• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISUSUN OLEH : TIKA PURNAMA SARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DISUSUN OLEH : TIKA PURNAMA SARI"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Utuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Pada Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam

DISUSUN OLEH : TIKA PURNAMA SARI

3216.245

JURUSAN EKONOMI ISLAM

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM IAIN BUKITTINGGI

2020

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Pembimbing skripsi atas nama Tika Purnama Sari, Nim 3216245 dengan judul “PENGARUH FAKTOR AGAMA TERHADAP POLA KONSUMSI RUMAH TANGGA MUSLIM (Studi Kasus: Masyarakat Jorong Cingkariang Kanagarian Cingkariang Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam)” Memandang bahwa skripsi yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan ilmiah dan dapat disetujui untuk diajukan ke Sidang Munaqasah.

Demikian persetujuan ini diberikan untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Bukittinggi, 27 Mei 2020 Pembimbing

Dr.Iiz Izmuddin,MA NIP. 197503032001121007

(3)

i

KATA PENGANTAR

Ahamdulillahi rabbil‟alamin. Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat , karunia-Nya serta kasih sayang-Nya dan Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang meninggalkan dua pedoman untuk menjalankan kehidupan yakni Al-Qur‟an dan Sunnah. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Faktor Agam Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim Pada Masyarakat Jorong Cingkariang ”.

Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata satu Ekonomi Islam untuk mencapai gelar Sarjan pada Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Keberhasilan penyusunan skripsi ini juga atas bantuan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih yang tulus tak terhingga kepada teristimewa Ayahanda Edwar Sutan Saidi dan Ibunda Surnaini yang telah memberikan cinta kasih, mengasuh, mendidik, dan memberikan motivasi dalam mencapai cita-cita penulis dan do‟a yang tidak henti-hentinya disampiakan kepada yang maha kuasa. Karena berkat

(4)

ii

doa beliau pagi dan petang membuat penulis tidak patah semangat untuk melaksanakan berbagai aktivitas terutama dalam menyusun skripsi ini, semoga Allah melindungi dan memberkati beliau. Juga untuk kakak dan adik aku tersayang Ramat ilham S.pd, Maahmuda Taini S.Pd, Rahmi Sri Wahyuni, Afdillah, Elsi Rahayu S.Pd, Muhammad Alief yang selalu mendoakan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih penulis ucapkan kepada seluruh keluarga besar Sutan Rajo Ameh yang selalu memberikan motivasi dan dukungan demi kelanjutan studi penulis.

Penulisan skripsi ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan serta bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, izinkan penulis mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Bapak/Ibu yang telah berjasa dalam penyelesaian skripsi di antaranya:

1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M.Hum selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN ) Bukittinggi beserta Bapak/ Ibu Wakil Rektor.

2. Bapak Dr. Iiz Izmuddin, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisinis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi sekaligus pembimbing peulis.

3. Ibu Rini Elvira SE.,M.Si selaku Ketua Jurusan Ekonomi Islam yang telah memberikan fasilitas kepada penulis untuk menuntut ilmu di Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

(5)

iii

4. Bapak Raymond Dantes, Lc., M.Ag selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu mengarahkan, membimbing, mengajarkan dan mempermudah urusan penulis dalam bidang akademik.

5. Bapak/Ibu Dosen IAIN Bukittinggi khususnya Dosen FEBI yang telah membimbing dan mengarahkan peneliti dalam proses perkuliahan.

6. Bapak/Ibu pegawai kepustakaan yang telah menyediakan fasilitas kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Tos helmadi selaku Pimpinana wali nagari cingkariang yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian.

8. Pepi yulia selaku pimpinan jorong cingkariang yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian.

9. Rekan-rekan kepengurusan HMPS Ekonomi Islam, UKMD Azzamul Iffah IAIN Bukittinggi, Pengurus forum Silaturrahmi Mahasiswa Kabupaten Agam yang telah memberikan tempat untuk berproses belajar organisasi dan memberikan pengalaman yang sangat berharga.

10. Untuk sahabat-sahabt kecil penulis Ria, Yola, Indah, Fadilla, Riyan, Afif, Aldi ,fitra, Arif yang telah banyak bersabar, mengingatkan, mendewasakan dan mendukung penulis meski kita terpisahkan oleh jarak dan waktu kalian tetap selalu dihati penulis.

(6)

iv

11. Untuk sahabat-sahabat (Cakung-Cakung) penulis tersayang Deyanne, Fathurrahmi, Siti Aisyah, Rahma Dani, Ratna Maulina yang telah menemani penulis dalam keadaan suka maupun duka dan memberikan dukungan kepada penulis.

12. Untuk yang teristimewa sahabat yang saling suport yang sama- sama berjuang meraih gelar Sarjana ,Mudliawati, Lilis Seprtiani, Yulia Maya Sari, yang memberikan cinta kasihnya yang tulus dan bersabar dalam menghadapi penulis serta memberi dukungan dan masukan dalam pembuatan skripsi ini.

13. Untuk seluruh teman seperjuangan Mahasiswa IAIN Bukittinggi, Jurusan ekonomi islam angkatan 2016 khususnya teman-teman kelas EI F yang telah memberi berbagai pengalaman dan kenangan indah persahabatan serta suka duka perjuangan.

Bukittinggi, Mei 2020 Penulis

TIKA PURNAMA SARI NIM: 3216.245

(7)

v ABSTRAK

Skripsi ini disusun oleh Tika Purnama Sari, NIM 3216245, Jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (Iaian) Bukittinggi dengan judul “Pengaruh Faktor Agama Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim (Studi Kasus: Masyarakat Jorong Cingkariang Kanagarian Cingkariang Kecamataan Banuhampu Kabupaten Agam)

Penelitian ini dilatar belakangi dikarenakan banyaknya dari masyarakat teruttama rumah tangga muslim yang melakukan pola konsumsi cendrung israf(boros).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor agama terhadap pola konsumsi rumah tangga muslim.

Penelitian ini bersifat kuantitatif, yang menggunakan sofware SPSS 21, dengan teknik pengumpulan data yaitu dengan pembagian kuesioner atau angket, sampel 95 orang masyarakat jorong cingkariang. Metode analisa yang digunakan dalam instrumen peelitian menggunakan uji validitas, uji reabilitas, uji asumsi klasik menggunakan uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedasitas dan menggunakan analisi regresi sederhana, koefesien determinan (R2), dan uji T.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Persamaan regresi yang didapat adalah Y= 14,941+ 0,469 X 1 dimana angka ini menunjukkan angka yang positif.

Hasil koefesien determinan (R2) sebesar 48,1%, sisanya dipengaruhi oleh variabel yang tidak diperhitungkan dalm penelitian ini. Berdasarkan uji T terbukti bahwa nilai signifikan lebih kecil dari tingkat signifikan yang digunakan adalah 0,000 <

0,05 dan nilai Thitung > Ttabel atau 9,293 > 1,98580 sehingga dapat disimpulkan terdapat Pengaruh Yang Positif Dan Signifikan Antara Faktor Agama (X) Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim.

Kata kunci: Faktor Agama, Pola Konsumsi, Jorong Cingkariang

(8)

vi DAFTAR ISI COVER

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian ... 9

F. Manfaat Penelitian ... 9

G. Penjelasan Judul ... 10

H. Kajian Terdahulu ... 11

I. Sistematika Penulisan ... 14

BAB 2 LANDASAN TEORI A. POLA KONSUMSI RUMAH TANGGA MUSLIM 1. Pengertian Konsumsi ... 16

2. Pola konsumsi ... 17

3. Konsumsi Dalam Ekonomi Islam ... 18

4. Tujuan Konsumsi Dalam Islam ... 20

5. Kebutuhan Menurut Maslow... 22

6. Prinsip Konsumsi ... 24

7. Unsur-Unsur Penentu Prefensi Konsumen... 26

B. FAKTOR AGAMA 1. Pengalama Spiritual ... 30

2. Indikator Spiritual ... 33

3. Pengukuran Nilai-Nilai Spiritual ... 33

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Spiritual ... 34

C. Kerangka Pemikiran ... 37

D. Perumusan Hipotesis ... 38

(9)

vii BAB 3 METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 40

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 40

C. Varabel Penelitian ... 40

D. Defenisi Operasional Variabel ... 42

E. Jenis dan Sumber Data ... 43

F. Populasi dan Sampel ... 44

G. Teknik Pengumpulan Data ... 45

H. Teknik Analisis Data ... 45

BAB IV HASIL A. Monografi Jorong Cingkariang Kanagarian Cingkariang ... 50

B. Gambaran Umum Responden ... 55

C. Analisis Faktor Agama Terhadap Pola Konsumsi ... 57

D. Pembahasan ... 67

BAB 5 PENUTUP A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 71 DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(10)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Pendapatan Penduduk Jorong Cingkariang ... 6

Tabel 4.1 Batas Wilayah ... 51

Tabel 4.2 Luas Wilayah ... 52

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk ... 53

Tabel 4.4 Prasarana pendidikan ... 53

Tabel 4.5 Jumlah Sarana Dan Prasarana Ibadah ... 54

Tabel 4.6 Profil Respondent ... 55

Tabel 4.7 Responden Berdasarkan Usia... 56

Tabel 4.8 Responden berdasarkan Pekerjaan ... 56

Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas Variabel Faktor Agama (X) ... 58

Tabel 4.10 Hasil Uji Validitas Variabel Pola Konsumsi (Y) ... 59

Tabel 4.11 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Faktor Agama (X) dan variabel (Y) .. 60

Tabel 4.12 hasil Uji Normalitas ... 63

Tabel 4.13 Hasil Uji Multikolinearitas... 63

Tabel.4.14 Hasil Uji Heterokedasitas... 64

Tabel 4.15 Hasil Uji Regresi Sederhana ... 64

Tabel 4.16 Hasil Uji Koefesien Determinan ... 65

Tabel. 4.17 Hasil Uji Hipotesis (Uji T) ... 66

(11)

1

Kemiskinan merupakan masalah lama yang sampai saat ini masih menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh hampir semua negara-negara di dunia, bahkan negara maju sekalipun menghadapi masalah tersebut.

Kemiskinan identik dengan kekurangan, kesulitan dan ketidak berdayaan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Perkembangan kondisi kemiskinan suatu negara merupakan salah satu indikator untuk melihat perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin menurunya tingkat kemiskinan yang ada, maka dapat disimpulkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. 1

Dalam perekonomian suatu negara, konsumsi mempunyai peran penting di dalamnya serta mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas perekonomian. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi tingkat perubahan kegiatan ekonomi dan perubahan dalam pendapatan nasional suatu negara. Konsumsi keluarga merupakan salah satu kegiatan ekonomi keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan barang dan jasa. Dari komoditi yang dikonsumsi itulah akan mempunyai kepuasan tersendiri. Oleh

1Eka Vidiawan, “Analisis Pengaruh Pendapatan, Jumlah Anggota Keluarga, Dan Pendidikan Terhadap Jumlah Konsumsi Rumah Tangga Miskin Di Desa Batu Kandik Kecamatan Nusa Penida Kabupaten Klungkung”, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol.4 No.4, Hlm .243-244

(12)

karena itu, konsumsi seringkali dijadikan salah satu indikator kesejahteraan keluarga. Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dan cita-cita suatu negara.2

Pola konsumsi sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dapat pula dikatakan membaik apabila pendapatan meningkat dan sebagian pendapatan tersebut digunakan untuk mengkonsumsi non makanan, begitupun sebaliknya. Pergeseran pola pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dari makanan ke non makanan dapat dijadikan indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan anggapan bahwa setelah kebutuhan makanan telah terpenuhi, kelebihan pendapatan akan digunakan untuk konsumsi bukan makanan.3

Dalam pandangan islam, antara kebutuhan dan keinginan adalah berbeda. Dasar dari pemenuhan kebutuhan adalah maslahah (manfaat bagi manusia tidak hanya secara material tetapi juga moral dan spiritual). Sementara keinginan, dasar pemenuhannya adalah hasrat (nafsu), bukan manfaat.4

Spiritualitas berbeda bagi tiap individu, hal ini antara lain dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri),

2Tuti Supatminingsih , “Pola Dan Perilaku Konsumsi Rumah Tangga Dalam Perspektif Ekonomi Islam Di Kota Makassar, Jurnal Syari’ah Dan Hukum, vol. 16 Nor 2 2018,Hlm 308

3Septia S.M. Nababan, “Pendapatan Dan Jumlah Tanggungan Pengaruhnya Terhadap Pola Konsumsi Pns Dosen Dan Tenaga Kependididkan” pada fakultas ekonomi dan bisnis universitas sam ratulangi manado, Jurnal EMBA Vol.1 No.4 Desember 2013,Hlm,2131

4 Ima Amaliah, “Etika Konsumsi Islam Dari Pegawai Smu Di Kota Bandung,” Jurnal Mimbar, Vol. 31.No.1 (Juni 2015),Hlm 43

(13)

interpersonal (hubungan antara orang lain dengan lingkungan) dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi).5

Dalam ekonomi konvensional, konsumsi diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan (utility). Konsumsi dalam Islam tidak hanya bertujuan mencari kepuasan fisik, tetapi lebih mempertimbangkan aspek maslahah yang menjadi tujuan dari syariat Islam. Al-quran menyebutkan ekonomi dengan istilah iqtishad (penghematan, ekonomi) yang secara literatur berarti pertengahan dan moderat.

Seorang muslim dilarang melakukan pemborosan. Seorang muslim diminta untuk mengambil sebuah moderat dalam memperoleh dan menggunakan sumber daya tidak boleh israf dan bakhil. Aturan dan kaidah konsumsi dalam sistem ekonomi Islam menganut paham keseimbangan dalam berbagai aspek. Konsumsi yang dijalankan oleh seorang muslim tidak boleh mengorbankan kemaslahatan individu dan masyarakat. Kemudian, tidak diperbolehkan mendikotomi antara kenikmatan dunia dan ahirat, bahkan sikap ekstrimpun harus dijauhkan dalam berkonsumsi. larangan atas sikap tabzir dan israf bukan berarti mengajak seorang muslim untuk bersikap bakhil dan kikir,

5 Teni listiani, “Tingkat Pemahaman Dan Penerapan Nilai-Nilai Spiritual Pegawai Di Balai Pendidikan Dan Pelatihan Keagamaan Bandung,” Jurnal Ilmu Administrasi ,Volume XIV, No 2, 2017 , Hlm 303

(14)

akan tetapi mengajak kepada konsep keseimbangan, karena sebaik-baiknya perkara adalah pertengahan.6

Konsumsi adalah bagian dari penghasilan yang dipergunakan membeli barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhna hidup, menurut ilmu ekonomi konsumsi adalah setiap kegiatan memanfaatkan, mengabiskan kegunaan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhna dalam upaya menjaga kelangsungan hidup.

Dalam pandangan ajaran islam, penegakkan kedaulatan ekonomi merupakan sebuah keniscayaan. Kedaulatan ekonomi ini adalah hal yang sangat esensial dan fundamental bagi setiap bangsa. Kedaulatan ekonomi sangat menentukan kedaulatan bangsa, apakah bangsa tersebut akan dengan mudah didikte oleh kepentingan asing atau tidak. Jalan untuk menegakkan kedaulatan ekonomi ini tidak lain adalah melalui kebijkan ekonomi yang berbasis pada konsep maslahah. Maslahah adalah suatu konsep yang mendasar pada sebuah aspek utama, yaitu manfaat dan berkah. Kemaslahatan akan tercapai ketika yang muncul dari sebuah proses adalah kemanfaatan dan keberkahan.7

Menurut islam anugrah Allah itu milik semua manusia. Suasana yang menyebabkan sebagian diantara anugrah-anugrah itu berada di tangan orang- orang tertentu. Hal ini tidak berati bahwa mereka dapat memanfaatkan anugrah

6Novi Indriyani Sitepu, “Perilaku Konsumsi Islam Di Indonesia, Jurnal Perspektif Ekonomi Darussalam”, Vol.2 No.1 2016 ,Hlm98

7 Irfan Syauqi Beik, Laily Dwi Arsyianti, Ekonomi Pembangaunan Syariah, (Jakarta:

2016),Hlm 28

(15)

untuknya, sedangkan orang lain tidak memiliki bagiannya. Anugrah yang diberikan allah kepada umat manusia masih berhak dimiliki walaupun mereka tidak memperolehnya. Dalam Al-Qur‟an allah SWT mengutuk dan membatalkan argumen yang dikemukakan oleh orang kaya yang kikir karena ketidaksediaan memberikan bagian atau miliknya. Allah berfirman dalam QS.Yasin 36 : 47.8

َّه ٌَي ُىِع ۡطُج َ

أ ْآََُْياَء ٌَيِ َّلَِّل ْاوُرَفَك ٌَيِ لَّٱ َلاَق ُ َّللَّٱ ُىُلَقَزَر اًَِّم ْاُْقِفٍ َّ َ

أ ۡىَُّل َنيِق اَذوَإِ

ْۡ

ٖينِبُّي ٖنَٰ َل َض ِفِ َّلَِّإ ۡىُجٍَأ ۡنِإ ٓۥًََُُعۡطَأ ُ َّللَّٱُءٓاَشَي

٤٧

Artinya : Dan apabila dikatakakan kepada mereka: "Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu", maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah kami akan memberi makan kepada orang- orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata"

Dalam Ekonomi Islam konsumsi dikendalikan oleh beberapa prinsip yaitu prinsip syariah, prinsip kuantitas, prinsip proritas, dan prinsip sosial.

Prinsip-prinsip dasar konsumsi islam akan memilki konsekwensi bagi pelakunya. Seorang yang melakukan konsumsi harus beriman kepada allah dan akhirat. Pada hakikatnya semua anugrah dan kenikmatan dari segala sumber daya yang diterima merupakan ciptaan dan milik allah secara mutlak dan akan kembali kembali kepada-Nya. Tingkat pengetahuan dan ketakwaan akan mempengaruhi perilaku konsumsi seseorang. 9

8 Boedi Abdullah, Ekonomi Makro Islam, (Bandung :Pt RajaGrafindopersada, 2013) ,Hlm 225

9 Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam, (Cirebon: Alfabeta, 2013), Hlm 164

(16)

Perilaku konsumsi ditentukan oleh tingkat pengetahuan tentang ekonomi, sehingga pengetahuan ekonomi yang dimiliki masyarakat menjadi hal penting. Pengetahuan ekonomi dalam perekonomian suatu negara menjadi penting, karena dengan pengetahuan ekonomi berarti menunjukkan masyarakat suatu negara merupakan konsumen (atau produsen) yang cerdas, sehingga akan mendorong terhadap pertumbuhan produksi dalam negeri yang pada gilirannya akan mendorong terhadap pertumbuhan ekonomi.10

Pada observasi yang peneliti lakukan pada penduduk rumah tangga muslim Jorong Cingkariang, Jorong Cingkariang merupakan jorong yang memiliki kegiatan dalam petanian, selain petani yaitu wiraswasta, Pegawai Negeri Sipil dan lainnya. Perbedaan jenis pekerjaan yang dimiliki penduuduk menandakan bahwa juga terdapat perbedaan jumlah pendapatan yang didapatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dengan memiliki berbagai perbedaan model pola konsumsi disetiap rumah tangga muslim. Berikut dapat dilihat tingkat pendapatan penduduk Jorong Cingkariang :

Tabel 1.1

Pendapatan Penduduk Jorong Cingkariang

No Tingkat Pendapatan Frekuensi Persentase

1 1.000.000 – 2.000.000 350 58,33 %

2 2.000.000 – 4.000.000 175 29,16 %

3 4.000.000 - 6.000.000 50 8,33 %

4 6.000.000 – 8.000.000 20 3,33 %

10Entika Indrianawati, “Jurnal Ekonomi Pendidikan Dan Kewirausahaan, Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya, vol. 3. No. 1

(17)

5 8.000.000 – 10.000.000 5 0,83 %

Jumlah ∑ 600

Sumber: Dilla, Staf Keuangan Kantor Walinagari Cingkariang

Tindakan konsumtif tidak hanya pada kalangan penduduk berpendapatan tinggi saja, namun merambah pada penduduk berpendapatan rendah. Pada observasi yang peneliti lakukan tentang perilaku konsumsi di Jorong Cingkariang, penduduk melakukan beranekaragam perilaku konsumsi, baik itu kebutuhan primer,sekunder maupun tersier, ada beberapa penduduk yang terlihat berlebih-lebihan dalam perilaku konsumsinya padahal dalam islam hal tersebut tidak dianjurkan. Dapat dilihat masyarakat lebih sering membeli barang yang tidak tepat guna atau kurang bermanfaat. Dapat dicontohkan kebanyakan penduduk membeli makanan yang sedang banyak dibeli oleh masyarakat dengan membeli makanan kekinian atau makan cepat saji dan mash banyak penduduk yang mementingkan membeli pakaiana dari pada mempertimbangkan untuk kebutuhan pokoknya. Dapat dikatakan masyarakat juga mengutamakan gaya hidup.

Adanya fenomena berupa kesenjangan antara idealita (yang dicita- citakan) dengan realita. Das sollen (apa yang seharusnya), konsumsi dapat memberi manfaat, kesejahteraan dengan tetap mengedepankan konsumsi yang sehat dan ramah lingkungan, serta konsumsi yang berorientasi kesehatan fisik dan fsikis manusia, material dan spiritual, namun das sein (kenyataan) membuktikan bahwa konsumsi dan produksi sudah banyak yang menyimpang dari prinsip-prinsip kesejahteraan ekonomi dan kemaslahatan.

(18)

Dalam berpola konsumsi masih banyak penduduk rumah tangga muslim yang belum mengaitkan pengalaman spiritual dalam memenuhi kebutuhan pokok, penduduk dalam mengkonsumsi seringkali mengedepannkan keingginan dibandingkan kebutuhan tanpa memikirkan kemaslahatan. Namun jika masyarakat memiliki tingkat spiritual yang baik dan perilaku konsumsi yang Islami tentu hal ini tidakakan terjadi.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pola konsumsi dharuriyat rumah tangga muslim. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana pengaruh faktor agama terhadap pola konsumsi dengan judul

penelitian“PENGARUH FAKTOR AGAMA TERADAP POLA

KONSUMSI RUMAH TANGGA MUSLIM JORONG CINGKARIANG .

B. Identifikasi Masalah

1. Adanya Anggapan Dari Teori Bahwa Konsumsi Merupakan Indikator Kesejahteraan Keluarga.

2. Tingkat Konsumsi Masyarakat Rumah Tangga Muslim Cendrung Tinggi.

3. Ketidak Seimbangan Spiritual Dalam Melakukan Pola Konsumsi

4. Pola Konsumsi Yang Dilakukan Oleh Masyarakat Rumah Tangga Muslim Cendrung Tabzir

C. Batasan Masalah

Berdasarkan permasalahan pada latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka penelitian ini dibatasi pada “Pengaruh Spiritual Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim (Studi Kasus: Masyarakat Jorong

(19)

Cingkariang, Kanagarian Cingkariang Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam)”

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah “Apakah Terdapat Pengaruh Faktor agama Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim di Jorong Cingkariang?”

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada perumusan masalah diatas maka dapat dikemukakan tujuan peelitian yaitu Untuk Menguji Pengaruh Faktor Agama Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim di Jorong Cingkariang

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini adalah : 1. Secara Teoritis

Diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khusunya mengenai ekonomi islam. Sehingga Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan terhadap Pola Konsumsi Rumah Tannga Muslim.

2. Secara Praktis a. Masyarakat

Salah satu bahan yang dijadikan pedoman dalam pola konsumsi yang terdapat di Jorong Cingkariang diharapakan dapat memberikan kontribusi dalam pembuatan yang berhubungan dengan objek penelitian.

(20)

b. Bagi Akademis

Diharapakan penelitian ini dapat menjadi sumber pustaka dalam penelitian selanjutnya dan menjadi referensi untuk mahasiswa dan pembaca.

F. Penjelasan Judul

Untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman judul dalam memahami judul diatas, maka penulis merasa perlu untuk menjelasakan beberapa kata yang terdapat didalam judul yaitu:

Pengaruh :Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang,benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.11

Faktor agama :Suatu penyebab terjadinya kegiatan yang bersifat positif atau negatif yang dipengaruhi oleh agama

Konsumsi : Suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, barang maupun jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan.12

Rumah Tangga Muslim : Rumah tangga yang dikendalikan dengan tata nilai dan akhlak islamiyah masing-masing anggotanya hidup secara isalam dan mengindahkan hukum halal dan haram. 13

11 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan, KKBI, (Jakarta: Balai Pustaka,2007),Hlm 849

12 Abdul Aziz, Etika Bisnis...Hlm 159

13 Ali Abdul Halim Mahmud, Dakwah Fardiyah, (Jakarta: Germa Insani 1995),Hlm 30

(21)

G. Kajian Terdahulu

Dalam kajian ini penulis memaparkan bebebrapa penelitian terdahulu yang relevan dengan pembahasan yang diteliti tentang pengaruh faktor agama terhadapa pola konsumsi rumah tangga muslim, diantaranya:

1. Hasnira, 2017, Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Wahdah Islamiyah Makassar.14 Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriftif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan dan gaya hidup berpengaruh positif dan signifikan terhadapa konsumsi masyarakat wahdah islamiyah makassar. Namun variabel pendapatan memiliki pengaruh paling dominan terhadap konsumsi masyarakat wahdah islamiyah makassar.

2. Tanti Dwi Hardiyanti, 2019, Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan.15 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap pola konsumsi masyarakat. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan hasil penelitian uji t menunjukkan hasil variabel pendapatan thitung sebesar 5,712 dan ttabel sebesar 1,66071dengan tingkat signifikan 0,000, dan variabel gaya hidup thitung sebesar 7,937 dan ttabel sebesar 1,66071 dengan tingkat signifikan 0,000. Dan uji f menunjukkan hasil fhitung sebesar 50,268 dan ftabel sebesar 3,09 dengan tingkat signifikan 0,000. Ini menunjukkan bahwa

14Hasnira,”Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Wahdah Islamiyah Makassar”,Skripsi, EI,FEBI,2017, Diakses Pada 5 Februari 2020

15Tanti Dwi Hardiyanti,”Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan”, Skripsi,EI,FEBI,UINSU,2019,Diakses pada 5 januari 2020

(22)

pendapatan dan gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap pola konsumsi masyarakat kecamatan medan perjuangan.

3. Sumbu Latim Miatun ,2018, Pengaruh Religiusitas Terhadap Gaya Hidup Konsumen Muslim Toko Artomoro Di Ponorogo,16Metodolodgi penelitian ini menggunakan kuantitatif, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap gaya hidup konsumen muslim konsumen muslim toko Artomoro di Ponorogo. Penelitian ini menggunakan 97 responden konsumen muslim toko Artomoro di Ponorogo. Pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Sampling, kemudian data diolah menggunakan SPSS 16.0. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara religiusitas terhadap gaya hidup.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari religiusitas terhadap gaya hidup konsumen muslim toko Artomoro di Ponorogo sebesar 9,9% dan sisanya 90,1% dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian in

4. Agus Putra Sanjaya, 2017, Analisis Pengaruh Pendapatan, Jumlah Anggota Keluarga Dan Pendidikan Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin Di Desa Bebandem, Karangasem,17Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, untuk mengetahui pengaruh secara simultan dan parsial antara variabel pendapatan, jumlah anggota keluarga

16Sumbu Latim Miatun, “Pengaruh Religiusitas Terhadap Gaya Hidup Konsumen Muslim Toko Artomoro Di Ponorogo”, Skripsi ,MFS,IAINP,2018, Diakses 5 Januri 2020

17Agus Putra Sanjaya,”Analisis Pengaruh Pendapatan, Jumlah Anggota Kelauarga Dan Pendidikan Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin Di Desa Bebandem Karangasem”, E- Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol.6, No.8 2017

(23)

dan pendidikan terhadap pola konsumsi rumah tangga miskin di Desa Bebandem.

5. Entika Indrianawati, 2015, Pengaruh Tingkat Pendapatan Dan Pengetahuan Ekonomi Terhadap Tingkat Konsumsi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.18Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif , Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat pendapatan terhadap tingkat konsumsi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas NegeriSurabaya, menganalisis pengaruh pengetahuan ekonomi terhadap tingkat konsumsi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya,menganalisis pengaruh tingkat pendapatan dan pengetahuan ekonomi terhadap tingkat konsumsi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.

6. Heri Pratikto,2012,”Motivasi Spiritual Dan Budaya Sekolah Berpengaruh Terhadap Kinerja Profesional Dan Perilaku Konsumsi Guru Ekonomi,19 Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatifpenelitian ini bertujuan mengungkap pengaruh motivasi spiritual, persepsi dan sikap atas budaya organisasi terhadap perilaku konsumsi yang dimediasi oleh etos kerja dan kinerja professional

Setelah membaca dan menganalisa kajian terdahulu diatas terdapat perbedaan antara yang penulis teliti dengan kajian terdahulu, dimana penulis

18Entika Indrianawati,”Pengaruh Tingkat Pendapatan Dan Pengetahuan Ekonomi Terhadap Tingkat Konsumsi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya”,jurnal Vol 3 No 2,2015

19Heri Pratikto, “Motivasi Spiritual Dan Budaya Sekolah Berpengaruh Terhadap Kinerja Profesional Dan Perilaku Konsumsi Guru Ekonomi” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Volume 19, Nomor 1, April 2012

(24)

mengkaji tentang Faktor Agama Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim. Sedangkan pada kajian terdahulu membahas tentang Pengaruh Pendapatan, Gaya Hidup.

H. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, Rumusan Maslah, Tujuan Penelitian ,Manfaat Penelitian, Penjelasa Jdul Serta Sistematika Penulisan Skripsi.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini terdiri dari Pengertian, Pengukuran nilai-nilai spiritual, Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas, Pengertian Konsumsi, Pola Konsumsi, Konsumsi Dalam Ekonomi Syariah , Tujuan Konsumsi Dalam Islam, Prinsip Konsumsi, Unsur-Unsur Penentu Prefensi Konsumen

BAB III METODE PENELITIAN

Jenis penelitian, lokasi dan Waktu Penelitian ,Jenis Dan Sumber Data,Populasi Dan Sampel, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data.

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan data yang diperoleh dalam penelitian ini kemudian di analisa dengan berbagai metode untuk dapat membuktikan kebenaran hipotesis yang telah dibuat agar dapat menarik kesimpulan.

(25)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab terakhir dari skripsi yang berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian dan saran

(26)

16

PEMBAHASAN A. Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim

1. Pengertian Konsumsi

Konsumsi berasal dari bahaa inggris yaitu consume atau bahasa belanda yakni consumptie yang berarti memakai atau menghabiskan.

Konsumsi ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi dan menghabiskan daya guna suatu benda baik berupa barang maupun jasa, baik secara sekaligus maupun berangsur-angsur untuk memenuhi kebutuhan.

Dalam ekonomi islam, konsumsi diakui sebagai salah satu perilaku ekonomi dan kebetulan asasi dalam kehidupan manusia. Perilaku konsumen diartikan sebagai setiap perilaku seorang konsumen untuk menggunakan dan memanfaatkan barang dan jsa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 20

Aktivitas konsumsi dalam islam merupakan salah satu aktivitas ekonomi manusia yang bertujuan ntuk meningkatkan ibadah dan keimanan kepada allah swt dalam rangka mendapatkan kemenangan, kedamaian dan kesejahteraan akhirat (falah), baik dengan membelanjakan uang atau pendapatan untuk keperluan dirinya maupun untuk amal shaleh bagi sesamanya.21

20 Abdul Ghofur, Pengantar Ekonomi Syriah. (Kaliwungu: Pt Rajagrafindo Persada), 2017,Hlm 76

21 Idri, Hadis ekonomi, Surabaya, Pranadamedia Grup 2014 ...,Hlm 98

(27)

Menurut Qardhawy, sebagaimana yang dikutip oleh Rahmat Gunawijaya dalam pemenuhan kebutuhan harus mempertimbangkan kaidah-kaidah berikut:

a. Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang baru diduga adanya, atau masih diragukan.

b. Mendahulukan kepentingan yang besar atas kepentingan yang kecil c. Mendahulukan kepentingan sosial atas kepentingan individual

d. Mendahulukan kepentingan yang banyak atas kepentingan yang sedikit.

e. Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan yang yang sementara atau insidentil

f. Mendahulukan kepentingan inti dan fundamental atas kepentingan yang bersifat formalitas atau tidak penting.22

2. Pola Konsumsi

Pola konsumsi orang berbeda-beda, tetapi secara umum dalam berkonsumsi orang akan mendahulukan kebutuhan pokok, baru kemudian memenuhi kebutuhan lainnya. Berdasarkan teori pola konsumsi, faktor - faktor yang mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga secara garis besar dikelompookkan menjadi :

a. Faktor budaya i. Gaya hidup ii. Nilai tradisi b. Faktor Sosial

22 Rahmat Gunawijaya , kebutuhan manusia dalam pandangan ekonomi kapitalis dan ekonomi islam,jurnal al-maslahah – volume 13 nomor 1 april 2017,diakses pada 15 februari 2020

(28)

i. Ukuran rumah tangga ii. Lingkungan

iii. Pendidikan iv. Usia c. Faktor Ekonomi

i. Penghasilan ii. Kekayaan iii. Harga barang iv. Tabungan

v. Kredit

vi. Konsumsi masa lalu vii. Ekspektasi

d. Faktor Agama i. Kepedulian

ii. Pemahaman terhadap harta iii. Pengalaman spiritual 23

3. Konsumsi Dalam Ekonomi Syariah

Konsumsi memliki urgensi yang sangat besar dalam perekonomian, karena tiada kehidupan tanpa konsumsi. Pengabaian terhadapa konsumsi berarti mengabaikan kehidupan sekaligus tugas dalam kehidupan. Manusia diperintahkan untuk mengonsumsi pada tingkat yang layak bagi dirinya, keluarga dan orang paling dekat di sekitarnya. Manusia

23 Fordebi, Ekonomi Dan Bisnis Islam,(Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada,2016 ), hlm 336

(29)

dilarang beribadah secara mutlak tanpa mementingkan kebutuhan jasmani bahkan diperbolehkan mengonsumsi makanan yang haram ketika dalam kesulitan. 24

Dalam ajaran islam ada beberapa hal yang menjadi titik tekan dalam konsumsi

a. Konsumsi lebih diarahkan pada aspek maslahah bukak utilitas.

Pencapaian maslahah merupakan tujuan dari syariat islam

b. Dalam islam dilarang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan c. Dalam islam menekankan bahwa konsumsi dapat dilakukan sepanjang

memehartikan pihak lain yang tidak mampu. Sehingga ditekankan aspek zakat, infak dan sadaqah.

Maslahah yang diterima oleh seorang konsumen ketika mengkonsumsi barang dapat berbentuk salah satu diantaranya Manfaat material yaitu diperoleh tambahan harta bagi konsumen berupa harga yang murah, diskon, kecilnya biaya dan sbagainya. Manfaat fisik dan pskikis, yaitu terpenuhinya kebutuhan baik fisik maupun psikis terpenuhinya kebutuhan akal manusia, Manfaat intelektual, yaitu terpenuhinya kebutuhan informasi, pengetahuan, keterampilan dan lain-lain, Manfaat lingkungan, yaitu manfaat yang bisa dirasakan selain pembelian dan Manfaat jangka panjang, yaitu terpeliharanya manfaat untuk generasi yang akan datang.25

24Abdul Ghofur, Pengantar ..Hlm 76

25Abdul Ghofur, Pengantar Ekonomi ...Hlm 79

(30)

Disamping itu kegiatan konsumsi akan membawa berkah bagi konsumen jika ,Barang yang dikonsumsi bukan merupakan barang haram, Barang yang dikonsumsi tidak secara berlebihan dan Barang yang dikonsumsi didasari oleh niat untuk mendapatkan rido Allah. Konsep maslahah memiliki makna yang luas dari sedekar utulity atau kepuasan dalam termiologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara‟ yang paling utama.

4. Tujuan Konsumsi Dalam Islam

Tujuan konsumsi adalah dalam rangka untuk memenuhi kebuthan manusia. Kebutuhan itu dapat dikategorikan

a. Kebutuhan Primer ( Dharuriyyah)

Kebutuhan yang berkaitan dengan hidup mati seseorang, seperti kebutuhan pada oksigen,makanan dan minuman. Manusia harus terus berusaha untuk memepertahankan kehidupannya dengan melakukan pemenuhan kebutuhan primernya sebatas yang dibutuhkan dan tidak boleh berlebihan.26

Allah berfirman dalam Al-Qur‟an surat al-An‟am ayat 141

ۥُُُوُك ُ

أ اًفِوَجۡ ُمُ َعۡرَّزلٱَو َنۡخَّلنٱَو ٖتَٰ َشوُرۡعَي َ ۡيَۡغَو ٖتَٰ َشوُرۡعَّي ٖتَٰ َّنَج َ أ َشن َ

أ ٓيِ لَّٱ ََُِْو۞ َّ

َنُْجۡيَّزلٱَو َمَْۡي ۥَُُّقَح ْاُْثاَءَو َرًَۡث َ

أ ٓاَذِإ ٓۦِهِرًَ َث ٌِي ْاُْ ُكُ

ٖٖۚ ِّبَٰ َشَتُي َ ۡيۡ َغَو اِّٗبَٰ َشَتُي َناَّيُّرلٱَو َينِفِ ۡسًُۡ ۡ لٱ ُّبِ ُيُ َ

لَّ ۥٍَُُِّإ ٖۚ ْآُْفِ ۡسُۡت َلََّو ۖۦِهِدا َصَح ١٤١

26Idri, Hadis Ekonomi...Hlm 106

(31)

Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan

b. Kebutuhan Sekunder (Hajiyat)

Kebutuhan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan, tetapi tidak sampai mengancam kehidupan apabila tidak terpenuhi. Segala sesuatu yang dapat memudahkan dalam melakukan tugas-tugas penting diklasikfikasikan sebagai kebutuhan sekunder

c. Kebutuhan Tersier (Tahsiniyah)

Kebutuhan yang bersifat asesoris,pelengkap dan memberi nilai tambah pada pemenuhan kebutuhan promer dan sekunder.

Dalam menentukan tiga kebutuhan tersebut umat islam tidak semata-mata memeperhatikan aspek terpenuhinya salah satu atau semua kebutuhan itu. Pemenuhan kebutuhan dengan konsumsi dengan niat untuk meningkatkan stamina dalam bingkaian ketaatan dan pengbdian kepada Allah akan menjadikan bernilai ibadah yang berpahala. 27

Dengan demikian aktivitas konsumsi merupakan aktivitas ekonomi manusia yang bertujuan untuk meningkatkan ibadah dan keimanan kepada Allah dalam rangka mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan, baik dengan membelanjakan uang atau pendapatan untuk keperluan dirinya maupun untuk amal shaleh. Islam mengajatkan agar

27Idri, Hadis Ekonomi...,Hlm 107

(32)

dalam memenuhi kebutuhan baik primer, sekunder, mapun tersier manusia melakukannya dengan tujuan untuk ibadah kepada allah dengan mematuhi norma-norma ajaran Islam.28

5. Kebutuhan Menurut Maslow

Maslow‟s Need Hierarchy Theory atau A Theory of Human Motivation, dikemukakan oleh Abraham Maslow tahun 1943 menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasan seseorang itu jamak yaitu meliputi kebutuhan biologis dan psikologis berupa materiil dan non materiil. Dalam teori kebutuhan Maslow, ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi maka kebutuhan berikutnya menjadi dominan. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow adalah sebagai berikut :

a. Kebutuhan Fisiologis (Phisiological Needs)

Kebutuhan fisiologis merupakan hierarki kebutuhan manusia yang paling dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup meliputi sandang, pangan, papan seperti makan, minum, perumahan, tidur, dan lain sebagainya.29

b. Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs)

Kebutuhan akan rasa aman ini meliputi keamanan secara fisik dan psikologis. Keamanan dalam arti fisik mencakup keamanan di tempat pekerjaan dan keamanan dari dan ke tempat pekerjaan.

28Idri, Hadis Ekonomi..., Hlm 108

29 Elisa Sari , Pendekatan Hierarki Abraham Maslow Pada Prestasi Kerja Karyawan PT.

Madubaru (Pg Madukismo) Yogyakarta,Jurnal Prilaku Dan Strategi Bisnis, Vol.6 No.1, 2018, Hlm 61

(33)

Kemanan fisik ini seperti keamanan dan perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja dengan memberikan asuransi dan penerapan prosedur K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), serta penyediaan transportasi bagi karyawan. Sedangkan keamanan yang bersifat psikologis juga penting mendapat perhatian. Keamanan dari segi psikologis ini seperti perlakuan yang manusiawi dan adil, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya, jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak ada lagi.

c. Kebutuhan Sosial (Social Needs)

Meliputi kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi (hubungan antar pribadi yang ramah dan akrab), dan interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan Pendekatan Hierarkhi Abraham berkaitan dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi bersama.30

d. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)

Kebutuhan ini meliputi kebutuhan dan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas faktor kemampuan dan keahlian seseorang serta efektivitas kerja seseorang.

(Sunyoto, Danang, 2013: 3) Maslow membagi kebutuhan akan rasa harga diri/penghargaan ke dalam dua sub, yakni penghormatan dari diri sendiri dan penghargaan dari orang lain. Sub pertama mencakup hasrat

30 Elisa Sari , Pendekatan Hierarki ...Hlm 61

(34)

dari individu untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan.

Kesemuanya mengimplikasikan bahwa individu ingin dan perlu mengetahui bahawa dirinya mampu menyelesaikan segenap tugas atau tantangan dalam hidupnya. Sub yang kedua mencakup antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya. Penghargaan ini dapat berupa pujian, pengakuan, piagam, tanda jasa, hadiah, kompensasi, insentif, prestise (wibawa), status, reputasi, dls. (Koeswara, E., 1995: 228-229)

e. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization Needs)

Aktualisasi diri merupakan hierarki kebutuhan dari Maslow yang paling tinggi. Aktualiasasi diri berkaitan dengan proses pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang.

(Sunyoto, Danang, 2013: 3). Pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan oleh para pimpinan perusahaan dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, memberikan otonomi untuk berkreasi, memberikan pekerjaan yang menantang.31

6. Prinsip Konsumsi

Ajaran islam tidak melarang manusia untuk memenuhi kebutuhan ataupun keinginannya, selama dengan pemenuhna tersebut, martabat manusia bisa meningkat. Islam telah mengatur bahwa setiap muuslim

31 Elisa Sari , Pendekatan Hierarki ...Hlm 62

(35)

dalam berkonsumsi harus sejalan dengan prinsip konsumsi yang didasarkan pada nilai-nilai islam antara lain:

a. Prinsip Kehalalan Dan Thayyib

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa mengkonsumsi segala sesuatu yang dihalalkan dengan cara yang baik. Setiap individu dibatasi oleh atura-aturan syariat, dimana ada beberapa barang yang tidak boleh dkonsumsi karena suatu alasan tertentu,barang ini haram.

Seingga konsumen hanya boleh mengonsumsi barng atau objek yang halal, baik produknya maupun prosesnya. 32

Tuntutan untuk mengkonsumsi barang-barang ekonomi yang halal lagi baik, pada prinsipnya diarahkan pada tidak hanya kepada umat islam semata, melainkan kepada semua manusia tanpa membeda- bedakan jenis kelamin, status sosial, suku, bangsa, dan negara atau bahkan juga tidak atas dasar agama sekalipun.

b. Prinsip kesederhanaan

Islam memerintahkan manusia untuk lebih efesien dalam menggunakan pendapatannya dan tidak boleh menghabur-hamburkan hartanya, karena itu adalah perbuatan mubazir dan dapat merusak keseimbangan sosial, kesejahteraan dan berakibat kepada kemiskinan dan kehinaan. 33

32 Havis Aravik, Ekonomi Islam,(Jakarta: Empatdua,2016), Hlm 117

33Havis Aravik, Ekonomi Islam.. Hlm 120

(36)

c. Prinsip Kebersihan

Prinsip ini mengandung arti bahwa setiap mengkonsumsi sesuatu baik atau cocok untuk dimakan, sehingga tidak merusak selera. Artinya tidak semua yang diperkenankan dapat dimakan atau diminum dalam semua keadaan, keculai yang bersih dan bermanfaaat.

d. Prinsip Kemurahan Hati

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa dengan menaati prinsip islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita makan dan meminum makanan halal yang disediakan Allah karena kemurahan hati-Nya. Selama maksudnya untuk kelansungan hidup dan kesehatan yang lebih baik dengan tujuan menunaikan perintah Allah dengan keimanan yang kuat dalam tuntutan-Nya, dan perbuatan adil sesuai dengan itu, yang menjamin persesuaian bagi semua perintah-Nya.

e. Prinsip Moralitas

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa bukan hanya mengenai makanan dan minuman langsung tetapi dengan tujuan terakhir yakni peningkatan atau kemajuan nilai-nilai moral dan spriritual. 34:

7. Unsur-Unsur Penentu Prefensi Konsumen

Dalam mambahas teori perilaku konsumen dalam berkonsumsi, diasumsikan bahwa seseorang konsumen merupakan sosok yang cerdas.

dalam ekonomi islam kecerdasan konsumen tidak bersifat mutlak. Allah

34 Havis Aravik, Ekonomi Islam...Hlm 123

(37)

telah memberikan beberapa kenikmatan dan kemampuan kepada manusia, diantaranya yang paling agung adalah kenikmatan akal dan nalar. Yang mampu membedakan kemaslahatan dan kemudharatan.35

Allah berfirman dalam Al-Qur‟an Ali-Imran 14

ِبََِّلَّٱ ٌَِي ِةَر َطََقًُ ۡ لٱ ِيِۡطَٰ َنَقۡهٱَو َينِنَ ۡلۡٱَو ِءٓاَسِّنهٱ ٌَِي ِتََٰوََّّشلٱ ُّبُح ِساََّوِل ٌَِّيُز ٱَو ۥُهَدَِع ُ َّللَّٱَو ۖاَيۡجُّلدٱ ِةََْٰيَ ۡ

لۡٱ ُعَٰ َتَي َكِلََٰذ ِِۗثۡرَ ۡ

لۡٱَو ِىَٰ َعٍۡ َ ۡ

لۡٱَو ِةَيَّْ َسًُ ۡ لٱوۡيَ لۡٱَو ِة َّضِفۡه ۡ َمۡهٱ ٌُ ۡسُح ِ ا َٔ

١٤

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)

Penjelasan diatas telah membentuk beberapa aturan dan kaidah dan kosep yang dapat dijadikan oleh konsumen sebagai pegangan dalam melakukan konsumsi. Danya aturan tersebut dimaksudkan untuk meningkatakn utility yang didapatkan konsumen searta mewujudkan kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat. Ada beberapa aturan yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk mewujudkan rasionalitas dalam berkonsumsi:

a. Mengkonsumsi Yang Halal

Halal memiliki definisi “tindakan yang dibenarkan untuk dilakukan oleh syara”. Halal dibagi menjadi tiga yaitu halal menurut

35Said Sa‟ad Marthon, Ekonomi Islam, (Jakarta: Zikrul Hakim), 2007,Hlm74

(38)

sifat zat, cara memperolehnya, dan cara pengolahannya. Keimanan seorang Muslim dapat diukur dengan bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupannya sehari-hari sesuai dengan tuntunan Al Qur‟an dan hadits.

Dalam konteks ekonomi, seorang Muslim diwajibkan untuk mengkonsumsi hal-hal yang baik saja. Yaitu halal, baik halal menurut sifat zat, cara pemprosesan, dan cara mendapatkannya. Mengkonsumsi barang dan jasa yang halal saja merupakan bentuk kepatuhan manusia kepada Allah SWT, sebagai balasannya, manusia akan mendapatkan pahala sebagai bentuk berkah dari barang dan jasa yang dikonsumsi.

Islam melarang untuk menghalalkan apa yang sudah ditetapkan haram dan mengharamkan apa-apa yang sudah menjadi halal. 36

b. Pelangaran Israf,Tabdzir, Dan Safih

Israf adalah melalmpaui batas hemat dan keseimbangan dalam bekonsumsi. Israf merupakan prilaku dibawah tarf. Tabzir adalah melakukan konsumsi secara berlebihan dan tidak proposional. Safih adalah orang yang tidak cerdas dimana ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariah dan senantiasa menuruti hawa nafsu37. Dalam Al-Qur‟an surat al-Isra‟ 26-27

اًريِذۡبَت ۡرِّذَبُت َ

لََّو ِنيِب َّسلٱ ٌَۡبٱَو َينِم ۡسًِ ۡ لٱَو ۥَُُّقَح َٰ َبَۡرُقۡهٱ اَذ ِتاَءَو ٢٦

ِّذَبًُ ۡ لٱ َّنِإ

36 Zulfikar Alkautsar, Implementasi Pemahaman Konsumsi Islam Pada Perilaku Konsumsi Konsumen Muslim, JESTT Vol. 1 No. 10 Oktober 2014, Diakses pada 2 April 2020,Hlm 748

37Said Sa‟ad Marthon, Ekonomi Islam...Hlm78

(39)

اٗرُْفَل ۦُِِّبَرِل ٌَُٰ َطۡي َّشلٱ َن َكََو ِِۖينِطََٰيَّشلٱ َنََٰوۡخِإ ْآٍَُْكَ ٌَيِر ٢٧

Artinya : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. 27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Dalam menghapus perilaku israf Islam memerintahkan, Memperiorotaskan konsumsi yang lebih diperlukan dan lebih bermanfaat., Menjauhkan konsumsi yang berlebih-lebihan untuk semua jeniskomoditi.

c. Konsumsi sosial

Dalam Islam konsumsi atau pembelanjaan uang tidak hanya untuk materi saja tetapi juga termasuk jenis konsumsi sosial yang terbentuk dalam zakat dan sadaqah. Pengeluaran zakat dan sadaqah mendapatkan kedudukan amat penting dalam Islam sebab pengeluaran konsumsi tersebut akan memperkuat sendisendi sosial masyarakat.

Seorang konsumen muslim tidak hanya mengkonsumsi barang dan jasa, melainkan zakat merupakan konsumsi seorang muslim38

d. Prioritas Kebutuhan

Islam mengajarkan bahwa pemenuhan kebutuhan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Bahkan Islam telah memberikan konfigurasi kebutuhan manusia menjadi tiga tingkatan, dimulai dari yang paling utama adalah Dharuriyat (primer), Hajiyat

38 Zulfikar Alkautsar, Implementasi Pemahaman...,,Hlm 749

(40)

(sekunder), dan Tahsiniyat (tersier). Sepintas konfigurasi tersebut tidak berbeda dengan konfigurasi kebutuhan manusia dalam ekonomi sekuler. Namun sebenarnya terdapat hal yang membedakan kebutuhan primer dalam ekonomi Islam dengan ekonomi sekuler. Kebutuhan primer dalam ekonomi Islam mencakup: agama, kehidupan, pendidikan, keturunan, dan harta.39

B. Faktor Agama

1. Pengalaman Spiritual

Pengalaman adalah salah satu hasil yang diperoleh manusia dari interaksinya dengan lingkungan. Pengalaman ini memuat beragam hal yang dapat dipelajari, salah satunya adalah dalam mengetahui lebih jauh mengenai pemahaman mengenai manusia itu sendiri.40

Istilah spiritual berasal dari akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari kata latin Spiritus yang berarti bernafas. Karena itu spiritual bisa diartikan sebagai roh dan nafas karena berfungsi sebagai energi kehidupan yang membuat seseorang menjadi hidup. Selanjutnya, istilah spiritual berfungsi sebagai sifat dari suatu bentuk kecerdasan selain intelektual dan emosional. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar tubuh fisik manusia, termasuk pikiran, perasaan, dan karakter manusia itu sendiri. 41 Karena itu, dikenal istilah kecerdasan spiritual yang diartikan sebagai kemampuan manusia untuk dapat mengenal dan memahami diri

39 Zulfikar Alkautsar, Implementasi Pemahaman...,,Hlm 750

40 Ruly Darmawan, 2013, Pengalaman, Usability, dan Antarmuka Grafis: Sebuah Penelusuran Teoritis, ITB J. Vis. Art & Des, Vol. 4, No. 2, Hlm 95

41 Hasan, Spiritualitas Dalam Perilaku Organisasi, Jurnal Dinamika Ekonomi & Bisnis vol. 7 no. 1 Maret 2010, Hlm 82

(41)

sepenuhnya sebagai mahluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta42

Kecerdasan spiritual berarti kemampuan manusia untuk dapat mengenal dan memahami dirinya sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi berarti telah memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang dijalani dan kemanakah akan pergi

Kecerdasan spiritual diartikan sebagai kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, sehingga kecerdasan ini berfungsi untuk menempatkan perilaku dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, dengan kata lain kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang membedakan kebermaknaan tindakan atau jalan hidup seseorang dari yang lain. Menurut Tischler & McKeage yag dikutip oleh Rahmat Aziz, yang menyatakan bahwa kecerdasan spiritual dicirikan dengan adanya lima kemampuan inti yaitu :

a. Kemampuan Transendental yang ditandai dengan tercukupinya kebutuhan batin, kedamaian hati, dan ketentraman jiwa dengan merasa bahwa tuhan selalu menyertai dan membimbing hidup individu

b. Kemampuan untuk memasuki kondisi spiritual yang dicirikan pada komitmen individu untuk menjalin hubungan yang dalam dengan tuhan, kekuatan iman, serta kepasrahan individu.

42 Rahmat, Aziz, 2011, “Pengalaman Spiritual dengan Kebahagiaan pada Guru Agama Sekolah Dasar, Proyeksi, Vol. 6 (2) hlm 4

(42)

c. Kemampuan menanamkan nilai nilai religius yang ditampakkan dalam aktivitas-aktivitas individu selalu merasa dalam koridor agama.

d. Kemampuan untuk memanfaatkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan.

e. Kapasitas untuk berperilaku sholeh yang ditunjukkan dengan sikap yang mudah memberikan maaf, mensyukuri nikmat, kesederhanaan, serta mengasihi sesama.43

Hampir sama dengan istilah kecerdasan spiritual yaitu Istilah pengalaman spiritual. Perbedaannya Jika kecerdasan spiritual diartikan sebagai suatu kemampuan maka istilah pengalaman spiritual diartikan sebagai suatu persepsi tentang spiritualitas. Pengalaman spiritual adalah sebagai persepsi tentang adanya suatu yang bersifat transenden dalam kehidupan sehari-hari dan persepsi tentang keterlibatan dengan peristiwa- peristiwa transenden dalam kehidupan sehari. Yang meliputi pengetahuan agama, keyakinan agama, pengalaman ritual agama, perilaku (moralitas agama), dan sikap sosial keagamaan. Dalam islam religiusitas dari garis besarnya tercermin dalam pengalaman aqidah, syariah, dan akhlak, atau dalam ungkapan lain: iman, islam, dan ihsan. Bila semua unsur itu telah di miliki seseorang maka dia itulah insan beragama yang sesungguhnya.

2. Indikator Spiritual

43 Rahmat, Aziz, 2011, “Pengalaman Spiritual dengan Kebahagiaan pada Guru Agama Sekolah Dasar, Proyeksi, Vol. 6 (2) hlm 4

(43)

Indikator Kecerdasan Spiritual Adapun indikator orang yang kecerdasan spiritualnya berkembang dengan baik diantaranya sebagai berikut:

a. Kemampuan bersikap fleksibel

b. Tingkat kesadaran yang dimiliki tinggi

c. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan

d. Menjadikan hidup bermakna dan memiliki Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai

e. Memiliki rasa tanggung jawab dan Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.44

f. Kemampuan untuk melihat keterakitan berbagai hal

g. Memliki kecendrungan bertanya “mengapa/ Bagaimana jika” dalam rangka mencari jawaban yang mendasar

h. Memeiliki kemampuan untuk bekerja mandiri.45 3. Pengukuran Nilai-Nilai Spiritual

Nilai-nilai spiritual dari setiap manusia yang disi dan dibangun dari agama dan kepercayaan, mampu mengedepankan kebersamaan, kesejahteraan, keamanan, kedamaian, duduk bersama membangaun masyarakat, bangsa dan negara dengan memenuhi toleransi. Spiritualitas bukanlah segalnya tentang intisari dari hubungan kita secara roh dan jiwa dengan yang suci dan ilahi, sumber kebenaran atau yang maha kuasa yang kita percayai dan bagaimana kita mengaplikasikannya secara universal

44 Imron, Aspek Spiritual Dalam Kinerja, (Jakarta: Unimma Press, 2018) Hlm 42

45 Imron, Aspek Spiritual Dalam...,Hlm 43

(44)

kepada semua hal disekitar kita. Spiritualitas membantu membangun karakter dalam diri kita dalam melakukan tindakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ada 8 nilai-nilai dan prinsip dari spiritual a. Intertion (niat)

b. Attention (Perhatian)

c. Uniqe gift an talents (kemempuan dan bakat yang unik)46 d. Gratitude ( syukur)

e. Unique life lesson (pelajaran hidup yang uniq) f. Holistic persfective (pandangan menyeluruh) g. Openness( keterbukaan)

h. Trust ( kepercayaan)47

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas

Taylor, Lillis & Le Mone dan Craven & Himle membagi faktor penting yang dapat mempengaruhi spiritualitas adalah sebagai berikut :

a. TahapPerkembangan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat agama yang berbeda ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan bentuk sembahyang yang berbeda menurut usia, ,agama, dan kepribadian anak. 48

b. Keluarga

46 Teni listiani, Tingkat Pemahaman .... Hlm 301

47 Teni listiani, Tingkat Pemahaman .... Hlm 302

48Jernita Efriyati Togatorop, “Tingkat Spiritualitas Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Wanita Tanjung Gusta Medan”, Skripsi universitas sumatera utara2015, hlm 13 , Diakses 9 Januari 2020

(45)

Peran orangtua sangat menentukan perkembangan spiritualitas anak. Yang penting bukan apa yang diajarkan oleh orang kepada anaknya tentang Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, dan diri sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan kehidupan didunia, pandangan anak pada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam berhubungan dengan orang tua dan saudaranya.

c. Latar Belakang Budaya dan etnik

Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial budaya. Pada umumnya, seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama, termasuk nilai normal dari hubungan keluarga dan peran serta dalam berbagai bentuk kegiatan keagamaan.

Perlu diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual adalah hal unik bagi tiap individu.49

d. Pengalaman hidup sebelumnya

Pengalaman hidup, baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang. Sebaliknya, juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman tersebut. Sebagai contoh, jika dua orang

49Jernita Efriyati Togatorop, “Tingkat Spiritualitas Hlm 14 ,

(46)

wanita yang percaya bahwa Tuhan mencintai umatnya, kehilangan anak mereka karena kecelakaan. Salah satu dari mereka akan bereaksi dengan mempertanyakan keberadaan Tuhan dan tidak mau lagi sembahyang. Sebaliknya wanita yang satu terus menerus berdoa dan meminta Tuhan membantunya untuk mengerti dan menerima kehilangan anaknya. Begitu pula pengalaman hidup yang menyenangkan sekalipun, seperti pernikahan, pelantikan kelulusan, kenaikan pangkat atau jabatan dapat menimbulkan perasaan bersyukur kepada Tuhan, tetapi ada juga yang merasa tidak perlu mensyukurinya.

Peristiwa dalam kehidupan sering dianggap sebagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menguji kekuatan imannya.

Pada saat ini, kebutuhan spiritual dan kemampuan koping untuk memenuhinya.

e. Krisis dan Perubahan

Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang dihadapi tersebut merupakan pengalaman spiritual selain juga pengalaman yang bersifat fisik dan emosional.50

f. Terpisah dari ikatan spiritual

Seseorang yang merasa terisolasi dalam satu ruangan dan kehilangan kebebasan pribadinya dan sistem dukungan sosial akan membuat individu merasa tiadak aman. Kebiasaan hidup sehari-hari juga berubah, antara lain, tidak dapat menghadiri acara resmi,

50Jernita Efriyati Togatorop, “Tingkat Spiritualitas... Hlm 17

(47)

mengikuti kegiatan keagamaan, atau tidak dapat berkumpul denga keluarga atau teman dekat yang biasa memberi dukungan setiap saat diinginkan.51

C. Kerangka Pemikiran

Untuk melihat pengaruh Faktor Agama terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim. Studi Kasus Masyarakat Jorong Cingkariang sebagaimana gambar berikut:

Kerangka Berfikir

Keterangan :

Menunjukkan variabel penelitian terdiri dari X dan Y

Menunjukkan hubungan variabel x bersifat mempengaruhi terhadap variabel Y

D. Perumusan Hipotesis

51Jernita Efriyati Togatorop, “Tingkat Spiritualitas ...Hlm 18,

Faktor Agama (X) Indikator :

- Fleksibel

- Tingkat Kesadaran - Kemampuan

Memaafkan - Makan Hidup - Tanggung jawab - Sikap Mandiri

Pola Konsumsi (Y) Indikator:

- Konsumsi Halal - Pelarangan Israf - Konsumsi Sosial - Priorita Kebutuhan

(48)

Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap hubungan, perbedaan atau pengaruh suatu variabel atau antar variabel.52 Berdasarkan Landasan teori dan kerangka pemikiran diatas, maka dapat dirumusakan hipotesis sebagi berikut:

H0 = Spiritual Tidak Berpengaruh Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim

Ha= Spiritual Berpengaruh Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim

52 Jelpa Periantalo, Penelitian Kuantitatif Untuk Psikolog, Jambi:Pustaka Pelajar, 2016, Hlm 51

Gambar

Tabel 4.15  Coefficients a Model  Unstandardized  Coefficients  Standardized Coefficients  t  Sig

Referensi

Dokumen terkait

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan kerja praktek periode Februari-Maret 2018 yang bertempat di Kelompok

memberikan pendidikan hemodialisa, tempat riset di bidang hemodialisa yang profesional, manusiawi.. dan bermutu tinggi, dengan

Tipografi adalah ilmu yang mempelajari tentang seni dan desain huruf (termasuk simbol) dalam aplikasinya untuk media komunikasi visual melalui metode penataan

Hasil penelitian menunjukkan (1) Tujuh desa pesisir yang telah diteliti memiliki Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang Sekolah Menengah Pertama yang

Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah yang tertanam dalam total ekuitas.. Rasio

Perkampungan Budaya Betawi (PBB) dapat dikatakan menjadi arena kultural dengan praktik rekacipta politik dan budaya dimana para agensi yang terlibat di dalamnya seperti

Berawal dari kata “motif” inilah kata motivasi didapat dan bisa diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif akan menjadi aktif pada saat-saat

- Secara prakteknya, penelitian ini dapat dijadikan tools bagi pemerintah terutama OJK dalam mengukur dan memetakan perkembangan Green Financing di sektor perbankan Hal