5. Kisah-kisah dan Sejarah 5.11 Nabi Dawud AS. dan Nabi Sulaiman AS.

Download (0)

Full text

(1)

1 5.11.2 Nabi Dawud AS. dan Nabi Sulaiman AS.

Setelah Daud mengalahkan Jalut, maka Dawud mencapai puncak kebenaran di tengah- tengah kaumnya sehingga ia menjadi seorang lelaki yang paling terkenal di kalangan Bani Israil. Ia menjadi pemimpin pasukan dan suami dari anak perempuan raja. Namun Dawud tidak begitu gembira dengan semua ini. Beliau tidak bertujuan untuk mencapai kebenaran atau kedudukan atau kehormatan, tetapi beliau berusaha untuk menggapai cinta kepada Allah.

Dawud telah diberi suatu suara yang sangat indah dan mengagumkan. Dawud bertasbih kepada Allah dan mengagungkan-Nya dengan suaranya yang menarik. Suatu hari Dawud pergi ke bukit Zion, gurun, dan gunung. Beliau merasakan kedamaian di tengah-tengah makhluk-makhluk yang lain. Di saat mengasingkan diri, beliau berdo’a kepada Allah s.w.t.

Artinya: “Dan sungguh, telah Kami Berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami Berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang- ulang bersama Daud,” dan Kami telah Melunakkan besi untuknya,”(QS. Saba (34):

10)

Artinya: “(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS.

Saba (34): 11)

Artinya: “Sesungguhnya, Kami telah Mengutus Rosul-rosul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami Turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami Menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah Mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rosul-rosul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.”(QS. Al-Ḥadīd (57): 25)

Ketika Daud duduk, maka ia bertasbih kepada Allah s.w.t dan memuliakan-Nya. Allah memilih Dawud sebagai Nabi dan memberinya Kitab Zabur.

Artinya: “Dan Tuhan-mu lebih Mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah Memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami Berikan Zabur kepada Dawud.”(QS. Al-Isrō (17): 55)

Zabur adalah kitab suci seperti Kitab Taurat. Nabi Dawud membaca kitab tersebut dan bertasbih kepada Allah. Saat beliau bertasbih, gunung-gunung juga ikut bertasbih, dan burung- burung pun berkumpul bersama beliau.

Artinya: “Bersabarlah atas apa yang mereka katakan; dan ingatlah akan hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah).”(QS. Shōd (38):

17)

Artinya: “Sesungguhnya, Kami-lah yang Menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi,”(QS. Shōd (38): 18)

Artinya: “dan (Kami Tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing- masing sangat taat (kepada Allah).”(QS. Shōd (38): 19)

(2)

2

Artinya: “Dan Kami Kuatkan kerajaannya dan Kami Berikan hikmah kepadanya* serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara.”(QS. Shōd (38): 20)

---

*Kenabian, kesempurnaan ilmu dan ketelitian amal perbuatan.

Gurun terbentang sehingga mencapai ufuk. Ini adalah hari puasa Dawud. Nabi Dawud berpuasa pada suatu hari dan berbuka pada hari yang lain. Inilah yang disebut dengan Shiam ad-Dahr. Dawud membaca Kitab Zabur dan merenungkan ayat-ayatnya. Gunung-gunung bertasbih bersamanya. Gunung menyempurnakan pembacaan ayat tersebut, dan terkadang beliau diam sementara gunung itu menyempurnakan tasbihnya. Bukan hanya gunung yang bertasbih bersama beliau, burung-burung pun ikut bertasbih. Ketika Nabi Dawud mulai membaca Kitab Zabur yang suci maka burung-burung, binatang-binatang buas, dan pohon- pohon pun berkumpul di sisinya, bahkan gunung-gunung ikut bertasbih. Bukan hanya karena ketulusan Nabi Dawud yang menjadi penyebab bertasbihnya gunung-gunung atau burung- burung bersama beliau dan ini adalah mukjizat dari Allah kepadanya sebagai Nabi yang memiliki keimanan yang agung, yang cintanya kepada Allah sangat tulus. Bukan hanya ini mukjizat yang diberikan kepada beliau, Allah juga memberinya ilmu atau kemampuan untuk memahami bahasa burung dan hewan-hewan yang lain.

Pada suatu hari, Nabi Dawud merenung dan mendengarkan ocehan burung yang berdialog satu sama lain. Lalu beliau mengerti apa yang dibicarakan burung-burung itu. Allah meletakkan cahaya dalam hatinya sehingga ia memahami bahasa burung dan bahasa hewan- hewan yang lain. Di samping kemampuan memahami bahasa burung, Allah juga memberinya hikmah (ilmu pengetahuan). Ketika Nabi Dawud memperoleh ilmu dari Allah dan ketika beliau mendapatkan mukjizat maka bertambahlah rasa cintanya kepada Allah serta bertambah juga rasa syukur kepada-Nya, begitu juga ibadahnya semakin meningkat. Allah sangat mencintai Nabi Dawud dan memberinya kerajaan yang besar. Dan masalah yang dihadapi oleh kaumnya adalah banyaknya peperangan di zaman mereka. Kerana itu, pembuatan baju besi sangat penting. Baju besi yang dibuat oleh para ahli sangat berat sehingga seorang yang berperang tidak mudah bergerak dengan bebas ketika memakai baju besi itu.

Pada suatu hari, Nabi Dawud duduk sambil merenungkan masalah tersebut dan di depan beliau ada potongan besi yang beliau main-mainkan. Tiba- tiba, beliau mengetahui bahwa tangannya dapat membikin besi itu lunak. Allah memang telah melunakkan besi bagi Nabi Dawud. Lalu Nabi Dawud memotong-motongnya dan membentuknya dalam potongan- potongan kecil dan melekatkan sebagian pada yang lain, sehingga beliau mampu membuat baju besi yang baru, yaitu baju besi yang terbentuk dari lingkaran-lingkaran besi yang jika dipakai oleh seseorang yang berperang maka ia akan leluasa untuk bergerak dan tubuhnya tetap terlindung dari pedang dan kapak. Baju besi itu lebih baik dari semua baju besi yang ada pada saat itu.

Allah melunakkan baju besi baginya. Yakni, Nabi Dawud adalah orang yang pertama kali menemukan bahwa besi dapat menjadi leleh dengan api dan ia dapat dibentuk menjadi ribuan rupa. Nabi Dawud bersyukur kepada Allah. Kemudian banyak pabrik-pabrik berdiri untuk membuat baju besi yang baru. Ketika selesai pembuatan baju besi itu dan diberikan kepada pasukannya maka musuh-musuh Nabi Dawud mengetahui bahwa pedang mereka tidak akan mampu menembus baju besi ini. Baju besi yang dipakai oleh para musuh itu sangat berat dan dapat ditembusi oleh pedang. Baju besi yang mereka pakai tidak membuat mereka bergerak dengan bebas dan tidak dapat melindungi mereka saat berperang, tidak demikian halnya dengan baju besi yang dibuat oleh Nabi Dawud. Setiap peperangan yang diikuti oleh tentera Nabi Dawud maka beliau selalu mendapatkan kemenangan dan setiap kali beliau memasuki wilayah peperangan maka beliau merasakan kemenangan. Beliau mengetahui bahawa kemenangan ini semata-mata datangnya dari Allah sehingga rasa syukur kepada-Nya semakin bertambah dan tasbih yang beliau lakukan pun semakin meningkat serta kecintaan kepada Allah.

(3)

3

Kemudian berlalulah hari demi hari dan raja Thalut terbunuh dalam suatu peperangan yang tidak diikuti oleh Nabi Dawud. Setelah itu, Nabi Dawud menjadi raja. Masyarakat saat itu mengetahui bahwa Nabi Dawud melakukan apa saja demi kebaikan dan kebahagiaan mereka sehingga mereka rela untuk menjadikannya raja bagi mereka. Kekuasaan tersebut justru meningkatkan rasa syukur kepada Allah dan meningkatkan ibadahnya kepada-Nya serta mendorong beliau untuk lebih meningkatkan kebaikan dan menyantuni orang-orang miskin serta menjaga kepentingan masyarakat umum. Nabi Dawud membangun istana di bukit Zion dan kemudian menyatukan Bani Israil yang bercerai-berai.

Setelah menjalani hidup sekian lama, akhirnya Dawud dan istrinya dikarunai seorang putra bernama Sulaiman. Sulaiman adalah anak yang cerdas dan kecerdasannya itu tampak sejak masa kecilnya. Sulaiman mewarisi Nabi Dawud dalam sisi kenabian dan kekuasaan, bukan mewarisi harta kerana para Nabi tidak mewariskan harta, karena harta mereka menjadi sedekah bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka, yaitu orang-orang miskin dan orang yang membutuhkan, serta mewarisi ilmu pengetahuan dan Kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud.

Pada saat usia Sulaiman mencapai sebelas tahun, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman untuk memberikan keputusan mengenai tanaman, kerana tanaman itu dirusaki oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya.

Artinya: “Maka Kami Memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat)*, dan kepada masing-masing Kami Berikan hikmah dan ilmu, dan Kami Tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kami-lah yang Melakukannya.”(QS. Al-Ambiyā’ (21): 79)

---

*Menurut riwayat Ibnu ’ Abbas, ada sekelompok kambing telah merusak tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Daud AS. la memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak. Tetapi Nabi Sulaiman AS. memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Keputusan Nabi Sulaiman AS.

yang lebih tepat.

Artinya: “Dan Kami Ajarkan (pula) kepada Dawud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperanganmu. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?”(QS. Al-Ambiyā’ (21): 80)

Artinya: “Dan sesungguhnya, Kami telah Memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya berkata, “Segala puji bagi Allah yang Melebihkan kami dari banyak hamba- hamba-Nya yang beriman.”(QS. An-Naml (27): 15)

Artinya: “Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud*, dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.”(QS. An-Naml (27): 16)

---

*Nabi Sulaiman AS. menggantikan kenabian dan kerajaan Nabi Dawud AS. serta mewarisi ilmu pengetahuan dan Kitab Zabur yang diturunkan kepadanya.

(4)

4

Nabi Dawud duduk dan memberikan keputusan hukum kepada manusia dan menyelesaikan persoalan mereka. Seorang lelaki pemilik kebun datang kepadanya disertai dengan lelaki yang lain.

Artinya: “Dan apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?”(QS. Shōd (38): 21)

Artinya: “ketika mereka masuk menemui Dawud lalu dia terkejut karena (kedatangan) mereka.

Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zolim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”(QS. Shōd (38): 22)

Artinya: “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”(QS. Shōd (38): 23)

Nabi Dawud berkata kepada pemilik kambing, “Apakah benar bahwa kambingmu memakan kebun lelaki ini?" Pemilik kambing itu berkata, “Benar wahai tuanku.” Nabi Dawud berkata, “Aku telah memutuskan untuk memberikan kambingmu sebagai ganti dari apa yang telah dirusaki oleh kambingmu.” Nabi Sulaiman berkata, “Allah telah memberinya hikmah di samping ilmu yang diwarisi dari ayahnya, aku memiliki hukum yang lain, wahai ayahku.”

Nabi Dawud berkata, “Katakanlah wahai Sulaiman.” Nabi Sulaiman berkata, “Aku memutuskan agar pemilik kambing mengambil kebun laki-laki ini yang buahnya telah dimakan oleh kambingnya. Lalu hendaklah ia memperbaikinya dan menanam di situ sehingga tumbuhlah pohon-pohon anggur yang baru. Dan aku memutuskan agar pemilik kebun itu mengambil kambingnya sehingga ia dapat mengambil manfaat dari bulunya dan susunya serta makan darinya. Jika pohon anggur telah besar dan kebun tidak rusak atau kembali seperti semula, maka pemilik kebun itu dapat mengambil kembali kebunnya dan begitu juga pemilik kambing pun dapat mengambil kambingnya.” Nabi Dawud berkata, “Ini adalah keputusan yang hebat wahai Sulaiman. Segala puji bagi Allah yang telah memberimu hikmah ini. Engkau adalah Sulaiman yang benar-benar bijaksana.” Nabi Dawud meskipun kedekatannya kepada Allah dan kecintaannya kepada-Nya selalu belajar kepada Allah. Allah telah mengajarinya agar ia tidak memutuskan suatu perkara kecuali setelah ia mendengar perkataan kedua belah pihak yang bertikai.

Artinya: “Dia (Dawud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zolim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zolim kepada yang lain, kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Dawud menduga bahwa Kami Mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhan-nya lalu menyungkur sujud dan bertobat.”(QS. Shōd (38):

24)

Artinya: “Lalu Kami Mengampuni (kesalahannya) itu. Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.”(QS.

Shōd (38): 25)

Artinya: “(Allah Berfirman), “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami Jadikan kholifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan

(5)

5

adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”(QS. Shōd (38): 26)

Artinya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”(QS. Shōd (38): 27)

Artinya: “Pantaskah Kami Memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami Menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang- orang yang jahat?”(QS. Shōd (38): 28)

Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) yang Kami Turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”(QS. Shōd (38): 29)

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in