• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual Per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual Per"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH BIOLOGI REPRODUKSI

Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual Perempuan “Hak Untuk Bebas dari Penganiayaan dan Perlakuan Buruk”

Oleh

Irma Hamdayani Pasaribu

(2)

2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Permasalahan kekerasan wanita di Indonesia dapat diibaratkan seperti

gunung es yang hanya puncaknya saja menyembul ke permukaan, namun sebagian besar badan gunung ada di bawah permukaan laut. Pada umumnya kekerasan pada wanita hanya dapat dikenali bila hal itu telah terjadi, dan korban

melapor. Maraknya kekerasan terhadap perempua, menjadi sangat populer dalam beberapa tahun belakangan ini. Sangat ironis, di tengah-tengah masyarakat

modern yang dibangun di atas prinsip rasionalitas, demokrasi, dan humanisme yang secara teori seharusnya mampu menekan tindak kekerasan justru budaya kekerasan semakin menjadi fenomena yang tidak terpisahkan. Dewasa ini kita

menyaksikan dengan jelas munculnya berbagai tindak kriminalitas, kerusuhan, kerusakan moral, pemerkosaan, penganiayaan, pelecehan seksual, dan lain-lain

yang keseluruhannya adalah wadah budaya kekerasan (Harnoko, 2010).

Tindak kekerasan tidak hanya merupakan masalah individual atau masalah nasional, tetapi sudah merupakan masalah global bahkan internasional, yang

(3)

perempuan, sementara bagi anak-anak dikenal dengan istilah, “working children”, “street childern”. Dalam konteks perlindungan HAM, sebagai manusia, perempuan dan anak juga memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya dimuka bumi ini, yakni hak yang dipahami sebagai hak-hak yang melekat (inherent) secara alamiah sejak ia dilahirkan, dan tanpa itu manusia (perempuan

dan anak) tidak dapat hidup sebagai manusia secara wajar (Pasalbessy, 2010).

Kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan rintangan terhadap

keberhasilan pembangunan. Bagaimanapun tindak kekerasan akan berdampak pada kurangnya rasa percaya diri, menghambat kemampuan perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, mengganggu kesehatannya, mengurangi

otonomi, baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya serta fisik. Demikian juga dengan anak, kepercayaan pada diri sendiri dalam pertumbuhan jiwanya akan

terganggu dan dapat menghambat proses perkembangan jiwa dan masa depannya. Dalam Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak memberikan kewajiban bagi semua pihak termasuk negara untuk melindunginya.

Pasal 71 (1) Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang

berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan (UU.No.36 Tahun2009 Tentang Kesehatan).

(4)

664 lembaga layanan yang dikirimi formulir pendataan, serta pengaduan langsung ke Komns Perempuan. Jumlah kasus KTP 2014 sebesar 293.220 sebagian besar

dari data tersebut diperoleh dari data kasus/perkara yang ditangani oleh PA, yaitu mencapai 280.710 kasus atau berkisar 96%. Sisanya sejumlah 12.510 kasus atau berkisar 4% bersumber dari 191 lembaga-lembaga mitra pengada layanan yang

merespon dengan mengembalikan formulir pendataan yang dikirimkan oleh Komnas Perempuan.

Dari sumber data tersebut ditemukan bahwa penyebab perceraian yang dari kasus yang ditangani oleh PA sebagai berikut: kekerasan psikis yang mencapai persentase 47% mencakup: poligami tidak sehat, krisis akhlak,

cemburu, kawin paksa, kawin di bawah umur, kekejaman mental, dihukum, politis, gangguan pihak ketiga, tidak ada keharmonisan; kekerasan ekonomi

(46%) mencakup masalah ekonomi dan tidak tanggung jawab; kekerasan fisik (3%) mencakup kekejaman jasmani dan cacat biologis. Meskipun data PA tidak memunculkan kategori kekerasan seksual, namun jika dicermati lebih dalam

sejumlah kategori dapat mencakup kekerasan seksual, seperti tidak ada keharmonisan, kawin paksa, kawin di bawah umur, poligami tidak sehat dan data

lain-lain.

Pola kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh lembaga pengada layanan antara lain: kekerasan yang terjadi di ranah rumah tangga dan relasi

(5)

keperawanan di Jawa Barat, 2 kasus kriminalisasi korban KDRT serta 17 kasus berkaitan dengan pekerja migran di DKI Jakarta. Bentuk KDRT/RP mencakup:

kekerasan terhadap isteri (KTI, 59%), kekerasan dalam pacaran (KDP, 21%), kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP, 10%), kekerasan mantan pacar (KMP, 1%), kekerasan dari mantan suami (KMS, 53 kasus) dan kekerasan

terhadap pekerja rumah tangga (PRT, 23 kasus).

Sama seperti tahun sebelumnya angka kekerasan seksual adalah angka

yang menonjol terjadi di ranah komunitas. Pada tahun ini angka perkosaan, pencabulan, pelecehan seksual dan percobaan perkosaan mencapai 56% (2.183 kasus) dari total 3.860 kasus yang dilaporkan terjadi di ranah komunitas. Kasus

perdagangan manusia (trafiking) mengalami penurunan bukan karena jumlah kasus menurun tapi turun-nya lembaga yang mengirimkan kembali formulir

pendataan Komnas Perempuan (CATAHU, 2015).

Dalam Konferensi Perempuan sedunia pada tahun 1999, ditegaskan kembali bahwa Hak-hak asasi perempuan adalah “mencakup hak perempuan

untuk memiliki kontrol dan keputusan secara bebas dan bertanggungjawab atas persoalan-persoalan berkenaan dengan seksualitas mereka, termasuk kesehatan

(6)

Begitupun dalam Konvensi PBB tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), yang telah diratifikasi oleh

Pemerintah Indonesia melalui UU No.7 Tahun 1984. Bahwa “Diskriminasi terhadap perempuan adalah setiap pembedaan, pegucilan, pembatasan yang mempunyai tujuan atau pengaruh yang akan mengurangi atau menghapuskan

pengakuan, penikmatan atau penggunaan HAM bagi/oleh perempuan, terlepas dari status perkawinannya”. (Pasal 1), Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh

kelompok perempuan untuk memperluas pengakuan atas Hak-hak Reprodukasi perempuan, antara lain: Memperjuangkan lahirnya UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT (memasukkan kekerasan seksual dalam rumah tangga

sebagai perbuatan pidana). Perlindungan terhadap perempuan dan anak perempuan dari praktek-praktek perdagangan orang (memasukkan eksploitasi

pelacuran dan seksual sebagai modus dan tujuan trafiking) dalam UU No. 21 Tahun 2007. Upaya amandemen UU No. 1 Tahun 1974, terutama untuk menghapus ketentuan soal domestikasi perempuan, poligami, batas usia

perkawinan bagi anak perempuan. Serta, mendorong Revisi UU Kesehatan dengan memasukkan bab Kesehatan Reproduksi dan telah disahkan pada tanggal

14 September 2009 (Batara, 2010).

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk-bentuk penganiayaan dan perlakuan buruk yang

(7)

2. Bagaimana dampak dari penganiayaan dan perlakuan buruk terhadap perempuan itu sendiri.

3. Apa saja faktor pendorong terjadinya penganiayaan dan perlakuan buruk terhadap perempuan.

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hak-hak kesehatan reproduksi perempuan yang salah satunya

adalah hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk 1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menjelaskan bentuk-bentuk penganiayaan dan perlakuan buruk yang

terjadi pada perempuan

2. Menjelaskan dampak dari penganiayaan dan perlakuan buruk terhadap

perempuan itu sendiri.

3. Menjelaskan faktor pendorong terjadinya penganiayaan dan perlakuan buruk terhadap perempuan

1.4 Manfaat Penulisan makalah

Manfaat penulisan makalah ini untuk mendapatkan penjelasan dan pemahaman mengenai hak-hak kesehatan reproduksi perempuan yang salah satunya adalah hak untuk bebas dari penganiayaanan perlakuan buruk terhadap

(8)

BAB II

TINAJAUN PUSTAKA

2.1. Kesehatan Reproduksi

Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik,

mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan

prosesnya.

Kesehatan reproduksi menurut ICPD (International Confren on Population and Development, Kairo 1994) yaitu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi serta

prosesnya.

Kesehatan reproduksi berarti bahwa setiap orang dapat mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman, dan bahwa mereka memiliki

kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukannya, bilamana dan berapa sering (Kumalasari, 2012).

(9)

1. Kesehatan bayi dan anak.

2. Pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi, termasuk

PMSHIV/AIDS.

3. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi. 4. Kesehatan reproduksi remaja.

5. Pencegahan dan penanganan infertilitas. 6. Kanker pada usia lanjut dan osteopororosis.

7. Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain, misalnya kanker serviks, mutilasi genital, fistula, dan lain-lain.

Kesehatan reproduksi ibu dan bayi beru lahir meliputi perkembangan

berbagai organ reproduksi mulai dari sejak dalam kandungan hingga meninggal. Permasalahan kesehatan reproduksi remaja termasuk pada saat pertama anak

perempuan mengalami haid/menarche, hingga menyngkut kehidupan remaja memasuki masa perkawinan. Penerapan pelayanan kesehatan reproduksi oleh Departemen Kesehatan RI dilaksanakan secara integratif memprioritaskan pada

empat komponen kesehatan reproduksi yang menjadi masalah pokok di Indonesia yang disebut paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE), yaitu :

1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir. 2. Keluarga berencana.

3. Kesehatan reproduksi remaja.

(10)

Sedangkan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK) terdiri dari PKRE ditambah kesehatan reproduksi pada usia lanjut (Depkes RI,

2002).

2.2. Hak Reproduksi Perempuan

Hak adalah kewenangan yang melekat pada diri untuk melakukan atau tidak melakukan, memperoleh atau tidak memperoleh sesuatu. Kesadaran tentang hak sebagai manusia dan sebagai perempuan sebagai kekuatan bagi perempuan

untuk melakukan berbagai aktivitas bagi kepentingan diri, keluarga, masyarakat. Sehat adalah tidak hanya berkaitan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga

mental dan sosial. Ketiga aspek ini saling berhubungan satu sama lainnya dan saling mempengaruhi, yang dapat membuat seseorang sakit atau sehat. Reproduksi adalah menghasilkan kembali atau kemampuan perempuan untuk

menghasilkan keturunan secara berulang (Kumalasari, 2012).

Dari defenisi diatas maka makna hak kesehatan reproduksi menjadi

serangakaian kata yang memiliki visi, misi dan program, bahwa kesehatan reproduksi menjadi dua konsep yang tidak terbatas pada persoalan medis organ reproduksi saja. Konsep pertama adalah hak reproduksi, konsep kedua adalah

kesehatan reproduksi. Dikutip dari Implication of the ICPD 1994, bahwa yang dimaksud ruang lingkup kesehatan reproduksi adalah:

(11)

2. Segala yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya 3. Mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman

4. Mempunyai kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukannya, bilamana dan berapa seringkah

5. Mempunyai akses terhadap cara-cara keluarga berencana yang aman, efektif,

terjangkau dan dapat diterima yang menjadi pilihan mereka dan metode yang mereka pilih

6. Hak untuk memperoleh pelayanan pemeliharaan kesehatan yang tepat, yang memungkinkan para wanita selamat menjalani kehamilannya dan melahirkan anak

7. Memberikan kesempatan terbaik kepada pasangan untuk memiliki bayi yang sehat.

Dengan kata lain kesehatan reproduksi adalah sekumpulan metode teknik, dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan reproduksi yang mencakup

kesehatan seksual, status kehidupan dan hubungan perorangan, bukan semata konsultasi dan perawatan yang bertalian dengan reproduksi penyakit yang

ditularkan melalui hubungan seks. Definisi hak-hak reproduksi secara spesifik dapat dijabarkan sebagi berikut :

1. Hak reproduksi mencakup hak-hak asasi manusia tertentu yang sudah diakui

(12)

2. Hak-hak yang didasarkan pengakuan hak asasi semua pasangan dan pribadi untuk menentukn secara bebas dan bertanggungjawab mengenai jumlah anaka

dan menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka.

3. Mempunyai informasi dan cara untuk memperoleh anak dan hak untuk mencapai standar tertinggi kesehatan seksual dan reproduksi.

4. Hak semua orang untuk membuat keputusan mengenai reproduksi yang bebas diskriminasi, paksaan dan kekesarasan.

5. Memperhitungkan kebutuhan hidup dari anak-anak mereka yang sekarang dan masa mendatang serta tanggungjawab mereka terhadap masyarakat.

6. Hak-hak ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan masyarakat di

bidang kesehatan reproduksi termasuk keluarga berencana.

Hak-hak reproduksi merupakan hak pria dan wanita untuk memperoleh

informasi dan mempunyai akses terhadap berbagai metode keluarga berencana yang mereka pilih, aman, efektif, terjangkau, serta metode-metode pengendalian kelahiran lainnya yang mereka pilih dan tidak bertentangan dengan hukum serta

perundangundangan yang berlaku. Hak-hak ini mencakup, hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai sehingga para wanita mengalami kehamilan

dan proses melahirkan anak secara aman, serta memberikan kesempatan bagi para pasangan untuk memiliki bayi yang sehat (Pasalbessy, 2010).

Tujuan kesehatan dan hak reproduksi adalah sebagai berikut :

1. Untuk memastikan informasi yang menyeluruh dan faktual serta beragam tentang pelayanan pemeliharaan kesehatan reproduksi tersedia, terjangkau, dan

(13)

2. Untuk memungkinkan dan mendukung keputusan sukarela dan bertanggung jawab dalam hal kehamilan dan metode keluarga berencana pilhan mereka dan

metode lain pilihan mereka dalam hal pengaturan kesuburan yang tidak bertentangan dengan hukum serta mempunyai informasi, pendidikan dan cara memperolehnya.

3. Unutk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kesehatan reproduksi yang mengalami perubahan sepanjang siklus hidup daan melakukan hal itu dengan cara yang

peka terhadap keanekaragaman keadaan masyarakat setempat (Mariana Amiruddin, 2003)

2.3. Hak-hak Kesehatan reproduksi Perempuan berdasarkan konvensi Internasional, Peraturan Perundang-Undangan dan Kebijakan di Indonesia

Hak reproduksi sebagai bagian dari hak asasi manusia dijamin dalam beberapa perjanjian internasional seperti termuat dalam The convention on the

elimination all forms of discrimination againt woment (CEDAWI), ICPD ke 4 di Kairo dan konfrensi ke 4 tentang perempuan di Beijing 1995. Hak-hak tersebut

meliputi :

1. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi. 2. Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi.

(14)

6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya. 7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk

perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual. 8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan

kesehatan reproduksi.

9. Hak atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya. 10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga.

11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi.

12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang

berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

Tindak lanjut dari hasil konvensi Kairo adalah terbentuknya Paket

Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE) oleh Departemen Kesehatan RI (2002), adapun pemahaman hak reproduksi menurut PKRE adalah:

1. Setiap orang berhak mendapatkan standar pelayanan kesehatan reproduksi

yang terbaik

2. Setiap orang, perempuan atau laki-laki (sebagai pasangan atau sebagai

individu) berhak memperoleh informasi selengkap-lengkapnya tentang seksualitas, reproduksi dan manfaat serta efek samping obat-obatan, alat dan tindakan medis yang digunakan untuk pelayanan dan atau mengatasi masalah

(15)

3. Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh pelayanan KB yang aman, efektif, terjangkau, dapat diterima sesuai dengan pilihan tanpa paksaan dan

melawan hukum

4. Setiap perempuan berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya yang memungkinkan sehat dan selamat dalam menjalani

kehamilan dan persalinan, serta memperoleh bayi yang sehat

5. Setiap anggota pasangan suami-istri berhak memiliki hubungan yang didasari

penghargaan terhadap pasangan masing-masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang diinginkan bersama, tanpa unsur pemaksaan, ancaman dan kekerasan

6. Setiap remaja, laki-laki maupun perempuan berhak memperoleh informasi yang tepat dan benar tentang reproduksi, sehingga dapat berperilaku sehat

dalam menjalani kehidupan seksual yang bertanggung jawab

7. Setiap perempuan dan laki-laki berhak mendapatkan informasi dengan mudah, lengkap dan akurat mengenai infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS

2.3.1. Landasan Tindakan Jenewa, Beijing

Para perempuan yang memiliki perhatian terhadap persoalan bangsa, sejak awal aktif terlibat pada pembentukan PBB, mempunyai tujuan untuk mencegah terjadinya perang serta memperjuangkan adanya perdamaian dan keamanan.

(16)

2.3.2. Konverensi Internasional tentang Perempuan di Mexico City -Beijing Konverensi Internasional kedua diselenggarakan di Kopenhagen tahun

1980, dengan tema konperensi membahas tentang ”pekerjaan, kesehatan dan pendidikan. Hingga diadopsi dalam ”Konvensi Perempuan” sebagai dokumen internasional terpenting yang dapat diratifikasi oleh negara anggota PBB untuk

menciptakan kesetaraan perempuan. Konvensi ini memuat kesamaan hukum bagi perempuan sebagai warga negara dan diakuinya hak-hak perempuan dalam

lingkup domestik dan dalam lingkungan keluarga. Konvensi ini juga menghasilkan Copenhagen Programme for Action yang difokuskan untuk mendukung peran perempuan dalam proses pembangunan melalui peningkatan

pendidikan, pelayanan kesehatan, akses pada pasar tenaga kerja dan mendukung peran perempuan di bidang pertanian.

2.3.3. Konferensi ketiga di Nairobi tahun 1985

Dengan tema ”Equality, Defelopment and Peace”. Hasilnya

adalah Nairobi Forward Looking Strategies for the year 2000. Dalam dokumen tersebut masih menyoroti fakta bahwa masih terdapat ketidaksetaraan antara

laki-laki dan perempuan terutama di negara berkembang dan kemiskinan massal (poverty mass) dan keterbelakangan yang dihadapi sebagian besar perempuan di dunia. Diidentifikasi bahwa “gender differences” merupakan faktor yang

(17)

2.3.4. Konverensi Internasional keempat tentang perempuan di Beijing tahun 1995

Hasil konverensi internasional keempat di Beijing adalah penegasan secara global mengenai peran sentral dari HAM untuk perjuangan ke arah persamaan/kesetaraan gender. Platfform for Action dan 12 Areas of concer yang

menjadi kesepakatan adalah : 1. Perempuan dan kemiskinan

2. Perempuan dan pendidikan serta pelatihan 3. Perempuan dan kesehatan

4. Kekerasan terhadap perempuan

5. Perempuan dalam konflik bersenjata 6. Ketimpangan ekonomi

7. Perempuan dan Politik dan Pengambilan Keputusan 8. HAM perempuan

9. Mekanisme institusional

10. Perempuan dalam Media

11. Perempuan dan lingkungan hidup

12. Hak anak perempuan (Purnama, 2006)

Untuk mewujudkan keinginan persamaan hak dan martabat manusia yang menjadi sifat laki-laki dan perempuan serta tujuan dan prinsip-psrinsip lainnya

(18)

2.4. Hak untuk Bebas dari Penganiayaan dan Perlakuan Buruk 2.4.1. Pengertian Tindakan kekerasan/penganiayaan Perempuan

Secara etimologis, difinisi kekerasan dibagi dalam dua kategori. Pertama, secara sempit kekerasan adalah perbuatan yang berupa pemukulan, penganiayaan

yang menyebabkan matinya atau cederanya seseorang (kekerasan fisik). Kedua, kekerasan tidak hanya dalam bentuk fisik, akan tetapi dapat dilihat dari segi akibat

dan pengaruhnya pada si korban. Kekerasan yang berdampak pada jiwa seseorang, seperti kebohongan, indoktrinasi, ancaman dan tekanan adalah kekerasan psikologis karena dimaksudkan untuk mengurangi kemampuan mental

atau otak (Arvia, 2009)

Sedangkan Fakih, 2000 dengan bahasa yang sederhan menyatakan bahwa,

kekerasan (violence) secara umum dapat diartikan sebagai suatu serangan terhadap fisik dan psikis serta integritas mental seorang.

Menurut Batara, 2010 kekerasan adalah suatu kondisi sedemikian rupa

sehingaga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya.

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan yang berkaitan atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan, secara fisik, seksual, psikologis, ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan dan perampasan

(19)

kekerasan yang terjadi karena keyakinan gender, yang mendudukan kaum perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Pada tahun 1993 Sidang Umum PBB mengadopsi deklarasi yang menentang kekerasan terhadap perempuan yang telah dirumuskan tahun 1992 oleh Komisi Status Perempuan PBB, di mana dalam pasal 1 disebutkan bahwa, “kekerasan

terhadap perempuan mencakup setiap perbuatan kekerasan atas dasar perbedaan kelamin, yang mengakibatkan atau dapat mengakibatkan kerugian atau

penderitaan terhadap perempuan baik fisik, seksual maupun psikhis, termasuk ancaman perbuatan tersebut, paksaan dan perampasan kemerdekaan secara sewenangwenang, baik yang terjadi dalam kehidupan yang bersifat publik

maupun privat. (Pasalbessy, 2010)

Komnas Perempuan (2001) menyatakan bahwa kekerasan terhadap

perempuan adalah segala tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan yang berakibat atau kecenderungan untuk mengakibatkan kerugian dan penderitaan fisik, seksual, maupun psikologis terhadap perempuan, baik

perempuan dewasa atau anak perempuan dan remaja. Termasuk didalamnya ancaman, pemaksaan maupun secara sengaja meng-kungkung kebebasan

perempuan. Tindakan kekerasan fisik, seksual, dan psikologis dapat terjadi dalam lingkungan keluarga atau masyarakat.

Kekerasan dalam rumah tangga merupakan salah satu bagian dari

(20)

atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau

pe-rampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Tindakan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk kekerasan yang seringkali terjadi pada perempuan dan terjadi di balik

pintu tertutup. Tindakan ini seringkali dikaitkan dengan penyiksaan baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan yang dekat

(Harnoko,2010)

2.4.2. Bentuk-Bentuk Kekesarasan Terhadap Perempuan

Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan sebagaimana yang terdapat

dalam pasal 2 UDHR (Universal Declaration of Human Rights), meliputi: pertama, kekerasan fisik, seksual dan psikologis dalam keluarga termasuk

kekerasan yang berhubungan dengan mas kawin, pemerkosaan dalam perkawinan, pengrusakan alat kelamin, dan ekploitasi; kedua, kekerasan fisik seksual dan psiologis yang terjadi dalam masyarakat luas, termasuk pemerkosaan,

penyalahgunaan, pelecehan dan ancaman seksual ditempat kerja dan lembaga-lembaga pendidikan, perdagangan perempuan dan pelacuran paksa dan ; ketiga,

kekerasan fisik, seksual dan psikologis yang dilakukan dan/ atau dibenarkan oleh negara (Prayudi, 2008)

Fakih mengelompokan bentuk kekerasan terhadap perempuan antara lain:

(21)

pelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan. Misalnya ketakutan, malu, depresi dan lain lain; kedua, tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi

di dalam rumah tangga termasuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak-anak; ketiga, bentuk penyiksaan terhadaap organ alat kelamin (genital mutilation) misalnya, sunat perempuan dengan alasan mengontrol seks perempuan; keempat,

kekerasan dalam bentuk pelacuran. Pelacuran adalah bentuk kekerasan yang diselenggarakan oleh suatu mekanisme ekonomi yang merugikan perempuan;

kelima, pornografi. Perempuan dijadikan objek demi keuntungan; keenam, kekerasan dalam bentuk sterilisasi KB, demi “mulus” target kontrol pertumbuhan penduduk; ketujuh, kekerasan di tempat kerja dan; kedelapan, pelecehan seksual

atau sexual and emotional harassment (Fakih, 2000)

Sedangkan Guse, 2008 mengelompokkan bentuk kekerasan dalam 3

kelompok yaitu:

1. KDRT yaitu kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri baik fisik, ekonomi dan psikologis; perbedaan perlakuan anak laki-laki dan perempuan,

kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga laki-laki terhadap anggota keluarga perempuan.

2. Kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. Biasanya sering terjadi pada pekerja perempuan. Misalnya, colekan iseng pada organ seksual perempuan; pembicaraan yang mengarah pada pornografi, ajakan tidak senonoh. Pelaku

(22)

4. Kekerasan media. Kekerasan ini terjadi misalnya pampangan gambar seksi para perempuan sebagai pemanis dan penarik sajian berita.

Menurut Sofiani, 2008 bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan digolongkan antara lain:

1. Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan di lingkungan masyarakat yaitu

perdagangan perempuan (Trafficking), pelecehan seksual di tempat kerja/umum, pelanggaran hak-hak repdoduksi, perkosaan, pencabulan,

kebijakan/Perda yang diskriminatif/represif, aturan dan praktek yang merampas kemerdekaan perempuan di lingkungan masyarakat;

2. Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dilingkungan rumah tangga

antara lain kerasan fisik, psikis dan seksual, pelanggaran hak-hak reproduksi, penelantaran ekonomi kekeluarga, Incest, kekerasan terhadap pekerja rumah

tangga, ingkar janji/kekerasan dalam pacaran, pemaksaan aborsi oleh pasangan, kejahatan perkawinan (Poligami tanpa izin) atau kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

2.4.3. Jenis-Jenis Tindakan Kekerasan Pada Perempuan

Jenis- jenis kekerasan terhadap perempuan menurut Fakih, 2000 dapat

terjadi dalam bentuk:

1. Tindak kekerasan fisik: yaitu tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain, dengan menggunakan anggota tubuh

pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lain. Bentuk kekerasan fisik yang dialami perempuan, antara lain: tamparan, pemukulan, penjambakan,

(23)

benda keras, penyiksaan menggunakan benda tajam, seperti : pisau, gunting, setrika serta pembakaran. Tindakan tersebut mengakibatkan rasa sakit, jatuh

sakit dan luka berat bahkan sampai meninggat dunia

2. Tindak kekerasan psikologis: yaitu tindakan yang bertujuan merendahkan citra seorang perempuan, baik metalui kata-kata maupun perbuatan (ucapan

menyakitkan, kata-kata kotor, bentakan, penghinaan, ancaman) yang menekan emosi perempuan. Tindakan tersebut mengakibatkan ketakutan,

hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kernampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

3. Tindak kekerasan seksual: yaitu kekerasan yang bernuansa seksual, termasuk

berbagai perilaku yang tak diinginkan dan mempunyai makna seksual yang disebut pelecehan seksual, maupun berbagai bentuk pemaksaan hubungan

seksual yang disebut sebagai perkosaan. Tindakan kekerasan ini bisa diklasifikasikan dalam bentuk kekerasan fisik maupun psikologis. Tindak kekerasan seksual meliputi: a) Pemaksaan hubungan seksual (perkosaan)

yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut : Perkosaan ialah hubungan seksual yang terjadi tanpa dikehendaki

oleh korban. Seseorang laki-laki menaruh penis, jari atau benda apapun ke dalam vagina, anus, atau mulut atau tubuh perempuan tanpa sekendak perempuan itu ; b) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang

(24)

sepihak dan tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasaran. Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti di tempat kerja, di

kampus/sekolah, di pesta, tempat rapat, dan tempat urnum lainnya. Pelaku pelecehan seksual bisa teman, pacar, atasan di tempat kerja;

4. Tindak kekerasan ekonomi: yaitu dalam bentuk penelantaran ekonomi dimana

tidak diberi nafkah secara rutin atau dalarn jumlah yang cukup, membatasi dan/ atau metarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah,

sehingga korban di bawah kendati orang tersebut.

Dalam kaitannya dengan hukum (pidana), jika terjadi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, maka terminologinya tidak boleh samar. Ini

dimaksudkan agar tidak timbul “multiintepretasi” yang pada gilirannya dapat menimbulkan kesulitan baik pada masyarakat maupun penegak hukum.

KUHP Indonesia misalnya, hanya merumuskan kekerasan sebagai perbuatan membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89). Jelaslah bahwa perumusan ini membatasi perilaku kekerasan pada perilaku fisik belaka, padahal bila dilihat

dari kenyataan di dalam masyarakat tindak kekerasan dapat meliputi pula : (a) fisik; (b) seksual; (c) psikologis; (d) politis; dan (e) ekonomi. Selanjutnya KUHP

merumuskan beberapa tingkah laku kekerasasn yang korbannya adalah perempuan dan anak, seperti : (a) pornografi (Pasal 282 dst); (b) perkosaan (Pasal 285 dst); (c) perbuatan cabul (Pasal 290 dst); (d) perdagangan wanita (Pasal 297);

(e) penculikan (Pasal 328); (f) penganiayaan (Pasal 351 dst); (g) pembunuhan (Pasal 338) dan; (h) perampokan (Pasal 363). Perilaku kekerasan di atas

(25)

ancaman pidananya berkisar antara 1 tahun pidana penjara hingga pidana mati. Dari sekian banyak ketentuan tentang kekerasan, hanya sedikit saja yang

menyebutkan jenis kelamin korban perempuan. Pasal yang secara eksplisit menyebutkannya antara lain, Pasal 285 KUHP tentang perkosaan dan Pasal 297 KUHP tentang perdagangan perempuan (Pasalbessy, 2010)

Sama halnya dengan tindak kekerasan terhadap perempuan, perilaku kekerasan sebagaimana dikemukakan di atas juga memiliki pengertian yang sama

dengan anak, karena pengertian tersebut bersifat multidimensi, mulai dari yang bersifat struktural dan sistematik hingga kekerasan karena perang, perselisihan komunal, perpecahan keluarga dan kekerasan interpersonal. Tindak kekerasan

mana secara hakiki berakar pada apa yang dinamakan penyalahgunaan, penelantaraan dan eksploitasi anak, di mana pelakunya bisa saja negara, sektor

swasta, personal petugas hukum, keluarga atau perorangan (Sudiarti, 2000)

2.4.4. Perempuan dan Anak Sebagai Korban Tindak Kekerasan

Perempuan dan anak sebagai korban tindak kekerasan bukan merupakan

fenomena baru, sejarah mengungkapkan praktek-praktek masa lalu yang

mengorbankan perempuan, baik dewasa (pengorban depan altar) maupun korban

anak-anak (pembunuhan bayi berjenis kelamin perempuan). Cerita tentang korban

tindak kekerasan dikalangan perempuan dan anak memang sedikit sekali

(26)

keseluruhan maupun kaum perempuan itu sendiri, bahwa kekerasan yang

dialaminya adalah lebih baik untuk disembunyikan saja. Ini tentu ada kaitannya

dengan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarrakat mengenai kedudukan

perempuan selama ini dalam masyarakat. Kalangan perempuan terkadang

menyembunyikan viktimisasi terhadap dirinya karena berbagai alasan, namun

yang utama adalah karena mereka tidak ingin dirinya diketahui orang lain atau

mungkin akan mencoreng harga sendiri, terlepas dari ada tidaknya konstribusi

perempuan terhadap tindak kekerasan yang dialaminya.

Sebagai akibat persepsi semacam ini, media massa juga terkadang juga terkadang melakukan hal yang sama, sehingga terjadi apa yang disebut dengan

“selctive inattention”, yakni memilih berita tertentu untuk dijadikan informasi bagi konsumsi masyarakat. Ekspose semacam ini setidaknya melahirkan proses

viktimisasi terhadap perempuan dan anak yang pada umumnya difokuskan pada : (a) tindak kekerasan seksual; (b) tindak kekerasan yang menimbulkan luka berat; dan (c) tindak kekerasan yang mengakibatkan kematian (Sudiarti, 2000).

2.4.5. Penyebab Terjadinya Tindakan Kekerasan Pada Perempuan

Tindak kekerasan terhadap perempuan terjadi dikarenakan keyakinan

dalam masyarakat adanya budaya dominasi, dimana laki-laki adalah superior dan perempuan inferior sehingga laki-laki dibenarkan untuk menguasai dan mengontrol perempuan. Hal ini juga menjadikan perempuan tersubordinasi

(27)

domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideologi gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran

terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan.

Dalam konteks yang lebih sempit, kecenderungan tindak kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena faktor dukungan sosial dan kultur (budaya) dimana

istri di persepsikan orang nomor dua dan bisa diperlakukan dengan cara apa saja. Hal ini muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, istri harus nurut kata suami. Kultur di masyarakat suami lebih dominan pada istri,

ada tindak kekerasan dalam rumah tangga dianggap masalah privasi, masyarakat tidak boleh ikut campur (Harkristuti, 2000).

Menurut Arvia 2009, ada beberapa penyebab terjadinya tindak kekerasan dipandang dari berbagai aspek, yaitu:

1. Terkait dengan struktur sosial-budaya/politik/ekonomi/ hukum/agama, yaitu

pada sistim masyarakat yang menganut patriarki, dimana garis ayah dianggap dominan, laki-laki ditempatkan pada kedudukan yang tebih tinggi dari wanita,

dianggap sebagai pihak yang lebih berkuasa. Keadaan ini menyebabkan perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi, seperti: sering tidak diberi hak atas warisan, dibatasi peluang bersekolah, direnggut hak untuk kerja

(28)

stereotipe tentang posisi, peran dan nilai laki-laki dan perempuan, seperti adanya perjodohan paksa, poligami, perceraian sewenang-wenang.

2. Terkait dengan kondisi situasional yang memudahkan, seperti terisotasi, kondisi konflik dan perang. Dalam situasi semacam ini sering terjadi perempuan sebagai korban, misaInya dalam lokasi pengungsian rentan

kekerasan seksual, perkosaan. Dalam kondisi kemiskinan perempuan mudah terjebak pada pelacuran. Sebagai imptikasi maraknya teknologi informasi,

(29)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Kecenderungan tindak kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena faktor

dukungan sosial dan kultur (budaya) dimana istri di persepsikan orang nomor dua dan bisa diperlakukan dengan cara apa saja. Hal ini muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, istri harus nurut kata suami. Kultur di

masyarakat suami lebih dominan pada istri, ada tindak kekerasan dalam rumah tangga dianggap masalah privasi, masyarakat tidak boleh ikut campur.

Upaya untuk mencegah dan atau menanggulangi berbagai perilaku

kekerasan yang dialami perempuan dan anak sudah seharusnya mendapat

perhatian dan penanganan yang serius. Oleh karena itu, di balik tindak kekerasan

terhadap perempuan dalam ranah apapun, yang menjadi penyebab utamanya

adalah ketimpangan historis dari pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan

perempuan yang mengakibatkan dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan

oleh kaum laki-laki dan hambatan kemajuan bagi mereka, yang telah melembaga

dalam ruang-ruang kehidupan masyarakat melalui penempatan posisi laki-laki

(30)

4.2. Saran

1. Pendekatan dalam penanganan masalah kekerasan pada perempuan harus bersifat terpadu (integrated), di mana selain pendekatan hukum juga harus

mempertimbangkan pendekatan non hukum yang justru merupakan penyebab terjadinya kekerasan.

2. Meningkatkan kesadaran perempuan akan hak dan kewajibannya di dalam hukum, meningkatkan kesadaran masyarakat betapa pentingnya usaha untuk mengatasi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, meningkatkan

kesadaran penegak hukum agar bertindak cepat dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan maupun anak, memberikan bantuan dan konseling

terhadap korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

3. Melakukan pembaharuan sistem pelayanan kesehatan yang kondusif guna menanggulangi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Bagi anak-anak

diperlukan perlindungan baik sosial, ekonomi maupun hukum.

4. Disamping itu bantuan media massa dan elektronik untuk lebih memperhatikan

(31)

DAFTAR PUSTAKA

Arvia, Gadis, 2009. Kekerasan Terhadap Perempuan. Jurnal Perempuan. Jakarta Batara, Ratna. 2010. Mewujudkan Hak Perempuan atas Kesehatan Reproduksi

dan Seksual Sebagai HAM. Jakarta: The Asia Foundation.

Departemen Kesehatan RI. 2002. Upaya menurunkan angka kematian ibu. Jakarta : Departemen Kesehatan.

Fakih, Mansour. 2000. Kekerasan Dalam Perspektif Pesantren. Jakarta: Grasindo. Harkristuti, Harkrisnowo. 2000. Hukum Pidana Dan Kekerasan Terhadap

Perempuan. Bandung: Alumni.

Harnoko, Rudi. 2010. Dibalik Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan. Dalam jurnal.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, 2015. Catatan Tahunan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan. Jakarta.

Kumalasari, Intan. 2012. Kesehatan Reproduksi. Salemba Medika: Jakarta.

Mariana, Amiruddin. 2003. Kesehatan dan hak reproduksi perempuan. Yayasan Jurnal Perempuan dan Japan Foundation Indonesia

Pasalbessy, J. 2010. Dampak Tindakan Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak Serta Solusinya. Jurnal Sasi Vol.16. No.3

Prayudi Guse, 2008. Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Yogyakarta: Merkid Press.

(32)

Sudiarti, Achie, 2000. Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. Bandung: Alumni.

Referensi

Dokumen terkait

Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,

- UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa “Kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan

Kekerasan dalam rumah tangga yang dapat mengakibatkan penderitaan kepada korban baik secara fisik, psikis, seksual, dan penelantaran merupakan tindakan yang melanggaran hak dan

Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,

Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,

Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengaraan atau penderitaan secara fisik,

Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan (istri), yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara

Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Tanggamus, terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dari 34 kasus di tahun 2016 menjadi 49