Makalah Kapita Selekta Ilmu Sosial Siste

31  104  Download (2)

Teks penuh

(1)

Makalah Kapita Selekta Ilmu Sosial

Sistem Politik

Penyusun:

Ridho Azlam Ambo Asse

44111010143

Universitas Mercu Buana

Fakultas Ilmu komunikasi

(2)

Kata Pengantar

Bismillahirohmanirrohim.

Assalamualaikum Waromatullohi Wabarokatuh.

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Pemberi Petunjuk, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Dengan karunia, petunjuk, hidayah, bantuan, dan izin-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik, sistematis, dan tepat waktu.

Makalah ini merupakan bentuk tugas akhir yang diberikan oleh dosen pengajar mata kuliah “Kapita Ilmu Sosial” jurusan Broadcasting Universitas Mercu Buana. Makalah yang terdiri lebih dari 30 lembar halaman ini berisikan materi-materi yang saya rangkum dalam pelajaran ilmu politik yang diajarkan oleh dosen di kelas. Saya memilih judul “Sistem Politik” karena saya merasa topik ini lebih cocok untuk di jabarkan dalam pandangan seorang mahasiswa fakultas komunikasi seperti saya. Dan membuktikan bahwa sistem politik Indonesia sendiri itu tidak salah, dan memiliki aturan main. Sehingga bila dalam prosesnya terdapat pelanggaran politik seperti kasus korupsi, nepotisme, dan lainnya khususnya yang dilakukan oleh lembaga eksekutifnya. Hal tersebut telah bertentangan dengan sistem politik yang dianut.

Melalui kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada kedua Orang Tua saya, Tim Pengajar (dosen kapita selekta ilmu sosial), Guru SMA ITCI PPU, rekan Mahasiswa yang telah memberikan dukungan terhadap saya, serta masih banyak lagi yang tak dapat saya ucapkan satu persatu disini.

Saya menyadari, bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Semua terjadi karena kodrat saya sebagai manusia biasa. Untuk itu saya memohon kritik dan saran yang membangun ilmu pengetahuan saya tentang politik.

Jakarta, 20 Januari 2012

(3)

Daftar Isi

Sampul Depan ... 1

Kata Pengantar ... 2

Daftar Isi ... 3

Bab I – Pendahuluan ... 4

Latar Belakang ... 4

Rumusan Masalah ...5

Bab II – Landasan Konseptual ... 6

Teori Sistem Politik ... 6

Lembaga Eksekutif ... 14

Bab III – Pembahasan ... 16

Perkembangan Sistem Politik Indonesia sejak era orde lama hingga pasca reformasi ... 16

Perkembangan Lembaga Eksekutif Indonesia sejak era orde lama hingga pasca reformasi ... 21

Perbandingan Sistem Politik Indonesia sejak era orde lama Hingga pasca reformasi ... 24

Bab IV – Analisis ... 27

Sistem Politik Orde Lama ... 27

Sistem Politik Orde Baru ... 27

Sistem Politik Masa Pasca Reformasi ...28

Bab V – Kesimpulan ... 29

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam Trias Politica menyatakan adanya pembagian kekuasaan menjadi 3 bagian, yakni lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ketiga lembaga ini bekerja secara sinergis untuk menjalankan roda pemerintahan suatu negara, sehingga ketiga lembaga ini terlibat dalam suatu sistem politik yang terdapat di negara tersebut. Pada garis besarnya, lembaga eksekutif bergerak dalam menjalankan pemerintahan, lembaga legislatif bergerak dalam bidang pembuatan undang-undang, melakukan fungsi pengawasan, dan juga melakukan fungsi pembuatan anggaran (RAPBN), sedangkan lembaga yudikatif bergerak dalam bidang peradilan.

Kekuasaan eksekutif dalam suatu negara ialah merupakan kekuasaan dimana dijalankannya segala kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan badan legislatif dan menyelenggarakan undang-undang yang telah diciptakan oleh badan legislatif. Akan tetapi, dalam perkembangannya pada masa negara modern seperti saat ini kekuasaan badan eksekutif jauh lebih luas karena kekuasaannya dapat pula mengajukan rancangan undang-undang pada lembaga legislatif. Ini menunjukkan bahwa peran lembaga eksekutif pada masa negara modern sudah mengalami peningkatan didalam menjalankan kekuasaan.

(5)

Apabila kita membahas tentang eksekutif, kita dapat juga melihat bagaimana pemimpin tersebut dalam memimpin lembaga eksekutifnya. Disetiap masa yang berbeda, Indonesia mengalami beberapa kali pergantian pemimpin. Dimulai dari Orde Lama yaitu pada saat di bawah pimpinan Presiden Soekarno, di mana masa Orde Lama itu sendiri terbagi atas 2 masa, yaitu masa Demokrasi Parlementer dan masa Demokrasi Terpimpin, yang dilanjutkan dengan masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto selama 32 tahun, dan masa Reformasi yang telah mengalami beberapa kali pergantian Presiden hingga sekarang ini.

Oleh karena itu, penulis mencoba menyajikan suatu makalah yang memiliki konten seperti yang telah disebutkan di atas, dengan judul makalah “Fungsi Lembaga Eksekutif dalam Sistem Politik Indonesia dari Masa Orde Baru hingga Masa Reformasi.”

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, maka penulis dapat mengambil suatu rumusan masalah yaitu “Bagaimanakah fungsi lembaga Eksekutif dalam menjalankan sistem politik Indonesia dari masa Orde Lama hingga Masa Pasca Reformasi?”.

BAB II

(6)

A. TEORI SISTEM POLITIK

a. Analisis Sistem Politik Menurut David Easton

Pendekatan sistem politik pada mulanya terbentuk dengan mengacu pada pendekatan yang terdapat dalam ilmu eksakta. Adapun untuk membedakan sistem politik dengan sistem yang lain maka dapat dilihat dari definisi politik itu sendiri. Sebagai suatu sistem, sistem politik memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:

a. Ciri-ciri identifikasi, yaitu dengan menggambarkan unit-unit dasar dan membuat garis batas yang memisahkan unit-unit tersebut dengan lingkunga luarnya.

1. Unit-unit sistem politik, yaitu unsur-unsur yang mmbentuk sistem

2. Perbatasan (garis batas).

Yang termasuk sistem politik kurang lebih yang berkaitan dengan pembuatan keputusan-keputusan yang mengikat masyarakat.

b. Input dan Output

Agar supaya sistem bekerja dengan baik, dibutuhkan input-input yang mengalir secara konstan. Input akan membuat suatu sistem itu dapat berfungsi; dan dengan output kita dapat mengidentifikasi pekerjaan yang dikerjakan oleh sistem itu.

Apa yang terjadi di dalam suatu sistem merupakan akibat dari upaya angggota-anggota sistem yang menanggapi lingkungan yang selalu berubah-ubah.

(7)

Anggota-anggota dari suatu sistem paling tidak mengenal pembagian kerja minimal yang memberikan suatu struktur tempat berlangusungnya kegiatan-kegiatan itu.

d. Integrasi dalam suatu sistem sosial.

Suatu sistem harus memiliki mekanisme yang bisa mengintegrasi atau memaksa anggota-anggotanya untuk bekerjasama walaupun dalam keadaan minimal sehingga mereka dapat membuat keputusan-keputusan yang otoritatif.

Perbedaan pendapat mulai muncul ketika harus menentukan batas antara sistem politik dengan sistem lain yang terdapat dalam lingkungan sistem politik. Namun demikian, batas akan dapat dilihat apabila kita dapat memahami tindakan politik sebagai sebuah tindakan yang ingin berkaitan dengan pembuatan keputusan yang menyangkut publik.

Pada awal abad 1950-an David Easton mengembangkan kerangka kerja untuk menjelaskan kehidupan politik dan bagaimana penerapan secara universal. Kerangka kerja ini disebut sebagai pendekatan sistem politik. Menurut David Easton, kehidupan politik dilihat sebagai sebuah sistem. Kita harus memahami fungsi secara keseluruhan tidak hanya satu bagian fungsi saja. Ini merupakan jantung dari analisis kehidupan politik dari David Easton. Pendekatan sistem politik ini tidak hanya untuk telaah perbandingan politik tapi juga dapat menjelaskan kehidupan politik suatu Negara.

(8)

Dalam sistem politik terdapat pembagian kerja antar anggotanya. Pembagian kerja yang ada tidak akan menghancurkan sistem politik karena ada fungsi integratif dalam sistem politik.

Input

Input dalam sistem politik dibedakan menjadi dua, yaitu kebutuhan dan dukungan. Input yang berupa kebutuhan muncul sebagai konsekuensi dari kelangkaan atas berbagai sumber-sumber yang langka dalam masyarakat. Input tidak akan sampai (masuk) secara baik dalam sistem politik jika tidak terorganisir secara baik. Oleh sebab itu komunikasi politik menjadi bagian penting dalam hal ini. Terdapat perbedaan tipe komunikasi politik di negara yang demokratis dengan negara yang nondemokratis. Tipe komunikasi politik ini pula yang nantinya akan membedakan besarnya peranan dari organisasi politik.

Ada dua jenis pokok input, yang memberikan enerji dan bahan informasi yang akan diproses oleh sistem tersebut dalam suatu sistem politik, yaitu:

1. Tuntutan. Tuntutan-tuntutan (bersal dari orang-orang atau kelompok-kelompok dalam masyarakat) disalurkan dengan suatu usaha yang

diorganisasikan secara khusus dalam masyarakat yang kemudian menjadi input dalam sistem politik. Tuntutan ini terbagi dua, yaitu tuntutan

eksternal (luar sistem) dan tuntutan internal (dalam sistem)

2. Dukungan. Input dukungan (support) menjadi enerji untuk menjaga keberlangusungan fungsi sistem politik itu sendiri, yaitu berupa bentuk tindakan atau pandangan yang memajukan dan merintangi suatu sistem politik, tuntutan-tuntutan di dalamnya, dan keputusan-keputusan yang dihasilkannya.

(9)

b. Kuantitas dan Ruang-lingkup Dukungan. Jumlah dukungan tidak mesti seimbang dengan luas ruang lingkupnya.

Output

Output merupakan keputusan otoritatif (yang mengikat) dalam menjawab dan memenuhi input yang masuk. Output sering dimanfaatkan sebagai mekanisme dukungan dalam rangka memenuhi tuntutan-tuntutan yang muncul.

Output (keputusan) dari suatu sistem politik merupakan pendorong khas bagi anggota-anggota dari suatu sistem untuk mendukung sistem itu. Dorongan dapat bersifat positif maupun negatif. Dalam hal ini, pemerintah memiliki tanggung jawab tertinggi untuk menyesuaikan atau menyeimbangkan output berupa keputusan dengan input berupa tuntutan.

Politisiasi sebagai Mekanisme Dukungan

Cadangan-cadangan yang telah diakumulasikan sebagai akibat dari keputusan-keputusan yang lalu bisa ditingkatkan dengan suatu metode rumit untuk menghasilkan dukungan secara tetap melalui proses yang disebut politisiasi. Politisiasi sendiri memiliki pengertian sebagai cara-cara yang ditempuh anggota masyarakat dalam mempelajari pola-pola politik.

Lingkungan

(10)

merupakan semua sistem lain yang tidak termasuk dalam sistem politik. Secara garis besar, lingkungan dibagi menjadi dua, yaitu lingkungan dalam (intra societal) dan lingkungan luar (extra societal).

Setidaknya ada dua kritik yang dilontarkan atas gagasan Easton, yaitu adanya anggapan bahwa pemikiran Easton terlalu teoretis sehingga sulit untuk diaplikasikan secara nyata. Selain terlalu teoretis, pemikiran Easton dianggap tidak netral karena hanya mengedepankan nilai-nilai liberal Barat dengan tanpa memperhatikan kondisi pada masyarakat yang sedang berkembang.

b. Pendekatan Struktural Fungsional Gabriel Almond

Pendekatan struktural fungsional merupakan alat analisis dalam mempelajari sistem politik, pada awalnya adalah pengembangan dari teori struktural fungsional dalam sosiologi. Dalam pendekatan ini, sistem politik merupakan kumpulan dari peranan-peranan yang saling berinteraksi. Menurut Almond, sistem politik adalah sistem interaksi yang terdapat dalam semua masyarakat yang bebas dan merdeka yang melaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan adaptasi (baik dalam masyarakat ataupun berhadap-hadapan dengan masyarakat lainnya). Semua sistem politik memiliki persamaan karena sifat universalitas dari struktur dan fungsi politik. Mengenai fungsi politik ini, Almond membaginya dalam dua jenis, fungsi input dan output.

Almond menggunakan pendekatan perbandingan dalam menganalisa jenis sistem politik, yang mana harus melalui tiga tahap, yaitu:

(11)

termasuk bagian-bagian (unit-unit), seperti badan legislatif, birokrasi, partai, dan lembaga-lembaga politik lain.

 Memilah-milah informasi yang didapat pada tahap satu berdasarkan klasifikasi tertentu. Dengan begitu dapat diketahui perbedaan suatu sistem politik yang satu dengan sistem politik yang lain.

 Dengan menganalisa hasil pengklasifikasian itu dapat dilihat

keteraturan (regularities) dan ubungan-hubungan di antara berbagai variabel dalam masing-masing sistem politik.

Terkait dengan hubungannya dengan lingkungan, perspektif yang digunakan adalah ekologis. Keuntungan dari perspektif ekologis ini adalah dapat mengarahkan perhatian kita pada isu politik yang lebih luas. Agar dapat membuat penilaian yang objektif maka kita harus menempatkan sistem politik dalam lingkungannya. Hal ini dilakukan guna mengetahui bagaimana lingkungan-lingkungan membatasi atau membantu dilakukannya sebuah pilihan politik. Sifat saling bergantung bukan hanya dalam hubungan antara kebijaksanaan dengan sarana-sarana institusional saja, namun lembaga-lembaga atau bagian dari sistem politik tersebut juga saling bergantung. Untuk dapat mengatasi pengaruh lingkungan, Almond menyebutkan enam kategori kapabilitas sistem politik, yaitu kapabilitas ekstraktif, kapabilitas regulatif, kapabilitas distributif, kapabilitas simbolik, kapabilitas responsif, kapabilitas domestik dan internasional.

Ciri sistem politik menurut Gabriel A. Almond:

 Semua sistem politik mempunyai sturukut politik

 Semua sistem politik, baik yang modern maupun primitif,

(12)

disebabkan oleh perbedaan struktur. Kemudian sistem politik ini strukturnya dapat diperbandingkan, bagaimana fungsi-fungsi dari sistem-sistem politik itu dijalankan dan bagaimana pula cara/gaya melaksanakannya.

 Semua struktur politik mempunyai sifat multi-fungsional, betapapun terspesialisasinya sistem itu.

 Semua sistem politik adalah merupakan sistem campuran apabila dipandang dari pengertian kebudayaan.

c. Analisis Struktural Fungsional dalam Sistem Politik

Menurut Gabriel Almond, dalam setiap sistem politik terdapat enam struktur atau lembaga politik, yaitu kelompok kepentingan, partai politik, badan legislatif, badan eksekutif, birokrasi, dan badan peradilan. Dengan melihat keenam struktur dalam setiap sistem politik, kita dapat membandingkan suatu sistem politik dengan sistem politik yang lain. Hanya saja, perbandingan keenam struktur tersebut tidak terlalu membantu kita apabila tidak disertai dengan penelusuran dan pemahaman yang lebih jauh dari bekerjanya sistem politik tersebut.

Suatu analisis struktur menunjukkan jumlah partai politik, dewan yang terdapat dalam parlemen, sistem pemerintahan terpusat atau federal, bagaimana eksekutif, legislatif, dan yudikatif diorganisir dan secara formal dihubungkan satu dengan yang lain. Adapun analisis fungsional menunjukkan bagaimana lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi tersebut berinteraksi untuk menghasilkan dan melaksanakan suatu kebijakan.

(13)

terjadi interaksi antara faktor-faktor politik, baik yang bersifat individu, kelompok ataupun organisasi. Fungsi input, meliputi sosialisasi politik dan rekruitmen politik, artikulasi kepentingan, agregasi kepentingan, dan komunikasi politik. Sedangkan fungsi output, antara lain pembuatan kebijakan, penerapan kebijakan, dan penghakiman kebijakan.

Keunggulan dari kedua ragam pendekatan yang dikembangkan oleh Easton dan Almond antara lain adalah:

 Dalam membuat analisis politik, Easton dan Almond selalu peka akan kompleksitas antara sistem politik dengan sistem sosial yang lebih besar, yang mana sistem politik adalah sub-sistemnya.

Kesederhanaan pendekatan. Konsep ini dapat dipakai untuk

menganalisis berbagai macam sistem politik, demokratis atau otoriter, tradisional atau modern, dan sebagainya. Konsep Easton dan Almon berasumsi bahwa semua sitem memproses komponen-komponen yang sama sehingga kedua pendekatan itu bermanfaat dalam upaya mencari metode analisis dan pembandingan sistem politik yang seragam.

 Konsep yang diajukan oleh Almond memberi arahan untuk mencari data baru yang dapat meluaskan cakrawala perhatian ke masyarakat non-Barat dan non-”modern”.

Kelemahan dari konsep atau pendekatan yang dikembangkan oleh Easton dan Almond:

(14)

 Tidak menjelaskan hubungan sebab-akibat. Kedua pendekatan itu

lebih mentitikberatkan pada penjelasan analisis.

 Analisis struktural-fungsional Almond memiliki masalah ketidakjelasan konsep tentang fungsi. Almond tidak menjelaskan garis-garis yang membatasi fungsi-fungsi dalam masyarakat politik.

 Kedua pendekatan itu dikritik karena sangat dipengaruhi oleh ideologi demokrasi-liberal Barat. Terlihat jelas pada asumsi Almond yang mengatakan bahwa fungsi-fungsi yang ada di sistem politik di Barat pasti juga ada di sistem non-Barat.

 Kedua pendekatan itu juga dikritik kecenderungan ideologisnya karena cara memandang masyarakat yang terlalu organismik. Easton dan Almond menyamakan masyarakat dengan organisme, yang selalu terlibat dalam proses diferensiasi dan koordinasi. Selain itu mereka juga memandang masyarakat sebagai makhluk biologis yang selalu mencari keseimbangan dan keselarasan.

Obsesi Almond tentang ekuilibrum dan kestabilan telah membuatnya keliru tentang manfaat yang mungkin terdapat dalam dis-ekuilibrum, seperti revolusi atau perang kemerdekaan. Dis-ekuilibrum bisa dipakai untuk mencniptakan keadilan sosial, ketika cara-cara konvensional tidak mungkin dilakukan. Contohnya perang kemerdekaan melawan penjajah atau pemberontakan melawan kediktatoran.

B. LEMBAGA EKSEKUTIF

(15)

yang dipegang oleh raja atau presiden, beserta menteri-menterinya (kabinetnya). Dalam arti luas, lembaga eksekutif juga mencakup para pegawai negeri sipil dan militer. Oleh karenanya sebutan mudah bagi lembaga eksekutif adalah pemerintah. Lembaga eksekutif dijalankan oleh Presiden dan dibantu oleh para menteri. Jumlah anggota eksekutif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anggota legislatif, hal ini bisa dimaknai karena eksekutif berfungsi hanya menjalankan undang-undang yang dibuat oleh legislatif. Pelaksanaan undang-undang ini tetap masih diawasi oleh legislatif.

Kekuasaan eksekutif biasanya dipegang oleh badan eksekutif. Di negara-negara demokratis badan eksekutif biasanya terdiri atas kepala negara seperti raja atau presiden, beserta menteri-menterinya. Badan eksekutif dalam arti luas juga mencakup para pegawai negeri sipil dan militer.

Jumlah anggota badan eksekutif jauh lebih kecil daripada jumlah anggota badan legislatif, biasanya 20 atau 30 orang. Sedangkan badan legislatif ada yang anggotanya sampai 1.000 oranglebih. Badan eksekutif yang kecil dapat bertindak cepat dan memberi pimpinan yang tepat serta efektif, dalam hal ini ia berbeda dengan badan legislatif yang biasanya terlalu besar untuk mengambil keputusan dengan cepat. (Miriam,295:2008)

Badan Eksekutif Indonesia terletak pada Presiden yang mempunyai 2 kedudukan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Tugas-tugas lembaga eksekutif :

 Administratif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang dan perundangan lainnya dan menyelenggarakan administrasi negara.

(16)

 Keamanan, artinya kekuasaan untuk mengatur polisi dan angkatan

bersenjata, menyelenggarakan perang, pertahanan negara, serta keamanan dalam negeri.

 Yudikatif, yaitu memberi grasi, amnesti dan sebagainya.

 Diplomatik, yaitu kekuasaan untuk menyelenggarakan hubungan

diplomatik dengan negara-negara lain. (Miriam, 2008:296)

BAB III

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Sistem Politik Indonesia dari Masa Orde Lama hingga pasca Masa Reformasi

a. Sistem Politik pada Masa Orde Lama

Pada zaman orde lama di bawah kepemimpinan Bung Karno, saat itu Indonesia baru menunjukkan eksistensinya sebagai negara yang merdeka, negara yang berdaulat, dan negara yang baru saja merasakan nikmatnya sebuah kebebasan. Dengan semangat kemerdekaan itulah Indonesia setapak demi setapak namun pasti menuju ke arah kemajuan.

Pada masa Orde Lama terdapat 2 sistem pemerintahan, yaitu:

1. Masa Demokrasi Parlementer

(17)

demokrasi Parlementer adalah dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli tahun 1959.

2. Masa Demokrasi Terpimpin

Presiden mempunyai kekuasaan mutlak dan dijadikannya alat untuk melenyapkan kekuasaan-kekuasaan yang menghalanginya sehingga nasib parpol ditentukan oleh presiden (10 parpol yang diakui). Pada masa ini presiden merupakan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Tidak ada kebebasan mengeluarkan pendapat karena sistem kepemimpinan dalam pemerintahan dibawah komando presiden dan komunikasi satu arah. Semua lembaga yang pernah ada dibubarkan oleh presiden dan diganti dengan orang-orang pilihan presiden sendiri. Presiden pula yang menetapkan seluruh anggota parlemen dan anggota lembaga eksekutif yang membantu presiden dalam menjalankan kekuasaan. Presiden Soekarno mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup, berkembangnya ideologi partai-partai yang beraliran NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis), dan Indonesia keluar dari organisasi dunia yaitu PBB. Sebagai akhir dari masa demokrasi terpimpin adalah dengan adanya pemberontakan PKI pada tahun 1965.

b. Sistem Politik pada Masa Orde Baru

(18)

Hubungan dan kedudukan antara eksekutif (Presiden) dan legislatif (DPR) dalam sistem UUD 1945 sebenarnya telah diatur. Dimana kedudukan dua lembaga ini (Presiden dan DPR) adalah sama karena kedua lembaga ini adalah merupakan lembaga tinggi negara (Tap MPR No.III/MPR/1978). Namun dalam praktik ketatanegaraan dan proses jalannya pemerintahan pada masa rezim Orde Baru, kekuasaan eksekutif begitu dominan terhadap semua aspek kehidupan kepemerintahan dalam negara kita, terhadap kekuasaan legislatif maupun terhadap kekuasaan yudikatif.

Keadaan ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan, karena pengaturan yang terdapat di dalam UUD 1945 memungkinkan terjadinya hal ini. Oleh sebab itu, tidak salah pula apabila terdapat pandangan yang menyatakan bahwa UUD 1945 menganut supremasi eksekutif.

Selama Orde Baru tak bisa dilepaskan dari doktrin dwifungsi ABRI. Sebagai salah satu kekuatan yang tersisa setelah Partai Komunis Indonesia hancur, ABRI mau tidak mau menambah perannya tidak sekedar kekuatan pertahanan dan keamanan tetapi juga kekuatan sosial dan politik. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa stabilitas politik bisa tercipta kalau ada campur tangan ABRI dalam politik. Untuk itu ABRI mencari pembenaran campur tangan dalam politik.

(19)

selama orde baru berkuasa, kurang berkembang, bahkan mengalami krisis yang berkepanjangan.

Orde Baru yang telah ditinggalkan bangsa Indonesia telah meninggalkan banyak warisan. Di bidang politik, dominasi eksekutif yang berakhir dengan dominasi lembaga kepresidenan telah menyebabkan banyak kerancuan. Presiden menjadi sangat berkuasa tidak hanya dalam konteks kelembagaan bahkan jabatan presiden telah berubah jadi personifikasi Soeharto.

Jatuhnya kekuasaan pada masa Orde Baru diawali dengan serangkaian unjuk rasa mahasiswa terhadap pemerintahan. Mahasiswa menganggap pada masa itu pemerintah tidak berhasil dalam mengendalikan stabilitas politik dan ekonomi. Akhirnya presiden Soeharto lengser karena dianggap semua yang terjadi adalah karena tanggungjawabnya yang memberikan persetujuan akan kebijakan yang merugikan rakyat.

c. Sistem Politik Masa Pasca Reformasi

Setelah rezim Orde Baru jatuh dan presiden Suharto lengser, maka presiden Suharto memberikan mandat kepada wakil presiden Habibie. Pemerintahan yang dipegang oleh Habibie hanya beberapa bulan saja. Ini dikarenakan adanya tekanan untuk mengadakan pemilu yang demokratis. Hingga pada tahun 1999 dilaksanakanlah agenda pemilu yang pertama kali di Indonesia.

Indonesia memulai kehidupan barunya dengan melaksanakan pemilu secara jurdil dan demokratis. Masa ini cukup dikenal sebagai "orde reformasi". Sebuah orde di mana saat itu dilakukan reformasi secara total dengan agenda-agenda yang sejak lama direncanakan dan terjadi perombakan dalam segala bidang secara bertahap diawali dengan pergantian presiden dan kabinet di dalam pemerintahan

(20)

berjalannya kekuasaan penuh oleh presiden sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan dengan tetap diawasi oleh badan legislatif. Presiden bertanggung jawab penuh atas jalannya pemerintahan kepada MPR. Kemudian adanya UUD 1945 yang menetapkan fungsi sistem pemisahan kekuasaan sebagai adanya mekanisme kontrol antara Presiden dan MPR.

Kemudian adanya pengakuan HAM (Hak Azasi Manusia) dan kebebasan pers pada masa reformasi. Setelah sekian lama pada masa Orde Baru terdapat banyak pelanggaran HAM, maka pada masa ini masyarakat Indonesia mendesak agar pemerintah membuat suatu kebijakan dengan memberikan suatu pengakuan terhadap adanya HAM. Lalu dibuatlah suatu Undang-Undang tentang HAM dan dibentuk suatu lembaga yang bernama KOMNAS HAM. Kebebasan pers yang pada saat Orde Baru sangat diatur dan dikendalikan oleh pemerintah, kini mulai bebas dalam memberikan informasi kepada seluruh masyarakat.

Era pemerintahan orde reformasi yang ketika dibawah kepemimpinan Gus Dur berusaha mencoba menampilkan strategi demokratisasi yang khas yang dikenal sebagai “demokrasi bawah”, yaitu suatu demokrasi dan upaya demokratisasi Negara yang memprioritaskan upaya pemberdayaan dan keberdayaan masyarakat. Menurut Gus Dur upaya menciptakan demokrasi hampir identik dengan upaya pembangunan civil society, melalui saluran komunikasi yang dimilikinya, ia mencoba memberikan satu kerangka kerja bagi petani, buruh, pedagang kecil, bahkan pegawai pemerintah untuk menyalurkan dan menata diri mereka masing-masing.

B. Perkembangan Lembaga Eksekutif dari Masa Orde Lama hingga Masa Pasca Reformasi

(21)

 Demokrasi Parlementer

Kedudukan lembaga eksekutif sangat dipengaruhi oleh lembaga legislatif. Hal ini terjadi karena lembaga eksekutif bertanggung jawab kepada lembaga legislatif. Dengan demikian, lembaga legislatif memiliki kedudukan yang kuat dalam mengontrol dan mengawasi fungsi dan peranan lembaga eksekutif. Dalam pertanggungjawaban yang diberikan lembaga eksekutif maka para anggota parlemen dapat mengajukan mosi tidak percaya kepada eksekutif jika tidak melaksanakan kebijakan dengan baik. Apabila mosi tidak percaya diterima parlemen maka lembaga eksekutif harus menyerahkan mandat kepada Presiden.

 Demokrasi Terpimpin

Peranan lembaga eksekutif jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan peranannya di masa sebelumnya. Peranan dominan lembaga eksekutif tersentralisasi di tangan Presiden Soekarno. Lembaga eksekutif mendominasi sistem politik, dalam arti mendominasi lembaga-lembaga tinggi negara lainnya maupun melakukan pembatasan atas kehidupan politik. Eksekutif bisa membuat undang-undang dan seolah-olah semua terpusat pada lembaga ini. Dalam eksekutif terjadi kesenjangan dimana antara presiden dan jajarannya yang seharusnya memiliki kedudukan yang sejajar, tetapi seolah presiden yang paling memegang kendali. Contoh: pengangkatan presiden seumur hidup.

Eksekutif juga mengontrol lembaga peradilan, yang dibuktikan dengan peraturan yang intinya berbunyi bahwa ketika hakim sudah tidak mampu lagi untuk memutuskan suatu perkara maka kewenangan itu di ambil alih oleh presiden.

(22)

Kedudukan lembaga eksekutif tetap dominan. Dominasi kedudukan eksekutif ini pada awalnya ditujukan untuk kelancaran proses pembangunan ekonomi. Untuk berhasilnya program pem-bangunan tersebut diperlukan stabilitas politik. Eksekutif memiliki kedudukan yang lebih kuat dibandingkan dengan kedudukan lembaga legislatif maupun yudikatif. Pembatasan jumlah partai politik maupun partisipasi masyarakat ditujukan untuk menopang stabilitas politik untuk pembangunan dan kuatnya kedudukan lembaga eksekutif di bawah Presiden Soeharto.

Kontrol eksekutif tampak lebih menonjol manakala memperhatikan keleluasaan eksekutif dalam hal membuat regulatory laws sekalipun hanya bertaraf peraturan pelaksanaan, alasan kedua adalah dimana perkembangan politik pada era Orde Baru, kekuatan politik yang berkuasa di jajaran eksekutif ternyata mampu bermanouver dan mendominasi DPR dan MPR, dengan kompromi politik sebagai hasil trade-offs antara berbagai kekuatan polotik. Terlihat dari Pemilihan Umum tahun 1973, dimana 100 dari 360 anggota Dewan adalah anggota yang diangkat dan ditunjuk oleh eksekutif yaitu fraksi ABRI ditunjuk dan diangkat sebagai konsesi tidak ikutnya anggota ABRI dalam menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Konstelasi dan kontruksi tersebut dalam abad ke 20 secara sempurna menjadi Government Social Control dan fungsi sebagai Tool of Social Engineering.

(23)

Presiden juga memiliki kewenangan untuk menentukan keanggotaan MPR (pasal 1 ayat 4 huruf c UU No.16 Tahun 1969 jo UU No.2 Tahun 1985). Suatu hal yang sangat tidak pantas dan tidak pas dengan logika demokrasi. Sistem kepartaian yang menguntungkan Golkar, eksistensi ABRI yang lebih sebagai alat penguasa daripada alat negara, DPR dan pemerintah yang dikuasai partai mayoritas menyebabkan DPR menjadi tersubordinasi terhadap pemerintah. Hal ini pula yang menyebabkan fungsi pengawasan terhadap pemerintah (Eksekutif) yang seharusnya dilaksanakan oleh DPR/MPR (legislatif) menjadi tidak efektif.

c. Masa Reformasi

(24)

C. Tabel Perbandingan Sistem Politik di Indonesia dari Masa Orde Lama

(25)

berani menentang

(26)
(27)

Presiden hanyalah sebagai kepala Negara kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Semua yang diprogramkan oleh lembaga eksekutif tidak terealisasikan karena sering terjadi pergantian kabinet

b. Demokrasi Terpimpin

Pada masa Demokrasi Terpimpin pemerintahan berpusat kepada presiden. Sehingga semua berada dibawah kendali presiden. Sehingga terjadi banyak penyimpangan yang terjadi pada masa ini. Pemerintahan ini cenderung otoriter kerena Presiden mendeklarasikan diri sebagai Presiden seumur hidup. Menggunakan politik berdikari yang menolak semua investor asing menanamkan modal di Indonesia sehingga kehidupan ekonomi rakyat Indonesia semakin terpuruk.

2.

Orde Baru

Pada masa orde baru menggunakan sistem Presidensiil. Awal masa ini presiden membentuk kabinet pembangunan dan sistem desentralisasi tetapi realitasnya semua itu hanya janji – janji yang tidak pernah diwujudkan.

Pemerintahan ini cenderung otoriter karena semua semua kebijakan harus dengan persetujuan Presiden. pada masa ini banyak terjadi penyimpangan – penyimpangan. Banyak investor yang menanamkan modalnya di Indonesia dengan persetujuan presiden tetapi semua diluar dugaan. Para investor malah melarikan uang rakyat sehingga negara harus menanggung kerugian. Menurut rakyat semua ini kesalahan presiden sehingga menimbulkan KKN.

3.

Masa Pasca Reformasi

(28)

jawab pada MPR. Pada masa ini terjadi perombakan disegala bidang dawali dengan pergantian presiden dan kabinet. Penegakan sangat diakui dan dihargai oleh semua lapisan masyarakat. Pres sangat di bebas dalam mengemukakan pendapat. Pada masa reformasi lebih mengarah pada masa demokrasi. UUD 1945 menetapkan adanya fungsi sistem pemisahan kekuasaan sebagai adanya mekanisme kontrol antara Presiden dan MPR. Sistem presidensiil bercampur baur dengan elemen-elemen sistem parlementer.

Pelaksanaan demokrasi pancasila pada era reformasi telah banyak memberikan ruang gerak pada parpol maupun DPR untuk mengawasi pemerintah secara kritis dan dibenarkan untuk unjuk rasa.

Pada masa ini kedudukan lembaga eksekutif sejajar dengan lembaga legislatif dan yudikatif. Sehingga peran ketiga tersebut saling melengkapi satu sama lain. Peran eksekutif menjalankan fungsinya sesuai dengan undang – undang.

BAB V

KESIMPULAN

 Sistem politik pada masa orde lama dibagi menjadi dua yaitu: a. Demokrasi Parlementer

(29)

merupakan symbol pemerintahan. Program dari lembaga eksekutif tidak direalisasikan.

b. Demokrasi Terpimpin

Pada masa ini peran lembaga eksekutif cenderung otoriter dikarenakan peran presiden sangat mendominasi. Eksekutif dapat membuat undang – undang dan Presiden Soekarno saat itu mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden seumur hidup. Semua lembaga dikontrol oleh eksekutif. Dalam eksekutif terjadi kesenjangn dimana antara president dan jajaranya yang seharusnya memiliki kedudukan yang sejajar, tetapi seolah presiden yang paling memegang kendali.

 Sistem Politik pada masa Orde baru

Peran lembaga eksekutif pada masa inipun mengarah pada sistem yang otoriter. Semua kebijakan yang diajukan harus mendapatkan persetujuan presiden. Lembaga – lembaga yang lain serasa lumpuh karena semua berpusat pada presiden sebagai lembaga eksekutif.

 Sistem Politik pada masa Pasca Reformasi

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo,Miriam.2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik.Jakarta : Gramedia.

http://manshurzikri.wordpress.com/2010/02/09/review-konsep-sistem-politik/untitled2/

(31)

http://izzahluvgreen.wordpress.com/2008/06/08/hubungan-kerja-lembaga-eksekutif-dan-yudikatif/

http://www.legalitas.org/?

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...