Kenampakan Pedologi Tanah Sawah Yang Ber

21 

Teks penuh

(1)

PENGOLAHAN TANAH SAWAH

LAPORAN PRAKTIKUM

Oleh : Kelompok 6

1. Ani Domiah (141510601167) 2. Lilik Laeliyah (141510601019) 3. Lingga Mareta Hadi (141510601061) 4. Nuril Muyassaroh (141510601108) 5. M. Syauqi Hasbi (141510601147)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(2)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai negara agraris, sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian. Oleh karena itu, jumlah lahan pertanian yang ada di negara yang juga disebut sebagai negara maritim tersebut cukup luas. Agar dapat berfungsi secara optimal, lahan-lahan pertanian tersebut tentunya membutuhkan suatu pengolahan sebagai tempat tumbuh tanaman. salah satu lahan pertanian yang membutuhkan pengolahan adalah lahan sawah. Lahan sawah merupakan lahan yang sangat penting untuk dilakukan pengolahan sebab lahan tersebut merupakan lahan utama dalam melakukan pembudidayaan tanaman padi dimana tanaman padi akan menghasilkan beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia.

Untuk keperluan menanam padi, lahan sawah harus mampu untuk menyangga genangan air sebab tanaman padi sangat memerlukan penggenangan air pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Oleh sebab itu, diperlukan sistem irigasi yang sesuai dengan tempat lahan sawah tersebut berada. Apabila sawah tersebt berada di daerah yang tingkat kemiringannya tinggi, maka sawah tersebut dibuat berteras atau lebih dikenal dengan terasering untuk menghindari erosi dan menahan air. Sawah terasering banyak ditemukan di lereng bukit atau gunung di pulau Jawa dan Bali.

(3)

Terdapat beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam kegiatan pengolahan tanah yaitu karakteristik tanah terutama sifat fisik tanah, topografi, vegetasi, sebaran bebatuan di permukaan tanah, tanaman yang akan dibudidayakan, serta kadar air tanah. Pengolahan tanah harus memperhatikan keenam aspek tersebut agar pengolahan dapat berjalan dengan optimal. Pengolahan tanah yang optimal tenu akan memperlancar kegiatan produktivitas padi selanjutnya.

Pengolahan tanah sawah terbagi menjadi 2 yaitu pengolahan tanah untuk pesemaian dan pengolahan tanah untuk pertanaman padi. Pengolahan untuk pesemaian dibedakan menjadi dua yaitu pesemaian basah dan kering dimana yang membedakan adalah kondisi tanah dalam pesemaian tersebut. Sedangkan pengolahan untu pertanaman padi dilakukan dengan dua macam cara yaitu tradisional dan modern. Pengolahan dengan cara tradisional dilakukan dengan menggunakan peralatan pertanian sederhana seperti cangkul, sabit, bajak, serta garu yang semuanya itu dilakukan oleh tenaga manusia atau hewan. Berbeda dengan cara tradisional, pengolahan tanah yang modern dilakukan dengan mesin traktor dan peralatan pengolahan tanah yang lain. Tahapan pengerjaan pengolahan tanah yang basah terdiri dari pembersihan, perbaikan saluran dan galengan, pencangkulan, pembajakan, serta penggaruan. Semua tahapan tersebut harus dilakukan secara berurutan dalam rangka memperoleh tanah sawah yang baik dan berkualitas sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi.

1.2 Tujuan

(4)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Lahan yang berkualitas dicirikan oleh kemampuan lahan di dalam menghasilkan produk pertanian dan dapat mempertahankan lingkungan dari kerusakan. Kualitas lahan bergantung dari sifat-sifat tanahnya dan proses-proses yang terjadi dalam tanah tersebut. Sifat-sifat tanah yang penting adalah struktur tanah, kandungan bahan organik tanah, kemampuan tanah dalam menyediakan air serta unsur hara yang cukup dan seimbang bagi tanaman, aerasi, laju dan besarnya transformasi siklus unsur hara. Proses-proses yang terjadi di dalam tanah dalam kaitannya dengan kualitas lahan adalah : aliran permukaan/erosi, pencucian bahan koloid, tanah, serta pengeringan dan pembasahan. Penurunan kualitas tanah akan mempengaruhi daya dukung tanah (Arsyad dan Rustiadi, 2008).

Tanah adalah lapisan atas bumi yang merupakan campuran dari pelapukan batuan dan jasad makhluk hidup yang telah mati dan membusuk, akibat pengaruh cuaca, jasad makhluk hidup tadi menjadi lapuk, mineral-mineralnya terurai (terlepas), dan kemudian membentuk tanah yang subur. Tipe penggunaan lahan sangat peting bagi semua jenis tanah untuk menjaga kesuburan tanah. Tanah sawah berbeda dengan tanah lahan kering. Ciri utama tanah sawah adalah identik dengan genangan air dalam waktu yang lama. Perubahan kimia yang disebabkan oleh penggenangan tanah sawah sangat mempengaruhi dinamika dan ketersediaan hara padi (Saridevi, 2013).

Menurut Balai Penelitian tanah (2003); Boix and Zinck (2008); Ferdinan et al (2013) dalam Tufaila dan Alam (2014), Tanah memiliki sifat yang bervariasi, yaitu terdiri dari sifat fisik, kimia dan biologi. Dengan bervariasinya sifat-sifat tersebut, maka tingkat kesuburan pada berbagai jenis tanah berbeda-beda pula, karena kesuburan suatu tanah tergantung pada sifat-sifat tersebut. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman mengenai karakteristik tanah sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan potensinya.

(5)

pengolahan tersebut, tanah bisa dipupuk dengan pupuk organik, sebab bahan organik tersebut dapat menambah kesuburan tanah tersebut dan dapat mengikat air dengan membantu tanah menahan air hujan sehingga air pada musim kemarau dapat bertahan lama. Pengolahan tanah dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot kering akar, dan bobot kering jerami.

Pengolahan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan usaha untuk meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi masukan produksi dengan memperhatikan sumber daya alam secara bijak. Tingkat adopsi pengolahan tanah dalam PTT, yaitu 2 kali bajak dan 1 kali garu mendapatkan nilai yang tergolong sangat tinggi (4,45). Hal ini menunjukkan tingginya pemahaman petani akan pentingnya pengolahan tanah untuk mendapatkan media tumbuh tanaman yang baik seperti pelumpuran tanah yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman, sehingga penerapan pengolahan tanah yang baik menjadi hal yang sangat penting dilakukan (Maryani dkk., 2014).

Menurut Utomo (1985) dalam Bokings dkk (2013), adanya vegetasi pada lahan membantu pembentukan agrerat tanahyang mantap dan menciptakan struktur tanah yang lebih baik sehingga akan menciptakan struktur tanah yang lebih baik sehingga akan menciptakan agrerat-agrerat yang stabil. Menurut Effendi (2008) dalam Bokings dkk (2013), struktur tanah dapat menaikkan laju permeabilitas tanah. Semakin banyak ruang antar struktur, maka semakin cepat juga permeabilitas dalam tanah tersebut. Misalnya tanah yang berstruktur lempeng akan sulit di tembus oleh air dari pada berstruktur remah. Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah. Secara garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan makin rendah koefisien permeabilitasnya.

(6)

yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah yang efektif juga harus memperhatikan jenis tanah yang diolah sehingga tahapan pengolahan bisa berjalan optimal (Intara dkk., 2011).

Pengolahan padi sawah yang baik dilakukan tidak kurang dari 4 minggu sebelum penanaman. Pengolahan tanah terdiri dari pembajakan, garu, dan perataan. Sebelum diolah, lahan digenangiair terlebih dahulusekitar 7 hari. Pada tanah ringan pengolahan tanah cukup dengan 1 kali bajak dan 2 kali garu, lalu dilakukan perataan. Pada tanah berat, pengolahan tanah terdiri dari 2 kali bajak dan 2 kali garu, kemudian diratakan. Kedalaman lapisan olah berkisar 15-20 cm. Tujuannya untuk memberikan media pertumbuhan padi yang optimal dan gulma dapat dibenamkan dengan sempurna (Purwono dan Purnamawati, 2007).

Menurut Bray (1986) dalam Agus dkk (2004), penanaman padi sawah secara tradisional sangat berhasil melestarikan produktivitas lahan. Selama beribu-ribu tahun sistem padi sawah telah berhasil mempertahankan tingkat hasil padi yang moderat tetapi stabil tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. Hal ini terjadi karena penggenangan meningkatkan kesuburan tanah dan produksi padi dengan jalan: (1) menaikkan pH tanah mendekati netral; (2) meningkatkan ketersediaan hara, terutama P dan Fe; (3) memperlambat perombakan bahan organik tanah; (4) menguntungkan penambatan N2; (5) menekan timbulnya penyakit terbawa tanah; (6) memasok hara melalui air irigasi; (7) menghambat pertumbuhan gulma tipe C4; dan (8) mencegah perkolasi air dan erosi tanah.

(7)

BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum acara “ Pengolahan Tanah Sawah ” dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 28 Maret 2015 pukul 07.00 – 10.00 WIB di Agrotechnopark Jubung.

3.2 Bahan dan Alat 3.2.1 Bahan

3.2.2 Alat 1. Sabit 2. Cangkul 3. Traktor

4. Alat Penunjang Kegiatan Praktikum Lainnya

3.3 Cara Kerja

1. Membersihkan areal persawahan dari sisa jerami atau rumput. 2. Memperbaiki dan memeriksa kembali saluran air serta galengan. 3. Melakukan pembajakan sawah dengan menggunakan hand tractor.

4. Mengolah bagian sawah yang tidak terjangkau dengan hand tractor menggunakan cangkul.

5. Menjalankan traktor sesuai dengan pola atau alur yang ditentukan.

(8)

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

PEKERJAAN PENGOLAHAN TANAH 1 Pembersihan Petak Sawah

1 1 Tahap Pekerjaan:

2 Pengamatan hasil:

3 Keterangan:

2 Perbaikan Saluran dan Galengan 1 Tahap Pekerjaan:

2 Pengamatan hasil:

3 Keterangan:

3 Pencangkulan

1 Tahap Pekerjaan:

2 Pengamatan hasil:

3 Keterangan:

4 Pembajakan

1 Tahap Pekerjaan:

2 Pengamatan hasil:

3 Keterangan:

5 Penggaruan

1 Tahap Pekerjaan:

2 Pengamatan hasil:

3 Keterangan:

4.2 Pembahasan

(9)

sedemikian rupa sehingga bisa dimanfaatkan secara optimal untuk produktivitas padi. Pengolahan tanah penting untuk dilakukan dalam usaha budidaya tanaman karena memiliki beberapa tujuan yang dapat mendukung produktivitas padi. Mengolah tanah merupakan salah satu kompetensi yang harus dilakukan dalam kegiatan usaha budidaya pertanian. Kegiatan pengolahan tanah merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam suatu budidaya tanaman yang bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam, baik secara fisis, kemis dan biologis, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah terutama akan memperbaiki fisis, perbaikan kemis secara langsung dan biologis terjadi secara tidak langsung. Tujuan dari pengolahan tanah itu sendiri antara lain :

1. Menciptakan kondisi fisik, khemis dan biologis tanah menjadi lebih baik

2. Membunuh gulma dan tanaman yang tidak diinginkan

3. Menempatkan sisa-sisa tanaman (seresah) pada tempat yang sesuai agar dekomposisi berjalan dengan baik

4. Menurunkan laju erosi

5. Meratakan tanah untuk memudahkan pekerjaan di lapangan

6. Mencampur dan meratakan pupuk dengan tanah

7. Mempersiapkan pengaturan irigasi dan drainase

8. Memperbaiki kondisi tanah menjadi gembur sehingga pertumbuhan akar tanaman maksimal

9. Memperbaiki tekstur tanah dan sirkulasi udara dalam tanah sehingga unsur hara dapat diambil oleh akar

Untuk dapat menghasilkan kualitas tanah yang baik, maka proses pengolahan tanah juga harus diperhatikan. Teknik yang digunakan dalam pengolahan tanah harus tepat sehingga tanah yang di hasilkan berkualitas. Unsur hara yang terdapat dalam tanah sangat mempengaruhi kehidupan tanaman selanjutnya

(10)

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil olahan tanah yang maksimal adalah sebagai berikut :

1. Proses pengolahan lahan sawah diawali dengan cara melakukan pemisahan jerami, sisa – sisa panen yang tidak terangkat, rumput dan tanaman gulma lainnya. Agar supaya jerami dan sisa – sisa tanaman lainya tidak dibakar. Maka untuk memudahkan proses pengolahan lahan, sebaiknya jerami dipisahkan dan dikumpulkan disekitar pematang (pinggiran petakan).

2. Pada musim kemarau, tanah sawah sebaiknya digenangi air terlebih dulu selama beberapa hari agar pori-pori tanah membuka dan tekstur tanah menjadi lembek.

3. Setelah tanah menjadi lembek, siap untuk diolah.

4. Pengolahan pertama dilakukan dengan cara membajak. Pembajakan bisa dengan cara tradisional maupun modern. Cara tradisional menggunakan bajak/singkal dengan bantuan tenaga sapi atau kerbau sedangkan cara modern menggunakan bajak traktor tangan. Proses pembajakan ini dilakukan dengan cara membalikkan lapisan olah tanah agar sisa – sisa tanaman seperti rumput, dan jerami dapat terbenam. Setelah tanah dibajak, maka dibiarkan beberapa hari, agar terjadi proses fermentasi untuk membusukkan sisa tanaman dan jerami di dalam tanah.

5. Selama proses tersebut sebaiknya ditambahkan bahan organik atau pupuk kandang lainnya. Tujuannya agar kandungan hara dan pertumbuhan mikroba dalam tanah dapat meningkat. Disamping itu, penggunaan bahan organik dan pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah serta faktor-faktor pertumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia (anorganik). Gunakan bahan organik atau pupuk kandang sebanyak 2-3 ton/ha. Bahan organik atau pupuk kandang tersebut antara lain berupa kompos, jerami, kotoran sapi atau ayam, pupuk hijau dan pupuk organik lainnya. Pupuk kandang dan sumber organik lainnya digunakan pada saat pengolahan lahan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kadar bahan organik tanah.

(11)

pencampuran antara bahan organik dengan tanah. Proses ini dimaksudkan agar bahan organik dapat menyatu dengan lapisan olah tanah. Usahakan selama pengolahan ini pasokan air agar mencukupi. Jangan terlalu kering dan jangan terlalu basah. Proses pencampuran ini dilakukan sampai bahan organik benar-benar menyatu dan melumpur dengan lapisan olah tanah.

7. Proses selanjutnya permukaan tanah diratakan dengan bantuan alat berupa papan kayu yang ditarik sapi atau kerbau (tradisional). Atau, dengan menggunakan traktor tangan (modern). Proses ini dimaksudkan agar lapisan olah tanah benar-benar siap untuk ditanami padi pada saat tandur dilaksanakan. 8. Proses pengolahan lahan ini waktunya disesuaikan dengan persiapan persemaian, agar tidak terjadi keterlambatan pada saat pindah tanam. Waktu yang ideal berkisar antara 15 – 21 hari.

Agar pengolahan tanah berlangsung dengan optimal, maka terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengolahan tanah. Menurut Pustaka Pertanian (2014), terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan pengolahan tanah agar berjalan optimal :

1. Jenis Tanaman

Setiap jenis tanaman mempunyai toleransi yang berbeda terhadap media tanamnya. Tanaman yang dipanen pada bagian akar (seperti umbi-umbian) memerlukan media tanah yang gembur dan dalam agar pertumbuhan umbinya lebih besar. Demikian juga jika tanaman tersebut tidak tahan terhadap genangan air, maka drainase harus lebih baik.

2. Jenis Tanah

Jenis tanah yang bengandung lempung cenderung lebih sulit dalam pengolahan tanah, karena jika terlalu kering atau terlalu basah akan mengeras. Tanah berlempung diusahakan diolah pada saat air kapasitas lapang (air tidak tergenang dan tidak meresap). Untuk tanah berpasir mengolah pada waktu basah akan lebih mudah.

3. Kemiringan lahan

(12)

air). Begitu juga jika mengeluarkan air, tidak ada air yang tergenang (adanya kubangan pada lahan). Pada waktu air keluar juga jangan sampai merusak tanaman karena terlalu deras.

Prinsip tersebut dipakai untuk membuat got ataupun bedengan tanaman. Kemiringan got atau bedengan tanaman yang baik adalah 2% sampai 7% tergantung curah hujan, jenis tanah, lebar got/bedengan.

4. Musim

Musim pada saat mengolah tanah mempengaruhi biaya dan mutu pengolahan tanah. Pada saat lahan terlalu basah atau terlalu kering mutu pengolahan tanah tidak sesuai harapan, bahkan kadang-kadang pengolahan tanah tidak berguna, contohnya pada tanah lempung basah kita lakukan rotary, tanah akan menempel pada rotary dan hasilnya sangat minim.

5. Vegetasi Lahan

Vegetasi lahan adalah tumbuhan di lahan pada saat pengolahan tanah. Idealnya pengolahan tanah dilakukan pada saat tidak ada tumbuhan diatasnya. Alat pengolahan tanah bisa terhambat jika banyak vegetasi/tumbuhan pada lahan, sehingga hasil tidak maksimal.

6. Jenis Alat

Jenis alat seperti bajak singkal, garu, rotary harus disesuaikan dengan jenis tanaman dan jenis tanah. Tanaman yang membutuhkan perakaran dalam membutuhkan bajak. Sedangkan tanaman yang membutuhkan gembur dapat mengunakan rotary. Setelah mempertimbangkan faktor-faktor diatas kita dapat menentukan perlakuan pengolahan tanah agar mendapat hasil yang maksimal. Pemilihan perlakuan pengolahan tanah yang tepat akan menghasilkan media tanam yang baik dan biaya yang lebih efisien. Perlakuan pengolahan tanah biasanya dibedakan berdasarkan tujuannya.

7. Penyiapan dan pembersihan lahan

(13)

memangkas gundukan. Pembersihan lahan biasanya diabaikan pada pengolahan tanah, mungkin disebabkan sisa panen atau gulma yang tumbuh sebelumnya dapat menjadi bahan organik akibat tertimbun pengolahan tanah. Tetapi jika banyak sisa tanaman di lahan, alat pengolahan tanah bisa terhambat kerjanya, pada akhirnya mutu tidak maksimal dan kerusakan alat tinggi. Agar vegetasi tidak menganggu pengolahan tanah dilakukan pembabatan dan pembakaran sisa tanaman, tetapi ada pendapat yang menyatakan pembakaran dapat membunuh mikroorganisme tanah. Perendaman agar vegetasi mengalami pelapukan adalah langkah yang terbaik, tetapi membutuhkan waktu yang lama. 8. Pembalikan Tanah

Tujuan pembalikan tanah adalah memecah kapiler tanah dan memperbaiki aerasi. Pembalikan tanah pertama diusahakan 90 derajat dari kemiringan tanah, supaya lahan jadi lebih rata. Setelah pembalikan tanah dibiarkan beberapa hari agar racun dalam tanah menguap. Lebih sering tanah dibalik lebih bagus. Alat yang dipakai biasanya bajak singkal atau bajak piring (disc plow). Semakin dalam pembalikan tanah akan semakin bagus.

9. Penggemburan Tanah

Penggemburan bertujuan meremahkan tanah supaya akar berkembang maksimal, semakin gembur tanah akan mendukung pertumbuhan awal tanaman (perkecambahan ataupun pertumbuhan tanaman muda). Alat yang digunakan biasanya garu atau rotary. Selain gembur biasanya tanah akan semakin rata. Penggunaan rotary tidak efektif pada lahan yang sangat basah. Gulma yang berkembang biak lewat akar jika dirotary semakin terpotong banyak dan semakin merata di lahan. Pemakaian herbisida pra tumbuh akan membantu menekan gulma pada lahan yang dirotary.

10. Pembuatan alur tanam (Bedengan)

(14)

untuk membuat bedengan berupa kair atau pada umumnya dilakukan secara manual (mengunakan cangkul, lempak dll).

Setelah memperhatikan faktor-faktor sebelum pengolahan tanah dan menentukan perlakuan apa yang cocok untuk lahan dan tanaman, ada satu hal yang sangat penting dipertimbangkan, yaitu biaya. Biaya pengolahan tanah bisa mencapai 20 % sampai 50 % dari biaya pemeliharaan. Pengolahan tanah yang sempurna tentu lebih menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Tetapi jangan sampai penambahan perlakuan pengolahan tanah menjadikan biaya produksi melambung. Pengamatan kondisi lahan, sifat tumbuh tanaman dan ketersediaan alat pengolahan tanah dapat menjadikan pertimbangan dalam menentukan kombinasi perlakuan tanah.

Terdapat persiapan yang harus dilakukan sebelum melakukan pengolahan tanah antara lain :

1. Tanah dibiarkan terlebih dahulu sebelum diolah. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mengembalikan kesuburan tanahyang hilang sebelumnya akibat penanaman yang dilakukan. Setelah didiamkan sekitar 1 minggu barulah tanah bisa diolah kembali.

2. Galengan sawah dan saluran air harus dibersihkan untuk menghindari terbawanya biji gulma ke dalam sawah saat berlangsungnya pengairan. Dalam pembersihan galengan dan saluran air tersebut hendaknya juga dilakukan perbaikan galengan. Galengan tersebut dibuat cukup tinggi agar dapat menahan air pada saat pengairan dan penggenangan berlangsung.

3. Jerami dan sisa tanaman sebelumnya tidak dibuang melainkan dibiarkan melapuk agar bisa digunakan sebagi kompos.

(15)

bentuk lahan atau petakan). Arah gerakan traktor tersebut terakhir akan berhenti atau selesai ditengah petakan.

Gambar: tipe arah gerakan traktor pertama

Arah gerakan kedua, traktor dijalankan dimulai dari sudut kiri petak sawah. Lalu traktor berjalan ke arah atas lalu kembali lagi ke arah bawah dengan dilakukan secara berulang-ulang. Hingga traktor berjalan sampai petakan berakhir pada sudut kanan petakan.

Gambar: tipe arah gerakan traktor kedua

Setelah pengolahan tanah selesai, lahan perlu didiamkan sekitar 1 minggu. Saat melakukan pendiaman lahan tersebut, lahan digenangi air mempercepat pembusukan sisa-sisa tanaman dan menghindari hilangnya nitrogen juga melunakan bongkahan tanah. Selain itu, tujuan yang terpenting adalah agar penyakit pada tanah mati terkena terkena sinar matahari. Dengan dilakukannya pendiaman tersebut dapat meminimalisir kehidupan pathogen sehingga tanah terbebas dari gangguan pathogen yang juga dapat mengancam keberlangsungan hidup tanaman padi (Gubesta, 2014).

(16)

melunakkan tanah dan menghindarkan melekatnya tanah pada mata bajak. Penggaruan memerlukan air dengan kondisi hanya cukup untuk membasahi bongkahan-bongkahan tanah saja. Pada saat proses penggaruan berlangsung, saluran pemasukan dan pembuangan air harus ditutup agar air tidak sampai habis keluar dari petakan. Proses penggaruan tanah dilakukan secara berulang-ulang sebanyak dua kali. Kondisi air pada saat penggaruan pertama maupun kedua tersebut sama. Tujuan dari penggaruan yang pertama adalah mengurangi peresapan air ke bawah, meratakan tanah, meratakan pupuk dasar yang dibenamkan, memudahkan penanaman bibit, dan membenamkan rumput yang ada di permukaan tanah. Sedangkan penggaruan yang kedua adalah meratakan tanah sebelum dilakukan pindah tanam, membenamkan pupuk dasar guna menghindari denitrifikasi, serta melumpurkan tanah dengan sempurna.

Pada saat melakukan pembersihan lahan, sisa tanaman padi musim sebelumnya dibiarkan melapuk diperlukan tanah agar terurai menjadi kompos. Dalam sisa tanaman padi tersebut bisa saja terdapat sumber pathogen, namum hal tersebut tidak menjadi masalah karena dalam pengolahan tanah telah dilakukan beberapa kali penggenangan yang bertujuan untuk mematikan sumber pathogen. Selain itu juga telah melakukan satu kali pembajakan dan dua kali penggaruan. Setelah dilakukan pengolahan tanah, lahan digenangi air dan didiamkan selama satu minggu agar sumber pathogen tersebut mati akibat terkena sinar matahari.

Pada saat melakukan proses proses pembajakan, kedalaman tanah yang dibajak harus sesuai. Kedalaman tanah yang ideal dalam pembajakan adalah sekitar 15-25 cm hingga tanah benar-benar terbalikan dan hancur. Apabila pembajakan terlalu dalam, maka dapat menyebabkan terangkatnya lapisan pint (lapisan beracun). Pint ini dapat meracuni tanaman dan berakibat tanaman mati (Suastika dkk, 2007).

(17)

disamping ditentukan oleh status kesuburan tanahnya juga ditentukan oleh pola pengelolaannya seperti pemupukan, pengolahan lahan, sistem irigasi, dan pengembalian bahan organiknya. Sisa batang padi yang tertinggal di lahan mengandung unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap sisa tunggul padi yang tertinggal dilahan, terdapat sumbangan hara biomassa sisa panen tunggul padi (batang dan akar) terhadap status kesuburan tanah yaitu berupa unsur N, P dan Ca. Unsur lain seperti Mg dan K tidak terdapat dalam sisa tunggul padi tersebut (Oktalaseva dkk., 2013).

(18)
(19)

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Terdapat dua macam cara pengolahan tanah yaitu secara tradisional dan modern. Pengolahan dengan cara tradisional menggunakan cangkul, sabit dan sebagainya. Sedangkan cara pengolahan tanah modern menggunakan hand traktor. Cara pengolahan tanah dengan traktor itu sendiri terdapat 2 tipe yaitu Macam-macam tipe arah gerakan traktor pada saat mengolah tanah yaitu, tipe arah gerakan yang pertama, traktor dijalankan dimulai dari sudut (sudut kiri atau kanan) petak sawah. Lalu traktor berjalan mengitari petakan atau berjalan dengan arah melingkar (sesuai bentuk lahan atau petakan). Arah gerakan traktor tersebut terakhir akan berhenti atau selesai ditengah petakan. Cara penggunaan yang kedua yaitu traktor dijalankan dimulai dari sudut kiri petak sawah. Lalu traktor berjalan ke arah atas lalu kembali lagi ke arah bawah dengan dilakukan secara berulang-ulang. Hingga traktor berjalan sampai petakan berakhir pada sudut kanan petakan.

2. Tahapan pengolahan tanah sawah terdiri dari pengolahan tanah untuk pesemaian dan untuk pertanaman padi. Pada praktikum kali ini menggunakan pengolahan lahan basah sehingga memiliki tahap-tahapan sebagai berikut : (1) Pembersihan lahan, (2) Perbaikan saluran dan galengan, (3) Pencangkulan, (4) Pembajakan, dan (5) Penggaruan.

5.2 Saran

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Fahmuddin., A. Adimiharja, S. Hardjowigeno, A.M. Fagi, dan W. Hartatik. 2004. Tanah sawah dan Pengelolaannya. Bogor : Balai Penelitian Tanah.

Al-hadi, Budi., Y. Yunus, dan M. Ikhdam. 2012. Analisis Sifat Fisika Tanah Akibat Lintasan dan Bajak Traktor Roda Empat. Manajemen Sumberdaya Lahan, 1(1): 43-53.

Arsyad, Sitanala., dan E. Rustiadi. 2008. Penyelamatan tanah, air, dan lingkungan. Bogor : Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia.

Bokings, Devi Lorensia., I.N. Sunarta, dan I.W. Narka. 2013. Karakteristik Terasering Lahan Sawah dan Pengelolaannya di Subak Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Agroekoteknologi Tropika, 2(3): 175-183.

Intara, Yazid Ilmi., A. Sapei, Erizal, N. Sembiring, dan M.B.H. Djoefrie. 2011. Mempelajari Pengaruh Pengolahan Tanah dan Cara Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.). embryo, 8(1): 32-39.

Maryani, N. Dewi., N. Suparta, dan AP.IG. Setiawan. 2014. Adopsi Inovasi PTT pada Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Manajemen Agribisnis, 2(2): 84-102.

Nasution, Fadli Heriadi., J. Ginting, dan B. Siagian. 2013. Tanggap Pertumbuhan dan Produksi Padi Gogo Varietas Situ Bagendit Terhadap Pengolahan Tanah dan Frekuensi Penyiangan yang Berbeda. Online agroekoteknologi, 1(2): 24-36.

Oktalaseva, weria., Hermansah, N.E. Putri. 2013. Karakteristik kesuburan tanah dan potensi hara dari bahan organic sisa panenpadi sawah pada beberapalokasi di sumatera barat. Repository Unand. Program studi agroekoteknologi fakultas pertanian universitas andalas.

Purwono., dan H. Purnamawati. 2007. Budidaya 8 jenis tanaman pangan unggul. Jakarta : Penebar Swadaya.

Pustaka pertanian. 2014. Perlakuan pengolahan tanah. http://hkti.org/perlakuan-pengolahan-tanah.html. diakses pada tanggal 2 April 2015.

(21)

Tanah Andisol, Inceptisol, dan Vertisol. Agroekoteknologi Tropika, 2(4): 214-223.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...