• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi HUKUM LINGKUNGAN INTERNASIONAL sejara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Skripsi HUKUM LINGKUNGAN INTERNASIONAL sejara "

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM LINGKUNGAN INTERNASIONAL ATAS SUMBER DAYA AIR YANG TERLETAK DI PERBATASAN ANTAR NEGARA

(TRANSBOUNDARY WATER RESOURCES)

(STUDI PUTUSAN MAHKAMAH INTERNASIONAL NO. SSN 0074-4441/ISBN 92-1-070757-5/SALESNUMBER692)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh: INTAN BAIDURI

NIM: 130200524

DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

HUKUM LINGKUNGAN INTERNASIONAL ATAS SUMBER DAYA AIR YANG TERLETAK DI PERBATASAN ANTAR NEGARA

(TRANSBOUNDARY WATER RESOURCES)

(STUDI PUTUSAN MAHKAMAH INTERNASIONAL NO. SSN 0074-4441/ISBN 92-1-070757-5/SALESNUMBER692)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh: INTAN BAIDURI

NIM: 130200524

DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL Disetujui Oleh:

Ketua Departemen Hukum Internasional

Abdul Rahman S.H., M.H. NIP: 196403301993031002

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. H. Syamsul Arifin S.H, M.H. Dr. Jelly Leviza S.H., M.Hum. NIP: 195209101980031001 NIP: 197308012002121002

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hukum Internasional sebagai seperangkat kaidah yang mengatur

hubungan, interaksi maupun persoalan antarnegara dan subjek-subjek hukum

lainnya satu sama lain yang melintasi batas negara1 cukup kompleks dan luas ruang lingkupnya.2 Hukum Internasionalpun dituntut untuk berperan aktif demi terlaksananya hubungan dan kerja sama yang harmonis serta terpeliharanya

perdamaian dan kemanan dunia. Berbicara tentang lingkungan hidup, lingkungan

hidup merupakan hal yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Perlindungan

lingkungan hidup manusia merupakan persoalan utama yang mempengaruhi

kesejahteraan manusia.3

Lingkungan hidup tidak terlepas dari kehidupan seluruh makhluk hidup

terutama manusia. Karena lingkungan hidup merupakan tempat manusia

memenuhi kebutuhannya dari sumber-sumber dan kekayaan alam yang diberikan

lingkungan hidup dan sebagai sumber primer maupun sekunder. Hal tersebutlah

yang menjadi sumber-sumber mata pencaharian dan kenikmatan hidup bagi umat

manusia.4

1 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Cet.Kedelapan, (Bandung:

Binacipta, 1997), hal. 3 & 5; J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, Cet.Kesembilan, (Jakarta: Penerbit Sinar Grafika, 2008), hal. 3; Boer Mauna, HUKUM INTERNASIONAL, Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Cet.Keempat (Bandung: Penerbit PT. Alumni, 2011), hal. 1

2 Boer Mauna, Ibid., hal. vii

3 Declaration of the United Nations Conference on the Human Environment in Stockholm

(1972),Pembukaan para.2

4 Janet R. Hunter dan Zachary A. Smith, Protecting Our Environmet: Lessons from The

(4)

Menurut Muhammad Akib, Hukum Lingkungan adalah seperangkat aturan

hukum (legal rules) baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang mengatur

tatanan lingkungan hidup yang meliputi hubungan antara manusia dengan

lingkungannya, baik dengan lingkungan makhluk hidup lainnya (flora, fauna dan

organisme hudup lainnya) maupun dengan lingkungan alam atau fisik.5 Lalu mengutip pandangan Oliver Campbell QC dan Rachel Tandy, Hukum

Lingkungan adalah hukum yang berusaha melindungi lingkungan secara langsung

atau orang ataupun properti yang terpengaruh oleh lingkungan hidup.6

Kesadaran lingkungan telah menjadi kepedulian masyarakat dunia

terhadap lingkungan sebagai akibat terjadinya berbagai masalah Lingkungan.

Secara umum, kesadaran lingkungan telah dimulai sejak tahun 1950-an sebagai

akibat terjadinya berbagai kasus lingkungan di dunia.7 Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami yang terjadi sebagai bagian dari

proses natural, namun sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan

sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami karena manusia memberikan

faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa

lingkungan.8 Sebagai contoh, menurut Rachel Carson serangan manusia terhadap lingkungan yang paling menggelisahkan adalah pencemaran udara, tanah, sungai

dan laut dengan bahan-bahan yang berbahaya bahkan mematikan.9 Secara global

N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, Cet. Kedua, (Jakarta: Erlangga, 2004), hal 1; N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan, Cet. Ke-1, (Jakarta: Pancuran Alam, 2008), hal. 1 & 2

(5)

perhatian dunia terhadap lingkungan di mulai di kalangan Dewan Ekonomi dan

Sosial PBB saat peninjauan terhadap hasil-hasil gerakan Dasawarsa Pembangunan

Dunia ke-1 (1960-1970). Puncak perhatian masyarakat internasional terlihat dari

diadakannya United Nation Conference on The Human Environment di

Stockholm, Swedia dari tanggal 5-16 Juni 1972.10

Manusia dalam kehidupannya selalu tumbuh dan berkembang.

Pertumbuhan dan perkembangan tersebut dituntun oleh peran ilmu dan

pengetahuan yang mendasari perkembangan manusia di segala aspek, termasuk

perkembangan ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Hal ini memicu terjadinya

globalisasi. Era modern ini, manusia tak lagi asing dengan istilah globalisasi.

Globalisasi adalah gagasan menyangkut perkembangan dunia terhadap ekonomi

tunggal dan budaya sebagai akibat dari peningkatan teknologi dan komunikasi

dan pengaruh perusahaan multinasional yang sangat besar.11 Frank J. Lechner memberi gagasan bahwa Globalisasi adalah proses di mana semakin banyak orang

menjadi terhubung dengan cara yang lebih berbeda melintasi jarak yang besar.12 Secara mendalam, globalisasi mempengaruhi perkembangan Hukum Lingkungan

di seluruh dunia13 yang disebabkan oleh meningkatnya kemajuan teknologi.14 Kemajuan teknologi tersebutpun mempengaruhi struktur dan pola hidup

10

Muhammad Akib, op.cit, hal.12

11 Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, International Student Edition,

Cet. Kesepuluh (Malaysia; Macmillan Publishers Limited, 2006), hal. 603

12

Frank J. Lechner, Globalization; the Making of World Society, Cet. Ke-1, (United Kingdom; Wiley-Blackwell, 2009), hal. 15

13 Robert V. Percival, International Environmental Law: The Practitioner's Guide to the

Laws of the Planet, (United States of America: American Bar Association Book Publishing, 2014), hal. 3

14

UN Department of Economic and Social Affairs, Industrial Development for the 21st Century (2006), dapat diakses pada:

(6)

manusia.15 Tidak terlepas dari hal tersebut, setiap bangsa menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dalam penatagunaan sumber daya alam.16 Terlebih, filsafat sebagai dasar-dasar pengetahuan yang hidup dalam masyarakat17 mendeterminasikan bahwa sisi moral teknologi adalah sebagai beban tanggung

jawab manusia, terutama efek jangka panjang kondisi global manusia dan

lingkungan.18 Maka dari itu, globalisasipun sangat mempengaruhi lingkungan. Menurut Athelstan Spilhaus pesatnya perkembangan teknologi menjadi salah satu

sumber permasalahan yang timbul di lingkungan.19 Pandangan ini kemudian diperkuat oleh argumen Barry Commoner seorang Ekolog Amerika terkemuka:

Technological revolution led to an outpouring of polluting technologies,

which contributed to what might be regarded as a tragic tableau of the

Progressive-era fallacy that humans could infinitely shape and dominate the

environment.”20

Hal tersebut menuntut manusia untuk mengerti bagaimana pada umumnya

penggunaan sumber-sumber di lingkungan hidup oleh manusia sehingga

mempengaruhi lingkungan itu sendiri dan apa manfaat dari sumber-sumber

15 Anne Chapman, Democratizing Technology: Risk, Responsibility and the Regulation of

Chemicals, (London; Erthscan Publishes in Association with the International Institute for Environment and Development, 2007), hal. 22

16 The U.S. Geological Survey, et al, River Science at The U.S. Geological Survey,

(United States of America: The National Academies Press, 2007), hal. 25

17

Syamsul Arifin, et al., Pengantar Falsafah Hukum, Cet. Ketiga, (Bandung; Citapustaka Media, 2015), hal. 9

18 Hans Jonas, Toward a Philosophy of Technology, (1979) Hastings Center Report, hal.

34

19 Daud Silalahi, Hukum Lingkungan: Dalam sistem Penegakan Hukum Lingkungan

Indonesia, Cet Pertama, (Bandung: Penerbit Alumni, 1996), hal. 11

20 Barry Commoner, The Closing Circle: Nature, Man, and Technology (New York:

(7)

tersebut untuk saat ini maupun di masa yang akan datang.21 Maka pada prinsipnya, makhluk hidup memengaruhi lingkungannya, dan sebaliknya

perubahan lingkungan akan memengaruhi kehidupan makhluk hidup.

Lingkungan merupakan hal yang mendunia, karena lingkungan hidup

manusia saling terhubung satu sama lain di mana pun itu. Kondisi satu lingkungan

di suatu tempat akan mempengaruhi kondisi lingkungan lain di tempat yang

berbeda, maka di sinilah peran Hukum Internasional tampak krusial. Terlebih lagi,

jika di lingkungan negara-negara yang saling berbatasan terdapat suatu sumber

daya yang esensial terhadap kehidupan manusia. Hal ini menuntut eksistensi

peraturan tentang pemanfaatan sumber daya tersebut dengan tidak merusak

lingkungan dan sumber daya itu sendiri. Selain tentang pelestarian lingkungan dan

sumber daya tersebut, masi banyak berbagai aspek yang harus diperhatikan

negara-negara bersangkutan dalam pemanfaatan sumber daya yang terletak di

perbatasan negara-negara, inter alia, kesepakatan, kerja sama dan Hukum

Internasional yang berlaku. Terlebih, berdasarkan Hukum Internasional negara

berkewajiban untuk memastikan bahwa aktivitas dalam batas yurisdiksi atau

kontrol negaranya tidak menyebabkan kerusakan pada area di luar yurisdiksi

nasionalnya.22 Hal tersebut dalam hukum lingkungan internasional membuktikan bahwasannya hukum internasional menekankan segala bentuk tindakan suatu

negara tidak menyebabkan kerusakan di yurisdiksi ataupun wilayah negara lain,

khusunya lingkungan di negara tersebut.

21

Janet R. Hunter dan Zachary A. Smith, Protecting Our Environmet: Lessons from The European Union, Cet. Kesepuluh, (United States of America: State University of New York Press, 2005) hal. 1

(8)

Banyak pelanggaran-pelanggaran dalam hal ini yang terjadi hingga

membuahkan sengketa yang diajukan ke International Court of JusticeI

(Mahkamah Internasional), salah satunya yang menjadi kajian penelitian ini

adalah Kasus Gabcikovo-Nagymaros antara Hungaria dan Slowakia. Kasus ini

bermula ketika Hungaria dan Cekoslowakia menandatangani perjanjian bilateral

yang berisi kesepakatan untuk membangun sistem bendungan lintas batas negara

yakni Gabcikovo dan Nagymaros di Sungai Danube. Hal ini timbul menjadi

sengketa karena pada awlanya timbul wanprestasi dari Hungaria terhadap

Perjanjian 1977 yang memicu timbulnya solusi baru dari Slowakia untuk

menanggulangi hal tersebut yang kemudian dipermasalahkan juga oleh Hungaria.

Hungaria menunjukkan ketidaksetujuannya dengan cara mengkahiri Perjanjian

secara sepihak. Ketidaksempurnaan sistem hukum sebenarnya merupakan suatu

hal yang wajar karena instrumen hukum merupakan hasil pemikiran manusia dan

seringkali tertinggal oleh fenomena dan perkembangan yang terjadi.23 Sudah sepatutnyalah masyarakat internasional memberi perhatian dan berusaha

menangani aspek-aspek yang terkait dengan sumber daya air yang terletak di

perbatasan antar negara (transboundary water resources).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas serta sesuai dengan judul penelitian ini,

dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas di dalam penelitian ini,

antara lain:

23 Paulina Tandiono, Skripsi Kesarjanaan: Status Kenegaraan (Statehood) Negara –

(9)

1. Bagaimana konsep dasar sumber daya air serta aspek yuridis yang

mengaturnya dalam hukum internasional?

2. Bagaimana perjanjian-perjanjian internasional terkait transboundary

water resources berdasarkan prinsip-prinsip hukum internasional?

3. Bagaimana Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah Internasional

dalam Kasus Gabcikovo-Nagymaros Project antara Hungaria dan

Slowakia dalam Perspektif Hukum Lingkungan Internasional?

C. Tujuan Penulisan

Beradasarkan latar belakang dan pokok permasalahan yang ada dalam

penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk Mengetahui konsep dasar sumber daya air serta aspek yuridis

yang mengaturnya dalam hukum internasional.

2. Untuk mengetahui perjanjian-perjanjian internasional terkait

transboundary water resources berdasarkan prinsip-prinsip hukum

internasional.

3. Untuk mengetahui Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah

Internasional dalam Kasus Gabcikovo-Nagymaros Project antara

Hungaria dan Slowakia dalam Perspektif Hukum Lingkungan

Internasional.

Selain tujuan daripada penelitian, perlu pula diketahui bersama bahwa

manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai

(10)

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perkembangan

ilmu pengetahuan secara umum dan ilmu hukum secara khusus. Selain itu,

penelitian ini juga diharapkan dapat menambah bahan pustaka, mengingat bahan

pustaka mengenai sumber daya air yang terletak di perbatasan antar negara

(transboundary water resources) sangat minim. Kemudian penelitian ini

diharapkan dapat menjadi dasar terhadap penelitian lain tentang transboundary

water resources selanjutnya. Lalu diharapkan pula dapat memberikan masukan

bagi penyempurnaan perangkat hukum internasional maupun perangkat hukum

nasional dalam kaitannya dengan sumber daya air yang terletak di perbatasan

antar negara (transboundary water resources).

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pemahaman

yang lebih mendalam bagi pemerintah Indonesia, pemerintah di negara lain serta

masyarakat mengenai arti penting sumber daya air bagi kehidupan manusia serta

bagaimana pengaturannya. Lebih spesifiknya, penelitian ini diharapkan pula dapat

memberi pengertian tentang pentingnya pengaturan tentang transboundary water

resources.

D. Keaslian Penulisan

Penelitian berjudul “Hukum Internasional atas Sumber Daya Air yang

(11)

Putusan Mahkamah Internasional No. SSN 0074-4441/ISBN

92-1-070757-5/SALESNUMBER692” ini terjamin orisinalitasnya. Karya tulis ini merupakan

refleksi dan pemahaman dari apa yang telah dipelajari selama mengikuti

kompetisi The Philip C. Jessup International Law Moot Court Competition 2017.

Diupayakan pula untuk menuangkan seluruh gagasan dan ide-ide dengan sudut

pandang yang objektif, membuat analisa yang komprehensif tentang isu sumber

daya air yang terletak di perbatasan antar negara (transboundary water resources)

dengan instrumen-instrumen hukum internasional yang mengaturnya, khususnya

pro kontra yang ditinjau dari Konvensi Internasional dan sumber-sumber hukum

internasional lainnya.

Sepanjang yang ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara bahwa penelitian tentang “Hukum Internasional atas

Sumber Daya Air yang Terletak di Perbatasan Antar Negara (Transboundary

Water Resources)” belum pernah ditulis sebelumnya. Hanya saja, tidak dapat

dipungkiri bahwa terdapat beberapa penelitian yang menyinggung mengenai

hukum internasional terkait masalah lingkungan yang terjadi dalam lintas batas

atau perbatasan negara-negara, seperti beberapa penelitian sebelumnya yang

ditulis oleh mahasiswa-mahasiswa departemen Hukum Internasional di Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara:

1. Upaya-upaya ASEAN dalam Menghadapi POlusi Udara Lintas Batas

Negara yang Disebabkan oleh Kebakaran Hutan

Nama : Dhuha Wiyandani

(12)

2. Pencemaran Lintas Batas Akibat Kebakaran Hutan: Suatu Perspektif dari

Ekologi dan HUkum Lingkungan Internasional

Nama : Sri Azora Kumala Dewi

NIM : 040200031

3. Tinjauan Hukum Internasional terhadap Pencemaran Lintas Batas Akibat

Kebocoran The Montara Well Head Platform di Laut Timor

Nama : Fadhilah Astrid Sitompul

NIM : 070200119

Namun penelitian-penelitian di atas tidak dalam pembahasan yang fokus

pada aspek hukum internasional atas sumber daya air yang terletak di perbatasan

negara Hungaria dan Slowakia, yakni sungai Danube. Seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya, Kasus ini bermula ketika Hungaria dan Cekoslowakia

menandatangani perjanjian bilateral yang berisi kesepakatan untuk membangun

sistem bendungan lintas batas negara yakni Gabcikovo dan Nagymaros di Sungai

Danube. Hal ini timbul menjadi sengketa karena pada awlanya timbul wanprestasi

dari Hungaria terhadap Perjanjian 1977 yang memicu timbulnya solusi baru dari

Slowakia untuk menanggulangi hal tersebut yang kemudian dipermasalahkan juga

oleh Hungaria. Hungaria menunjukkan ketidaksetujuannya dengan cara

mengkahiri Perjanjian secara sepihak.

(13)

Menurut Rebecca M.M Wallace, hukum internasional adalah

peraturan-peraturan dan norma-norma yang mengatur tindakan negara-negara dan kesatuan

lain yang pada suatu saat diakui mempunyai kepribadian internasional,seperti

misalnya organisasi internasional dan individu,dalam hal hubungan satu dengan

yang lainnya.24 Sedangkan Mochtar Kusumaatmadja mendefinisikan hukum internasional sebagai keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas yang mengatur

hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara-negara antara negara

dengan negara; negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subyek

hukum bukan negara satu sama lain.25

Pembahasan isu hukum internasional tidak terlepas dari sumber-sumber

hukum internasional yang termaktub dalam pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah

Internasional (International Court of Justice) yaitu:26

a. international conventions, whether general or particular, establishing

rules expressly recognized by the contesting states (Perjanjian-Perjanjian

Internasional);

b. international custom, as evidence of a general practice accepted as law

(Hukum kebiasaan internasional);

c. the general principles of law recognized by civilized nations

(Prinsip-prinsip umum hukum internasional);

d. subject to the provisions of Article 59, judicial decisions and the teachings

of the most highly qualified publicists of the various nations, as subsidiary

24

Rebecca M.M. Wallace, Pengantar Hukum International,diterjemahkan oleh Bambang Arumanadi, SH, Msc, (Semarang: IKIP Semarang Press, 1993), hal. 1

25 Mochtar Kusumaatmadja, op.cit., hal. 3

(14)

means for the determination of rules of law. (Putusan-putusan pengadilan

internasional dan ajaran-ajaran para sarjana terkemuka).

Menurut Pasal 1 of the 1933 Montevideo Convention on the Rights and

Duties of States, negara memiliki kriteria sebagai berikut:

“The state as a person of international law should possess the following

qualifications: a ) a permanent population; b ) a defined territory; c )

government; and d) capacity to enter into relations with the other states’..27

Beberapa ahli juga turut memberi pengertian negara. J. G. Starke

mendefinisikan negara sebagai:

Suatu sistem yang ditetapkan oleh dan diantara manusia itu sendiri,

sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan; yang paling penting diantaranya

ialah: suatu sistem ketertiban yang menaungi manusia dalam melakukan

kegiatan-kegiatannya’..28

Fenwick memberikan defenisi negara dengan mendeskripsikan kriteria

negara sebagai:

“Suatu masyarakat politik yang diorganisasi secara tetap, menduduki suatu

daerah tertentu, dan hidup dalam batas-batas daerah tersebut bebas dari

27 Montevideo Convention on the Rights and Duties of States (1933), pasal 1

28J.G. Starke, Introduction to International Law, 9th ed., (United Kingdom: Butterworths,

(15)

pengawasan negara lain, sehingga dapat bertindak sebagai badan yang merdeka di

muka bumi’..29

Dapat dilihat dari hukum positif Indonesia yang mengatur tentang sumber

daya air, yakni pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004, bahwa

sumber daya air adalah:

“air, sumber air dan daya air yang terkandung di dalamnya.”30

Seorang ahli bernama M. Kudeng Sallata berpendapat bahwa sumber daya

air adalah:

“satu sumber daya alam yang tergolong tidak hidup (non-hayati) dan dapat

diperbaharui sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup

lainnya.”31

Selanjutnya mengenai perbatasan, Black’s Law Dictionary mendefinisikan

bahwa perbatasan adalah:

a natural or artificial separation that delineates the confines ofreal

property.”32

Sedangkan putusan adalah:

a court's final determination of the rights and obligations of the parties in

a case.”33

29S. Tasrif, Hukum Internasional Tentang Pengakuan Dalam Teori dan

Praktek,(Bandung: Abardin, 1978), hal. 10

30 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, pasal 1 ayat (1) 31 M. Kudeng Sallata, Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan

Keberadannya sebagai Sumber Daya Alam (2014), Jurnal Balai Penelitian Kehutanan Makassar, hal. 77

(16)

Mahkamah Internasional atau International Court Of Justice (ICJ)

penelitian ini sebagai lembaga peradilan yang putusannya dikaji didefinisikan

sebagai pengadilan tetap yang memiliki 15 anggota, dimana pengadilan ini

merupakan organ peradilan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa.34

Untuk lebih detilnyanya lagi sesuai dengan penelitian ini, pasal 1 ayat (1)

Convention on The Protection and Use of Transboundary Watercourses and

International Lakes, transboundary waters adalah:

any surface or ground waters which mark, cross or are located on

boundaries between two or more States; wherever transboundary waters flow

directly into the sea, these transboundary waters end at a straight line across

their respective mouths between points on the low-water line of their banks.”35

Berkaitan dengan transboudary waters/water resources, terjadinya isu

tentang hal ini tentunya dikarenakan adanya dampak (impact) yang terjadi antara

pihak-pihak yang bersangkutan dalam jurisiksi pihak-pihak tersebut, sebagaimana

yang didefinisikan dalam pasal 1 ayat (2) Convention on The Protection and Use

of Transboundary Watercourses and International Lakes, transboundary impact

adalah:

any significant adverse effect on the environment resulting from a change in the conditions of transboundary waters caused by a human activity, the physical origin of which is situated wholly or in part within an area under the jurisdiction of a Party, within an area under the jurisdiction of another Party. Such effects on the environment include effects on human health and safety, flora, fauna, soil, air, water, climate, landscape and historical monuments or other physical structures or the interaction among these factors; they also include

34

Balck’s Law Dictionary, Ibid., hal. 891; Statuta Mahkamah Internasional, op. cit., pasal 1

35 Convention on The Protection and Use of Transboundary Watercourses and

(17)

effects on the cultural heritage or socio-economic conditions resulting from alterations to those factors.”36

F. Metode Penelitian

Untuk melengkapi penelitian ini agar tujuan dapat lebih terarah dan dapat

dipertanggungjawabakan secara ilmiah, maka metode penelitian yang digunakan

sebagai berikut:

1. Jenis Pendekatan

Dikenal dua jenis pendekatan dalam penelitian hukum, yaitu pendekatan yuridis

sosiologis dan pendekatan yuridis normatif. Pendekatan yuridis sosiologis

merupakan pendekatan dengan mengambil data primer atau data yang diambil

langsung dari lapangan, sedangkan pendekatan yuridis-normatif merupakan

pendekatan dengan data sekunder yang berasal dari hukum positif tertulis

(kepustakaan atau dookumen) maupun tidak tertulis. 37 Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif karena yang hendak diteliti dan

dianalisa adalah putusan Mahkamah Internasional antara Hungaria dengan

Slowakia terkait sengketa atas sumber daya air yang terletak di perbatasan antar

negara (transboundary water resources).

2. Data Penelitian

Sumber data dari penelitian ini adalah data sekunder, yakni berasal dari penelitian

kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan dilakukan terhadap

36Ibid., pasal 1 ayat (2)

37 Sri Mamudji, et al., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum (Jakarta: Badan Penerbit

(18)

berbagai macam sumber bahan hukum yang dapat diklasifikasikan atas 3 (tiga)

jenis, yaitu:38

a. Bahan hukum primer (primary resource atau authoritative records), yaitu:

Berbagai dokumen peraturan internasional dan nasional yang tertulis,

sifatnya mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Berbagai konvensi

dan perjanjian internasional dalam penelitian ini antara lain seperti The 1969

Vienna Convention on the Law Treaties (VCLT), Deklarasi Stockholm 1972, The

1992 Rio Declaration on Environment And Development, The 1982 United

Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS), 1997 Convention on the

Law of the Non-navigational Uses of International Watercourses (UN

Watercourses Convention)dan The 1992 Convention on The Protection and Use

of Transboundary Watercourses and International Lakes (UNECE Watercourses

Convention) serta berbagai putusan internasional maupun nasional dan resolusi

lainnya.

b. Bahan Hukum Sekunder (secondary resource atau not authoritative

records) yaitu:

Bahan-bahan hukum yang dapat memberikan kejelasan terhadap bahan

hukum primer. Semua dokumen yang merupakan informasi atau hasil kajian

tentang sumber daya air yang terletak di perbatasan antar negara (transboundary

water resources) serta perdebatan kriteria status kenegaraan yang ditinjau dari

sudut pandang hukum internasional seperti literatur, hasil-hasil penelitian, jurnal

38 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet.Kedua, (Jakarta:

(19)

ilmiah dan laporan-laporan organisasi internasional, makalah-makalah dalam

seminar, dan lain-lain.

c. Bahan Hukum Tersier (tertiary resource), yaitu:

Bahan-bahan hukum yang dapat memberikan petunjuk dan penjelasan

terhadap bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder, mencakup kamus

hukum, kamus bahasa untuk pembenahan bahasa Indonesia untuk menerjemahkan

beberapa literatur asing dan lainnya serta kamus bahasa inggris.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengna cara penelitian kepustakaan (library

research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka

atau yang disebut dengan data sekunder. Adapun data sekunder yang digunakan

dalam penelitian ini antara lain berasal dari buku-buku baik koleksi pribadi

maupun dari perpustakaan serta jurnal-jurnal hukum.

Tahap-tahap pengumpulan data melalui studi pustaka adalah sebagai berikut :

a. Melakukan inventarisasi hukum positif dan bahan-bahan hukum lainnya

yang relevan dengan objek penelitian.

b. Melakukan penulusuran kepustakaan melalui, artikel-artikel media cetak

maupun elektronik, dokumen-dokumen pemerintah dan peraturan

perundang-undangan.

c. Mengelompokkan data-data yang relevan dengaan permasalahan.

d. Menganalisa data-data yang relevan tersebut untuk menyelesaikan

masalah yang menjadi objek penelitian

(20)

Penelitian ini melakukan analisis data secara kualitatif. Pendekatan kualitatif

digunakan dengan mengutamakan kalimat-kalimat dan bukan angka sebagaimana

dalam pendekatan kuantitatif. Selain itu, pendekatan kualitatif lebih

mengutamakan dalamnya data dibanding banyaknya data. Oleh karena itu,

penelitian ini akan memfokuskan pada bahan hukum primer dan bahan hukum

sekunder, termasuk pula bahan tersier yang telah disusun secara sistematis

sebelumnya, akan dianalisis dengan menggunakan metode-metode sebagai

berikut:39

a. Metode induktif, dimana proses berawal dari proposisi-proposisi khusus

(sebagai hasil pengamatan) dan berakhir pada suatu kesimpulan

(pengetahuan baru) yang berkebenaran empiris. Dalam hal ini, adapun

data-data yang telah diperoleh akan dibaca, ditafsirkan, dibandingkan dan

diteliti sedemikian rupa sebelum dituangkan dalam satu kesimpulan akhir.

b. Metode deduktif, yang bertolak dari suatu proposisi umum yang

kebenarannya telah diketahui (diyakini) yang merupakan kebenaran ideal

yang bersifat aksiomatik (self evident) yang esensi kebenarannya tidak

perlu diragukan lagi dan berakhir pada kesimpulan (pengetahuan baru)

yang bersifat lebih khusus.

c. Metode komparatif, yaitu dengan melakukan perbandingan (komparasi)

antara satu sumber bahan hukum dengan bahan hukum lainnya.

39 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Suatu Pengantar, (Jakarta: Penerbit

(21)

G. Sistematika Pembahasan

Demi kemudahan dalam memahami setiap pembahasan dalam penelitian ini ,

dibagi 5 (lima) bab yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Adapun

sistematika penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bab I Bab I adalah Bab Pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang

pemilihan judul, rumusan masalah, tujuan penulisan, keaslian

penulisan, tinjauan pustaka, metode penelitian dan yang terakhir

sistematika pembahasan penelitian ini.

Bab II Dalam bab ini, hak setiap negara atas sumber daya air dalam

hukum internasional dibahas secara komprehensif dan mendalam.

Bab ini memaparkan tentang definisi diikuti dengan fungsi sumber

daya air. Kemudian, dilanjutkan dengan bagaimana klasifikasi

sumber daya air serta bagaimana pengaturan hukum internasional

atas sumber daya air.

Bab III Bab III membahas secara mendalam tentang kesepakatan antar

negara terkait transboundary water resources serta bentuk-bentuk

kesepakatan para pihak atas transboundary water resources,

dimana kesepakatan tersebut terbagi menjadi 2, yaitu kesepakatan

bilateral dan kesepakatan multilateral. Kemudian

dilanjutkandengan prinsip-prinsip hukum internasional terkait kerja

sama dalam transboundary water resources.

Bab IV Bab ini berisi tentang analisa dari sudut pandang hukum terkait

(22)

Gabcikovo-Nagymaros Project. Dalam awal bab terdapat gambaran sekilas

tentang kasus Gabcikovo-Nagymaros Project yang terjadi antara

Hungaria dan Slowakia. Kemudian diikuti dengan pemaparan

tentang kesepakatan antara Hungaria dan Slowakia atas proyek

tersebut yang menimbulkan sengketa. Diakhiri dengan pemaparan

dan analisa tentang penyelesaian sengketa tersebut.

Bab V Bab ini adalah bab penutup yang berisikan tentang kesimpulan dan

saran-saran. Kesimpulan akan mencakup isi dari semua

pembahasan yang ada pada bab-bab sebelumnya. Sedangkan saran

mencakup gagasan dan usulan terhadap permasalahan yang

dibahas pada penelitian ini berdasarkan fakta-fakta yang telah

(23)

BAB II

KONSEP DASAR SUMBER DAYA AIR SERTA ASPEK YURIDIS YANG MENGATURNYA

A. Pengertian Sumber Daya Air

Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, sumber daya air

merupakan hal yang sangat krusial bagi seluruh makhluk hidup di dunia, karena

air merupakan elemen pendukung yang penting untuk bertahan hidup.40 Air juga meliputi kehidupan kita dan tertanam dalam latar belakang budaya kita.41 Kebutuhan dasar manusia terhadap makanan yang aman dan kebebasan dari

penyakit bergantung pada air.42

Sesuai dengan judul penelitian ini, sumber daya air yang dimaksud adalah

sungai Danube. Untuk 142 kilometer, sungai ini membentuk perbatasan antara

Hungaria dan Slowakia.43 Namun sebelum membahas lebih lanjut, terlebih dahulu harus diuraikan pengertian dari sumber daya air itu sendiri sebagai permulaan dari

titik fokus pembahasan penelitian ini. Mengenai definisi sumber daya air, akan

diberikan beberapa definisi dari berbagai sumber. Sebelum lebih jauh ke ranah

internasional, pendekatan mengenai definisi sumber daya air dapat dikutip dari

hukum positif nasional, yakni Undang-Undang tentang Sumber Daya Air Nomor

7 Tahun 2004, dimana dalam Undang-undang ini sumber daya air didefinisikan

40 UNESCO, World Water Assesment Programme ,Water: A Shared Responsibility, (New

York: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), 2006), The United Nations World Water Development Report 2, hal. v

41

Ibid.

42Ibid.

43Case Concerning the Gabcikovo-Nagymaros Project (Hungary v.Slovakia), Judgement,

(24)

sebagai air, sumber air dan daya air yang terkandung di dalamnya.44 Kemudian beranjak dari hukum positif Indonesia, Black’s Law Dictionary sebagai referensi

standar mengenai definisi terminologi-termininologi hukum di dunia45 turut memberi definisi, bahwa sumber daya air adalah sumber yang menghasilkan

cairan transparan yang bersenyawa kimia hidrogen dan oksigen,46 dimana cairan tersebut dapat diberdayakan oleh seluruh makhluk hidup di muka bumi. Wujud

cairan ini seperti di aliran sungai, sungai, danau, laut maupun samudra.47

Pada ilmu masa kini, pendapat para ahli telah menjadi semakin terlihat

dalam konteks pembenaran dalam ilmu.48 Selain itu, pendapat para ahli juga merupakan the teachings of the most highly qualified publicists (ajaran-ajaran

para sarjana terkemuka) yang merupakan salah satu dari sumber-sumber hukum

internasional.49 Maka dari itu penelitian ini turut memberikan definisi mengenai sumber daya air dari beberapa ahli.

Jamie Linton memberi definisi mengenai sumber daya air yang tidak jauh

berbeda dari Black’s Law Dictionary, ia mendefinisikan bahwa sumber daya air

adalah sumber daya yang menghasilkan senyawa dari oksigen dan hidrogen yang

tidak berwarna, transparan, tidak memiliki rasa (tawar), tidak beraroma.50

John Hassan memberi pengertian bahwa sumber daya air dapat

digambarkan sebagai sumber daya umum yang berada di lingkungan terbuka dan

44 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 , loc. cit. 45

Aaron Schwabach, International Environmental Disputes: a Reference Handbook, (United States of America: ABC-CLIO, Inc., 2006), hal. 280

46 Black’s Law Dictionary, op. cit., hal. 1728 47Ibid.

48 Roger M. Cooke, Experts in Uncertainty: Opinion and Subjective Probability in

Science, (New York: Oxford University Press, Inc., 1991), hal. 18

49 Statuta Mahkamah Internasional, loc. cit.,, pasal 38 ayat (1) huruf (d)

50 Jamie Linton, What is Water?: The History of A Modern Abstraction, (Canada: UBC

(25)

sungai sebagai sistem organik yang ditandai oleh keterkaitan fisik dan saling

ketergantungan.51

Tak lepas dari kamus sebagai salah satu sumber pustaka, kamus bahasa

inggris Macmillan turut memberikan pengertian bahwa sumber daya air adalah

sesuatu yang berada di alam yang menghasilkan cairan bersih yang dapat

digunakan oleh orang-orang seperti untuk minum dan mencuci.52

Encyclopædia Britannica sebagai esiklopedia tertua di dunia yang terbit

sejak 1768 di Edinburgh dianggap memiliki otoritas yang sangat tinggi oleh

banyak pihak. Sejak 2012 perusahaan ensiklopedia ini memutuskan untuk

menghentikan edisi cetak dan hanya akan berfokus pada edisi digital (situs web,

DVD-ROM dan CD-ROM). Encyclopædia Britannica mendefinisikan bahwa

sumber daya air adalah:

“any of the entire range of natural waters that occur on the Earth,

regardless of their state (i.e., vapor, liquid, or solid) and that are of potential use

to humans.”53

Kemudian, United Nations Educational, Scientific and Cultural

Organization (UNESCO) yang merupakan bagian dari United Nations, yaitu salah

satu organisasi internasional terbesar di dunia yang bertujuan untuk

mempromosikan dan memastikan perdamaian dan keamanan internasional,

mempromosikan hubungan persahabatan antar negara, dan berkontribusi dalam

51 John Hassan, A History of Water in Modern England and Wales, 1st Edition (Great

Britain: Bookcraft (Bath) Ltd., 1998), hal. 4

52 Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, International Student Edition,

op. cit., hal. 1206 & 1616

53ENCYCLOPÆDIA BRITANNICA (1998), dapat diakses pada:

(26)

menyelesaikan masalah antar negara terkait dengan kondisi ekonomi, sosial,

budaya, dan kemanusiaan54 turut memberikan pengertian mengenai sumber daya air. UNESCO dalam laporannya menguraikan bahwa sumber daya air adalah

sumber-sumber yang menghasilkan zat berupa es, uap ataupun cairan yang ada

secara terus menerus dalam siklus hidrologi dinamis (mengubah uap air menjadi

curah hujan, limpasan dan penguapan dan infiltrasi ke air tanah).55 Berikut adalah siklus hidrologi:

Gambar I. Siklus Hidrologi

sumber: Encyclopædia Britannica,. Inc.

54

Charter of the United Nations (1945), pasal 1 ayat (1), (2) dan (3); Black’s Law Dictionary, op. cit., hal. 1672

55 Abel Mejía, et al, Water and Sustainability: A Review of Targets, Tools and Regional

(27)

B. Klasifikasi Sumber Daya Air

Manusia selalu membutuhkan air, peradaban awal berkembang dimana

sumber daya air tersedia untuk mendukung populasi manusia.56 Air dihasilkan dari beberapa sumber. Adapun sumber daya air yang umumnya diketahui adalah

laut, sungai dan danau; sumber air lain yang tersedia termasuk air tanah dan

perairan yang berada di bawah permukaan serta gletser dan wilayah salju

permanen.57

Berdasarkan jenisnya, sebenarnya sumber daya air dapat berasal dari

atmosfer dan sebagian mengalir di atas permukaan bumi (surface) serta

sebagiannya lagi berada di bawah permukaan bumi (subsurface/ground waters),58 di mana biasanya sumber daya air yang berada di bawah permukaan bumi disebut

juga dengan air tanah. Maka berdasarkan jenis-jenis di atas, pembagian sumber

daya air:

1. dari atmosfer

a. hujan

2. dari permukaan bumi

a. samudera/laut

b. sungai

c. danau

56 Simon C. Anisfeld, Water Resources, (Washington D.C.: Island Press, 2010), hal. 2 57ENCYCLOPÆDIA BRITANNICA, loc. cit.

58

(28)

3. dari bawah permukaan bumi

a. akuifer

1. Sumber Daya air yang Berasal dari Atmosfer

Bumi merupakan suatu hal yang unik karena bumi memiliki atmosfir yang

yang dapat menunjang kehidupan seluruh makhluk hidup yang berada di

dalamnya. 59 Atmosfir bumi memiliki dua komponen utama viz. nitrogen dan oksigen.60 Uap air, karbon dioksida, ozon beserta gas-gas lain juga eksis dalam atmosfir bumi namun hanya dalam jumlah kecil.61

a. Hujan

Keberadaan substansi air dalam atmosfir bumi sangantlah penting, dimana hal

tersebut bisa muncul dalam tiga bentuk viz. uap, cairan dan padatan.62 Bentuk-bentuk perubahan tersebut melibatkan pembebasan atau penyerapan sejumlah

besar panas yang mempengaruhi sifat dan perilaku atmosfir. Hujan merupakan

suatu bentuk kondensasi uap air menjadi awan atau butir air yang kemudian jatuh

ke daratan63 atau titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan di langit (yang menjadi awan).64 Hujan merupakan suatu contoh atas

59 Zareh MacPherson Artinian, The Atmosphere: Bridges Edition, (Guangzhou:

Benchmark Education Company, LLC., 2010), hal. 7

60 Kshudiram Saha, The Earth’s Atmosphere: Its Physics and Dynamics, (Berlin:

Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 2008), hal. 10

61Ibid. 62Ibid. 63

Ibid.

64 Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, International Student Edition,

(29)

perubahan bentuk air.65 Sampai saat ini sekitar 30.000 ton air jatuh ke bumi per tahunnya dalam bentuk hujan.66

2. Sumber Daya Air yang Berasal dari Permukaan Bumi

Sumber daya air yang berada di permukaan memiliki peran yang sangat

penting bagi suluh makhluk hidup di bumi, terlebih lagi dalam konteks ini yaitu

terhadap pasokan air di seluruh negara.

a. Samudera/Laut

Laut merupakan bagian dari samudera yang membentang luas menutupi

permukaan bumi sekitar 70%.67 Samudera merupakan sambungan-sambungan laut dibatasai oleh benua atau kepulauan besar. Samudera terbagi atas dua, yakni

Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Laut merupakan sumber daya air

terbesar di bumi mengingat jumlahnya yang lebih besar daripada daratan di

permukaan bumi dan membagi daratan atas benua atau pulau.69 Laut yang hidup

65 Kshudiram Saha, loc. cit.

66 Martin Redfern, The Earth: A Very Short Introduction, (New York: Oxford Univeristy

Press Inc., 2003), dapat diakses pada:

69 Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, International Student Edition,

(30)

mengandung banyak bahan kimia dalam jumlah banyak dan sebagian besar di

antaranya adalah nutrisi penting untuk kehidupan dan untuk produktivitas laut

sendiri.70 b. Sungai

Sesuai dengan judulnya, penelitian ini memfokuskan pembahasan

terhadap sungai yang merupakan sumber daya air yang tidak berhubungan dengan

pelayaran. Sungai merupakan sumber air tawar yang sangat krusial di permukaan

bumi. Selama berabad-abad sungai telah menjalankan peran yang pokok dalam

evolusi masyarakat manusia.71 Selama beberapa ratus tahun terakhir, populasi dan pertumbuhan ekonomi secara dramatis meningkatkan tuntutan persaingan untuk

layanan berbasis sungai terbatas yang penting bagi pertumbuhan dan kesehatan

ekonomi dan kualitas hidup bangsa (termasuk penyediaan air, navigasi, rekreasi,

pengendalian banjir dan tenaga air).72 Terminologi sungai dapat diartikan sebagai wilayah perairan yang luas yang mengalir menuju laut.73

Dari sudut pandang hidrologi (ilmu tentang air), sungai memainkan peran

pusat dalam siklus global air antara laut, udara dan daratan.74 Bersamaan dengan akuifer bawah tanah, sungai mengumpulkan endapan dan membawanya sebagai

limpasan ke laut, yang kemudian mengedarkan kelembaban ke tanah melalui

atmosfer.75 Siklus ini secara terus-menerus memperbaharui pasokan air yang tak

http://kbbi.web.id/laut [diakses tanggal 25 Mei 2017]

70 Martin Redfern, loc. cit.

71 Sandra Postel and Brian Richter, Rivers for Life: Managing Water for People and

Nature, (United States of America: Island Press, 2003), hal. 5

72 The U.S. Geological Survey, op. cit., hal. 25 73

Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, International Student Edition,

op. cit., hal 1228

(31)

terbatas di benua dan dengan demikian menopang semua kehidupan yang ada di

daratan.76

Dari sudut pandang manusia, sungai adalah sumber daya pokok air untung

minum, memasak, mandi, untuk menanam tumbuhan saat curah hujan tidak

mencukupi, untuk menghasilkan tenaga listrik dan untuk membuat segala macam

barang-barang material.77 c. Danau

Secara definisi, danau dapat diartikan sebagai wilayah air tawar yang luas

yang dikelilingi oleh daratan.78 Ciri istimewa yang utama dari danau adalah tidak adanya pengaruh dari samudera.79 Terpisahnya danau dengan samudera membuat danau memiliki berbagai macam kondisi alamnya sendiri.80 Danau terdiri dari danau alami yakni danau umumnya kita ketahui, dan waduk yakni danau buatan

yang diperuntukkan untuk suatu kebutuhan.

1. Sumber Daya Air yang Berasal dari Bawah Permukaan Bumi a. Akuifer

Terminologi aquifer dalam hidrologi adalah lapisan bebatuan di bawah

permukaan bumi yang memiliki ruang/pori yang cukup untung menyimpan air

dan sebagai jalan lewatnya air lalu melepaskan air tersebut dalam jumlah yang

76Ibid.

77 Sandra Postel and Brian Richter, op. cit., hal. 6

78 Kolumban Hutter, et al, Physics of Lake: Volume 1: Foundation of The Mathematical

and Physical Background, (Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 2011), hal. 10; Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, International Student Edition, op. cit., hal 796

(32)

cukup besar.81 Air dari akuifer dapat diperoleh melalui sumur. Air yang merembes ke dalam tanah, apakah dari sumber curah hujan atau sumber lainnya mengisi

ulang permukaan air (water table) pada akuifer.82

Akuifer adalah sumber daya yang dapat diperbaharui, tetapi jika air ditarik

terus menerus secara cepat sehingga water table pada akuifer terisi ulang kembali,

pada akhirnya kandungan air pada akuifer akan habis. Kemudian, jika daerah di

dekat akuifer tercemar, air yang meresap ke dalam akuifer juga akan tercemar.

Aquifer memiliki kemampuan untuk menyaring beberapa polutan agar keluar dari

air, namun air tanah dapat dengan mudah tercemar saat orang-orang yang tinggal

di atas akuifer tidak berhati-hati terhadap apa yang masuk ke dalam tanah.83 Air yang berasal dari bawah permukaan bumi dapat di bedakan menjadi

81 Cory A. Buxton, et al, Teaching Science in Elementary and Middle School: A cognitive

and Cultural Approach, (United States of America: SAGE Publications Inc., 2011) dapat diakses pada:

https://books.google.co.id/books?id=yfcgAQAAQBAJ&pg=PT268&dq=science+about+aquifer&

hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiDn-i_gpLUAhXJP48KHZROCOAQ6AEIQjAE#v=onepage&q=science%20about%20aquifer&f=fals e [diakses tanggal 27 Mei 2017]; ENCYCLOPÆDIA BRITANNICA (1998), dapat diakses pada: https://www.britannica.com/science/aquifer [diakses tanggal 27 Mei 2017]; Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, International Student Edition, op. cit., hal 59

82

Cory A. Buxton, loc. cit.

83Ibid.

84 Hefni Effendi, TELAAH KUALITAS AIR, Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan

(33)

- air tanah yang tertekan, adalah air dari akuifer yang sepenuhnya jenuh air,

di mana bagian bawah dan atas akuifer dibatasi oleh lapisan yang kedap

air.

C. Perangkat Hukum Internasional atas Sumber Daya Air

Air merupakan hak setiap makhluk hidup di bumi dan merupakan hal yang

pokok dalam kehidupan.85 Pengaturan terhadap sumber daya air dalam konvensi-konvensi internasional adalah hal yang umum bagi seluruh bangsa dan negara.

Konvensi-konvensi yang mengatur tentang sumber daya air sudah pasti mengatur

tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban negara-negara ataupun para pihak atas

sumber daya air.

Sejalan dengan apa yang telah diterangkan sebelumnya, laut merupakan

sumber daya air yang paling besar di muka bumi. Pengaturan hukum internasional

tentang laut yang umum di masyarakat internasional adalah UNCLOS. Konvensi

ini mengatur mengenai batas-batas laut dan rezim yang berlaku, hak-hak setiap

negara terhadap wilayah laut, perlindungan dan pelestarian laut, dan lain-lain.

Kemudian mengenai sumber daya air yang tidak berhubungan dengan pelayaran

contohnya sungai, secara umum diatur dalam UN Watercourses Convention, di

mana dalam kasus Gabcikovo-Nagymaros Project yang dibahas dalam penelitian

ini, UN Watercourses Convention juga dipakai sebagai rujukan hakim dalam

menyelesaikan sengketa tersebut.86 Konvensi ini mengatur tentang kesepakatan

85

World Health Organization, The Right to Water, (2003), Health and Human Rights Publication, Series No.3, hal. 6

86Case Concerning the Gabcikovo-Nagymaros Project (Hungary v. Slovakia), op.cit.,

(34)

para pihak terkait watersourses, prinsip-prinsip umum dan pengaturan-pengaturan

lainnya mengenai watercourses terkait.

Terkait dengan sumber daya air yang terletak di perbatasan antar negara,

dikenal pula UNECE Watercourses Convention. Konvensi ini mengatur tentang

peraturan-peraturan umum bagi para pihak terkait sumber daya air yang terletak di

perbatasan negara dari para pihak, pendayagunaansumber daya air, prinsip-prinsip

umum, kesepakatan para pihak dan kerja sama para pihak.

UN Watercourses Convention dan UNECE Watercourses Convention

mendukung dan memperkuat konservasi, pemanfaatan berkelanjutan dan

pemerataan sumber daya hayati secara adil, khususnya dalam kaitannya dengan

mengenai ekosistem perairan.87 Berdasarkan konvensi-konvensi di atas yang menjadi contoh dari seluruh konvensi tentang sumber daya air yang ada, setiap

negara memiliki hak dan kewajiban atas sumber daya air dalam jurisdikisinya,

apakah itu hak dan kewajiban dasar yang sudah diatur dalam konvensi ataupun

hak dan kewajiban yang timbul dari kesepakatan para pihak. Prinsip-prinsip

umum yang tercantum dalam konvensi berperan sebagai hal yang menjaga itikad

baik dan hubungan kerja sama yang baik bagi para pihak dalam melalukakan

tindakan terhadap sumber daya air, serta sebagai dasar untuk pelestarian dan

pencegahan pengrusakan alam yang berada pada sumber daya air tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, maka berdasarkan perangkat hukum

internasional di atas yang mengatur sumber daya air dapat digambarkan dalam

tabel:

87 Sabine Brels, et al, Transboundary Water Resources Management: The Role of

(35)

Tabel I. Perangkat Hukum Internasional tentang Sumber daya Air dan Ruang Lingkupnya

No Perangkat Hukum Internasional tentang Sumber Daya Air

Ruang Lingkup

1

The 1982 United Nations

Convention on The Law of The Sea

Laut.

yang tidak berkaitan dengan

pelayaran/navigasi.

yang tidak berkaitan dengan

pelayaran/navigasi yang terletak di

perbatasan negara-negara.

(36)

BAB III

PERJANJIAN- PERJANJIAN INTERNASIONAL TERKAIT TRANSBOUNDARY WATER RESOURCES BERDASARKAN

PRINSIP-PRINSIP HUKUM INTERNASIONAL

A. Perjanjian-Perjanjian Internasional terkait Transboundary Water Resources

1. Ruang Lingkup Perjanjian Internasional

Perjanjian internasional merupakan sumber hukum internasional yang

paling utama88 untuk menampung kehendak dan persetujuan negara atau subjek hukum internasional lainnya untuk mencapai tujuan bersama.89 Perjanjian internasional dalam masyarakat internasional dewasa ini memainkan peranan

yang sangat penting dalam mengatur kehidupan dan pergaulan antar negara.90 Melalui perjanjian internasional, tiap negara menggariskan dasar kerja sama

mereka, mengatur berbagai kegiatan, menyelesaikan berbagai masalah demi

kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri.91 Istilah perjanjian internasional merupakan terminologi yang sangat umum dalam masyarakat internasional.

Menurut Denys P. Myers, ada 38 macam istilah yang digunakan untuk

perjanjian-perjanjian internasional92viz.:93

88 Statuta Mahkamah Internasional, loc. cit.,, pasal 38 ayat (1) huruf (a) 89 Boer Mauna, op cit., hal. 82

90Ibid. 91

Ibid.

92Ibid., hal. 83

93 Denys P. Myers, The Name and Scope of Treaties, (1957), American Society of

(37)

1) Treaty

2) Pact

3) Constitution

4) Charter

5) Convention

6) Agreement

7) Exchange of Notes

8) Memoranda of agt.

9) Protocol

10)Act, final, general

11)Declaration

12)Notes Verbales

13)Arrangement

14)Accord

15)Additional Articles

16)Aide-mémoire

17)Code

18)Communiqué

19)Compact

20)Contract

21)Instrument

22)Lease

(38)

24)Measures

25)Minutes, agreed

26)Modification

27)Modus Vivendi

28)Optional Clause

29)Plan

30)Procès-verbal

31)Provisions

32)Recommendation

33)Resolutions

34)Rules

35)Scheme

36)Statutes

37)Understandings

38)Undertakings

Secara umum, perjanjian internasional adalah:

An agreement formally signed, ratified, or adhered to between two

nations or sovereigns; an international agreement concluded between two or

more states in written form and governed by interntional law”94

Secara internasional, pengaturan tentang perjanjian internasional

dituangkan dalam The 1969 Vienna Convention on The Law of Treaties (VCLT)

(39)

yang berlaku pada 27 Januari 1980. Terminologi perjanjian internasional dalam

VCLT diartikan sebagai:

an international agreement concluded between States in written form and

governed by international law, a single instrument or in two or more related

whatever its particular designation”.95

Hukum positif Indonesia, yakni Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000

tentang perjanjian internasional mendefinisikan terminologi perjanjian

internasional sebagai suatu perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang

diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan

hak dan kewajiban di bidang hukum publik.96 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Interasional yang berlaku di Indonesia merupakan sebuah

perwujudan ratifikasi terhadap VCLT.

2. Latar Belakang Lahirnya Perjanjian Internasional mengenai

Transboudary Water Resources

Kerja sama regional sangat disarankan demi mengkoordinir pengelolaan

yang lebih luas terhadap transboudary water resources97dan mencapai tujuan-tujuan yang terkandung di dalam Agenda 2198 sebagai acuan dari tindakan komperhensif yang harus dilakukan secara global, nasional ataupun lokal oleh

95 Vienna Convention on The Law of Treaties (1969), pasal 1 huruf (a) 96

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, pasal 1 huruf (a)

97 Anders Jägerskog, Transboundary Water Management: Why It is Important and Why It

Needs to be Developed, Stockholm International Water Institute and United Nations Development Programme Shared Waters Partnership, hal. 52

98

(40)

masyarakat internasional atas dampak manusia terhadap lingkungan.99 Bila perairan terbagi terhadap dua atau lebih negara, kerja sama antara negara-negara

yang terkait untuk memungkinkan pengelolaan sumber daya air lintas batas lintas

batas memiliki peran penting.100 Dengan menggunakan kerangka peraturan-peraturan yang telah disebutkan pada bab 2, peningkatkan kerjasama dan

koordinasi internasional mengenai sumber air lintas batas dapat memberikan

manfaat bagi negara-negara yang bersangkutan.101

Terutama sungai, karena sifatnya yang lebih linier (hulu-hilir),

negara-negara mungkin memiliki kepentingan yang berbeda namun tidak independen.102 Misalnya, negara-negara perlu bekerja sama dalam mengelola dampak

penggunaan air, seperti pengambilan air dan pembangunan bendungan, pada

perikanan, termasuk untuk spesies yang bermigrasi antar negara dan untuk

mempertahankan ketergantungan pangan antar negara; kerja sama sangat

diperlukan untuk mempertahankan kualitas air (kualitas air yang buruk

merupakan pendorong rusaknya ekosistem); dan pertanian perlu menjadi lebih

berkelanjutan dengan, misalnya, mempertahankan kemampuan lahan basah untuk

mendaur ulang masukan nutrisi yang berlebihan (terutama nitrogen).103

Secara yuridis, anjuran untuk mengadakan perjanjian atas sumber daya air

yang berbatasan dengan negara-negara setidaknya dapat dilihat dari empat sumber

hukum internasional, viz. Deklarasi Stockholm 1972, UNCLOS 1982, UN

99 UN Sustainable Development Knowledge Platform, Agenda 21, United Nations

Conference on Environement and Development (1992), dapat diakses pada:

(41)

Watercourses Convention 1997, dan UNECE Watercourses Convention 1992

yang selanjutnya akan diuraikan sebagaimana berikut.

a. Deklarasi Stockholm 1972

Tentang keharusan kerja sama dalam perlindungan sumber daya alam agar

tidak menimbulkan dampak yang merugikan, Deklarasi Stockholm 1972 turut

megatur tentang anjuran kerja sama para pihak. Hal ini tertuang dalam prinsip 24:

International matters concerning the protection and improvement of the

environment should be handled in a cooperative spirit by all countries, big and

small, on an equal footing. Cooperation through multilateral or bilateral

arrangements or other appropriate means is essential to effectively control,

prevent, reduce and eliminate adverse environmental effects resulting from

activities conducted in all spheres, in such a way that due account is taken of the

sovereignty and interests of all States.”

Prinsip ini mengatakan bahwa perlunya ada kerja sama bilateral maupun

multilateral antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan sumber daya alam

(dalam konteks penelitian ini adalah transboudary water resources). Hal ini

sangat dianjurkan untuk mengendalikan, mencegah, mengurangi dan

menghilangkan dampak lingkungan akibat aktivitas yang dilakukan di semua

bidang. Mengingat semakin kompleksnya aktivitas manusia yang berpotensi

menimbulkan dampak pada lingkungan. Kerja sama yang dituangkan dalam

perjanjian tersebut juga mengatur tentang tindakan yang harus dilakukan oleh para

pihak dalam mengatasi hal tersebut.

(42)

Kemudian, anjuran untuk mengadakan perjanjian atas sumber daya air

yang berbatasan dengan negara-negara terkandung di dalam UNCLOS,

disebutkan bahwa negara-negara yang berbatasan dengan laut tertutup atau

setengah tertutup hendaknya bekerja sama satu sama lainnya dalam melaksanakan

hak dan kewajibannya berdasarkan UNCLOS,104 di mana tujuan dari kerja sama tersebut inter alia:105

(a) untuk mengoordinasikan pengelolaan, konservasi, eksplorasi dan

eksploitasi sumber kekayaan hayati laut;

(b) untuk mengoordinasikan pelaksanaan hak dan kewajiban mereka

bertalian dengan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan laut;

(c) untuk mengoordinasikan kebijaksanaan riset ilmiah mereka dan untuk

jika perlu mengadakan program riset ilmiah bersama di kawasannya

(d) untuk mengundang, menurut keperluan negara lain yang berminat atau

organisasi internasional untuk bekerja sama dalam pelaksanaan lebih

lanjut ketentua dari pasal ini.

c. UN Watercourses Convention 1997

Lalu, UN Watercourses Convention menegaskan bahwa pentingnya kerja

sama internasional dan kebertetanggaan yang baik terkait dengan sumber daya air

internasional106 demi pemanfaatan, pengembangan, konservasi, pengelolaan dan

104

United Nations Convention on The Law of The Sea (1982), pasal 123

105Ibid.

106 Convention on The Law of The Non-Navigational Uses of International Watercourses

(43)

perlindungan perairairan internasional dan promosi pemanfaatan yang optimal dan

berkelanjutan untuk generasi sekarang dan masa depan.107

d. UNECE Watercourses Convention 1992

Sesuai dengan penelitian ini yang memfokuskan pada sumber daya air

yang terletak di perbatasan negara-negara, mengenai perjanjiannya diatur dalam

UNECE Watercourses Convenvention. Poin menimbang konvensi ditekankan

bahwa kerja sama antara negara-negara anggota mengenai perlindungan dan

penggunaan perairan lintas batas harus dilaksanakan terutama melalui penjabaran

kesepakatan antara negara-negara yang berbatasan dengan perairan yang sama,

terlebih bila tidak ada kesepakatan semacam itu sebelumnya.108 Konvensi ini mengatur tentang perjanjian antara pihak terkait transboudary water resources

pada bagian pembukaan109 dan beberapa pasal, yaitu pasal 2 ayat (6) dan pasal 9. pasal 2 ayat (6) menegaskan bahwa:

The Riparian Parties shall cooperate on the basis of equality and reciprocity, in

particular through bilateral and multilateral agreements, in order to develop

harmonized policies, programmes and strategies covering the relevant catchment

areas, or parts thereof, aimed at the prevention, control and reduction of

transboundary impact and aimed at the protection of the environment of

transboundary waters or the environment influenced by such waters, including the

marine environment.

107

Ibid.

108 Convention on the Protection and Use of Transboundary Watercourses and

International Lakes (1992), pembukaan, poin menimbang, hal. 2

(44)

Langkah kerja sama tersebut diambil sedemikian rupa untuk melancarkan

pemanfaatan transboundary water resources, dikarenakan dalam hal pemanfaatan

tersebut, contohnya sebuah proyek yang dibangun sebagai alat yang dipakai untuk

memanfaatkan transboudary water resources110 menuntut adanya pengembangan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan, program dan strategi yang harmonis demi

pencegahan, pengendalian dan pengurangan dampak yang terjadi pada kawasan

nasional satu pihak ataupun kawasan pihak lainnya untuk melindungi lingkungan

transboundary water resources. Kerja sama dalam bentuk bilateral maupun

multilateral tersebut harus berdasarkan pada prinsip kesetaraan dan timbal balik,

di mana para pihak memiliki hak dan kewajiban yang sama yang diatur dalam

perjanjian kerja sama tersebut serta memiliki hubungan timbal balik satu sama

lainnya.

Kemudian pasal 9 ayat (1) menegaskan bahwa:

The Riparian Parties shall on the basis of equality and reciprocity enter into

bilateral or multilateral agreements or other arrangements, where these do not

yet exist, or adapt existing ones, where necessary to eliminate the contradictions

with the basic principles of this Convention, in order to define their mutual

relations and conduct regarding the prevention, control and reduction of

transboundary impact. The Riparian Parties shall specify the catchment area, or

part(s) thereof, subject to cooperation. These agreements or arrangements shall

110 Misalnya dalam Gabcikovo-Nagymaros Project, Hungaria dan Slovakia melakukan

Gambar

Gambar I. Siklus Hidrologi
Tabel I. Perangkat Hukum Internasional tentang Sumber daya Air dan
Gambar II. Lampiran Diktum Putusan Mahkamah Internasional mengenai

Referensi

Dokumen terkait

Primat hukum internasional di atas hukum nasional: tingkat preferensi diberikan kepada kaedah hukum internasional karena hukum internasional yang mengatur kewenangan negara-negara,

= perbedaan antara hukum publik internasional dan hukum privat internasional adalah hukum publik internasional merupakan kumpulan peraturan hukum yang mengatur tentang hubungan

Dalam hukum internasional, kedaulatan negara menjadi unsur yang paling penting dan utama. Yurisdiksi suatu negara telah dibatasi dengan perbatasan teritorial yang

Dalam kajian ini disimpulkan bahwa pengutamaan hukum yang mengatur hubungan hukum antar negara dalam hubungan Internasional, dikenal adanya 2 pandangan, yaitu: (1) Faham

Negara mencegah dilakukan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang menimbulkan kerusakn atau pencemaran terhadap lingkungan hidup.Penegakan hukum lingkungan adalah bentuk

Dalam kajian ini disimpulkan bahwa pengutamaan hukum yang mengatur hubungan hukum antar negara dalam hubungan Internasional, dikenal adanya 2 pandangan, yaitu: (1) Faham

hubungan antar Organisasi Internasional satu dengan lainnya, hubungan peraturan hukum yang berkenaan dengan fungsi-fungsi lembaga atau antara organisasi internasional dengan

Perbedaan Hukum Internasional berbeda dengan Hukum Perdata Internasional dikarenakan adanya perbedaan mendasar yang terletak pada subjek hukumya - Hukum Internasional yang menjadi