• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usulan Perbaikan Lingkungan Kerja pendekatan Metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) pada CV Mulia Tata Sejahtera

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Usulan Perbaikan Lingkungan Kerja pendekatan Metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) pada CV Mulia Tata Sejahtera"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Usulan Perbaikan Lingkungan Kerja Pendekatan Metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) pada CV Mulia Tata Sejahtera

Ramdhan Estu Nugroho1*, Dene Herwanto2, Devani Tiara Catur Anggraini3

1,2,3Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Singaperbangsa Karawang, Indonesia

*Koresponden email: [email protected]

Diterima: 2 Desember 2022 Disetujui: 16 Desember 2022

Abstract

The work environment can be interpreted as the overall work environment, where people carry out their work activities, how they work, and the impact of their work. Therefore, it can be ascertained that the work environment greatly influences the production process in a job, but the work environment owned by CV Mulia Tata Sejahtera is still considered not optimal so as to affect productivity. Therefore, an analysis was carried out using the 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) method to optimize the work environment to be more efficient and increase productivity because the 5S concept has proven to be effective in producing a good work environment and can improve creating a good work environment and increase productivity. Based on data processing, a score of 44 out of 90 or 48.89% was obtained, so it was stated that the work environment at CV Mulia Tata Sejahtera was in a bad condition, then improvements were made to work environment conditions to increase the score to reach a good or even very good category. As for some further suggestions for future research, including increasing references regarding the 5S method, it is suggested to use other methods.

Keywords: improvement, work environment, optimal, productivity, 5S method

Abstrak

Lingkungan kerja dapat diartikan sebagai lingkungan kerja secara keseluruhan, tempat orang melakukan aktivitas kerjanya, cara kerjanya, dan dampak pekerjaannya. Lingkungan kerja sangat berpengaruh pada proses produksi yang ada di suatu pekerjaan namun lingkungan kerja yang dimiliki CV Mulia Tata Sejahtera masih terbilang belum optimal sehingga mampu mempengaruhi produktivitas. Maka dari itu dilakukan analisis menggunakan metode Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke (5S) untuk dapat mengoptimalkan lingkungan kerja menjadi lebih efisien dan meningkatkan produktivitas. Konsep 5S terbukti efektif untuk menghasilkan lingkungan kerja yang baik dan mampu meningkatkan suasana kerja dan meningkatkan output produktivitas. Berdasarkan pengolahan data didapatkan skor sebesar 44 dari 90 atau sebesar 48,89% sehingga dinyatakan bahwa lingkungan kerja di CV Mulia Tata Sejahtera dalam keadaan buruk. Selanjutnya dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja untuk meningkatkan skor hingga mencapai kategori baik bahkan sangat baik. Adapun beberapa saran lanjutan untuk penelitian mendatang di antaranya memperbanyak referensi mengenai metode 5S dan disarankan dapat menggunakan metode yang lainnya.

Kata Kunci: perbaikan, lingkungan kerja, optimal, produktivitas, metode 5S

1. Pendahuluan

Ergonomi merupakan ilmu maupun seni serta penerapan dalam teknologi yang digunakan untuk menyelaraskan maupun menyeimbangkan segala fasilitas yang biasa digunakan baik untuk beraktivitas ataupun pada saat beristirahat dengan kemampuan maupun keterbatasan pada manusia dalam fisik ataupun mental hingga tercapainya kualitas pada hidup secara keseluruhan dan menjadi lebih baik lagi [1] Fokus ergonomi yaitu manusia, mesin dan lingkungan yang merupakan tiga bagian dasar dari ergonomi [2].

Keberhasilan ilmu ergonomi ditentukan dengan adanya ilmu ergonomi produktivitas, efisiensi, keamanan, penerimaan sistem desain yang sederhana dan nyaman, dan faktor lainnya semuanya telah meningkat dan sebagainya [3] dengan dilakukan dua pendekatan yaitu pendekatan kuratif (berlangsung) dan pendekatan konseptual (rencana) [4].

CV Mulia Tata Sejahtera merupakan usaha yang bergerak di bidang manufaktur yang merupakan kegiatan memproses suatu barang dengan tangan atau mesin dari bahan baku hingga menjadi barang jadi [5]. Perusahaan ini memproduksi alat yang mendukung proses produksi (sparepart) [6] yang digunakan untuk beberapa perusahaan lain. Dalam pembuatannya terdapat beberapa mesin yang digunakan di antaranya mesin bubut, mesin turning, dan lainnya. Akan tetapi, lingkungan kerja yang dimiliki oleh CV

(2)

Mulia Tata Sejahtera masih terbilang belum optimal sehingga mampu mempengaruhi produktivitasnya dimana lingkungan kerja merupakan tempat orang melakukan aktivitas kerjanya, cara kerjanya, dan dampak pekerjaannya [7]. Menurut Afandi lingkungan kerja yang baik dapat menciptakan gairah dalam bekerja, sehingga meningkatkan produktivitas kerja [8]. Sehingga dilakukan analisis menggunakan metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) guna mengoptimalkan lingkungan kerja yang ada di CV Mulia Tata Sejahtera sehingga menjadi lebih efisien dan dapat meningkatkan produktivitas CV Mulia Tata Sejahtera. Menurut [9] konsep 5S sudah sering diterapkan dan terbukti bermanfaat dalam menumbuhkan suasana kerja yang positif dan meningkatkan produktivitas.

Beberapa indikator yang mempengaruhi lingkungan kerja menurut [10] ialah penerangan, temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, kebisingan, dekorasi dan hubungan antar karyawan di tempat kerja sehingga apabila semua indikator tersebut terpenuhi maka lingkungan kerja dikatakan baik untuk para karyawan.

2. Metode Penelitian

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini digambarkan dalam flowchart sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Flowchart penelitian

Penjelasan masing-masing langkah dalam flowchart di atas adalah sebagai berikut:

1. Studi Lapangan

Untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk penelitian, studi lapangan awalnya dilakukan dalam penelitian ini, yang melibatkan survei perusahaan.

2. Studi Pustaka

Tujuan dari studi pustaka adalah untuk mengidentifikasi landasan teoritis untuk konten ergonomi, tempat kerja, dan pendekatan 5S yang dapat digunakan untuk mendukung penerapan analisis dalam literatur, jurnal ilmiah, dan publikasi lainnya.

3. Identifikasi Masalah

Setelah dilakukan dua tahap studi sebelumnya maka didapatkan beberapa permasalahan yang ada di perusahaan dan peneliti membahas tentang lingkungan kerja yang akan diberikan usulan berdasarkan metode 5S pada perusahaan tersebut.

4. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara membuat lembar checklist yang kemudian diberikan skor mengenai lingkungan kerja terkait pada lembar checklist yang telah dibuat. Pemberian skor lembar checklist dilakukan oleh HRD CV Mulia Tata Sejahtera. Data yang terkumpul lalu dicatat untuk memudahkan peneliti. [11] daftar cek (rating scale), seperti namanya, adalah skala untuk mengevaluasi setiap sifat dan usaha dari subjek yang ingin di amati. Menggunakan daftar cek memungkinkan pengamat untuk melihat seseorang secara metodis dan objektif sambil merekam dengan cepat. Meskipun skala seperti itu tidak terbatas pada pencatatan observasi, skala adalah yang paling sering digunakan sebagai instrumen observasi.

Mulai

Identifikasi Masalah

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Kesimpulan dan Saran

Selesai Studi Lapangan

Analisis dan Pembahasan

Studi Pustaka

(3)

5. Pengolahan Data

Setelah data yang diperoleh terkumpul selanjutnya akan diadakan pengolahan data lingkungan kerja pada lembar checklist yang dibuat berdasarkan metode 5S.

6. Analisis dan Pembahasan

Selanjutnya hasil dari pengolahan data lingkungan kerja tersebut akan dibahas menggunakan metode 5S untuk mengetahui bagian-bagian yang harus diperbaiki.

7. Kesimpulan dan Saran

Dengan berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat dibuat kesimpulan dari penelitian yang dilakukan dan saran-saran yang dapat diberikan kepada pihak perusahaan guna meningkatkan kualitas lingkungan kerja mereka

Metode 5S

Menurut Osada dalam jurnal [12], Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke dikenal sebagai 5S dalam bahasa Jepang. Selain itu, dapat diubah menjadi 5R dalam bahasa Indonesia yang merupakan singkatan dari Ringkas, Rapi, Bersih, Cermat, dan Rajin. Industri kelas dunia dimulai dengan 5R sebagai langkah pertama dan blok bangunan fundamental untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing [13].

Seiri adalah praktik yang membuang barang-barang yang tidak perlu dari tempat kerja, hanya menyisakan barang-barang yang benar-benar diperlukan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan [14].

Seiton berarti mengacu pada menyimpan atau mengatur objek dengan hati-hati sehingga dapat digunakan dalam keadaan darurat [15]. Seiso berarti membersihkan area tempat kerja agar bebas dari kotoran [16].

Seiketsu merupakan pemeliharaan keadaan wilayah kerja yang bersih dan rapi dengan mengembangkan kedisiplinan kerja. Shitsuke merupakan kegiatan mempertahankan aturan yang telah ditetapkan dan menjadi budaya kerja [17].

3. Hasil dan Pembahasan

Setelah melakukan pengumpulan data beserta pengisian lembar checklist dilakukanlah pengolahan data dengan cara menghitung hasil lembar checklist yang telah diisi sebelumnya. Pada lembar checklist didapatkan hasil berupa skor yang selanjutnya akan diolah kembali untuk mendapatkan hasil keoptimalan lingkungan kerja yang ada pada CV Mulia Tata Sejahtera.

Adapun berikut ini merupakan keterangan dari skor yang dibuat:

1. Pemberian skor untuk setiap pernyataan : 0 - 20% = skor 1, 21% - 40% = skor 2, 41% - 60% = skor 3, 61% - 80% = skor 4, 81% - 100% = skor 5.

2. Keterangan program 5S (skor 5S) : 0 - 20% = Sangat Buruk, 21% - 40% = Buruk, 41% - 60% Cukup, 61% - 80% = Baik, 81% - 100% = Sangat Baik.

Selanjutnya diberikan usulan perbaikan dengan menggunakan metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke)

Tabel 1. Lembar checklist yang telah diisi

No. Pernyataan Skor

1 2 3 4 5

1. Penempatan barang-barang yang sudah tidak digunakan saat

itu ×

2. Tempat barang-barang yang tidak terpakai (barang reject) ×

3. Kerapian dari kabel listrik yang digunakan ×

4. Penempatan Raw Material ×

5. Penempatan tools yang digunakan karyawan ×

6. Penempatan barang yang sudah di machining oleh tiap

karyawan (per mesin) ×

7. Penempatan hasil akhir barang ×

8. Pencahayaan ditempat kerja ×

9. Temperatur ditempat kerja ×

10. Sirkulasi udara ditempat kerja ×

11. Kerapian Hasil Kerja Karyawan ×

12. Kerapian dari sisa machining (Tiap mesin) ×

13. Kebersihan mesin yang digunakan karyawan ×

14. Waktu kedatangan pegawai ×

15. Kerapian kerja karyawan ×

16. Ketelitian para pegawai ×

17. Ketersediaan alat-alat keselamatan ×

(4)

No. Pernyataan Skor

1 2 3 4 5

18. Pemberian Reward pada Karyawan dengan kinerja paling baik ×

Skor Total 40

Skor Program 5S (Persen) = 44,45% Maksimum Skor Total 90 Sumber: Data penelitian, 2022

Berdasarkan lembar checklist yang telah diisi didapatkan skor sebesar 44 dari 90 atau sebesar 48,89%

sehingga dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang ada di CV Mulia Tata Sejahtera terbilang dalam keadaan buruk.

Sehingga perlu dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja untuk meningkatkan skor lingkungan kerja hingga mencapai kategori baik bahkan hingga sangat baik, Maka dilakukan analisis dan memperbaiki lingkungan kerja dengan menggunakan metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) secara satu persatu dengan menampilkan keadaan/kondisi lingkungan kerja di CV Mulia Tata Sejahtera.

Berikut merupakan gambaran kondisi dari CV Mulia Tata Sejahtera dan beberapa saran yang dapat diberikan berdasarkan pernyataan tiap poin di lembar checklist adalah sebagai berikut;

1. Pada pernyataan lembar checklist 1 terlihat pada Gambar 2 bahwa letak dari barang-barang yang mungkin tidak terpakai hanya diletakkan di pojok sisi dari area kerja dimana peneliti menyarankan agar dilakukan pengecekan kembali terhadap barang-barang yang mungkin layak pakai dan tidak diperlukan adapun bila mungkin barang masih diperlukan mungkin dapat dilakukan perapian tata letaknya.

Gambar 2. Letak barang yang tidak digunakan Sumber: [18]

2. Pada pernyataan nomor 2 menyatakan letak tata letak barang reject yang sebenarnya sudah dirapikan oleh pihak CV seperti pada Gambar 3. Namun disarankan lebih baik barang yang direject lebih baik dibuang atau dimanfaatkan kembali agar dapat memberikan ruang tambahan untuk barang-barang lainnya.

Gambar 3. Letak barang reject Sumber: [18]

3. Poin 3 membahas tentang kerapian kabel listrik di dalam CV yang terbilang cukup berantakan dan dapat membahayakan pekerja. Disarankan untuk merapikan kabel-kabel tersebut guna memperindah ruang kerja yang ada serta menghindari risiko buruk terjadi.

(5)

Gambar 4. Salah satu kabel yang kurang baik Sumber: [18]

4. Poin 4 membahas tentang penempatan raw material yang mungkin dikatakan sudah cukup namun tidak ada salahnya untuk memperbaiki lagi dan membuat tempat raw material yang lebih baik lagi untuk meningkatkan ke-ergonomisannya.

Gambar 5. Tempat raw material Sumber: [18]

5. Dalam penempatan tools yang sudah digunakan peneliti mendapatkan ada satu tempat untuk penyimpanan tiap tools tersebut di salah satu samping mesin namun mengingat tiap mesin menggunakan tools yang berbeda alangkah baiknya menambahkan jumlah tempat penyimpanan itu sendiri dan menggunakan tempat penyimpanan seperti ini agar terlihat lebih rapi.

Gambar 6. Penyimpanan tools Sumber: [18]

6. Tempat barang yang sudah di machining oleh tiap karyawan lebih sering diletakkan dibawah disamping mesin/pekerja itu sendiri hal ini sebetulnya sudah cukup baik namun mengingat risiko adanya bahan terinjak atau yang lainnya disarankan untuk membuat tempat penyimpanan barang yang lebih ergonomis guna menghindari risiko yang ada.

(6)

Gambar 7. Barang yang sudah dimachining Sumber: [18]

7. Penempatan hasil barang juga disarankan untuk membuat tempat yang lebih ergonomis lagi untuk mengurangi risiko yang ada serta memisahkan tempat barang jadi dengan tempat barang yang sudah tidak digunakan lagi.

Gambar 8. Letak barang jadi Sumber: [18]

8. Untuk pencahayaan yang ada di bagian produksi menurut saya masih belum baik padahal tiap mesin sudah menggunakan lampunya masing-masing namun kadang masih terasa gelap yang memungkinkan terjadinya kelelahan pada mata pekerja. Disarankan untuk meningkatkan kualitas pencahayaan yang ada.

Gambar 9. Kondisi pencahayaan Sumber: [18]

9. Untuk temperatur di area kerja CV terbilang cukup panas hal ini sangat disayangkan padahal di beberapa titik terdapat kipas angin namun tidak dinyalakan sehingga setiap memproduksi barang pekerja terlihat sangat kepanasan. Sehingga disarankan untuk mengoperasikan tiap kipas angin yang ada di area CV.

(7)

Gambar 10. Salah satu kipas yang ada Sumber: [18]

10. Sirkulasi udara yang terdapat pada area produksi dapat dinyatakan kurang baik sebab kurangnya ventilasi yang ada pada area produksi tersebut sehingga hal itu menghambat sirkulasi untuk keluar dan masuk dan untuk mengatasinya para pekerja kadang membuka pinta gerbang agar sirkulasi udara membaik.

Gambar 11. Area produksi Sumber: [18]

11. Kerapian hasil kerja para pekerja menurut peneliti sudah dikatakan baik dikarenakan hasil barang jadi yang dihasilkan sangatlah baik bahkan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Gambar 12. Salah satu hasil barang jadi Sumber: [18]

(8)

12. Untuk kerapian dari bahan sisa machining dari tiap mesin menurut peneliti sudah baik namun disarankan kembali untuk menambahkan tempat sampah di tiap mesinnya serta selalu membersihkan sisa machining di sekitar area mesinnya.

Gambar 13. Salah satu tempat sampah Sumber: [18]

13. Kebersihan mesin yang tekah digunakan juga sudah baik namun terkadang terdapat partikel-partikel kecil sisa proses pekerjaan yang harus dibersihkan kembali oleh pekerja yang ada untuk itu disarankan agar para pekerja lebih rajin membersihkannya.

Gambar 14. Mesin bubut Sumber: [18]

14. Waktu kedatangan pegawai menurut HRD sudah baik dimana pekerja diharuskan datang pukul 08.00 WIB dengan ini dapat disimpulkan bahwa para pegawai memperhatikan tingkat kedisiplinan.

15. Kerja karyawan menurut HRD juga terbilang cukup baik dimana gaya berpakaian mereka yang juga cukup sopan mempengaruhi kerapian mereka.

16. Ketelitian para karyawan dalam bekerja juga sudah dinyatakan cukup baik dimana hal itu dapat terlihat dari tiap hasil produk yang dihasilkan oleh CV Mulia Tata Sejahtera.

17. Untuk ketersediaan alat-alat keselamatan yang ada di CV seperti alat pemadam kebakaran sejauh ini peneliti belum pernah melihat alat tersebut maka peneliti menyarankan harus membeli alat pemadam api, salah satu perlengkapan keselamatan yang lebih penting, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

(9)

Gambar 15. Pompa hydrant Sumber: [18]

18. Dan poin terakhir membahas tentang reward yang mungkin dapat diterapkan kepada karyawan dengan kinerja terbaik yang mungkin dapat berupa bonus atau mungkin barang yang diberikan untuk meningkatkan potensi kerja karyawan yang ada.

4. Kesimpulan

Kesimpulan Berdasarkan lembar checklist yang telah diisi didapatkan skor sebesar 44 dari 90 atau sebesar 48,89% sehingga dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang ada di CV Mulia Tata Sejahtera terbilang dalam keadaan buruk dan untuk mengatasinya dilakukan perbaikan menggunakan metode 5S (seiri atau ringkas, seiton atau rapi, seiso atau resi, seiketsu atau rawat, shitsuke atau rajin) agar lingkungan kerja yang ada di CV. Mulia Tata Sejahtera dalam keadaan baik. Ini supaya karyawan merasa nyaman dan mampu meningkatkan produktivitas dari CV. Mulia Tata Sejahtera sendiri

5. Ucapan Terima kasih

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya peneliti haturkan kepada manajemen CV Mulia Tata Sejahtera yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian ini..

6. Referensi

[1] P. M. Tarwaka, Ergonomi Indutri: Dasar-Dasar Ergonomi dan Implementasi di Tempat Kerja, Solo:

Harapan Press Surakarta, 2014.

[2] R. S. Bridger, Introduction to Human Factors and Ergonomics, USA: CRC Press, 2017.

[3] D. Rahmayanti dan A. Artha, “Analisis Bahaya Fisik: Hubungan Tingkat Pencahayaan dan Keluhan Mata Pekerja pada Area Perkantoran Health, Safety, and Environmental (HSE) PT. Pertamina RU VI Balongan,” Jurnal Optimasi Sistem Industri, vol. 14(1), p. 71–98, 2016.

[4] D. T. C. Anggraini, D. Herwanto dan R. E. Nugroho, “Analisis Postur Kerja Karyawan Menggunakan Metode RULA,” Sitekin, vol. 20, pp. 147 - 155, 2022.

[5] J. Heizer dan B. Render, Operations Management, London: Pearson, 2014.

[6] S. Sari, A. P. Sari, A. P. Saputro dan Nurfajriah, “Usulan Perbaikan pengendalian Persediaan Spare Part utama Gondola Menggunakan Metode EOQ dan Min-Max,” STRING, vol. 6, 2022.

[7] H. Djafar, H. E. Putri, P. Nurbaiti dan Z. Hamzah, “Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Guru di MTS Madani Pao-Pao,” edu-Leadership, vol. 1, 2021.

[8] P. Afandi, Manajemen Sumberdaya Manusia Teori Konsep dan Indikator, Pekanbaru: Zanafa Publishing, 2018.

[9] Hudori, “Perbandingan Kinerja Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia dan Malaysia,” Jurnal Citra Widya Edukasi, pp. 93-112, 2017.

(10)

[10] Samsuni, S. Manajemen sumber daya manusia. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan, 17(1), 113-124. 2017.

[11] I. Nurdin dan S. Hartati, Metodologi Penelitian Sosial, Surabaya: Media Sahabat Cendekia, 2019.

[12] A. A. Pangestu dan A. A. P. Negara, “Implementasi Metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) Pada Unit Reaching Di PT. XYZ Tekstil Majalengka,” Industrial Research Workshop and National Seminar, pp. 490-494, 2019.

[13] Jahja, K. Seri Budaya Unggulan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), Jakarta: Productivity and Quality Management Consultan. 2009.

[14] Nelfiyanti, N., Riskayadi, F., Ramadhan, A. I., Diniardi, E., & Mahmud, K. H. Penerapan Metode 5S Dalam Mengurangi Waktu Pengambilan Berkas Di Perusahaan XYZ. In Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat LPPM UMJ (Vol. 1, No. 1). 2021.

[15] M. Qowim, N. A. Mahbubah dan M. Z. Fathoni, “Penerapan 5S Pada Divisi Gudang (Studi Kasus PT. Sumber Urip Sejati),” JUSTI (Jurnal Sistem dan Teknik Industri), p. 49, 2020.

[16] M. N. Afandi, A. W. Rizqi dan Hidayat, “Analisis 5S Pada Area Tempat Produksi Di PT Ravana Jaya Gresik,” Jurnal Serambi Engineering, pp. 3971-3977, 2022.

[17] M. Ridwan, A. Suseno dan B. Nugraha, “Analisis Penerapan Metode 5S+Safety pada Gudang Penyimpanan Bahan Baku di Raw Material Departement PT. XYZ,” Tekmapro : Journal of Industrial Engineering and Management, pp. 1-12, 2022.

Referensi

Dokumen terkait

Apabila saya melakukan hal tersebut, maka saya bersedia untuk menerima sanksi dalam bentuk apapun dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Soegijapranata... iv

Tampak pada gambar 4.2 bahwa ruang penyimpanan bahan baku mentah yang ada di ruang produksi Mapan Group selama ini belum tertata dengan baik terlihat bahwa bahan

Pada warehouse CV Sempurna Boga Makmur langkah ini belum terlaksana dengan baik, dimana masih ada tumpukan barang atau kardus yang tidak digunakan berada di dalam

Dalam hal ini peralatan yang ada pada gudang mekanik ditata rapi yaitu ditempatkan didalam rak peralatan mekanik yang dibuat dari papan dan ditempelin nama-nama barang

menyimpan peralatan dan peralatan tidak berantakan disekitar pabrik. Sehingga pada saat akan digunakan kembali peralatan tersebut lebih. mudah untuk ditemukan. Rak

Metode yang digunakan metode rancangan konvensional dengan penerapan metode 5S, yaitu Seiri (pemilihan) diterapkan pada ruang mekanik yaitu meletakkan peralatan

Nilai koefisien regresi budaya seiketsu X5 bernilai positif yaitu 0,136 Jika variabel budaya seiketsu X5 mengalami perubahan sebesar satu satuan dengan asumsi variabel bebas yang lain