DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENGHAPUSAN DISKRIMINASI RAS DAN ETNIS

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH

RAPAT PANITIA KHUSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG

TENTANG

PENGHAPUSAN DISKRIMINASI RAS DAN ETNIS

Tahun Sidang Masa Sidang Rapat Ke Jenis Rapat Sifat Rapat Hari, Tanggal Pukul Tern pat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Aca r a Had i r : 2006 - 2007 : IV :7 : Rapat Kerja : Terbuka : Kamis, 21 Juni 2007' : Pukul1 0.30 s.d. 12.10 WIB : Ruang Rapat Panitia Anggaran

Gedung Nusantara 1\Paripurna DPR RI Lantai 2 : Bambang Sadono,

sa,

MH

(Wakil Ketua Pansus) : Dra. Prima M. B. Nuwa

: 1. Pembukaan oleh Ketua Pansus;

2. Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM);

3. lain-lain.

1. Anggota Pansus DP\{

28 orang Anggota dari 50 Anggota 2. Pemerintah/Menteri Hukum dan HAM RI

(Andi Mattalata, SH. MH) Anggota yang hadir :

PIMPINAN:

1. BAMBANG SADONO, SH, MH (F-PGlWakil Ketua Pansus) 2. ALBERT YAPUTRA (F-PDlWakil Ketua Pansus)

3. H.M. SYUMLI SYADLI, SH (F-PPPlWakil Ketua Pansus) 4. DRS. MUFID A. BUSYIRI, M.Pd. (IF-KBlWakil Ketua Pansus) F-PG:

5. DRS. MADE SUWENDHA 6. NUSRON WAHID, SS

7. DRS. H. DEDING ISHAK, SH., MM

8. Hj. TYAS INDYAH ISKANDAR, SH, M.Kn 9. VICTOR BUNGTILU LAISKODAT, SH 10. DRS. MUKHTARUDIN

11. NY. DRA. TRULYANTI HABIBIE SUTRASNO, M.PSi

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(2)

2

-F-PDIP:

12. DRS. H. MARDJONO, MM 13. Dra. ELVIANA, M.Si

14. Hj. ELVA HARTATI MURMAN, S.IP, MM

F-PD: 15. F.X. SOEKARNO, SH 16. BENNY K. HARMAN, SH 17. H. ZAENUDIN 18. IR. ASFIHANI F-PPP: 19. H. HUSAIRI ABDI, Lc 20. H.M. HIFNIE SARKAWIE F-PAN: 21. PATRIALIS AKBAR, SH 22. Hj. AZLAINI AGUS, SH, MH F-PKB: 23. DRS. BISRI ROMLI, MM F-PKS:

24. H. ABDUL AZIZ ARBI, Lc 25. FACHRI HAMZAH 26. ANDI SALAHUDDIN, SE F-BPD: F-PBR: 27. ANHAR, SE F-PDS:

28. IR. APRI HANAN TO SUKANDAR, M.DIV

Anggota yang izin :

29. DRS. H. WASMA PRAYITNO/F-PG 30. BUDIARSA SASTRA WINATAIF-PG

31. Hj. NANNIE HARDIYANTI, SH, M.Hum/F-PG 32. MURDAYA POO/F-PDIP

33. Ir. RUDIANTO TJEN/F-PDIP 34. Ir. ISMA YATUN/F-PDIP

35. DR. DRS. H. MOCH. HASIB WAHAB/F-PDIP 36. DEDDY SUTOMO/F-PDIP

37. ALVIN LIE, M.Sc/F-PAN

38. H. TOTOK DARYANTO, SElF-PAN 39. H. ABDUL HAMID WAHID/F-PKB

40. DRS. ALI MOCHTAR NGABALlN, M.Si/F-BPD 41. DRS. H. MUDAFFARSYAH/F-BPD

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(3)

- 3-Anggota yang tidak hadir tanpa keterangan : 42. DION HARD!. BAIF-PG

43. AGUNG SASONGKO/F-PDIP

44. ORA. EVA KUSUMA SUNDARI, MA, MDE/F-PDIP 45. H. DJUHAD MAHJA, SH, CN/F-PPP

46. TGK. MUHAMMAD YUS/F-PPP 47. MULFACHRI HARAHAP, SH/F-PAN

48. NURSYAHBANI KATJASUNGKANA, SH/F-PKB 49. TONY WARDOYO/F-PKB

50. MUHAMMAD ANIS MATTA, Lc/F-PKS

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(4)

4

-KETUA RAPAT (BAM BANG SAIDONO, SH., MH):

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Saudara Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya. Saudara Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus. Hadirin sekalian yang berbahagia.

Rapat pagi hari ini merupakan lanjutan rapat kerja tanggal 14 Juni 2007 sehingga rapat pagi hari ini tidak perlu menunggu kourum. Dengan demikian skors rapat saya cabut dan saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

SKORS DICABUT PUKUL 10.35 WIB

Saudara Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya. Saudara Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus. Hadirin sekalian yang berbahagia.

Terlebih dahulu marilah kita rnemanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kita dapat menghadiri kerja pada pagi hari ini dalam keadaan sehat walafiat.

Selanjutnya kami menyampaikan rasa terima kasih kepada Saudara Menteri Hukum dan HAM RI beserta jajarannya atas kesediaannya memenuhi undangan dalam rapat kerja hari ini. Demikian juga kepada Pimpinan dan anggota Pansus, kami mengucapkan terima kasih.

Saudara Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya. Saudara Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus. Hadirin sekalian yang berbahagia.

Pada hari ini sesuai dengan acara yang kita rencanakan, maka kita akan melanjutkan pembahasan DIM. Sebelum memulai pembahasan DIM perlu kita sepakati rapat kerja hari ini akan berakhir pukul 12.00 WIB. Apakah bisa disetujui?

(RAPAT: SETUJU)

Pemerintah setuju sampai jam 12? Baiklah, rapat hari ini akan berakhir sampai dengan jam 12 kecuali kalau perlu ditambah, ditambah 5 menit sesuai kesepakatan pemerintah.

Saudara Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya. Saudara Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus. Hadirin sekalian yang berbahagia.

Perlu kami informasikan menurut catatan sekretariat pembahasan DIM telah sampai kepada DIM nomor 27. Untuk mempersingkat waktu kita lanjutkan pembahasan DIM yang kita mulai dengan DIM 28. Kepada Saudara Menteri Hukum dan HAM kami persilahkan. DIM nomor 28.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(5)

-5-MENTERI HUKUM DAN HAM (ANDI MATTALATA, SH. MH): Terima kasih Saudara Ketua.

Kami mengusulkan perbaikan redaksi karena yang menjadi subyek

kalimat di sini adalah "penghapusan diskriminasi", itu subyek kalimatnya. DIM 28 tetap.

KETUA RAPAT:

Bapak-Ibu sekalian, DIM 28 tetap ya karena cuma judul. Kita lanjutkan DIM 29.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Ya itu yang saya maksudkan tadi mengusulkan perbaikan redaksi karena subyek kalimatnya adalah "penghapusan diskriminasi". Maka adjective nya harus ada kata-kata "dilaksanakan". Dengan begitu pemerintah mengusulkan perbaikan kalimat, "penghapusan diskriminasi ras dan etnis", itu subyeknya, "dilaksanakan berdasarkan asas persamaan, kebebasan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal".

KETUA RAPAT:

Pemerintah ingin menambahkan kata "dilaksanakan". Kita minta pendapat. Fraksi Partai Golkar?

F-PG (Hj. TYAS INDYAH ISKANDAR, SH. M.Kn):

Karena sifatnya menyempurnakan dan lebih bag us, kami setuju tetap. Setuju dengan Pak Menteri.

F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si): PDIP setuju dengan Pemerintah. KETUA RAPAT:

PPP? Setuju. Partai Demokrat? F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Kami setuju karena inilebih bagus dan pas. F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Pasal 2 "pelaksanaan penghapusan diskriminasi didasarkan pada asas persamaan, kebebasan dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal". Agak berbeda dikit, "persamaan, kebebasan, kemudian nilai-nilai kemanusiaan yang universal". "diskriminasi ras dan etnis". Jadi "pelaksanaan penghapusan diskriminasi didasarkan".

KETUA RAPAT:

Jadi PKB mengurangi kata-kata "ras". PKS? PKS setuju dengan yang diusulkan pemerintah. PDS?

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

PDS mungkin hanya menambahkan kalau boleh kata "keadilan". Apa "berdasarkan asas persamaan, kebebasan, keadilan".

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(6)

-6-KETUA RAPAT:

Beberapa fraksi setuju dengan pendapat Pemerintah. FKB ingin menghilangkan kata-kata "ras". Kemudian PDS ingin menambah kata "keadilan". Mungkin pemerintah ada komentar.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Ya yang mau dihapuskan di sini adatah "diskriminasi ras dan etnis". Jadi kalau "ras" nya hilang etnisnya tinggal sendirian pak.

F-PD (IR. ASFIHANI): Pimpinan.

Jadi tadi PKB ada menyarankan supaya "ras" itu dihilangkan. Mungkin kita beri kesempatan dari PKB itu apa alasannya pak. Jadi kalau memang alasannya katakanlah masuk diakal atau bagus, ya kita setujui tapi kalau tidak ya kita lewat saja. Artinya kita sarna dengan pemerintah tapi kalau saya lihat dari pada dominasi fraksi itu menyetujui dengan pendapat pemerintah. Terakhir, Pak Menteri juga tadi menjelaskan bahwa kalau ditinggal "ras" ya "etnis" nya harus dikemanakan. Jadi saya pikir dalam hal ini pendapat pemerintah itu sudah akomodatif.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Itu yang akan saya kemukakan pada PKB. Jadi undang-undang kita memang judulnya "diskriminasi ras dan etnis" dan pemerintah berpendapat karena itu bagian penting yang akan kita bahas, "ras" itu tidak bisa kita hilangkan. Maka kita persilahkan PKB.

F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Saya pikir inikan penghapusan yang dijelaskan pada asas persamaan. Artinya sudah persamaan, kan tidak ada di Indonesia ras dan yang lain itu sarna bahwa di Indonesia itu warga Negara itu sarna. Tidak ada ras dan etnis karena dengan undang-undang ini maka menjadi persamaan antara kita semualah, tidak ada ras dan etnis. Barangkali PKB cuma itu saja. Jadi saya mohon ras dan etnis itu sudah terhapus dengan adanya persamaan.

KETUA RAPAT:

Baik, pendapat PKB tetap kalau mengusulkan supaya kata-kata "ras" ditiadakan. Kita ingin kembali ke PDS. Jadi sebagian besar fraksi-fraksi ingin sepakat dengan pemerintah, tinggal PKB yang ingin menghilangkan "ras", PDS ingin menambah kata "keadilan". Apakah tetap seperti itu atau mungkin ada pendapat lain.

Silahkan.

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Hanya usul saja pak, soalnya kalau "persamaan, kebebasan" ditambah dengan "keadilan". Artinya "keadilan" kan yang bisa menjadi ciri khas dari asas ini. Kalau memang disetujui, kami hanya mengusulkan.

Terima kasih.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(7)

-7-WAKIL KETUA (DRS. MUFID A. BUSYIRI, M.Pd):

Saya hanya, bahwa dulu memang PKB mengusulkan judulnya adalah "penghapusan diskriminasi" saja. Konsekuensi dari judul itu lalu pasal-pasal ini juga "ras dan etnis" dihapus. Cuma kita sudah punya kesepakatan bahwa RUU ini adalah "penghapusan diskriminasi ras dan etnis". Karena kita sudah sepakat kaya begitu maka implikasinya memang masuk di situ, saya kira mungkin begitu. Sekedar penjelasan saja. Jadi awalnya itu "penghapusan anti diskriminasi" saja. Saya kira begitu.

Terima kasih.

F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Karena dulu ada 2 pendapat, memang kalau "ras" tetap ya harus begini, kalau tidak tetap ada judulnya. Maka "persamaan" itu yang universal itu sudah menandakan bahwa itu sudah terhapus. Ini tidak ada masalah. Saya pikir barangkali pemerintah substansinya gimana, saya pikir ini penting.

KETUA RAPAT:

Jadi PKB menyerahkan kepada pemerintah, kalau pemerintah menyetujui dirubah, PKB mungkin akan setuju. Tapi kalau pemerintah tetap seperti ini, mungkin PKB juga bisa menerima. Begitu pak ya.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pemerintah menyerahkan usul judul Rancangan Undang-Undang yang diusulkan oleh DPR yaitu "ras dan etnis".

KETUA RAPAT:

Ini sudah 2 putaran kalau kita bisa sepakati di sini dan PDS bisa juga sepakat. Kita bisa sepakati pasal ini karena PKB juga tidak keberatan tetapi kalau tetap tidak sepakat ini mung kin bisa kita bawa ke Panja. PDS minta di Panja.

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Tidak, begini Pak Ketua kalau bicara kemanusiaan itu selalu dipararelkan dengan keadilan. Ayat (2) di Pancasila "kemanusiaan yang adil dan beradab". Belum lagi dengan Undang-Undang nomor 10 tentang asas pembuatan undang-undang, ada keterbukaan, prinsip-prinsip, ada juga keadilan. Kalau saya mengusulkan dibahas saja di Panja.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Karena masih ada keinginan dibahas di Panja. Golkar masih mau menggunakan?

F-PG (DRS. MUKHTARUDiIN):

Barangkali kita samakan persepsi dulu pimpinan. Yang kita bahas sekarangkan DIM nya pemerintah, sekarang DIM pemerintah hanya merubah penambahan kata "dilaksanakan" saja, itu yang kita bahas. Jadi kita jangan mundur lagi, sebenarnya membahas kepada DIM intern kita. Dalam redaksi kita tetap ada "ras dan etnis", tidak ada unsur kata "keadilan" di sini, sekarang berkembang. Jadi kita bulak balik lagi kepada membahas DIM intern kita, yang sekarang kita ketemu dengan pemerintah

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(8)

-8-membahas DIM yang diajukan oleh pemerintah. Setuju tidak dengan pemerintah. Saya kira ini harus kita luruskan pimpinan, supaya kita tidak bulak-balik kepada persoalan DIM internal kita yang sudah pernah kita selesaikan. Itu yang pertama.

Kedua, saya sependapat dengan pemerintah. Sesuai dengan judul bahwa adalah "penghapusan diskriminasi ras dan etnis". Ini yang dihapus itu adalah "diskriminasinya". Persamaan ini pengertiannya asasnya, "dilaksanakan berdasarkan persamaan". Jadi bukan mencerminkan persamaan itu pengertian dari pada "ras dan etnis". Jadi cara penghapusan itu didasarkan kepada persamaan. Kalau bicara soal keadilan saya kira unsur persamaan pun sudah ada dalam keadilan. Persamaan itu sudah terjadi berarti keadilan yang dilakukan di sana. Jadi saya kira sekedar untuk memberikan ilustrasi tentang ajuan dari teman-teman.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Jadi sebenarnya bahwa kita memang sudah sepakat antara pemerintah dan sebagian besar fraksi tapi masih ada masalah. PKB bisa menerima seandainya mau disepakati semacam itu tapi PDS tetap minta di Panja. Maka sesuai dengan prosedur pembahasan ini karena ini kita sudah 2 putaran, kalau memang tetap mau di Panja itu pun dengan catatan kita tinggal mengakomodasikan gagasan PDS itu nanti itu di Panja. Saya kira ini bisa kita sepakati kita bawa ke Panja. Pemerintah?

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Setuju di Panja tapi mungkin supaya kerja Panja lebih mudah bahwa yang di Panjakan itu usul PDS, kata-kata "keadilan" itu.

KETUA RAPAT:

Jadi kita Panjakan dengan catatan hanya dibahas usulannya PDS, setuju? (RAPAT: SETUJU)

Kita lanjutkan dengan DIM 30. MENTERI HUKUM DAN HAM:

DIM 30 ini semangatnya sama dengan sebelumnya, iyalah bahwa ingin lebih mengkonkretkan bahwa yang menjadi subyek di sini adalah "penegakan persamaannya". Sebenarnya sama cuma dengan kata-kata "usaha-usaha untuk menegakan persamaan" terlalu lembut rasanya, karena itu pemerintah mengusulkan perubahan, "penegakan persamaan, kebebasan dan nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan" dan seterusnya. Demikian.

KETUA RAPAT:

Pemerintah mengusulkan rumusan yang mudah-mudahan lebih tegas, lebih baik. Saya persilahkan Partai Golkar? Setuju. PDIP? Tetap. PPP? Setuju Pemerintah. Partai Demokrat?

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(9)

- 9-F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Kami prinsipnya setuju rumusan pemerintah karena itu yang lebih benar susunan kalimatnya tapi ada usul satu pak, diantara kata "Negara dan Republik Indonesia" ditambah "kesatuan", untuk menegaskan bahwa kita ini Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu usul saja.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Jadi Demokrat setuju dengan .pemerintah, supaya lengkap menambah "Negara Kesatuan Republik Indonesia". Kebangkitan Bangsa.

F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Saya sepakat dengan pemerintah tapi ini tetap diselenggarakan dengan tetap memperhatikan nilai agama, sosial, budaya. Masih tetap pak ya, itu saya. Yang point adalah memperhatikan nilai-nilai aqarna dan sosial.

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Kalau yang keadilan disambung berarti ditambah di ayat ini. Kalau tidak ya tidak cocok.

KETUA RAPAT:

Jadi Demokrat menambah kata-kata "kesatuan" dan PDS menambah kata-kata "keadilan. Saya tawarkan untuk pemerintah lagi.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Kalau di atas "keadilan" kita bahas di Panja dengan asumsi mungkin masuk, ini juga ditambah "keadilan" dan mungkin memang barangkali "persatuan" perlu kita pertimbangkan di Panja.

KETUA RAPAT:

Kalau "kesatuan" usulan Demokrat bisa diterima pemerintah? Negara Kesatuan.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Artinya kalau "keadilannya" di Panja, "kesatuannya" tidak di Panja nanti saling cemburu mereka pak. Dua-duanyalah di Panja, jangan satu diterima di sini, satu di Panja.

KETUA RAPAT:

Jadi pemerintah mengusulkan DIM 30 kita masukan di Panja dengan catatan Partai Demokrat dan PDS ditambah catatan pemerintah tadi, memasukan "persatuan". Saya persilahkan satu putaran lagi, Partai Golkar. Baik, DIM 30 kita bawa ke Panja?

(RAPAT: SETUJU)

Kita lanjutkan dengan DIM 31. Silahkan pemerintah.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(10)

- 10-MENTERI HUKUM DAN HAM:

Setelah melihat pasal-pasal ternyata Rancangan Undang-Undang ini tidak hanya menghapuskan diskriminasi ras dan etnis tapi juga memberikan perlindungan terhadap warga negara. Apa tidak lebih baik di Pasal 3 ini 2 hal ltu di masukan, bahwa undang-undang ini bertujuan untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi ras dan etnis dan sekaligus juga untuk memberikan perlindungan. Atau rumusannya seperti ini tapi dipenjelasan nanti bahwa yang kita maksudkan di sini "penghapusan"

included di dalamnya adalah pemberian perlindungan supaya tidak ada diskriminasi.

KETUA RAP AT:

Pemerintah mempertimbangkan, selain untuk menghapuskan diskriminasi juga melindungi warga negara. Usulan yang disampaikan pemerintah apakah pasal ini kita rumuskan ulang atau cukup nanti kita berikan di penjelasan. Saya persilahkan Partai Golkar.

F-PG (Hj. TVAS INDYAH ISKANDAR, SH., M.Si): Kami setuju di penjelasan.

F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Dibawa ke Panja. Begini pimpinan terus terang saya sedang kordinasi dengan teman-teman karena kan tidak mungkin saya sendiri yang, kami inikan 10 orang. Teman-teman semua rapat di DPP, ada masalah lah begitu. Jadi untuk tidak salah mengambil keputusan, saya katakana saja untuk hal-hal yang krusial saya bawa ke Panja.

Terima kasih.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pak Ketua, biasanya memang di Panja itu lebih intensif, biasanya di Panja. Jadi tolong dipertimbangkanlah yang lain-lain supaya agak cepat ke Panja.

F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Kami berpendapat bahwa memang betul harus ada untuk melindungi warga negara tapi kalau ini di masukan dipenjelasan, ini dua substansi tidak nyambung. Jadi harus ada di pasal itu, tidak dipenjelasan. Jadi kami usul ya ditambah saja, mungkin rumusannya tetap seperti memang ini bertujuan untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi ras dan etnis di Indonesia dalam rangka melindungi warga negara. Jadi maksud saya karena substansinya saja mungkin dipenjelasan. Untuk itu di Panja mungkin.

F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

PKB sebetulnya setuju bahwa di samping itu untuk melindungi warga negara cuma karena RUU ini merupakan perangkat undang-undang organik, tujuan tersebut ditulliskan secara implisit dalam bentuk yang lebih teknis. Barangkali itu saja.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(11)

11 -KETUA RAPAT:

PKB lebih teknis, mungkin di dalam Peraturan Pemerintah atau KEPPRES ya. Jadi pada prinsipnya PKB setuju di Panja tapi perumusannya nanti yang mungkin kita bicarakan lagi.

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Kalau di Panja, tapi kami mengusulkan supaya yang punya pemerintah itu masuk pada penjelasan.

KETUA RAPAT:

Prinsipnya semua setuju di Panja, perkara dipenjelasan atau di Pasal itu kita perdebatkan di Panja. Pemerintah sepakat? Kita setujui DIM 31 dibawa ke Panja.

(RAPAT: SETUJU) Kita lanjutkan DIM 32.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Ini penulisan karena bersifat adjective kami usulkan diskriminasi menjadi diskriminatif. "Tindakan diskriminatif ".

KETUA RAPAT:

Pemerintah mengusulkan istilah yang lebih efektif, menurut saya. Artinya kalau bisa setuju di sini tapi kalau mau di Panjakan juga silahkan. Golkar? Setuju seandainya diputuskan di Pansus ini, berubah Bab 3 judulnya mejadi "tindakan diskriminatif'. PPP? Setuju pemerintah pak ya. PDIP? Ibu, Bab 3 pemerintah mengusulkan judulnya lebih efektif, "tindakan diskriminatif'. Untuk mengubah tindakan yang bersifat diskriminasi, dibawa ke Panja. Partai Demokrat?

F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Kami setuju karena ini lebih efektif. Tindakan diskriminatif. KETUA RAPAT:

Kebangkitan Bangsa? Setuju PDIP dibawa ke Panja. PKS? Setuju usul pemerintah. Kemudian PDS? Sama dengan pemerintah. Jadi kalau begitu karena ada usulan di Panja maka kita bawa ke Panja tetapi sebagian besar sudah menyetujui ke pemerintah. PDIP hanya ingin ke Panja, tidak punya alternatif yang lain, jadi kita menyetujui di Panja nanti. Saya kira kita sepakati kita bawa ke Panja.

F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Sebentar pak, masalahnya PKB kan ada 2 kemungkinan. Kalau Bab 3 itu bisa "hak warga negara". Jadi bukan tidak punya alasan, barangkali itu saja pak.

F-PG (Hj. TYAS INDYAH ISKANDAiR, SH., M.Kn):

Saya mau tanya saja pak, mekanisme. Kalau seandainya 10 fraksi kemudian 9 fraksi menyatakan setuju, satu fraksi seperti contohnya sekarang itu minta ke Panja. Sebetulnya yang paling bagus seperti apa, apakah itu dominasi mayoritas atau dominasi minoritas. Terimakasih.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(12)

-12-KETUA RAPAT:

Prosedur adalah dilakukan 2 putaran, apabila tidak ada kesepakatan kalau itu menyangkut substansi dibawa ke Panja tapi kalau perbedaan pendapat itu hanya menyangkut perumusan kita sebenarnya bisa langsung ke Timus. Tetapi karena ada permintaan ke Panja maka kita bawa ke Panja. Di situlah nanti kesepakatan mau kita ambil di situ. Saya kira itu.

F-PD (IR. ASFIHANI): Interupsi pak.

Usulan Bu Tyas ini juga bagus pak, artinya kita jangan sampai di Panja semuanya itu Panja nanti. Ini juga akan ribet juga pak, apa bagusnya juga dalam putaran kedua oleh karena dominasi adallah menyetujui bagaimana kalau kita putuskan saja. Jadi kerjaan Panja tidak terlalu berat juga. Saya takut dalam hal ini nanti di Panja juga berkembang macam-macam.

F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM): Pimpinan.

Saya sepakat sebetulnya tapi artinya Panja itu kalau ketika nanti di Panja termasuk 10 fraksi yang satu tidak, ya yang satu boleh ditinggalkan tapi di Panja, bukan di sini.

KETUA RAPAT:

Saya kira kita kembali ke kesapakatan prosedur. Jadi kalau 2 putaran kita tidak sepakat pilihannya adalah ke Panja atau ke Timus. Tadi sudah ada permintaan ke Panja, jadi kita sepakati kita bawa ke Panja. Terima kasih atas pengertiannya.

Kemudian kita lanjutkan DIM 33, silahkan pemerintah. MENTERI HUKUM DAN HAM:

Kembali lagi mengusulkan sebuah perubahan kalimat supaya substansinya lebih jelas. Pertama, pemerintah mengusulkan untuk menghapus kata-kata "terhadap". Jadi begitu kita sebut "diskriminasi", tidak perlu "diskriminasi terhadap ras dan etnis" tapi langsung "diskriminasi ras dan etnis", lebih tegas. Kemudian yang kedua, penulisan "dan/atau" saya kira kembali ke DIM-DIM sebelumnya, tidak perlu ada. Tindakan-tindakan juga sebaiknya hanya satu kali karena ini pengulangan kaidah bahasa Indonesia. Lalu kata "dapat" sebaiknya dihapus demi kepastian hukum. Kami trauma pak, Pasal 174 Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat ada kata-kata "dapat" , bertengkarlah orang di Paripurna. Jadi lebih baik kata "dapat" di sini juga dihapus.

KETUA RAPAT:

Pemerintah mengusulkan pengkalimatan yang lebih efektif. Partai Golkar? Setuju. PDIP silahkan.

F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Setelah mendengar penjelasan Pak Menteri, apalagi diperjelas dengan "jangan sampai terjadi di Paripurna". Setuju dengan Pak Menteri tapi dibawa ke panja.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(13)

-13-KETUA RAPAT:

Jadi PDIP setuju tapi persetujuan akan diberikan di Panja nanti. PPP? Setuju pemerintah. Partai Demokrat.

F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Prinsipnya setuju usul pemerintah dengan keterangan bahwa memang bahasa hukum harus mengandung kepastian hukum. Seperti contoh Pak Menteri tadi pengertian "dapat" bisa bertengkar. Setuju prinsipnya.

KETUA RAPAT:

Kebangkitan Bangsa? Setuju. PKS? Setuju dengan Pemerintah. PBR? Setuju dengan Pemerintah tapi tidak usah dibawa ke Panja. PDS?

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Mungkin ini ada prular dia hanya menggunakan kata tunggal di sini, saya usul dengan yang pemerintah punya ditambah "tindakan-tindakan diskriminasi" karena lebih dari satu.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

PDS usul "tindakan-tindakan", ini memang perlu ahli bahasa. Kata-kata "tindakan-tindakan" itu tunggal atau bisa juga berarti jamak. Artinya nanti kita perdebatkan.

Bapak-Ibu sekalian.

Hampir semua sepakat, hanya PDIP. F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Interupsi pimpinan.

Seandainya sekarang ada ahli bahasa apa tidak sebaiknya diminta pendapat, kira-kira itu maksudnya.

KETUA RAPAT:

Nanti kita tanyakan. Saya hanya ingin menyimpulkan putaran pertama, hanya PDIP yang menginginkan di Panja. Saya ingin mengingatkan kepada sekretariat agar semua catatan ini dicatat sehingga di Panjapun akan mendapat catatan bahwa yang akan dibahas adalah hal-hal yang benar-benar muncul di sini. Jadi tidak akan hal-hal yang baru. Ahli bahasa kita ada di sini bu? Belum. Kalau begitu kita sepakati, tinggal PDIP di Panja atau di Timus. Baik kita menghormati PDIP kita bawa di Panja dengan catatan tadi usulan tentang pengulangan kata "tindakan atau tindakan-tindakan" dan nanti kita berharap pada saatnya kita akan didampingi ahli bahasa. Kalau pemerintah tidak ada tambahan kita bawa ke Panja.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Tadi saya mengamati ada beberapa jenis persetujuan, ada setuju di sini, ada setuju di Panja. Saya kira baik-baiknyalah Bapak Ketua menyimpulkan. Rekan kami dari PDIP sebenarnya itu setuju tapi setujunya di Panja, bukan berarti menolak.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(14)

- 14-F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Pesannya barusan begitu, semuanya dibawa ke Panja. KETUA RAPAT:

Kita bawa ke Panja DIM nomor 33.

(RAPAT: SETUJU) Kita lanjutkan DIM 34. Silahkan pemerintah. MENTERI HUKUM DAN HAM:

Karena akhir kalimat di akhiri dengan kata-kata "berupa", maka seharusnya kata-kata di awal kalimat berikutnya harus dalam bentuk kata benda. Dengan demikian "memperlakukan orang lebih baik", kami usulkan "perlakuan yang lebih baik" kata benda. Kedua, pembatasan. Ketiga, perasaan benci. Jadi selalu dimulai dengan kata benda karena di atasnya

"bla-bla-bla" berupa. Lalu penomorannya kami mengusulkan sesuai dengan kaidah bahasa tidak memakai angka tetapi memakai huruf. Jadi berupa 'a, b, c' begitu Saudara Ketua.

KETUA RAPAT:

Pemerintah mengusulkan tidak hanya di dalam kalimat tapi juga di dalam pensisteman, tidak memakai angka tetapi memakai huruf. Partai Golkar? Timus. PDIP? Panja. PPP? Panja juga. Partai Demokrat.

F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Kami setuju usulan pemerintah karena memang sesuai dengan ketentuan Undang-Undang nomor 10 pak, memperlakukan huruf dan angka itu. Dan memang betul kalau sudah berubah-berubah itu menjadi kata benda. Itu saya kira bahasa Indonesia seperti itu ketentuannya. Pada prinsipnya setuju pak.

F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Sebenarnya berkaitan, atasnya Panja, Timus boleh, ada perubahan yang cukup berarti. Ini berkaitan pasalnya Bab 3 itu kalau Panja atau Timus ya semuanya mestinya. Kalau hanya 1-2 tidak mungkin ini. Barangkali itu.

KETUA RAPAT:

PKB konsisten kalau di atasnya Panja, ini juga Panja. Saya persilahkan PKS. PKS? Timus. PBR? Timus. Beberapa fraksi meminta di Timus. PDIP dan PDS di Panja. PKB, Panja boleh Timus boleh. Kita sepakati di Panja karena kalau yang di Timus, kalaupun di Panja mestinya tidak keberatan juga, toh akhirnya akan sampai ke Timus, pada akhirnya. Pemerintah, kita bawa ke Panja. Jadi pemerintah mengusulkan Timus tapi melalui Panja. Jadi tetap kita lalui Panja untuk DIM 34.

(RAPAT: SETUJU) Kita persilahkan pemerintah untuk DIM 35.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(15)

15

-MENTERI HUKUM DAN HAM:

Tadi kami sudah berbicara DIM 35 dan DIM 36, itu enaknya DIM 37, 38, dan 39 sampai 40 itu cucunya. Jadi kami sudah berbicara sampai anak tadi, sampai nomor 36. Pikiran kami yang di masukan ke Timus melalui Panja adalah sampai nomor 36. Maksud kami begitu, 36 kan tidak mungkin sampai 40 sebelum 36. Sesudah 36 baru 37, 38, 39. Maksud kami begitu.

F-PG (Hj. TVAS INDYAH ISKANDAR, SH., M.Kn):

Setuju kalau memang masuk Panja tapi saya mungkin kepada ahli bahasa atau siapa ingin menanyakan sebetulnya hirarkinya itu angka dulu baru huruf atau huruf dulu baru angka. Di sinikan kita buat angka dulu kemudian poin bawahnya, 37 itu huruf tapi pemerintah menghendaki dibalik, itu saja intinya yang mana yang harus hirarkinya lebih dulu. Itu saja. Jadi setuju sampai DIM 40 dibawa ke Panja.

KETUA RAPAT:

Partai Golkar sampai DIM 40 setuju dibawa ke Panja tapi dengan catatan nanti kita konfirmasi kepada ahli perundang-undangan atau ahli bahasa, untuk menanyakan urut-urutan sistem tadi. Apakah pakai huruf dulu atau angka dulu. PDIP.

F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Untuk DIM 35 sampai DIM 40 itu sebenarnya PDIP ada usulan tapi sekali lagi akan kami sampaikan ke Panja.

F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Mulai DIM 35 sampai DIM 40 kami setuju prinsipnya seperti yang diuraikan pendapat pemerintah. Jadi kalau ke Panja ya ke Panja tapi prinsipnya kami setuju.

KETUA RAPAT:

Karena itu tidak ada kemungkinan lain kecuali kita menyetujui usul pemerintah dan kita bawa ke Panja DIM 35 sampai DIM 40.

(RAPAT: SETUJU) MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pak Ketua, tadi ada pertanyaan kita mulai dari huruf dulu baru angka atau angka dulu baru huruf. Ini bukan karena beda posisi tapi berdasarkan kaidah memang huruf dulu baru angka. Saya juga dulu waktu di DPR lebih suka angka dulu, ketahuan jumlahnya berapa baru huruf tapi setelah saya Iihat memang huruf dulu baru angka. Kita tentukan dulu hurufnya apa baru jumlahnya berapa.

KETUA RAPAT:

Kita sudah sepakat itu kita bahas di Panja, mudah-mudahan penjelasan awal nanti memudahkan pembicaraan di Panja. Ini catatan untuk partai Golkar. Kita lanjutkan dengan DIM 41.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(16)

16

-F-PG (DRS. MUKHTARUDIN): Interupsi pimpinan.

Mungkin terkait dengan masalah mekanisme saja, ada usul. Kalau usul pemerintah itu adalah terkait substansi kita bawa ke Panja tapi kalau usul pemerintah hanya persoalan redaksional, kita lang"su,ng masuk ke Timus tapi mekanismenya lewat Panja. Supaya (kifaq\; tidak usah , ditawarkan satu-satu, misalnya kalau usul Pemerintah-ittr/substansi ya Panja tapi kalau tidak substansi hanya redaksional berarti Timus tapi mekanismenya nanti lewat Panja. Ini dalam rangka mekanisme mempercepat proses saja.

KETUA RAPAT:

Ada usulan, jadi semua lewat Panja tetapi sudah bisa disepakati mana-mana yang cenderung ke timus, begitu ya. Kita lanjutkan, kita persilahkan Pemerintah untuk DIM 41.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

DIM 41 itu terkait dengan usul kami tadi di DIM 31 bahwa undang-undang ini tidak hanya menyangkut "penghapusan diskriminasi" tapi juga memberikan perlindungan supaya hak-hak warga negara diakui dan dilaksanakan. Setelah kami melihat pasal-pasal yang ada di dalam Bab ini hampir seluruh pasal berbicara mengenai perlindungan, bukan penghapusan. Karena itu pemerintah menyarankan bagaimana kalau Bab 4 ini judulnya "pemberian perlindungan dan jaminan". Coba kita lihat ayat di bawahnya "penghapusan diskriminasi berdasarkan ras dan etnis dilakukan dengan memberi perlindungan, memberi jaminan" dan seterusnya. Bahkan di Bab berikutnya judulnya "penyelenggaraan perlindungan", karena itu DIM 41 yang judul RUU nya berbunyi "upaya penghapusan". Kami mengusulkan untuk dirubah menjadi "pemberian perlindungan dan jaminan".

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Ada usulan untuk mengubah judul Bab upaya penghapusan, pemerintah mengusulkan "pemberian perlindungan dan jaminan" yang lebih meliput dari pasal-pasal atau pengaturan-pengaturan yang ada di bawah judul ini. Kami persilahkan Partai Golkar.

F-PG (Hj. TYAS INDYAH ISKANDAR, SH. M.Kn):

Kami setuju di Panjakan namun sebetulnya tulisan kami inikita kepalanya dulu yang dijadikan judul tapi rupanya pemerintah lebih konsis lebih fokus kepada isi dari pada itu sehingga itulah yang dijadikan judul. Saya kira itu yang lebih baik sehingga kami setuju pak tapi tetap dibawa ke Panja.

F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Setuju dengan usul dengan usul pemerintah nanti dibawa ke Panja. F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Saya kira prinsipnya ke Panja saja pak tapi prinsipnya kami setuju dengan pemerintah, lebih bagus.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(17)

-17-F-PKB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Kalau Kebangkitan Bangsa silahkan pemerintah atau pimpinan mau ke Panja atau ke Timus, yang dimaksud pemerintah "pemberian perlindungan dan jaminan". PKB ingin bawa sekarang itu aplikasi "pelakasanaan penghapusan dan perlindungan". Artinya bahwa mau ke Timus boleh, mau ke Panja boleh ada usulan yang substansinya ingin bawa ini sudah aplikasi tapi bukan rancangan lagi.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Pada prinsipnya idenya dengan pemerintah cuma rumusannya agak beda nanti terserah mau dibawa ke Panja atau ke Timus.

F-PDS (lR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Kami usul pak, itu pelaksanaan penghapusan dan perlindungan. Kalau dibaca beberapa ayat ini kata "penghapusan" sering muncul juga.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Jadi DIM 41 kita bawa ke Panja.

(RAPAT: SETUJU)

Saya mau mengusulkan pemerintah, untuk DIM berikutnya ini apakah bisa kita pertimbangkan menjadi sekali pertimbangan untuk DIM 42, 43, 44, 45.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Mestinya kalau kita anggap DIM 42 ini kepala dan kepalanya sudah masuk mestinya yang lainnya ikut, ekornya harus masuk.

KETUA RAPAT:

Pemerintah menyarankan sampai DIM 45 kita bawa ke Panja. Jadi kalau mayoritas ke Panja nanti kita yakinkan PDIP mudah-mudahan tidak keberatan. Kita bawa ke Panja sesuai dengan kesepakatan dengan pemerintah. Ibu DIM 42 sampai DIM 45 mau kita bawa ke Panja. Apakah tidak keberatan.

F-PDIP (ORA. ELVIANA, M.Si):

Kalau DIM 42 di sinikan tetap tapi DIM 42 sampai DIM 45 itu PDIP punya usul redaksional. Jadi ya ke Panja.

KETUA RAPAT:

Kita setujui DIM 42 sampai DIM 45 ke Panja. (RAPAT: SETUJU) Kita lanjutkan dengan DIM 46.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pemerintah mengusulkan untuk langsung ke Paripurna saja pak nomor 46 ini, tetap.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(18)

-

18·-F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Kenapa tidak konsisten "penyelenggaraan perlindungan dan jaminan". Yang 46 "pemberian perlinundangan dan jaminan", kenapa tidak konsisten. Nanya-nanya saja sama pemrintah kenapa tidak sama saja dengan Bab 4 "penyelenggaraan perlindungan dan jaminan".

KETUA RAPAT:

Ini ada pertanyaan dari PDS kepada pemerintah, kenapa judulnya tidak konsisten menggunakan kata "jaminan".

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Karena di ayat pasal-pasal berikutnya tidak ada "jaminan" di situ pak.

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.Div):

Tidak, kalau di DIM 50 justru ada, "menjamin setiap warga negara". Ada itu pemerintah di situ, DIM 50.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Itu "menjamin" pak. Bapak mengusulkan "jaminan", jadi beda. KETUA RAPAT:

Tinggal kepada PDS ataukah kita proses lebih lanjut ke Timus atau ke Panja. PDS meminta ke Panja. Pemerintah bisa kita bawa ke Panja. Walaupun yang sudah sepakat nanti tinggal mendengar PDS di Panja.

(RAPAT: SETUJU) Kita lanjutkan dengan DIM 47.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Ini berkaitan dengan Pasal 7, kami melihat antara Pasal 6 dan Pasal 7 dua hal yang nafasnya sama. Sama-sama memberikan perlindungan dan jaminan tapi subyeknya berbeda. Kalau Pasal 7 itu karena mencakup segala kehidupan kenegaraan. Maka memang di situ kewajiban negara. Sedangkan Pasal 6 ini lebih banyak pad a tugas pemerintah karena itu kami mengusulkan rumusan "perlindungan terhadap warga negara dari segala bentuk perlakuan diskriminasi ras dan etnis". Jadi tulisannya diperbaiki, "diselenggarakan oleh pemerintah, permintah daerah dan masyarakat serta melibatkan pasrtisipasi aktif seluruh warga negara".

Sedangkan kalau RUU nya "diselenggarakan oleh negara". Kami melihat Pasal 6 ini sudah merupakan pasal yang bersifat implementatif sehingga pemerintah. Kalau Pasal 7 mungkin memang ada implementatif, ada penyusuna kebijakan, ada dunia peradilan sehingga di situ lebih tepat "negara". Sedangkan di sini adalah pemerintah. Demikian Bapak Ketua, tapi kalau tidak yakin boleh juga kita bawa di Panja.

F-PG (Hj. TY AS INDYAH ISKANDAR, SH. M.Kn):

Rumusan yang disampaikan pemerintah itu lebih akomodatif dan lebih luas ya dan lebih sempurna, saya kira. Pada hakekatnya kami setuju tapi tetap harus dibahas lagi mung kin lang sung di Timus ketua.

Terima kasih.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(19)

-19-F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Usul pemerintah nampaknya lebih kekinian begitu karena sudah ada "Pemerintah Daerah dan masyarakat" tapi tetap keputusan final-nya di Panja. Jadi usul setuju usul pemerintah dibawa ke Panja.

F-PG (VICTOR BUNGTILU LAISKODAT, SH): Pimpinan, sebelum dibawa ke Panja.

Usulan pemerintah itu untuk pemerintah, kata "pemerintah" itu menurut saya baik tetapi tidak boleh dipisahkan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Ini bukan untuk menunjukan bagaimana hak dan kewajiban Pemerintah Daerah dan Pemerintah pada umumnya karena itu undang-undang ini tidak boleh memilah-milahkan kewenangan-kewenangan Pemerintah Daerah dan Pemerintah, dia menjadi satu kesatuan "Pemerintah" ya sudah putus. Dan partisipasi, hal ini penting karena kalau tidak, kalau kita sepakat bahwa undang-undang memisahkan kewenangan dan hak-hak dari pada perlindungan diberikan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, itu terjadi hal yang sangat. Menurut saya undang-undang ini harus mengikat secara utuh tidak boleh dipisahkan.

Karena itu Pemerintah secara keseluruhan wajib, tidak boleh lagi kita jelaskan Pemerintah Daerah. Lama-lama kita juga jelaskan "Camat, Walikota" dan segala macam. Saya pikir itu tidak perlu dalam undang-undang ini kecuali undang-undang berkaitan dengan hak-hak kedaerahan, itu perlu.

Terima kasih. KETUA RAPAT: Baik terima kasih.

Ada catatan dari Pak Victor, didalam perumusan nanti hanya ada satu Pemerintah, tidak perlu ada Pemerintah Daerah. Mungkin Pemerintah ingin menjelaskan atau menambahkan argumentasi.

Silahkan, Pak.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pemerintah sebetulnya ingin lebih spesifik. Ada urusan Pusat, ada urusan daerah. Tapi kalau dianggap ini sebagai urusan yang harus diperoleh secara komprehensif, kami juga sepakat untuk dibicarakan di Panja.

KETUA RAPAT:

Sepakat dibicarakan di Panja dengan mempertimbangkan pendapat Pak Victor. Mudah-mudahan nanti juga dipertimbangkan oleh seluruh fraksi. DIM Nomor 47 kita bawa ke Panja.

Kita lanjutkan dengan DIM Nomor 48. kami persilahkan Pak Menteri. MENTERI HUKUM DAN HAM:

DIM Nomor 48, yaitu Pasal 7 sebenarnya merupakan konsekuensi dari apa yang kita rumuskan di DIM sebelumnya. Jadi kalau DIM sebelumnya kita Panjakan, maka Pasal 7 bahkan Pasal 8 harus menungu penyelesaian di Pasal 6 dahulu. Pasal 6 nya di Panja, mungkin Pasal 7 dan Pasal 8 harus diselsaikan di Panja. Ini bersifat preorefisit. Artinya bapak tidak mungkin mandi kalau tidak mau basah.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(20)

- 20-KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Pemerintah mengusulkan agar Pasal 7 dan Pasal 8 juga sekaligus kita bicarakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan pasal sebelumnya di Panja. Kalau begitu kita DIM Nemer 48 sampai DIM Nemer 54 kita bawa ke Panja usulannya.

Kami persilahkan Partai Gelkar.

F-PG (Hj. TYAS INDYAH ISKANDAR, SH, M.Kn): Setuju dengan Pemerintah.

KETUA RAPAT:

PDIP. DIM Nemer 48 Sampai dengan DIM Nemer 54. F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Dari DIM Nemer 47 sampai DIM Nemer 54 itu, PDIP mempunyai usulan. Jadi nanti disampaikan di Pania.

KETUA RAPAT: Terima kasih.

PDIP ke Panja. F-PPP? F-PPP setuju jugadi Panja. Partai Demekrat?

F-PD (F.X. SOEKARNO, SH): Di Panjakan setuju.

KETUA RAPAT:

Partai Demekrat di Panjakan. F-KIB? F-KB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM): Sama.

KETUA RAPAT: Sama. PKS?

F-PKS (ANDI SALAHUDDIN, SE): Sama.

KETUA RAPAT:

PKS sama. BPD, PBR? Sama. PDS? Juga setuju. Jadi, ibu dan bapak sekalian.

Juga pemerintah. DIM Nemer 48 sampai DIM Nemer 54 kita bicarakan lebih lanjut di Panja. Kita lanjutkan berikutnya DIM Nemer 55. kami persilahkan Pemerintah.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(21)

21 -MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pemerintah mengusulkan perubahan judul, bukan "Pemantauan dan Penerimaan" tetapi "Pemantauan denqan pengawasan" dengan alasan bahwa ini disesuaikan dengan fungsi-fungsi institusi yang ikut berperan disitu. Seperti KOMNAS HAM, misalnya. Tidak ada penilaian disana. Kalaupun ada penilaian, mestinya di pengadilan. Jadi yang dilakukan hanya memantau dan mengawasi.

KETUA RAPAT:

Baik. Pemerintah mengusulkan Bab VI "Pemantauan dan Penilaian" diperbaiki, menjadi "Pemantauan dan Pengawasan". Kami persilahkan Partai Golkar.

F-PG (Hj. TYAS INDYAH ISKANDAR, SH, M.Kn): Setuju dan dibawa ke Panja.

KETUA RAPAT:

Golkar setuju dibawa ke Panja. PDIP?

F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si): Sama dengan Golkar.

KETUA RAPAT:

Sama dengan Golkar. Pokoknya asal ada di Panja, PDIP sama. Kemudian F-PPP? PPP sama. Partai Demokrat? Partai Demokrat setuju dan dibawa ke Panja. Fraksi PAN? Setuju dengan PDIP. Fraksi Kebangkitan Bangsa?

F-KB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM): Setuju.

KETUA RAPAT: Setuju. F-PKS?

F-PKS (H. ABDUL AZIZ ARBI, Lc): Setuju di Panjakan.

KETUA RAPAT: Setuju di Panjakan. BPD, PBR? Panja. PDS? Setuju.

DIM Nomor 55 kita Panjakan dengan catatan Pemerintah mengusulkan supaya diubah menjadi "Pemantauan dan Pengawasan".

Kita sepakati di Panja.

(RAPAT: SETUJU) DIM Nomor 56. kita persilahkan Pemerintah.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(22)

-

22,-MENTERI HUKUM DAN HAM: Terima kasih saudara ketua.

DIM Nemer 56 sampai DIM Nemer 63, itu semua berbicara mengenai Pemantauan dan Penilaian atau Pemantauan dan Pengawasan. Dengan demikian DIM ini juga sangat tergantung apa yang kita putuskan di Panja. Apakah redaksi yang kita pakai pemantauan dan penilaian atau Pemantauan dan pengawasan.

KETUA RAPAT: Baik.

Pemerintah menawarkan agar DIM Nemer 56 sampai DIM Nemer 63, kita bicarakan lebih lanjut di Panja. Saya persilahkan Partai Gelkar.

F-PG (Hj. TYAS INDYAH ISKANDAR, SH, M.Kn): Setuju di Panja.

KETUA RAPAT:

Partai Gelkar setuju di Panja. PDIP, mudah-mudahan setuju. F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Terima kasih. Setuju ke Panja. KETUA RAPAT:

F-PPP? F-PPP setuju di Panja. Partai Demekrat. F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Setuju di Panja. KETUA RAPAT:

Setuju di Panja. Fraksi PAN? Partai PAN setuju dengan Demekrat. Kebangkitan Bangsa?

F-KB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM): Setuju Pemerintah.

KETUA RAPAT:

Setuju Pemerintah. PKS?

F-PKS (ANDI SALAHUDDIN, SE): Setuju di Panja.

KETUA RAPAT:

F-PKS setuju di Panja. F-PBR? Setuju di Panja. PDS? PDS setuju. Ibu dan bapak sekalian.

DIM Nemer 56 sampai DIM Nemer 63, kita sepakat kita bahas di Panja.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(23)

-

23-F-PG (VICTOR BUNGTILU LAISKODAT, SH): Pimpinan.

Sebelum ke Panja, saya pikir perlu dipertimbangkan bahwa melihat pelaksanaan undang-undang yang ada, bahwa kebanyakan berdirinya lembaga-Iembaga ini akhirnya tingkat koordinasi itu menjadi hambatan untuk melaksanakan hal-hal yang kita inginkan agar diskrimasi itu dapat terlindungi secara baik. Perbuatan-perbuatan diskriminasi itu dapat ditindak apabila itu terjadi dan oleh karena itu saya harapkan, jangan banyak lembaga yang ikut serta di dalam menentukan ataupun mengevaluasi serta menilai tindakan-tindakan diskriminasi ini karena dalam rumusan undang-undang jelas, apa saja yang dimaksud dengan tindakan diskriminasi itu dan menurut saya, lembaga yang mempunyai kewenangan dalam penegakan terhadap tindakan diskriminasi itu adalah lembaga-Iembaga kepolisian ataupun lembaga-Iembaga penegak hukum sehingga kita tidak perlu lagi menjadikan suatu lembaga yang mengevaluasi, menilai ataupun mengawasi dan akhirnya membuat suatu masalah baru di kemudian hari.

Saya harapkan pasal-pasal yang berkaitan dengan pembentukan lembaga ini ataupun kewenangan yang diberikan kepada lembaga tertentu di drop saja. Ini pendapat saya pribadi. Supaya dalam melaksanakan penegakan hukum untuk kepentingan diskriminasi dan memberikan perlindungan terhadap warga negara dalam hal diskriminasi ras dan etnis, itu dapat berjalan sebaik mungkin. Itu saja mungkin pertimbangan saya.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Sekretariat. Saya minta dicatat, catatan-catatan dari Pak Victor, nanti menjadi pertimbangan ketika kita membahas DIM-DIM yang sudah kita sepakati akan kita bawa ke Panja.

Kita teruskan dengan DIM Nomor 64. kita persilahkan Pemerintah. MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pimpinan.

Setelah kami melihat Pasal-pasal, disini ada 3 hal yang diatur. Yaitu hak, kewajiban, dan peran warga negara. Karena ada tiga hal yang diatur, maka sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia, mestinya penulisannya yang pertama hak, kewajiban, dan peran warga negara.

KETUA RAPAT:

Baik. Dari segi efektivitas pengkalimatan, Pemerintah mengusulkan supaya dan yang dua itu dikurangi menjadi satu.

Silahkan Partai Golkar.

F-PG (Hj. TVAS INDYAH ISKANDAR, SH, M.Kn):

Setuju lebih efektif dan sebetulnya kita juga sarna dengan Pemerintah. Masalah ketik ini ketua.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Partai Golkar. PDIP?

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(24)

- 24-F-PDIP (ORA. ELVIANA, M.Si): Setuju dengan Pemerintah. KETUA RAPAT:

Setuju dengan Pemerintah.

Mudah-mudahan ini satu-satunya yang bisa kita sepakati di Paripurna Pansus.

F-PPP? Setuju dengan Pemerintah. Demokrat? F-PD (F.X. SOEKARNO, SH):

Setuju dengan Pemerintah. KETUA RAPAT:

Setuju dengan Pemerintah. PAN? Setuju dengan Pemerintah. Kebangkitan Bangsa? Setuju. PKS?

F-PKS (ANDI SALAHUDDIN, SE): Setuju dengan Pemerintah.

KETUA RAPAT:

Setuju. PBR? Setuju. Tinggal satu PDS, mudah-mudahan setuju. Setuju.

Baik, ini DIM yang tidak perlu kemana-mana. Jadi kita sepakati di Pansus ini. Kita lanjutkan dengan DIM Nornor 65. kita persilahkan Pak Menteri.

MENTERI HUKUM DAN HAM: Baik, Pimpinan.

DIM Nomor 65, DIM Nomor 67, dan DIM Nomor 71, itu berada dalam posisi yang sama. Kelihatannya masing-masing sub judul ini hanya satu pasal. Maka apakah sub judul-sub judul ini tidak cukup diwakili oleh judul bab saja? Hak, Kewajiban dan Peran Warga Negara sehingga tidak perlu ada bagian pertama. Hak warga negara yang cuma satu pasal, bagian kedua kewajiban warga negara yang juga cuma satu pasal, kemudian warga negara yang dua pasal. Dari segi teknis perundang-undangan, karena sudah diakomodir di judul bab, apakah masih perlu ada anak judul, toh cucu judulnya juga Cuma satu pasal. Itu sekalian DIM Nomor 65,67,71.

Terima kasih bapak pimpinan. KETUA RAPAT:

Ibu dan bapak sekalian.

Pemerintah mengusulkan sub judul di DIM Nomor 65 kemudian DIM Nomor 67, dan DIM Nomor 71 karena masing-masing hanya mempunyai satu masalah yang diatur, maka diusulkan, ini sebaiknya dihapus saja. Kami persilahkan Partai Golkar.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(25)

-

25-F-PG (Hj. TYAS INOYAH ISKANDAR, SH, M.Kn):

Kami, untuk bagian pertama dan kedua, mungkin kami sependapat dengan Pemerintah karena memang yang dikandung didalamnya itu hanya ada satu pasal kemudian satu pasal dua ayat. Tapi yang untuk bagian ketiga, itu memang dua pasal tapi ayatnya banyak. Ini minta dipertimbangkan lagi oleh Pemerintah. Apakah kalau kita pakai dua bagian saja begitu ataukah memang satu bagian itu masih sangat panjang. Kalau dua bagian mungkin agak sistematis. Usulnya minta jawaban dulu dari Pemerintah, kalau memang cocok setuju dengan Pemerintah.

KETUA RAPAT:

Balk, Partai Golkar menyetujui tapi bertanya dulu. Kalau cocok setuju, kalau tidak usulnya bisa dipecah menjadi dua. Tapi saya kita diputar saja jangan-jangan usulnya sama, jadi Pemerintah menjawabnya menjadi satu. Kita persilahkan PDIP.

F-POIP (ORA. ELVIANA, M.Si):

POIP setuju dengan Pemerintah tapi nanti finalnya di Panja. KETUA RAPAT:

PPP?

F-PPP (H. HUSAIRI ABOI, Lc): Di Panjakan saja, Pak.

KETUA RAPAT:

Dl Panjakan saja. Kemudian Demokrat? F-PO (F.X. SOEKARNO, SH):

Setuju usul Pemerintah. Jadi dihapus saja karena hanya satu pasal. KETUA RAPAT:

Setuju Pemerintah. PAN? PAN ke Panja. Kebangkitan Bangsa? Ke Panja. PKS? PKS ke Panja. PBR? Ke Panja. PDS ke Panja.

Ibu-Bapak sekalian.

Ini semua usulan ke Panja. Hanya ada usulan dari Partai Golkar apakah mungkin Pemerintah mempertimbangkan tidak dihapus semua tetapi menjadi dua. Ada bagian pertama, bagian kedua. Apakah kita sepakati kita bawa ke Panja, kitaingin dengar dulu dari Pemerintah.

Silahkan.

MENTERI HUKUM OAN HAM:

Saya kira semangatnya sarna, Kita disini ingin menciutkan. Pemerintah mengusulkan tiga menjadi nol, ada yang mengusulkan tiga menjadi dua. - tidak ada yang mengusulkan tiga dengan tiga ya? - jadi semangatnya pengurangan. Mungkin lebih enak kita timbang-timbang di Panja, apakah tiga ke kosong, ataukah tiga ke dua.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(26)

-

26-Karena memang ada pedoman teknis perundang-undangan, supaya kalau ruang lingkupnya luas, mempunyai banyak pasal per pasal, dapat dikelompokkan menjadi. Makanya dulu biasa orang di kampung, ada kelompok satu, ada kelompok dua. Ada batalyon satu, ada batalyon dua. Tapi kalau Cuma satu istri, orang bilang satu. Kalau dua, ada kompi dua, ada kompi tiga. Karena pasalnya satu tidak perlu dikelompokkan.

KETUA RAPAT:

Baik. Kalau begitu kita sepakati di Panja.

Hanya dipertimbangkan apakah tidak perlu sama sekali atau bisa dikecilkan menjadi dua. Ktia sepakati ini untuk DIM Nomor 65, DIM Nomor 67 dan DIM Nomor 71. kita lanjutkan dengan DIM Nomor 66. kami persilahkan Pemerintah.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Ini juga perubahan redaksi yang lebih rnenekankan "upaya perlindungan kepada warga negara". Kalau di dalam judul rancangan undang-undang, setiap warga negara berhak untuk diperlakukan. Kami mengusulkan dengan bahasa yang lebih lugas. "Setiap warga negara berhak memperoleh perlakuan. Jadi yang satunya berhak diperlakukan -pasif sekali - ini seperti bahasa feminim. Berhak diperlakukan. Kalau usul Pemerintah, "berhak memperoleh perlakuan". Jadi tidak pasif. Ini dalam rangka semangat perlindungan.

Terima kasih. KETUA RAPAT: Baik.

Pemerintah mengusulkan, ini soal rasa bahasa. Jadi "warga negara yang berhak memperoleh perlakuan". Bukan seolah-olah yang aktif adalah yang memperlakukan. Jadi yang mempunyai hak ini adalah yang diperlakukan yaitu warga negara.

Kita persilahkan partai Golkar.

F-PG (Hj. TYAS INDYAH ISKANDAR, SH, M.Kn): Pak ketua.

Saya tadi berpikirnya mungkin dari DIM Nomor 64 sampai DIM Nomor 78 itu masuk Panja karena satu bab. Tadikan kita belum sepakat apakah mau dikecilkan. Tapi kalau kita tetap mau bahas satu persatu, menurut saya begitu ketua. Jadi untuk Bab VII ini berarti semua masuk ke Panja karena tadi kita belum sepakat apakah dijadikan satu atau dipecah. Tapi kalau memang dibahas ini tadi, komentar saya pada Pak Menteri, saya setuju.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Ada tambahan usulan dari Fraksi Partai Golkar. Kenapa DIM Nomor 65, 67 dan 71. partai Golkar juga mengusulkan karena ini satu kesatuan, apakah tidak kita bicarakan sekalian saja sampai DIM Nomor 78 itu bahas di Panja. Ini tawaran dari Fraksi Partai Golkar. Kita persilahkan PDIP?

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(27)

-

27-F-POIP (ORA. ELVIANA, M.Si):

Usul PDIP. Disitu kata-kata "tanpa membedakan ras dan etnisnya tidak masuk". Jadi bunyi redaksinya menjadi "Setiap warga negara berhak untuk diperlakukan secara sarna untuk mendapatkan hak-hak sipil, politik, ekonomi dan sosial budayanya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

KETUA RAPAT:

Ibu usulnya dibawa kemana? F-POIP (ORA. ELVIANA, M.Si): Usulnya seperti itu, kita putar lagi. KETUA RAPAT:

Baik. Jadi PDIP merumuskan rumusannya seperti yang kita lihat di dalam DIM ini, belum memikirkan apakah ini. Ini akan dicoba dulu apakah kita bisa disepakati disini.

Kemudian kita persilahkan untuk PPP. F-PPP (H.M. HIFNIE SARKAWIE): PPP sarna dengan Golkar. Di Panjakan. KETUA RAPAT:

Di Panjakan, Golkar usul sampai DIM Nomor 78. jadi PPP setuju dengan Partai Golkar untuk di Panjakan sampai DIM Nomor 78. kita persilahkan Partai Demokrat.

F-PO (F.X. SOEKARNO, SH):

Kami menyetujui usul dari Golkar. Di Panjakan sampai dengan DIM Nomor 78.

KETUA RAPAT:

Partai Demokrat menyetujui untuk di Panjakan sampai DIM Nomor 78. Fraksi PAN?

F-PAN (PATRIALIS AKBAR, SH):

Pertama mengenai DIM Nomor 66, prinsipnya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pemerintah, alasannya juga cukup jelas. Namun, di belakangnya tetap ditambahkan sarna dengan PDIP tadi "Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku". Jadi tetap ada pembatasan. Pembatasan itu adalah Peraturan Perundang-undangan. Jadi kita tidak menganut hak yang sebebas-bebasnya.

Sedangkan untuk DIM lain, kami melihat ada masalah. Saya kira lebih baik kita sisir dulu, karena misalnya dalam DIM Nomor 69, ini menurut kami agak rawan karena disini "setiap warga negara berkewajiban membantu mencegah, dan menanggulangi setiap tindakan diskriminasi berdasarkan ras dan/atau etnis". Jadi bisa kita bayangkan karena itu

sudah merupakan kewajiban, orang akan melakukan apa saja. Ini gawat. Ini juga justru akan menimbulkan perpecahan diantara warga negara~

karena dibilang ini kewajiban undang-undang padahal apa yang dilakukan itu belum tentu benar. Karena itu sudah kewajiban undang-undang main sikat.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(28)

-

28-Jadi, menurut kami lebih baik kita sisir dulu catatan khusus mengenai DIM Nomor 69, menurut PAN ini lebih baik dihapuskan karena ini berbahaya untuk kesatuan masyarakat.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih PAN. Untuk DIM Nomor 66 menyetujui usul Pemerintah walaupun ada tambahan usulan "berdasarkan peraturan yang berlaku" dan untuk DIM-DIM lain agar dibahas satu persatu dan usulan khusus DIM Nomor 69, PAN mengusulkan kalau memungkinkan agar dihapuskan.

Kita persilahkan Kebangkitan Bangsa. F-KB (DRS. H. BISRI ROMLI, MM):

Sarna dengan Golkar, dari DIM Nomor 65 sampai 78 kita Panjakan. KETUA RAPAT:

PKB sampai DIM Nomor 78 di Panjakan. PKS? F-PKS (ANDI SALAHUDDIN, SE):

Di Panjakan saja. Sarna dengan Golkar. KETUA RAPAT:

Sampai DIM Nomor 78 di Panjakan. BPD, PBR? Setuju usul Pemerintah. Kemudian PDS?

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.DIV):

Kalau lebih efektif dimana? Kalau bagus setiap DIM. Setuju Pak Ketua. Kalau kita loncat tidak sempat Iihat kalau di satu paket itu. Kalau boleh.

KETUA RAPAT:

Baik. Kita kembalikan ke Pemerintah. Ada usulan dari beberapa fraksi, agar sampai DIM Nomor 78 itu dibawa ke Panja tetapi ada juga yang ingin dicoba dibahas satu-persatu di Pansus. Kami persilahkan Pemerintah mungkin ada pendapat tentang hal ini.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Kalau wakil rakyat mengatakan "waladdhoolin", kami bilang "Amien" ,

Pak. Kalau semuanya mau ke Panja sampai DIM Nomor 78, kami ikut. KETUA RAPAT:

Baik. Terima kasih.

Jadi Golkar sampai dengan DIM Nomor 78 dibawa ke Panja. PDIP? F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.Si):

Setuju dibawa ke Panja. DIM Nomor 69 sampai DIM Nomor 78, dengan catatan yang 69 tadi kita setuju dengan pendapat dari PAN. Baik, ada catatan yang dikemukakan PAN tadi, PDIP setuju untuk dipertimbangkan.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(29)

-

29-Kemudian PPP tadi setuju dibawa ke Panja. Demekrat setuju. Kebangkitan Bangsa setuju. PKS setuju. BPD, PBR setuju. PDS.

F-PDS (IR. APRI HANANTO SUKANDAR, M.DIV):

Ketua kalau saya usulkan karena ini kan di Panja menteri tidak ikut. Ada hal-hal krusial, mungkin mungkin menteri bisa diikut sertakan. Berikan pemahaman-pemahaman. Kalau menurut saya, jangan semua dibawa ke Panja. Untuk hal-hal krusial, kita bisa berwacanakan dulu disini. Kita matangkan di Panja supaya pernbobotan undang-undang ini terlihat.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Ada usulan. Beberapa hal yang krusial kita bahas disini, mungkin kita putar sekali dari DIM sampai ke DIM Nemer 78 ini kecuali catatan yang diberikan oleh PAN apakah ada catatan yang lain sebelum kita bawa ke Panja.

F-PD (F.X. SOEKARNO, SH): Pimpinan.

Kalau maksud dari PDS ada keputusan supaya ada bapak menteri, kami sepakat menyetujui pendapat dari PAN tadi untuk DIM Nemer 69 dihapus. Ini kita rasa-rasakan nanti setiap erang bisa mengatas namakan itu jadi bertindak sendiri.

Jadi intinya kalau seperti ada kesempatan supaya ada Pak Menteri, kami setuju usul dari PAN. DIM Nemer 69.

KETUA RAPAT:

Jadi bapak/ibu sekalian.

Ini kita bawa ke Panja, sampai DIM Nemer 78 tetapi ada pertanyaan, minta kementar Pemerintah mengenai DIM Nemer 69 ada usulan supaya dihapuskan.

MENTERI HUKUM DAN HAM:

Pemerintah justru ingin bertanya kepada DPR sebagai pengusul rancangan undang-undang inisiatif, kenapa pasal ini ada disini. Kalau pengusulnya merasa tidak urgent, kami ditawarkan buat makan. Kami makan itu barang. Tapi sebelum kami makan, bapak mau tarik kembali, itu hak bapak. Asal yang menariknya seluruhnya.

KETUA RAPAT:

Baik, kita usulkan materi ini kita bahas di Panja.

Ibu dan bapak sekalian. Sampai DIM Nemer 78 kita berhasil Panja. Terima kasih.

Baik. Ibu dan bapak sekalian.

Karena waktu sudah menunjukkan Pukul 12.00 WIB, sesuai peraturan nampaknya kita menyetujui akan ditambah jamnya. Nanti kalau ditambah 5 menit malah kacau waktu kita karena tidak bisa menyelesaikan satu input. Karena itu, tawarkan apakah kita mau berhenti sekarang? Fraksi-fraksi minta mau berhenti kecuali Pemerintah mau dilanjutkan.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

(30)

-

30-F-PG (NU5RON WAHID, 55): Interupsi ketua.

Atas izin juru bicara. Sebelum dltutup kami mohon ada model baru pembahasan dalam Raker ini. Kalau kita bahas satu persatu, dan satu minggu hanya satu kali pertemuan sementara target waktu kita tanggal 20 Juli sudah mau reses, saya kira ini tidak akan selesai. Karena itu alangkah baiknya supaya Raker itu hanya membahas masalah-masalah yang krusial yang ada titik beda antara DPR dengan Pemerintah, selanjutnya yang lain dilimpahkan semua ke dalam Panja. Sehingga mungkin kita hanya cukup sekali Raker dengan Pak Menteri, setelah itu semua dibahas di dalam Panja. Usul itu ketua.

Terima kasih. KETUA RAPAT: Terima kasih.

Ini ada usulan yang baik. Nanti kita pertimbangkan, mudah-mudahan kita semua sepakat dan kita jadwalkan sekali lagi kita rapat dengan Pak Menteri, semuanya nanti kita selesaikan di Panja.

F-PDIP (DRA. ELVIANA, M.5i): Pimpinan.

Menanggapi usulan adinda Nusron itu, belum bisa begitu karena kita sepakat diantara kita sendiri walaupun ini usulan inisiatif DPR, diantara fraksi-fraksi sendiri terdapat perbedaan-perbedaan terhadap pasal-pasal itu. Jadi kita semua sepakat untuk memberi kesempatan seluas-Iuasnya kepada setiap fraksi untuk memberikan masukan kembali. Jadi normatif saja disisir satu persatu.

Terima kasih pimpinan. KETUA RAPAT:

Baik. Ada berbagai usulan, nanti kita pertimbangkan. Tapi yang penting sekarang kita sepakati bahwa kita akan berhenti sampai jam sekarang ini. Mudah-mudahan kita tidak berkeberatan.

5audara Menteri Hukum dan RI beserta jajaran;

5audara Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus, serta Hadirin sekalian yang berbahagia.

Kami atas nama Pimpinan dan Anggota Pansus RUU tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

MENTERI HUKUM DAN HAM: Bapak Ketua.

Hari ini kita membahas 50 DIM. Luar biasa dan itu hanya bisa terjadi di bawah kepemimpinan dan kerjasama para Anggota Dewan.

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

(31)

31 -KETUA RAPAT:

Terima kasih Pemerintah.

Dengan demikian telah selesailah seluruh kegiatan Rapat Kerja Pansus dengan Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya dan Rapat Kerja pada hari ini, dan rapat akan kita lanjutkan lagi pada tanggal 28 Juni 2007.

Atas izin saudara-saudara sekalian, Rapat Pansus saya nyatakan diskors.

Terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(RAPAT OISKORS PUKUL 12.05 WIB)

Jakarta, 21 Juni 2007 a.n. KETUA RAPAT SEKRETARIS RAPAT

p~

Ora. PRThnA M. B.

NOWA

NIP. 210001466

ARSIP

DAN

MUSEUM

DPR

RI

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di