• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemerintah mengupayakan peningkatan mutu pendidikan dengan melakukan perubahan kurikulum. Salah satu kurikulum pembelajaran yang digunakan di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah ditetapkan dalam PP Nomor 19 tahun 2005 Pasal 1 Ayat 15 sebagai kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Pasal tersebut menjelaskan bahwa KTSP adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan di bawah pengawasan dan pembinaan dinas pendidikan. Kurikulum KTSP, memberi kesempatan guru untuk mengembangkan indikator pembelajaran yang akan disampaikan di sekolah sesuai dengan kemampuan diri siswa. Selain itu, penerapan KTSP ditekankan pada pendalaman materi melalui proses bukan pemaksaan pencapaian materi, sehingga dalam pembelajaran harus melibatkan aktivitas peserta didik sedangkan guru hanya berperan sebagai mediator dan fasilitator dalam mencapai tujuan pembelajaran.

SMA Islam 1 Surakarta merupakan salah satu satuan pendidikan di Surakarta yang masih menggunakan KTSP. Berdasarkan hasil observasi peneliti yang dilakukan pada bulan September 2016, secara umum kegiatan pembelajaran kimia di SMA ini tergolong konvensional, pembelajaran masih didominasi oleh guru (teacher centered learning). Pembelajaran konvensional yang umum dilakukan menurut Gallet (1998) adalah metode mengajar secara transfer of knowledge, yaitu guru bercerita atau berbicara, dan siswa hanya mendengarkan dan mencatat hal-hal yang disampaikan guru tersebut tanpa mengetahui fakta dan bagaimana konsep itu ditemukan, serta lebih mementingkan hasil daripada makna belajar itu sendiri (Muslim, 2015: 77). Guru menyampaikan materi dengan metode ceramah dengan sesekali memberikan pertanyaan, sehingga siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat apa yang telah disampaikan guru. Metode

(2)

pembelajaran yang diterapkan oleh guru ini kurang variatif sehingga menyebabkan siswa menjadi lebih pasif.

Kondisi lapangan menunjukkan bahwa siswa SMA Islam 1 Surakarta masih merasa sulit dalam menerima materi kimia yang diajarkan terutama bila berhubungan dengan hafalan dan pemahaman konsep. Hal ini bisa dilihat dari hasil ulangan harian materi tata nama senyawa yang membutuhkan hafalan dan materi redoks yang membutuhkan pemahaman konsep, dimana hasil belajar kognitifnya sangat rendah. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia di SMA yang peneliti lakukan pada bulan Januari 2017 diketahui bahwa materi pembelajaran kimia dianggap masih sulit dipelajari oleh siswa karena sebagian yang dipelajari bersifat abstrak, yaitu apa yang dipelajari tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Selain itu, mata pelajaran kimia belum dipelajari secara khusus di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sehingga siswa masih merasa sulit memahami saat menerima materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini menyebabkan prestasi belajar kimia rendah atau belum mencapai target yang telah ditetapkan.

Prestasi belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor internal, salah satunya adalah kemampuan memori.

Baharuddin (2007: 111) mengungkapkan bahwa memori mencakup mencamkan, menyimpan, dan memproduksi kembali kesan-kesan. Kemampuan memori sangat dibutuhkan seseorang, terutama dalam kegiatan belajar. Segala macam belajar melibatkan ingatan, tanpa ingatan seseorang tidak dapat mengingat sesuatu mengenai pengalamannya. Tanpa adanya ingatan/kemampuan memori terhadap materi pembelajaran, dimungkinkan siswa tidak akan memahami dan mengemukakan kembali isi materi yang pernah disampaikan oleh guru. Siswa yang memiliki kemampuan memori tinggi dimungkinkan lebih berhasil dalam proses belajar bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki kemampuan memori rendah.

Materi hidrokarbon penting sebagai dasar dalam mempelajari kimia.

Karakteristik materi kimia ada yang kualitatif (hafalan) dan kuantitatif (perhitungan). Hidrokarbon masuk dalam kualitatif. Materi hidrokarbon

(3)

merupakan salah satu materi kimia kelas X semester genap yang dianggap membosankan dan sulit oleh siswa SMA Islam 1 Surakarta karena sifatnya yang hafalan. Hal ini dibuktikan dengan materi pada semester sebelumnya yang karakterisktik yaitu tentang penamaan senyawa dimana siswa memiliki nilai rata- rata nilai ulangan harian dibawah KKM dan berdasarkan wawancara dengan guru materi hidrokarbon dianggap cukup sulit bagi siswa SMA Islam 1 Surakarta.

Materi hidrokarbon bersifat abstrak dan di dalamnya memerlukan hafalan. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan memori yang dimiliki oleh siswa. Peneliti juga telah melakukan tes kemampuan memori dengan metode asosiasi berpasangan dan bentuk soal objektif pada tahap prasiklus dan didapatkan hasil hanya 41% siswa memiliki kemampuan memori tinggi. Hasil tersebut memperkuat dugaan bahwa salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar pada materi hidrokarbon adalah kemampuan memori yang rendah.

Berdasarkan nilai Ujian Akhir Semester Ganjil 2016/2017 di kelas X, diperoleh data bahwa kedua kelas memiliki prestasi belajar kimia rendah dimana rata-rata nilainya rendah dengan ketuntasan yang sangat kecil sebagaimana disajikan pada Tabel 1.1. Berdasarkan pertimbangan kondisi kelas X, dimana siswa kelas X2 sangat sulit untuk dikondisikan sedangkan kelas X1 cenderung bisa dikondisikan oleh guru pada saat pembelajaran, maka dipilihkan siswa kelas X1 untuk dijadikan subyek penelitian.

Tabel 1.1. Rata-rata Nilai Ulangan Akhir Semester Gasal Kelas X SMA Islam 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017

Kelas KKM Jumlah Siswa Rata-rata Nilai Ketuntasan (%)

X1 68 27 41,70 14,81

X2 68 25 42,32 8

Salah satu cara untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik adalah dengan memperhatikan proses pembelajaran pada lingkup sekolah. Proses pembelajaran berkaitan dengan faktor internal dan eksternal siswa. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, seperti kemampuan memori dan

(4)

motivasi belajar, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa misalnya model pembelajaran. Pemilihan model yang tepat dalam menyajikan suatu materi kimia dapat membantu siswa menyerap materi dengan lebih mudah.

Masalah yang muncul sebelumnya adalah pembelajaran yang terpusat pada guru. Oleh karena itu, perlu model pembelajaran yang interaktif sehingga mampu membuat siswa menjadi lebih aktif. Model pembelajaran kooperatif mampu mengurangi dominasi guru dalam kelas dan membuat siswa lebih aktif.

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen (Rusman, 2012: 202). Model pembelajaran ini menuntut siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok.

Kelas X1 SMA Islam 1 Surakarta memiliki beberapa siswa yang unggul di dalam kelas. Perbedaan intelegensi siswa dapat memengaruhi cepat lambatnya siswa dalam menyerap materi pelajaran. Siswa yang dianggap unggul diharapkan mampu membantu siswa yang lambat dalam belajar. Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan pada pembelajaran kimia materi hidrokarbon pada penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization (TAI). Tujuan pembelajaran TAI adalah mengatasi kesulitan pemahaman serta memecahkan permasalahan materi pembelajaran secara bersama dengan ketua kelompok (asisten) yang memiliki kemampuan pengetahuan yang lebih tinggi. Keberhasilan individu pada model pembelajaran ini merupakan keberhasilan kelompok sehingga akan mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya dan dengan adanya bantuan dari teman dalam proses pembelajaran, seorang individu bisa mendalami suatu materi dengan lebih mudah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Awofala (2013) menyatakan bahwa metode pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) lebih efektif daripada metode tradisional karena siswa memiliki kesempatan untuk bekerjasama dalam

(5)

tim, berbagi pandangan dan pendapat, serta terlibat dalam pemikiran untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan kinerja matematik. Maghfiroh (2016) dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa pembelajaran model TAI mampu meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi redoks. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Noor, Mulyani, dan Masykuri (2015), disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran TAI pada materi senyawa hidrokarbon yang dilengkapi dengan buku saku dan papan karbon dapat meningkatkan kemampuan memori dan prestasi belajar siswa baik dalam aspek pengetahuan maupun sikap. Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli pendidikan dan psikologi mengenai program-program pendidikan antar teman dimana siswa diminta untuk mengajar teman-teman sekelasnya selama periode waktu tertentu didapatkan kesimpulan bahwa kedua belah pihak yaitu siswa yang mengajar dan diajar mampu mempelajari materi yang diajarkan jauh lebih baik, dibandingkan sebelum mereka mendapat program tersebut (Seifert, 2012: 227).

Selain pemilihan model pembelajaran, media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang cukup penting dalam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswanya, agar pesan yang disampaikan bisa lebih mudah dimengerti dan lebih menarik bagi siswa. Pembelajaran kimia di SMA Islam 1 Surakarta menggunakan media belajar berupa LKS, white board dan spidol. Guru belum menggunakan media elektronik seperti laptop atau LCD. LKS digunakan sebagai bahan ajar siswa satu-satunya. Berdasarkan hasil observasi saat PPL pada bulan September 2016, siswa belum mempergunakan bahan ajar tersebut dengan maksimal karena guru lebih sering menyampaikan materi kimia secara menyeluruh dan jarang meminta siswa untuk membaca materi yang ada di LKS terlebih dahulu. Selain itu siswa membuka LKS hanya apabila diminta oleh guru dan siswa tidak inisiatif untuk berlatih mengerjakan soal-soal yang ada di LKS sebelum ditugaskan. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar lain sebagai alat bantu mengajar sekaligus sumber belajar siswa yang sistematis dan memuat materi secara lengkap agar siswa mudah dalam memahami materi sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Bahan ajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah modul. Modul

(6)

adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru (Depdiknas, 2008). Modul ini dirancang menyesuaikan sintak pada model pembelajaran TAI. Modul ini menjadi alat penunjang pembelajaran individual dalam melaksanakan pembelajaran model TAI, sehingga proses pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.

Tindak lanjut dari permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tindakan (action research) yang berorientasi pada peningkatan efektifitas pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika dilihat dari namanya, penelitian tindakan kelas menunjukkan sebuah kegiatan yang dilakukan di dalam kelas. Peneliti melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya kemampuan memori dan prestasi belajar siswa pada kelas X1 SMA Islam 1 Surakarta dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan modul.

Keunggulan dari pembelajaran TAI berbantu modul yaitu menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan bimbingan antarteman dimana modul berperan sebagai alat bantu dan sumber belajar bagi siswa. Akhirnya, pembelajaran TAI berbantu modul akan mampu membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan memori dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kimia khususnya materi hidrokaarbon.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi masalah yang timbul sebagai berikut:

1. Apakah pembelajaran model Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan modul dapat meningkatkan kemampuan memori siswa pada materi hidrokarbon kelas X1 SMA Islam 1 Surakarta?

2. Apakah pembelajaran model Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan modul dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi hidrokarbon kelas X1 SMA Islam 1 Surakarta?

(7)

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Meningkatkan kemampuan memori siswa pada materi hidrokarbon kelas X1 SMA Islam 1 Surakarta dengan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan modul.

2. Meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi hidrokarbon kelas X1 SMA Islam 1 Surakarta dengan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan modul.

D. Manfaat Hasil Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan informasi penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan modul.

b. Sebagai referensi bagi peneli lain yang akan melakukan penelitian sejenis.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat bagi inovasi pembelajaran

Meningkatkan kualitas atau memperbaiki proses pembelajaran yang selama ini telah dilakukan oleh guru khususnya pada materi hidrokarbon.

b. Manfaat bagi pengembangan profesi guru

Meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran seperti melihat masalah yang ada di dalam kelas untuk selanjutnya diperbaiki.

c. Manfaat bagi siswa

Menambah pengalaman bagi siswa tentang pembelajaran yang aktif, menarik, dan menyenangkan.

d. Manfaat bagi sekolah

Dapat dijadikan acuan dalam menggunakan model pembelajaran.

e. Manfaat bagi peneliti

Menambah pengalaman dalam melakukan perbaikan pembelajaran guna meningkatkan mutu pembelajaran.

Referensi

Dokumen terkait

terapi musik instrumental 82% depresi ringan, 18% depresi berat, 2) setelah melakukan terapi musik instrumental 88% tidak depresi dan 12% depresi ringan, 3) hasil

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Ampul dibuat dari bahan gelas tidak berwarna akan tetapi untuk bahan obat yang peka terhadap cahaya, dapat digunakan ampul yang terbuat dari bahan gelas

(2) Bank Indonesia mencabut status BDP apabila Bank Indonesia telah menerima surat penetapan dari BPPN yang menyatakan program penyehatan terhadap Bank yang bersangkutan telah