BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH - Perbedaan Psychological Well-Being Antara Wanita Menopause Yang Bekerja Dan Yang Tidak Bekerja

13 

Teks penuh

(1)

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Dewasa madya merupakan masa transisi dari dewasa awal menuju masa lanjut usia. Dewasa madya atau yang sering diistilahkan usia paruh baya dialami oleh individu yang berusia antara 40 sampai 60 tahun. Secara spesifik masa ini terbagi ke dalam dua subbagian, yaitu: usia madya dini yang membentang antara usia 40 hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang membentang antara usia 50 hingga 60 tahun (Hurlock, 1999).

Havinghurst (dalam Hurlock, 1999) menyatakan bahwa individu dewasa madya memiliki sejumlah tugas perkembangan yang harus diselesaikannya sepanjang rentang kehidupan. Salah satu tugas perkembangan tersebut adalah penyesuaian terhadap perubahan fisik yang tentunya akan terjadi seiring dengan meningkatnya usia yaitu menopause yang terjadi pada wanita dan andropause pada pria (Papalia, Olds dan Feldman, 2007). Dibandingkan dengan menopause, andropause pada pria umumnya terjadi perlahan dan sangat lambat sehingga seringkali gejala fisik dan psikologis yang muncul tidak terlalu kelihatan ataupun terkadang bagi beberapa pria tidak menimbulkan gejala. Selain itu, Kebanyakan wanita relatif lebih sulit menyesuaikan diri terhadap perubahan pola hidup yang datang bersamaan dengan masa menopause dibandingkan pria (Hurlock, 1999).

(2)

dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Kekhawatiran ini mungkin berawal dari pemikiran bahwa dirinya akan menjadi tidak sehat, tidak bugar, dan tidak cantik lagi. Munculnya kekhawatiran yang berlebihan itu menyebabkan wanita sulit menjalani masa ini. Pada masa ini, wanita memasuki masa transisi yaitu peralihan dari periode reproduktif menuju non-reproduktif dan wanita dapat dikatakan mengalami menopause bila siklus menstruasinya telah berhenti selama satu tahun (Kasdu, 2002). Usia wanita memasuki masa menopause cukup bervariasi antara usia 45 tahun sampai 55 tahun dengan rata-rata usia 51 tahun dan datangnya menopause juga merupakan pertanda terjadinya masa transisi yang biasanya diiringi dengan perubahan fisik dan psikologisnya (Jones, 2007).

Perubahan yang terjadi selama masa transisi inilah yang membutuhkan penyesuaian dan tidak semua wanita dapat menyesuaikan diri dengan baik selama menopause. Menurut Ibrahim (2005) sebagian orang memandang menopause sebagai masa kritis karena pada masa ini wanita mengalami penurunan jumlah hormon estrogen yang nantinya akan menyebabkan perubahan-perubahan fisik yang bersifat eksternal. Perubahan-perubahan fisik yang bersifat eksternal dapat dilihat dari perubahan penampilan kewanitaan yang menurun seperti payudara tidak kencang, bibir dan kulit menjadi kering dan kurang halus, rambut beruban, menipis dan mudah rontok, selaput bening mata menjadi lebih kering, lekuk tubuh menjadi rata, dan tubuh relatif menjadi lebih gemuk (Maspaitella, 2006).

(3)

atas dada, keluarnya keringat yang terlalu berlebih, sulit tidur, iritasi pada kulit, kekeringan vagina, mudah lelah, sakit kepala, dan jantung berdebar kencang.

Perubahan dan gejala fisik yang terjadi ketika menopause seringkali juga disertai dengan beberapa gejala psikologis. Papalia (2007) mengungkapkan bahwa gejala-gejala psikologis yang muncul dapat meliputi stres, frustasi, dan adanya penolakan terhadap menopause. Hurlock (1999) juga menyatakan bahwa pada masa menopause wanita menjadi lebih mudah tersinggung, tertekan, gelisah, gugup, kesepian, tidak sabar, gangguan konsentrasi, tegang, cemas, bahkan depresi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Maartens (dalam Novi & Ross 2007) yang menyatakan bahwa dari hasil self report yang berkaitan dengan

depressed mood pada wanita menopause ditemukan bahwa 36% wanita

premenopause, 47% wanita perimenopause, dan 46% postmenopause mengalami depressed mood.

Penelitian yang dilakukan oleh Robertson (dalam Christiani, 2000) di Menopause Clinic Australia juga menemukan bahwa dari 300 pasien usia

(4)

nyaman dengan gejala menopause yang muncul seringkali dikaitkan dengan munculnya banyak keluhan selama menopause dibandingkan dengan wanita dengan sikap positif. Begitu juga wanita dengan harga diri yang rendah menunjukkan penyesuaian diri yang lebih sulit terhadap menopause dibandingkan dengan wanita dengan harga diri yang tinggi. Mereka lebih sering mengalami kecemasan terkait dengan gejala-gejala menopause. Selain itu, mereka juga kurang percaya diri dan lebih sering mengeluhkan berbagai perubahan yang terjadi pada dirinya (Lee, Kim, Park, Yang, Ko, dan Joe 2010).

Berger (1999) mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak orang yang menganggap menopause sebagai suatu masalah terkait dengan munculnya berbagai gejala fisik dan psikologisnya. Bagi beberapa wanita yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan baik selama menopause, kondisi ini akan mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraannya. Kesejahteraan sering diistilahkan dengan well-being. Pimenta (2011) melalui hasil penelitiannya tentang menopause dan well-being pada 1003 wanita menopause menemukan bahwa depressive mood yang merupakan simptom menopause secara signifikan berkaitan dengan penurunan well-being seseorang. Selain itu stress dan pengalaman hidup yang negatif terkait krisis usia paruh baya juga memberi pengaruh yang besar terhadap well-being seseorang.

Well-being sendiri diartikan sebagai fungsi optimal yang dimiliki individu

(5)

potensi individu dimana individu dapat menerima masa lalunya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menunjukkan sikap mandiri, mampu membina hubungan yang positif dengan orang lain, dapat menguasai lingkungannya, memiliki tujuan dalam hidup, serta mampu mengembangkan pribadinya. Menurut Keyes, Shmotkin & Ryff (2002), psychological well-being juga tidak hanya sebatas adanya kepuasan hidup dan keseimbangan antara afek positif dan negatif, namun juga berkaitan dengan pengalaman-pengalaman hidupnya. Psychological well-being pada seseorang dapat dilihat dari keenam dimensinya yaitu memiliki

penerimaan terhadap diri sendiri, mandiri, memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, penguasaan terhadap lingkungan, memiliki tujuan dan arti hidup serta mampu mengembangkan potensi dalam dirinya (Ryff dalam Papalia, 2007)

(6)

Hal di atas menunjukkan bahwa beberapa wanita memiliki sikap yang positif terhadap menopause sehingga dapat menerima datangnya menopause dengan baik. Hal ini menunjukkan mereka memiliki psychological well-being yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Ryff (1995) yang mengungkapkan bahwa salah satu kriteria seseorang dapat dikatakan memiliki psychological well-being yang baik jika seseorang dapat menerima keadaan dirinya, dimana seseorang itu mampu mengakui dan menerima berbagai aspek dalam dirinya baik yang positif maupun negatif, memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, dan memandang positif kehidupan yang dijalani sekarang dan juga masa lalunya.

(7)

Hal yang berbeda dirasakan wanita yang bekerja, bagi mereka yang memiliki pekerjaan yang memungkinkan baginya untuk mengembangkan diri dan karirnya merasakan kebahagiaan dan meningkatnya harga diri (Azar dan Vasudeva, 2006). Bekerja juga memungkin bagi wanita untuk menjalin hubungan yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda dalam dunia kerja. Seperti yang diungkapkan Berger (1999) yang menyatakan bahwa wanita menopause yang bekerja bisa berbagi solusi terhadap berbagai masalah seputar menopause dengan teman-teman kantornya hal ini memberikan kesempatan bagi wanita untuk memperluas komunikasi yang dapat membantu mereka mampu menangani berbagai masalah sehingga mengurangi resiko stres dan penyakit serta meningkatkan kepuasan diri dan pekerjaan. Selain itu bekerja juga membuat wanita dapat menjadi lebih mandiri dan tidak bergantung pada suami.

(8)

Griffiths, MacLennan, & Wong, (2010) juga menyatakan bahwa wanita menopause yang bekerja lebih positif memandang datangnya menopause dan mampu menerima kondisinya dengan segala perubahan fisik dan psikologis. Mereka merasakan kepercayaan diri yang meningkat karena merasa masa ini merupakan pertanda mereka semakin matang dan dewasa serta dihormati oleh rekan kerja. Mereka juga menganggap menopause sebagai keadaan yang justru membuat mereka merasa bebas karena tidak direpotkan lagi dengan menstruasi setiap bulannya. Beberapa dari mereka juga merasa bahwa berhenti menopause bukanlah akhir dari segalanya tetapi merupakan tahapan yang menyenangkan karena mereka umumnya mereka memiliki karir yang bagus pada masa ini (Jones, 2007).

(9)

terjadinya perubahan sosial dalam hidupnya yang dikaitkan dengan penuaan dan perubahan pada tubuh yang dialaminya (Jacob, Hyland dan Ley, 2000).

Kenyataannya tidak semua wanita yang bekerja merasakan hal positif, Beberapa wanita yang bekerja juga merasakan hal yang negatif terhadap menopause. Mereka beranggapan bahwa menopause dan simptom-simptomnya menyebabkan mereka malu, cemas, dan kehilangan kontrol dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Misalnya, munculnya rasa panas di tubuh saat bekerja ataupun saat berada disekitar rekan kerja membuat mereka merasa tidak nyaman dan kurang dapat fokus pada pekerjaan yang nantinya dapat berdampak pada kompetensi dan profesionalisme mereka dalam bekerja. Selain itu beberapa wanita yang bekerja juga mengalami simptom menopause lainnya seperti gangguan mood, mudah lelah, konsentrasi menurun, dan kemampuan mengingat yang berkurang sehingga membuat mereka kurang percaya diri dalam menunjukkan performanya saat bekerja (Griffiths, MacLennan, & Wong, 2010). Namun demikian, kondisi lingkungan kerja yang kondusif seperti rekan kerja, atasan, ruang kerja yang mendukung dapat membuat wanita bekerja menjadi lebih nyaman dan mampu menjalami masa ini dengan baik (Paul, 2003).

(10)

konflik dan menimbulkan berbagai tekanan yang akan menyulitkan wanita menopause saat bekerja. Akan tetapi, keberadaan suami yang bisa memahami berbagai perubahan fisik dan psikologis yang di alami selama masa menopause serta dukungan suami dan orang-orang di sekitar akan membantu wanita bekerja mengatasi berbagai masalah yang dihadapi sehingga mampu melewati masa ini dan menjalani kehidupan rumah tangga dan pekerjaannya dengan lebih baik

Perubahan zaman saat ini telah mendorong terjadinya perubahan dalam bentuk keluarga. Sekarang ini banyak ditemukan bentuk keluarga dimana suami dan istri sama-sama bekerja di luar rumah. Terbukanya kesempatan bagi wanita untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik juga telah mendorong meningkatnya jumlah wanita yang terjun dalam dunia kerja.Wanita yang bekerja umumnya termotivasi karena kebutuhan ekonomi. Tuntutan ekonomi yang begitu besar mendorong mereka bekerja agar dapat menambah penghasilan keluarga. Namun selain karena alasan ekonomi, sebagian besar wanita bekerja juga termotivasi karena alasan psikologis seperti harga diri dan kontrol diri. Alasan lainnya adalah dengan bekerja wanita mendapatkan dukungan sosial, pengakuan dan apresiasi dari tempatnya bekerja yang terkadang belum tentu mereka dapatkan di rumah (Hochschild dalam Strong & De Vault, dan Cohen 2011).

(11)

wanita memandang menopause dengan lebih positif dibandingkan dengan wanita yang jauh dari dunia kerja dan semua waktunya dihabiskan hanya untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga saja. Menariknya, wanita yang bekerja dilaporkan memiliki simptom menopause yang lebih sedikit dibandingkan dengan wanita yang hanya menjadi ibu dan istri saja pada masa dewasa madya. Selain itu adanya sense of control pada wanita bekerja dalam menyeimbangkan antara pekerjaan dan rumah tangga juga dapat membantu wanita untuk memandang hidupnya lebih positif sehingga mengarah pada kondisi psikologis yang lebih baik (Ahrens & Ryff, 2006).

(12)

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini diajukan melalui pertanyaan: Apakah ada perbedaan psychological well-being pada wanita menopause ditinjau dari status bekerja?

C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan data secara langsung mengenai apakah ada perbedaan psychological well-being pada wanita menopause ditinjau dari status bekerja.

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik yang bersifat teoritis maupun praktis

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat yang bersifat pengembangan ilmu psikologi, khususnya Psikologi Perkembangan mengenai psychological well-being pada wanita menopause ditinjau dari status bekerja dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya. 2. Manfaat Praktis

Beberapa manfaat praktis yang dapat diberikan dari penelitian ini:

(13)

b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan atau referensi untuk penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan psychological well-being.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Penelitian ini disajikan dalam beberapa bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I :Pendahuluan berisikan uraian mengenai latar belakang penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II :Landasan teori berisi teori-teori yang berkaitan dengan variabel yang diteliti dan hubungan antara variabel dan hipotesa penelitian.

BAB III :Metode penelitian berisi uraian mengenai metodelogi penelitian yang terdiri dari: identifikasi variabel, definisi variabel penelitian, populasi dan metode pengambilan sampel, alat ukur yang digunakan, prosedur penelitian, dan metode analisis data.

BAB IV :Analisis data dan pembahasan yang berisi mengenai gambaran mengenai subjek penelitian, laporan hasil penelitian, hasil uji asumsi meliputi hasil uji asumsi normalitas dan homogenitas, hasil utama penelitian, dan pembahasan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...