PEMILIHAN BENTUK KATA SAPAAN KERABAT DAN FAKTOR SOSIAL YANG MEMENGARUHINYA OLEH PENUTUR BAHASA JAWA ISOLEK MAKALAH

Teks penuh

(1)

1

PEMILIHAN BENTUK KATA SAPAAN KERABAT DAN FAKTOR SOSIAL YANG MEMENGARUHINYA OLEH PENUTUR BAHASA JAWA ISOLEK

MAKALAH

OLEH:

SUGENG TRIYANTO

UNIVERSITAS GUNADARMA AGUSTUS 2020

(2)

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap pilihan bentuk kata sapaan kerabat oleh penutur bahasa Jawa isolek di Salaman, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia Berbagai macam bentuk kata sapaan kerabat dan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pemilihannya menjadi problem bagi pengguna bahasa Jawa isolek khususnya dan pengguna bahasa Jawa daerah lain oleh penutur yang berasal dari Yogyakarta, Solo, dan Semarang, pengguna bahasa Jawa variasi lain, dan pengguna selain bahasa Jawa yang ingin belajar bahasa Jawa yang para penutur bahasa saling berinteraksi.

Bertolak dari problem tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan observasi lansung ke lapangan pengguna bahasa Jawa isolek sebagaimana yang sering dilakukan oleh peneliti lain di bidang sosiologi dan budaya. Peneliti mengamai pemililihan bentuk kata sapaan kerabat dan faktor sosialnya, selanjutnya bahan data penelitian yang berisi objek penelitian dicatat di buku catatan kecil dan dianalisis dengan menggunakan teori-teori sosiolinguistik.

Hasil yang bertalian dengan faktor sosial di masyarakat menunjukkan bahwa pemilihan kata sapaan berdasarkan faktor-faktor sosial adalah jenis kelamin, umur dan status hubungan, umur dan status ekonomi, asal daerah, tempat percakapan, latar belakang pendidikan dan pekerjaan, latar belakang pendidikan dan staturs ekonomi, ketidakakraban dan keakraban, pernikahan, usia kerabat, faktor orang ketiga, mobilitas, dan prestis.

Kata Kunci: Kata Sapaan Kerabat, Faktor Sosial, Bahasa Jawa Isolek

Pendahuluan

Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang penting karena mengambarkan kehidupan sosial masyarakat. Dengan mengetahui bahasa, kita berharap bahwa kita juga mengetahui tingkah laku orang-orang yang tinggal di negara tertentu atau daerah tertentu. Cara hidup orang-orang yang tinggal di satu daerah dan negara berbeda dengan orang-orang yang tinggal di daerah atau wilayah lain dan negara lain.

Sapaan merupakan salah satu bentuk kebahasaan yang digunakan sehari-hari oleh penutur bahasa. Diskusi mengenai sapaan akan lebih menarik bila dihubungkan dengan daerah yang terkenal akan budayanya yang tinggi, yakni Jawa. Kata ganti orang pertama adalah kata ganti yang digunakan untuk menunjuk pada diri penutur. Sementara, kata ganti orang kedua kata sapaan kerabat merupakan kata sapaan karena digunakan untuk menyapa seseorang ketika orang memulai berkomunikasi atau ketika orang-orang sedang berkomunikasi.

(3)

3

Penelitian ini adalah penelitian di dalam kelompok tutur (langue) di Salaman dan penutur yang berasal dari Salaman, Magelang, Jawa Tengah. Salaman merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Jalan Raya Salaman tidak hanya terhubung dengan daerah-daerah ini tetapi juga terhubung dengan Semarang, Solo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Banyumas. Maka, Salaman dikatakan sebagai pertemuan pengguna bahasa standar dengan bahasa “ngapak” Banyumasan. Dengan demikian, penutur di desa-desa ini kebanyakan pengguna bahasa Jawa standar (bahasa standar Yogya–Solo) dengan sedikit campuran dengan bahasa “ngapak” Banyumasan.

Penelitian bentuk kata sapaan kerabat di konteks sosial, lokal, agama, dan budaya di Salaman, Magelang, Jawa Tengah, sejauh penelusuran peneliti, belum ditemukan seperti penelitian Bintoro (www. www.google.com/linguistikindonesia.org) di Kulonprogo, KotaYogyakarta, Semarang, dan Surabaya, Penelitian Wantorojati, dkk (www.google.com) di Kecamatan Kedungrejo, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah”, penelitian Lutviana

(2006) di Desa Rimbo Mulyo, Kecamatan Rimbo Bujang, Provinsi Jambi”, dan penelitian Wolff dan Poedjosoedarmo di Yogyakarta dan daerah-daerah sekitar Yogyakarta, dan Goebel (2002) yang meneliti pemilihan kode di perkotaan, Semarang.

Penelitian ini untuk mengungkap pemilihan bentuk kata sapaan kerabat dan faktor sosial yang memengaruhinya. Penelitian dilakukan karena kata sapaan dalam bahasa Jawa ini memiliki keunikan di banding dengan bahasa lain tidak hanya jumlah kata sapaan kerabat yang lebih banyak jumlahnya tetapi juga faktor-faktor sosial yang memengaruhinya juga banyak dan kadang agak sulit untuk menentukan faktor sosial mana yang memengaruhi pilihan bentuk kata sapaan. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya memberikan aplikasi penggunaan bagi penutur bahasa Jawa isolek khususnya tetapi juga bagi penutur di luar dari kelompok tutur ini untuk menciptakan komunikasi yang sopan dan santun.

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang tidak terikat jumlah sampel, populasi, dan hipotesis (Basrowi dan Suwandi, 2008). Jenis penelitian ini memiliki ciri bahwa tidak banyak teori yang tersedia pada penelitian sebelumnya atau teori tidak cocok diterapkan di negaranegara tertentu pengguna bahasa (Creswell, 1998). Sementara, Semi (2012) menyatakan bahwa kenyataan masyarakat sekarang yang kompleks dan dinamis menuntut dipakainya

(4)

metode dan teknik yang mampu menganalisis kompleksitas dan gejala-gejala kemasyarakatan.

Untuk menganalisisnya digunakan penelitian kualitatitf yang mana metode penelitian ini digunakan oleh sosiolog dan diikuiti oleh antropolog (Hazen K, 2014:8).

Bertalian dengan instrumen penelitian, peneliti menggunakan instrumen penelitian untuk mendapatkan bahan data penelitian berupa daftar pertanyaan yang diikuti dengan wawancara, menggunakan alat telekomunikasi telepon tangan (handphone) untuk aplikasi whas up dan facebook, dan buku kecil untuk mencatat penggunaan bahasa. Metode pengumpulan data mengambil faktor sosial, konteks sosial, atau ekstralinguistik yang merupakan faktor fundamental dalam penelitian sosiolinguistik sehingga ada pola keterhubungan variasi bahasa dan masyarakat. Langkah-langkah dalam menganalisis konteks sosial adalah mengidentifikasi bentuk kata sapaan kerabat, menganalisis variasi bentuk kata sapaan kerabat, membandingkan bentuk kata sapaan yang satu dengan yang lainnya, menganalisis bentuk kata sapaan kerabat yang dihubungkan dengan teori sosiolinguistik dan konteks sosial, lokal, agama dan budaya.

Landasan Teori

Dalam sosiolinguistik terdapat istilah-istilah, yakni pertama bilingualisme. Fishman (1997) menyatakan bahwa bilingualisme adalah ketika penutur bahasa menggunakan dua bahasa secara bergantian dalam hubungannya dengan orang lain dalam suatu masyarakat. Sedangkan, ketika penutur bahasa berbicara lebih dari dua bahasa disebut dengan “multilingual” atau

“multibahasawan”. Istilah yang kedua adalah “kode (code)” digunakan sebagai sebuah sistem komunikasi antara dua orang atau lebih. Ketika orang berbicara, mereka kadang-kadang memilih salah satu dari kode-kode tersebut dan kode tersebut digunakan dalam percakapan.

Sementara, pungutan bertalian dengan ungkapan konsep atau penggambaran objek untuk kata yang tidak didapatkan ketika mereka sedang menggunakan sebuah bahasa untuk berbicara.

Bertalian dengan variasi bahasa, variasi bahasa adalah tentang membandingkan fitur bahasa yang sama, bukan bahasa yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mengetahui sistem prinsipprinsip untuk variasinya. Para ahli sosiolinguistik membandingkan variasi bahasa untuk kelompok penutur yang berbeda atau penutur yang sama dalam situasi yang berbeda (Parker, 1986:113-114). Sementara, Trudgill (1984) mengatakan bahwa orang-orang yang berasal dari latar belakang sosial dan geografi yang berbeda menggunakan bahasa yang berbeda. Perbedaan bahasa ini disebut dialek, dialek regional dan dialek sosial. BJ adalah BJ yang digunakan di

(5)

5

Yogyakarta dan Solo (disebut dialek bahasa Jawa Standar), di Banyumas sebagai dialek bahasa Jawa Banyumas, di Jawa Timur sebagai dialek bahasa Jawa, Jawa Timur dan di kabupaten Banyuwangi disebut dengan dialek Osing. Dialek bahasa Jawa Standard dengan berbagai macam isolek digunakan di daerah sekitar Yogya seperti Purworejo, Magelang, Temanggung, dan beberapa kabupaten di sekitar Surakarta, Klaten, Karanganyar, Sukorejo, dan Wonogiri (Wedhawati, dkk, 2006).

Bahasa Jawa terbagi menjadi tiga bagian; bahasa Jawa Kuno Purba, bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Jawa Baru. Bahasa Jawa Kuno merupakan refleksi dari kebudayaan Hindu-BudhaJawa, dipakai waktu itu abad pertama Masehi sampai abad ke-15, dan banyak mendapat pengaruh bahasa Sansekerta. Sedangkan, bahasa Jawa Baru merupakan gambaran kebudayaan Islam- Jawa yang kosakatanya banyak mendapat pengaruh dari bahasa Arab baik lisan dan tulisan (Wedhawati, dkk, 2006:2).

Wolff dan Poedjosoedarmo (1982) menjelaskan tingkatan bahasa, Ngoko (N) adalah bentuk yang tidak formal dan tidak sopan. Kosakata N digunakan hanya untuk orang yang sudah sangat akrab. Kata-kata N ini tidak mengungkapkan kehormatan. N ada dalam semua konsep, sedangkan tipe-tipe kosakata lain memiliki jumlah kata yang terbatas; Madya (M) memiliki arti menengah, setengah sopan dan setengah formal karena diantara N dan K. Kata-kata M digunakan untuk mengungkapkan keformalan seperti berbicara dengan tetangga yang bukan merupakan teman akrab atau kadang-kadang dengan saudara dari generasi tua; ketiga Kramo (K) adalah bentuk formal dan sopan. Tipe keempat memiliki dua bagian yang pertama Kromo Inggil (KI) merupakan kromo tinggi yang kata-katanya digunakan untuk orang yang sangat dihormati seperti Raja Jawa dan Kromo Andhap (KA) merupakan kromo merendah yang kata- katanya menunjuk pada tindakan orang ke orang yang sangat dihormati seperti anak kepada orang tuanya, kakek, dan neneknya.

Ferguson (1959) memberikan istilah diglosia untuk menunjuk pada dua variasi atau lebih dari satu bahasa yang digunakan masing-masing sesuai dengan fungsinya dalam masyarakat tutur di daerah yang sama. Terdapat dua penunjukan dalam diglosia dalam bahasa Inggris disebut dengan H (high atau tinggi dalam bahasa Indonesia, yang selanjutnya disingkat T) dan L (low atau rendah dalam bahasa Indonesia yang selanjutnya disingkat R). Ferguson memberikan

(6)

sembilan fitur, yakni fungsi, prestis, warisan kesusasteraan, pemerolehan bahasa, standardisasi, kestabilan, gramatika, leksikon, dan fonologi.

Konsep diglosia oleh Ferguson yang menunjuk pada dua variasi bahasa yang masih dalam satu bahasa yang masing-masing variasi memiliki fungsi yang berbeda (yang satu variasi memiliki fungsi T dan variasi lainnya memiliki fungsi R), diperluas oleh Fishman (1972). bahwa diglosia tidak hanya menunjuk pada dua variasi bahasa tetapi juga menunjuk pada lebih dari dua variasi bahasa yang variasi-variasi bahasa tersebut merupakan bahasa yang berbeda. Kesamaan Fishman dan Ferguson tentang konsep diglosia menunjuk pada perbedaan fungsi pada variasi- variasi bahasa.

Pembahasan

Penemuan Bentuk Kata Ganti Orang

Kata ganti orang pertama dalam keluarga inti, keluarga luas, dan luar keluarga adalah enyong yang masuk tingkatan ngoko, kulo dan dalem yang masuk tingkatan kromo dan kromo andhap, awak, dan kata sapaan (kerabat) yang bisa digunakan oleh penutur untuk menunjuk pada diri penutur seperti nama diri, mbak, kakak, mas, kakang, mbakyu, mbah, pakde, bude, paklek, bude dan gelar yang bertalian dengan agama Islam seperti umi nyai hajjah dan abah kiai haji.

Kata ganti orang kedua dalam keluarga inti, keluarga luas, dan luar keluarga adalah panjenengan, jenengan, sampean, samang, kowe, kono, raki, rika, dan kata sapaan kerabat ayah dan ibu. Selain kata sapaan kerabat, kata sapaan nama diri dan gelar ditemukan pula sebagai pilihan kode kata ganti orang kedua. Penemuan kode kata sapaan termasuk kata kerabat yang lain dalam keluarga inti, keluarga luas, dan luar keluarga adalah adek, bapak, embok/simbok, nama diri, sayang, dedek, mbak, kakak, ndhuk, emak, yu, bulik, tante, paklek, bude, pakde, mbah, nak, mbah nyai, mbah kyai, kangmas, mbakyu, kakang, nama samaran, mbah ibu, mase, pak’e (pae), bu’e, mboke (mbok’e, boe), wo, dan kata sapaan yang bertalian dengan agama Islam yang berasal dari bahasa Arab abah, umi dan beserta gelar abah kiai haji dan umi nyai hajjah, pak ustad dan kata sapaan (berasal dari bahasa Indonesia) ayah dan Belanda om, tante, dan serta kata sapaan yang berasal dari bahasa Inggris bro, boss.

(7)

7 Variasi Bentuk Kata Ganti Orang

Kata ganti orang pertama dan kedua kata sapaan kerabat memiliki variasi bentuk yang berupa bentuk penuh atau pemendekan serta adanya akhiran yang berupa infleksi seperti enyong (nyong, nyonge), aku (ku), awak (awak’e), nama diri, embak (mbak, mbak’e, kakak (kak), mas (mase), kakang (kang), embah atau simbah (mbah, mbahe), umi, abah, panjenengan, jenengan, sampean (pean), samang, kowe, kono, raki, rika, ayah (yah), ibu (bu), adik (dik), bapak (pak, pak’e/pae), embok/simbok (mbok, mbok’e), sayang (yang), dedek (dek), embak

(mbak, mbak’e), ndhuk, emak (mak, mak’e), yu, tante, om, nak, nama samaran, boss, bro, bojo, mertua, dan mamah. Kata ganti orang pertama dan kedua yang berupa pemendekan atau bentuk penuh adalah mbakyu, pakde, bude, umi nyai hajjah, abah kyai haji, bulik, paklek, mbah nyai, mbah kyai, kangmas, nama diri, nama samaran, mbah ibu, ibundaku sayang, makde, dan bu boss.

Faktor Sosial Jenis Kelamin

Pemilihan kata ganti orang termasuk kata sapaan kerabat yang berdasarkan jenis kelamin laki- laki adalah bapak, ayah, mas, kakang, kangmas, pakde, paklek, abah kiai haji, mbah kiai, pak ustad, om, bro, nama diri. Sedangkan, yang berdasarkan jenis kelamin perempuan adalah ibu, emak, mbok, simbok, mbak, ndhuk, yu, bude, bulek,umi nyai hajjah, nama diri, mbah ibu, tante.

Sementara, kata ganti orang termasuk di dalamnya kata sapaan kerabat bisa menunjuk pada laki-laki atau perempuan yakni kakak, ,adek, dedek, mbah, wo, nak, nama diri, nama samaran, sayang dan kata ganti orang kedua juga bisa menunjuk pada laki-laki atau perempuan yakni panjenengan, jenengan, sampean, samang, kowe, kono, raki, rika,

Umur dan Status Hubungan

Mitra tutur menggunakan bahasa Jawa bentuk hormat dan sopan kromo kulo dan sanjangi ketika bercakap dengan penutur di keluarga luas karena adanya jarak umur yang lumayan jauh, yakni 10 tahun. Begitu pula, kata sapaan kerabat mbah, paklek, bulek, pakde, bude juga berdasarkan faktor sosial umur yang jauh. Sapaan yang berdasarkan umur yang jauh antara ayah dan anak perempuannya adalah ndhuk, oleh penutur yang berasal dari Madura, beristri orang Muntilan yang tinggal di Salaman. Kata sapaan ndhuk hampir tidak ditemukan

(8)

penggunaannya oleh penutur bahasa Jawa standar isolek. Kata sapaan lain dedek juga digunakan untuk menandai status hubungan orang tua-anak.

Mitra tutur: Geh kulo sanjangi ‘ya aku beritahu’

Umur dan Status Ekonomi

Selain faktor umur dan jenis kelamin, faktor lain yang memengaruhi kebiasaan penyebutan mas dan mbak adalah faktor ekonomi orang tua yang mana status ekonomi orang tua tergolong status menengah dan ini yang membedakan dengan sebutan diri kang, yu, di keluarga inti, keluarga luas, dan luar keluarga serta wo di keluarga luas dan luar keluarga karena kata ganti orang pertama ini digunakan oleh penutur ke mitra tutur yang memiliki status ekonomi bawah..

Asal Daerah

Faktor yang memengaruhi penutur menggunakan aku adalah faktor asal daerah yang mana budaya sebutan di daerah asal penutur, yakni di Kecamatan Tuntang, Salatiga adalah aku.

Suami: Ngga, aku mangkat saiki yo? ‘Ngga, aku berangkat sekarang ya’

Tempat Percakapan

Pemilihan kata ganti orang pertama aku disebabkan oleh faktor tempat terjadinya percakapan, yakni di kota kecil dan kota besar atau daerah pengguna bahasa Jawa standar Yogya–Solo.

Penutur: aku wis sarapan mau sadurunge mangkat kerjo ‘aku sudah sarapan tadi sebelum berangkat kerja’.

(9)

9

Latar Belakang Pendidikan dan Pekerjaan

Pemilihan kata ganti orang pertama aku disebabkan oleh faktor sosial penutur dan mitra tutur yang memilikii latar belakang pendidikan di kota kecil dan kota besar serta punya latar belakang pekerjaan di kota. Sapaan lain adalah Umi Ny Hj yang juga berdasarkan latar belakang pondok pesantren, gelar yang didapat dari ibadah haji, dan kegiatannya yang bertalian dengan agama yakni sebagai guru gaji dan pemilik pondok pesantren.

Penutur: semoga menjadi putri yang sholichah, bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa (Umi Ny Hj Sintok)

Latar Belakang Pendidikan dan Status Ekonomi

Pemilihan kata ganti orang pertama enyong oleh penutur dan mitra tutur yang berlatar belakang pendidikan rendah dan status ekonomi bawah. Kata ganti digunakan di luar keluarga oleh mitra tutur yang pekerjaanya sebagai pelayan jajanan tradisional. Selain status ekonomi bawah, kata ganti ini juga digunakan oleh penutur yang memiliki status ekonomi menengah dengan latar belakang pendidikan rendah. Sedangkan, kata sapaan lain yang berdasarkan faktor sosial ini adalah embok/simbok, wo, dan yu.

Mitra tutur: gon nyong isih ono? ‘kepunyaanku masih ada’

Ketidakakraban & Keakraban

Pemilihan kata ganti orang pertama kulo dengan kosakata kromo dipengaruhi oleh faktor sosial ketidakakraban penutur dengan mitra tutur untuk menunjukkan rasa hormat dan sopan.

Sopir: kulo tepang Pak Hasim ‘saya kenal Pak Hasim’

(10)

Sebaliknya, kata ganti orang kedua raki, kono, kowe, samang, sampean digunakan dengan kosakata ngoko menunjukkan keakraban (keintiman) sebagaimana sapaan nama diri dan nama samaran. Selain itu, penyebutan dengan nama anak pertama oleh suami ke istri juga berdasarkan faktor sosial keakraban. Kata sapaan yang lain juga menunjukkan keakraban yakni kata sayang oleh suami ke istri ketika suami tidak bisa membelikannya sayuran. Penutur: Ya (Maya), sayurane arep dekekke ngendi? ‘Ya, sayurannya mau ditaruh dimana?’

Pernikahan

Penutur perempuan telah berumah tangga dan memiliki anak dengan pernikahan sama suku namun beda bahasa lokal karena suami dari penutur adalah orang Purwokerto yang memiliki latar belakang bahasa Banyumasan. Sedangkan, penutur perempuan berbahasa Jawa Standar isolek atau bahasa Jawa standar pinggiran, yakni desa di Kecamatan Salaman yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Hiahh....ayak2 wae rika mas Hendro... ‘hiahh, ada-ada saja kamu mas Hendro’

Usia kerabat

Kata sapaan ini dipilih berdasarkan usia kerabat di keluarga luas yang mana anaknya sering bermain dengan anak dari adik perempuan penutur. Percakapan terjadi di ruang tamu pada siang hari ketika anaknya baru saja selesai bermain. Kata sapaan lain adalah mas, dik, mbak, kang, dan yu juga bisa digunakan berdasarkan usia kerabat di keluarga luas.

Ibu: niki tase mbak sinten? ‘ini tasnya mbak siapa’

(11)

11

Faktor Orang Ketiga

Sapaan yang didasarkan pada hadirnya orang ketiga dengan tujuan untuk mendidik melalui bahasa atas pemilihan bentuk hormat dan sopan yakni mas, paklek, bulek, pakde, dan bude.

Ayah: Mas (nama orang), kunci motore didekekke ngendi? ‘Mas Fahrur, kunci motornya ditaruh dimana’.

Mobilitas

Ibu penutur yang pernah kuliah dan pernah tinggal di Kota Yogyakarta dalam masa kuliah ataupun pernah bekerja di Jakarta sebelum berumah tangga, setelah berumah tangga kadangkadang tinggal di Bojonggede, Kabupaten Bogor, dan kadang-kadang tinggal di Salaman, menyebabkan sebutan kakak, ayah, ibu digunakan di keluarga inti ini.

Ayah, adik nek pun lahir, kakak kaleh adik, ibu teng Bojong nggeh?

‘ayah, adik kalau sudah lahir, kakak dan adik, ibu ke Bojong ya’

Prestis

Kosakata jenengan merupakan bentuk yang lebih hormat daripada kata ganti orang kedua sampean. Selain itu, kata ganti orang kedua ini merupakan bentuk yang prestis digunakan ketika berkorelasi dengan kosakata ngoko. Sementara, ada bentuk yang lain dari jenengan, yakni panjenengan. Dilihat dari tulisannya jenengan merupakan bentuk pendek dari panjenengan, namun dalam penggunaan di masyarakat memiliki perbedaaan. Kata ganti orang kedua panjenengan jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal di keluarga inti, keluarga luas, dan luar keluarga.

(12)

Adik laki-laki: Jenengan langsung wae mas neg rep ngandani mbk Emi q ndak salah ngomong ‘kamu langsung saja mas kalau akan kasih saran Mbak Emi aku nanti salah bicara’

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman kata ganti orang termasuk kata sapaan kerabat bahasa Jawa isolek di keluarga inti, keluarga luas, dan luar keluarga. Kata sapaan ini juga ada yang mengalami pemendekan dan ada yang mengalamai infleksi yang menunjukkan kata sapaan ini memiliki produktivitas. Hasil lain yang bertalian dengan faktor sosial di masyarakat menunjukkan bahwa pemilihan kata sapaan berdasarkan faktor-faktor sosial adalah jenis kelamin, umur dan status hubungan, umur dan status ekonomi, asal daerah, tempat percakapan, latar belakang pendidikan dan pekerjaan, latar belakang pendidikan dan staturs ekonomi, ketidakakraban dan keakraban, pernikahan, usia kerabat, faktor orang ketiga, mobilitas, dan prestis.

Referensi

Bintoro In www.google.com/ linguistik indonesia.org/ images/ Makna Kata Sapaan Orang Kedua dalam Bahasa Jawa Analisis Semantik (Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) Tanggal Akses 7 April 2017

Basrowi dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Penerbit Rineka Cipta

Creswell, J.W. 1998. Research Design Qualitative & Quantitative Approach. California:

Sage Publication, Inc.

Ferguson, C.A. 1959. “Diglossia”. Word 15 (2), 325-340

Fishman J. 1967. “Bilingualism with and without diglossia. Diglossia with and without bilingualism”. In Journal of Social Issues 23.2: 29–38

Goebel, Zane. 2002. “Code Choice in Interethnic Interactions in Two Urban Neighborhoods of Central Java, Indonesia”. In International Journal of the Sociology of Language 158, pp.

69-87

(13)

13

Hazen, Kirk.2014. A Historical Assesment of Research Questions in Sociolinguistics in Research Methods in Sociolinguistics (Practical Guide), Edited by Janet Holmes dan Kirk Hazen. UK: John Wiley and Sons, Inc.

Luviana, Citra. 2016. “Kata Sapaan Kekerabatan Masyarakat Transmigran Jawa Tengah di Desa Rimbo Mulyo Kecamatan Rimbo Bujang Provinsi Jambi”. Skripsi: Jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Andalas, Padang

Parker, Frank. 1986. Linguistics For Non-Linguists. London: Little, Brown and Company (Inc) Trudgill, Peter. 1984. Sosiolinguistik Satu Pengenalan (Terjemahan Nik Safiah Karim, Ph.D).

Kuala Lumpur: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka

________________. 1988. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell Inc Wedhawati, dkk. 2006. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius

Wolff, J.U. dan S, Poedjosoedarmo. 1982. Communicative Codes in Central Java in Linguistics Series VIII, Ithaca, New York: Cornell University Press

(14)

SURAT KETERANGAN

Nomor: 102/PERPUS/UG/2020

Surat ini menerangkan bahwa:

Nama Penulis : Sugeng Triyanto Nomor Penulis : 980306

Email Penulis : sugeng@staff.gunadarma.ac.id Alamat Penulis : Perum Puri Pinastika Blok D No. 8

Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :

Nomor Induk : FSB/SA/PENELITIAN/102/2020

Judul Penelitian : PEMILIHAN BENTUK KATA SAPAAN KERABAT DAN FAKTOR SOSIAL YANG MEMENGARUHINYA OLEH PENUTUR BAHASA JAWA ISOLEK

Tanggal Penyerahan : 20 / 08 / 2020

Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya dilingkungan Universitas Gunadarma dan Kopertis Wilayah III.

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE

BUKTI UNGGAH DOKUMEN

PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS

Nomor Pengunggahan

(15)

15

Dicetak pada: 21/08/2020 19:01:28 PM, IP:36.90.82.255 Halaman 1/1

Figur

Memperbarui...

Related subjects :