• Tidak ada hasil yang ditemukan

Revitalisasi Brand Engagement Pasar Trad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Revitalisasi Brand Engagement Pasar Trad"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

REVITALISASI BR AN EKSISTENSI UMKM DALAM KANCAH AS

Disusun Oleh:

FUAD HASSAN 135020301111096

PRAPTININGSIH 135020101111047

TI RATNAS S. 145020501111020

(2)

1. Judul Karya Tulis Ilmia

s Ilmiah :“Revitalisasi Brand Engagement

(3)

ii limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang

berjudul “Revitalisasi Brand Engagement Pasar Tradisional melalui Penerapan Social Engineering sebagai Upaya Menguatkan Eksistensi UMKM dalam Kancah ASEAN”. pada waktu yang telah ditentukan.

Dengan segenap kerendahan hati, penulis sadar bahwa karya tulis ini tidak

mungkin terselesaikan tanpa adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang kepada seluruh pihak

yang turut memberikan bantuan dalam karya tulis ini.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tentunya masih jauh dari

kesempurnaan dan masih membutuhkan perbaikan. Oleh karena itu, penulis

mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, guna

penyempurnaan karya tulis ini ke depannya. Semoga karya tulis ini bermanfaat

bagi kita semua. Terimakasih

Malang, 06 Februari 2016

(4)

iii

1.3 Tujuan Penulisan... 3

1.4 Manfaat Penulisan... 3

Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Pengertian Pasar Tradisional... 4

2.2 Teori Brand Engagement... 4

2.3 Metode Social Engineering... 6

Bab III Metode Penulisan... 7

Bab IV Pembahasan 4.1 Analisis SWOT... 9

4.2 Penerapan Social Engineering... 10

4.3 Rekonstruksi Strategi Pemasaran dan Revitalisasi Pasar Tradisional... 13

4.4 Hasil yang Diharapkan dalam Revialisasi Pasar Tradisional... 19

Bab V Penutup 5.1 Kesimpulan... 20

(5)
(6)

v Gambar 4.2 Penerapan Social Engineering... 10

(7)
(8)

vii Social Engineering sebagai Upaya Menguatkan Eksistensi UMKM

dalam Kancah ASEAN

Dhimas Fuad Hassan, Endang Praptiningsih, Fabiyanti Ratna Safitri

Universitas Brawijaya, Malang

[email protected], [email protected], [email protected]

Pasar tradisional adalah sebuah tempat yang terbuka di mana terjadi proses transaksi jual beli yang dimungkinkan terjadi proses tawar menawar. Pasar tradisional juga menjadi sarana utama bagi pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah untuk melakukan kegiatan transaksi ekonomi yang menyokong kesejahteraan hidup mereka. Namun saat ini pasar tradisional sedang memiliki permasalahan besar yang berkaitan dengan tata kelola, infrastruktur, pelayanan, dan kualitas produk yang ditawarkan. Sehingga, konsumen dan stakeholder lebih memilih pasar modern sebagai alternative pemenuhan kebutuhan keseharian mereka yang mengakibatkan pasar tradisional mulai kehilangan eksistensi di kebanyakan masyarakat. Dengan demikian, pasar tradisional memerlukan revitalisasi yang dapat dilakukan secara massiv dan terstruktur. Salah satu cara terbaik untuk melakukan revitalisasi tersebut adalah dengan revitalisasi brand engagement melalui penerapan social engineering. Analisis pembahasan penulisan ini menemukan bahwa bila penerapan social engineering ini dapat dilakukan secara terstruktur dengan memenuhi beberapa indikatornya, maka revitalisasi pasar tradisional dapat menumbuhkan kembali brand engagement konsumen dan stakeholder pasar tradisional. Sehingga, pasar tradisional dapat menjadi sarana pereknomian yang benar-benar dapat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menguatkan eksistensi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di kancah ASEAN.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Keberadaan pasar tradisional di Indonesia telah ada sejak puluhan bahkan

ratusan tahun yang lalu, dimana sebagian besar pasar tradisional yang ada di

Indonesia merupakan saksi sejarah dan memiliki nilai cagar budaya. Sifatnya yang

hadir pada waktu‐waktu tertentu inilah kemudian dikenal adanya Pasar Minggu,

Pasar Pon, dan sebagainya. Pasar merupakan tempat jual beli barang dan jasa di

antara para petani yang membawa hasil bumi, produsen/pedagang barang

kebutuhan sehari‐hari, dan penduduk lingkungan setempat. Di dalam pasar

tradisional selain terjadi transaksi ekonomi juga memberikan kesempatan bagi

sebagian masyarakat terutama dari golongan menengah kebawah memiliki ruang

publik karena didalamnya terdapat interaksi sosial antara pedagang di pasar dan

masyarakat sekitar sehingga menjadikan pasar sebagai ruang berbagi informasi

bagi individu di dalamnya dan sebagai perekat sosial.

Pentingnya pasar tradisional bagi Negara dan warganya juga diungkap dalam

Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun 2007 yang

mendefinisikan pasar tradisional sebagai pasar yang dibangun dan dikelola oleh

Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan

Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha

berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,

menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal

kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.

Meskipun demikian pasar tradisional sampai saat ini belum menjadi primadona

untuk semua kalangan, terutama kalangan menengah-atas karena kondisi yang

cukup memprihatinkan yaitu kotor, bau dan becek sehingga tidak nyaman untuk

berbelanja serta tingkat kriminalitas yang cukup tinggi. Selain itu lokasi pasar

tradisional disekitar areal pemukiman warga dapat menyebabkan kemacetan dan

permasalahan sosial lain. Hal ini karena pengelolaan yang sederhana atau tidak

ada system dan peraturan yang ketat.

Kondisi pasar yang memprihatinkan tersebut dikhawatirkan dapat menggerus

(10)

menjamur. Terlebih lagi banyak kasus penggusuran dan relokasi pasar tradisional.

Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan ketua Ikatan Pedagang Pasar Tradisional

Indonesia (IKAPPI) bahwa dalam satu tahun terakhir 200 lebih pasar terbakar

dalam setahun, jumlah pasar tradisional di seluruh Indonesia turun drastis dari

13.540 pasar tradisional menjadi 9.950 pasar dalam waktu 4 tahun (periode

2007-2011), sedangkan jumlah toko retail modern meningkat dari 10.365 gerai menjadi

18.152 toko dengan lebih dari 7.000 toko baru muncul dalam waktu 4 tahun atau

setara dengan empat toko modern per hari. (Kompas.com)

Dengan semakin tingginya tingkat penggusuran dan relokasi pasar tradisional

menunjukkan bahwa keberadaan pasar tradisional semakin termarjinalkan padahal

diketahui bahwa pasar tradisional merupakan tepat dipasarkannya produk-produk

UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menenggah) maka hal tersebut dapat mengangu

pertumbuhan UMKM yang sedang diusahakan oleh pemerintah. Dengan demikian

permasalahan pasar tradisional tidak dapat diabaikan dan perlu dipertimbangkan

bahwa pertumbuhan pasar tradisional akan meningkatkan pertumbuhan UMKM

dan produk asli daerahnya yang secara regional dapat meningkatkan penerimaan

pendapatan daerah dari hasil retribusi pasar maupun pendapatan masyarakat dari

transaksi jual-beli produk UMKM dari pasar tradisional tersebut. Sebagai negara

berkembang keberadaan pasar tradisional di Indonesia merupakan hal yang

penting sebab pasar tradisional merupakan pilar ekonomi kerakyatan dengan

UMKM sebagai komponen utamanya. Terlebih lagi UMKM merupakan usaha

bermodal kecil yang tahan terhadap krisis ekonomi dan pertumbuhannya bisa

langsung dirasakan masyarakat daerah tersebut. Sehingga diperlukan suatu upaya

terpadu dari berbagai pihak untuk memperbaiki pasar tradisional dalam lingkup

menguatkan UMKM ditengah segala permasalahan pasar tradisional dan adanya

ekonomi ASEAN. Oleh sebab itu penulis mengajukan gagasan untuk mengatasi

permasalahan pasar tradisional yang berjudul “Revitalisasi Brand Engagement

Pasar Tradisional melalui Penerapan Social Engineering sebagai Upaya

(11)

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang penulis angkat dalam karya tulis ini adalah

mengenai pemaparan tentang bagaimana pembentukan brand engagement pasar

tradisional melalui penerapan social engineering menjadi solusi dalam revitalisasi

pengembangan pasar tradisional sebagai upaya penguatan eksistensi UMKM di

kancah ASEAN.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini ialah untuk mengetahui tentang

bagaimana pembentukan Brand Engagement pasar tradisional melalui penerapan

social engineering menjadi suatu solusi dalam revitalisasi pengembangan pasar

tradisional yang dapat membantu pasar tradisional lebih baik sebagai upaya

penguatan eksistensi UMKM di kancah ASEAN.

1.4 Manfaat Penulisian

Penulisan ini diharapkan mampu menjadi bahan kajian akademis sebagai

alat wacana pembelajaran yang dapat digunakan oleh berbagai pihak seperti

penulis sendiri, pemerintah, akademisi, praktisi, dan seluruh stakeholder terkait

untuk membuat kebijakan atau refrensi penelitian selanjutnya tentang

pembentukan Brand Engagement pasar tradisional melalui penerapan social

engineering menjadi suatu solusi dalam revitalisasi pengembangan pasar

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pasar Tradisional

Pasar tradisional adalah sebuah tempat yang terbuka di mana terjadi proses

transaksi jual beli yang dimungkinkan terjadi proses tawar menawar. Pendapat

serupa dikemukakan oleh Malano (2011) bahwa pasar tradisional merupakan

tempat bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan transaksi secara

langsung.

Menurut Malano (2011) karakteristik pasar tradisional dan pasarn modern

dapat ditinjau dari beberapa aspek. Berdasarkan aspek kondisi fisik tempat usaha,

pasar tradisional memiliki bangunan temporer, semi permanen, atau permanen.

Kondisi fisik pasar modern yaitu memiliki bangunan permanen, fasilitas

memadai, dan mewah. Berdasarkan aspek metode pelayanan, di pasar tradisional

pedagang melayani pembeli dan terjadi tawar-menawar. Metode pelayanan di

pasar modern yaitu sistem swalayan di mana pembeli melayani dirinya sendiri dan

harga sudah pasti, sehingga tidak ada tawar-menawar.

2.2 Teori Brand Engagement

Menurut Buckingham (2008) Brand Engagement atau keterlibtan merek

yaitu: 1) Adalah proses pembentukan hubungan emosional dan rasional, antara

seseorang (karyawan atau pelanggan) dengan brand. 2) Dibuat oleh lembaga dan

organisasi, tetapi pada saat bersamaan diciptakan untuk menyikapi persepsi,

keyakinan dan perilaku dari brand, dan dengan siapa lembaga & organisasi

tersebut berkomunikasi atau terlibat dengannya. 3) Secara umum adalah cara

menghubungkan brand terhadap konsumen melalui berbagai “touchpoints” –

yaitu urutan atau daftar cara-cara potensial, dimana brand melakukan kontak

dengan masing-masing individu. Memiliki posisi di antara pemasaran, iklan,

media komunikasi, media sosial, pengembangan organisasi, komunikasi internal

dan Human Resource Development (HRD)

Brand Engagement, Engagement (keterlibatan) memiliki arti sendiri yaitu

status motivasi yang menggerakkan serta mengarahkan proses kognitif dan

perilaku konsumen pada saat mereka membuat keputusan. Konsumen dapat

(13)

Konsumen juga dapat meluangkan waktu dan tenaga lebih dalam

mengintegrasikan informasi produk tersebut untuk mengevaluasi merek dan

menetapkan keputusan pembelian (Setiadi, 2005:117).

Setiadi (2005: 124) mengemukakan dua indikator sebagai alat ukur keterlibatan,

yaitu:

a. Brand loyalty

Pada brand loyalty tidak ada lagi merek yang dipertimbangkan untuk

dibeli selain merek produk yang sering dibelinya. Ketika merek produk itu

tidak tersedia, maka konsumen akan berusaha mencari produk tersebut di

tempat lain sampai mendapatkannya. Konsumen yang berperilaku seperti

ini dapat dikatakan bahwa konsumen loyal terhadap merek pilihannya.

Loyalitas merek dapat didefinisikan sebagai sikap menyenangi terhadap

suatu merek yang direpresentasikan dalam pembelian yang konsisten

terhadap merek tersebut sepanjang waktu (Setiadi, 2005: 124).

Pendekatan behavioral menekankan bahwa loyalitas dibentuk oleh

perilaku, sementara pendekatan kognitif memandang bahwa loyalitas

merupakan fungsi dari proses psikologis. Assel mengemukakan empat hal

yang menunjukkan kecenderungan konsumen yang loyal sebagai berikut

(Setiadi, 2005: 125):

1) Konsumen yang loyal terdapat merek cenderung lebih percaya

diri terhadap pilihannya.

2) Konsumen yang loyal lebih memungkinkan merasa tingkat

resiko yang lebih tinggi dalam pembeliannya.

3) Konsumen yang loyal terhadap merek juga lebih mungkin loyal

terhadap toko.

4) Kelompok konsumen yang minoritas cenderung untuk lebih

loyal terhadap merek.

b. Ekuitas merek

Dari sudut pandang konsumen, ekuitas merek melibatkan suatu sikap

merek positif yang kuat didasarkan pada kepercayaan dan arti baik yang

dapat diakses dari dalam ingatan. Faktor ini menciptakan hubungan

(14)

penting bagi sebuah pasar tradisional dan dasar bagi ekuitas merek

(Setiadi, 2005: 125).

2.3 Metode Social Engineering

Social Engineering atau rekayasa sosial adalah sebuah perubahan sosial yang

telah direncanakan dengan matang sebelumnya. Dalam hal ini, pengertian

rekayasa sosial menunjukkan makna yang lebih luas atau lebih pragmatis karena

pada dasarnya suatu rekayasa mengandung sebuah perencanaan yang

diimplementasikan hingga teraktualisasikan di alam nyata (Mahayana dalam

Rakhmat, 2000). Lebih jelasnya, rekayasa sosial adalah suatu usaha untuk

mengatasi masalah-masalah sosial dengan perubahan yang dapat merombak

tatanan dan institusi sosial, sehingga menghasilkan suatu masyarakat yang

mandiri, responsible, (Simandjuntak, 1981).

Menurut Romadlan (tidak ada tahun), sebuah rekayasa sosial dilakukan

karena situasi sosial berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Dan

Rahmat di dalam Romadlan (2000) mengatakan bahwa perubahan sosial melalui

rekayasa sosial pertama-tama harus dimulai dari perubahan cara berfikir.

Perubahan sosial tidak akan menuju ke arah yang direncanakan apabila kesalahan

berfikir masih dipraktekkan.Rekayasa sosial dijabarkan dengan mengidentifikasi

indikator-indikator sebagai berikut:1) Sebab perubahan (cause of change): tujuan

sosial yang diharapkan memberikan jawaban mengenai masalah sosial. 2) Sang

pelaku perubahan (agent of change): individu, kelompok, atau organisasi yang

berupaya melakukan rekayasa sosial. 3) Sasaran perubahan (target of change):

individu, kelompok, atau organisasi yang menjadi rekayasa sosial. 4) Saluran

Perubahan (channel of change): media yang digunakan sebagai saluran untuk

melakukan rekayasa sosial. 5) Strategi perubahan (strategy of change): metode

(15)

BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Jenis Penulisan

Penulisan ini merupakan jenis penulisan deskriptif dengan pendekatan

kualitatif, yaitu prosedur penulisan yang menghasilkan datadeskriptif berupa

kata-kata tertulis dari orang-orang dan perilaku yang diamati,didukung dengan studi

literatur atau studi kepustakaan berdasarkan pendalamankajian pustaka berupa

data dan angka, sehingga realitas dapat dipahami denganbaik (Moloeng, 1990:5).

Penekanan dalam penulisan ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan

mengklarifikasi mengenai suatu fenomena yang terjadi atau kenyataan sosial

dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkaitan dengan

masalahdan unit yang diamati (Faisal, 1999:20). Dalam menganalisis

permasalahan, terlebih dahulu melakukan proses analisis terhadap permasalahan

kemudian mengaitkan permasalahan yang terjadi di lapangan beserta solusinya.

Tujuan dari penulisan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran

atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta

hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2003)

3.2 Teknik Penulisan

Teknik penulisan dilakukan dengan memahami atau mengeksplorasi beberapa

data sehingga mampu memberikan deskripsi tentang masalah yang dianalisis.

Sesuai dengan jenis penulisannya maka penulisan karya ilmiah ini menggunakan

teknik penulisan yang berkarakter kualitatif dengan menguraikan, menjabarkan,

dan merangkai variabel-variabel yang diteliti menjadi sebuah untaian kata-kata

dalam setiap bagian pembahasan.

3.3 Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penulisan ini termasuk jenis data sekunder, yaitu

data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara. Teknik

pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur. Teknik dilakukan

dengan cara mempelajari dan menganalisis beberapa literatur yang

berkaitandengan pokok permasalahan. Data-data yang relevan tersebut dapat

berupa buku,majalah, artikel, makalah, jurnal penelitian, dan surat kabar yang

(16)

diperoleh dari beberapa media, baik media cetak maupun media elektronik. Data

diperoleh dengan cara mempelajari literatur dan melakukan diskusi untuk

memperkuat argumen dan pemahaman terhadap permasalahan yang diangkat.

Metode diskusi merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan

pertukaran pikiran dengan orang yang memiilki kompetensi tentang topik yang

diangkat. Dengan demikian, proses analisis yang merupakan hasil pengumpulan

data ini hanya sebatas data yang dapat diperoleh. Intuisi subjektif juga dilakukan

sebab intuitif subjektif merupakan perlibatan pendapat penulis atas masalah yang

sedang dibahas.

3.4 Metode Analisis Data

Sehubungan dengan permasalahan yang tertulis pada rumusan masalah dan

pendekatan penulisan yang digunakan, penulis menganalisa data-data yang

diperoleh dengan metode analisa deskriptif kualitatif, yaitu data yang diperoleh

kemudian disusun, sehingga mempermudah pembahasan masalah-masalah yang

ada. Karena titik fokus penulisan ini adalah penulisan berbasis literatur (pustaka),

maka data yang diumpulkan merupakan data kualitatif. Proses analisa data yang

dilakukan dalam penulisan ini terjadi secara bolak balik dan berinteraktif, yang

terdiri dari: (1) Pengumpulan data (data collection), (2) Reduksi data (data

reduction), (3) Penyajian data (data display), dan (4) Pemaparan dan penegasan

(17)

BAB IV

PEMBAHASAN

4. 1 Analisis SWOT

Analisis yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan analaisis SWOT

yang mempermudah peneliti untuk mengetahui secara detail dari kekuatan,

kelemahan, kesempatan dan ancaman dari pasar tradisional. Dengan mengetahui

kondisi nyata dari pasar tradisional, maka peneliti Dapat menentukan strategi yang

harus dilakukan untuk melakukan revitalisasi brand engagement pasar tradisional.

Gambar 4.1

Analisis SWOT

Sumber: Chaffey, 2008

Berdasarkan tabel analisis SWOT tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan terkait

kelebihan dan kekurangan dari pasar tradisional yang dirangkum dalam kolom

berikut.

Tabel 4.1

Kelebihan dan Kekurangan Pasar Tradisional

Kelebihan Kekurangan

• Pasar tradisional menjual barang

dengan harga yang murah

• Konsep tawar menawar

• Struktur dari bisnis eceran ini lebih

mendekati pasar persaingan

sempurna

• Jumlah penduduk yang besar

sekitar 220 juta jiwa

• Masih beredarnya produk-produk

yang mengandung bahan kimia

berbahaya

• Belum dapat memenuhi tuntutan di

luar sisi harga seperti kenyamanan,

pelayanan, dll

• Belum ada aturan yang jelas dan

(18)

• Pendapatan per kapi

dan daerah tentang perizina

modern

• Belum tersosialisasinya

kredit untuk para pedagan

baik yang berasal dari pem

maupun lembaga keuanga

lain

• Pasar tradisional kurang

bersaing dengan pasar mode

• Masih mengabaikan

pelayanan yang baik untu

pembelinya

Sumber: Olahan Penu

ocial Engineering

ambar 4.2 Penerapan Social Engineering

(19)

4.2.1Cause of Change

Penerapan social engineering langkah pertama yang harus dilakukan adalah

menentukan penyebab perubahan yang menjadi permasalahan. Berkaitan dengan

penelitian ini permasalahan yang hendak direkayasa adalah mengupayakan agar

brand engagement pasar tradisional menjadi lebih baik sehingga pasar tradisional

dapat menjadi primadona sebagai tempat perbelajaan untuk semua kalangan.

Permasalahan yang muncul dan menjadi penyebab perubahan pada brand

engagement pasar tradisional adalah kesalahan dalam pola pikir pelaku dalam

pasar yang menjadikan pasar hanya sebagai tempat untuk berjual-beli, tempat

yang kumuh dan memiliki pelayanan yang buruk. Pola pokir yang salah inilah

yang perlu direkayasa agar brand engagement pasar tradisional sesuai dengan

harapan. Untuk memperbaiki pola pikir tersebut para pelaku pasar tradisional

harus mengerti dan menyadari apa tujuan pasar tradisional yang sebenarnya.

Dalam hal ini dapat dilakukan rekonstruksi tujuan untuk membantu mengarahkan

pasar tradisional supaya tetap fokus hanya pada hal-hal yang ingin dicapai.

Berikut adalah beberapa tujuan yang harus dicapai oleh pedagang di pasar

tradisional

1. Sell: Menjual produk dan layanan yang terdapat di dalam pasar tradisional

2. Serve: Memberikan pelayanan maksimal kepada konsumen dan

stakeholder

3. Speak: Mengkomunikasikan nilai-nilai dari produk dan layanan yang

dimiliki oleh pasar tradisional

4. Save: Menyimpan dan menghemat biaya operasional pedagang yang

nantinya dapat digunakan untuk modal usaha

5. Sizzle: Menyebarkan kesadaran atau brand engagement konsumen dan

stakeholder pasar tradisional

4.2.2 Agent of Change

Guna mencapai tujuan dari penerapan social engineering dalam revitalisasi

ini, maka diperlukan sinergitas antar stakeholders atau agent of change yang

masing-masing memiliki peran strategis. Sinergitas ini berfungsi agar tidak terjadi

overlapantar stakeholders dan memungkinkan untuk terjadinya dinamisasi.

(20)

1. Akademisi dan Praktisi. Melalui pengalaman dan kemampuan dalam hal

keilmuan terkait, kedua belah pihak melakukan kolaborasi dan menjalankan

dua yaitu, (1) Research And Development tentang konsep pasar tradisional

meliputi pengembangan teknologi, inovasi produk, sistem atau manajemen

pengelolaan serta diferensiasi produk. Selai itu, pengembangan E-Marketing

juga dapat dikemabangkan oleh kedua belah pihak. (2) Human Resource

Development yaitu pengembangan SDM melalui pengembangan skill baik

hard yang tercermin dalam keilmuan manajerial dan konsep pengembangan

maupun soft yang tercermin dalam kemampuan pengelolaan emosi dalam

manajemen organisasi terkait kelembagaan dalam pasar tradisional.

2. Pemerintah, yaitu meliputi peran pemerintah (baik pusat dan terutama daerah)

dalam hal menstimulus program ini yaitu meliputi (1) Regulationrole, dalam

wujud pembuatan kebijakan yang serta perlindungan dan penegakkan hukum

berkaitan program ini yang bersifat support dan komitmen pemerintah,

seperti kontrol persaingan usaha, kontrol lingkungan dan lain-lain. (2)

Allocationrole, dalam wujud distribusi sumber daya yang langka dalam hal

ini tenaga ahli, infrastruktur pendukung, modal pendukung, transfer teknologi

dan input lainnya .

3. Masyarakat terutama pedagang pasar yang tergabung dalam berbagai

kelompok pedagang yang berperan sebagai subjek social engineering

khususnya penunjang kinerja dari penerapan social engineering dalam

revitalisasi pasar tradisional melalui peran aktif dalam berpartisipasi. Selain

itu dibutuhkan pula peran dari tokoh masyarakat yang berpengaruh sebagai

mediasi dalam pelembagaan masyarakat untuk menciptakan modal sosial

sehingga meningkatkan efisiensi pelaksanaan program yang terkoordinasi

secara teratur.

4.2.3 Target of Change

Target dari rekayasa sosial adalah konsumen dan stakeholder pasar

tradisional. Melalui rekayasa sosial, konsumen diharapkan dapat memiliki brand

loyality yang dapat memberikan dampak positif terhadap brand engagement pasar

(21)

memberikan pelayanan yang berkualitas sehingga dapat menjaga eksistensinya

yang berkelanjutan.

4. 3 Rekonstruksi Strategi Pemasaran dan Konsep Revitalisasi Pasar

Tradisional

Setelah tujuan yang ingin dicapai berhasil dirumuskan pada tahap

sebelumnya, maka penyusunan strategi yang tepat sasaran dapat dilakukan. Cara

yang dapat digunakan untuk mengingat elemen kunci yang harus ada dalam

strategi-khususnya dalam pembentukan strategi efektif dan efisien adalah dengan

menggabungkan media informasi online dan media offline (tingkah laku, aksi, dan

media cetak) agar dapat bergerak beriringa. Hal tersebut demikian, media online

dapat digunakan secara bebas dan gratis yang tujuan utamanya adalah

menyebarluasakan informasi dan perkembangan pasar tradisional kepada

masyarakat luas. Sementara itu, media offline digunakan untuk menunjukkan

secara langsung bahwasanya apa yang ditawarkan benar-benar nyata.

Pertama, strategi yang dibuat harus difokuskan untuk mencapai Objectives

(O) yang telah ditentukan sebelumnya. Identifikasi semua Segments (S) yang

mungkin dapat dimiliki oleh pasar tradisional. Segmentation merupakan

pengklasifikasian customer ke dalam beberapa kelompok berbeda untuk dapat

mengetahui kebutuhan produk atau jasa spesifik dari masing-masing kelompok.

Berhubung kebutuhan segment customer yang ditargetkan secara online mungkin

akan berbeda dengan segment customer yang telah ada pada jalur offline, mungkin

akan diperlukan adanya pemilihan ulang mengenai Target Market (T) atau

segment yang ingin dikuasai melalui marketing secara online. Positioning (P) juga

merupakan salah satu bagian paling mendasar yang harus diperhatikan dalam

pembentukan strategi emarketing, karena pemilihan produk yang ingin dijual

melalui jalur online, penentuan harga yang tepat dan penawaran value seperti apa

yang dijanjikan kepada calon customer dengan adanya e-marketing, akan

menentukan posisi pasar tradisional di dalam marketplace dibandingkan dengan

para competitor yang ikut bersaing di dalamnya. Yang ditekankan dalam hal ini,

pengertian proposition yang dimaksud diatas adalah Customer Value Proposition

(yang dalam konteks pembuatan strategi e-marketing disebut sebagai Online

(22)

a. All benefit to your customers dimana Customer Value Proposition diartikan

sebagai daftar dari seluruh keuntungan yang akan diperoleh customer jika

membeli produk atau jasa pasar tradisional.

b. Favorable points of difference between your product with your competitors

dimana Customer Value Proposition diartikan sebagai daftar keuntungan

lebih yang akan diperoleh customer bila membeli produk atau jasa pasar

tradisional bila dibandingkan denganmembeli pada kompetitor.

c. Resonating focus dimana Customer Value Proposition diartikan sebagai

keuntungan paling besar yang ditawarkan oleh pasar tradisional untuk

menjaga customer agar mau membeli produk atau jasa pasar tradisional baik

di masa sekarang maupun di masa depan. Strong value proposition atau value

proposition yang efektif harus mampu menarik minat target customer untuk

membeli suatu produk atau jasa yang ditawarkan pasar tradisional, bahkan

harus mampu mempengaruhi pelanggan agar bersedia untuk loyal

menggunakan produk atau jasa yang dijual pasar tradisional. Online value

proposition itu sendiri bisa diartikan sebagai Customer Value Proposition

yang ditawarkan oleh pasar tradisional kepada customer melalui channel

online.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun Online Value Proposition

(Cheffey, 2008) yang efektif, diantaranya adalah menggunakan pendekatan 7P

seperti berikut:

a. Product (Content, Customisation, Community) – sediakan pelayanan baru

melalui media e-marketing yang telah dibangun sehingga dapat memberikan

experience yang positif bagi customer mengenai brand yang dijual pasar

tradisional, seperti penyediaan onlinecustomer service, penyediaan informasi

lengkap mengenai produk(termasuk isi testimoni atau review terhadap produk

yang diberikan oleh pelanggan lain) dan pembentukan komunitas lewat jalur

online, untuk menambah value pada produk atau jasa yang ditawarkan.

b. Price (Cost reduction) – berikan penawaran harga spesial atau lebih murah

melalui channel online, contoh: pemberian diskon pada barang tertentu yang

dibeli secara online atau penyediaan extra products atau service jika membeli

(23)

c. Place Jalur online dapat menyediakan channel baru yang relatif lebih praktis

digunakan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan pasar tradisional,

contohnya, customer dapat melakukan order kapan saja dengan mudah

melalui jalur online tanpa harus datang ke toko offline nya.

d. Promotion – Jalur online menyediakan banyak kesempatan dan kemudahan

bagi pasar tradisional dalam melakukan promosi secara cepat, murah dan

mampu menjangkau masyarakat luas secara efektif. Yang terpenting dalam

hal promosi adalah kreatif dalam mengkombinasikan e-tools yang sudah

banyak tersedia untuk membantu keberhasilan website e-marketing yang telah

diluncurkan, seperti penggunaan Search Engine Optimization, Display Ads,

Social Networks, dan lain sebagainya sebagai sarana atau alat untuk

mempermudah customer acquisition.

e. Physical evidence, People, Process- element marketing mix berikut ini sangat

penting perannya dalam membentuk experience bagi customer. People

berperan penting dalam mensukseskan customer service, kualitas Process

(kualitas performa dan kemudahan akses dari website pasar tradisional,

kemudahan prosedur order melalui jalur online, dll.) dan Physical Evidence

(seperti independent review mengenai kualitas produk yang ditulis oleh

seseorang di luar pasar tradisional secara sukarela, news clippings yangditulis

media massa mengenai pasar tradisional, bentuk packaging dari produk,

penampakan brand atau logo, dll.) berperan penting dalam menciptakan

persepsi customer terhadap brand yang dijual pasar tradisional. Sehingga

untuk dapat menciptakan Online Proposition Value yang efektif, pelaksanaan

strategi untuk meningkatkan kualitas dari ketiga elements ini juga harus

direncanakan denganbaik.

Untuk melengkapi kebutuhan customer ,7P harus dilengkapi dengan 4C yang

terdiri dari:

1. Customer need analysis: Pasar tradisional harus dapat membuat produk

sesuai dengan kebutuhan customer.

2. Cost: strategi penetapan harga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan minat

(24)

3. Convenience: Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan

menggunakan internet kenyamanan pelanggan dapat diwujudkan, karena

transaksi dengan

4. Communication: Promosi yang awalnya dilakukan melalui komunikasi satu

arah, dengan menggunakan internet dapat berkembang menjadi komunikasi

dua arah yang lebih interaktif dengan customer. Pasar tradisional juga dapat

berhubungan dengan masingmasing customer secara unik.

Selanjutnya, hal yang harus dilakukan adalah pembagian tugas yang jelas dari

aspek yang harus dilakukan dalam revitalisasi peran pasar tradisional. Dalam hal

ini, Fariz et al (2013) menjelaskan menjelaskannya dalam suatu skema yang

(25)

Konse

Gambar 4. 3

(26)
(27)

4. 4 Hasil yang Diharapkan dalam Revitalisasi Pasar Tradisional

Penerapan konsep social engineering dipastikan akan menghasilkan

peningkatan brand engagement pasar tradisional. Experiential marketing pada

hakikatnya bisa digunakan sebagai sarana untuk membangun brand equity.

Peningkatan brand engagement tersebut berupa perbaikan image pasar tradisional

yang tidak hanya mengalami perbaikan pada dimensi fisik pasar yang bagus dan

nyaman sesuai kebutuhan konsumen, melainkan juga peningkatan kualitas sosial

terutama pelayanan dan interaksi sosial pedagang-konsumen-institusi terkait.

Konsumen atau pelanggan akan diberikan kesan sehingga memudahkan

pemasaran ke depannya yang tentu saja menguntungkan pedagang dan konsumen.

Selain itu, konsep ini diharapkan membuka komunikasi efektif antar pelaku yang

berkepentingan di pasar tradisional agar tidak muncul benih-benih konflik. Hal ini

tentu saja menguntungkan semua pihak dalam mengembangkan program pasar

tradisional ke depan yang lebih efisien.

Penggunaan konsep social engineering yang tersetruktur akan

meningkatkan invetrisasi data dari program yang telah dilakukan sehingga dapat

dijadikan riset untuk mengatasi hambatan dalam peningkatan brand engagement

pasar tradisional ke depannya. Selain itu pendekatan yang mengedepankan

partisipasi aktif masyarakat ini akan melatih untuk meningkatkan kepekaan

pedagang tradisional untuk menganalisis permasalahannya dan merumuskan

solusinya.Akhirnya terbentuklah pasar tradisional yang mandiri dengan pedagang

atau pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mampu bersaing

dan menjaga eksistensinya yang berkelanjutan, tidak hanya berperilaku subsisten

(28)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Penerapan social engineering dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang

dilalui adalah sebagai berikut: 1) Cause of change, menentukan penyebab

perubahan yang menjadi permasalahan. 2) Agent of Change, menentukan

pihak-pihak terkait yang akan menjadi pelaksana social engineering. 3) Target of

Change, menentukan individu, kelompok, atau organisasi yang menjadi rekayasa

social, dalam hal ini yang menjadi target of change adalah konsumen dan stake

holder pasar tradisional. 4) Strategy of change, strategi untuk melakukan

perubahan yang disusun berdasarkan ketiga tahap sebelumnya. Strategy of change

meliputi strategi pemasaran dan revitalisasi pasar tradisional. Setelah keempat

indikator terpenuhi maka terbentuklah pasar tradisional yang mandiri dengan

pedagang atau pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mampu

bersaing dan menjaga eksistensinya yang berkelanjutan, tidak hanya berperilaku

subsisten tetapi berorientasi pada preferensi atau kepuasan pelanggan

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan pada penulisan ini adalah:

1. Pemerintah diharapkan lebih meningkatkan komitmen terhadap pembangunan

ekonomi terutama yang berkaitan dengan komitmen perwujudan ekonomi

kerakyatan yaitu menjadi fasilitator dana (permodalan), pelatihan dan

penyuluhan, serta kebutuhan infrastruktur pendukung aktivitas ekonomi

2. Akademisi diharapkan lebih dalam peningkatan riset guna perlindungan

pelaku ekonomi kerakyatan di tengah pembangunan ekonomi di era

globalisasi ini mengingat semakin terdesaknya keberadaan pasar tradisional

yang memiliki peran penting dalam perekonomian. Perlu adanya transfer

pengetahuan kepada pedagang pasar tradisional yang umumnya masih rendah

kualitasnya.

3. Tokoh masyarakat beserta masyarakat termasuk pedagang pasar tradisional

diharapkan mampu mendukung secara lebih terhadap pembangunan ekonomi

(29)

kebijakan pemerintah, salah satunya melalui konsep social engineering yang

diajukan penulis.

4. Semua stakeholders diharapkan memiliki komitmen dan integrasi kepada

program pembangunan ekonomi kerakyatan melalui pembenahan revitalisasi

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Fasihul. 2012. Eksistensi Pasar Tradisional akbat munculnya pasar modern

(Studi kasus di Pasar dinoyo Malang). Tugas Akhir Gelar Sarjana Fakultas

Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim

Anonimous. 2014. Penggusuran Pasar Tradisional Diceamskan.

http://regional.kompas.com/read/2010/11/25/10143146/Penggusuran.Dice

maskan. Diakses 09 Oktober 2014

Anonimous. 2014. Tolak Penggusuran Pasar

http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1279787705/tolak-penggusuran-pasar

Anonimous. 2016. Setahun Jokowi-JK, Pedagang Pasar Tradisional Masih

Menanti Keberpihakan Pemerintah

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/10/20/105852826/Setahun.J

okowi. Diakses 25 Januari 2016

Andreani, Francisca. 2007. ExperientialMarketing (Sebuah Pendekatan

Pemasaran). Jurnal Manajemen Pemasaran.

B, Simandjuntak. 1981. Sosiologi Pembangunan. Bandung: Tarsito

Buckingham, P. Ian. 2008. Brand Engagement How Employees Make or Break

Brands. New York: Palgrave Macmillan.

Faisal, Sanapiah. 1999. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: PT. Raya

Grafindo Persada.

Fariz, Mohammad et al. 2013. Inisiasi Konsep PRA (Participatory Rural

Appraisal) dalam Revitalisasi Brand Pasar Tradisional Melalui

Pendekatan Managerial Porter’s Diamond-Experiential Marketing. Artikel

ilmiah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Malano, Herman.2011. Selamatkan Pasar Tradisional: Potret Ekonomi Rakyat

Kecil. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Nazir. 2003. Metodologi Penelitian, Cetakan Kelima. Jakarta: Ghalia Indonesia

Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Rekayasa Sosial: Reformasi, Revolusi atau Manusia

Besar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Republik Indonesia, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun

(31)

Perbelanjaan dan Toko Modern

Romadlan, Said. Tidak ada tahun. Rekayasa Sosial (Sosial Engineering) adopsi

teknologi komunikasi (internet) di kalangan Pondok Pesantren

Muhammadiyah. Jakarta: UHAMKA

Setiadi, N.J.2005. Perilaku Konsumen. Cetakan Kedua. Jakarta: Pernada Media

.

(32)

BIODATA PENULIS

Biodata Ketua

A. Identitas Diri

1 Nama Lengkap Dhimas Fuad Hassan

2 Jenis Kelamin L

3 Program Studi Akuntansi

4 NIM 135020301111096

5 Tempat dan Tanggal Lahir Malang, 08 Juli 1995

6 Email [email protected]

7 Nomor Telepon/ HP 08990350587

B. Riwayat Pendidikan

SD SMP SMA

Nama Institusi SDN Sepanjang

V

Tahun Masuk-Lulus 2001-2007 2007-2010 2010-2013

C. Pemakalah Seminar Ilmiah

No Nama Pertemuan

Ilmiah

Judul Artikel Ilmiah Waktu dan

Tempat

- - -

D. Penghargaan dalam 3 Tahun Terakhir

No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun

1 Juara III setara

perunggu dalam

PIMNAS 28 2015

kategori Poster

PKM-M

Menristek Dikti 2015

(33)

Biodata Anggota 1

A. Identitas Diri

1 Nama Lengkap Endang Praptiningsih

2 Jenis Kelamin P

3 Program Studi Ilmu Ekonomi /Ekonomi Pembangunan

4 NIM 135020101111047

5 Tempat dan Tanggal Lahir Blitar, 14 Desember 1994

6 Email [email protected]

7 Nomor Telepon/ HP 081615813848

B. Riwayat Pendidikan

Tahun Masuk-Lulus 2001-2007 2007-2010 2010-2013

C. Pemakalah Seminar Ilmiah

No Nama Pertemuan

Ilmiah

Judul Artikel Ilmiah Waktu dan

Tempat

- - -

D. Penghargaan dalam 3 Tahun Terakhir

No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun

1 Finalis LKTI 7th

ECCENTS FEB

UNAIR

(34)

Biodata Anggota

A. Identitas Diri

B. Riwayat Pendidikan

SD SMP SMA

Nama Institusi SDN Sumengko 4 Smpn 3 nganjuk SMAN 3 Nganjuk

Jurusan IPS

Tahun

Masuk-Lulus

2002-2008 2008-2012 2012-2014

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)

No Nama Pertemuan Ilmiah/

Seminar

D. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau

institusi lainnya)

No Nama Pertemuan Ilmiah/

Seminar

1 Nama Lengkap Fabiyanti Ratna Safitri

2 Jenis Kelamin Perempuan

3 Program Studi Ilmu Ekonomi

4 NIM 145020501111020

5 Tempat dan Tanggal Lahir Nganjuk, 28 februari 1996

6 E-mail [email protected]

(35)

SURAT PERNYATAAN

KEASLIAN NASKAH KARYA TULIS

Yang bertanda tangan dibawah ini;

Nama : 1. DHIMAS FUAD HASSAN

2. ENDANG PRAPTININGSIH

3. FABIYANTI RATNA SAFITRI

Alamat : Jalan Watugilang III, Kel. Ketawanggede, Kec. Lowokwaru, Kota

Malang

Dengan ini menyatakan bahwa karya tulis dengan judul “Revitalisasi Brand

Engagement Pasar Tradisional melalui Penerapan Social Engineering sebagai

Upaya Menguatkan Eksistensi UMKM dalam Kancah ASEAN”.

Adalah benar-benar asli merupakan hasil karya tulis kami (bukan jiplakan) dan karya

tulis tersebut belum pernah dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain

dan/atau dipublikasikan, kecuali dalam kegiatan Andalas Acounting National Events

2016, Universitas Andalas (ACCOUNTS 2016 ANDALAS) yang diselenggarakan

oleh PKM Mini Hima Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Apabila di

kemudian hari terbukti sebaliknya, maka saya bersedia mendapat sanksi dan

didiskualifikasi dari kompetisi tersebut. Demikian pernyataan ini dibuat dalam

keadaan sadar dan tanpa ada unsur paksaan dari siapapun.

Malang, 06 Februari 2016

Yang Membuat Pernyataan

Penulis

(36)

Gambar

Gambar 4.1 Analisis SWOT

Referensi

Dokumen terkait