabila kelahiran Budi Utomo diidentikan sebagai tonggak kebangkitan nasional.64
Lahirnya Budi Utomo pada awalnya disebabkan oleh kondisi bangsa Indonesia yang saat itu berada dalam jajahan Belanda. Dimana rakyat berada dalam kondisi menderita dan disiksa. Hanya sebagian pemuda dan pelajarlah yang menikmati pendidikan, akan tetapi hanya sebagian kecil pemuda yang menikmati pendidikan tersebut yang sadar akan kondisi kesengsaraan bangsa Indonesia. Sehingga atas dasar itu pemuda-pemuda tersebut mendirikan perkumpulan Budi
61 Alfidatu Panji Bimantara, “Perjuangan Diplomasi Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Masa Revolusi (1946-1949) ”,(skripsi Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2014), hlm. 34-74.
62 Matroji, Sejarah Untuk SMP kelas VIII, (Jakarta : Erlangga, 2006), hlm. 30.
63Edward Mandala, “Sistem Kepartaian Dan Pemilu di Indonesia”, http://www.leutikaprio.com/main/media/sample/Sistem%20Kepartaian%20dan%20Pemilu%20di %20Indonesia%20DOWNLOAD%20SAMPLE.pdf, diunduh pada 22 November 2015.
Utomo dengan tujuan untuk memajukan rakyat dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.65.
Di zaman penjajahan Belanda, partai-partai politik tidak dapat beraktivitas dengan damai dan lancar. Pada masa itu, hukum dasar yang berlaku di wilayah Hindia Belanda adalah regeerings-reglement (RR) 1854. Berdasarkan Pasal 111 RR menyatakan bahwa perkumpulan-perkumpulan atau persidangan-persidangan yang membicarakan soal pemerintahan atau yang membahayakan keamanan umum dilarang di Hindia Belanda.66 Pada 1919, RR diganti dengan Indische Staatsreleing (IS) 1918 yang pada Pasal 165 juga memuat larangan organisasi dan perkumpulan politik dimana hanya keturunan Belanda sajalah yang dapat menjadi anggota partai politik.67 Maka dari itu setiap partai yang bersuara untuk
menentang atau bergerak tegas terhadap pemerintah Belanda langsung dilarang, dimana pemimpinnya ditangkap, dipenjarakan atau diasingkan.68 Menurut C.S.T
Kansil partai politik yang secara resmi diakui di Indonesia adalah Indische Partij
yang didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung dan dimpimpin oleh Tiga Serangkai yakni Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryadiningrat.69 Tujuan partai ini adalah agar Hindia lepas dari Nederland,
akibatnya pada 4 Maret 1913 permohonan Indische Partij untuk dijadikan sebagai badan hukum ditolak oleh Gubernur Jenderal karena dipandang sebagai organisasi politik radikal dan mengancam keamanan umum.70
Menurut PK Poerwanta, Indische partij merupakan partai politik pertama di Indonesia yang menjadi pelopor timbulnya organisasi-organisasi politik di
65 Slamet Muljana (1), Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan, (Jakarta: Balai Pustaka, 1968), hlm.114.
66 E. Shobirin Nadj, Kebebasan: Restriksi dan Resistens : Studi Kebebasan Berkumpul di Indonesia, (Jakarta: Cesda LP3ES, 2001), hlm.59.
67 Soepomo, Sistem Hukum di Indonesia Sebelum Perang Dunia ke-II, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1991), hlm.9.
68 “Partai Politik”, https://id.wikipedia.org/wiki/Partai_politik, diunduh pada 28 November 2015.
69 C.S.T Kansil, Parpol dan Golkar, (Jakarta: Aksara Baru, 1979), hlm.22.
zaman pra kemerdekaan, baik organisasi politik yang bersifat ilegal maupun legal.71 Mengingat ekstrimnya pemikiran partai ini kala itu, Indische Partij hanya
bertahan 8 bulan saja, hal itu disebabkan karena ketiga pemimpin mereka masing-masing dibuang ke Kupang, Banda dan Bangka, dan kemudian diasingkan ke Nederland.72 Setelah beberapa tahun diasingkan, Ki Hajar Dewantara dan Dr.
Setyabudi kembali ke Indonesia untuk mendirikan partai politik yang dinamakan sebagai National Indische Partij (NIP) pada tahun 1919 yang kemudian secara langsung mempelopori lahirnya beberapa partai politik lain yakni Indische Social Democratische Verening (ISDV), Partai Nasional Indonesia, Partai Indonesia dan Partai Indonesia Raya.73
Selain Indische Partij terdapat juga Sarekat Islam yang sebelumnya berasal dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan pada akhir tahun 1911 di Solo oleh Hadji Samanhudi. 74 Pada awalnya Sarekat Dagang Islam merupakan sebuah
kooperasi dengan tujuan untuk memajukan perdagangan Indonesia dibawah panji-panji Islam, hingga pada tanggal 10 September 1912, Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam yang dijabat oleh Hadji Samanhudi selaku ketua dan HOS Tjokroaminoto sebagai komisaris.75 Dalam waktu singkat, Sarekat Islam
yang sejak berdirinya ini ditujukan untuk rakyat jelata kemudian berkembang pesat.
Pada kongresnya yang ketiga, 17-24 Juni 1916 di Bandung, telah berdiri 80 Sarekat Islam Daerah dengan lebih kurang 80.000 anggota.76 Tiga tahun
kemudian, jumlah anggotanya meningkat sampai dua juta, bahkan pada 18 Mei 1918 ketika Volksraad mulai dibuka, Sarekat Islam pun mendudukan dua orang
71 PK. Poerwanta, Partai Politik di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm. 35. 72 Chotib, et al., Kewarganegaraan 2: Menuju Masyarakat Madani (Jakarta: Yudhistira, 2007), hlm. 8.
73 Slamet Muljana (2), Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan, (Yogyakarta: LKIS, 2008), hlm. 97.
74 Tim Media Pusindo, Pahlawan Indonesia, (Jakarta: Media Pusindo, 2008), hlm. 153. 75 “Sejarah Lengkap Sarekat Islam”, http://www.markijar.com/2015/06/sejarah-lengkap-sarekat-islam-si.html, diunduh pada 25 November 2015.
anggotanya yakni Tjokroaminoto dan Abdul Muis sebagai anggota Volksraad.77
Selain itu, Sarekat Islam pun bersikap sangat berani. Hal tersebut tercermin dalam kongresnya yang ketiga di Surabaya 29 September hingga 6 Oktober 1918, dimana dirumuskan bahwa akan menentang pemerintah sepanjang tindakannya melindungi kapitalisme dan menuntut pemerintah mengadakan peraturan-peraturan sosial bagi kaum buruh mulai dari upah minimum, upah maksimum, lamanya bekerja untuk mencegah penindasan dan perbuatan sewenang-wenang.78
Selain berbagai partai politik, juga pernah terbentuk federasi organisasi-organisasi politik. Pada 17 Desember 1927 lahir sebuah organisasi-organisasi ferderasi yang dinamakan sebagai Permufakatan Perhimpunan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang dibentuk oleh PNI, PSI, BU, Sarikan Pasundan, Sarikat Sumatera, dan Kaum Betawai. PPPKI berupaya untuk menyamakan arah aksi dan kerja sama dan menghindarkan perselisihan yang melemahkan aksi kebangsaan.79
Kemudian pada 1939 terbentuklah Gabungan Politik Indonesia atau disebut GAPI.80 Salah satu tuntutan politik GAPI adalah bukan untuk mendapatkan
kemerdekaan penuh, akan tetapi terciptanya parlemen berdasarkan kepada sendi-sendi demokrasi yang dikenal dengan sebutan “Indonesia Berparlemen”. Bahkan pada akhir Desember 1939 GAPI menyelenggarakan Kongres Rakyat Indonesia yang menggabungkan antara GAPI, MIAI, dan Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri (PVPN).81
Pada zaman penjajahan Jepang, pemerintah Jepang pada awalnya melarang dan membubarkan partai-partai politik yang telah ada.82 Namun
kemudian dalam perkembanganya dapat berdiri sebuah partai politik yang
77 Edward Mandala, op.cit. 78 Ibid.
79 A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, (Jakarta: Dian Rakyat, 1994), hlm. 84.
80 Bambang Suwondo, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978), hlm. 153.
81Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), hlm. 395.
dinamakan sebagai Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dibawah pimpinan “Empat Serangkai” yakni Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K. Haji Mansyur.83 Akan tetapi atas perintah pemerintah Jepang partai ini pada akhirnya
dibubarkan pada bulan Maret 1944 disebabkan tidak mampu membuka cabang-cabang sehingga digantikan oleh Jawa Hokokai.84 Menyerahnya tentara Hindia
Belanda kepada tentara Jepang yang disusul dengan kekalahan tentara Jepang pada tahun 1945 telah membulatkan tekad bangsa Indonesia untuk melepaskan diri, baik dari kolonialisme Belanda maupun fasisme Jepang dan berdiri di suatu Negara sendiri yang modern dan demokratis.85
Pada awal kemerdekaan, para tokoh nasional telah menyadari pentingnya partai politik dalam kehidupan bernegara. Tepatnya pada 22 Agustus 1945, PPKI menindaklanjutinya dengan menyelenggarakan rapat penting yang salah satu keputusannya adalah membentuk Partai Nasional Indonesia. PNI nantinya diharapkan menjadi partai tunggal yang mempelopori kehidupan bangsa Indonesia.86 Gagasan mengenai partai tunggal merupakan ide dari Soekarno yang
tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Mentjapai Indonesia Merdeka” pada tahun 1933 yang menegaskan bahwa adanya lebih dari satu partai hanya akan membingungkan massa.87 Pandangan politik Soekarno mengenai partai dinilai
Maswadi Rauf sebagai pemikiran yang anti sistem multi partai model barat dan sistem demokrasi parlementer sebab partai politik hanyalah sumber perpecahan yang akan memperlemah perjuangan terhadap penjajahan dan usaha mengisi kemerdekaan.88
83 M. Yuanda Zara, Peristiwa 3 Juli 1946: Menguak Kudeta Pertama Dalam Sejarah Indonesia, (Jakarta: Medpress, 2009), hlm. 7.
84Arja Ajisaka, Mengenal Pahlawan Indonesia, edisi revisi, (Jakarta: Kawanpustaka, 2008), hlm.92.
85 Deni Eko Setiawan dan Evi Ernasari, “Perkembangan Partai Politik di Indonesia Sejak Masa Pra Kemerdekaan Hingga Pemerintahan Orde Lama”, http://eviernasari23.blogspot.co.id/2015/04/sejarah-politik.html, diunduh pada 26 November 2015.
86 Sartono Kartohadirjo, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Soesanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975), hlm. 30.
Pandangan Soekarno mengenai partai tunggal tentunya ditanggapi beragam oleh tokoh-tokoh politik lainnya, dan salah satunya adalah Sjahrir. Sjahrir yang saat itu menjadi Ketua BP KNIP menentang gagasan partai tunggal milik Soekarno karena partai nantinya hanya akan menjadi alat untuk mengontrol dan mendisiplinkan perbedaan pendapat.89 Maka dari itu dalam pengumuman
Badan Pekerja Komite Nasional Nomor 3 disebutkan bahwa pembentukan satu partai, yaitu Partai Nasional Indonesia, pada saat itu memang diperlukan untuk mempersatukan segala aliran dalam masyarakat guna mempertahankan negara. Namun yang dapat memenuhi keperluan tersebut adalah Komite Nasional. Dengan kata lain, Komite Nasional-lah yang mempersatukan berbagai aliran yang berbeda, apalagi sudah berubah menjadi badan perwakilan rakyat sejak 16 Oktober 1945.90 Mengingat hal tersebut dan sesuai dengan semangat menjunjung
asas demokrasi, diusulkan untuk memberi kesempatan kepada rakyat untuk mendirikan partai politik. Oleh karena itu, atas usul Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), dikeluarkanlah Maklumat Pemerintah 3 November 1945 yang berisi pernyataan bahwa pemerintah mendukung adanya eksistensi dari partai politik. Selengkapnya Maklumat Pemerintah 3 November 1945 sebagai berikut:
MAKLOEMAT PEMERINTAH
Berhoeboeng dengan oesoel Badan Pekerdja Komite Nasional Poesat kepada Pemerintah, soepaja diberikan kesempatan kepada rakjat seloeas-loasnja oentoek mendirikan partai-partai politik, dengan restriksi, bahwa partai-partai itoe hendaknja memperkoeat perdjoeangan kita mempertahankan kemerdekaan dan mendjamin keamanan masjarakat, Pemerintah menegaskan pendiriannja jang telah diambil beberapa waktoe jang laloe bahwa :
1. Pemerintah menjoekai timboelnya partai-partai politik, karena dengan adanja partai-partai itoelah dapat dipimpin kedjalan jang teratoer segala aliran paham jang ada dalam masjarakat.
88 Maswadi Rauf, “Partai Politik dalam Sistem Kepartaian Indonesia Antara Kenyataan dan Harapan”, Jurnal Politika, Vol.2, No.2 Tahun 2006, hlm. 11.
89J. D. Legge, Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan: Peranan Kelompok Sjahrir, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1993), hlm. 180 – 181.
2. Pemerintah berharap soepaja partai-partai itoe telah tersoesoen, sebeloemnja dilangsoengkan pemilihan anggata Badan-Badan Perwakilan Rakjat pada boelan Djanoeari 1946.
Djakarta, tanggal 3 Nopember 1945
Wakil Presiden,
MOHAMMAD HATTA.
Tujuan dari dibentuknya partai politik saat itu adalah agar partai-partai tersebut dapat memimpin ke jalan yang teratur segala aliran yang ada dalam masyarakat. Diamanatkan pula dalam Maklumat tersebut bahwa partai-partai politik diharapkan sudah tebentuk sebelum dilangsungkannya pemilihan anggota badan-badan perwakilan yang direncanakan pada Januari 1946.91 Setelah adanya
Maklumat tersebut, terbentuklah 40 partai politik baru yang masing-masing berusaha untuk berpartisipasi dalam percaturan politik nasional.92 Pentingnya
partai politik kemudian dipertegas kembali dalam Maklumat Pemerintah 14 November 1945 yang menyatakan bahwa partai politik ada untuk mendorong dan memajukan tumbuhnya pikiran-pikiran politik. Bibit-bibit dari beberapa partai itu sudah timbul dalam penjajahan Jepang, akan tetapi terpaksa tidak menampakan diri dalam zaman pemerintahan Jepang karena baik Jepang maupun Belanda bertindak keras terhadap komunis dan partai-partai politik yang menghendaki kemerdekaan sesempurna-sempurnanya.93
Konsekuensi dari kedua maklumat tersebut disambut antusias oleh berbagai tokoh. Partai politik yang sebenarnya sudah ada sebelum kemerdekaan mulai bangkit kembali. Pada 7 November 1945 didirikan kembali Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masjumi di Jogjakarta. Kemudian pada 29 Januari 1946 didirikan PNI di Kediri yang berasal dari Serikat Rakyat Indonesia, PNI Pati, Madiun, Palembang, Sulawesi, Partai Kedaulatan Rakyat, Partai Republik Indonesia, dan beberapa partai kecil lain. Ketuanya yang pertama adalah S.
91 Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagjo Toer, dan Ediati Kamil, Krnok Revolusi Indonesia, (Jakarta: KPG, 1999), hlm.131 dan 348.
92 Jimly Asshiddiqie (2), op.cit., hlm.174.
Mangoensarkoro. Pada 18 November 1945 berdiri Partai Kristen Nasional (PKN) yang selanjutnya bersama Partai Kristen Indonesia (PARKI) pada Kongres di Prapat 9 – 20 April 1947 melebur diri menjadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo).Pada 22 November 1945 berdiri Partai Persatuan Tarbiyah Islamiah (Partai PERTI) di Bukit Tinggi. Partai ini berasal dari Pergerakan Tarbiyah Islamiah (PERTI) di Bukit Tinggi yang didirikan pada 20 Mei 1930. Pada 8 Desember 1945, melalui Kongres Golongan Politik Katolik, didirikan Partai Katholik Republik Indonesia (PKRI). Pada Kongresnya 17 Desember 1949, PKRI diganti namanya menjadi Partai Katolik.94
Partai-partai lain yang terbentuk, baik merupakan partai baru maupun kelanjutan dari partai politik yang telah ada sebelum kemerdekaan di antaranya adalah Partai Indonesia Raya (PIR), Partai Rakyat Indonesia (PRI), Partai Banteng Republik Indonesia, Partai Rakyat Nasional (PRN), Partai WanitaRakyat, Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI), Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI), Partai Rakyat Jelata (PRJ), Partai Tani Indonesia (PTI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Sosialis Indonesia (Parsi) di bawah pimpinan Mr. Amir Sjarifuddin, Partai Murba, Partai Buruh Indonesia, Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (PERMAI), Partai Demokrat Tionghoa, dan Partai Indo Nasional.95
Dalam buku Kepartaian Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan 1951, dibuat klasifikasi partai politik menurut Dasar Ketuhanan, Dasar Kebangsaan, Dasar Marxisme, dan Partai lain-lain. Partai politik yang diklasifikasikan dalam Dasar Ketuhanan adalah Masjumi, Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII), Pergerakan Tarbiyah Islamiah (Perti), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan Partai Katholik. Partai-partai politik yang masuk kategori Dasar Kebangsaan adalah PNI, Persatuan Indonesia Raya (PIR), Parindra, PRI, Partai Demokrasi Rakyat (Banteng), Partai Rakyat Nasional (PRN), Partai Wanita Rakyat (PWR), Partai Kebangsaan Indonesia (Parki), Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI), Ikatan Nasional Indonesia (INI), Partai Rakyat Jelata (PRJ), Partai Tani Indonesia (PTI), dan Wanita
94 Muchamad Ali Safa’at, “Pembubaran Partai Politik di Indonesia (Analisis Pengaturan Hukum dan Praktik Pembubaran Partai Politik 1959-2004”, (disertasi Universitas Indonesia, Jakarta, 2009.), hlm.130.