• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nasrun, Nurmansyah, Herwita Idris, dan Burhanudin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Nasrun, Nurmansyah, Herwita Idris, dan Burhanudin"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUJIAN KETAHANAN HIBRIDA SOMATIK NILAM (Pogostemon cablin Benth)

TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DI LAHAN ENDEMIK

Resistance of patchouli somatic hybrid (Pogostemon cablin Benth) to bacterial wilt disease

(Ralstonia solanacearum) in endemic area

Nasrun, Nurmansyah, Herwita Idris, dan Burhanudin Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Jalan Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111

[email protected]

(diterima 21 Maret 2012, disetujui 29 September 2012) ABSTRAK

Pengujian ketahanan hibrida somatik nilam terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) di lahan endemik telah dilaksanakan di daerah endemik penyakit layu bakteri nilam di Desa Situak Ujung Gading Pasaman Barat, Sumatera Barat sejak Januari sampai Desember 2009.Tujuan penelitian untuk mendapatkan hibrida somatik nilam tahan penyakit layu bakteri. Penelitian menggunakan lima nomor hibrida somatik nilam terpilih hasil pengujian secara

in planta di rumah kaca, yaitu 2 IV/4; 2 IV/5; 2 IV/9; 9 II/21; 9 IV/3, serta varietas Sidikalang sebagai pembanding.

Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah masa inkubasi penyakit, kematian tanaman, intensitas serangan penyakit, pertumbuhan tanaman, dan produksi daun basah. Hasil penelitian menunjukkan, hibrida somatik 2 IV/4 lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dibandingkan hibrida somatik lainnya dan varietas pembanding Sidikalang.Hibrida somatik 2 IV/4 menunjukkan masa inkubasi gejala penyakit 162,5 hari setelah tanam (HST), lebih lambat dibandingkan hibrida somatik lainnya dan varietas Sidikalang, dengan intensitas serangan penyakit 16%, dan tidak mengalami kematian sampai akhir penelitian (184 hari setelah tanam). Hibrida somatik 2 IV/4 juga menunjukkan pertumbuhan tanaman lebih baik dibandingkan dengan hibrida somatik lainnya dan varietas Sidikalang. Hibrida somatik 2 IV/4 juga memperlihatkan produksi daun basah (910,5 g tanaman-1) lebih tinggi dari pada hibrida somatik lainnya dengan produksi daun basah 375,4-775,0 g tanaman-1 dan varietas Sidikalang dengan produksi daun basah 337,5 g tanaman-1 sehingga berpeluang untuk dikembangkan sebagai varietas nilam toleran penyakit layu bakteri.

Kata kunci: Pogostemon cablin, hibrida somatik, penyakit layu bakteri, ketahanan

ABSTRACT

The study on the resistant of patchouli somatic hybrid to bacterial wilt disease (Ralstonia solanacearum) had been conducted in endemic area of those diseases in Situak village Ujung Gading, West Pasaman,West Sumatera from March to December 2009. The objectives of this study was to find out the somatic hybrid of pathcouli resistant to bacterial wilt disease. This study was performed by using five numbers of somatic hybrid which were selected from the in planta test at the green house e.g. 2 IV/4; 2 IV/5; 2 IV/9; 9 II/21; 9 IV/3; and Sidikalang variety as control. Experiments were arranged in a randomized block design with five replications. Assessment parameters were incubated period leading to the first symptom of disease, died plant, disease intensity, plant growth and fresh leaf yield. The results of the study showed that somatic hybrid 2 IV/4 was more tolerant to bacterial wilt disease compared with others somatic hybrids and its control Sidikalang variety. Somatic hybrid 2 IV/4 showed the first symptom 162.5 days after planting (DAP) occurred latter than the other somatic hybrids and Sidikalang variety with disease intensity of 16%, and all the plants did not die until the end of the study (184 days after planting). Somatic hybrid 2IV/4 also showed better plant growth than others tested plants. In addition, somatic hybrid 2 IV/4 also showed the fresh leaf weight of 910.5 g plant-1 higher than others somatic hybrids with fresh leaf weight of 375.4-775.0 g plant-1 and Sidikalang variety with of 337.5 g plant-1. The hybrid can be 2IV/4 proposed as patchouli variety tolerant to bacterial wilt disease.

(2)

PENDAHULUAN

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupa-kan penghasil minyak atsiri (patchouli oil) yang mempunyai prospek baik dalam memenuhi kebutuhan industri kimia, parfum, dan kosmetik. Indonesia saat ini masih merupakan negara pemasok terbesar kebutuhan minyak nilam yang mensuplai 90% dari kebutuhan minyak dunia. Produksi minyak nilam Indonesia amat diminati oleh produsen parfum dan wewangian di negara-negara Eropa, Amerika, dan India. Enam puluh persen minyak nilam diekspor ke Eropa dan Amerika, 20% ke India, sedangkan sisanya ke negara lain (Handoyo, 2011).

Hampir seluruh pertanaman nilam di Indonesia diusahakan oleh petani yang melibatkan 36.461 kepala keluarga. Daerah pertanaman nilam tersebar di daerah Nangro Aceh Darusallam (NAD), Sumatera Utara, Sumatera Barat, Beng-kulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur (Nuryani, 2005). Pada tahun 2007 luas tanaman nilam di Indonesia mencapai 22.150 ha dengan produksi 2.546 ton atau rata-rata 155 kg ha-1, dan pada tahun 2011 produksi nilam menurun sampai 1.000 ton (Ditjenbun, 2011). Turunnya produktivitas dan mutu minyak nilam, antara lain disebabkan oleh berkembangnya penyakit tanaman, terutama penyakit layu bakteri (Nasrun et al., 2007).

Penyakit layu bakteri disebabkan oleh

Ralstonia solanacearum menyerang nilam secara

masal mulai dari bibit sampai tanaman dewasa (Nasrun, 2005; Nasrun et al., 2007). Penyakit layu bakteri dilaporkan sudah lama ditemukan di DI Aceh dan berkembang ke Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Pada saat ini perkembangan penyakit layu bakteri nilam di Sumatera Barat telah meningkat terutama pada daerah sentra produksi nilam, diantaranya di Desa Situak Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat dengan tingkat serangan 60-80% (Disbun Sumbar, 2011).

Penyakit layu bakteri nilam telah menye-bar ke Jawa, terutama pertanaman nilam di Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah (Nuryani, 2005; Nasrun et al., 2005). Sam-pai saat ini, penyakit layu bakteri masih sulit dikendalikan karena faktor epidemiologi patogen yang kompleks, diantaranya strain R.

solana-cearum yang berbeda, tanaman inang, dan

kemampuan patogen untuk bertahan hidup cukup lama di dalam tanah meskipun tanpa tanaman inang.

Penggunaan varietas tahan atau toleran merupakan salah satu cara untuk mengendalikan penyakit layu bakteri nilam yang efektif dan eko-nomis dalam upaya meningkatkan produksi nilam (Nasrun dan Nuryani, 2007). Hibrida somatik nilam hasil penyilangan inkonvensional (fusi protoplas) antara nilam Jawa tahan penyakit layu bakteri dengan Sidikalang berproduksi tinggi tetapi rentan terhadap penyakit layu bakteri (Nasrun et al., 2004), memiliki potensi untuk dikembangkan se-bagai varietas tahan. Tiga puluh satu hibrida somatik hasil fusi protoplas dari kedua jenis nilam tersebut menunjukkan produksi tinggi (Nasrun et

al., 2004; Nuryani, 2005). Hasil evaluasi ketahanan

hibrida somatik nilam terhadap penyakit layu bakteri secara in planta di rumah kaca, diperoleh dua nomor hibrida somatik (2IV/4 dan 9II/21) tahan dan lima nomor hibrida somatik (9IV/6; 9IV/3; 9II/34; 2IV/6; dan 2IV/9) toleran terhadap penyakit layu bakteri (Nasrun et al., 2009). Untuk mengetahui tingkat ketahanan dan stabilitas hibrida somatik nilam tersebut terhadap penyakit layu bakteri dan kadar serta kualitas minyaknya pada kondisi lapang, maka dilakukan pengujian ketahanan beberapa nomor harapan hibrida somatik nilam yang tahan tersebut di daerah endemik penyakit layu bakteri. Tujuan dari pene-litian ini adalah mengevaluasi tingkat ketahanan lima hibrida somatik nilam di daerah endemik penyakit layu bakteri, parameter pertumbuhan, dan produksi tanaman.

(3)

BAHAN DAN METODE

Percobaan dilakukan di kebun petani terinfeksi penyakit layu bakteri nilam di Desa Situak Ujung Gading, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, sejak Januari sampai Desember 2009.

Bahan yang digunakan terdiri atas lima nomor hibrida somatik nilam toleran layu bakteri hasil pengujian di rumah kaca, dan varietas Sidi-kalang sebagai pembanding (kontrol) yang berasal dari koleksi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Kelima nomor hibrida somatik nilam dan varietas Sidikalang berumur 40 hari, ditanam di lapang di daerah endemik penyakit layu bakteri, di Pasaman Barat. Nomor yang diuji ditanam dalam rancangan acak kelompok (RAK), dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Setiap plot percobaan terdiri atas 10 ta-naman. Parameter yang diamati adalah perkem-bangan penyakit, pertumbuhan tanaman, dan produksi daun basah nilam. Perkembangan penyakit yang diamati meliputi masa inkubasi muncul gejala penyakit awal dan gejala kematian dengan daun layu 100%, dihitung dari saat tanam (hari setelah tanam/HST), dan tingkat serangan penyakit (%), yang mengacu pada bentuk gejala penyakit secara visual dengan menggunakan skor penyakit (0-3) (Nasrun, 2005).

Skor 0 (sehat) = semua daun sehat 1 (ringan) = 1-10% daun layu

2 (sedang) = lebih dari 10-30% daun layu

3 (berat) = lebih dari 30% daun layu

Intensitas penyakit dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut

Intensitas penyakit: ((∑(n x v)) x (Z x N)-1) 100%

Keterangan :

n = jumlah tanaman bergejala penyakit dari setiap skor v = nilai skor gejala penyakit

N = jumlah tanaman yang diamati Z = nilai skor gejala penyakit tertinggi

Pengamatan pertumbuhan tanaman setiap dua bulan meliputi pertambahan tinggi tanaman yang diukur dari pangkal batang sampai

ujung batang tertinggi, jumlah cabang primer, dan sekunder, serta diameter tajuk tanaman mulai tanaman berumur satu bulan setelah tanam, setiap dua bulan sampai akhir penelitian (184 hari setelah tanam).

Produksi tanaman yang diamati adalah hasil daun basah, yang dilakukan pada akhir penelitian (184 hari setelah tanam) dengan cara dipanen daun dengan rantingnya, ditimbang bobot daun basah.

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan penyakit

Hasil pengujian ketahanan hibrida somatik nilam terhadap penyakit layu bakteri di daerah endemik penyakit layu bakteri, menunjukkan masing-masing hibrida somatik memperlihatkan respon yang berbeda terhadap serangan bakteri patogen.

Berdasarkan masa inkubasi, nomor 2IV/4 menunjukkan gejala penyakit lebih lama yaitu 162,5 hari setelah tanam (HST) dibandingkan hibrida somatik lainnya. Sebaliknya, varietas Sidikalang memperlihatkan gejala penyakit paling cepat dan berbeda nyata dengan hibrida somatik dengan masa inkubasi 90,4 HST (Tabel 1).

Tabel 1

Masa inkubasi dan intensitas penyakit layu bakteri (R. solanacearum) pada hibrida somatik nilam dan

varietas Sidikalang di daerah endemik

penyakit layu bakteri

Incubation period and intensity of bacterial wilt disease (R. solanacearum) of patchouli somatic hybrid and Sidikalang variety in endemic area of

bacterial wilt disease

Hibrida somatik nilam Masa inkubasi penyakit (hari) Intensitas penyakit (%) Umur pada saat daun layu

100% (HST) 2 IV/4 162,5 d 16 a - 2 IV/5 144,0 b 48 e 180 d 2 IV/9 153,0 c 28 b 164 c 9 II/21 150,5 c 44 d 146 b 9 IV/3 142,5 b 36 c - Sidikalang 90,4 a 68 f 128 a KK CV (%) 2,19 7,18 4,71

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan 5%. (-) = tidak ada gejala layu)

Note : Numbers followed by the same letters in the same column are not significantly different at 5% Duncan Test. (-) = no symptom)

Berdasarkan intensitas serangan penyakit, masing-masing hibrida somatik memperlihatkan

(4)

reaksi yang berbeda. Hibrida somatik 2IV/4 sampai akhir penelitian memperlihatkan intensitas serangan paling rendah yaitu 16% dan berbeda nyata dengan hibrida somatik lainnya serta varietas Sidikalang sebagai pembanding dengan intensitas penyakit 28-68% (Tabel 1).

Waktu kematian tanaman masing-masing hibrida somatik juga berbeda. Hibrida somatik 2IV/4 memperlihatkan ketahanan sangat baik di-bandingkan hibrida somatik lainnya, kecuali 9IV/3, dimana sampai akhir penelitian tidak mengalami kematian, sedangkan varietas Sidikalang paling cepat mati (128 HST) (Tabel 1).

Perbedaan ketahanan hibrida somatik nilam hasil fusi protoplas yang diuji terhadap R.

solanaceraum karena hibrida somatik memiliki

sifat ketahanan yang diturunkan dari tetuanya yaitu nilam Jawa (Mariska dan Lestari, 2003; Nasrun et al., 2004). Ketahanan nilam Jawa terhadap penyakit layu bakteri disebabkan nilam Jawa mengandung lignin (21,90 ppm) lebih tinggi dari pada nilam Aceh (7,20-8,00 ppm) (Nuryani et

al., 2001). Kandungan lignin pada tanaman

merupakan salah satu faktor yang menjadikan tanaman tahan terhadap penyakit (Volette et al., 1998 dalam Nuryani, 2004). Tanaman pisang tahan terhadap Radopholus similis juga mengan-dung lignin relatif tinggi dibandingkan dengan pisang yang rentan (Jumjunidang, 2000 dalam Harni et al., 2007). Hasil penelitian terdahulu juga

menunjukkan hibrida somatik nilam tahan nema-toda karena mempunyai kandungan lignin lebih tinggi (Mustika dan Nuryani, 2006). Hibrida soma-tik 2IV/4 memperlihatkan ketahanan terhadap pe-nyakit layu bakteri mengandung ligum lebih tinggi dibandingkan nomor lainnya. Hasil ini sama de-ngan pengujian in planta pada bibit di rumah kaca (Nasrun et al., 2009). Perbedaan tingkat ketahan-an hibrida somatik tersebut dapat disebabkketahan-an adanya perbedaan sifat genetik setiap nomor ter-hadap penyakit layu bakteri, diantaranya kan-dungan lignin (Mariska dan Husni, 2006). Hibrida somatik 2IV/4 mengadung lignin 10,42 ppm lebih tinggi dari nomor lainnya termasuk varietas Sidikalang sebagai pembanding yaitu 6,32-8,23 ppm (Nuryani et al., 1999 dalam Mariska dan Lestari, 2003).

Pertumbuhan tanaman

Hasil pengamatan pertumbuhan tanaman sampai akhir penelitian (184 HST), menunjukkan bahwa masing-masing hibrida somatik nilam mempunyai kemampuan pertumbuhan yang ber-beda dan lebih baik dibandingkan dengan varietas yang berasal dari tetuanya yaitu Sidikalang (Tabel 2). Hal ini menunjukkan adanya keragaman genotifik dan fenotifik yang luas (Martono, 2009).

Hibrida somatik 2 IV/4 menunjukkan tinggi tanaman, jumlah cabang primer, jumlah cabang

Tabel 2

Pertumbuhan tanaman hibrida somatik nilam dan varietas Sidikalang di daerah endemik penyakit layu bakteri (R. solanaceraum), 184 HST

Plant growth of patchouli somatic hybrid and Sidikalang variety at endemic area of bacterial wilt disease (R. solanaceraum), 184 DAP

Hibrida somatik nilam

Tinggi tanaman (cm)

Jumlah cabang primer (cabang tanaman-1)

Jumlah cabang sekunder (cabang tanaman-1) Diameter tajuk tanaman (cm) 2 IV/4 69,4 e 20,5 d 43,9 e 75,90 d 2 IV/5 42,2 b 12,6 b 33,1 b 61,14 a 2 IV/9 63,5 d 15,9 c 37,7 d 75,23 d 9 II/21 50,2 c 16,8 c 31,6 b 71,55 c 9 IV/3 66,8 e 19,2 d 35,6 c 63,84 b Sidikalang 32,6 a 9,6 a 21,8 a 61,75 ab KK CV (%) 4,88 5,91 3,54 2,41

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan 5%

(5)

sekunder, dan diameter tajuk tanaman lebih baik dibandingkan nomor lainnya. Sebaliknya, varietas Sidikalang menunjukkan pertumbuhan paling rendah untuk semua parameter (Tabel 2). Hasil yang sama juga dijumpai pada penelitian terdahulu in planta di rumah kaca, dimana hibrida somatik 2IV/4 mempunyai pertumbuhan tanaman lebih baik dibandingkan dengan hibrida somatik lainnya (Nasrun et al., 2009). Hal ini kemungkinan karena hibrida somatik 2IV/4 memiliki gen-gen unggul terhadap parameter produksi nilam, seperti tinggi tanaman, jumlah cabang primer dan skunder dan menunjukkan keragaman genetik yang luas (Martono, 2009).

Produksi daun basah

Semua hibrida somatik menghasilkan produksi daun basah yang lebih baik dari tetua Sidikalang. Namun hibrida somatik 2IV/4 memper-lihatkan produksi daun basah tertinggi (910,5 g tanaman-1) dan berbeda nyata dibandingkan dengan hibrida somatik lainnya. Sebaliknya varie-tas Sidikalang menunjukkan produksi daun basah paling rendah (Tabel 3).

Hasil yang sama juga ditunjukkan dari pengujian in planta di rumah kaca (Nasrun et al., 2009). Hibrida somatik 2IV/4 merupakan genotipe yang lebih unggul dalam produksi terna basah

dibandingkan hibrida somatik lainnya. KESIMPULAN

Hibrida somatik 2IV/4 lebih toleran terha-dap penyakit layu bakteri dibandingkan nomor lainnya (2IV/5; 2IV/9; 9II/21 dan 9IV/3) dengan masa inkubasi gejala penyakit 162,5 hari setelah tanam (HST), intensitas penyakit 16%, dan tidak mengalami kematian sampai akhir penelitian. Hibrida somatik 2IV/4 juga menunjukkan pertum-buhan tanaman lebih baik dari hibrida somatik lainnya dan varietas Sidikalang dengan tinggi tanaman 69,4 cm; jumlah cabang primer 20,5 cabang tanaman-1, jumlah cabang sekunder 43,9 cabang tanaman-1, diameter tajuk tanaman 75,90 cm, dan produksi terna segar 910,5 g tanaman-1 (57,36 ton ha-1), lebih tinggi dibandingkan hibrida somatik lainnya dan varietas Sidikalang (21,26 ton ha-1).

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih disampaikan kepada teman-teman di KP. Balittro Laing yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Disbun Sumbar. 2011. Produktivitas panen nilam sumber stagnan. http://Pmi.or id/2011/04/22/ produktivitas-panen-nilam-sumbar-stagnan/Tem-bolok. Dinas Perkebunan TK I Sumatera Barat. [24 Maret 2012].

Ditjenbun. 2011 Nilam. Statistik Perkebunan Indonesia 2011-2012. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. 20 hlm.

Handoyo. 2011. Ekspor Minyak Nilam. http://industri. kontan.co.id/stok-melimpah-harga-minyak-nilam-terus-m/Tembolok. [21 Maret-2012].

Harni. R., I. Mustika, dan Hobir. 2007. Ketahanan beberapa nomor dari varietas nilam terhadap nematoda peluka akar (Pratylenchus brachyurus GODEREY). Bul. Littro. 18(1): 67-72.

Mariska, I. dan A. Husni. 2006. Perbaikan sifat genotipe melalui fusi protoplas pada tanaman lada, nilam dan terung. Jurnal Litbang Pertanian. 25(2): 55-60. Tabel 3

Produksi daun basah hibrida somatik nilam dan varietas Sidikalang di daerah endemik penyakit layu

bakteri (R. solanacearum) 184 HST

Yield of fresh leaf of patchouli somatic hybrid and Sidikalang variety at endemic area of bacteria wilt

disease (R. solanacearum) 184 DAP

Hibrida somatik Produksi daun basah (g tanaman-1) 2IV/4 910,5 f 2IV/5 375,4 b 2IV/9 775,0 e 9II/21 425,5 c 9IV/3 509,8 d Sidikalang 337,5 a KK CV (%) 7,78

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan 5%

Note : Numbers followed by the same letters are not significantly different at 5% Duncan Test

(6)

Mariska, I. dan E.G. Lestari. 2003. Pemanfaatan kultur

in vitro untuk meningkatkan keragaman genetik

tanaman nilam. Jurnal Litbang Pertanian. 22(2): 64-69.

Martono, B. 2009. Keragaman genetik, heritabilitas, dan korelasi antara karakter kuantitatif nilam (Pogostemon sp.) hasil fusi proptoplas. Jurnal Littri 15(1): 9-15.

Mustika, I. dan Y. Nuryani. 2006. Strategi pengendalian nematoda parasit pada tanaman nilam. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 25(1): 7-15.

Nasrun, Y. Nuryani, Hobir, dan Repianyo. 2004. Seleksi ketahanan varietas nilam terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) secara in planta, Journal Stigma. 12(4): 471-473.

Nasrun. 2005. Studi Pengendalian Hayati Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum) Nilam dengan

Pseudomonad fluoresen. Disertasi. Pascasarjana

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 118 hlm. Nasrun, S. Christanti, T. Arwiyanto, dan I. Mariska.

2005. Pengendalian penyakit layu bakteri nilam menggunakan Pseudomonad fluoresen. Jurnal

Littri. 11(1): 19-24.

Nasrun dan Y. Nuryani. 2007. Penyakit layu bakteri pada nilam dan strategi pengendaliannya. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 26(1): 9-15.

Nasrun, S. Christanti, T. Arwiyanto dan I. Mariska. 2007. Karakteristik fisiologis Ralstonia solanacearum penyebab penyakit layu bakteri nilam. Jurnal Littri. 13(2): 43-48.

Nasrun, Nurmansyah, dan H. Idris. 2009. Evaluasi ketahanan hibrida somatik nilam terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Jurnal Littri. 15(3): 110-115.

Nuryani, Y. 2004. Karakteristik minyak nilam hasil fusi protoplas antara nilam aceh dengan nilam jawa. Bul. Littro. 15(2): 1-8.

Nuryani, Y., I. Mustika, dan C. Syukur. 2001. Kandungan fenol dan Lignin nilam hibrida (Pogostemon sp.) hasil fusi protoplas. Jurnal Littri. 7(4) : 104-108. Nuryani. 2005. Pelepasan varietas unggul nilam. Warta

Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 11(1):1-3.

Referensi

Dokumen terkait

Subyek penelitian adalah orang – orang yang dapat memberikan sebuah informasi tentang sesuatu yang sedang di teliti. Peneliti akan memfokuskan penelitiannya

Makalah ini membahas penggunaan analisis lintas untuk mengidentifikasi besarnya pengaruh langsung maupun tidak langsung beberapa karakter agronomi terhadap produksi biji

Open Sky Policy yang dimulai sejak tahun 2015 memiliki persiapan- persiapan agar dapat mengikuti kebijakan ini dengan penuh kesiapan. Beberapa hal yang dilakukan

Tingginya nilai penurunan fosfat pada reaktor biofilter bermedia proses anaerob-aerob (T2) dibandingkan dengan nilai penurunan reaktor tanpa media proses

Dalam menyusun penulisan ilmiah ini penulis menetapkan batasan permasalahan yaitu mengenai perbandingan perhitungan harga jual yang dilakukan CV.Mardonuts dan perhitungan harga

[r]

Melihat kondisi tersebut maka perlu adanya suatu media informasi geografis bagi masyarakat maupun wisatawan dari luar kota Surakarta untuk dapat mengetahui lokasi serta informasi

3.14 Menganalisi s prosedur  pengujian  kesesuaian  fungsi  produk  barang/jas a. 4.14 Melakukan  pengujian