• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penciptaan Budaya Religius di Sekolah Um

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penciptaan Budaya Religius di Sekolah Um"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 1

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang dan Ruang Lingkup Kajian ... 2 2. Rumusan Masalah ... 4

B. Pembahasan

1. Landasan Pelaksanaan Program Penciptaan Budaya Religius di Sekolah... 5 2. Rancangan Pengembangan Program Penciptaan Budaya Religius di Sekolah... 6

C. Simpulan ... 11

Daftar Rujukan ... 12

(2)

(Mata Kuliah : Pendidikan Islam)

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A. dan Dr. H. Agus Maimun, M.Pd. Oleh :

DEDI NOVIYANTO

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dilihat dari sejarahnya, Pendidikan Agama sejak Indonesia merdeka tahun 1945 telah diajarkan di sekolah-sekolah negeri. Pada masa kabinet RI pertama tahun 1945, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama Ki Hajar Dewantara telah mengirimkan surat edaran ke daerah-daerah yang isinya menyatakan bahwa pelajaran budi pekerti yang telah ada pada masa penjajahan Jepang tetap diperkenankan dan diganti namanya menjadi pelajaran Agama. 1 Pada saat tersebut, pendidikan agama belum wajib

diberikan pada sekolah-sekolah umum, namun bersifat sukarela/fakultatif, dan tidak menjadi penentu kenaikan/kelulusan peserta didik.

Pendidikan Agama berstatus mata pelajaran pokok di sekolah-sekolah umum mulai SD sampai dengan Perguruan Tinggi berdasarkan TAP MPRS nomor XXVII/MPRS/1966 Bab I Pasal I yang berbunyi:”Menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Universitas-Universitas Negeri”. Peraturan ini keluar dengan tanpa protes, setelah pembubaran PKI 2.

Pelaksanaan Pendidikan Agama pada umumnya serta Pendidikan Agama Islam pada khususnya di sekolah-sekolah umum tersebut semakin kokoh oleh berbagai terbitnya perundang-undangan selanjutnya, hingga lahirnya UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang lebih menjamin pemenuhan pendidikan agama kepada peserta didik. 3 Dan diikuti dengan lahirnya peraturan-peraturan selanjutnya sampai dengan terbitnya

1 Muhammad Kholid Fathoni, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), hal 37 2ibid, hal 37

3 Ketika UU nomor 20 Tahun 2003 akan disahkan, banyak sekali protes yang diluncurkan, terutama berkenaan

dengan pasal 12 ayat 1(a) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:

mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang

seagama. Keberatan terutama disuarakan oleh para pengelola pendidikan swasta (Katolik/Kristen) dengan

(3)

Peraturan Menteri Agama RI Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama Pada Sekolah.

Di dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah umum, mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA/SMK, banyak sekali problematika yang muncul. Baik itu dari segi komponen kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, peserta didik, sarana prasarana, keuangan dan kehumasan. Terutama apabila kita kaitkan, bahwa sekolah umum memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan sekolah yang berbasis agama. Apabila di sekolah berbasis agama memiliki basis tradisi keagamaan yang kuat, sehingga pembinaan PAI relatif tidak memiliki banyak hambatan, maka sekolah umum tidak mempunyai modal tersebut. Untuk itu perlu untuk disusun sebuah program pembudayaan religius di sekolah umum

Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah

(school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat.

Menurut Deal dan Peterson sebagaimana dikutip oleh Muhaimin4, budaya sekolah

adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.

Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak.

Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (Religius), sehingga akan mendukung pelaksanaan PAI yang di dalam struktur kurikulum 2013 diajarkan di sekolah antara tiga sampai empat jam pelajaran per minggunya. Kompetensi inti yang ada pada setiap mata pelajaran, khususnya kompetensi inti pertama tidak akan dapat dikuasai oleh siswa tanpa adanya penciptaan budaya religius di sekolah.

(4)

2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan pertanyaan sebagai berikut:

a. Apa saja landasan pelaksanaan program penciptaan budaya religius di sekolah? b. Bagaimanakah pelaksanaan penciptaan budaya religius di sekolah umum?

B. PEMBAHASAN

1. Landasan Pelaksanaan Program Penciptaan Budaya Religius di Sekolah Umum

Dalam QS al-A’raf: 172 dinyatakan bahwa fitrah agama telah tertanam dalam jiwa manusia sejak dari alam arwah dahulu. Pada waktu itu, Allah bertanya kepada arwah manusia:”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Kemudian arwah manusia menjawab:”Benar, kami telah menyaksikan.” (QS al-A’raf:172)

(5)

sebuah keharusan untuk dapat menjaga dan mengembangkan fitrah siswa yang dididik agar dapat beragama dengan baik. Beragama dengan baik tidak berarti hanya melaksanakan ibadah secara baik, namun juga mengandung pengertian bahwa seorang siswa dapat melaksanakan ruh atau intisari beragama dalam kehidupan bermasyarakat.

Sedangkan pijakan hukum dalam melaksanakan program pengembangan PAI dan penciptaan budaya religius di sekolah adalah :

a. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab V Pasal 12 ayat 1(a) 5

b. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V tentang Standar Kompetensi Lulusan

c. Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan6

d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah f. Peraturan Menteri Agama RI Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan

Pendidikan Agama pada Sekolah

Beberapa aturan hukum di atas merupakan bekal bagi para pengelola Pendidikan Agama Islam (PAI) pada khususnya di dalam melakukan pengembangan pada sekolah-sekolah umum. Dengan adanya payung hukum yang jelas, maka jelas tidak lagi terdapat hambatan-hambatan yang bersifat mendasar.7

5 Yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: mendapatkan pendidikan

agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.

6 Berkenaan dengan hak-hak peserta didik, terdapat pada Bab II pasal 4

7 Namun di segi praktis, masih terdapat sekolah-sekolah umum yang tidak melaksanakan pendidikan agama

sesuai dengan aturan yang ada. Di kota Malang, sampai pada tahun pelajaran 2010/2011 terdapat beberapa

sekolah umum yang tidak melaksanakan pendiidkan agama sesuai dengan agama peserta didik, misalnya di

sekolah-sekolah berbasis Katolik, siswa-siswa non Katolik termasuk muslim diharuskan mengikuti Pendidikan

Agama Katolik dengan alasan mempertahankan ciri khas sekolah, dan sebaliknya SMA Widya Gama yang

merupakan sekolah umum tanpa basis agama tertentu, tetapi hanya melaksanakan Pendidikan Agama Islam di

(6)

2. Pelaksanaan Penciptaan Budaya Religius di Sekolah

Setiap agama maupun kepercayaan di dunia ini senantiasa memposisikan dirinya sebagai suatu tatanan yang mulia dan sempurna yang menjiwai segala aktifitas kehidupan pemeluknya. Untuk itu maka sebuah keniscayaan apabila kemudian para penganut agama-agama tersebut untuk mengintegrasikan agama-agama kepada lembaga pendidikan yang mereka kelola dengan memasukkan simbol-simbol keagamaannya di dalam lembaga pendidikan mereka masing-masing. Hal tersebut tidak menjadi masalah bahkan merupakan suatu keharusan ketika diberlakukan di lembaga pendidikan keagamaan8 yang memang pada

dasarnya mencetak para rohaniwan maupun cendekiawan agama. Namun tentunya hal tersebut berbeda ketika diterapkan di sekolah-sekolah umum yang pembinaannya di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, sedangkan pembinaan pendidikan agamanya berada di bawah Kementerian Agama.

Netralitas sekolah-sekolah umum mengacu kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam teori, hal tersebut merupakan benteng untuk menjaga keberlangsungan netralitas lembaga pendidikan untuk melaksanakan pendidikan kepada peserta didik dengan berbagai latar belakang agama maupun budaya.

Pengelolaan pendidikan yang baik sebenarnya adalah pendidikan yang dapat memanfaatkan potensi budaya yang tumbuh dan berkembang di Indonesia yang duhuni oleh berbagai macam suku, agama, dan adat istiadat yang snagat berbeda satu sama lain, maka seberagam itu pula pola pendidikan yang mereka kembangkan. Atas dasar ini konstitusi dan UU Sisdiknas mengamanatkan perlunya penyelenggaraan pendidikan di masyarakat, akan tetapi berada dalam satu payung pengelolaan yang bernama “Sitem Pendidikan Nasional”

Pada sisi lain, tujuan pendidikan agama atau Pendidikan Agama Islam pada khususnya juga dipertanyatakan. Masyarakat mengaharapkan agar pendidikan agama selain mengajarkan ibadah kepada peserta didik, juga diharapkan dapat membangun moral peserta

tersebut juga tidak menerima guru-guru Pendidikan Agama yang ditugaskan oleh pemerintah, dengan

alasan-alasan tertentu.

8 Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan

peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan

mengamalkan ajaran agamanya (lihat PP Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan Bab

(7)

didik. Sampai ada beberapa pendapat yang menyarankan agar pendidikan agama lebih ditekankan pada masalah moralitas saja. Bagi yang mengikuti hasil pemikiran Fazlur Rahman, hal itu tidak asing lagi, sebagaimana dikutip oleh A Qodriy A Azizy9;

“We have repeatedly emphasized taht the basic elan of the Qur’an is moral and we have pointed to teh ideas of social and economic justice taht immediately followed from in in the Qur’an”

Masalah ibadah, dikarenakan masalah kemajemukan disarankan agar diserahkan kepada keluarga saja. Namun apa sebenarnya yang melatarbelakangi beberapa kelemahan Pendidikan Agama Islam tersebut? Apabila kita lihat fakta di lapangan, maka bermuara kepada dua hal pokok, yaitu soal keterbatasan waktu dan metode pembelajaran.

Dalam kondisi demikian, maka sikap peserta didik akan beraneka ragam, misalnya : a. Peserta didik akan menjalankan ajaran agama dengan konsekuen, tetapi di satu

sisi ia tetap menghormati segala perbedaan yang ada tanpa kehilangan jati dirinya sebagai seorang yang berpegang teguh kepada agama yang ia anut. Kondisi ini dapat terjadi pada peserta didik yang mendapatkan pengalaman belajar Pendidikan Agama Islam dengan nuansa multikultural di sekolahnya. b. Peserta didik akan menjadi manusia agamis yang terkungkung, karena seluruh

ajaran agama yang diterimanya berlawanan dengan lingkungan tempat dia tinggal sehari-hari. Apalagi bila di sekolah dia menerima pengajaran agama yang tidak mengajarkan pluralitas dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini bisa terjadi pada sekolah-sekolah yang berbasis agama tertentu.

c. Peserta didik menjalankan ajaran agama, tetapi secara bercampur baur, saleh spritualitas di sisi lain, namun menjalani juga corak kehidupan yang berlawanan dengan ajaran agama yang ia dapatkan di sekolah.

d. Peserta didik akan mengabaikan ajaran agama yang diterimanya sama sekali, karena ia kalah dengan lingkungannya. Apa yang ia dapatkan di skeolah, amat sangat jauh bertolak belakang dengan keadaan yang ada di lingkungannya. Yang terakhir ini mengikuti Pendidikan Agama Islam hanya sekedar memenuhi kewajiban akademis belaka dan tidak untuk memperbaiki corak kehidupannya sama sekali.

Untuk itu perlu dibangun sebuah lingkungan yang mendukung pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, sehingga peserta didik dapat meyakini dan menjalankan ajaran

(8)

agama dengan benar dan konsisten, serta di sisi lain ia tetap dapat menghormati perbedaan yang ada. Tentunya dengan memperhatikan tingkat atau jenjang sekolah peserta didik. Antara peserta didik di tingkat dasar tentunya harus dibedakan pendekatannya dengan peserta didik yang berada di tingkat menengah. Jangan sampai dengan tujuan untuk mengembangkan budaya religius di sekolah, kemudian terjebak dengan pengabaian terhadap penanaman aqidah terhadap siswa muslim itu sendiri yang berjumlah mayoritas di sekolah. Hal itu akan berakibat munculnya sikap agnostik yang tentu saja bukan harapan kita sebagai pelaksana Pendidikan Agama Islam.

Di sekolah-sekolah umum model-model penciptaan suasana religius dapat diterapkan dengan model-model sebagai berikut :10

a. Model Struktural.

Penciptaan suasana religius yang disemanagati oleh adanya peraturan-peraturan, pembangunan kesan, baik dari dunia luar atau kebijakan suatu lembaga pendidikan dan organisasi.

Contoh dari hal ini sebagaimana pembiasaan pembacaan Asmaul Husna di sekolah-sekolah negeri di kota Malang sejak tahun 2010. Kegiatan tersebut merupakan kebijakan dari Walikota Malang melalui Dinas Pendidikan.

b. Model Formal.

Penciptaan suasana religius yang didasari atas pemahaman bahwa pendidikan agama adalah upaya manusia untuk mengajarkan masalah-masalah kehidupan akherat saja. Model ini akan berhadapan dengan dikotomi agama non agama, pendidikan keislaman dan non keislaman.

c. Model mekanik.

Penciptaan suasana religius yang didasari oleh pemahaman bahwa kehidupan terdiri atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya. Pada model ini, kegiatan dan kajian keagamaan hanya untuk pendalaman agama dan kegiatan spiritual. Religious culture dalam konteks ini berarti pembudayaan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan di sekolah dan di masyarakat, yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama Islam yang diperoleh siswa dari hasil pembelajaran di sekolah, agar menjadi bagian yang menyatu dalam perilaku siswa sehari-hari dalam lingkungan sekolah

(9)

atau masyarakat. Bentuk kegiatan pengamalan budaya agama Islam di sekolah, di antaranya adalah; membiasakan salam, membiasakan berdoa, membaca al-Qur’an sebelum pelajaran dimulai, membiasakan kultum, membiasakan shalat dhuha, shalat dhuhur berjamaah, dzikir setelah shalat, menyelenggarakan PHBI, menyantuni anak yatim, acara halal bi halal, dan sebagainya.

d. Model Organik

Penciptaan suasana religius yang disemangati oleh adanya pandangan bahwa pendidikan agama adalah kesatuan atau sebagai sistem yang tak terpisahkan satu sama lain. Model pengembangan budaya religius ini berimplikasi terhadap pengembangan pendidikan agama yang dibangun dari nilai-nilai fundamental yang berasal dari al-Quran dan al-Sunnah. Model ini sangat cocok bila diterapkan pada sekolah-sekolah yang berbasis dari komunitas yang homogen.

Sasaran pengamalan budaya agama Islam (religious culture) adalah siswa dan seluruh komunitas sekolah meliputi kepala sekolah, guru pendidikan agama Islam, guru mata pelajaran umum, pegawai sekolah, dan komite sekolah. Dalam pelaksanaannya program pengamalan budaya agama Islam di sekolah di bawah tanggung jawab kepala sekolah yang secara teknis dibantu oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan guru pendidikan agama Islam. Sedangkan pelaksanaannya adalah semua warga sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa).

Pelaksanaan pengamalan budaya agama Islam di sekolah tidak akan berjalan dengan baik jika tanpa dukungan dan komitmen dari segenap pihak, di antaranya adalah pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama atau Pemerintah Daerah, kebijakan kepala sekolah, guru pendidikan agama Islam, guru mata pelajaran umum, pegawai sekolah, komite sekolah, dukungan siswa (OSIS/ROHIS), lembaga dan ormas keagaman serta partisipasi masyarakat luas. Jika semua elemen ini dapat bersama-sama mendukung dan terlibat dalam pelaksanaan pengamalan budaya agama di sekolah maka bukan suatu yang mustahil hal ini akan terwujud dan sukses.

(10)

nyaman dan memadai, alat dan peralatan seni Islam, ruang multimedia, lab komputer, internet serta laboratorium PAI.

C. SIMPULAN

Dari sekelumit pemaparan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Pemerintah telah menyediakan payung-payung hukum untuk mendukung

pelaksanaan penciptaan budaya religius di sekolah. Maka tidak lagi ada keraguan bagi kita sebagai praktisi PAI untuk berperan aktif dalam memprogram, dan melaksanakannya.

2. Penciptaan budaya religius di sekolah dapat dilaksanakan baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

3. Penciptaan budaya religius di sekolah harus diperkuat, khususnya menghadapi isiu-isu pendangkalan akidah dan moral yang saat ini terasa sekali di tengaah-tengah masyarakat kita.

باوصلااب ملعأ هللاو

)

(11)

DAFTAR RUJUKAN

A. Qodri A. Aziziy, 2002, Pendidikan (Agama) untuk Membangun Etikas Sosial, Semarang: PT Aneka Ilmu

Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, 2006, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Kencana Prenada Media

Ahmad Tafsir, 2006, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Muhaimin, 2009, Rekonstruksi Pendidikan Islam, Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: PT Raa

Grafindo Persada.

Muhaimin, 2008, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Aama Islam di Sekolah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhammad Kholid Fathoni, 2005, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma

baru), Jakarta:Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam – Departemen Agama

Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, 2006, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam – Departemen Agama RI

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Budaya Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) kegiatan yang menunjang internalisasi nilai-nilai agama yang dilaksanakan untuk memperingati hari-hari besar Islam. Budaya salat

MTs Islam Azizi Medan sebagai lembaga pendidikan formal dalam menjalankan perannya tidak berjalan sendiri, melainkan mendapat dukungan dari berbagai pihak di

Pengembangan Budaya religius di dalam sekolah/madrasah dapat dilakukan dengan pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model organism/sistemik,

Komitmen kerja guru yang berkualitas dapat di tentukan oleh banyaknya faktor, di antaranya adalah bagaimana budaya organisasi di dalam madrasah, komitmen para pemangku

(6) Ada pengaruh yang signifikan anatara keteladanan Guru Pendidikan Agama Islam dan budaya religius sekolah dengan karakter peserta didik di SMP Negeri 1 Rejotangan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1 Bentuk budaya religius yang diterapkan di SMA Negeri 5 Pinrang dapat dikatakan berjalan namun yang diterapkan hanya beberapa kegiatan saja

Ag Kata Kunci: Upaya Guru PAI, Budaya Religius, Perilaku Siswa Guru pendidikan agama Islam di sekolah pada dasarnya melakukan kegiatan pendidikan Islam yaitu sebagai upaya normatif

BUDAYA RELIGIUS DI SMA NEGERI 2 KOTA KEDIRI DALAM MEMBENTUK KARAKTER KEBERAGAMAAN SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Sarjana Pendidikan Agama Islam S..