Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

11 

Teks penuh

(1)

1

DUKACITA DAN KEHILANGAN PADA ORANG TORAJA

DALAM RITUAL MA’NENEK: SUATU ANALISIS

PSIKOLOGI INDIGENOUS

Tesis

Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk

mencapai derajat Magister Sains Psikologi

Oleh:

Erny Tonapa

NIM: 832012008

PROGRAM MAGISTER SAINS PSIKOLOGI

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)

4

MOTTO

Ratapan 3 : 22-23

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN

Tak habis-habisnya rahmat-Nya

Selalu baru tiap pagi

(6)

5

UCAPAN TERIMAKASIH

Segala kemuliaan bagi Allah yang telah mengaruniakan kesempatan bagi penulis sehingga berkesempatan menuntut ilmu di Universitas Kristen Satya Wacana sampai selesainya seluruh proses penulisan tesis ini.

Selesainya tulisan ini dimungkinkan oleh dukungan dan doa berbagai pihak. Untuk itu dengan segala ketulusan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof.Dr.Sutarto Wiyono, M.A selaku Ketua Program Studi Magister

Sains Psikologi sekaligus sebagai pembimbing yang dengan setia membaca, mengoreksi dan memberikan sumbangan pemikiran selama proses penulisan

2. Drs.Aloysius Susilo, M.A yang banyak meminjamkan referensi dan

membimbing penulis dalam memahami Psikologi Indigenous 3. Para partisipan yang sangat baik: Indo’ L, Ambe’ P, Indo’ T, R,L,

ambe’ R, tominaa L dan to minaa T

4. Sinode Gereja Toraja yang telah memberi rekomendasi dan bantuan

biaya studi kepada penulis

5. Pdt.Dr.Ery Lebang sekjen CCA sekaligus ketua PGI yang tiada

hentinya memotivasi penulis dari Chiang May, lewat LINE, whats App maupun telfon dan SMS.

6. Pdt.Arsiati S.Kabangnga’, M.Th ketua IV sinode Gereja Toraja

selaku ibu angkat, guru, teman diskusi dengan segala “khotbahnya”

hampir setiap hari.

7. Pak Andris sebagai teman curhat dan Mas Agus sebagai staf di Program Pasca Sarjana UKSW yang telah banyak membantu penulis

8. Mama sang motivator, harapan, kebanggaan dan panutanku yang

tiada henti mendukung dalam berbagai bentuk. “Mama ku Love you full”.

9. Alm.papa bersama ke-7 kakak ku yang selama ini mengajariku

banyak hal tentang kehidupan.

10.Sahabatku Ca’ yang banyak membantu dengan segala “sungut -sungutnya...xixiixi

(7)

6

12.Cheli, editorku teman konser malam-malam, tertawa, teman makan yang sering ngajak langgar program diet

13.Rekan-rekan angkatan VI Magister Sains Psikologi yang unik dan kocak yang bersama-sama berjuang dalam kasih, memotivasi dan mendoakan: Ma Ona, Bu Hartiyah, Bu Eva, Om Frans, Asa, Ine,

Delsi,Avi, Sela, Tika, Yapi, Asih, Art’as, Dodi, Liana, Tea, Susan.

Saya akan selalu merindukan kalian

14.Keluarga bapak Suparto di Kemiri I no 10 sebagai orang tua di Salatiga selama kurang lebih 2 tahun.

(8)

7

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBARAN PENGESAHAN ... ii

LEMBARAN PERNYATAAN ... iii

MOTTO ... iv

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Dukacita dan Kehilangan ... 12

B. Sifat Umum Dukacita ... 16

1. Dukacita bersifat umum ... 16

2. Dukacita bersifat holistik ... 16

C. Faktor-faktor yang memengaruhi dukacita ... 18

D. Gejala-gejala utama proses dukacita ... 21

E. Tugas proses berduka ... 24

F. Kompleksitas Kedukaan ... 24

G. Pendekatan Psikologi Indigenous ... 26

H. Suku Toraja ... 30

I. Ritual ma’nenek ... 36

J. Asal-usul ritual ma’nenek ... 36

(9)

8 BAB III METODE PENELITIAN

A. Metode penelitian kulitatif ... 40

B. Partisipan ... 46

C. Lokasi Penelitian ... 46

D. Instrumen dan metode pengumpulan data ... 47

E. Teknik Analisa Data ... 49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan dan pelaksanaan penelitian ... 50

B. Analisa Data ... 51

C. Deskripsi Partisipan ... 51

D. Memeriksa keabsahan data ... 71

F. Perpanjangan Keikutsertaan ... 72

G. Makna ma’nenek ... 94

1. Dukacita dan kehilangan yang unik ... 95

2. Litani ratapan ... 96

3. Ungkapan kasih sayang Dan hormat ... 100

4. Kesempatan untuk curhat ... 102

5. Reuni dan harapan ... 103

6. Kerinduan dan attachment Behaviour dalam ritual Ma’nenek ... 104

7. Tuntutan adat ... 107

8. Kelegaan hati ... 108

9. Berakhirnya seluruh proses Dukacita ... 108

10.Merayakan Kehidupan ... 109

H. Ritual ma’nenek dalam Pendekatan psikologi indigenous ... 113

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 114

DAFTAR PUSTAKA ... 118

(10)

9

Dukacita dan kehilangan pada orang Toraja dalam ritual ma’nenek: suatu analisis Psikologi Indigenous

Setiap budaya memiliki tradisi untuk mengekspresikan duka cita dan

kehilangan akibat kematian orang yang dikasihi dan yang

mengasihinya. Dengan menjemur tulang-tulang jenazah, menangis,

meratap, mengganti pakaian atau memberi bungkus baru pada

jenazah orang Toraja mengobati kerinduan dan rasa kehilangan yang

dalam. Di desa To’Nakka’ ritual ini berlangsung setiap tahun di bulan Agustus namun di desa Lempo Poton hanya 3 tahun sekali seiring

selesainya masa panen. Oleh masyarakat setempat Agustus disebut

“bulan nenek’ yakni bulan khusus untuk mengurus keluarga-keluarga yang telah dikuburkan. Oleh karena itu Agustus juga disebut

lo’bang/alla’ padang (tanah kosong/masa antara). Maka sepanjang

bulan itu semua kegiatan pertanian dihentikan bahkan membeli

hewan piaraan seperti babi juga tidak diizinkan.

Ma’nenek adalah perangkat dukacita yang dimiliki oleh orang Toraja untuk melewati proses dukacita yang akhirnya menolong mereka

untuk memutuskan psikososial dengan keluarga yang telah

meninggal. Di samping itu ma’nenek sebagai ekspresi dukacita dan

kehilangan yang unik menjadi kesempatan untuk reuni, curhat,

mengungkapkan kasih sayang dan rasa hormat bahkan akhirnya

bersama-sama dapat merayakan kehidupan setelah kematian orang

yang dikasihinya.

Kata kunci: Orang Toraja, ritual ma’nenek, dukacita, kehilangan,

(11)

10

Morning and loss for Toraja people in the ma’nenek ritual: An indigenous psychology analysis

Every culture has its own tradition to express the mourning and the loss for the death of someone of loved and who love us. Toraja people deal with their heartfelt longing and loss by drying the bones of the corpse in the sun , crying, lamenting, changing their clothes, or

giving a new wrap for the corpse. In the To’ Nakka’ village such a

ritual only occurs in August every year but in the Lempo Poton village, it only take place once years after the harvest period finishes. The local people name the month of August a bulan nenek, namely a

special mont to take care of family members who have been buried. Therefore August is also called as lo’bang/alla’ padang ( empty land/interval period). Hence, all farming activities stop during that whole month.Even buying a livestock, like pig is not allowed either.

Ma’nenek is amourning custom owned by Toraja people to go

through the mourning process that will eventually help them to cut off the psychosocial bond with a family member who has passed

away. Beside that, ma’nenek as a unique ekspression of mourning

and loss becomes an opportunity to have a reunion to share with one another, to express love and respect an finally to together celebrate the life after death of the beloved one.

Keyword: Toraja people, ma’nenek ritual, mourning, loss, indigenous

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...