SKRIPSI
Oleh:
MUHAMMAD GALUH BAGUS TP 0613010177/FE/EA
FAKULTAS EKONOMI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Akutansi
Oleh:
MUHAMMAD GALUH BAGUS TP 0613010177/FE/EA
FAKULTAS EKONOMI
Yang diajukan
MUHAMMAD GALUH BAGUS TP 0613010177/FE/EA
Disetujui Untuk Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
Dra.EC. Siti Sundar i, Msi Tanggal : ……….
Mengetahui
Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Yang diajukan
MUHAMMAD GALUH BAGUS TP 0613010177/FE/EA
Telah Diseminarkan Dan Disetujui untuk Menyusun Skripsi Oleh:
Pembimbing Utama
Dra.EC. Siti Sundar i, Msi.Ak Tanggal : ……….
Mengetahui
Ketua Progam Studi Akuntansi
Disusun oleh:
MUHAMMAD GALUH BAGUS TP
0613010177/FE/EA
Telah dipertahankan dihadapan
Dan diterima oleh tim penguji skripsiJurusan akuntansi fakultas ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Pada tanggal 13 juni 2013
Pembimbing: Tim Penguji:
Pembibing Utama Ketua
Dra. Ec. Siti Sundar i, Msi Dr s. Ec H. Muslimin, MSi
Sekertaris
Dra. Ec. Siti Sundar i, MSi
Anggota
Dra.Ec. Eko Riyadi. MAKs
Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional ”Veterean” Jawa timur
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah-Nya yang diberikan kepada penyusun sehingga skripsi yang berjudul
“Pengaruh Manajemen Laba (Earnings Management)terhadapReturn
Saham” dengan studi empiris pada perusahaan di sekitar IPO yang terdaftar di
Bursa Efek jakarta(BEI)”.
Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat penyelesaian
Studi Pendidikan Strata Satu, Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi,
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberi bimbingan, petunjuk serta bantuan baik spirituil
maupun materiil, khususnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur. SE, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Hero Priono,SE,MSi.Ak. Selaku Ketua Program Studi Akuntansi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Dra.EC. Siti Sundari, Msi.Ak Selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan skripsi sehingga peneliti bisa merampungkan tugas
5. Para Dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis
selama menjadi mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“
Jawa Timur.
6. Kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan baik
moril ataupun material.
7. Berbagai pihak yang turut membantu dan menyediakan waktunya demi
terselesainya skripsi ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah disusun dalam
skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu peneliti sangat berharap
saran dan kritik membangun dari pembaca dan pihak lain.
Akhir kata, Peneliti berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Surabaya, Juni 2013
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
ABSTRAK ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Kegunaan Penelitian ... 7
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu ... 9
2.2 Landasan Teori ... 11
2.2.1 Laba ( earnings) ... 11
2.2.1.1 Pengertian Laba ... 11
2.2.1.2 Tujuan pelaporan keuangan ... 12
2.2.3. Manajemen laba ... 13
2.2.3.1 Teknik dan pola melakukan manajemen laba ... 15
2.2.3.2 Faktor-faktor Yang memotivasi terjadinya manajemen laba ... 17
2.2.4. Initial Public Offering (IPO) ... 20
2.2.5. Saham ... 24
2.2.5.1. Pengertiaan Saham ... 22
2.2.5.2. Jenis-Jenis Saham ... 23
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variable ... 30
5.1 Kesimpulan ... 56
5.2 Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
tahun 2007-2011 ... 46
3 Data Return Saham Perusahaan Tahun 2007-20011 ... 47
4. Hasil uji Nomalisasi ... 48
5. Hasil uji Nornalisasi dengan transformasi ... 49
6. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana ... 50
7. Hasil Koefisien Determinasi (R Square/ R2) ... 51
8. Uji f ………... 51
9. Uji t ... 52
MUHAMMAD GALUH BAGUS TP 0613010188/FE/EA
Abstraksi
Sebelum menawarkan sahamnya manajemen harus menjelaskan kondisi perusahaan secara menyeluruh. Hal ini dilakukan dengan menerbitkan prospektus perusahaan yang didalamnya terdapat informasi tentang perusahaan mulai dari penawaran umum, kegiatan dan prospek perusahaan, sudut pandang hukum tentangperusahaan, laporan keuangan lengkap perusahaan hingga penyebarluasan prospektus danformulir pemesanan saham. Setelah perusahaan melakukan IPO dan terdaftar di Bursa Efek, setiap akhir periode perusahaan diharuskan untuk menerbitkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit.Laporan keuangan merupakan media yang diperlukan untuk pertanggungjawaban manajemen terhadap para investor dan perhatian investor lebih sering terpusat pada informasi laba. Sehingga hal tersebut memicu manajemen untuk melakukan manajemen laba untuk menghasilkan laba yang dianggap normal untuk suatu perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris adanya pengaruh manajemen laba terhadap return saham perusahaan yang terdaftar di BEI.
Populasi dalam penelitian ini perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007 hingga tahun 2010. Teknik sampling mengunakaan purposive sampling dengan jumplah sampel sebanyak 10 perusahaan. Sedangkan teknik analisis yang dipergunakan adalah regresi linier sederhana.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Manajemen laba mempunyai kontribusi terhadap return saham perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia..
1.1Latar Balakang Masalah
Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang digunakaan untuk
menilai posisi dan kinerja perusahaan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi,
laporan perubahaan ekuitas dan laporan arus kas (standart akuntansi No. 1).
Manajer dapat memodifikasi laporan keuangan yang disusun untuk mnghasilkan
jumpelah laba (earning) yang diinginkan. Laporan keuangaan harus mengikuti
standart akuntansi bila diterbitkan untuk orang lain seperti pemegang saham,
kreditur, karyawan, dan masyarakat luas sehinga memberikan keleluasaan
manejer untuk memilih metode akuntansi dalam menyusun laporan keuangaan.
Penelitian ini merujuk pada beberapa hal dan salah satunya
tentangearningdisebabkan karena dasar akrual dalam laporan keuangan memberikankesempatan kepada manajer untuk memodifikasi laporan keuangan
gunamenghasilkan jumlah laba (earning) yang diinginkan.Kajian yang lainnya yaitu tentang manajemen laba yang dilakukan manajer yang terdiri
daridiskresioner akrual dan non diskresioner akrual.
Manajemen laba merupakanhal yang diperhatikan karena melibatkan
potensi pelanggaran, kejahatan, dankonflik yang dibuat pihak manajemen
perusahaan dalam rangka menarikminat investor.Manajemen laba dilakukan oleh
manajer perusahaan dengan tujuan agar mereka dikontrak kembali untuk menjabat
Investor bersediamenyalurkan dananya melalui pasar modal karena perasaan
amanakan berinvestasi dan tingkat return yang akan diperoleh dari investasi tersebut.Return memungkinkan investor untuk membandingkan keuntunganaktual ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan oleh berbagaiinvestasi pada
tingkat pengembalian yang diinginkan. Di sisi lain, return punmemiliki peran yang amat signifikan dalam menentukan nilai dari suatuinvestasi (Daniati dan
Suhairi, 2006).
Salah satu syarat yang ditetapkan pengawas pasar modal untuk perusahan
yang akan melakukan penawaran perdana saham dipasar modal (initial public
offerings/IPO)adalah dokumen prospektus. Prospektus berisi informasi tentang
perusahaan penerbit sekuritas dan informasi lainya yang berkaitan dengan
sekuritas yangdijual (Hartono 2000:20). Prospektustersebut disiapkan oleh
perusahan untuk keperluan registrasi dan didistribusikaan kepada public (Francis
1993: 154) dan didistribusikan untuk setiap investor (Jones 2000:75)
Secara umum para praktisi, yaitu pelaku ekonomi, pemerintah, asosiasi
profesi dan regulator lainnya, berpendapat bahwa pada dasarnya manajemen laba
merupakan perilaku oportunis seorang manajer untuk merubah-rubah angka dalam
laporan keuangan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya.Hal tersebut
dilakukan manajer perusahaan dengan tujuan agar investor terpengaruh dan
tertarik untuk berinvestasi.Para akademisi berpendapat bahwa pada dasarnya
manajemen laba merupakan dampak dari kebebasan seorang manajer untuk
memilih dan menggunakan metode akuntansi tertentu ketika mencatat dan
beragam metode akuntansi yang diakui dan diterima dalam standar akuntansi serta
prinsip akuntansi berterima umum (Sulistyanto, 2008).
Selain itu, manajemen laba muncul sebagai dampak masalah keagenan
yang terjadi karena adanya ketidakselarasan kepentingan antara pemegang saham
(principal) dan manajemen perusahaan (agent), yaitu tidak bertemunya utilitas yang maksimal antara mereka (Beneish dalam Herawaty 2007). Sebagai agent, manajer secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para
pemegang saham (principal), namun disisi lain manajer juga mempunyai kepentingan memaksimumkan kesejahteraan diri mereka sendiri, sehingga ada
kemungkinan besar agent tidak selalu bertindak demi kepentingan terbaik
principal (Jensen dan Meckling, 1976). Disamping itu manajer selaku pengelola perusahaan akan lebih banyak dan lebih dahulu menerima informasi tentang
perusahaan dibandingkan pemegang saham sehingga dapat terjadi asimetri
informasi yang memungkinkan manajemen melakukan praktik akuntansi dengan
orientasi pada laba untuk mencapai suatu kinerja tertentu.
Salah satu motivasi yang memicu munculnya manajemen laba adalah
motivasi untukmemanfaatkan kegiatan Initial Public Offering (IPO) sebagai sebuah kondisi asimetri informasidalam rangka mendapatkan harga saham
perdana yang tinggi.Selain itu, perusahaan terdoronguntuk melakukan manajemen
laba adalah karena perusahaan berusaha untuk meningkatkanpenjualan saham,
menurunkan tingkat pajak, mendapatkan bonus.Dari sekian banyak peristiwa yang
identik dengan praktik manajemen laba, keberadaan praktik manajemen laba pada
manajemen laba pada peristiwa IPO menarik untuk diteliti.Pada saat perusahaan
pertama kali menawarkan saham umumnya kepublik, terdapat ketidakseimbangan
informasi yang tinggi antara investor dengan perusahaanyang menawarkan saham
(emiten) (Niken dan Sylvia, 2009).
Sebelum menawarkan sahamnya manajemen harus menjelaskan kondisi
perusahaansecara menyeluruh. Hal ini dilakukan dengan menerbitkan prospektus
perusahaan yang didalamnya menyeluruh terdapat informasi tentang perusahaan
mulai dari penawaran umum, kegiatan dan prospek perusahaan, sudut pandang
hukum tentangperusahaan, laporan keuangan lengkap perusahaan hingga
penyebarluasan prospektus danformulir pemesanan saham (Irawan dan Gumanti,
2008).
Setelah perusahaan melakukan IPO dan terdaftar di Bursa Efek, setiap
akhir periode perusahaan diharuskan untuk melaporkan atau menerbitkan laporan
keuangan tahunan yang berkualitas kepada pihak-pihak yang membutuhkan
(publik).Karena laporan keuangan tersebut merupakan media yang diperlukan
untuk pertanggungjawaban manajemen terhadap para investor dan perhatian
investor lebih sering terpusat pada informasi laba. Sehingga hal tersebut memicu
manajemen untuk melakukan manajemen laba untuk menghasilkan laba yang
dianggap normal untuk suatu perusahaan (Bartov, 1993 dalam Wahyuningsih,
2007).Karena laba merupakan ukuran yang merangkum kinerja operasional
perusahaan yang disusun berdasarkan basis akrual (Niken dan Sylvia, 2009).
Dalam Irawan dan Gumanti (2009), Barth, Elliot dan Finn (1999) meneliti
penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan keuntungan yang konsisten
memiliki harga saham yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan
yang memiliki laba yang tidak konsisten. Hasil penelitian ini mampu menjelaskan
kenapa manajer kerapkali menggunakan metode akuntansi tertentu untuk
mengukur besaran laba perusahaan pada periode menjelang go public, dan tindakan ini lebihdikenal sebagai earning management.
Rao (1993) dalam Niken dan Sylvia (2009) menyatakan bahwa pada
periode sebelumterjadinya IPO, hampir tidak ada pemberitaan apapun mengenai
perusahaan yang bersangkutan baik di media masa maupun media
elektronik.Adanya keterbatasan informasi yang dimiliki para investor
mengharuskan mereka untuk mengandalkan laporan keuangan yang ada untuk
melakukan penilaian atas kinerja emiten sebelum IPO dan juga menilai
kemungkinan terjadinya manajemen laba. Manajer dapat menyusun laporan
keuangan dengan memilih metode akuntansi akrual yang akan meningkatkan laba,
dan laba yang tinggi diharapkan akan dihargai tinggi oleh investor berupa harga
penawaran yang tinggi. Dengan asumsi demikian, diperkirakan bahwa praktik
manajemen laba yang dilakukan pada saat IPO dimaksudkan untuk mendongkrak
harga saham perdana.
Penelitian Saiful (2004) berhasil menemukan manajemen laba disekitar
IPO, yaitu pada perioda dua tahun sebelum IPO, ketika IPO dan dua tahun setelah
IPO.Selain itu terdapat kinerja operasi setelah IPO rendah yang dipengaruhi oleh
rendahnya return saham setahun setelah IPO dengan manajemen laba disekitar IPO.
Khoirudin (2007) melakukan penelitinan mengenai indikasi terjadinya
manajemen laba pada sebelum dan sesudah dilakukan penawaran umum
perdana.Hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa telah terjadi indikasi
tindakan manajemen laba pada laporan keuangan perusahaan yang melakukan
IPO dalam periode satu tahun sebelum dan satu tahun sesudah dilakukan
penawaran umum perdana.
Irawan dan Gumanti (2008) dalam Irawan dan Gumanti (2009) melakukan
penelitian tentang earnings management dengan data 35 perusahaan yang go public pada periode 2002-2005 untuk menyelidiki apakah perusahaan terindikasi melakukan earnings management untuk meningkatkan saham saat IPO, adapun hasilnya tidak ditemukan bukti kuat indikasi earnings management pada perusahaan yang gopublic selama periode tersebut.
Dalam konteks mendeteksi manajemen laba pada saat penawaran saham
perdana yang hendak diteliti kembali yaitu dengan menggunakan data penelitian
yang lebih baru dan menggunakan pendekatan model Modified Jones (1995) agar dapat diketahui bahwa model tersebut diduga merupakan model yang lebih baik
daripada model pendekatan Instrumental Variable (IV) yang telah diteliti oleh Joni dan Jogiyanto (2009) sebelumnya.
Manajemen laba dan retrun saham,banyak penelitiaan menunjukan bahwa
umumnya penawaran perdana saham adalah under pricing.para penelii di
12.4891%(Rizka 1995).return saham masih tetap positif pada mingu pertama dan
akan negative dalam jangka panjang.
Berdasarkan latar belakang masalah, penelitian ini mengambil judul
“Pengaruh Manajemen Laba (Earnings Management) terhadap Return
Saham” dengan studi empiris pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
jakarta(BEI).
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka rumusan masalah
penelitian ini adalah apakah manajemen laba berpengaruh terhadap return
saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI?
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai penelitian
ini adalah untuk menguji secara empiris adanya pengaruh manajemen
laba terhadap return saham perusahaan yang terdaftar di BEI
1.3.2 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat :
1. Bagi investor penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam membuat
keputusan investasi terutama berkaitan dengan penawaran saham
perdana(IPO).
2. bagi perusahaan penelitian ini dapat memberikan pertimbangaan dalam
mengambil keputusan serta menentukan langkah selanjutnya sebelum
3. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
informasi perkembangan pasar modal, serta dapat membngun ide-ide
baru bagi para akademis dalam penelitian yang lebih sempurna.
2.1 Penelitian Terdahulu
Pada penelitian Saiful (2004) berhasil menemukan manajemen laba
disekitar IPO, yaitu pada perioda dua tahun sebelum IPO, ketika IPO dan dua
tahun setelah IPO. Selain itu terdapat kinerja operasi setelah IPO rendah yang
dipengaruhi oleh manajemen laba. Kemudian, ditemukan juga return saham satu
tahun setelah IPO rendah, Kesimpulan dalam penelitian itu tidak berhasil
menemukan hubungan antara rendahnya return saham setahun setelah IPO dengan
manajemen laba disekitar IPO.
Khoirudin (2007) melakukan penelitinan mengenai indikasi terjadinya
manajemen laba pada sebelum dan sesudah dilakukan penawaran umum
perdana.Penelitiannya dilakukan pada 37 perusahaan sampel yang melakukan IPO
dalam kurun waktu 2001-2004.Pengujiannya menggunakan regresi white covarian matrix yang digunakan untuk memproksi Non Discretionary Acrual dan untuk mengetahui Discretionary Acrual dalam penyusunan laporan keuangan satu tahun sebelum dan satu tahun sesudah dilakukannya IPO.Hasil penelitiannya dapat
disimpulkan bahwa telah terjadi indikasi tindakan manajemen laba pada laporan
keuangan perusahaan yang melakukan IPO dalam periode satu tahun sebelum dan
satu tahun sesudah dilakukan penawaran umum perdana.
Niken dan Sylvia (2009) penelitiaan ini menemukaan indikasi adanya
tindakaan manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada saat sebelum IPO
IPO. Kesimpulaan dalam penelitian itu menemukan adanya hubungan positif yang
signifikan antara komponen totalakrual diskresioner dengan nilai perusahaan
perdana saat IPO. Namun demikiantidak berhasil ditemukan adanya hubungan
yang signifikan antara komponenakrual kelolaan yang diperoleh dari model modal
kerja akrual dengan nilaiperusahaan perdana saat IPO.Kemudian indikasi adanya
tindakan oportunistikterlihat dari hubungan negative antara manajemen laba yang
dilakukan perusahaanselama dua tahun sebelum IPO dengan rata-rata
pertumbuhan nilai EVAperusahaan pasca-IPO selama tiga tahun dimulai dari
periode perusahaanmelakukan IPO hingga dua tahun pasca-IPO.
Pada penelitian Joni dan Jogiyanto (2009) berhasil menemukan
manajemen laba disekitar IPO, yaitu perioda dua tahun sebelum IPO dan lima
tahun setelah IPO. Perusahaan melakukan manajemen laba dengan menurunkan
nilai laba periode dua tahun sebelum IPO, kemudian manajemen laba dilakukan
dengan menaikkan nilai laba pada perioda satu tahun sebelum IPO. Perusahaan
juga melakukan manajemen laba dengan menaikkan nilai laba perioda lima tahun
setelah IPO. Penelitian Joni dan Jogiyanto juga menemukan bahwa manajemen
laba perioda 2 tahun sebelum IPO berhubungan dengan return saham dengan
menggunakan kecerdasan investor sebagai pemoderasi. Koefisien hubungan
manajemen laba dengan return saham yang mempertimbangkan faktor kecerdasan
investor bernilai negative. Kesimpulan Hal ini menunjukkan bahwa manajemen
laba yang tinggi menyebabkan nilai harga saham rendah.
Berdasarkan penelitian terdahulu diatas ada persamaan dan perbedaan
terdahulu dengan penelitiaan sekarang mengunakaan sempel penelitiaan
perusahaan yang masih aktif dalam perdagngan saham di BEI,adapun perbedaan
penelitiaan terdahulu dengan sekarang yaitu penelitian terdahulu mengunakan
sample perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2001-2004 sedangkan
penelitian sekarang ini mengunakan sample perusahaan yang melakukan IPO pada
tahun 2007-2011.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Laba
2.2.1.1 Pengertiaan Laba
Dalam buku-buku teks akuntansi (khususnya teori akuntansi) istilah
income pada umumunya dimaknai sebagai jumplah laba bersih sehimga istilah
laba bersih mengambarkan apa yang dimaksud dengan income dalam buku-buku
tersebut. Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjukan pada konsep
yang oleh FASB disebut sebagai laba komperhensif.Laba komperhensip dimaknai
sebagai kenaikaan asset bersih selain yang dari transaksi dengan pemlik. Karena
akuntansi secara umumnya mengunakaan kos historis, kos akrual dan konsep
penandingaan, laba akuntansi yang sekarang dianut dimaknai sebagai selisih
antara pendapataan dan biaya. Sementara itu pendapataan dan biaya diukur dan
diakui melalui prosedur tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima
umum (PABU). Choriri dan Ghozali (2001:301)menyatakaan bahwapada
dasarnya terdapat 3 konsep earnings yang diumumkan dibicarakaan dalam
1. Physic income , yang menunjukaan komsumsi barang/jasa yang dapat memenuhi kepuasan dan keinginan individu
2. Real income, yang menunjukan kenaikaan dalam kemakmuraan ekonomi yang ditunjukaan oleh kenaikaan cost of living.
3. Money income, yang menunjukan kenaikaan nilai moneter sumber-sumber yang digunakaan untuk komsumsi sesui dengan
biaya hidup (cost of living)
2.2.1.2 Tujuan Pelapor an Laba
Adapun pengertiaan dan cara pengukuranya, laba akuntansi dengan
berbagai interprestasinya diharapkan dapat digunakaan antara lain sebagai berikut:
- Indikator efesiensi penguna dana yang tertanam dalam perusahaan
yang diwujudkan dalam tingkat kembalian atas tingkat investasi (rate of retrun oninvested capital).
- Pengukuran prestasi/kinerja badan usaha dan manajemen
- Alat pengendaliaan alokasi sumber daya ekonomi suatu negara
- Dasar penentuan dan penilaian kelayakan tarif dalam perusahaan
publik
- Alat pengendaliaan terhadap debitor dalam kontrak utang
- Dasar kompensasi dan pembagiaan bonus
- Alat motivasi manajemen dalam pengendaliaan perusahaan
- Dasar pembagiaan dividen (Suwardjono, 2005:456-457)
Hendriksen dan Van Breda (1992) dalam buku teori akuntansi Suwardjono
masih problematic secara teoritis. Laba akuntansi mempunyai beberapa
kelemahaan sebagai berikut( hal 456):
- Laba akuntansi belum didevinisikan secara semantic dan jelas sehinga
laba tersebut secara intuitif dan ekonomi bermakna.
- Penyajiaan dan pengukuran laba masih difokuskan pada pemegang
saham biasa/residual
- Prinsip akuntansi berterima umum (PABU) sebagai pedoman
pengukuran laba masihmemberi peluang untuk terjadinya
ketaktaatasasan (inkosistensia) antara perusahaan
- Karena didasarkan pada konsep kos historis, laba akuntansi secara
umum belummemperhitungkan pengaruh perubahaan daya beli dan
harga.
2.2.3 Manajemen Laba
Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai batasan dan definisi
manajemen laba. Ada pihak yang mendefinisikan manajemen laba sebagai
kecurangan yang dilakukan seorang manajer untuk mengelabui orang lain,
sedangkan ada pihak yang mendefinisikannya sebagai aktivitas yang wajar
dilakukan manajer dalam menyusun laporan keuangaan. Menurut Sulistyanto
(2008) manajemen laba tidak bias dikategorikaan sebagai kecurangaan sejauh apa
yang dilakukaan masih dalam ruang lingkup prinsip akuntansi.
Beberapa peneliti mendefinisikan manajemen laba dalam arti yang
berbeda-beda. Dalam Sulistyanto (2008) terdapat definisi mengenai manajemen
1. Schipper (1989)
Manajemen laba adalah intervensi atau campur tangan dalam
proses penyusunan laporan keuangan dengan tujuan untuk
memaksimalkan keuntungan pribadi. Definisi tersebut mengartikan bahwa
manajemen laba merupakan perilaku oportunistik manajer untuk
memaksimalkan utilitas mereka.
Manajer melakukan manajemen laba dengan memilih metode atau
kebijakan akuntansi untuk menaikkan laba atau menurunkan laba, pada
saat manajer menaikkan laba manajer menggeser laba periode – periode
yang akan datang ke periode sekarang dan pada saat manajer menurunkan
laba yaitu dengan menggeser laba periode masa sekarang ke periode –
periode berikutnya.(Widodo, 2005).
2. Fisher dan Rosenzweig
Manajemen laba adalah tindakan-tindakan manajer untuk
menaikkan (menurunkan) laba periode berjalan dari sebuah perusahaan
yang dikelolanya tanpa menyebabkan kenaikan (penurunan) keuntungan
ekonomi perusahaan dalam jangka panjang.
3. Healy dan Wahlen (1999)
Manajemen laba terjadi apabila manajer menggunakan penilaian
dalam pelaporan keuangan dan dalam struktur transaksi untuk mengubah
laporan keuangan guna menyesatkan pemegang saham mengenai prestasi
yangmempunyai kaitan dengan angka-angka yang dilaporkan dalam
laporan keuangan.
Sedangkan, Sugiri (1988) dalam Widyaningdyah (2001) membagi
manajemen laba menjadi dua, yaitu :
1. Secara sempit, manajemen laba didefinisikan sebagai perilaku manajer
untuk ``bermain`` dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya laba.
2. Secara luas, manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk
meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit
dimana manajer bertanggungjawab tanpa mengakibatkan peningkatan
(penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.
Sedangkan menurut Scott (2000) manajemen laba adalah pemilihan
kebijakan Akutansi oleh manajer untuk mencapai tujuan khusus. Lebih lanjut dia
mengungkapkan bahwa terdapat dua cara yang saling melengkapi dalam berfikir
tentang manajemen laba. Pertama, perilaku oportunistik manajemen untuk
memaksimumkan utilitasnya dalam kompensasi, kontrak, dan kos politik. Kedua,
perspektif kontrak efisien ketika manajemen laba dilakukan untuk
menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam kontrak.
2.2.3.1 Teknik dan Pola Melakukan Manajemen Laba
Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Na`im (2000)
dapat dilakukan dengan tiga teknik.Yaitu :
a. Memanfaatkan peluang atau memainkan kebijakan untuk membuat
Manajemen mempengaruhi laporan keuangan dengan cara manajemen
mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu
depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi
biaya garansi dll
b. metode akuntansi
Untuk dapat menaikkan dan menurunkan angka laba yaitu dengan
mengubah metode akuntansi yang berbeda dengan metode
sebelumnya, Perubahan metode akuntansi tersebut yang digunakan
untuk mencatat suatu transaksi, contoh : merubah metode depresiasi
aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi
garis lurus, merubah metode perhitungan persediaan dari metode LIFO
ke metode FIFO atau sebaliknya dsb.
c. Menggeser periode biaya atau pendapatan
Banyak hal yang menggeser periode biaya atau pendapatan, sebagai
contoh merekayasa periode biaya atau pendapatan, seperti
mempercepat atau menunda pengeluaran untuk meneliti dan
mengembangkan sampai pada periode akuntansi berikutnya,
mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode
berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke
pelangaan,mengatur saat penjualaan aktiva tetap yang sudah tidak
Sedangkan pola manajemen laba yang dikemukakan oleh Scott (2000)
yaitu :
1. Talking a Bath
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru
dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar.Tindakan ini diharapkan
dapat meningkatkan laba di masa mendatang.
2. Income Minimization
Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat probabilitas yang
tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun
drastis dapat diatasi dengan laba periode sebelumnya.
3. Income Maximization
Dilakukan pada saat laba menurun.Tindakan atas Income Maximization
bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar.Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan
pelangaran perjanjian hutang.
4. Income Smoothing
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan
sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada
umumnya investor lebih menyukai laba yang relative stabil.
2.2.3.2 Faktor -faktor yang Memotivasi Terjadinya Manajemen Laba
Faktor-faktor yang mendorong tindakan manajer dalam melakukan
a. Kontrak Bonus.
Laba sering dijadikan indikator penilaian prestasi manajer
perusahaan. Oleh karena itu, jika manajer perusahaan yang memperoleh
laba di bawah target laba, maka akan melakukan manipulasi laba agar
memperoleh bonus yang maksimal di periode mendatang.
b. Stock Price Effect
Manajer melakukan manajemen laba dalam laporan keuangan
bertujuan untuk mempengaruhi pasar.
c. Faktor Politik
Untuk mengurangi biaya politis dan pengawasan dari pemerintah,
dilakukan dengan cara menurunkan laba, untuk memperoleh kemudahan
dan fasilitas dari pemerintahaan misalnya, dilakukan dengan cara
menurunkan laba untuk meminimalkan tuntutan serikat buruh.
d. Faktor Pajak
Pada perioda terjadi kenaikan harga (inflasi), penggunaan LIFO
akan menghasilkan laba yang dilaporkan lebih rendah dan pajak yang
dibayarkan juga menjadi lebih rendah. Jadi manajer perusahaan berusaha
menurunkan laba dengan tujuan untuk mengurangi beban pajak yang
dikenakan perusahaan.
e. Pergantian Chief Executive Officer (CEO)
Pada bonus plan hypothesis memprediksikan bahwa semakin mendekati periode pensiun seorang CEO akan cenderung melakukan
itu, dalam kasus pergantian CEO biasanya diakhir tahun tugasnya, manajer
akan melaporkan laba yang tinggi, sehingga CEO yang baru akan merasa
sangat berat untuk mencapai tingkat laba tersebut.
f. Penawaran Saham Perdana (IPO)
Pada umumnya, perusahaan yang akan melakukan penawaran
saham perdana (IPO) melakukan aktifitas manajemen laba pada periode
terakhir sebelum IPO. Saat perusahaan go public, informasi keuangan yang ada dalam prospektus merupakan sumber informasi yang penting dan
utama.
Informasi ini dapat dipakai sebagai sinyal kepada calon investor tentang
nilai perusahaan untuk mempengaruhi calon investor, maka manajer berusaha
untuk menaikkan laba yang dilaporkan, agar harga saham tinggi pada saat IPO.
Menurut Watt dan Zimmerman (1986) dalam Sulistyanto (2008), terdapat tiga
hipotesis yang mendorong terjadinya manajemen laba yaitu :
1) Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan
utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Dalam bonus atau kompensasi
manajerial, pemilik perusahaan berjanji bahwa manajer akan menerima
sejumlah bonus jika kinerja perusahaan mencapai jumlah tertentu. Hal
inilah yang merupakan alasan bagi manajer untuk mengelola dan mengatur
labanya pada tingkat tertentu sesuai dengan yang disyaratkan agar dapat
2) Debt Covenent Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit
cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki dampak
meningkatkan laba. Dalam konteks perjanjian hutang, manajer akan
mengelola dan mengatur labanya agar kewajiban hutangnya yang
seharusnya diselesaikan pada tahun tertentu dapat ditunda untuk tahun
berikutnya. Hal ini merupakan upaya manajer untuk mengelola dan
mengatur jumlah laba yang merupakan indikator kemampuan perusahaan
dalam menyelesaikan hutangnya.
3) Political Cost Hypothesis
Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan
perusahaan tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal
tersebut dikarenakan besar kecilnya pajak yang akan ditarik oleh
pemerintah sangat tergantung pada besar kecilnya laba yang dicapai
perusahaan. Kondisi inilah yang menyebabkan manajer untuk mengelola
dan mengatur labanya dalam jumlah tertentu agar pajak yang harus
dibayar menjadi tidak terlalu tinggi.
2.2.4 IPO
Salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan dari pasar modal adalah
dengan melakukan penawaran saham perdana perusahaan kepada masyarakat atau
perusahaan, sedangkan go public dapat terjadi berkali-kali. Misalnya satu tahun setelah go public dan IPO, emiten (perusahaan yang menawarkan efek-efeknya di Bursa efek) kembali menjual saham dalam bentuk right issue, kemudian setelah berjalan dua tahun, emiten kembali melakukan go public dengan menerbitkan obligasi.
Menurut Gumanti (2002) IPO adalah suatu peristiwa dimana untuk
pertama kalinya suatu perusahaan menjual atau menawarkan sahamnya kepada
publik di pasar modal.
Tujuan perusahaan ingin melakukan IPO adalah mendapat tambahan
modal dari masyarakat (publik) dan perusahaan akan semakin dikenal.
Konsekuensinya pemilik perusahaan harus bersedia berbagi kepemilikan untuk
menginginkan penggalian dana yang tidak terbatas, yaitu dengan perusahaan
menjual saham kepada masyarakat melalui pasar modal, sehingga dapat diartikan
bahwa prosentase kepemilikan akan berkurang, namun sebenarnya hal tersebut
tidak perlu dikhawatirkan karena saham yang dijual kepada publik melalui proses
IPO tidak akan mengurangi kemampuan pemegang saham pendiri untuk tetap
dapat mempertahankan kendali perusahaan kemudian konsekuensi lainnya adalah
mematuhi Peraturan Pasar Modal yang berlaku, yang mana semua ketentuan
tersebut pada dasarnya justru akan membantu perusahaan untuk dapat
berkembang dengan cara yang baik di masa mendatang.
perusahaan. Bagi investor, membeli saham perusahaan yang melakukan IPO akan
memberikan alternatif lain dalam memperoleh penghasilan. Dengan membeli
saham, investor akan mendapat penghasilan berupa dividen.
Selain harus mendaftar ke Bapepam, perusahaan harus mempublikasikan
prospektus yang merupakan syarat wajib untuk suatu perusahaan yang hendak
melakukan penawaran ke publik, hal tersebut sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan oleh Bapepam. Begitu pentingnya prospectus karena mempunyai peran
sebagai iklan, guna untuk menarik investor agar membeli efek yang dijual dan
didalamnya berisi tentang jadwal proses go public, , sejarah singkat perusahaan, Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, para pengelola (komisaris dan
direksi), struktur organisasi, pendapat dari konsultan hukum dan penilai, laporan
keuangan yang sudah diaudit akuntan publik, kebijakan dividen dan risiko.
Setelah perusahaan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI),
perusahaan harus menunaikan kewajiban yang harus dipenuhi yaitu menerbitkan
laporan keuangan tahunan, membayar biaya go public, mengadakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan perusahaan harus bersikap terbuka terhadap publik.
2.2.5 Saham
2.2.5.1. Pengertiaan Saham
Saham didefinisikan sebagaisurat berharga sebagai bukti pernyertan atau
pemilik individu maupun institusi dalam suatu perusahaan. Apabila seseorang
investor membeli saham, maka dia akan menjadi pemilik dan disebut sebagai
Menurut Darmaji, dkk (2011;5) saham dapat didefinisikan sebagai tanah
penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau
suatu perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan
bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat
berharga tersebut.
2.2.5.2. J enis- jenis saham
Menurut Keown (1999;281) ada beberapa jenis saham yaitu:
a. Saham biasa (Common Stock)
Saham biasa menunjukaan kepemilikan dalam perusahaan, pemegang
obligasi dapat dipandang sebagai kreditor, sedangkan pemilik saham
biasa merupakan pemilik sebenarnya dari perusahaan, saham tidak
memiliki jangka waktu jatuh tempo,tetapi sebagai pemilik selama
sebuah perusahaan berdiri,saham tersebut juga tidak memiliki batas
pembayaran deviden.
b. Saham Preferent ( preffered stock)
Saham preferent sering disebut juga sebagai sekuritas hibrida/
sekuritas campuran karena ia memiliki banyak karakteristik baik dari
saham biasa ataupun obligasi.saham preferent sama dengan saham
biasa karena ia tidak memiliki jatuh tempo yang ditetapkan, deviden
yang tidak dibayarkan tidak akan menyebabkan kebangkrutan bagi
perusahaan dan deviden tidak dapat mengurangi pembayaran pajak.
Dilain pihak saham preferent sama dengan obligasi karena jumplah
2.2.5.3. J enis har ga saham
Menurut halim (2003;11) jenis-jenis harga saham adalah:
a. Harga Nominal
Menurut nilai yang ditetapkan emitenuntuk menilai setiap lembar
saham yang dikeluarkan.harga nominal itu tercantum dalam lembar
saham tersebut.
b. Harga Perdana
Merupakan harga sebelum saham tersebut dicantumkan di bursa efek,
besarnya harga perdana ini tergantung dari persetujuan antara emiten
(perusahaan penerbit saham)dan penjamin emisi (underwriter)
c. Harga Pasar
Menurut harga jual investor yang satu ke investor yang lain, harga
saham terjadi setelah harga saham tersebut dicatatkan ke bursa efek
atau disebut harga pasar skunder , harga ini benar-benar mewakili
perusahaan penerbitnya.harga yang diterbitkan setiap hari adalah harga
pasar ini.
d. Harga Pembukaan
Merupakaan harga yang diminta oleh penjual dari pembeli pada saat
jam bursa dibuka.
e. Harga Pembuka
Merupakaan harga yang diminta oleh penjual dari pembeli pada saat
f. Harga Tertingi
Transaksi tidak hanya sekali atau dua kali dalam satu hari , tetapi b isa
berkali-kali dan tidak terjadi pada harga yang sama.dari harga- harga
yang terjadi tentu ada harga yang paling tinggi pada stu hari bursa
tersebut,harga ini disebut harga tertingi.
g. Harga Terendah
Merupakan harga yang paling rendah pada satu hari bursa.
h. Harga Rata- rata
Merupakaan harga tertingi dan terendah, harga ini dicatat untuk
transaksi hariaan, bulanan dan tahunan.
2.2.6 Return Saham
Menurut Ang (1997: 97) konsep return (kembalian) adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya.
Return saham merupakan income yang diperoleh oleh pemegang saham sebagai hasil dari investasinya di perusahaan tertentu.
Return saham dapat dibedakan menjadi dua jenis (Jogiyanto, 2000), yaitu:
-Return realisasi (realized return) merupakan return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi ini penting dalam mengukur kinerja perusahaan dan sebagai dasar penentuan return dan risiko di masa mendatang.
Komponen penghitungan return saham (total return) terdiri dari
capital gain(loss) dan dividen (Dt). Return saham secara keseluruhan dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Jogiyanto, 2000)
Pt-Pt-1+Dt Return Saham =
Pt-1 Dimana:
P(t) = Harga Saham pada bulan ke - t
P(t-1) = Harga Saham pada bulan ke t -1
D(t) = Dividen pada bulan ke – t
Para investor termotivasi untuk melakukan investasi pada suatu instrumen
yang diinginkan dengan harapan untuk mendapatkan kembalian investasi yang
sesuai. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi atau tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi. yang dilakukannya
(Hartono, 2000: 107). Tanpa keuntungan yang diperoleh dari suatu investasi yang
dilakukannya, tentunya investor tidak mau melakukan investasi yang tidak ada
hasilnya. Setiap investasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang
mempunyai tujuan utama yaitu memperoleh keuntungan yang disebut return, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Return saham dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return
ekspektasi yang belum terjadi, akan tetapi diharapkan akan terjadi di masa yang
akan datang. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi dapat digunakan sebagai salah satu pengukuran kinerja perusahaan dan dapat juga
datang. Isu pada bagaimana pasar modal memproses informasi akuntansi terutama
laba dan komponennya merupakan hal penting bagi partisipan pasar modal.
Subramanyam (1996) dalam Ardiati (2005) menemukan bahwa diskresioner total
akrual berhubungan dengan harga saham, laba yang akan datang dan aliran kas.
Subramanyam (1996) dalam Ardiati (2005) menyimpulkan bahwa manajer
memilih akrual untuk meningkatka keinformatifan laba akuntansi. Healy dan
Wahlen (1998) dalam Saiful (2004)membagi motivasi yang mendasari
manajemen laba ke dalam tiga kelompokyang salah satunya motivasi dari pasar
modal yang ditunjukkan oleh returnsaham. Sedangkan motivasi lainnya adalah motivasi kontrak yang dapatberupa kontrak utang dan kompensasi manajemen dan
yang terakhir motivasiregulatory.
2.2.7 Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Return Saham
Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan
karena melibatkan potensi pelanggaran, kejahatan, dan konflik yang dibuat pihak
manajemen perusahaan dalam rangka menarik minat investor.Manajemen laba
dilakukan oleh manajer perusahaan dengan tujuan agarmereka dikontrak kembali
untuk menjabat sebagai manajer di perusahaantersebut di periode berikutnya (Kin
Lo, 2007: 1).
Manajemen laba yang tinggi akan berhubungan erat dengankualitas laba
yang rendah dan manajer melakukan manajemen laba untukmenjamin laba yang
berkualitas tinggi (Daniati dan Suhairi, 2006).
Investor bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modaldisebabkan
dari investasi tersebut. Return memungkinkan investor untukmembandingkan
keuntungan aktual ataupun keuntungan yang diharapkanyang disediakan oleh
berbagai investasi pada tingkat pengembalian yangdiinginkan. Di sisi lain, return
pun memiliki peran yang amat signifikan dalammenentukan nilai dari suatu
investasi (Daniati dan Suhairi, 2006).
Dalam teori keagenan manajemen laba merupakan tindakan oportunis
yang dilakukan oleh manajer terhadap laporan keuangan yang dibuat dalam tiap
periode tertentu sesuai dengan standar akuntansi dan Prinsip Akuntansi Berterima
Umum guna dilaporkan sebagai bentuk pertanggungjawabannya terhadap investor
dengan tujuan agar seolah-olah kondisi perusahaan terlihat baik, terlebih
perusahaan yang dikelolanya telah melakukan IPO yang mana perusahaan tersebut
juga disorot oleh publik dan pemerintah.
Pada umumnya manajer juga mengharapkan tambahan bonus atau
penghargaan dari hasil pengelolaannya, sehingga hal tersebut mendorong manajer
melakukan manajemen laba, sebaliknya investor dalam menanamkan modalnya
pada suatu perusahaan pasti mengharapkan keuntungan berupa pengembalian
yang hendak didapat dari hasil investasinya yaitu berupa return saham. 2.3 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu, maka dapat
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Variable independen Variable Dependen
Analisis Regresi Linier Sederhana
2.4 Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran yang telah
dikemukakan, maka dapat dirumuskan hipotesis bahwa manajemen laba
berpengaruh terhadap return saham perusahaan yang melakukan IPO tahun
2007-2010
Manajemen
laba
3.1 Definisi Operasional dan pengukuran variabel
Berdasarkaan kerangka piker dan hipotesis yang telah dibuat maka
variable-variable yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah earnings management (X) sebagai variable independen dan variable dependennya (Y) adalah return saham
a. Manajemen Laba/Earnings Managemen
Manajemen merupakan upaya dari pihak manajemen untuk
menyajikaan laporan keuangan yang sudah dimanipulasi melalui
komponen Discretionary Accrual dalam batas-batas yang dibolehkan
dalam SAK.
Pengukuran manajemen laba dalam penelitian ini didasarkan pada nilai
Discretionary Accrual yang dihitung dengan pendekatan Rangan
(1988) yaitu:
CAit =βoi + β1i Δ PENit + β2i Δ HPP + eit(1)...(Saiful, 2004:321)
CAit = Estimasi Current Accrual perusahaan i pada periode t
Δ PENit = Perubahaan pendapatan perusahaan i pada periode t
Δ HPP = Perubahaan harga pokok penjualan perusahaan I pada periode
t
Variable dependen dan independen dalam persamaan diatas
persamaan diatas diperoleh koefisien regresi (Nilai βo, β1i dan β2i koefisien akan
digunakaan untuk menghitung Discretionary Accrual sebagai berikut:
DAip = CAip – (bop + bit (Δ PENJip – Δ PIUip) + b2 Δ HPPip) (2)
( Sumber : Saiful,2004:321)
DAip = Disretionary Accrual perusahaan i pada periode t
CAip = Current Accrual perusahaan i pada periode t
Δ PENJip = Perubahaan pendapatan perusahaan i pada periode t
Δ PIUip = Perubahaan piutang perusahaan i pada periode t
Δ HPPip = Perubahan harga pokok perusahaan i pada periode t
βop, bit , b2 = Koefisien regresi yang diperoleh dari persamaan (1)
Dengan pendekataan diatas manajemen laba terjadi jika discretionary
accrual (DA) > 0. Skala pengukuranyang digunakaan adalah rasio.
b. Return Saham
Return Saham merupakaan tingkat keuntungan yang diberikan oleh
perusahaan kepada investor atas investasi yang telah ditanamkan.
Hubungan manajemen laba dan return saham dibuktikan dengan koefisien persamaan sebagai berikut :
Rt = Pt - Pt-1 Pt-1
Keterangan:
Rt = Return saham pada hari ke-t
Pt = Harga penutupan saham pada hari ke (t)
Pt-1 = Harga penutupan saham pada hari ke (t-1)
3.2.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapka oleh peneliti untuk
dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005: 55).Populasi dalam
Penelitian ini adalah perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007 hingga
tahun 2011.
3.2.2 Sample
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode “purposive sampling”adapun pengertian purposive samplingadalah teknik penentuan sampel yang dilakukan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan atas tujuan tertentu
(sugiyono, 2005: 61),maka kreteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :
1. Sampel tidak dikelompokkan kedalam jenis industri jasa keuangan. Karena
jenis industri keuangan sangat rentan terhadap regulasi dan memiliki
perbedaan karakteristik akrual dibandingkan jenis industri lainnya.
2. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan secara terus menerus minimal 2
tahun setelah IPO.
3. Perusahaan memiliki prospektus yang berisi laporan keuangaan minimal 2
tahun sebelum IPO. Perusahaan yang melakukan IPO periode tahun
2007-2011.Berdasarkan kreteria sampel yang digunakan maka jumlah sampel dalam
penelitian ini mengambil 10 perusahaan yang mulai melakukan IPO ada
periode tahun 2007 hinga 2011.
no Kode Nama perusahaan
1 YPAS PT. Yanaprima Hastapersada, Tbk 2 BAPA PT. Bekasi Asri pemula
3 ELSA PT. Elnusa, Tbk
4 TRIAL PT. Triwira Insanlestari, Tbk 5 EMTK Elang Mahkota Teknologi,Tbk 6 TOWR Sarana Menara Nusantara Tbk 7 BIPI Benakat Petroleum Energy,Tbk 8 GDST Gunawan Dianjaya Steel, Tbk 9 INVS Invoisi Infracom Tbk
10 MKPI Metropolitan kentjana, Tbk
3.3. Teknik Pengumpulan Data
3.3.1. J enis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
berupa laporan keuangan perusahaan sample yang berasal dari bursa efek
Indonesia di Surabaya.
3.3.2.Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan mengunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut.
a. Studi pustaka
Yaitu penelitian yang mempelajari literature dan artikel tentang kinerja
perusahaan yang go public, manajemen laba guna mendapat dasar
tertulis yang akan digunakan dalam melakukan pembahasan.
b. Dokumentasi
Yaitu suatu cara untuk memperoleh data dan dokumen perusahaan
arsip-arsip perusahaan dan mendownluad data-data keuangan perusahaan
yang diperlukan
3.4.Teknik analisis dan Uji Hipotesi
3.4.1 Uji Normalitas
Menurut Soemarsono (2002:40) uji normalitas digunakan untuk
mengetahui apakah suatu data mengikuti sebaran normal/ tidak.Untuk mengetahui
apakah data tersebut mengikuti sebaran normal dapat dilakukan dengan berbagi
metode diantaranya adalah metode Kolmogorov Smirnov dan metode Shapiro
Wilk.
Pedomaan dalam mengambil keputusaan apakah sebuah distribusi data
mengikuti ditribusi normal adalah: (Sumarsono, 2002:43)
- Jika nilai signifikansi (nilai probabilitasnya) lebih kecil dari 5% maka
distribusi adalah tidak normal.
- Jika nilai signifikansi (nilai probabilitasnya) lebih besar dari 5% maka
distribusi adalah normal
3.4.2 Teknik Analisis
Teknik analisi yang digunakaan dalam penelitiaan ini adalah model
analisis regresi sederhana yang menurut Priyanto Dwi (2008:66) analisis regresi
sederhana merupakaan hubungaan secara linier antara satu variable
independen(X) dengan variable dependen (Y).Persamaaanya adalah sebagai
berikut:
Y = retrun saham
X = Manajemen laba
a = Konstanta
b = Koefisien regresi (nilai peningkatan atau pun penurunan)
3.4.3Uji Hipotesis
3.4.3.1 Uji F
Untuk menguji cocok atau tidaknya model regresi yang dihasilkan,
digunakan uji F dengan prosedur sebagai berikut:
a. β1 = β2 ….= βj =0 ( (model regresi yang digunakaan tidak cocok)
H1 : βj = 0 (model regresi yang digunakaan cocok)
b. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan(α) = 5% dengan
kreteria pengujian sebagai berikut:
- Jika tingkat signifikan (p-value) > 0,05maka H0 diterima H1 ditolak
- Jika tingkat signifikan (p-value) < 0,05 maka H0ditolak dan H1
diterima.
3.4.3.2 Uji t
Uji t digunakaan untuk mengetahui apakah manajemen laba (X)
berpengaruh secara signifikan terhadap return saham (Y).
H0 : β1 = 0, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan manajemen
laba(X) terhadap retrun saham (Y)
H0 : β1 = 0, artinya ada pengaruh positif dan signifikan manajemen laba
1. Kreteria pengujian sebagai berikut:
H0 diterima jika tingkat probabilitasnya > 0,05
4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian
1. PT.Yanapr ima Hastaper sada,Tbk(YPAS)
PT Yanaprima Hastapersada Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Indonesia
pada tanggal 14 Desember 1995 berdasarkan akta Notaris Emmy Hartati Yunizar,
S.H., No. 38. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-3253.HT.01.01.TH.1996
tanggal 1 Maret 1996 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik
Indonesia No. 40 tanggal 17 Mei 1996, Tambahan No. 4599. Anggaran Dasar
Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta
Notaris Marina Soewana, S.H., No. 5 tanggal 1 November 2007, sehubungan
dengan rencana penawaran umum saham Perusahaan kepada masyarakat dan
perubahan nama Perusahaan menjadi PT Yanaprima Hastapersada Tbk. Akta
perubahan tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.
C-02497.HT.01.04-TH.2007 tanggal 7 November 2007 (lihat Catatan 12).
Perusahaan berkedudukan di Jakarta, dengan kantor pusat berlokasi di
Gedung Graha Irama Lantai 15G, Jalan H.R. Rasuna Said Blok. X/1 Kav. 1-2,
Jakarta Selatan, sedangkan pabriknya berlokasi di Sidoarjo dan Surabaya, Jawa
2. PT.Bekasi asri Pemula,Tbk (BAPA)
PT Bekasi Asri Pemula (Perusahaan) didirikan berdasarkan Akta Pendirian
no. 909 tanggal 20 Oktober 1993 dibuat di hadapan Ny. Hj. Nazli Alida Lubis,
S.H. notaris di Bekasi. Akta Pendirian telah disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. C2-4547.HT.01.01.Th.94
tanggal 11 Maret 1994 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia
no. 54 tanggal 8 Juli 1994, Tambahan No. 4097/1994. Pada tanggal 28 Pebruari
2007 diadakan Risalah Rapat mengenai peningkatan modal dasar saham dan
modal ditempatkan berdasrkan akta no. 30 yang dibuat di hadapan Drs. Wijanto
Suwongso, S.H., notaris di Jakarta dengan persetujuan dari Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tanggal 5 April 2007 No. W7-03629
HT.01.04-TH.2007.
Perusahaan telah memperoleh surat pernyataan efektif dari Ketua
Bapepam dan LK dengan Surat No. S-6498/BL/2007 tanggal 19 Desember 2007
untuk melakukan penawaran umum perdana saham kepada masyarakat sebanyak
150.000.000 lembar saham biasa. Pada tanggal 14 Januari 2008 seluruh saham
sejumlah 650.000.000 telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup
kegiatan Perusahaan adalah dalam bidang real estat, perdagangan, pembangunan,
industri, percetakan, agrobisnis, pertambangan dan jasa angkutan. Perusahaan
mulai melakukan kegiatan komersial sejak tahun 2004 dan kegiatan usaha yang
dilakukan perusahaan sampai dengan saat ini adalah real estat. Perusahaan dan
Serpong dan Bekasi, yaitu Bumi Serpong Residence di daerah Pamulang (Anak
Perusahaan PT Puriayu Lestari), Taman Alamanda (Induk Perusahaan PT Bekasi
Asri Pemula) dan Alamanda Regency (Anak Perusahaan PT Karya Graha
Cemerlang) di daerah Bekasi Timur .
3. PT.Elnusa,Tbk (ELSA)
PT Elnusa Tbk (Perusahaan) didirikan dengan nama PT Electronika
Nusantara pada tanggal 25 Januari 1969 berdasarkan Akta Notaris Tan Thong
Kie, S.H., No. 18 tanggal 25 Januari 1969 jo Akta Notaris No. 10 tanggal 13
Februari 1969 oleh notaris yang sama. Akta pendirian ini telah mendapat
pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan
No. J.A.5/18/24 tanggal 19 Februari 1969 serta telah diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia No. 35, Tambahan No. 58 tanggal 2 Mei 1969.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan
Perusahaan bergerak dalam bidang jasa, perdagangan, pertambangan,
pembangunan dan perindustrian. Perusahaan berdomisili di Graha Elnusa Lt. 16,
Jl. T.B. Simatupang Kav. 1B, Jakarta Selatan dan mulai beroperasi secara
komersial pada bulan September 1969. Saat ini, Perusahaan beroperasi dalam
bidang jasa hulu migas dan penyertaan saham pada Anak perusahaan dan
perusahaan asosiasi yang bergerak dalam berbagai bidang usaha, yaitu jasa dan
perdagangan penunjang hulu migas, jasa dan perdagangan hilir migas, jasa
pengolahan dan penyimpanan data migas, pengelolaan aset lapangan migas dan
dan jasa kepada Anak perusahaan dan perusahaan yang mempunyai hubungan
istimewa serta penyediaan dan pengelolaan ruang perkantoran.
4. PT.Triwira Insanlestari,Tbk (TRIL)
PT Triwira Insanlestari Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Indonesia pada
tanggal 26 Oktober 1992 berdasarkan akta Notaris Erny Tjandrasasmita, S.H., No.
185, yang diubah dengan akta perubahan No. 181 tanggal 20 Juni 2000, dan
diperbaiki dengan akta perbaikan No. 142 tanggal 14 September 2000 oleh
Notaris Dradjat Darmaji, S.H., akta tersebut telah mendapat pengesahan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai surat
keputusannya No. C-2368.HT.01.01.TH.2001 tanggal 15 Maret 2001. Anggaran
dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir
berdasarkan akta No. 6 Notaris Lenny Janis Ishak, S.H., No. 6 tanggal 17
September 2007, dalam rangka penawaran umum saham Perusahaan kepada
masyarakat
Perusahaan berkedudukan di Jakarta yang berlokasi di Jl. Melawan No
26/16, Jakarta Pusat dan memiliki 2 kantor cabang yang berlokasi di Surabaya dan
Balikpapan. Perusahaan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1993.
5. PT.Elang Mahkota Teknologi,Tbk (EMTK)
PT Elang Mahkota Teknologi (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan akta
notaris Soetomo Ramelan, S.H. No. 7 tanggal 3 Agustus 1983. Akta pendirian ini
telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-1773.HT.01.01.TH.84 tanggal 15 Maret
14 Februari 1997. Perusahaan berkedudukan di Jakarta. Kegiatan utama
Perusahaan seperti tertera di dalam Anggaran Dasar adalah di bidang jasa,
(terutama dalam bidang penyediaan jasa teknologi, media dan telekomunikasi),
perdagangan, pembangunan dan industri. Perusahaan memulai aktivitas secara
komersial di tahun 1984.
Perusahaan berkedudukan di Jakarta. Kegiatan utama Perusahaan seperti
tertera di dalam Anggaran Dasar adalah di bidang jasa, (terutama dalam bidang
penyediaan jasa teknologi, media dan telekomunikasi), perdagangan,
pembangunan dan industri. Perusahaan memulai aktivitas secara komersial di
tahun 1984. Saat ini aktivitas Perusahaan berupa penyertaan saham pada beberapa
Anak Perusahaan yang bergerak dalam bidang segmen media, segmen solusi dan
lain-lain.
6. PT. Sar ana Menara Nusantar a,Tbk (TOWR)
PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (“Perseroan”) didirikan berdasarkan
Akta Pendirian No. 31 tanggal 2 Juni 2008, dibuat dihadapan Dr. Irawan
Soerodjo, S.H. MSi., Notaris di Jakarta (“Anggaran Dasar”). Anggaran Dasar
Perseroan ini disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat
Keputusan No. AHU-37840.AH. 01.01.Tahun 2008 tanggal 2 Juli 2008. Kantor
pusat Perseroan berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 19A, Kudus, Jawa Tengah dan
kantor cabangnya berlokasi di Menara BCA, lantai 55, Jl. M.H. Thamrin No.1,
Jakarta 10310, Indonesia.
Berdasarkan Pasal 3 dari Anggaran Dasar Perseroan, ruang lingkup usaha
pajak dan melakukan investasi pada perusahaan lain. Operasi komersial Perseroan
dimulai tanggal 2 Juni 2008.
Kantor pusat Perseroan berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 19A, Kudus,
Jawa Tengah dan kantor cabangnya berlokasi di Menara BCA, lantai 55, Jl. M.H.
Thamrin No.1, Jakarta 10310, Indonesia. Pada tanggal 25 Februari 2010,
Perseroan memperoleh Surat Pernyataan Efektif dari Ketua Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) dengan suratnya No.
S-1815/BL/2010 untuk melakukan penawaran umum perdana 112.232.500 saham
kepada masyarakat dengan nilai nominal Rp500 (angka penuh) per saham dengan
harga penawaran sebesar Rp1.050 (angka penuh) per saham. Pada tanggal 8 Maret
2010, seluruh saham tersebut
telah dicatat di Bursa Efek Indonesia.
7. PT.Benakat Petroleum Energy,Tbk (BIPI)
PT. Benakat Petroleum Energy Tbk (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan
akta notaris Elvie Sahdalena, S.H, M.H., No. 4 tanggal 19 April 2007. Akta
pendirian ini disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia dalam Surat Keputusan No. W8-01763. HT.01.01-TH.2007 yang
ditetapkan tanggal 25 Juni 2007. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami
beberapa kali perubahan, terakhir kali berdasarkan akta notaris Humberg Lie, SH,
SE, MKn., No. 358 tanggal 30 Nopember 2011 mengenai perubahan kedudukan
hukum Perusahaan. Perubahan anggaran dasar tersebut telah didaftarkan ke
pada tanggal 2 Desember 2011 dengan Nomor: AHU-59340.AH.01.02.Tahun
2011.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup
kegiatan Perusahaan adalah bergerak di bidang pembangunan, perdagangan,
pertambangan, perindustrian dan jasa. Perusahaan mulai beroperasi pada tahun
2007. Perusahaan dan entitas anak memiliki karyawan tetap pada tanggal 31
Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebanyak 88 dan 152 orang.
8. PT.Gunawan Dianjaya Steel,Tbk (GDST)
PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (Entitas) didirikan dalam rangka
Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6, tahun 1968 jo.
Undang-Undang No. 12, tahun 1970 berdasarkan akta Notaris Jamilah Nahdi, S.H., No. 6,
tanggal 8 April 1989. Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-2.11174.HT.01.01, Th.1989
tanggal 11 Desember 1989 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No.
15, tanggal 20 Pebruari 1990. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Entitas,
ruang lingkup kegiatan Entitas adalah berusaha dalam bidang industri
penggilingan pelat baja canai panas. Entitas mulai berproduksi secara komersial
pada tahun 1993 dan hasil produksi Entitas dipasarkan di dalam dan terutama di
luar negeri.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Entitas, ruang lingkup kegiatan
Entitas adalah berusaha dalam bidang industri penggilingan pelat baja canai
produksi Entitas dipasarkan di dalam dan terutama di luar negeri Lokasi kantor
dan pabrik Entitas berada di Jalan Margomulyo No. 29 A, Surabaya, Jawa Timur.
9.PT.Invoisi Infr acom,Tbk (INVS)
PT Inovisi Infracom Tbk (“Perusahaan”) didirikan dengan nama PT Cipta
Media Rekatama berdasarkan Akta Notaris Efran Yuniarto, S.H., M.Kn., No. 3,
tanggal 11 Mei 2007. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.
W7-08406 HT.01.01-TH.2007 tanggal 27 Juli 2007. Anggaran dasar Perusahaan telah
mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta Notaris Leolin
Jayayanti No. 1 tanggal 5 Maret 2010, sehubungan dengan peningkatan modal
dasar Perusahaan dari Rp 240.000.000.000 menjadi Rp 500.000.000.000 (lihat
Catatan 24d).
Perusahaan berdomisili di Jakarta dan berlokasi di Gedung The East
Office Tower Lt. 30 Unit 05, Jl. Lingkar Mega Kuningan Kav. E.3.2 No. 1,
Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan.
10. PT.Metr opolitan Kentjana, Tbk (MKPI)
PT Metropolitan Kentjana (Perusahaan) didirikan berdasarkan akta No. 38
tanggal 29 Maret 1972 dari Hobropoerwanto, S.H., notaris di Jakarta. Anggaran
dasar Perusahaan telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. J.A.5/84/14 tanggal 29 Mei
1972 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 57 tanggal
18 Juli 1972, Tambahan No. 262. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami
S.H., Msi., notaris di Jakarta, mengenai perubahan status Perusahaan dari
perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka, perubahan nama dari PT
Metropolitan Kentjana menjadi PT Metropolitan Kentjana Tbk, perubahan nilai
nominal dari Rp 1.000 per saham menjadi sebesar Rp 100 per saham.
Perusahaan berkedudukan di Jakarta Selatan memiliki dan mengelola
pusat perbelanjaan (mal) Pondok Indah I dan II, Wisma Pondok Indah dan
Apartemen Golf Pondok Indah serta proyek real estat perumahan Pondok Indah.
Kantor pusat Perusahaan beralamat di Jalan Metro Duta Niaga Blok B5 Pondok
Indah, Jakarta Selatan.
4.2. Deskr ipsi Hasil Penelitian
4.2.1. Manajemen Laba (X)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah manajemen laba Discretionary accrual, dalam penelitian ini menggunakan pendekatan discretionary accrual
untuk mengukur manajemen laba Dicretionary accrual adalah pengakuan akrual laba atau beban yang bebas tidak diatur dan merupakan pilihan kebijakan
manajemen. Discretionary accrual yang digunakan untuk menghitung manajemen laba. Perkembangan manajemen laba perusahaan selama tahun 2009 hingga 2011