BAB III METODOLOGI. Penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam pengumpulan data adalah penelitian

38  Download (0)

Teks penuh

(1)

xxiii BAB III METODOLOGI

3.1. Metodologi Pengumpulan Data

Penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam pengumpulan data adalah penelitian gabungan (Mixed Method Research). Metode strategi yang akan digunakan dalam penelitian adalah eksplanatoris sekuensial gabungan, di mana penulis melakukan penelitian kualitatif dan kuantitatif untuk memperoleh informasi dan data mengenai Kampung Gerabah Karawang. Penelitian kualitatif yang dilakukan adalah in depth interview dan observasi lapangan berupa participant observation.

Wawancara dan observasi didokumentasikan dengan catatan penulis, pengambilan foto, rekaman suara, dan video. Penelitian kuantitatif yang dilakukan adalah survei online dengan kuesioner yang dibagikan kepada target. Pengumpulan data akan dilengkapi juga dengan studi eksisting dan studi referensi.

3.1.1. Wawancara

Berdasarkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, wawancara adalah interkasi dialog yang dilakukan oleh seorang narasumber dan pewawancara, di mana ada yang bertanya dan ada yang menjawab pertanyaan.

Berdasarkan Semiawan (2010), wawancara dilakukan untuk memperoleh

informasi maupun data melalui berbagai pertanyaan yang diberikan oleh peneliti

kepada narasumber atau partisipan.

(2)

73 3.1.1.1. Wawancara Perajin Kampung Gerabah Karawang

Wawancara bersama Sobar Olenk dilakukan di Kampung Gerabah desa Anjun, Gempol, kecamatan Tanjung Pura, Karawang, pada tanggal 24 Oktober 2019 untuk memastikan kebenaran fenomena yang sedang terjadi.

Penulis ingin mencari tahu identitas, visi, target, tingkat pengunjung, dan penjualan gerabah di Kampung Gerabah Karawang. Wawancara ini juga bertujuan untuk mengenal lebih dalam tentang gerabah khas Karawang seperti kelebihan dan kekurangan dari gerabah khas Karawang dibandingkan gerabah daerah lainnya. Sobar Olenk menjelaskan bahwa dahulu, kerajinan gerabah yang dilakukan oleh satu kampung kini hanya tinggal sedikit yang masih meneruskan kerajinan ini. Saat ini, hanya tinggal 10-15 orang perajin dan penjual gerabah saja di Kampung Gerabah, Karawang.

Berkurangnya jumlah perajin disebabkan oleh berkurang drastisnya jumlah pengunjung dan peminat kerajinan gerabah Karawang, karena belum dikenalnya gerabah Kampung Gerabah Karawang secara luas. Tak hanya itu, persaingan yang kuat juga menjadi salah satu faktor sulitnya kerajinan tanah liat khas Karawang untuk diminati oleh masyarakat.

Pesaing-pesaing yang kuat dan ternama antara lain gerabah Kasongan khas Yogyakarta, gerabah khas Subang, dan gerabah Plered di Purwakarta.

Sobar berkata bahwa padahal, gerabah Karawang yang masih bersifat

sangat tradisional pembuatannya membuat gerabah yang dihasilkan

menjadi lebih kuat dibanding gerabah pesaing lain yang kini sudah

(3)

74 penggunakan bantuan mesin dalam pembuatan gerabah, sehingga tidak lagi bersifat tradisional.

Berdasarkan Sobar, nama “Kampung Gerabah” diperoleh dari pemerintah sehingga desa Anjun Gempol tersebut mulai dikenal dengan nama Kampung Gerabah, namun Kampung Gerabah belum memiliki identitas tersendiri, sehingga gerabah hasil produksi gerabah hanya dikenal sebagai “gerabah khas Karawang”. Sobar juga memiliki visi dan misi yaitu meneruskan usaha gerabah sebagai warisan dari keturunannya dan sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia, terkhusus di Karawang. Ia ingin gerabah Karawang dikenal dengan kualitasnya yang baik, dan ingin generasi muda untuk mengenal dan berminat dalam membuat kerajinan gerabah.

Di Karawang, mulai dari pengolahan bahan baku sampai hasil

akhir, semuanya dikerjakan oleh tangan dan berbagai alat bekas rumah

tangga seperti pecahan piring, kain bekas, dan lain-lain. Berbagai alat

bekas rumah tangga digunakan untuk meminimalisir biaya produksi

gerabah. Bapak Sobar juga mengungkapkan bahwa beberapa kali

pemerintah melakukan beberapa upaya untuk mempromosikan Kampung

Gerabah Karawang, seperti mengundang beberapa perajin Kampung

Gerabah ketika Karawang sedang melakukan acara ulang tahun Karawang

agar kerajinan gerabah dapat dilihat oleh masyarakat. Namun, Sobar

mengungkapkan upaya pemerintah dalam memperkenalkan dan

mempromosikan kerajinan gerabah Kampung Gerabah seringkali hanya

(4)

75 dilakukan sampai acara selesai dan setelah itu tidak lagi melakukan upaya apapun. Sobar berharap pemerintah dapat melakukan lebih banyak lagi upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan kerajinan gerabah Karawang, sehingga usaha sekaligus kebudayaan Karawang yang sudah berjalan sejak dahulu kala dapat tetap bertahan dan tidak hilang.

Saat ini, Sobar berkata bahwa ia sedang sibuk dalam berkeliling berjualan gerabah yang dianggap masih banyak diminati serta masuk ke dalam kapasitas kebutuhan ibu rumah tangga seperti coet, dan produksi gerabah di Kampung Gerabah masih terus berjalan. Beliau berharap Kampung Gerabah Karawang dapat lebih dikenal oleh masyarakat, sehingga jumlah pengunjung Kampung Gerabah dapat meningkat. Beliau ingin budaya gerabah Karawang terus berjalan dan dikenal dengan kualitasnya yang baik dan masih bersifat tradisional.

Gambar 3.1 Wawancara dengan Ibu Enen dan Bapak Sobar Olenk

(5)

76 3.1.1.2. Wawancara Disparbud Kabupaten Karawang

Wawancara dilakukan dengan Waya Karmila yang bertanggung jawab di bagian kebudayaan dan kesenian di Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Karawang dengan tujuan untuk mengetahui keadaan wisata di Karawang, identitas Kampung Gerabah Karawang, serta upaya yang telah/akan dilakukan oleh pemerintah dalam mengembangkan Kampung Gerabah Karawang. Wawancara dilaksanakan melalui telepon pada tanggal 18 September 2020.

Sebelum masuk mengenai Kampung Gerabah, penulis bertanya kepada narasumber mengenai keadaan pariwisata budaya di Karawang.

Waya berkata bahwa destinasi wisata di Karawang terbagi menjadi wisata alam, wisata sejarah, dan wisata religi. Wisata alam di Karawang terfokuskan pada alam pegunungan, laut, dan pantai yang bervariasi di Karawang. Untuk wisata sejarah, Karawang memiliki destinasi berupa tempat terjadinya peristiwa pembantaian oleh Belanda di Rawa Gede dan Rengasdengklok. Selain itu, Masjid Agung Karawang dan Candi Jiwa menjadi wisata religi yang terkenal di Karawang. Untuk kesenian budaya, tari Jaipong menjadi ikon budaya tari tradisional dari Karawang yang ikut menghiasi kesenian Jawa Barat.

Gerabah khas Karawang memang telah menjadi bagian dari cagar

budaya Karawang, namun gerabah di Karawang belum menjadi ikon

utama dari kota Karawang. Gerabah sendiri dihasilkan oleh berbagai

daerah di Karawang, namun desa Anjun Kampung Gerabah Karawang

(6)

77 menjadi yang paling dikenal. Walau begitu, Kampung Gerabah sendiri belum memiliki identitas tersendiri. Kemudian Waya berkata bahwa turis atau wisatawan yang datang dari luar Karawang selalu didatangkan ke Rengasdengklok, namun tidak pernah didatangkan ke Kampung Gerabah Karawang karena tiadanya turis atau wisatawan yang mengetahui dan meminta untuk pergi ke kampung tersebut. Beliau juga menyatakan bahwa kampung gerabah dari Plered Purwakarta lebih sering didengar dibandingkan Kampung Gerabah Karawang.

Kemudian penulis bertanya mengenai adanya rencana atau upaya pemerintah untuk mengembangkan Kampung Gerabah Karawang. Waya menjawab bahwa pemerintah sudah memiliki rencana untuk mengganti dan menyusun ulang ikon-ikon di Karawang pada tahun 2021 yang akan datang apabila pandemic COVID-19 sudah hilang. Beliau berkata minimal Kampung Gerabah Karawang dipublikasikan, dikembangkan menjadi komoditas ekonomi kreatif di Karawang. Untuk saat ini, ikon Karawang yang paling terkenal adalah Karawang sebagai kota Lumbung Padi dan tari Jaipong sebagai kesenian daerah khas Karawang. Kedua ikon ini sangat ditekankan dalam brand Karawang yaitu Goyang Karawang. Sebagai penyangga ibukota, Waya berkata bahwa ada banyak sekali perusahaan- perusahaan dan yang datang ke Karawang untuk melihat lumbung padi Karawang yang menjadi andalan Jawa Barat.

Untuk mempromosikan tempat pariwisata dan berbagai ikon

Karawang, pelaksanaan birokrasi terhadap masyarakat secara langsung

(7)

78 dilakukan ke kelurahan dan desa. Selain itu, pemerintah juga mengandalkan media online seperti website dan media sosial berupa Facebook dan Instagram untuk keperluan publikasi wisata Karawang.

Waya berkata bahwa nilai-nilai estetika kerajinan di Kampung Gerabah perlu diperhatikan karena nilai guna dari gerabah tersebut yang mulai terkikis oleh peralatan modern saat ini. Harapan pemerintah akan kelangsungan Kampung Gerabah adalah bisa ditingkatkannya Kampung Gerabah Karawang secara daya guna, estetika, dan berfungsi sebagai komoditas kreatif di Karawang nantinya. Harapannya lainnya yaitu agar Kampung Gerabah lebih dikenal dan dan dapat menjadi salah satu ikon di Karawang.

Gambar 3.2 Wawancara dengan Disparbud Karawang

(8)

79 3.1.1.3. Wawancara Calon Pengunjung

Wawancara ini dilakukan dengan peminat kerajinan tanah liat dan calon pengunjung yaitu Cherry Tefani pada tanggal 8 Novermber 2019 untuk mengetahui motivasi dan penyebab tertariknya peminat akan kerajinan tanah liat, serta untuk mengetahui media apa yang sering digunakan oleh Cherry. Cherry berkata bahwa sudah sejak lama ia ingin sekali mencoba kerajinan tanah liat dan ingin merasakan pengalaman membuat kerajinan tanah liat. Selain itu, ia berkata tertarik untuk menjadikan gerabah sebagai benda hias.

Walaupun tertarik dalam melakukan kerajinan gerabah, namun

Cherry masih belum tahu di mana ia dapat memperoleh kursus maupun

workshop pelatihan kerajinan gerabah. Selain itu, Cherry juga menyatakan

bahwa ia belum pernah mendengar Kampung Gerabah Karawang dan

tertarik untuk mencoba kerajinan gerabah di sana. Ia mengharapkan bahwa

Kampung Gerabah Karawang dapat lebih dikenalkan dan dipromosikan

secara online, serta mengadakan workshop ataupun event agar dapat

diikuti dan lebih dikenal oleh banyak orang. Karena Cherry banyak

menggunakan sosial media sebagai sumber informasi, ia berharap

Kampung Gerabah Karawang dapat lebih dikenalkan melalui internet dan

media sosial sehingga lebih mudah untuk diketahui.

(9)

80 Gambar 3.3 Wawancara dengan Cherry Tefani

3.1.1.4. Kesimpulan

Kampung Gerabah saat ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan

karena pengunjung dan perajin yang semakin berkurang. Kurang

dikenalnya Kampung Gerabah juga menjadi masalah, oleh karena

kurangnya pengetahuan masyarakat Karawang maupun luar Karawang

mengenai Kampung Gerabah Karawang. Belum adanya identitas

Kampung Gerabah Karawang juga menjadi akar permasalahan dari

sulitnya Kampung Gerabah untuk dikenal dan dipromosikan. Nyatanya, di

luar kota Karawang, masih ada generasi muda yang ingin mempelajari dan

membeli kerajinan tanah liat, namun belum mengetahui di mana kerajinan

gerabah dapat dilakukan. Dengan hal ini, Kampung Gerabah masih

memiliki potensi apabila diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih

intensif dan memiliki identitas yang mampu mencerminkan citra Kampung

Gerabah Karawang.

(10)

81 3.1.2. Observasi

Berdasarkan pernyataan Semiawan (2010), observasi diartikan sebagai metode atau proses pengumpulan data dengan cara ikut terjun dan terlibat ke lapangan yang bersangkutan dengan penelitian. Observasi dilakukan untuk memperoleh data tidak dapat diperoleh dalam wawancara, serta dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai sikap, peristiwa, tindakan, dan interaksi sasaran penelitian.

3.1.2.1. Observasi Kampung Gerabah Karawang

Observasi dengan metode participant observation oleh penulis pada tanggal 1 November 2019 di Kampung Gerabah, Karawang untuk mengetahui kegiatan dan peristiwa apa saja yang terjadi di Kampung Gerabah. Observasi ini juga dilakukan untuk mengamati dan memahami aktivitas, interaksi, lingkungan, objek, dan perilaku para perajin maupun penjual gerabah tanah liat khas Karawang di Kampung Gerabah karena pengerjaan kerajinan gerabah tanah liat yang berlangsung di sana, sekaligus merupakan tempat tinggal para perajin yang hendak diobservasi.

Para perajin yang ikut diobservasi yaitu Ibu Nemi, Ibu Enen, Ibu Raesi, Ibu Sunia sebagai perajin yang masih aktif.

1. Pengguna (Users)

Observasi users dilakukan untuk memperhatikan stakeholder yang

bersangkutan dengan penelitian. Dalam observasi ini, orang-orang

yang diamati dalam observasi ini adalah Ibu Nemi, Ibu Enen, Ibu

Sunia, dan Ibu Raesi sebagai perajin dan penjual gerabah di Kampung

Gerabah. Dalam proses observasi, para perajin menunjukkan proses

(11)

82 pembuatan gerabah, mulai dari pembentukan gerabah hingga pengeringannya. Semua perajin tampak antusias dan sangat handal dalam membentuk gerabah yang hendak dijual. Penulis juga berharap dapat bertemu dengan pengunjung Kampung Gerabah, namun pada hari dilakukannya observasi, tidak ada pengunjung yang datang kek Kampung Gerabah Karawang. Walau begitu, para perajin tetap antusias dalam mengerjakan kerajinan gerabah.

Gambar 3.4 Perajin dan Penjual Kampung Gerabah Karawang

2. Aktivitas

Observasi dilakukan ketika para perajin, khususnya Ibu Nemi, Ibu Enen, dan Ibu Sunia sedang membuat gerabah tanah liat berupa coet.

Pengerjaan kerajinan tersebut dilaksanakan di rumah Ibu Nemi.

Awalnya, Ibu Nemi mengerjakan sendiri, namun kemudian ditemani

oleh Ibu Enen dan Ibu Sunia. Proses pembentukan gerabah dari tanah

liat diperlihatkan kepada penulis dari awal hingga pengerokkan

(12)

83 gerabah yang sudah setengah matang. Dimulai dari pengambilan tanah liat, pembentukkan, hingga proses dikeploknya tanah liat, lalu dibesut, dan dikerok untuk menghaluskan gerabah. Tak lupa pemberian warna tanah merah kepada gerabah untuk mempercantik sekaligus memperkuat gerabah. Setelah pemberian warna, maka gerabah dikeringkan, kemudian dibakar di tempat pembakaran selama beberapa jam. Setelah itu, dilakukan seleksi pada gerabah dengan hasil jadi dengan baik dan yang kurang baik.

Selama pembuatan, Ibu Nemi, Ibu Enen, dan Ibu Sunia

ketiganya terlihat antusias ketika menunjukkan proses pembuatan

gerabah. Mereka menunjukkan keahlian mereka masing-masing dan

dengan sabar mengajarkan penulis cara membentuk gerabah

sederhana berupa coet. Dalam proses pembuatan gerabah, Ibu Nemi

turut menunjukkan peralatan yang terbuat dari barang-barang bekas

yang ia gunakan seperti sendal bekas untuk membesut

(menghaluskan), dan menggunakan pecahan piring untuk mengerok

gerabah. Pembakaran pada hari itu tidak dilakukan karena sudah

dilakukan pada hari sebelumnya.

(13)

84 Gambar 3.5 Pembuatan Coet oleh Ibu Nemi

3. Lingkungan

Pembuatan gerabah dilaksanakan pada masing-masing rumah perajin.

Penulis melaksanakan observasi beserta kerajinan gerabah di rumah

Ibu Nemi. Secara keseluruhan, Kampung Gerabah Karawang memang

masih terdiri dari berbagai rumah perajin yang kurang terawat dan

masih sangat tradisional. Tempat pembakaran pun masih sangat

tradisional yang dilakukan secara manual dan belum menggunakan

bantuan mesin. Keadaan Kampung Gerabah memang masih

memprihatinkan dan perlu dikembangkan apabila hendak dijadikan

sebagai sebuah destinasi wisata. Namun keadaan tersebut tidak

menghambat para perajin untuk tetap memproduksi gerabah dan

menjualnya.

(14)

85 Gambar 3.6 Tempat Pembakaran Gerabah

4. Interaksi

Dalam proses observasi, terjadi beberapa interaksi antar penduduk

Kampung Gerabah. Pada saat pembuatan gerabah, hampir semua

perajin seperti Ibu Nemi, Ibu Enen, Ibu Sunia, Ibu Raesi, serta Kang

Sobar berkumpul untuk bersama-sama mengerjakan gerabah dan

menunjukkan keahlian mereka masing-masing. Mereka turut serta

menujukkan penulis cara membuat coet. Ibu Nemi dengan bahagia

menunjukkan peralatan-peralatan miliknya yang terbuat dari bahan

bekas. Ibu Enen kemudian juga berinisiatif untuk mengajak penulis

pergi melihat rumah tempat pembakaran yang masih digunakan

hingga saat ini. Beliau juga turut menceritakan sedikit sejarah

perjalanan hidupnya dengan menggunakan bahasa Sunda. Kemudian

seorang bapak penjual gerabah datang dengan motor, kemudian

berkomunikasi dengan salah seorang perajin lainnya merundingkan

harga per gerabah. Sayangnya, tiada pengunjung yang datang ketika

(15)

86 observasi dilaksanakan, sehingga tiada interaksi jual-beli antara perajin dan pengunjung.

Gambar 3.7 Penjual Gerabah di Kampung Gerabah

5. Obyek

Terdapat berbagai macam peralatan dan bahan yang penting

digunakan dalam pembuatan gerabah khas Karawang. Benda-benda

yang digunakan tersebut antara lain bahan baku tanah liat yang

diambil dari panen sawah. Jika tanah kering, tanah lapisan dalamlah

yang diambil menjadi bahan baku karena mengandung lebih banyak

air dan lembab. Para perajin menggunakan barang-barang bekas

berupa kain untuk menghaluskan pembentukan gerabah, tali benang

untuk memisahkan gerabah yang sudah jadi dari alat putar, sendal

untuk membesut gerabah agar halus, dan piring untuk mengerok

gerabah. Pewarnaan gerabah menggunakan tanah merah, putih, dan

hitam, namun yang digunakan pada umumnya di Karawang adalah

tanah merah. Pasir digunakan untuk memperkuat dan menghaluskan

(16)

87 permukaan gerabah yang sudah jadi, tak lupa air untuk melicinkan pembentukan gerabah dengan kain.

Pada proses pembuatan, diawali dengan abu gosok yang

diletakkan di atas alat putar ketika hendak meletakkan tanah liat agar

tanah tidak lengket dengan alat putar. Alat putar menjadi alat wajib

yang sangat penting untuk mempercepat dan mempermudah

pembentukan gerabah. Kayu-kayu penyangga yang dibuat dalam

bentuk rak kayu digunakan untuk mengeringkan gerabah, serta bahan

untuk pembakaran. Kemudian rumah pembakaran gerabah digunakan

untuk membakar gerabah yang sudah jadi dan kering. Untuk

pemasaran gerabah, digunakan alat transportasi berupa motor dan

gerobak. Penulis juga menemukan bahwa gerabah yang paling

terkenal dan laku di Kampung Gerabah Karawang adalah coet/cobek

yang biasa digunakan untuk wadah makanan dan sambal. Selain itu,

alat gerabah pembuat serabi juga menjadi gerabah khas Kampung

Gerabah Karawang, mengingat bahwa serabi adalah makanan khas

kota Karawang. Penulis mencoba mengidentifikasi adanya identitas di

Kampung Gerabah, namun belum ada identitas khusus yang dimiliki

oleh Kampung Gerabah Karawang. Satu-satunya obyek yang

menandakan kehadiran Kampung Gerabah adalah gapura sederhana

bertuliskan “Kampung Gerabah” yang terbuat dari pipa besi.

(17)

88 Gambar 3.8 Gapura Gang Kampung Gerabah

3.1.2.2. Kesimpulan

Para perajin yang masih aktif hingga saat ini terus mengerjakan kerajinan

tanah liat dengan senantiasa dan tekun. Namun, proses pembuatan yang

lama dan membutuhkan pengerjaan yang terstruktur menjadi sebuah

kesulitan yang tidak ingin dihadapi oleh generasi muda Kampung

Gerabah, sehingga mereka enggan untuk mau melanjutkan kerajinan tanah

liat tersebut. Namun perajin-perajin saat ini seperti Ibu Nemi, Ibu Enen,

Ibu Sunia, dan Ibu Raesi semuanya tetap bersemangat dalam mengerjakan

kerajinan tanah liat khas Karawang dan tak putus asa. Melalui observasi

yang telah dilakukan, dapat diketahui proses pembuatan gerabah di

Kampung Gerabah Karawang yang masih sangat tradisional, sehingga

menjadikan gerabah Karawang lebih kuat, tahan banting, dan lebih

autentik. Selain itu, Kampung Gerabah Karawang belum memiliki

identitas khusus yang mencerminkan citra dari Kampung Gerabah

Karawang.

(18)

89 3.1.3. Survei

Survei adalah sebuah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner yang kemudian disebarkan ke sejumlah sample yang diperoleh menggunakan rumusan (Siyoto & Sodik, 2015).

3.1.3.1. Survei Tingkat Pengetahuan dan Minat Sample

Survei dilakukan dengan menggunakan kuesioner online secara non- random sampling melalui Google Form untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan minat masyarakat Jabodetabek terhadap kerajinan gerabah khas Karawang. Survei juga bertujuan untuk mengetahui media yang sering digunakan oleh target. Populasi yang diambil untuk penelitian ini adalah remaja akhir dan dewasa awal usia 15-24 tahun di Jabodetabek pada tahun 2018 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 1.494.436 di DKI Jakarta, 1.095.093 jiwa di kota Bogor, 396.761 jiwa di kota Depok, 365.208 jiwa di kota Tangerang, dan 534.743 jiwa di kota Bekasi, sehingga total seluruh populasi Jabodetabek usia 15-24 tahun adalah 3.886.241 jiwa. Jumlah sample ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin. Jumlah sample yang telah ditentukan dari populasi dengan derajat ketelitian sebesar 10% yaitu:

S = 100 responden

Maka, jumlah sample yang dituju sebanyak 100 orang.

Pengumpulan data sample akan dilakukan dengan teknik pengumpulan

S = Jumlah Sample

n = Jumlah populasi

e = derajat ketelitian

(19)

90 data Snowball Sampling, di mana kuesioner akan disebarkan ke target berusia 15-24 tahun di Jabodetabek.

3.1.3.2. Hasil Survei

Kuesioner mulai disebarkan pada tanggal 16 September 2020 dan penulis berhasil memperoleh 110 responden yang terdiri dari 67 wanita (60,9%) dan 43 pria (39.1%) Jabodetabek. Responden yang diperoleh berusia 17-25 tahun sebanyak 100 orang, dan usia 26-35 tahun sebanyak 10 orang.

Kuesioner yang disebarkan terbagi menjadi tiga bagian, Pada bagian pertama, kuesioner berisikan pertanyaan mengenai data diri.

Tabel 3.1. Data Diri Responden

No. Pertanyaan Jawaban Jumlah Presentase

1. Domisili Anda? DKI Jakarta 36 responden 32,7%

Bogor 9 responden 8,2%

Depok 5 responden 4,5%

Tangerang 47 responden 42,7%

Bekasi 3 responden 2,7%

Luar Jabodetabek 10 responden 9,1%

2. Pendidikan terakhir? SMP 1 responden 0,9%

SMA/sederajat 85 responden 77,3%

S1 23 responden 20,9%

S2 1 responden 0,9%

5. Pekerjaan saat ini? Pelajar/Mahasiswa 73 responden 66,4%

Pengusaha 7 responden 6,4%

Karyawan 23 responden 20,9%

Wiraswasta 2 responden 1,8%

(20)

91 Ibu rumah tangga 2 responden 1,8%

Fotografer 1 responden 0.9%

Jobless 1 responden 0.9%

Pada bagian kedua, kuesioner berisi mengenai kegiatan berwisata dari para responden seperti jenis wisata yang disukai dan motivasi berwisata.

Tabel 3.2. Frekuensi Kegiatan dan Motivasi Wisata Responden

No. Pertanyaan Jawaban Jumlah Presentase

1. Apakah Anda suka berwisata?

Ya 92 responden 83,6%

Tidak 1 responden 0,9%

Mungkin 17 responden 15,5%

2. Berapa kali Anda berwisata dalam 1 tahun?

1-2 kali 42 responden 39,1%

3-4 kali 43 responden 38,2%

>5 kali 25 responden 22,7%

3. Jenis wisata yang Anda sukai?

(Checkbox, boleh memilih lebih dari 1)

Wisata Alam 93 Jawaban 84,5%

Wisata Budaya 63 Jawaban 57,3%%

Wisata Ekstrim 51 Jawaban 46,4%

Wisata Sejarah 60 Jawaban 54,5%

Wisata Rekreasi 70 Jawaban 63,6%

Wisata Kuliner 1 Jawaban 0,9%

Tidak berwisata 1 Jawaban 0,9%

4. Yang Anda inginkan ketika beriwsata?

Pengalaman baru 91 Jawaban 82,7%

Having fun 96 Jawaban 87,3%

Belajar hal baru 66 Jawaban 60%

(21)

92 Beli souvenir

menarik

47 Jawaban 42,7%

Sight-seeing 58 Jawaban 52,7%

Lainnya 4 Jawaban 3,6%

5. Media yang Anda gunakan untuk mencari tempat wisata?

Internet 97 Jawaban 88,2%

Media sosial 100 Jawaban 90,9%

Buku 9 Jawaban 8,2%

Televisi/Radio 29 Jawaban 26,4%

Koran 2 Jawaban 1,8%

Aplikasi, Website 2 Jawaban 1,8%

Youtube 2 Jawaban 1,8%

Rekomendasi Teman

1 Jawaban 0,9%

Pada bagian kuesioner yang kedua, jenis wisata berupa wisata alam menjadi pilihan tertinggi oleh responden, yaitu sebesar 84,5% responden, diikuti dengan wisata rekreasi sebanyak 63,6%, wisata budaya sebanyak 57,3%, wisata sejarah sebanyak 54,5%, wisata ekstrim sebanyak 46,4%, dan wisata kuliner sebanyak 0.9%. Wisata budaya menjadi pilihan ke-3 terbanyak sebagai jenis wisata pilihan responden. Selain itu, bersenang- senang dan memperoleh pengalaman yang baru menjadi motivasi utama para responden ketika hendak berwisata, sebanyak 87,3% dan 82,7%

responden, disusul oleh belajar hal baru sebanyak 60% responden, sight-

seeing, dan membeli souvenir. Media yang paling banyak digunakan oleh

responden ketika mencari tahu tentang destinasi wisata adalah media

sosial sebanyak 90,9% responden dan internet sebanyak 88,2% responden.

(22)

93 Televisi dan radio juga masih digunakan oleh 26,4% responden untuk mencari tahu destinasi wisata, disusul oleh buku, koran, website and apps, youtube, serta rekomendasi dari teman. Pada bagian berikutnya, responden ditanya mengenai pengalaman mereka dalam melakukan kerajinan gerabah dan pengetahuan mereka mengenai Kampung Gerabah Karawang.

Tabel 3.3. Pengalaman dan Pengetahuan Sample tentang Kampung Gerabah Karawang

No. Pertanyaan Jawaban Jumlah Presentase

1. Apakah Anda pernah melakukan kerajinan gerabah?

Ya 33 responden 30%

Tidak 77 responden 70%

2. Jika Pernah, di mana Anda melakukannya?

(33 responden menjawab “Pernah”).

Sekolah 10 Jawaban 9,2%

Study Tour 22 Jawaban 20,2%

Wisata Budaya 15 Jawaban 13,8%

Yogyakarta 1 Jawaban 0,9%

Tidak Pernah 79 Jawaban 72,5%

3. Kapan Anda melakukannya?

(33 responden menjawab “Pernah”).

1-2 tahun lalu 2 responden 1,8%

3-4 tahun lalu 5 responden 4,5%

> 5 tahun lalu 25 responden 22,7%

Tidak Pernah 78 responden 70,8%

4. Apakah Anda pernah mendengar tentang Kampung Gerabah di Karawang?

Ya 20 responden 18,2%

Tidak 90 responden 81,6%

5. Ketika mendengar Kampung Gerabah Karawang, apa yang Anda bayangkan?

“Tempat pembuatan gerabah”

60 responden 54,5%

“Tempat wisata berbudaya Karawang”

27 responden 24,5%

“Tempat belajar bernuansa

13 responden 11,8%

(23)

94 kampung”

“Tempat membeli souvenir Gerabah”

5 responden 4,5%

“Kampung Biasa”

3 responden 2,7%

“Tempat wisata di Karawang yang fokus ke gerabah”

1 responden 0.9%

“Tidak Tahu” 1 responden 0.9%

Hasil pengisian kuesioner bagian ketiga menunjukkan bahwa sebanyak 33 responden (30%) sudah pernah melakukan kerajinan gerabah.

Namun, sebagian besar responden, belum pernah melakukan kerajinan gerabah sebanyak 77 responden (70%). Mayoritas responden yang sudah pernah melakukan kerajinan gerabah melakukan kerajinan tersebut di sekolah, study tour, sanggar, dan wisata budaya. Ada juga responden yang pernah melakukan kerajinan tanah liat di Yogyakarta, namun tidak ada responden yang pernah melakukan kerajinan gerabah di Karawang. Selain itu, hasil survei yang diperoleh menyatakan bahwa sebanyak 81,6%

responden belum pernah mendengar Kampung Gerabah Karawang, dan

sebanyak 18,2% responden menyatakan pernah mendengarnya. Mayoritas

responden menyatakan bahwa mereka membayangkan Kampung Gerabah

Karawang sebagai tempat pembuatan gerabah dan tempat wisata

(24)

95 berbudaya Karawang ketika mendengar nama “Kampung Gerabah Karawang”.

Tabel 3.4. Minat Sample

No. Pertanyaan Jawaban Jumlah Presentase

1. Saya tertarik untuk melakukan wisata yang memberikan

pengalaman baru dan berhubungan dengan budaya suatu daerah.

Tidak Tertarik 1 responden 0,9%

Kurang Tertarik 6 responden 5,5%

Cukup Tertarik 57 responden 51,8%

Sangat Tertarik 46 responden 41,8%

2. Saya tertarik ingin mencoba kerajinan gerabah yang dekat dengan Jakarta

Tidak Tertarik 6 responden 5,5%

Kurang Tertarik 5 responden 4,5%

Cukup Tertarik 51 responden 46,4%

Sangat Tertarik 48 responden 43,6%

3. Menurut saya, Kampung Gerabah Karawang perlu dipertahankan sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia agar tidak hilang.

Tidak Penting 0 responden 0%

Kurang Penting 0 responden 0%

Penting 48 responden 43,6%

Sangat Penting 62 responden 56,4%

4. Saya merasa lebih percaya menggunakan produk, jasa, ataupun pergi ke tempat wisata yang memiliki identitas merek/brand yang jelas.

Tidak Setuju 3 responden 2,7%

Kurang Setuju 9 responden 8,2%

Setuju 44 responden 40%

Sangat Setuju 54 responden 49,1%

Hasil pengisian kuesioner bagian terakhir menyatakan bahwa

sebesar 93,6% responden tertarik untuk melakukan wisata yang

berhubungan dengan budaya. Kemudian sebesar 90% responden tertarik

untuk mencoba kerajinan gerabah yang dekat dengan Jakarta. Seluruh

(25)

96 responden menyatakan bahwa Kampung Gerabah Karawang perlu dipertahankan sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia agar tidak hilang.

Pada pertanyaan terakhir, sebesar 89,1% responden merasa lebih percaya dalam menggunakan produk, jasa, ataupun pergi ke suatu destinasi wisata yang memiliki identitas merek yang jelas.

3.1.3.3. Kesimpulan

Hasil survei secara keseluruhan menunjukkan bahwa Kampung Gerabah masih belum cukup diketahui oleh warga di luar Karawang, khususnya warga Jabodetabek. Namun, dapat dilihat bahwa minat para responden terhadap kerajinan gerabah yang dekat dengan Jakarta cukup tinggi.

Berdasarkan hasil tersebut, Kampung Gerabah Karawang masih memiliki potensi yang cukup tinggi untuk diperkenalkan dan diminati oleh generasi muda dengan promosi yang tepat kepada calon pengunjung. Namun untuk melakukan melakukan promosi, perancangan identitas perlu untuk dirancang terlebih dahulu, sehingga Kampung Gerabah Karawang mudah untuk dikenali, diperkenalkan, dan diingat oleh calon pengunjung. Dengan identitas, maka kelak Kampung Gerabah Karawang dapat lebih dipercaya dan membuat calon pengunjung lebih yakin untuk berkunjung.

3.1.4. Studi Eksisting

Studi eksisting dilakukan untuk mempelajari obyek yang sudah ada yang sesuai

dengan obyek penelitian. Oleh sebab itu, penulis mencari berbagai media yang

telah memuat atau mempublikasikan Kampung Gerabah Karawang.

(26)

97 1. Promosi Kampung Gerabah Karawang

Selama ini, upaya promosi Kampung Gerabah Karawang dilakukan dengan pemerintah dengan mengundang perajin kampung Gerabah Karawang ke beberapa acara pemerintah, seperti merayakan ulang tahun Karawang. Selain itu, perajin Sobar Olenk juga seringkali mengandalkan seorang pecinta seni dan budaya, yaitu Rama untuk mempromosikan Kampung Gerabah Karawang.

Namun, penulis hanya dapat menemukan sedikit promosi yang telah dilakukan, dan tidak ada identitas yang digunakan untuk mempromosikan Kampung Gerabah Karawang. Dalam post tersebut, nama Kampung Gerabah Karawang juga belum digunakan secara konsisten, melainkan menggunakan nama desa Anjun Karawang. Selain itu, kerajinan gerabah khas Karawang beberapa kali diliput dalam beberapa media berita mengenai keadaan perajin gerabah di Karawang.

Gambar 3.9 Promosi Kampung Gerabah Facebook Rama

(Rama, 2017)

(27)

98 2. Media Berita Kampung Gerabah Karawang

Keadaan Kampung Gerabah Karawang sudah beberapa kali dipublikasikan dalam beberapa media berita, bahkan sebelum nama Kampung Gerabah Karawang diberikan oleh pemerintah. Namun hingga saat ini, media berita yang telah merilis berita tentang Kampung Gerabah Karawang belum menggunakan nama “Kampung Gerabah Karawang”, melainkan masih menggunakan nama “Desa Anjun Gempol”. Selain itu, penggunaan nama yang tidak konsisten juga terus terjadi pada media berita seperti penggunaan nama

“Gerabah Khas Karawang”.

Gambar 3.10 Liputan Gerabah khas Karawang

(https://kerajinanindonesia.id/kerajinan-gerabah-di-karawang/)

(28)

99 Gambar 3.11 Liputan Gerabah khas Karawang

(https://republika.co.id/berita/nasional/jawa-barat-nasional/14/05/05/n53xjk-kerajinan-kriya- ditinggalkan-generasi-muda/)

3. Kampung Gerabah Daerah Lainnya

Nama Kampung Gerabah telah digunakan oleh berbagai daerah penghasil gerabah lainnya seperti di desa Gebangsari dan dusun Precet, Blitar. Namun, kedua Kampung Gerabah ini sudah memiliki identitas dan sudah mengimplementasikannya dalam berpromosi.

a. Kampung Gerabah Blitar

Kampung Gerabah Blitar menjadi salah satu destinasi wisata edukasi di

dusun Precet, desa Plumpung Rejo, Blitar. Seperti Kampung Gerabah

Karawang, Kampung Gerabah Blitar juga memiliki visi dan misi untuk

meneruskan peninggalan nenek moyang dan menjaga kerajinan gerabah

(29)

100 sebagai bagian dari kebudayaaan Indonesia. Berawal dari hanya sebuah desa, Muhammad Burhanudin mengupayakan desa tersebut untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi di Blitar. Sejak diresmikan menjadi destinasi wisata edukasi di Blitar pada tahun 2014, Kampung Gerabah Blitar memiliki identitas dan mulai merintis beberapa penggunaan media untuk berpromosi seperti blog.

Gambar 3.12 Identitas Kampung Gerabah Blitar

(https://kampunggerabah.wordpress.com/2018/12/18/pos-blog-pertama/)

Dalam Kampung Gerabah Blitar, nilai estetika gerabah ditingkatkan dengan menggunakan beberapa motif seperti motif candi, ikan koi, dan bunga kenanga. Selain itu, Burhanudin menyediakan tiga paket wisata bagi sekolah yang berkunjung untuk berwisata, yaitu paket edukasi dan mewarnai souvenir, membuat gerabah, dan melakukan finishing gerabah.

Untuk identitas Kampung Gerabah Blitar sendiri hanya baru

diimplementasikan pada blog yang diluncurkan pada tahun 2018 (Rofiq,

2018).

(30)

101 Gambar 3.13 Blog Kampung Gerabah Blitar

(https://kampunggerabah.wordpress.com/2018/12/18/pos-blog-pertama/)

b. Kampung Wisata Gerabah Gebangsari

Kampung wisata gerabah Gebangsari terletak di desa Gebangsari,

Kebumen, Jawa Tengah. Destinasi wisata ini juga menjadi destinasi yang

banyak dikunjungi oleh berbagai sekolah mulai dari tingkat PAUD, TK,

SD, hingga perguruan tinggi. Selain itu, gerabah Gebangsari jadi mulai

dikenal dan banyak diminati oleh berbagai pengunjung setelah dirintis

menjadi destinasi wisata edukasi. Harga gerabah menjadi lebih stabil dan

ekonomi warga menjadi pulih (Suprapto dalam Hidayat, 2018). Kampung

Wisata Gerabah Gebangsari sudah memiliki identitas yang digunakan pada

berbagai media digital maupun cetak untuk berpromosi. Kampung wisata

ini sudah memiliki website, media sosial Facebook, dan telah diliput

dalam berbagai media berita.

(31)

102 Gambar 3.14 Kampung Wisata Gerabah Gebangsari

(https://pusat-gerabah-gebangsari.business.site/)

Gambar 3.15 Website dan Identitas Kampung Wisata Gerabah Gebangsari

(https://wisata-gerabah-gebangsari.business.site)

(32)

103 3.1.5. Studi Referensi

Studi referensi dilakukan untuk mengetahui referensi visual yang hendak dirancang. Berikut adalah beberapa referensi identitas merek dari beberapa destinasi:

1. Seaport Village, San Diego, California.

Seaport Village adalah sebuah destinasi rekreasi yang terletak di atas dermaga San Diego. Dalam deestinasi tersebut, terdapat berbagai tempat rekreasi seperti tempat berbelanja, restoran, hingga berbagai galeri dengan arsitektur bangunan yang berasal dari zaman Victoria hingga bergaya Mexican.

Identitas merek Seaport Village yang dirancang mampu menunjukkan citra dan berbagai filosofi dari destinasi Seaport Village. Dalam identitasnya, berbagai prinsip utama Seaport Village seperti connection to water, experience enhancements, education+community, dan promoting sustainability dapat tercerminkan dalam dua bentuk besar yaitu transformation yang direpresentasikan dengan gelombang, dan community yang direpresentasikan dengan bentuk lingkaran dan melambangkan koneksi.

Dengan penggunaan filosofi dan prinsip yang menarik dan mampu

tercerminkan dalam identitasnya, maka penulis menggunakan identitas

Seaport Village sebagai referensi perancangan brand identity Kampung

Gerabah Karawang.

(33)

104 Gambar 3.16 Logo Seaport Village

(https://www.seaportvillage.com/branding)

Gambar 3.17 Bentuk utama Logo Seaport Village

(https://www.seaportvillage.com/branding)

(34)

105

Gambar 3.18 Implementasi Logo Seaport Village (https://www.seaportvillage.com/branding)

Berikut adalah analisis SWOT dari identitas merek Seaport Village:

a. Strengths

Seaport Village yang terlihat modern dan dapat dengan jelas

memperlihatkan berbagai prinsip dan filosofi yang dimiliki, serta

(35)

106 menonjolkan arsitektur bangunan gaya Victoria yang menjadi salah satu daya tarik di sana.

b. Weakness

Bentuk identitas Seaport Village yang hampir menyerupai sebuah emblem, di mana logo berbentuk emblem memiliki coherence dan fleksibilitas yang lebih sulit dibanding jenis logo lainnya.

c. Opportunities

Tampak dari identitas Seaport Village yang mampu terlihat causal namun tetap luxurious dan memiliki berbagai atraksi, sehingga mampu menarik pengunjung.

d. Threats

Tampak dari identitas Seaport Village yang juga terlihat seperti bangunan bersejarah, sehingga pengunjung yang belum mengetahui Seaport Village dapat mengira bahwa Seaport Village adalah destinasi sejarah.

3.1.6. Analisa SWOT Kampung Gerabah Karawang

Analisa SWOT adalah riset yang terdiri dari strengths, weaknesses, opportunities, dan threats dari perusahaan maupun destinasi (Goeldner & Ritchie, 2011).

Berdasarkan hasil data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan

kuesioner yang telah dilakukan penulis, berikut adalah hasil analisis SWOT

Kampung Gerabah Karawang:

(36)

107 1. Strengths

Produksi gerabah di Kampung Gerabah Karawang yang masih sangat bersifat tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami, sehingga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan daerah lain yang sudah menggunakan mesin dalam pembuatan bahan gerabah. Kampung Gerabah Karawang adalah daerah penghasil gerabah di Karawang yang paling dikenal.

2. Weaknesses

Belum memiliki identitas dan kurangnya promosi, sehingga masyarakat khususnya dari luar Karawang tidak mengetahui Kampung Gerabah Karawang. Kampung Gerabah Karawang juga menjadi sulit untuk dikenali dan dibedakan dari Kampung Gerabah daerah lainnya.

3. Opportunities

Banyaknya masyarakat luar Karawang yang tertarik mencoba kerajinan gerabah di Kampung Karawang sehingga masih berpotensi untuk dikunjungi.

Pemerintah yang berencana mengangkat Kampung Gerabah Karawang sebagai bagian dari ikon Karawang, sehingga dapat dipublikasikan dan dipromosikan oleh pihak pemerintah untuk wisatawan dari luar Karawang.

4. Threats

Adanya berbagai daerah penghasil gerabah lainnya yang lebih terkenal dan

diminati seperti desa Kasongan Yogyakarta dan Plered di Purwakarta, serta

adanya berbagai destinasi wisata di Karawang yang telah lebih dahulu dikenal

dan diminati.

(37)

108 3.2. Metodologi Perancangan

Penulis menggunakan metode perancangan brand identity milik Alina Wheeler (2018) dari bukunya yang berjudul “Deisgning Brand Identity: An Essential Guide for the Entire Branding Team” yang terdiri dari lima fase tahapan desain, yaitu conducting research, clarifying strategy, designing identity, creating touchpoints, dan managing assets.

1. Conducting Research

Dalam tahap conducting research, penulis mengumpulkan berbagai data mengenai Kampung Gerabah Karawang seperti sejarah, visi misi perajin, target konsumen, proses pembuatan, macam bentuk gerabah yang dihasilkan, penghasilan perajin, tingkat pengunjung dan peminat, kompetitor, keunggulan, kekurangan, serta upaya promosi apa saja yang telah dilakukan melalui wawancara. Dilakukan juga pengumpulan data dengan observasi, studi referensi, dan studi eksisting untuk melengkapi data, sehingga identitas merek yang tepat dapat dirancang sesuai dengan citra dan esensi Kampung Gerabah Karawang.

2. Clarifying Strategy

Penulis akan melakukan peninjuauan kembali data-data yang telah

dikumpulkan, serta membuat creative brief, mind map, big idea, dan brand

mantra dari Kampung Geravah Karawang untuk memperdalam data yang

telah diperoleh dari penelitian kualitatif dan kuantitatif agar penulis dapat

merancang identitas merek dengan pesan yang sesuai dengan citra gerabah

khas Karawang dan tepat sasaran pada target sasaran desain yang dituju.

(38)

109 3. Designing Identity

Penulis mulai merancang brand identity Kampung Gerabah Karawang berdasarkan strategi yang telah ditentukan. Brand identity akan dirancang berdasarkan big idea, creative brief, dan brand mantra yang telah tercipta.

4. Creating Touchpoints

Pada tahap ini, penulis mulai menyempurnakan dan menyelesaikan hasil desain, serta mulai merancang implementasi identitas merek yang telah dirancang ke beberapa media tertentu seperti business collateral, kemasan, signage, dan lain sebagainya.

5. Managing Assets

Tahap terakhir dalam perancangan brand identity adalah managing assets,

yaitu mengelola brand identity dan segala asset yang telah dirancang, dan

menyusunnya ke dalam brand book atau graphic standard manual book

(GSM) sehingga brand identity dapat digunakan dengan ketentuan yang baik.

Figur

Gambar 3.1 Wawancara dengan Ibu Enen dan Bapak Sobar Olenk

Gambar 3.1

Wawancara dengan Ibu Enen dan Bapak Sobar Olenk p.4
Gambar 3.2 Wawancara dengan Disparbud Karawang

Gambar 3.2

Wawancara dengan Disparbud Karawang p.7
Gambar 3.4 Perajin dan Penjual Kampung Gerabah Karawang

Gambar 3.4

Perajin dan Penjual Kampung Gerabah Karawang p.11
Gambar 3.7 Penjual Gerabah di Kampung Gerabah

Gambar 3.7

Penjual Gerabah di Kampung Gerabah p.15
Tabel 3.1. Data Diri Responden

Tabel 3.1.

Data Diri Responden p.19
Tabel 3.2. Frekuensi Kegiatan dan Motivasi Wisata Responden

Tabel 3.2.

Frekuensi Kegiatan dan Motivasi Wisata Responden p.20
Tabel 3.3. Pengalaman dan Pengetahuan Sample tentang Kampung Gerabah  Karawang

Tabel 3.3.

Pengalaman dan Pengetahuan Sample tentang Kampung Gerabah Karawang p.22
Tabel 3.4. Minat Sample

Tabel 3.4.

Minat Sample p.24
Gambar 3.9 Promosi Kampung Gerabah Facebook Rama  (Rama, 2017)

Gambar 3.9

Promosi Kampung Gerabah Facebook Rama (Rama, 2017) p.26
Gambar 3.10 Liputan Gerabah khas Karawang  (https://kerajinanindonesia.id/kerajinan-gerabah-di-karawang/)

Gambar 3.10

Liputan Gerabah khas Karawang (https://kerajinanindonesia.id/kerajinan-gerabah-di-karawang/) p.27
Gambar 3.12 Identitas Kampung Gerabah Blitar

Gambar 3.12

Identitas Kampung Gerabah Blitar p.29
Gambar 3.15 Website dan Identitas Kampung Wisata Gerabah Gebangsari  (https://wisata-gerabah-gebangsari.business.site)

Gambar 3.15

Website dan Identitas Kampung Wisata Gerabah Gebangsari (https://wisata-gerabah-gebangsari.business.site) p.31
Gambar 3.17 Bentuk utama Logo Seaport Village  (https://www.seaportvillage.com/branding)

Gambar 3.17

Bentuk utama Logo Seaport Village (https://www.seaportvillage.com/branding) p.33
Gambar 3.18 Implementasi Logo Seaport Village  (https://www.seaportvillage.com/branding)

Gambar 3.18

Implementasi Logo Seaport Village (https://www.seaportvillage.com/branding) p.34

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di