Penulis tertarik melakukan penelitian di SMP Penda Tawangmangu khususnya pada kelas VIIIB, karena nilai keterampilan membaca huruf

Teks penuh

(1)

Jawa (pdkjateng.co.id). Peraturan gubernur tersebut dirasa penting, agar penggunaan bahasa, sastra, dan huruf Jawa semakin mendarah daging dan melekat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga masyarakat Jawa tidak akan kehilangan jati diri dan kepribadiannya. Bukan hanya dalam hal bertutur, pemerintah provinsi JawaTengah juga mewajibkan huruf Jawa ditulis sebagai pendamping bahasa Indonesia pada nama jalan, kantor pemerintah daerah, kabupaten atau kota, serta instansi lain di Jawa Tengah. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi dan melestarikan tradisi dan budaya Jawa. Pelestarian bahasa, sastra, dan huruf Jawa secara intensif juga sudah dilakukan di satuan pendidikan formal, nilai tingkat SD/sederajat hingga tingkat SMA/SMK (Darusuprapta, dkk. 2002: vii).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (MENDIKNAS) Nomor: 060/X/1993 dan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 895.5/1/2005 tentang ditetapkannya pelajaran Bahasa Jawa sebagai pelajaran muatan lokal wajib pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Selain itu, huruf Jawa telah terdaftar di Unicode Concortium dan telah memiliki Standard Encoding Caracter Setting yang diakui UNESCO, hal ini sangat membanggakan karena bahasa Jawa atau huruf Jawa disejajarkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia (Hadiwirodarsono, 2010: 2).

Menurut Koentjaraningrat (Kamil, 2013) kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan adalah suatu sarana hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang mengandung keseluruhan aspek sosial dan diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk budaya Indonesia yang diwariskan dari leluhur bangsa Indonesia kepada generasi bangsa Indonesia saat ini adalah Huruf Jawa atau Aksara Jawa.

(2)

Idealnya siswa SD, SMP, terlebih-lebih SMA dapat membaca huruf Jawa. Siswa harus dapat membaca huruf Jawa. Pada kenyataannya masih banyak siswa yang buta akan huruf Jawa. Penetili melakukan pratindakan pada hari Kamis, 24 Maret 2016. SMP Penda Tawangmangu terletak di jalan Desa Nglebak Kecamatan Tawangmangu yang ± 42 km dari Kota Solo. Kondisi lingkungan sangat sejuk dan asri karena terletak di kaki gunung Lawu. Kondisi kelas VIII B pada saat observasi sedikit gaduh dan ada beberapa sampah yang berserakan. Seragan yang dikenakan siswa tidak sama yaitu ada yang memakai seragam osis ada juga yang memakai seragam batik identitas SMP Penda Tawangmangu. Kondisi pembelajaran saat observasi kurang kondusif karena banyak siswa yang mengobrol dan tidak memperhatikan guru. Metode yang digunakan oleh guru ketika mengajar adalah metode ceramah sehingga pembelajaran berpusat pada guru atau teacher centre learning(TCL).

Berdasarkan data yang ada, nilai keterampilan membaca huruf Jawa siswa kelas VIIIB SMP Penda Tawangmangu yang mendapat nilai dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70,27%. Banyak di antara mereka yang tidak hafal huruf Jawa. Untuk dapat membaca huruf Jawa, mereka masih memerlukan buku pepak bahasa Jawa sebagai pendamping dan pedoman.Bahkan ada di antara mereka yang malas membuka pepak bahasa Jawa, seperti menganggap huruf Jawa sebagai momok yang menakutkan.Bentuk huruf Jawa yang rumit dan hampir serupa, membuat siswa sulit memahami dan menghafal huruf Jawa. Oleh sebab itu, inovasi pembelajaran bahasa Jawa terutama pada kompetensi dasar membaca huruf Jawa harus dikemas dan disajikan semenarik mungkin, agar siswa dapat tertarik dan bersemangat dalam nguri-uribudaya Jawa.

Pada kenyataannya, banyak guru mata pelajaran lain yang merangkap menjadi guru bahasa Jawa. Mayoritas guru mata pelajaran bahasa Jawa sudah sepuh atau tua dengan metode ceramah dengan Teacher Centered Learning (TCL) tanpa menggunakan media. Hal ini yang menjadikan mata pelajaran

(3)

bahasa Jawa menjadi monoton dan membosankan. Guru bahasa Jawa selama ini kurang tanggap terhadap perkembangan jaman, bahkan banyak dari mereka yang gagap teknologi. Banyak pihak yang menganggap mata pelajaran bahasa Jawa kurang begitu penting, karena tidak diikutsertakan dalam ujian nasional. Anggapan seperti itulah yang meracuni siswa, sehingga siswa kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar bahasa Jawa.

Permasalahan yang dihadapi oleh siswa VIIIB SMP Penda Tawangmangu adalah rendahnya motivasi siswa untuk belajar membaca huruf Jawa. Banyak siswa yang belum hafal huruf Jawa dan pasangannya. Semangat untuk menghafal huruf Jawa sangat rendah, sehingga para siswa masih belum bisa membedakan huruf yang satu dengan huruf yang lain. Oleh karenanya, perlu adanya suatu inovasi pembelajaran agar siswa tertarik dengan huruf Jawa. Banyak faktor yang melatarbelakangi masalah tersebut, bukan hanya faktor dari dalam (faktor internal) namun juga dari luar (faktor eksternal).

Faktor-faktor tersebut seperti kurangnya motivasi siswa dalam membaca huruf Jawa, siswa tidak tertarik dengan mata pelajaran bahasa Jawa terutama pada kompetensi dasar membaca huruf Jawa. Selain itu, metode yang digunakan oleh guru kurang begitu menarik bagi siswa, sehingga siswa tidak ada ketertarikan terhadap huruf Jawa. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak pernah menggunakan media. Lingkungan dan pergaulan siswa juga menjadi faktor yang sangat dominan, sebab faktor tersebut dapat membentuk karakter dan kebiasaan siswa.Salah satu faktor rendahnya motivasi membaca huruf Jawa adalah faktor sosial. Ada anggapan bahwa huruf Jawa ketinggalan jaman, siswa lebih merasa percaya diri apabila dirinya menguasai huruf Korea maupun Thailand. Huruf Jawa sudah jarang ditemukan di daerah Tawangmangu. Tidak hanya itu, siswa jarang membiasakan diri untuk membaca huruf Jawa. Sehingga huruf Jawa menjadi suatu materi pelajaran yang sulit.

(4)

Ekowati (Hambali, 2013:107) menyatakan bahwa alokasi waktu pembelajaran sangat kurang, mengingat banyaknya kompetensi membaca dan menulis huruf Jawa yang harus dikuasai oleh para siswa. Pembelajaran baca tulis huruf Jawa mayoritas disampaikan dengan metode ceramah. Media yang digunakan guru dalam pembelajaran huruf Jawa sangat minim. Guru membutuhkan media pembelajaran bahasa Jawa yang atraktif, interaktif, dan modern yang mampu menarik minat siswa dalam belajar huruf Jawa

Hambali (2013: 106-107) mengemukakan bahwa selama ini media pembelajaran huruf Jawa masih menggunakan media konvensional yaitu buku ataupun gambar dinding sehingga cenderung monoton dan kurang menarik. Untuk memotivasi para siswa, perlu diterapkan pengembangan media pembelajaran yang dapat menarik minat dan menumbuhkan semangat para siswa dalam mempelajari aksara Jawa. Dengan proses belajar yang menarik, materi yang dianggap sulit dapat disampaikan dengan lebih mudah, dapat diterima dengan baik oleh siswa.Semua guru tidak terkecuali bahasa Jawa harus mengikuti perkembangan jaman terutama dalam bidang teknologi, sehingga dapat menggunakan metode dan media yang baik, tepat, serta inovatif agar kegiatan belajar mengajar menjadi menarik dan menyenangkan. Pembelajaran yang kreatif menimbulkan semangat belajar siswa, karena siswa dapat belajar sambil bermain. Siswa merasa bosan jika guru hanya menggunakan metode ceramah dan jarang menggunakan media. Guru membutuhkan suatu metode maupun media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Media yang tepat dapat menunjang nilai dan prestasi siswa. Kualitas guru juga sangat berpengaruh terhadap prestasi dan motivasi siswa. Oleh karena itu, guru hendaknya mengikuti perkembangan jaman dan membuat pembelajaran yang inovatif.

Penulis tertarik melakukan penelitian di SMP Penda Tawangmangu khususnya pada kelas VIIIB, karena nilai keterampilan membaca huruf

(5)

Jawa masih jauh dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Lokasi sekolah yang berada di daerah pegunungan yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan karyawan pabrik. Faktor lingkungan inilah yang menjadikan siswa berasumsi bahwa setelah lulus sekolah akan bekerja di pabrik atau bertani seperti orang tuanya. Oleh karena itu, semangat dan motivasi belajar siswa sangat rendah. Hal inilah yang membuat peneliti tergugah untuk mengubah pandangan para siswa bahwa pendidikan yang tinggi itu penting untuk masa depan yang lebih baik. Peneliti juga menawarkan pembelajaran yang inovatif dengan menggunakan media kartu kuartet, sehingga siswa dapat bermain sambil belajar membaca huruf Jawa.

Dengan demikian, peneliti dan guru berkolaborasi untuk menetapkan kartu kuartet sebagai suatu solusi untuk mengatasi rendahnya keterampilan membaca huruf Jawa siswa kelas VIII B SMP Penda Tawangmangu. Kelebihan kartu kuartet adalah siswa tidak hanya dapat bermain namun juga belajar. Siswa dapat mengklasifikasikan huruf Jawa dengan mudah karena dalam kartu kuartet disajikan dalam desain yang menarik dan mudah diingat oleh siswa. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan judul. Peningkatan Motivasi dan Keterampilan Membaca Huruf Jawa Melalui Media Kuartet Siswa Kelas VIIIB SMP Penda Tawangmangu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang, maka rumusan masalah penelitianini sebagai berikut:

1. Apakah media kartu kuartet dapat meningkatkan motivasi membaca huruf Jawa siswa kelas VIII B SMP Penda Tawangmangu?

2. Apakah media kartu kuartet dapat meningkatkan keterampilan membaca huruf Jawa siswa kelas VIII B SMP Penda Tawangmangu?

(6)

C. Tujuan

Tujuan penelitian merupakan jawaban dari rumusan masalah agar suatu penelitian dapat lebih. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, tujuan penelitian ini dirinci menjadi dua, yaitu:

1. meningkatkan motivasi membaca huruf Jawamelalui media kartu kuartet siswa kelas VIII B SMP Penda Tawangmangu.

2. meningkatkan keterampilan membaca huruf Jawa melalui media kuartet siswa kelas VIII B SMP Penda Tawangmangu.

D. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis.

1. Manfaat Teoretis

Dari segi teoretis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk:

a. Memberi manfaat informasi secara tertulis maupun sebagai referensi mengenai motivasi dan keterampilan membaca huruf Jawa melalui media kartu kuartet.

b. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai media kartu kuartet, karena kartu kuartet tidak hanya digunakan untuk bermain namun juga dapat dijadikan sebagai bahan ajar.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan pembelajaran membaca huruf Jawa yang lebih berorientasi pada proses, bukan produk, secara inovatif sehingga kualitas pembelajaran meningkat.

2) Hasil penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan dan referensi oleh guru untuk memilih media yang tepat untuk kompetensi dasar membaca huruf Jawa.

(7)

3) Hasil penelitian ini dapat memberi masukan kepada guru dalam menentukan strategi pembelajaran berbahasa utamanya meningkatkan keterampilan membaca.

4) Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai upaya meningkatkan kreatifitas guru untuk meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) yang dimilikinya.

b. Bagi Siswa

Hasil penelitian ini bermanfaat bagi siswa untuk melakukan aktivitas membaca melalui pemilihan media yang benar, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan keterampilan membaca huruf Jawa secara optimal.

c. Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan inovasi keterampilan bahasa bagi guru bahasa Jawa dan memotivasi untuk selalu melakukan inovasi dengan strategi yang lain.

d. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat digunakan sebagai pengalaman menulis karya ilmiah dan melaksanakan penelitian dalam pendidikan sehingga dapat menambah pengetahuan, khususnya untuk mengetahui sejauh mana peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa setelah menggunakan media kartu kuartet.

e. Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini dapat dijadikan referensi sebagai tolak ukur atau pembanding penelitian yang lebih baik lagi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :