1
POKOK-POKOK BAHASAN
I. PROLOG
Pendahuluan dari Simposium Internasional Ilmiah Lusi Mei 2011: Tiga Isu Aktual menjadi perhatian utama Simposium Lusi: Tujuan Umum dan Strategis:
Menyaksikan dan Memaknai Perubahan Mendasar Bencana Lusi dan Strategi Penanggulangannya:
Faktual perubahan mendasar perilaku dan intensitas semburan:
Memaknai sistem pengaliran Lusi ke Laut melalui wahana Kali Porong: Perubahan paradigma semburan Lusi yang Tidak fokus pada Pemicu Lusi: Pembahasan makalah ilmiah, bervariasi dari aspek makro sampai ke mikro: Kemajuan pada pemahaman sistem Lusi:
Penyamaan persepsi masih banyak diperlukan banyak lagi pekerjaan ilmiah ke depan:
II. BENANG MERAH PEMAHAMAN MENDASAR UNTUK STUDI LUSI
KE DEPAN:
A. Perkembangan baru yang signifikan:
Lusi sebagai sistem hidro-termal yang baru lahir; Landasan untuk penelitian sistem hidrotermal; Hubungan sistem saluran busur magmatic.
B. Temuan baru yang paling signifikan Sistem Lusi: Sistem hidrotermal yang baru Lahir Kaitan langsung dengan komplek volkanik:
Implikasi Lusi sebagai sistem hidrotermal: * Studi perilaku Lusi ke depan:
* Prospek energi panas bumi (energi hijau):
* Kemajuan pemahaman sistem hidrotermal dan hubungan dengan volkanik:
E. Karakteristik Gunung Lumpur yang umum;
F. Lusi bukan sebagai gunung lumpur yang umum (Atype mud volcano);
G. Kaitan langsung hubungan sistim saluran Lusi dengan sistem busur magmatik: H. Langkah pemahaman pemicu Lusi dan perkembangan ke depan:
I. Komposisi awal gas bermula metan mikroba (CH4) berasal dari biogenik: J. Komposisi gas pasca 2006 berubah berasal dari termogenik:
K. Isotop helium dan karbon, berasal dari reaksi temperatur tinggi: L. Indikasi sumber fluida Lusi dari hasil turunan selubung:
M. Jalur ke luar fluida Lusi berasal dari sumber yang dalam: N. Sumber fluida berada pada kedalam 4400m:
O. Sumber cairan dari eksternal:
P. Sumber cairan eksternal bukan dari Formasi Kujung:
Q. Skenario baru sumber fluida dari dalam dan sumber panas dari gunung magmatik: R. Mendorong sumber fluida dari proses karbonisasi kerogen, dehidrasi:
S. Tingginya aliran panas, hadirnya helium selubung dan dominasi gas CO2:
T. Perubahan mode dari kondisi tekanan dan suhu tinggi menjadi suhu tinggi tekanan rendah:
U. Indikasi transportasi yang cepat dan transpor jarak jauh:
V. Peran yang lebih luas dari volkanik di busur depan yang lokasinya berdekatan:
W. Perubahan semburan lusi sebagai siklus geyser (2010) semi-periodik, semburan di dominasi oleh uap air:
X. Perilaku geyser, penurunan volume lumpur, stabilitas sumber lumpur:
Y. Perilaku semburan, dominasi pusat semburan dan semburan kecil dengan siklus yang kembar dan sendiri:
3
III. HASIL-HASIL SIGNIFIKAN MENDUKUNG ISU AKTUAL TEMATIK
A.
Loyc (ASU)
Memperkuat pemahaman Perilaku semburan Geyser Lusi Memantau siklus semburan Geyser
Pemahaman komposisi gas di permukaan untuk sistem saluran bawah permukaan Untuk memahami frekuensi geyser dan aspek panas:
Pemantauan menerus melalui video dan pencitraan panas
B.
Tanikawa
Perkuatan sumber fluida Dalam, Temuan Penting litium
Nilai konsentrasi Litium mendekati yang ada di Ujuni Salt Bolivia
Analogi air asin kaya Litium dihasilkan sistem hidrotrmal sekala tektonik Temuan Litium memperkuat Lusi sebagai sistem hidrotrmal
Pengendali mekanisme pembentukan litium kindisi hidrotermal: Lithium Story Paradigma Baru, Prospek penambangan Litium dari sumber cairan untuk bahan bateri
Pemahaman mekanisme overpressures di cekungan Anomali Plot versus kedalaman
Sumber utama lumpur dari Formasi Kalibeng Atas
Formasi Kalibeng atas secara mekanik lemah, dapat memicu sistem Lusi Penurunan viskositas lumpur dampak masukan cairan eksternal
Kesimpulan diperlukan fluida dari sumber dalam untuk menjelaskan perbandingan air/lumpur yang tinggi
C.
Hilairy Hartnett
Membandingkan geokimia carian Lusi dengan yang lainnya Cairan Lusi Rumit, cenderung carian dari sumber dalam
Cairan Lusi yang panas beda dengan air laut, ada kemiripan dengan sumber gunung lumpur tua
Diperlukan studi lanjutan memodel interaksi air-batuan pada suhu tinggi
D.
Guntoro
Mineral deuterium bukti cairan Lusi dari sumber magmatik
Anomali komposisi air 70% dan lumpur 30%, bukan tipe gunung lumpur yang konvensional
Lokasi Lusi dalam kontek tektonik Indonesia
Keberadaan gas H2S berasal dari fluida dalam yang menembus Formasi Kujung: Sedimentasi busur belakang
Kontroversi sumber gas H2S
Formasi Kujung ditembus dari bawah
Lusi Tipe Proses sedimentasi di busur belakang
Pengendapan sedimen di busur belakang cepat meningkatkan overpressure Lumpur dan air berasal dari sumber yang berbeda
Cairan dari bawah mendorong lumpur Kalibeng Atas ke Permukaan
Penekanan Lusi sebagai suatu sistem hidrotermal dan bukan semburan mud volcano yang lumrah
E.
Tingay
Pemahaman awal sumber air eksternal yang mengenalikan Lusi berumur 23 Juta tahun dari Formasi Kunjung?
Kandidat yang paling mungkin sumber air adalah Formasi Porong-1 atau Formasi Prupuh lebih muda 7 tahun:
Kontroversi sumber air eksternal Lusi sumber dalam versus dari Formasi Prupuh menjadi Isu Aktual kedepan:
Perubahan batupasir klastik volkanik menjadi batuan beku volkanik:
Penentuan satuan batuan dan implikasinya terhadap mekanisme aliran fluida melalui rekahan:
5 Isu aktual yaitu sumber air, struktur rekahan bawah permukaan, evolusi dan
perkembangannya;
Saran studi ke depan Seismik 3D. Magnetotelurik, Geokimia, pemantauan sumur dan tiltmeter:
a). Studi seismik 3D/4D (yaitu, sebuah studi seismik 3D dalam jendela dengan aktu yang berbeda);
b). Magnetotelurik untuk mengidentifikasi cairan dan jalur mereka terhubung pada kedalaman;
c). Studi geokimia tambahan;
d). Sumur pemantauan untuk mendapatkan konstrain dari dua sifat fisik yang sangat penting (permeabilitas dan porositas) yang mengontrol aliran, dan
e). Tiltmeters mencatat deformasi di permukaan.
F.
Kadurin (Rusia)
Menampilkan struktur 3-D dan mengusulkan sistem Poligon; Identifikasi struktur patahan, diapir, struktur lumpur purba;
Sistem Poligon untuk memonitoring dinamika struktur pada kedalaman Lusi.
G.
Amanada Clarke, USA
Memahami antara perilaku Lusi dan aspek gempabumi:
Gunung Merapi dan Semeru merespon Gempabumi Yogyakarta:
Hubungan Lusi dengan gempabumi bersumber jauh: Analogi Gempa Oaxaca di Meksiko
Ada korelasi kuat kegempaan dengan sistem panasbumi dan hidrotermal: Lusi sebagai sistem alami dihasilkan dari geodinamika yang komplek: Pemicu Lusi sepenuhnya murni alami:
Hal-hal penting dapat diringkas sebagai berikut:
Proses Tektonik Lempeng, hasil dari sistem Busur Sunda;
Pembentukan cekungan busur belakang diisi sedimen yang cepat; Pengendapan sediman yang cepat membentuk lapisan overpressure;
tektonik jangka panjang;
Bukti terdapatnya gunung lumpur yang alami di Jawa Timur mendukung semburan Lusi adalah sistem alam.
H.
Satyana, BP MIGAS
Hubungan jatuhya kerajaan Jawa Kuno dan semburan gunung lumpur; Spekulasi didasarkan revelansi hubungan langsung dengan semburan Lusi; Berkembangnya beberapa mud volcano purba di wilayah sekitarnya;
Semburan terjadi secara spontan dengan analogi Lusi dapat terjadi dengan atau tanpa bantuan pengeboran local;
Pemodelan secara Numerik dari Lusi menjadi bagian cukup mendasar: Panjang Umur Semburan Lusi.
I.
Presentasi dua studi pemodelan oleh Davies dan Rudolph
I.a. Model Davies, USA
Penerapan simulasi Monte-Carlo; Panjang umur semburan Lusi 26 Tahun
I.b. Rudolph et. al.
Mempresentasikan hasil dari model, dimana lumpur juga lolos melalui geometri sederhana
Hubungan dengan Proses Pembentukan Kaldera:
Sumber lumpur telah setabil, semburan berlanjut karena diduga adanya fluide dari sumber dalam;
Semburan Lusi telah berubah ke sistem geyser, sedikit dengan tanpa material lumpur yang disemburkan;
7
IV. HARAPAN KEDEPAN DARI BENCANA KE MANFAAT
Apakah masih ada harapan dari bencana Lusi:
A. Prospek panas bumi:
Implikasi Lusi sebagai sistem hidrotermal yang baru lahir:
Besarnya pasokan air panas berhubungan dengan komplek gunung api: Kemungkinan pengembangan Lusi sebagai sumber energi hijau: B. Proses tumbuhnya ekonomi lokal pemanfaatan Bateri Litium:
Menyimpan energi hijau dari kompek panas bumi
C. Fakta Lusi sebagai GeoHeritage yang Langka: Mendukung Geo Park Lahirnya sistem hidrotermal yang baru
DARI KONTROVERSI MENJADI KEBERSAMAAN MENCARI
SOLUSI YANG HOLISTIK
SERI LUSI LABORTORIUM ALAM PUSAT STUDI
MUD VOLCANO DI INDONESIA DAN DUNIA
I.
PROLOG
I. Pendahuluan dari Simposium Internasional Ilmiah Lusi Mei 2011
Pada ulang tahun semburan Lumpur Sidoarjo (LUSI) yang ke 5 tahun (29
Mei 2011), BPLS bekerjasama dengan HSF (Australia) telah dapat
melaksanakan suatu Simposium Ilmiah Internasional Lusi (Selanjutnya
Simposium Lusi).
Pada Simposium Lusi, telah dihadiri oleh para ilmuwan dari berbagai
disiplin, praktisi dari berbagai penjuru dunia, termasuk para pejabat dari
berbagai Institusi Pemerintah Indonesia.
Pada hari pertama 25 Mei 2016 Simposium Lusi, telah dilaksanakan di
Lusi mud volcano.
Diawali dengan peninjauan lapangan ke pelabuhan Nelayan tradisional di
Tlocor, yang berlokasi di muara Kali Porong.
Ditujukan untuk lebih memaknai sistem pengaliran Lusi ke Laut melalui
Kali Porong.
Sedangkan even peninjauan dan foto bersama di “Tugu Aku Cinta
9
komitmen
bahwa
BPLS
dalam
melaksanakan
misi
nasional
Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi (Bencana Lusi).
Akan senantiasa memperhatikan aspek Lingkungan (environmental
friendly), dengan memperkecil dampak lingkungan yang mungkin terjadi.
II. Tiga Isu Aktual menjadi perhatian utama Simposium Lusi
Tiga aspek utama yang dibahas, yaitu:
(1) Kondisi aktual Lusi mud volcano pada umumnya;
(2) Khususnya pemahaman saat itu (the current state of understanding),
terhadap sistem Lumpur Sidoarjo ”LUSI” (Lusi system), dan
(3) Mengusulkan serangkaian kegiatan penelitian dan strategi mitigasi
bencana ke depan (propose future research and mitigation
strategies).
III. Tujuan Umum dan Strategis:
A).
Menyaksikan dan Memaknai Perubahan Mendasar Bencana Lusi
dan Strategi Penanggulangannya
Tujuan dilaksanakannya Simposium Lusi 2011, adalah agar para
peserta dari manca negara yang peduli terhadap Bencana Kebumian
Lusi.
Dapat menyaksikan secara langsung, terhadap terjadinya suatu
perubahan mendasar dari sistem Semburan Geyser Lusi.
Yang sekaligus berperan sebagai pengendali mekanisme utama
Bencana Lusi.
sebelumnya (tahun 2006-2009).
Sebagaimana yang umum diketahui sebagai suatu semburan dahsyat
yang merusak (violence and destructive).
Antara lain dicirikan dengan intensitas semburan rata-rata
100.000m
3/hari, bahkan pernah mencapai puncaknya pada Desember
2006 sebesar 150.000m
3/hari.
C).
Memaknai sistem pengaliran Lusi ke Laut melalui wahana Kali
Porong
Disamping itu para peserta juga diharapkan dapat mengamati secara
langsung, terhadap sistem pengaliran Lusi ke laut melalui Kali
Porong.
Dimana di bagian hulunya (PAT) telah dikerahkan peralatan utama
kapal keruk, serta peralatan pendukung lainnya.
Selanjutnya dari outlet di Kali Porong, Lusi mengalir secara alami.
Diharapkan masuk sampai ke palung dalam di Selat Madura, dengan
menggunakan mekanisme dari Kali Porong yang memiliki energinya
sendiri (tanpa mekanisasi).
IV. Perubahan paradigma semburan Lusi yang Tidak fokus pada Pemicu
Lusi
Meskipun saat itu perhatian dari masyarakat luas umumnya masih terus
berlanjut, terkait penyebab pemicu semburan Lusi (Causing and trigerring
11
Namun para ilmuwan yang berpatisipasi pada Simposium Lusi, telah
berkomitmen untuk lebih memfokuskan perhatiannya, pada pemahaman
terhadap sistem Lusi yang sekarang (Currently Lusi mud volcano system).
Sehingga tidak lagi memusatkan perhatiannya pada apa pemicu atau
inisiasiya (trigger and causing).
V. Pembahasan makalah ilmiah, bervariasi dari aspek makro sampai ke
mikro:
Pada Simposium Ilmiah Internasional Lusi ini yang dilaksanakan pada 26
Mei 2011 di Surabaya, telah presentasikan 13 makalah ilmiah.
Dengan substansi ilmiah, mencakup berbagai topik yang cukup luas dari
dimensi makro sampai nano.
VI. Debat Lusi bisa saja muncul kembali, Dari temuan yang
dipresentasikan:
Namun tidak menutup kemungkinan bahwa pada perdebatan pemicu
LUSI, di masa depan masih dapat muncul kembali.
Karena isu pemicu semburan Lusi masih sangat mendapatkan perhatian
dari banyak pihak.
Hal ini, sebagai implikasi terhadap adanya penemuan ilmiah baru dan
khususnya dari hasil penelitian yang disajikan pada Simposium Lusi
2011.
Cakupan bahasan makalah ilmiah yang dimulai dari yang menjangkau
sekala ribuan kilometer, yaitu dikenal dengan aspek tektonik regional.
Sampai ke skala nano meter, dari dimensi partikel lumpur. Juga termasuk
studi berbasis pemodelan numerik, diantaranya yang signifikan terkait
panjang umur semburan Lusi dari berbagai parameter.
VII.
Kemajuan pada pemahaman sistem Lusi
Topik makalah yang ditampilkan pada Simposium Lusi 2011, berkisar
dari yang telah dihasilkan berbagai kegiatan penelitian Lusi selama ini.
13
Sehingga dengan jelas telah menunjukkan adanya suatu kemajuan yang
cukup signifikan (significant progress).
Khususnya dalam upaya, untuk lebih memahami sistem mud volcano Lusi
ini (in understanding this system).
VIII. Penyamaan persepsi masih banyak diperlukan banyak lagi
pekerjaan ilmiah ke depan:
Namun demikian, juga dimaknai pada akhir Simposium Lusi, bahwa
masih diperlukan banyak lagi pekerjaan ilmiah ke depan. Sebagaimana
yang disampaikan para pemakalah, sebagai suatu rekomendasi, pada
bagian penutup dari presentasi terkait.
II.
BENANG MERAH PEMAHAMAN MENDASAR UNTUK
STUDI LUSI KE DEPAN :
Dapat dirangkai suatu benang merah dari hal-hal penting yang ditemukan pada hampir semua presentasi dari makalah terkait.
Dimana telah memberikan landasan yang kokoh bagi studi pada masa depan (sets a solid
foundation for future studies).
A.
Perkembangan baru yang signifikan:
a). Lusi sebagai sistem hidro-termal yang baru lahir
Tampaknya LUSI telah menjadi suatu sistem hidro-termal yang baru lahir
(new-born hydro-thermal system).
Dimana hal tersebut (Lusi suatu sistem hidrotermal), pada hakekatnya merupakan suatu fenomena geologi yang jarang terjadi (a geologic rarity).
Sehingga menawarkan banyak kemungkinan ke depan (offers many possibilities
for both assessing its future).
b). Landasan untuk penelitian sistem hidrotermal
Salah satunya akan menyediakan suatu landasan untuk suatu riset mendasar
(providing a platform for basic research) pada sistem hidro-termal (in hydro-thermal systems).
c). Hubungan sistem saluran busur magmatik
Dalam kaitan ini adalah sangat mendasar, untuk dimaknai hubungan Lusi dengan sistem saluran magmatik (links to magmatic plumbing) dari busur vulkanisme (arc
volcanism).
B.
Temuan baru yang paling signifikan Sistem Lusi: Sistem
hidrotermal yang baru Lahir
Temuan konsepsi baru yang dinilai paling signifikan (most significant new finding). Pasca even Debat Lusi di Afrika Selatan Oktober 2008, adalah tentang sistem LUSI
15
(the LUSI system). Sebagaimana yang telah diusulkan oleh Mazzini dari hasil studi
geokimianya (geochemical studies).
Studi Mazzini telah menyediakan suatu bukti yang cukup kuat (studies provide strong
evidence), bahwa LUSI adalah sistem hidrotermal yang baru lahir (that LUSI is a newborn hydrothermal system).
a). Kaitan langsung dengan komplek volkanik:
Selanjutnya diusulkan bahwa Lusi mempunyai hubungan yang langsung (a direct
link), dengan komplek vulkanik Arjuno Welirang yang ada didekatnya (to the nearby Arjuno-Welirang volcanic complex).
b). Implikasi Lusi sebagai sistem hidrotermal:
Jika gagasan-gagasan kedepan ini dapat diverifikasikan (merupakan hal penting), sehingga hal ini akan mempunyai implikasi penting pada:
o Studi perilaku Lusi ke depan:
Mempunyai implikasi yang Luas (this has major implications) terhadap studi-studi perilaku Lusi ke depan (for the future behavior of LUSI).
o Prospek energi panas bumi (energi hijau)
Kemungkinan untuk eksploitasi energi panas bumi (possible geothermal
energy exploitation), dan
o Kemajuan pemahaman sistem hidrotermal dan hubungan dengan volkanik Kemungkinan beberapa kemajuan mendasar dalam pemahaman kita (some
fundamental advances in our understanding) tentang sistem hidro-termal dan
saluran vulkanik (hydro-thermal systems and volcanic plumbing).
C.
Lusi bukan mud volcano yang umum
Hasil analisis kimia oleh Mazzini dari semburan lumpur dan air (erupting mud and
waters) telah menunjukkan suatu identifikasi.
Bahwa LUSI yang sebelumnya ditentukan sebagai suatu gunung lumpur yang umum
(identifying LUSI as a mud volcano), namun hal ini mungkin menjadi kurang tepat
D.
Perbedaan dengan mud volcano yang umum (type mud volcano)
Karena sifat sistem Lusi mud volcano ini sangat berbeda (Atype mud volcano), daripada yang biasanya umum disebut-sebut sebagai suatu tipe gunung lumpur (type
mud volcano).
E.
Karakteristik Gunung Lumpur yang umum
Gunung lumpur secara tradisional umumnya mempunyai tiga karakteristik utama, yaitu:
o Temperatur yang dingin (Traditional mud volcanoes are cold), o Gradien panas bumi rendah (low geothermal gradients), dan o Frekuensi semburan yang jarang (infrequent in eruptions).
F.
Lusi bukan sebagai gunung lumpur yang umum (Atype mud
volcano)
Namun pada LUSI, sangat berbeda dari mud volcano yang umumnya sebagaimana disampaikan terdahulu, yaitu:
o Memiliki gradien panas bumi yang sangat tinggi (very high geothermal
gradients),
o Komposisi gas yang disemburkan didominasi oleh CO2 (CO2-dominated), dan o Merupakan suatu sistem semburan lumpur yang bertahan sangat lama (a very
long-lasting) dengan pola semburan seperti geyser (geyser-like eruption system).
G.
Kaitan langsung hubungan sistim saluran Lusi dengan sistem
busur magmatik
Perubahan pada karakteristik ini, cukup bermakna. Karena hal itu berarti bahwa sistem saluran LUSI (LUSI’s plumbing system) secara langsung terkait dengan busur vulkanik, yang lokasinya berdekatan (is directly linked with the adjacent volcanic arc).
H.
Langkah pemahaman pemicu Lusi dan perkembangan ke depan
Dengan demikian pemahaman ini yang sangat bernilai merupakan suatu langkah besar ke depan (the future step).
17 Dalam upaya pemahaman kita tentang kemungkinan bagaimana semburan LUSI telah dipicu, dan perspektif kemana selanjutnya Lusi akan bergerak dari posisinya saat itu
(what next Lusi).
I.
Komposisi awal gas bermula metan mikroba (CH4) berasal dari
biogenik
Mazzini melaporkan dari hasil analisis geokimia, bahwa dominasi gas saat awal kejadian dari semburan LUSI (dominant gas from LUSI), adalah metana mikroba (microbial methane (CH4)) yang berasal dari biogenik (of biogenic origin).
J.
Komposisi gas pasca 2006 berubah berasal dari termogenik
Selanjutnya komposisi gas setelah tahun 2006, telah berubah menjadi lebih berasal dari sumber termogenik (thermogenic origin).
K.
Isotop helium dan karbon, berasal dari reaksi temperatur tinggi
Analisis lebih lanjut terhadap isotop helium dan karbon (analyses of helium and
carbon isotopes).
Telah menunjukkan hasil yang konsisten dengan suatu reaksi, yang berlangsung pada suhu yang tinggi (high temperature reaction).
L.
Indikasi sumber fluida Lusi dari hasil turunan selubung
Hal ini telah mengindikasikan , bahwa sumber fluida Lusi adalah hasil turunan dari selubung bumi (fluid source is mantle-derived).
M.
Jalur ke luar fluida Lusi berasal dari sumber yang dalam
Hal ini selanjutnya telah mengimplikasikan bahwa jalur keluar cairan Lusi (Lusi fluid
pathway from a source).
Berasal dari sumber yang jauh lebih dalam (much deeper history), daripada yang diasumsikan sampai saat ini (than assumed to date).
N.
Sumber fluida berada pada kedalam 4.400 meter
O.
Sumber cairan dari eksternal
Hal ini konsisten dengan adanya suatu kebutuhan (the need for an) atas fakta bahwa semburan lusi berlangsung secara berlanjut.
Dengan intensitas luar biasa, yaitu adanya suatu cairan dari sumber eksternal (external
fluid source).
P.
Sumber cairan eksternal bukan dari Formasi Kujung
Hal ini sekaligus juga mengesampingkan pemahaman, bahwa sumber cairan eksternal berasal dari satuan batugamping Kujung (Kujung limestone formation of guilt as the
external fluid source).
Q.
Skenario baru sumber fluida dari dalam dan sumber panas dari
gunung magmatik
Mazzini mengusulkan suatu skenario baru untuk sistem ini (a new scenario for this
system).
Dimana intrusi magma (magmatic intrusion), berasal dari tetangga dekatnya yaitu gunung magmatik Arjuno Welirang.
Dimana selanjutnya menyediakan sumber panas langsung (provides a direct heat
source).
R.
Mendorong sumber fluida dari proses karbonisasi kerogen,
dehidrasi
Sehingga mendorong terjadinya sumber cairan (the fluid source) berasal dari proses dekarbonisasi dan dehidrasi kerogen (kerogen decarbonization and dehydration).
S.
Tingginya aliran panas, hadirnya helium selubung dan dominasi
gas CO2
19 Hal ini konsisten dengan hasil pengamatan terhadap tingginya aliran panas (high heat
flow) dan sistem didominasi gas CO2 dengan keberadaan dari helium mantel (mantle helium).
T.
Perubahan mode dari kondisi tekanan dan suhu tinggi menjadi
suhu tinggi tekanan rendah
Aspek yang menarik dari model ini adalah, bahwa pengamatan menunjukkan telah terjadi peralihan dari kondisi awalnya tekanan tinggi, suhu tinggi (pressure,
high-temperature conditions).
Beralih menjadi kondisi suhu tinggi dan tekanan rendah (to high temperature,
low-pressure conditions).
U.
Indikasi transportasi yang cepat dan transpor jarak jauh
Hal ini menyiratkan adanya suatu moda transportasi yang cepat pada jarak jauh (rapid
transport over large distances).
Sehingga diasumsikan aliran dari daerah sumber didominasi oleh rekahan
(fracture-dominated flow).
V.
Peran yang lebih luas dari volkanik di busur depan yang lokasinya
berdekatan
Hasil kajian Mazzini tersebut selanjutnya memungkinkan untuk peningkatan skala permasalahan, menjadi konteks yang lebih luas lagi (allow an upscaling of the problem
to a larger context).
Yaitu peran penting yang telah dimainkan (the role played by) oleh busur vulkanik, yang lokasinya berdekatan the adjacent volcanic arc).
W.
Perubahan semburan lusi sebagai siklus geyser (2010)
semi-periodik, semburan di dominasi oleh uap air
Dukungan pengamatan untuk hipotesis ini (Observational support for this hypothesis) adalah, bahwa perilaku LUSI telah berubah pada tahun 2010 menjadisuatu sistem geyser (geyser system).
X.
Perilaku geyser, penurunan volume lumpur, stabilitas sumber
lumpur
Perilaku geyser (Geyser behavior), dan penurunan volume lumpur yang diekstrusikan
(reduction in extruded mud volumes).
Menunju ke sebuah sumber cairan dengan berkedudukan yang dalam (deep source of
fluid).
Dan beberapa stabilitas struktural dari lapisan lumpur (some structural stability of the
mud layer).
Y.
Perilaku semburan, dominasi pusat semburan dan semburan kecil
dengan siklus yang kembar dan sendiri
LUSI masih didominasi oleh semburan (LUSI is still dominated by eruptions) di pusat kawah (in the central crater).
Tetapi juga diidentifikasi adanya anak kepundan atau bubble (but subsidiary vents are
also identified) yang memancarkan semburan kecil, dengan siklus mereka sendiri
21
III.
HASIL-HASIL SIGNIFIKAN MENDUKUNG ISU AKTUAL
TEMATIK
A. Loyc (ASU)
a). Memperkuat pemahaman Perilaku semburan Geyser Lusi: Memantau siklus semburan Geyser :
Mendokumentasikan dan telah mengkuantitatifkan siklus semburan (Documenting
and quantifying these cycles) sebagai suatu geyser (would be a geyser).
b). Pemahaman komposisi gas di permukaan untuk sistem saluran bawah permukaan
Himpunan data yang sangat penting (very important dataset) dari komposisi gas pada semburan di permukaan Lusi.
Untuk suatu pemahamanan terhadap sistem saluran di bawah permukaan (for
constraining the underground plumbing system).
Peluang untuk mendokumentasikan hal tersebut secara baik, telah ditunjukkan oleh Loyc dan rekan-rekan.
Dilakukan dari menara observasi yang baru selesai di dibangun (Tower P 42) yang menghadap ke semburan LUSI.
c). Untuk memahami frekuensi geyser dan aspek panas
Usaha masa depan dengan model LUSI juga akan membutuhkan kendala pada sifat termal LUSI.
Untuk itu Loycd dan koleganya telah menunjukkan hasil studi termal mereka, dan menjelaskan bahwa bahwa pengamatan lanjutan diperlukan untuk lebih memahami lagi terhadap frekuensi geyser dan aspek panas yang terkait.
Citra termal, dengan instalasi yang direncanakan pada bulan Agustus 2011, akan berperan dalam mengukur aspek suhu semburan uap air, dan mengukur laju aliran dan struktur termal.
d). Pemantauan menerus melalui video dan pencitraan panas
Sebuah film berselang selang waktu menunjukkan dengan jelas bahwa pemantauan terus menerus melalui video atau thermal imaging dapat diolah untuk menghasilkan suatu seri-waktu frekuensi semburan, dengan perhatian khusus pada respon geyser gempa terdekat atau jauh.
B. Tanikawa (JAMSTEC)
Perkuatan sumber fluida Dalam, Temuan Penting Litium:
Pengamatan terhadap bukti lebih lanjut untuk sumber fluida yang dalam (evidence for
a deep fluid source).
Telah digambarkan oleh Tanikawa dengan temuan pentingnya, bahwa cairan telah diperkaya Lithium (fluids are Lithium-enriched).
a). Nilai konsentrasi Litium mendekati yang ada di Ujuni Salt Bolivia
Tanikawa menunjukkan bahwa nilai konsentrasi Litium (Lithium concentrations) . Mendekati dengan yang ada di Uyuni salt flat di Bolivia, dimana merupakan 50-70% pemasok dunia dari unsur penting ini.
23 b). Analogi air asin kaya Litium dihasilkan sistem hidrotrmal sekala tektonik
Dalam kaitan ini telah diperkirakan, bahwa air asin yang kaya Lithium (Lithium
rich brines) di Bolivia salt flat.
Kemungkinan juga dihasilkan dari suatu sistem hidrotermal dengan skala tektonik
(a tectonic-scale hydrothermal system).
c). Temuan Litium memperkuat Lusi sebagai sistem hidrotrmal
Dimana bila benar, hal ini akan semakin menguatkan padangan dari Mazzini (2011).
Bahwa LUSI telah lebih mengarah sebagai suatu sistem hidrotermal (LUSI be
designated a hydro-thermal system).
Dalam kaitan ini, bukan sebagai suatu gunung lumpur yang biasanya (instead of a
mud volcano).
d). Pengendali mekanisme pembentukan Litium kondisi hidrotermal: Lithium Story
Adalah bahwa ia dicirikan pada suhu rendah (low temperature), lithium diserap ke mineral lempung (lithium is absorbed into clay minerals).
Sementara bila di bawah kondisi-kondisi hidrotermal, proses desorpsi termal merilis Li + (thermal desorption releases Li+), ke dalam cairan hidrotermal (into
the hydrothermal fluids).
e). Paradigma Baru, Prospek penambangan Litium dari sumber cairan untuk bahan baterei:
Dalam suatu pernyataan yang bersifat melihat ke depan, untuk suatu peralihan LUSI dari bencana menuju suatu peluang (for turning LUSI from disaster to
opportunity).
Tanikawa mengusulkan ke depan, suatu kegiatan pertambangan Litium berasal dari sumber cairan (Tanikawa proposes mining the Lithium from the fluids), untuk mendapatkan kemanfaatan ekonomi pada masyarakat for economic gain to the
community).
f). Pentingnya pemahaman Geohistori sedimen
Selain menyampaikan suatu sejarah tentang litium (the lithium story), Tanikawa et. al. juga telah menghadirkan pendekatan yang sangat berbasis pada fisika (a
very physics-based approach) untuk mengatasi masalah ini to this addressing this problem).
g). Pemahaman mekanisme overpressures di cekungan
Dalam hal ini eksperimen laboratorium dan pemodelan (laboratory experiments
and modeling) telah dilakukan.
Untuk mencoba memahami mekanisme, dimana overpressures telah berkembang pada cekungan sedimen (sedimentary basin).
Sejarah sedimen dan sifat litologi (history and lithologic properties), memegang peran penting karena dapat mengontrol sifat dari sistem aliran (control the flow
25 Baik dari segi fluida overpressure pada kedalaman (fluid overpressure at depth). Maupun struktur permeabilitas (the permeability structure) yang telah memerangkap overpressure tersebut (trapped the overpressure).
h). Anomali Plot versus kedalaman
Tanikawa menunjukkan suatu plot yang menarik (showed an intriguing plot). Dimana litologi LUSI tampaknya telah menyimpang secara substansial (the
lithology of LUSI deviates substantially), dari kurva pemadatan yang khas (from the typical compaction curves).
Yaitu dicirikan oleh berkurangnya porositas terhadap kedalaman (the loss of
porosity with depth), dari suatu cekungan sedimen (sedimentary basins).
i). Sumber utama lumpur dari Formasi Kalibeng Atas
Selanjutnya telah diitunjukkan bahwa Formasi Kalibeng (the Kalibeng formation), kemungkinan besar berperan sebagai sumber lumpur (presumably the source of
the mud).
Karena memiliki porositas yang lebih signifikan daripada yang diperkirakan, dari suatu sistem pemadatan (compacting system).
Disamping itu bahwa ekspansi termal dari hasil cairan entrained (thermal
expansion of the entrained fluids).
Telah menghasilkan suatu tekanan fluida (fluid pressure) yang mendekati tekanan batuan (close to that of the rock pressure).
j). Formasi Kalibeng atas secara mekanik lemah, dapat memicu sistem Lusi Sehingga dimaknai, bahwa batuan pada lapisan ini (the rock in this layer) secara mekanik lemah.
Atau bahkan dengan kekuatan geser nol, jika tekanan fluida sama dengan tekanan batuan (even zero strength in shear if fluid pressure equals rock pressure).
Bahkan dengan masukan yang kecil dari cairan eksternal (a minor input of
external fluid), ia dapat menggoyahkan stabilitas atau memicu sistem (could destabilize or trigger the system).
(mud viscosity decreases substantially), sebagai fungsi dari fraksi padat (as a function of the solid fraction).
Dengan efek, bahwa masuknya cairan akan mengurangi fraksi padat (reduce the
solid fraction).
Disamping itu memungkinkan lumpur, mengalir jauh lebih mudah (allow the mud
to flow much more easily).
Sebagai konsekuensi (at the consequently) viskositas yang jauh lebih rendah
(much lower viscosity).
l). Kesimpulan diperlukan fluida dari sumber dalam untuk menjelaskan perbandingan air/lumpur yang tinggi
Tanikawa sampai pada kesimpulan yang sama dengan Mazzini, dengan menggunakan suatu penalaran.
Bahwa sumber eksternal fluida diperlukan (an external source of fluid is needed) untuk menjelaskan perbandingan dari air/lumpur (to explain the water/mud
ratios).
C. Hilairy Hartnett
A). Membandingkan geokimia carian Lusi dengan yang lainnya
Dalam studi geokimia lainnya, Hilairy Hartnett dan koleganya dari ASU, USA telah menggunakan hasil geokimia cairan LUSI (geochemical results of LUSI
fluids).
Untuk perbandingan dengan gunung lumpur lainnya (for comparison with other
mud volcanoes).
Sedangkan air permukaan (surface waters), digunakan untuk melacak asal mula dari cairan (to trace the origin of the fluids) yang mengendalikan LUSI (driving
LUSI).
Fluida haruslah berasal dari suatu sumber yang dalam (the fluids must be deep), karena konsentrasi yang tinggi dari litium (because of the high concentrations of
27 B). Cairan Lusi Rumit, cenderung carian dari sumber dalam
Kesimpulan bahwa asal-usul cairan Lusi adalah 'rumit' (‘it is complicated’). Namun tetap memberikan beberapa petunjuk penting (nonetheless provided some
important clues), terhadap asal-usul dari cairan (for the origin of the fluids).
Dalam hal ini, tampaknya konsisten dengan model yang diusulkan sebelumnya oleh Mazzini bahwa fluida berasal dari sumber yang dalam (seems consistent with
the Mazzini model of a deep origin).
C). Cairan Lusi yang panas beda dengan air laut, ada kemiripan dengan sumber
gunung lumpur tua
Tanpa masuk ke rincian, esensi dari temuan mereka adalah bahwa cairan panas
(the fluids are hot), sangat berbeda dari air laut (quite different from sea water).
Sedangkan dari kandungan isotop hidrogen dan oksigen (from hydrogen and
oxygen isotopes), adalah sangat mirip dengan gunung lumpur tua/purba yang
sebelumnya telah dipelajari (very similar to the older mud volcanoes studied). Hal ini menunjukkan bahwa cairan apapun sebagai pengendali LUSI (indicates
D). Lumpur Lusi mempunyai hubungan dengan alterasi dari volkanik
Dengan menghubungkan ke proses yang layak dari penyebab magmatik (probably
the same as that driving ancient volcanoes).
Hasil analisis dari mineralogi lempung telah menunjukkan, bahwa LUSI memiliki persentase lebih tinggi dari mineral lempung yang berasal dari mud volcano yang lebih tua lainnya.
Dalam hal ini adalah mud volcano Kalang Anyar yang memiliki kuarsa lebih signifikan (which has substantially more quartz), tetapi implikasi dari hal ini masih tidak jelas.
Hartnett et. al., telah mengusulkan dari analisis elemen jejak (trace element
analyses), bahwa lempung di LUSI merupakan alterasi dari volkanik.
E). Isu Aktual interaksi dengan magmatik, sumber panas dalam, volkanisme
lumpur
Pengamatan ini menempatkan sisi lain terkait hipotesis-hipotesis:
• Tentang interaksi kompleks antara vulkanisme magmatik (the complex
interactions between volcanism),
• Sumber panas dalam (deep heat sources), dan • Volkanisme lumpur (mud volcanism).
F). Diperlukan studi lanjutan memodel interaksi air-batuan pada suhu tinggi Pekerjaan tambahan masih diperlukan untuk memodelkan interaksi air-batuan pada suhu tinggi (to model the high temperature water-rock interactions).
Sebagaimana yang juga disarankan oleh desporption suhu tinggi dari Litium (by
the high temperature desporption of lithium) disampaikan oleh Takinawa, dan
sumber yang dalam (deep source) diusulkan oleh Mazzini.
D. Guntoro
29 Melaporkan bahwa kehadiran mineral Deuterium (the presence of Deuterium), dapat memberikan bukti lebih banyak lagi (provides yet more) terhadap asal usul magmatik untuk cairan LUSI (for a magmatic origin for the LUSI fluids).
B). Anomali komposisi air 70% dan lumpur 30%, bukan tipe gunung lumpur yang konvensional
Sedangkan 70% air dan 30% lumpur (dan laju aliran yang sangat tinggi), adalah suatu yang bukan tipikal untuk gunung lumpur konvensional (atypical for
conventional mud volcanoes).
C). Lokasi Lusi dalam kontek tektonik Indonesia
Guntoro memberikan ringkasan komprehensif terkait dengan lumpur vulkanisme
(a comprehensive summary of mud volcanism).
Disamping itu juga membahas lokasi LUSI dalam konteks skala yang lebih besar yaitu tektonik Indonesia (Jawa) (Indonesian -Java tectonics).
D). Keberadaan gas H2S berasal dari fluida dalam yang menembus Formasi Kujung: Sedimentasi busur belakang
Namun di sisi lain, formasi Kujung sendiri, dimaknai tidak ditembus oleh sumur eksplorasi BJP-1.
E). Formasi Kujung ditembus dari bawah
Hal ini menunjukkan, bahwa Formasi Kujung telah ditembus dari arah bawah
(that the Kujung formation was penetrated from below).
Sehingga bukan bergerak dari atas, dari suatu sumber cairan yang dalam (deep
source of fluid).
F). Lusi Tipe Proses sedimentasi di busur belakang
Semua pengamatan, dari anomali gravitasi untuk rasio lumpur cairan (gravity
anomalies to fluid mud ratios) kehadiran Deuterium (to the presence of Deuterium).
Telah mendasari Guntoro untuk menyimpulkan, bahwa LUSI adalah hasil dari tipe proses-proses sedimentasi (LUSI is a result of typcial sedimentation
processes) di cekungan busur belakang (in back-arc basins).
G). Pengendapan sedimen di busur belakang cepat meningkatkan overpressure Dalam cekungan busur belakang (back-arc basin), kecepatan sedimentasi dan pemerangkapan dan penguburan cairan (fast sedimentation rates trap and bury
fluids) berlangsung dengan cepat.
Dimana meningkatkan terhadap tekanan (increase in pressure), ketika terdapat penambahan pasokan sedimen di atasnya (as additional sediments are supplied
above).
H). Lumpur dan air berasal dari sumber yang berbeda
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lumpur dan cairan (the mud and fluid) berasal dari dua sumber yang berbeda (come from two different sources).
Hal ini telah menyiratkan bahwa mekanisme yang layak untuk memicu (a viable
triggering mechanism)
Karena adanya masukkan cairan (is the influx of fluids) yang berasal dari bawah ke Formasi Kujung.
31 I). Cairan dari bawah mendorong lumpur Kalibeng Atas ke Permukaan
Dalam skenario ini, cairan telah meningkatkan H2S sepanjang perjalanannya (the
fluids up H2S along the way).
Dimana selanjutnya mendorong lumpur dari Kalibeng Atas (drives the mud from
the Upper Kalibeng) menuju permukaan t(owards the surface).
J). Penekanan Lusi sebagai suatu sistem hidrotermal dan bukan semburan mud volcano yang lumrah:
Penentuan ulang bahwa LUSI sebagai suatu sistem hidrotermal (Re-designating
LUSI as a hydrothermal system).
Namun bukan sebagai suatu semburan lumpur yang lumrah (not a mud volcano), adalah bukan satu-satunya saran tentang terminologi yang dikenal pada umumnya untuk sistem ini.
E. Tingay
A). Pemahaman awal sumber air eksternal yang mengendalikan Lusi berumur 23 Juta tahun dari Formasi Kunjung?
formation).
Cenderung menduga bahwa sumber air eksternal yang mengendalikan LUSI, adalah berumur 23 Juta tahun (alleged source of external water driving LUSI, is
23 Ma).
B). Kandidat yang paling mungkin sumber air adalah Formasi Porong-1 atau Formasi Prupuh lebih muda 7 tahun
Sedangkan usulan mereka sebagai kandidat yang paling mungkin untuk sumber dengan karakteristik yang yang sangat overpressure tersebut, adalah dari Formasi Porong-1, dengan umur sekitar 7 Jt lebih muda dari Formasi Kujung.
C). Kontroversi sumber air eksternal Lusi sumber dalam versus dari Formasi Prupuh menjadi Isu Aktual ke depan
Pertentangan terhadap sumber cairan eksternal (conflicting source of external
fluid), sebagaimana yang diidentifikasikan sebagai sumber yang dalam (identified as a deep source) oleh Mazzini/Tanikawa/ Guntoro, dan Formasi Porong-1 oleh
Tingay, perlu dijelaskan lebih lanjut dalam studi masa depan.
D). Perubahan batupasir klastik volkanik menjadi batuan beku volkanik
Perubahan signifikan lain yang diusulkan Tingay adalah bahwa lapisan batupasir klastik volkanik yang berada di atas satuan karbonat (volcano-clastic sands just
above the carbonates), haruslah diredifinisi kembali (should be re-named).
Untuk lebih mencerminkan bahwa lapisan tersebut, jauh lebih mungkin berasal dari batuan beku volkanik (volcanics of igneous origin).
Klaim ini muncul dari hasil analisis data dari inti bor (of the cuttings from the drill
core), yang terdiri dari andesit, dasit, dan welded tuffs (consisted of andesite, dacite, and welded tuffs).
Tingay berpendapat bahwa penentuan satuan sebelumnya sebagai pasir vulkanik
(the original designation as volcanic sands), telah muncul hanya karena
33 Mereka tampak seperti pasir, sehingga begitu sulit untuk mengebor pada lapisan batuan beku tersebut yang awalnya keras dan kompeten, selanjutnya telah pecah menjadi ke partikel berukuran pasir.
E). Penentuan satuan batuan dan implikasinya terhadap mekanisme aliran fluida melalui rekahan
Penentuan ulang ini tidak hanya semata karena pasir vulkanik sangat permeabel
(volcanic sands are very permeable), dan deskripsi aliran melalui mereka
digambarkan oleh aliran Darcian melalui media berporositas menengah (porositas 20-25%).
Sedangkan batuan beku vulkanik, bagaimanapun, memiliki porositas jauh lebih rendah (<9%) (igneous volcanics, however, have much lower porosity (<9%)). Sedangkan aliran fluida melalui mereka didominasi adalah rekahan (fluid flow
through them is fracture dominated).
Artinya, aliran didominasi rekahan (fracture-dominated flow) akan melibatkan aliran lokal melalui rekahan yang sangat permeabel.
Sebaliknya tidak ada aliran yang kuat, perbedaan penting untuk menggambarkan dan pemodelan dari tekanan tinggi mengendalikan aliran fluida (modeling of
high-pressure driven fluid flow).
F). Arah struktur utama NW-SE sebagai patahan utama melalui Lusi
Tingay juga telah menggunakan argumen geo-mekanik, untuk menunjukkan bahwa arah utama NW-SE. Sebagai patahan utama dimana melalui LUSI sehingga menyembur.
Hal ini sepenuhnya konsisten dengan yang diprediksi oleh teori Andersonian untuk strike-slip faulting dalam didominasi, dengan arah NS tegangan maksimum tektonik medan horisontal.
Selain itu, perkembangan selanjutnya diamati dari sistem berarah NW-SE, juga konsisten untuk slip pada antitetis patahan-patahan strike-slip yang dikenakan pembebanan bidang-jauh yang sama (far-field loading).
Mengidentifikasi dan membatasi orientasi tegangan horisontal maksimum (the
orientation of the maximum horizontal stress) adalah penting untuk setiap studi
pemodelan numerik lanjutan dari hidro-mekanik pada sistem ini
Menurut Tingay beberapa dari pertanyaan-pertanyaan penting yang masih timbul untuk dijawab, adalah:
1) Dimana adalah sumber air ?
2) Apa struktur rinci dari jaringan rekahan bawah permukaan menyediakan jalur cairan, dan
3) Bagaimana struktur berevolusi, dan bagaimana cara berkembang sekarang ? H). Saran studi ke depan Seismik 3D. Magnetotelurik, Geokimia, pemantauan
sumur dan tiltmeter:
Tingay menyarankan studi masa depan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, termasuk:
1) Studi seismik 3D/4D (yaitu, sebuah studi seismik 3D dalam jendela dengan aktu yang berbeda);
2) Magnetotelurik untuk mengidentifikasi cairan dan jalur mereka terhubung pada kedalaman;
3) Studi geokimia tambahan;
4) Sumur pemantauan untuk mendapatkan konstrain dari dua sifat fisik yang sangat penting (permeabilitas dan porositas) yang mengontrol aliran, dan 5) Tiltmeters mencatat deformasi di permukaan.
35 A). Menampilkan struktur 3-D dan mengusulkan sistem Poligon
Kadurin et. al. menggunakan jaringan geofisika (disebut poligon) untuk mendeteksi kegempaan, selanjutnya Tim Rusia telah dapat membangun struktur 3D dari GIS 3-D.
Tim Rusia sebelumnya telah membangun suatu pandangan 3D dari bawah permukaan, dengan menafsirkan penampang seismik refleksi 2D yang tersedia sebelum terjadinya LUSI.
B). Identifikasi struktur patahan, diapir, struktur lumpur purba
Dengan model GIS 3-D telah dapat diidentifikasikan beberapa bangunan struktur yaitu sejumlah patahan, diapirs, dan apa yang mereka klaim sebagai struktur lumpur purba (paleo mud structure) yang berada pada kedalaman.
Sehingga memberikan implikasi, bahwa LUSI merupakan suatu struktur geologi yang telah menyembur di masa lalu.
C). Sistem Poligon untuk memonitoring dinamika struktur pada kedalaman Lusi Dengan usulan penerapan sistem Poligon untuk mengatur LUSI, diharapkan akan memberikan informasi yang sangat dibutuhkan terkait tentang postur struktur di kedalaman.
Jika sistem ini diinstal dalam hubungannya dengan usulan seismik 3D, maka banyak data yang akan diperoleh dan banyak pelajaran yang akan dapat dipetik dari sistem ini
G. Amanada Clarke
a). Memahami antara perilaku Lusi dan aspek gempabumi:
Data ini akan menjadi sangat penting untuk menentukan adanya hubungan antara perilaku LUSI dan berbagai tingkat getaran tanah yang ditimbulkan oleh gempabumi.
Respon LUSI pada getaran tanah, selalu berada pada pusat dari perdebatan antara pemicu pengeboran atau dipicu oleh gempa Yogyakarta.
b). Gunung Merapi dan Semeru merespon Gempabumi Yogyakarta:
Karya Amanda Clarke dan rekan menunjukkan bahwa kedua gunung berapi yaitu Merapi dan Semeru, telah menanggapi terhadap gempa bumi yang terjadi
37 dengan pusat di Yogyakarta. Ditunjukkan oleh adanya peningkatan fluks panas, dalam beberapa hari setelah gempa.
Hal ini jelas bahwa pencarian (dan menemukan) dengan menerapkan metoda penginderaan jauh termal untuk gerakan tanah dan proses tektonik lainnya.
Merupakan suatu pendekatan yang kuat, dan tentu saja akan menghasilkan banyak pengamatan yang menarik.
Amanda telah menunjukkan bahwa perubahan tekanan statis miniscule, sedangkan perubahan stres dinamis, meskipun lebih besar, masih hanya pada urutan puluhan kPa.
Masa depan mencoba untuk model Nevertheless, korelasi antara respon sistem terbuka Merapi dan Semeru terhadap gempa bumi Yogyakarta yang kuat, sehingga diperlukanpenjelasan berbasis fisika.
c). Hubungan Lusi dengan gempabumi bersumber jauh: Analogi Gempa Oaxaca di Meksiko
Clarke et. al. melaksanakan suatu studi yang berbeda dengan lainnya, untuk mencoba melihat hubungan LUSI pada sistem yang khusus dimana telah dipicu oleh gempa bumi dari sumber jauh.
Untuk itu telah dipresentasikan suatu hasil dari studi pemicu kegempaan jauh dalam merespon terjadinya gempa Oaxaca di Meksiko M6.4.
Dalam kaitan ini ukuran dan lokasi, gempa ini tidak spektakuler, namun banyak gempa bumi yang dipicu di Amerika Utara (seribu beberapa km).
Menariknya, korelasi terbaik antara gempa Oaxaca dan kegempaan telah memicu vulkanisme muda, hidrotermal dan cairan yang kaya diubah, sebagaimana deskripsi LUSI seperti disimpulkan oleh Mazzini.
d). Ada korelasi kuat kegempaan dengan sistem panasbumi dan hidrotermal Hasil dari studi Oaxaca konsisten dengan yang pertama mengamati studi kegempaan dipicu setelah gempa tahun 1992, yang menunjukkan bahwa kegempaan berkorelasi kuat dengan sistem panas bumi dan hidrotermal (misalnya Long Valley, CA, dan Cosos, CA).
ditargetkan untuk menentukan bagaimana korelasi tersebut.
Hasil temuan ini dapat ditempatkan pada kontek yang lebih besar dari tektonik regional (These new findings can be put into the larger context of the regional
tectonics).
e). Lusi sebagai sistem alami dihasilkan dari geodinamika yang komplek
Sehubungan dengan hal tersebut laporan terkait dengan tektonik daerah (the
tectonics of the region) telah dipresentasikan oleh Profesor. Dr. Sukendar Asikin
(ITB).
Dimana telah menempatkan Lusi sebagaimana apa yang dimaknasi (put LUSI into
the context to which it belongs) sebagai suatu sistem alam (a natural system).
Dihasilkan dari gsuatu eodinamika yang komplek dari wilayah tersebut (as a
result of the complex geodynamics of the region).
f). Pemicu Lusi sepenuhnya murni alami
Hal ini salah satu cara memberikan bukti tentang apa yang telah memicu LUSI (what triggered LUSI), dimana disebutnya bahwa LUSI sepenuhnya murni alami (LUSI exists for purely natural reasons).
g). Hal-hal penting dapat diringkas sebagai berikut
Proses Tektonik Lempeng, hasil dari sistem Busur Sunda
Subduksi dari Lempeng Australia di bawah lempeng Sunda (Subduction of the
Australian Plate beneath the Sunda plate) telah menghasilkan fenomena
pengangkatan, vulkanisme, dan pemekaran di busur belakang (di mana LUSI berada) (produces uplift, volcanism, and back-arc spreading).
Pembentukan cekungan busur belakang diisi sedimen yang cepat
Pemekaran menghasilkan penurunan di busur belakang (Spreading results in
39 Dimana sedimen yang tererosi, secara cepat menumpuk ke dalam cekungan
(eroding sediments quickly pile into the basin).
Pengendapan sediman yang cepat membentuk lapisan overpressure
Jika intensitas sedimentasi lebih cepat dari keluaran, sehingga cairan dapat melarikan diri (sedimentation is faster than the entrained fluids can escape). Mengubur lapisan overpressured (buried layers of overpressured) dan terbentuk dibawah konsolidasi pada kedalaman (underconsolidated form at
depth).
Transformasi sedimen kaya organis menjadi gas alam, kerogen dan minyak
bumi:
Karena sedimen yang kaya organis dikubur dan dimatangkan oleh suhu bumi
(buried and cooked through the geotherm). Sehingga mereka berubah menjadi
gas alam (they transform to natural gas).
Dimana pada suhu dan tekanan yang lebih tinggi lagi (at higher temperatures
and pressures), dapat berubah menjadi kerogen dan akhirnya ke minyak (to kerogen and finally to oil).
Gunung lumpur sebagai indikator yang baik untuk terjebaknya minyak dan
gas bumi
Inilah sebabnya mengapa perusahaan-perusahaan minyak tertarik pada lokasi tersebut, karena biasanya gunung lumpur adalah indikator yang baik (typically
mud volcanoes are a good indicator) untuk terjebaknya gas dan minyak (for trapped gas and oil).
Karena dapat menandai suatu daerah dengan proses sedimentasi (mark
regions of the sedimentation processes) yang dapat untuk produksi sebagai
bahan bakar fosil (amenable to fossil fuel production).
Sumber lumpur Lusi lapisan dengan overpressure dan di bawah konsolidasi
underconsolitated layers).
Dimana dihasilkan dari skala besar (result from large-scale) dan proses tektonik jangka panjang (long-term tectonic processes).
Bukti terdapatnya gunung lumpur yang alami di Jawa Timur mendukung
semburan Lusi adalah sistem alam:
Bukti untuk gunung lumpur yang alami di wilayah ini telah dikenal secara baik (Evidence for natural mud volcanoes in the region is well-established). Sehingga dapat mendukung terhadap gagasan bahwa fenomena semburan Lusi adalah sistem alami (this is a natural system).
41 a). Hubungan jatuhya kerajaan Jawa Kuno dan semburan gunung lumpur
Satyana menyajikan suatu kemungkinan hubungan antara jatuhnya kerajaan Jawa kuno dengan semburan gunung berapi didekatnya.
b). Spekulasi didasarkan revelansi hubungan langsung dengan semburan Lusi Meskipun spekulasi yang menarik dalam dirinya sendiri, itu adalah spekulasi, dan satu-satunya relevansi langsung dengan semburan LUSI saat ini.
c). Berkembangnya beberapa mud volcano purba di wilayah sekitarnya
Sebagaimana bukti geologis dari mud volkanisme purba yang berkembang di dekatnya (neighboring geologic evidence of ancient mud volcanism).
Dimana gunung lumpur yang besar berkembang di beberapa lokasi di wilayah tersebut (large mud volcanoes are ubiquitous in the region).
d). Semburan terjadi secara spontan dengan analogi Lusi dapat terjadi dengan atau tanpa bantuan pengeboran lokal:
Aspek yang menarik dari sejarah ini adalah bahwa semburan terjadi secara spontan (tanpa pengeboran) (that historical eurptions occurred spontaneously). Hal ini merupakan suatu bukti yang dapat dianalogikan, bahwa LUSI akhirnya akan terjadi (LUSI would have ultimately happened) dengan atau tanpa bantuan dari pengeboran local with or without an assist from local drilling).
e). Pemodelan secara Numerik dari Lusi menjadi bagian cukup mendasar: Panjang Umur Semburan Lusi
Pemodelan secara numerik dari LUSI sampai saat ini masih cukup mendasar (Numerical modelling of LUSI to date is still fairly rudimentary), dengan banyak ruang untuk kemajuan dan kecanggihan dari model-model.
might erupt).
a). Model Davies, USA.
* Penerapan simulasi Monte-Carlo:
Kedua model menggunakan teknik yang disebut simulasi Monte-Carlo (a
technique called Monte-Carlo simulations).
Dimana pada dasarnya ada hal ketidakpastian untuk menetapkan sifat material yang tidak diketahui (for assigning material properties to the
unknowns), dibatasi dalam batas-batas yang wajar (constrained within reasonable limits).
Jenis penelitian ini berguna untuk mendapatkan probabilitas, karena ribuan simulasi yang dilakukan dengan beberapa hasil yang lebih mungkin daripada yang lain.
43 * Panjang umur semburan Lusi 26 Tahun
Mengasumsikan suatu model pengeringan dari sumber cairan bersumber dari batugamping Kujung (assumes a model of draining the Kujung limestone fluid
source), yang mengalir melalui suatu pipa vertikal (vertical through a vertical pipe).
Menggunakan volume yang diamati di permukaan ,sebagai kriteria penolakan/penerimaan untuk termasuk hasil pemodelan ke dalam analisis statistik.
Davies juga menyatakan menemukannya hal yang membingungkan bahwa kurang dari 400 simulasi dari 10.000 model yang realisasi memenuhi kriteria penerimaan dari pencocokan volume ekstrusi.
Hal ini menunjukkan bahwa model konseptual cacat (this indicates that the
conceptual model is flawed), namun demikian, hasil penelitian ini
memperkirakan bahwa sekitar 26 tahun adalah jawaban dengan probabilitas tertinggi.
Davies mengatakan bahwa hal ini mungkin berlebihan (probably an
overestimate), dan pengamatan masa depan akan membantu membatasi
pemodelan untuk realisasi ke masa depan.
* Mempresentasikan hasil dari model, dimana lumpur juga lolos melalui geometri sederhana (mud also escaped through the simplified geometry) dari pipa melingkar of a circular pipe).
Tetapi aspek yang menarik dari pendekatan mereka adalah bahwa aspek hidro - mekanis dan persamaan H2O - CO2 - CH4 dari kondisi ini juga dimasukkan.
Dalam model ini, sumber cairan eksternal (external fluid source) diperlukan untuk mendorong sistem, tetapi kegagalan geser dari batas antara lumpur cair dan lumpur padat (shear failure of the boundary between liquid mud
and solid mud) telah dimasukkan untuk memungkinkan erosi mekanik dari
daerah sumber (was included to allow mechanical erosion of the source
region).
Sehingga dengan demikian rongga berkembang (thus a growing cavity) yang mempengaruhi penurunan (that influence both subsidence), secara terus-menerus meningkatkan sumber lumpur dari lapisan (perpetually
45 Rudolph Juga menggunakan pendekatan Monte-Carlo, untuk menyelidiki kemungkinan dua mekanisme untuk berhentinya semburan (probability of two mechanisms to stop the eruption).
Baik oleh mekanisme pembentukan kaldera (caldera formation), atau tekanan fluida rendah (a fluid pressure lower) dari yang dibutuhkan untuk mendorong (than that needed to drive the eruption).
* Hubungan dengan Proses Pembentukan Kaldera
Selanjutnya ditunjukkan bahwa pembentukan kaldera (kegagalan sepanjang bidang geser dari ruang ke permukaan), mungkin tidak menghentikan semburan tetapi hanya bahwa model mereka tidak berlaku lagi.
Berbagai hasil yang dibahas, dan untuk sebagian besar set parameter durasi semburan pendek (the eruption duration was short) dan semburan jangka panjang cenderung mengurangi pembentukan kaldera (the longer eruption
durations tended to reduce caldera formation).
* Sumber lumpur telah setabil, semburan berlanjut karena diduga adanya fluide dari sumber dalam:
Sebuah konsekuensi yang menarik hasil Randolph, dan satukan bersama-sama dengan ide-ide Mazzini, adalah bahwa sumber lumpur telah stabil (is
that the mud source has stabilize).
Tetapi sistem terus menyembur (the system keeps erupting). Karena sumber cairan jauh lebih besar (the much larger fluid sources), sehingga diduga adanya sumber yang sangat dalam (implied by a very deep source).
* Semburan Lusi telah berubah ke sistem geyser, sedikit dengan tanpa material lumpur yang disemburkan:
Bahwa kondisi aktual bahwa sistem telah berubah seperti geyser (the system
has transformed to a geyser-like system), dengan sedikit atau tanpa lumpur
yang menyembur (with little or no mud being erupted).
Sehingga hal ini merupakan berita baik untuk penurunan (therefore good
news for subsidence).
Pada hakekatnya sebagai respon terhadap hilangnya material pada kedalaman (Subsidence occurs in response to the loss of material at depth). Sedangkan suatu kaldera dapat terbentuk (a caldera could form) dengan konsentrasi tegangan pada batas sumber lumpur mengikis (by stress
concentrations at the boundaries of the eroding mud source).
* Struktur geometri lebih stabil dan penurunan bisa memudar:
Jika kondisi tegangan telah stabil (If the stress state has stabilized), karena geometri volume diekstrusi di kedalaman (the geometry of the extruded
volume at depth) mendistribusikan tekanan pada lapisan lebih kompeten di
atas dan di bawah sumber (more competent layers above and below the
source).
Sehingga secara sistem secara struktural setidaknya berbunyi untuk saat ini
(the system is structurally sound (at least for now)), dan penurunan harus
47
IV.
HARAPAN KE DEPAN DARI BENCANA KE MANFAAT
Apakah masih ada harapan dari bencana Lusi:
Bagi masyarakat Sidarajo, salah satu kebutuhan untuk bertanya apakah ada
cahaya (is there any light) di ujung terowongan yang gelap (at the end of this
dark tunnel)?
Sudarman prospek panas bumi :
Menyarankan bahwa mungkin ada peluang besar bagi prospek panas bumi
(substantial opportunities for geothermal prospecting), yang tentunya
akan menguntungkan masyarakat setempat (would certainly benefit the
local community).
Implikasi Lusi sebagai sistem hidrotermal yang baru lahir
Jika, pada kenyataannya, LUSI merupakan sistem hidrotermal yang baru
lahir (LUSI is a new-born hydrothermal system).
Besarnya pasokan air panas berhubungan dengan komplek gunung api
Dimana terdapat pasokan air panas yang banyak (with a large supply of
hot water) dan dihubungkan dengan kompleks Arjuno Welirang (and
linked to the Arjuno-Welirang complex).
Kemungkinan pengembangan Lusi sebagai sumber energi hijau
Sehingga kemungkinan nyatanya ada (a real possibility exists), untuk
mengembangkan LUSI sebagai sumber energi hijau (to develop LUSI as a
green energy resource).
Banyak perkembangan yang perlu dilakukan, tetapi Sudarman
berpendapat bahwa hal ini tentunya layak untuk ditindaklanjuti.
Dalam dunia yang terbaik, orang bisa membayangkan tumbuhnya ekonomi lokal berdasarkan hasil pemanfaatan baterai Litium (growing local economy based on
locally harvested Lithium batteries).
Dimana sangat berguna untuk menyimpan energi hijau diproduksi di kompleks panas bumi (to store green energy produced in a geothermal complex).
The facto Lusi sebgai GeoHeritage yang langka
Kondisi yang berkembang dari hasil penelitian dari seluruh dunia (researchers from
around th
e world), telah menyambut LUSI sebagai suatu fenomena geologi yang langka (welcome LUSI as a geologically rare).
Lahirnya sistem hidrotermal yang baru
Hal ini antara lain berangkat dari lahirnya suatu sistem hidrotermal baru (new-born
hydrothermal system), untuk meneliti bagaimana bagian dalam bumi kita bekerja (to study the inner workings of Earth).