1
KONSEP DRAINASE DI LAHAN RAWA
Oleh: Rusdi HA
Perumahan yang dibangun di Banjarmasin dan daerah rawa sekitarnya, tidak terlihat adanya penataan drainase lahan yang sistematis. Keadaan tanah pada daerah rawa adalah jenuh air, yaitu seluruh pori-pori tanah terisi oleh air. Air hujan atau air yang mengalir dipermukaannya, tidak akan diserap oleh tanah.
Permukaan tanah hanya berupa suatu luasan yang dapat menampung air diatasnya. Hujan akan segera meninggikan permukaan air bila luasannya sempit dan terkurung.
Untuk menanggulangi masalah kemungkinan banjir ini, maka Pemerintah Daerah Kota Banjarmasin mengundangkan peraturan tentang bangunan konstruksi panggung, berupa kewajiban membangun harus berupa konstruksi panggung. Pada Perda tersebut mewajibkan agar pembangunan gedung permanen adalah berupa panggung. Apakah dengan adanya Perda ini genangan air bisa diatasi. Pada artikel ini disampaikan hasil beberapa studi tentang konsep penataan drainase lahan untuk fasilitas di daerah rawa.
Hasil studi mendapatkan sbb.: untuk lahan yang tidak jauh dari sungai, bangunan sebaiknya dibuat konstruksi panggung. Kolong bangunan harus dibuat agar selalu terhubung dengan sungai. Bila lahan relatif jauh dari sungai dan lahan tidak terlalu luas dapat diaplikasikan pembuatan saluran di belakang kapling.
Bangunan tidak harus konstruksi panggung. Untuk pengembangan fasilitas yang luas, baik perumahan, kampus, terminal atau fasilitas lainnya, maka konsep pembuatan kontur fiktif lebih cocok untuk digunakan.
Kata kunci: Rumah panggung, daerah resapan, kolam retensi, kontur fiktif
1. Pendahuluan
Persoalan drainase lahan di Kota Banjarmasin dan sekitarnya menjadi persoalan yang pelan- pelan muncul, makin lama makin bertambah besar. Lihat saja sebagai satu contoh, kampus Universitas Lambung Mangkurat yang di Banjarmasin, saluran drainase hampir sepanjang waktu terisi air (Gambar 1). Kalau kenaikan muka air diasumsikan 3 cm/pertahun, maka 30 tahun yang akan datang, permukaan air naik sekitar 100 cm. Dengan demikian seluruh kampus akan tergenang air.
(a) (b) (c)
Gambar 1. Kondisi Selokan Kampus Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
Pada drainase Kota Banjarmasin saat dulu (tahun 60an), terdapat banyak saluran atau sungai
yang memotong beberapa area. Area yang relatif jauh dari sungai-sungai, terdapat saluran bawah
jalan yang cukup besar (contoh: Jl. Pangeran Samudra). Pada saat itu hampir tidak ada terjadi
genangan/banjir di Kota Banjarmasin.
2
Seiring dengan berjalannya waktu dengan berkembangnya kota, sungai-sungai menjadi sempit.
Sungai-sungai tersebut sebelumnya dapat berfungsi menjadi jalur transportasi. Hampir setiap pasar tradisional di Banjarmasin, bisa disinggahi oleh perahu-perahu penjual yang datang dari desa sekitar Banjarmasin. Sekarang secara praktis, pasar-pasar tradisional tidak bisa lagi disinggahi oleh perahu pedagang tersebut, kecuali pasar yang terletak di pinggir sungai besar, seperti Sungai Martapura dan Sungai Barito. Sungai-sungai kecil sudah berubah menjadi saluran kecil, sehingga kapasitas alirannya telah menurun.
Perumahan yang dibangun di Banjarmasin dan sekitarnya, kondisinya sama, tidak terlihat adanya penataan drainase secara teknis. Kapling ditata secara sederhana dengan sistem grid, yaitu petak-petak lurus dan sejajar. Rumah panggung dibangun diatas tanah rawa, sehingga air buangan limbah dan air hujan jatuh ketanah rawa tersebut. Lahan rawa tersebut masih terhubung kepada badan air (sungai, rawa atau saluran alami), sehingga drainase lahan belum ada permasalahan.
Sebagai contoh, Komplek Mawar, termasuk perumahan yang dibangun awal di Banjarmasin sekitar tahun 1952. Kapling memakai sistem grid, terdiri dari jalan utama, Jl Cempaka Besar ditengah, ke kanan adalah Jl. Cempaka (I s.d. VIII) dan kiri Jl. Kacapiring (I s.d. VII). Semua rumah ukuran 6x9 m, dibangun diatas tanah rawa dengan konstruksi panggung memakai tongkat ulin, dinding/lantai kayu dan atap sirap. Teras kecil di depan rumah terhubung ke 'jalan' melalui sebuah titian. Semua 'jalan' (ditulis dengan tanda kutip) juga dibuat dengan sistem panggung (titian) dari tiang galam dan lantai kayu. Pada saat itu permasalahan drainase dan limbah tidak ada sama sekali, karena air hujan dan air limbah hanya jatuh ke lahan rawa yang relatif luas, terbuka dan terhubung ke badan air.
Pada perkembangan selanjutnya, rumah-rumah yang ada berubah menjadi rumah konstruksi beton, ada yang diurug penuh, ada juga yang tetap sistem panggung. Jalan-jalan diurug, ditinggikan dan diperkeras. Halaman sekeliling rumah juga diurug dan ditinggikan. Akibatnya, tampilan depan dari perumahan seperti perumahan permanen di tanah keras, lengkap dengan jalan dan bangunan beton permanen. Tetapi genangan air di bawah kolong satu blok rumah, terkurung oleh jalan dan halaman rumah, terisolir dan tidak terhubung ke sungai. Buangan limbah kebawah rumah, menjadikan kolong rumah sangat tidak sehat. Hujan yang jatuh ke atap rumah terkumpul ke jalan.
Bila tidak dialirkan ke saluran atau sungai, maka jalan-jalan akan tergenang air
Perumahan-perumahan lain yang dibangun sesudahnya, seperti Komplek Beruntung Jaya di
Km.6, Komplek Kayu Tangi dan komplek-komplek lainnya disekitar komplek-komplek tersebut,
juga dibangun dan dikembangkan dengan cara yang kurang lebih serupa. Pada perumahan-
perumahan tersebut drainase air hujan dan air buangan tidak nampak ditangani terencana dengan
baik.
3
Pengembangan bangunan lain seperti pertokoan, infrastruktur jalan, tidak ada kejelasan bagaimana drainasenya ditangani. Pada jalan-jalan baru, bangunan seperti rumah, ruko dan gedung- gedung lainnya, dibangun dengan dinaikkan cukup tinggi terhadap muka tanah asli. Ini dimaksudkan agar bangunan tersebut aman dari banjir. Saluran pinggir jalan juga ada. Tetapi, kearah mana aliran air akan dialirkan, tidak jelas.
Selain itu karena saluran cukup panjang, maka kemiringannya tidak sesuai dengan kaidah hidrolika, sehingga besar kemungkinan dengan berjalannya waktu, saluran-saluran tersebut akan tertutup oleh sedimentasi. Tersumbatnya saluran makin bertambah parah dengan adanya perilaku membuang sampah sembarangan. Apalagi kalau saluran tersebut dibuat tertutup (box), seperti di jalan S. Parman.
Untuk menanggulangi masalah kemungkinan banjir ini, maka Pemerintah Daerah Kota Banjarmasin (2009) mengundangkan peraturan tentang bangunan konstruksi panggung, berupa Peraturan Daerah no. 14 Tahun 2009, tentang kewajiban membangun harus berupa konstruksi panggung. Pada Perda tersebut Pemerintah mewajibkan agar pembangunan gedung permanen adalah berupa panggung. Perda ini menganggap, banjir yang terjadi di Kota Banjarmasin disebabkan oleh karena bangunan yang konstruksinya sepenuhnya diurug. Pengurugan ini menyebabkan berkurangnya daerah resapan. Dengan mengecilnya daerah resapan maka air hujan yang tidak terserap berubah menjadi genangan
Dengan Perda tersebut, diharapkan kolong bangunan pada konstruksi panggung bisa meresapkan air hujan lebih banyak, sehingga kelebihan air hujan bisa terserap habis. Dengan demikian adanya Perda ini, bila dilaksanakan dengan baik, maka persoalan banjir/genangan akan teratasi.
Apakah dengan Perda ini Banjarmasin akan terlindungi dari banjir. Hal ini belum sepenuhnya terbukti, karena belum ada penelitian.
1.1 Sifat Tanah Pada Daerah Berkontur
Pada daerah yang berkontur, air hujan akan mengalir dengan dua cara yaitu, berupa aliran permukaan (run off) dan aliran air tanah (ground water). Air akan mengalir dan berakhir pada badan air. Badan air disini adalah sungai, danau atau rawa. Tinggi badan air adalah muka air sungai, air tanah atau sumur (Gambar 2). Kaidah-kaidah yang diberlakukan dalam perancangan sistim drainase air permukaan adalah hidrologi hujan dan hidrolika saluran. Teknik drainase permukaan ini telah cukup dikuasai penerapannya.
Saluran mengikuti kaidah-kaidah hidrolika antara lain kemiringan memanjang (slope) dan luas
penampang saluran. Slope yang kurang dari 2%, menyebabkan kecepatan aliran rendah dan lama-
lama akan terjadi endapan (sedimentasi), yang pada akhirnya saluran tersumbat. Luas penampang
4
saluran harus cukup besar, agar bisa menampung debit air yang mengalir. Penampang yang terlalu kecil menyebabkan air akan meluap keluar saluran.
Aliran air tanah adalah porsi aliran air yang meresap pada permukaan tanah dan akan bersifat meninggikan permukaan air tanah di bawahnya. Besarnya porsi aliran ini tergantung pada kondisi permukaan tanah, sifat permeabilitas lapisan tanah dan tebalnya lapisan peresap (dalamnya letak permukaan air tanah). Permukaan yang kedap air akan menghalangi air meresap kedalam. Sifat tanah yang permeabilitasnya tinggi memudahkan aliran air resapan masuk kedalam lapisan tanah.
Permukaan air tanah yang jauh di bawah, berarti volume tanah yang bisa diresapi air akan lebih besar, dengan demikian, air yang bisa diresapkan, juga akan lebih banyak.
Untuk memperbesar porsi aliran ini, teknik-teknik sumur resapan bisa diaplikasikan. Pada prinsipnya teknik ini adalah memperluas bidang kontak lapisan tanah yang bersinggungan dengan aliran air.
Gambar 2. Drainase pada daerah tanah berkontur (sumber: Rusdi HA, 2009)
1.2 Sifat Tanah di Daerah Rawa
Berbeda daerah yang berkontur, pada daerah rawa muka air tanah, sama dengan permukaan tanah, bahkan pada daerah-daerah tertentu, muka air tanah, lebih tinggi dari muka tanah (Gambar 2a dan Gambar 2b).
Keadaan tanah pada daerah rawa adalah jenuh air, yaitu seluruh pori-pori tanah terisi oleh air.
Air hujan atau air yang mengalir dipermukaannya, tidak akan diserap oleh tanah. Permukaan tanah hanya berupa suatu luasan yang dapat menampung air diatasnya. Hujan akan segera meninggikan permukaan air bila areanya sempit dan terkurung. Permukaan yang lebih luas dengan sendirinya memperlambat naiknya muka air oleh hujan.
Gambar 2a. MT = MA Gambar 2b. MT ≠ MA
MT MT=MA MA
Lapisan peresap
5
Permukaan yang sempit tapi berhubungan dengan permukaan yang lebih luas, terhubung dengan sungai, saluran atau danau, dapat mencegah terjadinya penumpukkan air hujan penyebab genangan.
Dengan demikian, drainase lahan pada tanah rawa yang tidak bisa menyerap air tersebut, adalah dengan menjamin terjadinya aliran air hujan ke badan air yaitu, sungai, saluran atau rawa yang lebih luas. Konstruksi panggung saja bisa menjamin tercegahnya banjir, bila kolong bangunan tersebut terhubung dengan badan air. Kolong bangunan hanya berfungsi seperti kolam retensi.
2. Penataan Kavling di Daerah Rawa Sekitar Banjarmasin
Perumahan telah banyak dibangun oleh pengembang dalam beberapa dekade ini. Teknik lansekap yang dipakai sebagian besar berupa grid. Pada periode-periode awal, kapling yang dibuat hampir seragam, baik luasannya maupun lebar jalan. Konsumen belum menuntut hal-hal yang rumit, karena pada saat itu kebutuhan rumah masih sangat tinggi.
Dengan adanya regulasi dan tuntutan konsumen, beberapa pengembang pada periode berikutnya mulai mengembangkan lansekap dimana jalan-jalan ada yang dibuat lebih lebar, sebagai jalan utama. Pada jalan utama ini pengembang menyediakan fasilitas umum seperti ruang terbuka, sekolah dan fasilitas peribadatan. Walaupun ada perubahan ini, bentuk lansekap pada umumnya masih memakai sistem grid.
Saluran drainase pinggir jalan dibuat pada jalan-jalan utama dan jalan-jalan lingkungan. Dari hasil observasi, saluran-saluran ini datar, tidak ada kejelasan kemana airnya dialirkan. Hal ini karena keadaan lahan relatif datar. Pada komplek perumahan yang lahannya tidak begitu luas, air buangan saluran ini akan mengalir keluar komplek ke lahan rawa yang masih kosong dan terus ke sungai.
Pada saat rumah-rumah di komplek berkembang, sehingga bangunan sudah memenuhi lahan, maka air buangan belum tentu terfasilitasi mengalir kesungai. Demikian juga kalau komplek tetangga juga dibangun (atau pada suatu komplek yang sangat luas), maka air buangan ini perlu dirancang, kemana akan dialirkan.
Untuk menanggulangi hal ini, Pemerintah Kota Banjarmasin, mengeluarkan peraturan (Walikota Banjarmasin, 2009) bahwa bangunan harus dibangun dengan konstruksi panggung. Peraturan ini bermaksud agar kolong di bawah bangunan bisa menerima air buangan saluran dan air hujan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, tanah rawa pada sifatnya tidak bisa meresapkan air, karena
jenuh air. Jadi terminologi 'kolong bangunan untuk resapan air', tentu tidak tepat. Yang benar
adalah kolong bangunan tersebut berfungsi sebagai kolam retensi, menerima air buangan tersebut
untuk sementara yang selanjutnya dialirkan ke badan air. Penyelesaian ini cocok bila lahan
6
komplek bangunan relatif kecil, sehingga kolong bangunan masih berhubungan dengan lahan terbuka.
Pada komplek perumahan yang relatif luas, atau fasilitas yang dibangun lengkap seperti kampus, terminal, dlsb., perlu dirancang pola pengaliran air buangan secara lengkap. Hal ini tentu menjadi suatu sistem drainase tersendiri yang sampai saat ini konsepnya masih sepotong-sepotong dan belum jelas.
3. Konsep Penataan Lahan di Banjarmasin
Ada beberapa studi sudah dilakukan dalam penataan kapling yang terkait tentang hal drainase lahan untuk daerah rawa seperti Banjarmasin. Disini akan dipaparkan studi dari Iberahim, Dahliani dan Umar.
3.1 Sistem Saluran pada Kapling
Iberahim (2008) merancang sistem drainase pada komplek perumahan berbasis saluran.
Perumahan tidak mutlak harus konstruksi panggung. Air buangan rumah tangga dan air hujan disalurkan melewati sistem saluran hingga ke sungai. Pada suatu komplek perumahan setiap kelompok kapling mempunyai saluran drainase di belakang kapling. Dengan demikian setiap kapling tidak berbatasan langsung dengan kapling di belakangnya, tetapi ada jarak untuk mengakomodir saluran (Gambar 3).
Gambar 3. Kapling dengan Saluran di Belakang
Urutan dari ketinggian permukaan saluran, yang tertinggi adalah saluran kapling, terus menurun, sehingga saluran yang terrendah adalah saluran primer. Saluran kapling tidak perlu terlalu lebar hanya sekitar 0,5 s.d. 1,0 m, karena saluran ini hanya menampung air hujan dan buangan perumahan seluas 1 blok. Ketinggian dasar saluran kapling dibuat sedemikian, yaitu lebih tinggi dari pada air pasang tertinggi, berarti tidak terpengaruh oleh muka air sungai. Dengan demikian,
Jalan
Saluran
Saluran
7
saluran ini selalu dalam keadaan kering, sehingga mudah pemeliharaan dan pembersihannya.
Fungsinya mengalirkan air buangan dan air hujan.
Setiap kapling dapat dibangun seperti halnya di atas tanah yang berkontur, tidak diharuskan konstruksi panggung. Tinggi lantai bangunan dibuat 1 atau 1,5 m lebih tinggi dari pinggir saluran kapling, sehingga air buangan dan air hujan dari lahan kapling dapat mengalir ke saluran tersebut.
Saluran pinggir jalan di depan kapling diatur sedemikian rupa agar terhubung juga ke saluran kapling.
3.2 Drainase Kapling Perumahan di Daerah Rawa
Dahliani (2012) membuat konsep tapak pemukiman pada daerah rawa berdasarkan data historis pola perkembangan yang ada. Pada saat awal dimana perumahan hanya berupa sekelompok kecil rumah yang terletak tidak jauh dari tepi sungai, maka rumah-rumah dibangun dengan sistem panggung. Jalan-jalan berupa titian kayu atau diurug sebagian untuk menghubungkan antar-rumah dan ke jalan umum (Gambar 4)
Pada tahapan ini, persoalan drainase lahan belum ada. Air buangan rumah tangga dan air hujan mengalir secara bebas ke lahan sekitar rumah dan selanjutnya mengalir ke sungai.
Gambar 4. Tapak Permukiman Pinggir Sungai (Sumber: Dahliani, 2012)
Pola hidup di Banjarmasin dan sekitarnya pada awalnya bertumpu pada sekitar sungai. Tetapi
seiring dengan bertambahnya penduduk, maka daerah yang jauh dari sungaipun mulai
dimanfaatkan menjadi daerah perumahan.
8
Rumah tetap dibangun dengan konstruksi panggung. Halaman depan rumah diurug sehingga terhubung dengan jalan. Tampak depan sepintas lalu perumahan ini seperti terletak dibangun ditanah keras dengan sistem diurug (Gambar 5). Air hujan dan buangan rumah tangga langsung ditampung oleh kolong rumah. Disebelah depan kolong rumah ini tertutup oleh halaman rumah, tetapi ke kiri dan kanan bangunan masih berhubungan. Selanjutnya seluruh komplek perumahan mempunyai sistem saluran yang dapat menyalurkan air buangan ini ke sungai (Gambar 6).
Gambar 5. Tapak Pemukiman yang Jauh dari Sungai (Sumber: Dahliani, 2012)
Gambar 6. Sistem Drainase Komplek Perumahan (Sumber: Dahliani, 2012)
Dari usulan Dahliani ini, perumahan masih harus dibangun dengan sistem panggung. Pada komplek yang relatif kecil dan terletak di dekat bantaran sungai, air kolong rumah dianggap masih mudah terhubung ke sungai melalui saluran-saluran tersier, sekunder dan primer.
saluran primer saluran primer
saluran sekunder