• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Fisioterapi Pada Thoracic Outlet Syndrome.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penanganan Fisioterapi Pada Thoracic Outlet Syndrome."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

FT. NEUROMUSKULAR II

FT. NEUROMUSKULAR II

Penang

Penang

anan

anan

Fisiot

Fisiot

erapi

erapi

pada

pada

Thoracic Outlet Syndrome”

(2)

DEFINISI

DEFINISI

 ThThoraoracic cic outoutlelet t sysyndndromrome e (T(TOSOS) ) mermerupupakaakan n kkelaelaininan an yayangng

di

disesebababkbkan an penpenekaekananan n padpada a pempembubululuh h dardarah ah dadan n plplekseksusus

sa

sararaff didi arareaea upuppeperr ththororacacicic apaperertuturere.. 

 HaHal l inini i dadapapat t teterjrjadadi i akakibibat at kkelelaiainanan n kkonongegeninitatal l atatauaupupunn

kel

(3)

Terminologi TOS pertama kali diperkenalkan

pada tahun 1956 oleh Peet dan pada tahun 1958

Rob pertama kali mendeskripsikan mengenai

gejala TOS yang berasal dari penekanan pleksus

brakialis dan atau pembuluh darah subklavia.

  Thoracic outlet syndrome sering terjadi pada

pasien usia muda antara 20 hingga 40 tahun.

Gejala yang muncul dapat bervariasi sesuai

dengan kelainan struktur yang terkena, arteri,

(4)

STRUKTUR ANATOMI

 Secara antomis thoracic outlet merupakan daerah

di bagian inferior aperture thoraks yang membatasi

daerah membukanya abdomen yang dibatasi oleh

segmen kosta terbawah, dan bukan merupakan

daerah yang terletak diantara otot scalenus dan

costa pertama yang disebut sebagai thoracic inlet.

(5)

Daerah sempit ini diisi oleh pembuluh darah, saraf 

dan otot. TOS dapat terjadi salah satunya akibat

dari suatu kelemahan otot bahu untuk menyokong

clavicula pada tempatnya, sehingga akan

menyebabkan suatu suatu pergerakan ke bawah

dan ke depan yang akan menempatkan dan

menyebabkan tekanan terhadap saraf dan

pembuluh darah yang terletak diatasnya.

Sindrom klinis yang tampak dari TOS adalah

akibat dari gangguan kompresi yang dapat terjadi

di tiga daerah anatomis segitiga skaleneus,

segitiga kostoklavikular / ruang kostoklavikular

ruang subkorakoid.

(6)

  Pada saat istirahat daerah ini secara anatomis

sudah sempit, dengan adanya suatu manuver

provokatif, akan berakibat bertambah sempitnya

daerah ini.

  Adanya anomali lain pada tulang servikal, otot

daerah setempat, serta pita-pita fibrous akan lebih

lanjut berperan mempersempit daerah tersebut.

  Pleksus Brakhialis dan arteri subklavia melewati

kosta pertama dan otot skaleneus sedangkan vena

subklavia juga melewati kosta pertama hanya saja

terletak di bagian luar dari segitiga skaleneus.

(7)

  Lokasi tersering terjadinya kompresi adalah

daerah segitiga skaleneus dan segitiga/ruang

subkorakoid, namun secara klinis akan sulit

sekali menentukan lokasi kompresi secara

tepat karena kebanyakan gejala berasal dari

tekanan kumulatif yang secara dinamis

terjadi berbagai tempat di daerah tersebut.

Bagian tersering adalah Pleksus Brakhialis

(95%), selanjutnya vena subklavia (4%) dan

terakhir adalah arteri subklavia (1%).

(8)

PATOFISIOLOGI

 Suatu TOS terjadi akibat pleksus Brakhialis, arteri dan vena subklavia merupakan subjek yang rentan terkena kompresi, karena melalui daerah berupa celah sempit dari basis leher menuju aksila dan lengan bagian atas/proksimal.

 TOS ini selain merupakan akibat kompresi, juga merupakan akibat injuri, atau iritasi struktur neurovascular pada the root  of the neck or upper thoracic region,  yang dikelilingi oleh the anterior and middle   skaleneus; antara klavikula dan kosta pertama (kemungkinan akibat enlargement/hypertrophy of the subclavius muscle); atau diatas the pectoralis minor muscle.

   Beberapa penulis mendefinisikan   thoracic outlet sebagai daerah pembuka yang dibatasi oleh kosta pertama secara lateral,   the vertebral column medially, and the claviculomanubrial complex anteriorly.

(9)

  Sindrom akibat penekanan pada daerah ini

akan bisa mengakibatkan primarily neurologic

deficit,   menyangkut pleksus brakhialis, dan

paling sering lower trunk or medial cord ; juga

bisa menyangkut kompresi dari arteri dan

vena subklavia atau keduanya.

Terjadinya suatu   thrombosis, embolus, or 

aneurysm pembuluh darah adalah salah satu

kemungkinan yang dapat terjadi.

(10)

ETIOLOGI

 TOS memiliki berbagai macam penyebab dan penyebab utama berupa sebab mekanik atau postural.

 Adanya stress, depresif,   overuse, habbit semuanya akan menyebabkan posisi kepala kearah depan yang diikuti dengan droopy shoulder  dan kolapsnya postur dada sehingga menyebabkan   thoracic outlet   menjadi sempit dan menekan struktur neurovascular di dalamnya.

   Adanya accesorius ribs atau fibrous band  akan meningkatkan predisposisi dan penyempitan daerah ini sehingga kemungkinan kompresi akan terjadi.

 Payudara yang besar juga merupakan penyebab dan kontributor terdorongnya dinding dada kearah depan (anterior dan inferior).

 Teori ini didukung karena menyebabkan peningkatan tekanan diatas otot dada dan mengiritasi jaringan neurovascular sekitarnya.

(11)

 Trauma bisa menyebabkan terjadinya dekompensasi atau bergesernya struktur di daerah bahu dan dinding dada, sehingga menyebabkan onset gejala.

 Sebagai tambahan adanya trauma dengan fraktur klavikula akan berakibat seccara langsung pada kompresi pleksus oleh frakmen tulang,   exuberant callus,   hematom, atau pseudoaneurisma.

 Akibat adanya media sternotomi akan mengakibatkan suatu  displacement of ribs,  yang biasanya berkaitan dengan fiber C8 dan perlu dibedakan dengan tipe yang secara primer mengenaiT1.

 Adanya cedera primer seperti   thrombus or aneurysm   akan tampak seperti problem tambahan seperti emboli.

 Tumor seperti pada daerah lobus atas paru-paru (Pancoast  Tumor ) adalah penyebab lain yang mungkin

(12)

GEJALA KLINIS

 Gejala yang muncul dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu gejala neurologi dan gejala vaskular.

 Gejala neurologi lebih sering muncul, seperti nyeri pada lengan atas dan lengan bawah, kesemutan, hilangnya rasa raba, dan kelemahan motorik.

 Selain itu dapat juga muncul gejala sistem saraf otonom seperti gangguan termoregulasi, misalnya pada cuaca dingin, pasien akan mengalami pucat pada ujung-ujung jari, kesemutan, dan sianosis.

 Gejala vaskular yang muncul akibat dari penekanan arteri meliputi klaudikasio ekstremitas atas selama aktifitas, pucat, dingin, kelainan suplai darah perifer, mikroemboli, dan perubahan warna kulit.

 Gejala vaskular yang muncul akibat pe-nekanan vena meliputi bengkak, perasaan terasa berat, dan perubahan warna kulit.

(13)

KOMPLIKASI

Salah satu komplikasi yang sering terjadi

berkaitan dengan TOS adalah komplikasi yang

berhubungan yang berhubungan dengan suatu

tindakan pascaoperasi dekompresif dari thoracic

outlet.

Komplikasi tersebut berupa suatu injuri dari

struktur neurovascular berupa suatu keluhan

salah satunya berupa sindrom horner, nyeri

neuropatik post operatif, paresthesia dan suatu

hipersensitifitas, hematoma disekitar pleksus

(14)

PROGNOSIS

 Tidak diketahui mortalitas berhubungan langsung dengan TOS, morbiditas sering berkaitan dengan turunnya fungsi dari ekstremitas atas, hilangnya pekerjaan dan pencaharian, khususnya ketika kerja menyangkut aktifitas di atas kepala.

 True neurogenicTOS menyebabkan defisit neurologi.

   Bergantung dari jumlah injuri saraf, biasanya terdapat kelemahan dari tangan dan defisit sensorik di daerah distribusi lower trunk.

 Komplikasi sering pada pleksus brakhialis telah banyak dilaporkan terjadi pada terapi operatif TOS.

 Neurologic TOS secara umum lebih progresif tetapi dapat membaik secara spontan, sedangkan pada arterial atau venous TOS biasanya membaik dengan terapi yang adekuat.

(15)

MANAGEMENT FISIOTERAPI

 Anamnesis Umum

a.

Nama :Ny. Sari

b.

Alamat : Baruga Antang

c.

Umur : 32 th

d.

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

(16)

 Anamnesis Khusus

 RPP : Lengan sering merasa kesemutan sejak 2 bulan yang

lalu. Rasa kesemutan menjalar sampai ke lengan bawah. Nyeri bahu saat melakukan aktivitas terutama saat menggendong anak. Pernah satu kali dibawa ke tukang pijat

tradisional keluhan berkurang.

  Keluhan Utama :

a. Nyeri bahu sebelah kanan

b. Lengan kanan sering merasa kesemutan,

c. Tangan kanan tidak dapat membawa barang terlalu berat

d. Leher susah menoleh dan kaku saat ditekuk ke samping kanan

(17)

  Pemeriksaan fisik

Vital sign:

Tensi : 120/80 mmHg

 RR : 21x/menit

Nadi : 80x/menit

 TB/BB : 155cm/70kg

(18)

   Inspeksi   Dinamis

 Irama goyang lengan kanan hilang    Postur tubuh gemuk

 Berjalan mandiri/tanpa alat bantu   Statis

 Kepala cenderung lateral fleksi ke arah kanan   Palpasi

   Nyeri tekan pada bahu sebelah kanan  Adanya spasme daerah leher

(19)

LGS : keterbatasan pada cervical, shoulder,

dan, elbow bagian dekstra

MMT pada extremitas atas

3

5

(20)

 Quick Test

 Adson test : berdiri rotasi & ekstensi kepala, abduksi lengan 30 ̊

maksimal, ekstensi shoulder, inspirasi dalam ditahan. (+) jika nyeri sepanjang lengan & tangan, nadi melemah.

Hasil (+)

 Eden test : rotasi side flexi neck & trunk, extensi shoulder elbow. (+) jika nadi melemah.

Hasil (-)

 Ross Test : berdiri, abduksi lengan 90 ̊, flexi elbow 90 ̊, retraksi shoulder,

tangan dibuka&ditutup 15x. (+) jika ada kram, rasa kaku, tidak mampu mengulang gerakan 15x

Hasil (-)

 Wright manuever test : berdiri, abd lengan 90 ̊, ditahan beberapa detik.

(+) jika terjadi nyeri sepanjang lengan & nadi melemah. Hasil (-)

(21)

 Problem Fisioterapi

 Kapasitas fisik :

a.

  Nyeri bahu sebelah kanan

b.

  Spasme pada leher

c.

  Keterbatasan LGS

d.

  Penurunan kekuatan otot lengan kanan

 Kemampuan Fungsional

Adanya gangguan ADL, seperti menggendong anak,

(22)

 Planning Fisioterapi

 Pemberian IR pada bahu sebelah kanan

 Masagge pada m. scalenus & shoulder untuk relaksasi

 Stretching exercise pada m. scalenus

 AROM pada cervical, shoulder, elbow & wrist untuk

semua gerakan

 Aktif resisted

  Edukasi

 Mengurangi beban pada bahu kanan

(23)

Referensi

Dokumen terkait