SKRIPSI
PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP TANGGAL KADALUWARSA BERDASARKAN FAKTOR MUTU DAN KEAMANAN PANGAN PADA
LABEL KEMASAN PRODUK PANGAN DI DAERAH BOGOR DAN SEKITARNYA
Oleh :
TENNI OKSOWELA F24104086
2008
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP TANGGAL KADALUWARSA BERDASARKAN FAKTOR MUTU DAN KEAMANAN PANGAN PADA
LABEL KEMASAN PRODUK PANGAN DI DAERAH BOGOR DAN SEKITARNYA
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan,
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Oleh :
TENNI OKSOWELA F24104086
2008
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP TANGGAL KADALUWARSA BERDASARKAN FAKTOR MUTU DAN KEAMANAN PANGAN PADA
LABEL KEMASAN PRODUK PANGAN DI DAERAH BOGOR DAN SEKITARNYA
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan,
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Oleh :
TENNI OKSOWELA F24104086
Dilahirkan pada tanggal 10 Oktober 1985 Di Bandarlampung
Tanggal Lulus : 8 Agustus 2008
Menyetujui,
Bogor, September 2008
Dr. Ir. Yadi Haryadi, MSc Dosen Pembimbing
Mengetahui,
Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc
Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Tenni Oksowela. F24104086. Persepsi Konsumen Terhadap Tanggal Kadaluwarsa Berdasarkan Faktor Mutu Dan Keamanan Pangan Pada Label Kemasan Produk Pangan Di Daerah Bogor dan Sekitarnya. Di bawah bimbingan Yadi Haryadi (2008).
RINGKASAN
Persepsi merupakan tanggapan dan pendapat yang didalamnya terkandung unsur penilaian seseorang terhadap objek dan gejala berdasarkan pengalaman dan wawasan yang dimilikinya (Sudjana, 1997). Pemahaman terhadap persepsi konsumen sangat bermanfaat bagi pemasar karena persepsi konsumen dapat dijadikan dasar dalam melakukan market segmentation. Pencantuman waktu kadaluwarsa pada label kemasan pangan sangat perlu dilakukan mengingat setiap produk pangan memiliki daya tahan yang tidak sama. Menurut BPOM (2004), keterangan waktu kadaluwarsa berfungsi sebagai informasi mengenai waktu atau tanggal yang menunjukkan suatu produk makanan masih memenuhi syarat mutu dan keamanan untuk dikonsumsi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui persepsi konsumen terhadap tanggal kadaluwarsa berdasarkan faktor mutu dan keamanan pangan serta mengetahui hubungan antara karakteristik responden dengan persepsinya tentang tanggal kadaluwarsa produk pangan.
Penelitian ini dilakukan di daerah Bogor dan sekitarnya yaitu Kabupaten Bogor (Babakan Raya dan Raya Dramaga) dan Kota Bogor (Perumahan Bantar Jati).
Penelitian ini menggunakan responden dengan rentang usia 15-25 tahun (43%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (30%), memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA (54%) dan berstatus sosial ekonomi rendah (38%).
Berdasarkan tingkat pengetahuannya, dapat diketahui bahwa responden tidak mengetahui bahwa pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir tidak perlu dilakukan (24%). Selanjutnya, dapat diketahui pula bahwa responden tidak mengetahui bahwa perbedaan antara produk ”best before” dengan produk “best before end” terletak pada daya tahan masing-masing produk (45%). Responden selalu memperhatikan info produk sebelum melakukan tindakan pembelian (66%) dan hal yang paling utama diperhatikan adalah tanggal kadaluwarsa produk (38%). Namun, masih terdapat responden yang memilih untuk membeli produk yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa (41%)
dengan alasan karena kondisi produk terlihat baik (66%). Berdasarkan hasil tabulasi silang, dapat diketahui bahwa alasan tersebut dikemukakan oleh responden dari semua tingkatan pendidikan, status sosial ekonomi dan jenis pekerjaan. Selanjutnya, diketahui pula bahwa masih terdapat responden yang memilih untuk mengkonsumsi produk pangan yang telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa (24%) dengan alasan karena kondisi produk masih terlihat baik (50%). Berdasarkan hasil tabulasi silang, dapat diketahui bahwa alasan tersebut dikemukakan oleh responden yang berpendidikan sekolah lanjut dan perguruan tinggi dengan status sosial ekonomi rendah dan tinggi serta bekerja sebagai pelajar, pegawai swasta dan wiraswasta. Berdasarkan alasan yang dikemukakan, dapat diketahui bahwa responden lebih memperhatikan baik buruknya suatu produk pangan untuk dibeli dan atau dikonsumsi berdasarkan pada faktor fisik produk. Mengenai fungsi tanggal kadaluwarsa yang terdapat pada label kemasan pangan, tanggal kadaluwarsa dipersepsikan berfungsi sebagai batas waktu keamanan pangan (45%). Berdasarkan hasil tabulasi silang, dapat diketahui bahwa alasan ini dikemukakan oleh responden yang memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar dan perguruan tinggi dari semua tingkatan status sosial ekonomi dan bekerja sebagai pelajar, pegawai negeri, ibu rumah tangga maupun wiraswasta.
Berdasarkan hasil pengujian korelasi Spearman, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan memiliki hubungan yang bersifat lemah dan berlawanan arah dengan pengetahuan responden mengenai pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir. Selanjutnya, dapat diketahui pula bahwa tingkat pendidikan memiliki hubungan yang bersifat cukup dan searah dengan pengetahuan responden mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before” dengan produk “best before end”. Berdasarkan hasil uji ANOVA diketahui bahwa terdapat perbedaan pengetahuan responden mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before” dengan produk “best before end”
berdasarkan jenis pekerjaan responden.
RIWAYAT PENULIS
Penulis bernama lengkap Tenni Oksowela, dilahirkan di Bandarlampung pada tanggal 10 Oktober 1985. Penulis merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara dari pasangan bapak H. Darwin Djafri, S.H dan ibu Hj. Sri Hayati.
Jenjang pendidikan formal penulis di awali dari tahun 1990 di TK. Xaverius 2 Rawalaut, Bandarlampung. Pada tahun 1992 hingga tahun 1998 penulis menyelesaikan jenjang sekolah dasar di SD Kartika II-5 Bandarlampung. Kemudian pada tahun 1998 hingga tahun 2001, penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 2 Bandarlampung. Tahun 2001, penulis melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah atas di SMU Negeri 2 Bandarlampung. Setelah lulus dari SMU, tahun 2004, penulis melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor dan diterima sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam berbagai kegiatan keorganisasian. Penulis pernah menjadi anggota Koran Kampus IPB sebagai reporter pada tahun 2005-2006 dan penulis juga pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan dan Gizi pada bagian Public Relation pada tahun 2006-2007.
Untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknologi Pertanian pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, penulis membuat skripsi dengan judul “Persepsi Konsumen Terhadap Tanggal Kadaluwarsa Berdasarkan Faktor Mutu Dan Keamanan Pangan Pada Label Kemasan Produk Pangan Di Daerah Bogor Dan Sekitarnya”.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat yang diberikan-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Persepsi Konsumen Terhadap Tanggal Kadaluwarsa Berdasarkan Faktor Mutu Dan Keamanan Pangan Pada Label Kemasan Produk Pangan Di Daerah Bogor Dan Sekitarnya” bisa penulis selesaikan. Skripsi ini disusun oleh penulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian.
Selama pelaksanaan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Papa dan mama yang selalu memberikan dukungan dan doa yang tidak terputus bagi penulis. Kakak Diona (terima kasih atas saran-sarannya selama ini), Mas Tomi dan Vianko yang selalu memberikan doa, semangat dan selalu ada untuk penulis. Keponakan kecilku, Argya Rizzi Naomi, terima kasih telah mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan skripsi
2. Dr. Ir. Yadi Haryadi, MSc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan bagi penulis selama penulis menjadi mahasiswa.
Maaf atas segala kekhilafan yang telah banyak penulis lakukan dan terima kasih atas segala masukan yang telah diberikan
3. Dra. Waysima, MSc yang telah bersedia untuk menjadi dosen penguji. Terima kasih atas saran, kritikan dan bimbingannya kepada penulis. Mohon maaf atas segala kekhilafan penulis baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
4. Dr. Ir. M. Arpah, MSi yang telah bersedia menjadi dosen penguji. Terima kasih atas saran dan kritikan yang telah diberikan kepada penulis
5. Teman-teman di Analisis Data Statistik IPB, khususnya Dini, terimakasih atas semua bantuan dan masukannya sehingga penulis dapat sedikit mengerti mengenai statistika
6. Ludy Catur Irawan terimakasih atas perhatian dan bantuannya selama ini.
Semoga kita bisa menjadi anak yang membanggakan keluarga (Maaf atas segala sikap dan sifat penulis yang terkadang diluar dugaan)
7. Teman seperjuangan di Jati 8 (Dini dan Lia) terima kasih atas pertemanan selama ini. Pengalaman 2 tahun di Jati 8 benar-benar tak bisa terlupakan 8. Teman berbagi suka duka, Inke dan Indi ”nene”, terima kasih selalu bersedia
mendengar keluh kesah penulis. Semoga semua impian kita bisa terwujud 9. Teman-teman di Istana Ceria (Manda, Cecy, Dinul, Sari, Ratih, Rani, Meyka,
Fia, Fina, Neney, Rika dan Titin). Terima kasih atas dukungan, perhatian dan kebersamaannya selama ini
10. Terima kasih kepada Netha, Wulan, Ririn, Yuke, Jamal dan Farid atas semua cerita, canda dan tawanya
11. Teman satu bimbingan, Mayland dan Wachu, terimakasih atas semangat dan dukungannya
12. Teman-teman ITP 41 yang telah membantu baik dalam penelitian hingga penyusunan tugas akhir ini
13. Terima kasih kepada seluruh responden yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Maaf apabila selama pengambilan data, peneliti sedikit mengganggu waktu luang responden
Penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, segala masukan dan kritikan sangat diharapkan guna kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi siapa pun yang membacanya.
Bogor, September 2008
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ………... i
DAFTAR GAMBAR ………... iii
DAFTAR TABEL ……… iv
DAFTAR LAMPIRAN ……… vi
I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ………. 1
B. TUJUAN PENELITIAN ………. 2
C. MANFAAT PENELITIAN ………. 2
II. TINJAUAN PUSTAKA A. LABEL PANGAN ………. 4
B. REGULASI PELABELAN TANGGAL KADALUWARSA……… 5
C. KADALUWARSA ………. 8
D. MUTU PANGAN ………... 10
E. KEAMANAN PANGAN ………... 11
F. PERSEPSI KONSUMEN ……… 12
III. METODOLOGI PENELITIAN A. KERANGKA PEMIKIRAN ………... 22
B. METODE PENELITIAN ……… ... 23
C. TAHAPAN PENELITIAN ……….… 23
D. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN ……… .. 24
E. METODE PENENTUAN SAMPEL ……….. 25
F. METODE PENGELOMPOKKAN SAMPEL ………... 27
G. JENIS DAN SUMBER DATA ……….. 30
1. Data Primer ……….. 30
2. Data Sekunder ………. 30
H. PEMBUATAN DAN PENGUJIAN KUESIONER ………... .... 30
I. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ……….. … 33
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS ……….. 36
B. PROFIL RESPONDEN ……… 39
C. PERSEPSI KONSUMEN ……… 43
D. HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK RESPONDEN DENGAN PERSEPSI……….. V. KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN ………. 69
B. SARAN ……… 70
DAFTAR PUSTAKA ……….. 72
LAMPIRAN ……… 76 50
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Proses terbentuknya persepsi (Mowen dan Minor, 2002)... 14
Gambar 2. Kerangka pendekatan studi berdasarkan hubungan antara persepsi, sikap dan perilaku ………... Gambar 3. Skema tahapan penelitian ... ... 24
Gambar 4. Jenis kelamin responden ... 40
Gambar 5. Usia responden ... 40
Gambar 6. Jenis pekerjaan responden ... 41
Gambar 7. Tingkat pendidikan responden ... 41
Gambar 8. Status rumah responden ... 42
Gambar 9. Status daya listrik responden ... 42
Gambar 10. Pengeluaran biaya telepon responden ... 43
Gambar 11. Status sosial ekonomi responden ... 43
Gambar 12.Jawaban responden mengenai pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir ... 44
Gambar 13.Jawaban responden mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before” dengan produk “best before end” ... 45
Gambar 14. Sumber informasi tentang kadaluwarsa ... 46
Gambar 15. Intensitas responden memperhatikan info produk ... 47
Gambar 16. Hal yang paling utama diperhatikan ... 48
Gambar 17.Alasan responden membeli produk yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa ... 48
Gambar18. Alasan responden mengkonsumsi produk yang telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa ... 49
Gambar 19.Persepsi responden terhadap fungsi tanggal kadaluwarsa ... 49 21
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Pengelompokan status sosial ekonomi ………...29 Tabel 2. Hasil uji coba kuesioner ……….37 Tabel 3. Hasil uji validitas kuesioner ………...38 Tabel 4. Sebaran pengetahuan responden mengenai pencantuman tanggal
kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir berdasarkan tingkat pendidikan ... 50 Tabel 5. Hasil uji Spearman pendidikan responden x pengetahuan
mengenai pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir ... 51 Tabel 6.Sebaran pengetahuan responden mengenai pencantuman tanggal
kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir berdasarkan status sosial ekonomi ... 52 Tabel 7. Hasil uji Spearman status sosial ekonomi responden x
pengetahuan mengenai pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir ... 53 Tabel 8. Sebaran pengetahuan responden mengenai pencantuman tanggal
kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir berdasarkan jenis pekerjaan ... 53 Tabel 9. Hasil uji ANOVA test of between-subject effects pekerjaan
responden dengan pengetahuan mengenai pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir ... 54 Tabel10.Sebaran pengetahuani responden mengenai perbedaan
pengertian antara produk “best before” dengan produk “best before end” berdasarkan tingkat pendidikan ... 55 Tabel11.Hasil uji Spearman pendidikan responden x pengetahuan
mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before”
dengan produk “best before end” ... 56 Tabel12. Sebaran pengetahuan responden mengenai perbedaan pengertian
antara produk “best before” dengan produk “best before end”
berdasarkan status sosial ekonomi ... 56
Halaman Tabel13. Hasil uji Spearman status sosial ekonomi responden x
pengetahuan mengenai perbedaan pengertian antara produk
“best before” dengan “best before end” ... 57 Tabel14. Sebaran pengetahuan responden mengenai perbedaan
pengertian antara produk “best before” dengan produk “best
before end” berdasarkan jenis pekerjaan ... 58 Tabel15. Hasil uji ANOVA test of between-subject effects pekerjaan
responden dengan pengetahuan mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before” dengan produk “best
before end” ... ...59 Tabel16. Sebaran alasan responden untuk membeli produk yang tidak
mencantumkan tanggal kadaluwarsa berdasarkan tingkat
pendidikan ... 60 Tabel17. Sebaran alasan responden untuk membeli produk yang tidak
mencantumkan tanggal kadaluwarsa berdasarkan status sosial
ekonomi ... 61 Tabel18. Sebaran alasan responden untuk membeli produk yang tidak
mencantumkan tanggal kadaluwarsa berdasarkan jenis
pekerjaan ... 62 Tabel19. Sebaran alasan responden untuk mengkonsumsi produk yang
telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa berdasarkan
tingkat pendidikan ... 63 Tabel20. Sebaran alasan responden untuk mengkonsumsi produk yang
telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa berdasarkan
status sosial ekonomi ... 64 Tabel21. Sebaran alasan responden untuk mengkonsumsi produk
yang telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa
berdasarkan jenis pekerjaan ... 65 Tabel22. Sebaran persepsi responden mengenai fungsi tanggal
kadaluwarsa berdasarkan tingkat pendidikan ... 66 Tabel23. Sebaran persepsi responden mengenai fungsi tanggal
kadaluwarsa berdasarkan status sosial ekonomi ... 67 Tabel24. Sebaran persepsi responden mengenai fungsi tanggal
kadaluwarsa berdasarkan jenis pekerjaan ... 68
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Kuesioner penelitian ... 76 Lampiran 2. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai intensitas
memperhatikan info produk (P1) ... 80 Lampiran 3. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai hal yang
paling utama diperhatikan (P2)... 80 Lampiran 4. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai sumber
informasi tentang tanggal kadaluwarsa (P3) ... 80 Lampiran 5. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai pengetahuan
tanggal kadaluwarsa produk garam meja dan gula pasir (P4) ... 81 Lampiran 6. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai pengetahuan
perbedaan pengertian produk “best before” dan produk
“best before end” (P5) ... 81 Lampiran 7. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai tindakan
terhadap produk yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa (P6) ... 81 Lampiran 8. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai alasan
membeli produk yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa (P7) ... 82 Lampiran 9. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai tindakan
terhadap produk yang telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa (P8) ... 82 Lampiran 10. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai alasan
mengkonsumsi produk yang telah memasuki batas akhir waktu kadaluwarsa (P9) ... 82 Lampiran 11. Hasil SPSS uji validasi pertanyaan mengenai fungsi
tanggal kadaluwarsa (P10) ... 83 Lampiran 12. Hasil SPSS uji reliabilitas test-retest kuesioner ………83 Lampiran 13. Nilai jawaban responden ... 84 Lampiran 14. Hasil uji ANOVA post hoc test pekerjaan responden
dengan pengetahuan mengenai pencantuman tanggal kadaluwarsa pada produk garam meja dan gula pasir ... 89
Halaman Lampiran 15. Hasil uji ANOVA post hoc test pekerjaan responden
dengan pengetahuan mengenai pengetahuan mengenai perbedaan pengertian antara produk “best before”
dengan produk “best before end”... 90
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Mutu merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan dalam pembuatan suatu produk. Hal ini disebabkan karena hanya produk yang bermutu yang dapat memenuhi kebutuhan pasar yaitu masyarakat konsumen umum.
Menurut UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, pengertian mutu pangan meliputi keamanan pangan, kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan, makanan dan minuman. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa mutu pangan sangat berkaitan erat dengan keamanan pangan. Namun, dalam pengertian sehari-hari, mutu pangan lebih banyak dikaitkan dengan rasa, rupa, konsistensi dan harga dari suatu produk.
Makanan yang rasanya tidak enak, rupanya tidak menarik dan konsistensinya tidak sesuai, sering dinilai kurang dapat diterima dan tidak bermutu (Soekirman, 2007).
Saat ini, dengan semakin majunya teknologi, di pasaran banyak beredar produk pangan dalam kemasan. Untuk memudahkan konsumen dalam memperoleh informasi yang benar dan jelas tentang setiap produk yang dikemas sebelum konsumen memutuskan untuk membeli dan atau mengkonsumsinya, maka berdasarkan penjelasan UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan pada pasal 30 ayat 1 disebutkan bahwa pemberian label pada produk pangan yang dikemas merupakan keharusan. Ketentuan pangan ini berlaku bagi pangan yang telah melalui proses pengemasan akhir dan siap diperdagangkan, tetapi tidak berlaku bagi perdagangan pangan yang dibungkus di hadapan pembeli. Berdasarkan UU No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan pada pasal 2 ayat 2 dijelaskan bahwa label tersebut sekurang-kurangnya memuat mengenai nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih, nama dan alamat pihak yang memproduksi, keterangan halal dan tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa merupakan salah satu muatan dari label pangan. Suatu produk pangan disebut rusak apabila produk tersebut telah kadaluwarsa. Menurut Syarief dan Halid (1993), suatu produk pangan
dapat bersifat kadaluwarsa apabila produk tersebut telah melampaui masa simpan optimumnya dan pada umumnya produk tersebut telah menurun mutu gizinya meskipun penampakannya masih bagus. Penurunan mutu dapat menyebabkan menurunnya tingkat keamanan produk yang kemudian akan menyebabkan penurunan tingkat penerimaan konsumen.
Untuk dapat meningkatkan tingkat penerimaan konsumen, pihak pemasar harus dapat memahami persepsi konsumen mengenai label tanggal kadaluwarsa produk. Persepsi konsumen merupakan bagian penting dalam bidang pemasaran. Melalui pemahaman persepsi konsumen, pihak pemasar dapat mengetahui dan memahami keinginan konsumen akan keterangan waktu kadaluwarsa produk pangan sehingga pihak pemasar dapat merumuskan bauran pemasaran dalam merebut peluang pasar. Selain itu, perusahaan atau produsen juga dapat memenuhi keinginannya untuk menimbulkan perubahan-perubahan dalam perilaku konsumen. Perubahan perilaku konsumen tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan semakin membaiknya persepsi konsumen terhadap merek-merek tertentu yang dimiliki oleh perusahaan atau produsen tersebut.
B. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui persepsi konsumen terhadap tanggal kadaluwarsa berdasarkan faktor mutu dan faktor keamanan pangan.
2. Mengetahui hubungan antara karakteristik konsumen dengan persepsinya tentang tanggal kadaluwarsa produk pangan.
C. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Sebagai bahan pertimbangan bagi para produsen pangan dalam
memperhatikan mutu dan keamanan pangan dari produk yang diproduksi salah satunya dalam hal pencantuman keterangan waktu kadaluwarsa.
2. Sebagai bahan sosialisasi kepada pihak-pihak terkait seperti produsen dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dalam memperhatikan adanya tanggal kadaluwarsa pada setiap kemasan produk pangan.
3. Memberikan informasi tentang persepsi konsumen produk pangan dalam kemasan terhadap tanggal kadaluwarsa yang tercantum pada label kemasan pangan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. LABEL PANGAN
Ketika akan membeli suatu produk dalam kemasan, hal yang pertama kali dilihat oleh konsumen adalah kemasan produk. Kemasan merupakan bungkus luar yang melindungi produk serta tempat mencantumkan berbagai informasi mengenai produk didalamnya. Kemasan dapat dikatakan juga sebagai bungkus atau wadah yang memiliki peran penting dalam menyimpan atau mengawetkan suatu bahan pangan. Kemasan memiliki beberapa fungsi, antara lain menjaga produk pangan agar tetap bersih dan terhindar dari kontaminasi, melindungi produk dari kerusakan fisik, memberikan kemudahan kepada konsumen dalam membuka atau menutup kemasan, memberikan identitas dan informasi yang jelas, serta bertanggung jawab terhadap produk yang terdapat didalamnya (Syarief et al., 1989).
Setiap informasi tentang suatu produk dapat dilihat dari label yang tertera pada kemasan. Label dapat didefinisikan sebagai tulisan, tag, gambar atau pengertian lain yang ditulis, dicetak, distensil, diukir, dihias atau dicantumkan dengan cara apapun dan dapat memberikan kesan dari suatu produk yang terdapat pada suatu wadah atau kemasan (Wijaya, 2001).
Menurut penjelasan Undang-Undang No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan pasal 30 ayat 1 dikatakan bahwa tujuan pemberian label pada produk pangan yang dikemas adalah agar masyarakat yang membeli dan atau mengkonsumsi pangan memperoleh informasi yang benar dan jelas tentang setiap produk yang dikemas, baik menyangkut asal, keamanan, mutu, kandungan gizi, maupun keterangan lain yang diperlukan sebelum memutuskan untuk membeli dan atau mengkonsumsi pangan tersebut. Ketentuan pemberian label ini berlaku bagi pangan yang telah melalui proses pengemasan akhir dan siap diperdagangkan, tetapi tidak berlaku bagi perdagangan pangan yang dibungkus dihadapan pembeli.
Menurut Engel et al. (1994), konsumen memberikan perhatian pada label kemasan dengan anggapan bahwa informasi yang tertera dalam label kemasan merupakan informasi yang benar, namun informasi pada kemasan
tersebut lebih banyak digunakan oleh konsumen yang berstatus sosial ekonomi tinggi. Konsumen yang memiliki pendidikan lebih tinggi biasanya lebih terbuka dalam menerima informasi yang baru, dengan kata lain konsumen yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki perhatian yang lebih terhadap label. Namun, tidak jarang konsumen menggunakan label tidak setuntas mungkin dan hal ini menyebabkan tidak jarang informasi pada label dipandang secara keliru dan hanya digunakan sebagian atau diabaikan sama sekali (Engel et al., 1994). Peranan label pada suatu produk sangat penting untuk memperoleh produk yang sesuai dengan yang diinginkan konsumen.
Label produk yang dijamin kebenarannya akan memudahkan konsumen dalam menentukan beragam produk dan substitusi di pasaran.
Dalam Undang-Undang No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan pada pasal 2 ayat 1, dikatakan bahwa setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam dan atau di kemasan pangan. Selanjutnya pada pasal 2 ayat 2 dijelaskan bahwa label sekurang-kurangnya memuat mengenai (a) nama produk, (b) daftar bahan yang digunakan, (c) berat bersih atau isi bersih, (d) nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia, (e) keterangan tentang halal dan (f) tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
Salah satu muatan dari label adalah keterangan waktu kadaluwarsa pangan, dimana, menurut BPOM (2004), keterangan waktu kadaluwarsa berfungsi sebagai informasi mengenai waktu atau tanggal yang menunjukkan suatu produk makanan masih memenuhi syarat mutu dan keamanan untuk dikonsumsi.
B. REGULASI PELABELAN TANGGAL KADALUWARSA
Regulasi pencantuman tanggal kadaluwarsa di Indonesia pada awalnya berlaku terbatas pada produk tertentu. Di dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No.02240/B/SK/VII/91 Tanggal 2 Juli 1991, disebutkan bahwa tanggal kadaluwarsa harus dicantumkan pada makanan tertentu, seperti susu pasteurisasi, susu bubuk, makanan atau
minuman yang mengandung susu, makanan bayi dan makanan kalengan yang steril komersial. Tanggal kadaluwarsa tersebut dapat dicantumkan pada tutup botol, bagian bawah kaleng atau bagian atas kardus dan tempat lain yang sesuai, serta harus jelas dan mudah dibaca. Pencantuman tanggal kadaluwarsa disertai dengan peringatan seperti “Sebaiknya digunakan sebelum tanggal (isikan tanggal kadaluwarsa)” atau dapat juga dicantumkan terpisah seperti
”Sebaiknya digunakan sebelum tanggal (isikan tanggal kadaluwarsa)”, yang tercantum pada bagian bawah kaleng atau tutup botol.
Pengaturan yang lebih luas mulai dilakukan dengan berlakunya UU Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan yaitu pada pasal 21 (e) Tentang Pangan Tercemar, dimana pada pasal ini dijelaskan bahwa setiap orang dilarang mengedarkan pangan yang sudah kadaluwarsa. Selanjutnya pada Bab IV pasal 30 ayat (1) dijelaskan bahwa setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia pangan yang dikemas untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam dan atau dikemasan pangan dan pada ayat (2) dijelaskan bahwa label yang dimaksud pada ayat (1) memuat sekurang-kurangnya keterangan mengenai (a) nama produk, (b) daftar bahan yang digunakan, (c) berat bersih atau isi bersih, (d) nama dan alamat yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia, (e) keterangan tentang halal, (f) tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
Pada pasal 32 UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan dijelaskan juga mengenai aturan kadaluwarsa pangan, yaitu bahwa setiap orang dilarang mengganti, melabel kembali, atau menukar tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa pangan yang diedarkan. Pelanggaran terhadap aturan pangan kadaluwarsa akan dikenai tindakan pidana seperti yang dijelaskan pada pasal 55 UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan yaitu barang siapa dengan sengaja (a) mengedarkan pangan kadaluwarsa, (b) mengganti, melabel kembali atau menukar tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa pangan yang diedarkan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 32, dipidana dengan penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak enam ratus juta rupiah.
Bentuk format penulisan yang rinci mengenai tanggal kadaluwarsa pangan diatur di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan. Dalam pasal 27, disebutkan bahwa (1) tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa wajib dicantumkan secara jelas pada label, (2) pencantuman tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa dilakukan setelah pencantuman tulisan “Baik digunakan sebelum” yang disesuaikan dengan jenis dan daya tahan pangan yang bersangkutan, (3) dalam hal produk pangan yang kadaluwarsanya lebih dari tiga bulan, diperbolehkan untuk hanya mencantumkan bulan dan tahun kadaluwarsanya saja. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa memperdagangkan pangan yang sudah kadaluwarsa dan menukar tanggal kadaluwarsa pangan tidak diperbolehkan. Hal ini tertuang dalam pasal 28 yang berbunyi : “Dilarang memperdagangkan pangan yang sudah melampaui tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa sebagaimana dicantumkan pada label”, serta pasal 29 yang berbunyi : “Setiap orang dilarang menukar tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa pangan yang diedarkan”.
Untuk pencantuman tanggal kadaluwarsa di tingkat perdagangan internasional, digunakan Codex Standard for The Labeling of Prepacked Foods, tahun 1985 (CODEX STAN 1-1985) mengenai food labeling regulation yang dikeluarkan oleh Codex Alimentarius Commission (CAC).
Sejak tahun 1999, regulasi ini diamandemenkan sehingga pencantuman tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa menjadi kewajiban yang bersifat mengikat dan mempunyai sangsi. Pada amandemen ini, yaitu pada point 4 mengenai mandatory labeling of prepacked foods disebutkan bahwa pada kemasan produk pangan wajib dicantumkan date of minimum durability yang dituliskan mengikuti tulisan best before atau best before end. Dalam amandemen tahun 1999 ini, juga dicantumkan beberapa hal penting yang menyangkut bentuk penulisan, yaitu (1) untuk produk yang mempunyai mempunyai waktu kadaluwarsa kurang dari tiga bulan, pada label wajib dicantumkan tanggal dan bulan kadaluwarsa dengan diawali kalimat “Best before….”, (2) apabila bulan yang dimaksud adalah bulan Desember, maka dapat dicantumkan berupa tahun kadaluwarsa saja tanpa bulan yang
dimaksud, (3) untuk produk yang mempunyai waktu kadaluwarsa lebih dari tiga bulan, pada label wajib dicantumkan bulan dan tahun kadaluwarsa dengan diawali kalimat “Best before end….”. Pada amandemen tahun 1999 ini juga dituliskan tujuh jenis produk pangan yang tidak memerlukan pencantuman tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa yaitu (1) buah dan sayuran segar, termasuk kentang yang belum dikupas, (2) minuman yang mengandung alkohol lebih besar atau sama dengan 10% (v/v), (3) makanan yang diproduksi untuk dikonsumsi saat itu juga atau dikonsumsi tidak lebih dari 24 jam setelah diproduksi, (4) vinegar (cuka), (5) garam meja, (6) gula pasir, (7) produk konvensionary yang bahan bakunya hanya berupa gula yang ditambahkan flavor atau gula yang diberi pewarna.
C. KADALUWARSA
Suatu bahan pangan dikatakan kadaluwarsa apabila bahan pangan tersebut telah mengalami kerusakan. Kadaluwarsa adalah keadaan suatu bahan pangan yang telah melampaui masa simpan optimumnya dan pada umumnya bahan pangan tersebut telah menurun mutu gizinya meskipun penampakannya masih bagus (Syarief dan Halid, 1993). Keterangan waktu kadaluwarsa pada produk pangan bukan sekedar digunakan sebagai petunjuk kesegaran dan keamanan, melainkan juga petunjuk akan perubahan lainnya seperti cita rasa, penampakan dan kandungan gizi. Selain itu, keterangan waktu kadaluwarsa pada produk pangan juga menunjukkan batas waktu dimana sifat-sifat fungsional dari bahan masih dapat dipertahankan. Sifat-sifat fungsional yang dimaksud adalah daya serap air, kemampuan mengemulsi, kapasitas pengembangan volume, homogenitas warna, daya buih, aktivitas enzimatik, serta fungsi lainnya yang penting dalam pengolahan.
Kadaluwarsa suatu produk pangan berhubungan erat dengan umur simpan produk pangan. Umur simpan produk pangan adalah selang waktu antara saat produksi hingga saat konsumsi dimana produk berada dalam kondisi yang memuaskan pada sifat-sifat penampakan, rasa, aroma, tekstur dan nilai gizi. Menurut National Food Processor Association, suatu produk berada pada kisaran umur simpannya apabila kualitas produk secara umum
dapat diterima untuk tujuan seperti yang diinginkan oleh konsumen dan selama bahan pengemas masih memiliki integritas serta memproteksi isi kemasan (Arpah, 2001). Terdapat beberapa cara dalam menentukan umur simpan suatu produk pangan yaitu melalui metode konvensional dan metode akselerasi. Sistem penentuan umur simpan secara konvensional membutuhkan waktu yang lama. Hal ini disebabkan karena penetapan kadaluwarsa pangan dengan metode konvensional atau Extended Storage Studies (ESS) dilakukan dengan cara menyimpan suatu seri produk pada kondisi normal sehari-hari sambil dilakukan pengamatan terhadap penurunan mutunya hingga mencapai mutu kadaluwarsa. Untuk mempercepat waktu penentuan kadaluwarsa, terdapat metode lain yang dapat digunakan yaitu metode Accelerated Shelf Life Testing atau metode akselerasi. Pada metode ini, kondisi penyimpanan diatur diluar kondisi normal sehingga produk dapat lebih cepat rusak dan penentuan umur simpan dapat dilakukan (Arpah dan Syarief, 2000).
Salah satu kendala yang selalu dihadapi oleh industri dalam penentuan waktu kadaluwarsa produk adalah masalah waktu. Oleh karena itu diperlukan beberapa pendekatan secara komprehensif untuk bisa melakukan pendugaan waktu kadaluwarsa dengan baik. Terdapat lima pendekatan yang bisa digunakan untuk melakukan pendugaan waktu kadaluwarsa yaitu Literature Value, Distribution Turn Over, Distribution Abuse Test, Consumer Complaints dan Accelerated Shelf Life Testing (ASLT). Untuk Literature Value, pendugaan waktu kadaluwarsa suatu produk dilakukan dengan cara membandingkan dengan waktu kadaluwarsa produk-produk sejenis yang telah dipublikasikan sebelumnya. Masalah yang mungkin timbul dengan menggunakan pendekatan ini adalah data yang tersedia biasanya sangat terbatas dan informasi yang detail sering tidak tersedia. Pendekatan Distribution Turn Over merupakan pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan data mengenai waktu kadaluwarsa produk sejenis, jalur dan lama distribusi serta lama penyimpanan di tingkat konsumen. Hal ini dapat digunakan untuk melakukan pendugaan awal mengenai waktu kadaluwarsa.
Untuk pendekatan Distribution Abuse Test, pendekatan ini dilakukan untuk
produk yang sudah ada di pasaran. Biasanya dilakukan pengumpulan produk dari berbagai supermarket, kemudian dilakukan penyimpanan di laboratorium dengan kondisi penyimpanan mirip dengan penyimpanan di tingkat konsumen. Untuk mempercepat penurunan mutu maka dapat dilakukan penyimpanan dengan kondisi ekstrim. Pendugaan dengan Consumer Complaints merupakan pendugaan yang dilakukan dengan menggunakan data tentang keluhan konsumen. Dari data keluhan ini, pihak R&D dapat menggambarkan mengenai kinerja produk dan jenis kerusakan yang dominan yang terjadi pada produk tersebut. Dari data-data yang ada maka dapat diduga mengenai waktu kadaluwarsa produk tersebut. Pendekatan Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan oleh industri pangan. Meskipun demikian, perlu ditekankan bahwa setelah ditemukan waktu kadaluwarsa dengan menggunakan pendekatan ini, industri masih perlu melakukan monitoring dan verifikasi.
D. MUTU PANGAN
Tjiptono dan Diana (1995) menjelaskan bahwa mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Mutu adalah hal-hal tertentu yang membedakan antara produk yang satu dengan produk lainnya terutama yang berhubungan dengan daya terima dan kepuasan konsumen. Hubeis (1999) menyatakan secara internal citra mutu produk dapat dinilai atas ciri fisik (penampilan) serta atribut tersembunyi (nilai gizi dan keamanan mikroba), sedangkan untuk citra mutu produk secara eksternal dapat ditunjukkan oleh kemampuan produk untuk mencapai kekonsistenan mutu (syarat dan standar) yang ditentukan oleh pembeli.
Menurut Fardiaz (2003), pangan yang bermutu adalah pangan yang mempunyai karakteristik sebagaimana pangan yang normal seperti warna, tekstur, citarasa dan karakteristik lainnya yang tidak menyimpang dari karakteristik yang seharusnya dimiliki oleh suatu jenis pangan. Pangan yang bermutu harus dapat melaksanakan fungsinya secara berulang-ulang sepanjang daur hidupnya, yang ditetapkan di dalam lingkungan dan kondisi pemakaiannya. Namun, seiring dengan bertambahnya umur dari suatu produk
maka akan terjadi penurunan mutu dari produk tersebut. Reaksi penurunan mutu suatu produk dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain faktor intrinsik (komposisi) dan faktor ekstrinsik (lingkungan). Akibat dari berbagai reaksi kimiawi yang terjadi di dalam produk makanan yang bersifat akumulatif dan irreversible selama penyimpanan, dapat menyebabkan mutu makanan tidak dapat diterima lagi (Syarief dan Halid, 1993).
Penurunan mutu dari suatu produk pangan dibagi menjadi penurunan mutu mikrobiologis (bakteri, kapang/jamur dan sebagainya), mutu kimiawi (vitamin C, karoten, riboflavin dan sebagainya), mutu gizi (protein, lemak dan sebagainya), mutu biokimiawi (aktivitas enzim, antioksidan dan sebagainya), mutu fisik (kekentalan, warna, rasa dan sebagainya), serta mutu organoleptik (tekstur, tampilan, bau, rasa dan sebagainya). Penurunan mutu ini pada akhirnya akan memberikan pengaruh terhadap keamanan pangan dari produk tersebut. Hal ini sesuai dengan pengertian mutu menurut UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, dimana mutu pangan adalah nilai gizi yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan, kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan, makanan dan minuman. Berdasarkan pengertian ini, dapat diketahui bahwa keamanan pangan tidak dapat dipisahkan dari mutu pangan.
E. KEAMANAN PANGAN
Sejak ditangani sampai digunakan konsumen, pangan harus tetap bersifat aman untuk dikonsumsi. Pangan yang aman dikonsumsi adalah pangan yang bebas (di bawah toleransi maksimum yang dipersyaratkan) dari cemaran berbahaya seperti cemaran biologis, kimia dan benda asing yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Fardiaz, 1994). Produk pangan yang mempunyai tingkat keamanan yang baik adalah produk pangan yang bebas cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Hariyadi, 2007).
Menurut UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari
kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan. Keamanan pangan menurut Wirakartakusumah (1994) adalah merupakan masalah yang kompleks sebagai hasil interaksi antara toksisitas mikrobiologi, toksisitas kimiawi dan status gizi. Hal ini sangat berkaitan dimana pangan yang tidak aman akan mempengaruhi kesehatan manusia yang pada akhirnya dapat menimbulkan masalah terhadap status gizinya. Keamanan pangan yang menurun pada suatu produk dapat memberikan efek keracunan pangan atau foodborne disease bagi konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut.
Menurut Sharp dan Reilly (2000) diacu dalam Krisnovita (2004), keracunan pangan adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi atau intoksikasi akibat mengkonsumsi makanan, minuman atau air yang telah terkontaminasi.
Keracunan infeksi terjadi tidak segera setelah mengkonsumsi pangan yang telah terkontaminasi tetapi terjadi apabila jumlah bakteri dan toksin yang dihasilkan sudah cukup banyak untuk merangsang lambung dan usus besar.
Berbeda dengan keracunan infeksi, keracunan intoksikasi dapat terjadi segera setelah mengkonsumsi pangan yang telah terkontaminasi.
F. PERSEPSI KONSUMEN
Menurut UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999, konsumen didefinisikan sebagai setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik digunakan untuk kepentingan sendiri, keluarga, orang lain dan tidak untuk diperdagangkan. Konsumen memliki hak penuh dalam menentukan produk yang akan dikonsumsinya. Namun keputusan konsumen ini tentunya akan dipengaruhi oleh pihak pemasar atau pihak-pihak yang memiliki kepentingan khusus terhadap konsumen tersebut. Keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh persepsi konsumen dan oleh karena itu pihak pemasar harus dapat memahami persepsi konsumen terhadap produk.
Perbedaan dalam persepsi akan mempengaruhi perilaku konsumen dalam memilih atau membeli produk karena konsumen akan membeli barang sesuai dengan persepsinya. Pemahaman terhadap persepsi konsumen sangat bermanfaat bagi pemasar karena persepsi konsumen dapat dijadikan dasar
dalam melakukan market segmentation. Selain persepsi konsumen, dalam merancang strategi pemasaran, perusahaan juga harus mempelajari keinginan, sikap dan perilaku konsumen. Perusahaan-perusahaan sudah tentu berkeinginan untuk menimbulkan perubahan-perubahan dalam perilaku konsumen yang menyebabkan semakin membaiknya persepsi konsumen terhadap merek-merek tertentu yang dimiliki oleh perusahaan tersebut (Engel et al., 1994).
Menurut Mowen dan Minor (2002), persepsi diartikan sebagai proses pemaparan individu untuk menerima, memperhatikan serta memahami informasi. Sedangkan, menurut Kotler (2001), persepsi merupakan proses yang digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi untuk memaknai sesuatu. Persepsi dapat juga diartikan sebagai tanggapan dan pendapat yang didalamnya terkandung unsur penilaian seseorang terhadap objek dan gejala berdasarkan pengalaman dan wawasan yang dimilikinya (Sudjana, 1997). Setiap orang akan memiliki persepsi yang berbeda dalam menghadapi situasi yang sama dan hal ini terjadi karena data atau informasi yang diterima melalui kelima indera diterjemahkan secara pribadi atau masing-masing.
Menurut Myers dan Reynolds (1967), proses persepsi berlangsung mulai dari proses penginderaan hingga proses pengolahan informasi. Mowen dan Minor (2002), mengemukakan bahwa persepsi akan memiliki hubungan timbal balik terhadap pemrosesan informasi. Tingkat keterlibatan, memori, persepsi akan mempengaruhi pemrosesan informasi. Sebaliknya, persepsi pun timbul sebagai hasil dari pemrosesan informasi yaitu melalui interpretasi dan pemaknaan rangsangan. Tahapan persepsi merupakan suatu rangkaian proses yang dapat dilihat pada Gambar 1. Pada tahap pemaparan stimulus, konsumen menerima informasi melalui panca inderanya dan pada tahap perhatian konsumen akan mengalokasikan kapasitas pemrosesan menjadi rangsangan.
Akhirnya, konsumen akan menyusun dan menerjemahkan informasi untuk memberikan arti terhadap informasi tersebut yang disebut sebagai tahap pemahaman yang melibatkan panca indera.
Gambar 1. Proses terbentuknya persepsi (Mowen dan Minor, 2002) Pengolahan informasi memiliki lima tahap yang terdiri atas tahap pemaparan stimulus, perhatian, pemahaman, penerimaan dan retesi. Menurut Mowen dan Minor (1998), ketiga tahap awal pengolahan informasi yaitu pemaparan stimulus, perhatian dan pemahaman disebut sebagai persepsi yang kemudian akan berinteraksi dengan ingatan yang dimiliki konsumen sehingga akan mempengaruhi pengolahan informasi (Sumarwan, 2003). Persepsi tidak akan terjadi jika tidak didahului dengan perhatian konsumen terhadap produk.
Tanpa adanya perhatian terhadap barang atau situasi maka tidak akan ada kesadaran dan oleh karena itu tidak akan ada persepsi. Perhatian terhadap suatu objek berfungsi sebagai sarana seleksi dan pemilihan berbagai stimulus menjadi suatu informasi yang dapat diterima yang kemudian dapat dirasakan oleh konsumen. Oleh karena itu, faktor eksternal (stimulus) maupun faktor internal (individu) akan mempengaruhi perhatian konsumen terhadap suatu produk (Myers dan Reynolds, 1967). Menurut Sumarwan (2003), dari berbagai stimulus tidak semuanya dapat diterima dan disimpan dan ingatan konsumen. Hal ini disebabkan karena konsumen melakukan pengolahan informasi. Proses pengolahan informasi ini dilakukan konsumen apabila menerima stimulus yang dapat berbentuk produk, kemasan, nama merek maupun nama produsen.
Kotler (2001) mengemukakan bahwa seorang individu dapat memiliki persepsi yang berbeda terhadap objek yang sama. Hal ini disebabkan karena proses pembentukkan persepsi mengalami tiga tahap, yaitu perhatian selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif. Perhatian selektif merupakan tahap penyaringan berbagai rangsangan yang diterima individu. Perhatian individu akan lebih cenderung terhadap rangsangan yang sesuai dengan kebutuhannya saat ini, sesuai dengan antisipasinya dan cenderung memperhatikan rangsangan yang di luar jangkauannya. Distorsi selektif merupakan tahap pengubahan berbagai informasi dalam diri individu menjadi bermakna pribadi
Pemaparan Perhatian Pemahaman Persepsi
dan diinterpretasikan sesuai dengan konsep yang telah dimiliki oleh individu itu sendiri. Ingatan selektif merupakan tahap penempatan informasi menjadi ingatan yang akan selalu disimpan di dalam memori individu. Adanya ingatan selektif ini menyebabkan individu akan cenderung mengingat berbagai hal positif yang terdapat dalam produk yang disukainya dibandingkan produk lainnya. Selain itu, dari berbagai informasi yang didapatkan konsumen namun yang akan tersimpan dalam memori adalah informasi yang sesuai dengan pandangan dan keyakinannya.
Kotler (2001), mengemukakan bahwa persepsi dihasilkan atau dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal (stimulus) dan faktor internal (individu). Faktor eksternal merupakan karakteristik fisik dari produk seperti ukuran, tekstur dan atribut yang terdapat dalam produk. Pengaruh lingkungan merupakan faktor di luar individu yang akan mempengaruhinya dalam melakukan pengambilan keputusan. Sumber informasi diartikan sebagai karakter penyampai pesan. Keahlian dan validitas sumber informasi sangat mempengaruhi konsumen, dimana semakin ahli dan terpercaya sumber informasi maka konsumen akan semakin percaya. Menurut Kotler (2001), sumber informasi konsumen dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu sumber pribadi yaitu informasi yang berasal dari keluarga, teman, tetangga maupun kenalan, sumber komersial yaitu informasi yang berasal dari iklan, wiraniaga, distributor, kemasan maupun model produk yang di pajang, sumber publik yaitu media massa (media cetak dan elektronik) maupun organisasi dan sumber pengalaman yaitu evaluasi dan pemakaian produk.
Informasi terbanyak tentang suatu produk yang diterima konsumen secara umum berasal dari sumber-sumber yang di dominasi oleh pemasar sedangkan informasi yang efektif justru berasal dari sumber-sumber pribadi. Menurut Setiadi (2003), informasi yang didominasi pemasar secara umum melaksanakan memberitahu sedangkan sumber pribadi melaksanakan fungsi legitimasi dan atau evaluasi. Keluarga yang merupakan sumber pribadi merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh dalam keputusan pembelian (Setiadi, 2003). Menurut Sumarwan (2003),
keluarga adalah lingkungan yang paling dekat dengan konsumen, dimana sebagian besar konsumen tinggal dan berinteraksi dengan anggota lainnya sehingga setiap anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian produk dan jasa. Menurut Engel et al.
(1994), konsumsi makanan dalam keluarga sangat ditentukan oleh ibu rumah tangga yang memainkan peran sebagai gate keeper yang bertanggung jawab dalam pemilihan dan persiapan hidangan bagi seluruh keluarga. Sebagai gate keeper, ibu berperan memberikan inisiatif pemikiran dalam keluarga mengenai pembelian produk dan pengumpulan informasi untuk membantu pengambilan keputusan, khususnya mengenai keputusan pembelian sebagian besar bahan pangan.
Media massa adalah alat komunikasi yang dapat menjangkau orang dalam jumlah yang besar. Terdapat dua bentuk media yaitu media cetak seperti majalah, koran dan buku serta media elektronik seperti radio, televisi dan film. Menurut Gift et al. (1975), pada prinsipnya isi dari media kebanyakan membawa iklan atau promosi. Alasan utama dalam penggunaan media massa adalah sebagai sumber informasi, hiburan dan asset sosial sebagai cara untuk tetap mengetahui apa yang sedang terjadi dan antusiasme sosial. Media cetak paling utama digunakan tetapi tidak semata-mata untuk tujuan yang serius guna mendapatkan ilmu pengetahuan atau melatih kecerdasan. Media elektronik digunakan secara luas tetapi tidak semuanya digunakan untuk hiburan tetapi juga dapat digunakan untuk memperoleh beberapa informasi tentang produk. Diantara jenis media periklanan yang ada, televisi merupakan media yang efektif untuk memberikan pengaruh terhadap perilaku konsumen. Kemampuan televisi dalam menyampaikan isi pesan secara serentak yang menggabungkan antara audio, visual dan gerak mampu memikat perhatian khalayak sasaran yang lebih luas sehingga keunggulan ini membedakan televisi dengan media lainnya (Kotler, 2001).
Faktor internal merupakan karakteristik seseorang, kemampuan dasar dalam proses penginderaan serta pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya terhadap berbagai atribut atau situasi konsumen yang bersangkutan, motivasi awal dan pengaruh keadaan yang dialami konsumen. Faktor internal terdiri
dari usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan kelas sosial. Faktor internal akan menggambarkan adanya pertukaran nilai, kebutuhan, kebiasaan maupun perilaku yang berbeda antara suatu kelompok konsumen dengan lainnya (Mowen dan Minor, 2002). Pemilihan dan selera konsumen terhadap pangan dan barang lainnya dipengaruhi oleh faktor usia (Kotler, 2001).
Menurut Sumarwan (2003), siklus hidup seorang konsumen akan ditentukan oleh usianya. Sejak lahir ke dunia, seorang manusia telah menjadi konsumen dan ia akan terus menjadi konsumen dengan kebutuhan yang berbeda sesuai dengan usianya. Menurut Sumarwan (2003), berdasarkan siklus hidupnya, individu yang berusia 16 hingga 18 tahun termasuk kelompok remaja lanjut, 19 hingga 24 tahun termasuk kelompok dewasa awal, 25 hingga 35 tahun termasuk kelompok dewasa lanjut dan 36 hingga 50 tahun termasuk kelompok paruh baya. Selain berdasarkan siklus hidup, penggolongan usia juga dapat dilakukan berdasarkan tingkat produktivitas kerja. Menurut Sibarani (2004), kisaran usia produktif adalah 15 hingga 64 tahun, sedangkan kisaran usia tidak produktif di atas 64 tahun dan kurang dari 15 tahun. Kotler (2001) menyebutkan bahwa usia akan mempengaruhi selera seseorang terhadap barang dan jasa, dimana terdapat kecenderungan bahwa semakin lanjut usia seseorang maka pemilihan produk lebih mempertimbangkan pada peningkatan kualitas hidupnya dan konsumsi pangan tidak lagi bertujuan asal kenyang.
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (1991), pendidikan adalah proses yang dilakukan secara sadar, terus menerus, sistematis dan terarah yang mendorong terjadinya perubahan-perubahan di dalam setiap individu. Keterlibatan seseorang dalam proses pendidikan atau tingkat pendidikan yang dicapainya akan mempengaruhi dan membentuk cara, pola dan kerangka berfikir, persepsi, pemahaman dan kepribadian. Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berpikir, cara pandang bahkan persepsinya terhadap suatu masalah (Sumarwan, 2003). Konsumen yang memiliki pendidikan yang lebih baik akan sangat responsif terhadap informasi. Pendidikan juga mempunyai peran yang cukup penting dalam perbaikan makanan dan akan mempengaruhi konsumsi dengan cara pemilihan
yang lebih selektif. Orang yang berpendidikan tinggi cenderung memilih produk yang baik dalam jumlah dan mutunya dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah (Guhardjo, 1979). Hardinsyah dan Suhardjo (1987) menyatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang berhubungan dengan jenis pekerjaan dimana semakin tinggi tingkat pendidikan maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan semakin besar. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli serta pola konsumsi seseorang. Menurut Sumarwan (2003), pendidikan dan pekerjaan adalah dua karakteristik konsumen yang saling berhubungan, dimana pendidikan akan mempengaruhi jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seorang konsumen. Status pekerjaan akan menentukan kelas sosial dan pendapatan seseorang, namun pendapatan bukanlah satu-satunya variabel yang menentukan kelas sosial seseorang (Sumarwan, 2003).
Kelas sosial merupakan bagian-bagian yang relatif homogen dan tetap dalam suatu masyarakat yang tersusun secara hierarkis dari anggota- anggotanya dan juga memiliki tata nilai, minat dan perilaku yang mirip. Kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan tetapi juga indikator lainnya seperti pekerjaan, pendidikan dan tempat tinggal (Sumarwan, 2003). Kelas sosial mengacu pada pengelompokkan orang yang sama dalam perilaku mereka berdasarkan posisi ekonomi mereka di dalam pasar. Kelompok sosial mencerminkan suatu harapan komunitas akan gaya hidup dikalangan masing- masing kelas sosial yang positif atau negatif mengenai kehormatan yang diberikan pada masing-masing kelas (Engel et al., 1994).
Persepsi konsumen berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan pengetahuan yang lebih tinggi pula (Sediaoetomo, 1999). Menurut Setiadi (2003), pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan unsur dari kepribadiannya dan semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka ia akan semakin berhati-hati dalam membuat keputusan. Engel et al. (1994), menggolongkan pengetahuan konsumen menjadi tiga yaitu pengetahuan produk, pengetahuan pembelian dan pengetahuan pemakaian. Pengetahuan produk mencakup kesadaran konsumen terhadap kategori dan merek produk, terminalogi produk, atribut atau ciri produk dan kepercayaan konsumen
terhadap produk tersebut. Pengetahuan pembelian mencakup bermacam potongan informasi yang dimiliki konsumen yang berkaitan erat dengan pemerolehan produk misalnya dimana membeli produk (ketersediaan dan cara memperoleh) dan kapan membeli produk. Pengetahuan pemakaian menggambarkan informasi yang tersedia dalam ingatan mengenai bagaimana produk digunakan (cara penggunaan) dan apa yang diperlukan untuk dapat mengunakan produk tersebut (Engel et al., 1994). Pengalaman menggunakan suatu produk dapat mendorong konsumen untuk belajar. Pengalaman dapat meningkatkan kecenderungan konsumen untuk berperilaku di masa datang (Sumarwan, 2003).
Pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian.
Ketika konsumen memiliki pengetahuan yang lebih banyak, maka ia akan lebih baik dalam mengambil keputusan, lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi serta mampu mengingat kembali informasi dengan lebih baik (Sumarwan, 2003). Pengetahuan yang baik dapat menghindarkan seseorang dari konsumsi pangan yang salah (Suhardjo, 1989). Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun informal yaitu dengan melihat dan mendengar sendiri informasi melalui alat-alat komunikasi seperti televisi, majalah atau melalui penyuluhan. Keterbatasan informasi dan tingkat pengetahuan seseorang dapat menyebabkan tujuan akhir dalam membeli dan mengkonsumsi pangan berubah menjadi asal kenyang (Hardinsyah dan Suhardjo, 1987). Pada tahap pembelian, keputusan yang perlu diambil oleh konsumen adalah jumlah produk yang akan dibeli yang disesuaikan dengan jumlah uang yang dimilikinya (Hardinsyah dan Suhardjo, 1987). Menurut Sutisna (2001), secara umum harga yang lebih tinggi kurang mempunyai kemungkinan untuk dibeli oleh konsumen.
Persepsi konsumen akan mempengaruhi proses keputusan pemilihan dan pembelian produk pangan. Pembelian yang dilakukan oleh konsumen merupakan hasil dari pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen.
Sciffman dan Kanuk (1994), mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih alternatif dan pabila suatu keputusan dibuat tanpa ada pilihan maka disebut sebagai “The Hobson’s Choice”. Menurut
Sumarwan (2003), konsumen melakukan keputusan setiap hari atau setiap periode tanpa menyadari bahwa dirinya telah mengambil keputusan. Terdapat empat tahap dalam proses pengambilan keputusan yaitu tahap menerima pengaruh, tahap menilai, tahap membeli dan tahap menggunakan (Hardinsyah dan Suhardjo, 1987). Pengaruh yang diterima konsumen biasanya berupa rasa tertarik, senang, ingin dan hal lain yang menarik dari informasi suatu produk.
Menurut Engel et al. (1994), setiap individu membawa ketiga sumber daya ke dalam setiap situasi pengambilan keputusan yaitu waktu, uang dan perhatian.
Pada umumnya terdapat keterbatasan yang jelas pada tiap-tiap sumber daya tersebut sehingga memerlukan alokasi yang cermat. Keterbatasan sumberdaya tersebut menyebabkan adanya keterbatasan kemampuan untuk mengalokasikan perhatian pada informasi yang dikumpulkan seperti informasi mengenai ketersediaan, karakteristik produk, dimana dan kapan membeli produk serta bagaimana menggunakan produk tersebut.
Sikap adalah suatu evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang merespon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan, mendukung atau tidak mendukung secara konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang diberikan (Engel et al., 1994). Menurut Solomon (2002), komponen sikap dikenal sebagai model ABC yaitu Affective, Behavior, dan Cognition. Affective berhubungan dengan bagaimana konsumen merasakan tentang sikap, Behavior meliputi tujuan seseorang untuk melakukan hal yang berkaitan dengan sikap dan Cognition yang berhubungan dengan kepercayaan yang dimiliki konsumen mengenai suatu sikap. Sifat yang penting dari sikap adalah kepercayaan konsumen dalam memegang sikap tersebut. Menurut Mowen dan Minor (2002), kepercayaan konsumen adalah pengetahuan konsumen mengenai objek, atribut dan manfaatnya. Kepercayaan konsumen terhadap hal tersebut mampu menggambarkan persepsi konsumen dan berdasarkan hal tersebut kepercayaan akan berbeda di antara konsumen sehingga menyebabkan adanya perbedaan persepsi di antara konsumen tersebut.
Persepsi bersama-sama dengan pengetahuan membentuk kepercayaan dan berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa konsep kepercayaan
sangat tekait dengan konsep sikap dimana persepsi yang baik terhadap sesuatu dapat memunculkan sikap yang positif terhadap hal tersebut. Menurut Sumarwan (2003), konsep sikap juga sangat terkait dengan konsep perilaku.
Sikap belum merupakan suatu perbuatan tetapi dari sikap seseorang dapat diramalkan perbuatannya dan sikap mengarahkan berperilaku secara langsung. Sikap seseorang menentukan perilaku yang akan timbul dari orang tersebut terhadap suatu objek. Menurut Loudon dan Dellabita (1984), perilaku konsumen adalah suatu proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu yang berhubungan dengan menilai, memperoleh dan menggunakan barang dan jasa. Pada dasarnya, perilaku berorientasi tujuan dengan satuan yang utama adalah aktivitas (Hersey dan Blanchard, 1982). Mengacu pada konsep- konsep tentang perilaku diatas, maka dibuatlah kerangka pendekatan studi berdasarkan hubungan antara persepsi, sikap dan perilaku (Gambar 2).
Gambar 2. Kerangka pendekatan studi berdasarkan hubungan antara persepsi, sikap dan perilaku
Faktor Internal Konsumen - Tingkat Usia
- Tingkat Pendidikan - Jenis Pekerjaan - Status Sosial Ekonomi
Faktor Eksternal Konsumen - Sumber Informasi
Sikap Terhadap Tanggal Kadaluwarsa
Perilaku Terhadap Tanggal Kadaluwarsa
Keterangan : garis putus-putus (---) merupakan ruang lingkup penelitian Persepsi Terhadap Tanggal Kadaluwarsa
III. METODOLOGI
A. KERANGKA PEMIKIRAN
Persepsi konsumen didefinisikan sebagai suatu proses, dimana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimuli ke dalam gambaran yang lebih berarti dan menyeluruh. Stimuli adalah setiap input yang ditangkap oleh panca indera. Stimuli dapat berasal dari lingkungan sekitar atau dari dalam individu itu sendiri. Kombinasi keduanya akan memberikan gambaran persepsi yang bersifat pribadi (Simamora, 2002).
Pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian yaitu semakin banyak pengetahuan yang dimiliki konsumen maka konsumen akan semakin baik dalam mengambil keputusan. Selain itu, pengetahuan tersebut dapat mengakibatkan konsumen akan lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi serta mampu me-recall informasi dengan lebih baik.
Berdasarkan uraian tersebut, terlihat bahwa persepsi berhubungan dengan pembentukkan pengetahuan konsumen yang kemudian akan mempengaruhi keputusan pembelian atau konsumsi (Kotler, 1987).
Persepsi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berkaitan dengan karakteristik responden seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan dan status sosial ekonomi. Faktor eksternal responden berasal dari lingkungan sekitar responden yang dapat mempengaruhi persepsinya seperti sumber informasi. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan diteliti hubungan antara karakteristik konsumen dengan persepsi konsumen tentang tanggal kadaluwarsa produk pangan. Karakteristik responden (faktor internal) yang diteliti adalah tingkat usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan status sosial ekonomi. Unit analisa yang digunakan adalah konsumen yang menggunakan makanan dalam kemasan, mengetahui mengenai label pada kemasan produk dan mengetahui mengenai tanggal kadaluwarsa yang terdapat pada label kemasan produk. Persepsi konsumen yang akan diteliti adalah persepsi konsumen tentang hal yang berkaitan dengan tanggal kadaluwarsa. Melalui survei persepsi konsumen tentang tanggal kadaluwarsa dapat diketahui faktor-faktor internal apa saja
yang berhubungan dalam membentuk persepsi konsumen tentang tanggal kadaluwarsa.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian survei. Penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Selain itu, untuk menunjang keakuratan pengisian kuesioner dilakukan juga wawancara terhadap responden. Tipe penelitian ini tergolong ke dalam penelitian penjelasan (explanatory research) karena peneliti menjelaskan hubungan antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesa (Singarimbun dan Effendi, 1995).
C. TAHAPAN PENELITIAN
Penelitian ini didasarkan pada tahapan penelitian yang sesuai dengan validitas metodologi penelitian survei (Singarimbun dan Effendi, 1995).
Tahapan tersebut digambarkan pada flow chart Gambar 3.
@
Mulai
Penentuan Sampel, Teknik dan Cara Pengambilan Sampel
Perbaikan Kuesioner
Pembuatan Kuesioner
OK Uji Coba Kuesioner Tidak
Ya
@
Gambar 3. Skema tahapan penelitian
D. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di daerah Bogor yaitu Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. Untuk Kabupaten Bogor, peneliti melakukan penelitian di daerah Kampus Dramaga IPB Bogor yaitu Babakan Raya dan Raya Dramaga. Untuk Kota Bogor, peneliti melakukan penelitian di Perumahan Bantar Jati yaitu Jalan Bang Barung Raya dan Jalan Palayu Raya. Pemilihan lokasi Kampus Dramaga IPB Bogor dan Perumahan Bantar Jati dilakukan karena peneliti ingin mengetahui persepsi responden berdasarkan faktor karakteristik internal responden, dimana peneliti berasumsi bahwa terdapat perbedaan faktor karakteristik internal responden dari kedua lokasi tersebut. Menurut BPS (2005), penduduk Kabupaten Bogor memiliki angka rata-rata lama sekolah yang masih rendah yaitu 6,9 tahun dan dengan kata lain rata-rata pendidikan penduduk Kabupaten Bogor hanya tamat SD. Sebaliknya, penduduk Kota Bogor memiliki angka rata-rata lama sekolah yang lebih tinggi dibandingkan penduduk Kabupaten Bogor yaitu 9,3 tahun. Berdasarkan hal ini, dapat diketahui bahwa pendidikan penduduk Kota Bogor lebih tinggi dibandingkan penduduk Kabupaten Bogor. Menurut Hardinsyah dan Suhardjo (1989), Data Sekunder
Selesai Pembuatan
Laporan Analisis Data Tabulasi Data Pengumpulan
Data