BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah sistem perbankan Islam atau yang dalam istilah resmi di

15  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Suatu bentuk sistem perbankan yang paling berkembang saat ini di Indonesia adalah sistem perbankan Islam atau yang dalam istilah resmi di Indonesia disebut sebagai perbankan syariah. Perbankan syariah secara sederhana diartikan sebagai lembaga perbankan yang dalam menjalankan kegiatannya didasari atas prinsip dan ketentuan syariah. Sedikit melihat kebelakang untuk menelusuri mengenai awal mula berkembangnya sistem perbankan non-interest

ini di dunia dapat kita telusuri melalui sumbernya yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, yang membentuk ideologi Islam yang dibawanya..

Islam menuangkan ketentuan-ketentuan hukumnya dalam Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam yang utama yang berfungsi sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia untuk memperoleh rahmat Allah menuju keselamatan dunia dan akhirat. Ketentuan dalam Al-Qur’an menghendaki adanya revolusi dalam segala bidang kehidupan kearah yang lebih baik, yang menyejahterakan seluruh umat manusia untuk segala zaman dan disegala tempat (li kulli zaman wa makan). Salah satu revolusi yang diperintahkan dalam kitab suci Al-Quran tersebut adalah revolusi sistem ekonomi.

Ajaran Islam menentang praktek ekonomi yang memeras masyarakat miskin dan hanya berpihak pada golongan kaya. Perlawanan terhadap sistem ekonomi yang tidak berdasarkan keadilan itu ditandai dengan pelarangan riba dan

(2)

larangan dalam berinvestasi di bidang yang diharamkan dalam syariah Islam. Hal tersebut dapat dilihat dalam suatu ayat yang mengatur kegiatan ekonomi dalam Al-Qur’an : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (An-Nisaa’: 160-161).

Selain dari ayat di atas, banyak ketentuan hukum Islam menyangkut bidang ekonomi yang terdapat didalam Al-Qur’an dan hadis yang pada pokoknya mengarahkan manusia dalam suatu sistem yang menjaga kesejahteraan semua umatnya, sehingga usaha yang dilakukan seorang manusia tidak menzalimi kehidupan manusia yang lainnya. Itulah keadilan dalam Ekonomi Islam.

Sumber hukum Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang kemudian diaplikasikan oleh umatnya dalam perkembangan peradaban Islam berikutnya memberikan gambaran betapa suatu sistem ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam itu dapat bertahan dan memberikan manfaat positif bagi sebesar-besarnya kepentingan umat. Berkaca dari sejarah keberhasilan penerapan sistem perbankan Islam pada masa lalu tersebut timbul kehausan dari beberapa golongan untuk membangkitkan kembali sistem ekonomi tersebut, dan mengakhiri dominasi sistem ekonomi konvensional yang semakin diragukan kapabilitasnya dalam mewujudkan keadilan ekonomi.

Konsep teori sistem perbankan Islam pertama kali muncul pada tahun 1940-an, yang mengedepankan konsep gagasan yang berdasarkan sistem bagi hasil. Melalui bukunya yang berjudul A Groundwork for Interest free Bank, Maududi Uzair membawa suatu pemikiran tentang perbankan Islam, sekaligus

(3)

memberikan gambaran teknis bagi penerapannya dalam dunia ekonomi kala itu, sehingga beliau dianggap sebagai pencetus teori perbankan Islam modern.

Realisasi dari teori ini kemudian juga mulai dikembangkan di beberapa negara dengan membentuk lembaga perbankan yang berdasarkan nilai-nilai Islam. Negara pelopor dibidang perbankan Syariah ini adalah Pakistan, yang ditandai dengan penghapusan sistem bunga pada tahun 1979 terhadap tiga institusi perbankannya, yang diikuti oleh Negara-negara lainnya yang membentuk bank-bank syariah pada sekitar era 1970-1980an seperti pembentukan Faisal Islamic Bank di Mesir dan Sudan, Kuwait finance house, Dubai Islamic Bank, Jordan Islamic Bank for Finance and Investment, Bahrain Islamic Bank, dan Islamic International Bank for Investment And Development di Mesir.1

Begitu juga dengan keadaan di Indonesia, dimana kecenderungan untuk membentuk suatu sistem perbankan alternatif, selain dari sistem perbankan konvensional yang ada pada masa itu, untuk menciptakan tata kehidupan ekonomi yang lebih baik yang sesuai dengan syariat Islam. Berbagai diskursus mengenai pembentukan perbankan syariah mulai digulirkan. Salah satu pembahasan mengenai pembentukan bank syariah diaksanakan oleh Majelis Ulama Indonesia pada Musyawarah Nasional IV MUI pada Agustus 1990 dan menghasilkan rekomendasi pembentukan kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia. Hal mana yang mencapai hasil dengan pembentukan Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama di Indonesia pada tahun 1992. Akan tetapi instrument hukum perbankan pada masa itu belum memfasilitasi terselenggaranya

1

Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press, 2001) hal. 18

(4)

sistem perbankan syariah secara penuh. Undang-undang nomor 7 tahun 1992 sebagai dasar hukum ”bank dengan sistem bagi hasil”–ini tidak memberikan rincian landasan hukum syariah maupun jenis usaha yang dapat dijalankan bank dengan sistem bagi hasil tersebut.

Tingginya tingkat bunga perbankan sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai bubble problem selama tahun 1998 sebagai bagian dari pemacu krisis ekonomi dikala itu mengakibatkan para debitur tidak mampu mengembalikan kreditnya yang justru memicu terjadinya kredit macet. Tingginya tingkat suku bunga itu disadadari merupakan bagian negatif dari sistem perbankan konvensional yang dikhawatirkan masyarakat dapat membawa kembali krisis ekonomi dikemudian hari, rasa kepercayaan pada lembaga keuangan pun berkurang, dan masyarakat mendambakan sistem lembaga keuangan alternatif yang dapat menghindari sisi negatif dari bank konvensional.2

2

Zainul arifin, Memahami Bank Syariah Lingkup Peluang, Tantangan dan Prospek (Jakata: Alvabet, 1999) hal. 24

Secara khusus juga timbul keraguan dari kalangan umat muslim di Indonesia untuk mempergunakan jasa perbankan konvensional. Keraguan tersebut timbul dari adanya pelarangan dalam hukum Islam untuk tidak melibatkan diri dalam kegiatan yang mengandung unsur perjudian (maisyir), ketidakpastian (gharar), bunga (riba), dan kebathilan yang sering ditemui dalam praktek operasional bank konvensional, yang menjadi salah satu factor pendorong bagi pemerintah untuk mewujudkan suatu sistem perbankan alternatif yang dapat mengakomodasi permasalahan tersebut.

(5)

Upaya untuk menciptakan sistem perbankan alternatif tersebut dilakukan dengan cara memperkuat landasan hukum dan pengaturan dari bank syariah, yang “bibit”nya sudah mulai dimunculkan sebagai bank dengan sistem bagi hasil seperti yang diatur dalam Undang-undang nomor 7 Tahun 1992, dengan dikeluarkannya Undan-undang nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Perubahan ini memberikan dampak yang besar bagi perkembangan sistem perbankan syariah di Indonesia, khususnya dalam memberikan landasan hukum bagi serta jenis usaha yang dapat dijalankan oleh bank syariah. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah. Penambahan aturan hukum bagi perbankan syariah ini mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pelaku perbankan di Indonesia.3

Bank Syariah, seperti bank konvensional, memiliki fungsi menghimpun dan menyalurkan dana melalui jenis kegiatan usaha yang bermacam-macam. Jenis

Perkembangan Landasan hukum yang memperkuat status dan penerapan sistem syariah pada bank di Indonesia juga dilakukan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Dampak dari dilahirkannya Undang-Undang tersebut adalah meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat pada umumnya maupun investor untuk menanamkan modalnya pada bank syariah sehingga berpengaruh pada meningkatnya asset bank syariah secara nasional.

3

(6)

kegiatan usaha yang paling berkembang dalam Bank Syariah adalah pembiayaan secara murabahah. Pembiayaan murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam pembiayaan

murabahah, penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli (harga dasar) dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah

merupakan bagian terpenting dari jual beli, dan prinsip akad murabahah

mendominasi pendapatan dari produk-produk perbankan syariah yang ada dikebanyakan bank syariah.

Meski demikian praktek murabahah dari segi hukum Islam tidak terlepas dari permasalahan dan perdebatan. Didalam praktek pembiayaan murabahah pada bank syariah timbul beberapa perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum berlakunya produk syariah tersebut. Hal tersebut dipermasalahkan karena sistem ini awalnya mengadopsi praktik jual beli yang sudah berlaku umum. Namun dengan memosisikan bank sebagai lembaga pembiayaan, praktik ini dan yang sejenis –seperti leasing- pun tak lepas dari jerat riba.4

“dalam hal salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana diperjanjikam dalam akad atau jika terjadi perselisihan antara bank dan nasabah maka upaya penyelesaian dilakukan melalui musyawarah dan dalam hal

Pada dasarnya pembiayaan murabahah adalah suatu hubungan hukum yang timbul dari adanya perjanjian yang suatu waktu dapat muncul suatu perselisihan atasnya. Untuk menyelesaikan sengketa di bidang perbankan syariah Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang berbunyi :

4

(7)

musyawarah sebagaimana dimaksud tidak mencapai kesepakatan, maka penyelesaian lebih lanjut dapat dilakukan melalui alternative penyelesaian sengketa atau badan arbitrase syariah.”5

Dan secara jelas dalam ketentuan Undang-Undang Perbankan Syariah dinyatakan bahwa penyelesaian sengketa perbankan syariah secara litigasi

merupakan kewenangan peradilan agama.

6

Sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking

sistem), Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk Tim

Pengembangan Perbankan Syariah yang bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri. Hasilnya, Tim

Pelaksanaan pembiayaan secara murabahah di Indonesia salah satunya dilaksanakan oleh Bank Syariah Mandiri yang jenis kegiatan syariah terbesarnya berasal dari transaksi produk murabahah. Bank Syariah Mandiri merupakan salah satu Bank milik Negara yang mengkonversi anak cabangnya menjadi bank syariah yang saat ini menjadi salah satu bank syariah dengan perkembangan yang sangat pesat. Bank Syariah Mandiri sendiri merupakan bank syariah yang lahir pada era krisis ekonomi pada 1998. Pada awalnya, pemerintah melakukan penggabungan (merger) empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo) menjadi satu bank baru bernama P.T. Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999.

5

Pasal 20 Ayat (1) Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana Bagi Bank Yang Menyelenggarakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah.

6

(8)

Pengembangan Perbankan Syariah melakukan konversi P.T. Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah dengan nama P.T. Bank Syariah Mandiri. 7

B. Perumusan Masalah

Sekarang Bank Syariah Mandiri tampil sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, yang telah memperoleh kepercayaan dan apresiasi positif dari masyarakat serta kalangan perbankan nasional dan internasional yang salah satunya dibuktikan dengan penghargaan Investor Award sebagai bank syariah terbaik tahun 2010, yang diselenggarakan oleh Majalah Investor pada 31 Agustus 2010. Oleh karena itu sangat menarik untuk melihat praktik pembiayaan

murabahah di bank syariah Mandiri sekaligus penerapan prinsip-prinsip syariah didalamnya.

Berdasarkan uraian diatas penulis akan mengkaji secara yuridis penerapan prinsip perbankan syariah yang telah menjadi bagian dari hukum positif yang termuat dalam peraturan perundang-undangan negara Republik Indonesia. Pengkajian secara khusus dilihat dalam pelaksanaan pembiayaan murabahah di Bank Syariah Mandiri dan penyelesaian pembiayaan murabahah bermasalah oleh Bank Syariah Mandiri.

Sesuai dengan latarbelakang yang penulis uraikan diatas, maka perumusan masalah yang akan penulis angkat adalah :

7

(9)

1. Bagaimana mekanisme pelaksanaan pembiayaan secara murabahah di Bank Syariah Mandiri?

2. Bagaimana penyelesaian pembiayaan murabahah bermasalah oleh Bank Syariah Mandiri?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan Penulisan :

1. Untuk mengetahui mekanisme pelaksanaan pembiayaan murabahah di Bank Syariah Mandiri sesuai dengan prinsip perbankan syariah dan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.

2. Untuk mengetahui proses penyelesaian pembiayaan murabahah

bermasalah oleh Bank Syariah Mandiri.

Manfaat Penulisan :

1. Secara Akademis untuk menambah pengetahuan hukum mengenai pelaksanaan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, khususnya pembiayaan murabahah.

2. Secara Praktis sebagai bahan acuan bagi para pihak yang berhubungan dengan kegiatan pembiayaan murabahah dan pengembangan perbankan syariah.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang diperoleh dari perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, judul skripsi ini belum pernah dikemukakan

(10)

dan permasalahan yang diajukan juga belum pernah diteliti. Oleh karena itu, penulisan skripsi dapat dikatakan masih orisinil sehingga keabsahannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

E. Tinjauan Kepustakaan

Pengertian pembiayaan dalam konteks perbankan syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.8 Definisi pembiayaan secara yuridis dalam sistem perbankan syariah Indonesia menyatakan bahwa:9

a. transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah;

“ Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:

b. transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk

ijarah muntahiya bittamlik;

c. transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’; d. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan

e. transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah

8

Z. Dunil, Kamus Istilah Perbankan, (Jakarta, Gramedia, 2004) hal.101

9

(11)

jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.”

Murabahah berasal dari bahasa arab yaitu al-ribh yang dapat diartikan sebagai saling memberi keuntungan. Secara istilan redaksi dari pengertian

murabahah sangat beragam. Dalam kitab yang berjudul al-Muhadzdzab

menyatakan yang dimaksud dengan murabahah adalah penjualan yang memberitahukan modal oleh penjual kepada pembeli, dan penjual meminta keuntungan kepada pembeli berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Dalam kitab Fiqh al-Sunnat dijelaskan oleh al-Sayyid Sabiq bahwa yang dimaksud dengan murabahah adalah penjualan barang dagangan dengan harga pada waktu beli disetai dengan keuntungan yang diberikan oleh pihak pembeli.10 Dalam praktek perbankan syariah saat ini, murabahah dapat didefinisikan sebagai perjanjian jual beli antara bank dengan nasabah dimana bank syariah membeli barang yang diperlukan oleh nasabah dan kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank syariah dengan nasabah.11

Bank syariah adalah bank yang dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan berdasarkan prinsip syariah. Ketentuan undang-undang tentang perbankan menyatakan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf

10

Jaih Mubarok, Perkembangan Fatwa Ekonomi Syariah di Indonesia, (Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2004) hal. 62

11

(12)

hidup rakyat.12 Syariah sendiri berasal dari bahasa arab yang secara bahasa berarti jalan yang lurus. Ahli ilmu fiqih (fuqaha) Muhammad Ali at-Thanawi menyatakan bahwa syariah adalah hukum yang ditetapkan Allah SWT melalui Rasul-Nya (Muhammad SAW) kepada para hamba-Nya agar para hamba-Nya menaati hukum itu atas dasar iman, baik yang berkaitan dengan akidah ataupun

amaliyah (muamalah dan ibadah).13

F. Metode Penelitian

Metode Penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Jenis, sifat, dan Pendekatan Penelitian

Penelitian terhadap permasalahan dalam skripsi ini dilakukan dengan penelitian yuridis sosiologis atau empiris. Penelitian hukum sosiologis ( sosio-legal research) atau empiris yang dilakukan dengan cara terutama meneliti data primer yang diperoleh di lapangan selain itu juga meneliti data sekunder dari perpustakaan.14

2. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Kantor Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Simpang Limun, Medan. Alasan pemilihan lokasi penelitian di kantor

12

Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

13

Abdul Wahhab Khallaf, Kaidah-Kaidah Hukum Islam Ushulul Fiqh, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2003) hal. 3

14

Tampil Anshari Siregar.Metode Penelitian Hukum Penulisan Skripsi. (Medan, Pustaka Bangsa Press,2005) hlm.23

(13)

Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Simpang Limun, Medan adalah berkenaan dengan Bank syariah Mandiri sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, dan keberadaan kota Medan yang termasuk kota dengan tingkat perkembangan ekonomi yang pesat, dimana kebutuhan masyarakatnya akan pembiayaan, khususnya pembiayaan secara murabahah, sangat tinggi. Untuk itu diperlukan suatu penelitian yang menghasilkan gambaran pelaksanaan pembiayaan murabahah oleh Bank Syariah Mandiri.

3. Tehnik Pengumpulan Data/ Bahan Hukum

Dalam melakukan kegiatan penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah sebagai berikut :

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku, tulisan-tulisan dan referensi lainnya yang mempunyai relevansi langsung dari masalah yang akan diteliti, yang disebut sebagai data sekunder.

b. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu penelitian yang didasarkan pada tinjauan langsung pada objek yang akan diteliti untuk mempermudah data-data primer, yaitu :

1) Wawancara, yaitu melakukan komunikasi langsung baik dengan pertanyaan yang bersifat terbuka atau bersifat tertutup kepada pegawai di Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Simpang Limun, Medan

(14)

dalam pengumpulan informasi, yang berkaitan dengan pelaksanaan pembiayaan murabahah oleh Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Simpang Limun, Medan.

4. Analisis Data/ Bahan Hukum

Data yang diperoleh melalui studi pustaka, pengamatan dan wawancara dikumpulkan, diatur urutannya, lalu diorganisasikan dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.15 Data yang bersifat kuantitatif menunjang dan akan dikualitatifkan karena keseluruhan data ini akan dianalisis secara kualitatif induktif yang akan diuraikan secara deskriP.T.if analitis, yaitu pendapat nara sumber serta perlakuannya diteliti dan dipelajari secara menyeluruh (komprehensif) dan tidak terikat pada angka-angka dan statistika. Berdasarkan pemikiran tersebut metode kualitatif bertujuan untuk menginterpretasikan secara kualitatif tentang pendapat atau tanggapan responden dan nara sumber, kemudian mendeskripsikannhya secara lengkap dan mendetail aspek-aspek tertentu yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang selanjutnya dianalisis untuk mengungkapkan kebenaran dan memahami kebenaran tersebut.16

G. Sistematika Penulisan

Dalam Bab I akan diuraikan secara sistematis informasi yang bersifat umum dan menyeluruh mengenai hal yang mendasar berkaitan dengan judul

15

Lexu Moleong.Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung, P.T.. Remaja Rosdakarya, 1999) hlm.103

16

Ronny Hanitijo Soemitro. Metode Penelitian Hukum. (Jakarta, Ghalia Indonesia,1982) hlm.93

(15)

skripsi. Bab I terdiri atas latar belakang, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab I diberi judul Pendahuluan yang merupakan pengantar dari isi skripsi ini.

Bab II memaparkan mengenai tinjauan umum tentang bank syariah, yang terdiri dari pembahasan pengertian bank Syariah, sejarah bank syariah, perbedaan bank syariah dengan bank konvensional, perkembangan regulasi bank syariah di Indonesia, dan prinsip operasional bank syariah.

Bab III khusus menjelaskan aspek akad dalam pinsip syariah, serta menjelaskan mengenai pembiayaan bank syariah dan pembiayaan murabahah

sebagai produk pembiayaan bank syariah.

Bab IV menguraikan mengenai pelaksanaan pembiayaan murabahah oleh Bank Syariah Mandiri dilihat dari aspek hukum dan penyelesaian pembiayaan murabahah bermasalah oleh Bank Syariah Mandiri.

Bab V adalah bab terakhir dalam penulisan ilmiah ini yang memaparkan garis besar dari karya tulis ilmiah ini dalam bagian kesimpulan dan bagian saran yang memuat pendapat-pendapat penulis berkaitan dengan penyempurnaan pelaksanaan pembiayaan murabahah oleh bank syariah.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di