• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) KOTA BLITAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) KOTA BLITAR"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH

TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA MADRASAH ALIYAH

NEGERI (MAN) KOTA BLITAR

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pdi)

Oleh:

SITI JUAIRIAH NIM. 02110216

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

(2)

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH

TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA MADRASAH ALIYAH

NEGERI (MAN) KOTA BLITAR

SKRIPSI

Oleh: SITI JUAIRIAH

NIM. 02110216

Telah Disetuji Oleh: Dosen Pembimbing

Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031

Tanggal, 02 Januari 2007

Mengetahui

Dekan Fakultas Tarbiyah

(3)
(4)

PERSEMBAHAN

Teriring rasa syukur kepada Allah SWT. skripsiku ini ku persembahkan kepada orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku:

Ayahku Mujio dan Ibundaku Murtiah

Yang dengan jerih payahnya mengasuh dan mendidikku mulai dari kecil hingga sekarang ini, Yang selalu menyayangiku setulus hati, serta berkat doa dan restunya aku

bisa menyelesaikan skripsiku ini. Semoga ananda bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan

Kakeku Nenekkku

Yang selalu mendoakan, memberikan nasehat serta menyayangiku. Semoga aku bisa menjadi cucu yang dapat kakek dan nenek banggakan

Kakakku Asmawati

Yang selalu memberikan kasih sayang dan perhatian kepadaku. Aku sangat menyayangimu

Adikku Amanah dan adek Amin

Kalian adalah penyemangatku, yang membuat canda tawa di dalam hari-hariku. Aku sangat menyayangi kalian

Teman-teman Pagar Nusa Angkatan 02

Semoga persaudaraan ini tidak akan putus sampai dikaherat nanti Untuk adik-adikku semua semoga Skripsi ini bermanfaat bagi kalian

Untuk seseorang yang selalu memberi semangat dan selalu tersenyum untukku tanks banget semoga aku bisa menjadi yang terbaik untukmu

Teman-temanku angkatan 2002,

(5)

MOTTO

" Ya Tuhan kami anuger ahkan kepada kami ist r i-ist r i kami

dan ket ur unan kami sebagai penyenang hat i (kami) dan j adikanlah

kami imam bagi or ang-or ang yang ber t aqwa ".

(6)

Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony Dosen Fakultas Tarbiyah

Universitas Islam Negeri Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Siti Juairiah Malang, 02 Januari 2007 Lamp : 4 eksemplar

Kepada Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang di

Malang

A ssalamu'alaikum W r. W b.

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi ini mahasiswa tersebut di bawah ini:

Nama : Siti Juairiah

NIM : 02110251

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap Motivasi belajar Siswa MAN Kota Blitar

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan.

W assalamu'alaikum W r. W b.

Pembimbing

(7)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Malang, 02 Januari 2007

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dengan judul: “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap Motivasi belajar Siswa MAN Kota Blitar”.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. yang telah yang telah membimbing umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang yaitu dinul Islam.

Dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini penulis tidak akan terlepas dari bimbingan, dukungan, dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini izinkanlah kami menghaturkan ungkapan terima kasih yang paling dalam kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Ungkapan terimakasih ini kami sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Malang.

2. Bapak Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang.

3. Bapak Drs. Moh Padil, M. Ag selaku ketua Jurusan Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Malang.

4. Bapak Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony selaku dosen pembimbing yang dengan sabar membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(9)

6. Bapak Drs. Hasyim Asy'ari selaku Kepala MAN Kota Blitar, yang telah memberikan izin kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Segenap Dewan Guru, Staf dan siswa MAN Kota Blitar, penulis ucapkan terima kasih atas kerja samanya dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kakakku dan kedua adikku yang telah memberikan perhatian, kasih sayang serta semangat sehingga terselesainya skripsi ini.

9. Serta semua pihak yang telah memberikan bantuan demi terselesainya skirpsi ini. Semoga Allah SWT. Membalas semua amal kebaikan atas bantuan yang telah diberikan kepada kami

Akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua yang membacanya. Amiin.

Malang, 02 Januari 2007

(10)

DAFTAR ISI

Halaman Nota Dinas Pembimbing ……… vii

Halaman Pernyataan……….. viii

Kata Pengantar………... ix

Daftar Isi……… xi

Abstrak……….……… xiii

BAB I. PENDAHULUAN………... 1

A.Latar Belakang Masalah………. 1

B.Ruang Lingkup Pembahasan………. 9

C.Rumusan Masalah………... 10

1. Tipe-tipe Kepemimpinan ……… 18

(11)

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi………… 52

4. Fungsi Motivasi dalam Belajar………. C. Pengaruh Gaya Kepemimpina Kepala Madrasah Terhadap Motivasi Belajar Siswa……… 56

BAB III. Lokasi Penelitian A.Latar Belakang Obyek ………..………. 63

B.Jenis Penelitian……….. 63

C.Data dan Sumber Data……… 64

D.Populasi dan Sampel……….. 65

E.Instrumen Penelitian………. 68

F.Pengumpulan Data………. 69

G.Metode Analisis Data……….. …. 71

BAB IV Paparan Dan Analisis Hasil Data.. A.Latar Belakang Obyek Penelitian……… 75

B.Paparan dan Analisis Data Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah yang Demokratis dalam memotivasi Belajar Siswa . 82

C. Paparan Data dan Analisis Data Faktor-Faktor yang Mempenngaruhi Motivasi Belajar Siswa……… D. Paparan dan Analisis Data Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap motivasi Belajar Siswa………...87 .

BAB V PENUTUP………..93 DAFTAR PUSTAKA

(12)

ABSTRAK

Juairiah, Siti, 2002. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di MAN Kota Blitar, Skripsi, Jurusan Pendidikan Islam, Fakultas TArbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Dosen Pembimbing: Prof. Dr. M. Djunaidi Ghoni

Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan, Motivasi Belajar

Gaya kepemimpinan seorang pemimpin atau manajer biasanya dipakai sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mempelajari kesuksesan pemimpian yaitu dengan mempelajari gaya yang akan melahirkan berbagai tipe atau gaya kepemimpinan. Berdasarkan sifat dan cara-cara pemimpin atau pelaksanaannya dan mengembangkan kegiatan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dipimpin: gaya kepemimpinan otokratis/ otoriter, gaya kepemmimpinan laissez-fire, dan gaya kepemimpinan demokratis.Untuk memilih gaya kepemimpinan yang akan digunakan perlu dipertimbangkan berbagai factor yang mempengaruhi: (1) factor dalam organisasi, (2) factor pimpinan manajer, (3) factor bawahan, (4) factor situasi penugasan.##

Motivasi belajar merupakan satu kebutuhan dalam belajar yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan belajar. Motivasi belajar ada yang berasal dari diri sendiri yang biasa disebut motivasi intrinsic, ada juga yang berasal dari luar diri yang mana munculnya membutuhkan rangsangan dari luar yang biasa disebut dengan motivasi ekstrinsik.

Penelitian ini dilakukan di MAN Kota Blitar yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan kepala madrasah terhadap motivasi belajar siswa.

Untuk membuktikan hipotesis dalam penelitian ini metode mengumpulan data yang digunakan adalah tehnik angket, interview, observasi dan dokumen. Sedangkan pengambilan sample mengunakan random sampling yaitu siswa kelas II MAN Kots Bliar yang berjumlsh 156 siswa. Uji validitas menggunakan tehnik korelasi product moment dari person. Sedangkan uji relibialitas mengunakan tehnik alpha dengan bantuan computer. Selanjutnya untuk mengetahui hasil data yang dikumpulkan di lakukan perhitungan dengan menggunakan tehnik product moment.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan (1) ada pengaruh antara gaya kepemimpinan otokrasi terhadap motivasi belajar, dengan koefisien korelasi 0.262 %. (2) ada pengaruh gaya kepemimpinan laissez-fire terhadap motivasi belajar, dengan koefisien korelasi 0.927 %. (3) ada pengaruh gaya kepemimpinan demokratis terhadap motivasi belajar, dengan koefisien korelasi 0.589 %. Sedangkan sumbangan efektif penelitian sebesar (r2 x 100 % =24 % ).

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kepala sekolah sebagai penanggung jawab dalam lembaga pendidikan yang dia pimpin memiliki tugas yang tidak ringan. Sebab baik buruknya lembaga tersebut tidak lepas dari pengawasan kepala sekolah.

Kepemimpinan dibidang pendidikan juga memiliki pengertian bahwa pemimpin harus memiliki keterampilan dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran ataupun pelatihan agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien yang pada gilirannya akan mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan.##

Dikatakan juga bahwa sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah menghadapi tanggung jawab yang berat, untuk itu ia harus memiliki persiapan memadai. Fungsi utama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan murid dapat belajar dengan baik##.

Didalam kepemimpinan ada 3 unsur yang saling berkaitan yaitu: unsur manusia, unsur sarana, unsur tujuan. Untuk dapat memperlakukan ketiga unsur tersebut secara seimbang seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan atau kecakapan dan

(14)

menjalankan kepemimpinannya menurut caranya sendiri. Dan cara yang digunakannya merupakan cerminan dari sifat-sifat dasar kepribadian seorang pemimpin walaupun pengertian ini tidak mutlak. Cara atau tehnik seorang dalam menjalankan suatu kepemimpinan di sebut tipe atau gaya kepemimpinan.

Adapun gaya gaya kepemimpinan yang pokok atau di sebut ekstrem ada 3 yaitu: (!). Otokratis (2). Laizzes faire dan (3). Demokratis.##

Sedangkan Graves di Stanford University memberikan laporan mengenai 4 tipe-tipe kepemimpinan yaitu: (1). Tipe autoritarian (2). Tipe laizzes-fire (3). Tipe Demokratis (4). Tipe Pseudo demokratis.

a. Tipe Otokrasi/ Otoriter

Otokrasi berasal dari kata oto yang berarti sendiri dan kratos berarti pemerintah. Jadi otokrasi adalah mempunyai pemerintah dan menentukan sendiri.##

Otokrasi merupakan Pemerintahan atau kekuasaan yang dipegang oleh seseorang yang berkuasa secara penuh dan tidak terbatas masanya. Sedangkan yang memegang kekuasaan di sebut otokrat yang biasanya di jabat oleh pemimpin yang berstatus sebagai raja atau yang menggunakan sistem kerajaan.## Sedangkan di lingkungan sekolah bukan raja yang menjadi pemimpin akan tetapi kepala sekolah yang memiliki gaya seperti raja yang berkuasa mutlak dan sentral dalam

menentukan kebijaksanaan sekolah.

Adapun Secara sederhana, gaya kepemimpinan kepala sekolah yang bertipe otokrasi sebagai berikut:

(15)

b. Pengawasan dilakukan secara ketat yaitu pengawasan kepala sekolah yang tidak memakai prinsip partisipasi, akan tetapi pengawasan yang bersifat menilai dan meghakimi

c. Prakarsa berasal dari pemimpin yaitu gaya kepala sekolah yang merasa pintar dan merasa bertanggungjawab sendiri atas kemajuan sekolah

d. Tidak ada kesempatan untuk memberi saran, dimana gaya kepala sekolah merasa orang yang paling benar dan tidak memiliki kesalahan.

e. Kaku dalam bersikap yaitu kepala sekolah yang tiidak bisa melihat situasi dan kondisi akan tetapi selalu memaksakan kehendaknya.##

Kepala sekolah yang otoriter biasanya tidak terbuka, tidak mau menerima kritik, dan tidak membuka jalan untuk berinteraksi dengan tenaga pendidikan. Ia hanya memberikan interuksi tentang apa yang harus dikerjakan serta dalam menanamkan disiplin cenderung menggunakan paksaan dan hukuman.## 1. Tipe Laissez-Faire

(16)

sumber daya manusia maupun alamnya dengan baik dan mampu merancang semua kebutuhan sekolah dengan mandiri.##

Adapun ciri-ciri khusus laissez faire yaitu:

1. Pemimpin kurang bahkan sama sekali tidak memberikan sumbangan ide, konsep, pikiran dan kecakapan yang dimilikinya.

2. Pemimpin memberikan kebebasan mutlak kepada stafnya dalam menentukan segala sesuatu yang berguna bagi kemajuan organisasinya tanpa bimbingan darinya.##

Dari gaya kepemimpinan laissez-faire diatas dalam kontek pendidikan indonesia sangat sulit untuk dilaksanakan karena keadaan pendidikan kita masih mengalami beberapa gendala mulai dari masalah pendanaan, sumber daya manusia, kemandirian, dan lain sebagainya. Menurut Imam Suprayogo, Tipe kepemimpinan ini sangat cocok sekali untuk orang yang betul-betul dewasa dan benar-benar tau apa tujuan dan cita-cita bersama yang harus dicapai.##

3. Tipe Demokratis

Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan berdasarkan demokrasi yang pelaksanaannya disebut pemimpin partisipasi (partipative leadership). Kepemimpinan partisipasi adalah suatu cara pemimpin yang kekuatannya terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.## Secara sederhana, gaya

kepemimpinan kepala sekoalah bertipe demokratis dapat diperjelas sebagai berikut: 1. Wewenang tidak mutlak, artinya segala yang menjadi hak kepala sekolah

dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dasar hukumnya.

(17)

3. Keputusan yang dibuat bersama, artinya segala kebijakan yang dibuat sekolah merupakan tanggung jawab bersama.

4. Komunikasi berlangsung timbal balik

5. Pengawasan secara wajar yang tidsak mengunakan prinsip otokrasi yang cenderung menilai dan menghakimi. Akan tetapi pengawasan yang bersifat pengembangan dan mendidik.

6. Banyak kesempatan untuk menyampaikan saran kepada sekolah.##

Adanya gaya kepemimpinan kepala sekolah yang bermacam-macam tersebut diharapkan mampu sebagai agen perubahan dalam sekolah sehingga mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas

pengelolaan sekolah maka kepala sekolah sebagai pimpinan harus mempunyai kemampuan leadership yang baik. Kepemimpinan yang baik adalah kepala sekolah yang mampu dan dapat mengola semua sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.##

Pengaruh pemimpin itu dapat memperkembangkan hubungan manusia yang lebih baik dapat mempengaruhi pertumbuhan sikap-sikap yang positif daripada

individi-individu yang dipimpinnya. Dan yang paling penting ialah pengaruh kepemimpinannya sangat menentukan bagaiman kualitas kegiatan kerjasama dan kualitas hasil yang dapat di capai oleh kegiatan kerjasama dalam situasi group itu.##

Respon anak terhadap situasi situasi sekolah tidak ada yang sama karena adanya perbedaan dalam banyak segi. Perbedaan itu tidak hanya pada prilaku tapi juga pada tingkat perkembangan dan pertumbuhan serta tingkat potensialnya.##

(18)

adalah perbedaan-perbedaan dalam kesiapan belajar. Anak-anak yang masuk sekolah masing-masing memiliki tingkat kecerdasan, perhatian dan pengetahuan yang berbeda dengan kesiapan belajar yang berbeda-beda. Mereka berbeda dalam potensi bahkan dalam karakternya. Masalahnya adalah pendidikan yang bagaimana yang patut

diberikan kepada mereka agar tercapai perkembangan secara optimal bagi tiap individu sesuai dengan kapasitas dan kecenderungan-kecenderungan mental mereka.##

Banyak sekali, bahkan sudah umum orang menyebut dengan “motif” untuk menunjukan mengapa orang itu berbuat sesuatu. Menurut Mc. Donald, Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada seseorang siswa misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang efeksinya untuk melakukan sesuatu karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab-musababnya dan kemudian mendorong seorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain siswa itu perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya.

(19)

tujuan jiwa yang mendorong individu untuk aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan terhadap situasi disekitarnya.##

Banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seorang siswa mendapatkan motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil yang semula tidak terduga.##

Memotivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa, karena fungsinya yang mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar.##

Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah. Bahkan lebih jauh study tersebut menyimpulkan bahwa keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.

Beberapa diantara kepala sekolah di lukiskan sebagai orang yang memiliki harapan tinggi bagi para staff dan para siswa. Kepala sekolah adalah mereka yang mengerti tugas-tugas mereka dan menentukan irama bagi sekolah mereka. Hal ini menunjukan betapa penting peranan kepala sekolah dalam menggerakkan kehidupan sekolah mencapai tujuan yaitu: Kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah, dan kepala sekolah harus memahami tugas dan fungsi mereka demi keberhasilan sekolah serta memiliki kepedulian kepada staff dan siswa.

(20)

siswa di sekolah tersebut. Kepemimpinan yang efektif ialah suatu proses untuk menciptakan wawasan untuk masa depan yang mempertimbangkan jangka panjang kelompok yang terlibat, mengembangkan strategi yang rasional, mengembangkan suatu kombinasi dari proses biologis, social, psikologis yang kompleks menentukan potensi kepemimpinan seseorang individu bisa saja seseorang memiliki sifat kepemimpinan yang berbeda.

Sebagai motivator kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat

memberikan motivasi kepada para tenaga pendidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat di tumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan penghargaan secara efektif dan penyediaan sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar.

Namun demikian dari semua paparan diatas gaya kepemimpinan kepala sekolah belum begitu jelas terutama dalam memotivasi belajar siswa.Sehubungan dengan masalah tersebut maka penyusun tertarik untuk meneliti tentang “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Belajar Siswa MAN Kota Blitar”

A. Ruang lingkup Pembahasan

Dalam penelitian ini sengaja peneliti membatasi ruang lingkup pembahasan yang meliputi: Gaya kepemimpinan kepala madrasah demokratis dalam memotivasi belajar siswa, Faktor-faktor apa yang mempengaruhi motivsi belajar siswa, serta Pengaruh Gaya kepemimpinan Kepala Madrasah terhadap memotivasi belajar siswa di MAN Kota Blitar

(21)

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dipaparkan diatas, maka dapatlah dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan kepala madrasah dalam memotivasi belajar siswa di di MAN Kota Blitar

2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi motivsi belajar siswa di MAN Kota Blitar 3. Pengaruh gaya kepemimpinan kepala madrasah terhadap motivasi belajar siswa di

MAN Kota Blitar

A. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan kepala madrasah dalam memotivasi belajar siswa di di MAN Kota Blitar

2. Untuk mengetahui Faktor-faktor apa yang mempengaruhi motivsi belajar siswa di MAN Kota Blitar

3. Untuk mengetahui Pengaruh Gaya kepemimpinan Kepala Madrasah terhadap memotivasi belajar siswa di MAN Kota Blitar

A. Manfaat Peneliltian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

(22)

2. Ilmu pengetahuan, sebagai informasi dan pertimbangan penyusun apabila nanti terjun dalam lapangan kepemimpinan pendidikan madrasah

3. Peneliti, untuk menambah khazanah pengetahuan tentang kepemimpinan kepala madrasah dalam memotivasi belajar siswa.

A. Metedelogi Penelitian 4.Penentuan Populasi

Sebelum melakukan penelitian penulis mengambil langkah yang diperlukan dalam hal ini sebagai langkah pertama yaitu penentuan populasi Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian.14 Sedangkan menurut Sutrisno Hadi populasi adalah “semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel itu hendak digeneralisasikan.15

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa populasi adalah individu dari keseluruhan subyek penelitian yang dijadikan sarana penelitian guna memperoleh data. Dalam hal ini populasinya adalah kepala sekolah, metode pengumpulan data, dan siswa. 2. Tehnik Penngumpulan Data

Metode yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi sebagai bahan utama yang relevan dan obyektif. Dalam penelitian ini adalah:

1. Metode Observasi

Metode observasi adalah pengamatan yang dilakukan terhadap

(23)

memotivasi belajar siswa. 4. Metode Interview

Metode Interview sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk

memperoleh informasi dari wawancara (interviewee).16 Interview dapat dipandang

sebagai teknik pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis berlandaskan pada tujuan umum penyelidikan.17

Berarti yang dimaksud interview adalah usaha mengumpulkan informasi dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula, secara langsung dengan tatap muka (face to face relationship) antara si pencari unformasi dengan sumber informasi, antara peneliti dengan responsen secara sistematis berdasarkan pada tujuan peneliti.

5. Metode Analisa

Analisa data dalam suatu penelitian merupakan bagian yang sangat penting, karena dengan analisis ini data yang ada akan nampak manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian untuk mencapai tujuan akhir penelitian.

Untuk data kuantitatif digunakan analisis statistic. Sedangkan untuk data kualitatif di gunakan tehnik desdkriktif.

G. Sistematika Pembahasan

Untuk lebih mempermudah pembahasan dalam penulisan ini peneliti menulis mensistematikan pembahasan dalam beberapa sub bab sebagai berikut

BAB I : Pendahuluan

(24)

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup pembahasan, dan sistematika penulisan skripsi

BAB II : Kajian teori

Membahas mengenai kajian teori yang berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian yaitu tentang pengertian kepemimpinan, gaya

kepemimpinan kepala madrasah dalam memotivasi belajar siswa yang terdiri dari 3 sub bab yaitu kepemimpinan kepala madrasah, motivasi belajar dan pengaruh gaya kepemimpinan kepala madrasah terhadap motivasi belajar siswa

BAB III : Metodelogi Penelitian

Berisi tentang penjelasan mengenai variabel-variabel yang mendukung penyelesaian masalah, tentang obyek penelitian, populasi, sample, metode pengumpulan data dan analisa data yang berfungsi untuk memperoleh gambaran tentang permasalahn dari obyek yang diteliti

BAB IV : Hasil Penelitian

Yang meliputi latar belakang obyek penelitian, pemaparan dan analisa data BAB V : Kesimpulan dan Saran

Dalam BAB ini akan diuraikan kesimpulan dari keseluruahn hasil penelitian yang telah dilakukan dan juga berisi tentang saran-saran yang berhubungan dengan topik pembahasan yang ada.

(25)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kepemimpinan Kepala Madrasah

1. Pengertian Kepemimpinan Kepala Madrasah

Dalam bahasa inggris kepemimpinan sering disebut leader dari akar kata to lead

dan kegiatannya disebut kepemimpinan atau leadership. Dalam kata kerja to lead tersebut terkandung dalam beberapa makna yang saling berhubungan erat yaitu, bergerak lebih cepat, berjalan ke depan, mengambil langkah petama, berbuat paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran atau pendapat orang lain, membimbing, menuntun menggerakkan orang lain lebih awal, berjalan lebih depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, mempelopori suatu tindakan, mengarahkan pikiran atau pendapat, menuntun dan menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya.##

Sedangkan menurut istilah kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas individu atau group untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam situasi yang telah ditetapkan. Dalam mempengaruhi aktifitasnya individu pemimpin menggunakan kekuasaan, kewenangan, pengaruh, sifat dan karakteristik, dan Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas dan moral kelompok.##

Dalam Islam istilah kepemimpinan sering diidentikkan dengan istilah khilafah dan orangnya di sebut kholifah dan Ulil Amri yang orangnya di sebut Amir (pemegang kekuasaan).##

(26)

manusia kearah tujuan bersama sambil menggunakan daya-daya badani dan rohani yang ada dalam kelompok tersebut. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan unsur dinamis yang sanggup mengkaji masa lampau, menelaah masa kini dan menyoroti masa depan, untuk kemudian berani mengambil keputusan yang di tuangkan dalam tindakan

Dirawat mendeskripsikan kepemimpinan adalah:

Kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh untuk selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian sesuatu maksud dan tujuan.##

Sedangkan Marjiin Syam dalam bukunya “Kepemimpinan dalam Organisasi” mendeskripsikan:

Kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta menggerakkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan, atau proses pemberian bimbingan (pimpinan), tauladan dan pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari pada pekerjaan orng-orang yang terorganisir formal.##

Dari beberapa definisi di atas tampak beberapa hal penting yaitu: 1. Kepemimpinan dilihat sebagai serangkaian proses atau tindakan 2. Adanya tujuan yang hendak dicapai bersama

3. Fungsi kepemimpinan itu adalah untuk mempengaruhi, menggerakkan orang lain dalam kegiatan atau usaha bersama

(27)

5. Kegiatan tersebut berlangsung dalam organisasi formal

Kepemimpinan juga diterjemahkan ke dalam istilah : sifat-sifat prilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola-pola interaksi, hubungan kerja sama antar

kedudukan dari suatu jabatan administrasi.##

Berbagai pengertian tentang arti kepemimpinan di atas dapat diambil pengetian secara comprehensive yaitu bahwa pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus atau superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain, sera dia harus berpengetahuan yang luas, dan ber-visi jauh ke depan sera memenuhi syarat-syarat tertentu dan mampu mempengaruhi kegiatan-kegiatan anggota dari kelompok.

Istilah kepemimpinan pendidikan mengandung dua pengetian, dimana kata “Pendidikan” menerangkan dilapangan apa dan dimana kepemimpinan itu berlangsung, dan sekaligus menjelaskan pula sifat atau, ciri-ciri kepemimpinan.

Dengan demikian kepemimpinan pendidikan merupakan perpaduan antara konsep kepemimpinan dan pendidikan yang keduanya mempunyai pengertian sendiri-sendiri, yang pada akhirnya terpadu dalam bentuk keilmuan yang menunjukkan ciri-ciri khusus dari suatu bentuk kepemimpinan secara umum.

Kepemimpinan pendidikan juga berarti sebagai bentuk kemampuan dalam proses mempengaruhi, menggerakkan, memotivasi, mengkoordinir orang lain yang ada hubungannya dengan ilmu pendidikan dan pengajaran agar supaya kegiatan yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran.##

(28)

harus memiliki keterampilan dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran ataupun pelatihan agar segenap kegiatan dapat berjalan secara eektif dan efisien yang pada gilirannya akan mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan.##

Sedangkan kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat dimana terjadi ineraksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.##

Adapun istilah kepala sekolah berasal dari dua kata kepala dan sekolah. Kepala dapat diartikan ketua atau pemimpin. Sedangkan sekolah diarikan sebuah lembaga yang didalamnya terdapat aktivitas belajar mengajar. Sekolah juga merupakan lingkungan hidup sesudah rumah, di mana anak tinggal beberapa jam, tempat tinggal anak yang pada umumnya pada masa perkembangan, dan lembaga pendidikan dan tempat yang berfungsi mempersiapkan anak untuk menghadapi hidup.##

Dengan demikian kepala sekolah adalah seorang tenaga professional atau guru yang diberikan tugas untuk memimpin suau sekolah dimana sekolah menjadi tempat interaksi antara guru yang memberi pelajaran siswa yang menerima pelajaran, orang tua sebagai harapan, pengguna lulusan sebagai penerima kepuasan dan masyarakat umum sebagai kebanggaan.##

(29)

meraih kepemimpinan, namun hanya sedikit orang yang benar-benar menjalaninya dengan efektif.##

Kepala sekolah sebagai pemimpin di sebuah lembaga pendidikan, didalam kepemimpinanya ada beberapa unsur yang saling berkaitan yaitu: unsur manusia, unsur sarana, unsur tujuan. Untuk dapat memperlakukan ketiga unsur tersebut secara

seimbang seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan atau kecakapan dan

keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kepemimpinan. Pengetahuan dan keterampilan ini dapat diperoleh dari pengalaman belajar secara teori ataupun dari pengalaman di dalam praktek selama menjadi kepala sekolah

2. Tipe-Tipe Kepemimpinan

Konsep seorang pemimpin pendidikan tentang pemimpinnan dan kekuasan yang memproyeksikan diri dalam bentuk sikap, tingkah laku dan sifat kegiatan pemimpinan yang dikembangkan dalam lembaga pendidikan atau unit administrasi pendiikan yang dipimpinnya akan mempengaruhi situasi kerja, mempengaruhi kerja anggota staff, sifat hubungan-hubungan kemanusian diantara sesama, dan akan mempengaruhi kwalitas hasil kerja yang mungkin dapat dicapai oleh lembaga atau uit administrasi pendidikan tersebut##

Ditinjau dari pelaksanaan tugas maka kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinannya dikenal dengan 3 tipe kepemimpinan yang masing-masing dapat di jelaskan sebagai berikut:

a.Tipe Otokrasi/ Otoriter

(30)

pemerintah. Jadi otokrasi adalah mempunyai pemerintah dan menentukan sendiri.## Otokrasi merupakan Pemerintahan atau kekuasaan yang dipegang oleh seseorang yang berkuasa secara penuh dan tidak terbatas masanya. Sedangkan yang memegang kekuasaan di sebut otokrat yang biasanya di jabat oleh pemimpin yang berstatus sebagai raja atau yang menggunakan sistem kerajaan.## Sedangkan di lingkungan sekolah bukan raja yang menjadi pemimpin akan tetapi kepala sekolah yang memiliki gaya seperti raja yang berkuasa mutlak dan sentral dalam menentukan kebijaksanaan sekolah.

Adapun Secara sederhana, gaya kepemimpinan kepala sekolah yang bertipe otokrasi sebagai berikut:

1. Keputusan dan kebijakan selalu dibuat pemimpin, dimana gaya kepemimpinan yang selalu sentral dan mengabaikan asas musyawarah mufakat.

2. Pengawasan dilakukan secara ketat yaitu pengawasan kepala sekolah yang tidak memakai prinsip partisipasi, akan tetapi pengawasan yang bersifat menilai dan meghakimi

3. Prakarsa berasal dari pemimpin yaitu gaya kepala sekolah yang merasa pintar dan merasa bertanggungjawab sendiri atas kemajuan sekolah

4. Tidak ada kesempatan untuk memberi saran, dimana gaya kepala sekolah merasa orang yang paling benar dan tidak memiliki kesalahan.

5. Kaku dalam bersikap yaitu kepala sekolah yang tiidak bisa melihat situasi dan kondisi akan tetapi selalu memaksakan kehendaknya.##

(31)

pemberian dan pembagian tugas dilakukan tampa ada konsultasi dan musyawarah dengan orang-orang yang dipimpin. Pemimpin juga membatasi hubungan dengan stafnya dalam situasi formal dan tidak menginginkan hubungannya yang penuh keakraban, keintiman serta ramah tamah. Kepemimpinan otokrasi ini mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang selalu harus dipatuhi. Pemimpin selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada “one an show”.##

Pemimpin otokrasi, dalam membawa pengikutnya ketujuan dan cita-cita bersama, memegang kekuasaan yang ada pada gaya secara mutlak. Dalam gaya ini pemimpin sebagai penguasa dan yang dipimpin sebagai yang dikuasai. Termasuk dalm gaya ini adalah pemimpin yang mengatakan segala sesuatu harus dikerjakan oleh pengikutnya. Yang dilakukan oleh pemimpin model ini, hanyalah membei perintah, aturan, dan larangan. Para pengikutnya harus tunduk, taat dan

melaksanakan tampa banyak pertanyaan. Dalam gaya ini, mereka yang dipimpin dibiasakan setia kepada perintah dan dengan betul-betul kritis, dimana kesempatan mereka yang dipimpin dibawah kekuasaan orang yang memimpin.##

Kepala sekolah yang otoriter biasanya tidak terbuka, tidak mau menerima kritik, dan tidak membuka jalan untuk berinteraksi dengan tenaga pendidikan. Ia hanya memberikan interuksi tentang apa yang harus dikerjakan serta dalam menanamkan disiplin cenderung menggunakan paksaan dan hukuman.##

(32)

dalam memutuskan apa yang akan dilakukan oleh sekolah. Para tenaga pendidikan tidak diberi kesempatan untuk memberikan pandangan, pendapat maupun saran. Mereka dipandang sebagai alat untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah.##

Pada situasi kepemimpinan pendidikan seperti ini dapat di bayangan suasana kerja yang berlangsung di dalam kelompok tersebut bagaimana hubungan-hubungan kemanusian yang berlangsung dan bagaimna konflik-konflik antara pemimpin dan bawahan-bawahan dan antara anggota-anggota staff kerja itu sendiri. Penyelidikan yang dilakukan oleh Leppit seorang ahli kepemimpinan berkesimpulan bahwa konflik-konflik dan sikap-sikap atau tindakan agresif yang terjadi dalam suatu lembaga di bawah pemimpin seorang pemimpin otoriter kurang lebih 30 kali sebanyak yang timbul dari pada dalam suasana kerja yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang demokratis.##

(33)

dihadapi, akan hilang lenyap karena situasi kepemimpinan yang melumpuhkan itu.##

Seseorang dengan gaya kepemimpianan seperti ini umumnya merasa menang sendiri karena mempunyai keyakinan ia tahu apa yang harus dilakukannya dan merasa jalan pikirannya paling benar. Dalam situasi kerja sama, ia berusaha mengambil peran sebagai pengambil keputusan dan mengharapkan orang lain mendukung ide dan gagasannya, Ia tidak ingin dibantu apalagi dalam menentukan apa yang seharusnya ia lakukan.##

Tipe otokrasi ini apabila diterapkan dalam dunia pendidikan tidak tepat karena dalam dunia pendidikan, kritik saran dan pendapat orang lain itu sangat perlu untuk diperhatikan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan. .

1. Tipe Laissez-Faire

(34)

kebutuhan sekolah dengan mandiri.##

Pemimpin laissez-faire merupakan kebalikan dari kepemimpinan otokratis, dan sering disebut liberal, karena ia memberikan banyak kebebasan kepada para tenaga pendidikan untuk mengambil langkah-langkah sendiri dalam menghadapi sesuatu##. Jika pemimpin otokratis mendominasi, maka tipe pemimpin laissez-faire ini menyerahkan persoalan sepenuhnya pada anggota.

Pada tipe kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak memimpin, sebab ia membiarkan kelompoknya berbuat semau sendiri.##

Dalam rapat sekolah, kepla sekolah menyerahkan segala sesuatu kepada para tenaga kependidikan, baik penentuan tujuan, prosedur pelaksanaan,

kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, serta sarana dan prasarana yang akan digunakan. Kepala sekolah bersifat pasif, tidask ikut terlibat langsung dengan tenaga pendidikan, dan tidak mengambil inisiatif apapun. Kepala sekolah yang memiliki laissez-faire biasanya memposisikan diri sebagai penonton, meskipun ia mberada ditengah-tengah para tenaga pendidikan dalam rapat sekolah, karena ia menganggap pemimpin jangan rerlalu banyak mengemukakan pendapat, agar tidak mengurangi hak dan kebebasan anggota.##

(35)

Dalam suasana kerja yang dihasilkan oleh kepemimpinan pendidikan semacam itu, tidak dapat dihindarkan timbulnya berbagai ekses negatif, misalnya berupa konflik-konflik kesimpang siuran kerja dan kesewenang-wenangan oleh karena masing-masing individu memunyai kehendak yang berbeda-beda menuntut untuk dilaksanakan sehingga akibatnya masing-masing adu argumentasi, adu kekuasaan dan adu kekuatan serta persaingan yang kurang sehat diantara anggota disamping itu karena pemimpin sama sekali tidak berperan menyatukan,

mengarahkan, mengkoordinir serta menggerakkan anggotanya.## Adapun ciri-ciri khusus laissez faire yaitu:

1. Pemimpin kurang bahkan sama sekali tidak memberikan sumbangan ide, konsep, pikiran dan kecakapan yang dimilikinya.

2. Pemimpin memberikan kebebasan mutlak kepada stafnya dalam menentukan segala sesuatu yang berguna bagi kemajuan organisasinya tanpa bimbingan darinya.##

Baik prestasi-prestasi kerja yang bisa dicapai oleh setiap individu, maupun kelompok secara keseluruhan, tidak bisa diharapkan mencapai tingkat maksimal, oleh karena tidak semua anggota staff pelaksana kerja itu memiliki kecakapan dan keuletan serta ketekunan kerja sendiri tampa piminan, bimbingan, dorongan, dan koordinansi yang kontinyu dan sisitematis daripada pimpinannya. Pada pihak lain lembaga kerja itu hampir sama sekali tidak memberikan sumbangn ide-ide,

konsepsi-konsepsi, pikiran-pikiran dan kecakapan yang ia miliki yang justru sangat dibutuhkan oleh suatu lembga kerjasama yang dinamis dan kreatif ##

(36)

mengalami beberapa gendala mulai dari masalah pendanaan, sumber daya manusia, kemandirian, dan lain sebagainya. Dalam tipe kepemimpinan ini setiap kelompok bergerak sendiri-sendiri sehingga semua aspek kepemimpinan tidak dapat di wujudkan dan di kembangkan. Menurut Imam Suprayogo, Tipe kepemimpinan ini sangat cocok sekali untuk orang yang betul-betul dewasa dan benar-benar tau apa tujuan dan cita-cita bersama yang harus dicapai.##

Beberapa sebab timbulnya “laissez faire” dalam kepemimpinan pendidikan indonesia antara lain:

a. Karena kurangnya semangat dan kegairahan kerja si pemimpin sebagai penanggung jawab utama dari pada sukses tidaknya kegiatan kerja suatu lembaga

b. Karena kurangnya kemampuan dan kecakapan pemimpin itu sendiri. Apalagi jika ada bawahan yang lebih cakap, lebih berbakat memimpin dari pada dirinya, sehingga si pemimpin cenderung memilih alternatif yang paling aman bagi dirinya dan prestise jabatan menurut anggapannya, yaitu dengan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada setiap anggota staff, kepada kelompok sebagai satu kesatuan, untuk menetapkan “policy” dan program serta cara-cara kerja menurut konsepsi masing-masing yang dianggap baik dan tepat oleh mereka sendiri.

(37)

mendapat bimbingan dari petugas-petugas teknis kantor Departemen P dan K.## 3. Tipe Demokratis

Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan berdasarkan demokrasi yang pelaksanaannya disebut pemimpin partisipasi (partipative leadership). Kepemimpinan partisipasi adalah suatu cara pemimpin yang kekuatannya terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.##

Kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis merupakan kepemimpinan yang menganggap dirinya bagian dari kelompok pelaku sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat umum, dimana kepala sekolah tidak selalu membuat keputusan dan kebijakan menurut dirinya sendiri, akan tetapi melalui musyawarah mufakat dan dialog dengan asas mufakat. Sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an surat as-Syuura: 38

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruhan Tuhannya dan mendirikan Sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan

musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki

yang kami berikan kepada mereka” (QS. Asy-Syuura: 38).##

Kepala sekolah yang demokratis menyadari bahwa dirinya merupakan bagian darikelompok, memiliki sifat terbuka, dan memberikan kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk ikut berperan aktif dalam membuat perencanan,

keputusan, serta menilai kinerjanya. Kepala sekolah yang demokratis memerankan diri sebagai pembimbing, pengarah, pemberi petunjuk, serta bantuan kepada para tenaga pendidikan. Oleh karena itu dalam rapat sekolah, kepala sekolah ikut

(38)

serta mengikuti berbagai kegiatan rapat sekolah.##

Dalam suasana kerja kepemimpinan yang demokratis sebagian besar atau hampir seluruh”policy” dan keputusan-keputusan penting berasal dari dan disesuaikan dengan tuntutan-tuntutan situasi kelompok, di man pemimpin bersama-sama dengan anggota kelompok ambil bagian secara aktif di dalam perumusan “policy” umum, keputusn-keputusan penting dan program lembaga kerja itu.##

Kepala sekolah dalm melaksankan tugasnya hendaknya atas dasar musyawarah, unsur-unsur demokrasinya harus nampak dalam seluruh tata kehidupan di sekolah, misalnya:

a. Kepala sekolah harus menghargai martabat tiap anggota/guru yang mempunyai perbedaan individu.

b. Kepala sekolah harus menciptakan situasi pekerjan sedemikian rupa sehingga nampak dalam kelompok yang saling menghargai dan saling mengormati

c. Kepala sekolah hendaknya menghargai cara berfikir meskipun dasar pemikiran itu bertentangan dengan pendapat sendiri

d. Kepala sekolah hendaknya menghargai kebebasan individu

Secara sederhana, gaya kepemimpinan kepala sekoalah bertipe demokratis dapat diperjelas sebagai berikut:

(39)

dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dasar hukumnya.

2. Bersedia melimpahkan tugasnya pada orang lain dengan sistem pembagian kerja yang jelas maupun sistem pendelegasian.

3. Keputusan yang dibuat bersama, artinya segala kebijakan yang dibuat sekolah merupakan tanggung jawab bersama.

4. Komunikasi berlangsung timbal balik

5. Pengawasan secara wajar yang tidsak mengunakan prinsip otokrasi yang cenderung menilai dan menghakimi. Akan tetapi pengawasan yang bersifat pengembangan dan mendidik.

6. Banyak kesempatan untuk menyampaikan saran kepada sekolah.##

Selanjutnya dalam kepemimpinan yang demokrasi pemimpin dalam memberikan penilaian, kritik atau pujian, ia berusaha memberikannya atas dasar kenyataan yang seobyektif mungkin. /ia berpedoman pada kriteria-kriteria yang didasarkan pada standar hasil yang semestinya dapat dicapai menurut ketentuan terget program umum sekolah yang telah ditetapkan mereka bersama.##

Dalam hasil research bahwa untuk mencapai kepemimpinan yang demokratis, aktiitas pemimpin harus:

a) Meningkatkan interaksi kelompok dan perencanan kooperif

b) Menciptakan iklim yang sehat untuk berkembangan individual dan memecahkan pemimpin-pemimpin potensial.

(40)

Konsep kepemimpiann yang demokratis harus dapat dibuktikan kepemimpinannya dengan arah tindakan dimana:

a) Kebebasan pemikiran seseorang atau kelompok menghasilkan tindakan yang bertanggungjawab

b) Perbedaan penilaian dan kepercayaan ndapat dimanfaatkan perbedaan itu untuk lebih mendekatkan kebenaran

c) Motivasi perasaan dan sentimen orang-orang mendorong dan mengarahkan kepada pemecahan masalah-masalah

d) Kelompok-kelompok dapat mencari pertimbangan antara kepentingan kelompok dan kepentingan umum

e) Orang-orang memamkai kecakapan dengan efektif dalam menyelesaikan masalah-masalah

f) Orang-orang bukan saja memakai sumber-sumber intern, tapi meluas keluar untuk melaksanakan imajinasi, inisiatif dan kreativitas dan menetapkan dan memecahkan masalah.##

1. Dasar Kepemimpinan Pendidikan yang Demokratis

Sudah menjadi keyakinan kaum demokrat bahwa akar yang terdal;am dari pada tegaknya falsafah demokrasi termasuk didalam kehidupan pendidikan dan pengajaran terletak pada:

a. Pengakuan yang mendalam tentang hak-hak asasi manusia yang berintikan pengakuan kesamaan hak dan kebebasan bagi setiap individu.

(41)

dihormati dan diperlakukan secara layak..

c. Pengakuan yang mendalam tentang pentingnya individu-individu

bekerjasama dalam suasana persaudaraan untuk mencapai tujuan-tujuan dan kepentingan bersama sesuai dengan hakekatnya sebagai mahluk sosial. Masalah yang timbul dalm bidang pendidikan adalah bagaimana

menterjemahkan falsafah demokrasi itu kedalam bahasa pendidikan, sehingga dapat dipahami dan dihayati secara mendalam dan yang selanjutnya dapat pula dilaksanakan oleh personil-personil pimpinan dan pelaksana pendidiakn dan pengajaran pada setiap bentuk aktifitas pimpinan dan pelaksana pendidikan dan pengajaran dalam bentuk nyata-konkrit.Prinsip-prinsip apa yang harus menjadi pedoman kepemimpinan

pendidikan yang demokratis itu; bagaiman membina hubungan-hubungan kemanusian dan hubungan kerja yang berlandaskan demokrasi dan dan bagaiman struktur organisasi paling efektif didalam membina kehidupan demokrasi dalam bidang demokrasi.

Bagaimana cara menerapkan prinsif-prinsif kepemimpinan yang demokratis yang bersumber dari ketiga pengakuan tentang dasar falsafah demokrasi tersebut diatas.Inilah yang menjadi salah satu problem penting didalam pembinaan pembaharuan pendiidkan di Indonesia, atau dengan kata lain problema-problema tersebut itu adalah problema masa depan Indonesia yang sebagian terbesar ditentukan oleh sistem dan mutu pendidikan nasional dewasa ini.

2. Prinsip-prinsip kepemimpinan yang Demokratis

(42)

a. Prinsip partisipasi

Dalam suatu kepemimpinan pendidikan yang demokratis masalah partisipasi setiap anggota staff pada setiap usaha lembaga tersebut dipandang sebagai kepentingan yang mutlak harus dibangkitkan.Pemimpin dengan berbagai usaha mencoba membangkitkan dan memupuk subur kesadaran setiap anggota staffnya agar mereka merasa rela ikut bertanggungjawab, dan selanjutnya secara aktif ikut serta memikirkan dan memecahkan masalah-masalah juga menyangkut perencanaan dan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran. Berhasilnya pemimpin menimbulkan minat, kemauan dan kesadaran bertanggungjawab daripada setiap anggota staff dan bahkan individu diluar staff yang ada hubungan langsung dan tidak langsung dengan penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran pada lembaga kerjanya itu, dan yang selanjutnya menunjukkan partisipasi mereka secara aktif, berarti satu fungsi kepemimpinan telah dapat dilaksanakannya dengan baik.

b. Prinsip Koperasi

Adanya partisipasi anggota staff belum berarti bahwa kerjasama diantara mereka telah terjalin dengan baik.Partisipasi juga bisa terjadi dalam bentuk spesialisasi bentuk tugas-tugas, wewenang tanggungjawab secara ketat diantara anggota-anggota, dimana setiap anggota seolah-olah berdiri sendiri-sendiri dan berpegang teguh pada tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenang masing-masing individu.

(43)

khusus bagi dirinya, merasa berkepentingan pula pada masalah-masalah yang menyangkut suksesnya anggota-anggota lain, perasaan yang timbul karena kesadaran bertangungjawab untuk mensukseskan keseluruhan program lembaga kerjanya. Adanya perasaan dan kesadaran semacam itu memungkinkan mereka untuk bantu membantu, bekerjasama pada setiap usaha pemecahan masalah yang timbul didalam lembaga, yang mungkin bisa menghambat keberhasilan dalam pencapaian tujuan program lembaga kerja secara keseluruhan yang telah disepakati dan ditetapkan bersama-sama.

c. Prinsip Hubungan kemanusiaan yang A krab

Suasana kerjasama demokratis yang sehat tidak akan ada, tampa adanya rasa persahabatan dan persaudaraan yang akrab, sikap saling hormat menghormati secara wajar diantara seluruh warga lembaga-lembaga kerja tersebut.hubungan kemanusiaan seperti itu yang disertai unsur-unsur kedinamisan, merupakan pelicin jalan kearah pemecahan setiap masalah yang timbul dan sulit yang dihadapi.

Pemimpin harus menjadi sponsor utama bagi terbinanyan

hubungan-hubungan sosial dan situasi pergaulan seperti tersebut diatas didalam lembaga kerja yang dipimpinnya itu.pemimpin tidak berlaku sebagai majikan atau mandor terhadap pegawai dan buruhnya, tetapi ia sejauh mungkin menempatkan diri sebagai sahabat terdekat daripada semua anggota staff dan

penyumbang-penyumbang diluar staff dengan tidak pula meninggalkan unsur-unsur formal jabatan.

(44)

Pemimpin pendidikan harus menyadari bahwa kekuasaan, wewenang dan tanggungjawab yang ada padanya sebagian harus didelegasikan dan dipancarkan kepada anggota-anggota staff kerja juga mampu untu menerima dan

melaksanakan pendelegasian dan pemancaran kekuasaan, weenang, dan tanggungjawab agar proses kerja lembaga secara keseluruhan berjalan lancar efisien dan efektif.

Melalui delegation and sharing of autthority and responsibility yang tepat, serasi dan merata, moral kerja akan ikut terbina secara sehat, semangat kerja dan perasaan tanggungjawab akan terbangkit dan bertumbuh dengan subur. Melalui cara ini perkembangan pribadi dan jabatan staff akan terangsang untuk bertumbuh secara kontinyu, pemimpin dapt berkesempatan untuk mengetahui, menemukan dan selanjutnya membinan kader-kader pemimpin yang potensial dikalangan staffnya. Pembinaan kepemimpinan melalui latihan dalam bentuk delegasi dan pemencaran kekuasaan, wewenang dan tanggungajawab merupakan cara yang paling praktis disamping usaha-usaha pembinaan lainnya, bagi kepentingan kepemimpinan pendidikan yang lebih bermutu dimasa depan.

e. Prinsip Kefleksibelan organisasi dan Tata kerja

Organisasi kerja disusun dengan maksud mengatur kegiatan dan hubungan-hubungan kerja yang harmonis, efiseien dan efektfi. Kefleksibelan organisasi menjamin orgasnisasi dn tata kerja serta hubungan-hubungan kerja selalu sesuai dengan kenyataan-kenyataan dan problema-problkema baru yang slalu muncul dan berubah terus menerus. Harl R. Douglas menyatakan bahwa:

(45)

adjustment may be made from time to time in the matter of human relationship

as the occusion and developments may seen indicate”.

Jadi jelas bahwa prinsip fleksibilitas itu meupakan faktor penting dalm organisasi administrasi pendidikan yang demokratis. Dalam kebutuhan yang lebih luas fleksibilitas itu tidak hanya terbatas pada struktur organisasi,

hubungan-hubungan tata kerja, tetapi juga pada masalah-masalah dan hal-hal lain yang menyangkut kehidupan individu dan kelompok dalm lembaga kerja.

f. Prinsip Kreatifitas

Pertumbuhan dan perkembangan sesuatu lembaga pendidikan pengajaran disamping faktor material dan fasilitas lainnya, terutama tentang pertumbuhan dan perkembangan program dan aktivitas kerja, sebagian besar berakar pada kreativitaskerja pada setiap personil pimpinan dan pelaksana didalam lembaga itu. Untuk dapat menyesuaikan diri denga perubahan yang ada dimasyarakat, lembaga pendidikan harus menjadi lembaga lembaga kerja yang kreatif dan dinamis, dimana setiap anggota staff memiliki ide-ide, pikiran-piokiran dan konsep baru tentang prosedur, tata kerja dan metode-metode mendidik dan mengajaran yang lebih efektif.##

3. Implikasi Kepemimpinan pendidikan yang Demokratis

Didalam proses kegiatan pimpinan pendidik, pelaksanaan prinsip tersebut diatas bersifat saling melengkapi satu sama lainnya. Sehingga menghasilkan kesatuan tindakan yang harmonis serasi dan simultan.

(46)

makang” yang menyangkut orang-orang yang akan dipengaruhi, atau terlibat didalamnya.

Kepala sekolah bersama guru-guru dan staff sekolah lainnya, wakil siswa, wakil orang tua siswa serta wakil masyarakat lainnya berfikir dan bekerjasama didalam penetapan program umum sekolah. Jika pelaksanan program tersebut didukung oleh dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab bersama sesuai dengan fungsi dan kemampuan masing-masing maka akan tampak hasil yang sesuai dengan tujuan yang direncanakan bersama.

Dengan demikiann kepala sekolah, hendaknya melaksanakn prinsif-prinsif kepemimpiann yang demokratis pada setiap kegiatan-kegiatan dengan mengikut sertakan semua piahak yang berkepentingan atau mempunyai hubungan langsung dengannya. Prinsip itu hedaknya diterapkan secara sadar dan penuh kesungguhan, dimulai dari perencanann program sekolah, pelaksanan dan evaluasi terhadap hasil dan pelaksanan program itu sendiri.

Kerjasama yang yang terjalin antara semua pihak hendaknya dijaga sehingga terbina suasana yang harmonis, penuh persahabatan, persaudaraan serta hormat menghormati antara sesama. Inisiatif dan kreatifitas setiap anggota hedaknya dirangsang dan dibangkitkan sebaik-baiknya. Sekolah harus tumbuh menjadi satu lembaga kerjasama yang demokratis dan penuh dinamika.

(47)

Adanya gaya kepemimpinan kepala sekolah yang bermacam-macam tersebut diharapkan mampu sebagai agen perubahan dalam sekolah sehingga mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas

pengelolaan sekolah maka kepala sekolah sebagai pimpinan harus mempunyai kemampuan leadership yang baik. Kepemimpinan yang baik adalah kepala sekolah yang mampu dan dapat mengola semua sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.##

Dengan adanya tiga gaya kepemimpinan diatas yang memiliki perbedaan kelebihan masing-masing untuk diterapkan disekolah. Dimana gaya kepemimpinan otokrasi dapat diterapkan pada bawahan yang kurang berpengetahuan yang masih membutuhkan bimbingan secara langsung dan kontinyu. Gaya kepemimpina laissez faire dapat diterapkan pada sekolah yang bawahanya sudah mandiri dan dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan prosedural. Sedangkan gaya demokrasi sangat sesuai apabila di terapkan disekolah yang mengutamakan prinsip timbal balik dan saling memberikan manfaat bagi sesamanya.

Beberapa studi yang telah dilakukan menunjukkan adanya pengaruh pola asuh terhadap kualitas kepribadian anak. Coppersmith, menemukan bahwa anak yang diasuh dengan pola demokrasi memiliki harga diri yang tinggi, percaya diri padsa diri sendiri, tidak menonalak bila dilritik, mandiri dn optimis di dalam menghadapi persoalan.##

(48)

Sebaliknya anak-anak yang dididik denga pola otoriter memiliki harga diri yang rendah, pesimis, tidak suka dikritik, dipresif, dan tidak mandiri. Bila dikaitkan dengan sifat-sifat seseorang yang demokratis maka ciri-ciri seperti di atas akan membuat anak menjadi otoriter (anti demokrasi). Orang yang otoriter ingin menang sendiri, dia tidak siap untuk menerima kekalahan. Di dalam menghadapi perbedaan pendapat dia tidak bisa bersifat rasional. Walaupun pendapatnya jelas-jelas mempunyai kelemahan yang besar, teapi dia tidak mau menerima kekurangan tersebut. Selain itu mereka juga tidak memiliki kreatifitas yang tinggi..##

Bertolak pada pendekatan “behavior” (tingkah laku) bahwa variasi dan kombinasi tiap-tiap kepemimpinan itu terlihat dengan jelas pada teori-teori kepemimpinan sebagai berikut:

a) James Mac. Greger Burns, menyimpulkan dalam batasan kepemimpinannya-bahwa

sumber “power” untuk pemimpin itu dari si terpimpin/kelompok, walaupun pemimpin itu mempengaruhi kelompok tersebut. Selanjutnya pengaruh itu menciptakan interaksi pribadi di dalam kelompok, yang merupakan penampilan kelompok dalam mencapai tujuan yang telah disetujui bersama(J.M.G. Burns, 1972).

(49)

c) Teori “Ohio State University”, teori “Managerial Grid” dan teori Tiga Dimensi

menekankan pada perhatian terhadap hubungan antara yang dipimpin dan perhatian pada tugas atau tjuan yang akn dikerjakan atau yang akan dicapai. Dengan demikian gaya kepemimpinan yang efektif tergantung pada penyesuian terhadap hubungan antara kedua variabel diatas.

d) Paul Harsey dan Kenneth Blancahard (R. Owens, 1981). Teori ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang efektif, selain perhatian terhadap hubungan kedua variabel tersebut (perhatian terhadap hubungna orang dan tugas), juga si pemimpin hendaknya memperhitungkan situasw kematangan si pemimpin dalam rangka melakukan tugas yang akan diberikan. Justru situasi kematangan terpimpin itu akan menentukan titik poerteuan tentang gaya kepemimpina apa yang lebih efektif 3. Tugas Dan Fungsi kepala Madrasah

Menurut pandangan demokrasi kegiatan kepemimpinan pendidikan diwujudkan sedemikian rupa sehingga tugas-tugas pokok dapat terleasir. Adapun tugas-tugas kepemimpinan pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Membantu orang-orang di dalam masyarakat sekolah merumuskan tujuan-tujuan pendidikan.

2. Memperlancar proses belajar mengajar dengan mengembangkan pengajar yang lebih efektif.

3. Membentuk /membangun suatu unit beroganisasi yang produktif.

4. Menciptakan iklim dimana kepemimpinan pendidikan dapat bertumbuh dan berkembang.

(50)

Secara esensial keberadaan kepala sekolah memiliki dua fungsi utama bagi sekolah yang dikelolanya. Pertama, kepalas ekolah sebagai administrator. Dalam fungsi ini, kepala sekolah bertugas melaksankan fungsi-fungsi administrasi pendidiakan di sekolah. Dan tugas-tugas tersebut meliputi pengelolaan yang bersifat administratif dan operatif. Kedua, kepala sekolah sebagai educator. Dalam fungsi ini kepala sekolah bertugas melaksanakn fungsi-fungsi edukatif dalm pendidikan di sekolah.##

Aswarni Sudjud Dkk dalm buku “Administrasi pendidikan' menyebutkan bahwa fungsi kepala sekolah sebagai berikut:

5) Perumusan tujuan kerja dan membuat kebijaksanaan (policy) sekolah.

6) Mengatur tata kerja (mengorganisassikan) sekolah, mencakup : mengatur pembagian tugas dan wewenang, mengatur petugas pelaksana, menyelenggarakan kegiatan ( mengkoordinasi).

7) Pensupervisi, kegiatan sekolah, meliputi: mengatur kelancaran kegiatan, mengarahkan pelaksanaan kegiatan, mengevakuasi pelaksanaan kegiatan, membimbing dan meningkatan kemampuan pelaksanaan.##

Secara garis besar tugas dan fungsi kepala sekolah dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Sebagai Pendidik (edukator)

(51)

2) Kemampuan membimbing guru dalam melaksanakn tugas. Mampu memberikan alternatif pembelajaran yang efektif.

3) Kemampuan membimbinng karyawan dalam melaksanakan tugas sebagai tata usaha, pustakawan, laboratorium dan bendaharawan.

4) Kemampuan membimbing stafnya lebih berkembang secara pribadi dan profesinya.

5) kemampuan membimbing bernacam-macam kegiatan kesiswaan.

6) Kemampuan belajar mengikuti perkembangan IPTEK dalam forum diskusi, bahan referensi dan mengikuti perkembangan ilmu melalui media elektronika.

a. Sebagai Manajer

1) Kemampuan menyusun program secara sistematis, pereodik dan kemampuan melaksanakn program yang dibuatnya secara skala prioritas.

2) Kemampuan menyusun organisasi personal dengan uraian tugas sesuai dengan standar yang ada.

3) Kemampuan menggerakkan stfnya dan segala sumber daya yang ada serta lebih lanjut memberikan acuan yang dinamis dalam kegiatan rutin dan temporer.

a. Sebagai A dministrator

1) Kemampuan mengelola semua perangkat KBM secara sempurna dengan bukti data administrasi yang akurat.

(52)

ketentuan yang berlaku.

Sudrajat menambahkan bahwa fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin ada 5 yaitu:

1) Perencanaan sekolah dalam arti menetapkan arah sekolah sebagailembaga pendidikan dengan cara merumuskan viai, misi, tujuan dan srategi pencapaian.

2) Mengorganisasikan sekolah dalam arti membuat struktur organisasi (structuring), menetapkanstaff(staffing), dan menetapkan fungsi-fungsi dan tugas-tugas (funcitionalizing).

3) Menggerakkan staff dalam arti memotivasi staff melalaui “internal marketing” dan “memberi contoh ekternal marketing”.

4) Mengawasi dalam arti melakukan supervisi, mengendalikan, dan emmbeimbing semua staff dan warga sekolah.

5) Mengevaluasi proses dan hasil pendidikan untuk dijadikam dasar peningkatan dan pertumbuhan kualitas, serta melakukan problem” solving” baik secara analisis sistematis maupun pemecahan masalah secara kolitif, dan menghindarkan serta mengangulangi konflik.##

a. Sebagai Supervisor

4) Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan di lembaganya dan dapat melaksanakan dengan baik. Melaksanakan supervisi kelas secara berkala baik supervisi akademis maupun supervisi klinis.

(53)

6) Kemampuan memanfaatkan kinerja guru/ karyawaan untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan.

e. Sebagai Pemimpin (Leader)

1) Memiliki kepribadian yang kuat. Seagai seorang muslim yang taat beribadah, memelihara norma agama dengan baik dan jujur, percaya diri, dapat berkomunikasi dengan baik, tidak egois, bertindak dengan obyektif, penuh optimis, bertanggung jawab demi kemajuan dan perkembangan, berjiwa besar dan mendelegsikan sebsgsi tugas dan wewenang kepada orang lain.

2) Memahami semua persoalan yang memilikikondisi yangn berbeda begitu juga kondisi siswanya berbeda dengan yang lain.

3) Memiliki upaya untuk meningkatan kesejahteraan guru dna karyawan.

4) Mau mendengar kritik/ usul/ saran yang konstruktif dari semua pihak yangterkait dengan tugasnya baik dari staf, karyawan atau siswanya sendiri.

5) Memiliki visi dan misi yang jelas dari lembaga yang dipimpinnya. Visi dan misi terseebut disampaikan dalam pertemuan individual atau kelompok.

6) Kemampuan berkomunikasi dengan baik, mudah dimengerti teratur sistesis kepada semua pihak.

7) Kemampuan mengambil keputusan bersama secara musyawarah

(54)

a. Sebagai inovator

7) Memiliki gagasan baru untuk inovasi kemajuan dan perkembangan sekolah.. Maupaun memilih yang relevan untuk kebutuhan lembaganya. 8) Kemampuan mengimplimentasikan ide yang baru tersebut dengan baik.

Ide atau gagasan tersebut berdampak positif kearah kemajuan. Gagasan tersebut dapat berupa pengembangan kegiatan KBM, peningkatan perolehan NEM Ebtanas, penggalian dan operasional, peningkatan prestasi siswa melalui kegiatan ekstrakulikurel dan sebagainya.

9) Kemampuan mengatur lingkungan kerja sehingga lebih kondusif (pengaturan tata ruang kantor, kelas, perpustakaan, halaman, interior, musholla). Dengan lingkungan kerja yang baik mendorong kearah semangat kerja yang baik. Lebih kondusif untuk belajar bagi siswa dan kondusif bagai guru/ karyawan.

Dalam memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah merupakn kunci keberhasilan yang harus menaruh perhatian tentang apa yang dipikirkan orang tua dan masyarakat tentang sekolah. Kepala sekolah profesional tidak saja dituntut untuk melaksanakan berbagai tugasnya di sekolah, tetapi ia juga harus mampu menjalin hubungan/ kerja sama dengan masyarakat dalam rangka membina pribadi peserta didik secara optimal.##

B. Motivasi Belajar

(55)

Motivasi adalah suatu perubahan energi yang berciri timbulnya suatu perasaan yang didahului oleh reaksi-reaksi yang ingin mencapai tujuan. Oleh karena manusia selalu berusaha mencapai tujuan.

Menurut Mc. Donald, “Motivation is a energy change within person

characterized by affective and anticipatory goal reactions” Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Perumusan ini mempunyai tiga unsur yang saling berkaitan sebagai berikut:

a. Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi.

Perubahan-perubahan dalam moivsi timbul dari perubahan-perubahan tertentu didalam sistem neurofisiologi dalam organisme manusia, misalnya adanya

perubahan dalam sisitewm pencerenaan akan menimbulkan motif lapar. Akan tetapi ada perubahan energi yang tidak diketahui.

b. Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal). Mula-mula meupakan ketegangan psikologi, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kealkuan yang bermotif.

c. Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermotivasi mengadakn respon-respon yang tertuju kearah suatu tujuan. Respon-respon itu berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya.##

(56)

dimaksud.##

Menurut Woodworth dan Marques motif adalah suatu tujuan jiwa yang

mendorong individu untuk aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan terhadap situasi disekitarnya.##

Sedangkan J.P Chaplin memberiakn pengertian motivasi adalah: mendorong untuk berbuat sesuatu atau bereaksi, menjalankan tugas sebagi intensif atau sebagi tujuan, satu keadaan ketegangan di dalam individu, yang membangkitkan, memelihara dan mengarahkan tingkah laku menuju pada satu tujuan atau sasaran, alasan yang disadari, yang diberikan individu bagi tingkah lakunya.##

Sedangkan menurut Creto, bahwa motivasi merupakan suatu bagian dalm pribadi seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan pekerjaan atau tindakan tertentu dengan cara tertentu dengan dua unsur, yaitu unsur kebutuahn secara hakiki dan unsur dorongan. Dimana kebutuha menurut Creto suatu hal yang biologis dimiliki manusia yang cenderung nafsu, sedangkan dorongan adalah sessuatu dari akal yang berfungsi sebagai petunjuk untuk mencapai tujuan atau kebutuhan-kebutuhan di inginkan, baik kebutuhan psikis maupun fisik.##

Motivasi penting bagi proses belajar mengajar, karena motivasi menggerakkan organisme, mengarahkan, tindakan serta memilih tujuan belajar yang di rasa paling berguna bagi kehidupan individu.##

Pentingnya motivasi di sekolah dan tuntutan kepala sekolah serta komponennya untuk merealisasikan motivasi di sekolah dengan rancangan dan pedoman motivasi yang sangat mudah dipahami dan dipraktekkan oleh semua komponen sekolah,

(57)

bentuk-bentuk motivasi di sekolah sebagai berikut:

1. Memberikn hadiah adalah bentuk motivasi yang diberikan pada seseorang yang mampunyai prestasi lebih dari yang lainnya, hadiah sendiri bermacam-macam mulai dari pemberian jasa, uang, pangkat dan lain-lain.

2. Pujian adalah salah satu bentuk motivasi yang memberikan dorongan atas prestasi yang diberikan kepala sekolah, sekaligus sebagai penambah gairah belajar.##

Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Perannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.##

Banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seorang siswa mendapatkan motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil yang semula tidak terduga.##

Motivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa, karena fungsinya yang mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar.##

dalam diri yang bersangkutan yang memberikan kekuatan (daya) untuk bertingkah laku (berbuat sesuatu) guna mencapai tujuan yang dimaksud.##

Belajar adalah suatu aktivitas yang menuju kearah tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan itu perlu adanya faktor-faktor yang perlu diperhatikan, misalnya saja faktor bimbingan.##

Berapa para ahli mendefinisikan belajar sebagai berikut:

1. Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning mengemukakan :

(58)

tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat)

2. Gagne, dalam bukunya The Conditions of Learning menyatakan bahwa: “Belajar terjadi apabila sesuatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan

mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehinggga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu kewaktu sesudah ia mengalami situasi tadi”

3. Morgan, dalam buku Intruducition to Psychology mengemukakan:

“Belajar adalah setiap pereubahan yang reatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman”.

4. Witherington, dalam buku Educational Psyschology mengemukakan“

Belajar adalah siatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai sutau pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan,

kepandaian, atau suatu pengertian.”## 3. Macam-macam Motivasi

Di lihat dari dasar pembentukannya motivasi ada dua macam, yaitu: 7. Motif-motif bawaan.

Gambar

TABEL I
TABEL  IISARANA DAN PRASARANA MAN KOTA BLITAR

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan informasi dari paragraf  s/d , carilah kata yang sama artinya dengan kata-kata di..

Artinya konsumen atau pelanggan kartu prabayar Tri di Kelurahan Wawalintouan menganggap harga sebagai salah satu pertimbangan utama untuk menggunakan kartu prabayar Tri

Berdasarkan hasil uji simultan bahwa variabel bebas yang meliputi kepuasan yaitu Bentuk Fisik, Kehandalan , Daya Tanggap , Jaminan, Empati secara bersama sama mempunyai

Apotek Jombang Sari adalah sebuah apotek yang bergerak dalam bidang Penjualan Obat yang berlokasi di Jl. Jombang Raya No. Pada Apotek Jombang Sari, semua informasi penjualan obat

Berdasarkan analisis terhadap berbagai pendapat tentang hak asasi manusia tersebut, penulis memahami bahwa secara istilah hak asasi manusia merupakan hak-hak pokok yang

Hasil penelitian ini menunjukkan siswa kelas X MAN 2 Kudus pada tahun akademik 2013/2014 memiliki komposisi yang baik dalam menggunakan ciri-ciri kebahasaan

Hasil penelitian Nurfitriana (2016) yang berjudul “Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Tahun Pertama di Fakultas Psikologi Universitas Muhamma diyah Surakarta”, menemukan

Penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan