ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Legenda sebagai suatu genre prosa lama adalah kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut. Inilah budaya oral yang menumpu peristiwa asal-usul di baliknya sebagaimana dinyatakan oleh Utley (2009) dan Brunvand (2009). Kehadiran legenda atau budaya oral tidak semata-mata ada kalau tidak ada yang melandasi kebutuhan masyarakat mengekspresikan dirinya. Pelestariannya berlangsung karena ekspresi budaya suatu masyarakat dalam mendapatkan pelajaran edukasi baik dan buruk sekaligus identitas lokal sebagai kepemilikan akan leluhur dan asal-usul kelahiran. Kontruksi yang melatarbelakangi narasi di dalam kisahnya dipercaya sebagai suatu ketentuan, taken for granted, suatu kejadian.
Legenda adalah peristiwa tentang suatu kejadian meskipun tidak selalu dapat diverifikasi; legenda juga adalah suatu inskripsi atau nama suatu objek. (http://www.merriam-webster.com/dictionary/legend). Peristiwa bukanlah yang sepenuhnya dapat dipandang sebagai kebenaran faktual karena konsep verifikasi adalah fakta objektif yang dapat dibenarkan ketentuannya, sebaliknya legenda tidak selalu dapat diverifikasi.
setidak-tidaknya, sebagai suatu pelestarian dan pengenalan kepada khalayak pembaca atau audiens.
Seperti yang dilakukan Hasan Wahyu Atmakusumah dan Sutan Iwan Soekrin Munaf yang mentransformasi legenda Sangkuriang ke dalam bentuk lain yaitu puisi. Sebagai bentuk baru atau kreasi baru puisi ini sangat menarik untuk dibandingkan karena mempunyai latar kisah yang sama. Namun puisi yang ditulis oleh dua orang yang berbeda pasti memiliki makna yang berbeda untuk disampaikan, yang kemudian dapat kita lihat sebagai variasi-variasi
Alasan mengapa kajian menggunakan analisis starata norma ini diterapakan karena kedua karya yang di bandingkan adalah puisi. Menganalisis puisi itu bertujuan memahami makna puisi. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa.
1.2Identifikasi Masalah
Dalam penelitian ini yang jadi identifikasi masalah adalah:
Bagaimana perbedaan bunyi puisi karya Hasan Wahyu dan Sutan Iwan?
Bagaimana perbedaan arti atau units of meaning dari kedua puisi karya Hasan Wahyu dan Sutan Iwan?
Bagaimana perbedaan lapis dunia atau realitas yang digambarkan penyair?
Bagaimana perbedaan lapis dunia atau realitas yang dilihat dari titik pandang tertentu?
Bagaimana perbedaan lapis dunia yang bersifat metafisis karya Hasan Wahyu dan Sutan Iwan?
Apa pengaruh latar belakang sosial-budaya terhadap puisi karya Hasan Wahyu dan Sutan Iwan?
1.3Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam penelitian ini adalah :
Mengetahui sudut pandang Hasan Wahyu dan Sutan Iwan dalam menuangkan ide-idenya mengenai suatu legenda kedalam bentuk puisi.
1.4Sumber Data
Dua puisi dengan judul Sangkuriang dari penyair berbeda dan bahasa yang berbeda. Yaitu puisi berbahasa Indonesia karya Sutan Iwan Soekri Munaf dan puisi berbahasa Sunda karya Hasan Wahyu Atmakusumah.
1.5Biografi Pengarang
Sutan Iwan Soekri Munaf adalah nama pena dari Sutan Roedy Irawan Syafrullah, kelahiran Medan - 04 - 12 - 1957, seorang penyair, pernah menjadi wartawan, novelis, cerpenis, di harian umum dan majalah sastra. Selain itu ia pernah pula menulis naskah skenario sebanyak 6 episode dalam seri Pendidikan Fotografi ditayangkan di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 1993, dan juga beberapa featurenya ditayangkan pula di TPI dalam kurun 1992-1994. lulusan S-1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, 1988.
Dan Hasan Wahyu Atmakusumah adalah Penulis buku Umbul-Umbul TiAlak Paul : kumpulan sajak jeung dangding. Merupakan sastrawan Sunda.
BAB II
LANDASAN TEORI
bermacam-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudutkesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaharuan (inovasi)(Teeuw, 1980:12). Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (Riffaterre, 1978:1).
Meskipun demikian, orang tidak akan dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Oleh karena itu, sebelumpengkajian aspek-aspek yang lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis.
Kepuitisan itu dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi; persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Dalam mencapai kepuitisan itu penyair mempergunakan banyak cara sekaligus, secara bersama untuk mendapatkan jaringan efek puitis yang sebanyak-banyaknya (Altenbert, 1970:4-5), yang lebih besar daripada pengaruh beberapa komponen secara terpisah penggunaannya. Antara unsur pernyataan (ekspresi), sarana kepuitisan, yang satu dengan yang lainnya saling membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya, semuanya itu untuk mendapatkan kepuitisan seefektif mungkin, seintensif mungkin.
Puisi merupakan karya sastra yang kompleks, maka untuk memahaminya diperlukan analisis agar dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Untuk menganalisis puisi dengan tepat, perlu diketahui wujud sebenarnya dari puisi tersebut. Menurut Rene Wellek (1968:150), puisi adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Oleh karena itu, puisi harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. Norma itu harus dipahamai secara implisit untuk menarik setiap pengalaman individu karya sastra dan bersama-sama merupakan karya sastra yang murni sebagai keseluruhan.
Puisi bersifat inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Setiap kata atau kalimat dalam puisi secara tidak langsung memiliki makna yang abstrak dan memberikan imaji kepada pembaca, serta memberi bentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca. Hal tersebut membuat makna puisi begitu kompleks.
Karya sastra merupakan struktur yang bermakna. Mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang menggunakan medium bahasa. Bahasa dalam puisi memiliki tanda, tanda-tanda tersebut memiliki arti. Arti atau pemaknaan tersebut dapat diidentifikasi ataupun diapresiasi melalui citraan dan teori. Citraan itu termasuk citraan penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman.
Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab, dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak. Rangkaian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, yaitu berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan. Roman Ingarden masih menambahkan dua lapis norma lagi yang menurut Wellek merupakan lapis keempat dan kelima, yaitu:
Lapis “dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan, tetapi terkandung di dalamnya (implied). Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”, bahkan peristiwa yang sama, misalnya suara jederan pintu, dapat memperlihatkan aspek “luar” atau “dalam” watak. Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublim, yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Akan tetapi, tidak semua karya sastra terdapat lapis metafisis tersebut.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data
Sangkuriang karya Hasan Wahyu Atmakusumah. Berikut adalah teks puisi keduanya :
Sangkuriang
karya Sutan Iwan Soekri Munaf
Tak ada lagi waktu untuk bercinta, selain padamu, Dayang Sumbi
Langit yang dipenuhi bintang dan rindu yang bergerak dari detik ke detik Selalu menangkap bayang-bayang wajahmu yang mampir di ujung mimpi Dan kata tak dapat lagi melukiskan perasaan yang selalu berdetak
Akulah Sangkuriang yang tak pernah kenal ayah Dan meninggalkan ibu di kampung. Jauh
Merantau ke ujung-ujung ilmu
Merambah kebatas-batas kata. Dan padamu
Aku ingin melabuhkan seluruh gerak dan denyut hasrat, Dayang Sumbi! Ya, aku ingin di bilik ini
--di antara arus dan gelombang yang datang—
Kita bercumbu. Menikmati waktu yang selalu kembali Dan semilir rindu yang berulang-ulang
Membelai seluruh keinginan selama ini!
Barangkali dari kapal wisata yang kubangun dengan fondasi cinta Dan kata-kata yang selalu meluncur dari ujung lidah
Semua menyatu. Dan wajahmusemakin bermain dalam imaji Sedangkan kerinduan selalu kembali
Ketika sepi menyelinap di antara suara-suara
Yang datang dan menghembuskan kata-kata yang tak pernah sudah! Ya, perburuan waktu selalu menjadi candu
Dan pergerakan ilmu akan memadu kata menjadi kalimat-kalimat Yang dapat merundukan rindu padamu!
Dayang Sumbi,
Kita akan melayari waktu dengan seluruh cintaku
Setelah seluruh bayang-bayang ingin ku wujudkan Menjadi cinta!
nyingkahan rurubed nu jolna ti aing
bongan kiwari geus taya wanci mustari
Sebab sekarang sudah tidak ada waktu lagi
Terlalu banyak (merujuk kepada pekerjaan) sangkuriang
Sudah habis siang
cul hanca, ngadukduk acong-acongan
cul raga muru muru nu acan karuhan
tapi naha? dayang sumbi ngudar ucap
alam! anjeun musuh nu weduk ku teluh
nu ngayuga! ieu kuring geuwat ropea
ulah dijieun teundeun poho bisi dunya ditangtang ka tengah kalang tanpa sisi
Tinggal malam yang panjang
Meninggalkan pekerjaan, meninggalkan tugas mengerjakan hal tidak penting Tinggal badan mengejar yang belum tentu berdiam diri sambil ribut kesemua orang
sebab sudah membuat cerita menggurat di waktu sekarang
alam! Anda musuh yang pandai ilmu santet
yang membuat! Ini cepat saya akui
jangan dibuat-buat lupa
sangkuriang ngaran kuring! prak eh istijrad! nyata anjeun teu beunang dipisobat
tangtu ku aing ditenjrag ieu kuring sangkuriang
menta hirup mangsa bulan mun geus kembar
sebelum dunia berantakan, matahari di sobek-sobek
sebelum cahaya fajar muncul dari timur hilang
sebab sudah membuat saya terganggu konsentrasinya
ke sangkuriang yang kalap
eh istijrad! Kenyataan anda tidak bisa jadikan teman
pasti saya akan injak ini saya sangkuriang
minta hidup saat bulan kalau sudah kembar
walaupun nafsu mau dilepas-diumbar
3.2 Hipogram
Kedua puisi di atas beranjak dari legenda Gunung Tangkuban Perahu, berikut adalah ringkasan ceritanya :
menemani Dayang Sumbi ternyata membawakan alat tenunnya. Karena ia telah berucap seperti itu maka Dayang Sumbipun menikah dengan anjing.
Dayang Sumbi memiliki putra dari Situmang yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh dengan gagah. Ia pandai berburu. Suatu hari Dayang Sumbi meminta Sangkuriang untuk berburu kijang, Sangkuriangpun dengan semangat menuruti perintah ibunya.
Sudah hampir sore Sangkuriang tak kunjung mendapatkan kijang, ia sudah kelelahan dan takut di marahi ibunya karena tidak membawa kijang yang sangat di nanti Dayang Sumbi. Sangkuriang pun membunuh si tumang untuk dibawa sebagai hasil buruannya.
Sesampainya dirumah Dayang Sumbi sangat bahagia mendapatkan daging kijang. Namun Sangkuriang akhirnya mengakui bahwa itu bukan lah daging kijang melainkan daging si tumang. Dayang Sumbi sangat marah, ia memukul Sangkuriang dengan centong dan mengusir anaknya.
Bertaun-taun Dayang Sumbi memohon agar di awetkan usianya ia berharap agar bisa bertemu anaknya. Begitupula Sangkuriang ia berkelana dan tak henti mencari ibunya. Nasib mempertemukan mereka, namun keduanya tak salaing mengenal. Hingga cinta yang mengikat keduanya. Ketika mereka sedang berkasih-kasihan Dayang Sumbi melihat luka di kepala Sangkuriang dan akhirnya semuanya terbukti bahwa ia adalah anaknya. Tetapi Sangkuriang telah terlanjur mencintai ibunya. Ia terus memaksa untuk menikahi ibunya.
Dayang Sumbipun memberikan syarat yang harus dijalani yaitu membuat telaga dan perahu dalam waktu semalam. Sangkuriang menyanggupinya.
Karena merasa telah dicurangi sangkuriang yang marah menendang perahunya hingga terbalik.
3.3 Analisis
Menganalisis sajak itu bertujuan memahami sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa.
Puisi atau sajak adalah sebuah struktur yang kompleks, sehingga untuk memahaminya perlu dianalisis sehingga dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Dalam hal ini, analisis yang bersifat dikotomis, yaitu pembagian bentuk dan isi, belumlah dapat memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan (Wellek dan Warren, 1968: 140)
Dalam menganalisis lapis makna puisi pada dasarnya merupakan tahap lanjutan dari kegiatan menganalisis bangun struktur puisi. Meskipun demikian, kegiatan analisis lapis makna puisi dapat juga dilaksanakan secara terpisah, dan hanya pada aspek-aspek tertentu melibatkan masalah analisis bangun struktur puisi, (Aminuddin, 2000: 151).
Sebagai suatu totalitas yang dibentuk oleh elemen atau unsur intrinsik tertentu, puisi menurut Wellek dapat dibagi menjadi beberapa lapis, yang meliputi:
3.3.1. Lapis Bunyi atau Sound Stratum
konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara itu orang menangkap artinya.
Sajak Sangkuriang karya Sutan Iwan maupun karya Hasan Wahyu berupa satuan-satuan suara: suara suku kata, kata dan berangkai merupakan seluruh bunyi (suara) sajak itu: suara frase dan suara kalimat. Jadi lapis bunyi dalam kedua sajak itu adalah semua satuan bunyi yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu, di dalam dua puisi ini yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Hanya saja, dalam puisi pembicaraan lapis bunyi haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi-bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni.
Dalam puisi karya Sutan Iwan Soekri Munaf, pada baris pertama ada asonansi u dan a yaitu pada kata waktu dan bercinta
Tak ada lagi waktu untuk bercinta...
Pada baris ke dua ada aliterasi k, k, dan k yaitu pada kata bergerak pada detik ke detik
Langit yang dipenuhi bintang dan rindu yang bergerak dari detik ke
detik
Pada baris ke lima dan ke enam ada aliterasi h dan h yaitu pada kata ayah dan jauh
Akulah Sangkuriang yang tak pernah kenal ayah
Dan meninggalkan ibu di kampung.jauh
Pada baris ke tujuh, ke delapan dan ke dua belas ada asonansi u dan u pada kata ibu, ilmu, merantau, padamu,bercumbu,waktu, dan selalu.
Merantau ke ujung-ujung ilmu
Kita bercumbu. Menikmati waktu yang selalu kembali
Pada baris ke lima belas ada asonansi a dan a yaitu pada kata wisata dan cinta
Barangkali dari kapal wisata yang kubangun dengan fondasi cinta
Pada baris ke dua puluh sampai dua pulu henam ada asonansi u
Ya, perburuan waktu selalu menjadi candu
Dan pergerakan ilmu akan memadu kata menjadi kalimat-kalimat Yang dapat merundukan rindu padamu!
Dayang Sumbi,
Dari kapal wisata yang ku bangun ini
Kita akan melayari waktu dengan seluruh cintaku
Pada umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vokal bersuara berat a dan u, yang dipergunakan sebagai lambang rasa (klaksymboliek).
Sementara dalam puisi karya Hasan Wahyu Atmakusumah, pada bait pertama ada aliterasi ng dan n yang terasa sangat kental sekali
sangkuriang ngaran kuring
ti beurang_tukang caringcing
ti peuting tukang ngalinjing
neangan indung nu nundung
nyingkahan rurubed nu jolna ti aing
bongan kiwari geus taya wanci mustari
rea teuing sangkuriang
geus musna beurang
alam geus ilangdangiang
tinggal peuting anu panjang
cul hanca, ngadukduk acong-acongan cul raga muru muru nu acan karuhan
Sementara pada bait ke dua baris pertama dan ke tiga, terdapat asonansi ng,
sangkuriang ngaran kuring
nu dibapaan ku badega
da bongan indung nu linglung
ngucap jangji tanpa ungang-ungang
indung ! bongan saha medalkeun sangkuriang
pada bait ke dua baris ke enam sampai ke sepuluh terdapat asonansi i yaitu :
kitu cek ajali
tangtu kaharti
tapi naha ? dayang sumbi ngudar ucap apan cek tadi
pada bait ke dua baris ke dua belas sampai tiga belas terdapat asonansi a yaitu :
tapa bari sewot kana barera
bongan geus nyieun carita
Pada bait ke tiga baris pertama sampai baris ke empat terdapat aliterasi n, yaitu :
sangkuriang ngaran kuring ! prak raponan
samemeh dunya awut-awutan, panonpoe disosoeh samemeh balebat ngan kari urut
bongan geus nyieun ebat
Selanjutnya pada bait ke tiga baris ke lima sampai ke delapan terdapat aliterasi ng, yaitu:
ka sangkuriang anu linglung
eh istijrad! nyata anjeun teu beunang dipisobat tangtu ku aing ditenjrag
ieu kuringsangkuriang
Karena dua puisi yang dibandingkan berbeda bahasa sudah pasti satuan-satuan bunyinya mempengaruhi pola bunyi, pola bunyi yang banyak di temui dalam puisi Sangkuriang karya Sutan Iwan Soekri Munaf yang menggunakan bahasa Indonesia lebih di dominasi adanya bunyi asonansi. Sementara dalam puisi karya Hasan Wahyu Atmakusumah yang menggunakan bahasa Sunda di dominasi bunyi suara aliterasi.
Satuan terkecil berupa fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab dan seluruh cerita. Itu semua merupakan satuan arti.
Dalam puisi Sangkuriang karya Sutan Iwan Soekri Munaf, dapat kita telaah lapis artinya sebagai berikut:
siang yang telah datang itu berarti keinginanan Dayang Sumbi tidak terpenuhi. Maka Dayang Sumbi tak lagi bisa di samping Sangkuriang. Suasana yang bpenuh emosi di gambarkan dalam puisi ini begitu romantis dan tidak terasa sama sekali emosi Sangkuriang atas kekecewaannya.
Sementara dalam puisi Sangkuriang karya Hasan Wahyu Atmakusumah dapat kita telaah lapis artinya sebagai berikut :
Dalam bait pertama, “Sangkuriang ngaran kuring” dalam bahasa Indonesia berarti Sangkuriang nama saya. Menimbulkan kesan yang arogan dan mencerminkan sikap yang keras dan kasar karena pemilihan diksi yang membuat ada suatu emosi penentangan. Neangan indung nu nundung (mencari ibu yang mengusir)karena suatu konflik sebelumnya yang membuat Sangkuriang di usir, Sangkuriang berusaha menghindari masalah tersebut. Karena masalah itu di buat oleh dirinya sendiri.
Dalam bait ketiga amarah Sangkuriang semakin menjadi digunakan gaya hiperbola : samemeh dunya awut-awutan, panon poe di sosoeh (sebelum menghancurkan dunia dan merobek-robek matahari). Karena alam sedah mengganggu maka Sangkuriang menyatakan alam sudah tidak bersahabat. “tangtu ku aing di tenjrag” menyatakan sebuah perlawanan, seperti menginjak bumi penuh emosi. “menta hirup mangsa bulan mun ges kembar” menggambarkan bahwa Sangkuriang akan berusaha keras meski hal itu jelas-jelas tidak mungkin.
Sesungguhnya kedua sajak ini berupa runtutan cerita legenda Sangkuriang. Namun karena penulis puisi yang berbeda orang, berbeda latar belakang, dan juga berbeda sudut pandang dalam menggambarkan tokoh Sangkuriang, maka terjadi perbedaan dalam alur cerita dan sikap tokoh Sangkuriang. Lebih detail lagi akan di bahas selanjutnya dalam lapis dunia atau realitas yang digambarkan penyair.
3.3.3. Lapis Dunia atau Realitas yang Digambarkan Penyair
Lapis satuan arti menimbulkan lapis ketiga, berupa objek-objek yang dikemukaka, latar, pelaku, dan dunia pengarang.
Lapis dunia puisi Sangkuriang karya Sutan Iwan Soekri Munaf
Objek
Sajak ”Sangkuriang” karya Sutan Iwan Soekri Munaf :
- Dayang sumbi
- Langit bintang
- Ayah
pelaku
Pelaku pertama pada puisi ”Sangkuriang” adalah aku, yang merujuk pada diri sangkuriang.
Pelaku kedua adalah ”mu” dan ”mu” disini diintreprestasikan pada ”mu” yang berarti kepada Dayang Sumbi.
Latar waktu pada puisi ”Sangkuriang” adalah: malam yang sepi
Latar tempat pada puisi ”Sangkuriang” adalah: negeri antah brantah/ tempat yang imajiner, hanya ada dalam rekaan pikiran.
Latar situasi pada puisi ”Sangkuriang” adalah: keadaan yang romantis.
Alur puisi
tak cukup menambatkan hati. Apalagi yang bisa diperbuat karena kapalnya tidak selesai Dayang Sumbi menghilang.
Sementara lapis dunia Sajak Sangkuriang karya Hasan wahyu atmakusumah
Objek
Sajak ”Sangkuriang” karya Hasan wahyu atmakusumah :
- indung (ibu)
- Napsu (nafsu)
- Bapa (bapak)
- Bulan
- Dayang Sumbi
pelaku
Pelaku pertama pada puisi ”Sangkuriang” adalah aku, yang merujuk pada diri sangkuriang.
Pelaku kedua adalah ”anjeun” dan ”anjeun” disini diintreprestasikan pada ”mu” yang berarti kepada Dayang Sumbi.
Latar waktu pada puisi ”Sangkuriang” adalah: malam
Latar tempat pada puisi ”Sangkuriang” adalah: negeri antah brantah/ tempat yang imajiner, hanya ada dalam rekaan pikiran.
Alur puisi
Si Sangkuriang menegaskan dirinya, bahwa nama dia Sangkuriang yang kerjanya siang hanya diam dan malam keluyuran. Mencari ibu yang mengusir. Si Sangkuriang menghindari kebingungan, permasalahan yang datangnya dari dirinya sendiri. Dan waktu sudah tidak ada lagi, Sangkuriang meninggalkan pekerjaan yang sedang di lakukannya itu dan beralih melakukan pekerjaan baru. Sangkuriang mencerca ibu yang telah melahirkannya. Karena dia telah berucap ia akan menikahi sang putri (Dayang Sumbi). Kemudian Sangkuriang mencerca alam yang seolah tidak mendukungnya, menantang alam karena kenyataan yang tidak bersahabat.
3.3.4. Lapis Dunia atau Realitas yang Dilihat dari Titik Pandang Tertentu
Lapis keempat merupakan lapis ”dunia” yang dilihat dari sudut pandang tertentu, tetapi sudah ada secara implisit, sehingga tidak perlu dinyatakan. Dalam puisi yang berjudul “Sangkuriang” menggambarkan tentang kisah, kisah legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi. lebih khususnya tentang cinta yang rumit antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi.
Puisi karya Sutan Iwan Soekri Munaf, menempatkan Sangkuriang sebagai seseorang yang memuja Dayang Sumbi melebihi apapun, menonjolkan sisi romantisme.
3.3.5. Lapis Dunia yang Bersifat Metafisis
Dalam lapis kelima pada sajak yang berjudul ”Sangkuriang karya Sutan Iwan Soekri Munaf” poin yang bisa diambil adalah: kecintaan seorang anak kepada ibu tidak akan hilang meski telah berpisah lama. Dan rasa cinta ibu terhadap anak melebihi apapun tapi seorang ibu tak akan mungkin menyalahi arti rasa cinta.
Sementara dalam lapis kelima pada sajak yang berjudul ”Sangkuriang karya Hasan Wahyu Atmakusuma” poin yang bisa diambil adalah: sekeras apapun usaha apabila berada di jalan yang salah alam tidak akan mengijinkan. Jangan menyalahkan keadaan yang sudah menjadi takdir
3.4 Latar Belakang Sosial Budaya
Penyair Indonesia berasal dari bermacam-macam masyarakat, sesuai dengan jumlah suku bangsa Indonesia. Dengan demikian, ada latar sosial-budaya Sulawesi, Kalimantan dan sebagainya. Untuk memahami sajak yang di tulis oleh penyair daerah maka diperlukan pengetahuan tentang latar belakang sosial-budaya yang melahirkannya.
Begitu juga untuk memahami puisi dengan judul Sangkuriang ini. Sangkuriang adalah sebuah legenda dari tanah pasundan. Puisi Sangkuriang karya Sutan Iwan Soekri Munaf merupakan babak pemunculan masalah dari cerita legenda Sangkuriang. Setelah Sangkuriang di usir oleh Dayang Sumbi selama bertahun-tahun terpisah dan akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali namun dengan takdir yang berbeda, mereka dipertemukan oleh rasa cinta karena mereka tidak saling mengetahui bahwa Dayang Sumbi adalah ibu yang selalu Sangkuriang cari. Yang digambarkan dalam puisi Sutan adalah sisi romantis percintaan antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi.
Berbeda dengan puisi yang ditulis Hasan Wahyu Atmakusumah, yang menggunakan bahasa Sunda, memunculkan babak klimaks dari cerita legenda Sangkuriang. Yaitu ketika Sangkuriang merasa perasaannya dikoyak mengetahui bahwa gadis yang ia inginkan adalah ibunya, tetapi Sangkuriang bersikukuh ingin menikahi Dayang Sumbi. Tetapi Karena menentang aturan semua yang dilakukanpun tidak terlaksana. Suasana yang tergambar begitu penuh emosi dan membawa pembaca terhanyut kedalam cerita yang melegenda itu.
3.5 Bunyi
Karena pentingnya peranan bunyi ini dalam kesusastraan, maka bunyi ini pernah menjadi unsur kepuitisan yang utama dalam sastra romantik, yang timbul sekitar abad ke-18, 19 di Eropa Barat (Slamemuljana, 1956:56). Lebih-lebih lagi aliran simbolisme yang dipelopori oleh Charles Baudelaire (1821-1867).salah seorang simbolis, Paul Verlaine (1844-1896) berkata bahwa musiklah yang paling utama dalam puisi.
Menurut teori simbolisme tiap katan itu menimbulkan asosiasidan menciptakan taanggapan di luar arti yang sebenarnya. Hal ini dapat diusahakan dengan gaya bahasa. Jalannya ialah mengarahkan puisi sedekat-dekatnya kepada rasa saja. Apapun yang dapat ditangkap panca indra ini hanyalah lambang atau bayangan kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan sebenarnya ini tidak dapat ditangkap panca indra. Barang-barang ini hanya dapat memberi saran kepada kita tentang kenyataan yang sebenarnya. Misalnya dapat dilihat dalam puisi Sangkuriang karya Sutan Iwan Soekri Munaf yang mempergunakan lambang-lambang, yang memberi sugesti kepada kenyataan hidup yang sebenarnya.
Sangkuriang
karya Sutan Iwan Soekri Munaf
Tak ada lagi waktu untuk bercinta, selain padamu, Dayang Sumbi
Langit yang dipenuhi bintang dan rindu yang bergerak dari detik ke detik Selalu menangkap bayang-bayang wajahmu yang mampir di ujung mimpi Dan kata tak dapat lagi melukiskan perasaan yang selalu berdetak
Akulah Sangkuriang yang tak pernah kenal ayah Dan meninggalkan ibu di kampung. Jauh
sayang, gembira dan bahagia. Hal ini terlihat dalam puisi di atas. Bunyi-bunyi merdu dalam sajak ini memperkuat efek perasaan kasih sayang, kemesraan, kegembiraan dan kebahagiaan Sangkuriang yang sedang jatuh cinta kepada Dayang Sumbi.
Sangkuriang
karya Hasan Wahyu Atmakusumah
sangkuriang ngaran kuring ti beurang_tukang caringcing ti peuting tukang ngalinjing neangan indung nu nundung
Sementara pada puisi Sangkuriang karya Hasan Wahyu Atmakusumah Kombinasi vokal (asonansi): a, i, u, e, eu, o bunyi-bunyi konsonan bersuara (voiced): b, d, g, j, bunyi liquida: r, l dan bunyi sengau: m, n, ng, ny menimbulkan bunyi merdu itu memberikan efek berat, apalagi pengulangan bunyi sengau ng yang di ulang-ulang berefek menegaskan suasana yang tegang. Hal ini terlihat dalam puisi di atas. Bunyi-bunyi merdu dalam sajak ini memperkuat efek kecewa, marah, sakit hati karena Sangkuriang mengetahui Dayang Sumbi itu adalah ibunya.
3.6 Irama
Hal yang masih erat berhubungan dengan pembicaraan bunyi adalah irama. Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi yang menimbulkan suatu gerak yang hidup, seperti gercik air yang mengalir turun tak putus-putus gerak yang teratur itulah yang disebut irama. Irama berasal dari kata Yunani reo, yang berarti riak air. Gerakan-gerakan air, riak air adalah gerakan yang teratur, terus-menerus tidak putus-putus. Itulah barang kali setiap gerak yang teratur disebut reo yang menjadi ritmos, rhythmus kemudian menjadi ritme. Metrum adalah irama yang tetap sementara ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya.
Secara sadar atau tidak sadar dalam puisi “Sangkuriang” karya Hasan W Atmakusumah ritmenya sangat teratur. Misalnya pertentangan bunyi, perulangan, juga memilih kata yang cocok bunyinya: tukang carincing, indung nu nundung dsb.
menyebabkan berkontemplasi hingga sajak itu dan apa yang dikemukakan meresap dalam hati, jiwa si pembaca atau pendengar.
3.7 Kata
Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata. Dalil seni sastra J. Elema menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata (Slametmuljana, 1956:25)
3.7.1 kosa Kata
Penyair mempergunakan kata-kata kuna yang sudah mati, seperti ditunjukan oleh Slametmuljana (1956:9), tetapi harus dapat menghidupkannya kembali. Misalnya puisi karya Hasan W Atmakusumah, mempergunakan kata-kata nundung, ajali. Pengarang juga menggunakan istilah lain untuk memberikan efek megah dan romantis, seperti pada puisi Sutan I S Munaf, pemilihan frasa kapal wisata, memberikan efek lebih universal dan indah.
Dari kapal wisata yang kubangun ini...
3.7.2 Pemilihan Kata
Barfield mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis (1952:41) jadi, diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik.
3.7.3 Bahasa Kiasan
a. Hiperbola
kita akan melayari waktu dengan seluruh cintaku
dan tak pernah menambatkan hati
yang selalu bergelora mencari kata-kata
(Sutan Iwan)
Samemeh dunya awut-awutan panon poe disosoeh
(Hasan Wahyu)
Menta hirup mangsa bulan mun ges kembar
(Hasan Wahyu)
b. Metafora
rindu yang bergerak dari waktu ke waktu
(Sutan Iwan)
c. Personifikasi
waktu sudah lama berlari
3.8 Citraan
Kedua puisi Sangkuriang ini baik karya Sutan maupun karya Hasan, mempergunakan bermacam-macam citraan. Altenbernd (1970:14) mengemukakan bahwa citraan adalah salahsatu alat kepuitisan yang terutamayang dengan itu kesusastraan mencapai sipat-sipat konkret, khusus,mengharukan, dan menyaran.
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dari kedua puisi yang memiliki latar belakang yang sama (legenda Sangkuriang), ternyata dapat kita lihat bahwa terdapat perbedaan dan persamaan yang memiliki keindahan masing-masing untuk dinikmati.
Bahasa yang digunakan banyak mempengaruhi pola bunyi, pemakaian bahasa Indonesia dalam puisi Sangkuriang karya Sutan Iwan Soekri Munaf banyak ditemukan asonansi u, i dan a. Sementara dalam puisi Sangkuriang karya Hasan Wahyu Atmakusumah yang menggunakan bahasa Sunda banyak di temukan aliterasi ng dan n.
ini terjadi karena kedua penyair ini mengambil bagian cerita yang berbeda dari legenda Sangkuriang.
DAFTAR PUSTAKA
Joko Pradopo, Rahmat.2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Djoko Damono, Sapardi. 2011. Sastra Bandingan. Cirendeu: Editum.
Maya Mega Utari. 2013. Sajak sunda. [Online]. Tersedia: http//kumpulankaryapuisi2013.blogspot.com/sajak-sunda/, yang diakses tanggal 1 Oktober 2013.