• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR ILMU UKUR WILAYAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR ILMU UKUR WILAYAH"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

KELOMPOK III

Silvana Herman 1311111030

Thre Bintang Fernandes 1411111005 Reyhan Alfarabby Pratama 1411111013

Monica Guspa 1411111022

Maulana Yuda Anantama 1411111025

Haimiccita Ratna 1411111028

Intan Pertiwi 1411112007

Anggie Yulia Sari 1411112008 Viona Yoelandhari 1411112013

Rival Lidra 1411112019

Juli Arifiansyah Sinambela 1411112030

Rahmad Revi 1411112032

ASISTEN LAPANGAN

Uswatun Hasanah 1311111023 ASISTEN PENANGGUNGJAWAB

Muhammad Zulfikar Iqbal 37/LWRE/2015 KOORDINATOR ASISTEN

Jendrivaldi 36/LWRE/2015

LAND AND WATER RESOURCES ENGINEERING LABORATORY PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN

(2)

Menyetujui / Mengesahkan Padang, April 2016 ASISTEN LAPANGAN Uswatun Hasanah 1311111023 ASISTEN PENANGGUNGJAWAB

Muhammad Zulfikar Iqbal 37/LWRE/2015 KOORDINATOR ASISTEN

Jendrivaldi 36/LWRE/2015 KEPALA LABOR LWRE

Dr. Ir. Eri Gas Ekaputra, MS. NIP. 196212051993021001

(3)

Engineering Laboratory.

ASISTEN LAPANGAN

No Nama No. BP Tanda Tangan

1. Reza Muhammad Zamhur 1311111010

2. Uswatun Hasanah 1311111023

3. Candra Isrami Amry 1311111033 4. Asra Fitra Hasan 1311112002

5. Dea Evantri 1311112009

6. Rafles Nugroho 1311112019

ASISTEN PENANGGUNGJAWAB

No Nama No. BP Tanda Tangan

1. Muhammad Zulfikar Iqbal 37/LWRE/2015

2. Yelvi Yusna 38/LWRE/2015

3. Ahmad Habibi 39/LWRE/2015

4. Doki Wardiman 40/LWRE/2015

5. Angria Resti 41/LWRE/2015

Padang, April 2016 Koordinator Asisten

(4)

Maha Kuasa, atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami sebagai penulis, khususnya dalam penyelesaian Laporan Akhir Praktikum Ilmu Ukur Wilayah yang telah kami jalani di Land And Water Resources Engineering Laboratory selama satu semester ini.

Laporan ini disusun berdasarkan data-data yang diperoleh saat melaksanakan praktikum di lapangan. Dengan selesaainya laporan akhir praktikum ini kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu dalam menyelesaikan penulisan baik berupa moril maupun materi. Ucapan terima kasih terutama kami sampaikan kepada dosen mata kuliah Ilmu Ukur Wilayah. Selanjutnya kepada asisten yang telah berkenan membimbing kami selama praktikum dan teman-teman serta rekan kelompok.

Kami menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam laporan ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik maupun saran agar dapat menjadi acuan perbaikan kami kedepan dan memiliki manfaat bagi pembaca.

Padang, April 2016

(5)

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR ASISTENSI AKHIR

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

DAFTAR GAMBAR...v

DAFTAR TABEL...vi

BAB IPENDAHULUAN...1

1.1 LATAR BELAKANG...1

1.2 TUJUAN...2

1.3 MANFAAT...3

BAB II PELAKSANAAN PRAKTIKUM...4

2.1 ALAT UKUR SEDERHANA...4

2.1.1 Latar Belakang...4

2.1.2 Tujuan...4

2.1.3 Manfaat...4

2.1.4 Tinjauan Pustaka...5

2.1.5 Metode Praktikum...11

2.1.6 Hasil dan Pembahasan...12

2.1.7 Kesimpulan dan Saran...14

2.2 POLIGON...15 2.2.1 Latar Belakang...15 2.2.2 Tujuan...15 2.2.3 Manfaat...15 2.2.4 Tinjauan Pustaka...16 2.2.5 Metode Praktikum...21

2.2.6 Hasil dan Pembahasan...22

2.2.7 Kesimpulan dan Saran...24

2.3 GLOBAL POSITIONING SYSTEM...25

(6)

2.3.6 Hasil dan Pembahasan...32

2.3.7 Kesimpulan dan Saran...35

2.4 SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)...36

2.4.1 Latar Belakang...36

2.4.2 Tujuan...37

2.4.3 Manfaat...37

2.4.4 Tinjauan Pustaka...38

2.4.5 Metoda Praktikum...42

2.4.6 Hasil dan Pembahasan...44

2.4.7 Kesimpulan dan Saran...46

2.5. DETAIL SITUASI...47 2.5.1 Latar Belakang...47 2.5.2 Tujuan...47 2.5.3 Manfaat...47 2.5.4 Tinjauan Pustaka...48 2.5.5 Metoda Praktikum...53

2.5.6 Hasil dan Pembahasan...55

2.5.7 Kesimpulan dan Saran...57

2.6 SPOT HEIGHT...58 2.6.1 Latar Belakang...58 2.6.2 Tujuan...58 2.6.3 Manfaat...58 2.6.4 Tinjauan Pustaka...59 2.6.5 Metode Praktikum...66

2.6.6 Hasil dan Pembahasan...67

2.6.7 Kesimpulan dan Saran...69

BAB IIIPENUTUP...70

3.1. Kesimpulan...70

(7)
(8)

Gambar 2. Kompas...10

Gambar 3. Mistar...10

Gambar 4. Poligon Terbuka...18

Gambar 5. Poligon Tertutup...19

Gambar 6. Macam-Macam Poligon...19

Gambar 7. Theodolite...20

Gambar 8. GPS...29

Gambar 9. Peta Administratif Indonesia...43

Gambar 10. Peta Digitasi Masjid dan Mushala...44

Gambar 11. Peta Detail Situasi...52

Gambar 12. Spot Height...63

(9)

Tabel 2. Data Koordinat Poligon...22 Tabel 3. Data Marking...32 Tabel 4. Perhitungan Detail Situasi...60

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara beriklim tropis, dimana negara Indonesia mata pencaharian utamanya dari sektor pertanian. Namun, dengan keadaan pertanian yang masih konvensional membuat Indonesia masih mengimpor produk pertanian dari negara luar. Keadaan ini seharusnya memberikan motivasi untuk membuat perubahan besar dalam pertanian Indonesia. Untuk membantu memajukan pertanian di Indonesia, sehingga diperlukan Ilmu Ukur Wilayah untuk menentukan dimana lokasi pertanian yang baik dan apa saja tanaman yang cocok untuk ditanam pada suatu wilayah pertanian yang ada di Indonesia.

Sebagai negara agraris seharusnya pertanian di Indonesia menjadi sektor industri bukan sebagai bahan pangan semata. Dengan pengetahuan masyarakat yang masih kurang mengerti akan pentingnya teknologi dirasa perlu untuk menerapkan teknologi dalam menuju misi pertanian berkelanjutan (Agriculture Suistenable). Misalnya saja, dengan sedikit sentuhan teknologi (GIS) masyarakat dapat menentukan tanaman apa yang cocok ditanam di ketinggian yang didapat dan keadaan wilayah tersebut. Dengan demikian pertanian berkelanjutan yang diinginkan bisa tercapai.

Untuk memenuhi pertanian berkelanjutan, Ilmu Ukur Wilayah memberikan solusi akan permasalahan pertanian Indonesia yang masih konvensional. Ilmu ukur wilayah merupakan mata kuliah wajib pada semester 4 di jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang mempelajari tentang permukaan bumi secara detail yang dibuat ke dalam permukaan yang datar atau biasa disebut dengan pemetaan.

Sebagai sarjana lulusan Teknik Pertanian hendaknya dapat mengetahui potensial suatu lahan pertanian yang nantinya akan ditanam dengan produk pertanian, dan dapat memilih keadaan lahan yang sesuai dengan tanaman yang akan ditanam nantinya, serta dapat membuat peta situasi dari lahan pertanian, dan sebagai sarjana lulusan Teknik Pertanian hendaknya mampu melihat suatu kondisi lahan yang dapat dibuat menjadi lapangan pekerjaan yang bermanfaat banyak bagi

(11)

penduduk Indonesia yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai seorang petani. Sarjana lulusan Teknik Pertanian pun harus mampu menaikan derajat seorang petani yang kebanyakan dianggap biasa saja dimata khalayak ramai.

1.2 TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum Ilmu Ukur Wilayah adalah agar praktikan mengetahui serta memahami dengan baik pelaksanaan sebagai berikut :

1. Mengetahui jarak dan sudut dari setiap patok yang dipasang pada praktikum objek Alat Ukur Sederhana.

2. Melatih keterampilan praktikan menggunakan alat ukur sederhana saat di lapangan.

3. Pengukuran azimuth dan pengolahan data pada praktikum objek Alat Ukur Sederhana.

4. Pengukuran, pembuatan poligon, dan pengolahan data pada praktikum Poligon

5. Mengetahui elevasi dengan GPS dan registrasi peta pada GIS pada praktikum GIS dan GPS.

6. Mentahui cara trancking, marking, dan area.

7. Dapat melakukan pendigitasian peta pada praktikum GIS dan GPS.

8. Pengukuran, pembuatan detail situasi, dan pengolahan data pada praktikum Detail Situasi.

9. Mengetahui perbedaan kontur dan Spot Height pada praktikum Spot Height.

10.Pemindahan keadaan permukaan bumi yang tidak beraturan dan yang melengkung ke bidang peta (bidang datar).

11. Melatih praktikan untuk membuat poligon, detail situasi, dan spot height 12.Melatih praktikan membuat kontur dari data yang diperoleh di lapangan. 13.Melatih praktikan dalam melakukan pekerjaan survey lapangan baik dalam

kondisi apapun.

14.Melatih teamwork praktikan di lapangan untuk bekal di dunia kerjan nantinya.

(12)

1.3 MANFAAT

Manfaat dari praktium Ilmu Ukur Wilayah antara lain :

1. Mahasiswa dapat berlatih melakukan pekerjaan-pekerjaan survey, supaya teori atau materi yang didapat pada saat perkuliahan dapat diterapkan pada praktikum / dilapangan.

2. Dapat memahami materi yang menyangkut Ilmu Ukur Wilayah seperti cara penggunaan alat-alat ukur sederhana, pembuatan poligon,spot height dan peta detail situasi.

3. Dapat mengerti dan memahami cara penggunaan alat ukur sederhana seperti kompas dan theodolite.

4. Dapat melakukan pendigitasian peta pada ArcGIS.

5. Dapat mengetahui cara menggambar poligon, peta detail situasi serta spotheight.

(13)

BAB II

PELAKSANAAN PRAKTIKUM 2.1 ALAT UKUR SEDERHANA 2.1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari pengukuran sangat penting dan berguna. Dimana banyak hal dan kegiatan yang dapat kita lakukan dengan cara pengukuran. Pengukuran biasanya berfungsi untuk membantu kita dalam menentukan satuan dari suatu luasan ataupun panjang bahkan apapun yang dapat dilakukan pengukuran, dimana teori pengukuran dapat mendapatkan hasil dari apa yang dilakukan pengukuran misalnya sudut, tinggi, luas, dll.

Alat yang biasa digunakan untuk pengukuran tergantung pada apa yang kita ukur, misalnya dalam pengukuran suatu luasan biasanya secara sederhana dilakukan dengan alat ukur panjang, yaitu meteran. Beberapa contoh alat ukur sederhana diantaranya, meteran, kompas, jangka sorong, mistar, mikrometer sekrup, dll.

2.1.2 Tujuan

1. Memperkenalkan fungsi dan cara kerja alat ukur sederhana.

2. Membandingkan hasil dari perolehan data alat ukur sederhana dengan alat ukur sifat ruang.

2.1.3 Manfaat

1. Mahasiswa mampu memahami cara penggunaan alat ukur sederhana dan mengaplikasikannya dalam pengukuran.

2. Mahasiswa mengetahui macam-macam alat ukur sederhana fungsi serta cara penggunaan alat yang digunakan.

3. Mahasiswa mampu membedakan alat ukur yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap suatu benda.

(14)

2.1.4 Tinjauan Pustaka

Alat ukur sederhana merupakan alat yang digunakan untuk pengukuran daerah atau lahan dengan luas yang lebih kecil. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang sejenis yang ditetapkan sebagai satuan.

Dalam hal ini digunakan alat ukur sederhana yang mana merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu daerah, benda, ataupun lahan dalam skala kecil.

Pengukuran merupakan suatu aktivitas dan atau tindakan membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya terhadap besaran lain yang sudah diketahui nilainya,misalnya dengan besaran standart.

Fungsi pengukuran diantaranya adalah:

1. Dapat mengetahui atau mengukur jarak suatu wilayah. 2. Sebagai rekorder temperatur dan rekorder tekanan. 3. Sebagai pengendali temperatur pada pemanas air, dll.

Yang perlu diperhatikan dalam pengukuran adalah:

1. Standart yang dipakai harus memiliki ketelitian yang sesuai dengan standart yang telah ditentukan.

2. Tata cara pengukuran dan alat yang digunakan harus memenuhi persyaratan. Metode Pengukuran

Dalam pengukuran dapat dilakukan dengan dua metode: a. Metode pengukuran langsung

Pengukuran dikatakan langsung bila alat ukurnya atau pembandingnya standart,yaitu suatu pengukuran yang mempunyai nilai standart, misalnya ukuran panjang dan berat.

b. Metode pengukuran tidak langsung

Pengukuran dikatakan tidak langsung bila pembandingnya adalah suatu yang telah dikalibrasikan terhadap besaran standart, misalnya transmitter. Karena sulinya untuk mendapatkan alat ukur standart,sedangkan besaran yang akan diukur banyak sekali macamnya, maka teknologi telah menghasilkan banyak cara untuk menghasilkan alat ukur tidak langsung.Berdasarkan pada peranan dalam fungsinya dapat dibedakan:

a. Alat ukur penunjuk : misalnya ammeter, voltmeter, termometer dan lain-lain.

b. Alat ukur perekan / rekorder : misalnya rekorder temperatur, rekoreder tekanan.

c. Alat ukur pengendali : misalnya pengendali temperatur (thermostat) pada pemanas air, setrika listrik.

(15)

Banyakhal yang mempengaruhi kualitas kerja dari alat ukur.Dan tentunya faktor-faktor ini mempengaruhi kualitas hasil pengukuran. Faktor yang dimaksud tersebut berasal dari lingkungan terhadap alat ukur dan sebaliknya adalah terdiri dari faktor:

a. Temperatur

Faktor ini dapat menyebabkan berubahnya sifat fisis dari bagiana-bagian alat ukur.

b. Kelembaban

Kelembapan adalah ukuran dari banyaknya uap air di udara.Persoalan ini sering terjadi pada alat ukur perekam (rekorder). Juga pada alat ukur elektrolik dapat rusak atau berubah karakteristiknya karena kelembapan. c. Percepatan

Bila daerah dimana alat ukur berada mengalami getaran atau gerakan maka tidak mungkin pengukuran dengan baik.

d. Media korosif e. Radiasi nuklir f. Media explosif

Sistem pengukuran merupakan bagian pertama dalam suatu sistem pengendalian.Akurasi atau (ketelitian) adalah ketepatan alat ukur dalam memberikan hasil pengukuran.

Ada beberapa cara menyatakan akurasi: 1. Dalam variabel pengukuran

2. Dalam persentase span

3. Dalam persentase skala maksimum 4. Dalam persentase pembacaan

Presisi adalah kemampuan sistem pengukuran untuk menampilkan ulang output yang sama pada pengukuran berulang singkat.

Akurasi vs Presisi

1. Akurasi rendah, presisi rendah 2. Akurasi rendah, presisi tinggi 3. Akurasi tinggi, presisi tinggi

Macam-macam alat ukur sederhana seperti meteran, kompas, jangka sorong, abney level dll. Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran tanah secara garis besar dikelompokkan sebagai berikut:

1. Alat ukur sifat ruang (theodolite)

Untuk mengukur sudut; sudut horizontal dan sudut vertikal. 2. Alat ukur sifat datar (waterpass)

Untuk mengukur jarak; jarak horizontal dan jarak vertikal.

(16)

horizontal (sumbu vertikal sebagai sumbu putarnya) dan secara vertikal (sumbu horizontal sebagai sumbu putar). Pada waterpass teropongnya hanya dapat/bisa diputar secara horizontal (sumbu vertikal sebagai sumbu putar).

Sudut di lapangan diukur dengan alat yang telah dirancang kontruksinya sedemikian rupa sesuai dengan ketelitiannya disebut theodlite. Sedangkan jarak antara satu titik ke titik lainnya diukur dengan pita ukur atau EDM. Secara umum ada tiga bagian utama yaitu:

a. Bagian bawah yang tidak dapat bergerak + statip b. Bagian atas yang dapat bergerak secara horizontal

c. Bagian teropong yang dapat berputar secara horizontal dan vertikal

Theodolite terdiri atas berbagai merek dan banyak macamnya, secara umum mempunyai bagian yang sama. Perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya terdapat pada tingkat ketelitian dan cara pengoperasiannya.

Meteran disebut juga dengan pita ukur, akan tetapi pada dasarnya kedua alat ini mempunyai perbedaan yaitu panjangnya. Untuk mengukur jarak yang sangat panjang, biasanya menggunakan meteran yang terbuat dari fiber, tetapi ada juga yang menggunakan pita ukur, semua ini tergantung kondisi alam atau lahan yang diukur.

Meteran merupakan alat untuk mengukur jarak atau panjang yang memiliki skala terkecil dalam pengukurannya yaitu 1mm. Meteran yang terbuat dari fiber mempunyai kelemahan dalam pengukuran yang dilakukan pada jarak yang sangat panjang. Pada bagian ini biasanya bagian tengah tidak tegang dan solusinya adalah melakukan pemotongan pengukuran yang berguna mendapatkan hasil yang akurat. Cara menggunakan meteran dimulai dari penentuan skala meteran yang dipakai, selanjutnya tentukan titik acuan sebagai titik awal.

Gambar 1. Meteran

(17)

Kompas merupakan alat untuk penunjuk arah dan karena sifat magnetnya jarumnya selalu menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini buka utara yang sebenarnya, tetapi utara magnetis).

Macam-macam kompas antara lain: 1. Kompas bidik

a. Kompas bidik lensa atau kaca b. Kompas bidik prisma

2. Kompas silva

Hal-hal yang mempengaruhi kerja kompas.

Prinsip kerja kompas adalah berdasarkan medan magnet.Maka kompas sangat rentan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan magnetis.Oleh karena itu dalam penggunaan kompas kita harus menjauhkan dari benda-benda yang mengandung lgam seperti jam tangan, paku, dan lain-lain.

Secara fisik kompas terdiri atas : a. Cover atau penutup

Penutup kompas yang melindungi dial. Berisi kawat bidik (penglihatan depan) dan dua slot yang bercahaya di tempat gelap, bagian atasnya memiliki lubang bidik depan yang kadangkala digunakan bersama-sama lubang bidik belakang.

b. Base atau dasar

Merupakan tubuh kompas yang berisi bagian-bagian berikut:

1. Dial (floating dial) dipasang pada poros sehingga dapat berputar bebas ketika kompas berada pada posisi datar. Tercetak angka penunjuk derajat serta titik bercahaya dengan panah dan huruf E dan W. Jarum atau panah selalu menunjuk ke utara magnetik dan bagian-bagian lainnya di timur (E) 90 ° dan barat (W) 270 °. Ada dua skala; skala luar menunjukkan mil dan skala dalam (biasanya merah) menunjukkan derajat.

2. Penutup dial (Encasing the floating dial) adalah kaca yang berisi garis indeks (fixed indeks line) berwarna hitam dengan posisi tetap.

3. Cincin bingkai (bezel ring) berupa roda bergigi yang berisi 120 klik ketika diputar sepenuhnya; setiap klik sama dengan 3°, terhubung dengan kaca cincin bingkai dengan garis bercahaya pendek yang digunakan dalam hubungannya dengan panah utara selama navigasi.

4. Thumb loop adalah tempat ibu jari saat menggunakan kompas. c. Lensa atau lensa

(18)

Lensa digunakan untuk membaca angka-angka derajat yang berfungsi sebagai kaca pembesar dan terdapat pula lubang bidik belakang digunakan bersama dengan bagian depan untuk peninjauan pada objek.

Adapun fungsi utama dari kompas antara lain : 1. Untuk mencari arah utara megnetis

2. Untuk mengukur besarnya sudut kompas 3. Untuk mengukur besarnya sudut peta

4. Untuk menentukan letak macam-macam orientasi

Gambar 2. Kompas

Sumber: http://kompas wikipedia.com

Mistar adalah sebuah alat pengukur dan alat bantu gambar untuk menggambar garis lurus. Terdapat berbagai macam penggaris, dari mulai yang lurus sampai yang berbentuk segitiga (biasanya segitiga siku-siku sama kaki dan segitiga siku-siku 30°-60°. Penggaris atau mistar terbuat dari plastik, logam, berbentuk pita. Juga terdapat mistar yang dapat dilipat. Mistar ada yang terbuat dari baja yang tahan karat yang disebut dengan mistar baja.

Gambar 3. Mistar

(19)

2.1.5 Metode Praktikum 1.1.5.1. Alat dan Bahan 1. Meteran 2. Kompas 3. Jangka sorong 4. Abney level 1.1.5.2 Prosedur Kerja 1. Meteran

Cara menggunakan meteran tersebut dimulai dari penentuan skala meteran yang dipakai,selanjutnya tentukan titik acuan sebagai titik awal. Setelah itu tarik meteran ke titik yang akan dituju.

2. Kompas

Posisikan kompas dalam keadaan datar,setelah itu bidik sasaran yang akan dituju, baca skala yang sejajar dengan garis bidik.

3. Jangka sorong

Buka kunci jangka lalu geser rahang atas dan masukkan objek yang akan diukur kunci lagi.

4. Abney level

Ambil posisi memegang abney level dalam keadaan tegak lurus. Gagangnya jangan sampai goyang.

(20)

2.1.6 Hasil dan Pembahasan 1.1.6.1 Hasil

Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum objek 1 yaitu: Tabel 1. Jarak dari pengukuran kompas dan meteran

Patok Jarak (m) Jarak (m) menggunakan skala 1:400 Sudut sebelum dikoreksi Sudut setelah dikoreksi A-B 46.35 11.6 5o 5o B-C 64.23 16.1 234 o 234 o C-D 68.51 17.1 239 o 239 o D-E 63.63 16 169 o 170 o E-F 60.25 15.1 69 o 70 o F-A 79.44 19.9 29 o 29 o

Sumber: Hasil Analisis Data Praktikum 2.1.6.2 Pembahasan

Pengambilan data pada kompas adalah dengan cara pembidikan dari patok ke rambu ukur. Pembidikan yang dilakukan harus memperhitungan kedataran dari alat ukur kompas karena apabila posisi kompas tidak rata maka sudut yang di baca bisa salah besar atau pun kecil dari yang sebenarnya. Untuk memperkecil kesalahan yang bisa saja terjadi, pengukuran atau pengambilan data dengan kompas tidak hanya dilakukan satu kali akan tetapi dapat dilakukan beberapa kali dengan praktikan yang berbeda. Kemudian pengambilan data dengan menggunakan meteran. Dalam penggunaan meteran yang harus di perhatikan yaitu lurus tidaknya meteran yang dipakai dimana jarak yang diukur yaitu jarak antara patok satu dengan yang lainnya. Cara pengambilan data yaitu ukur jarak antara patok yang ada dengan cara merentangkan meteran dengan keadaan meteran yang tegang, tidak kendur karena sangat berpengaruh pada jarak sebenarnya. Disini peluang terjadinya kesalahan cukup besar tergantung pada ketelitian dari orang yang melakukan pengambilan data.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan data kompas maupun meteran, sudah kita ketahui prinsip kerja kompas adalah berdasarkan medan

(21)

magnet. Maka kompas sangat rentan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan magnetis. Oleh karena itu dalam penggunaan kompas kita harus menjauhkan dari benda-benda yang mengandung logam seperti jam tangan, paku dll. Selain itu kerusakan kinerja alat juga dapat mempengaruhi pengambilan data. Oleh karena itu, pengambilan data dilapangan, kompas harus di jauhkan dari bahan yang mempengaruhi medan magnet. Faktor lainnya yaitu penentuan arah utara pada lokasi pengamatan yang menjadi titik acuan pada penggambaran, pemakaian kompas yang kurang datar dan tidak tegak lurus dengan patok. Sedangkan pada meteran faktor yang dapat mempengaruhi pengambilan data adalah salah satunya ketinggian suatu tempat dan banyak hal yang dapat mengganggu proses pengukuran dengan meteran. Seperti kurang tegangnya meteran yang digunakan untuk pengambilan data.

Alasan pada saat pembuatan poligon mengapa poligon tidak tertutup karena adanya kemungkinan eror yang terjadi baik itu eror pengamatan maupun eror alat yang terjadi. Karena kemungkinan eror itu dalam sebuah insrtumen pasti ada. Untuk mengatasi poligon yang tidak tertutup ini maka di lakukan koreksi terhadap sudut. Dalam pengubahan ini, hanya sudut yang dapat diubah namun jarak tidak bisa di ubah,maka ada besaran koreksi sudut yaitu 5° dimana data harus terlebih dahulu di comot atau diganti dengan data yang ada.

(22)

2.1.7 Kesimpulan dan Saran 1.1.7.1 Kesimpulan

Pengambilan data dengan menggunakan kompas dan meteran harus memperhatikan cara penggunaan kompas dan meteran yang benar. Faktor yang mempengaruhi pengambilan data kompas dan meteran yaitu medan magnet dan kinerja serta penggunaan alat itu sendiri. Poligon yang tidak tertutup dapat diatasi dengan mencari koreksi sudut 5° dengan melakukan pencomotan data dengan data yang ada.

2.1.7.2 Saran

Adapun saran untuk praktikum tentang alat ukur sederhana selanjutnya yaitu:

1. Pahami penggunaan alat ukur kompas dan meteran yang tepat terlebih dahulu.

2. Sebelum melakukan pengambilan data menggunakan kompas sebaiknya asesoris yang berhubungan dengan magnet di lepaskan terlebih dahulu. 3. Pahami kelemahan dari alat yang digunakan agar tidak terjadi kesalahan

vatal di lapangan.

4. Lebih teliti dalam pengambilan data dengan kompas serta meteran.

(23)

2.2.1 Latar Belakang

Dalam pembuatan bentuk dan jarak suatu wilayah dilakukan pengukuran antar patok, data yang di dapatkan dalam pengukuran jarak tersebut kemudian dipindahkan ke dalam bentuk gambar dengan menghubungkan antar patok yang satu dengan patok yang lainnya. Gambar ataupun hasil dari penyambungan patok tersebut dinamakan polygon. Praktikum ini diberikan pengetahuan mengenai polygon, cara pembuatan polygon, perhitungan, syarat dan macam-macam polygon. Untuk membuat polygon dilakukan menggunakan alat ukur theodolite. Praktikum ilmu ukur wilayah, polygon sangat diperlukan karena wilayah tersebut akan diketahui titik awal dan kemudian diukur jarak serta sudut yang ditemui. Dengan demikian dari titik yang diukur dirangkai sesuai dengan jarak yang ditemui.

Poligon umumnya digunakan dalam posisi horizontal, sama-sama diketahui bahwa polygon merupakan salah satu cara menentukan posisi horizontal dimana titik satu dengan yang lainnya dihubungkan sehingga dari hubungan titik tersebut akan membentuk suatu sudut .

2.2.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut : .1 Untuk mendapatkan titik ikat pengukuran di lapangan

.2 Sebagai dasar untuk keperluan pemetaan atau keperluan teknis lainnya 2.2.3 Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

.1 Memudahkan dalam menentukan perhitungan ataupun ploting dalam suatu pemetaan

.2 Mahasiswa mengetahui fungsi theodolite dan macam-macam polygon .3 Mahasiswa diajarkan teliti dalam melakukan pengukuran

(24)

2.2.4 Tinjauan Pustaka 2.2.4.1 Pengertian Poligon

Poligon berasal kata poly dan gono, dimana poly berarti banyak dan gono berarti sudut. Jadi polygon adalah suatu rangkaian sudut yang berjumlah banyak atau rangkaian titik-titik secara berurutan yang saling berhubungan membentuk suatu pola. Maksud dari pengukuran poligon adalah untuk mendapatkan koordinat horizontal atau dengan perkataan lain untuk merapatkan jaring kontrol geodesi. Sedangkan tujuannya adalah sebagai kerangka dasar untuk kepeduan pemetaan atau untuk keperluan teknis latnnya, seperti untuk keperluan I (adaster, pengembangan kota, ground control dan lain-lain. Penentuan koordinat dengan cara ini membutuhkan :

a. Koordinat Awal

Apabila diinginkan system kooordinat terhadap suatu system tertentu haruslah dipilih koordinat titik yang sudah diketahui dan bila dipakai system koordinat lokal pilih salah satu titik, bila kemudian beri harga koordinat tertentu.

b. Koordinat Akhir

Korodinat ini dibutuhkan untuk memenuhi syarat geometri hitungan koordinat dan harus dipilih titik yang mempunyai system koordinat yang sama dengan koordinat awal.

c. Azimuth Awal

Azimuth awal ini mutalak aharus diketahui hubungan dengan arah orientasi dari system koordinat yang dihasilakan dan pengadaan datanya.

d. Data ukuran jarak dan sudut

Sudut mendatar pada setiap stasiun dan jarak anatar dua titik control perlu diukur di lapangan.

2.2.4.2 Kegunaan polygon

Adapun kegunaan polygon antara lain: a. Untuk membuat kerangka dasar

(25)

c. Pengukuran rencana jalan raya, kereta api, irigasi, daerah industry dan pemukiman.

d. Sebagai dasar untuk tempat pelaksanaan ukuran lainnya. e. Control sudut dan jarak

2.2.4.3 Syarat dan Ketentuan

Adapun syarat dan ketentuan polygon adalah sebagai berikut :

a. Jurusan/ titik awal, penentuan titik awal dalam pengukuran sudut dan jarak.

b. Koordinat awal, tentukan letak koordinat awal untuk melakukan pengukuran dengan theodolite

c. Semua sudut diukur, untuk sudut secara keseluruhan, tetapi sudutnya tidak bleh terlalu lancip.

d. Semua jarak diukur, dimana jarak yang akan diukur antar patok tidak terlalu jauh.

2.2.4.4 Tahapan pembuatan polygon

Adapun Tahapan pembuatan polygon antara lain :

a. Sipakan catatan, daftar pengukuran dan buat sketsa lokasi yang dipetakan b. Tentukan titik-titik kerangka polygon

c. Ukurlah sudut azimuth dan sudut yang telah diukur d. Ukurlah jarak anatar titik ke titik lainnya

e. Lakukan hal tersebut ke titik berikutnya sampai selesai 2.2.4.5 Pengolahan data polygon

Adapun langkah-langkah pengolahan data polygon antara lain: a. Perhiyungan sudut jurusan awal dan akhir

b. Perhitungan kesalahan penutup sudut c. Perhitungan sudut yang dikoreksi

d. Perhitungan sudut jurusan masing-masing titik e. Hitung azimuth sisi-sisi polygon

f. Hitung selisih absis dan ordinat g. Perhitungan kesalahan linear jarak h. Perhitungan jumlah panjang sisi polygon i. Perhitungan koreksi absis dan ordinat j. Perhitungan koordinat titik definitif

(26)

2.2.4.6 Macam-macam polygon

Adapun Macam-macam polygon antara lain: a. Polygon terbuka

Polygon terbuka dilakukan pengukuran yang dimulai dari titik awal tidak kembali ke titik awal tersebut. Polygon terbuka tidak memilki sudut dalam. Polygon ini digunakan untuk jalur lalu lintas, saluran irigasi, kabel listrik dan lainnya.

Gambar 4. Poligon terbuka

Sumber : http://geoexpose.blogspot.co.id b. Poligon tertutup

Poligon tertutup adalah kerangka dasar pengukuran yang membentuk polygon segi banyak yang dimulai dari suatu titil awal dan diakhiri pengukuran kembali ke titik semula sehingga akan membentuk segi banyak. Polygon tertutup memberikan pengecakan pasa sudut- sudut dan jarak tertentu. Polygon biasanya digunakan untuk pengukuaran titik lentur, bangunan sipil berpusat, pemukiman, jembatan dan lainnya.

(27)

Gambar 5. Poligon tertutup

Sumber : http://geoexpose.blogspot.co.id

Selain itu, poligon juga terdiri bebrapa bentuk yang menyerupai bentuk bidang datar yang setipa titik-titiknya terhubung satu sama lain. Poligon ini berbentuk segilima, segienam, dan lainnya pengukuran sudut dan jarak digunakan alat yang dinamakan theodolite.

Gambar 6. Macam-macam polygon

Sumber : http://geoexpose.blogspot.co.id

Theodolite adalah alat yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah, pengukuran sudut yaitu sudut mendatar dan tegak. Sudut-sudut tersebut berperan dalam penentuan jarak horizontal dan vertical. Teodolit digunakan untuk mengukur sudut siku-siku pada perencanaan pondasi dan lainya.

(28)

Gambar 7. Theodolite

(29)

2.2.5 Metode Praktikum 2.2.5.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1. Theodolite

2. Rambu ukur 3.Statif

4.Unting-unting 2.2.5.2 Prosedur Kerja

Tahap-tahap dalam pembuatan dan pengukuran poligon atau kerangka dasar dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Tentukan titik target yang menjadi kerangka poligon.

2. Dirikan alat pada titik awal pengukuran dalam kedudukan benar dan sempurna, pada titik awal sebaiknya alat diutarakan terlebih dahulu.

3. Putar alat searah jarum jam. Untuk setiap titik, pembidikan dilakukan dua kali, terhadap titik sebelum dan titik berikutnya.

4. Tempatkan alat pada kedudukan biasa, bidik target pertama yang ditemui dari arah utara searah jarum jam. Lakukan pembacaan benang diafragma pada bagian atas, tengah dan bawahnya. Kemudian catat pembacaan skala vertikal dan skala horizontal. Untuk pembacaan skala horizontal ini sebaiknya vizier atau teropong diarahkan langsung ke patok atau titik (rambu) terendah yang dapat dibidik.

5. Arahkan vizier atau teropong ketitik target berikutnya. Catat bacaan benang diafragma dan bacaan skala vertikal serta skala horizontalnya.

6. Masih pada titik yang sama, ubah posisi alat dari posisi biasa ke posisi luar biasa. Catat bacaan benang diafragma, skala vertikal dan skala horizontalnya.

7. Arahkan kembali teropong ke target pertama tadi. Lakukan pembacaan benang diafragma serta skala vertikal dan horizontalnya.

8. Untuk keperluan beda tinggi, ukur tinggi alat dari permukaan tanah.

9. Kemudian pindahkan alat ketitik selanjutnya. Lakukan hal yang sama dari titik tersebut terhadap dua titik yang mengapitnya.

(30)

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan menggunakan theodolit pada saat praktikum poligon menghasilkan data berupa koordinat poligon yang dihasilkan dari perhitungan menggunakan rumus 15 antara lain :

Tabel 2. Data Koordinat Poligon

Patok Koordinat Poligon

A (0 ; 0) B (4,75 ; 46,16) C (-50,33 ; 9,14) D (-108,12 ; -27,57) E (-95,15 ; -90,01) F (-38,54 ; -69,60)

Sumber: Hasil Analisa Data Praktikum 2.2.6.2. Pembahasan

Praktikum yang telah dilakukan menghasilakan data yang didapatkan dari pembacaan benang-benang pada theodolite yang mempunyai ukuran tertentu. Benang-benang tersebut adalah benang atas, benang tengah dan benang bawah. Pembacaan ukuran-ukuran pada benang-benang tersebut dipengaruhi oleh ketepatan pada saat pembidikan. Semakin tepat pembidikan dan penempatan angka pada rambu ukur maka semakin akurat data yang akan dihasilkan. Pembidikan ini menghasilkan data berupa sudut, benang atas, benang tengah suatu wilayah. Pengukuran dilakukan pada sudut biasa dan luar biasa. Sudut yang dihasilkan yaitu sudut vertikal dan horizontal, dengan sudut vertikal digunakan untuk menentukan jarak dan elevasi. Setelah mendapatkan data kemudian data tersebut diolah menggunakan rumus 15 yang akan menghasilkan jarak, beda tinggi dan elevasi suatu wilayah yang diukur.

Setelah perhitungan data menggunakan rumus 15 selesai dilakukan, maka hasil yang diperoleh yaitu total sudut rataan horizontal yang didapatkan sebesar 719o57’25” dengan kesalahan penutup sudut sebesar -0o2’35” dan torelansi sudut sebesar 0o3’40,45”. Jika dibandingkan maka kesalahan penutup sudut tidak lebih besar dari pada toleransi sudut yang telah dihasilkan maka data yang sudah sesuai dengan kondisi di lapangan. Koreksi tiap sudut didapatkan dengan cara membagikan kesalahan penutup sudut dengan banyak sudut yang menghasilkan nilai sebesar 0o0’25,83”. Koreksi tiap sudut ini dapat berguna untuk mengkoreksi

(31)

kemungkinan besar sudut tiap sudut. Untuk rumus 15 yaitu toleransi jarak,dimana jarak yang kami peroleh adalah 0,1519621929 ≤ 0,1961528299 . Jika nilai toleransi jarak tidak sesuai dengan rumus 15 maka dilakukan pencomotan data sampai memenuhi syarat rumus 15 .

Pengambilan data dengan theodolite banyak dipengaruhi faktor-faktor, dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi besar kecilnya kesalahan yang dapat terjadi pada saat pengukuran dilakukan. Faktor-faktor tersebut seperti faktor alam, dimana faktor tersebut adalah hujan, kecepatan angin, suhu lingkungan dan lainnya. Faktor kedua adalah human error, dimana kesalahan tersebut terjadi dikarenakan adanya kesalahan pembacaan pada rambu ukur. Faktor ketiga adalah faktor alat, dimana pada saat digunakan terjadi ketidaksentringan yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahan data yang akibatnya sangat fatal dan mempengaruhi hasil yang didapatkan.

(32)

2.2.7. Kesimpulan dan Saran 2.2.7.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu pengukuran yang dilakukan menggunakan theodolite dapat menghasilkan data berupa jarak, sudut dan ketinggian dimana data yang dihasilkan harus diolah terlebih dahulu, pengukuran menggunakan theodolite harus memperhatikan hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahan sehingga data yang dihasilkan sesuai dengan yang aslinya. Data yang telah diolah menggunakan rumus 15 akan menghasilkan titik koordinat yang berguna untuk menggambarkan poligon pada bidang datar.

2.2.7.2. Saran

Adapun saran pada praktikum ini antara lain :

1. Praktikan terlebih dahulu mengerti mengenai materi yang akan dipraktikumkan

2. Sebelum melakukan praktikum pahami cara pengambilan data dengan menggunakan teodolit

3. Pembacaan dan pembidikan rambu ukur harus lebih fokus 4. Pastikan terlebih dahulu theodolite sudah centering 5. Segera laporkan ke asisten apabila terjadi kesulitan

(33)

2.3GLOBAL POSITIONING SYSTEM

2.3.1. Latar Belakang

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka berkembang pula alat-alat yang canggih yang dapt membantu manusia dalm mengerti perkembangan yang terjadi di tengah kehidupan ini, sebagai manusia modern di era yang serba canggih dan berteknologi ini kita harus mengikuti perkembangan apa saja yang terjadi baik perkembangan di dalam negeri maupun luar negeri, salah satunya adalah dengan, mengetahai teknologi canggih yaitu GPS (global positioning system).

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini banyak sedikitnya sangat berpengaruh pada Indonesia tentunya. Terutama GPS yang banyak menarik perhatian masyarakat, karena dengan GPS banyak hal dapat diketahui dengan mudah seperti di bidang pertanian, kehutanan, kalautan, dan bidang-bidang lainnya yang berteknologi.

2.3.2. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Memperkenalkan GPS kepada praktikan;

2. Untuk mengetahui besar elevasi pada patok utama. 2.3.3. Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah :

1. Mengetahui cara penggunaan GPS dan mampu menggunakannya; 2. Mengetahui pengukuran besar elevasi pada patok utama;

3. Sebagai alat navigasi seperti kompas 4. Sebagai penunjang alat jalan

5. Dapat mengaplikasikan GPS

(34)

2.3.4. Tinjauan Pustaka

GPS (Global Positioning System) adalah sistem navigasi yang menggunakan satelit MEO (Medium Earth Orbit atau Middle Earth Orbit) yang mengelilingi bumi sehingga penerima sinyal dipermukaan bumi dapat menangkap sinyalnya. Satelit mengorbit pada ketinggian 12.000 mil diatas permukaan bumi dan mampu mengelilingi bumi dua kali dalam 24 jam.

Sejarah GPS(Global Positioning System) dimulai dari awal tahun 1960-an saat Departemen Pertahanan (Depran) Amerika Serikat, merasa perlu memiliki sistem navigasi yang akurat, dapat berfungsi secara global, dalam segala cuaca dan tersedia setiap saat. Berbagai pendekatan dan teknologi diuji coba sampai akhirnya pada akhir tahun 1973 Depnas Amerika Serikat menyetujui pelaksanaan uji coba satelit Naustar yang menjadi generasi pertama disatelit GPS. Hingga tahun 1983, masa pemerintahan Ronald Reagen mengizinkan penggunaan GPS untuk pegawai sipil setelah terjadi insiden pesawat Korean Airlines, penerbangan 007 yang dianggap nyasar melintasi perbatasan Uni Soviet. Sejak saat itu Uni Soviet GPS mulai disiapkan untuk dipergunakan oleh kalangan sipil secara Internasional terutama untuk kalangan penerbangan dan kelautan.

Jenis – jenis GPS antara lain :

a. Berdasarkan kebutuhan pemakaiannya 1. GPS tracking system (GIS);

2. GPS geodetik; 3. GPS pemetaan; 4. GPS bluetooth.

b. Berdasarkan dari tingkat akurasi receiver GPS

Receiver GPS merupakan alat atau perangkat yang digunakan untuk menerima dan menyimpan data yang dikirim oleh satelit GPS.

Berdasarkan dari tingkat akurasi receiver GPS dibagi menjadi 3 tipe : 1. Receiver tipe navigasi (handheld receiver);

2. Receiver tipe pemetaan (mapping); 3. Receiver tipe geodetik.

Perangkat GPS menerima sinyal dari satelit dan kemudian melakukan perhitungan sehingga pada tampilan umum dapat diketahui posisi dalam lintang dan bujur, kecepatan dan waktu, disamping itu juga di informasikan serpti jarak

(35)

dan waktu posisi nyang di tampilkan merupakan sistem referensi geodetik WGS-84 dan waktu merupakan referensi USN (U.S Naval observacy time).

Prinsip kerja GPS adalah pengukuran jarak (range) antara GPS receiver dengan satelit. Satelit juga memberikan informasi lokasi orbit dimana saat itu satelit berada diatas permukaan bumi. GPS dapat bekerja seperti ini, apabila kita mengetahui jarak tepat kita dari satelit di angkasa, maka kita dapat mengasumsikan bahwa kita berada disuatu titik disebuah permukaan dengan radius imaginer yang sama dengan radius satelit. Apabila kita mengetahui dengan tepat jarak kita dari dua buah satelit maka dapat diasumsikan bahwa kita berada disebuah titik di daerah perpotongan antara dua satelit tersebut. Jarak diketahui dengan menghitung antara lama waktu yang ditempuh oleh gelombang dengan kecepatan rambat gelombang. Oleh karena itu GPS biasanya menggunakan jam atom sebagai panduan waktu dasar waktunya.

Satelit GPS melingkari bumi dua kali sehari dalam orbit yang sangat tepat dan mengirimkan sinyal informasi ke bumi. Penerima GPS menerima informasi ini dan triangulasi yang digunakan untuk menghitung lokasi pasti pengguna.Pada dasarnya, penerima GPS membandingkan waktu sinyal yang ditransmisikan oleh satelit dengan waktu yang telah diterima. Perbedaan Waktu akan memberitahu penerima GPS seberapa jauh satelit tersebut. Sekarang, dengan pengukuran jarak dari satelit, receiver (GPS) dapat menentukan posisi pengguna dan menampilkannya pada peta elektronik pada unit GPS.

Secara umum ada tiga segmen dalam sistem GPS yaitu segmen sistem kontrol, segmen satelit, dan segmen pengguna.

a. Segmen sistem kontrol

Secara umum segmen sisten control berfungsi mengontrol dan memantau operasional satelit dan memastikan bahwa berfungsi sebagiamana mestinya. Fungsi ini mencakup beberapa tugas :

1. Menjaga agar semua satelit masing-masing berada pada posisi orbit yang seharusnya (station keeping);

(36)

4. Menentukan dan menjaga waktu system GPS. b. Segmen satelit

Satelit GPS dapat dianalogikan sebagai stasiun radio angkasa, yang diperlengkapi dengan antena-antena untuk mengirim dan menerima sinyal –sinyal gelombang. Sinyal-sinyal ini selanjutnya diterima oleh receiver GPS didekat permukaan bumi, dan digunakan untuk menentukan informasi posisi, kecepatan, maupun waktu.

Selain itu satelit GPS juga dilengkapi dengan peralatan untuk mengontrol attitude satelit. Satelit-satelit GPS dapat dibagi atas beberapa generasi yaitu ; blok I, blok II, blok IIA, blok IIR dan blok IIF. Hingga april 1999 ada 8 satelit blok II, 18 satelit blok II A dan 1 satelit blok II R yang operasional.

c. Segmen pengguna

Segmen pengguna terdiri dari para pengguna satelit GPS di manapun berada. Dalam hal ini alat penerima sinyal GPS (GPS receiver) diperlukan untuk menerima dan memproses sinyal -sinyal dari satelit GPS untuk digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan dan waktu. Komponen utama dari suatu receiver GPS secara umum adalah antena dengan pre-amplifier, bagian RF dengan pengidentifikasi sinyal dan pemproses sinyal, pemproses mikro untuk pengontrolan receiver, data sampling dan pemproses data (solusi navigasi), osilator presisi , catu daya, unit perintah dan tampilan, dan memori serta perekam data.

Struktur sinyal GPS merupakan bagian gelombang mikro dari spektrum gelombang elektromagnetik. Dari segi pemancaran sinyal, GPS disebut sebagai sistem pasif, karena pada kenyataannya hanya satelit yang memancarkan sinyal, sedangkan receiver GPS dipermukaan bumi berfungsi sebagai penerima sinyal.

(37)

Sumber : www.google.com

Marking (waypoint) tujuannya adalah untuk mendapatkan koordinat dari suatu titik pada saat melakukan survey. Sedangkan tracking merupakan proses akuisi data dan titik koordinat secara otomatis berdasarkan yang dilalui dan data tersebut disimpan pada kartu memori yang ada pada GPS.

Cara marking adalah dengan menekan tombol enter lama lalu muncul tampilan pagemark waypoint, ini adalah teknik dasar dalam pemetaan data, koordinat, tetapi jika berhenti secara langsung atau terus bergerak, maka dapat menggunakan fasilitas mainoverboard, akan diperoleh capturing data koordinat atau waypoint

Pada GPS cara tracking adalah: 1. main menu > tekan enter

2. pada icon track , pastikan log pada posisi ON

3. untuk mengatur setting track log , arahkan highlight ke setup > enter 4. untuk menghapus track log, arahkan highlight ke clear > enter

5. untuk menyimpan waypoint langsung secara default, arahkan highlight ke OK > enter

6. jika ingin mengubah nama waypoint arahkan highlight ke kolom tersebut > enter dan beri nama waypoint sesui keinginan.

Sinyal GPS terdiri atas: 1. Data Kode

Data Kode GPS terdiri atas 2 kode yakni C/A (coarse acquisition) dan P (precision). Kedua kode tersebut terdiri atas kode biner yang berisi angka 0 dan 1, yang sering disebut sebagai chips atau codes. Kode C/A memiliki rate sebesar 1.023 MBps (million bits per second) sedangkan Kode P 10.23 MBps. Setiap satelit baru dapat mengulang kembali kode P setelah 37 minggu. Receiver GPS harus dapat membedakan transmisi kode P dari masing-masing satelit. Caranya adalah dengan memberikan informasi minggu tertentu kepada satu satelit tertentu. Sebagai contoh, jika kita menggunakan GPS dan dilayar menampilkan SV14 (space vehicle 14) maka ini berarti satelit tersebut mentransmisikan data kode P untuk minggu ke 14. Kode C/A memiliki bit 10 kali lebih lambat dari kode P. Hal tersebut membuat proses identifikasi kode C/A mudah. Oleh karena itu kode C/A

(38)

setiap 1 milidetik. Data inilah yg digunakan untuk menunjukkan posisi real-time pada layar GPS.

2. Gelombang Pembawa

Sebuah gelombang dengan panjang gelombang tertentu dalam durasi 1 detik, disebut juga 1 cycle per detik, didefinisikan memiliki frekuensi 1 hertz (Hz) dalam sistem Sistem Satuan Internasional (SI). Frekuensi 1 Hz dapat dianggap sebagai frekuensi yang rendah jika dibandingkan rentang bunyi yang bisa didengar oleh manusia (25Hz-15.000Hz). Gelombang pembawa sinyal GPS masing-masing adalah L1 dengan frekuensi 1575.42 MHz dan L2 dengan frekuensi 1227.60 MHz. Panjang gelombang masing-masing carrie wave adalah 19 cm untuk L1 dan 24.4 cm untuk L2.

3. Pesan Navigasi

Pesan navigasi memiliki frekuensi 50 Hz dan dimodulasikan kedalam gelombang pembawa seperti halnya kode C/A dan kode P. Pesan navigasi terdiri atas 1500 bit terbagi atas lima subframes dengan masing masing terdiri atas 10 kata (masing-masing 30 bit). Kelima subframes ini digunakan untuk memberikan informasi-informasi penting kepada receiver.

(39)

2.3.5 Metode Praktikum 2.3.5.1 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. GPS garmin ; 2. GPS trimbel.

2.3.5.2 Prosedur Kerja

a. Pastikan Global Positioning System dalam keadaan baik untuk digunakan dan penggunaanya berada di luar ruangan;

b. Hidupkan Global Positiong System dengan menekan tombol On/Off;

c. Biarkan Global Positioning System bekerja untuk mencari satelit (lihat pada Display jumlah satelit yang dapat di tangkap);

d. Untuk menggunakannya dalam metode marking untuk menandai suara tempat atau titik tertentu maka langsung dapat memilih tombol mark yang ada pada Global Positioning System;

e. Masukkan nama titik tempat yang mau di marking; f. Masukkan tanggal dan waktu pada saat itu;

g. Tekan tombol ok untuk memulai marking titik tersebut;

h. Apabila telah selesai ,data titik hasil marking dapat kita lihat dengan menekan tombo find pada alat;

(40)

2.3.6. Hasil dan Pembahasan 2.3.6.1 Hasil

Adapun hasil yang diperoleh dari objek ini yaitu : Tabel 3. Data Marking Masjid dan Mushala

No Nama Masjid / Mushala Elevasi Koordinat

(m (MSL) ) X1 X2 X3 Y1 Y2 Y3

1 Masjid Thamar Al-Muttaqin 48.59 100 24 0.841 0 56 21.674

2 Mushala Al-Ikhlas 57.06 100 24 13.394 0 56 42.539

3 Masjid Al-Islah Pisang 22.05 100 24 10.860 0 56 38.006

4 Mushala Aisyiyah 43.93 100 24 19.173 0 56 39.765

5 Mushala Atqa 50.06 100 24 7.450 0 56 27.155

6 Mushala Nurul Muttaqin 60.99 100 24 16.554 0 56 21.608

7 Masjid Arrafah 53.42 100 24 23.357 0 56 15.487

8 Mushala Baitul Makmur 53.40 100 24 31.460 0 56 0.695

9 Masjid Baitul Ikhsan 46.25 100 24 26.288 0 56 44.990

10 Mushala Al-Hijir 40.27 100 24 18.268 0 56 47.689

11 Mushala Muttaqin 44.19 100 24 9.844 0 56 46.688

12 Mushala Nurul Huda 45.88 100 24 25.408 0 56 29.267

13 Masjid Uswatun Hasanah 65.28 100 24 34.645 0 56 25.950

14 Mushala Darul Amal 57.27 100 24 42.534 0 56 25.847

15 Mushala Al-Ikhsan 52.54 100 24 43.622 0 56 10.048

16 Mushala Ar-Rahman 59.97 100 24 50.142 0 56 27.042

17 Masjid Istighfar Pulau 67.82 100 24 58.958 0 56 15.258

18 Mushala Baitul Mukminin 69.65 100 25 3.800 0 56 4.250

19 Mushala Nurul Huda 78.94 100 25 21.240 0 55 59.516

20 Masjid Istiqlal 85.82 100 25 24.427 0 55 53.084

21 Masjid Raya 83.21 100 25 32.503 0 55 55.284

22 Mushala Shobirin 56.46 100 25 45.726 0 56 9.558

23 Mushala Nurul Anwar 92.95 100 25 35.268 0 55 53.590

24 Mushala Darussalam 94.36 100 25 40.183 0 55 52.374

25 Masjid Ahlussunnah 99.63 100 25 50.756 0 55 47.075

26 Mushala Nurul Anhar 102.40 100 25 59.333 0 55 38.940

27 Mushala Babussalam 100.87 100 26 4.455 0 55 35.593

28 Mushala Al-Ihsan 46.79 100 24 5.650 0 55 28.148

29 Mushala Nurul Yaqin 48.92 100 24 10.960 0 55 29.264

30 Mushala Baitul Maghrifah 45.35 100 24 8.680 0 55 42.705

31 Masjid Raya Durian Taruang 52.61 100 24 20.418 0 55 32.326

32 Mushala Aisyiyah 53.72 100 24 20.135 0 55 31.940

33 Mushala Nurul Huda 49.54 100 24 17.809 0 55 32.500

34 Mushala Al-Jadid 56.88 100 24 23.595 0 55 41.327

35 Mushala Malin Abdullah Sulaiman 54.35 100 24 27.750 0 55 36.985

(41)

37 Masjid Jihad 75.01 100 24 56.146 0 55 46.857

38 Mushala Al-Jadid 44.02 100 24 6.544 0 55 55.132

39 Masjid Hidayah 51.04 100 24 10.647 0 56 2.170

40 Masjid Jamiek Pauh 81.02 100 24 27.162 0 55 55.857

41 Mushala Al-Ihsan 62.91 100 24 44.103 0 55 59.479

42 Mushala Nurul Islam 75.12 100 25 4.989 0 55 40.089

43 Masjid Baitul Muttaqin 78.25 100 25 8.268 0 55 48.158

44 Masjid Raya Pasar Baru 92.75 100 25 40.390 0 55 42.901

45 Masjid Al-Muttaqin 92.99 100 25 46.005 0 55 48.910

46 Masjid Tajul Arifin 111.95 100 26 14.084 0 55 27.480

47 Mushala Muhanshar 154,354 100 26 42.759 0 55 25.310

48 Masjid Al-Jadid 147.06 100 26 46.917 0 55 25.253

49 Masjid Taqwa 150.72 100 26 48.356 0 55 21.557

50 Mushala Nurul Huda 152.55 100 26 49.567 0 55 21.114

51 Mushala Ubudiyah 155.03 100 26 52.982 0 55 1.512

Sumber: Hasil Analisa Data Praktikum 2.3.6.2 Pembahasan

Praktikum objek tiga ini mengenai Global Positioning System (GPS). Objek ini menggunakan alat GPS (Trimble dan Garmin). GPS merupakan alat untuk menentukan lokasi. GPS Trimble dan GPS Garmin merupakan alat penentu lokasi. Perbedaan dari kedua GPS ini adalah komponen-komponennya. Secara structural, GPS Trimble memiliki display touchscreen sedangkan GPS Garmin memiliki tombol-tombol.

Penentuan lokasi GPS adalah dengan melakukan marking dan tracking. Marking merupakan kegiatan menandakan lokasi. Kegiatan ini dilakukan untuk mengambil titik (koordinat) dari suatu lokasi untuk dimasukkan ke dalam peta. Marking dengan GPS Garmin dilakukan dengan menandakan lokasi yang ingin di marking, kemudian tempatkan garmin di lokasi dengan radius maksimal 3 m. Setelah didapatkan radius 3 m, tekan mark untuk marking. Kemudian simpan data yang didapatkan. Penggunaan GPS Trimble lebih rumit dibandingkan dengan GPS Garmin karena penyimpanannya jauh lebih rumit. Karena itu, saat pengambilan data untuk diolah praktikan dianjurkan menggunakan GPS Garmyn.

Faktor yang mempengaruhi pengambilan data menggunakan GPS adalah penempatan GPS. Seharusnya GPS diletakkan di luar ruangan, hal ini untuk

(42)

lain yang mempengaruhi adalah radius yang digunakan. Dalam menentukan koordinat sebuah titik GPS Garmyn lebih bagus menangkap sinyal, sehingga keakuratan koordinat posisinya lebih baik juga. Jika radius yang digunakan lebih dari standar maka data yang diperoleh akan jauh melenceng dari data sebenarnya. Data yang didapatkan ini akan di input kan ke dalam peta yang akan di bahas lebih lanjut pada objek empat (GIS).

(43)

2.3.7 Kesimpulan dan Saran 2.3.7.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum objek ini antara lain dimana kami menentukan titik koordinat masjid dan mushala, dengan setiap masjid dan mushala didapatkan titik koordinat yang berbeda karena satelit pada setiap titik sudut lokasi memiliki jumlah yang berbeda pula. Hal tersebut dikarenakan faktor yang mempengaruhi penggunaan GPS antara lain kondisi lingkungan dimana gedung dan pohon yang tinggi akan menghambat koneksi GPS dengan satelit. Untuk itu penggunaan alat ini sebaiknya dilakukan di luar ruangan terbuka. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adalah radius yang digunakan.

Penggunaan GPS ini membutuhkan empat buah satelit dan khusus untuk akurasi marking dengan GPS harus pada tingkat ketelitian dengan satelit dengan jarak minimal 3 meter. Radius GPS Garmyn yang digunakan adalah 3 m, sedangkan untuk GPS Trimble adalah 7 m, hal ini dikarenakan GPS Garmyn lebih mudah menangkap sinyal satelit dari GPS Trimble. Jika radius yang digunakan melebihi dari standar yang ditentukan maka data yang diperoleh akan jauh melenceng dari data sebenarnya.

2.3.7.2 Saran

Adapun saran untuk praktikum kali ini antara lain:

1. Dalam menggunakan alat ukur sebaiknya digunakan dengan hati-hati agar data yang didapatkan juga akurat.

2. Kondisi kelayakan GPS sebaiknya dilakukan pemeriksaan sebelum praktikum agar tidak menghambat proses praktikum dilapangan.

3. Pengambilan data sebaiknya dilakukan berulang-ulang agar akurasi data mendekati nilai sebenarnya.

4. Sebaiknya pengambilan data tidak dilakukan disekitar daerah dengan pohon dan gedung yang tinggi jika memungkinkan.

(44)

2.4 SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) 2.4.1. Latar Belakang

Pada zaman yang serba digital sepeti saat ini, kebutuhan akan informasi berbasis geospasial sangat diperlukan oleh berbagai kalangan, dari para akademisi, ilmuan, serta para pengambil kebijakan. Informasi geospasial digunakan untuk menganalisis berbagai masalah serta sebagai alat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sistem pengolahan data yang sangat popular di beberapa negara maju, khususnya dalam bidang survei dan pemetaan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG muncul sebagai jawaban atas sejumlah keterbatasan yang dihasulkan dengan teknik kartografi manual. Kebutuhan terhadap informasi spasial baru dengan pengolahan cepat dan dinamis mendorong para ahli untuk berkreasi menciptakan SIG.

Pada dasarnya GIS dapat dikerjakan secara manual, namun dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang terkait dengan teknologi sistem komputer, pada saat ini GIS akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer. GIS yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis yang tersedia merupakan data dalam jumlah dan ukuran besar, dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan. GIS mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada GIS merupakan data spasial. Ini adalah sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi GIS dapat menjawab beberapa pertanyaan, seperti lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan GIS dari sistem informasi lainnya.SIG menjadi alat untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan data geospasial berbasis komputer, karena menggunakan komputer, maka pekerjaan menjadi lebih cepat. Tetapi, masalah yang diketemukan adalah masih minimnya penguasaan keterampilan komputer untuk pengoperasian SIG.

(45)

2.4.2. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :

1. Akuisisi data dan proses awal meliputi : digitasi, editing pembangunan, topologi, konversi format data, pemberian atribut dan lain-lain.

2. Pengelolaan database meliputi : pengarsipan data, permodelan bertingkat, permodelan jaringan pencarian atribut dan lain-lain.

3. Pengukuran keruangan dan analisis meliputi : operasi pengukuran, analisis daerah penyangga, overlay dan lain-lain.

4. Pengukuran grafis dan visualisasi meliputi : transformasi skala, generalisasi, peta topografi, peta statistik, tampilan perspektif.

2.4.3. Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah : 1. Mahasiswa mendapat pengetahuan tentang GIS 2. Mahasisawa mampu melakukan digitasi

3. Dapat mempermudah mendapatkan informasi yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek

(46)

2.4.4. Tinjauan Pustaka 2.4.5.1. Pengeritan SIG

Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis (Arnoff, 1989). Secara umum pengertian SIG yaitu suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis.

Secara umum pengertiannya yaitu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis.

GIS sangat berguna untuk inventarisasi sumber daya alam, disaster management, penataan ruang dan pembangunan sarana dan prasarana, investasi bisnis dan ekonomi, untuk sektor pertahanan dan komunikasi dan untuk games, entertainment dan education.

2.4.5.2. Perkembangan GIS

Awal kemunculan SIG secara komputerisasi dimulai pada tahun 1964 melalui sebuah Canadian Geographic Information System Project (CGIS) di pemerintahan Kanada. Program tersebut antara lain didesain untuk menganalisis pengumpulan data lahan untuk membantu pengembangan lahan pertanian. Pada 1969, Jack Dangermond dari Universitas Harvard menemukan program Environmental Systems Research Institute (ESRI). ESRI mendominasi pemasaran SIG dan menghasilkan software ArcInfo dan ArcView. Pada 1970, diadakan kongres pertama mengenai SIG yang dilaksanakan oleh International Geographical Union (IGU). Kongres ini merupakan bukti bahwa pemanfaatan SIG sudah merupakan suatu kebutuhan secara global.

(47)

Pada 1980 dan 1990, kebanyakan aplikasi SIG secara substansial berevolusi melalui berbagai bentuk. Selama periode ini diperkirakan telah beroperasi sekitar 1.000 program SIG di Amerika Serikat. Beberapa jenis aplikasi komersial dirilis selama periode ini, seperti ArcInfo, ArcView, MapInfo, SPANS GIS, PAMAP GIS, INTERGRAPH, dan SMALLWORLD.

2.4.5.3. Perbedaan data vector dan data raster

Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah garis). Obyek yang dibangun pada data vektor umumnya tebagi pada tiga bentuk yaitu titik (point), garis (line) dan area (polygon). Format dari data vektor ini dikenal dengan shapefile.

Sedangkan data raster merupakan data yang strukturnya tersusun dalam bentuk matriks atau piksel dan membentuk grid.Setiap piksel memiliki nilai tertentu dan memiliki atribut tersendiri, termasuk nilai koordinat yang unik.Tingkat keakurasian model ini sangat tergantung pada ukuran piksel atau biasa disebut dengan resolusi. Model data ini biasanya digunakan dalam remote sensing yang berbasiskan citra satelit maupun airborne (pesawat terbang). Selain itu model ini digunakan pula dalam membangun model ketinggian digital (DEM-Digital Elevatin Model) dan model permukaan digital (DTM-(DEM-Digital Terrain Model).Format ini dikenal dengan TIFF, IMG, dan lain-lain.

2.4.5.4. Pengertian digitasi, datum dan koordinat

Digitasi secara umum dapat didefinisikan sebagai proses konversi data analog ke dalam format digital. Objek-objek tertentu seperti jalan, rumah, sawah dan lain-lain yang sebelumnya dalam format raster pada sebuah citra satelit resolusi tinggi dapat diubah kedalam format digital dengan proses digitasi. Datum adalah catatan keterangan atau informasi yang diperoleh dari sebuah peneliatian.

(48)

Dalam matematika, datum dapat berbentuk bilangan, lambang, sifat atau keadaan dari objek yang sedang di teliti. Datum-datum yang telah tersebut disebut data.

Koordinat adalah suatu titik hasil dari perpotongan antara garis lintang dan garis bujur yang menunjukan suatu objek baik itu orang, lokasi atau gedung dalam sebuah lokasi di lapangan atau bumi dengan di peta. Pengertian lain dari koordinat yang dilansir dari wikipedia, Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain.

2.4.5.5. Ruang lingkup GIS

Pada dasarnya pada SIG terdapat enam proses yaitu: 1. Input Data

Proses input data digunakan untuk menginputkan data spasial dan data non-spasial. Data spasial biasanya berupa peta analog. Untuk SIG harus menggunakan peta digital sehingga peta analog tersebut harus dikonversi ke dalam bentuk peta digital dengan menggunakan alat digitizer. Selain proses digitasi dapat juga dilakukan proses overlay dengan melakukan proses scanning pada peta analog. 2. Manipulasi Data

Tipe data yang diperlukan oleh suatu bagian SIG mungkin perlu dimanipulasi agar sesuai dengan sistem yang dipergunakan. Oleh karena itu SIG mampu melakukan fungsi edit baik untuk data spasial maupun non-spasial.

3. Manajemen Data

Setelah data spasial dimasukkan maka proses selanjutnya adalah pengolahan data non-spasial. Pengolaha data non-spasial meliputi penggunaan DBMS untuk menyimpan data yang memiliki ukuran besar.

4. Query dan Analisis

Query adalah proses analisis yang dilakukan secara tabular. Secara fundamental SIG dapat melakukan dua jenis analisis, yaitu:

(49)

1) Analisis Proximity merupakan analisis geografi yang berbasis pada jarak antar layer. SIG menggunakan proses buffering (membangun lapisan pendukung di sekitar layer dalam jarak tertentu) untuk menentukan dekatnya hubungan antar sifat bagian yang ada.

2) Analisis Overlay merupakan proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda. Secara sederhana overlay disebut sebagai operasi visual yang membutuhkan lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik.

5. Visualisasi

Untuk beberapa tipe operasi geografis, hasil akhir terbaik diwujudkan dalam peta atau grafik. Peta sangatlah efektif untuk menyimpan dan memberikan informasi geografis.

2.4.5.6. Aplikasi GIS di bidang teknik pertanian

GIS dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian dan perkebunan seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau saluran air. Anda dapat menggunakan GIS untuk menetapkan masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap kerusakan tanah yang terjadi karena perbedaan pembibitan, penanaman, atau teknik yang digunakan dalam masa panen. Misalnya GIS membantu menginventarisasi data-data lahan perkebunan tebu menjadi lebih cepat dianalisis. Proses pengolahan tanah, proses pembibitan, proses penanaman, proses perlindungan dari hama dan penyakit tananan dapat dikelola oleh manager kebun, bahkan dapat dipantau dari direksi.

GIS digunakan untuk membantu memantau dan mengendalikan irigasi dari tanah-tanah pertanian. GIS dapat membantu memantau kapasitas sistem, katup-katup, efisiensi, serta distribusi menyeluruh dari air di dalam sistem.

(50)

Gambar 9. Peta administratif Indonesia

(51)

2.4.5. Metoda Praktikum 2.4.5.1. Alat dan Bahan

Alat dan bahan pada praktikum ini yaitu softwere GIS. 2.4.5.2 Prosedur Kerja

1. Jalankan program Arcgis. Klik Start arcmap 10.2.2. tunggu beberapa saat akan muncul layar aktif Arcgis

2. Selanjutnya akan muncul lingkungan kerja Arcgis berupa blankmap

3. Masukkan peta yang sudah didownload dari google earth dengan klik add data  nama data  klik add

4. Lakukan registrasi peta dengan mengklik add control point, lalu arahkan pointer ke pertemuan antara koordinat y dan x yang telah ditentukan di google earth ( 4 titik) lalu klik kiri di tengah koordinat kemudian klik kanan input x dan y, sehingga keluar kotak dialog koordinat. Isilah koordinat peta. Lakukan pada 3 titik lainnya.

5. Selanjutnya klik georeferencing, pilih rectify dan update georeferencing untuk menyimpan koordinat

6. Setelah itu dimulai proses digitasi dengan membuat layer terlebih dahulu, klik catalog, kemuudian klik kanan pada peta, klik new  shape file lalu shape file create new ketik dan ubah polygon. Lalu klik ok.

7. Mulai digitasi dengan klik kanan pada layer yang telah dibuat, pilih edit features kemudian start editing, pastikan create features muncul

8. Ulangi langkah 6-7 untuk membuat jalan sungai, pemukiman, lahan kering, rawa, sawah dan sekolah

9. Selanjutnya disisipkan informasi pada peta seperti grid, legenda dan dataframe

10. Membuat grid dengan klik kanan pada peta, kemudian properties, pilih tab grid, new gird. Pilih measured grid lalu lanjutkan dengan klik next, hingga selesai dan klik finish.

(52)

11. Menambahkan legenda, klik tab insert kemudian legend akan muncul kotak dialog legenda yang akan ditampilkan. Silahkan atur berapa kolom agenda yang ditampilkan

12. Selanjutnya menambahkan data frame, klik insert kemudian pilih data frame, atur posisinya, setelah itu klik kanan pada kotak data frame pilih add data masukkan peta insert. Kemudian klik next sampai tombol finish.

13. Tambahkan judul peta dengan memilih insert dan klik tittle lalu ketikkan peta kelurahan posisikan di sisi yang diinginkan pada layout dan atur ukuran serta jenis tulisan berdasarkan keinginan

(53)

2.4.6. Hasil dan Pembahasan 2.4.6.1 Hasil

Pada praktikum objek 4 ini, output yang kami hasilkan yaitu peta lokasi masjid dan mushala yang telah didigitasi. Kami berhasil menyelesaikan digitasi kecamatan di Kota Padang. Karena kami masih pemula maka banyak polygon yang bolong karena digitasi kami kurang sempurna.

Gambar 10. Peta Digitasi Masjid dan Mushala

Sumber: Hasil Analisa Data Praktikum 2.4.6.2 Pembahasan

Pada objek GIS kami menggunakan software Arcgis untuk mendigitasi peta,tetapi sebelum mendigitasi peta, kita harus meregistrasi peta terlebih dahulu. Dalam meregistrasi peta kita harus memasukkan minimal tiga koordinat x dan y yang diolah sebelumnya menggunakan Microsoft Excel .Pada saat meregistrasi peta kita harus lebih teliti agar peta yang akan didigitasi nantinya tidak miring. Faktor yang mempengaruhi kesalahan registrasi pada peta biasanya adanya kesalahan dalam memasukkan koordinat x dan y,serta penggunaan tanda positif dan negative pada koordinat x dan y. Setelah peta diregistrasi maka langkah

(54)

polygon pada peta, setelah itu dilakukan pemotongan pada peta untuk membagi kecamatan. Setelah itu baru membuat bagian–bagian penting dari peta seperti jalan,sungai,dll. Pada pembuatan peta administrasi kota Padang pada praktikum yang telah kami laksanakan kami menggunakan UTM 1984 dan WGS 47.

(55)

2.4.7 Kesimpulan dan Saran 2.4.7.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa GIS dapat membantu dalam pemetaan, digitasi, data keruangan dan sebagainya. Sebelum meregistrasi peta, maka hal utama yang harus dilakukan adalah mencari nilai interpolasi x dan y di Excel terlebih dahulu. Ketika melakukan registrasi peta, jangan sampai salah memasukkan koordinat x dan y pada peta. Apabila terdapat kesalahan dalam menginput titik koordinat x dan y nya, maka pada saat selesai meregestrasi posisi peta administrasi akan miring.

Saat mendigitasi peta, skala yang digunakan adalah 1: 20000 untuk digitasi kecamatan, sedangkan untuk digitasi jalan dan sungai digunakan skal 1:15000 sehingga ukuran peta menjadi sangat besar. Oleh karena itu, titik-titik digitasi harus mengikuti garis poligon.

2.4.7.2 Saran

Adapun saran untuk praktikum ini yaitu:

1. Praktikan memperhatikan ketika asisten menerangkan pemakaian software GIS.

2. Praktikan harus sering bertanya agar tidak banyak melakukan kesalahan. 3. Pada saat mendigitasi harus sesuai dengan skala yang telah ditentukan.

Gambar

Gambar 1. Meteran
Gambar 3. Mistar
Tabel 1.  Jarak dari pengukuran kompas dan meteran
Gambar 4. Poligon terbuka
+7

Referensi

Dokumen terkait

Program ini dilaksanakan mulai awal pekan ke II dan III, pada pelaksnaan kegiatan ini kami dibantu oleh staf desa bersama kepala dusun yang terdiri dari 5 Dusun, yang walaupun

Sebelas Maret yang berjudul “ Asuhan Kebidanan Berkelanjutan Pada Ny F Umur 24 Tahun di Wilayah Puskesmas Nusukan Surakarta”.. Penulis menyadari kemampuan dan keterbatasan ilmu

Salah satu mata kuliah yang disajikan di Fakultas Teknik adalah Ilmu Ukur Tanah, dimana pengukuran merupakan dasar dan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan Sipil maupun

Ilmu  ukur  tanah  adalah  bagian  rendah  dari  ilmu  Geodesi,  yang  merupakan  suatu  ilmu  yang  mempelajari  ukuran  dan  bentuk  bumi  dan  menyajikannya 

Alat ukur kadar air pada kayu dapat dirancang dalam bentuk sederhana dan portable dengan menggunakan Probe Elektroda dengan menggunakan ADC ADS1115 sebagai

Ir.Nur Cholis,MSi LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ILMU PRODUKSI ANEKA TERNAK KOMODITI ULAT SUTERA.. SEMESTER

Laporan Tugas Akhir ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti ujian tugas akhir dalam menyelesaikan Pendidikan Diploma III Kebidanan pada Jurusan Ilmu

Laporan akhir praktikum Ilmu Tanah bagi mahasiswa Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah