KONTRIBUSI PERSEPSI GURU TENTANG SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI BERPRESTASI GURU TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU DI SMP NEGERI KABUPATEN MAJALENGKA.

102  10  Download (3)

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR BAGAN ... xi

DAFTAR HISTOGRAM ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ... 9

C. Rumusan Masalah ... 11

D. Tujuan Penelitian ... 11

E. Manfaat Penelitian ... 12

F. Definisi Operasional Variabel ... 13

G. Paradigma Penelitian ... 15

H. Anggapan Dasar ... 19

I. Hipotesis ... 20

J. Metodologi Penelitian ... 20

K. Populasi dan Sampel Penelitian ... 21

BAB I I TINJAUAN TEORITIS ... 24

A. Kinerja Mengajar Guru dalam Perspektif Administrasi Pendidikan ... 24

1. Administrasi Pendidikan ... 24

2. Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan ... 27

3. Keterkaitan antara Sumber Daya Manusia dengan Mutu Pendidikan ... 29

4. Kinerja Mengajar Guru ... 34

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Mengajar Guru ... 44

6. Standar dan Penilaian Kinerja Mengajar Guru ... 46

(2)

B. Motivasi Berprestasi ... 56

1. Motif dan Motivasi ... 56

2. Kebutuhan sebagai Dasar Motivasi ... 61

3. Motivasi Berprestasi ... 65

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi ... 71

5. Dimensi Motivasi Kerja dan Motivasi Berprestasi ... 72

C. Persepsi Guru tentang Supervisi akademik Kepala Sekolah ... 75

1. Persepsi ... 75

2. Supervisi ... 81

3. Ruang Lingkup Supervisi ... 83

4. Supervisi Akademik ... 86

5. Tujuan Supervisi Akademik ... 88

6. Fungsi Supervisi Akademik ... 89

7. Sasaran Supervisi Akademik ... 91

8. Tipe Kepemimpinan dalam Supervisi Akademik ... 92

9. Prinsip Supervisi Akademik ... 94

10. Teknik Supervisi Akademik ... 96

11. Supervisi Akademik Kepala Sekolah... 98

12. Dimensi Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 100

BAB III METODE PENELITIAN ... 102

A. Metode Penelitian ... 102

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 104

1. Populasi ... 104

2. Sampel ... 105

C. Teknik Pengumpulan Data ... 113

1. Studi Dokumenter ... 113

2. Studi Pustaka ... 113

3. Wawancara ... 113

(3)

D. Penyusunan Angket ... 114

1. Kisi-kisi Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 117

2. Kisi-kisi Angket Motivasi Berprestasi Guru ... 118

3. Kisi-kisi Angket Kinerja Mengajar Guru ... 119

E. Pengumpulan Data ... 120

1. Penyebaran Angket Uji Coba ... 120

2. Jawaban Responden Angket Uji Coba ... 120

3. Uji Validitas dan Reliabilitas Angket Uji Coba ... 121

4. Revisi Angket ... 137

5. Penyebaran Angket Jadi dan Penggunaannya untuk Pengumpulan Data ... 138

F. Analisis Data ... 140

1. Kuantifikasi Jawaban Responden ... 141

2. Katagorisasi Jumlah Skor Jawaban Responden ... 142

3. Uji Normalitas Sebaran Data ... 143

4. Analisis Korelasi ... 146

5. Analisis Regresi ... 154

6. Kontribusi ... 155

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 157

A. Hasil Penelitian ... 157

1. Gambaran Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 157

2. Gambaran Motivasi Berprestasi Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 161

3. Gambaran Kinerja Mengajar Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 164

4. Kontribusi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah

(4)

5. Kontribusi Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar Guru

SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 168

6. Kontribusi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 169

B. Pembahasan ... 171

1. Gambaran Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah SMP Negeri di Kabupaten Majalengka... 171

2. Gambaran Motivasi Berprestasi Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 178

3. Gambaran Kinerja Mengajar Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 181

4. Kontribusi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah terhadap Kinerja Mengajar Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka ... 185

5. Kontribusi Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka... 188

6. Kontribusi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka... 189

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI ... 191

A. Kesimpulan ... 191

B. Implikasi ... 193

C. Rekomendasi ... 194

DAFTAR PUSTAKA ... 200

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Dimensi dan Indikator Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 14

Tabel 1.2. Dimensi dan Indikator Variabel Motivasi Berprestasi Guru ... 15

Tabel 1.3. Dimensi dan Indikator Variabel Kinerja Mengajar Guru... 15

Tabel 3.1. Populasi Guru SMP Negeri Kabupaten Majalengka ... 105

Tabel 3.2. Klasifikasi SMP Negeri Kabupaten Majalengka Menurut Nilai Akreditasi ... 106

Tabel 3.3. Klasifikasi SMP Negeri Kabupaten Majalengka Menurut Kondisi Daerah ... 108

Tabel 3.4. Kelompok Stratum dan Jumlah Gurunya ... 108

Tabel 3.5. Sampel Per Stratum ... 111

Tabel 3.6. Sampel Per Sekolah Terundi ... 112

Tabel 3.7. Kisi-kisi Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 117

Tabel 3.8. Kisi-kisi Angket Motivasi Berprestasi Guru ... 118

Tabel 3.9. Kisi-kisi Angket Kinerja Mengajar Guru ... 119

Tabel 3.10.Validitas Item-item Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 124

Tabel 3.11.Validitas Item-item Angket Motivasi Berprestasi Guru 1 ... 127

Tabel 3.12.Validitas Item-item Angket Motivasi Berprestasi Guru 2 ... 129

Tabel 3.13.Validitas Item-item Angket Kinerja Mengajar Guru ... 135

Tabel 3.14.Pengurangan dan Penomoran Ulang Angket Hasil Revisi ... 138

Tabel 3.15.Rekapitulasi Jumlah Angket yang Disebar, yang Terkumpul dan yang Dapat Digunakan ... 140

Tabel 3.16.Katagori Kondisi Skor Jawaban Responden ... 142

Tabel 3.17.Penolong untuk Menghitung χ2 Variabel Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 144

Tabel 3.18.Penolong untuk Menghitung χ2 Variabel Motivasi Berprestasi Guru ... 145

(6)

Tabel 3.20.Intensitas Korelasi ... 146

Tabel 3.21.Penolong untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kendall Tau antara Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah (X1) dengan Kinerja Mengajar Guru (Y) ... 148

Tabel 3.22.Penolong untuk Menghitung Korelasi Ganda Kendall Tau ... 152

Tabel 3.23.Interpretasi Kontribusi... 155

Tabel 4.1. Deskripsi Statistik Variabel Persepsi Guru tentang Supevisi Akademik Kepala Sekolah ... 157

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Skor Variabel Persepsi Guru tentang Supevisi Akademik Kepala Sekolah ... 158

Tabel 4.3. Kondisi Dimensi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 159

Tabel 4.4. Kondisi Variabel Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... 159

Tabel 4.5. Deskripsi Statistik Variabel Motivasi Berprestasi Guru ... 161

Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Skor Variabel Motivasi Berprestasi Guru ... 161

Tabel 4.7. Kondisi Dimensi Motivasi Berprestasi Guru ... 162

Tabel 4.8. Kondisi Variabel Motivasi Berprestasi Guru ... 163

Tabel 4.9. Deskripsi Statistik Variabel Kinerja Mengajar Guru ... 164

Tabel 4.10.Distribusi Frekuensi Skor Variabel Kinerja Mengajar Guru ... 164

Tabel 4.11.Kondisi Dimensi Kinerja Mengajar Guru ... 165

(7)

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1. Kerangka Berpikir ... 17

Bagan 1.2. Paradigma Asosiatif antar Variabel Penelitian ... 18

Bagan 2.1. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan ... 28

Bagan 2.2. Interelasi Siswa, Tujuan, dan Guru dalam Mengajar ... 39

Bagan 2.3. Alur Kinerja, Motivasi dan Kemampuan Guru ... 56

Bagan 2.4. Saat Kebutuhan Fisiologis Menempati Posisi Paling Kuat Dibanding Kebutuhan Lain ... 63

Bagan 2.5. Saat Kebutuhan Penghargaan Menempati Posisi Paling Kuat Dibanding Kebutuhan Lain ... 64

Bagan 2.6. Saat Kebutuhan Aktualisasi Diri Menempati Posisi Paling Kuat Dibanding Kebutuhan Lain ... 64

Bagan 2.7. Penjabaran Teori Hierarki Kebutuhan Maslow ke dalam Motivasi Kerja ... 65

Bagan 2.8. Ruang Lingkup Supervisi Menurut Arikunto ... 84

Bagan 2.9. Hubungan Perilaku Supervisi, Perilaku Mengajar, Perilaku Belajar dan Hasil Belajar ... 87

Bagan 4.1. Korelasi (τ) dan Kontribusi (KP) Variabel X terhadap Y ... 171

(8)

DAFTAR HISTOGRAM

Histogram 4.1. Variabel Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala

Sekolah ... 158

Histogram 4.2. Variabel Motivasi Berprestasi Guru... 162

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Jawaban Responden Angket Uji Coba ... 206

Lampiran 2. Angket ... 210

Lampiran 3. Daftar Jawaban Responden ... 219

Lampiran 4. Karakteristik Responden (359 Guru) ... 259

Lampiran 5. Kondisi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah menurut Item dan Indikator ... 262

Lampiran 6. Kondisi Motivasi Berprestasi Guru menurut Item dan Indikator 265 Lampiran 7. Kondisi Kinerja Mengajar Guru menurut Item dan Indikator ... 268

Lampiran 8. Kondisi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah menurut Karakteristik Responden ... 277

Lampiran 9. Kondisi Motivasi Berprestasi Guru menurut Karakteristik Responden ... 281

Lampiran 10. Kondisi Kinerja Mengajar Guru menurut Karakteristik Responden ... 285

Lampiran 11. Surat Permohonan Izin Mengadakan Studi Lapangan / Penelitian dari Direktur SPS UPI Bandung ... 289

Lampiran 12. Surat Izin Survey, Riset dan Penelitian dari Kepala Disdikbudpora Kabupaten Majalengka ... 290

Lampiran 13. Surat Keterangan Telah Malaksanakan Penelitian dari Sekolah Sampel ... 291

(10)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG MASALAH

Keberadaan manusia dalam organisasi, termasuk sekolah memiliki posisi

yang sangat vital. Keberhasilan sekolah sangat ditentukan oleh kualitas

orang-orang yang bekerja di dalamnya. Orang-orang-orang yang bekerja di sekolah adalah

kepala sekolah, guru dan staf tatalaksana. Dalam kegiatan pelaksanaan pendidikan

di sekolah, guru merupakan orang yang paling penting karena gurulah yang

melaksanakan pendidikan langsung menuju tujuannya. Gurulah yang secara

operasional melaksanakan segala bentuk, pola, gerak dan geliat berbagai

perubahan di lini paling depan dalam pendidikan, karena memiliki tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan

mengevaluasi peserta didik (UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

pasal 1 ayat 1). Pelaksanaan tugas-tugas profesionalnya terungkap dari bagaimana

ia bekerja, atau dengan kata lain dari kinerjanya.

Kinerja personal sekolah terkait dengan produktivitas sekolah, yang

merupakan tujuan akhir dari administrasi atau penyelenggaraan pendidikan

(Komariah dan Triatna, 2005 : 30). Kinerja adalah proses yang menentukan

produktivitas organisasi. Jika produktivitas sekolah diukur dari prestasi belajar

siswa, maka hal tersebut sangat tergantung prosesnya, yaitu kinerja mengajar

gurunya. Dengan kata lain, secara terbalik, tak akan ada produktivitas berupa

(11)

2

Sayangnya, kinerja guru dirasakan masih rendah, karena terdapat banyak

permasalahan di seputar kinerja mereka. Kondisi tersebut dikemukakan oleh

beberapa ahli baik langsung maupun tidak langsung. Misalnya, pada saat diskusi

panel bertajuk Profesionalisme dan Pendidikan Guru, Selasa, 24 Januari 2006,

yang dihadiri panelis dari Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga

Kependidikan Depdiknas Fasli Jalal, Rektor Universitas Sanata Dharma (USD)

Yogyakarta Paulus Suparno, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Bandung Sunaryo Kartadinata, Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia

(FGII) Suparman, Koordinator Koalisi Pendidikan Lodi Paat, serta Koordinator

Litbang SD Hikmah Teladan Cimahi, Aripin Ali, yang dipandu Soedijarto, Ketua

Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) sekaligus penasihat PB PGRI -

rendahnya kinerja guru mengemuka, bahkan dikaitkan dengan lembaga

pendidikan yang menghasilkan tenaga guru, sehingga

Tanpa memperbaiki kinerja guru, semua upaya untuk membenahi pendidikan akan kandas. Kurikulum yang baik, perpustakaan yang lengkap, laboratorium canggih, ketersediaan komputer dan internet nyaris tidak ada artinya untuk memperbaiki mutu pendidikan bila guru-gurunya tidak bermutu dan tidak mencintai profesinya. Guru bermutu adalah guru yang menguasai ilmu yang diajarkan sekaligus menguasai keterampilan mengajar. Guru berkualitas hampir tidak mungkin dilahirkan apabila lembaga pendidikan gurunya tidak berkualitas dan mahasiswanya kelas dua. Masalah itu kait-mengait, dan pada akhirnya bermuara pada sejauh mana bangsa ini menghargai profesi guru (Susahnya Benahi Profesi Guru. http://64.203.71. 11/kompas-cetak/0602/21/humaniora/2455732.htm).

Kustono, melalui makalah seminar nasional yang berjudul Urgensi

Sertifikasi Guru dalam rangka Dies Natalis UNY yang ke-43 tanggal 5 Mei 2007

di Yogyakarta, mengaitkan kinerja guru yang rendah dengan kualitas guru yang

(12)

3

Kualitas guru di Indonesia masih tergolong relatif rendah. Hal ini antara lain disebabkan oleh tidak terpenuhinya kualifikasi pendidikan minimal terutama bila mengacu pada amanat UU RI No 14/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD), dan PP RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas pada tahun 2005 menunjukkan terdapat 1.646.050 (69,45%) guru SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal. Kualifikasi guru dimaksud masing-masing sebagai berikut: guru TK terdapat 91,54%, SD terdapat 90,98%, SMP terdapat 48,05%, dan SMA terdapat 28,84% yang belum memiliki kualifikasi pendidikan S1/D4 (Kustono, 2007).

Khusus untuk guru SMP – yang menjadi responden dalam penelitian ini,

menurut data tahun 2005 tersebut, guru SMP yang layak mengajar adalah

51,95%. Pada tahun pelajaran 2006 / 2007 ada peningkatan, dari 624.726 guru

SMP negeri dan swasta, yang layak mengajar adalah 487.512 guru atau 78,04%

(Statistik SMP-Depdiknas, http://www.depdiknas.go.id/statistik/0607/smp0607

/tbl_14i.pdf). Meningkatnya jumlah guru SMP yang layak mengajar tersebut

sebagai akibat dari tuntutan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor

74 Tahun 2008 tentang Guru, pasal 4 - 5 yang mensyaratkan sertifikasi dengan

kualifikasi akademik minimal S1 /D4. Persyaratan tersebut selain menjadikan

perekrutan guru baru dari lulusan jenjang pendidikan tersebut, juga mendorong

guru yang semula belum berijazah S1 / D4 melanjutkan pendidikannya ke

jenjang tersebut. Peningkatan kualifikasi akademik yang ditempuh melalui

proses pendidikan tersebut sudah seharusnya meningkatkan kemampuan guru.

Namun demikian, tidak serta-merta meningkatkan kinerjanya.

Permadi dan Dadi menemukan guru dalam menyikapi Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan (KTSP), setelah diberlakukan sejak tahun 2006 :

(13)

4

berbagai upaya untuk secara mandiri dari guru untuk berkreasi agar pengajaran di kelas menjadi lebih menarik dan menyenangkan, masih jauh dari harapan. Guru masih terlalu kaku dan takut untuk mengambil inisiatif karena pada zaman orde baru selalu karus “mohon petunjuk” dari yang lebih atas (kepala sekolah, pengawas, dan birokrat pemerintah) serta takut disalahkan jika memiliki suatu ide dalam inovasi pembelajaran (Permadi dan Arifin, 2007 : 63).

Sulistyo - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik

Indonesia (PGRI), dalam rangka peringatan Hari Guru Internasional, Minggu, 5

Oktober 2008, mengatakan bahwa kemampuan guru mempersiapkan

pembelajaran di kelas masih lemah, guru kurang memiliki gambaran apa yang

harus dilakukannya di kelas. Menurutnya, penting untuk menumbuhkan

kesadaran internal guru sendiri tentang perbaikan dan perubahan kinerja, guru

perlu mengetahui persis kewajiban dan penguasaan kompetensi secara maksimal.

Oleh karena itu menurutnya, persoalan peningkatan mutu guru tidak dapat

ditawar-tawar lagi, sudah mutlak harus dilakukan, tanpa peningkatan mutu guru,

upaya peningkatan kualitas pendidikan dan kucuran anggaran besar-besaran

sia-sia belaka. Sulistiyo mengemukakan semua ini didasarkan pada disertasi hasil

penelitiannya dengan menyebar kuesioner, observasi dalam kelas, wawancara

mendalam, serta tes psikologi mengenai kemampuan metakognisi guru dalam

mempersiapkan pembelajaran, yakni bagaimana guru merancang, memikirkan,

dan mengelola bahan ajar. (Mutu Guru Sudah Mutlak Pemerintah Harus Bantu

Memperluas Wawasan Guru.http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/06/

01035533/mutu.guru.sudah.mutlak).

Di kabupaten Majalengka sendiri, sampai saat ini belum ada hasil

(14)

5

yang research base. Penilaian kinerja guru yang resmi sendiri justru terselip

diantara aspek-aspek lain : (1) kesetiaan, (2) prestasi kerja, (3) tanggung jawab,

(4) ketaatan, (5) kejujuran, (6) kerjasama, (7) prakarsa, dan (8) kepemimpinan

dalam Daftar Penilaian Pekerjaan PNS (DP3). Aspek ke delapan tidak disertakan

untuk menilai guru, kecuali guru tersebut menjadi kepala sekolah. Instrumen yang

didasarkan pada PP Nomor 10 tanggal 15 Mei 1979, selain terlalu umum,

sehingga tidak sepenuhnya cocok untuk mengukur kinerja profesi tertentu

termasuk guru, tiap aspek yang dinilainya pun tidak memiliki parameter yang

jelas, sehingga peskorannya yang berkisar dari 0 - 100 untuk setiap aspek bisa

ditafsirkan secara berbeda. Padahal yang harus didahulukan sebelum melakukan

penilaian kinerja adalah mendefinisikan pekerjaan, yaitu menguraikan kewajiban

dan standar suatu pekerjaan (profesi), karena penilaian kinerja berarti

membandingkan antara kinerja pegawai sesungguhnya dengan standar pekerjaan

yang didefinisikan sebelumnya (Dessler, 2006 : 327). Dengan demikian, untuk

menilai atau mengukur kinerja mengajar guru diperlukan instrumen (format)

khusus yang sesuai dengan tuntutan (standar) profesional guru dalam

mengajarnya.

Secara umum, A. Dale Timple mengemukakan bahwa kinerja dipengaruhi

oleh faktor internal dan faktor eksternal (Mangkunegara, 2007 : 15). Beberapa

peneliti telah memilih faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi

kinerja guru sesuai dengan interest masing-masing. Hasil penelitian mereka

penulis pelajari sebagai bagian dari studi awal sebelum melakukan penelitian yang

(15)

6

Yang pertama adalah hasil penelitian Wuviani (2005) yang meneliti

kinerja guru dengan judul ”Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru”. Ia

membatasi faktor-faktor tersebut pada tiga variabel, yaitu (1) kualifikasi

pendidikan, (2) motivasi kerja guru, dan (3) kepemimpinan kepala sekolah.

Dengan populasi guru SMAN di kota Bandung, Wuviani menemukan, bahwa

ketiganya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru, dengan

rincian : (1) kualifikasi pendidikan sebesar 37,40%, (2) motivasi kerja guru

sebesar 45,20%, dan (3) kepemimpinan kepala sekolah sebesar 51,80%. Secara

bersama-sama ketiganya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja

guru sebesar 67,00%. Sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain.

Kemudian, Riduwan (2006) meneliti kinerja dosen dengan judul

”Kontribusi Kompetensi Profesional dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Dosen

(Studi pada Universitas Jendral Achmad Yani Kota Cimahi)”. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa kompetensi profesional secara signifikan memberikan

kontribusi sebesar 30,46%, dan moivasi kerja sebesar 61,94% terhadap kinerja

dosen. Secara simultan keduanya memberikan kontribusi terhadap kinerja dosen

secara signifikan sebesar 90,00%, dan sisanya sebesar 10,00% merupakan

pengaruh faktor lain.

Terakhir, Husdarta (2007 : 12 - 25) melakukan penelitian dengan judul

”Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru Pendidikan Jasmani”.

Berdasarkan teori yang dipelajarinya, ia menemukan bahwa untuk meningkatkan

kinerja guru harus mempertimbangkan faktor internal dan eksternal guru. Ia

(16)

7

supervisi, (2) kepemimpinan kepala sekolah, (3) fasilitas pembelajaran, (4)

kompetensi, dan (5) motivasi berprestasi. Dengan metode penelitian deskriptif,

teknik pengumpulan data kuesioner, sampel sebanyak 150 guru olah raga SD yang

ditarik melalui random sampling technique. Hasil penelitiannya menunjukkan

bahwa variabel-variabel tersebut mempengaruhi kinerja guru pendidikan jasmani

dengan besaran : (1) layanan supervisi 5,70%, (2) kepemimpinan kepala sekolah

17,20%, (3) fasilitas pembelajaran 6,10%, (4) kompetensi 13,90%, dan (5)

motivasi berprestasi 12,60%. Pengaruh kelima variabel secara bersama-sama

adalah 55,40%, sisanya 44,60% pengaruh dari variabel lain.

Terdapatnya hubungan yang signifikan antara berbagai variabel dengan

kinerja guru yang tercermin dalan judul-judul tesis dan desertasi para peneliti

tersebut, menunjukkan betapa banyaknya faktor yang mempengaruhi kinerja

mengajar guru.

Dua faktor atau variabel lain yang penulis duga memiliki hubungan yang

signifikan dengan kinerja mengajar guru adalah motivasi berprestasi guru dan

supervisi akademik kepala sekolah terhadap guru.

Motivasi berprestasi merupakan bagian dari motivasi kerja yang lebih

spesifik dengan karakteristik beroientasi pada keberhasilan, kesempurnaan,

kesungguhan dan keunggulan dalam melaksanakan pekerjaan. Penulis

memandang faktor tersebut sangat mengagumkan jika dimiliki oleh pegawai,

khususnya guru, dan penting dalam medukung kinerja mereka.

Supervisi merupakan upaya pembinaan agar semua faktor yang

(17)

8

menggiringnya menjadi potensi untuk bekerja secara profesional. Upaya ini

menjaga pegawai sehingga mereka tetap on the track. W. Edwards Deming, ahli

kualitas, menggarisbawahi pentingnya supervisi atau pengawasan sebagai bagian

dari manajemen mutu keseluruhan (total). Ia mengemukakan bahwa ”pada

dasarnya, kinerja karyawan lebih merupakan fungsi dari pelatihan, komunikasi,

alat, dan pengawasan . . . .” (Dessler, 2006 : 322). Aktivitas supervisi berupaya

untuk melakukan perbaikan yang terus menerus (continuous improvement),

pencapaian kualitas dan ketercapaian tujuan yang lebih baik (Dessler, 2006 : 323).

Jenis supervisi dalam dunia pendidikan disesuaikan dengan tujuan dan

sasarannya. Salah satunya adalah supervisi akademik yaitu supervisi pendidikan

yang berupaya untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran melalui

peningkatan kemampuan profesional guru (Satori, 2004 : 3). Supervisi akademik

yang dilakukan kepala sekolah penulis pandang penting karena merupakan

rangkaian dari aktivitas quality assurance dalam pendidikan. Penilaian terhadap

aktivitas supervisi akademik kepala sekolah secara kedinasan dilakukan oleh

pengawas sekolah, namun dalam penelitian ini, penulis mencoba meneliti

supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah ini berdasarkan persepsi guru

yang disupervisinya.

Dengan latar belakang masalah seperti yang dipaparkan di atas, penulis

melakukan penelitian yang berfokus pada kinerja guru dengan judul ”Kontribusi

Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah dan Motivasi

Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar Guru SMP Negeri di Kabupaten

(18)

9 B.IDENTIFIKASI DAN BATASAN MASALAH

Jika dirinci, banyak faktor yang mempengaruhi kinerja mengajar guru.

Faktor-faktor tersebut bisa bersumber dari diri guru itu sendiri (internal), dan

bersumber dari luar guru (eksternal).

Yang tergolong faktor internal guru antara lain :

1. Kesehatan

Yang tergolong faktor eksternal guru antara lain :

1. Kebijakan

Karena terbatasnya waktu dan dana, dalam penelitian ini penulis

membatasi masalahnya pada dua faktor internal guru yang mempengaruhi kinerja

mengajarnya, yaitu variabel motiovasi berprestasi guru dan variabel persepsi guru

tentang supervisi akademik kepala sekolah. Adapun guru dan kepala sekolah yang

dimaksudkan dalam kedua variabel tersebut adalah guru dan kepala SMP negeri di

kabupaten Majalengka.

Alasan untuk memilih variabel motivasi berprestasi guru SMP negeri di

kabupaten Majalengka adalah :

1. Belum terukurnya motivasi berprestasi guru SMP negeri dalam wilayah

(19)

10

2. Motivasi berprestasi guru merupakan kunci keunggulan guru, yang akan

berimbas pada keunggulan siswa, keunggulan sekolah dan keunggulan proses

dan produk pendidikan nasional.

Sedangkan alasan memilih variabel persepsi guru tentang supervisi

akademik kepala SMP negeri di kabupaten Majalengka adalah :

1. Kegiatan supervisi akademik merupakan rangkaian dalam penjaminan mutu

pendidikan, tapi sering terabaikan oleh kepala sekolah. Hal ini dibuktikan oleh

hasil penelitian Willis (Satori, 1989 : 100), yang menemukan bahwa kepala

sekolah menggunakan sebagian besar waktunya untuk mengerjakan pekerjaan

kantor dan menghadiri rapat-rapat yang sifatnya berisi masalah-masalah

administratif. Di negeri kita sendiri disinyalir bahwa pengawasan internal

kurang berjalan dengan baik, termasuk supervisi akademik yang dilakukan

kepala sekolah kepada guru. Hal ini dimuat dalam harian Radar Semarang :

”Secara teoritis kepala sekolah telah banyak menyusun perencanaan

supervisi guru di kelas, namun dengan dalih kesibukan tugas pokok lainnya

pelaksanaan supervisi belum banyak dilakukan” (Eriyadi, 2008).

2. Supervisi akademik merupakan salah satu dimensi standar kompetensi kepala

sekolah (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007

tentang Standar Kepala Sekolah / Madrasah, BSNP, 2007 b : 10, 18, 26) yang

perlu diketahui implementasinya.

3. Gurulah yang paling menyaksikan (melihat), mendengar, dan merasakan

sendiri bagaimana kepala sekolah melakukan supervisi akademik kepada

(20)

11

C. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah deskripsi empiris persepsi guru tentang perilaku supervisi

akademik kepala SMP negeri di kabupaten Majalengka?

2. Bagaimanakah deskripsi empiris motivasi berprestasi guru SMP negeri di

kabupaten Majalengka?

3. Bagaimanakah deskripsi empiris kinerja mengajar guru SMP negeri di

kabupaten Majalengka?

4. Berapa besar kontribusi persepsi guru tentang supervisi akademik kepala

sekolah terhadap kinerja mengajar guru SMP negeri di kabupaten Majalengka?

5. Berapa besar kontribusi motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar

guru SMP negeri di kabupaten Majalengka?

6. Berapa besar kontribusi persepsi guru tentang supervisi akademik kepala

sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru SMP

negeri di kabupaten Majalengka?

D. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui dan menganalisis deskripsi persepsi guru tentang perilaku

supervisi akademik kepala sekolah SMP negeri di kabupaten Majalengka.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis deskripsi motivasi berprestasi guru SMP

negeri di kabupaten Majalengka.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis deskripsi kinerja mengajar guru SMP

(21)

12

4. Untuk mengetahui dan menganalisis besarnya kontribusi persepsi guru tentang

supervisi akademik kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru SMP

negeri di kabupaten Majalengka.

5. Untuk mengetahui dan menganalisis besarnya kontribusi motivasi berprestasi

guru terhadap kinerja mengajar guru SMP negeri di kabupaten Majalengka.

6. Untuk mengetahui dan menganalisis besarnya kontribusi persepsi guru tentang

supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru secara

bersama-sama terhadap kinerja mengajar guru SMP negeri di kabupaten

Majalengka.

E. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat yang dihasilkan dari penelitian ini, setidak-tidaknya ada dua,

yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis menekankan manfaat penelitian ini dari segi ilmiah dalam

rangka pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu dapat memberikan sumbangan

terhadap khazanah pengembangan ilmu administrasi pendidikan khususnya fungsi

supervisi, dan perilaku organisasional pendidikan menyangkut motivasi

berprestasi dan kinerja mengajar guru.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah :

a. Dengan mengetahui deskripsi persepsi guru tentang supervisi akademik kepala

(22)

13

ketiga variabel tersebut bisa menjadi bahan masukan bagi dinas pendidikan

dalam menentukan kebijakan dan pembinaan pegawai, khususnya guru dan

kepala sekolah.

b. Dengan mengetahui besarnya kontribusi persepsi guru tentang supervisi

akademik kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru, maka stakeholders

pendidikan, khususnya kepala sekolah dan pengawas sekolah mendapat

masukan untuk mengarahkan dan membina guru dalam upaya peningkatan

mutu pembelajaran di sekolah yang dipimpin dan dibinanya.

c. Dengan mengetahui besarnya kontribusi motivasi berprestasi guru terhadap

kinerja mengajar guru, maka stakeholders pendidikan, khususnya kepala

sekolah dan pengawas sekolah bisa mengkondisikan terciptanya kinerja

mengajar guru yang prima.

d. Dengan mengetahui besarnya kontribusi persepsi guru tentang supervisi

akademik kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja

mengajar guru, maka stakeholders pendidikan, terutama departemen

(pemerintah pusat) dan dinas pendidikan (pemerintah daerah) bisa menentukan

kebijakan yang kondusif dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

F. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

1. Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah (X1)

Secara operasional persepsi guru tentang supervisi akademik kepala sekolah

dalam penelitian ini didefinisikan sebagai penafsiran atau pemahaman guru

(23)

14

supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan

mutu proses dan hasil pembelajaran terhadap guru SMP negeri di kabupaten

Majalengka. Persepsi guru berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang

didasarkan atas hasil pengamatan (persepsi) guru tentang aktivitas supervisi

akademik yang dilakukan atasannya, sehingga dimensi dan indikator dari

variabel ini adalah dimensi dan indikator dari supervisi akademik kepala

sekolah itu sendiri, yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.1.

Dimensi dan Indikator Supervisi Akademik Kepala Sekolah

DIMENSI INDIKATOR

Perencanaan supervisi akademik

Program perencanaan supervisi akademik Buku catatan supervisi akademik

Instrumen supervisi akademik Jadwal supervisi akademik Pelaksanaan supervisi akademik

Introduksi supervisi akademik

Penentuan sasaran supervisi akademik Teknik supervisi akademik

Kepemimpinan supervisi akademik Tindak lanjut supervisi akademik Pembinaan

Rewards dan Punishment

2. Motivasi Berprestasi Guru (X2)

Secara operasional motivasi berprestasi guru dalam penelitian ini didefinisikan

sebagai dorongan atau keinginan guru SMP negeri di kabupaten Majalengka

untuk mencapai kesuksesan, kesempurnaan bahkan keunggulan dalam

melaksanakan tugas atau pekerjaannya. Adapun dimensi dan indikator dari

(24)

15

Tabel 1.2.

Dimensi dan Indikator Variabel Motivasi Berprestasi Guru

DIMENSI INDIKATOR

Motif Berprestasi

(Dorongan atau keinginan untuk berprestasi)

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan harga diri Keinginan untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri Harapan Berprestasi (Usaha

3. Kinerja Mengajar Guru (Y)

Secara operasional kinerja mengajar guru dalam penelitian ini didefinisikan

sebagai jumlah dan mutu proses dan hasil kerja yang dicapai guru SMP negeri

di kabupaten Majalengka dalam melaksanakan tugas-tugas atau pekerjaan

mengajarnya. Adapun dimensi dan indikator dari variabel kinerja mengajar

guru dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 1.3.

Dimensi dan Indikator Variabel Kinerja Mengajar Guru

DIMENSI INDIKATOR Pelaksanaan Pembelajaran Pembukaan pelajaran

Proses Pembelajaran Penutupan pelajaran

Evaluasi Pembelajaran Evaluasi proses dan atau hasil pembelajaran siswa Evaluasi pembelajaran (KBM)

G. PARADIGMA PENELITIAN

Paradigma penelitian adalah pola pikir yang menunjukkan hubungan

(25)

16

2007 : 5). Sebelum sampai pada paradigma penelitian seperti yang dimaksud

Sugiyono, penulis jelaskan terlebih dahulu mengenai kerangka berpikir penulis

dalam penelitian ini : Kinerja mengajar guru merupakan praktek profesionalisme

guru dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan (nasional), melalui pembinaan

perilaku belajar siswa yang menentukan prestasi belajarnya. Prestasi belajar siswa

menggambarkan sejauh mana tujuan pendidikan telah dicapai. Tingkat

ketercapaian tujuan ini memberikan feedback kepada guru. Kinerja mengajar guru

itu sendiri tidak independen, melainkan dipengaruhi faktor lain yang secara garis

besarnya meliputi faktor internal guru dan faktor eksternal guru. Di antara faktor

internal dimaksud adalah faktor motivasi berprestasi guru, dan faktor persepsi

guru tentang supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah kepada guru

dalam me-manage sekolah. Kedua faktor internal guru yang mempengaruhi

kinerja mengajar guru, dan kaitannya dengan perilaku belajar siswa, prestasi

belajar siswa dan tujuan pendidikan tersebut dapat divisualisasikan dalam bagan

(26)

17

Bagan 1.1. Kerangka Berpikir

Adapun paradigma penelitian yang menunjukkan hubungan asosiatif antar

variabel dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Pertama, persepsi

guru tentang supervisi akademik kepala sekolah (X1) dihipotesiskan berkorelasi

dengan kinerja mengajar guru (Y). Analisis korelasinya menentukan besarnya

PERILAKU BELAJAR SISWA - Pengorganisasian (organizing) - Penggerakan (actuating)

- Pengkoordinasian (coordinating)

- Pengarahan (directing) 3. Tindak lanjut hasil supervisi akademik

(27)

18

koefisien korelasi (r, τ, ρ) X1Y yang diperlukan untuk menghitung besarnya

konribusi (KP) dari X1 terhadap Y. Kedua, motivasi berprestasi guru (X2)

dihipotesiskan berkorelasi dengan kinerja mengajar guru (Y). Analisis korelasinya

menentukan besarnya koefisien korelasi (r, τ, ρ) X2Y, yang diperlukan untuk

menghitung besarnya konribusi (KP) dari X2 terhadap Y. Ketiga, persepsi guru

tentang supervisi akademik kepala sekolah (X1)dihipotesiskan berkorelasi dengan

motivasi berprestasi guru (X2). Analisis korelasinya menentukan besarnya

koefisien korelasi (r, τ, ρ) X1X2 yang diperlukan untuk menghitung besarnya

konribusi (KP) dari X1 terhadap X2. Terakhir, keempat, secara simultan persepsi

guru tentang supervisi akademik kepala sekolah (X1) dan motivasi berprestasi

guru (X2)dihipotesiskan berkorelasi dengan kinerja mengajar guru (Y). Analisis

korelasi ganda ketiga variabel tersebut menentukan besarnya koefisien korelasi

ganda (R, M, ρ) X1X2Y, yang didasarkan pada besarnya koefisien korelasi X1X2,

X2Y dan X1X2. Koefisien korelasi ganda X1X2Y sendiri diperlukan untuk

menghitung besarnya kontribusi (KP) simultan dari X1 dan X2 terhadap Y.

Visualisasi paradigma asosiatif antara variabel X1, X2 dan Y yang diuraikan di

atas, ada pada bagan berikut :

Bagan 1.2

Paradigma Asosiatif antar Variabel Penelitian

(R, M, ρ) X1X2Y

KP X1X2Y

(r, τ, ρ) X1Y

KP X1Y

(r,τ,ρ) X1X2

KP X1X2

(r, τ, ρ) X2Y

KP X2Y

X1

X2

Y

(28)

19

Keterangan :

X1 =persepsi guru tentang supervisi akademik kepala sekolah

X2 =motivasi berprestasi guru

Y = kinerja mengajar guru r,τ,ρ = koefisien korelasi sederhana

R, M = koefisien korelasi ganda (multiple) KP = koefisien penentu (determinan)

ε

= epsilon

H. ANGGAPAN DASAR

1. A. Dale Timple mengemukakan bahwa kinerja dipengaruhi oleh faktor internal

dan faktor eksternal. Faktor internal (disposisional) yaitu faktor yang

dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang, misalnya kemampuan dan sifat keras

dalam bekerja. Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang berasal dari

lingkungan, seperti perilaku, sikap dan tindakan rekan kerja, bawahan atau

pimpinan, fasilitas kerja dan iklim organisasi (Mangkunegara, 2007 : 15).

2. Persepsi itu penting dalam studi perilaku organisasi karena perilaku manusia

didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada, bukan

mengenai realitas itu sendiri. Dunia seperti yang dipersepsikan adalah dunia

yang penting dari segi perilaku (Robbins, 2007 : 170).

3. ”The end result of supervisory effort is improved student behavior or learning.

While instructional supervision seldom impacts directly on student behavior, it

contributes to this ultimate goal of the organization through its influence on

teacher behavior . . .” (Alfonso et al., 1981 : 45). Dewasa ini di negara kita

(29)

20

4. ”Motif berprestasi sangat berpengaruh terhadap unjuk kerja (performance)

seseorang . . . ” (Uno, 2007 : 30).

I. HIPOTESIS

Rumusan masalah yang telah dikemukakan di muka dijawab dengan

hipotesis kerja atau alternatif (Ha) sebagai berikut :

1. Persepsi guru tentang supervisi akademik kepala sekolah memberikan

kontribusi yang signifikan terhadap kinerja mengajar guru SMP negeri di

kabupaten Majalengka.

2. Motivasi berprestasi guru memberikan kontribusi yang signifikan terhadap

kinerja mengajar guru SMP negeri di kabupaten Majalengka.

3. Persepsi guru tentang supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi

berprestasi guru secara simultan memberikan kontribusi yang signifikan

terhadap kinerja mengajar guru SMP negeri di kabupaten Majalengka.

J. METODE PENELITIAN

Karena enam rumusan masalah yang telah dikemukakan memiliki

karakteristik :

1. Menunjuk pada suatu populasi dan sampel (guru SMP negeri di kabupaten

Majalengka),

2. Bermaksud untuk menentukan suatu generalisasi (sekabupaten Majalengka),

3. Memerlukan data kuantitatif dengan analisis kuantitatif (statistika) dengan

(30)

21

4. Tidak meneliti peristiwa baik yang telah terjadi (ex post facto), maupun yang

berlangsung di masa lalu (sejarah),

5. Tidak memerlukan kelompok kontrol dan tidak dikontrol dengan ketat

(eksperimen),

6. Bukan mengenai kebijakan administrator pada suatu organisasi pendidikan

(policy research),

7. Tidak bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang paling efisien

(action research), dan

8. Bukan merupakan evaluasi dari suatu program,

maka metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.

K. POPULASI DAN DAN SAMPEL PENELITIAN

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah guru SMP negeri di

kabupaten Majalengka, baik PNS maupun non PNS. Jumlahnya menurut data

yang diperoleh dari Disdikbudpora Kabupaten Majalengka pada bulan Juli 2009

adalah sebanyak 1954 guru.

Alasan penulis sehingga menggunakan guru sebagai populasi dalam

penelitian ini adalah :

1. Penelitian ini berjudul ”Kontribusi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik

Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar

Guru SMP Negeri di Kabupaten Majalengka”. Jadi secara eksplisit tertuju

(31)

22

2. Guru adalah orang yang langsung melihat, mendengar, dan merasakan

(mengalami) bagaimana kepala sekolah melakukan supervisi akademik kepada

dirinya. Dengan kata lain, guru adalah orang yang dapat memotret pelaksanaan

supervisi akademik yang dilakukan atasannya.

3. Guru adalah orang yang paling tahu tentang kondisi psikologis dirinya,

termasuk motivasi berprestasi yang dimilikinya.

4. Guru adalah orang yang melaksanakan kegiatan mengajar, karena itu guru pula

yang paling tahu kinerja mengajarnya.

5. Guru adalah profesional yang telah mendalami evaluasi pendidikan dan

senantiasa obyektif dalam mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa. Mereka

pun penulis asumsikan akan konsisten dengan sikap obyektifitasnya ketika

harus mengungkapkan pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan kepala

sekolah, dan mengungkapkan motivasi berprestasi serta kinerja mengajar

dirinya sendiri.

6. Dipilihnya guru SMP negeri di kabupaten Majalengka berkaitan dengan salah

satu satuan pendidikan yang menjadi perhatian penulis sebagai pengawas

satuan pendidikan menengah yang di lingkungan Dinas Pendidikan

Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disdikbudpora) Kabupaten Majalengka

meliputi SMP, SMA dan SMK. Dalam hal ini penulis berharap hasil penelitian

ini bermanfaat bagi pengawas pendidikan menengah dan dinas pendidikan

(32)

23

Karena jumlah populasi yang besar, penulis tidak menggunakan

seluruhnya, melainkan menggunakan sampel yang merepresentasikan populasi.

(33)

102 BAB III

METODE PENELITIAN

A.METODE PENELITIAN

”Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk

mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu” (Sugiyono, 2006 : 1).

Dikatakan cara ilmiah berarti penelitian harus didasarkan pada karakteristik

keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis, sehingga data yang didapatkan

obyektif, reliabel dan valid. Hasilnya berguna untuk memahami dan memecahkan

masalah. Enam masalah yang perlu dipecahkan, paralel dengan tujuan

pemecahannya telah dirumuskan dalam Bab I. Sebagai cara untuk memecahkan

masalah, Sugiyono (2006 : 4 - 20) membagi jenis penelitian (1) menurut

tujuannya menjadi penelitian murni dan penelitian terapan, (2) menurut

metodenya menjadi penelitian survey, penelitian ex post facto, penelitian

eksperimen, penelitian naturalistik, policy research, action research, penelitian

evaluasi, dan penelitian sejarah, (3) menurut tingkat eksplanasi menjadi penelitian

deskriptif, penelitian komparatif, dan penelitian asosiatif, dan (4) menurut jenis

data dan analisisnya menjadi penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif dan

gabungannya.

Dengan menggunakan visi Sugiyono, maka penelitian yang penulis

lakukan dengan judul ”Kontribusi Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik

Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru

(34)

103

1. Menurut tujuannya, seperti yang dikemukakan pada Bab I, penelitian ini

memiliki manfaat atau keguanaan teoritis (murni) dan praktis (terapan). Gay

(Sugiyono, 2006 : 6) menyatakan bahwa sebenarnya sulit membedakan antara

penelitian murni dan terapan, karena keduanya terletak pada satu garis

kontinum.

2. Menurut metode penelitiannya, seperti dikemukakan dam Bab I, penelitian ini

tergolong penelitian survey. Menurut Kerlinger penelitian survey adalah

penelitian yang dilakukan pada populasi dengan mempelajari sampel dari

populasi tersebut sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan

hubungan antar variabel, baik sosiologis maupun variabel psikologis

(Sugiyono, 2006 : 7). Menurut David Kline (Sugiyono (2006 : 7) penelitian

dengan metode ini pada umumnya dilakukan untuk mengambil suatu

generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam. Walaupun tidak

memerlukan kelompok kontrol seperti halnya dalam metode penelitian

eksperimen, generalisasi yang dilakukan bisa lebih akurat bila sampelnya

representatif.

3. Menurut tingkat eksplanasinya, penelitian ini tergolong asosiatif. Menurut

Sugiyono (2006 : 11) penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan

untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan penelitian

ini dapat dibangun suatu teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan

mengontrol suatu gejala. Sebelum melakukan analisis korelasi antar variabel

pada tingkat asosiatif, penelitian ini pun menjelaskan tiap variabelnya secara

(35)

104

dan 3 pada Bab I. Dengan demikian tingkat eksplanasi penelitian yang penulis

lakukan sekaligus deskriptif, karena penelitian deskriptif adalah penelitian

yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel tanpa membandingkan atau

menghubungkannya dengan variabel lain (Sugiyono (2006 : 11).

4. Menurut jenis data dan analisisnya, penelitian ini secara umum menggunakan

data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data

kualitatif yang diangkakan (Sugiyono, 2006 : 14). Kuantifikasi pada penelitian

ini terjadi saat skoring dalam skala pengukuran alternatif jawaban angket.

Dengan demikian, secara keseluruhan, metode penelitian yang benar untuk

digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode survey.

B.POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 1. Populasi

”Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2006 : 90). Sesuai

dengan alasan yang dikemukakan dalam Bab I, penulis menetapkan populasi

dalam penelitian ini adalah semua guru SMP negeri di kabupaten Majalengka,

baik PNS maupun non PNS. Sampai Juli 2009 ada 63 SMP di kabupaten

Majalengka yang telah resmi berstatus negeri. Adapun jumlahnya menurut data

yang diperoleh dari Disdikbudpora Kabupaten Majalengka pada bulan Juli 2009,

dari ke-63 SMP negeri terdapat 1954 guru, dengan rincian per sekolah terlihat

(36)

105

Tabel 3.1.

Populasi Guru SMP Negeri Kabupaten Majalengka

NO SMP NEGERI GURU JML NO SMP NEGERI GURU JML

Karena populasinya cukup besar (1954 guru), ditambah keterbatasan dana,

(37)

106

adalah bagian dari jumah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”

(Sugiyono, 2006 : 91).

Seperti dikemukakan dalam tinjauan teoritis Bab II bahwa kinerja

mengajar guru, motivasi berprestasi guru, dan persepsi guru tentang supervisi

akademik kepala sekolah dipengaruhi banyak faktor, baik yang berada di dalam

maupun di luar sekolah tempat guru bertugas. Oleh karena itu, dipandang perlu

untuk mengelompokkan sekolah menurut kesamaan kondisi atau karakteristik di

dalam dan di luarnya.

Pertama, yang dimaksud dengan pengelompokkan berdasarkan

karakteristik di dalamnya adalah pengelompokkan atau klasifikasi sekolah

menurut kesamaannya dalam kemampuan mengimplementasikan standar nasional

pendidikan yang menyangkut kurikulum, proses pembelajaran, kompetensi

lulusan, penilaian, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan

pembiayaan. Dengan kata lain klasifikasi ini didasarkan nilai akreditasi sekolah.

Menurut data yang diperoleh bulan Juli 2009 dari UPA (Unit Pelaksana

Akreditasi) Kabupaten Majalengka dan Disdikbudpora Kabupaten Majalengka,

semua SMP negeri (63 sekolah) di kabupaten Majalengka sudah diakreditasi,

dengan nilai A dan B. Klasifikasi menurut nilai akreditasi yang diperolehnya

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2.

Klasifikasi SMP Negeri Kabupaten Majalengka Menurut Nilai Akreditasi

NO

SMP NEGERI DENGAN NILAI AKEDITASI A

NO

SMP NEGERI DENGAN DENGAN NILAI AKEDITASI B

(38)

107

2 SMPN 2 Banjaran 2 SMPN 2 Argapura

3 SMPN 2 Bantarujeg 3 SMPN 1 Bantarujeg

4 SMPN 1 Cikijing 4 SMPN 1 Cigasong

Kedua, yang dimaksud dengan pengelompokkan menurut karakteristik di

luar sekolah adalah klasifikasi menurut kondisi daerah tempat sekolah berada,

yang didasarkan pada (1) aksesibilitas guru ke tempat kerjanya (ketersediaan

jalan, dan alat transportasi umum), dan (2) dukungan sarana-prasarana penunjang

pembelajaran (toko buku, ATK, layanan fotocopy, dll.). Berdasarkan hasil diskusi

dengan pengawas satuan pendidikan menengah (SMP, SMA dan SMK)

Disdikbudpora kabupaten Majalengka, diperoleh klasifikasi SMP negeri

(39)

108

Tabel 3.3.

Klasifikasi SMP Negeri Kabupaten Majalengka Menurut Kondisi Daerah

Kelompok Stratum dan Jumlah Gurunya

a. Kelompok SMPN daerah kota dengan nilai akreditasi A

b. Kelompok SMPN daerah kota dengan nilai akreditasi B

1 SMPN 1 Cikijing 43 1 SMPN 2 Majalengka 58

2 SMPN 1 Jatitujuh 34 2 SMPN 1 Palasah 30

3 SMPN 1 Jatiwangi 56 3 SMPN 1 Rajagaluh 37

(40)

109

c. Kelompok SMPN daerah transisi dengan nilai akreditasi A

d. Kelompok SMPN daerah transisi dengan nilai akreditasi B

e. Kelompok SMPN daerah pedesaan dengan nilai akreditasi A

f. Kelompok SMPN daerah pedesaan dengan nilai akreditasi B

Agar sampel yang diambil dari populasi itu benar-benar representatif dan

dapat meminimalisir sampling error, pengambilan sampel harus dilakukan dengan

(41)

110

Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu

probability sampling dan nonprobability sampling. Probability sampling meliputi

: simple random sampling, proportionate stratified random sampling,

disproportione stratified random sampling, dan area (cluster) random sampling.

Sedangkan nonprobability sampling meliputi : sampling sistematis, sampling

kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball

sampling (Sugiyono, 2006 : 93).

Dengan karakteristik sekolah tempat guru bekerja yang berstrata seperti

dijelaskan di atas, maka pengambilan sampelnya menggunakan teknik

proportionate stratified sampling. Penarikan sampel dengan teknik tersebut

dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menghitung sampel keseluruhan dengan rumus Taro Yamane, yang digunakan

untuk menghitung sampel dari populasi yang sudah diketahui jumlahnya

n . . N = jumlah populasi, dan d = tingkat presisi. Dengan N =

1954 dan presisi sebesar 5%, maka sampel keseluruhannya adalah : n

, = , , , 332,0306 ≈

333 guru atau responden.

2. Menghitung sampel per stratum

Dengan menggunakan rumus n n.

ni = jumlah sampel proporsional per stratum

Ni = jumlah populasi per stratum

N = jumlah populasi

n = jumlah sampel keseluruhan

(42)

111

Hasilnya terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 3.5.

3. Menghitung sampel per sekolah

Karena jumlah guru tiap sekolah tidak merata, maka untuk menentukan

sekolah yang gurunya jadi sampel, dilakukan pengundian sekolah untuk tiap

stratum sampai jumlah guru dari sekolah-sekolah tersebut memenuhi jumlah

sampel stratum terkait. Jika sampel suatu stratum tercukupi oleh satu sekolah

terundi, dengan jumlah guru yang sesuai maka jumlah itu yang digunakan, jika

lebih maka sisanya tak diambil. Jika sampel suatu stratum baru tercukupi oleh

lebih dari satu sekolah terundi, dan jumlah keseluruhannya lebih dari sampel

stratum tersebut, maka jumlah sampel tiap sekolah terundi dari stratum tersebut

(43)

112

tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 3.6.

Untuk kepentingan analisis lebih lanjut yang berkaitan dengan karakteristik guru

(jenis kelamin, tingkat pendidikan, mata pelajaran, staus kepegawaian, masa kerja,

dan pangkat / golongan gaji), angket akan disebar ke semua jumlah guru SMP

(44)

113

C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Untuk keperluan pengumpulan data, penulis menggunakan teknik-teknik

berikut :

1. Studi Dokumenter

Studi dokumenter diartikan sebagai usaha untuk memperoleh data dengan

jalan menelaah catatan-catatan yang disimpan sebagai dokumen atau files. Teknik

ini ditempuh untuk memperoleh data-data mengenai jumlah guru dan nilai

akreditasi SMP negeri di kabupaten Majalengka.

2. Studi Pustaka

Studi pustaka diartikan sebagai teknik untuk memperoleh data atau

informasi dari berbagai tulisan ilmiah baik cetak maupun elektronik yang

menunjang penelitian dan bahasan tesis ini. Teknik ini ditempuh untuk

memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang diteliti,

terutama dalam menentukan arah, metoda dan landasan teoritis penelitian.

3. Wawancara

Wawancara atau lebih tepatnya diskusi diartikan untuk memperoleh data

secara face to face dengan orang yang mengetahui informasi yang diperlukan.

Yang dalam hal ini adalah para Pengawas Dikmen Disdikbudpora Kabupaten

Majalengka. Dikatakan diskusi karena penulis sendiri merupakan pengawas dari

unit kerja tersebut, ikut terlibat mengajukan pendapat. Teknik ini ditempuh untuk

mendapatkan data mengenai kondisi daerah tempat sekolah berada dalam rangka

stratifikasi populasi, mengingat belum ada pemetaan sekolah (SMP) menurut

(45)

114 4. Angket (Kuesioner)

Kuesioner atau angket pada dasarnya adalah suatu daftar pertanyaan yang

disusun secara tertulis untuk diisi responden. Ditinjau dari cara menjawabnya,

angket dibagi dua, yaitu angket terbuka dan angket tertutup. Angket terbuka

adalah angket yang disusun sedemikian rupa sehingga responden bebas

mengemukakan pendapatnya atau jawabannya, sedangkan angket tertutup adalah

angket yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban sehingga responden

tinggal menadai salah satu pilihan yang paling sesuai dengan pendapat atau

keadaannya. Dalam penelitian ini digunakan hanya angket tertutup. Teknik ini

ditempuh untuk mengukur variabel penelitian.

Berbeda dengan teknik pengumpulan data pertama, kedua dan ketiga yang

tidak memerlukan persiapan yang berarti, teknik pengumpulan data yang ketiga

yaitu angket, memerlukan serangkaian kegiatan untuk menyusunnya sampai bisa

digunakan sebagai instrumen penelitian.

D. PENYUSUNAN ANGKET

Angket dalam penelitian ini merupakan instrumen penelitian yang utama.

Sebagai alat ukur variabel, sesuai dengan jumlah variabelnya penelitian ini

menggunakan tiga angket. Ketiga angket merupakan angket tertutup yang

diformat menjadi dua bagian namun disajikan kepada responden dalam kemasan

satu set.

Bagian pertama adalah item (pernyataan) yang berupa perilaku hasil

(46)

langkah-115

langkah (1) identifikasi variabel-variabel yang terdapat dalam judul penelitian, (2)

penjabaran variabel menjadi sub-sub variabel atau dimensi-dimensi, (3)

penjabaran sub variabel atau dimensi menjadi indikator-indikator, (4) penjabaran

indikator menjadi deskriptor-deskriptor, dan (5) perumusan deskriptor menjadi

item atau butir-butir instrumen (Riduwan, 2007 b : 32 - 55). Butir-butir instrumen

tersebut merupakan operasionalisasi spesifikasi atau operasionalisasi dari teori

masing-masing variabel yang diuraikan pada Bab II, dan telah didefinisikan secara

operasional sampai pada dimensi dan indikatornya pada Bab I.

Bagian kedua adalah jawaban terhadap item angket (bagian satu), yang tak

lain merupakan skala untuk mengukur item. Skala pengukuran ”merupakan

kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya

interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan

dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif” (Sugiyono, 2006 : 105).

Terdapat beberapa skala pengukuran, antara lain : skala nominal yang akan

menghasilkan data nominal, skala ordinal yang akan menghasilkan data ordinal,

skala interval yang akan menghasilkan data interval, dan skala rasio yang akan

menghasilkan data rasio (Sugiyono, 2006 : 106).

Riduwan dan Akdon (2007 : 11 - 15) menjelaskan keempat sekala tersebut.

Menurut mereka, skala nominal adalah skala yang paling sederhana, disusun

berdasarkan jenis atau katagori. Contoh data nominal, misalnya katagori warna

kulit : 1 hitam, 2. kuning, dan 3. putih. Angka dalam skala nominal hanya simbol

bilangan untuk membedakan satu karakteristik dengan karakteristik lainnya. Skala

(47)

116

tertingi sampai terendah atau sebaliknya. Contoh data ordinal misalnya data

mengenai kejuaraan olah raga, kepangkatan militer dan sebagainya. Skala interval

adalah skala yang menunjukkan jarak antara satu data dengan data lain dengan

bobot yang sama. Misalnya mengenai waktu : menit, jam, hari. Kemudian skor

ujian : A, B, C dan D. Ada jarak dari skor berapa sampai skor berapa yang

tergolong A, dan seterusnya. Skala rasio adalah skala pengukuran yang

mempunyai nilai nol mutlak (tidak pernah negatif) dan mempunyai jarak yang

sama. Misalnya mengenai umur dan timbangan. Berkaitan dengan analisis

statistik, data nominal dan data ordinal dianalisis dengan statistik non parametrik,

sedangkan data interval dan data rasio dianalisis dengan statistik parametrik.

Untuk mengukur gejala sosial, yang terdiri dari (1) perilaku dan

kepribadian, dan (2) aspek budaya dan lingkungan sosial, lebih banyak

menggunakan skala interval. Sesuai dengan variabel yang akan diukur, yaitu

berupa perilaku manusia dalam organisasi sekolah, penelitian ini menggunakan

skala interval. Menurut Sugiyono (2006 : 106), skala interval yang sering

digunakan dalam mengukur perilaku sosial dan kepribadian adalah skala sikap,

skala moral, skala partisipasi sosial, dan tes karakter (Sugiyono, 2006 : 106).

Dalam penelitian ini digunakan skala sikap. Skala sikap yang banyak dikenal

antara lain (1) skala Likert, (2) skala Guttman, (3) skala semantic differential, (4)

rating scale, dan (5) skala Thurstone (Sugiyono, 2006 : 107, Riduan dan Akdon,

2007 : 16).

Berkaitan dengan aneka jenis skala sikap, jawaban yang disediakan dalam

(48)

117

menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat

negatif” (Sugiyono, 2006 : 107). Dalam hal ini, penulis menyusunnya berdasarkan

frekuensi. Terdiri dari lima opsi kontinum (gradasi), bergerak dari frekuensi tinggi

ke frekuensi rendah untuk dipilih responden (guru) : (1) SS = Sangat Sering, (2) S

= Sering, (3) KK = Kadang-Kadang, (4) J = Jarang, dan (5) TP = Tidak Pernah.

Adapun kisi-kisi angket, sesuai dengan variabel yang diukurnya adalah

sebagai berikut :

1. Kisi-kisi Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah

Tabel 3.7.

Kisi-kisi Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah

(49)

118

2. Kisi-kisi Angket Motivasi Berprestasi Guru

Tabel 3.8.

Kisi-kisi Angket Motivasi Berprestasi Guru

VARIABEL DIMENSI INDIKATOR DESKRIPTOR ITEM NO JML %

Keinginan menjadi guru 1, 2, 3

Insentif Insentif intrinsik Enjoyment menjadi guru 22, 23

2 8,3

Dedikasi 24 1 4,225

(50)

119 3. Kisi-kisi Angket Kinerja Mengajar Guru

Tabel 3.9

Kisi-kisi Angket Kinerja Mengajar Guru

(51)

120

1. Penyebaran Angket Uji Coba

Dengan mengantongi surat dari Direktur SPS UPI Bandung Nomor : 026 /

H40.7 / PL / 2009 tanggal 06 Januari 2009 perihal permohonan izin mengadakan

studi lapangan / penelitian (Lampiran 11), dan Surat Izin Kepala Disdikbudpora

Kabupaten Majalengka Nomor : 070 / 162 Disdikbudpora tentang survey, riset

dan penelitian, tanggal 14 Januari 2009 (Lampiran 12), pada pertengahan bulan

Juli 2009 penulis melakukan penyebaran angket ujicoba ke 30 responden di

SMPN 1 Panyingkiran.

2. Jawaban Responden Angket Uji Coba

Untuk kepentingan analisis, jawaban kualitatif ketigapuluh responden

terhadap angket uji coba dikuantifikasi. SS (Sangat Sering) = 5, S (Sering) = 4,

KK (Kadang-Kadang) = 3, J (Jarang) = 2, dan TP (Tidak Pernah) = 1. Hasilnya

(52)

121 3. Uji Validitas dan Reliabilitas Angket Uji Coba

Untuk pengujian validitas dan reliabilitas, SPSS 12 (Pratisto, 2005 : 241 -

257) menawarkan repetitive measuremen method dan one shot method. Penulis

memilih one shot method (internal consistency), yang di dalamnya untuk

pengujian validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment (Sugiyono,

2006 : 142) : Σ

Σ Σ .

dan untuk reliabilitas menggunakan metode Alpha (Cronbach) :

!

Penghitungan dengan SPSS 12 dilakukan melalui langkah-langkah seperti

berikut ini :

1).Memasukan jawaban responden (angket uji coba) yang ada pada Lampiran 1 ke dalam halaman kerja SPSS. (Tiap varibel diproses sampai langkah lima), 2).Mengklik menu Analize, pilih Scale, Reliability, sehingga membuka tab

Reliability Analysis,

3).Menindahkan semua item instrumen ke kolom Item, pada kotak Model memilih Alpha (Alpha Cronbach),

4).Mengklik Statistic sehingga membuka tab Reliability Analysis : Statistic, kemudian mengklik Item, Scale, dan Scale of deleted pada bagian

Descriptives.

5).Mengklik Continue, lalu mengklik OK (Pratisto, 2005 : 249 - 257).

(53)

122

Hasilnya per variabel adalah sebagai berikut :

a. Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah (X1)

1). Output

a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

(54)

123

Item2 59,133 378,533 ,742 ,972

Item3 59,100 377,541 ,764 ,972

Item4 59,167 373,937 ,809 ,972

Item5 59,267 375,789 ,758 ,972

Item6 59,767 376,254 ,773 ,972

Item7 59,833 374,833 ,841 ,971

Item8 59,700 376,148 ,811 ,972

Item9 59,767 381,151 ,802 ,972

Item10 59,733 379,926 ,814 ,972

Item11 59,700 380,079 ,819 ,972

Item12 59,967 372,585 ,795 ,972

Item13 59,300 385,803 ,771 ,972

Item14 59,467 392,326 ,566 ,973

Item15 60,200 373,269 ,787 ,972

Item16 60,300 368,976 ,835 ,971

Item17 60,767 376,461 ,790 ,972

Item18 60,367 381,068 ,764 ,972

Item19 60,233 379,702 ,771 ,972

Item20 60,167 373,799 ,834 ,971

Item21 60,500 375,155 ,743 ,972

Item22 60,533 381,361 ,709 ,972

Item23 59,933 380,271 ,771 ,972

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

62,533 412,533 20,3109 23

2). Interpretasi

r hitung dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation pada

tabel Item-Total Statistics. r tabel pada α = 0,05 dengan derajat kebebasan

df = 21 (df = n-2 = 23 -2 = 21), pada uji satu arah = 0,2774. Jika r hitung

positif dan r hitung > r tabel maka butir tersebut valid. Jika r hitung negatif atau r

(55)

124

3). Validitas

Tabel 3.10. Validitas Item-item

Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah

No Item

Corrected Item-Total Correlation (r hitung)

r tabel Validitas

Koefisien reliabilitas tiap item dapat dilihat pada kolom Cronbach's

Alpha if Item Deleted pada tabel Item-Total Statistics. Untuk

menentukan reliabilitas, terlebih dahulu harus membuang nomor item yang

tidak valid, kemudian dilakukan proses penghitungan ulang, dengan hanya

(56)

125

semuanya valid, maka proses tersebut tak usah dilakukan. Kemudian jika r

Alpha positif dan r Alpha > r tabel maka reliabel. Jika r Alpha negatif atau r Alpha <

r tabel maka tidak reliabel. r Alpha merupakan perhitungan akhir analisis

koefisien reliabilitas yang dapat dilihat pada kolom Cronbach's Alpha

tabel Reliability Statistics, yaitu sebesar 0,973. Angka ini menunjukan

positif dan lebih besar dari r tabel (0,2774). Jadi angket ini reliabel.

5). Kesimpulan

Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah

sebanyak 23 item valid dan reliabel, tak perlu direvisi dan layak digunakan

untuk penelitian.

b. Angket Motivasi Berprestasi Guru (X2)

1). Output

a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

(57)

Figur

Tabel 1.1.

Tabel 1.1.

p.23
Tabel 1.3.

Tabel 1.3.

p.24
Tabel 3.1. Populasi Guru SMP Negeri Kabupaten Majalengka

Tabel 3.1.

Populasi Guru SMP Negeri Kabupaten Majalengka p.36
Tabel 3.2. Klasifikasi SMP Negeri Kabupaten Majalengka

Tabel 3.2.

Klasifikasi SMP Negeri Kabupaten Majalengka p.37
Tabel 3.4. Kelompok Stratum dan Jumlah Gurunya

Tabel 3.4.

Kelompok Stratum dan Jumlah Gurunya p.39
Tabel 3.5. Sampel Per Stratum

Tabel 3.5.

Sampel Per Stratum p.42
Tabel 3.6. Sampel Per Sekolah Terundi

Tabel 3.6.

Sampel Per Sekolah Terundi p.43
Tabel 3.7. Kisi-kisi Angket  Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah

Tabel 3.7.

Kisi-kisi Angket Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah p.48
Tabel 3.8. Kisi-kisi Angket  Motivasi Berprestasi Guru

Tabel 3.8.

Kisi-kisi Angket Motivasi Berprestasi Guru p.49
Tabel 3.9 Kisi-kisi Angket  Kinerja Mengajar Guru

Tabel 3.9

Kisi-kisi Angket Kinerja Mengajar Guru p.50
tabel Item-Total Statistics. r tabel pada α = 0,05 dengan derajat kebebasan

tabel Item-Total

Statistics. r tabel pada α = 0,05 dengan derajat kebebasan p.54
Tabel 3.10. Validitas Item-item

Tabel 3.10.

Validitas Item-item p.55
tabel Reliability Statistics, yaitu sebesar 0,973. Angka ini menunjukan

tabel Reliability

Statistics, yaitu sebesar 0,973. Angka ini menunjukan p.56
Tabel 3.11. Validitas Item-item Angket Motivasi Berprestasi Guru 1

Tabel 3.11.

Validitas Item-item Angket Motivasi Berprestasi Guru 1 p.58
Tabel 3.12.  Validitas Item-item Angket Motivasi Berprestasi Guru 2

Tabel 3.12.

Validitas Item-item Angket Motivasi Berprestasi Guru 2 p.60
tabel Reliability Statistics, yaitu sebesar 0,907. Angka ini menunjukan

tabel Reliability

Statistics, yaitu sebesar 0,907. Angka ini menunjukan p.61
tabel Item-Total Statistics. r tabel pada α = 0,05 dengan derajat kebebasan

tabel Item-Total

Statistics. r tabel pada α = 0,05 dengan derajat kebebasan p.65
Tabel 3.13. Validitas Item-item Angket Kinerja Mengajar Guru

Tabel 3.13.

Validitas Item-item Angket Kinerja Mengajar Guru p.66
tabel Reliability Statistics, yaitu sebesar 0,989. Angka ini menunjukan

tabel Reliability

Statistics, yaitu sebesar 0,989. Angka ini menunjukan p.68
Tabel 3.14. Pengurangan dan Penomoran Ulang Angket Hasil Revisi

Tabel 3.14.

Pengurangan dan Penomoran Ulang Angket Hasil Revisi p.69
Tabel 3.15. Rekapitulasi Jumlah Angket yang Disebar, yang Terkumpul

Tabel 3.15.

Rekapitulasi Jumlah Angket yang Disebar, yang Terkumpul p.71
Tabel 3.16. Katagori Kondisi Skor Jawaban Responden

Tabel 3.16.

Katagori Kondisi Skor Jawaban Responden p.73
Tabel 3.17. Penolong untuk Menghitung

Tabel 3.17.

Penolong untuk Menghitung p.75
tabel untuk derajat kebebasan (dk) = jumlah kelas interval - 1 = 5, dengan

tabel untuk

derajat kebebasan (dk) = jumlah kelas interval - 1 = 5, dengan p.76
Tabel 3.20. Intensitas Korelasi

Tabel 3.20.

Intensitas Korelasi p.78
Tabel 3.21. Penolong untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kendall Tau antara

Tabel 3.21.

Penolong untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kendall Tau antara p.79
Tabel 3.22. Penolong untuk Menghitung Korelasi Ganda Kendall Tau

Tabel 3.22.

Penolong untuk Menghitung Korelasi Ganda Kendall Tau p.83
Tabel 3.23. Interpretasi Kontribusi

Tabel 3.23.

Interpretasi Kontribusi p.86

Referensi

Memperbarui...