Skripsi
PERAN GANDA IBU RUMAH TANGGA YANG BEKERJA SEBAGAI BURUH PABRIK
(Study Pada Buruh Pabrik Perempuan di PT. Mediasafe Technology, Tanjung Morawa)
DISUSUN OLEH:
MORIA GRETTY S
110901064
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
ABSTRAK
Peran ganda yang dimiliki ibu yang bekerja sering kali dikhawatirkan akan mempengaruhi fungsi keluarga khususnya fungsi sosialisasi dan fungsi afeksional, hal ini tentu saja dikarenakan ibu memiliki banyak waktu di luar rumah untuk bekerja sehinggga dikhawatirkan fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik. Namun banyak keluarga yang tetap menjalankan fungsi keluarga dengan baik walaupun sang ibu memiliki peran ganda.
Bahkan peran ganda tersebut juga memiliki dampak positif seperti kemandirian terhadap anak-anak. Penelitian yang akan dilakukan ini untuk mengetahui bagaimana buruh perempuan di PT. Mediasafe Technology melakukan peran ganda dan bagaimana cara mereka melakukan pola asuh agar anaknya tetap bisa menjadi anak yang mandiri.
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran ganda yang dijalani ibu rumah tangga yang bekerja sebagai buruh pabrik di PT. Mediasafe Technology.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan melakukan pengambilan data dengan menggunakan observasi teknik wawancara mendalam kepada para buruh perempuan yang bekerja di PT Medisafe Technology, Tanjung Morawa. Wawancara dilakukan di rumah kediaman para buruh dan di warung makan yang berada di depan PT MT tempat biasa para buruh beristirahat untuk makan siang. Wawancara juga dilakukan kepada beberapa anak-anak para informan agar mendapatkan informasi langsung tentang dampak yang dirasakan akibat peran ganda yang dimiliki sang ibu. Interpretasi data dilakukan dengan menggunakan catatan dari hasil setiap turun lapangan
Dari hasil temuan data di lapangan diketahui bahwa para perempuan yang sudah menikah dan bekerja sebagai buruh biasanya sudah mulai bekerja sebagai buruh sejak masih lajang.Mereka tetap melanjutkan pekerjaan karena untuk membantu ekonomi keluarga.
Sebagai perempuan yang memiliki dua peran, para pekerja tersebut membuktikan bahwa mereka tetap menjalankan kedua perannya dengan baik tanpa harus mengorbankan satu peran yang lain. Hal ini dibuktikan dengan tetap terus bekerja selama bertahun-tahun dan memiliki kepuasan kerja, serta tetap menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dengan selalu memberikan waktu dan tidak meninggalkan kewajiban, dan juga tetap melayani suami dengan sepenuh hati. Semua informan mengaku bahwa tidak memiliki banyak kekurangan dibandingkan ibu lain yang tidak bekerja, mereka merasa tetap bisa mendidik anaknya dengan baik dan pekerjaan yang dilakukan selama bertahun-tahun tidak memiliki dampak negatif.
Kata Kunci: Peran ganda, ibu rumah tangga, buruh pabrik
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas izin dan kasih sayangnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Peran Ganda Ibu Rumah Tangga Yang Bekerja Sebagai Buruh Pabrik”.Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua penulis yaitu Ayahanda Ulman Situmorang dan Ibunda Betty Flora Sidabutar, sebagai tanda terima kasih dari penulis karena ayahanda dan ibunda telah membesarkan dan mendidik penulis hingga saat ini, untuk kasih sayang yang tidak terhingga dan tidak akan bisa terbalas, juga untuk doa, motivasi, dan dukungan secara material yang telah diberikan sejak awal perkuliahan hingga selesai.
Selama penulisan skripsi ini penulis telah banyak menerima masukan, kritikan, motivasi, bimbingan, nasehat, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis akan mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku dekan FISIP Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Harmona Daulay S.Sos, M.Si selaku ketua Departemen Sosiologi. Penulis mengucapkan terima kasih atas perhatian dan pengarahannya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
3. Ibu Dra. Linda Elida, M. Si selaku dosen pembimbing penulis yang telah banyak memberikan waktunya untuk membimbing dan memberikan perhatian kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih.
4. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M. Si selaku dosen yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Departemen Sosiologi dan telah banyak membimbing penulis selama masa
jabatan Ibu. Penulis mengucapkan terimaksih atas perhatian dan pengarahannya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5. Bapak Drs. Junjungan Simanjuntak, M.Si selaku dosen penguji penulis dalam seminar proposal dan sidang meja hijau. Terimakasih karena telah membimbing penulis dalam memberikan masukan agar memperoleh hasil yang lebih baik
6. Seluruh Dosen, Pegawai dan Staff FISIP USU. Terimakasih telah membantu segala proses perkulihan penulis hingga penyelesaian skripsi ini.
7. Adik-adik saya tercinta, Martha Theresia Situmorang dan Daniel Rezky Situmorang. Terimakasih untuk dukungannya selama ini
8. Untuk keluarga terdekat yang selalu memberikan dukungan yaitu Tante Riana yang ada di rumah, sepupu-sepupu tersayang Deaby Sidabutar, Geral Sidabutar, dan Rohani Lumban Tobing. Rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh keluarga besar yang ada di Jakarta dan juga untuk saudara-saudara yang sangat kukasihi yang berada di Pematang Siantar dan Kabanjahe, terima kasih untuk kasih sayang dan dukungannya selama ini.
9. Sahabat-sahabat terbaik selama masa perkuliahan, Rency Saragi, Dewi Siregar, Christina Siregar, dan Indah Hutapea. Terima kasih atas semua yang sudah dijalani bersama, terima kasih atas dukungan dan kasih sayang kalian yang tak terhingga.
10. Kepada seluruh teman-teman Sosiologi 2011 terima kasih atas kebersamaannya dan semua yang telah diberikan selama masa perkuliahan dan penyusunan skripsi, terutama kepada Repita, Balqis, Yusni, Wahyudi, Hizbul, Arizaldi, Victor, Rio, Wawan, Emilia, Siti Khadijah, dan Ramadona. Terima kasih banyak teman-teman yang terkasih.
11. Kepada teman-teman yang juga banyak memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi yaitu Etha, Margareth, Silvi, dan Debora. Terima kasih untuk semua dukungan kalian
12. Kepada teman-teman SMA yang juga banyak memberikan dukungan, Pebby, Inda, Stephanie, Murni, Yanti, Rosa, Irfi, Oesman, Albert, dan Andre. Terima kasih untuk dukungan kalian
13. Kepada seluruh informan dari PT Mediasafe Technology, penulis ingin mengucapkan terima kasih atas waktu dan informasi yang telah diberikan.
Dalam penulisan ini ppenulis menyadari masih memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan oleh karena itu kritik yang membangun sangat penulis harapkan sebagai bahan evaluasi untuk skripsi ini.
Akhir kata semoga skripsi ini bermanfaat untuk kajian sosiologi dan menjadi sumbangan dalam ilmu pengetahuan, serta bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.
Medan, April 2017 Penulis
Moria Gretty S.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 LatarBelakang ... 1
1.2 RumusanMasalah ... 10
1.3 TujuanPenelitian ... 10
1.4 ManfaatPenelitian ... 11
1.5 Definisi Konsep ... 11
BAB IIKAJIAN PUSTAKA ... 15
2.1 Peran Ganda pada Ibu Rumah Tangga ... 15
2.2 Peranan Wanita dalam Keluarga ... 16
2.3 Teori Strukturasi ... 17
2.4 Penelitian Terdahulu ... 21
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
3.1 JenisPenelitian ... 24
3.2 LokasiPenelitian ... 25
3.3 Unit Analisi dan Informan ... 25
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 26
3.5 Interpretasi Data ... 27
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN ... 28
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 28
4.1.1 Sejarah Singkat PT. Mediasafe Technologies Tanjung Morawa,
Kabupaten Deli Serdang ... 28
4.1.2 Ruang Lingkup Bidang Usaha ... 29
4.1.3 Jumlah Tenaga Kerja PT. Mediasafe Technologies Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang ... 30
4.1.4 Jumlah Tenaga Kerja PT. Mediasafe Technologies Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang ... 33
4.2 Deskripsi Tanjung Morawa ... 35
4.2.1 Luas dan Kondisi Geografis ... 35
4.2.2 Perempuan di Industri ... 37
4.2.3 Perempuan di Tanjung Morawa ... 38
4.3 Informan ... 39
4.3.1 Informan Istri/Ibu yang bekerja sebagai Buruh/Karyawan Pabrik PT. Mediasafe Technologies Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang 39
4.3.2 Informan Biasa ... 53
4.4 Interpretasi Data ... 60
4.4.1 Peran Wanita ... 60
4.4.2 Peran Istri Menurut Antonio Giddens ... 64
4.4.3 Peran Istri Sebagai Pekerja di Tempat Kerja ... 67
4.4.4 Peran Istri Sebagai Pencari Nafkah ... 71
4.4.5 Peran Istri di Rumah Untuk Keluarga ... 74
4.4.6 Peran Ganda Istri yang dimiliki Istri yang Bekerja Sebagai Buruh ... 78
4.4.7 Peranan Istri Dalam Mengambil Keputusan Menurut Teori Strukturasi (Anthony Giddens) ... 81
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 86
5.1 Kesimpulan ... 86 5.2 Saran... 88 DAFTAR PUSTAKA ... 91
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1Rincian Tenaga Kerja PT. Medisafe Tanjung Morawa ... …33
Tabel 4.2Jumlah Tenaga Kerja PT. Mediasafe Technologies
Tanjung Morawa ... ……34
Tabel 4.3Jumlah Tenaga Kerja PT. Mediasafe Technologies
Tanjung Morawa ... …..35
Tabel 4.4KSK Kec. Tanjung Morawa ...36
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga adalah kelompok berdasarkan pertalian sanak – saudara yang memiliki tanggung jawab utama atas sosialisasi anak – anaknya dan pemenuhan kebutuhan pokok tertentu lainnya (Cohen,1983: 172). Dimana, secara ideal keluarga terdiri dari suami, istri, dan beberapa orang anak. Keluarga merupakan kelompok orang – orang yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan, hubungan darah, yang berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain melalui perannya masing – masing sebagai anggota keluarga (Gunarsa, 1993: 210). Dimana, di dalam suatu rumah tangga (keluarga), tugas ayah (suami) sebagai pencari nafkah utama dalam memenuhi perekonomian keluarganya.Sedangkan, tugas ibu (istri) dalam rumah tangga (keluarga) melaksanakan pekerjaaannya di sektor domestik, baik itu dalam mengurus suami, melahirkan dan merawat anak – anak serta dalam pengelolaan rumah tangga baik itu dalam merawat kebersihan dan keindahan rumah tangga. Hampir sebagian besar masyarakat kita menganggap bahwa pekerjaan dalam sektor domestik merupakan ‘kodrat wanita’ ( Fakih, 1996: 11).
Namun, dewasa ini cukup banyak istri (ibu) ikut terjun ke dalam sektor publik (dunia kerja). Ada berbagai alasan istri ikut terjun di dalam sektor publik, diantaranya sebagai berikut:
a. Suami memang berhalangan seacara total karena sakit yang berkepanjangan atau meninggal dunia
b. Pendapatan utama suami tidak memadai (membantu perekonomian keluarga).
c. Memang telah ditempa sejak masih remaja sebagai wanita yang bekerja di luar rumah (sektor publik), baik sebagai pekerja dalam perusahaan sendiri atau milik orang lain (Yacub, 1996: 26-27).
Berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas, secara tidak langsung wanita mempunyai peran ganda sekaligus beban ganda (double bourden) di dalam keluarganya (rumah tangganya), yaitu di dalam sektor domestik (ibu rumah tangga) dan sektor publik (dunia kerja).Namun hal ini, bagi keluarga golongan menengah keatas (golongan kaya), beban kerja itu kemudian dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga (domestik workers) (Fakih, 1996: 21-22).
Salah satu perkembangan perempuan dewasa adalah masuknya perempuan di dunia kerja.Isu-isu di dunia kerja menjadi isu tersendiri.Perempuan berpendidikan terbatas memasuki pekerjaan di pabrik atau sektor informal lainnya.Buruh perempuan merupakan fenomena dari kapitalisme modern. Banyak sekali cerita yang berisi kondisi minor terhadap eksistensi buruh perempuan dari deru asap pabrik-pabrik indutri manufaktur kehadiran buruh perempuan sangat mewarnai dan sebagai urat nadi bagi denyut industri pada satu sisi masuknya perempuan ke dalam sektor industri ini dilihat sebagai proses pembebasan berupa emansipasi perempuan memasuki dunia kerja, sehinnga bisa lepas dari belenggu pekerjaan domestik yang cukup membebani perempuan dari sektor beban kerja. Pada sisi lain kondisi buruh ini masih sangat memprihatinkan yaitu masih pada persoalan yang bersifat klasik yaitu seputar masalah “Bread and Butter Issue” yaitu kondisi upah yang masih sangat rendah, hal ini belum lagi ditambah persoalan-persoalan lain seperti kesehatan reproduksi, diskriminasi, pelecehan seksual dan lain-lain. (Daulay, 2007)
Bila kita mencermati permasalah buruh perempuan maka dapat kita berikan analisis bahwa buruh perempuan merupakan kelompok yang memperoleh dampak dari sistem dominasi di dalam lingkungan budaya kita.Dalam hal ini dapat kita lihat di dalam pabrik mereka mendapat dominasi dari majikan, sebagai istri mereka mendapat dominasi dari suami.Sebagai anak perempuan mereka mendapat dominasi dari bapak.Sebagai perempuan mereka mendapat dominasi dari laki-laki.
Paradigma pembagian kerja keluarga dalam masyarakat adalah suami berada di areal pekerjaan publik karena kedudukannya sebagai pencari nafkah utama di dalam keluarga, sedangkan istri berada di areal domestik yang mengatur rumah tangga anak-anak di rumah.Selain itu seorang perempuan yang lebih banyak aktivitas di luar rumah sering kali dianggap hal yang kurang pantas atau tabu.Namun kenyataannya, terutama pada keluarga miskin banyak ibu rumah tangga yang kemudian aktif dalam kegiatan publik sebagai pencari nafkah.Tingkat ekonomi yang kurang mendukung atau kemiskinan yang membuat para perempuan bersedia bekerja dalam kondisi apapun guna mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.
Perkembangan di era globalisasi ini memberikan dampak positif dan negatif bagi seluruh masyarakat khususnya bagi kaum perempuan dan keluarganya.Dengan demikian, perempuan ikut berlomba dengan kaum laki-laki untuk mendapatkan kemajuan dalam bidang ekonomi, industri, ilmu pengetahuan dan lainnya.
Peran atau role menurut Suratman (2000:15) adalah fungsi atau tingkah laku yang diharapkan ada pada individu seksual, sebagai satu aktivitas menurut tujuannya dapat dibedakan menjadi dua:
1. Peran publik, yaitu segala aktivitas manusia yang biasanya dilakukan dilluar rumah dan bertujuan untuk mendatangkan penghasilan.
2. Peran domestik, yaitu aktivitas yang dilakukan di dalam rumah dan biasanya tidak dimaksudkan untuk mendatangkan penghasilan, melainkan untuk melakukan kegiatan kerumahtanggaan. Peran yang dilakukan para perempuan atau ibu rumah tangga karena ingin kondisi kesejahteraan yaitu sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, persiapan materi berbagai jaminan masa depan kehidupannya, ketentraman dan keamanan.
Peran ganda bagi wanita adalah adanya keterlibatan seorang wanita dalam dunia kerja sehingga akan menyebabkan perubahan peran sebagai ibu rumah tangga (sektor domestik) tetapi juga dapat memiliki peran lain di luar rumah (sektor publik) terutama peran dalam dunia kerja. Hearty berpendapat bahwa peran ganda wanita adalah saat dimana seoarang wanita berperan dalam keluarga seperti lazimnya dan sesuai kodrat serta peran dalam masyarakat demi pembangunan (dan bukan demi karier suami, demi koneksi, demi fasilitas) dan diharapkan bahwa wanita tersebut tidak melepaskan tanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga dan rumah tangga.
Seiring dengan perkembangan zaman, tingkat modernisasi dan globalisasi informasi serta keberhasilan gerakan emansipasi wanita dan feminism, wanita semakin terlibat dalam berbagai kegiatan.Perempuan tidak lagi hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menjalankan fungsi reproduksi, mengurus anak dan suami atau pekerjaan domestik lainnya, tetapi sudah aktif berperan di berbagai bidang kehidupan baik sosial, ekonomi, maupun politik. Kecenderungan peran perempuan mempunyai peran ganda dalam keluarga meningkat.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi seorang anak manusia, di dalam keluarga seorang anak dibesarkan, mempelajari cara-cara pergaulan yang akan dikembangkannya kelak di lingkungan kehidupan sosial yang ada di luar keluarga. Dengan perkataan lain di dalam keluarga seorang anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan fisik, psikis maupun sosial, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Disamping itu pula seorang anak memperoleh pendidikan yang berkenaan dengan nilai-nilai maupun norma-norma yang ada dan berlaku di masyarakat ataupun dalam keluarganya sendiri serta cara-cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi si suami dan istri, ayah dan
ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan.Peranan-peranan tersebut dibatasi oleh masyarakat, tetapi masing-masing keluarga diperkuat melalui sentimen- sentimen yang sebagian merupakan tradisi dan sebagian lagi emosional yang menghasilkan pengalaman.
Keluarga adalah pemelihara suatu kebudayaan bersama yang diperoleh pada hakekatnya dari kebudayaan umum, tetapi dalam suatu masyarakat yang kompleks masing- masing keluarga mempunyai ciri-ciri yang berlainan dengan keluarga lain. Berbeda kebudayaan dari setiap keluarga timbul melalui komunikasi anggota-anggota keluarga yang merupakan gabungan dari pola-pola tingkah laku individu.
Keluarga adalah lembaga yang sangat penting dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak. Pola dan kualitas pengasuhan anak maupun pendidikannnya di lingkungan keluarga sangat ditentukan oleh kualitas dan kesiapan keluarga (suami-isteri) sendiri untuk melaksanakan tugas-tugasnya, khususnya melalui peran edukatif (Sosialisasi).Di lingkungan keluarga peran perempuan (Istri/ibu) sangat dominan apalagi di era perkembangan ekonomi, industri dan informasi yang melaju begitu pesat.
Hubungan antara anggota keluarga dijiwai oleh suasana efeksi dan rasa tanggung jawab.Fungsi keluarga ialah memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yang sulit diubah dan digantikan oleh orang atau lembaga lain tetapi karena masyarakat sekarang ini telah mengalami perubahan, tidak menutup kemungkinan sebagian dari fungsi sosial keluarga tersebut mengalami perubahan.
Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga tersebut akan banyak dipengaruhi oleh ikatan- ikatan dalam keluarga.
Keluarga memiliki beberapa fungsi dalam peranannya, yaitu sebagai berikut :
1. Fungsi Edukatif – Sebagai suatu unsur dari tingkat pusat pendidikan, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Dalam kedudukn ini, adalah suatu kewajaran apabila kehidupan keluarga sehari-hari, pada saar-saat tertentu terjadi situasi pendidikan yang dihayati oleh anak dan diarahkan pada perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
2. Fungsi Sosialisasi – Melalui interaksi dalam keluarga anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita serta nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka pengembangan kepribadiannya. Dalam rangka melaksanakan fungsi sosialisasi ini, keluarga mempunyai kedudukan sebagai penghubung antara anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial yang meliputi penerangan, penyaringan dan penafsiran ke dalam bahasa yang dimengerti oleh anak.
3. Fungsi protektif – Fungsi ini lebih menekankan kepada rasa aman dan terlindungi apabila anak merasa aman dan terlindungi barulah anak dapat bebas melakukan penjajagan terhadap lingkungan.
4. Fungsi Afeksional – Yang dimaksud dengan fungsi afeksi adalah adanya hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Anak biasanya mempunyai kepekaan tersendiri akan iklim-iklim emosional yang terdapat dalam keluarga kehangatan yang terpenting bagi perkembangan keperibadian anak
5. Fungsi Religius – Keluarga berkewajiban mmperkenalkan dan mengajak anak serta keluarga pada kehidupan beragama. Sehingga melalui pengenalan ini diharapkan keluarga dapat mendidik anak serta anggotanya menjadi manusia yang beragama sesuai dengan keyakinan keluarga tersebut.
6. Fungsi Ekonomis – Fungsi keluarga ini meliputi pencarian nafkah, perencanaan dan pembelanjaannya. Pelaksanaanya dilakukan oleh dan untuk semua anggota keluarga, sehingga akan menambah saling mengerti, solidaritas dan tanggung jawab bersama.
7. Fungsi Rekreatif – Suasana keluarga yang tentram dan damai diperlukan guna mengembalikan tenaga yang telah dikeluarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran ganda yang dimiliki ibu yang bekerja sering kali dikhawatirkan akan mempengaruhi fungsi keluarga khususnya fungsi sosialisasi dan fungsi afeksional, hal ini tentu saja dikarenakan ibu memiliki banyak waktu di luar rumah untuk bekerja sehinggga dikhawatirkan fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik. Namun banyak keluarga yang tetap menjalankan fungsi keluarga dengan baik walaupun sang ibu memiliki peran ganda.
Bahkan peran ganda tersebut juga memiliki dampak positif seperti kemandirian terhadap anak-anak.
Ketika seorang perempuan berkeluarga dan memiliki anak maka tentunya perempuan memiliki peran ganda baik sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita karir.Fenomena ini sudah menjadi hal yang biasa di dalam kehidupan bukan hanya kehidupan di daerah perkotaan melainkan juga di pedesaan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan fenomena lain misalnya kenakalan anak, tingkat prestasi anak, perceraian, dan kemandirian anak. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena perempuan memliki peranan yang sangat signifikan dalam keharmonisan suatu keluarga, dimana dalam pandangan masyarakat bahwa seorang perempuan cukuplah menjadi isteri ataupun ibu yang baik.
Peran ganda yang dimiliki perempuan seringkali dikaitkan dengan akibat negatif terhadap anak-anak seperti menjadi nakal dan terlantar. Namun pada kenyataannya tidak semua anak-anak menjadi terlantar karena peran ganda yang dimiliki Ibunya akan membuat anaknya menjadi mandiri. Anak-anak bisa menjadi mandiri pastinya dikarenakan oleh didikan yang benar yang diberikan oleh orang tuanya.Mandiri yang dimaksud disini ialah bagaimana anak-anak tetap dapat melakukan kegiatan sehari-hari di rumah dan tidak bergantung pada orang tuanya dikarenakan ibu yang bekerja.
Wawancara awal yang dilakukan peneliti kepada para wanita yang telah berumah tangga yang bekerja sebagai buruh di PT. Mediasafe Technology. Dimana meraka rata-rata memutuskan untuk ikut terjun bekerja di sektor publik, yakni sebagai buruh/karyawan pabrik yang selama enam hari berturut-turut tiap minggunya.Para istri sendiri bekerja disebabkan penghasilan suami sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangganya (keluarganya) yang bekerja sebagai karyawan pabrik, karyawan lapangan, satpam perusahaan, buruh perkebunan, centeng malam dan lain sebagainya dirasakan sangat tidak mencukupi untuk memenuhi perekonomian keluarga yang dari hari kehari meningkat tajam, baik itu untuk biaya makan untuk istri dan anak-anaknya setiap bulannya, biaya sekolah anak-anaknya, dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil observasi sementara yang peneliti lakukan, keluarga yang ibunya bekerja tidak memberikan banyak dampak negatif terhadap kondisi keluarga.Ibu yang bekerja tetap dapat mendidik anaknya dengan baik agar menjadi anak yang mandiri dalam kehidupannya sehari-hari.Contohnya ialah anak-anak dapat menyiapkan makanan untuk mereka sendiri dan membersihkan rumah.
Peran ganda buruh perempuan yang sudah menikah khususnya dalam penelitian ini.
Penelitian yang akan dilakukan ini untuk mengetahui bagaimana peran ganda buruh perempuan di PT. Mediasafe Technologydan bagaimana cara mereka melakukan pola asuh agar anaknya tetap bisa menjadi anak yang mandiri.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan maka peneliti tertarik untuk membuat penelitian dengan judul “Peran Ganda Ibu Rumah Tangga yang Bekerja Sebagai Buruh Pabrik”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Dilema Peran Ganda yang dijalani Ibu Rumah Tangga yang Bekerja Sebagai Buruh Pabrik di PT.Mediasafe Technology?”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran ganda yang dijalani ibu rumah tangga yang bekerja sebagai buruh pabrik di PT. Mediasafe Technology.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta informasi terhadap masyarakat luas dan mahasiswa khususnya mahasiswa sosiologi yang mempelajari tentang sosiologi gender yang nantinya dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal mengenai peran ganda yang dialami oleh para perempuan yang telah berumah tangga.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Penelitian diharapkan dapat menambah referensi dari pada hasil penelitian dan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti berikutnya yang ingin mengetahuin lebih dalam lagi tentang penelitian sebelumnya. Serta dapat menambah wawasan peneliti tentang peran ganda yang terjadi para perempuan yang telah berumah tangga.
2. Sebagai masukan bagi pemerintah maupun masyarakat dalam upaya memahami mengenai fenomena sosial emansipasi kehidupan perempuan di kawasan industri.
1.5 Definisi Konsep
Konsep adalah suatu hasil pemaknaan didalam intelektual manusia yang merujuk pada kenyataan nyata ke dalam empiris, dan bukan merupakan refleksi sempurna. Dalam
sosiologi, konsep menegasakan dan menetapkan apa yang akan diobservasi (Suyanto, 2005:49). Defenisi konsep yang digunakan sebagai konteks penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1.5.1 Peran Ganda
Peran pertama perempuan ialah sebagai ibu dan istri (domestik).Peran domestik ialah sebagai ibu rumah tangga yang melayani suami dan anak-anaknya. Perempuan sebagai sumber yang dapat membahagiakan individu lain termasuk suami dan anak-anaknya. Sebagai istri yang bertugas sebagai menjadi pengasuh, pendidik anak, dan pengurus rumah tangga.Sedangkan peran kedua mereka ialah sebagai perempuan yang mampu membebebaskan diri dari sifat naturalnya sehingga perepuan mampu mengisi sektor publik dan memberikan sumbangan lebih dari sifat natural tersebut (S.C Utami Mumandar, 1958:22).
Iwan Sabdulah menyebutkan dalam bukunya yaitu Sangkan Peran Gender menyatakan peran perempuan sebagai ibu dan istri merupakan sifat alam.Dalam menjalani peran ganda sekaligus dan untuk hegemoni patriarki sifat nature perempuan itu harus lebih ditundukkan agar lebih membudidaya (culture) (Iwan Abdullah, 2006:3).
Peran ganda yang ingin dilihat dalam penelitian ini ialah bagaimana seorang perempuan berhasil menjalankan kedua peran yang ia miliki dengan baik tanpa harus mengorbankan salah satu peran yang harus dijalaninya. Yaitu peran dalam sektor domestik sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keperluan keluarganya dan juga dalam peran sektor publik yaitu sebagai ibu yang bekerja untuk memberi nafkah bagi keluarganya.
1.5.2 Buruh
Secara teori, dalam kontek kepentingan, didalam suatu perusahaan terdapat 2 (dua) kelompok yaitu, kelompok pemilik modal (owner) dan kelompok buruh, yaitu orang-orang
yang diperintah dan dipekerjanan yang berfungsi sebagai salah satu komponen dalam proses produksi. Dalam teori Karl Marx tentang nilai lebih, disebutkan bahwa kelompok yang memiliki dan menikmati nilai lebih disebutsebagai majikan dan kelompok yang terlibat dalam proses penciptaan nilai lebih itu disebut Buruh.
Buruh adalah mereka yang berkerja pada usaha perorangan dan di berikan imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, baik lisan maupun tertulis, yang biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian. Buruh ada 2 yaitu Tenaga Kerja Harian ( Harian Tetap dan Harian Lepas) dan Tenaga Kerja Borongan, yaitu :
1. Tenaga Kerja Tetap
Tenaga kerja tetap (permanent employee) yaitu pekerja yang memiliki perjanjian kerja dengan pengusaha untuk jangka waktu tidak tertentu (permanent). Tenaga kerja tetap, menurut PMK-252 ditambahkan menjadi sebagai berikut : Pegawai tetap adalah pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur, termasuk anggota dewan komisaris dan anggota dewan pengawas yang secara teratur terus menerus ikut mengelola kegiatan perusahaan secara langsung, serta pegawai yang bekerja berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu sepanjang pegawai yang bersangkutan bekerja penuh (full time) dalam pekerjaan tersebut.
2. Tenaga Kerja Lepas
Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja.Yang di dapat atau Hak Teanaga kerja Lepas yaitu mendapat gaji sesuai kerjanya atau waktu kerja mereka, tanpa mendapat
jaminan sosial.Karena Tenaga Kerja tersebut bersifat kontrak, setelah kontrak selesai, hubungan antara pekerja dan pemberi kerja pun juga selesai.
3. Tenaga Kerja Borongan
Borongan atau pocokan yaitu hubungan kerja berdasarkan kerja borongan lepas dengan pembagian hasil menurut upah atas satuan hasil kerja atau upah yang diterima berdasarkan barang yang dapat diselesaikannya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Peran Ganda pada Ibu Rumah Tangga
Menurut Bernadid (dalam Ratnawati) istri bekerja adalah ibu-ibu bekerja di luar rumah, meninggalkan kesibukan rumah tangga minimal empat jam.Hal ini didukung oleh Mappiare yang menyatakan bahwa wanita yang telah menikah dalam menghadapi pekerjaan mereka sukar memusatkan perhatian pada pekerjaan karena mudah sekali terganggu oleh masalah keluarga.Sedangkan menurut Sobur, Ibu bekerja adalah wanita yang sudah menikah, mempunyai anak dan bekerja di luar rumah.Pengertian bekerja disini adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan penghargaan dalam bentuk uang ataupun barang, mengeluarkan energi, dan punya nilai waktu.Sehingga wanita yang sudah menikah selalu dihadapkan pada dilema menjadi istri atau ibu rumah tangga yang baik ataukah memajukan kariernya.Woffman juga mengungkapkan bahwa ibu bekerja adalah kaum wanita yang bekerja di luar rumah dan mereka itu sudah berkeluarga. Mereka berusaha menggabungkan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan di kantor.
Peran ganda bagi wanita adalah adanya keterlibatan seorang wanita dalam dunia kerja sehingga akan menyebabkan perubahan peran sebagai ibu rumah tangga (sektor
domestik) tetapi juga dapat memiliki peran lain di luar rumah (sektor publik) terutama peran dalam dunia kerja (Ihromi, 1997). Hearty berpendapat bahwa peran ganda wanita adalah saat dimana seoarang wanita berperan dalam keluarga seperti lazimnya dan sesuai kodrat serta peran dalam masyarakat demi pembangunan (dan bukan demi karier suami, demi koneksi, demi fasilitas) dan diharapkan bahwa wanita tersebut tidak melepaskan tanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga dan rumah tangga.
2.2. Peranan Wanita dalam Keluarga
Sebagai ibu, wanita dituntut pada tugas-tugas domestiknya yang tidak dapat dihindari, namun sebagai wanita, harus dapat melaksanakan tugas pelaksana emansipasi wanita.Sebagai wanita harus melaksanakan beberapa peran untuk dapat mengikuti perkembangan dan tuntutan kemajuan. Peranan wanita tersebut dikenal dengan Panca Dharma wanita, yaitu:
1. Wanita sebagai istri
Berperan tidak hanya sebagai ibu, akan tetapi harus tetap bersikap sebagai kekasih suami seperti sebelum kawin, sehingga dalam rumah tangga tetap terjalin ketentraman yang dilandasi kasih sejati.sebagai istri dituntut untuk setia kepada suamidan harus terampil sebagai pendamping suami agar dapat menjadi motivasi kegiatan suami.
2. Wanita sebagai ibu rumah tangga
Sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab berkewajiban secara terus menerus memperhatikan kesehatan rumah, lingkungan dan tata laksana rumah tangga, mengatur segala sesuatu dalam rumah tangga untuk meningkatkan mutu hidup.Keadaan rumah tangga harus mencerminkan suasana aman, tenteram dan damai bagi seluruh anggota keluarga.
3. Wanita sebagai pendidik
Ibu adalah pendidik utama dalam keluarga bagi putra-putrinya.Menanamkan rasa hormat, cinta kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kepada orangtua, masyarakat dan bangsa yang kelak tumbuh menjadi warga negara yang tangguh.
4. Wanita sebagai pembawa keturunan
Sesuai fungsi fitrahnya, wanita adalah sebagai penerus keturunan yang diharapkan dapat melahirkan anak-anak yang sehat jasmani dan rokhaninya, cerdas pikirannya dan yang memiliki tanggung jawab, luhur budi dan terpuji perilakunya.
5. Wanita sebagai anggota masyarakat
Pada masa pembangunan ini, peranan wanita diusahakan untuk meningkatkan pengetahuan atau ketrampilan sesuai dengan kebutuhannya. Organisasi kemasyarakatan wanita perlu difungsikan sebagai wadah bersama dalam usaha mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam membina dan membentuk pribadi serta watak seseorang dalam rangka pembangunan manusia indonesia seutuhnya.
2.3 Teori Strukturasi
Teori strukturasi dipelopori oleh Anthony Giddens, seorang sosiolog Inggris yang mengembangkan apa yang disebutnya sebagai sosiologi sehari-hari. Sosiologi didasarkan pada pemahamanya atas strukturasi dalam sistem sosial.Teori strukturasi merupakan teori yang menepis dualisme (pertentangan) dan mencoba mencari pertautan setelah terjadi pertentangan tajam antara struktur fungsional dengan konstruksionisme- fenomenologis.Giddens tidak puas dengan teori pandangan yang dikemukakan oleh struktural-fungsional, yang menurutnya terjebak pada pandangan naturalistik.Pandangan neturalistik mereduksi aktor dalam stuktur, kemudian sejarah dipandang secara mekanis, dan bukan suatu produk kontengensi dari aktivitas agen.Tetapi Giddens juga tidak sependapat dengan konstruksionisme-fenomenologis, yang baginya disebut sebagai berakhir pada
imperialisme subjek. Oleh karenanya ia ingin mengakhiri klaim-klaim keduanya dengan cara mempertemukan kedua aliran tersebut.
Terdapat beberapa komponen strukturasi Giddens.Diawali dengan pemikirannya mengenai agen yang selalu memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri serta konteks sosial dan fisik mereka.Dengan adanya usaha untuk mencari perasaan aman, aktor berusaha merasionalkan kehidupan mereka.Yang dimaksud Giddens dengan rasionalisasi ialah mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor, tetapi juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial yang mereka jalani dengan efisien.Aktor juga mempunyai motivasi untuk bertindak dan hal ini menyangkup keinginan dan juga hasrat yang mendorong tindakan mereka.Motivasi dapat juga dikatakan sebagai pontensi untuk bertindak dan motivasi mempunyai peran penting dalam tindakan manusia. (Ritzer, 2003)
Giddens menyelesaikan perdebatan antara dua teori yang menyatakan atau berpegang bahwa tindakan manusia disebabkan oleh dorongan ‘eksternal’ dengan mereka yang menganjurkan tentang tujuan dari tindakan manusia. Menurut Giddens, struktur bukan bersifat eksternal bagi individu-individu melainkan dalam pengertian tertentu lebih bersifat
‘internal’. Struktur tidak bisa disamakan dengan kekangan (constraint) namun selalu mengekang (constraining) dan membebaskan (enabling).Hal ini tidak mencegah sifat-sifat struktur sistem sosial untuk melebar masuk kedalam ruang dan waktu diluar kendali aktor- aktor individu, dan tidak ada kompromi terhadap kemungkinan bahwa teori-teori sistem sosial para aktor yang dibantu ditetapkan kembali dalam aktivitas-ativitasnya yang bisa merealisasikan sistem-sistem itu. Manusia melakukan tindakan secara sengaja untuk menyelesaikan tujuan-tujuan kita, pada saat yang sama, tindakan manusia memiliki
“unintended consequences” (konsekuensi yang tidak disengaja) dari penetapan struktur yang berdampak pada tindakan manusia selanjutnya.
Arti penting dalam pengertian struktur ialah bisa dikatakan sebagai pelengkap penjelasan mengenai agen. Menurut Giddens struktur terkait dengan hal-hal berikut:
1. Struktur merupakan sifat-sifat terstuktur yang mengikat ruang dan waktu dalam sistem sosial. Sifat-sifat ini mungkin menjadi praktik sosial yang sama terlihat berlangsung melebihi rentang ruang-waktu yang meminjamkan kepadanya dalam bentuk sistematik.
2. Struktur merupakan keteraturan yang sebenarnya dari hubungan transformative, yang berarti sistem sosial karena praktik-prakitk sosial yang tereproduksi tidak memiliki strukutur, tetapi lebih menunjukkan sifat-sifat struktural dan keberadaan struktur itu sebagai kehadiran ruang dan waktu, hanya dalam penggambarannya seperti pada prakitk-prakitk sosial dan sebagai memori yang menemukan arah pada perilaku agen manusia yang dapat dikenali. (Susilo, 2008: 417).
Giddens menyatakan bahwa ada tiga gugus besar struktur.Pertama struktur penandaan atau signifikansi yang menyangkut sekamata simbolik, pemaknaan, penyebutan dan wacana.Kedua, struktur penguasaan atau dominasi yang mencakup skemata penguasaan atas orang (politik) dan barang atau hal (ekonomi).Ketiga, struktur pembenaran (legitimasi) yang menyangkut skemata peraturan normative yang terungkap dalam tata hukum.
Ketika ita bisa menguasai sejumlah orang, memasukkan ide-ide pada mereka sehingga kebahagiaan kita pun akan semakin bertambah. Menjadi pimpinan, berarti melekat pula fasilitas, kewenangan, legitimasi dan kemudahan-kemudahan lain. Demikian pula menjadi bawahan tentunya akan menanggung resiko yang jauh lebih tidak nikmat. Bawahan tidak mengerti aturan main, bahkan sering menjadi koran dari permainan aturan main tersebut. Dalam hal itu, seperti yang dijelaskan berulang-ulang, Giddens menawarkan pandangan dunia social yang besar merupakan pola-pola interaksi, tetapi mereka juga dipandang sebagai struktur. Struktur di sini bersifat sistematis, teratur, permanen, sepanjang agen mereproduksinya di masa depan. Struktur memiliki kapasitas ganda, baik mengekang
maupun mendorong (menyediakan sumberdaya) agensi manusia.Struktur bisa menjadi alat (media) dan menjadi konsekuensi tindakan manusia (Susilo, 2008:419).
Menurut teori strukturasi, saat agen memiliki kuasa untuk memproduksi tindakan maka berarti agen juga mememiliki kuasa saat melakukan reproduksi dalam konteks menjalani kehidupan sosial sehari-hari.Salah satu proposisi utama teori strukturasi adalah bahwa aturan dan sumber daya yang digunakan dalam produksi dan reproduksi tindakan sosial sekaligus merupakan alat reproduksi sistem (dualitas struktur).
2.4. Penelitian Terdahulu
2.4.1. Peran Ganda Perempuan Pemetik Teh
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yunita Kusumawati dengan pendekatan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian ini adalah di desa Keteleng, Batang yang berlokasi di dekat perkebuban teh PT Pagilaran dimana banyak perempuan desa ini yang menjadi pemetik teh.
Alasan PT Pagilaran memilih perempuan sebagai buruh pemetik teh adalah karena perempuan pada umumnya memiliki ketrampilan dan kecermatan yang lebih dibandingkan laki-laki, yang sangat diperlukan selama proses pemetikan teh. Para perempuan di Desa Keteleng memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah, hal ini membuat perempuan tidak memiliki kesempatan yang besar untuk memilih pekerjaan maka dari itu perempuan mendapatkan pekerjaan yang berstatus rendah yang berkorelasi langsung dengan pendapatan mereka yang juga rendah.
Rendahnya upah buruh pemetik teh ini masih diperparah lagi dengan peraturan tentang pemetikan alusan dan pemetikan kasar, hasil pemetikan alusan dihargai dengan upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemetikan kasar.Hal ini jelas menunjukkan adanya ketidakadilan bagi buruh perempuan pemetik teh, karena pemetikan alusan seutuhnya pada saat ini sangat sulit untuk didapatkan. Akibatnya upah yang diterima oleh para wanita
pemetik teh akan terus rendah karena hanya didasarkan pada hasil pemetikan kasar saja.
Pihak pabrik seperti sengaja menetapkan peraturan tersebut untuk meminimalisir upah yang dikeluarkan untuk para pemetik teh.
Pemetik teh mendapatkan upah dengan sistem akumulasi pada pertengahan bulan, yaitu setiap tanggal 1 dan tanggal 20.Apabila seorang buruh pemetik teh tidak ikut memetik teh dalam satu hari, maka tidak terhitung bekerja dan tidak mendapat upah.Jika buruh pemetik teh ingin mendapatkan upah yang lebih, mereka harus menambah jumlah jam kerja.
Dengan terlibatnya perempuan dalam melakukan pekerjaan menimbulkan permasalah bagi perempuan itu sendiri, terutama mengenai bagaimana mereka mengatur waktu untuk peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai pekerja.Hal ini dialami oleh perempuan buruh pemetik teh yang berstatus menikah di Desa Keteleng ini, mereka harus bisa membagi waktu antara pekerjan domestik mereka sebagai ibu rumah dengan pekerjaan publik mereka sebagai buruh pemetik teh.Hal ini menyebabkan peran ganda perempuan berubah menjadi beban ganda, karena selain tuntutan untuk tetap menjalankan peran domestik mereka, para perempuan tersebut juga harus melakukan pekerjaan dengan baik pula.
Dalam kehidupan sehari-hari, para perempuan ini tidak pernah lepas dari keluarga terutama suami dan anak-anaknya.Sebagai seorang istri, fungsi dan perannya seperti melayani atau merawat suami, tetap dijalankan.Meskipun pada siang hari bekerja atau tidak secara penuh mengurus keluarga, namun para suami perempuan pemetik teh ternyata tidak keberatan. Di dalam keluarga, para perempuan ini memiliki kemampuan untuk ikut aktif dalam setiap keputusan yang akan dibuat. Pekerjaan sebagai pemetik teh belum dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga menjadi lebih baik karena upah yang didapatkan dari hasil bekerja masih rendah.
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam mendukung tercapainya tujuan penelitian ini maka harus dilengkapi dengan metode penelitian yang tepat dan sesuai dengan permasalahan penelitian yang akan di bahas.
Dalam arti luas, metode penelitian merupakan cara dan prosedur yang sistematis untuk menyelidiki suatu masalah tertentu dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi atas masalah tersebut. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian atau metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melakukan pendekatan deskriptif. Menurut Creswell (dalam Prambudi,2014), metode kualitatif adalah metode untuk mengekplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan oleh sejumlah individu atau sekelompok orang. Menurut Somantri (dalam Mustofa,2013), penelitian kualitatif sangat memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas. Nilai peneliti bersifat eksplisit dalam situasi yang terbatas dan melibatkan subyek dengan jumlah yang relatif sedikit.Peneliti kualitatif biasanya terlibat dalam interaksi dengan realitas yang ditelitinya.Peneliti kualitatif menjalani interaksi secara intens dengan obyek penelitiannya.
Peneliti memilih pendekatan deskriptif karena penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala tau kelompok tertentu di dalam masyarakat.Peneliti berusaha menggali dan menjelaskan bagaimana peran ganda yang di hadapi oleh ibu rumah tangga yang bekerja sebagai buruh pabrik di lokasi penelitian.
3.2. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih lokasi penelitian di PT. MT, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Adapun alasan peneliti melakukan penelitian di tempat tersebut karena daerah tersebut merupakan salah satu perusahaan yang mempunyai karyawan atau buruh perempuan yang cukup banyak.
3.3. Unit Analisis dan Informan 3.3.1. Unit Analisis
Unit analisis data adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subyek peneliti unsure yang menjadi fokus penelitian (Bungin,2007:76). Dalam penelitian ini yang menjadi unit analisis adalah buruh atau karyawan wanita yang sudah berkeluarga atau menikah di PT.MT, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara
3.3.2. Informan
Informan merupakan subyek yang memahami permasalahan penelitian sebagai pelaku maupun orang yang memahami permasalahan penelitian (Bungin,2007). Dalam penelitian ini yang menjadi informan peneliti adalah :
a. Buruh perempuan yang sudah menikah dan mempunyai anak
b. Buruh perempuan yang sudah menikah namun belum mempunyai anak
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan data primer dan data sekunder yaitu sebagai berikut:
3.4.1. Teknik Pengumpulan Data Primer
Teknik pengumpulan data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari subyek penelitian menggunakan alat pengumpulan data secara langsung. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara :
3.4.1.1.Observasi
Observasi yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan (Bungin,2007:115). Metode observasi langsung dilakukan melalui pengamatan gejala-gejala yang tampak pada obyek penelitian pada saat peristiwa yang sedang berlangsung dilapangan.Observasi dilakukan dengan mengamati buruh perempuan yang sudah menikah di PT.MT, Tanjung Morawa.
3.4.1.2.Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam (Deep Interview) atau kuisioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh peneliti terhadap informan penelitian. Hal ini dilakukan untuk mengetahui informasi mengenai permasalahan penelitian lebih mendalam, lebih lengkap dan rinci dari informan. Wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada informan secara spesifik dengan panduan interview guide (Bungin,2007)
3.4.2.Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua atau pihak lain terkait dengan permasalahan penelitian. Data ini diperoleh melalui sumber-sumber bacaan seperti buku, majalah, surat kabar, dokumen-dokumen serta laporan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap relevan dan keabsahan dengan masalah yang diteliti.
3.5. Interpretasi Data
Dalam penelitian kualitatif, peneliti dapat mengumpulkan banyak data melalui berbagai instrumen penelitian, seperti wawancara, observasi maupun data dari dokumentasi.Data tersebut masih dalam catatan lapangan sehingga perlu diseleksi dan dibuat kategori-kategorinya.Sebelum menginterpretasikan data tersebut terlebih dahulu dievaluasi relevansinya terhadap fokus permaslahan dalam penelitian ini.Kemudian analisis data dapat dimulai dengan mengacu pada tinjauan pustaka.Sedangkan hasil observasi dinarasikan sebagai pelengkap data penelitian. Akhir dari semua proses ini adalah penggambaran atau penuturan dalam bentuk kalimat-kalimat tentang apa yang telah diteliti sebagai dasar dalam pengambilan kesimpulan-kesimpulan (Faisal,2007)
BAB IV
DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Sejarah Singkat PT. Mediasafe Technologies Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang
PT. MT didirikan pada tahun 1989 dengan nama PT. Irama Dinamika Latex, merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang bergerak di bidang perindustrian sebagai pengekspor dan pensuplai sarung tangan ke luar negeri terutama negeri Amerika Serikat, India, dan negara-negara di Eropa. PT. Irama Dinamika Latex berdiri dengan surat persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) No 03/I/PMA/1989 tanggal 13 januari 1989, berlokasi di Jalan Batang Kuis Gg. Tambak Rejo, Buntu Bedimbar, Tanjung Morawa. PT. Irama Dinamika Latex kemudian berganti nama menjadi PT. MT pada bulan November 1999 agar dapat lebih dikenal di luar negeri karena seluruh hasil produksinya diekspor ke luar negeri.
PT. MT mendapatkan Sertifikat ISO 9002 pada bulan Februari 2000.Dengan adanya sertifikat tersebut, maka perluasan pasar ekspor menjadi lebih terbuka.Selama ini PT. MT mengekspor produk sarung tangan karet ke Amerika, negara-negara Eropa maka selanjutnya dilakukan perluasan pasar ke negaranegara Asia. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi sarung tangan karet adalah getah karet (latex) yang diperoleh dari luar
perusahaan. Terdapat dua jenis bahan baku untuk menghasilkan jenis sarung tangan yang berbeda yaitu latex natural dan latex sintesis. Untuk bahan baku latex natural, perusahaan membeli dengan cara berlangganan ataupun kontrak dengan perusahaan perkebunan di Sumatera Utara. Sedangkan bahan baku latex. sintesis, PT. MT mengimpornya dari perusahaan latex sintesis luar negeri.
4.1.2 Ruang Lingkup Bidang Usaha
PT. MT merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan getah karet (lateks) menjadi sarung tangan (glover). Sarung tangan yang diproduksi terdiri dari dua jenis. Sarung tangan ini dapat dibedakan jenisnya berdasarkan dua kategori utama yaitu:
1. Jenis sarung tangan berdasarkan bahan baku (lateks).
2. Jenis sarung tangan berdasarkan jenis permukaan dan ukuran.
PT. MT memperoleh ISO 9002, sehingga dengan adanya sertifikat ini peluang untuk perluasan pemasaran ekspor menjadi lebih terbuka.Pemasaran produk sarung tangan PT. MT adalah untuk luar negeri (ekspor) dan sebagian kecil untuk dalam negeri. Beberapa negara tujuan pasar sarung tangan adalah India, Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Itali, Jerman, Singapura, Hongkong, Inggris, Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya. Besarnya perbandingan daerah pemasaran adalah 95% untuk luar negeri dan Besarnya perbandingan daerah pemasaran adalah 95% untuk luar negeri dan 5% untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
4.1.3 Deskripsi PT. Mediasafe Technology 4.1.3.1 Pabrik
Pabrik ini terletak di Medan, Indonesia, pabrik ini bersertifikat menyatakan bahwa telah menghasilkan lebih dari 2,3 miliar sarung tangan medis, bedah dan industri. Fasilitas pabrik ini beroperasi di bawah Good Manufacturing Practices (GMP) dan sesuai dengan persyaratan dari Peraturan US FDA Sistem Mutu (QSR) dan Eropa Medik Directive 93/42 / EEC.
Selama proses produksi pabrik ini dibangun di redudansi untuk memastikan bahwa setiap sarung tangan diproduksi dengan standar pabrik dan pembeli. Sampling secara acak diambil dari setiap lini produksi secara teratur dan diperiksa untuk dimensi fisik dan sifat fisik.
Formulasi dan proses manufaktur memproduksi sarung tangan modulus terkuat dan paling lembut rendah di industri saat ini. Pabrik ini adalah pelopor dalam Chloroprene - polimer membual kombinasi unik dari kekuatan dan daya tahan belum begitu nyaman untuk dikenakan. Dengan menghasilkan sebuah sarung tangan begitu unik, Medisafe Teknologi dianugerahi paten AS untuk sarung tangan ujian Chloroprene - satu-satunya produsen di Asia Tenggara untuk mengadakan perbedaan ini.
Pertumbuhan dikendalikan dan ekspansi; kapasitas bangunan untuk masa depan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan bukan pada ukuran atau volume klaim. Filosofi ini telah membimbing pabrik ini sejak awal dan memungkinkan untuk tumbuh secara bertanggung jawab, meningkatkan kapasitas empat kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir.
PT Mediasafe Technology mengurus sama dengan kemasan, layering setiap sarung tangan setelah produksi untuk memastikan sarung tangan terlihat sebagus yang dikenakan.
persyaratan kemasan khusus. Pabrik ini memanfaatkan jaringan terkemuka printer dan kemasan pemasok bahan yang memahami bisnis dan dapat memenuhi kebutuhan spesifik.
4.1.3.2 Lingkungan,Kesehatan,Keamanan
Keselamatan lingkungan hidup, komunitas dan karyawan kami.Mediasafe memahami betapa hacurnya lingkungan kita dan perlindungan yang berakar dalam budaya kita. Medisafe telah berkomitmen untuk menjadi pemimpin dalam Environmental, Health and Safety(EHS) inisiatif untuk menjaga karyawan, pengunjung, tanaman dan masyarakat. Untuk itu, Mediasafe telah mencapai sertifikasi yang diakui secara internasional untuk Sistem ISO 14001 Manajemen Lingkungandan OHSAS (ISO) 18001 Manajemen Kesehatan dan Keselamatan, prestasi beberapa di dalam palka industri hari ini.
Mediasafe terus mencari cara untuk mengurangi jejak karbon melalui praktek- praktek lingkungan hijau proaktif. Lebih dari 98% dari penggunaan energy didorong oleh sumber bio massa terbaru sangat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan gas alam. Limbah panas dari pemana menjalankan sistem HVAC dan pendinginan di lokasi instalasi pengolahan air limbah memastikan kita aman untuk pembuangan tanpa membahayakan lingkungan atau komunitas.
Saat ini Mediasafe berupaya untuk menghasilkan sarung tangan diproduksi dengan emisi karbon yang sangat rendah. Keselamatan karyawan adalah yang terpenting dan untuk memastikannya Mediasafe berkewajiban mempekerjakan program keselamatan komprehensif untuk secara proaktif mengidentifikasi bahaya dan resiko yang melibatkan seluruh tanaman dan Mediasafe juga memberikan pelatihan regular dan pengujian system keamanan untuk menjaga keterampilan dan kesiapan.
4.1.3.3Kualitas
Kualitas adalah yang terpenting dari apa yang pabrik lakukan setiap hari. Mediasafe adalah produsen sarung tangan Indonesia yang pertama yang mencapai EN 46002 dan ISO 13485 sertifikasi, system manajemen mutu yang diakui secara internasional.Mediasafe mempekerjakan kriteria kualitas yang paling ketat untuk setiap sarung tangan.
4.1.3.4 Sistem Mutu
Mediasafe memahami peran penting sarung tangan dalam melindungi masyarakat dan produk dari risiko yang mereka lihat dan yang mereka tidak lihat.Mulai dari dokter, untuk produsen farmasi, Mediasafe menyediakan sarung tangan kualitas tertinggi sekali pakai yang menuntut memenuhi standar pabrik dan masyarakat.Sistem kualitas Mediasafe dimulai sebelum sarung tangan pertama diproduksi. Setiap pemasok bahan baku dikenai proses sertifikasi untuk menjamin apa yang masuk ke sarung tangan. Semua bahan baku yang masuk diperiksa dan dipantau untuk pemenuhan spesifikasi, konsistensi dan kinerja.
Sarung tangan Medisafe diuji di fasilitas laboratorium state-of-the art menggunakan ISO, ASTM dan EN standar internasional dan persyaratan pengambilan sampel 24/7.
Kualitas produk dimonitor pada setiap tahap produksi oleh teknisi laboratoriumi Untuk memastikan bahwa produk selalu sesuai dengan standar internasional Sarung tangan medis memenuhi atau melampaui 93/42 persyaratan / EEC untuk kualitas dan kinerja US Food and Drug Administration (FDA) dan Uni Eropa Medical Device Directive. Selain itu, kami menggunakan ISO-terakreditasi laboratorium pengujian eksternal untuk memvalidasi hasil internal kami dan sesuai dengan ASTM ketat dan standar EN untuk kimia dan perembesan kemoterapi, endotoxicity, sitotoksisitas dan penetrasi virus antara lain.Semua proses kritis parameter diperiksa dan disertifikasi setiap hari untuk memastikan Mediasafe memberikan kualitas yang telah dipercayakan.
4.1.4 Jumlah Tenaga Kerja PT. MediasafeTechnologies Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang
Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di PT. MT Morawa adalah lebih kurang 593 orang, mayoritas adalah tenaga kerja wanita dengan status :
1. Pekerja bulanan tetap 2. Pekerja harian tetap.
Rincian jumlah tenaga kerja di PT. MT Tanjung Morawa dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1
Rincian Tenaga Kerja PT. Medisafe Tanjung Morawa
No. Departemen Jumlah Tenaga Kerja
1 Civil 3
2 Chlorination 47
3 ETP 5
4 Electrical 10
5 House Keeping 17
6 Inspection 66
7 Latex Compound 30
8 Latex Process 17
9 Mechanical 17
10 Packing 90
11 Personnel & Administration 16
12 Production 112
13 QA Inspection 35
14 QA Laboratory 11
15 QA Packing 25
16 QC Laboratory 12
17 QC process 23
18 Research & Develoment 3
19 Security and Safety 20
20 Stores 19
21 System 2
22 Unility 13
Total 593
Sumber : PT. MT Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang
PT. MT Tanjung Morawa berjumlah seluruhnya 593 orang yang dapat dilihat pada Tabel 4.2.di bawah ini:
Tabel 4.2
Jumlah Tenaga Kerja PT. Mediasafe Technologies Tanjung Morawa Jenis
Kelamin
Jumlah (Orang)
Persentase (%) Laki-Laki
Wanita
201
392
0,34
0,66
Total 593 100
Sumber : PT. MT Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang
Data tenaga kerja yang terdapat di atas bersifat relatif dan dapat berubah pada periode tertentu.Perubahan jumlah akibat masuk – keluarnya karyawan (turn over) ini terjadi karena adanya pengangkatan karyawan baru, mutasi maupun adanya pemberhentian kerja karyawan.
Tabel 4.3
Jumlah Tenaga Kerja PT. Mediasafe Technologies Tanjung Morawa
No. Jabatan Jenis Kelamin Status
Jumlah (Orang)
Persentase (%)
1. Leader
Laki – Laki
Wanita
32
4
0,05%
0,00%
2. Karyawan
Laki – Laki
Wanita
Menikah Belum Menikah
Menikah Belum Menikah
150 40
62 12
0,25%
0,05%
0,10%
0,02%
3. Buruh
Laki – Laki
Wanita
Menikah Belum Menikah
Menikah Belum Menikah
220 42
68 3
0,37%
0,06%
0,11%
0,00%
Jumlah Seluruhnya 593 100,00%
Sumber : PT. MT Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang
4.2 Deskripsi Tanjung Morawa 4.2.1 Luas dan Kondisi Geografis
Kecamatan Tanjung Morawa terdiri atas 1 Kelurahan, 25 Desa dan mempunyai luas wilayah 13,175 Ha.Wilayah kecamatan Tanjung Morawa berada pada ketinggian 30 meter dari permukaan laut. Secara administratif Kecamatan Tanjung Morawa mempunyai batas- batas:
1. Sebelah Utara dengan Kecamatan Batang Kuis dan Kecamatan Beringin.
2. Sebelah Selatan dengan Kecamatan STM Hilir.
3. Sebelah Barat dengan Kecamatan Patumbak, Kecamatan Percut Sei Tuan, dan Kota Medan.
4. Sebelah Timur dengan Kecamatan Lubuk Pakam dan Kecamatan Pagar Merbau.
Jumlah Industri di Kabupaten Deli Serdang dan Kecamatan Tj. MorawaKawasan Tanjung Morawa saat ini menjadi sorotan perluasan pemukiman industri karena letaknya strategis yang menghubungkan kota Medan dan Tebing Tinggi yang menjadikannya jalur perhubungan bisnis. Sehingga banyak terdapat berbagai industri besar, yang ditandai dengan adanya KIM II atau kawasan Industri Medan Kedua.Munculnya industri besar membawa dampak pengaruh di kawasan sekitarnya untuk lebih maju berkembang.Dan seiring perkembangan industri besar membuat para wirausaha untuk mandiri mendirikan sebuah usaha kecil, yang dikenal dengan sebutan Industri Rumah Tangga.
Tabel 4.4
KSK Kec. Tanjung Morawa
No Desa/Kelurahan Besar Sedang Kecil Kerajinan Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Medan Senembabh Bandar Labuhan Bangun Rejo Aek Pancur Naga Timbul Lengau Seprang Sei Merah
Dagang Kerawan Tjg. Morawa Pkn Tjg. Morawa A Limau Manis Ujung Serdang Bangun Sari Bangun Sari Baru Buntu Bedimbar
- - 3 - - - - - - 1 1 1 4 1 4
2 - 3 - - - 1 - - 2 2 1 14
4 7
45 6 6 - 3 3 1 1 5 24 26 8 16
6 15
23 16 4 - 5 44
- - 15 10 51 10 8 10 10
70 22 16 0 8 47
2 1 20 37 80 20 42 21 36
16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
Telagha Sari Dagang Kelambir Tjg. Morawa B Tanjung Baru Punden Rejo Tanjung Mulia Pardamean Wonosari Dalu Sepuluh A Dalu Sepuluh B Penara Kebun
3 23
3 1 - - - - 2 - -
3 3 22
2 - - - 1 2 - -
5 3 23 15 - 1 11 22 3 3 -
4 50 26 32 - - 15 12 49 85 7
15 57 94 52 0 1 26 35 56 88 7
Jumlah 47 89 251 486 853
Sumber: KSK Kec. Tanjung Morawa (Kecamatan Tanjung Morawa dalam angka 2007) Berdasarkan tabel 4.4di atas dapat dilihat bahwa Kecamatan Tanjung Morawa yang terdiri dari 26 desa/kelurahan yang setiap desa/kelurahannya memiliki berbagai jenis industri yaitu besar, sedang, kecil, kerajinan. Pada Desa/Kelurahan Tanjung Morawa B merupakan yang sangat banyak terdapat jumlah industri yaitu94 industri, dan jumlah industri yang paling sedikit terdapat pada desa/Kelurahan Aek Pancur dan Punden Rejo yaitu 0 (tidak ada terdapat sebuah industri).Dapat dilihat dari masing-masing keseluruhan jenis industri di Kecamatan Tanjung Morawa, jumlah industri terbanyak adalah industri kerajinan sebesar 486 Industri, dan jumlah industri besar terdapat 47 industri.
4.2.2 Perempuan di Industri
Sejalan dengan kemajuan pembangunan nasional terdapat kecenderungan meningkatnya peranan perempuan dalam mencari nafkah.Berbagai kajian empiris tentang perempuan menunjukkan bahwa peranan perempuan juga turut berperan dalam berbagai bidang seperti pertanian, perdagangan, peternakan 7bahkan di bidang industri. Implikasi dari
keadaan ini antara lain ditunjukkan dengan adanya perubahan dan pergeseran peranan laki- laki dan perempuan dalam keluarga. Kegiatan perempuan dalam keluarga menjadi tidak terbatas dalam proses sosialisasi dan reproduksi saja, namun perempuan juga melakukan kegiatan ekonomi bersama dengan laki-laki di luar rumahtangga. Perempuan dalam menunjang tugas suami ikut serta mencari nafkah meskipun harus tetap mengerjakan pekerjaan rumahtangga.
Partisipasi wanita dalam dunia industri, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap kesejahteraan perusahaan maupun keluarga, khususnya bidang ekonomi.Peningkatan partisipasi wanita di sektor industri ini dipandang sebagai strategi kunci untuk mengatasi kekurangan pekerja terampil saat ini.Banyak perusahaan yang ingin meningkatkan perekrutan pekerja wanita dan menurunkan retensi terhadap pekerja wanita karena mereka mengenali peluang yang signifikan untuk meningkatkan produktivitas bisnis melalui peningkatan partisipasi wanita di sektor ini.
4.2.3 Perempuan di Tanjung Morawa
Perempuan di daerah Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang pada umumnya bekerja sebagai buruh. Hal ini dikarenakan daerah Tanjung Morawa banyak terdapat pabrik.
Selain itu, alasan mereka bekerja sebagai buruh adalah karena faktor ekonomi serta kebanyakan perempuan di daerah ini Tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga sulit untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan terakhir mereka.
Umumnya perempuan di daerah ini juga dapat mengurangi pengangguran bahkan meningkatkan jumlah pendapatan masyarakat sekitar Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.
4.3 Informan
4.3.1 Informan Istri/Ibu yang bekerja Sebagai Buruh/Karyawan Pabrik PT. MT Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang
• Ibu Juliana (Samaran)
Informan adalah seorang perempuan yang telah berkeluarga.Umur informan sekarang sekitar 38 tahun.Informan bertempat tinggal di Jalan Batang Kuis, Pasar 9, Gang Tambang Rejo.Informan memiliki tiga orang anak. Yang pertama ialah perempuan berumur 12 tahun, yang kedua juga perempuan berumur 8 tahun, dan yang terakhir laki-laki yang masih berumur 11 bulan. Saat ini suami Ibu Juliana sedang sakit sehingga untuk beberapa waktu belakangan ini hingga ke depannya suami beliau lah yang mengurus anak di rumah, terutama anaknya yang masih bayi. Kedua anaknya yang lain biasanya ketika habis pulang sekolah langsung bermain bersama teman-temannya yang tinggal dekat dengan rumah, Ibu Juliana mengatakan bahwa dia tidak begitu memberikan larangan untuk anaknya bermain karena menurutnya sudah sewajarnya bahwa anak-anak banyak bermain. Namun lain halnya ketika beliau sedang di rumah untuk kerja shift siang atau malam dan juga libur, beliau melarang anaknya banyak bermain dan memerintahkan untuk tinggal di rumah sehabis pulang sekolah, dan anak-anaknya pun menurut. Ibu Juliana merasa tidak kesulitan untuk melakukan pekerjaan dan mengurus anak karena ada suaminya yang membantunya. Dulu sebelum suaminya sakit, Ibu juliana menitipkan anaknya yang masih bayi kepada tukang momong, sementara dua anaknya yang lain tetap di rumah atau bermain bersama teman, Ibu Juliana juga mengatakan terkadang tetangga juga mengawasi anaknya. Anak-anak Ibu Juliana sendiri mengatakan bahwa mereka tidak keberatan jika ibunya selalu bekerja karena sudah terbiasa sejak kecil dan merasa lebih bebas untuk bermain keluar rumah.
Ibu Juliana sudah bekerja di PT.MT sejak tahun 1998, namun sempat keluar dari tempat kerjanya tersebut pada tahun 2003.Hal tersebut dikarenakan oleh anaknya yang sakit sehingga Ibu Juliana memutuskan untuk berhenti kerja dan fokus untuk merawat anaknya
yang sakit dan tentu saja mengurus keperluan rumah tangga. Namun pada tahun 2007, Ibu Juliana kembali bekerja di di PT.MT dan pihak pabrik pun menerima Ibu Juliana kembali dengan tangan terbuka karena beliau sebelumnya sudah pernah bekerja di pabrik tersebut.
Alasan Ibu Juliana kembali bekerja tentu saja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, karena kebutuhan akan sulit terpenuhi bila hanya mengandalkan pekerjaan suami, dan suami Ibu Juliana pun mengizinkan istrinya untuk kembali bekerja.
Ibu Juliana menceritakan, PT.MT memilki tiga shift untuk bekerja. Pertama shift pagi, dari jam 7 hingga jam 3 sore. Kemudian shift siang, dari jam 3 hingga jam 11 malam.
Terakhir ialah shift malam, dari jam 11 hingga jam 7 pagi. Jika sudah memiliki kontrak dengan pabrik, maka pekerja akan mendapatkan gaji pokok sebesar Rp 2.200.000. Selain itu juga mendapatkan uang makan dan uang transportasi.Gaji yang didapatkan kerap kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut Ibu Juliana, beliau mendapatkan kepuasan bekerja di pabrik tersebut, karena beliau menikmati pekerjaan yang dilakukannya dan memiliki hubungan dekat bukan hanya kepada sesama buruh tapi juga kepada atasan. Ibu Juliana juga mengatakan bahwa para buruh kerap kali menceritakan masalah yang dihadapi kepada atasan atau supervisor.Adapun atasan yang ada di pabrik ini terdiri dari leader, supervisor, officer, dan manajer. PT.MT membagi para pekerjanya dalam beberapa tim, setiap tim memiliki shift yang sama. Para pekerja memiliki satu hari libur setiap minggunya, dan dalam satu tim memiliki hari libur yang berbeda-beda. Ibu Juliana juga mengatakan bahwa banyak juga pekerja yang merupakan pendatang, dan Ibu Juliana sendiri juga termasuk pekerja yang merupakan senior karena sudah bekerja cukup lama dan menjadi panutan bagi para pekerja yang belum cukup lama dan membimbing mereka agar melakukan pekerjaan dengan baik dan menghindari masalah. Ibu Juliana bergabung dalam SPSI.
• Floren (Samaran)
Informan adalah seorang perempuan yang telah berkeluarga.Umur informan sekarang sekitar 42 tahun.Informan bertempat tinggal di Jalan Batang Kuis, Pasar 9, Gang Tambang Rejo.Suami Ibu Floren bekerja sebagai wiraswasta.Suami Ibu Floren sendiri tidak melarang istrinya untuk bekerja.Ibu Floren memiliki empat orang anak. Anaknya yang pertama laki-laki yang kini sudah berumur 19 tahun, anak kedua yaitu laki-laki berumur 15 tahun, anak ketiga juga laki-laki berumur 12 tahun, dan anak terakhir yaitu perempuan yang masih berumur 5 tahun. Ketika Ibu Floren bekerja, beliau menitipkan anak terakhirnya pada bibi anaknya. Sedangkan anak-anaknya yang lain tetap di rumah walaupun kadang datang ke rumah bibinya karena jarak rumah mereka berdekatan. Anak-anaknya berangkat sekolah menggunakan becak. Jika Ibu Floren bekerja shift pagi, makanan di rumah dimasak oleh bibinya, namun jika beliau bekerja pada shift siang dan malam maka akan memasak sendiri.
Sebelumnya ketika anak-anak Ibu Floren masih kecil mereka diasuh oleh nenek jika Ibunya pergi bekerja.
Menurut pendapat Ibu Floren, beliau tidak memiliki banyak kekurangan dalam mengurus anak dibandingkan ibu lain yang tidak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Beliau tidak merasa memiliki jarak dengan anak-anaknya walaupun sering berada tidak tempat kerja, dan tetap bisa mengurus anak walaupun juga dengan bantuan dari sang bibi. Anak-anak Ibu Floren juga sudah terbiasa mengurus diri sendiri dan tidak mengeluh akan hal tersebut, namun ada kalanya juga anak akan menangis dan ingin bersama ibunya, hal ini diakui sendiri oleh anak ketiga Ibu Floren. Dia mengaku pernah menangis karena sedih ibunya berada di tempat kerja.Namun demikian, Ibu Floren mengatakan bahwa walaupun beliau ialah Ibu yang bekerja hal tersebut tidak memberikan dampak negatif pada anak.
Ibu Floren telah bekerja di PT.MT sejak tahun 1993.Pada saat itu Ibu Floren masih beranjak dewasa dan memilih untuk bekerja daripada kuliah.Alasannya ialah karena ingin