• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Ekonomi Kota Kotamobagu 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Indikator Ekonomi Kota Kotamobagu 2013"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

ANALISIS INDIKATOR EKONOMI MAKRO ANALISIS INDIKATOR EKONOMI MAKRO KOTA KOTAMOBAGU 2013

KOTA KOTAMOBAGU 2013

Katalog BPS /

Katalog BPS / BPS Catalogue BPS Catalogue : : 9302008.71749302008.7174 Ukuran Buku /

Ukuran Buku / Book Size Book Size : : 21 cm 21 cm x 29.7 x 29.7 cmcm Jumlah Halaman /

Jumlah Halaman / Number of Pages Number of Pages : xiii + 48 Halaman / : xiii + 48 Halaman / Pages Pages  Naskah /

 Naskah / Manuscript Manuscript ::

Badan Perencanaan Pembangunan, Litbang dan Penanaman Modal Badan Perencanaan Pembangunan, Litbang dan Penanaman Modal Kota Kotamobagu

Kota Kotamobagu

 Board of Planning of Ko

 Board of Planning of Kotamobagu Regtamobagu Regencyency &

&

Badan Pusat Statistik Kota Kotamobagu Badan Pusat Statistik Kota Kotamobagu Statistics of

Statistics of KotamobaguKotamobagu

Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya  May be cited with reference to the source  May be cited with reference to the source

(5)

WALIKOTA KOTAMOBAGU Ir. Hj. Tatong Bara

(6)

WAKIL WALIKOTA KOTAMOBAGU Drs. Djainuddin Damopolii

(7)

WALIKOTA

KOTA KOTAMOBAGU

KATA SAMBUTAN

Saya menyambut dengan gembira penerbitan publikasi Indikator Ekonomi Makro Kota Kotamobagu Tahun 2013. Karena ini merupakan salah satu analisis yang penting, khususnya bagi Kota Kotamobagu, dalam rangka menunjang peningkatan kualitas perencanaan secara menyeluruh dan terpadu, serta sekaligus sebagai acuan evaluasi kinerja pelaksanaan pembangunan ekonomi  pada tahapan sebelumnya.

Mengingat besarnya kegunaan indikator Ekonomi ini bagi perencanaan daerah, maka kepada Kepala Badan Pusat Statistik Kota Kotamobagu, yang telah  berupaya dengan sungguh-sungguh dalam penerbitan publikasi ini serta kepada semua pihak yang telah membantu penyediaan data, saya minta agar lebih meningkatkan kerjasama sehingga penerbitan ini dapat berkesinambungan.

Harapan saya agar penghitungan indikator ekonomi ini semakin diperluas dan ditingkatkan agar Pemerintah Daerah memiliki indikator yang tepat untuk melihat kemajuan dan keberhasilan pembangunan daerah.

Kotamobagu, Juli 2014 Walikota Kotamobagu

(8)

BPS Kota Kotamobagu dapat menyelesaikan publikasi “ANALISIS INDIKATOR EKONOMI MAKRO KOTA KOTAMOBAGU TAHUN 2013“.

Publikasi ini menyajikan data pertumbuhan ekonomi, klasifikasi daerah menurut perkembangan ekonominya, penerimaan dan belanja daerah Kota Kotamobagu, dengan analisis deskriptif serta metodologinya.

Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada Walikota Kotamobagu, atas perhatian yang diberikan sehingga penerbitan publikasi ini dapat terwujud. Kami harapkan semoga hubungan kerjasama yang telah terjalin dapat terus berlanjut, terutama dalam penyediaan data untuk penghitungan Indikator Ekonomi Kota Kotamobagu pada tahun - tahun berikutnya.

Kami mengharapkan tanggapan dan saran dari para pemakai untuk  perbaikan publikasi yang akan datang dan semoga data statistik yang disajikan

dapat berguna.

Kotamobagu, Juli 2014 Kepala Badan Pusat Statistik

Kota Kotamobagu,

Sirly Worotikan, SE, MSi.  NIP. 19680828 199401 2 001

(9)

Hal

Foto Walikota ………  iii

Foto Wakil Walikota ……… iv

Kata Sambutan ………... v

Kata Pengantar ……… vi

Daftar Isi vii Daftar Gambar ix Daftar Tabel x Daftar Lampiran xi Bab I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 1.3 Manfaat ... 3

Bab II. METODOLOGI 2.1 Konsep dan definsi ... 4

2.1.1 Produk Domestik Bruto (PDB)……….. 4 2.1.2. Produk Domestik Regional Bruto ... 5

2.1.3. PDRB Perkapita ... 7

2.1.4. Tipologi Klassen ... 8

2.1.5. Keuangan daerah... 9

2.1.6. Indeks Pembangunan Manusia………. 10

Bab III. Pembahasan 3.1 Pertumbuhan Ekonomi ... 12

3.2 Pendapatan Domestik Regional Bruto Perkapita ... 13

(10)

3.3.3 Sektor Tersier……… 20

3.4 Klassen Tipology………

3.4.1 Daerah Cepat Maju dan Cepat Tumbuh 23

3.4.2 Daerah Maju Tapi Tertekan 24

3.4.3 Daerah Berkembang Cepat 24

3.5 Keuangan Daerah 25

3.6 Indeks Pembangunan Manusia 29

Kesimpulan………… ... 38 Lampiran ... 41

(11)

Gambar 1. Klasifikasi Daerah Berdasarkan Tipology Klassen ... 9

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Kotamobagu dan Sulawesi Utara……. 13

Gambar 3. Struktur Ekonomi dan Pertumbuhan Sektoral ... 14

Gambar 4. Kontribusi Sektor Primer Terhadap PDRB ... 18

Gambar 5. Kontribusi Sektor Sekunder Terhadap PDRB ... 19

Gambar 6. Kontribusi Sektor Tersier Terhadap PDRB ... 21

Gambar 7. Klasifikasi Daerah di Sulawesi Utara tahun 2008-2011………... 23 Gambar 8. Pendapatan Daerah beserta Komponennya tahun 2009-2012… 26 Gambar 9. Pendapatan Asli Daerah dan Komponennya………. 27

(12)

Tabel 1. Kontribusi Sektoral PDRB atas Dasar Harga Berlaku

2010-2013 ... 15 Tabel 2. Pos Belanja APBD Tahun 2010-2013 (dalam Milyar

Rupiah) ... 27 Tabel 3. IPM Kota Kotamobagu dan Kabupaten/Kota Pembanding

di Sulawesi Utara tahun 2009-2013………...

31 Tabel 4. Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara……….. 32 Tabel 5. ndeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara

Tahun 2009-2013………..

34 Tabel 6. Tingkat Melek Huruf Kabupaten/Koa di Sulawesi Utara… 35 Tabel 7. ata-Rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Sulawesi

Utara tahun 2013………..

36 Tabel 8. engeluaran Riil perkapita Kabupaten/Kota di Sulawesi

Utara………..

(13)

Daftar Lampiran

Lampiran 1. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Usaha di Kota Kotamobagu 2010 –  2013………... 42 Lampiran 2. PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan

Usaha di Kota Kotamobagu 2010 –  2013………... 43 Lampiran 3. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan

tahun 2011-2013 ……… 44

Lampiran 4. PDRB Perkapita Kabupaten /Kota di Sulawesi Utara

Tahun 2009-2013……… 45

Lampiran 5. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten /Kota di Sulawesi

Utara Tahun 2008-2011………. 46

Lampiran 6. Realisasi Pendapatan dan Belanja APBD Kotamobagu

(14)

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, maka setiap Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai daerah otonom dituntut untuk dapat mengembangkan dan mengoptimalkan semua potensi daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada hakekatnya otonomi daerah adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan  perundang-undangan. Pelaksanaan otonomi daerah yang efektif berjalan sejak 1 Januari 2001 memberikan energi baru bagi pembangunan daerah khususnya bagi Kotamobagu sebagai kota hasil pemekaran daerah.

Dalam proses perencanaan, salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan  pemerintah adalah dengan membuat suatu rencana ekonomi. Rencana ekonomi yang baik tentunya memerlukan data sebagai bahan acuan perencanaan. Indikator ekonomi makro yang sering digunakan sebagai acuan untuk proses perencanaan dan evaluasi proses pembangunan antara lain Pertumbuhan Ekonomi (LPE), Pendapatan Perkapita dan Inflasi. Dengan tersedianya indikator ekonomi makro yang berkesinambungan, akan membantu para perencana dalam proses  pembangunan itu sendiri sehingga menjadi lebih efisien dan efektif.

(15)

Pembangunan ekonomi berarti adanya suatu proses pembangunan yang terjadi terus menerus yang bersifat menambah dan memperbaiki segala sesuatu menjadi lebih baik lagi. Adanya proses pembangunan itu di diharapkan adanya kenaikan pendapatan riil masyarakat berlangsung untuk jangka panjang.

Teori pertumbuhan ekonomi bisa didefinisikan sebagai penjelasan mengenai faktor faktor apa yang menentukan kenaikan output perkapita dalam  jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut

sehingga terjadi proses pertumbuhan (Boediono 1999:2). Pertumbuhan ekonomi sebagai suatu proses peningkatan kapasitas produktif dalam suatu perekonomian secara terus-menerus atau berkesinambungan sepanjang waktu sehingga menghasilkan tingkat pendapatan dan output nasional yang semakin lama semakin  besar. Karakter pertumbuhan ekonomi (character of economic growth) yaitu  bagaimana cara mencapainya, siapa yang berperan serta, sektor-sektor mana saja yang mendapat prioritas, lembaga-lembaga apa yang menyusun dan yang mengatur, dan sebagainya; yang menentukan apakah pertumbuhan ekonomi mempengaruhi perbaikan taraf kehidupan masyarakat miskin atau tidak.

Untuk melihat sejauh mana pertumbuhan ekonomi suatu daerah diperlukan informasi-informasi pendukung dan penunjang terutama data dan hasil analisis  perekonomian terbaru suatu daerah agar pembangunan dapat terus dilakukan. Kotamobagu sebagai salah satu daerah yang sedang giat-giatnya membangun membutuhkan analisis perekonomian melalui indikator ekonomi yang ada.

Analisis indikator ekonomi daerah di Kota Kotamobagu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Memberikan gambaran secara deskriptif mengenai perkembangan sektor-sektor penyusun perekonommian di Kotamobagu

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

(16)

2. Mengetahui dan menganalisis indikator ekonomi daerah dengan  pendekatan makro.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis indikator ekonomi daerah dengan  pendekatan mikro.

Penyusunan analisis Indikator Ekonomi ini berguna antara lain sebagai  berikut :

1. Sebagai dasar perencanaan pembangunan pemerintah Kota Kotamobagu. 2. Untuk mengukur tingkat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi daerah. 3. Untuk mengetahui struktur perekonomian daerah.

(17)

Data yang memperlihatkan kinerja perekonomian suatu daerah disebut dengan indikator ekonomi makro daerah. Sebagian indikator ekonomi makro merupakan turunan dari data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB menggambarkan besarnya nilai tambah yang dihasilkan oleh suatu daerah pada waktu tertentu, biasanya dalam kurun waktu setahun. Data PDRB disajikan dalam dua jenis, yaitu PDRB  Atas Dasar Harga Berlaku dan PDRB Atas Dasar Harga  Konstan. Indikator ekonomi yang dapat diturunkan dari PDRB yaitu Pertumbuhan Ekonomi (PE), kontribusi sektor-sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB dan data PDRB Perkapita. Pertumbuhan Ekonomi dapat melihat perkembangan ekonomi secara keseluruhan maupun sektoral. Kontribusi sektoral memperlihatkan peranan masing-masing sektor terhadap pembentukan PDRB. Sedangkan PDRB perkapita memberikan gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk di Kota Kotamobagu.

2.1.1 Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk domestik bruto (PDB) merupakan semua nilai tambah bruto ( gross value added ) barang dan jasa sebagai hasil dari kegiatan-kegiatan ekonomi yang  beroperasi di wilayah domestik, tanpa memperhatikan apakah faktor produksinya  berasal dari atau dimiliki oleh penduduk daerah tersebut. Pendapatan yang timbul oleh karena adanya kegiatan produksi ini merupakan Produk Domestik Bruto. Tingkat pertumbuhan PDB dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Beberapa alasannya yaitu:

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

(18)

1.

1. PDB adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh aktivitasPDB adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh aktivitas  produksi

 produksi di di dalam dalam perekonomian. perekonomian. Hal Hal ini ini berarti berarti peningkatan peningkatan PDB PDB jugajuga mencerminkan balas jasa kepada faktor produksi yang digunakan dalam mencerminkan balas jasa kepada faktor produksi yang digunakan dalam aktivitas produksi tersebut.

aktivitas produksi tersebut. 2.

2. PDB dihitung atas dasar konsep aliran (PDB dihitung atas dasar konsep aliran ( flow concept  flow concept ), artinya perhitungan PDB), artinya perhitungan PDB hanya mencakup nilai produk yang dihasilkan pada satu periode tertentu. hanya mencakup nilai produk yang dihasilkan pada satu periode tertentu. Perhitungan ini tidak mencakup nilai produk yang dihasilkan pada periode Perhitungan ini tidak mencakup nilai produk yang dihasilkan pada periode sebelumnya. Pemanfaatan konsep aliran guna menghitung PDB yakni untuk sebelumnya. Pemanfaatan konsep aliran guna menghitung PDB yakni untuk membandingkan jumlah nilai tambah yang dihasilkan pada tahun ini dengan membandingkan jumlah nilai tambah yang dihasilkan pada tahun ini dengan tahun sebelumnya.

tahun sebelumnya. 3.

3. Batas wilayah perhitungan PDB adalah negara (wilayah domestik). Hal iniBatas wilayah perhitungan PDB adalah negara (wilayah domestik). Hal ini memungkinkan kita untuk mengukur sejauh mana kebijakan ekonomi yang memungkinkan kita untuk mengukur sejauh mana kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah mampu mendorong aktivitas perekonomian domestik. diterapkan pemerintah mampu mendorong aktivitas perekonomian domestik.

Data PDB yang digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan Data PDB yang digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi adalah data PDB atas dasar harga konstan. Dengan menggunakan data ekonomi adalah data PDB atas dasar harga konstan. Dengan menggunakan data PDB atas dasar harga konstan, maka pertumbuhan PDB mencerminkan PDB atas dasar harga konstan, maka pertumbuhan PDB mencerminkan  pertumbuhan

 pertumbuhan secara secara riil riil nilai nilai tambah tambah yang yang dihasilkan dihasilkan perekonomian perekonomian dalamdalam  periode

 periode tertentu tertentu dengan dengan referensi referensi tahun tahun tertentu. tertentu. Nilai Nilai PDB PDB pada pada dasarnyadasarnya merupakan penjumlahan dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari merupakan penjumlahan dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari masing-masing propinsi.

masing-masing propinsi.

2. 1.2 Produk Domestik Regional Bruto 2. 1.2 Produk Domestik Regional Bruto

PDRB merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah barang dan jasa PDRB merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha yang timbul akibat adanya aktivitas yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha yang timbul akibat adanya aktivitas ekonomi dalam suatu wilayah tertentu.

(19)

Dengan diketahui peranan dan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang Dengan diketahui peranan dan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang terdapat pada distribusi persentase sumbangan sektor ekonomi tertentu terhadap terdapat pada distribusi persentase sumbangan sektor ekonomi tertentu terhadap nilai PDRB total dan laju pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor, maka nilai PDRB total dan laju pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor, maka dapat direncanakan ke arah mana prioritas pembangunan ekonomi tersebut dapat direncanakan ke arah mana prioritas pembangunan ekonomi tersebut dilaksanakan.

dilaksanakan.

PDRB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit PDRB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan  jasa

 jasa akhir akhir yang yang dihasilkan dihasilkan oleh oleh seluruh seluruh unit unit ekonomi. ekonomi. Untuk Untuk menghitungmenghitung angka-angka PDRB ada tiga pendekatan

angka-angka PDRB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu:yang dapat digunakan, yaitu: 1.

1. Pendekatan Produksi, PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yangPendekatan Produksi, PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu daerah dalam jangka dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).

waktu tertentu (biasanya satu tahun). 2.

2. Pendekatan Pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterimaPendekatan Pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu oleh faktor-faktor produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).

(biasanya satu tahun). 3.

3. Pendekatan Pengeluaran, PDRB adalah semua komponen permintaan akhirPendekatan Pengeluaran, PDRB adalah semua komponen permintaan akhir seperti: (a) pengeluaran konsumsi rumahtangga dan lembaga nirlaba, (b) seperti: (a) pengeluaran konsumsi rumahtangga dan lembaga nirlaba, (b) konsumsi pemerintah, (c) pembentukan modal tetap domestik bruto, (d) konsumsi pemerintah, (c) pembentukan modal tetap domestik bruto, (d)  perubahan

 perubahan stok, stok, dan dan (e) (e) ekspor ekspor neto, neto, dalam dalam jangka jangka waktu waktu tertentu tertentu (biasanya(biasanya satu tahun).

satu tahun).

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) digunakan untuk melihat PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) digunakan untuk melihat  pergeseran

 pergeseran dan dan struktur struktur ekonomi. ekonomi. PDRB PDRB ADHB ADHB menunjukkan menunjukkan pendapatan pendapatan yangyang memungkinkan dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah serta memungkinkan dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah serta menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga  pada setiap tahun.

 pada setiap tahun.

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

(20)

PDRB per kapita Atas Dasar Harga Berlaku menunjukkan nilai PDRB per PDRB per kapita Atas Dasar Harga Berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala atau per satu orang penduduk. PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) kepala atau per satu orang penduduk. PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun, untuk digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun, untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan/setiap sektor dari menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan/setiap sektor dari tahun ke tahun. Data PDRB ADHK lebih menggambarkan perkembangan tahun ke tahun. Data PDRB ADHK lebih menggambarkan perkembangan  produksi

 produksi riil riil barang barang dan dan jasa jasa yang yang dihasilkan dihasilkan oleh oleh kegiatan kegiatan ekonomi ekonomi daerahdaerah tersebut. PDRB per kapita Atas Dasar Harga Konstan berguna untuk mengetahui tersebut. PDRB per kapita Atas Dasar Harga Konstan berguna untuk mengetahui  pertumbuhan nyata ekonomi per kapita. Pada penelitian ini digunakan PDRB Atas  pertumbuhan nyata ekonomi per kapita. Pada penelitian ini digunakan PDRB Atas

Dasar Harga Konstan 2000. Dasar Harga Konstan 2000.

PDRB ADHB menurut sektor menunjukkan peranan sektor ekonomi PDRB ADHB menurut sektor menunjukkan peranan sektor ekonomi dalam suatu daerah, sektor-sektor yang mempunyai peranan besar menunjukkan dalam suatu daerah, sektor-sektor yang mempunyai peranan besar menunjukkan  basis

 basis perekonomian perekonomian suatu suatu daerah. daerah. Dengan Dengan demikian demikian PDRB PDRB secara secara agregatifagregatif menunjukkan kemampuan suatu daerah dalam menghasilkan pendapatan/balas menunjukkan kemampuan suatu daerah dalam menghasilkan pendapatan/balas  jasa

 jasa terhadap terhadap faktor faktor produksi produksi yang yang ikut ikut berpartisipasi berpartisipasi dalam dalam proses proses produksi produksi didi daerah tersebut.

daerah tersebut.

2.1.3 PDRB perkapita 2.1.3 PDRB perkapita

PDRB perkapita merupakan gambaran nilai tambah yang biasanya PDRB perkapita merupakan gambaran nilai tambah yang biasanya diciptakan oleh masing-masing penduduk sebagai akibatdari adanya aktivitas diciptakan oleh masing-masing penduduk sebagai akibatdari adanya aktivitas  produksi. Tinggi rendahnya tingkat kemakmuran

 produksi. Tinggi rendahnya tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah biasanyapenduduk suatu daerah biasanya diukur dengan besar kecilnya angka PDRB perkapita. Angka ini diperoleh dari diukur dengan besar kecilnya angka PDRB perkapita. Angka ini diperoleh dari  pembagian antara total nilai PDRB dengan jumlah pendu

(21)

2.1.4 Tipologi Klassen

Arsyad (1999) menyebutkan bahwa teori kutub pertumbuhan yang dipopulerkan oleh ekonom Perroux menyatakan bahwa pertumbuhan tidak muncul di berbagai daerah pada waktu yang sama. Pertumbuhan hanya terjadi di  beberapa tempat yang merupakan pusat (kutub) pertumbuhan dengan intensitas

yang berbeda. Untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur  pertumbuhan ekonomi daerah dapat digunakan tipologi Klassen  sebagai alat

analisis. Sjafrizal (1997) menjelaskan bahwa dengan menggunakan alat analisis ini dapat diperoleh empat klasifikasi pertumbuhan masing-masing daerah yaitu daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income); daerah maju tapi tertekan (high income but low growth), daerah berkembang cepat (high  growth but lowincome) dan daerah relatif tertinggal (low growth and low income).

Tipologi Klassen membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu  pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapitanya. Sumbu vertikalnya adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi dan rata-rata-rata-rata PDRB per kapita sebagai sumbu horizontal (Sjafrizal, 1997). Daerah-daerah pengamatan dibagi dalam empat kuadran, yaitu:

(1) daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income ); (2) daerah maju tapi tertekan (high income but low growth);

(3) daerah berkembang cepat (high growth but lowincome); dan (4) daerah relatif tertinggal (low growth and low income)

Adapun kriteria yang digunakan dalam membagi daerah penelitian adalah sebagai berikut:

1. Daerah cepat maju dan cepat tumbuh, adalah daerah yang memiliki tingkat  pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita lebih tinggi dibandingkan

rata-rata provinsi;

(22)

2. Daerah maju tapi tertekan, yakni daerah yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, tapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi;

3. Daerah berkembang cepat merupakan daerah yang memiliki tingkat  pertumbuhan tinggi, tapi pendapatan per kapitanya lebih rendah dibandingkan

rata-rata provinsi;

4. Daerah relatif tertinggal yaitu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan rata-rataprovinsi.

Gambar 1. Klasifikasi Daerah berdasarkan Tipology Klassen 2.1.5 Keuangan daerah

Keuangan daerah menjadi salah satu indikator ekonomi yang sangat  penting dalam pembahasan perekonomian suatu daerah. Hal ini sebabkan jumlah

(23)

langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi roda perekonomian di suatu daerah. Pengaruh ini tak jarang sampai meluas ke luar wilayah bahkan sampai keluar negeri. Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, menetapkan dan mengatur  pembagian kewenangan dan pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan

Pemerintah Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa keuangan daerah harus dikelola secara tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab sesuai dengan azas kepatutan dan rasa keadilan. Pemerintah Kota Kotamobagu dalam  pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah berpedoman pada Undang-Undang  Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam  Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006. Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan secara spesifik  pengelolaan keuangan Daerah Kota Kotamobagu diatur dalam Peraturan Daerah

Kota Kotamobagu tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 2.1.6. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia (bisa juga digunakan untuk Daerah). IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara (daerah) adalah negara (daerah) maju, negara (daerah) berkembang atau negara (daerah) terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

(24)

Sen dan Mahbub ul Haq seorang ekonom pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dan sejak itu dipakai oleh Program pembangunan PBB pada laporan IPM tahunannya.

IPM mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara (daerah) menjadi 3 (tiga) dimensi dasar pembangunan manusia, yaitu sebagai berikut:

1. Hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran.

2. Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar, menengah , atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga).

3. Standard kehidupan yang layak diukur dengan logaritma natural dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kapita dalam Paritasi Daya Beli ( Purchasing Power Parity).

(25)

Pertumbuhan ekonomi Kota Kotamobagu tahun 2013, yang ditunjukan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan, pertumbuhannya semakin cepat menjadi sebesar 7,78 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 7,55 persen.

Secara sektoral pertumbuhan ekonomi Kota Kotamobagu tahun 2013  bervariasi diantara (2,32  –   9,28) persen. Sektor keuangan, real estate dan jasa  perusahaan sebesar 9, 28 persen, kemudian diikuti oleh sektor konstruksi sebesar 9,24 persen, dan sektor jasa-jasa 8,56 persen. Sektor kontruksi terutama yang paling tinggi pertumbuhannya adalah di subsektor pembangunan rumah tinggal, ruko, dan penyewaan tempat tinggal. Sentiment positif akan terbentuknya provinsi Bolmong Raya membuat pembangunan perumahan menjadi marak di tahun 2013.

Sedangkan sektor yang paling rendah pertumbuhannya adalah sektor Pertanian sebesar 2,32 persen. Bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Propinsi Sulawesi Utara sebesar 7,45 persen maka pertumbuhan ekonomi Kota Kotamobagu berada diatas pertumbuhan Sulawesi Utara. Perbandingan antara  pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara dengan Kotamobagu dapat dilihat pada

gambar 2.

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

(26)

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Kotamobagu dan Sulawesi Utara

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita adalah jumlah PDRB dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun, menggambarkan rata-rata PDRB yang disumbangkan oleh tiap-tiap penduduk. PDRB Perkapita Kota Kotamobagu Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) tahun 2013 sebesar 13.151.261 rupiah, sedangkan nilai PDRB perkapita Atas Dasar Harga Konstan tercatat sebesar 5.378.292 rupiah. Nilai PDRB perkapita baik PDRB perkapita ADHB maupun PDRB perkapita ADHK setiap tahunnya menunjukkan kenaikan, Ini artinya setiap tahunnya secara rata-rata tingkat kemakmuran masyarakat di Kotamobagu menunjukkan trend yang positif.

(27)

Walaupun indikator PDRB Perkapita hanya menggambarkan secara rata-rata belum menggambarkan tingkat pemerata-rataan pembangunan namun indikator ini menunjukkan bahwa di Kotamobagu setiap tahunnya terjadi peningkatan  perekonomian di masyarakat. Untuk jelasnya, perkembangan nilai PDRB  perkapita dari tahun 2010 –  2013 dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. PDRB perkapita Kotamobagu tahun 2010-2013

Struktur Ekonomi Kota Kotamobagu tahun 2013 tidak mengalami  perubahan dari tahun sebelumnya, masing-masing diurutkan dari konstribusi

sektor terbesar sampai dengan terkecil sebagai berikut : 1. Sektor Jasa-jasa sebesar 42,07 persen

2. Sektor Bangunan/Konstruksi sebesar 16,19 persen

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

(28)

4. Sektor Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 12,54 persen 5. Sektor Pertanian sebesar 7,22 persen

6. Sektor Angkutan dan komunikasi sebesar 4,20 persen 7. Sektor Penggalian sebesar 2,28 persen

8. Sektor Industri Pengolahan sebesar 1,41 persen 9. Sektor Listrik dan Air bersih sebesar 0,29 persen.

Sektor Jasa sebagai penyumbang terbesar PDRB Kotamobagu sebagian  berasal dari subsektor pemerintahan sedangkan sisanya disumbangkan oleh

subsektor swasta dari jasa sosial kemasyarakatan dan jasa perorangan (Tabel 1). Kontribusi kesembilan sektoral dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok  primer, sekunder, dan tersier. Kelompok primer terdiri dari dua sektor, yaitu

sektor pertanian, serta sektor pertambangan dan penggalian.Kemudian kelompok sekunder terdiri dari tiga sektor, masing-masing sektor industri pengolahan, kemudian sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor bangunan. Selanjutnya, kelompok tersier terdiri dari empat sektor, yakni : sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan, persewaan dan jasa  perusahaan, serta sektor jasa-jasa.

(29)

Tabel 1 Kontribusi Sektoral PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 2010-2013

Sumber : BPS Kotamobagu

LAPANGAN USAHA/ INDUSTRI AL

ORIGIN  2010 2011 2012 2013

SEKTOR PRIMER/ PRIM ARY SECTOR  11,21 10,79 10,22 9,50

1. Pertanian/ Agriculture 8,47 8,26 7,80 7,22

2. Pertambangan&Penggalian/ Mining & Quarrying  2,74 2,53 2,42 2,28

SEKTOR SEKUNDER/ SECONDARY SECTOR  16,98 17,51 18,17 17,89

3. Industri Pengolahan/ Manufacturing Industry 1,66 1,57 1,49 1,41 4. Lstrik Gas & Air Bersih/  Electricity, Gas &

Water Supply 0,32 0,30 0,29 0,29

5. Bangunan/ Construction 15,00 15,64 16,39 16,19

SEKTOR TERSIER/ TERTI ARY SECTOR  71,81 71,70 71,61 72,62

6. Perdagangan, Hotel & Restoran/  Trade,

 Hotel,&Restaurant  14,25 14,46 14,11 13,81

7. Angkutan & Komunikasi/  Transportation&

Communication 4,12 4,06 4,05 4,20

8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan/

 Finance, Owner& BusinessServices 12,73 12,53 12,72 12,54

9. Jasa-Jasa/ Services 40,71 40,66 40,73 42,07

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00

(30)

3.3.1 Sektor Primer 1. Sektor Pertanian

Kontribusi sektor ini dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu tidak  begitu besar, dimana tahun 2013 sebesar 7,22 persen dengan pertumbuhan sebesar

2,32 persen.

Pada sektor pertanian, Subsektor yang memberikan konstribusi terbesar dalam pembentukan PDRB tahun 2013 adalah sub sektor Tabama, yaitu sebesar 4,41 persen dengan pertumbuhan 1,21 persen. Sub sektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 1,39 persen dengan pertumbuhan 2,27 persen. Kemudian disusul masing-masing subsektor Peternakan dan hasil-hasilnya sebesar 0,73  persen, subsektor perkebunan sebesar 0,70 persen dengan pertumbuhannya masing-masing sebesar 4,70 persen, sedangkan untuk subsektor perkebunan  pertumbuhannya sebesar 6,06 persen.

Sedangkan subsektor Kehutanan tidak mempunyai kontribusi terhadap  pembentukan PDRB Kota Kotamobagu disebabkan tidak ada hutan di Kota

Kotamobagu.

2. Sektor Pertambangan & Penggalian

Pada Kelompok Primer, sektor ini menempati urutan kedua dalam sisi  pertumbuhan yaitu sebesar 4,13 persen tahun 2012, namun konstribusinya dalam  pembentukan PDRB Kota Kotamobagu masih kecil hanya sebesar 2,42 persen dan hanya disumbang oleh sub sektor penggalian sedangkan subsektor  pertambangan belum ada konstribusinya terhadap pembentukan PDRB Kota

Kotamobagu.

(31)

Konstribusi Kelompok Primer terhadap pembentukan PDRB Tahun 2013 sebesar 9,5 persen. Sedangkan dibandingkan tahun 2012 sebesar 10,21 persen mengalami penurunan sebesar 0,71 persen. Kontribusi sektor primer dapat dilihat  pada gambar 4

Gambar 4. Kontribusi Sektor Primer terhadap PDRB Kotamobagu, 2013

3.3.2 Sektor Sekunder

1. Sektor Industri Pengolahan

Pertumbuhan sektor ini sebesar 4,31 persen tahun 2013 dengan konstribusi terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu hanya sebesar 1,41 persen. 2. Sektor Listrik dan Air Minum

Sektor ini konstribusinya pada pembentukan PDRB Kota Kotamobagu  paling kecil dibandingkan dengan sektor lain, yaitu hanya sebesar 0,29 persen dengan pertumbuhan sebesar 7,43 persen. Konstribusi yang terbesar dalam sektor ini diberikan oleh subsektor listrik sebesar 0,23 persen.

(32)

Sedangkan subsektor Air Bersih konstribusinya dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu lebih kecil yaitu sebesar 0,06 persen.

3. Sektor Bangunan

Pertumbuhan sektor ini selama tahun 2013 sebesar 9,24 persen, dengan konstribusi sebesar 16,19 persen dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu. Secara umum, konstribusi kelompok Sekunder terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu Tahun 2013 sebesar 17,89 persen. Bila dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 18,18 persen berarti mengalami penurunan sebesar 0,29  persen.

Gambar 5. Kontribusi Sektor Sekunder terhadap PDRB Kota Kotamobagu tahun 2013

(33)

3.3.3. Sektor Tersier

1. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

Konstribusi sektor ini selama tahun 2013 menempati urutan ketiga setelah sektor jasa-jasa dan bangunan dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu yaitu sebesar 13,81 persen dengan pertumbuhan 6,50 persen.

Pada subsektor ini yang memberikan sumbangan terbesar dalam  pembentukan PDRB Kota Kotamobagu adalah Subsektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 12,13 persen dengan pertumbuhan 6,26 persen. Pertumbuhan subsektor ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan 2012. Sedangkan subsektor Hotel dan Restoran/rumah makan konstribusinya terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu relatif masih sangat kecil. Dimana subsektor Hotel hanya menyumbangkan sebesar 0,44persen dan subsektor Restoran/rumah makan menyumbangkan sebesar 1,25 persen. Pertumbuhan masing-masing subsektor 7,56 persen dan 7,98 persen.

2. Sektor Angkutan dan Komunikasi

Sektor ini selama tahun 2013 tumbuh sebesar 8,45 persen dengan konstribusi terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu sebesar 4,2 persen. Subsektor Angkutan memberikan konstribusi terbesar dalam pembentukan PDRB sektor ini sebesar 3,60 persen dengan pertumbuhan 8,28 persen, dimana Angkutan Darat memberikan sumbangan terbesar sebesar 3,5 persen. Subsektor Komunikasi konstribusinya dalam pembentukan PDRB tahun 2013 sebesar 0,59 persen, dengan pertumbuhan sebesar 9,64 persen.

(34)

3. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Konstribusi sektor ini terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu tahun 2012 sebesar 12,72 persen. Subsektor Bank memberikan konstribusi paling  besar pada pembentukan sektor ini yaitu sebesar 11,26 persen., kemudian disusul

subsektor real estate 1,31 persen, Jasa Perusahaan dan Lembaga Keuangan tanpa Bank masing-masing sebesar 0,06 persen dan 0,09 persen.

4. Sektor Jasa

 – 

 Jasa

Selama tahun 2013 sektor ini memberikan konstribusi terbesar dalam sektor tersier pada pembentukan PDRB Kota Kotamobagu yaitu sebesar 42,07  persen dengan pertumbuhan sebesar 8,56 persen.

Subsektor Pemerintahan Umum paling besar konstribusinya pada sektor ini sebesar 38,07 persen. Sedangkan subsektor Swasta hanya memberikan konstribusi sebesar 4,00 persen. Rinciannya dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Kontribusi Sektor Tersier terhadap PDRB Kotamobagu

SEKTOR PRIMER 10.21% SEKTOR SEKUNDER 18.18% Perdagangan, Hot e l & Restoran 14.11% Angkutan & Komunikasi 4.05% Keuangan, Per sewa

an & Jasa Perusahaan 12.72% Jasa-Jasa 40.73% SEKTOR TERSIER 71,61% tahun 2012

(35)

Terminologi Tipology Klassen digunakan untuk perencanaan ekonomi daerah termasuk kabupaten atau kota yang didasarkan kemampuan daerah dilihat dari wilayahnya seperti kawasan dan sektor di dalam PDRB, analisis ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang hubungan antara PDRB perkapita dengan  pertumbuhan ekonomi Kota Kotamobagu di bandingkan dengan kabupaten lain di Sulawesi Utara dan penentuan daerah masuk di kriteria salah satu yang di definisikan oleh Klassen.

Klasifikasi daerah dilakukan berdasarkan dua indikator utama, yaitu  pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto per kapita daerah, dengan alat analisis Tipologi Klassen. Sumbu horizontalnya (sumbu-x) adalah rata-rata produk domestik regional bruto per kapita, sedangkan sumbu vertikalnya (sumbu-y) adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi. Dengan dua indikator tersebut kemudian dilakukan klasifikasi daerah menjadi 4 kuadran dengan criteria sebagai  berikut :

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

(36)

3.4.1 Daerah Cepat Maju dan Cepat Tumbuh

Pada Gambar 7 daerah yang cepat maju dan cepat tumbuh adalah Manado, Minahasa Selatan dan Tomohon. Kondisi ini menunjukkan bahwa PDRB perkapita dan pertumbuhan ekonomi ketiga daerah tersebut di atas kabupaten/kota lainnya. Manado sebagai ibukota provinsi setiap tahunnya mengalami pertumbuhan di atas rata-rata, pembangunan infrastruktur dan  perdagangan maju pesat. Kota Manado sebagai daerah tujuan utama para wisatawan dan seringkali menjadi tuan rumah akan event-event skala nasional dan  bahkan internasional. Hal inilah yang mendrong pertumbuhan dan PDRB  perkapita Manado lebih tinggi dari daerah lainnya.

(37)

3.4.2 Daerah Maju Tapi Tertekan

Sedangkan di kuadran II yang digolongkan daerah maju tapi tertekan adalah minahasa dan Minahasa Utara. Kedua daerah ini memiliki pendapatan  perkapita di atas kabupaten/kota di Sulawesi Utara namun pertumbuhan ekonominya lebih kecil. Perkembangan ekonomi selama tahun 2009-2011 di kedua daerah tersebut relative lebih rendah di bandingkan daerah lain seperti Kotamobagu.

3.4.3 Daerah Berkembang Cepat

Kuadran III oleh Klassen digolongkan sebagai daerah yang berkembang cepat, Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun pendapatan perkapitanya masih relative rendah dari kabupaten/kota lain di Sulawesi Utara. Daerah Kotamobagu termasuk dalam kuadran III sebagai daerah yang berkembang cepat. Kabupaten/kota yang berada pada kuadran ini merupakan kabupaten/kota yang laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari laju pertumbuhan seluruh kabupaten di Sulawesi Utara, tetapi PDRB perkapitanya lebih rendah dari rata-rata kabupaten/kota di Sulawesi Utara. Artinya Kotamobagu mempunyai produktivitas yang lebih tinggi namun tingkat ekonominya masih relative rendah di bandingkan di Sulawesi Utara. Kotamobagu memerlukan investasi publik dan promosi untuk lebih mempercepat produktivitasnya sehingga tingkat ekonominya lebih tinggi. Menurut Klassen daerah dengan kriteria ini di sebut daerah “Growing Region” .

(38)

Kotamobagu perkembangannya cukup pesat sejak menjadi daerah  pemekaran sejak tahun 2008, sebelumnya Kotamobagu masih menjadi bagian dari Kabupaten Bolaang Mongondow. Infrastruktur jalan, gedung pemerintahan,  pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan lain-lain di bangun untuk mendukung

kegiatan perekonomian di Kotamobagu.

Kotamobagu juga sebagai kota penghubung antara kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan dan Bolaang Mongondow. Hal ini menjadikan Kotamobagu sangat berpeluang besar untuk dapat berkembang lebih maju lagi dibandingkan sekarang.

Salah satu faktor utama untuk membiayai jalannya roda pembangunan di suatu wilayah adalah dengan adanya Penerimaan daerah, yang bersumber dari  penerimaan pajak daerah, retribusi dan pendapatan lainnya serta dana  perimbangan dari pemerintahan pusat, baik melalui Bagi Hasil Pajak/Bukan

Pajak, DAU, DAK maupun dana perimbangan lainnya.

Realisasi penerimaan/pendapatan pemerintah Kota Kotamobagu pada Tahun 2013 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 penerimaan Kota Kotamobagu mencapai Rp 433,606 miliar, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 366,897 miliar, sehingga terjadi kenaikan sebesar 66,709 miliar atau sebesar 18,18 persen.

(39)

Kenaikan ini terutama bersumber dari pendapatan lain-lain yang sah yang  pada 2012 tidak diterima oleh pemerintah Kotamobagu. Selain itu, kenaikan  pendapatan transfer berupa dana perimbangan dan dana penyesuian menjadi salah satu faktor kenaikan tersebut. Meskipun sempat mengalami penurunan di tahun 2012, secara umum pendapatan daerah dari tahun 2009 sampai tahun 2013 mengalami kenaikan. Perkembangan pendapatan dapat dilihat dari gambar 8.

Gambar 8. Pendapatan Daerah beserta Komponennya tahun 2009-2013

Dari Gambar 8 terlihat bahwa pendapatan terbesar masih disumbangkan oleh pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi. Pada tahun 2009  pendapatan transfer dari pusat berupa dana perimbangan menyumbang 90,9  persen dari total pendapatan daerah. Hal ini dikarenakan Kotamobagu masih merupakan daerah pemekaran baru yang membutuhkan banyak dana untuk  pembangunan infrastruktur.

(40)

Porsi dana perimbangan terus menurun tiap tahunnya, sampai tahun 2013  porsi dana perimbangan dari pusat menjadi 83,99 persen dari total pendapatan. Ini sejalan dengan prinsip otonomi daerah yang menginginkan daerah sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan akan dana pemerintah pusat.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama tahun 2009 s.d. 2013 mengalami  peningkatan. Tahun 2009 PAD Kotamobagu sebesar 6,14 Milyar dan naik menjadi 14,52 Milyar di tahun 2013. Penerimaan terbesar berasal dari Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah sebesar 37,43 persen. Penerimaan terbesar kedua berasal dari Pajak Daerah sebesar 37,37 persen. Sedangkan sisanya adalah penerimaan PAD yang berasal retribusi daerah sebesar 25,19 persen.

(41)

Pemerintah Kotamobagu selama tahun 2009-2013 berhasil menaikkan PAD yang berasal dari pajak daerah. Tahun 2009 penerimaan yang berasal dari  pajak daerah sebesar 1,7 Milyar dan naik sampai dengan 5,4 Milyar di tahun

2013, walaupun pada tahun 2010 sempat turun hanya sampai 212,469 juta. Perkembangan PAD Kota Kotamobagu dapat dilihat dari Gambar 9.

Belanja daerah terbagi menjadi Belanja Operasional, Modal dan Belanja Tak Terduga. Realisasi belanja terbesar selama 2009-2013 diserap oleh belanja operasional, tahun 2009 sebesar 53,88 persen dan tahun 2013 sebesar 73,01  persen. Sedangkan belanja modal pada tahun 2013 sebesar 26,99 persen. Belanja

modal terbesar adalah belanja jalan, irigasi, dan jaringan sebanyak 61,45 Milyar, sedangkan belanja terkecil untuk modal berupa tanah yang hanya sebesar 96,025 Juta. Secara ringkas pengeluaran Pos Belanja disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2 Pos Belanja APBD Tahun 2009-2013 (dalam Milyar Rupiah)

Pengeluaran 2009 2010 2011 2012 2013

Belanja Total 286.1984 362.1792 380.6097 367.9955 430,7587 Belanja Operasional 154.2256 211.1862 264.0298 280.3045 314,4995 Belanja Modal 131.9728 149.6448 116.5799 87.53346 116,2592

Belanja Tak Terduga 0 1.348176 0 0.1575 0

Sumber: DPPKAD Kota Kotamobagu

(42)

Belanja operasional terdiri dari Belanja pegawai, belanja barang, belanja hibah, belanja bantuan sosial dan belanja bantuan keuangan. Belanja operasional untuk belanja pegawai adalah yang terbesar, belanja pegawai menyerap 72,57  persen dari total belanja operasional pada tahun 2013. Sedangkan belanja bantuan sosial mempunyai porsi paling kecil dari pos belanja operasional yaitu sebesar 525,5 Juta rupiah atau sekitar 0,17 persen.

Gambar 10. Belanja Pemerintah Kotamobagu tahun 2013

Pembangunan manusia merupakan paradigma pembangunan yang menempatkan manusia ( penduduk ) sebagai fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitu tercapainya penguasaan atas sumber daya ( pendapatan untuk mencapai hidup layak ), peningkatan derajat kesehatan (usia hidup panjang dan sehat) dan meningkatkan pendidikan (kemampuan baca tulis dan keterampilan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat dan kegiatan ekonomi).

(43)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf,  pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia (bisa juga

digunakan untuk Daerah). IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara (daerah) adalah negara (daerah) maju, negara (daerah)  berkembang atau negara (daerah) terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Indeks ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel india Amartya Sen dan Mahbub ul Haq seorang ekonom Pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dan sejak itu dipakai oleh Program pembangunan PBB pada laporan IPM tahunannya.

Semakin baik IPM menggambarkan tingkat kesejahteraan yang makin baikpada daerah tersebut demikian pula sebaliknya semakin rendah IPM berartisemakin tertinggal pembangunan suatu daerah. Berdasarkan Standar yang digunakan UNDP, skala IPM berkisar 0-100 dengan jabaran sebagai berikut:

 < 50 artinya terbelakang (kesejahteraan rendah)  50-65, artinya kesejahteraan menengah ke bawah  65-80, artinya kesejahteraan menengah ke atas  80 kesejahteraan tinggi

Salah satu data komparatif kota atau wilayah sekitar yang bisa diperoleh dalam analisis ini adalah perbandingan IPM antara kabupaten/kota di Sulawesi Utara, sebagaimana disajikan dalam tabel dibawah ini:

(44)

Tabel 3. IPM Kota Kotamobagu dan Kabupaten/Kota Pembanding di Sulawesi Utara tahun 2009-2013

Kabupaten Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

2009 2010 2011 2012 2013

Kab. Bolaang Mongondow 72.52 72.99 73.47 73.83 74.22

Kab. Minahasa 75.28 75.74 76.12 76.69 77.06

Kab. Kepulauan Sangihe 75.21 75.58 76.07 76.42 76.79 Kab. Kepulauan Talaud 74.83 75.30 75.76 76.14 76.47 Kab. Minahasa Selatan 74.18 74.68 75.1 75.46 75.82 Kab. Minahasa Utara 75.57 76.08 76.54 76.91 77.23 Bolaang Mongondow Utara 72.27 72.63 73.08 73.48 73.94

Minahasa Tenggara 72.31 72.71 72.7 73.42 73.79

Kep. Siau Tagulandang Biaro 72.86 73.30 73.09 74.06 74.56 Bolaang Mongondow Selatan 70.03 70.63 70.87 71.63 72.27 Bolaang Mongondow Timur 71.85 72.27 72.97 73.82 73.75

Kota Manado 77.79 78.02 78.57 78.92 79.34 Kota Bitung 75.00 75.52 75.96 76.30 76.66 Kota Tomohon 75.65 76.09 76.39 76.92 77.82 Kota Kotamobagu 74.46 75.03 75.53 76.03 77.05 Sulawesi Utara 75.16 75.68 76.09 76.54 77.36 Sumber : BPS, diolah

Dengan melihat tabel diatas, nampak bahwa IPM Kota Kotamobagu, masih jauh lebih baik ketimbang beberapa wilayah atau kota kabupaten  pembandingnya dalam wilayah Sulawesi Utara, diantaranya seperti Kota Bitung,

Kabupaten Sangihe, Kabupaten seluruh Bolaang Mongondow Raya, dan Kabupaten lainnya. Sementara itu jika kita bandingkan dengan Provinsi Sulawesi

(45)

Utara, rata-rata IPM Kota Kotamobagu memang berada dibawah rata-rata IPM Sulawesi Utara yang nilainya antara 75-76. Kondisi ini merefleksikan bahwa  pertumbuhan IPM Kota Kotamobagu masih di bawah pertumbuhan IPM Provinsi

Sulawesi Utara.

Jika diurutkan berdasarkan peringkat IPM maka Kota Kotamobagu tahun 2013 masih sama dari tahun lalu yaitu menjadi peringkat ke 5 dari 15 Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara, dapat dilihat dari ta bel berikut:

TAbel 4 Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara

Kabupaten/Kota 2010 2011 2012 2013

Kab. Bolaang Mongondow 11 10 11 11

Kab. Minahasa 4 4 4 4

Kab. Kepulauan Sangihe 5 5 6 6

Kab. Kepulauan Talaud 8 8 8 8

Kab. Minahasa Selatan 9 9 9 9

Kab. Minahasa Utara 3 3 3 3

Bolaang Mongondow Utara 13 12 13 13

Minahasa Tenggara 12 14 14 14

Kep. Siau Tagulandang Biaro 10 11 10 10

Bolaang Mongondow Selatan 15 15 15 15

Bolaang Mongondow Timur 14 13 12 12

Kota Manado 1 1 1 1

Kota Bitung 7 7 7 7

Kota Tomohon 2 2 2 2

Kota Kotamobagu 6 6 5 5

Sumber : BPS, diolah

(46)

Sejak tahun 2009 hingga tahun 2013, Kota Kotamobagu mengalami  perkembangan peringkat IPM. Pada tahun 2009 Kota Kotamobagu berada d  peringkat ke 7 dari 15 Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara. Kemudian tahun 2010 naik menjadi peringkat 6 sampai tahun 2011. Tahun 2012 sampai 2013 peringkat IPM Kota Kotamobagu menjadi peringkat ke-5.

IPM terdiri dari 3 indeks yaitu indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Kemampuan daya beli, yang masing-masing dapat digambarkan dari indikator berikut.

1. Angka Usia Harapan Hidup (Indeks Kesehatan)

Angka Usia Harapan Hidup adalah ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat yang mendiami suatu wilayah yang dilihat dari peluang umur panjang dan sehat. Sering digunakan untuk menggambarkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Peningkatan kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas  pelayanan kesehatan. Capaian usia harapan hidup di tahun 2013 sebesar 72.34 tahun. Usia harapan hidup di Kota Kotamobagu secara umum lebih rendah dari usia harapan hidup di Sulawesi Utara yang mencapai 72,62 tahun di tahun 2013.  Namun demikian dari tahun ke tahun usia harapan hidup menujukkan perbaikan.

(47)

Tabel 5 Indeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara Tahun 2010-2013

Kab/Kota 2010 2011 2012 2013

Kab. Bolaang Mongondow 71.58 71.7 71.83 72.06

Kab. Minahasa 72.47 72.54 72.61 72.80

Kab. Kepulauan Sangihe 73.01 73.19 73.37 73.55

Kab. Kepulauan Talaud 71.89 72.12 72.35 72.57

Kab. Minahasa Selatan 72.28 72.41 72.54 72.76

Kab. Minahasa Utara 72.60 72.73 72.87 73.09

Bolaang Mongondow Utara 69.91 70.06 70.16 70.42

Minahasa Tenggara 70.03 68.71 73.42 70.34

Kep. Siau Tagulandang Biaro 68.62 70.1 68.81 69.00

Bolaang Mongondow Selatan 71.29 71.34 71.39 71.47

Bolaang Mongondow Timur 71.35 71.42 71.48 71.51

Kota Manado 72.64 72.7 72.77 72.96

Kota Bitung 70.50 70.59 70.67 70.90

Kota Tomohon 72.62 72.78 72.95 73.13

Kota Kotamobagu 71.80 71.96 72.12 72.34

Sulawesi Utara 72.22 72.33 72.44 72.62

Sumber : BPS Sulawesi Utara, diolah

Pada tahun 2013 Kota Kotamobagu untuk indeks harapan hidup berada di  peringkat 8 dari seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara. Ini menandakan

masih sangat diperlukan perhatian dari pemerintah khususnya dibidang kesehatan agar indeks harapan hidup dapat lebih ditingkatkan.

2. Indeks Pendidikan

Indeks pendidikan terdiri dari dua indikator dengan penilaian bobot yang  berbeda. Indikator Melek huruf dan Indikator lama sekolah menjadi penyusun

Indeks pendidikan. Angka melek huruf sering digunakan untuk menggambarkan kualitas SDM. Peningkatan wawasan pengetahuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca dan menulis.

(48)

Peringkat Angka melek huruf Kota Kotamobagu di peringkat 7, ji ka dibandingkan dengan rata-rata seluruh Sulawesi Utara, angka ini lebih besar dari Sulawesi Utara.

Tabel 6 Tingkat Melek Huruf Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara tahun 2013

Kabupaten/Kota 2013 Peringkat

Manado 99.93 1

Minahasa 99.90 2

Kota Tomohon 99.88 3

Minahasa Selatan 99.87 4

Kep. Siau Tagulandang Biaro 99.82 5

Minahasa Utara 99.79 6

Kota Kotamobago 99.68 7

Kepulauan Talaud 99.60 8

Bolaang Mongondow Timur 99.59 9

Minahasa Tenggara 99.56 10

Kota Bitung 99.44 11

Bolaang Mongondow Selatan 99.09 12

Kep.Sangihe Talaud 98.78 13

Bolaang Mongondow Utara 98.68 14

Bolaang Mongondow 98.34 15

Sulawesi Utara 99.56

Sumber BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah

Komponen penyusun lainnya adalah indikator rata-rata lama sekolah. Rata-rata Lama Sekolah ( Indeks Pendidikan) untuk Kota Kotamobagu mengalami  peningkatan dari tahun ke tahun. Secara rangking, pada komponen IPM yaitu komponen Rata-Rata Lama Sekolah ini, Kota Kotamobagu berada pada rangking ke-4 pada tahun 2013. Rata-rata Lama sekolah di Kotamobagu sekitar 9,54 tahun, lebih tinggi dari rata-rata di Sulawesi Utara, artinya untuk pendidikan dasar di Kotamobagu sudah memenuhi namun untuk sampai ke pendidikan menengah masih kurang. Idealnya Rata-rata Lama Sekolah adalah 15 tahun.

(49)

Tabel 7 Rata-rata Lama Sekolah Kebupaten/Kota di Sulawesi Utara t ahun 2013 Kabupaten/Kota 2013 Peringkat Bolaang Mongondow 7.48 12 Minahasa 9.55 3 Kep.Sangihe Talaud 7.76 11 Kepulauan Talaud 8.82 7 Minahasa Selatan 8.80 8 Minahasa Utara 9.42 6

Bolaang Mongondow Utara 7.44 13

Kep. Siau Tagulandang Biaro 8.65 9

Minahasa Tenggara 8.43 10

Bolaang Mongondow Selatan 7.32 15

Bolaang Mongondow Timur 7.50 14

Manado 10.92 1

Kota Bitung 9.47 5

Kota Tomohon 10.30 2

Kota Kotamobagu 9.54 4

Sulawesi Utara 9.09

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah 3. Indeks Daya Beli (Purchasing Power Parity)

Indeks daya beli adalah Komponen standar hidup layak atau dikenal (Purchasing Power Parity/PPP) sebagai nilai konsumsi riil perkapita yang disesuaikan meriupakan ukuran tingkat daya beli masyarakat yang diasumsikan  jika daya beli semakin baik atau pola konsumsi meningkat dapat mencerminkan kualitas hidup masyarakat semakin baik sebab pola konsumsi mencerminkan pola alokasi pendapatan kepada berbagai macam pengeluaran yang berbentuk makanan dan non makanan.

(50)

Tabel 8 Pengeluaran riil perkapita Kabupaten /Kota di Sulawesi Utara tahun 2013 (dalam ribu rupiah)

Kabupaten/Kota 2013 Peringkat Bolaang Mongondow 628.58 11 Minahasa 635.56 9 Kep.Sangihe Talaud 647.10 2 Kepulauan Talaud 637.53 6 Minahasa Selatan 627.05 12 Minahasa Utara 637.33 7

Bolaang Mongondow Utara 636.06 10

Kep. Siau Tagulandang Biaro 639.39 5

Minahasa Tenggara 622.70 13

Bolaang Mongondow Selatan 606.76 15

Bolaang Mongondow Timur 622.45 14

Manado 650.81 1 Kota Bitung 646.31 3 Kota Tomohon 635.90 8 Kota Kotamobagu 639.49 4 Sulawesi Utara 646.19 Sumber : BPS. Di olah

Peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat dipengaruhi oleh pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat, capaian daya beli masyarakat di tahun 2013 sebesar 636 ribu rupiah perkapita pertahun. Indeks daya beli di Kaota Kotamobagu secara umum cukup baik, dari seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara peringkat ke-4 dan peringkat pertama untuk wilayah Bolaang Mongondow Raya (Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan). Hal ini menunjukkan tingkat daya beli masyarakat Kota Kotamobagu masih lebih tinggi dibandingkan daerah hasil  pemekaran di wilayah Bolaang Mongondow dan sekitarnya.

(51)

Beberapa indikator dapat menggambarkan keadaan Kotamobagu dari sisi ekonominya antara lain :

1. Pertumbuhan ekonomi Kotamobagu naik dari 7,55 persen menjadi 7,78  persen pada tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi sebesar 7,78 persen berada diatas pertumbuhan ekonomi Sulut yang sebesar 7,45 persen. Namun  pertumbuhan ekonomi Kotamobagu masih berada di atas rata-rata  pertumbuhan ekonomi di kabupaten/kota lainnya.

2. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita tahun 2013 sebesar 12.380.787 rupiah, sedangkan nilai PDRB perkapita Atas Dasar Harga Konstan tercatat sebesar 5.063.201 rupiah. Nilai PDRB perkapita baik PDRB  perkapita ADHB maupun PDRB perkapita ADHK setiap tahunnya menunjukkan kenaikan, Ini artinya setiap tahunnya secara rata-rata tingkat kemakmuran masyarakat di Kotamobagu menunjukkan trend yang positif.

3. PDRB Perkapita Kota Kotamobagu Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) tahun 2013 sebesar 12.380.787 rupiah, sedangkan nilai PDRB perkapita Atas Dasar Harga Konstan tercatat sebesar 5.063.201 rupiah. PDRB perkapita Kotamobagu naik sebesar 6,65 persen untuk PDRB perkapita ADHB, sedangkan untuk PDRB perkapita ADHK naik sebesar 1,14 persen.

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

(52)

4. Struktur Ekonomi Kota Kotamobagu tahun 2013 tidak mengalami  perubahan dari tahun sebelumnya. Sektor Jasa sebagai penyumbang terbesar PDRB Kotamobagu sebagian berasal dari subsektor pemerintahan sedangkan sisanya disumbangkan oleh subsektor swasta dari jasa sosial kemasyarakatan dan jasa perorangan.

5. Pada sektor primer yang terdiri dari sektor pertanian dan sektor  pertambangan, Subsektor yang memberikan konstribusi terbesar dalam  pembentukan PDRB tahun 2013 adalah sub sektor Tabama (Tanaman Bahan Makanan), yaitu sebesar 4,41 persen dengan pertumbuhan1,21 persen. Secara keseluruhan kontribusi sektor primer terhadap PDRB Kotamobagu adalah sebesar 9,5 persen.

6. Pada Kelompok sektor sekunder yaitu sektor industri pengolahan, listrik air dan gas, dan bangunan berkontibusi sebesar 17,89 persen dari toral PDRB Kotamobagu. Sektor bangunan berkontribusi paling banyak di kelompok ini yaitu sebesar 16,19 persen

7. Hasil analisis tipology Klassen daerah Kotamobagu termasuk dalam kuadran III sebagai daerah yang berkembang cepat. Kotamobagu laju pertumbuhan PDRB lebih tinggi dari laju pertumbuhan rata-rata di Sulawesi Utara, tetapi PDRB perkapitanya lebih rendah dari rata-rata di Sulawesi Utara. Artinya Kotamobagu mempunyai produktivitas yang lebih tinggi namun tingkat ekonominya masih relative rendah di bandingkan di Sulawesi Utara. Kotamobagu memerlukan investasi publik dan promosi untuk lebih mempercepat produktivitasnya sehingga tingkat ekonominya lebih tinggi.

(53)

8. Realisasi penerimaan/pendapatan pemerintah Kota Kotamobagu pada Tahun 2013 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama bersumber dari retribusi daerah. Kemudian Kenaikan  pendapatan transfer berupa dana perimbangan, pendapatan transfer terbesar  bersumber dari penerimaan Dana Alokasi Umum.

9. Realisasi belanja selama 2009-2013 terbesar diserap oleh belanja operasional, tahun 2009 sebesar 53,88 persen dan tahun 2013 sebesar 73,01 persen. Sedangkan belanja modal pada tahun 2013 sebesar 26,98 persen. Belanja operasional untuk belanja pegawai adalah yang terbesar, belanja pegawai menyerap 72,57 persen dari total belanja operasional pada tahun 2013.

10. Indeks Pembangunan Manusia dari Kota Kotamobagu tahun 2013 sebesar 77,05 dan berada di peringkat ke-5 dari seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara. Setiap tahun IPM Kota Kotamobagu mengalami kenaikan, ini menunjukkan adanya pembangunan manusia yang ditunjukkan dari indeks harapan hidup, indeks pendidikan, dan indeks daya beli. Namun perlu diperhatikan juga bahwa pembangunan manusia ini juga masih perlu ditingkatkan mengingat masih berada dibawah angka IPM Sulawesi Utara

(54)
(55)

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha di Kota Kotamobagu 2010 –  2013

LAPANGAN USAHA 2010 2011 2012 2013** 1. PERTANIAN 92 954,71 98468,85 98468,85 103656.96

a. Tanaman Bahan Makanan 58 265,28 61078,17 61078,17 63243.98 b. Tanaman Perkebunan 8 446,75 8891,00 8891,00 10008.50 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 8 836,00 9528,90 9528,90 10448.32 d. Kehutanan 0,00 0,00 0,00 0.00 e. Perikanan 17 406,67 18970,78 18970,78 19956.16 2.PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 28 400,41 30505,78 30505,78 32662.13 a. Minyak dan Gas Bumi 0,00 0,00 0,00 0.00 b. Pertambangan tanpa Migas 0,00 0,00 0,00 0.00 c. Penggalian 28 400,41 30505,78 30505,78 32662.13 3.INDUSTRI PENGOLAHAN 17 613,31 18817,87 18817,87 20233.21 a. Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0.00 b. Industri Tanpa Migas **) 17 613,31 18817,87 18817,87 20233.21 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 3 417,68 3699,98 3699,98 4163.96 a. Listrik 2 623,05 2833,34 2833,34 3233.42

b. Gas 0,00 0,00 0,00 0.00

c. Air Bersih 794,63 866,64 866,64 930.54 5. KONSTRUKSI 175 865,89 207065,01 207065,01 232339.18 6. PERDAG., HOTEL & RESTORAN 162 617,43 178248,80 178248,80 198246.09 a. Perdagangan Besar & Eceran 142 839,13 157010,24 157010,24 174086.28 b. Hotel 5 194,32 5640,63 5640,63 6271.89 c. Restoran 14 583,98 15597,94 15597,94 17887.92 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 45 683,08 51125,56 51125,56 60227.74 a. Pengangkutan 39 035,88 43567,96 43567,96 51735.38 b. Komunikasi 6 647,20 7557,60 7557,60 8492.36 8. KEU. PERSEWAAN, & JASA

PERUSAHAAN 126 617,26 140 888,85 160597,90 179960.16 9. JASA-JASA 404 500,74 457 275,87 514453,49 603852.37 a. Pemerintahan Umum 363 240,14 411 617,61 464282,27 546499.60 b. Swasta 41 260,60 45 658,26 50171,21 57352.77 PDRB 993 809,40 1124717,22 1262983,24 1435341.79 Sumber: BPS Kotamobagu

(56)

LAPANGAN USAHA 2010 2011 2012 2013 1. PERTANIAN 38558.61 39262.41 40414.05 41351.93 a. Tanaman Bahan Makanan 23534.06 24033.28 24724.94 25024.88 b. Tanaman Perkebunan 4752.74 4673.47 4763.32 5051.76 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 3858.08 3993.32 4156.90 4352.74 d. Kehutanan 0.00 0.00 0.00 0.00 e. Perikanan 6413.73 6562.33 6768.88 6922.55 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 15285.92 15804.59 16457.37 17181.93 a. Minyak dan Gas Bumi 0.00 0.00 0.00 0.00 b. Pertambangan Bukan Migas 0.00 0.00 0.00 0.00 c. Penggalian 15285.92 15804.59 16457.37 17181.93 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 9092.39 9540.81 9932.42 10360.85 a. Industri Migas 0.00 0.00 0.00 0.00 b. Industri Bukan Migas 9092.39 9540.81 9932.42 10360.85 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 2190.20 2285.11 2387.34 2564.82 a. Listrik 1673.29 1749.30 1829.63 1980.11 b. Gas Kota 0.00 0.00 0.00 0.00 c. Air Bersih 516.91 535.81 557.70 584.71 5. KONSTRUKSI 82717.03 91532.33 103359.06 112910.0 6. PERDAG., HOTEL & RESTORAN 73724.64 82243.77 87871.95 93585.65

a. Perdagangan Besar & Eceran 61688.45 69527.53 74308.99 78958.59 b. Hotel 3641.20 3929.01 4232.64 4552.56 c. Restoran 8395.00 8787.22 9330.31 10074.49 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 35263.03 37383.51 40101.66 43491.55 a. Pengangkutan 30919.79 32818.86 35081.27 37986.95 b. Komunikasi 4343.25 4564.65 5020.39 5504.60 8. KEU. REAL ESTAT, & JASA

PERUSAHAAN 69047.86 72703.16 77504.70 84693.29 9. JASA-JASA 147181.15 155632.87 166592.36 180852.09

a. Pemerintahan Umum 122860.39 129860.39 139267.94 151283.78

b. Swasta 24320.75 25772.48 27324.42 29568.32 PDRB 473060.83 506388.57 544620.91 586992.13

(57)

Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan tahun 2011-2013

LAPANGAN USAHA 2011 2012 2013

1. PERTANIAN 1.83 2.93 2.32

a. Tanaman Bahan Makanan 2.12 2.88 1.21

b. Tanaman Perkebunan -1.67 1.92 6.06

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 3.51 4.10 4.71

d. Kehutanan 0 0 0

e. Perikanan 2.32 3.15 2.27

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 3.39 4.13 4.40

a. Minyak dan Gas Bumi 0 0 0

b. Pertambangan Bukan Migas 0 0 0

c. Penggalian 3.39 4.13 4.40

3. INDUSTRI PENGOLAHAN 4.93 4.10 4.31

a. Industri Migas 0 0 0

b. Industri Bukan Migas 4.93 4.10 4.31

4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 4.33 4.47 7.43

a. Listrik 4.54 4.59 8.22

b. Gas Kota 0 0 0

c. Air Bersih 3.66 4.09 4.84

5. KONSTRUKSI 10.66 12.92 9.24

6. PERDAG., HOTEL & RESTORAN 11.56 6.84 6.50 a. Perdagangan Besar & Eceran 12.71 6.88 6.26

b. Hotel 7.90 7.73 7.56

c. Restoran 4.67 6.18 7.98

7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 6.01 7.27 8.45

a. Pengangkutan 6.14 6.89 8.28

b. Komunikasi 5.10 9.98 9.64

8. KEU. REAL ESTAT, & JASA

PERUSAHAAN 5.29 6.60 9.28

a. Bank 5.10 5.93 9.26

b. Lembaga Keuangan Bukan Bank 5.86 6.55 7.95

c. Jasa Penunjang Keuangan 0 0 0

d. Real Estat 6.73 11.69 9.62 e. Jasa Perusahaan 5.52 5.97 5.82 9. JASA-JASA 5.74 7.04 8.56 a. Pemerintahan Umum 5.70 7.24 8.63 b. Swasta 5.97 6.02 8.21 PDRB 7.05 7.55 7.78

(58)

Bolaang Mongondow 9,180,773 10,395,712 11,287,464 12,334,505 Minahasa 13,975,690 15,492,430 17,093,388 18,956,472 Sangihe 11,681,787 13,219,842 14,579,031 16,054,337 Talaud 9,188,977 12,422,327 11,352,960 12,201,460 Minahasa Selatan 13,255,021 15,195,360 16,674,906 18,347,850 Minahasa Utara 14,174,381 15,277,530 16,649,437 18,426,250 Bolaang Mongondow Utara 10,002,739 11,597,220 13,067,587 15,063,778 Sitaro 9,290,000 11,410,000 13,294,861 13,748,926 Minahasa Tenggara 8,804,015 9,192,946 21,380,061 23,678,799 Bolaang Mongondow Selatan 8,169,541 9,479,902 10,487,927 11,463,767 Bolaang Mongondow Timur 12,127,689 13,715,740 14,918,870 16,191,068 Manado 29,043,388 32,393,111 37,419,200 42,340,066 Bitung 21,388,698 22,302,893 26,641,184 27,904,046 Tomohon 14,474,587 16,002,275 17,447,996 19,113,777 Kotamobagu 9,248,524 10,349,651 11,608,942 13,151,261 Sulut 16,220,000 18,280,000 20,344,833 22,786,638

(59)

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten /Kota di Sulawesi Utara Tahun 2010-2013 Kabupaten 2010 2011 2012 2013 Bolaang Mongondow 4.91 6.06 6.49 6.84 Minahasa 6.24 6.35 6.81 6.56 Sangihe 5.85 5.07 5.64 6.20 Talaud 5.51 5.65 5.88 6.45 Minahasa Selatan 8.57 6.03 6.37 6.64 Minahasa Utara 6.78 6.48 7.01 6.92 Bolaang Mongondow Utara 7.62 8.17 8.32 8.41 Sitaro 7.35 7.54 8.32 8.30 Minahasa Tenggara 8.09 5.6 6.43 6.61 Bolaang Mongondow Selatan 6.82 7.72 8.09 8.29 Bolaang Mongondow Timur 7.11 7.39 7.44 7.47 Manado 7.30 8.39 8.71 8.57 Bitung 6.88 7.76 7.98 7.92 Tomohon 6.1 6.36 6.92 6.93 Kotamobagu 7.42 7.05 7.55 7.78 Sulut 7.17 7.39 7.86 7.45

(60)

Uraian 2010 2011 2012 2013

Pendapatan 373,073 398,888 366,897 441141

PAD 8,957 9,355 11,105 14517.07

Pajak daerah 2,112 2,906 4,804 5425.529

Retribusi daerah 2,206 1,938 4,804 3657.338

Lain-lain PAD yang sah 4,638 4,511 1,501 5434.201

Pendapatan Transfer 314,669 361,747 55,792 426623.9

Transfer Pemerintah Pusat - Dana

Perimbangan 264,890 267,919 309,275 364173.4

Dana Bagi Hasil Pajak 17,409 8,908 6,381 10055.13

Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (SDA) 224 8,490 8,380 8001.561

Dana alokasi umum 201,553 223,015 270,247 311773.8

Dana alokasi khusus 45,704 27,506 24,267 34342.9

Transfer Pemerintah Pusat

-Lainnya 42,402 84,648 33,194 40087.76

Dana Otonomi Khusus -

-Dana Penyesuaian 42,402 84,648 33,194 40087.76

Transfer Pemerintah Provinsi 7,377 9,180 13,322 14820.26

Pendapatan Bagi Hasil Pajak 7,377 9,180 13,322 14820.26

Pendapatan Bagi Hasil Lainnya -

-Lain-lain Pendapatan yang sah 49,447 27,786 - 7542.462

Pendapatan Hibah - 750

-Pendapatan Dana Darurat - -

-Pendapatan Lainnya 49,447 27,036 - 7542.462

Gambar

Tabel  1.  Kontribusi  Sektoral  PDRB  atas  Dasar  Harga  Berlaku
Gambar 1. Klasifikasi Daerah berdasarkan Tipology Klassen 2.1.5 Keuangan daerah
Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Kotamobagu dan Sulawesi Utara
Gambar 3. PDRB perkapita Kotamobagu tahun 2010-2013
+7

Referensi

Dokumen terkait

Demikian Pengumuman Perusahaan Pemenang Pelelangan Umum ini dibuat, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Jambi, 17

- Penetapan Harga dan Pengawalan Stabilisasi Harga Buah Segar Kelapa Sawit. Lokasi Kegiatan

1) Ketua Tim Pengendali P3T menindaklanjuti kebijakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer sesuai Norma, Standar, Prosedur

Bentuk permukaan tanah itu akan dapat dilukiskan oleh garis-garis yang menghungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama, sehingga diperoleh suatu peta

Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung: Uneversitas Pendidikan Indonesia, 2003. Sukardi, Metodologi

Instruksi Kepada Peserta (IKP), serta hasil evaluasi terhadap Dokumen Isian Kualifikasi untuk pekerjaan sebagaimana subyek tersebut diatas, maka dengan ini kami

Lampiran : Surat Panitia Pengadaan Barang/ Jasa Konstruksi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah TA5. Asli

Customer Delivered Value Total Customer value Total Customer Cost Product value Service Value Personal value Monetary cost Time cost Energy cost... Costumer