BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai

Teks penuh

(1)

1 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kaian Teori

1. Pengertian Belajar

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Belajar menurut para behavioris adalah sesuatu yang dilakukan orang untuk merespons stimuli eksternal. Pandangan ini merupakan perubahan penting dari model-model sebelumnya, yang menekankan pada kesadaran dan intropeksi dan belum menghasilkan banyak temuan yang dapat digeneralisasikan tentang bagaimana orang belajar. Slamento (2010: 54).

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan yang terjadi pada individu yang mencakup perubahan perilaku yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuan, keterampilan, dan pemahamannya terhadap sesuatu yang dilakukan secara sadar dan penuh usaha.

Belajar atau learning merupakan fokus utama dalam psikologi pendidikan.

Muhibbin Syah, (2012: 4) menyatakan bahwa: “Belajar rmerupakan sebuah proses untuk melakukan perubahan perilaku seseorang, baik lahiriah maupun batiniah. Perubahan menuju kebaikan dari yang jelek menjadi baik. Proses perubahan tersebut sifatnya relatf permanen dalam artian bahwa kebaikan yang diperoleh berlangsung lama dan proses perubahan tersebut secara adaptif, tidak mengabaikan kondisi lingkungannya. Perubahan tersebut terjadi karena adanya

(2)

akumulasi pengalaman seseorang ketika melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya.”

Pada aspek kognitif, potensi yang perlu dikembangkan adalah potensi berpikir para peserta didik dengan melath mereka untuk memahami secara benar, menganalisis secara tepat, mengevaluasi berbagai masalah yang ada disekitarnya dan lain sebagainya. Sejak dini peserta didik perlu dilatih untuk mengoptimalkan potensi ini karena potensi berpikir ini bisa mengubah dunia sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Pada aspek afektif, para peserta didik perlu dilatih untuk peka dengan kondisi lingkungan sekitarnya, sehingga bisa memahami nilai-nilai dan etika-etika dalam melakukan hubungan relasional dengan lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang memiliki kepekaan yang tinggi diharapkan memiliki sikap-sikap yang mencerminkan akhlak yang mulia dalam melakukan pergaulan dimasyarakat.

Dalam jiwanya diharapkan tumbuh rasa saling menghargai, menghormati, menyayangi antarsesama manusia, dan akhirnya bisa menjadi teladan yang baik bagi yang lain.

Pada aspek psikomotorik, peserta didik perlu dilatih untuk mengekspos perubahan-perubahan yang terjadi dalam aspek kognitif dan afektif dalam perilaku nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Aspek psikomotorik ini akan mendorong para peserta didik melakukan perubahan perilaku dalam melakukan pergaulan dimasyarakat.

Anak yang berbeda dengan anak pada umumnya yang mcmerlukan pelayanan lebih spesifik atau anak yang lamban belajar dan ada anak yang tanggap dalam belajar. Ada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dalam

(3)

pelajaran tertentu, ada peserta didik yang sebenrnya dasar potensinya bagus, tetapi prestasi belajarnya selalu rendah, dan ada yang perkembangan belajarnya biasa- biasa saja. (Laili 2013: 147).

Belajar adalah suatu aktivitas yang mempunyai tujuan. Tujuan belajar ini ada yang benar-benar disadari dan ada pula yang kurang disadari oleh orang yang belajar. Tujuan belajar tersebut erat kaitannya dengan perubahan atau pembentukan tingkah laku tertentu. Menurut Muhibbin Syah, (2013:125-126) tujuan belajar yang positif serta dapat dicapai secara efektif hanyalah mungkin terjadi dalam proses belajar. Tujuan belajar di sekolah ditujukan untuk mencapai:

a. Pengumpulan pengetahuan

b. Penanaman konsep dan kecekatan atau ketrampilan c. Pembentukan sikap dan perbuatan

Berdasarkan pengertian di atas maka jelas belajar itu prinsipnya sama, yakni proses perubahan tingkah laku dari pengalaman sebelumnya, hanya berbeda cara atau usaha pencapaiannya. Pada dasarnya belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk mencapai perubahan tingkah laku yang lebih baik dari sebelumnya sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dan hasil dari pengalamannya demi mencapai perilaku yang lebih baik.

Dalam dunia pendidikan kita sekarang lebih dikenal dengan ditata untuk mencapai ketiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik Dadang Garnida (2015:

24).

2. Kesulitan Belajar

Proses belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Slameto (2010: 86), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak

(4)

jenisnya, salah satunya yaitu faktor kesulitan belajar merupakan kondisi dalam belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan belajar, dan ditandai oleh adanya prestasi yang rendah. Dengan demikian, yang dimaksud dengan peserta didik mengalami kesulitan belajar adalah peserta didik tersebut kurang mampu mencapai tingkat penguasaan materi pelajaran yang telah ditentukan. Jadi kesulitan belajar identik dengan prestasi yang rendah.

Terdapat beberapa rumusan yang memberikan penjelasan mengenai pengertian kesulitan belajar. Menurut Ahmadi dan Supriyono (2013: 77), kesulitan belajar merupakan keadaan dimana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Belajar dikatakan berhasil apabila apa yang diberikan oleh guru dapat tersampaikan dengan sempurna kepada murid.

Menurut Sugihartono (2012: 74), mengungkapkan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai adanya prestasi yang rendah atau di bawah norma yang telah ditetapkan. Kesulitan belajar menunjukkan adanya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh peserta didik (prestasi aktual). Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar adalah peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar, baik dalam persepsi, ingatan, perhatian ataupun dalam fungsi motoriknya. Dengan kata lain bahwa peserta didik dikatakan mengalami kesulitan belajar bila prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai dengan kapasitas intelegensinya. Dengan demikian kesulitan belajar tidak dialami oleh peserta didik yang intelegensinya rendah.

(5)

Dari pengertian diatas dapat menarik kesimpulan bahwa kesulitan belaajr sendiri dapat diartikan sebagai hambatan dan gangguan belajar pada peserta didik yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.

3. Faktor Mempengaruhi Kesulitan Belajar

Faktor pendekatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah, perlu adanya dukungan dari berbagai faktor yang saling terkait anatara lain dari guru, peserta didik, kurikulum, sarana dan prasarana, lingkungan, dan lain sebagainya. Menurut Slameto (2010: 54), mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi belajar yaitu salah satunya adalah faktor eksternal. Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Pada dasarnya peserta didik dituntut dapat menguasai setiap matari yang diajarkan oleh guru. Oleh sebab itu, kemampuan, motivasi, dan kreativitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran pendidikan perlu diperhatikan oleh guru. Pelajar merupakan salah satu sasaran pendidikan yang dituntut memiliki respon atau tanggapan terhadap mata pelajaran.

Peran serta peserta didik dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Oleh karena itu, sikap atau perhatian peserta didik akan menentukan tingkat tercapai atau tidaknya tujuan dalam proses pembelajaran pendidikan itu sendiri.

Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar pada peserta didik dapat disebabkan diantaranya oleh beberapa faktor, baik yang datang dari peserta didik itu sendiri (intern) maupun faktor yang datangnya dari luar peserta didik (ekstern).

Faktor yang menyebabkan kesulitan belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu internal dan eksternal. (Syaiful Bahri Djamarah, (2002:13).

(6)

a. Internal

1) Kecerdasan Peserta didik

Apabila guru kurang memperhatikan dan tidak memahami keberadaan peserta didik tentu akan membawa pengaruh yang kurang menguntungkan dalam mencapai keberhasilan peserta didik sehingga prestasi yang ingin dicapai oleh peserta didik tersebut tidak akan memuaskan. Prinsip-prinsip belajar hanya memberikan petunjuk umum tentang belajar. Tetapi prinsip-prinsip itu tidak dapat dijadikan hukum belajar yang bersifat mutlak, kalau tujuan belajar berbeda maka dengan sendirinya cara belajar juga harus berbeda maka dengan sendirinya cara belajar juga harus berbeda. Intelegensi (IQ) merupakan faktor yang sangat mempengaruhi proses belajar anak intelegensi juga memainkan peranan yang sangat penting, khususnya berpengaruh kuat terhadap tinggi rendahnya prestasi yang dicapai peserta didik.

2) Motivasi

Motivasi belajar merupakan kekuatan mental mendorong terjadinya proses belajar. Lemahnya motivasi, atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya, mutu hasil belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri peserta didik perlu diperkuat terus-menerus.

Agar peserta didik memiliki motivasi belajar yang kuat, pada tempatnya diciptakan suasana belajar yang menggembirakan. Macam-macam motivasi terdapat 2 yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi ekstrinsik adalah motif yang aktif dalam

(7)

berfungsinya karena adanya peran motivasi dari luar yang dinilai dari aspek sarana belajar dan orang tua beserta lingkungan.

Indikator motivasi belajar menurut (Nini, Subini. (2016: 14) adalah sebagai berikut:

(1) Keaktifan peserta didik dalam mengikuti pelajaran (2) Keaktifan peserta didik memahami materi pelajaran (3) Mengerjakan tugas (PR) dan

(4) Aktif bertanya.

3) Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang dan dari situ diperoleh keputusan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat peserta didik, peserta didik tidak akan belajar dengan sebaik-sebaiknya, karena tidak ada daya tarik baginya, ia segan-segan untuk belajar dan tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat peserta didik akan lebih mudah dipelajari dan dismpan, karena minat menambah kegiatan belajar.

Lebih lanjut diungkapkan oleh Mulyono Abdurrahman, (1999: 6). beberapa indikator minat:

(8)

4) Perasaan senang

Seorang peserta didik yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap suatu pelajaran, maka ia akan terus mempelajari ilmu yang berhubungan dan sama sekali tidak ada perasaa terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut.

5) Ketertarikan peserta didik

Berhubungan dengan daya gerak yang mendorong peserta didik untuk cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan atau berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.

6) Perhatian dalam belajar

Adanya perhatian juga salah satu indikator minat. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifis jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian dan sebagainya dengan mengesampingkan yang hal lain. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek tersebut.

7) Keterlibatan peserta didik

Keterlibatan seseorang akan suatu obyek yang mengakibatkan senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan dari obyek tersebut.

8) Sikap peserta Didik

Kebiasaan belajar adalah suatu cara atau metode belajar yang dilakukan sesoarang secara berulang-ulang, sehingga menghasilkan ketrampilan belajar yang menetap pada didi peserta didik dimana peserta didik akan terbiasa melakukannya tanpa ada paksaan. Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain berupa belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar,

(9)

bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat bergaya pemimpin, sok dan bergaya minta belas kasihan tanpa belajar.

Sekolah merupakan pusat pembelajaran. Guru bertindak menjelaskan dan peserta didik bertindak belajar, Tindakan belajar tersebut dilakukan oleh peserta didik. peserta didik bertindak belajar, Sebagai lazimnya tindakan seseorang, maka tindakan tersebut dapat diamati sebagai prilaku belajar. Sebaliknya, tindak belajar tersebut terutama dialami oleh peserta didik sendiri. Peserta didik mengalami tindak belajarnya sendiri sebagai suatu proses belajar yang berjalan dari waktu ke waktu. Peserta didik dapat menghentikan sendiri, atau mulai belajar lagi. Susilo Rahardjo, Gunnanto (2017: 93).

b. Eksternal

Faktor eksternal adalah hal-hal yang mempengaruhi proses belajar yang terdapat dari luar diri individu yang sedang melakukan proses belajar. Faktor eksternal terdiri dari:

1) Media Pembelajaran

Menurut Sudjana (2013: 2) yang menyebutkan bahawa manfaat media pembelajaran dalam proses belajar peserta didik antara lain pengajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik, sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para peserta didik, dan memungkinkan peserta didik menguasai tujuan pengajaran lebih baik, metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata- kata oleh guru, sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar setiap jam pelajaran, peserta didik lebih banyak melakukan

(10)

kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

2) Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran menjadi suatu hal yang harus diperhatikkan dalam menyusun perencanaan pengajaran, karena hal tersebut menjadi faktor yang paling penting dalam suatu pembelajaran. Pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya materi. Pemilihan materi yang digunakan dalam pembelajaran tidak semata-mata sesuai dengan keinginan sendiri, tetapi pemilihan materi pelajaran harus sesuai dengan aturan yang ada yaitu silabus atau kurikulum yang berlaku, karena salah pemilihan materi pelajaran akan berdampak kepada peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, peserta didik bisa merasa materi yang diberikan sangat sulit, sehingga peserta didik akan kesulitan belajar dalam mengikuti pembelajaran tersebut.

Menurut Harjanto (2011: 222) kriteria dalam pemilihan materi pelajaran yaitu:

(1) Kriteria tujuan instruksional (2) Materi pelajaran supaya terjabar

(3) Relevan dengan kebutuhan peserta didik (4) Kesesuaian dengan kondisi masyarakat (5) Materi pelajaran mengandung segi-segi etik

(6) Materi pelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis.

(7) Materi pelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan masyarakat.

(11)

3) Sarana dan Prasarana

Menurut Agus S. Suryobroto (2004: 4), bahwa sarana atau alat adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Sarana pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan merupakan segala sesuatu yang sifatnya tidak permanen, dapat dibawa kemana-mana atau dipindahkan dari suatu tempet ke tempat lain. Contoh: bola, raket, pemukul, tongkat, balok, raket, tenis meja, dll. Sarana atau alat sangat penting dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk bergerak aktif, sehingga peserta didik sanggup melakukan aktivitas dengan sungguh-sungguh dan akhirnya tujuan aktivitas dapat tercapai.

Definisi prasarana menurut Agus S. Suryobroto (2004: 4) dibedakan menjadi 2, yaitu perkakas dan fasilitas. Perkakas adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam pembelajaran pendidikan bisa dipindahkan (semi permanen) tapi berat atau sulit. Sedangkan fasilitas adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam pembelajaran pendidikan bersifat permanen, atau tidak dapat dipindah- pindahkan. Contoh: Papan tulis, meja dan bangku kelas beserta lemari yang terkait dalam alat pembelajaran didalam kelas dan lain sebagainya.

Sarana dan prasarana pembelajaran jasmani merupakan salah satu dari alat atau tempat pembelajaran, di mana sarana dan prasarana mempunyai peran yang penting dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam situasi pembelajaran guna menunjang tercapainya tujuan pembelajaran pendidikan jasmani. Proses pembelajaran akan mengalami kepincangan atau tersendat-sendat bahkan proses pembinaan bisa berhenti sama sekali. Bisa dinyatakan bahwa sarana dan prasarana olahraga ini sebagai alat bantu dalam pengajaran pembelajaran jasmani.

(12)

4) Faktor Sekolah (Guru/ Pendidik)

Faktor yang bersumber dari sekolah adalah termasuk faktor yang bersumber dari luar diri peserta didik, faktor ini juga mempunyai pengaruh sangat besar terhadap kesulitan peserta didik dalam mencapai keberhasilan.

Faktor yang datang dari sekolah dikarenakan pribadi guru yang kurang menyenangkan, cara guru mengajar kurang baik, alat atau media kurang memadai serta kurang merangsang penggunaannya oleh peserta didik, fasilitas fisik sekolah tidak terpelihara dengan baik, sarana sekolah kurang memadai, suasana sekolah kurang menyenangkan, bimbingan dan penyuluhan tidak berfungsi, kepemimpinan dan administrasi kurang menunjang proses belajar, kedisiplinan yang kurang diperhatikan dan kurang tegas.

Sekolah juga mempunyai peranan khusus dalam menangani kesulitan belajar yang dialami peserta didik. Sehingga yang mana telah disebutkan diatas, pihak-pihak yang terkait harus segera menanganinya agar proses belajar peserta didik tidak mempunyai hambatan yang dapat merugikan peserta didik tersebut.

5) Faktor Keluarga

Faktor keluarga juga mempunyai peran yang dapat mempengaruhi proses belajar pada peserta didik, karena sebagian besar waktu belajar peserta didik berada di rumah bahkan mungkin menjadi faktor yang pokok untuk mensukseskan belajar peserta didik di sekolah. Orang tua yang kurang memperhatikan perannya dapat mengakibatkan kesulitan belajar bagi peserta didik, faktor lain yang perlu menjadi perhatian orang tua yaitu: ekonomi terlalu lemah dan besar sehingga membuat anak berkelebihan, perhatian orang tua yang kurang memadai, kesehatan

(13)

yang kurang baik, kebiasaan keluarga yang tidak menunjang, kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan, waktu belajar yang kurang memadai.

6) Faktor Masyarakat

Faktor masyarakat juga dapat mengakibatkan timbulnya kesulitan belajar peserta didik dalam mempelajari suatu ata pelajaran, sebab faktor ini merupakan faktor yang sangat erat kaitannya dengan hubungan sosial sehingga dapat mengakibatkan peserta didik kurang memperhatikan belajar.

4. Jenis Kesulitan Belajar Jenis-jenis kesulitan belajar

a. Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)

Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia. Kesulitan belajar membaca yang berat dinamakan aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam kehidupan masyarakat secara bersama.

b. Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)

Kesulitan belajar menulis yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau dekte dan menulis ekspresif. Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang peserta didik adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya didekteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

(14)

c. Kesulitan Belajar Berhitung (Diskalkulia)

Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia. Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut diskalkulia. Ada tiga elemen belajar berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah konsep, komputasi dan pemecahan masalah. Seperti halnya bahasa, berhitung merupakan bagian dari matematika yang merupakan sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung, hendaknya dideteksi dan ditangani dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran lain di sekolah.

d. Under Achiever

Adalah mereka yang prestasinya lebih rendah dari apa yang diperkirakan berdasar hasil tes kemampuan belajarnya.

e. Slow Leaner

Suatu istilah nonteknis yang dengan berbagai cara dikenakan pada anak- anak yang sedikit terbelakang secara mental, atau yang berkembang lebih lambat dari kecepatan normal.

Dalam menjalankan proses pendidikan di SDN Tamanasri pada kelas awal ialah pengenalan dasar-dasar akademik seperti membaca, menulis, dan menghitung juga sangat penting. Namun, hal ini bukan berarti menjadi sasaran utama dalam proses pendidikan, karena sifatnya hanyalah pengenalan saja yang tentunya cara dan metode yang digunakan berbeda dengan cara yang dilakukan di sekolah dasar. Tanpa mengabaikan potensi “kecerdasan” yang lain, para pendidik juga tentunya dapat memahami gejala-gejala kesulitan belajar pada anak didik sejak dini.

(15)

Hal yang harus disadari oleh para pendidik adalah kesulitan atau masalah pada peserta didik dalam hal ini masalah belajar, bukanlah semata-mata karena anak malas atau mempunyai kemampuan yang rendah, namun bisa disebabkan karena adanya gangguan secara biologis/fisik ataupun syaraf yang penanganannya harus ditangani dengan bantuan para ahli di bidangnya.

Menurut Arina Restian, (2015: 51) sebab-sebab dan pengaruh perbedaan individu dan sejauh mana tingkat tujuan pendidikan ditetapkan hendaknya disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan ada delapan faktor :

a. Perbedaan Kognitif

Merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas sesuatu obyek.

b. Perbedaan Kecakapan Berbahasa

Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan pemikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat.

c. Perbedaan Kecakapan Motorik

Merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan.

d. Perbedaan Latar Belakang

Perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau memperlambat prestasinya terlepas dari potensi untuk menguasai bahan.

(16)

e. Perbedaan Bakat

Merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir, dan akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang bila tidak tepat memberikan kesempatan untuk berkembang.

f. Perbedaan Kesiapan Belajar

Yang meliputi sosio-ekonomi-sosial-kultural bagi perkembangan peserta didik. Akbatnya peserta didik pada umur yan sama tidak selalu berada pada tingkat persiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

g. Perbedaan Jenis Kelamin dan gender

Sering dianggap sama. Jenis kelamin merujuk kepada perbedaan biologis dari laki-laki dan perempuan, sementara gender merupakan aspek psikososial dari laki-laki dan perempuan berupa perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dibangun secara sosial budaya. Perbedaan gender termasuk dalam hal peran, tingkah laku, kecenderungan, sifat dan artibut lain.

h. Perbedaan Kepribadian

Adalah pola perilaku dan cara berfikir khas yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan.

5. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar

Peran guru dalam menangani kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik harus dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap gejala kesulitan belajar yang terjadi. Pelaksanaan pemeriksaan kesulitan belajar tersebut harus berlangsung secara sistematis dan terarah.

(17)

Adapun langkah-langkah dalam pemeriksaan kesulitan belajar menurut H.M. Alisuf Sabri, (2007: 91):

a. Mengiditifikasi adanya kesulitan belajar

Pada langkah pertama ini guru harus mengidentifikasi atau menetapkan adanya kesulitan belajar bukan berdasarkan naluri tetapi berdasarkan pengeahuan dan pengalaman yang luas agar terampil dalam mendiagnosis kesulitan belajar.

b. Menelaah atau menetapkan status peserta didik

Pada langkah kedua ini guru selanjutnya akan menelaah atau memeriksa setiap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar tersebut, cara memastikan dengan menggunakan dua cara yaitu:

1) Membandingkan hasil pencapaian atau penguasaan tujuan instruksional khusus yang ditargetkan untuk dicapai oleh peserta didik. Sehingga dengan cara seperti ini, akan diketahui bagian yang sulit dikuasai oleh peserta didik.

2) Menetapkan bentuk kesulitan dalam proses pembelajaran, apakah sumber kesulitan terjadi pada waktu menerima atau menyerap pelajaran. Sehingga dengan cara ini akan diketahui jenis dan bentuk kesulitan peserta didik dalam proses belajar.

c. Memperkirakan sebab terjadinya kesulitan

Setelah jelas jenis dan bentuk kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam proses belajarnya, maka pada tahap ketiga adalah guru berupaya untuk memperkirakan sebab timbulnya kesulitan tersebut. Cara atau usaha guru untuk menetapkan hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan alat diagnostik kesulitan belajar seperti test diagnostik, test-test untuk mengukur kemampuan intelegensi, kemampuan mengingat, kemampuan alat indera yang erat kaitannya

(18)

dengan proses belajar. Sehingga dengan demikian ditetapkan penyebab kesulitan tersebut apakah karena alat inderanya kurang baik, ingatannya lemah, kecenderungan kurang, atau kurang motivasi.

Pemecahan masalah pada dasarnya merupakan metode-metode ilmiah atau berfikir secara sistematis, logis, dan teliti. bertujuan untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Untuk itu, kemampuan peserta didik dalam menguasai konsep-konsep, prisip-prinsip, dan generalisasi amat diperlukan.

d. Mengadakan perbaikan

Dengan mengetahui sebab kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik maka selanjutnya guru dapat bertindak untuk mengadakan perbaikan guna mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi mereka. Cara ini dengan menggunakan pendekatan psikologis didaktis yang terdiri dari dua langkah yaitu:

1) Peserta didik yang akan diperbaiki sudah menyadai faktor kesulitan atau kekurangan mereka.

2) Mereka kesulitan atau kekurangan mereka dapat diatasinya.

Kedua kondisi psikologis tersebut ditimbulkan pada diri peserta didik tersebut dengan melalui bimbingan dan kebijaksanaan guru dan berdasarkan petunjuk dan kebijaksanaan guru itu pulalah prosedur yang terakhir ini dilaksanakan yaitu peserta didik dibimbing untuk mengadakan perbaikan sesuai dengan sebab dan konsisi kesulitan belajar yang mereka alami. Alisuf Sabri, (2007: 91)

6. Psikoedukasi

Berkembangnya gerakan psikoedukasi mendapatkan banyak pengaruh, antara lain dari perkembangan gerakan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan

(19)

konseling tradisional bertujuan mengubah sikap dan perilaku secara tidak langsung lewat pemberian informasi yang akurat. Selebihnya bagaimana informasi itu akan dipakai untuk memperbaiki sikap atau perilaku sepenuhnya diserahkan kepada klien. Sebaliknya, psikoedukasi atau skills training bertujuan memodifikasi sikap dan perilaku secara langsung lewar pelibatan total klien dalam suaru program pendidikan-pelatihan. Jadi, psikolog-konselor tidak hanya memberikan informasi secara kognitif tenrang bagaimana cara mengubah sikap dan perilaku tertentu kepada klien, rnelainkan secara eksperiensial memberikan kesempatan kepada klien unruk mengalami sendiri peristiwa mengubah sikap dan perilakunya itu, lazimnya lewat kehadiran dan bantuan orang lain dalam suaru aktiviras.

McCully dikutip oleh George dan Cristiani (1981 : 18), helping profession secara luas bisa diartikan sebagai profesi yang "based upon specialized knowledge, apply an Intellectual technique to the existential affairs of others toward the end of enabling them to cope more effectively with the dilemma and paradoxes that characterize the human condition". Artinya, profesi yang dilandasi pengetahuan khusus tertentu, menerapkan reknik berpikir tertentu terhadap problema kehidupan orang lain dengan tujuan membuat mereka mampu mengatasi secara lebih efektif dilema dan paradoks yang menjadi ciri kondisi kehidupan manusia. Penyelenggaraan psikoedukasi berfokus pada pemberi bantuan pelatihan secara terstruktur baik untuk tujuan preventif maupun remedial.

Penekanan pada aspek preventif ini diwujudkan lewat sebuah kurikulum pelatihan ketrampilan hidup, khususnya dalam konteks pendidikan sekolah.

(20)

A. Supratiknya (2011 : 58) membagi masalah bagi pesrta didik adalah mengenal dan mempelajari atau mengembangkan dasar-dasar kesehatan mental dan dasar-dasar pergaulan sosial antara lain jenis-jenis ketrampilan hidup sebagai berikut :

1) Mampu memenuhi aneka kebutuhan fisik secara cukup dan teatur : makan, minum, tidur, berolah raga dan bermain.

2) Mampu menjaga kebersihan dan merawat kesehatan fisik secara baik dan teratur; mandi, menggosok gigi, membersihkan kuku, tangan, kaki, telinga.

3) Mampu mandiri, menolong diri sendiri, mengerjakan sesuatu sendiri.

4) Memiliki sikap percaya pada orang lain.

5) Mampu bekerja sama dengan orang lain.

6) Mampu menghargai milik orang lain.

7) Memiliki sikap-sikap sosial baik : jujur, setia, sportif, dan bertanggung jawab.

8) Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

9) Memiliki sifat toleran mampu menaruh perhatian dan menghargai orang lain apa adanya.

10) Mengenal sopan santun.

11) Memiliki disiplin diri.

Dalam bidang akademik pada dasarnya meliputi tiga katagori, yaitu (a) menemukan cara belajar yang tepat, (b) mengatasi aneka kesukaran dalam belajar, dan (c) memilih program studi dan jenis atau jurusan sekolah yang sesuai pada dasrnya merupakan masalah penyesuain diri. Psikoedukasi ditujukan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang bermanfat untuk menyesuaikan diri pada aneka situasi tugas belajar yang

(21)

dihadapinya, mencegah timbulnya serta mengatasi aneka kesukaran yang mungkn timbul terkait dengan pelaksanaan tugas belajarnya.

Psikoedukasi ditujukan untuk menyadarkan peserta didik tentang tujuan pendidikannya, memberikan informasi tentang berbagai alternatif penerapan dan kelanjutan pendidikannya, sehingga akhirnya masing-masing peserta didik mampu membuat keputusan yang realistik dan tentang tujuan pendidikan.

B. Kajian Penelitian Yang Relevan

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan erat dan mendasari adanya penelitian ini. Penelitian -penelitian tersebut diantaranya adalah seperti yang terlihat dalam berikut ini:

Tabel 2.1 Hasil Penelitian yang relevan No Peneliti Sumber Judul

Penelitian

Hasil

Penelitian Persamaan Perbedaan 1 Dadang

Garnida (2010)

Disertasi S3 Universitas Pendidikan Indonesia

Manajemen Pendidikan Inklusif: Studi Tentang Implementasi Sistem Pendidikan Inklusif

Masyarakat belum memahami secara tepat sistem pendidikan inklusif, hal ini dibuktikan dengan beragam persepsi dari berbagai komponen masyarakat terhadap sistem pendidikan inklusif.

Pendidikan Inklusif

Fokus pada implement asi

Pendidikan Inklusif

2 Ida Yuastutik (2011)

Disertasi S3 Program Studi Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang

Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah Inklusif: Studi multi kasus Tiga sekolah inklusif di kota Malang

Kepala sekolah penyelenggaraan pendidikan inklusif hendaknya memiliki sifat peduli, penuh kasih, disiplin, dan dapat bekerja dalam tim.

Sekolah Inklusif

Fokus pada Kepemeim pinan Kepala Sekolah

(22)

3 Wilujeng Herawati (2012)

Tesis S2 Universitas Negeri Malang

Manajemen Kepeserta didikan pada Penyelenggar aan Pendidikan Inklusi (Studi Multi Situs di SDN Percobaan I Malang dan SDN Junrejo I Kota Batu)

Perbedaan waktu pendaftaran antara calon peserta didik baru peserta didik berkebutuha n khusus (ABK) di SDN Percobaan I Malang dan di SDN Junrejo I Kota Batu

Penyelen ggaraan Pendidikan Inklusi

Fokus pada Penyelengg araan Penerimaan peserta didik baru pada dua sekolah inklusi

Berdasarkan tabel diatas, penelitian tentang pendidikan inklusif masih cukup menarik untuk diteliti dari berbagai sudut pandang dan apa yang ada dalam penelitian terdahulu berbeda dengan apa yang akan penulis teliti, walaupun sama-sama meneliti tentang pendidikan inklusif tapi berbeda pada fokus penelitiannya. Penulis lebih fokus pada kesulitan belajar peserta didik pada kelas awal.

C. Kerangka Pikir

Belajar merupakan kegiatan yang sangat penting pada seseorang untuk mendapatkan perubahan tingkah laku yang baru dengan proses tertentu, pada setiap jenis dan jenjang pendidikan, yang berguna dalam hal memperoleh sesuatu yang belum diketahui maupun yang telah diketahui untuk pengembangan dirinya.

Dalam proses belajar terdapat kesulitan atau hambatan yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Apabila faktor-faktor tersebut tidak diperhatikan dengan seksama oleh guru, maka dalam proses belajar peserta didik akan mengalami kesulitan. Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajarnya, dapat dipastikan akan mendapatkan hasil belajar yang tidak memuaskan dan prestasinya menurun. Faktor yang menyebabkan peserta didik

(23)

mengalami kesulitan dalam belajar salah satunya yaitu faktor eksternal yang meliputi media pembelajaran, materi pembelajaran dan sarana dan prasarana.

Berdasarkan faktor yang menyebabkan kesulitan belajar pada peserta didik, maka kerangka berfikir peneliti dapat terbentuk, yakni untuk mengidentifikasi tentang faktor eksternal yang menjadi penyebab kesulitan belajar peserta didik kelas awal di SDN Tamanasri Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang.

Gambar 3.1 Kerangka Pikir

ANALISIS PENANGANAN KESULITAN BELAJAR SISWA KELAS AWAL DI SDN TAMANASRI KECAMATAN

AMPELGADING KABUPATEN MALANG

1. Faktor penyebab kesulitan belajar 2. Penagangan kesulitan belajar Kondisi Lapangan :

Siswa mengalami kesulitan belajar, salah satunya kesulitan membaca.

Teknik analisis Data 1. Data kualitatif

Identifikasi Masalah Kesulitan Belajar Peserta didik

Analisis kebutuhan 1. Bentuk kesulitan belajar di kelas awal 2. Cara penanganan siswa kesulitan belajar

3. kendala yang dihadapi menagani kesulitan belajar

Teknik pengumpulan data 1. Observasi

2. Wawancara

Hasil Penelitian :

Ditemukan jenis dan penyebab kesulitan yang dialami siswa dalam

pembelajaran serta mengetahui upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kesulitan tesebut

Figur

Tabel 2.1 Hasil Penelitian yang relevan  No  Peneliti  Sumber  Judul

Tabel 2.1

Hasil Penelitian yang relevan No Peneliti Sumber Judul p.21
Gambar 3.1 Kerangka Pikir

Gambar 3.1

Kerangka Pikir p.23

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :