305 AREA UNDER THE DISEASE PROGRESS CURVE (AUDPC) SEBAGAI VARIABEL KETAHANAN VARIETAS PADI TERHADAP HAWAR DAUN
BAKTERI
Mohammad Nur Udin1, Hadiwiyono2 dan Supyani2
1Mahasiswa Agroteknologi FP UNS
2Dosen Agroteknologi FP UNS
Abstrak
Hawar Daun Bakteri (HDB) adalah penyakit padi yang penting dan berpotensi menyebabkan kehilangan hasil panen yang berarti dengan kerusakan mencapai 20%. Berbagai penelitian sudah banyak dilakukan untuk mempelajari ketahanan varietas padi, yang umumnya didsarkan pada keparahan penyakit sebagai variabel utama. Penelitian ini bertujuan mempelajari Area Under the Disease Progress Curve (AUDPC) sebagai variabel ketahanan padi. Penelitian dilakukan di Dusun Durenan, Desa Joho, Kecamatan Mojolaban Sukoharjo dengan rancangan acak lengkap 3 ulangan dan perlakuan tunggal berupa varietas Inpari 13, Beras Merah Klaten (BMK) dan Mentik Susu. Setiap unit percobaan ditanam dalam petak lahan 9m2. Variabel pengamatan adalah keparahan penyakit dan AUDPC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AUDPC lebih tajam sebagai variabel pembeda ketahanan dibandingkan keparahan penyakit. Keparahan penyakit antar varietas menunjukkan tidak berbeda nyata sedangkan AUDPC menunjukkan beda nyata yang antar varietas uji.
Kata kunci: Xanthomonas oryzae, padi lokal, AUDPC, ketahanan, Pendahuluan
Indonesia sebagai negara agraris memiliki produk utama dalam bidang pertanian yaitu tanaman padi. Salah satu penyakit tanaman padi yang penting adalah hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh patogen Xanthomonas oryzae pv. Oryzae (Xoo) (Hafiah et al. 2015). Data yang dihimpun dalam Sudir et al. (2012) bahwa potensi kerusakan padi akibat HDB sebesar 15-18% dengan ambang kerusakan sebesar 20% pada dua minggu sebelum panen dan pada kenaikan keparahan penyakit 10% akan berpotensi kehilangan hasil 5-7%.
Melihat kerusakan dan kerugian yang disebabkan HBD besar, perlu adanya penelitian yang mampu menemukan varietas tahan HDB. Potensi varietas tahan dapat dibentuk dari pemuliaan tanaman dengan gen varietas lokal. Padi varietas lokal memiliki gen dengan mutu yang baik, tahan terhadap hama dan penyakit utama serta toleran terhadap cekaman abiotik sehingga berpotensi sebagai sumber gen dalam pemuliaan tanaman varietas padi tahan HDB (Nafisah et al. 2008). Penelitian mengenai ketahanan padi selama ini kebanyakan menggunakan variabel insiden dan keparahan penyakit sebagai variabel utamanya. Variabel i Area Under the Disease Progress Curve (AUDPC) masih belum dijadikan variabel
brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk
provided by Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
306 ketahanan penyakit. Semakin tinggi nilai AUDPC maka semakin rendah tingkat resistensi atau presentase penghambatan pada perlakuan (Gunaeni et al. 2014) dan memiliki potensi sebagai variabel ketahanan penyakit, khususnya penyakit HDB.
Metodologi
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai September 2016 di lahan sawah Dusun Durenan, Desa Joho, Mojolaban, Sukoharjo. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan dan 1 perlakuan berupa penggunaan padi varietas Mentik Susu, Beras Merah Klaten (BMK) dan Inpari 13. Unit petak perlakuan berukuran luas 9 m2 dengan variabel pengamatan keparahan penyakit dan luas bawah kurva perkembangan penyakit (LBKPP) atau area under the disease progress curve (AUDPC).
Hasil dan Pembahasan
Keparahan penyakit dan AUDPC (Tabel 1) dihitung pada pengamatan terakhir sebelum panen atau 98 HST. Hasilnya menunjukkan bahwa di 98 HST semua varietas termasuk dalam kategori sangat rentan yang berimplikasi pada perhitungan antar varietas tidak berbeda nyata pada variabel keparahan penyakit. Hasil hitung pada AUDPC ketiga varietas berbeda nyata satu sama lain.
Keparahan penyakit diamati sebagai bahan studi evaluasi ketahanan penyakit. Melihat hasil dari ketiga varietas yang sama-sama memiliki kategori sangat rentan perlu adanya pengamatan variabel lain sebagai variabel ketahanan penyakit yang lebih tajam, salah satunya adalah dengan menggunakan AUDPC. AUDPC merupakan parameter untuk mengukur perkembangan keparahan penyakit terhadap waktu tertentu (Apriyadi et al. 2013).
307 Tabel 1. Hasil Pengamatan Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Varietas Uji
Varietas Keparahan penyakit (%) AUDPC
Mentik Susu 78,3 a 468,7 a
BMK 85,7 a 670,7 c
Inpari 13 93,7 a 571,3 b
Keterangan: Data pada tabel merupakan data pengamatan terakhir (98 HST). Angka yang diikuti oleh huruf yang tidaksama menunjukan beda nyata pada uji Duncan 5%.
Tabel 2. Kategori Ketahanan terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri Berdasarkan Umur Tanaman
Varietas Kategori Ketahanan*
42 HST 56 HST 77 HST 98 HST
Mentik Susu T AR AR SR
BMK T S AR SR
Inpari 13 T S SR SR
Keterangan: HST: Hari Setelah Tanam, *Kategori ketahanan mengacu pada Standart Evaluation System of Rice IRRI (1996): T: Tahan (keparahan penyakit 1-5%), AT:
Agak Tahan (keparahan penyakit 6-12%), S: Sedang (keparahan penyakit 13-25%), AR: Agak Rentan (keparahan penyakit 26-50%), SR: Sangat Rentan (keparahan penyakit >50%).
Gambar 1. Grafik Perkembangan Keparahan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Varietas Uji
Nilai hitung AUDPC menunjukkan beda nyata antar vaarietas uji. Gangwar (2013) mengungkapkan perhitungan AUDPC mampu memberikan informasi yang lebih baik mengenai tingkat penyakit, membantu menganalisis epidemi penyakit di lapangan, reaksi tanaman inang serta potensi kehilangan hasil. Hal ini sesuai dengan Nirwanto (2007) keuntungan menggunakan AUDPC adalah mampu membedakan dua epidemi, yang berbeda
Waktu (HST)
Keparahan Penyakit (%)
308 luas kurvanya, akan tetapi mempunyai persen tingkat serangan yang sama pada saat kritis.
Melihat hasil yang menunjukkan epidemi dan luas kurva setiap varietas berbeda sedangkan sama-sama berada pada satu waktu tertentu yang menunjukkan tingkat kritis keparahan penyakit. Artinya nilai AUDPC pada setiap varietas mampu menunjukkan ketajaman dalam memberikan informasi mengenai ketahanan dibandingkan dengan keparahan penyakit.
Menurut Nuryani et al (2011) apabila angka AUDPC semakin rendah maka perlakuan semakin efektif dalam mengendalikan patogen, dan sebaliknya, semakin besar angka AUDPC maka perlakuan semakin tidak berpengaruh terhadap infeksi patogen. Ketiga varietas uji dapat diurutkan dari yang paling rentan adalah BMK, Inpari 13 kemudian Mentik Susu.
Inpari 13 sebagai varietas unggul memang memiliki kerentanan dengan penyakit HDB (Sinar Tani, 2011) sedangkan mentik susu dan BMK sebagai varietas lokal perlu adanya kajian mengenai ketahanan terhadap penyakit HDB.
Kategori ketahanan penyakit (Tabel 2) dihitung dari 42 HST sampai 98 HST.
Pengamatan setiap minggunya menunjukkan perkembangan keparahan pada masing-masing varietas. Kategori ini didasarkan dengan keparahan penyakit setiap pengamatan dan mengacu pada Standart Evaluation System of Rice IRRI (1996) dengan menggunakan skor setiap kategori. Awal pengamatan semua varietas menunjukkan kategori tahan, kemudian pada pengamatan berikutnya setelah adanya infeksi penyakit HDB respon masing-masing varietas berbeda-beda. Perkembangan mencapai kategori sangat rentan dimulai dari satu minggu sebelum panen. Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh faktor iklim mikro di sekitar lahan.
Kondisi kelembaban udara, suhu yang berbeda antara siang dan malam hari karena cuaca yang berbubah-ubah.
Kesimpulan
AUDPC dapat dipertimbangkan sebagai variabel uji ketahanan padi terhadap penyakit HDB karena nilai hitung AUDPC lebih tajam menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan dan informasi ketahanan lebih tajam jika dibandinkan dengan variabel keparahan penyakit.
Ucapan Terimakasih
Penelitian ini dibiayai secara mandiri oleh Prof. DR. Ir. Hadiwiyono, M.Si.
309 Daftar pustaka
Apriyadi RA, Wahyuni WS, Supartini V. 2013. Pengendalian penyakit patik (Cercospora nicotianae) pada tembakau na oogst secara in-vivo dengan ekstrak daun gulma kipahit (Tithonia diversifolia). Pertanian 1(2):30-32.
Gangwar GP. 2013. Effect of bioagent formulations on progress of bacterial leaf blight disease of rice under field conditions. J of Applied and Natural Science 5 (2): 388- 393.
Gunaeni N, Setiawati W, Kusandriani Y. 2014. Pengaruh perangkap likat kuning, ekstrak Tagetes erecta, dan imidacloprid terhadap perkembangan verktor kutukebul dan virus kuning keriting pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.). J Hort 24(4):346- 354.
Hafiah W, Abadi AL, Qurata’aini L. 2015. Ketahanan lima galur padi (Oryza sativa L.) terhadap dua isolat Xanthomonas oryzae pv. oryzae penyebab penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi. J HPT 3(3):9-17.
International Rice Research Institute (IRRI). 1996. Standard evaluation system of rice.
International Rice Research Institute. Philippines.
Nafisah, Aan A D, Sembiring H. 2008. Keragaman genetik padi dan upaya pemanfaatannya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional.
Nirwanto H. 2007. Pengantar epidemi dan manajemen penyakit tanaman. Surabaya: UPN Veteran Jawa Timur.
Nuryani, Yusuf S, Djantika I, Hanudin, Marwoto B. 2011. Pengendalian penyakit layu fusarium pada subang gladiol dengan pengasapan dan biopestisida. J. Hort. 21(1):40- 50
Sinar Tani. 2011. Inpari 13 Padi sangat genjah dan tahan wereng coklat. Agrinovasi 5(3387):15-16.
Sudir, Nuryanto B, Triny SK. 2012. Epidemiologi, patotipe, dan strategi pengendalian penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi. Iptek tanaman pangan 7(2):79-87.