KERUKUNAN

17 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB 1

BAB 1

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

1.1

1.1 LATAR BELAKANGLATAR BELAKANG  Negara

 Negara Indonesia Indonesia memiliki memiliki sebuah sebuah dasar dasar negara negara yaitu yaitu pancasila. pancasila. SebagaiSebagai sebuah dasar negara, segala bentuk kehidupan dan berbangsa di Indonesia tidak sebuah dasar negara, segala bentuk kehidupan dan berbangsa di Indonesia tidak  boleh

 boleh bertentangan bertentangan dengan dengan nilai-nilai nilai-nilai yang yang terkandung terkandung di di dalam dalam pancasilapancasila tersebut. Salah satu nilai yang menjadi dasar dari nilai-nilai yang lain yaitu nilai tersebut. Salah satu nilai yang menjadi dasar dari nilai-nilai yang lain yaitu nilai Ketuhanan yang terdapat dalam sila pertama. Selain itu pada konstitusi negara Ketuhanan yang terdapat dalam sila pertama. Selain itu pada konstitusi negara khususnya dalam Undang-undang No. 29 tahun 1945 menyatakan bahwa: negara khususnya dalam Undang-undang No. 29 tahun 1945 menyatakan bahwa: negara  berdasarkan

 berdasarkan atas atas Ketuhanan Ketuhanan Yang Yang Maha Maha Esa Esa (ayat (ayat 1) 1) dan dan negara negara menjaminmenjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (ayat 2).

untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (ayat 2).

Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa Indonesia adalah negara yang Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan memberikan memiliki kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan memberikan kebebasan penuh untuk memilih sebuah agama berdasarkan kepercayaan kebebasan penuh untuk memilih sebuah agama berdasarkan kepercayaan masing-masing warganya. Kebebasan ini dapat dibuktikan dengan banyaknya agama yang masing warganya. Kebebasan ini dapat dibuktikan dengan banyaknya agama yang  berkembang

 berkembang di di Indonesia. Indonesia. Di Di Indonesia Indonesia diakui diakui adanya adanya 5 5 negara negara yaitu yaitu AgamaAgama Hindu, Agama Islam, Agama Budha, Agama Kristen Protestan dan Agama Hindu, Agama Islam, Agama Budha, Agama Kristen Protestan dan Agama Kristen Katolik. Kondisi bangsa yang heterogen ini memungkinkan terjadi Kristen Katolik. Kondisi bangsa yang heterogen ini memungkinkan terjadi interaksi antara umat yang satu dengan umat yang lainnya. Interaksi antar umat interaksi antara umat yang satu dengan umat yang lainnya. Interaksi antar umat  beragama

 beragama ini ini ada ada yang yang memberikan memberikan dampak dampak positif positif dan dan ada ada pula pula yangyang memberikan dampak yang negatif. Baik buruknya dampak yang akan muncul memberikan dampak yang negatif. Baik buruknya dampak yang akan muncul tersebut sangat ditentukan oleh sejauh mana kesadaran umat beragama tersebut tersebut sangat ditentukan oleh sejauh mana kesadaran umat beragama tersebut terhadap pentingnya kerukunan antar umat beragama.

terhadap pentingnya kerukunan antar umat beragama.

Pada umumnya setiap agama mengajarkan umatnya untuk menjaga Pada umumnya setiap agama mengajarkan umatnya untuk menjaga kerukunan dengan sesama. Khususnya dalam Agama Hindu, untuk menciptakan kerukunan dengan sesama. Khususnya dalam Agama Hindu, untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama didasarkan pada beberapa ajaran yaitu tatwam kerukunan antar umat beragama didasarkan pada beberapa ajaran yaitu tatwam asi, karma phala, dan ahimsa. Tatwam asi merupakan ajaran sosial tanpa batas. asi, karma phala, dan ahimsa. Tatwam asi merupakan ajaran sosial tanpa batas. Aku adalah kamu, kamu adalah aku dan segala makhluk adalah sama sehingga Aku adalah kamu, kamu adalah aku dan segala makhluk adalah sama sehingga menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan begitu juga sebaliknya menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan begitu juga sebaliknya menyakiti orang lain adalah menyakiti diri sendiri. Ajaran ini telah tercermin menyakiti orang lain adalah menyakiti diri sendiri. Ajaran ini telah tercermin

(2)

sebagai upaya membina terwujudnya kerukunan beragama yang berlandaskan  pada prinsip tatwam asi, bahwa sebaiknya kita berbuat baiklah pada semua orang atau umat beragama lainnya. Selanjutnya ajaran karma phala merupakan hukum sebab akibat dalam Agama Hindu. Apa yang diperbuat akan menghasilkan buah yang akan dipetik dari hasil perbuatan yang kita lakukan. Berlandaskan pada keyakinan tersebut, maka setiap umat beragama dipacu untuk selau berbuat baik dengan berlandaskan dharma (kebajikan) sehingga kerukunan hidup umat  beragama senantiasa dapat dipupuk. Dan ajaran lainnya yaitu Ahimsa yang berarti

tidak membunuh, tidak menyakiti makhluk hidup lainnya. Dalam Ahimsa kita tidak diperbolehkan untuk menyakiti umat lain dengan niat yang tidak baik, atau  berkata-kata kasar, pedas, dan mencaci maki.

Khususnya di Indonesia yang memiliki kemajemukan dengan adanya  beragam agama, kerukunan sangatlah diperlukan. Hal ini karena dengan terwujudnya kerukunan antar umat beragama maka kesatuan dan keutuhan Negara Republik Indonesia dapat terjaga dan begitu pula sebaliknya jika kerukunan antar umat beragama tidak dapat terwujud maka perselisihan akan sangat mudah terjadi dimana-mana. Melihat pentingnya kerukunan dalam kehidupan beragama, maka dalam makalah ini penulis mengangkat judul “Kerukunan Hidup Umat Beragama”.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yakni sebagai berikut.

1.2.1 Bagaimanakah agama merupakan rahmat bagi semua?

1.2.2 Bagaimanakah hakikat kebersamaan dalam pluralitas beragama?

1.2.3 Apa saja faktor-faktor yang dapat mengganggu kerukunan hidup umat  beragama?

1.2.4 Bagaimanakah implementasi kerukunan hidup umat beragama?

1.3 TUJUAN

Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan yang ingin dicapai dalam  penulisan makalah yakni sebagai berikut.

(3)

1.3.2 Untuk mengetahui hakikat kebersamaan dalam pluralitas beragama. 1.3.3 Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mengganggu kerukunan

hidup umat beragama.

1.3.4 Untuk mengetahui implementasi kerukunan hidup umat beragama.

1.4 MANFAAT

Dalam penulisan makalah ini adapun manfaat yang diperoleh yakni menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang pembelajaran, khususnya mengenai kerukunan antar umat beragam.

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Agama merupakan Rakhmat bagi Semua

Semua umat beragama meyakini ajaran agama yang dipeluknya itu berasal dari Tuhan yang Maha Esa. Demikian pula umat Hindu meyakini Kitab Suci Veda sebagai himpunan Wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Divine Origin) disamping kitab-kitab lain yang merupakan tafsir atau memberi penjelasan terhadap Kitab Suci Veda. Di dalam Kitab Suci Veda kita menemukan banyak sabda Tuhan Yang Maha Esa yang mengamanatkan untuk menumbuhkembangkan kerukunan umat  beragama, toleransi, solidaritas dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan

tidak membedakan tentang keimanan yang dianutnya. Beberapa diantaranya: a. “Aku satukan pikiran dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di

antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat salah menuju jalan yang  benar” ( Atharvaveda III.8.5).

 b. “Wahai umat manusia! Bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya  para Dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena

itu ciptakanlah persatuan di antara kamu” ( Atharvaveda III.30).

c. “Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah  bersatu dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa dan ambillah keputusan dengan satu pikiran, seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibanmu” ( Rgveda X.191.2)

d. “Wahai umat manusia! Pikirkanlah  bersama. Musyawarahlah bersama. Satukanlah hati dan pikiranmu satu dengan yang lain. Aku anugrahkan  pikiran dan ide yang sama dan fasilitas yang sama pula untuk kerukunan

hidupmu” ( Rgveda X.191.3).

e. “Wahai umat manusia! Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkanlah saling pengertian diantara kamu. Dengan demikian Engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan” (Rgveda X.191.2).

Selain itu dalam doa puja umat Hindu sehari-hari dipanjatkan pula mantram yang universal untuk kebahagiaan semua mahluk, “Sarva prani hitankarah”, semoga mahluk (yang bernafas) senantiasa sejahtera, demikian pula dengan

(5)

mantra “Sarve bhavantu, sukhina sarve santu niramayah, sarve bhadrani pasyantu makascid, duhkha bhag bhawet”, tegas menyatakan semoga semuanya memperoleh kebahagiaan, semua memperoleh kedamaian, semoga tumbuh saling  pengertian dan semoga semuanya bebas dari penderitaan. Pandangan ini dilandasi dengan ajaran kitab suci Veda yang menyatakan bahwa “Semua mahluk sesungguhnya bersaudara” (vasudhaiva kutumbhakam).

Dengan pandangan yang Advaitik (Kesatuan) ini, agama Hindu memandang setiap manusia dan mahluk hidup lainnya adalah seperti dirinya sendiri, ia adalah saudara, ibu, bapak, adik, kakak, kakek dan nenek sendiri. Tentang hubungan antar agama, kitab suci Veda (Atharvaveda XII.1.45) mengamanatkan untuk memberikan penghargaan, toleransi yang sejati kepada penganut agama yang  berbeda-beda. Penghargaan dan toleransi yang sejati diamanatkan berulang kali di dalam kitab suci Veda, demikian pula dalam Bhagavad Gita (IV.II) ditemukan  penekanan yang sama “Jalan apapun orang menuju Aku, pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginannya, karena pada semua jalan yang ditempuh mereka adalah jalan-Ku”.

Hinduisme dapat disebut sebagai contoh pertama di dunia Agama misionaris. Hanya saja sifat misionarisnya berbeda dengan yang disosialisasikan dengan kepercayaan-kepercayaan yang menarik orang-orang untuk masuk dan menjadi pemeluk. Hinduisme tidak menganggap sebagai panggilan untuk membawa manusia kepada suatu kepercayaan. Sebab yang diperhitungkan adalah  perbuatan dan bukan keperayaan (Radhakrishnan, 2002.36).

Dalam usaha meningkatkan kerukunan antar umat beragama ini, kami kutipan pernyataan Svami Vivekananda pada penutupan sidang Parlemen Agama-Agama sedunia, seratus dua puluh tahun yang lalu tepatnya 27 September 1893 di Chicago, karena pernyataan yang disampaikan oleh pemikir Hindu terkenal lahir abad yang lalu itu senantiasa relevan dengan situasi saat ini. Pidato yang menggemparkan dunia dan memperoleh penghargaan yang tertinggi seperti tertulis oleh surat k abar Amerika sebagai berikut: “An orator by divine right and undoubted greatest in the Parliament of Religion” (Benyamin Walker, 1983:580). Kutipan yang amat berharga tersebut itu diulas pula oleh Jai Singh Yaday (1993) dan diungkapkan kembali oleh Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, (1993), sebagai

(6)

 berikut: “Telah banyak dibicarakan tentang dasar -dasar umum kerukunan agama. Kini saya tidak sekedar mempertaruhkan teori saya. Namun, jika ada orang yang  berharap bahwa kerukunan ini akan tercapai melalui kemenangan dari suatu

ajaran agama lainnya, maka kepadanya saya akan katakana, “saudara harapan Anda ini hanyalah impian yang mustahil” (Svami Mumukshananada, 1992:24).

Pada akhir pidatonya, Svami Vivekanda melihat bahwa sukses besar dari Parlemen Agama-Agama ini membuktikan pada dunia: kesucian hati, kemurnian dan kebaikan hati, bukan milik eksklusif perorangan lagi. Dalam hubungan dengan bukti ini, Vivekananda kembali menegaskan: “Jika seseorang secara eksklusif memimpikan kelangsungan agama dan kehancuran lainnya, dari lubuk hati yang paling dalam saya menaruh kasihan kepadanya dan akan menunjukkan kepadanya melalui sebuah spanduk setiap agama akan segera ditulis, walaupun sedikit ditentang. “Saling menolong dan tidak bermusuhan”, ”Berbaur dan tidak menghancurkan”, “Harmoni, damai serta tidak berselisih” (Loc Cit). Pernyataan Svami Vivekanda dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan kerukunan hidup antar umat beragama dewasa ini untuk bersama-sama membangun masa depan  bersama.

2.2 Hakikat Kebersamaan dalam Pluralitas Beragama

Perang antar umat beragama adalah hasil dari fanatisme yang membenarkan  pembunuhan dari orang-orang yang berbeda kepercayaannya hampir-hampir t idak dikenal di dalam budaya Hindu. Hinduisme tidak pernah menganjurkan hukuman terhadap mereka yang tidak memiliki kepercayaan yang sama. Agama Hindu juga tidak pernah menganggap lain terhadap suku, agama, yang berbeda di Indonesia  bahkan di dunia karena dipengaruhi oleh ajaran Tat Twam Asi, bahwa atman

yang pada masing-masing mahluk bersumber pada Tuhan Yang Maha Esa (paramatma). Aplikasinya menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri. Pengertian ini tercermin dalam dasar-dasar budi pekerti yaitu kalau ingin dihormati, hormatilah orang lain.

Bagi Hindu orang yang mencapai surga adalah siapa saja yang tidak terikat terhadap objek-objek duniawi dan memiliki karma sesuai dengan ajaran agama yang mempunyai sraddha yang kuat terhadap Tuhan. Jadi tidak membedakan kelas, status dan agama manusia. Demikian pula dalam berdoa, tidak hanya

(7)

mendoakan keselamatan umat Hindu saja, melainkan mendoakan keselamatan  bagi semua mahluk yang ada di dunia. Toleransi agama adalah salah satu tema dari Maklumat Asoka: “Raja yang dicintai oleh Dewata menghargai setiap bentuk dari keimanan beragama, tetapi menganggap tiada satupun pemberian atau kehormatan yang melebihi dari penambahan sari agama karena inilah akarnya untuk menghormati keimanan seseorang tidak pernah menghina keimanan orang lain”. Siapapun bertindak berlainan berarti melukai agamanya sendiri, sedang dia sendiri berbuat kesalahan terhadap orang lain. Semua susastra dari semua bentuk agama akan berada di bawah perlindungan saya. Penguasa Hindu dan Buddha di India bertindak dengan menggunakan azas ini dan sebagai akibatnya mereka yang dihukum karena alasan-alasan agama dan pelarian dari berbagai agama menemui tempat perlindungan di India.

Demikian pula di Indonesia pada masa kejayaannya Majapahit kita temukan  betapa kerukunan hidup beragama telah dapat diwujudkan, Bhineka Tunggal Ika yang kini menjadi lambang Negara tersurat dalam pita yang dibawa oleh burung Garuda Pancasila merupakan produk dari Kerajaan Nasional. Pada zaman Majapahit agama Hindu dan Buddha berkembang dengan berbagai sekta dari kedua agama tersebut yang mendapat tempat di hati sang Raja. Di Bali, hubungan antar umat beragama telah berjalan harmonis sejak masa kerajaan Hindu dimasa lalu. Pada masa kerjaan Hindu di Bali, kita jumpai komunitas Islam hampir terbesar di 8 kerajaan Bali pada saat itu. Mereka umumnya diberi tugas sebagai sah Bandar, sebagai pemelihara gajah atau kuda-kuda kerjaan dan profesi l ainnya. Hubungan yang harmonis antar umat beragama kita warisi hingga kini  berupa kearifan-kearifan yang perlu dilestarikan terus. Kearifan masa lalu, ketika

kerjaan Hindu di Bali bersentuhan dan mengenai agama lain, pada masyarakat Bali muncul rasa persaudaraan yang tulus. Kerukunan hidup beragama dalam  Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, serta menjunjung tinggi Sila 1

(Pertama), yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan tugas dan kewajiban kita  bersama. Sebagai umat beragama hal ini secara jelas telah ditetapkan oleh

Pemerintah dengan Tri Kerukunan hidup beragama, yang menjadi tugas Departemen Agama selaku membina dan pengawasannya.

(8)

Tri Kerukunan hidup umat beragama meliputi: 1. Kerukunan intern umat beragama 2. Kerukunan antar umat beragama

3. Kerukanan umat beragama dengan Pemerintah.

Kerukunan itu dapat dicapai kalau ada kerukunan dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatan (pelaksana), disertai kesadaran yang tinggi dan ketulusan harti nurani manusia.

2.3 Faktor-faktor Pengganggu Kerukunan Hidup Umat Beragama

Kehidupan bersama dalam lingkungan sosial yang heterogen tidak selamanya dapat mewujudkan kehidupan yang rukun. Hal yang tidak dinginkan seringkali terjadi, terlebih lagi karena masalah agama yang sangat prinsipil. Menurut perspektif Hindu adapun beberapa faktor yang dapat mengganggu kerukunan hidup umat beragama yakni sebagai berikut.

a. Sat Ripu

Kata sad ripu berasal dari dua kata yaitu sad yang berarti enam dan ripu  berarti musuh. Jadi sad ripu dapat diartikan sebagai enam musuh utama dalam diri

manusia. Ke-enam musuh tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kama artinya sifat penuh nafsu indriya terutama nafsu sex.

 Nafsu seksual yang tidak pada tempatnya (berzinah) dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi diri sendiri seperti berbagai penyakit kelamin, misalnya HIV/AIDS dan kerugian bagi orang lain maupun lingkungan yaitu  bahkan menimbulkan pertengkaran yang dapat mengganggu kerukunan

hidup umat beragama.

2. Lobha artinya sifat loba dan serakah.

Misalnya perbuatan menggelapkan hak orang lain, korupsi, merampas secara paksa hak-hak orang lain, dan lain-lain. Semua perbuatan ini dapat menimbulkan penderitan pada orang lain. Apabila si korban tidak bisa menerima perlakuan tersebut dapat menimbulkan percekcokan yang pada akhirnya dapat mengganggu kerukunan hidup umat beragama.

3. Krodha artinya sifat pemarah atau mudah marah.

Kemarahan atau orang yang marah dapat menimbulkan penderitaan bagi orang lain. Kemarahan yang diwujudkan dengan kekerasan, misalnya

(9)

membunuh, membakar, mencelakai, dan lain-lain dapat mengganggu kerukunan dan kedamaian di dalam kehidupan sosial.

4. Mada artinya sifat suka mabuk-mabukan

Kebiasaan buruk mabuk-mabukan dapat menimbulkan perbuatan diluar akal sehat manusia misalnya perkelahian yang akan dapat mengganggu kerukunan hidup umat beragama.

5. Moha artinya sifat angkuh dan sombong.

Sifat angkuh dan menyombongkan agama sendiri tanpa menghargai agama orang lain dapat menimbulkan perbuata yang akan dapat mengganggu kerukunan hidup umat beragama.

6. Matsarya artinya sifat dengki dan iri hati

Sifat dengki dan iri hati adalah sifat yang paling rentang menyebabkan kerukunan umat beragama. Hal ini karena seseorang yang memiliki sifat dengki dan iri hati yang berlebihan dapat membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan agama orang lain. Hal ini tentu akan menyebabkan kerukunan hidup umat beragama sulit untuk diwujudkan. Dalam Bhagavadgita XVI.21-22, kama (nafsu sex), krodha (marah) dan lobha (serakah) disebutkan sebagai tiga jalan menuju neraka (Triwidham

narakasye’dam), Jalan untuk menuju kehancur an diri (dwaram nasanam atmanah), sehingga ketiganya harus disingkirkan (tasmad etat trayam tyajet) dari diri manusia. Orang yang bisa membebaskan diri dari kemarahan, keserakahan, dan nafsu sexual yang tidak pantas dan berbuat untuk kemuliaan Tuhan Yang Maha Esapada akhirnya dapat mencapai tempat yang tertinggi yaitu sorga bahkan moksa.

 b. Sad Atatayi

Selain enam musuh utama dalam diri manusia, dalam agama hindu terdapat  pula Sad Atatayi yaitu enam kejahatan yang membuat manusia menderita, yang

dapat mengganggu kerukunan hidup umat beragama. Adapun bagian-bagian dariSad Atatayi tersebut yaitu:

1. Agnida yang berarti membakar milik orang lain.

(10)

3. Atharwa yang berarti menggunakan ilmu hitam (black magic), misalnya: santet, sihir, gendam, leak dan lain-lain yang bertujuan untuk menyengsarakan orang lain.

4. Sastraghna yang berarti mengamuk atau membunuh.

5. Dratikrama yang berarti memperkosa termasuk juga pelecehan se xual. 6. Rajapisuna yang berarti memfitnah.

2.4 Implementasi Kerukunan Hidup Umat Beragama

Di dalam hidup bersama, interaksi sosial adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. setiap orang pasti akan berhubungan dengan orang lain. Di dalam hubungan sosial tersebut kerukunan adalah hal yang paling penting untuk menciptakan kehidupan yang damai dan tenang terlebih lagi di Indonesia yang kaya akan kemajemukan salah satunya yaitu kemajemukan agama. Dalam agama Hindu terdapat beberapa ajaran yang menuntun dan melatih pemeluknya untuk selalu mengimplementasikan kerukunan tersebut. Butiran-butiran kerukunan tersebut antara lain yaituTri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha, Ahimsa, Karma Phala, dan Tat Twam Asi.

a. Tri Hita Karana

Kata Tri Hita Karana berasal dari tiga kata yaitu Tri artinya tiga, Hita artinya kebahagiaan, dan Karana artinya penyebab. Sehingga Secara harfiah Tri Hita Karana dapat diartikan tiga penyebab kebahagiaan. Adapun unsur-unsur Tri Hita Karana adalah :

1. Parhyangan, yaitu membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

2. Pawongan, yaitu membina hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga tercipta keselarasan, keserasian dan keseimbangan. 3. Palemahan, yaitu membina hubungan yang harmonis antara manusia

dengan alam lingkungannya.

Secara keseluruhan Tri Hita Karana merupakan tiga unsur keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang dapat mendatangkan kesejahteraan, kerukunan dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia. Ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan karena merupakan penyebab yang satu

(11)

dengan yang lainnya selalu berjalan secara bersamaan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Manusia senantiasa ingat akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa taqwa kepada Tuhan, senantiasa mohon keselamatan dan senantiasa pula tidak lupa memohon ampun atas segala kesalahan yang diperbuat  baik kesalahan dalam berpikir, berkata maupun kesalahan dalam perbuatan yang

nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lain atau berhubungan sesama manusia dengan mengembangkan sikap saling asah, saling asih dan saling asuh sehingga tercipta kerukunan hidup yang selaras, serasi dan seimbang sesuai dengan sloka yang terdapat dalam Kekawin Ramayana “ Prihen temen dharma dumeranang sarat, Saraga Sang Sadhu sireka tutana, Tan harta tan kama  pidonya tan yasa, Ya sakti Sang Sajjana dharma raksaka” . Manusia senantiasa  berhubungan dengan alam lingkungannya dengan maksud untuk melestarikannya

demi tercapainya kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kebahagiaan yang kekal baik di dunia maupun di akhirat kemudian hari. Merusak alam lingkungan sama artinya merusak kehidupan manusia itu sendiri karena segala kebutuhan manusia terdapat dalam lingkungan alam itu sendiri, baik binatang maupun tumbuh-tumbuhan dan segala sesuatu yang terpendam di dalam alam semesta sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

 b. Tri Kaya Parisudha

Kata Tri Kaya Parisudha berasal dari tiga kata yaitu tri artinya tiga, kaya artinya prilaku, parisudha artinya semuanya suci. Sehingga Tri Kaya Parisudha dapat diartikan sebagai prilaku yang suci. Adapun unsur-unsur Tri Kaya Parisudha adalah sebagai berikut.

1. Manacika Parisudha, yaitu berpikir yang suci, baik dan benar. 2. Wacika Parisudha, yaitu berkata yang suci, baik dan benar. 3. Kayika Parisudha, yaitu berbuat yang suci, baik dan benar.

Dalam ajaran Agama Hindu, Tri Kaya Parisudha merupakan suatu etika sopan santun dan budi pekerti yang luhur yang harus dilaksanakan dalam kehidupan nyata sehari-hari untuk menghindari adanya rasa kurang menghormati harkat dan martabat manusia yang dapat menimbulkan kemarahan dan rasa dendam yang berkepanjangan di antara sesama manusia.

(12)

Oleh karena itu, ajaran Tri Kaya Parisudha sangat perlu diperhatikan dan dihayati dalam menciptakan kerukunan hidup antar umat beragama. Manusia hendaknya selalu berpikir yang suci, baik dan benar yang merupakan langkah awal untuk melangkah lebih lanjut. Kesalahan dalam berpikir walaupun tidak dilanjutkan dengan perkataan dan perbuatan sudah merupakan suatu pelanggaran dan menghasilkan hal yang tidak baik. Selanjutnya manusia hendaknya selalu  berkata yang suci, baik dan benar agar tidak menyinggung perasaan orang lain

yang dapat menimbulkan kemarahan dan rasa sakit hati yang mengakibatkan  permusuhan di antara sesama manusia. Oleh karena itu setiap manusia hendaknya

selalu berupaya agar dapat berkata yang baik sehingga enak didengar yang dapat menimbulkan rasa simpati setiap manusia dalam berinteraksi. Rasa simpati manusia dapat mewujudkan kerukunan dalam kehidupan.

Selain itu manusia hendaknya senantiasa dapat berbuat dan bertingkah laku yang suci, baik dan benar sehingga tidak merugikan orang lain bahkan perbuatan itu selalu dapat menyenangkan orang lain dan bermanfaat bagi kehidupan manusia yang merupakan kebajikan dapat meringankan penderitaan sesama manusia. Dalam ungkapan Sarasamuscaya manusia hendaknya dapat berbuat dan  bertingkah laku untuk menyenangkan orang lain (Angawe sukaning wong len)

sehingga akan terwujud kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. c. Ahimsa

Secara etimologi, ahimsa berarti tidak membunuh, tidak menyakiti makhluk hidup lainnya. “Ahimsa parama dharmah” yang berarti tidak menyakiti adalah kebajikan yang utama atau dharma tertinggi. Hendaknya setiap perjuangan membela kebenaran tidak dengan perusakan-perusakan, karena sifat merusak, menjarah, memaksakan, mengancam, menteror, membakar dan lain sebagainya sangat bertentangan dengan ahimsa karma, termasuk menyakiti hati umat lain dengan niat yang tidak baik, atau dengan berkata-kata kasar, pedas dan mengumpat.

Keutamaan ahimsa karena nilainya yang begitu tinggi sebagaimana yang diungkapkan dengan kalimat-kalimat lainnya sebagai berikut: Ahimsaayah paro dharmah, ahimsaa laksano dharmah, ahimsaa parama tapa, ahimsaa parama satya, maksudnya: Ahimsa adalah kebajikan tertinggi, perbuatan dharma, pengendalian

(13)

diri tertinggi dan kebenaran tertinggi). Ahimsa adalah perjuangan tanpa kekerasan, termasuk tanpa menentang hukum alam. Jadi ahimsa, mengandung  pengertian tidak melakukan kekerasan dalam bentuk tidak membunuh makhluk hidup apapun, ahimsa juga dimaksudkan tidak melakukan kekerasan agar tidak menyakiti hati orang lain sehingga dapat menciptakan kehidupan yang rukun antar umat beragama.

d. Karma Phala

Karma phala adalah merupakan sradha (keimanan) ke tiga Panca Sradha. Karma berarti perbuatan, dan phala berarti hasil atau buah. Sehingga Karma phala merupakan hasil dari suatu perbuatan atau suatu hukum sebab akibat (causalitas). Umat Hindu sangat meyakini akan kebenaran hukum ini. Apapun yang dilakukan sengaja maupun tidak sengaja akan menimbulkan dampak. Segala sebab yang  berupa perbuatan akan membawa akibat hasil perbuatan. Segala karma

(perbuatan) akan mengakibatkan karma phala (hasil atau phala perbuatan). Ini merupakan dalil yang logis, yaitu setiap sebab pasti menimbulkan akibat dan setiap akibat yang ada pasti ada penyebabnya. Antara sebab dan akibat tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, diibaratkan diri kita dengan ba yangannya, bayangan akan selalu mengikuti kemanapun kita akan pergi.

Perbuatan yang baik yang dilakukan akan mendatangkan hasil yang baik, demikian juga perbuatan yang buruk pasti akan mendatangakan hasil yang buruk  pula. Batu dengan batu, atau kayu dengan kayu bila digosok-gosok menimbulkan

akibat yaitu panas. Hukum ini berlaku pada semua makhluk hidup, lebih-lebih  pada kehidupan manusia sebagai makhluk utama tidak perlu disangsikan lagi

dampak yang akan ditimbulkannya, hanya waktu untuk menerima hasil perbuatan  berbeda-beda, ada yang cepat dan ada pula yang lambat, dan bahkan bisa pula

diterima dalam penjelmaan berikutnya. Oleh karena itu, berlandaskan pada keyakinan tersebut, dalam memupuk kerukunan hidup beragama senantiasa  berbuat baik berlandaskan dharma.

e. Tat Twam Asi

Apabila diterjemahkan secara artikulasi Tat Twam Asi berarti Itu adalah Kamu atau Kamu adalah Itu. Dalam pergaulan hidup sehari-hari hendaknya

(14)

manusia senantiasa berpedoman kepada Tat Twam Asi, sehingga tidak mudah melaksanakan perbuatan yang dapat menyinggung perasaan bahkan dapat menyakiti hati orang lain yang pada akhirnya menimbulkan rasa iri hati dan benci. Ajaran Tat Twam Asi berhulu kepada tepa selira atau tenggang rasa  yang dapat menuntun sikap dan prilaku manusia senantiasa tidak melaksanakan perbuatan yang dapat menimbulkan sakit hati sehingga terjadi perpecahan dan permusuhan. Bila diri kita sendiri tidak merasa senang disakiti apa bedanya dengan orang lain. Maka dari itu janganlah sekali-kali menyakiti hati orang lain. Dan sebaliknya  bantulah orang lain sedapat mungkin kamu membantunya, karena sebenarnya semua tindakan kita juga untuk kita sendiri. Sehingga dengan menghayati dan mengamalkan ajaran ini dengan baik, maka akan terwujud suatu kerukunan.

Untuk mendapat gambaran lebih lanjut di bawah ini beberapa sloka Kerukunan yang terdapat dalam Kitab Suci Agama Hindu antara lain:

1. Berkumpul-kumpullah, bermusyawarahlah, Satu sama lain satukanlah semua pikiranmu, Dewa pada jaman dulu, Senantiasa dapat bersatu. (Rg Veda X.191.2)

2. Samalah hendaknya tujuanmu, Samalah hendaknya hatimu, Samalah hendaknya pikiranmu, Semoga semua hidup bahagia bersama. (Rg Veda X.191.4)

3. Semua teman senang hati dalam persahabatan yang datang, dengan kejayaan setelah berhasil dalam permusyawaratan, Tuhan sesungguhnya  pelindung kita dari kejahatan, yang memberi makan, bersiap baik untuk  pemulihan. (Rg Veda X.17.10)

4. Apabila tidak ada orang yang ksamawan, sabar, tahan uji, Bagaikan Ibu Pertiwi niscaya tidak ada kepastian persahabatan, Melainkanjiwa murka menyelubungi sekalian makhluk. Karenanya pasti bertengkar satu sama lainnya. (Sarasamuscaya, 94)

5. Dengan ini pujalah dewata, Semoga dewata memberkati engkau, Dengan saling menghormati begini, Engkau mencapai kebajikan tertinggi. (Bhagawadgita, III,II)

Dari beberapa kutipan yang terdapat dalam Kitab Suci tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa semua manusia mendambakan adanya penyesuaian

(15)

 pikiran dan tujuan untuk mencapai hidup bersama yang bahagia. Hal tersebut sekaligus untuk mengantisipasi sikap-sikap yang negatif yang sering muncul dalam masyarakat kita yang majemuk seperti misalnya sikap fanatisme buta yaitu sikap yang meyakini kebenaran mutlak yang ada pada agama yang dipeluknya. Penganut sikap fanatisme buta ini menganggap rendah agama lain namun sensitif terhadap agamanya sendiri. Sikap semacam ini banyak menimbulkan ketegangan,  pertengkaran dan permusuhan antar agama.

(16)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, adapun beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari penulisan makalah ini yakni sebagai berikut.

Agama merupakan rahmat bagi manusia di mana semua umat beragama meyakini ajaran agamanya berasal dari Tuhan yang Maha Esa. Khususnya bagi umat Hindu meyakini Kitab Suci Veda mengandung sabda Tuhan Yang Maha Esa yang mengamanatkan untuk menumbuhkembangkan kerukunan umat beragama, toleransi, solidaritas dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan tidak membedakan tentang keimanan yang dianutnya. Hakikat kebersamaan dalam  pluralitas beragama dapat dilihat dari Tri Kerukunan Umat Beragama. Hinduisme

tidak pernah menganjurkan hukuman terhadap mereka yang tidak memiliki kepercayaan yang sama serta tidak pernah membeda-bedakan suku, agama yang ada di Indonesia bahkan di dunia karena dipengaruhi oleh ajaran Tat Twam Asi,  bahwa atman yang pada masing-masing mahluk bersumber pada Tuhan Yang

Maha Esa (paramatma).

Hidup dalam kemajemukan agama tidak jarang menimbulkan ketidakrukunan. Dalam perspektif hindu adapun beberapa faktor peyebab ketidakrukunan umat beragama yaitu sad ripu yakni enam musuh utama dalam diri manusia dan sad atatayi yakni enam kejahatan yang membuat manusia menderita. Selain itu dalam agama hindu beberapa ajaran yang diyakini sebagai  bentuk implementasi kerukunan hidup beragama antara lain tri hita karana yang

dapat diartikan tiga penyebab kebahagiaan yang terdiri atas parhyangan,  pawongan, dan palemahan. Tri kaya parisudha yaitu ajaran yang menekankan  pada perilaku yang benar dan suci sebagai bentuk etika sopan santun dan budi  pekerti yang luhur. ajaran yang lain yaitu ahimsa yang berarti tidak membunuh, tidak menyakiti makhluk hidup lainnya. Karma phala yang artinya hasil dari suatu  perbuatan atau suatu hukum sebab akibat serta ajaran tat twam asi yang

(17)

3.2 Saran

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan dalam penulisan makalah ini, yaitu sebagai mahasiswa yang sekaligus umat beragama hendaknya wajib menjaga kerukunan dalam kehidupan beragama dengan berpedoman pada ajaran agama. Karena dengan terciptanya kehidupan yang rukun maka segala tujuan dan keinginan bersama akan dapat tercapai serta jangan biarkan kemajemukan menjadi penyebab perpecahan tetapi manfaatkanlah kemajemukan tersebut sebagai pendorong untuk hidup bersama demi terciptanya kerukuna dalam hidup  bersama.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :