• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemerintah telah membentuk Badan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemerintah telah membentuk Badan"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

SALAM REDAKSI

01 PENANGGUNG JAWAB

Inspektur Utama

02 DEWAN REDAKSI

1. Adam Fuadi

2. Hendra Suryanto

3. Herwin Heriyanto

03 EDITOR

1. Suranto

2. Dianita Aryantini

3. I Dewa Made M.

4. Intan K. Putri

5. Sakti Nasution

6. Rosmaniar Dini

04 DESAIN GRAFIS

1. Syafira Dwi Herliana

2. Kharis Habib Hidayat

05 SEKRETARIAT

1. Nicki Rianti

2. Azmy Maulida K

3. Nina Shabrina

4. Putri Raudhatul Jannah

06 FOTOGRAFER

1. M. Firmansyah

2. Medisita Istiqmalia

P

emerintah telah membentuk Badan

Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN,

dimana sejumlah lembaga litbang

telah berintegrasi, dan ke depan

diproyeksikan akan berintegrasi pula beberapa

lembaga litbang lainnya. Kepala BRIN Laksana

Tri Handoko menyampaikan bahwa BRIN

merupakan sebuah badan yang bertanggung

jawab untuk melakukan konsolidasi berbagai

penelitian dan pengembangan (litbang)

pemerintah.

BRIN memiliki 3 arah program, yakni

konsolidasi sumber daya baik manusia,

infrastruktur, anggaran, iptek untuk

meningkatkan critical mass, kapasitas

dan kompetensi riset Indonesia untuk

menghasilkan invensi dan inovasi sebagai

fondasi utama Indonesia Maju 2045. Kedua,

menciptakan ekosistem riset sesuai standar

global yang terbuka (inklusif) dan kolaboratif

bagi semua pihak yakni akademisi, industri,

komunitas, pemerintah. Ketiga, menciptakan

fondasi ekonomi berbasis riset yang kuat

dan berkesinambungan dengan fokus digital,

green, blue economy.

Target berikutnya menjadikan Indonesia

sebagai pusat dan platform riset global berbasis

sumber daya alam dan keanekaragaman

(hayati, geografi, seni budaya) lokal,

memfasilitasi dan enabler industri lokal

melakukan pengembangan produk berbasis

riset, dan menciptakan industri dengan basis

riset kuat dalam jangka panjang. Dalam edisi

ke-X Majalah Infestera kali ini mengangkat

tema “Pengawasan Era Baru Litbangjirap

BRIN” (Tim Infestera).

(3)
(4)

A

cara puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-26 pada hari Selasa tanggal 10 Agustus 2021 diperingati secara daring melalui Zoom Meetings dan channel Youtube BRIN. Acara tersebut dapat disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada acara puncak ini Presiden RI Joko Widodo memberikan arahan peringatan HAKTEKNAS. HAKTEKNAS diperingati berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 71 Tahun 1995. Peringatan Hakteknas ke-26 ini dihadiri oleh Wakil Presiden RI, Ketua DPD RI, sejumlah Menteri maupun Wakil Menteri Kabinet Indonesia Maju, para mantan Menristek, para Kepala LPNK, Ketua Ombudsman,

Wakil Jaksa Agung, Kepala Staf Kepresidenan, Wakil KSAD, sejumlah Gubernur dan Wagub, para Duta Besar RI, para Duta Besar negara sahabat, para pimpinan Perguruan Tinggi, para Kepala LLDikti, jajaran pejabat BRIN, para Direktur dan Komisaris BUMN dan

industri, para inventor, inovator, dan perekayasa Indonesia.

Tema yang diusung dalam peringatan HAKTEKNAS 2021 kali ini adalah “Integrasi Riset untuk Indonesia Inovatif.” Tujuan diselenggarakan HAKTEKNAS adalah untuk menghargai keberhasilan putra-putri Indonesia dalam memanfaatkan, menguasai, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta memberi dorongan agar LAPORAN UTAMA

(5)

iptek semakin berkembang. Kegiatan HAKTEKNAS juga dimaksudkan untuk menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem iptek yang terintegrasi dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, serta upaya pemerintah dalam menyiapkan talenta iptek masa depan. Peringatan Hakteknas kali ini bertepatan dengan pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019, BRIN dibentuk sebagai pelaksana penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan teknologi serta invensi dan inovasi yang terintegrasi. Eksistensi BRIN sebagai lembaga yang otonom dan bertanggung jawab langsung kepada

Presiden memegang peranan dasar yang cukup vital khususnya dalam upaya mengintegrasikan program anggaran dan sumber daya iptek. Pembentukan BRIN tersebut merupakan capaian terbesar Presiden Joko Widodo dalam menggapai cita-cita besar Bung Karno dan Bapak BJ. Habibie. Momentum pembentukan BRIN juga sebagai bagian dari penguatan ekosistem inovasi Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, dalam sambutan peringatan HAKTEKNAS ke-26 Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, “Kita harus terus mendorong hadirnya inovasi berbarengan dengan riset sebagai basis dari perkembangan ekonomi kita. Untuk membangun hal tersebut, kita perlu

(6)

membangun ekosistem riset dan inovasi yang kuat serta kolaborasi yang solid antara pemangku kepentingan yang didukung oleh kebijakan-kebijakan terkait.” Lebih lanjut Kepala BRIN mengingatkan perlunya membangun ekosistem riset dan inovasi yang kuat tersebut. “Ketika ekosistem yang kuat telah terbangun, niscaya kontribusi riset dan inovasi di seluruh aspek kehidupan dapat semakin kita rasakan sumbangsih riset dan inovasi untuk menghasilkan solusi dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pemerintah oleh industri maupun masyarakat”. Lahirnya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2019 tentang Sisnas Iptek menjadi kunci dan fondasi yang kokoh untuk memperkuat sistem riset dan inovasi di Indonesia. Keberadaan undang-undang tersebut diharapkan dapat memperbaiki ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Kemudian untuk mewujudkan amanat tersebut BRIN telah menetapkan tiga arah yaitu mengintegrasikan sumber daya iptek, menciptakan sistem riset sesuai standar global, dan meningkatkan kompetensi SDM riset dan Inovasi. Pada bagian lain Kepala BRIN juga menekankan

betapa besarnya potensi Indonesia menjadi negara maju. Menurut Kepala BRIN “Indonesia sebenarnya mempunyai semua komponen-komponen pendukung untuk menjadi negara maju, potensi sumber daya alamnya begitu melimpah, keanekaragaman hayati, dan keanekaragaman budayanya sangat tinggi disertai juga posisi geografis yang strategis, sumber daya manusia dengan populasi yang tinggi juga merupakan modal yang besar, namun potensi ini tidak serta merta membuat negara kita menjadi maju.” Arahan Hakteknas oleh Presiden RI Joko Widodo:

Presiden ke 7 RI, Joko Widodo, dalam sambutan secara virtual, menyatakan bahwa walaupun kita sedang fokus menangani pandemi Covid-19 utamanya varian Delta, namun kita harus melakukan reformasi struktural untuk membangun Indonesia kedepan. Salah satu pilar kebijakannya adalah hilirisasi industri dalam negeri, kita tidak boleh hanya memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah tetapi kita harus bisa LAPORAN UTAMA

LAPORAN UTAMA

(7)

meningkatkan nilai tambah usaha dan peluang kerja melalui industri hilir dan kuncinya adalah teknologi. Presiden juga menyatakan bahwa kita mempunyai kesempatan besar dalam membangun industri mulai dari hulu sampai hilir sebagai contoh pertambangan nikel, kita punya tambang nikel tapi tidak boleh berhenti di situ saja, kita harus mengembangkan industri hilir seperti industri lithium batre sampai pada produksi mobil listriknya. Semakin banyak rantai pasok yang diproduksi di dalam negeri semakin banyak juga nilainya untuk masyarakat, bangsa, dan negara, tetapi semua itu kuncinya adalah teknologi, terutama teknologi masa depan arahnya menuju green economy sudah sangat jelas. Pasar dunia akan mengarah kepada green product terutama yang low carbon, resources efficient, and socialy conclusif, demikian juga dengan digital economy sekali lagi kuncinya adalah teknologi, demikian pula upaya kita dalam meningkatkan kelas UMKM usaha mikro menengah dan kecil. Pemerintah terus meningkatkan UMKM ke pembiayaan serta melakukan risk skilling dan up skilling UMKM. Tetapi ini tidak cukup, kenaikan kelas UMKM di semua sektor termasuk sektor pertanian sangat membutuhkan teknologi yang relevan, sekali lagi kuncinya adalah teknologi. Oleh karen itu, momentum peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan teknologi nasional. Apalagi momentum ini bersamaan dengan lahirnya BRIN. Ini adalah untuk mempercepat kedaulatan teknologi kita dan menjadikan kita sebagai produsen teknologi. Kita saat ini memiliki ratusan ribu peneliti dan inovator dan juga ribuan diaspora peneliti kelas dunia, kekuatan inilah yang harus dikonsolidasikan. Oleh karena itu, pertama BRIN harus segera melakukan konsolidasi dan integrasi kekuatan riset dan inovasi nasional. BRIN harus berburu teknologi dari para peneliti dan inovator kita untuk di inkubasikan, terapkan, dan industrikan. BRIN juga harus berani mengakuisisi motorik teknologi maju yang belum kita miliki dan kemudian mengembangkannya, karena mungkin saja teknologi yang kita butuhkan belum diproduksi di dalam negeri. Oleh karena itu BRIN harus segara menyiapkan akusisi teknologi yang cepat dan akurat agar kita tidak terus menerus menjadi konsumen teknologi.

Kita harus menjadi produsen teknologi dan bahkan semakin berdaulat dalam hal teknologi. Dengan pasar Indonesia yang besar dan sumber daya alam yang melimpah, kita mempunyai laverage yang kuat untuk bernegosiasi. Carilah cara cerdas untuk melakukan akuisisi teknologi yang murah serta menjadikan kita sebagai produsen teknologi yang mandiri. Kemudian di era digital ini sangat mudah bagi BRIN menjadi pusat perkembangan teknologi di Indonesia, BRIN harus mampu mengorkestrasi sumber daya manusia, infrastruktur, dan program dan anggaran agar menjadi kekuatan besar untuk menghasilkan karya nyata yang mensejahterakan rakyat. BRIN harus segera mensinergikan peneliti di lembaga-lembaga pemerintah dan swasta, up technologi, talenta, diaspora, dan anak-anak muda yang sangat militan. Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengucapkan Selamat Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-26, mari konsolidasikan kekuatan nasional kita untuk menjadikan kita sebagai produsen teknologi bagi Indonesia yang tangguh, maju, dan terus tumbuh.

Logo BRIN

Dalam acara Peringatan Hakteknas ke 26 ini, di launching logo BRIN yang mencerminkan semangat tinggi masyarakat Indonesia dalam riset dan inovasi. Logo bernuansa kekuatan sumber daya Indonesia untuk riset dan inovasi dan menjadikan Indonesia sebagai produsen teknologi untuk kemajuan dan kesejahteraan. Logo BRIN yang diperkenalkan tersebut sebagai berikut: (Tim Infestera).

(8)
(9)
(10)

FISIKAWAN PELETAK FONDASI

LITBANGJIRAP terintegrasi

indonesia

PROFIL

PROFIL

T

onggak Era Baru penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (Litbangjirap) ilmu pengetahuan dan teknologi terintegrasi di mulai. Tiang pancang Era Baru Litbangjirap Terintegrasi ini ditandai dengan pelantikan Laksana Tri Handoko sebagai kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebuah lembaga pemerintah yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 33 tahun 2021 yang merupakan Amanah Undang-Undang No. 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sesuai amanat pasal 3 Perpres 33 Tahun 2021, BRIN ditugasi untuk membantu Presiden dalam menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi secara nasional yang terintegrasi serta melakukan monitoring, pengendalian, dan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi BRIDA. Dr. Laksana Tri Handoko. M.Sc. telah resmi dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tanggal 28 April 2021 lalu, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 19M/2021. Handoko, sapaan akrabnya, sebelum ditunjuk sebagai Kepala BRIN, adalah Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala BRIN bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Pembentukan BRIN sekaligus menandai pemisahan fungsi riset dan inovasi dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), Kementerian yang dibentuk dengan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun

2019 tentang Organisasi Kementerian Negara. Tugas dan fungsi riset dan teknologi pada Kemenristek/BRIN selanjutnya diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek). Penyerahan Tugas dan Fungsi Ristek tersebut dilakukan meski dengan cakupan yang lebih terbatas, yaitu aktivitas riset dan teknologi di lingkungan perguruan tinggi serta pengelolaan dana BOPTN. Handoko, pria kelahiran Malang, tanggal 7 Mei 1968, praktis menyelesaikan Pendidikan ke sarjanaannya di Jepang. Handoko muda menyelesaikan pendidikan Strata satu bidang Fisika di Universitas Kumamoto Jepang tahun 1993 pada usia 25 Tahun. Dua tahun kemudian, pada tahun 1995, Handoko berhasil meraih gelar Master Bidang Fisika Teori di Universitas Hiroshima Jepang. Pendidikan Strata Tiga, berhasil diselesaikan tiga tahun setelahnya (1998), dengan memperoleh gelar doktor Fisika pada Universitas Hiroshima, Universitas yang sama dengan perolehan gelar sarjana strata dua nya. Karir Handoko dimulai sebagai peneliti di Pusat Penelitian Fisika tahun 1987 sebagai CPNS dan kemudian menjadi Kepala Grup Fisika Teori dan Komputasi Pusat Penelitian Fisika tahun 2002-2012. Di tahun 2012 hingga 2014, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI dan selanjutnya menjadi Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) sebelum menjadi menjadi Kepala LIPI pada 2018. Handoko juga memiliki segudang prestasi ilmiah.

(11)

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya, Handoko melanjutkan karir penelitinya di lembaga penelitian dunia seperti The Abdus Salam International Center for Theoretical Physics (ICTP) di Trieste Italia. Kemudian di Deutsches Elektronen-Synchrotron (DESY) di Hamburg Jerman, serta Department of Physics - Yonsei University di Korea Selatan. Beliau juga mendapatkan Humboldt Fellow di tahun 1999, serta Simons ICTP Associate periode 2014 hingga 2019. Selain itu, ia adalah Senior Fellow IEEE, penerima berbagai penghargaan ilmiah seperti Habibie Award 2004 dan Ahmad Bakrie Award 2008. Juga aktif di berbagai himpunan profesi di bidang fisika dan komputasi. Saat ini juga sebagai Chairman dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). Untuk mengetahui lebih banyak arah dan kebijakan pelaksanaan program litbangjirap dan inovasi di Indonesia kedepan, berikut hasil wawancara tim Infestera dengan Kepala BRIN Dr. Laksana Tri Handoko. M.Sc. Bagaimana pandangan atau konsep Bapak terkait organisasi BRIN dan integrasi Lembaga Litbangjirap?

BRIN adalah lembaga yang besar, dan besarnya memang tidak tanggung-tanggung. Kalau rekan saya di luar negeri itu bilangnya belum pernah terjadi di negara manapun. Tapi memang kondisi dan fakta bahwa lembaga riset di Indonesia itu didominasi lembaga riset dan inovasi pemerintah, dan itu tersebar di begitu banyak kementerian/ lembaga, yang masih masing-masing berdiri sendiri, yang secara teori ada koordinasi namun secara prakteknya sulit untuk dilakukan. Jadi ini memang kondisi yang sangat menantang, dan kondisi ini menurut saya sudah di identifikasi juga oleh Bapak B.J. Habibie, bahkan Bung Karno. Pada tahun 60-an sudah ada bukunya untuk melakukan hal itu, yaitu untuk menghindari pemborosan dan seterusnya. Itu sebabnya pada saat itu Bung Karno mengintegrasi hampir 17 lembaga riset ke dalam MIPI (Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada waktu itu, yang kemudian menjadi LIPI pada tahun 1967. Itu ada Lembaga Ekonomi Nasional, Lembaga Biologi Nasional, Lembaga Oseanografi Nasional, Lembaga Instrumentasi, Lembaga Fisika Nasional, Lembaga Kimia Nasional, dan semua yang berkaitan dengan riset dan teknologi. Lembaga tersebut semua sekarang ada di LIPI. Makanya sekarang di LIPI ada namanya Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian fisika, seperti itu.

Kalau kita flashback dari sejarah itu, ya ini penyatuan yang belum selesai, Pekertjaan Rumah (PR) sejarah penyatuan yang belum selesai. Jadi karena kalau tidak disatukan memang akhirnya jadi boros, seperti yang telah disampaikan Bung Karno dan Pak Habibie. Menurut Pak Habibie, itu PR yang belum bisa beliau selesaikan, memang masih era peralihan dari orde baru sebagai Presiden. Selain itu, memang sistem riset dan inovasi di Indonesia perlu diperbaiki. Potensi pemborosan dimana-mana, karena memang Lembaganya sendiri-sendiri: LIPI sendiri, BPPT sendiri, LAPAN sendiri, BATAN sendiri, dan susah kerja samanya jadi kan repot. Jadi ini memang keniscayaan, yang pada waktu itu tinggal menunggu waktu, dan tinggal menunggu kapan diputuskan karena secara politik. Jadi proses dan diskusi terkait hal ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Pembentukan BRIN ini akan menjadi bagian sejarah iptek sejarah yang terbesar sejak penyatuan ke MIPI pada tahun 60-an. Saya berprinsip tidak mau sekedar membenarkan tradisi. Saya mau mentradisikan yang benar. Karena setiap mau mengeksekusi yang seperti ini, yang selalu disampaikan oleh orang adalah ini budaya kami bukan begitu. Meski bukan alasan rasional, tapi itu yang selalu disampaikan. Di LIPI pun juga sama. LIPI itu seperti miniatur problem riset di Indonesia. Di LIPI itu ada 30-an unit riset, administrasinya saya jadikan satu, saya tarik ke atas, langsung teriak semua orang. Tapi itu semua memberikan pengalaman kepada kita dan berbagai best practice-nya yang bisa diadopsi ke BRIN saat ini. Di lain sisi orang sudah memiliki gambaran besar akan seperti apa BRIN dengan melihat pengalaman di LIPI. Namun sekarang LIPI sudah banyak enaknya sekarang, ya walaupun memang awal orang lihatnya tidak enak. Tapi kalau sekarang, Insya Allah sudah enak. Dan tim kita kan sudah terlatih ya, jadi sudah tahu apa yang dilakukan, langkah demi langkahnya itu. Terkait integrasi Lembaga Litbangjirap ke dalam BRIN, langkah awal atau strategi apa yang akan Bapak lakukan?

Kalau kita bicara riset, modal riset itu ada 3 (tiga), yang pertama SDM unggul, yang kedua infrastruktur, yang ketiga anggaran. SDM unggul ini yang paling gede kontribusinya 70%, infrastruktur 20%, dan yang paling kecil anggaran, sisanya (10%). Kalau kita punya dua saja, SDM unggul sama infrastruktur, anggaran kecil pun tidak masalah. Tapi tanpa anggaran tidak

(12)

PROFIL

PROFIL

bisa bergerak juga. Kalau nol sama sekali tidak bisa bergerak. Jadi anggaran pasti jadi enabler utama tapi secara kontribusi total sebenarnya kecil. Nah, karena itu kalau kita bicara integrasi, yang kita lakukan terkait, programnya dulu. Anggaran kan ikut program, money follow function. Jadi program yang diintegrasi dulu. Itu yang dilakukan oleh Bappenas sejak tahun 2017. Jadi misal baseline untuk melakukan integrasi itu, Bappenas sudah punya juga data programnya. Kalau Bappenas kan sudah ada RO dan KRO nya, jadi sudah jelas sudah tidak ada kegiatan riset yang disembunyikan dan kita sudah punya semua datanya. Dengan program yang kemarin sudah disisir Bappenas itu, seperti Ristek dan 4 LPNK anggarannya sekitar 6,6 Triliun untuk anggaran 2022, jadi yang benar-benar yang terkini. Kalau dari K/L 11,1 Triliun, dan itu sudah cukup besar, meskipun arahan Presiden 26 Triliun. Namun saya sudah sampaikan kepada Menteri Keuangan bahwa dari 26 Triliun, untuk ristek 16 Triliun sudah cukup. 10 Triliun untuk beli vaksin. Karena bagaimana pun kita harus melakukan secara bertahap, tidak bisa langsung dialokasikan besar tanpa tahapan yang jelas. Ini sekaligus membantu negara kita untuk menghadapi pandemi, dan menjadi bentul riil efisiensi anggaran. Kalau kita dikasih 26 Triliun juga tidak mungkin bisa menyerapnya secara maksimal, itu harus bertahap, jadi 16 Triliun saja cukup. Dengan 16 Triliun tadi kita langsung bisa memperkuat infrastruktur, itu nomor satu. Jadi kalau kontribusi terbesar itu infrastruktur dulu, baru SDM unggul setelah itu anggaran. Tapi kalau strategi manajemennya, anggaran dulu, dengan anggaran kita bisa memperkuat infrastruktur, dengan memperbarui infrastruktur kita bisa meng-attract talenta SDM unggul. Kalau di LIPI untuk infrastruktur sudah diperbaiki 3 tahun lalu, nah itu akan jadi modal awal yang kuat nantinya. Karena kalau saya lihat seperti di BPPT hampir tidak ada infrastruktur, infrastrukturnya kecil, kemudian untuk di LAPAN dan BATAN juga sudah mulai termakan waktu sehingga harus dilakukan revitalisasi besar-besaran. Kalau BPPT arahnya hilirisasi yang sangat ujung, Tapi di LIPI kita sudah besar-besaran lakukan pembaruan infrastruktur, jadi minimal modal awal kita sudah ada untuk riset-riset bidang tertentu, baru kemudian nanti balitbang kementerian secara bertahap. Sampai saat ini akan ada 14 organisasi riset, jadi itu yang akan running pertama jalan dengan jumlah pegawai 12 ribu orang, kurang lebihnya.

Visi dan misi Bapak untuk membawa BRIN kedepannya seperti apa?

BRIN itu ada bukan untuk BRIN, bukan untuk periset BRIN. Bukan untuk BRIN-nya itu sendiri. Jadi BRIN itu ada untuk negara. Ini yang tidak boleh lupa. Selama ini kan sebagian masih merasa sebagai milik K/L tertentu. Nanti juga masih ada BRIDA, yang memang bukan organ vertikal BRIN, tapi mereka berkoordinasi dengan BRIN, di 34 provinsi dan 524 kabupaten/ kota, Jadi sivitas BRIN harus memiliki semangat untuk berkinerja dan berkontribusi untuk semuanya, tidak sekedar untuk BRIN. Termasuk di dalamnya melayani K/L yang membutuhkan dukungan riset untuk mendukung kebijakan berbasis bukti. BRIN itu ada supaya orang lain dapat masuk ke aktivitas riset lebih mudah. Karena aktivitas riset ini semua orang boleh dan bisa dilakukan siapa saja. Karena riset itu basisnya kreativitas yang bisa ada di setiap manusia. Bisa jadi nanti ibu rumah tangga kesulitan mencuci baju, dia kepikiran buat sesuatu, terus melakukan penelitian yang bisa mempermudah. Bisa jadi lalu dipasarkan, itu kan hebat. Di negara yang maju itu seperti itu, justru kebanyakan inovasi 80% dari komunitas, biasanya level paten sederhana, tapi itu bagus. Kalau kita lihat di supermarket yang barang yang kecil-kecil itu, yang 10 ribu/20 ribu untuk anak, itu kan paten sederhana yang umum. Di invensi, dikembangkan oleh komunitas. Komunitas yang memang repot melakukan sesuatu untuk kehidupan sehari-hari, jadi mereka melakukan inovasi. Apalagi kalau itu sudah masuk industri. Indonesia bisa maju, kalau ekonominya maju. Dalam konteks duniawi tentunya, ekonomi maju kalau pelaku usaha maju. Bussinesman maju itu kalau dia bisa menjual jasa/produk yang nilai tambahnya tinggi, bagaimana membuat sesuatu yang nilai tambahnya tinggi. Disitulah peranan utama dari riset, untuk memberi nilai tambah yang semakin tinggi. Enabler utama dari nilai tambah produk itu ya riset, termasuk yang riset-riset sederhana tadi. Jadi itu tujuan utama kita, membuat orang semakin mudah semakin nyaman tidak perlu banyak investasi dia bisa mengembangkan aktivitas riset, karena tidak mungkin BRIN memajukan negara, lembaga sebesar apapun itu. Pemerintah itu kan fungsinya menjadi enabler, menjadi fasilitator. Menciptakan ekosistem dan iklim kompetisi yang sehat, iklim pasar market yang bebas, tapi yang terukur sehingga

(13)

tidak ada monopoli, setara. Kalau ada orang yang ekonominya lemah, dia harus ada afirmasi, dikasih beasiswa sehingga pada saatnya dia bisa naik kelas. Nah, ini juga sama untuk BRIN. BRIN harus menjadi fasilitator pelaku usaha agar bisa melakukan riset, karena masuk riset itu investasinya tinggi, hasilnya belum tentu. Itu namanya high cost dan high risk. Kalau sesuatu yang high cost dan high risk, disitu pemerintah harus hadir. Pakemnya seperti itu, di negara manapun. Pakemnya ya BRIN bisa dibilang berhasil kalau RnD di pelaku usaha itu tumbuh. Jadi indikatornya bukan karena BRIN tambah besar, itu nanti malah nggak tepat. Itu sama seperti BUMN, kalau BUMN tambah besar, terus tidak ada pelaku usaha yang bisa masuk di bidang itu, itu malah menunjukan tidak berhasil. BUMN itu kan masuk di sektor yang swasta tidak bisa masuk karena masih high cost - high risk, itu sudah secara ekonomis secara bisnis sudah terlihat. BUMN harus mundur agar swasta yang mengerjakan. Jadi swastanya tumbuh, karena swasta itu dinamis dalam jangka panjang, artinya lebih bagus. Selain itu, memang ada sesuatu yang perlu diregulasi untuk menciptakan sistem kompetisi yang seimbang, tidak bisa semua lepas dipasar. Itu tujuan BRIN kedepannya, dan harus menjadi begitu. Nanti BRIN pada saatnya kedepan, kalau lembaga riset swasta banyak yang tumbuh BRIN itu hanya fokus ke riset-riset yang swasta tidak mungkin masuk. Jadi BRIN itu melakukan riset misalnya seperti nuklir, riset angkasa, itu belum ada bisnisnya, riset untuk science murni, riset yang besar. Hasil riset dan Teknologi harus bisa

dimanfaatkan oleh masyarakat atau diproduksi oleh industri. Saat ini dunia usaha kita lebih cenderung sebagai pedagang dan tidak banyak melakukan riset. Padahal kita tahu, bahwa teknologi yang berbasis inovasi adalah motor pertumbuhan ekonomi. Melihat kondisi Indonesia, bagaimana BRIN mendorong pelaku usaha melakukan riset?

Kalau saya melihatnya itu sebagai bagian dari proses. Kita selalu bilang jika pebisnis dan pelaku usaha tidak ingin melakukan riset tapi hanya ingin mendapatkan untung yang cepat. Saya tidak percaya orang bisnis tidak ingin tahu mengenai riset. Masalahnya bukan mau tahu tentang riset atau tidak. Karena hukum di dunia bisnis adalah hukum uang. Karena memang

tujuan dari berbisnis adalah menghasilkan uang. Hal tersebut bukan sesuatu yang buruk karena tanpa uang negara juga tidak akan bisa maju. Jika pelaku usaha dipaksa untuk melakukan riset meskipun riset tersebut tidak well-proven, tidak ada mitigasi untuk output-nya, serta risikonya tidak terukur, tentu tidak akan ada industri yang mau menggunakan hasil riset tersebut. Jadi bukan orang bisnis yang tidak mau melakukan riset. Mereka tentu akan mau jika riset yang dilakukan well-proven dan produk yang dihasilkan juga jelas. Itu yang saya bilang kepada teman-teman semua termasuk ketika saya masih di LIPI mengapa saya ubah. Karena kita selama ini berpikirnya sebagai orang gajian. Kita membuat teknologi dan riset kemudian ditawar-tawarkan. Padahal tidak seperti itu best practices di negara lain. Hal tersebut hanya ada pada teori tertulis di manajemen. Jika mengikuti teori tersebut akan susah dilakukan di dunia riil karena teori tersebut ada untuk pembelajaran di kelas. Kita selalu melihat contoh di luar, misalnya pada perusahaan A dengan Professor B, hasil risetnya Professor B dihilirkan Perusahaan A. Itu adalah fenomena akhir yang kita lihat. Tapi tidak ada yang mau tahu bagaimana prosesnya hingga mencapai tahap tersebut. Proses sebelum tahap itu apa yang terjadi? Prosesnya adalah orang di Perusahaan A dan Professor B sudah saling mengenal dari waktu yang lama. Sedangkan yang kita lihat hanya fenomena di ujungnya saja, orang-orang tidak melihat proses sebelumnya. Jadi hilirisasi itu adalah hasil akhir dari kolaborasi, kolaborasi itu muncul karena ada interaksi antar manusia bukan institusinya. Karena yang penting ada di level manusianya. Jika dari level manusianya sudah tidak cocok maka akan sulit jadinya. Saya juga selalu bilang riset itu manusia bukan masalah institusi. Begitu juga ketika saya bilang kepada teman-teman tidak perlu memikirkan mengenai BRIN, BPPT, LIPI atau yang lainnya kalian tinggal memikirkan ingin bekerja dengan siapa dan melakukan riset apa dari yang sudah disepakati antar periset. Itu proses yang harus dibangun, bukan institusinya jika membicarakan proses hilirisasi. Kita sebagai lembaga riset dan inovasi negara yang saat ini sudah memiliki SDM periset dan infrastruktur riset. Sedangkan pelaku bisnis belum bisa masuk karena itu high risk dan high cost. Padahal pelaku bisnis tiap bulannya harus memberikan gaji kepada

(14)

PROFIL

PROFIL

pegawainya. Jika mereka disuruh untuk memikirkan riset yang notabene itu adalah pekerjaan kita yang tiap bulan sudah digaji juga tidak pantas. Jadi apa yang harus dilakukan? Bukalah laboratorium kita agar bisa dipakai semua orang. Karena laboratorium juga milik negara dan negara ada untuk rakyat. Jika laboratorium dibuka, orang bisnis juga akan diringankan karena tidak perlu investasi karena mereka hanya perlu membawa problem dan bahan untuk memulai riset. Karena bahan riset itu murah, yang mahal itu infrastruktur dan SDM-nya. Jika gagal pun tidak apa-apa karena tidak banyak loss juga. Tapi kita sudah menjadi fasilitator bagi pelaku usaha. Padahal jika risetnya berhasil dan kemudian dilisensi, dari lisensi 40% diberikan inventor dan 60% untuk negara. Penerimaan negara dari loyalti ini sudah lebih dari cukup. Yang lebih penting dengan ini masyarakyat melihat kehadiran pemerintah untuk memfasilitasi aktivitas riset para pelaku usaha di Indonesia. Bahkan di LIPI sudah sampai di level yang operasional dan maintenance infrastruktur tidak menggunakan APBN. Selama ini sebagian besar dari kita selalu memikirkan target PNBP. Padahal riset itu cost center by default bukan profit center. Jadi selama di LIPI saya sudah bilang ke Kemkeu, PNBP saya isi tapi tidak dari memungut dari pemakai infrastruktur, melainkan dari royalti. Saya juga ingin membuat PP dengan Menkeu mengenai optimalisasi aset yang rezimnya beda bukan aset yang idle. Itulah kesalahan fundamental manajemen riset kita selama ini. Yang saya lakukan di LIPI selama 4 tahun terakhir adalah infrastruktur riset kita sediakan, operasional dan maintenance kita tanggung, periset tinggal menggunakan. Laboratorium tersebut tetap dikelola terpusat namun periset memiliki akses untuk menggunakan laboratorium dan apapun peralatannya. Selain itu periset tidak saya kasih uang riset. Karena riset yang sebenarnya yang mahal itu infrastruktur dan SDM-nya sedangkan risetnya sendiri itu murah 100 juta atau 50 juta setahun pasti cukup. Untuk itu saya paksa mereka untuk mencari dana dari luar. Itu bukan berarti kita tidak mempunyai dana tapi untuk membuat periset mau mendengarkan orang atau sumber pendanaan. Untuk mencari dana ini periset harus berkompetisi dengan yang lain dalam mencari dana hibah. Dan tentunya mereka berusaha memenuhi keinginan yang mempunyai dana. Karena dana hibah pasti sudah ada ketentuan dan memiliki tujuannya. Misalnya dalam mendukung green technology,

sehingga periset juga harus menyesuaikan risetnya dengan ketentuan tersebut. Apalagi dengan mitra industri karena bahannya juga berasal dari mitra tersebut. Hal tersebut menjadikan periset semakin lebih baik karena tuntutan orang luar lebih ketat. Itu adalah ekosistem/iklim yang membuat riset menjadi lebih bagus. Jika riset tanpa kompetisi hasilnya juga akan tidak baik. Ini juga bukan konsep baru hanya best practices biasa di negara lain. Hanya belum biasa dilakukan di Indonesia. Tujuan utama kita itu sebenarnya bukan hilirisasi riset tapi memecahkan problem-nya pelaku usaha melalui teknologi yang dikembangkan dengan riset. Beda jika tujuannya hilirisasi riset, dimana kita riset dari keinginan sendiri kemudian ditawarkan agar orang mau menggunakannya. Kesalahan seperti ini sudah kita lakukan selama 50 tahun yang kemudian sebagian besar hasil riset hanya menjadi proyek riset saja. Pemerintah memberikan perusahaan

keringanan dengan adanya pengurangan pajak bagi industri yang melakukan riset, tapi peningkatan riset di dunia usaha tidak signifikan. Bagaimana pendapat dari Bapak mengenai hal tersebut?

Jika dilihat dari dunia usaha, adanya tax deduction memang bagus. Tetapi masalahnya bukan disitu. Tidak mungkin pengusaha bisa membuat laboratorium sedangkan dana yang dibutuhkan sangat besar, belum lagi anggaran operasionalnya sedangkan hasil dari risetnya belum tentu berhasil dan bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu kami ingin membuat open platform, dimana pengusaha tidak perlu investasi untuk memulai melakukan riset. Harapannya mereka akan mulai berinvestasi setelah mendapat keberhasilan dalam riset yang dilakukan. Bagaimana menurut Bapak mengenai fokus BRIN untuk bisa melakukan kerja sama global yang berfokus pada digital economy, green economy dan blue economy?

Dalam membenahi riset kita juga memiliki keterbatasan, oleh karena itu kita hanya akan berfokus pada digital economy, green dan blue economy yang memang menjadi ekonomi masa depan. Selain itu, kita mulai dari yang berbasis pada keanekaragaman lokal dan sumber daya lokal, yang kita sudah miliki sebagai local competitiveness. Misalnya keanekaragaman hayati, geodiversitas, dan keanekaragaman seni budaya.

(15)

Hal-hal itu yang selama ini kita lupakan. Padahal jika kekayaan tersebut diberikan sentuhan teknologi bisa meningkatkan harga barang yang dihasilkan. Misalnya pada kerajinan rotan. Hasilnya memang bagus namun material rotan masih belum diolah menjadikan kerajinan ini menjadi mudah rusak dan tidak memenuhi standar. Dengan peningkatan material rotan melalui teknologi, tentunya harga akan menjadi lebih tinggi dan dimungkinkan untuk ekspor. BRIN akan menjadi pendukung utama

Science Based Policy, bagaimanakah langkah Bapak untuk mencapai tujuan ini? Maritim adalah salah satu kekayaan hayati sekaligus kekayaan geografis Indonesia. Yang mana 60% terdiri dari laut dan belum dieksplorasi. Itu sebabnya sejak di LIPI prioritas saya membuat armada kapal riset. Dengan jadinya BRIN juga akan memperkuat hal tersebut karena kapal lain yang akan bergabung. Termasuk kapal baru yang sedang dibangun. Jika berbicara mengenai kebijakan maritim yang sarat dengan riset, kita tidak bisa bicara tanpa adanya data. Harus melihat kontur di dalam laut, belum lagi perdebatan mengenai sampah laut. Sedangkan data-data ini kita tidak memilikinya. Karena eksplorasi dan aktivitas riset kelautan itu minim. Jadi kita ingin meningkatkan riset kelautan sampai titik yang belum terjadi. Riset kelautan itu kita pasti bisa berkompetisi asal mempunyai armada kapal risetnya. Hal ini diakibatkan adanya asas cabotage yang mana kapal riset bendera asing tidak akan bisa masuk. Jadi harus menggunakan kapal riset Indonesia. Kolaborasi riset global yang paling mudah dilakukan adalah riset kelautan. Karena pasti orang luar akan tertarik. Selain itu kita bisa mengontrolnya dengan mudah, karena instrumennya milik kita dan yang mengoperasikannya juga kita sendiri. Dan data hasil risetnya wajib kita simpan. Kenapa orang luar tertarik karena laut itu tidak ada batasnya. Jika ingin melakukan riset kelautan harus dilakukan bersamaan dengan negara lain karena air bercampur baur dari laut negara lain dan menuju kebanyak tempat. Dalam konteks tersebut, riset kelautan memang paling menjanjikan. Tahun depan kita akan melakukan 4 ekspedisi dalam setahun. Kapal riset yang baru juga memungkinkan teman-teman periset melakukan riset yang lebih advance terkait kelautan.

Terakhir, bagaimana konsep pengawasan internal BRIN kedepannya?

Ini adalah tantangan yang baru dan luar biasa bagi Inspektorat Utama. Karena seperti yang diketahui ketika melakukan integrasi, yang pertama dilakukan adalah likuidasi. Jika ada likuidasi tentunya harus ada pengawasan yang mendampinginya. Kemudian juga pasti akan ada banyak audit khusus, seperti audit investigatif dan yang lainnya. Itu adalah tujuan jangka pendek kita. Sedangkan untuk jangka menengah dan jangka panjangnya, dengan skala organisasi yang sedemikian besar, karena tidak ada proses yang seragam dalam melakukan riset juga menjadi tantangan, maka diperlukan capacity building untuk para APIP-nya. Ini dikarenakan karakter tiap unit juga berbeda-beda. Sehingga pemahaman substansi pekerjaan menjadi penting. Meskipun dari pengalaman saya di LIPI bisa dibuatkan generiknya yang bisa berlaku setiap unit kerjanya. Khususnya secara personal saya sangat mementingkan integritas. Selanjutnya adalah kemauan untuk belajar, dan berkolaborasi dengan yang lainnya. Dalam hal pengawasan, tentunya saya juga akan ikut melakukan pengawalan secara mendalam dalam hal-hal tersebut. Hubungan baik juga perlu dijaga antar inspektorat supaya bisa berjalan dengan baik dalam mengawasi kerja BRIN kedepannya.

(16)

PROFIL

(17)
(18)

SIAPKAH APIP MENGAWAL

PERUBAHAN ORGANISASI BRIN?

P

erubahan Organisasi adalah suatu proses dimana organisasi tersebut berpindah dari keadaannya yang sekarang menuju masa depan yang diinginkan untuk meningkatkan efektivitas organisasinya. Tujuannya adalah untuk mencari cara baru atau memperbaiki penggunaan resources dan capabilities dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan organisasi dalam menciptakan nilai dan meningkatkan hasil yang diinginkan kepada stakeholders. Perubahan yang terjadi dalam organisasi seringkali membawa dampak ikutan yang selalu tidak menguntungkan. Dalam studi lain, disebutkan bahwa perubahan itu akan menimbulkan kejadian yang dramatis yang harus dihadapi oleh semua warga organisasi. Lebih lanjut, diketahui bahwa kebijakan perubahan yang dilakukan organisasi hanya memberikan manfaat positif bagi organisasi sebesar 38%. Meskipun perubahan organisasi tidak langsung memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan organisasi,

namun beberapa praktisi tetap meyakini tentang pentingnya suatu organisasi untuk melakukan perubahan.

Semua perubahan pada hakikatnya dilakukan untuk meningkatkan efektivitas organisasi dengan memperbaiki kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan serta perilaku anggota organisasi. Selain itu, dijelaskan bahwa perubahan organisasi dapat dilakukan pada struktur yang mencakup strategi dan sistem teknologi, penataan fisik dan sumber daya manusia. Dalam Peraturan Presiden Nomor 68 tahun 2019 tentang Organisasi Kementerian Negara adalah pengaturan mengenai pokok-pokok organisasi kementerian negara. Peraturan tersebut ditetapkan dalam rangka mewujudkan organisasi kementerian negara yang tepat fungsi, tepat ukuran, dan tepat proses untuk mendukung efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu, juga

Penulis: Akmal Maulidina (Auditor Inspektorat 2)

ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

(19)

untuk melaksanakan ketentuan Pasal 11 Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Pertimbangan dalam Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2019 tentang Organisasi Kementerian Negara adalah sebagai berikut:

1. Bahwa dalam rangka mewujudkan organisasi kementerian negara yang tepat fungsi, tepat ukuran, dan tepat proses untuk mendukung efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, perlu dilakukan pengaturan mengenai pokok-pokok organisasi kementerian negara;

2. Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 11 Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dan berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Organisasi Kementerian Negara.

Dampak Perubahan Organisasi

Perubahan yang terus bergulir di setiap periode kepemimpinan sejalan dengan dinamika politik yang terjadi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan juga perubahan lingkungan strategis, yang keseluruhannya menuntut ke arah yang lebih baik. Pelaksanaan penataan organisasi ini akan mengakibatkan kebutuhan pembiayaan mendasar dan berpengaruh pada:

1. Aspek kelembagaan yaitu perubahan pada tingkatan eselonering dan jumlah jabatan yang tersedia serta perubahan nomenklatur dari unit-unit organisasi;

2. Aspek kepegawaian yaitu perubahan jumlah formasi struktural mempengaruhi perencanaan sumber daya manusia yang terus mendesak untuk dilakukan penataan ulang pegawai;

3. Aspek Ketatalaksanaan yaitu perubahan struktur dan nomenklatur organisasi yang berakibat pada perubahan tata naskah dinas, hubungan kerja dan lainnya.

Implementasi dari kebijakan perubahan organisasi mengakibatkan penyelenggaraan pemerintahan mengalami restrukturisasi dan permasalahan lain seperti, disharmonisasi antar instansi, kesenjangan pegawai, tumpang tindih program, kerumitan menempatkan pejabat struktural maupun fungsional, dan kemungkinan terjadi penolakan secara sembunyi-sembunyi yang berefek pada penurunan motivasi kerja, kedisiplinan, loyalitas

dan komitmen terhadap organisasi.

Alasan pegawai negeri sipil menolak atau menghambat perubahan antara lain:

1. Direct cost, terkait dengan biaya-biaya yang muncul, karena perubahan membutuhkan biaya yang besar dan diiringi timbulnya rasa khawatir penurunan pendapatan yang akan terjadi;

2. Saving face, untuk menunjukan bahwa perubahan adalah keputusan yang salah. Anggapan terjadinya perubahan merupakan strategi politik dan dorongan dari orang yang tidak memiliki kompetensi;

3. Fear to unknown, timbulnya kekhawatiran tidak bisa menyesuaikan diri dengan organisasi baru.\ 4. Breaking routing, kecenderungan untuk

mempertahankan rutinitas yang dirasa sudah nyaman;

5. Incongruent organizational system, ketidaksiapan sistem kontrol organisasi yang tidak sejalan dengan tuntutan perubahan;

6. Incongruent team dynamics, norma-norma baru yang dihasilkan dari perubahan organisasi dikhawatirkan kurang dapat diterima.

Perubahan Organisasi, Lagi dan lagi

Yang akan menjadi fokus kali ini adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional. Berdiri sejak tahun 1962 dengan nama Kementerian Urusan Riset Nasional Republik Indonesia, kemudian pada tahun 1973 berubah nama menjadi Menteri Negara Riset. Periode tahun 1986-2001 menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi, dan tahun 2002 sesuai Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara perihal Penamaan Instansi Pemerintah, Kantor Menteri Negara disebut dengan Kementerian Riset dan Teknologi. Pada tahun 2005, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 institusi ini disebut Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) atau dengan sebutan Kementerian Negara Ristek sebelum kembali berganti nomenklatur sesuai Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 menjadi Kementerian Riset dan Teknologi.

Pada tahun 2014 pada masa kepemimpinan Presiden Jokowi, nomenklatur Kementerian Riset dan Teknologi kembali berubah menjadi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Perubahan ini merupakan penggabungan antara Kementerian

(20)

Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penggabungan ini salah satunya bertujuan untuk memperbaiki kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang pada awalnya mendapatkan kategori wajar dengan pengecualian (WDP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK). Hal ini menunjukan banyaknya temuan atau bentuk kecurangan yang ditemukan oleh BPK pada waktu itu.

Setelah terbentuk Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di bawah Menteri Prof. Drs. H. Mohamad Nasir, Ak., M.Si., Ph.D, dibentuklah Inspektorat Jenderal guna mengawal dan mengawasi kinerja organisasi dibawah asuhan Inspektur Jenderal Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MHum. Singkat cerita berangkat dari perubahan organisasi yang begitu berat Kemenristekdikti berhasil mendapat kategori Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK yang merupakan kategori terbaik dari BPK untuk hasil temuan yang tidak terlalu banyak. Hal inilah yang menunjukan pentingnya peran APIP dalam mengawal perubahan organisasi ke tatanan yang lebih baik. Hasil positif tersebut tidaklah menjadi dasar Kemenristekdikti tetaplah ada. Saat ini Kemenristekdikti telah dipisahkan kembali pada periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi, Pendidikan Tinggi bergabung kembali dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Riset dan Teknologi kembali lahir dengan nama lain Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) di bawah Menteri Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. Kita ketahui bersama kebijakan-kebijakan politik yang terjadi merupakan hal paling dominan dalam penentuan langkah tersebut.

Awal perubahan organisasi yang begitu berat kembali dirasakan oleh Kemenristek/BRIN, lain halnya yang dirasakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang bergabung kembali dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah tertata rapi, Kemenristek/BRIN seperti bayi yang baru dilahirkan kembali. Penataan dilakukan mulai dari hal yang mendasar oleh Kemenristek/ BRIN. Sementara Susunan Organisasi dan Tata Kerja

(SOTK) baru disusun dan menunggu untuk disahkan, kabar mengejutkan kembali datang, Pemerintah merubah Kemenristek/BRIN menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc. sebagai Kepala BRIN.

Laksana berbicara

BRIN merupakan sebuah badan yang bertanggung jawab untuk melakukan konsolidasi berbagai penelitian dan pengembangan (Litbang) pemerintah. Adapun, Laksana menerangkan bahwa ada berbagai persiapan yang dilakukan dalam hal konsolidasi ini, mulai dari sumber daya manusia, infrastruktur dan anggaran. Ia juga mengatakan saat ini pihaknya masih terus melakukan diskusi teknis terkait konsolidasi penelitian dan pengembangan di tingkat kementerian, karena ada berbagai aspek yang harus dibahas. Hal sama pun berlaku untuk pengelolaan anggaran penelitian dan pengembangan di Kementerian. “Detail sedang kami bahas bersama, termasuk dengan Kementerian terkait seperti Kemenkeu dan lainnya,” ujar Laksana. Adapun, dikutip dari laman resmi BRIN, terdapat 3 arah dan 7 target BRIN. 3 Arah tersebut yakni Pertama, konsolidasi sumber daya baik manusia, infrastruktur, anggaran, Iptek untuk meningkatkan critical mass, kapasitas dan kompetensi riset Indonesia untuk menghasilkan invensi dan inovasi sebagai fondasi utama Indonesia Maju 2045. Kedua, menciptakan ekosistem riset sesuai standar global yang terbuka (inklusif ) dan kolaboratif bagi semua pihak yakni akademisi, industri, komunitas, pemerintah. Ketiga, menciptakan fondasi ekonomi berbasis riset yang kuat dan berkesinambungan dengan fokus digital, green, blue economy.

Tantangan APIP

Inspektorat merupakan Lembaga atau institusi internal dimana APIP bertugas dan berfungsi untuk mengawasi dan mengawal kebijakan internal pada instansi pemerintahan. Inspektorat juga diharapkan berfungsi sebagai pendeteksi dini untuk segala bentuk kecurangan yang ada di instansi pemerintah dimana Inspektorat tersebut berada, seperti halnya audit internal pada perusahaan swasta. Di bawah komando Dr. Yusrial Bachtiar, Ak., MM., CA., CGCAE

ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

(21)

sebagai pelaksana tugas Inspektur Utama BRIN, yang sebelumnya merupakan Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemenristekdikti, pengawalan reorganisasi kembali harus dihadapi oleh APIP. Yusrial yang sudah cukup makan asam garam mengawal beberapa kali reorganisasi diharapkan dapat membuat

strategi-strategi yang jitu, mulai dari penataan organisasi yang harus di restart ulang hingga pengawalan konsorsium riset Covid-19 dimana tanggung jawab besar ini berada di BRIN.

Untuk tercapainya hasil audit atau pengawasan yang berkualitas diperlukan auditor yang profesional, berkualitas dan memenuhi kompetensi-kompetensi yang dipersyaratkan. Namun diluar itu semua, secara fundamental peran organisasi itu sendirilah yang akan menentukan mutu kinerja organisasi tersebut. Apakah Inspektorat akan diperankan sebagaimana mestinya, sebagai garda terdepan yang mengawasi dan mengawal kebijakan internal dari Laksana ? Itulah sekelumit pembahasan terkait peran APIP dan perubahan organisasi yang sama-sama kita harapkan untuk lebih baik lagi dalam memberikan kinerjanya.

Sumber:

1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2019.

2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2021.

3. Irfan, M. (2014). Analisis Pengaruh Restrukturisasi Dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Bp4K Kabupaten Sumbawa. https://doi. org/10.1073/pnas.1207169109

4. Poluakan, F. A. (2016). Pengaruh Perubahan Dan Pengembangan Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan PT. Sinar Galesong Prima Manado. In Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi (Vol. 4, Issue 4).

5. Prawirodirjo, A. S. (2007). Analisis Pengaruh Perubahan Organisasi Dan Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan Dan Kinerja Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (Penelitian Pada Kantor Pelayanan Pajak Berbasis Administrasi Modern Di Lingkungan Kantor Wilayah Jakarta Khusus).

In Tesis Tidak Dipublikasi . Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Diponegoro.

6. Sjahruddin, H., & Sudiro, A. A. (2013). Organizational justice, organizational commitment and trust in manager as predictor of organizational citizenship behavior. Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business, 4(12), 133– 142.

(22)
(23)

MENGOPTIMALKAN KINERJA

PENGAWASAN INTERN DALAM

TRANSFORMASI LEMBAGA

LITBANGJIRAP

Sumber: https://www.studimanajemen.com/2019/02/pengertian-fungsi-pengawasan.html Sumber: https://www.studimanajemen.com/2019/02/pengertian-fungsi-pengawasan.html ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

Penulis: Yavis Amanda (Inspektorat LIPI)

P

ada tanggal 13 Agustus 2019, Dewan

Perwakilan Rakyat dan Presiden RI telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek). Undang-undang tersebut menempatkan Iptek untuk berperan serta sebagai landasan perencanaan pembangunan nasional, meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat, sampai dengan melestarikan dan menjaga keseimbangan alam di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penyelenggaraan iptek sendiri dilakukan melalui pendidikan, penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan. Untuk menjalankan kegiatan litbangjirap secara terintegrasi, pemerintah membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden Nomor 74 tahun 2019, yang diperbaharui dengan Perpres No. 95 tahun 2020, Perpres No. 33 Tahun 2021, dan terakhir dengan Perpres No. 78 tahun 2021, tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional. Pembentukan BRIN dilakukan untuk menjalankan fungsi penelitian, pengembangan, pengkajian,

dan penerapan guna menghasilkan invensi dan inovasi sebagai landasan ilmiah dalam perumusan dan penetapan kebijakan pembangunan nasional. Sebelum disahkannya undang-undang Sisnas Iptek, fungsi tersebut dilakukan secara terpisah oleh beberapa lembaga riset pemerintah seperti LIPI, BPPT, BATAN maupun unitunit litbang pada Kementerian/Lembaga lainnya. Pembentukan BRIN ini akan berdampak pada perubahan organisasi dan fungsi lembaga riset sebelumnya. Dari kacamata pengawasan internal, perubahan organisasi tersebut juga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan aset (BMN), anggaran program/kegiatan serta SDM dalam organisasi. Inspektorat Utama BRIN sebagai lembaga pengawas internal juga harus dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut. Hal ini menjadi tugas berat bagi Inspektorat Utama mengingat BRIN merupakan integrasi dari beberapa lembaga dan badan litbang yang mempunyai karakteristik berbeda-beda. Perubahan yang terjadi pada aset (BMN), anggaran/ keuangan maupun SDM harus dapat “dikawal” dengan baik agar tidak menjadi temuan turunan kedepannya.

(24)

ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

Ada 3 (tiga) langkah yang dapat

dipersiapkan oleh Inspektorat Utama BRIN untuk membangun kinerja pengawasan dalam menyambut transformasi lembaga riset, antara lain:

1. Kesiapan individu Pengawasan (APIP) Faktor yang paling penting dalam sebuah organisasi adalah sumberdaya manusia dari organisasi tersebut. Perubahan organisasi bagi staf dianggap sebagai proses sulit yang melibatkan unlearning dan relearning yang menyakitkan, karena seorang staf berusaha untuk merestrukturisasi pikiran, perasaan dan perilaku sehubungan dengan perubahan yang terjadi (Scein, 1996). Kesiapan individu untuk berubah didefinisikan sebagai sejauh mana seorang individu siap untuk berpartisipasi dalam aktivitas organisasi yang berbeda (Huy, 1999). Untuk melihat kesiapan individu dalam melakukan perubahan dapat menggunakan konsep pengaturan kerja yang dikemukakan oleh Porras dan Robertson (1992). Konsep ini menekankan pentingnya pengaturan kerja bukan hanya dilihat dari budaya/ norma, struktur, strategi dan proses organisasi namun dilihat juga dari pengaturan pengorganisasian, faktor sosial, pengaturan fisik dan teknologi. Oleh sebab itu, dalam melakukan perubahan Inspektorat Utama BRIN tidak hanya memperhatikan budaya/norma kerja yang akan diterapkan, struktur organisasi ideal, strategi pengawasan yang akan dilakukan ataupun proses/metodologi pengawasan yang akan digunakan namun juga melihat kondisi individu dari Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP). Kondisi tersebut antara lain pemahaman mengenai perubahan organisasi, kompetensi pegawai, tugas atau kegiatan rutin sebelum terjadi perubahan organisasi, pengetahuan dan pengalaman kerja serta hubungan kerja/interpersonal pegawai. Selain melalui pengaturan kerja, kesiapan individu dalam menerima perubahan juga didasarkan pada dukungan organisasi seperti yang dikemukakan oleh Rhoades dan Eisenberger (2002). Dukungan organisasi ini meliputi (1) keadilan yaitu keadilan dalam menerapkan aturan, prosedur dan implementasi kebijakan terkait perubahan organisasi pada Inspektorat Utama BRIN dan keadilan dalam distribusi SDM pengawasan. (2) dukungan pemimpin atas pekerjaan pegawai dan (3) penghargaan dan kondisi kerja yang dapat menguntungkan

pegawai, misalkan melalui pelatihan jika pegawai kurang kompetensinya maupun promosi/ penghargaan bagi pegawai yang berprestasi. 2. Peran Pemimpin dalam Membangun

Kinerja Pengawasan Internal

Perubahan organisasi menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pemimpin organisasi. Begitu pun juga yang akan terjadi di Inspektorat Utama jika terjadi perubahan organisasi. Para pemimpin memiliki peran kunci untuk membantu SDM pengawasan / APIP dalam beradaptasi dengan perubahan organisasi. Pemimpin pengawasan dituntut untuk menciptakan kondisi yang kondusif dan positif di lingkungan yang dipimpin serta dituntut juga untuk melaksanakan pengawasan internal di lingkungan BRIN. Untuk menjembatani antara kondisi ideal serta tuntutan pengawasan tersebut, pemimpin pengawasan dapat menggunakan praktik manajemen kinerja. Manajemen kinerja merupakan alat manajemen yang digunakan organisasi untuk memonitor dan mengevaluasi pekerjaan pegawai. Tujuan dari manajemen kinerja adalah menciptakan lingkungan dimana pegawai dapat menampilkan kemampuan terbaiknya dalam bekerja sehingga menghasilkan pekerjaan berkualitas, efektif dan efisien. Manajemen kinerja juga merupakan sebuah proses komunikasi antara pemimpin dan staf yang terjadi sepanjang tahun untuk mewujudkan tujuan strategis organisasi. Komunikasi ini meliputi menyampaikan pendapat/ gagasan, mengatur tujuan, mengidentifikasi target, memberikan feedback dan mereviu hasil kerja. Manajemen Kinerja yang efektif bermanfaat bagi pemimpin untuk menilai kinerja pegawai dan melaksanakan program pengembangan yang relevan, membantu meningkatkan kepercayaan pegawai pada proses kegiatan, meningkatkan partisipasi pegawai dalam memunculkan ide dan inovasi, meningkatkan komitmen bersama atas standar kinerja yang ditetapkan dan memungkinkan identifikasi awal dari kinerja yang buruk, sehingga dapat diselesaikan dengan tindakan korektif yang tepat. Namun demikian, dalam menerapkan kinerja tersebut seorang pemimpin dalam sektor publik seringkali menghadapi tantangan (Sutto, et al) antara lain, (a) Kurangnya kejelasan yang diterima oleh pegawai negeri seputar strategi dan rencana pemberdayaan organisasi. Pegawai Negeri tidak menerima komunikasi yang memadai dari pemimpin

(25)

mengenai strategi organisasi dan tindakan apa yang diperlukan pegawai untuk berkontribusi dalam tujuan tersebut. (b) Penyediaan umpan balik atas kinerja yang dilakukan oleh pegawai secara tepat waktu, transparan dan realtime. (c) Ketakutan pemimpin dalam memberikan umpan balik kinerja, terutama dalam peningkatan kinerja. Penurunan kinerja pegawai juga akan berdampak pada kinerja pemimpin/atasan langsungnya yang akhirnya akan memberikan umpan balik yang baik. (d) Pemimpin sektor publik dihadapkan pada tantangan untuk dapat secara memadai mengenali dan memberi penghargaan kepada pegawai terbaik serta memotivasi seluruh pegawai untuk berkinerja. Untuk menghadapi tantangan tersebut, seorang pemimpin dapat melakukan (a) Pemimpin harus menetapkan, mengulangi dan memperkuat strategi organisasi dan bagaimana seluruh pegawai berkontribusi dalam tujuan organisasi. Pemimpin selalu berkomunikasi dan bermitra dengan pegawai untuk mengidentifikasi dan menggunakan seluruh peluang yang ada untuk mengkomunikasikan tujuan organisasi. (b) Pemimpin tidak hanya berfokus pada formalitas dalam melakukan umpan balik kinerja, beralih pada pembinaan kinerja pegawai dan peningkatan kontribusi pegawai. (c) Pemimpin dapat berkoordinasi dengan pemimpin lain/pemimpin diatasnya untuk mengidentifikasi permasalahan dan memastikan tindakan yang dilakukan jelas. (d) Pemimpin harus mulai memahami dengan lebih baik apa yang membuat pegawai bersemangat termasuk dalam pengembangan karir dan peningkatan kompetensi. Saat ini Kementerian PAN dan RB telah mengeluarkan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 8 Tahun 2021 tentang Sistem Manajemen Kinerja Pegawai Negeri Sipil agar dapat dijadikan acuan dalam menyelaraskan tujuan organisasi kedalam target kinerja pegawai, melakukan pengukuran, pemantauan, pembinaan, sanksi, penghargaan dan penilaian kinerja pegawai serta dapat

dijadikan pedoman dalam melakukan tindak lanjut atas kinerja pegawai.

3. Program Pengawasan Internal

Transformasi yang terjadi pada lembaga riset menuntut Inspektorat Utama BRIN untuk ikut serta dalam mengawal proses transformasi lembaga riset tersebut. Inspektorat Utama BRIN

berkewajiban untuk dapat memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas proses transformasi lembaga riset serta telah sesuai dengan tujuan dan fungsi BRIN. Selain itu Inspektorat Utama mempunyai tugas untuk memberi peringatan dini, memelihara dan meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih di lingkungan BRIN. Oleh sebab itu, diperlukan strategi pengawasan yang tepat agar tercapai program pengawasan yang efektif, efisien dan ekonomis tanpa mengurangi kualitas pengawasan. Ada 3 (tiga) langkah yang dapat dilakukan dalam menyusun program pengawasan.

Pertama adalah mengidentifikasi dan merekapitulasi temuan audit internal maupun eksternal dan memastikan tindak lanjut atas hasil audit tersebut telah tuntas atau belum tuntas. Penelitian yang dilakukan oleh Pramitra, dkk (2015) menunjukkan bahwa tindak lanjut hasil pemeriksaan pada periode sebelumnya berpengaruh positif terhadap opini audit melalui tingkat pengungkapan laporan keuangan. Semakin banyak rekomendasi BPK yang ditindaklanjuti akan meningkatkan kualitas laporan K/L yang direpresentasikan dari tingkat pengungkapan yang tinggi yang akhirnya berpeluang dalam pemberian opini yang lebih baik. Kedua, menyusun roadmap dan program pengawasan yang efisien dan efektif dengan (a) memperhatikan tujuan dan fungsi organisasi serta kebijakan manajemen sehingga pengawasan internal dapat dilakukan secara selaras dengan proses transformasi. (b) memfokuskan pengawasan secara bertahap melalui audit berbasis risiko, yaitu fokus pada area-area/program/kegiatan yang memiliki risiko tinggi yang dapat mempengaruhi kinerja BRIN kedepannya sehingga dapat segera diperbaiki. Ketiga, mengimplementasikan pengawasan berkelanjutan dan pemantauan berkelanjutan atau lebih sering disebut Continuous Auditing and Continuous Monitoring (CACM). CACM merupakan kegiatan pengawasan dan pemantauan yang dilakukan secara

berkelanjutan dengan menggunakan dukungan perangkat

(26)

ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

pengawasan dan pemantauan berkelanjutan atas aktivitas dan kinerja unit kerja di lingkungan BRIN. Melalui CACM diharapkan dapat terwujudnya kondisi seperti (a) Terbangunnya early warning

system terkait pengelolaan

keuangan dan kinerja sehingga lebih fokus pada pengendalian preventif dan detektif. (b) Tersedianya informasi audit untuk digunakan dalam pengambilan

keputusan secara realtime. (c) Peningkatan akuntabilitas pengelolaan keuangan dan kinerja (d) Peningkatan efisiensi dan

efektifitas sumberdaya kegiatan pengawasan internal dan (e) sebagai alat dalam pencegahan korupsi. Meskipun demikian, CACM dapat menurunkan keinginan pemimpin unit kerja untuk melanjutkan program, kegiatan dan pengeluaran anggaran yang sedang dijalankan (Hunton et al, 2008). Oleh sebab itu diperlukan komunikasi yang baik antara APIP dan unit kerja sebelum dilakukan CACM sehingga tidak terjadi ketakutan pemimpin unit kerja untuk melanjutkan kembali proses pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran pada unit kerja. Komitmen manajemen serta pelatihan juga dapat mempengaruhi keberhasilan CACM.

Referensi:

1. Armstrong, Michael. 2000. performance management : keys strategies and practical guidelines. Kogan Page, UK. 2. Desplaces, David. 2005. a multilevel approach

to individual readiness to change. Journal of Behavioral and Applied of Change. 3. Hunton, James E., Mauldin, Elaine G. &Wheeler,

Patrick E. 2008. potential functional and dysfunctional effect of continous monitoring. The Accounting Review, Vol. 83. No. 6. 4. Pramita S, Adelia., Martani, Dwi. & Setyaningrum,

Diah. 2015. Pengaruh Temuan Audit, Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Kualitas Sumber Daya 5. Manusia Terhadap Opini Audit Melalui Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Kementerian/ Lembaga. Conference Paper, Researchgate. 6. Sutto, Allison., Cheeseman, Jillan.,

Hammilton, Jessica & Woods. Kattelyn.

Four Performance Management Mistakes Getting In The Way of Your Team’s Success and What You Can do About Them. Deloitte 7. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang

Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan Iptek. 8. Peraturan Presiden nomor 33 tahun 2021

tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional 9. Peraturan BPKP Nomor 2 Tahun 2018 tentang Grand Design Implementasi Pengawasan Berkelanjutan dan Pemantauan Berkelanjutan di Lingkungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

(27)
(28)

DISIPLIN PEGAWAI WUJUD

DISIPLIN PEGAWAI WUJUD

INTEGRITAS DALAM PELAKSANAAN

INTEGRITAS DALAM PELAKSANAAN

REFORMASI BIROKRASI

REFORMASI BIROKRASI

P

emberitaan terkait disiplin pegawai khususnya Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai aparatur birokrasi sekaligus abdi masyarakat cukup menjadi perhatian banyak masyarak t. Hal ini menyangkut pelayanan prima kepada masyarakat dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi (RB). Berita di atas adalah bentuk penyampaian penegakan disiplin bagi ASN yang terus dilakukan oleh pemerintah. Banyak lagi himbauan, kebijakan dan atau aturan aturan yang dibuat pemerintah pusat/daerah, BUMN, maupun perusahaan swasta dalam rangka penegakan disiplin pegawainya. Disiplin ASN atau yang dulu disebut Pegawai Negeri Sipil (PNS) sering kali bertolak belakang dengan tujuan reformasi birokrasi itu sendiri, karena disiplin pegawai mudah diucapkan namun sulit untuk dilaksanakan. Pada dasarnya jiwa disiplin mutlak harus dimiliki, dirawat, dan dipelihara oleh setiap pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya.

Disiplin pegawai dalam pelaksanaan penegakan disiplin pegawai perlu diikuti dengan monitoring dan evaluasi, serta pengawasan secara berkala dari pimpinan intansi maupun dari instansi terkait lainnya. Hal ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan kesadaran pegawai bahwa pentingnya peningkatan disiplin pegawai. Apa lagi masa pandemi covid 19, yang secara langsung merubah pola kerja pegawai Semasa covid 19 ini, pegawai terpaksa untuk bekerja sebagian besar dari rumah (work from home/WFH), dan sebagian lagi bekerja dari kantor (work from office/WFO), bahkan dalam waktu tertentu pegawai diminta sepenuhnya bekerja dari rumah (WFH). Perubahan pola kerja pegawai ini tidak bisa dihindari, mau tidak mau pegawai harus mengikuti pola baru ini. Maka diperlukan kebijakan ataupun aturan aturan pemerintah, terkait disiplin pegawai. Disiplin pegawai menghasilkan kinerja terbaik, sebagai wujud integritas diri pegawai sekaligus integritas

bangsa dalam pelaksanaan reformasi birokrasi. Wujud integritas diri berarti pegawai memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Maka pegawai akan bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya, sesuai nilai nilai dari nilai moral diri, nilai kode etik di masyarakat maupun di kantor.

Reformasi birokrasi salah satu upaya pemerintah untuk mencapai pemerintahan yang baik (good governance), yang berintegrasi, berkinerja, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik, serta memegang teguh nilai dasar dan kode etik pegawai. Reformasi birokrasi tidak dapat dipisahkan dari disiplin pegawai sebagai wujud integritas diri dan bangsa. Kenapa? karena Reformasi birokrasi dalam pelaksanaan melibatkan banyak pegawai dan untuk dapat bekerjasama dengan pegawai lain yang mampu meningkat prestasi dan kinerja, sehingga reformasi birokrasi berfungsi dengan baik dalam

Penulis: Muhammad Gunadi (Inspektorat LIPI)

Penulis: Muhammad Gunadi (Inspektorat LIPI)

ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

(29)

memberikan pelayanan prima pada masyarakat, bangsa dan negara.

Masa pendemi covid 19 ini di Indonesia, memaksa masyarakat membatasi pergerakannya baik dilingkungan rumah maupun tempat bekerja, agar tidak menyebarkan virus covid 19 lebih banyak lagi. Dalam rangka pencegahan penyebaran covid 19, Pemerintah berusaha mengeluarkan berbagai himbauan, kebijakan dan aturan dalam pencegahan atau memtus tali penyebaran covid 19. salah satunya mengurangi dan membatasi pergerakan jumlah masyarakat, baik dilingkungan rumah dan tempat bekerja. Di lingkungan tempat bekerja, pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait pola kerja pegawai, yaitu untuk bekerja sebagian besar dari rumah (work from home/WFH), dan sebagian lagi bekerja dari kantor (work from office/WFO), bahkan kondisi tertentu untuk bekerja dari rumah (WFH).

Pemerintah melalui “Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) menerbitkan kebijakan baru terkait penyesuaian jam kerja aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan tersebut menyusul Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dibagi menjadi 4 level. Dalam aturan ini, Kemenpan mengatur bahwa ASN yang berada di wilayah Jawa dan Bali pada sektor non-esensial wajib menjalankan tugas kedinasan di tempat tinggal (work from home/WFH) secara penuh atau 100%. Sementara di wilayah dengan PPKM Berbasis Mikro level 3, ASN pada instansi pemerintah melaksanakan WFH sebesar 75% dan penugasan di kantor (work from office/WFO) sebesar 25%. “WFO sebesar 25% dengan menerapkan protokol kesehatan lebih ketat dan tetap memperhatikan sasaran kinerja dan target kerja pegawai yang bersangkutan,” tulis surat yang ditandatangani Menteri PANRB Tjahjo Kumolo tersebut yang dikutip Jumat”. https://www. cnbcindonesia.com/news/20210723120802-4- 263079/pengumuman-ini-aturan-jam-kerja-baru-pns-saat-ppkm-level-4. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri PANRB No. 15/2021 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Pegawai ASN. Work from office (WFO) adalah bekerja dari kantor. Beberapa sektor usaha yang mengizinkan perusahaan untuk tetap beroperasi seperti sektor

kesehatan, pangan, makanan dan minuman, energi, komunikasi, jasa, media komunikasi, keuangan perbankan termasuk pasar modal, logistik dan distribusi barang, retail dan industri strategis lainnya. Karena pelayanan tersebut tetap tidak boleh mati di tengah pandemi. Saat bekerja di kantor, pegawai menyesuaikan dengan waktu jam kerja yang telah ditentukan, selama 8 jam bekerja. Pegawai diharapkan dapat memberikan kemampuan produktivitasnya dengan tetap bekerja selama 8 jam. WFH bekerja dari rumah diperlukan disiplin diri dan motivasi untuk memulai pekerjaan. WFH memberikan pengaturan waktu yang fleksibel, dan tidak menutup kemungkinan tetap perlu berkomunikasi dengan tim sesuai standar jam kerja, serta menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu produktifnya.

Dengan kondisi pandemi covid 19 ini, diperlukan strategi perubahan yang tepat dalam pola kerja pegawai oleh Pemerintah Pusat/Pemda, dan K/L. Untuk menghasilkan pola kerja pegawai, perlu diikuti dengan kebijakan atau aturan aturan, dan kesadaran pegawai dalam disiplin kerja. Dengan bekerja di rumah (WFH) dituntut disiplin pegawai, agar target target yang ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Sering kita dengar atau ucapkan kata disiplin dalam keseharian, karena disiplin kebiasaan yang baik dalam pola hidup masyarakat umum. Menurut Alex S. Nitisemito dalam bukunya Ahmad (2002:393) disiplin adalah sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Displin menjadi salah satu fungsi manajemen SDM yang penting menjadikan kunci keberhasilan mencapai tujuan. Disiplin pegawai dalam pekerjaan akan menghasilkan kinerja yang baik, karena adanya kesadaran nilai dan kepatuhan atas aturan aturan yang berlaku. Disiplin bertujuan mengembangkan pengendalian diri untuk mematuhi aturan dan menjaga dari perilaku semena mena, menghindari perbuatan tercela dan benturan kepada orang lain atau masyarakat. Disiplin dilakukan dimana saja berada, di lingkungan masyarakat dan tempat bekerja. Disiplin di lingkungan tempat bekerja lebih kepada disiplin pribadi sebagai pegawai.

Penerapan disiplin pegawai harus menjadi sebuah kesadaran diri, dimulai dari pemahaman dan

(30)

kemauan diri aparatur birokrasi dan sebagai abdi negara untuk berlaku disiplin baik dalam pengawasan atasan ataupun unit pengawas tempat bekerja. Disiplin pegawai harus diikuti dengan kebijakan dan aturan aturan yang berlaku yang dikeluarkan pemerintah dan diikuti kebijakan di bawahnya, sebagai arah dalam kegiatan di lingkungannya, baik di Pemerintah Pusat/Pemda maupun swasta. Dalam lingkungan Pemerintah Pusat/Pemda pegawai pada umumnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS/ ASN). Negara dalam hal ini Pemerintah menegaskan betapa pentingnya sebuah kedisiplinan, sehingga mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang disiplin PNS. Dalam Pasal 1, menyatakan dengan tegas disiplin PNS adalah kesanggupan PNS untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin. Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS/ASN) adalah kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin. (PP No.50 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS). Disiplin pegawai salah satu kewajiban yang harus depenuhi PNS, diantaranya kewajiban seperti pegawasakewajiban yang dipenuhi, beberapa kewajibannya setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah; menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan; melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab; menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS; mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang, dan/atau golongan; bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara; masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja; dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. (PP No.50 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS).

Adapun larangan PNS/ANS diantaranya setiap PNS dilarang menyalahgunakan wewenang; menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain; melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara; memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan; menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya; bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. PNS yang tidak menaati ketentuan dijatuhi hukuman disiplin. Dengan tidak mengesampingkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan pidana, PNS yang melakukan pelangggaran disiplin dijatuhi hukuman disiplin. Adapun Tingkat dan Jenis Hukuman Disiplin, terdiri dari hukuman disiplin ringan, sedang; dan berat. (PP No.50 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS). Disiplin pegawai negeri (PNS/ANS) dimaknai sebagai sebuah kesanggupan untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin. Hukuman disiplin bagi pegawai akan dapat dihindari dengan kesadaran pegawai dalam disiplin, sehingga terwujud integritas diri dan sekaligus integritas bangsa bila dilakukan seluruh komponen pegawai negeri dalam merubah pola pikir dan budaya kerja, sehingga akan meningkatkan prestasi kerjanya, secara langsung sebagai langkah awal reformasi birokrasi (RB) dalam memberi pelayanan prima pada masyarakat, bangsa dan negara. Reformasi birokrasi (RB) merupakan sebuah kebutuhan yang perlu dipenuhi untuk memastikan terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Tata kelola pemerintahan yang bersih adalah prasyarat pembangunan nasional. Dengan tata kelola yang bersih akan mempengaruhi pelaksanaan program pembangunan nasional. Semakin good governance suatu negara, semakin cepat berkembang dan maju dalam pembangunan nasional. RB bertujuan untuk

ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

Gambar

Gambar 1. Kaitan Perspektif BSC dengan Indikator Kinerja Penelitian Tahap Perencanaan dengan 3E
Gambar di atas menjelaskan peran audit internal  dalam manajemen risiko, baik yang dapat  dilaksanakan, dapat dilakukan dengan penuh  kehati-hatian, dan seharusnya tidak dilakukan
Gambar 1. Value For Money   Sumber : Mardiasmo (2009)
Tabel 1. Kategori Keluaran Kerja Minimal dan Bobot Angka Kreditnya
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai auditor, keuntungan yang didapatkan dalam menggunakan sistem E-Audit yaitu pemeriksaan akan lebih efektif. Cakupan pemeriksaan akan lebih luas, biaya

Analisis kredit atau penilaian kredit adalah suatu proses yang di maksudkan untuk menganalisis atau menilai suatu permohonan kredit yang diajukan oleh calon