BAB I PENDAHULUAN. rangka meningkatkan taraf kehidupannya. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

Bekerja merupakan hak asasi bagi setiap Warga Negara Indonesia dalam rangka meningkatkan taraf kehidupannya. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 2 yang menyebutkan bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sehingga hak atas bekerja setiap orang wajib dijunjung tinggi dan dihormati (Undang-Undang Dasar 1945).Pada kenyataannya, keterbatasan akan peluang kerja di dalam negeri menyebabkan masih banyaknya Warga Negara Indonesia mencari pekerjaan di negeri lain sebagai Tenaga Kerja Indonesia.

Fenomena pekerja migran Indonesia menurut data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), sampai dengan tahun 2015 jumlah pekerja migran Indonesia di luar negeri masih mencapai angka 6,5 juta lebih (BNP2TKI, 2015). Sedang dalam waktu 10 tahun terakhir, minat menjadi pekerja migran didominasi oleh perempuan dengan tujuan negara Malaysia, Arab Saudi, Hongkong, Singapura, Taiwan, Brunei Darusalam, Korea Selatan dan Jepang. Latar belakang sosial budaya dan ekonomi, masih mendominasi karakteristik pekerja migran prempuan dari Indonesia, sehingga mempengaruhi pekerjaan di tempat negara tujuan, yakni pekerjaan non formal dan sektor domestik.Banyak faktor yang menjadi penyebab masalah pekerja migran yang di negara tujuan, selain disebabkan karena sistem industri pekerja

(2)

2

migran, kebijakan perlindungan hukum, juga kualitas subjektif pekerja migran (Tutik Sulistyowati, 2019:2).

Menurut Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Kabupaten Tulungagung sendiri merupakan daerah penyumbang TKI terbesar di Jawa Timur selain di Ponorogo. Menurut data yang dihimpun dari Dinas Tenaga Kerja setempat, lebih dari 1000 orang diberangkatkan ke luar negeri setiap tahunnya. Setiap tahun mereka mengirimkan uang dari luar negeri (remittance) sebesar Rp 300 miliar (www.bpn2tki.com).

Pasca kepulangan TKI ke Tanah Air akan menyebabkan bertambahnya pengangguran jika TKI tersebut tidak menyiapkan skill dan usahanya. Faktanya adalah: hampir 70% TKI lulusan SD, bahkan ada kasus yang ditemukan buta huruf (Diyanti.2011). Di sisi lain TKI yang bekerja di luar negeri belum mampu memanfaatkan hasil kerja yang mereka peroleh untuk usaha-usaha yang bersifat produktif, namun lebih berperilaku konsumtif, hal ini mendorong mereka untuk kembali bekerja ke luar negeri. Sementara keluarga yang ditinggalkan hanya mengharapkan gaji TKI (remittence) tanpa mengupayakan bagaimana memanfaatkan uang tersebut untuk mengembangkan usaha-usaha produktif. Selain itu juga anak anak TKI tidak mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang baik. Untuk itu pemerintah perlu membuat program yang bersifat koordinatif dan terintegrasi untuk menjawab semua permasalahan tersebut. Hal ini perlu dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah setempat untuk melakukan pemberdayaan TKI pasca kepulangannya.

(3)

3

Pemberdayaan TKI adalah upaya mengaktualisasaikan sumber daya yang tersedia untuk meningkatkan pendapatan TKI, sehingga tidak lagi mengambil keputusan melakukan migrasi.Pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan upaya umum untuk meningkatkan kemampuan dan memperluas akses terhadap perubahan serta mampu berperan dalam menentukan nasibnya sendiri melalui penciptaan peluang agar mampu berpartisipasi (G. Sumodiningrat, 1997:73). Pemberdayaan TKI ini harus disesuaikan dengan faktor sosial, budaya dan ekonomi serta potensi sumber daya lokal yang mendukung untuk pengembangan usaha.

Program Desa Migran Produktif (Desmigratif) adalah upaya terobosan Kementerian Ketenagakerjaan bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk memberdayakan, meningkatkan pelayanan serta memberi perlindungan bagi CTKI/TKI di Desa yang menjadi kantong-kantong TKI, dengan menawarkan program-program unggulan yang dibutuhkan oleh CTKI/TKI dan keluarganya melalui pemanfaatan potensi lokal dengan tidak mengabaikan karakteristik daerah setempat (Pedoman Program Desmigratif, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia 2017:1). Sebagai bentuk kepedulian Pemerintah terhadap warganya, Dinas Sosial, tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Tulungagung membuat progam Desa migran produktif (Desmigratif), Pemerintah memberikan fasilitas terhadap para migran yang bekerja diluar negeri berikut keluarganya yang ditingggalkan di tanah air dengan memberikan bantuan berupa peralatan, fasilitas dan pelatihan serta pendampingan. Program Desmigratif bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pengembangan terhadap pekerja migran yang

(4)

4

akanbekerja keluar negeri dan setelah bekerja diluar negeri serta perlindungan terhadap PMI dan keluargnya.

Kebijakan Program Desmigratif dilaksanakan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a). Kolaboratif: pelaksanaannya bekerjasama, bersinergi dan berintegrasi dengan berbagai kegiatan dan program yang terkait dari para pemangku kepentingan. b). Partisipatif: masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan pengawasan. c). Berkelanjutan: setiap pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan program Desmigratif harus mempertimbangkan peningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya tidak hanya saat ini tetapi juga di masa depan (Kementerian ketenagakerjaan republik Indonesia, Pedoman Program Desmigratif. Indonesia, 2018:7). Empat pilar utama Desmigratif yaitu pusat layanan imigrasi, kegiatan usaha produktif untuk memberikan edukasi awal tata kerja bekerja diluar negeri, communityparenting untuk keluarga pekerja migran dan pembentukan koperasi Desmigratif (beritasatu.com)

Program ini terdiri atas seperangkat kegiatan yang dilaksanakan secara terpadu antara Kemnaker, beserta seluruh kementerian dan lembaga serta Pemerintahan Desa. Sasarannya yaitu pelayanan bagi pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan berangkat ke luar negeri, PMI Purna, dan keluarga PMI. Menurut menteri ketenagakerjaan M. Hanif Dhaqiri “Program Desmigratif bertujuan untuk meningkatkan perlindungan bagi pekerja migran sejak dari desa. Program ini sengaja dihadirkan di desa-desa yang kebanyakan warganya bekerja sebagai pekerja migran atau lazim disebut desa kantong TKI,” (Kemnaker.co.id.).

(5)

5

Program desmigratif ini diatur dalam peraturan kementerian ketenagakerjaan nomor 59 tahun 2017 tentang desa migran Produktif(Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia nomor 59 tahun 2017 tentang Desa migran Produktif), program Desmigratif ini dilaksanakan agar adanya pemberdayaan masyarakat Desa serta perlindungan terhadap tenaga kerja dan keluarganya, dan pembinaa masyarakat Desa perlu dilakukan oleh Pemerintah Desa untuk mendorong peningkatan ekonomi Desa.

Kegiatan dari Program Desmigratif tersebut meliputi pemberdayaan masyarakat khusus untuk para TKI baik yang mantan maupun yang masih aktif dan sekaligus ada rumah desmigratif yang melayani masyarakat yang mau jadi TKI dan juga di rumah desmigratif ada pelatihannya dan semuanya tidak di pungut biaya. Sekaligus terdapat kegiatan home industri, koperasi, sampai toko modern. Untuk saat ini masih dari pemberdayaan yaitu program TKM (tenaga kerja mandiri) yg di dalamnya berisi pelatihan-pelatihan utk eks TKI. Untuk petugasnya di bayar oleh Kementrian, intinya didalam desa desmigratif ini masyarakat akan dilayani dari pra TKI sampai pasca TKI karena slogan dari desmigratif ini adalah mengawal TKI dari desa. Pembentukan Desmigratif merupakan salah satu solusi terbaik dan bentuk kepedulian serta kehadiran Negara dalam upaya meningkatkan pelayanan perlindungan kepada CTKI/TKI dan anggota keluarganya yang bersifat terkoordinasi dan terintegrasi antar kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Desa Betak melalui Program Desmigratif yang bekerja sama dengan

(6)

6

(Menakertrans) sejak Oktober 2017 berupaya meminimalisir masalah-masalah yang dihadapi TKI yang berasal dari Desa Betak. Program ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah dan para stakeholder lainnya dalam upaya memperbaiki nasib para TKI dan keluarganya yang berasal dari Desa Betak. Berbagai pelayanan disediakan di dalamnya untuk calon TKI, TKI, Eks-TKI, atau keluarga TKI.

Desa Betak merupakan salah satu Desa di Tulungagung dengan pemasok TKI yang besar.Namun, pasca TKI kembali ke Negara asal, mereka sulit untuk memperoeh pekerjaan yang sesuai dengan kempuan mereka. Sehingga mengakibatkan para mantan TKI tersebut bergantung dengan bekerja di luar Negeri dan membuat mereka lebih memilih untuk kembali bekerja di Luar Negeri. Secara umum, kondisi mantan tenaga kerja di Desa Betak setelah pulang ada yang sejahtera dan tidak sejahtera. Ketidaksejahteraan disebabkan karena saat masih bekerja di luar negeri kurang bisa memanfaatkan uang dengan baik, sedangkan kesejahteraan yang diperoleh disebabkan karena saat masih bekerja di luar negeri bisa memanfaatkan uang dengan baik.Untuk mengantisipasi hal tersebut dibentuklah program pemberdayaan TKI yaitu Program Desmigratif.

Bentuk pemberdayaan TKI purna dalam program desmigratif di Desa Betak itu sendiri seperti pelatihan kewirausahaan sesuai dengan potensi lokal Desa Betak.Desa Betak memberikan penyuluhan sesuai program yaitu pelatihan peternakan pengembangbiakan ayam Jowo Super (Joper), ayam ini perpaduan antara ayam bangkok dan ayam petelor yang dikawinkan, sehingga muncul lah ayam Joper.Permodalan pada usaha mikro dan kecil cenderung lemah dan akses

(7)

7

ke bank untuk mendapatkan kredit sangat terbatas terutama terbentur pada persyaratan prosedur dan anggaran. Oleh karena itu peran Disnaker dalam pemberdayaan TKI purna di Desa Betak di bidang pembiayaan melakukan kerjasama dengan pihak keuangan bank dan non bank serta bumdes untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut. Hal tersebut terbukti dengan diresmikannya rumah desmigratif oleh BRI Kanca Tulungagung. Rumah desmigratif tersebut diresmikan pada tahun 2018, dan difungsikan untuk seluruh aktifitas TKI, baik itu seputar informasi pekerjaan di luar negeri, kegiatan pra-TKI maupun purna TKI. Selain itu, rumah desmigratif juga berfungsi sebagai agen BRIlink yang siap melayani transaksi perbankan BRI.

Program Desmigratif di Desa Betak ini terbentuk pada bulan oktober 2017 yang diinisiatori oleh pemerintah desa Betak yang bekerjasama dengan Kementrian Ketenagakerjaan dan Dinas Ketenagakerjaan membuat sebuah kegiatan pemberdayaan TKI purna yaitu pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan perkembangbiakan ayam Joper. Dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan tentang Program Desmigratif yang dikelola oleh Pemerintah Desa, bahwa pemerintah Desa Betak telah menjalankan program Desmigratif

khususnya program desmigratif untuk TKI purna yaitu pelatihan

perkembangbiakan ayam Joper.

Namun dalam pelaksanaannya terdapat sejumlah kendala yang membuat program Desmigratif di Desa Betak Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung dinilai belum maksimal.Kurangnya respon masyarakat dalam pemberdayaan TKI purna melalui program desmigratif ini menyebabkan kurang

(8)

8

efektifnya pelaksanaan program desmigratif ini. Pemerintah Desa dituntut memberikan pelayanan yang optimal dalam memberdayakan masyarakat, agar masyarakat ikut terlibat dalam kemajuan daerahnya, karena masyarakatlah yang lebih tahu apa yang mereka butuhkan.dalam prakteknya, peran pemerintah masih dominan dalam perencanaan dan pelaksanaan maupun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program desmigratif. Dimana kesadaran warga, partisipasi masyarakat serta peran Pemerintah Desa menjadi kunci keberhasilan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat Desa Betak khususnya TKI purna masih kurang responsif dalam pelaksanaan pemberdayaan. Hal ini diketahui dari hasil penelitian dan wawancara pada Kepala Desa Betak dan petugas desmigratif yang ada di lokasi penelitian yang menyatakan bahwa kurangnya respon dari masyarakat khususnya TKI purna dalam pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif.

Pola pikir masyarakat yang keliru dalam menafsirkan program desmigratif ini juga menjadi pemicu kurang efektifnya pelaksanaan pemberdayaan melalui program desmigratif. Dimana program desmigratif ini merupakan program pancingan yang dibentuk oleh pihak pusat atau Kementrian Ketenagakerjaan untuk membuat masyarakat bisa mandiri dan berkembang. Namun masyarakat menafsirkan program desmigratif ini ialah bantuan yang diberikan kepada mereka. Hal ini diketahui dari hasil penelitian dengan wawancara dengan TKI purna yang mengikuti program dsmigratif yang ada di lokasi penelitian. Mereka menyatakan bahwa kurang efektifnya pelaksanaan program desmigratif ini karena

(9)

9

program dibuat berkelompok, seharusnya bantuan dibuat perorangan untuk lebih efektif.

Padahal dengan adanya program desmigratif ini, Pemerintah Desa dberharap dapat meningkatkan kesejahteraan TKI. Melalui program dimaksud diharapkan keluarga TKI mampu mengelola penghasilannya untuk menciptakan usaha-usaha produktif.Hal tersebut adalah faktor pendorong yang melatar belakangi peneliti untuk melakukan penelitian lebih dalam terkait pemberdayaanmasyarakatmelalui Program Desmigratif pada TKI purna di Desa Betak Tulungagung.

1.2.Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dikaji adalah bagaimana pemberdayaan masyarakat melalui program Desmigratif (Desa migran produktif) pada TKI purna di Desa Betak Tulungagung?

1.3.Tujuan

Untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat melalui program Desmigratif (Desa migran produktif) pada TKI purna di Desa Betak Tulungagung.

1.4.Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini secara teoritis bermanfaat dalam menambah kajian studi sosiologi khususnya dalam bidang sosiologi pembangunan dan menambah

kajianyang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. Sekaligus

mengembangkan konsep pemberdayaan masyarakat dan teori fungsional structural Talcott Parsons

(10)

10 1.4.2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini daharapkan mampu memberikan informasi kepada:

a. Pembaca, berguna untuk memberikan informasi mengenai pemberdayaan TKI purna di desa Betak Tulungagung yang terjadi saat ini, serta memahami bagaimana implementasi pemberdayaan TKI melalui program Desmigratif di Desa Betak Tulungagung

b. Pihak-pihak yang melaksanakan dan mengembangkan kegiatan

pemberdayaan mantan TKI.

c. Peneliti selanjutnya, berguna sebagai literatur dengan tema yang serupa 1.5. Definisi Konsep

1.5.1. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan adalah suatu proses, suatu mekanisme, dalam hal ini, individu, organisasi dan masyarakatnya menjadi ahli akan masalah yang mereka hadapi (Wrihatnolo dan Dwijowijoto, 2007:177). Pemberdayaan bermakna membantu komunitas dengan sumber daya, kesempatan, keahlian, dan pengetahuan agar kapasitas komunitas meningkat sehingga dapat berpartisipasi untuk menentukan masa depan mereka.Prijono dan Pranarka (dalam Sulistiyani, 2004:77—78) menempatkan pemberdayaan sebagai to give power or authority dan togive ability to or enable. Sulistiyani menyatakan pemberdayaan merujuk pada suatu tindakan nyata bertahap dalam mengubah knowledge ,attitudemaupun practice (KAP) menuju penguasaan pengetahuan, sikap-perilaku sadar, dan kecakapan-keterampilan yang baik.

(11)

11

Pemberdayaan masyarakat merupakan pendekatan dalam pembangunan berbasis pada manusia atau pembangunan dengan perspektif people centered development dimana pengembangan kapasitas sebagai unsur penting di dalamnya. Perspektif people centered development tersebut muncul akibat kesenjangan dalam masyarakat atashasil pembangunan yang kurang

menyentuh kepentingan masyarakat bawah (Soetomo, 2005:417).

Pemberdayaan dimaksudkan agar masyarakat memiliki kewenangan dalam proses pembangunan, dan dapat mengelola pembangunannya secara mandiri. Adapun tiga aspek yang diutamakan dalam pembangunan berorientasi pada manusia, yaitu aspek kehidupan (human life), pengetahuan, dan tingkat hidup yang memadai (Suparjan dan Hempri Suyatno, 2003:97).

1.5.2. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Purna

TKI Purna adalah warga negara Indonesia yang telah kembali dari bekerja di luar negeri atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang telah kembali ke Indonesia setelah berakhirnya perjanjian kerja maupun sebab lain.TKI Purna adalah TKI yang telah menyelesaikan kontrak kerja minimal selama dua tahun dan tinggal di Indonesia kurang dari satu tahun (Nusron Wahid. 2015. Kompas.com).TKI Purna adalah warga Negara Indonesia yang bekerja di Negara asing dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah sesuai ketentuan masing-masing Negara tujuan yang sudah habis atau selasai masa kerjanya atau masa kontraknya.

(12)

12

1.5.3. Program Desa Migran Produktif (Desmigratif)

Program Desa migran produktif (Desmigratif) adalah upaya terobosan Kementerian Ketenagakerjaan yang bekerja sama dengan berbagai Lembaga untuk memberdayakan, meningkatkan pelayanan serta member perlindungan bagi CTKI/TKI di Desa yang menjadi kantong-kantong TKI, dengan menawarkan program-program unggulan yang dibutuhkan CTKI/TKI dan keluarganya melalui pemanfatan potensi lokal dengan tidak mengabaikan karateristik Daerah setempat. Program desmigratif adalah tempat untuk mengimplementasikan program untuk memperdayakan pasca TKI yang dibuat oleh Desa

1.6. Metode Penelitian 1.6.1. Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan oleh penulis adalah dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada obyek yang alamiah, yaitu obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut (Sugiyono, 2014). Dengan penelitian kualitatif, penulis ingin melihat bagaimana pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI purna di Desa Betak Tulungagung.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif peneliti ingin memahami situasi sosial di lapangan secara mendalam dan menemukan pola dari fenomena pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI purna di Desa Betak Kabupaten Tulungagung.

(13)

13 1.6.2. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian terkait dengan pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI purna di Desa Betak Tulunagung, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan Kualitatif.

Narbuko danAchmadi (2004:44) memberikan pengertian penelitian

deskriptifsebagai penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi; ia juga bisa bersifat komperatif dan korelatif.

Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif karena peneliti ingin mengeksplor, mendeskripsikan, menggambarkan, dan menjelaskan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI purna di Desa Betak Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung.

1.6.3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini diadakan di Kabupaten Tulungagung, khususnya di Desa Betak Kecamatan Kalidawir. Lokasi penelitian ini dipilih karena pembuatan Program Desmigratif ini hanya ada di dua desa dan salah satunya adalah di Desa Betak. Lokasi pelaksanaan program pmeberdayaan juga dekat dengan peneliti, sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian.Di Desa Betak ini dikenal dengan sebutan janda swasta, karena mayoritas masyarakatnya memilih bekerja di luar negeri untuk meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Bahkan yang sudah menikahpun pasti istrinya

(14)

14

akanditinggal suami bekerja di luar negeri dengan waktu yang relatif lama. Sehingga Desa Betak disebut sebagai janda swasta dimana mayoritas wanita yang sudah menikah ditinggalkan suaminya bekerja di luar negeri dengan waktu yang lama.

1.6.4. Teknik Penentuan Subjek

Secara garis besar penentuan subjek dilakukan dengan menggunakan purposive. Hal ini juga didasaripada pengetahuan lapang peneliti yang mana

cara purposive dianggap mampu memberikan informasi yang

signifikan,berkenaan dengan penelitian ini yaitu pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI purna di Desa Betak Tulungagung antara lain:

a. Petugas program Desmigratif yang ditunjuk oleh Dinas

Ketenagakerjaan

b. TKI Purna yang mengikuti Program Desmigratif dengan kriteria: TKI purna yang belum memiliki usaha, TKI purna yang mulai merintis usaha, dan TKI purna yang sudah memiliki usaha.

c. Fasilisator Program Desmigratif di Desa Betak d. Pihak yang memberdayakan

1.6.5. Teknik Pengumpulan Data 1.6.5.1.Observasi

Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Ilmuwan dapat bekerja berdasarkan data yang diperoleh dengan melihat fakta apa yang terjadi dengan cara observasi (Sugiono,2014). Observasi juga merupakan

(15)

15

metode atau cara pengumpulan data dengan melihat fakta yang ada dalam masyarakat, dengan demikian dapat ditemukan realitas yang diperlukan untuk penelitian.

Berkaitan dengan observasi yang dilakukan dalam penelitian kualitatif maka observasi yang digunakan yaitu observasi langsung. Observasi langsung dalam penelitian ini digunakan untuk mengungkap data mengenai proses pemberdayaan TKI purna melalui Program Desmigratif. Observasi ini bertujuan untuk mendapatkan data yang lebih lengkap mengenai pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI Purna di Desa Betak Tulungagung.Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini lebih ditekankan kepada, pertama, pelaksanaan pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI purna. Kedua, kondisi sosial TKI purna setelah diberdayakan dalam program desmigratif.

Observasi awal dilakukan oleh peneliti pada hari Jumat tanggal 27 Desember 2019. Peneliti melakukan observasi dan wawancara kepada Kepala Desa Betak dan petugas Desmigratif mengenai Program Desmigratif di Desa Betak. Kemudian observasi kedua dilakukan pada hari senin tanggal 27 Januari 2020, peneliti kembali melakukan observasi kepada Kepala Desa dan Petugas Desmigratif untuk mendapatkan data yang lebih detail. Kemudian di hari selasa sampai jumat tanggl 28-31 Januari 2020, peneliti melakukan observasi kepada limaTKI purna yang mengikuti Program Desmigratif.

(16)

16 1.6.5.2.Wawancara

Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau Tanya jawab.Wawancara dalam penelitian kualitatif sifatnya mendalam karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistic dan jelas dari informan. Menurut Sudjana (2000:234) wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak penanya (interviewer) dengan pihak yang ditanya atau penjawab (interviewe) (Nana Syaodih Sukmadinata, 2011:130).

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara terbuka dan terstruktur. Wawancara terbuka memungkinkan informan memberikan jawaban atau informasi secara lentur dan terbuka sehingga peneliti mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya yang berhubungan dengan penelitian. Selama proses wawancara, penulis akan mendengarkan dan mencatat informasi yang penting.

Wawancara dilakukan dengan subjek yang telah ditentukan peneliti, yaitu Kepala Desa Betak Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung, petugas Disnaker, mantan TKI (TKI Purna) yang sudah bekerja selama bertahun – tahun di Negara asing namun belum ada perkembangan dalam kehidupannya, Keluarga TKI pasca migrasi yang kondisnya belum mandiri baik secara ekonomi maupun sosial, TKI Purna yang mengikuti Program Desmigratif.Dengan melakukan teknik wawancara, peneliti akan mendapatkan informasi seperti strategi pemberdayaan TKI

(17)

17

purna, pelaksanaan program desmigratif, faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan program desmigratif, dan dampak yang ditimbulkan dengan adanya program desmigratif tersebut.

Wawancara pertama dilakukan oleh peneliti pada hari senin tanggal 27 Januari 2020 pukul 10.00–12.00 kepada Kepala Desa Betak dan Petgas Desmigratif. Selanjutnya, wawancara dilakukan pada hari selasa tangal 28 Januari 2020 pukul 18.30-21.00 kepada Ibu Susi dan Bapak Thoib selaku TKI purna yang mengikuti Program Desmigratif. Selanjutnya pada hari rabu tanggal 29 Januari 2020 pukul 11.00-12.30, wawancara kembali dilakukan dengan Bapak Kepala Desa dan Petugas Desmigratif karena dirasa data yang diperoleh kurang detail. Pada hari kamis tanggal 30 Januari 2020 pukul 18.30-22.00, peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Fatim selaku ketua kelompok pemberdayaan dan kepada Bapak Rosyin selaku TKI purna yang mengikuti program Desmigratif. Setelah itu pada hari Jumat tanggal 31 Januari 2020 pukul 15.00-17.00, peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Andik selaku TKI purna yang mengikuti program desmigratif.

1.6.5.3.Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah lalu, dokumentasi dapat berupa tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2014).Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.Dokumetasi dalam penelitian ini berupa dokumen-dokumen yang

(18)

18

diperoleh dari hasil observasi dan wawancara berupa foto, catatan, buku, agenda dan sebagainya. (Hamidi, 2004:72)

Dalam penelitian ini menggunakan dokumentasi ketika penelitian berlangsung, bisa berupa foto, dokumen-dokumen resmi atau catatan dan berupa rekaman-rekaman audio. Dalam melaksanakan metode dokumentasi peneliti memperoleh data melalui benda-benda tertulis seperti buku,dokumen, jurnal. Selain berupa benda-benda tertulis, dokumentasi juga bisa berupa foto dan rekaman ketika melakukan wawancara dengan subjek penelitian.Dokumentasi dalam penelitian ini dapat berupa data – data yang diperoleh dari Desa, mengabadikan foto dan video sewaktu melakukan wawancara dan proses pelaksanaan pelatihan TKI purna, audio ketika melaksanakan wawancara dengan subjek.

Dalam hasil penelitian, peneliti memperoleh dokumentasi berupa berkas-berkas profil Desa Betak dari Desa, dokumentasi ketika melakukan sosialisasi program desmigratif dan dokumentasi ketika peneliti melakukan wawancara kepada subyek berupa rekaman dan foro.

1.6.6. Teknik Analisa Data

Teknik analisa data adalah untuk mengungkap data apa yang perlu di cari,hipotesis apa yang perlu di uji,pertanyaan apa yang perlu di jawab, metode apa yang harus di gunakan untuk mendapatkan informasi baru, dan kesalahan apa yang harus segera diperbaiki. Husnaini Usman dan Purnomo Sandi (2011:83)

(19)

19 1.6.6.1.Reduksi Data

Proses analisa pertama yang dilakukan peneliti adalah reduksi data, proses ini meliputi seleksi atau penyederhanaan, mempelajari data, gagasan dalam data dengan mempelajari kata kunci dengan harapan menemukan tema yang sesuai berasal dari data penelitian. Proses reduksi data terus berlangsung selama penelitian, bahkan proses ini sudah berlangsung sebelum peneliti melakukan pengumpulan data dan proses ini terus berlangsung sampai penelitian selesai. Peneliti harus melakukan rekap data pada saat menggali informasi mendalam dengan cara mencatat atau merekam kegiatan yang sedang berlangsung yang diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan informan atau hal yang berkaitan dengan kajian yang diteliti.

1.6.6.3.Display Data

Dengan mendisplay data, maka memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Selanjutnya disarankan dalam melakukan display data, selain dengan teks naratif, juga dapat berupa grafik, matrik, network (jejaring kerja).

1.6.6.4.Penarikan Kesimpulan

Peneliti akan menyusun kesimpulan dari hasil penelitian. Penelit i melakukan koreksi data untuk kemudian dapat dilakukan cek data di lapangan atau jika kekurangan data agar dapat menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut dan sesuai dengan rumusan masalah.

(20)

20 1.6.7. Keabsahan Data

Tahapan terakhir dalam penelitian kualitatif yaitu menguji keabsahan data yang telah didapatkan sehingah keakuratan data dapat di pertanggung jawabkan. Dalam penelitian kualitataif keabsahan data dapat dilihat menggunakan cara trianggulasi. Menurut William Wiersma (1986) Trianggulasi dalam pengujian keabsahan data dari berbagai sumber dengan berbagai waktu, dengan demikian terdapat trianggulasi sumber, trianggulasi teknik penggumpulan data dan trianggulasi waktu. Peneliti menggunkan teknik trianggulasi sumber (data) karena peneliti membandingkan informasi yang diperoleh dari satu sumber yang sama dengan teknik yang berbeda dan menentukan waktu yang berbeda.

Dari kedua teknik tersebut tentunya akan menghasilkan sebuah kesimpulan terkait pemberdayaan masyarakat melalui program desmigratif pada TKI purna di Desa Betak Tulungagung.

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. (www.bpn2tki.com).
Related subjects :