Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur
2017
PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN KUTAI TIMUR
TAHUN 2016
Buku ini diterbitkan oleh Sub. Bagian Perencanaan Sekretariat Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Kawasan Pusat Perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta Telepon no: 62-549-24199 Fax no: 62-549-23380 E-mail: [email protected]
iii
Kata Sambutan
KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KUTAI TIMUR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya sehingga buku “Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur 2016” dapat diterbitkan sebagai wujud partisipasi seluruh jajaran kesehatan lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur.
Data dan Informasi dalam “Profil Kesehatan Kutai Timur 2016” merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur yang mencerminkan Pembangunan Kesehatan secara menyeluruh. Periode tahun yang terdapat dalam judul profil kesehatan, disamakan dengan tahun dari data dan informasi yang disajikan. Data yang digunakan dalam proses penyusunan buku profil kesehatan ini sebagian besar bersumber dari Laporan Data, namun karena beberapa data yang dibutuhkan belum tersedia pada sistem pencatatan dan pelaporan yang telah berjalan selama ini, maka pada pengisian tabel dilakukan kompilasi data dari para pemegang program serta melibatkan pula lintas sektor, diantaranya Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Timur, Bappeda Kutai Timur, Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Swasta dan sektor-sektor terkait lainnya.
Disadari bahwa buku profi ini masih banyak kekurangannya dan masih perlu terus ditingkatkan mutunya. Untuk itu, sangat diharapkan saran dan kritik yang membangun serta partisipasi dari semua pihak, khususnya dalam upaya mendapatkan dan menyajikan data dan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan.
Dengan mengingat bahwa suatu pekerjaan atau tugas yang bagaimanapun berat dan sulitnya, dapat dilaksanakan dan mencapai hasil yang memuaskan bila dilandasi oleh niat baik, tekad untuk maju dan selalu berbuat lebih baik dari sebelumnya secara ikhlas, maka kepada semua pihak yang telah berpartisipasi sehingga terbitnya buku profil ini diucapkan terima kasih.
Sangatta, Juni 2017 Kepala Dinas Kesehatan,
dr. H. Bahrani NIP. 196507152001121003
iv
Daftar Isi
KATA SAMBUTAN ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
... vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Landasan Hukum ... 1
C. Maksud Tujuan dan Sasaran... 2
1. Maksud ... 2
2. Tujuan ... 2
3. Sasaran ... 2
D. Ruang Lingkup Data ... 2
1. Jenis Data / Informasi ... 2
2. Sumber Data ... 3
E. Periode Data dan Jadwal ... 3
1. Jadwal Penyusunan ... 3
2. Periode Data ... 4
F. Sistematika Penyajian ... 4
BAB II GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis ... 5
1. Batas Administrasi ... 5
2. Luas Wilayah ... 6
3. Topografi ... 7
4. Iklim dan Hidrologi ... 7
v BAB III KESEHATAN KELUARGA
A. Kesehatan Ibu ... 11
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 13
2. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil ... 16
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin ... 17
4. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas ... 19
5. Pelayanan/Penanganan Komplikasi Kebidanan ... 20
6. Pelayanan Kontrasepsi ... 21
B. Kesehatan Anak ... 22
1. Pelayanan Kesehatan Neonatal ... 23
2. Penanganan Komplikasi Neonatal ... 24
3. Imunisasi ... 25
4. Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah ... 26
C. Gizi ... 27
1. Pemberian ASI Ekslusif ... 27
2. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 6–59 Bulan ... 28
3. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) ... 29
BAB IV PENGENDALIAN PENYAKIT A. Penyakit Menular Langsung ... 31
1. Tuberkulosis ... 31
2. HIV / AIDS ... 32
3. Pneumonia ... 33
4. Kusta ... 34
5. Diare ... 35
6. Pelayanan Kesehatan Neonatal ... 30
B. Penyakit Tular Vektor ... 36
1. Demam Berdarah Dengeu (DBD) ... 36
vi BAB V SUMBER DAYA KESEHATAN
A. Sarana Kesehatan ... 39
1. Puskesmas ... 39
2. Rumah Sakit ... 41
B. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat ... 41
1. Posyandu ... 41
2. Desa Siaga ... 43
C. Tenaga Kesehatan ... 44
D. Pembiayaan Kesehatan ... 45
vii
Daftar Gambar
BAB II GAMBARAN UMUM
Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Kutai Timur ... 5 Gambar 2.2 Estimasi Piramida Penduduk Pada Kelompok Umur
Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 ... 9 Gambar 2.3 Angka Beban Tanggunan Di Kabupaten Kutai Timur
Tahun 2016 ... 10
BAB III KESEHATAN KELUARGA
Gambar 3.1 Angka Kematian Ibu Per 100.000 Kelahiran Hidup di Indonesia, SDKI 1991 – 2015 ... 11 Gambar 3.2 Angka Kematian Ibu Per 100.000 Kelahiran Hidup di
Kutai Timur, Tahun 2011 – 2016 ... 12 Gambar 3.3 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil K1 Dan K4 Di
Indonesia Tahun 2005 – 2015 ... 14 Gambar 3.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil K1 Dan K4 Di
Kutai Timur Tahun 2010 – 2016 ... 14 Gambar 3.5 Cakupan Fe3 di Kutai Timur Tahun 2009 – 2016 ... 15 Gambar 3.6 Cakupan Fe3 di Kutai Timur Tahun 2016 ... 16 Gambar 3.7 Cakupan Imunisasi TT2+ di Kutai Timur Tahun 2011 –
2016 ... 17 Gambar 3.8 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin di Kutai
Timur Tahun 2011 – 2016 ... 18 Gambar 3.9 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas di Kutai Timur
Tahun 2010 – 2016 ... 19
Gambar 3.10 AngkaPenemuanKasusBaru (NCDR) Kusta di
KutaiTimurTahun 2011 – 20 Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan di Kutai Timur Tahun 2009 – 2016 ... 20 Gambar 3.11 Cakupan KB Aktif di Kutai Timur Tahun 2010 – 2016 ... 22
viii
Gambar 3.12 Cakupan Kunjungan KN1 dan KN Lengkap di Kutai Timur Tahun 2011 – 2016 ... 23 Gambar 3.13 Cakupan Penanganan Komplikasi di Kutai Timur Tahun
2010 – 2016 ... 24 Gambar 3.14 Cakupan UCI Kutai Timur Tahun 2009 – 2016 ... 25 Gambar 3.15 Cakupan Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan
Setingkat di Kutai Timur Tahun 2011 – 2016 ... 26 Gambar 3.16 Cakupan Pemberian Asi Ekslusif Di Kutai Timur Tahun
2012 – 2016 ... 27 Gambar 3.17 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Di Kutai
Timur Tahun 2010 – 2016 ... 29 Gambar 3.18 Cakupan D/S Kutai Timur Tahun 2010 – 2016 ... 30
BAB IV PENGENDALIAN PENYAKIT
Gambar 4.1 Angka Case Notification Rate di Kutai Timur Tahun 2012 – 2016 ... 31 Gambar 4.2 Jumlah Penemuan Kasus Baru BTA+ di Kutai Timur
Tahun 2009 – 2015 ... 32 Gambar 4.3 Cakupan Penemuan Pneomonia di Indonesia Tahun
2008 – 2015 ... 33 Gambar 4.4 Jumlah Penderita Pneomonia di Kutai Timur Tahun
2011 – 2016 ... 34 Gambar 4.5 Angka Penemuan Kasus Baru (NCDR) Kusta di Kutai
Timur Tahun 2011 – 2016 ... 35 Gambar 4.6 Persentase Penemuan dan Penangan Diare di Kutai
Timur Tahun 2010 – 2016 ... 35 Gambar 4.7 Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue Per 100.000
Penduduk di Indonesia Tahun 2008 – 2015 ... 36 Gambar 4.8 Angka Kesakitan DBD di Kutai Timur Tahun 2011 –
2016 ... 37 Gambar 4.9 Jumlah Kasus Malaria di Kutai Timur Tahun 2013 –
ix BAB V SUMBER DAYA KESEHATAN
Gambar 5.1 Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu di Kutai Timur Tahun 2011 – 2016 ... 40 Gambar 5.3 Persentase Strata Posyandu di Kutai Timur Tahun 2016 . 42 Gambar 5.4 Pencapaian Rasio Posyandu Per Satuan Balita Terhadap
Target Renstra Tahun 2011 – 2016 ... 42 Gambar 5.5 Pencapaian Persentase Desa Siaga Di Kutai Timur Tahun
2011 – 2016 ... 43 Gambar 5.6 Persentase Anggaran Kesehatan di Kutai Timur Tahun
x
Daftar Tabel
BAB I PENDAHULUAN
Tabel 1.1 Jadwal Penyusunan Profil Kesehatan Tahun 2016 ... 3
BAB II GAMBARAN UMUM
Tabel 2.1 Luas Wilayah Kecamatan dan Jumlah Desa di Kabupaten
Kutai Timur ... 6
Tabel 2.2 Perbandingan Jumlah Penduduk Pada Tiap Kecamatan
Tahun 2012 – 2016 Di Kabupaten Kutai Timur ... 8
BAB V SUMBER DAYA KESEHATAN
Tabel 5.1 Daftar RS Yang Ada Di KutaiTimurTahun2016 ... 41
Tabel 5.2 Daftar UKBM Yang Ada Di Kutai Timur Tahun 2016 ... 44
Tabel 5.3 Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Kecamatan di
1 | B a b I P e n d a h u l u a n
Bab I
Pendahuluan
rofil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur merupakan bagian dari Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur yang merupakan bagian dari Profil Kesehatan Indonesia. Profil kesehatan Kabupaten Kutai Timur sendiri merupakan salah satu keluaran dari penyelenggaraan sistem informasi kesehatan daerah Kabupaten Kutai Timur sebagai salah satu bentuk paket penyajian data/informasi kesehatan yang relatif lengkap, berisi data/informasi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan, dan data/informasi terkait lainnya, serta terbit setiap tahun.A. LatarBelakang
Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur pertama kali diterbitkan pada tahun 2002. Sejak terbitan data tahun 2002 yang lalu, dilakukan perubahan dimana tahun yang tercantum dalam judul Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur tersebut disesuaikan dengan isi data dalam Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur. Contohnya, Judul profil adalah “Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016” berisi data tahun 2016, dimana pembuatannnya dilakukan pada tahun 2017.
Dalam perjalanannya, beberapa indicator kesehatan mengalami beberapa perubahan mengikuti situasi dan kondisi yang ada, baik itu definisi operasionalnya maupun indikator itu sendiri. Salah satu perubahan yang ada dan sudah dilakukan dalam 2 tahun penyajian profil kesehatan belakngan ini, adalah upaya pengintegrasian pengarusutamaan gender dalam penyajian data. Hal ini sebagai dasar dalam mengidentifikasi isu – isu gender bidang kesehatan yang masih terjadi di masyarakat
Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur diharapkan dapat dijadikan salah satu media untuk memantau dan mengevaluasi hasil penyelenggaraan pembangunan kesehatan di Kutai Timur. Untuk itu penyusunan profil kesehatan yang berkualitas, yaitu yang dapat terbit lebih cepat, menyajikan data yang lengkap, akurat, konsisten, dan sesuai kebutuhan, menjadi harapan kita bersama.
Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur 2016 disusun berdasarkan data/informasi yang didapatkan dari pelayanan kesehatan di Puskesmas, pengelola program di lingkungan Dinas Kesehatan, lintas sektor terkait, serta sumber data/informasi lainnya. Sejalan dengan penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur ini, di tingkat kecamatan juga disusun Profil Kesehatan Puskesmas yang menggambarkan situasi dimasing–masing desa binaan puskesmas.
B. LandasanHukum
Secara hukum, kegiatan penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 didasarkan kepada regulasi terkait, yang antara lain meliputi :
2 | B a b I P e n d a h u l u a n
1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
2. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 3. Undang-undang Nomor 47 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Nunukan,
Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Bontang (Lembar Negara RI Tahun 1999 Nomor 175, tambahan lembaran Negara RI Nomor 3839), sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 7 Tahun 2000.
4. Peraturan Pemerintah No 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom.
5. Permendagri No. 9 tahun 1982 tentang Pedoman Perencanaandan Pengendalian Pembangunan di Daerah
6. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggung jawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.
7. Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 903 / 1603 / SJ tanggal 17 Juli 2003 tentang Pedomanpelaksana APBD.
8. DPA - SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten KutaiTimur Sub Bagian Perencanaan Penyusunan Program Tahun Anggaran 2017.
C. Maksud Tujuan dan Sasaran 1. Maksud
Maksud dari penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 ini adalah menjabarkan situasi kesehatan yang ada di Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 untuk selanjutnya bisa dipergunakan sebagai pedoman dalam penyusunan dan perbaikan program kesehatan Tahun 2017.
2. Tujuan
Tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur 2016 ini adalah: a. Memberikan gambaran situasi kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016; b. Menyajikan data situasi kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016; c. Sebagai pedoman dalam perbaikan program kesehatan yang belum tercapai; d. Sebagai bahan evaluasi pencapaian pembangunan kesehatan Tahun 2016;
e. Sebagai bank data kesehatan di lingkup kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur.
3. Sasaran
Sementara sasaran yang ingin dicapai dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 ini adalah mampu menjadikan data profil kesehatan yang ada sebagai pedoman untuk kegiatan penyusunan program kesehatan, perbaikan indikator kesehatan yang belum dicapai dan peningkatan situasi status kesehatan masyarakat Kabupaten Kutai Timur secara sistematis.
D. Ruang Lingkup Data 1. Jenis Data / Informasi
Data yang dikumpulkan untuk Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 adalah:
3 | B a b I P e n d a h u l u a n
b. Data Derajat Kesehatan yang meliputi data kematian, data kesakitan dan data status gizi. c. Data Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Hidup Sehat Masyarakat, meliputi data air bersih,
data rumah sehat, data tempat-tempat umum, dan data perilaku hidup sehat.
d. Data Pelayanan Kesehatan, antara lain data pemanfatan Rumah Sakit, pemanfaatan Puskesmas, data pelayanan kesehatan ibu dan anak, data pemberantasan penyakit, data pelayanan kesehatan Gakin, data penanggulangan KLB, dan data pelayanan kesehatan lainnya.
e. Data Sumber Daya Kesehatan yang meliputi data sarana kesehatan, data tenaga kesehatan, data obat dan perbekalan kesehatan, serta data pembiayaan kesehatan.
f. Data lainnya.
2. Sumber Data
Data untuk Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 diperoleh dari : a. Catatan Kegiatan Puskesmas baik untuk kegiatan dalam gedung maupun luar gedung. b. Catatan kegiatan Rumah Sakit dan klinik kesehatan yang berada di wilayah Kabupaten
Kutai Timur.
c. Catatan Kegiatan yang dilaksanakan langsung oleh Dinas Kesehatan termasuk Unit Pelaksana Teknis Kesehatan di wilayah Kabupaten Kutai Timur termasuk Gudang Farmasi Kesehatan Kabupaten Kutai Timur.
d. Dokumen Kantor Statistik Kabupaten, Kantor Catatan Sipil dan KB Kabupaten, Bappeda Kabupaten, Dinas Pendidikan, Kepolisian Resor Kabupaten, dan Kantor Pengolahan Data Elektronik Kabupaten.
e. Dokumen Hasil Survei Kabupaten, Survei Provinsi atau Survei Nasional.
E. Periode Data dan Jadwal 1. Jadwal Penyusunan
Jadwal penyusunan profil kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 adalah :
Tabel1.1
Jadwal Penyusunan Profil Kesehatan Tahun 2016
No Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Jun
1 Pengumpulan data dari Puskesmas, Rumah Sakit dan Instansi terkait
2 Kompilasi / konfirmasi dan data entry serta pemutakhiran data
3 Pengolahan, analisa, penulisan dan pembahasan draft awal
4 Finalisasi, Penggandaan / Percetakan 5 Distribusi ke Bupati, DPRD, Dinas – dinas
Kabupaten, RS, Puskesmas, Dinkes Prov, Kementerian Kesehatan, dan Instansi Terkait lainnya.
4 | B a b I P e n d a h u l u a n
2. Periode Data
Periode data yang disajikan dalam Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 adalah periode Januari sampai dengan Desember tahun 2016. Periode penyusunan profil kesehatan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 dibagi dalam dua tahap yaitu tahap pertama berupa tabel lampiran (draf awal : Maret 2017) dan tahap kedua berupa narasi dan tabel (finalisasi : Mei 2017).
F. Sistematika Penyajian
Sistematika penyajian Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur 2016 ini adalah dalam bentuk narasi, tabel dan gambar. Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Timur 2016 ini terdiri dari 5 (Lima) bab, yaitu:
Bab-1 : Pendahuluan
Bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan Profil Kesehatan dan sistematika dari penyajiannya.
Bab-2 : Gambaran Umum
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten Kutai Timur meliputi uraian tentang letak geografis, administratif dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misal kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan.
Bab-3 : Situasi Derajat Kesehatan
Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan, dan angka status gizi masyarakat.
Bab-4 : Situasi Upaya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kabupaten Kutai Timur.
Bab-5 : Situasi Sumber Daya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.
Lampiran
Bab lampiran berisi uraian detail data-data profil kesehatan yang disajikan rinci berdasarkan puskesmas
5 | B a b I I G a m b a r a n U m u m
Bab II
Gambaran Umum
abupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Timur. Dibentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Kutai berdasarkan undang-undang nomor 47 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang, dengan ibukota di Sangatta.A. Kondisi Geografis 1. Batas Administrasi
Kabupaten Kutai Timur memiliki luas 35.747,50 km2 atau 17 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur, terletak antara 115º25’26’’ BT - 118º58’19’’ BT dan 0º02’10’’LS - 1º52’39’’ LU.
Gambar 2.1
Peta Administrasi Kabupaten Kutai Timur
Keterangan :
Sumber : Bappeda Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016
6 | B a b I I G a m b a r a n U m u m
Batas- batas wilayah Kabupaten Kutai Timur secara administratif adalah:
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Talisayan dan Kecamatan Kelay
(Kabupaten Berau);
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Bontang Utara (Kota Bontang),
Kecamatan Marang Kayu dan Kecamatan Muara Karam (Kabupaten Kutai Kartanegara);
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Selat Makasar dan Laut Sulawesi;
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Kembang Janggut dan Kecamatan
Tabang (Kabupaten Kutai Kartanegara).
Pada awal terbentuknya Kabupaten Kutai Timur terdiri dari lima kecamatan, yaitu Kecamatan Sangatta, Kecamatan Sangkulirang, Kecamatan Muara Wahau, Kecamatan Muara Bengkal, dan Kecamatan Muara Ancalong. Seiring dengan berjalannya pemerintahan, lima kecamatan tersebut kemudian dimekarkan menjadi 11 kecamatan, dengan tambahan 6 kecamatan baru, yaitu Kecamatan Bengalon, Kecamatan Kaliorang, Kecamatan Sandaran, Kecamatan Telen, Kecamatan Kongbeng, dan Kecamatan Busang. Pada tahun 2005, dilakukan pemekaran kecamatan lagi dengan menambah 7 kecamatan baru, yaitu: Kecamatan Sangatta Selatan, Kecamatan Rantau Pulung, Kecamatan Teluk Pandan, Kecamatan Kaubun, Kecamatan Karangan, Kecamatan Batu Ampar dan Kecamatan Long Mesangat. Sedangkan Kecamatan Sangatta berubah nama menjadi Kecamatan Sangatta Utara. Sampai akhir tahun 2007, Kabupaten Kutai Timur secara administratif memiliki 18 kecamatan dan 135 desa.
2. Luas Wilayah
Kabupaten Kutai Timur memiliki luas wilayah 35.747,50 km² atau 17% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Selanjutnya luas wilayah dapat dirinci menurut luas wilayah per kecamatan sebagai berikut:
Tabel 2.1
Luas Wilayah KecamatandanJumlahDesa di KabupatenKutaiTimur
No Kecamatan Banyaknya Desa Luas
km² % 1 MuaraAncalong 8 2.739,30 7,66 2 Busang 6 3.721,62 10,41 3 Long Mesangat 7 526,98 1,47 4 MuaraWahau 9 5.724,32 16,01 5 Telen 7 3.129,61 8,75 6 Kongbeng 7 581,27 1,63 7 MuaraBengkal 7 1.522,80 4,26 8 Batu Ampar 6 204,50 0,57 9 Sangatta Utara 4 1.262,59 3,53 10 Bengalon 11 3.196,24 8,94 11 Teluk Pandan 6 831,00 2,32 12 Rantau Pulung 8 1.660,85 4,65 13 Sangatta Selatan 4 143,82 0,40 14 Kaliorang 7 3.322,58 9,29 15 Sangkulirang 13 438,91 1,25 16 Sandaran 7 3.419,30 9,57 17 Kaubun 8 257,45 0,72 18 Karangan 7 3.064,36 8,57 Total 135 35.747,50 100,00 Keterangan :
7 | B a b I I G a m b a r a n U m u m
3. Topografi
Topografi Kabupaten Kutai Timur bervariasi dari yang berupa dataran, berbukit hingga pegunungan, serta pantai dengan ketinggian tanah bervariasi antara 0-7 meter hingga lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut. Kawasan yang relatif datar dan landai hanya terdapat di Kecamatan Sangatta Utara, Muara Bengkal, Muara Ancalong dan sebagian Muara Wahau dan Sangkulirang.
Daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Berau pada Kecamatan Sangkulirang, Muara Wahau dan Muara Ancalong merupakan daerah pegunungan kapur dengan kawasan pegunungan dan perbukitan yang paling luas yaitu 1.608.915 Ha dan 1.429.922,5 Ha sedangkan dataran/landai 536.212,5 Ha yang terdiri dari daratan, rawa dan perairan berupa sungai dan danau. Jaringan sungai terdapat di seluruh kecamatan sedangkan danau hanya di Kecamatan Muara Bengkal yaitu Danau Ngayau dan Danau Karang.
Wilayah pantai yang berada di sebelah timur kabupaten mempunyai ketinggian antara 0-7 meter diatas permukaan laut di mana wilayah ini mempunyai sifat kelerengan yang datar, mudah tergenang rawa dan merupakan daerah endapan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Kutai Timur mempunyai kelerengan di atas 15%, wilayah dengan kelerengan di atas 40% mempunyai areal cukup luas, yang tersebar di seluruh wilayah, khususnya terkonsentrasi di bagian barat laut, di mana wilayahnya mempunyai ketinggian diatas 500 meter diatas permukaan laut. Wilayah dengan ketinggian 500 meter diatas permukaan laut mempunyai sifat berbukit sampai bergunung dengan kelerengan lebih dari 40% dan sangat potensi erosi.
4. Iklim dan Hidrologi
Kabupaten Kutai Timur beriklim hutan tropika humida dengan suhu udara rata-rata 26:C, di mana perbedaan suhu terendah dengan suhu tertinggi mencapai 5:C - 7:C, jumlah curah hujan antara 2000-4000 mm/tahun, dengan jumlah hari hujan rata-rata adalah 130-150 hari/tahun.
Potensi hidrologi di Kabupaten Kutai Timur cukup besar, terutama adanya aliran beberapa sungai antara lain Sungai Sangatta, Sungai Marah dan Sungai Wahau. Peranan sungai di daerah ini sangat penting yaitu sebagai sarana transportasi air antara daerah pantai dan daerah pedalaman, selain itu juga dimanfaatkan sebagai sumber air minum penduduk di sepanjang wilayah yang dilaluinya.
B. Kependudukandan Tenaga Kerja
Aspek kependudukan merupakan faktor yang sangat strategis dalam pembangunan daerah, sehingga data kependudukan sangat diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan maupun perencanaan pembangunan. Dalam konteks yang lebih spesifik, data penduduk beserta deskripsi kecenderungannya sangat berguna dalam mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan, yang sedang berjalan, bahkan dalam merencanakan bentuk dan volume kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang.
Persoalan kependudukan seperti pertumbuhan penduduk beserta karakteristik faktor yang mempengaruhinya, baik karena tingkat fertilitas dan mortalitas atau karena tingkat migrasi, akan berdampak dalam upaya intervensi pembangunan yang dilaksanakan, seperti: penyediaan infrastruktur yang memadai serta lapangan pekerjaan yang cukup di masa mendatang.
Pada Tabel 2.2, dijelaskan bahwa pada tahun 2012 jumlah penduduk Kabupaten Kutai Timur sebesar 285.743 jiwa mengalami pertambahan penduduk sebanyak 16.357 jiwa, menjadi 302.100 jiwa di tahun 2013, atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,41%. Sedangkan di tahun 2016 jumlah penduduk Kabupaten Kutai Timur sebesar 357.008 jiwa yang terdiri atas
8 | B a b I I G a m b a r a n U m u m
194.167laki – laki dan 162.841 Perempuan dengan rasio jenis kelamin 119. Angka ini berarti bahwa terdapat 119 Laki – laki di antara 100 perempuan.
Pertumbuhan penduduk tersebut sebagian karena migrasi masuk ke Kabupaten Kutai Timur yang umumnya dikarenakan alasan ekonomi atau mencari pekerjaan baik secara perseorangan maupun tumbuhnya investasi atau lapangan usaha dalam berbagai sektor ekonomi, baik sektor primer, sekunder, maupun tersier, mulai dari skala usaha mikro, kecil, menengah sampai besar.
Tabel 2.2
Perbandingan Jumlah Penduduk Pada Tiap Kecamatan Tahun 2012 - 2016 Di Kabupaten Kutai Timur
No Kecamatan 2012 2013 2014 2015 2016 1 Muara Ancalong 13.984 14.785 15.631 16.526 17.472 2 Busang 4.835 5.112 5.405 5.715 6.041 3 Long Mesangat 4.751 5.022 5.310 5.614 5.936 4 Muara Wahau 17.587 18.594 19.658 20.784 21.973 5 Telen 6.445 6.814 7.204 7.616 8.052 6 Kongbeng 17.472 18.472 19.529 20.648 21.829 7 Muara Bengkal 12.665 13.390 14.157 14.967 15.824 8 Batu Ampar 4.696 4.965 5.249 5.549 5.867 9 Sangatta Utara 80.654 85.271 90.152 95.312 100.769 10 Bengalon 25.371 26.823 28.359 29.982 31.699 11 Teluk Pandan 13.646 14.427 15.253 16.126 17.049 12 Sangatta Selatan 20.337 21.501 22.732 24.033 25.409 13 Rantau Pulung 8.051 8.512 8.999 9.515 10.059 14 Sangkulirang 18.087 19.122 20.217 21.374 22.597 15 Kaliorang 8.940 9.452 9.993 10.565 11.170 16 Sandaran 7.259 7.674 8.114 8.578 9.070 17 Kaubun 10.755 11.371 12.022 12.710 13.438 18 Karangan 10.209 10.793 11.411 12.063 12.754 Jumlah Penduduk 285.743 302.100 319.395 337.677 357.008 Keterangan :
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016
Jumlah penduduk tertinggi di Kutai Timur terdapat di Kecamatan Sangatta Utara dengan jumlah penduduk sebesar 100.769 Jiwa, Bengalon sebesar 31.699 jiwa, dan Sangatta Selatan 25.409 Jiwa. Jumlah penduduk terendah terdapat di Kecamatan Batu Ampar Sebesar 5.867 Jiwa, Kecamatan Long Mesangat sebesar 5.936 jiwa, dan Kecamatan Busang sebesar 6.041 jiwa. Rincian menurut kecamatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel 1.
Jumlah penduduk tahun 2016 ini merupakan estimasi jumlah penduduk dengan basic data Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010, dimana pada saat itu jumlah penduduk Kabupaten Kutai Timur disensus sebesar 253.996 jiwa, yang terdiri dari 137.982 jiwa penduduk laki – laki dan 116.014 jiwa penduduk perempuan.
Struktur umur penduduk menurut jenis kelamin dapat digambarkan dalam bentuk piramida penduduk. Berdasarkan estimasi penduduk yang telah dilakukan, dapat disusun sebuah piramida penduduk Kutai Timur tahun 2016. Dasar piramida menunjukkan jumlah penduduk, badan piramida bagian kiri menunjukkan banyaknya penduduk laki – laki dan badan
9 | B a b I I G a m b a r a n U m u m
piramida bagian kanan menunjukkan jumlah penduduk perempuan. Piramida tersebut merupakan gambaran struktur penduduk yang terdiri dari struktur penduduk muda, dewasa, dan tua. Struktur penduduk ini menjadi dasar bagi kebijakan kependudukan, sosial, budaya dan ekonomi.
Gambar 2.2
Estimasi Piramida Penduduk Pada Kelompok Umur Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016
Keterangan :
Sumber : Badan Pusat Statistik Kutai Timur Tahun 2015
Pada Gambar 2.2 ditunjukkan bahwa struktur penduduk di Kutai Timur termasuk dalam struktur penduduk muda. Hal ini dapat diketahui bahwa dari banyaknya jumlah penduduk usia muda (0 -14 tahun) yang masih tinggi. Angka harapan hidup semakin meningkat yang ditandai dengan meningkatnya jumlah usia tua, untuk laki – laki dan perempuan. Badan piramida membesar, ini menunjukkan banyaknya jumlah penduduk usia produktif terutama pada kelompok usia 25 – 29 tahun dan 30 – 34 tahun, baik laki – laki dan perempuan. Jumlah golongan penduduk usia tua juga cukup besar. Hal ini dapat dimaknai dengan semakin tingginya usia harapan hidup, kondisi ini mengharuskan adanya kebijakan terhadap penduduk usia tua, karena golongan penduduk ini relatif tidak produktif. Rincian estimasi jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur di Kabupaten Kutai Timur dapat dilihat pada Lampiran Tabel 2.
Indikator penting terkait distribusi penduduk menurut umur yang sering digunakan untuk mengetahui produktivitas penduduk adalah Angka Beban Tanggungan atau Dependency Ratio. Angka Beban Tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya orang yang tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan umur 65 tahun ke atas) dengan banyaknya orang yang termasuk umur produktif (umur 15–64 tahun). Secara kasar perbandingan angka beban tanggungan menunjukkan dinamika beban tanggungan umur produktif terhadap umur nonproduktif. Semakin tinggi rasio beban tanggungan, semakin tinggi pula jumlah penduduk nonproduktif yang ditanggung oleh penduduk umur produktif.
Komposisi penduduk produktif di Kabupaten Kutai timur ditunjukkan oleh Gambar 2.3, terlihat bahwa penduduk yang berusia 0-14 tahun sebesar 31,28% yang berusia 15-64 tahun
15 10 05 00 05 10 15 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 90-9495+
10 | B a b I I G a m b a r a n U m u m
sebesar 67,07% dan yang berusia ≥ 65 tahun sebesar 1,65%. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan penduduk Kabupaten Kutai Timur pada tahun 2015 sebesar 49,10%. Hal ini berarti bahwa 100 orang Kutai Timur yang masih produktif akan menanggung 49 orang yang belum/sudah tidak produktif lagi. Secara rinci jumlah penduduk menurut kelompok umur disajikan pada Bab Lampiran pada Tabel 2.
Gambar 2.3
Angka Beban Tanggunan Di Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016
Keterangan :
Sumber :Badan Pusat Statistik Kutai Timur Tahun 2016
Kepadatan penduduk menunjukkan banyaknya penduduk per kilometer persegi. Hasil estimasi penduduk menunjukkan pada tahun 2015 kepadatan penduduk di Kabupaten Kutai Timur sebesar 10 penduduk per km2. Berdasarkan data penduduk, tingkat kepadatan penduduk paling besar terdapat di Kecamatan Sangatta Utara dengan kepadatan penduduk 80 penduduk per km2, Kecamatan Rantau Pulung sebesar 70 penduduk per km2, dan Kecamatan Kaubun sebesar 52 penduduk per km2. Kepadatan penduduk paling kecil terdapat di Kecamatan Busang dengan kepadatan penduduk 2 penduduk per km2, Telen dengan kepadatan penduduk 3 penduduk per km2, Kecamatan Sandaran dengan kepadatan 3 penduduk per km2. Rincian kepadatan penduduk menurut Kecamatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel 1.
Penduduk sasaran program pembangunan kesehatan sangatlah beragam, sesuai dengan karakteristik kelompok umur tertentu atau didasarkan pada kondisi siklus kehidupan yang terjadi. Beberapa upaya program kesehatan memiliki sasaran ibu hamil, ibu melahirkan, dan ibu nifas. Beberapa program lainnya dengan penduduk sasaran terfokus pada kelompok umur tertentu, meliputi: bayi, batita, balita, anak balita, anak usia sekolah SD, wanita usia subur, penduduk produktif, dan usia lanjut.
Penduduk sebagai determinan pembangunan harus mendapat perhatian yang serius. Program pembangunan, termasuk pembangunan di bidang kesehatan, harus didasarkan pada dinamika kependudukan. Upaya pembangunan di bidang kesehatan tercermin dalam program kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif. Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan ketersediaan data mengenai penduduk sebagai sasaran program pembangunan kesehatan. 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000 140.000 0-14 15-64 65 58.049 132.691 3.427 53.620 106.749 2.472 Ju m la h P e n d u d u k Kelompok Umur Laki-laki Perempuan
11 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
Bab III
Kesehatan Keluarga
ebagai komponen yang tidak terpisahkan dari masyarakat, keluarga memiliki peransignifikan dalam status kesehatan. Keluarga berperan terhadap optimalisasi pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas seluruh anggotanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan menjamin kesehatan anggota keluarga. Di dalam komponen keluarga, ibu dan anakmerupakan kelompok rentan. Hal ini terkait dengan fase kehamilan, persalinan dan nifaspada ibu dan fase tumbuh kembang pada anak. Hal ini yang menjadi alasan pentingnya upaya kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia.Ibu dan anak merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam penyelenggaraan upaya kesehatan, karena ibu dan anak merupakan kelompok rentan terhadap keadaan keluarga dan sekitarnya secara umum. Sehingga penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan.
A. KESEHATAN IBU
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator AngkaKematian Ibu (AKI). AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dannifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dll di setiap 100.000 kelahiran hidup.
Gamber 3.1
Angka Kematian Ibu Per 100.000 Kelahiran Hidup Di Indonesia, SDKI 1991 – 2015
Keterangan :
Sumber : BPS, SDKI 1991 – 2015
12 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
Indikator ini tidak hanya mampu menilai program kesehatan ibu, terlebih lagi mampu menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas. Penurunan AKI di Indonesia terjadisejak tahun 1991 sampai dengan 2007, yaitu dari 390 menjadi 228. Namun demikian, SDKI tahun 2012 menunjukkan peningkatan AKI yang signifikan yaitu menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. AKI kembali menujukkan penurunan menjadi 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015. Gambaran AKI di Indonesia dari tahun 1991 hingga tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gamber 3.2
Angka Kematian Ibu Per 100.000 Kelahiran Hidup Di Kutai Timur, Tahun 2011 - 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Tahun 2015
Untuk Kabupaten Kutai Timur, AKI pada 6 tahun terakhir menunjukkan tren menurun di periode 2010 – 2014 namun di tahun 2015 dan 2016 sedikit meningkat, seperti terlihat pada Gambar 3.2. Pada tahun 2016 terjadi kasus kematian ibu sebanyak 16 ibu meninggal dunia lebih banyak dibanding kematian di tahun 2015 dengan jumlah kematian 12 kasus.Jumlah kelahiran hidup di tahun 2016 sebanyak 5.894 kelahiran hidup, sehingga AKI tahun 2016 sebesar 271 per 100.000 kelahiran hidup.
Sebagai upaya penurunan AKI, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sejaktahun 1990 telah meluncurkan safe motherhood initiative, sebuah program yang memastikan semua wanita mendapatkan perawatan yang dibutuhkan sehingga selamat dan sehat selama kehamilan dan persalinannya. Upaya tersebut dilanjutkan dengan program Gerakan Sayang Ibu di tahun 1996 oleh Presiden Republik Indonesia. Program ini melibatkan sektor lain di luar kesehatan. Salah satu program utama yang ditujukan untuk mengatasi masalah kematian ibu yaitu penempatan bidan di tingkat desa secara besar-besaran yang bertujuan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir ke masyarakat. Upaya lain yang juga telah dilakukan yaitu strategi Making Pregnancy Safer yang dicanangkan pada tahun 2000.
Upaya percepatan penurunan AKI dapat dilakukan dengan menjamin agar setiap ibumampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatanibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanankesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, kemudahan mendapatkan cuti hamil dan melahirkan, dan pelayanan keluarga berencana.
430 317 230 202 204 271 0 100 200 300 400 500 2011 2012 2013 2014 2015 2016
13 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
Pada bagian berikut, gambaran upaya kesehatan ibu yang disajikan terdiri dari : (1) Pelayanan kesehatan ibu hamil, (2) Pelayanan imunisasi Tetanus Toksoid wanita usia subur dan ibu hamil, (3) pelayanan kesehatan ibu bersalin, (4) pelayanan kesehatan ibunifas, (5) pelayanan/penanganan komplikasi kebidanan, dan (6) pelayanan kontrasepsi.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Usia bayi merupakan kondisi yang rentan baik terhadap kesakitan maupun kematian. Dari 72 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, lebih dari tiga perempatnya (65%) merupakan kontribusi dari bayi umur 0-28 hari atau neonatus.
Pelayanan kesehatan ibu hamil diberikan kepada ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Proses ini dilakukan selama rentang usia kehamilan ibu yang dikelompokkan sesuai usia kehamilan menjadi trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan harus memenuhi elemen pelayanan sebagai berikut :
1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan; 2. Pengukuran tekanan darah;
3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA); 4. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri);
5. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid sesuai status imunisasi;
6. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan; 7. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ);
8. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk keluarga berencana);
9. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya); dan
10. Tatalaksana kasus.
Selain elemen tindakan yang harus dipenuhi, pelayanan kesehatan ibu hamil juga harus memenuhi frekuensi minimal di tiap trimester, yaitu satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), satu kali pada trimester kedua (usia kehamilan12-24 minggu), dan dua kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampaipersalinan). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindunganterhadap ibu hamil dan atau janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi kehamilan.
Penilaian terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan dengan melihat cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan dibandingkan jumlahsasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Sedangkan cakupanK4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai denganstandar paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan di tiap trimester dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun.
Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Capaian K1 dan K4 dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2015 disajikan padagambar berikut ini.
14 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a GAMBAR 3.3
Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil K1 Dan K4 Di Indonesia Tahun 2005 – 2015
Keterangan :
Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016
Gambar di atas menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan untuk kedua indikator, baik cakupan K1 maupun K4. Peningkatan kecenderungan tersebut mengindikasikan adanya perbaikan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu hamil. Sedangkan di Kutai Timur disajikan pada Gambar 3.4 berikut.
GAMBAR 3.4
Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil K1 Dan K4 Di Kutai Timur Tahun 2010 – 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Cakupan K1 dan K4 di Kutai Timur selama 7 tahun mengalami kenaikan dan penurunan. Meskipun secara umum cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K1 mengalami kenaikan, namun hal ini tidak berlaku pada cakupan K4. Rendahnya pencapaian cakupan K4 ini disebabkan belum maksimalnya proses pendataan dan pelaporan yang melibatkan rumah sakit swasta, dan klinik swasta, serta dokter praktek. Sedangkan saat ini kecenderungan ibu hamil untuk melakukan
92,5 106,2 116,5 123,8 123,2 111,6 99,0 80,6 79,8 79 86,6 81 79,7 78,0 0 20 40 60 80 100 120 140 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 K1 K4
15 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
pemeriksaan antenatal care di layanan kesehatan swasta semakin meningkat. Informasi cakupan kunjungan K1 dan K4 untuk setiap puskesmas tersaji pada Bab Lampiran pada tabel 29.
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil tidak hanya dari sisi akses. Kualitas pelayanan yang diberikan juga harus ditingkatkan, di antaranya pemenuhan semua komponen pelayanan kesehatan ibu hamil harus diberikansaat kunjungan. Meskipun rasio puskesmas terhadap 30.000 penduduk sudah mencapai rasio ideal 1:30.000 penduduk, namun penyebarannya masih belum merata. Keberadaan puskesmas secara ideal harus didukung dengan aksesibilitas yang baik. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan aspek geografis dan kemudahan sarana dan prasarana transportasi. Dalam mendukung penjangkauan terhadap masyarakat di wilayah kerjanya, puskesmas juga sudah menerapkan konsep satelit dengan menyediakan puskesmas pembantu.
Salah satu komponen pelayanan kesehatan ibu hamil yaitu pemberian zat besisebanyak 90 tablet (Fe3). Zat besi merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh untukmembentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain digunakan untuk pembentukan sel darahmerah, zat besi juga berperan sebagai salah satu komponen dalam membentuk myoglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat pada tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim.
GAMBAR 3.5 Cakupan Fe3 di Kutai Timur
Tahun 2009 – 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Selama kurun waktu 2009 hingga 2016 cakupan pemberian Fe3 di Kutai Timur mengalami naik turun dari 72,1% di tahun 2009 hingga 77,79% di tahun 2016, terlihat pada Gambar 3.5. Pencapaian di tahun 2016 sebesar 77,79%, capaian ini lebih tinggi dari cakupan Fe3 Propinsi Kalimantan Timur di tahun 2015 yaitu sebesar 75%, namun masih lebih rendah dari cakupan Fe3 nasional di tahun 2015 sebesar 85,17%. Walaupun dari pelaporan dihasilkan bahwa cakupan ibu hamil yang mendapat tablet Fe3 cukup baik namun jika tidak dikonsumsi oleh ibu hamil maka efek minum tablet Fe yang diharapkan tidak akan tercapai. Informasi cakupan pemberian Fe3 (90 Tablet) dan Fe1 (30 Tablet) pada tiap puskesmas di tahun 2015 disajikan pada Bab Lampiran Tabel 32.
72,1 80,89 85,25 77,31 85,76 76,8 69,64 77,79 0 20 40 60 80 100 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
16 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a GAMBAR 3.6
Cakupan Fe3 di Kutai Timur Tahun 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Pada tahun 2016 puskesmas dengan cakupan pemberian Fe3 terbesar adalah Puskesmas Sangatta Utara dengan 101,7%, Muara Wahau II dengan 101.3% dan Puskesmas Kongbeng dengan 96,3%. Sedangkan puskesmas dengan cakupan pemberian Fe3 terendah adalah Puskesmas Muara Ancalong dengan 26,7%, Puskesmas Karangan dengan 32,9% dan Puskesmas Batu Ampar dengan 57,3%.
2. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil
Salah satu penyebab kematian ibu dan kematian bayi yaitu infeksi tetanus yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani sebagai akibat dari proses persalinan yang tidakaman/steril atau berasal dari luka yang diperoleh ibu hamil sebelum melahirkan. Clostridium Tetani masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan racun yang menyerang sistem syaraf pusat.
Sebagai upaya mengendalikan infeksi tetanus yang merupakan salah satu factor risiko kematian ibu dan kematian bayi, maka dilaksanakan program imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bagi Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi mengamanatkan bahwa wanita usia subur dan ibu hamil merupakan salah satu kelompok populasi yang menjadi sasaran imunisasi lanjutan. Imunisasi lanjutan adalah kegiatan yang bertujuan untuk melengkapi imunisasi dasar pada bayi yang diberikan kepada anak Batita, anak usia sekolah, dan wanita usia subur termasuk ibu hamil.
26,7 32,9 57,3 58,9 60,8 65,8 69,6 72,5 74,3 77,7 79,6 79,7 80,2 83,8 85,9 87,2 90,6 92,7 96,6 101,3 101,7 77,8 0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 Ma Ancalong Karangan Kaliorang Batu Ampar Muara Bengkal Teluk Pandan Busang Teluk Lingga Long Mesangat Tepian Baru Muara Wahau I Telen Sangkulirang Sandaran Kaubun Sangatta… Sepaso Rantau Pulung Kongbeng Muara Wahau II Sangatta Utara Kutai Timur
17 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
Wanita usia subur yang menjadi sasaran imunisasi TT adalah wanita berusia antara 15-49 tahun yang terdiri dari WUS hamil (ibu hamil) dan tidak hamil. Imunisasi lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu melakukan pelayanan antenatal. Imunisasi TTpada WUS diberikan sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu, dimulai sebelum danatau saat hamil yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Interval pemberian imunisasi TT dan lama masa perlindungan yang diberikan sebagai berikut:
a) TT2 memiliki interval minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3 tahun. b) TT3 memiliki interval minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun. c) TT4 memiliki interval minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun. d) TT5 memiliki interval minimal 1 tahun setelah TT4 dengan masa perlindungan 25 tahun.
Screening status imunisasi TT harus dilakukan sebelum pemberian vaksin. Pemberian imunisasi TT tidak perlu dilakukan bila hasil screening menunjukkan wanita usiasubur telah mendapatkan imunisasi TT5 yang harus dibuktikan dengan buku KIA, rekam medis, dan atau kohort. Kelompok ibu hamil yang sudah mendapatkan TT2 sampa idengan TT5 dikatakan mendapatkan imunisasi TT2+. Gambar berikut menampilkan cakupan imunisasi TT5 pada wanita usia subur dan cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil.
GAMBAR 3.7
Cakupan Imunisasi TT2+ di Kutai Timur Tahun 2011 – 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Pengamatan dan Pencegahan Penyakit Bidang P2PL, Tahun 2016
Cakupan imunisasi TT2+ (ibu hamil yang telah mendapat imunisasi TT minimal 2 dosis) pada ibu hamil pada tahun 2016 sebesar 49,19%, menurun dibandingkan cakupan imunisasi TT2+ di tahun 2015 sebesar 64,48% dan lebih rendah dari tahun 2014 sebesar 77,08% dan lebih rendah pula dari capaian di tahun 2013 sebesar 86,28%. Angka ini juga lebihrendah jika dibandingkan cakupan pada tahun 2012 sebesar 80,62 maupun tahun 2011 sebesar 73,38%. Namun cakupan imunisasi TT2+ ini masih lebih tinggi dibandingkan cakupan imunisasi TT2+ Propinsi Kalimantan Timur di tahun 2015 yang hanya sebesar 25,15%. Tetapi tetap di bawah cakupan nasional di tahun 2015 yaitu sebesar 65,20%. Informasi cakupan ibu hamil dengan imunisasi TT2+ pada tiap puskesmas di tahun 2014 di sajikan pada Bab Lampiran Tabel 30.
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
Upaya lain yang dilakukan untuk menurunkan kematian ibu dan kematian bayi yaitu dengan mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu dokter spesialis
73,38 80,62 86,28 77,08 64,48 49,19 0 20 40 60 80 100 2011 2012 2013 2014 2015 2016
18 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, serta diupayakan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pertolongan persalinan adalahproses pelayanan persalinan yang dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan. Keberhasilan program ini diukur melalui indikator persentase persalinan ditolong tenagakesehatan terlatih (Cakupan PN) dan persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan (cakupan PF).
Gambar 3.8
Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin di Kutai Timur Tahun 2011 - 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Di Kutai Timur cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan selama 7 tahun cenderung meningkat. Hal ini dapat terlihat dari peningkatan cakupan, dimana pada tahun 2010 sebesar 60,6% meningkat menjadi 90,47% di tahun 2015. Meskipun capaian tahun ini lebih rendah jika dibandingkan capaian di tahun 2013 lalu sebesar 99,8%. Namun, hasil ini masih di atas capaian pelayanan kesehatan ibu bersalin Propinsi Kalimantan Timur tahun 2015 yaitu sebesar 76,65%.
Analisis kematian ibu yang dilakukan Direktorat Bina Kesehatan Ibu pada tahun 2010membuktikan bahwa kematian ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan tempat/fasilitas persalinan.Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti berkontribusiterhadap turunnya risiko kematian ibu. Demikian pula dengan tempat/fasilitas, jika persalinan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, juga akan semakin menekan risiko kematian ibu.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan tetap konsisten dalam menerapkan kebijakan bahwa seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dan didorong untuk dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Kebijakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan menggariskan bahwa pembangunan puskesmas harus satu paket dengan rumah dinas tenaga kesehatan. Demikian pula dengan pembangunan poskesdes yang harus bisa sekaligus menjadi rumah tinggal bagi bidan di desa. Dengan disediakan rumah tinggal, maka tenaga kesehatan termasuk bidan akan siaga di tempat tugasnya dan dapat memberikan pertolongan persalinan setiap saat.
Untuk daerah dengan akses sulit, kebijakan Kementerian Kesehatan yaitu mengembangkan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran. Para dukun diupayakan bermitra dengan bidan dengan hak dan kewajiban yang jelas. Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan tidak lagi dikerjakan oleh dukun, namun dirujuk ke bidan.
60,55 72,9 90,1 99,78 90,19 90,47 86,5 0 20 40 60 80 100 120 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
19 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
Bagi ibu hamil yang di daerah tempat tinggalnya tidak ada bidan atau jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan, maka menjelang hari taksiran persalinan diupayakan sudah berada di dekat fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu di Rumah Tunggu Kelahiran. Rumah Tunggu Kelahiran tersebut dapat berupa rumah tunggu khusus yang dikembangkan melalui pemberdayaan masyarakat maupun di rumah sanak saudara yang letak rumahnya berdekatan dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
4. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibu nifas sesuai standar, yang dilakukan sekurang-kurangnya tiga kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu pada enam jam sampai dengan tiga hari pasca persalinan, pada hari ke empat sampaidengan hari ke-28 pasca persalinan, dan pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 pasca persalinan. Masa nifas dimulai dari enam jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan.
Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan terdiri dari : a) Pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu); b) Pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri);
c) Pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;
d) Pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;
e) Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu nifas dan bayi baru lahir, termasuk keluarga berencana;
f) Pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.
Gambar 3.9
Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas di Kutai Timur
Tahun 2010 – 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Cakupan kunjungan nifas (KF3) di Kutai Timur dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir secara umum mengalami kenaikan. Dimana pada tahun 2010 cakupan hanya sebesar 64,93% meningkat menjadi 80,56% pada tahun 2016. Capaian indikator KF3 yang meningkat dalam tujuh tahun terakhir merupakan hasil dari berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat termasuk sektor swasta. Program penempatan Pegawai Tidak Tetap (PTT) untuk dokter dan bidan terus dilaksanakan. Selain itu, dengan diluncurkannya Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sejak tahun 2010, puskesmas, poskesdes, dan posyandu lebih terbantu dalam mengintensifkan implementasi upaya kesehatan termasuk di dalamnya pelayanan kesehatan ibu
64,93 51,1 76,46 88,9 77,9 78,96 80,56 0 20 40 60 80 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
20 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
nifas. Pelayanan kesehatan ibu nifas termasuk di antaranya kegiatan sweeping atau kunjungan rumah bagi yang tidak datang ke fasilitas pelayanankesehatan. Informasi pencapaian pelayanan nifas pada setiap puskesmas disajikan pada Bab Lampiran pada tabel 29
5. Pelayanan/Penanganan Komplikasi Kebidanan
Komplikasi pada proses kehamilan, persalinan dan nifas juga merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan kematian bayi. Komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan atau janin dalam kandungan, baik langsung maupun tidak langsung, termasuk penyakit menular dan tidak menular yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau janin. Sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi maka dilakukan pelayanan/ penanganan komplikasi kebidanan. pelayanan/ penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayanan kepada ibu hamil, bersalin, atau nifas untuk memberikan perlindungan dan penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan.
Keberhasilan program ini dapat diukur melalui indikator cakupan penanganan komplikasi kebidanan (Cakupan PK). Indikator ini mengukur kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada ibu (hamil, bersalin,nifas) dengan komplikasi. Capaian indikator penanganan komplikasi kebidanan di Kutai Timur dari tahun 2009 hingga tahun 2016 disajikan pada gambar berikut.
Gambar 3.10
Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan di Kutai Timur
Tahun 2009 – 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Capaian indikator penanganan komplikasi kebidanan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2015 di Kutai Timur disajikan pada Gambar 3.10. Pada gambar tersebut dapat diketahui bahwa secara umum, cakupan penanganan komplikasi kebidanan di Kutai Timur selama kurun waktu delapan tahun terakhir cenderung meningkat. Cakupan penanganan komplikasi kebidanan di tahun 2009 sebesar 25,11% meningkat menjadi 78,63% pada tahun 2016.
Sebesar 20% dari kehamilan diprediksi akan mengalami komplikasi. Komplikasi yang tidak tertangani dapat menyebabkan kematian, namun demikian sebagian besarkomplikasi dapat dicegah dan ditangani bila : 1) ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan; 2) tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai, antara lain penggunaan partograf untuk memantau perkembangan persalinan, dan pelaksanaan manajemen aktif kala III (MAK III) untuk mencegah perdarahan pasca-salin; 3) tenagakesehatan mampu melakukan identifikasi
21 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
dini komplikasi; 4) apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan; 5) proses rujukan efektif; 6) pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna.
Intervensi yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu dan neonatal yaitu melalui : 1) peningkatan pelayanan antenatal yang mampu mendeteksi dan menangani kasus risiko tinggi secara memadai; 2) pertolongan persalinan yang bersih dan aman oleh tenaga kesehatan terampil, pelayanan pasca persalinandan kelahiran; serta 3) pelayanan emergensi obstetrik dan neonatal dasar (PONED) dan komprehensif (PONEK) yang dapat dijangkau secara tepat waktu oleh masyarakat yang membutuhkan.
Beberapa terobosan dalam penurunan AKI dan AKB di Indonesia telah dilakukan, salah satunya Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Program tersebut menitikberatkan kepedulian dan peran keluarga dan masyarakat dalam melakukan upaya deteksi dini, menghindari risiko kesehatan pada ibu hamil, serta menyediakan akses dan pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar di tingkat Puskesmas (PONED)dan pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal komprehensif di Rumah Sakit(PONEK). Dalam implementasinya, P4K merupakan salah satu unsur dari Desa Siaga.P4K mulai diperkenalkan oleh Menteri Kesehatan pada tahun 2007. Pelaksanaan P4Kdi desa-desa tersebut perlu dipastikan agar mampu membantu keluarga dalam membuatperencanaan persalinan yang baik dan meningkatkan kesiapsiagaan keluarga dalammenghadapi tanda bahaya kehamilan, persalinan, dan nifas agar dapat mengambil tindakanyang tepat.
Dilakukan pula kegiatan Audit Maternal Perinatal (AMP), yang merupakan upaya dalam penilaian pelaksanaan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kegiatan ini dilakukan melalui pembahasan kasus kematian ibu atau bayi baru lahir sejak di level masyarakat sampai di level fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu hasil kajian yang didapat dari AMP adalah kendala yang timbul dalam upaya penyelamatan ibupada saat terjadi kegawatdaruratan maternal dan bayi baru lahir. Kajian tersebut juga menghasilkan rekomendasi intervensi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatanibu dan bayi di masa mendatang. Data dan informasi lebih tentang penanganan komplikasi kebidanan menurut puskesmas terdapat pada Bab Lampiran Tabel33.
6. Pelayanan Kontrasepsi
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T; terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun). Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan. Pelayanan KB menyediakan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi laki-laki dan perempuan untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak, berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak.
Baik suami maupun istri memiliki hak yang sama untuk menetapkan berapa jumlah anak yang akan dimiliki dan kapan akan memiliki anak. Melalui tahapan konseling pelayanan KB, pasangan usia subur (PUS) dapat menentukan pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya berdasarkan informasi yang telah mereka pahami, termasuk keuntungan dan kerugian, risiko metode kontrasepsi dari petugas kesehatan.
Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan dalam rangka mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih
22 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
dititikberatkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada kisaran usia 15-49 tahun.
Keberhasilan program KB dapat diukur dengan melihat cakupan KB aktif dan KB baru. Cakupan KB aktif menggambarkan proporsi pasangan usia subur (PUS) yang sedang menggunakan alat/metode kontrasepsi terhadap jumlah PUS yang ada. Sedangkan cakupan KB baru adalah jumlah PUS yang baru menggunakan alat/metode kontrasepsi terhadap jumlah PUS.
GAMBAR 3.11
Cakupan KB Aktif di Kutai Timur Tahun 2010 – 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Gambar 3.11 menampilkan persentase peserta KB aktif selama 6 tahun terakhir di Kutai Timur. Pada awalnya capaian mengalami penurunan yaitu dari 57,91% di tahun 2010 menjadi 43,11 di tahun 2011. Pada periode tahun berikutnya capaian KB aktif relatif mengalami peningkatan hingga di tahun 2014 sebesar 59,37% namun kembali menurun di tahun 2015 sebesar 48,31% dan meningkat kembali di tahun 2016 dengan 66,51%. Informasi KB baru dan KB aktif pada setiap puskesmas di sajikan pada Bab Lampiran Tabel 34, 35 dan 36
B. KESEHATAN ANAK
Upaya pemeliharaan kesehatan anak ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian anak. Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia delapan belas tahun.
Upaya kesehatan anak antara lain diharapkan mampu menurunkan angka kematian anak.Indikator angka kematian yang berhubungan dengan anak yakni Angka Kematian Neonatal(AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA). Perhatian terhadapupaya penurunan angka kematian neonatal (0-28 hari) menjadi penting karena kematian neonatal memberi kontribusi terhadap 59% kematian bayi. Berdasarkan hasil SurveiDemografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka Kematian Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sama dengan AKN berdasarkan SDKI tahun 2007 dan hanya menurun 1 poin dibanding SDKI tahun 2002-2003 yaitu 20 per 1.000 kelahiran hidup.
23 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
Data dan informasi yang akan disajikan berikut ini menerangkan berbagai indikator kesehatan anak yang meliputi, penanganan komplikasi neonatal, pelayanan kesehatan neonatal, imunisasi dasar, pelayanan kesehatan pada siswa SD/setingkat, dan pelayanan kesehatan peduli remaja.
1. Pelayanan Kesehatan Neonatal
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan 28 hari. Pada masa tersebut terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golonganumur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi, berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Sehingga tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini di antaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitaskesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjunganbayi baru lahir.
Cakupan Kunjungan Neonatal Pertama atau KN1 merupakan indikator yang menggambarkan upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko kematian pada periode neonatal yaitu 6-48 jam setelah lahir yang meliputi, antara lain kunjungan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM) termasuk konseling perawatan bayi baru lahir, ASI eksklusif, pemberian vitamin K1 injeksi, dan Hepatitis B0 injeksi bila belum diberikan.
Selain KN1, indikator yang menggambarkan pelayanan kesehatan bagi neonatal adalah KN Lengkap yang mengharuskan agar setiap bayi baru lahir mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar sedikitnya 3 kali.
Gamber 3.12
Cakupan Kunjungan KN1 dan KN Lengkap di Kutai Timur Tahun 2011 – 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Capaian KN1 Kutai Timur dalam 6 tahun relatif meningkat dari tahun 2011 sebesar 79,68% meningkat menjadi 94,98% di tahun 2016, Dimana hasil ini telah mampu melewati capaian Propinsi Kalimantan Timur di tahun 2015 sebesar 90,44% dan capaian nasional di tahun 2015 sebesar 83,67%.sedangkan capaian KN Lengkap juga relatif meningkat dari tahun 2011 sebesar 52,91% menjadi 84,05% di tahun 2016. Dimana hasil ini telah mampu melewati capaian Propinsi Kalimantan Timur di tahun 2015 sebesar 82,14% dan capaian nasional di tahun 2015 sebesar 77,31%. Informasi lengkap mengenai capaian KN1 dan KN3 Lengkap pada tiap – tiap puskesmas di Kutai Timur disajikan pada Bab Lampiran Tabel 38.
24 | B a b I I I K e s e h a t a n K e l u a r g a
2. Penanganan Komplikasi Neonatal
Neonatal dengan komplikasi adalah neonatal dengan penyakit dan atau kelainan yang dapatmenyebabkan kecacatan dan atau kematian, seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/ sepsis, trauma lahir, BBLR, sindroma gangguan pernafasan, dan kelainan kongenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning dan merah pada pemeriksaan dengan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM).
Komplikasi yang menjadi penyebab kematian terbanyak yaitu asfiksia, bayi berat lahir rendah, dan infeksi (Riskesdas, 2007). Komplikasi ini sebetulnya dapat dicegah dan ditangani, namun terkendala oleh akses ke pelayanan kesehatan, kemampuan tenaga kesehatan, keadaan sosial ekonomi, sistem rujukan yang belum berjalan dengan baik, terlambatnya deteksi dini, dan kesadaran orang tua untuk mencari pertolongan kesehatan.
Penanganan neonatal dengan komplikasi adalah penanganan terhadap neonatal sakit dan atau neonatal dengan kelainan atau komplikasi/kegawatdaruratan yang mendapat pelayanan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan atau perawat) terlatih baikdi rumah, sarana pelayanan kesehatan dasar maupun sarana pelayanan kesehatan rujukan. Pelayanan sesuai standar antara lain sesuai dengan standar MTBM, Manajemen AsfiksiaBayi Baru Lahir, Manajemen Bayi Berat Lahir Rendah, pedoman pelayanan neonatalessensial di tingkat pelayanan kesehatan dasar, PONED, PONEK atau standar operasional pelayanan lainnya.
Gambar 3.13
Cakupan Penanganan Komplikasi di Kutai Timur Tahun 2010 - 2016
Keterangan :
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Tahun 2016
Pada Gambar 3.13 dijelaskan bahwa dalam 7 tahun terakhir penanganan komplikasi neonatal di Kutai Timur sempat mengalami penurunan yaitu pada periode 2011, dimana dengan cakupan hanya 17,62% yang lebih rendah dari cakupan tahun sebelumnya yaitu sebesar 25,94%. Lalu capaian meningkat di tahun 2012 sebesar 23,9%, dan sempat melonjak di tahun 2013 sebesar 82,2% dan kembali melemah di tahun 2014 sebesar 76,1% dan kembali meningkat di tahun 2015 sebesar 98,50%. Pada tahun 2016 cakupan sebesar 87,32% telah mampu melewati target yang dicanangkan sebesar 80% dan capaian ini mampu melewati capaian Propinsi Kalimantan Timur di Tahun 2015 yaitu sebesar 54,50% dan juga di atas cakupan nasional yaitu sebesar 51,37% di tahun 2015. Informasi pencapaian penanganan komplikasi neonatal menurut puskesmas di sajikan pada Bab Lampiran Tabel 33.