PENGARUH PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN DAN MINAT BERWIRAUSAHA TERHADAP MOTIVASI UNTUK BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA PROGDI AKUNTANSI UPN VETERAN JATIM).

72  47 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Oleh :

Muhammad Ardhiansyah Putra

ABSTRAK

Semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik di Indonesia, salah

satunya disebabkan oleh enggannya lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha.

Menjadi wirausaha seringkali dipandang sebagai pilihan karir yang tidak terlalu

disukai karena dihadapkan pada situasi yang tidak pasti, penuh rintangan, dan

frustasi berkaitan dengan proses pendirian usaha baru. Kecenderungan yang

terjadi pada mahasiswa-mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi sekarang

adalah kebanyakan dari mereka lebih menginginkan pekerjaan yang mapan

dengan mendapatkan status yang terhormat dan tidak terlalu banyak resiko setelah

menyelesaikan pendidikannya, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah

prestasi belajar kewirausahaan, dan minat berwirausaha berpengaruh terhadap

motivasi berwirausaha .

Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari jawaban

responden yang disebarkan melalui daftar kuesioner pada 60 orang mahasiswa

UPN Veteran Jawa Timur Program Studi Akuntansi dengan teknik pengambilan

sampel random sampling. Variabel penelitian yang digunakan adalah Prestasi

Belajar Kewirausahaan (X

1

) dan Minat Berwirausaha (X2) sebagai variabel bebas,

dan Minat untuk Berwirausaha (Y) sebagai variabel terikat dan dianalisis dengan

uji regresi linier berganda.

Hipotesis yang diajukan, diduga prestasi belajar kewirausahaan dan minat

berwirausaha berpengaruh terhadap motivasi untuk berwirausaha, setelah

dianalisis dan diuji, disimpulkan bahwa Prestasi belajar Kewirausahaan

berpengaruh tidak signifikan terhadap motivasi untuk berwirausaha, sedangkan

minat untuk berwirausaha mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

Motivasi untuk berwirausaha.

Keywords : Prestasi Belajar Kewirausahaan, Minat Berwirausaha, dan

(2)

By :

Muhammad Ardhiansyah Putra

ABSTRACT

The increasing number of unemployment educated at Indonesia, one of

which is caused by the reluctance of university graduates in entrepreneurship. Be

self-employment is often seen as a career option that is not too popular because it

faces a situation uncertain, full of obstacles, and the frustration associated with the

creation of new businesses. The trend that is happening in the students who sit on

the University right now is that most of them prefer a stable job with a State of

respectable gain and not too many risks after completing his studies, this research

aims to find out if achievement business, and interest in the influential

entrepreneurship motivation towards entrepreneurship

This study uses data collected primary of the answers of the respondents

are transmitted through the list of questionnaires from students in 60 people in the

East of Java UPN veterans of accounting studies program with the technique of

sampling of random sampling. the research is variable entrepreneurial spirit of the

school results (X 1) and the interest in entrepreneurship (X 2) as independent

variables, and the interest in entrepreneurship (and) as a dependent variable and

analysed by multiple linear regression

The hypothesis, the expected accomplishments and interest in business

entrepreneurship affects the motivation of entrepreneurship, after having

examined and tested, it was concluded that the results of learning is not a

significant effect on the business motivation for entrepreneurship, while interest in

entrepreneurship has a significant influence on the motivation of entrepreneurship

(3)

1.1 Latar Belakang

Semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik di Indonesia, salah

satunya disebabkan oleh enggannya lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha.

Menjadi wirausahaseringkali dipandang sebagai pilihan karir yang tidak terlalu

disukai karena dihadapkan padasituasi yang tidak pasti, penuh rintangan, dan

frustasi berkaitan dengan proses pendirian usaha baru. Kecenderungan yang

terjadi pada mahasiswa-mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi sekarang

adalah kebanyakan dari mereka lebih menginginkan pekerjaan yang mapan

dengan mendapatkan status yang terhormat dan tidak terlalu banyak resiko setelah

menyelesaikan pendidikannya.

Menurut Koesworo dkk (2007)penciptaan wirausaha (baru) adalah sebuah

kebutuhan mutlak yang harus segera diwujudkan. Kondisi ini disebabkan oleh

kapasitas unit usaha yang ada sudah tidak seimbang dengan jumlah penduduk

pencari kerja dan mengakibatkan tingginya angka pengangguran.Jumlah

pengangguran dari tahun ke tahun terus meningkat, hal ini disebabkan sedikitnya

lapangan pekerjaan sedangkan jumlah lulusan sekolah menengah dan perguruan

tinggi terus bertambah. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara jumlah

lapangan pekerjaan dengan orang yang akanbekerja. Apalagi diperparah dengan

(4)

Masalah pengangguran merupakan salah satu masalah penting di suatu

negara, demikian halnya di Indonesia.Hampir separuhnya disumbangkan oleh

lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya sangat banyak.Fenomena ironis yang

muncul di dunia pendidikan di Indonesia adalah semakin tinggi pendidikan

seseorang, probabilitas atau kemungkinan diamenjadi penganggur semakin tinggi.

Dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia, jumlah terbanyak datang dari

para lulusan sarjana dan diploma. Jumlah lulusan sarjana dan diploma yang

menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78%

( http://www.detikfinance.com/read/2010/12/01/131825/1506690/4/bps-sarjana-di-indonesia-paling-banyak-jadi-pengangguran).

Sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja

daripada pencipta lapangan pekerjaan. Hal ini disebabkan sistem pembelajaran yang

diterapkan di berbagai perguruan tinggi saat ini, yang umumnya lebih terfokus pada

ketepatan lulus dan kecepatan memperoleh pekerjaan, dan memarginalkan kesiapan

untuk menciptakan pekerjaan. Mengingat betapa banyaknya jumlah pengangguran di

Indonesia saat ini, maka mahasiswa diharapkan tidak hanya mengandalkan bekerja di

sektor pemerintahan atau bekerja untuk mengisi lowongan kerja, tetapi juga

diharapkan mampu untuk memanfaatkan ilmu yang telah dimiliki.Dan dapat

memanfaatkan peluang yang ada sebagai usaha untuk kerja mandiri.Akan tetapi

penyebab dari kurangnya minat dalam wirausaha adalah pandangan negatif dari

sebagian masyarakat, mereka tidak menginginkan menerjuni bidang wirausaha dan

mereka berucap “Untuk apa sekolah tinggi, jika hanya mau jadi

(5)

masyarakat.Landasan filosofis seperti inilah yang menyebabkan banyak lulusan

perguruan tinggi tidak temotivasi terjun di dunia wirausaha (Siswoyo, 2009) dalam

(Kristiyani,2008).

Menurut Sasmita, Direktur Teknologi & Operasional Bank Mandiri

(Kompas, Jum'at 7 Agustus 2009) di Indonesia rasio wirausahawan dibandingkan

dengan jumlah penduduk masih kurang dari angka standar untuk kategori negara

maju. Rasio di Indonesia hanya sekitar 0,18% sedangkan angka rasio

wirausahawan untuk negara maju adalah 2 % ( http://id.shvoong.com/business-management/1942772-wirausaha-menjadikan-bangsa-mandiri/).

Kecilnya minat berwirausaha di kalangan lulusan perguruan tinggi sangat

disayangkan.Melihat kenyataan bahwa lapangan kerja yang ada tidak memungkinkan

untuk menyerap seluruh lulusan perguruan tinggi di Indonesia, harusnya para lulusan

perguruan tinggi mulai memilih berwirausaha sebagai pilihan karirnya.Upaya untuk

mendorong hal ini mulai terlihat dilakukan oleh kalangan institusi pendidikan,

termasuk perguruan tinggi.Kurikulum yang telah memasukkan pelajaran atau mata

kuliah kewirausahaan telah marak.Namun demikian, hasilnya masih belum

terlihat.Dibuktikan dengan angka pengangguran terdidik yang masih tinggi

(Sondari,2009).

Kewirausahaan merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui

sikap dan perilaku yang kreatif dan inovatif untuk melakukan suatu

kegiatan.Dengan demikian tujuan pembelajaran kewirausahaan sebenarnya

untukmenghasilkan pebisnis atau business entrepreneur profesi yangdidasari oleh

(6)

Bila semakin banyak wirausahawan di negeri ini, maka akan semakin

maju negara ini, seperti yang dilakukan oleh Singapura, Malaysia, Cina, Korea,

Amerika dan lain-lainnya. Dengan diadakannya kuliah umum kewirausahaan

diharapkan akan dapat menggugah bakat dan motivasi mahasiswa untuk

berwirausaha. Sebagian besar pendorong perubahan, inovasi dan kemajuan suatu

negara adalah para wirausahawan (Alfitman dan Gatot, 2009).

Kewirausahaan merupakan persoalan penting di dalam perekonomian

suatu bangsa yang sedang membangun.Kemajuan atau kemunduran ekonomi

suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari para wirausahawan.

Melalui kewirausahaan akan memunculkan banyak manfaat, antara lain

memberikan banyak lowongan pekerjaan, menawarkan berbagai produk dan

jasa kepada konsumen dan pajak yang dibayarkan kepada pemerintah

(Siswoyo, 2009).

Menurut Chandra, penulis buku “Menjadi Entrepreneur Sukses”dalam

Kristiyani, (2008) beliau mengemukakan “Di era otonomi daerah saat ini, pendidikan

kewirausahaan sangat dibutuhkan”. Karena, dengan pendidikan tersebut

sebenarnya akan banyak menciptakan pengusaha-pengusaha baru. Melihat kondisi

ini, Purdi E. Chandra mengatakan bahwa “Kita perlu adanya upaya menciptakan

pengusaha baru”, sebab menjadi pengusaha itu bukan diajarkan tetapi dididik

dalam pengertian non formal. Sehingga, perlu ada solusi, yaitu bagaimana

kita membuat pendidikan untuk menciptakan orang jadi pengusaha.Hal itu

biasa diberikan lewat model pendidikan, yang bukan saja mengandalkan pada

(7)

kita.Sementara universitas yang ada, hanya menciptakan calon pencari kerja,

bukan penciptakerja.

Dalam hubungannya dengan alasan dan pertimbangan tersebut, mahasiswa

sebagai salah satu golongan elit masyarakat yang diharapkan menjadi

pemimpin-pemimpin bangsa masa depan, sudah sepantasnya menjadi pelopor dalam

mengembangkan semangat kewirausahaan. Dengan bekal pendidikan tinggi

diharapkan mampu mengembangkan diri menjadi seorang wirausahawan dan

bukan sebaliknya lulusan perguruan tinggi hanya bisa menunggu lowongan kerja

bahkan menjadi pengangguran yang pada hakekatnya merupakan beban

pembangunan (Indarti dan Rostiani, 2008).

Peranan universitas hanya sekedar menjadi fasilitator dalam

memotivasi, mengarahkan dan penyedia sarana prasarana dalam mempersiapkan

lulusan yang mempunyai motivasi kuat, keberanian , kemampuan serta karakter

pendukung dalam mendirikan bisnis baru. Keberhasilan program yang ditetapkan

sampai tercapai “The Finish Entrepreneurship Education“ lebih banyak

tergantung pada seberapa banyak lulusan yang mempunyai pengalaman yang

bermakna selama proses belajar-mengajar dan hal tersebut terus berlanjut saat

proses bisnis berlangsung. Pihak universitas memotivasi dan membekali para

lulusannya untuk membuka bisnis baru serta menjalankan pada masa kuliah dan

diteruskan setelah kuliah selesai (Yohnson, 2003).

Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur sebagai salah

satu wadah pendidikan yang berada di kota Surabaya telah cukup lama membekali

(8)

Sejumlah aktivitas telah dilakukan pada mata kuliah ini, yaitu tentang teori-teori

kewirausahaan, praktek lapangan kewirausahaan.Dengan melakukan aktivitas itu

semua, diharapkan dapat membuat para mahasiswa terdorong untuk menjadi

wirausaha sebelum atau sesudah mereka diwisuda.

Bedasarkan pretestyang ditujukan kepadamahasiswa program studi

akuntansi TA. 2007/2008dengan tujuan untuk mengetahui motivasi mahasiswa

untuk menjadi seorang wirausaha setelah lulus S1 nantidengan rata-rata IPK 3,

ratanilai mata kuliah kewirausahaan A- danalasan yang diberikan adalah

rata-rata mengatakanbelum berani terjun dibidang kewirausahaan karena dibayangi

resiko ketidak berhasilan, kurangnya modal dan ingin mencari pengalaman

bekerja.Untuk itu banyak yang memutuskan untuk membuat atau mengajukan

surat lamaran sebagai pegawai negeri sipil atau pegawai swasta yang dianggap

tidak beresiko. Seharusnya dengan adanya mata kuliah kewirausahaan dapat

memotivasi mahasiswa khususnya para mahasiswa program studi akuntansi untuk

berwirausaha, agar para lulusan nantinya tidak bergantung pada pencarian

pekerjaan melainkan menciptakan suatu pekerjaan.Untuk lebih jelasnya bisa

(9)
(10)

Dengan dengan adanya latar belakang permasalahan di atas, maka peneliti

mencoba untuk mengamati dan mencermati prestasi belajar kewirausahaan, minat

berwirausaha dan motivasi berwirausaha yang dituangkan dalam penelitian

dengan judul : “PENGARUH PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN

DAN MINAT BERWIRAUSAHA TERHADAP MOTIVASISEBAGAI

WIRAUSAHA PADA MAHASISWA PROGDIA KUNTANSI UPN

VETERAN JATIM”

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian permasalahan diatas, maka dapat dirumusakan

permasalahan sebagai berikut :

Apakah prestasi belajar kewirausahaan, dan minat berwirausaha berpengaruh

terhadap motivasi sebagai wirausaha?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis minat dan motivasi sebagai wirausaha

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh prestasi belajar kewirausahaan

(11)

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

a) Bagi Mahasiswa

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam penelitian

yang sama, sehingga hasil penelitian tersebut akan menjadi lebih

sempurna.

b) Bagi Peneliti

Untuk mendapatkan pemahaman tentang motivasi sebagai wirausaha dilihat

dari nilai prestasi mata kuliah kewirausahaan dan minat berwirausaha.

c) Bagi UPN “VETERAN” Jawa Timur

Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain dengan materi yang

berhubungan dengan penelitian ini, serta sebagai Dharma Bhakti terhadap

perguruan tinggi khususnya Fakultas Ekonomi UPN “VETERAN” Jawa

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang dapat

dipakai sebagai bahan pengkajian dengan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Yohnson (2003)

Penelitian yang berjudul “Peranan Universitas Dalam Memotivasi Sarjana

Menjadi Young Entrepreneurs” bertujuan untuk mengetahui apakah faktor

motivasi yang paling dominan yang membuat seseorang memiliki keinginan

menjadi seorang entrepreneur.Hipotesis penelitian ini adalah diduga faktor

motivasi yang mendorong para alumni Universitas Kristen Petra menjadi

wirausaha adalah faktor kesempatan. Hasil penelitian mengemukakan bahwa

faktor yang paling dominan memotivasi para alumni Universitas Kristen Petra

menjadi wirausaha adalah faktor kesempatan, faktor kebebasan dan faktor

kepuasan hidup.

2. Sri Hastuti dan Dwi Suhartini (2007)

Penelitian yang berjudul “Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Motivasi

Menyelesaikan Studi Tepat Waktu Di Jurusan Akuntansi” bertujuan untuk

mengetahui 1) Apakahkeinginan memperoleh gelar akuntan, tipe kepribadian, dan

pemahaman tentang manfaat gelar akuntan berpengaruh terhadap motivasi

menyelesaikan studi tepat waktu di jurusan akuntansi. 2) Apakah tipe kepribadian

(13)

gelar akuntan dengan motivasi menyelesaikan studi tepat waktu di jurusan

akuntansi. Hipotesis penelitian ini adalah 1) Bahwa keinginan memperoleh gelar

akuntan, tipe kepribadian, dan pemahaman tentang manfaat gelar akuntan

berpengaruh terhadap motivasi menyelesaikan studi tepat waktu di jurusan

akuntansi.2) Bahwa tipe kepribadian merupakan variable moderating dalam

hubungan antara keinginan memperoleh gelar akuntan dengan motivasi

menyelesaikan studi tepat waktu di jurusan akuntansi. Berdasarkan hasil

penelitian dan pembahasan yang diuraikan dapat diambilkesimpulan bahwa1)

keinginan memperoleh gelar akuntan, tipe kepribadian tidak berpengaruh terhadap

motivasi menyelesaikan studi tepat waktu, dan pemahaman tentang manfaat gelar

akuntan secara parsial berpengaruh terhadap motivasi menyelesaikan studi tepat

waktu di jurusan akuntansi. 2) Bahwa tipe kepribadian merupakan variable

moderating dalam hubungan antara keinginan memperoleh gelar akuntan dengan

motivasi menyelesaikan studi tepat waktu di jurusan akuntansi.

3. Ahmad Mun’im (2008)

Penelitian yang berjudul “Hubungan Prestasi Belajar Program Diklat

Kewirausahaan dengan Minat Berwiraswasta Siswa Kelas III SMK Negeri 1

Samarinda” bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara prestasi

belajar program diklat kewirausahaan dengan minat berwiraswasta siswa kelas 1

smk samarinda.Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan yang positif antara

prestasi belajar program diklat kewirausahaan dengan minat berwiraswasta siswa

kelas 1 smk samarinda.Hasil penelitian terdapat hubungan yang positif dan

(14)

wiraswasta siswa kelas III SMK Negeri 1 Samarinda.

4. Eko Priambodo (2010)

Penelitian yang berjudul “Pengaruh Motivasi dan Mental Kewirausahaan

Terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Untuk Berwirausaha” bertujuan untuk

menguji dan membuktikan secara empiris pengaruh motivasi dan mental

kewirausahaan untuk berwirausaha Hipotesis penelitian ini adalah diduga

motivasi dan mental kewirausahaan berpengaruh terhadap minta untuk

berwirausaha.Hasil penelitian adalah motivasi dan mental kewirausahaan

berpengaruh terhadap minat berwirausaha.

2.2. Perbedaan Penelitian Terdahulu Dengan Penelitian Sekarang

No Nama

X1: Faktor kesempatan

X2: Faktor kebebasan

X3: Faktor kepuasan hidup

Y: Motivasi Berwirausaha

2. Sri Hastuti Waktu Di Jurusan Akuntansi”

X1: Keinginan memperolehgelar akuntan

X2: Tipe Kepribadian

X3: Pemahaman tentang manfaat gelar akuntan

Y: motivasi menyelesaikan studi tepat waktu

X: Prestasi belajar program

(15)

dengan Minat Berwiraswasta Siswa Kelas III SMK Negeri 1 Samarinda”

Y: Minat Berwiraswasta

4. Eko

X2: Mental kewirausahaan

Y: Minat untuk berwirausaha

5. Muhammad terhadap Motivasi Sebagai

X2: Minat berwirausaha

Y: Motivasi sebagai wirausaha

Semula kewirausahaan hanya berkembang dalam bidang perdagangan tapi

dalam bidang-bidang yang lain kewirausahaan sudah dijadikan pegangan untuk

menciptakan perubahan, pembaharuan dan kemajuan. Kewirausahaan tidak hanya

digunakan untuk mencapai tujuan jangka pendek tapi juga untuk mencapai tujuan

jangka panjang dan untuk menciptakan peluang usaha.Dalam bidang industri

banyak perusahaan yang sukses dan memperoleh banyak peluang karena memiliki

kreativitas dan keinovasian (Suryaman, 2006).

Melalui proses kreatif dan inovatif wirausaha dapat menciptakan nilai

tambah barang dan jasa yang diciptakan. Nilai tambah barang dan jasa dapat

(16)

keunggulan termasuk keunggulan bersaing dengan lawan bisnisnya. Demikian

juga kemajuan-kemajuan tertentu dapat diciptakan oleh orang-orang yang

memiliki semangat jiwa kreatif dan inovatif misalnya dalam bidang pendidikan,

pemerintahan, dan bidang-bidang lainnya.Kewirausahaan atau

enterpreneurshipadalah suatu proses kreativitas dan inovasi yang mempunyai

resiko tinggi untukmenghasilkan nilai tambah bagi produk yang bermanfaat bagi

masyarakat dan mendatangkan kemakmuran bagi wirausahawan (Suryaman,

2006).

Begitupula pada mahasiswa lulusan progdi akuntansi, yang telah memiliki

pemahaman tentang ilmu akuntansi dan teori-teori kewirausahaan yang telah

dimilikinya seharusnya lebih unggul dalam bidang kewirausahaan. Untuk itu

diharapkan setelah lulus nanti seorang lulusan sarjana akuntansi dapat

mengaplikasikan ilmunya dalam bidang kewirausahaan, seperti pada misi progdi

akuntansi UPNV Jatim, yaitu :

1. Akuntansi Keuangan:

Mencetak mahasiswa lulusan akuntansi dengan konsentrasi akuntansi keuangan

(akuntan publik) yang handal dan kompeten yang mampu bersaing untuk menjadi

pemeriksa laporan keuangan, penilai kinerja perusahaan maupun sebagai pembuat

laporan keuangan perusahaan.

2. Konsentrasi Akuntansi Manajemen:

Mencetak mahasiswa lulusan akuntansi dengan konsentrasi akuntansi manajemen

(17)

menjadi pembuat laporan keuangan perusahaan, penilai kinerja perusahaan untuk

pengambilan keputusan pihak manajemen.

3. Konsentrasi Akuntansi Sektor Publik:

Mencetak mahasiswa lulusan akuntansi dengan konsentrasi akuntansi sektor

publik (akuntan pemerintah) yang handal dan kompeten yang mampu bersaing

untuk menjadi pembuat laporan keuangan pemerintah daerah dan pusat di sektor

pemerintahan, penilai kinerja pemerintahan, dan pertanggung jawaban pemerintah

daerah ke pusat.

Contoh akuntan entrepreneur adalah sebagai eksternal auditor yang

membuka kantor KAP sendiri. Sebagai akuntan entrepreneur diharapkan selalu

berinovasi, berkembang dan mampu bersaing dengan KAP lain yang ada di dalam

negeri ataupun di luar negeri. Melihat pada tahun 2012 Indonesia tidak lagi

menggunakan PSAK melainkan menggunakan IFRS sebagai

acuannya.Diharapkan seorang akuntan publik bisa melihat peluang yang ada

untuk lebih banyak mendapatkan klien dari dalam maupun dari luar negeri. Bila

akuntan masih bekerja di tempat orang lain, diharapkan dalam diri akuntan

tersebut memiliki jiwa kewirausahaan, yaitu selalu berusaha untuk belajar,

mencari pengalaman, mampu bersaing dengan akuntan lainnya & mengikuti

perkembangan jaman agar suatu saat nanti bisa membuka kantor akuntan sendiri.

Pada itinya apapun konsentrasi yang diambil oleh mahasiswa progdi

akuntansi dan pekerjaan yang akan ditekuni oleh mahasiswa progdi akuntansi

sebagai akuntan publik, akuntan internal maupun akuntan pemerintah diharapkan

(18)

kreatif, inovatif dan selalu tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi

dan dimungkinkan dapat memotivasi mahasiswa progdi akuntansi untuk menjadi

seorang wirausahawan di masa yang akan datang.

2.3. Landasan Teori

Dalam sub ini disajikan beberapa teori atau konsep yang merupakan dasar

utama dari kerangka pikir dalam usaha pencarian cara ilmiah untuk pemecahan

masalah yang diajukan dalam penelitian.

2.3.1 Pengertian Akuntansi

Ada banyak definisi dan arti akuntansi yang ditulis oleh para ahli dan

peneliti yang merupakan pakar di bidang akuntansi. Salah satunya diantaranya,

Siegel dan Marconi (1989), mendefinisikan akuntansi sebagai suatu disiplin jasa

yang mampu memberikan informasi yang relevan dan tepat waktu mengenai

masalah keuangan perusahaan dan untuk membantu pemakai internal dan eksteral

dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Disamping itu, dari sudut bidang

studi, akuntansi dapat diartikan sebagai “seperangkat pengetahuan yang

mempelajari rekayasa penyeediaan jasa berupa informasi keuangan dari suatu unit

organisasi dan cara penyampaian informasi tersebut kepada pihak yang

berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi”

(Ikhsan dan Ishak, 2008 : 4-5).

Siegel dan Marconi (1989) dalamIkhsan dan Ishak (2008:18),

mendefinisikan akuntansi sebagai suatu disiplin jasa yang mampu memberikan

informasi yang relevan dan tepat waktu mengenai masalah keuangan perusahaan

(19)

keputusan ekonomi.

Accounting Principle Board System Statement No.4 dalamIkhsan dan

Ishak (2008: 18), mendefinisikan akuntansi sebagai berikut:“akuntansi adalah

suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif, terutama

yang bersifat keuangan, mengenai suatu entitas ekonomi yang dimaksudkan untuk

digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi, sebagai dasar dalam memilih

di antara beberapa alternatif”,

Akuntansi dapat didefinisikan sebagai: seperangkat pengetahuan yang

mempelajari perekayasaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan kuantitatif

unit–unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu dan cara

penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan

untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomik (Suwardjono,

2006: 10)

2.3.2. Kewirausahaan

Secara generalpengertian kewirausahaanmerupakankemampuan melihat

dan menilai peluang bisnis serta kemampuan mengoptimalkan sumberdaya

danmengambil tindakan dan risiko dalam rangka mesukseskan

bisnisnya.Berdasarkan definisi ini kewirausahaanitu dapat dipelajari oleh setiap

individu yang mempunyai keinginan, dan tidak hanya didominasi individu yang

berbakat saja (Siswoyo, 2009).

Namun dalam bidang-bidang yang lain kewirausahaan sudah dijadikan

pegangan untuk menciptakan perubahan, pembaharuan dan kemajuan. Kemajuan

(20)

dan inovatif misalnya dalam bidang pendidikan, pemerintahan, dan bidang-bidang

lainnya.

Menurut Alma (2001) dalam Suryaman (2006) Seorang wirausaha

haruslah seorang yang mampu melihat ke depan.Melihat ke depan dengan

berpikir, penuh perhitungan, mencari pilihan dariberbagai alternatif masalah dan

pemecahannya. Sifat-sifat yang perlu dimilikiwirausaha adalah sebagai berikut:

1. Percaya diri

Sifat-sifat percaya diri dimulai dari pribadi yang mantap, tidakmudah

terombang-ambing oleh pendapat dan saran orang lain. Akan tetapisaran-saran

orang lain jangan ditolak mentah-mentah, pakai itu sebagaimasukan untuk

dipertimbangkan kemudian harus memutuskan segera.Orang yang tinggi percaya

dirinya adalah orang yang sudahmatang, jasmani dan rohaninya.Pribadi semacam

itu adalah pribadi yangindependen dan sudah mencapai tingkat kematangan.

Karakteristikkematangan seseorang adalah ia tidak tergantung pada orang lain,

iamemiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektif, dan kritis. Tidakbegitu saja

menyerap pendapat atau opini orang lain tapi dapatmengembangkan secara kritis.

Emosionalnya sudah stabil, tidak mudahtersinggung dan naik pitam, serta tingkat

sosialnya tinggi.Diharapkanwirausaha seperti ini betul-betul dapat menjalankan

usahanya secaramandiri, jujur dan disenangi oleh semua relasinya.

2. Berorientasi pada tugas dan hasil

Wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu, tetapi prestasikemudian.Ia

berharap pada prestasi baru kemudian setelah berhasilprestisenya akan meningkat.

(21)

tidak anak mengalami kemajuan.Maka wirausaha harus mempunyai kebutuhan

untuk berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan kan ketabahan, tekad kerja

keras,mempunyai dorongan kuat, enerjik dan inisiatif.

3. Pengambilan resiko

Wirausaha dalam melakukan kegiatan usahanya penuh denganresiko dan

tantangan, seperti persaingan, harga turun naik, barang tidaklaku dan

sebagainya.Tetapi semua tantangan ini harus dihadapi denganpenuh perhitungan.

Jika perhitungan sudah matang baru membuatpertimbangan dari berbagai macam

segi

4. Kepemimpinan

Sifat kepemimpinan memang ada dalam diri masing-masingindividu, maka

sifat kepemimpinan tergantung pada masing-masingindividu dalam menyesuaikan

diri dengan organisasi atau orang yangdipimpin.Ada pemimpin yang disenangi

oleh bawahan, mudah memimpinsekelompok orang, ia diikuti dan dipercaya oleh

bawahan. Tapi ada pulapemimpin yang tidak disenangi bawahan atau tidak

senang padabawahannya, ia mau mengawasi bawahannya tapi tidak ada waktu

untukitu. Menanam kecurigaan pada orang lain pada suatu ketika akan

berakibattidak baik pada usaha yang sedang dijalankan. Maka wirausaha

sebagaipemimpin yang baik harus mau menerima kritik dan saran dari

bawahanserta harus bersifat responsif.

5. Keorisinilan

Sifat orisinil tidak selalu ada pada diri seseorang, yang dimaksudorisinil

(22)

ada ide yang orisinil untuk melaksanakan sesuatu.Orisinil tidak berarti baru sama

sekali, tapi produk tersebutmencerminkan hasil kombinasi baru dari

komponen-komponen yangsudah ada sehingga melahirkan sesuatu yang baru. Bobot

kreativitasorisinil suatu produk akan tampak sejauh mana ia berbeda dari apa

yangsudah ada sebelumnya.

6. Berorientasi ke depan

Wirausaha harus perspektif, mempunyai visi ke depan, apa yangakan

dilakukan dan apa yang ingin dicapai. Karena sebuah usaha bukandidirikan untuk

sementara tapi selamanya. Maka faktor kontinuitas harusdijaga dan pandangan

harus ditujukan jauh ke depan. Untuk menghadapipandangan jauh ke depan

seorang wirausaha akan menyusun perencanaandan strategi yang matang, agar

jelas langkah-langkah yang akandilaksanakan.

7. Kreativitas

Sifat keorsinilan seorang wirausaha menuntut adanya kreativitasdalam

pelaksanaan tugasnya. Kreativitas merupakan kemampuanseseorang untuk

melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasanmaupun karya nyata yang

relatif berbeda dengan apa yang telah adasebelumnya. Bagi wirausaha tingkat

kreativitas sangat menunjangkemajuan bisnisnya.Kreativitas bisa juga diartikan

kemampuan dalam menciptakankombinasi-kombinasi baru dari hal-hal yang

sudah ada, sehinggamenghasilkan sesuatu yang baru.Dapat juga berarti

kemampuan memberi makna dari sesuatu yang kurang berarti sehingga menjadi

(23)

2.3.3. Prestasi Belajar

Dalam proses belajar mengajar, mahasiswa mengalami suatu

perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap.

Adanya perubahan ini dapat dilihat dari prestasi belajar mahasiswa yang

dihasilkan oleh mahasiswa dari kegiatan mengerjakan soal ujian, tugas dan

praktek lapangan kewirausahaan(Mun’im, 2008).

Prestasi menurut Tu’u (2004) dalam Minarni (2006)adalah hasil yang

dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu.Selain itu

prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang

dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau

angka nilai yang diberikan oleh guru/dosen.

Menurut Djamarah (1994) dalamMun’im (2008) prestasi adalah penilaian

pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan mahasiswa yang

berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka

dan nilai-nilai yang terdapat di dalam kurikulum.Belajar adalah merupakan

perubahan tingkah laku untuk mencapai tujuan dari tidak tahu menjadi tahu

atau dapat dikatakan sebagai proses yang menyebabkan terjadinya perubahan

tingkah laku dan kecakapan seseorang. Belajar itu bertujuan untuk

mengembangkan pribadi manusia bukan hanya sekedar mencerdaskan manusia

belaka namun menjadi manusia yang berkepribadian yang luhur itulah hakekat

sebuah belajar.Seseorang dinyatakan melakukan kegiatan belajar, setelah ia

memperoleh hasil, yakni terjadinya perubahan tingkah laku, misalnya dari

(24)

siswa dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti

dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah.

2. Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya karena

bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan,

pemahaman, aplikasi, analisis dan evaluasi.

3. Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka

nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan

ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya (Minarni, 2006).

Sedangkan prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

hasil yang telah dicapai dari usaha belajar terhadap nilai akhir mata

kuliahkewirausahaan yang dinyatakan dalam bentuk angka.

2.3.4. Minat Berwirausaha

Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli dalam(Nurkhan,

2005) tentangpengertian minat yaitu :

Menurut (Tarmudji, 1991) minat adalah perasaan tertarik atau berkaitan

pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh.Menurut (Winkel, 1989)

minat adalah kecenderungan yang agak menetap dalam subyek untuk merasa

tertarik pada bidang atau hal tertentu atau merasa senang berkecimpungan dalam

bidang itu.Disimpulkan bahwa minat merupakan kesadaaan seseorang yang dapat

menimbulkan adanyakeinginan yang akan memuaskan kebutuhan.

Minat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang sebab jika

(25)

diharapkan hasilnya akan lebih baik. Selain itu minat adalah “perasaan tertarik

atau berkaitan pada suatu hal atau aktifitas tanpa ada menyuruh” (Tarmudji,

1991). Minat seseorang dapat diekspresikan melalui pernyataan yang

menunjukkan seorang lebih tertarik pada suatu obyek lain. Dapat pula

dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas seseorang yang

berminat terhadap sesuatu obyek tertentu cenderung menaruh perhatian lebih

besar (Suryaman, 2006).

Kesadaran seseorang yang tertarik dan senang pada suatu usaha akan

nampak dalam kegiatan mempelajari, memahami, dan berkecimpung dalam usaha

itu. Aktivitas atau kegiatan yang dilandasi dengan minat kemungkinan besar akan

berhasil, karena dilakukan dengan rasa senang dan tanpa paksaan.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu untuk

memenuhi kebutuhannya. Seseorang yang berminat terhadap wirausaha akan

merasa senang atau suka melakukan berbagai tindakan yang berhubungan dengan

wirausaha. Minat bersifat pribadi, sehingga minat individu antara satu dengan

yang lainnya berbeda.Bahkan minat pada diri seseorang dapat berbeda dari waktu

ke waktu, karena minat merupakan kesediaan jiwa yang sifatnya untuk menerima

sesuatu dari luar individu. Maka minat sekaligus kaidah pokok dalam menanggapi

sesuatu, termasuk di dalamnya minat mahasiswa untuk berwirausaha (Suryaman,

2006)

Minat berwirausahameliputi : kesediaan untuk bekerja keras dan tekun

untuk mewujudkan tujuannya, kesediaan untuk menanggungmacam-macam

(26)

menempuh jalur dan cara baru, kesediaan untuk hidup hemat,kesediaan belajar

dari kegagalan yang dialami. Jadi yang dimaksud minatberwirausahaadalah

keinginan, ketertarikan serta kesediaan untuk bekerjakeras atau berkemauan keras

untuk berdikari atau berusaha memenuhikebutuhan hidupnya tanpa merasa takut

dengan resikoyang akan terjadi, sertabelajar dari kegagalan (Nurkhan, 2005).

Dari uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud

dengan minat berwirausaha pada mahasiswa adalah usaha dan kemauan untuk

mempelajari, mencari dan berkeinginan menjadi wirausaha.Minat berwirausaha

dalam konteks penelitian ini adalah suatu rasa lebih suka, rasa keterikatan yang

diikuti usaha aktif untuk mempelajari dan berkeinginan menjadi wirausaha.

2.3.5. Motivasi

Motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya upaya yang mendorong

seseorang untuk melaksanakan sesuatu atau daya penggerak untuk melakukan sesuatu

atau kegiatan tertentu, untuk mencapai tujuan (Sardiman, 1992) dalam(Sari, 2006).

Motivasi sebagai suatu keadaan yang mendorong, mengaktifkan atau

menggerakkan dan mengarahkan atau menyalurkan ke arah tujuan (Jayani, 2008).

Terdapat dua macam motivasi menurut Djamarah (2002), yaitu:

a. Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motif - motif yang menjadi aktif atau

berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri

(27)

b. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik.Motivasi

ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya

perangsang dari luar.Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila siswa

menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor - faktor situasi belajar.Siswa

belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang

dipelajarinya.Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar,

kehormatan dan sebagainya (Arini, 2008).

2.3.6. Teori Motivasi

Proses motivasi diarahkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Tujuan yang ingin direalisasikan dipandang sebagai kekuatan yang menarik

individu.Tercapainya tujuan yang diinginkan sekaligus dapat mengurangi

kebutuhan yang belum dipenuhi (Tyas, 2006).

Beberapa teori motivasi oleh para ahli:

1. Teori Kebutuhan dan Kepuasan menurut Abraham H. Maslow

Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan individu dapat disusun dalam

suatu hirarki.Hirarki kebutuhan yang paling tinggi adalah kebutuhan fisiologis,

karena kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling kuat sampai kebutuhan

tersebut terpuaskan.Sedangkan hirarki kebutuhan yang paling rendah adalah

kebutuhan aktualisasi diri. Hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs) Yaitu kebutuhan fisik seperti rasa

(28)

b. Kebutuhan akankeamanan (Safety Needs)Yaitu kebutuhan akan keselamatandan

perlindungan dari bahaya, ancaman, perampasan, atau pemecatan.

c. Kebutuhan sosial (Social Needs)Yaitu kebutuhan akan rasa cinta dan kepuasan

dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kebutuhan akan kepuasan dan

perasaan memiliki serta diterima dalam suatu kelompok, rasa kekeluargaan,

persahabatan, dan kasih sayang.

d. Kebutuhan akanpenghargaan (Esteems Needs)Yaitu kebutuhan akan status atau

kedudukan, kehormatan diri, reputasi, dan prestasi.

e. Kebutuhan akanaktualisasi diri (Self Actualization Needs)Yaitu kebutuhan

pemenuhan diri untuk mempergunakan potensi ekspresi diri dan melakukan apa

yang paling sesuai dengan dirinya. (Ikhsan dan Ishak, 2008: 50).

2. Teori Motivasi menurut Frederick Herzberg

Dua faktor tentang motivasi yang dikembangkan oleh Frederick Herzberg

adalah faktor yang membuat individu merasa tidak puas (Dissatisfiers) dan faktor

yang membuat individu merasa puas (Satisfiers). Konklusi khusus yang dihasilkan

Herzberg dari penelitiannya adalah : Pertama, terdapatnya serangkaian kondisi

eksentrik, keadaan pekerjaan yang menyebabkan rasa tidak puas di antara para

bawahan, apabila kondisi tersebut tidak ada. Apabila kondisi tersebut ada maka

hal itu tidak perlu memotivasi bawahan.Kondisi tersebut adalah faktor-faktor yang

membuat individu merasa tidak puas, karena faktor-faktor tersebut diperlukan

untuk mempertahankan hirarki yang paling rendah, yaitu tingkat tidak adanya

ketidakpuasan. Kedua, serangkaian kondisi instrinsik, kepuasan pekerjaan, yang

(29)

sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik. Apabila kondisi tersebut

tidak ada, maka kondisi tersebut ternyata tidak menimbulkan rasa ketidakpuasan

yang berlebihan.Serangkaian faktor tersebut disebut satisfiers.(Ikhsan dan Ishak,

2008: 52).

3. Teori Prestasi David C. McClelland

Tiga kebutuhan yang dikemukakan adalah kebutuhan akan prestasi,

kekuatan, dan afiliasi. Apabila kebutuhan individu terasa sangat mendesak, maka

kebutuhan tersebut akan memotivasi individu yang bersangkutan untuk berusaha

keras memenuhi kebutuhannya. (Ikhsan dan Ishak, 2008: 51).

4. Teori Harapan

Teori harapan ini dirumuskan oleh Victor Vroom. Ide dasar teori ini adalah bahwa

motivasi ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan diperoleh sesorang sebagai

tindakannya. Variable-variabel kunci daalam teori harapan adalah usaha (effort),

hasil (income), harapan (expectancy), instrument-instrumen yang berkaitan

dengan hubungan antara hasil tingkat pertama dengan hasil tingkat kedua,

hubungan antara prestasi dan imbalan atas pencapaian prestasi, serta valensi yang

berkaitan dengan kadar kekuatan dan einginan seseorang terhadap hasil tertentu

(Ikhsan dan Ishak, 2008: 54).

5. Teori persepsi diri

Teori persepsi diri menganggap bahwa orang-orang mengembangkan sikap

berdasarkan bagaimana mereka mengamati dan menginterprestasikan perilaku

mereka sendiri. Menurut teori ini, sikap hanya akan berubah setelah perilaku

(30)

terhadap apa yang akan dikembangkan berdasarkan pada kebutuhannya (Ikhsan

dan Ishak, 2008: 48-49).

2.3.7. Pengaruh Prestasi Belajar Kewirausahaan Terhadap Motivasi

Berwirausaha

Menurut Djamarah (2002) dalam Arini (2008) motivasi adalah suatu

perubahan di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan

dan reaksi untuk mencapai tujuan. Siswa yang memiliki motivasi berwirausaha

tinggi memiliki kemauan lebih keras. Kegagalan yang dialaminya akan

membangkitkan semangat berusaha lebih giat untuk memperoleh sukses di masa

yang akan datang. Sedangkan yang memiliki motivasi berwirausaha rendah jika

mengalami kegagalan akan mengakibatkan kemampuannya cenderung menurun,

sehingga kegagalan yang satu akan diikuti oleh kegagalan berikutnya. (Arini,

2008)

Menurut Suryaman (2006) ciri-ciri seseorang yang memiliki jiwa

kewirausahaan adalah: (1) Percaya diri, (2) Berorientasi pada tugas dan hasil, (3)

Pengambilan resiko, (4) Kepemimpinan, (5) Keorisinalan, (6) Berorientasi ke

dapan, (7) Kreativitas.

Menurut Gatot dan Alfitman (2009) dalam penelitiannya mengemukakan

bahwa mata kuliah kewirausahaan berdampak positif terhadap pembentukan sikap

kewirausahaan mahasiswa.Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli,

yang pertama teori kognitif yaitu percaya bahwa perilaku seseorang itu

disebabkan adanya suatu rangsangan (stimulus).Teori kedua adalah teori

(31)

dengan teori kebutuhan untuk berkembang adalah suatu kebutuhan yang

berhubungan dengan keinginan dari seseorang untuk mengembangkan dirinya.

Artinya jika seseorang diberikan rangsangan yang berupa pendidikan

kewirausahaan, dimaksudkan agar seseorang tersebut dapat termotivasi untuk

mengembangkan dirinya, dalam hal ini adalah motivasi sebagai wirausaha. Hal ini

juga bisa dikutip dari Learning Theory yang menyatakan proses yang dilakukan

seseorang dalam belajar menunjukkan respon tertentu setelah ia diberi imbalan

saat ia menunjukkan respon itu. (Hovland (1953) dalam Taylor, et, al (2009).

Dalam teori ini menjelaskan bahwa jika seseorang itu masuk dalam proses belajar

dengan mengikuti mata kuliah kewirausahaan dan praktek gelar produk

diharapkan akan termotivasi setelah lulus nanti akan terbentuk jiwa

kewirausahaan yang kuat diantaranya kepercayaan diri yang tinggi, mempunyai

jiwa pemimpin, inovatif, kreatif serta berani mengambil resiko.

Berdasarkan teori–teori dan hasil penelitian sebelumnya seperti tersebut

diatas bisa disimpulkan bahwaprestasi belajar kewirausahaan yang diukur dengan

angka mutu/nilai huruf mata kuliah kewirausahaan yang diperoleh dalam proses

belajar mata kuliah kewirausahaan dalam satu semester akan berdampak pada

pembentukan motivasi mahasiswa akuntansi yang memiliki jiwa kewirausahaan.

Artinya bahwa apapun bidang pekerjaannya setelah lulus nanti baik sebagai

seorang internal auditor, eksternal auditor maupun auditor di pemerintahan akan

selalu memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat seperti diantaranya rasa

kepercayaan diri yang tinggi, mempunyai jiwa pemimpin, inovatif, kreatif serta

(32)

2.3.8. Pengaruh Minat Berwirausaha Terhadap Motivasi Berwirausaha

Segala perbuatan manusia timbul karena dorongan dari dalam, tetapi tidak

akan terjadi sesuatu jika tidak berminat. Secara umum minat adalah

kecenderungan terhadap sesuatu (Muhadjir, 1992) dalam (Suryaman, 2006).Minat

juga bisa diartikan dengan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.

Selanjutnya kamus umum bahasa Indonesia mendefinisikan minat sebagai

keinginan untuk memperlihatkan atau melakukan sesuatu.

Minat berbeda dengan motivasi, jika minat hanya tumbuh dalam diri

seseorang sedangkan motivasi bisa terbentuk baik dari dalam maupun dari luar

seseorang. Hal ini seperti pada pernyataan Winkel(1989) minat adalah

kecenderungan yang agak menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada

bidang atau hal tertentu atau merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.

Disimpulkan bahwa minat merupakan kesadaran seseorang yang dapat

menimbulkan adanyakeinginan yang akan memuaskan kebutuhan. Suryaman

(2006) menyatakan bahwa minat adalah tendensi suka atau senang diikuti dengan

partisipasi terhadap kegiatan tertentu yang menjadi obyek kesukaannya,

sedangkan menurut Tarmudji (1991) menyatakan bahwa minat adalah perasaan

tertarik atau berkaitan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh.

Adapun pengertian motivasi menurut Jayani (2008) adalah suatu keadaan yang

mendorong, mengaktifkan, menggerakkan, mengarahkan atau menyalurkan

kearah tujuan, sedangkan menurut Djamarah (2002) terdapat dua macam motivasi

(33)

Minat berwirausaha meliputi : kesediaan untuk bekerja keras dan tekun

untuk mencapai kemajuan usahanya, kesediaan untuk menanggung macam -

macam resiko berkaitan dengan tindakan berusaha yang dilakukannya, bersedia

menempuh jalur dan cara baru, kesediaan untuk hidup hemat, kesediaan belajar

dari kegagalan yang dialami. Jadi yang dimaksud minat berwirausaha adalah

keinginan, ketertarikan serta kesediaan untuk bekerja keras atau berkemauan keras

untuk berdikari atau berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa merasa takut

dengan resiko yang akan terjadi, serta belajar dari kegagalan (Nurkhan, 2005).

Hastuti dan Suhartini (2007) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa

keinginan memperoleh gelar akuntan dan tipe kepribadian tidak berpengaruh

terhadap motivasi menyelesaikan studi tepat waktu, sedangkan pada penelitian

Anshori (2005) variabel keinginan memperoleh gelar akuntan berpengaruh

signifikan terhadap motivasi menyelesaikan studi tepat waktu.

Teori motivasi yang dikembangkan oleh Vroom dikenal dengan teori

harapan. Inti dari teori harapan ini terletak pada pendapat yang mengatakan bahwa

kuatnya kecenderungan seseorang bertindak dengan cara tertentu tergantung pada

kekuatan harapan, bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh suatu hasil tertentu

dan pada daya tarik dari hasil itu bagi orang yang bersangkutan. Motivasi

ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan diperoleh seseorang sebagai

tindakannya artinya jika seseorang mempunyai minat untuk menjadi wirausaha

harapannya akan termotivasi untuk mencapai tujuannya sebagai seorang

(34)

Teori penguatan (reinforcement theory). Dalam teori ini tergantung pada

penerapan prinsip untuk memotivasi orang. Asumsi utama dari perilaku

pengkondisian operan adalah bahwa perilaku dipengaruhi oleh konsekuensinya,

sifat penguatan dan dukungan serta bagaimana hal tersebut dipakai mempengaruhi

perilaku. Penguatan mempunyai suatu ikatan yang luas sebagai suatu piranti

keinginan terhadap motivasi (Gibson, 1996).Penggunaan penguatan-penguatan

untuk mengkondisikan perilaku memberikan kepada kita wawasan yang cukup

banyak kedalam bagaimana seseorang berminat menjadi wirausaha sebagai

motivasinya.

Berdasarkan teori–teori dan hasil penelitian sebelumnya seperti tersebut

diatas maka bisa disimpulkan bahwa jikaseseorang bersedia menanggung

macam-macam resiko berkaitan dengan tindakan berusaha yang dilakukannya maka

seseorang itu akan lebih termotivasi untuk menjadi wirausaha, karena seorang

wirausaha harus memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat seperti diantaranya rasa

kepercayaan diri yang tinggi, mempunyai jiwa pemimpin, inovatif, kreatif serta

berani mengambil resiko. Artinya bahwa apapun bidang pekerjaannya setelah

lulus nanti baik sebagai seorang internal auditor, eksternal auditor maupun auditor

di pemerintahan akan selalu memiliki jiwa kewirausahaanyang kuat seperti

diantaranya rasa kepercayaan diri yang tinggi, mempunyai jiwa pemimpin,

inovatif, kreatif serta berani mengambil resiko.

2.3.9. Kerangka Pikir

Penelitian ini dilakukan pada dasarnya merupakan pengembangan

(35)

Kerangka Konseptual

Regresi Linier Berganda

2.3.10. Hipotesis

Diduga prestasi belajar kewirausahaan dan minat berwirausaha

berpengaruh terhadap motivasi sebagai wirausaha Prestasi Belajar Kewirausahaan

(X1)

Motivasi Untuk Berwirausaha

(Y)

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional

3.1.1. Definisi Operasional

Definisi operasional yaitu definisi sebuah ide dalam istilah yang dapat

diukur dengan mengurangi tingkat abstraksinya melalui penggambaran dimensi

dan elemennya.Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Variabel bebas

Variabel bebas adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi

variabel lain atau variabel yang diduga sebagai sebab dari variabel terikat. Dalam

penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah prestasi belajar mata kuliah

kewirausahaan dan minat berwirausaha, yang terdiri dari :

1. Prestasi belajar kewirausahaan (X1), yaitu :

Merupakan hasil yang telah dicapai dari usaha belajar pada mata

kuliahkewirausahaanyang berupa nilai huruf dan dinyatakan dalam bentuk angka

mutu.

2. Minat berwirausaha (X2), yaitu :

Suatu ketertarikan akan bidang kewirausahaan dan senang untuk mempelajari,

memahami, dan berkecimpung di dalamnya.

b. Variabel terikat

(37)

wirausaha yaitu hasrat atau dorongan yang kuat, inisiatif dan efektif dalam

bertindak, tidak mudah putus asa, kecewa atau frustasi dalam berwirausaha.Dalam

hal ini apapun bidang pekerjaannya setelah lulus nanti baik sebagai seorang

internal auditor, eksternal auditor maupun auditor di pemerintahan akan selalu

memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat.

3.1.2 Teknik Pengukuran Variabel

Dalam penelitian ini, skala pengukuran yang digunakan untuk mengukur

variabel X1 adalah skala rasio, sedangkan untuk variabel X2 dan Y digunakan

skala interval dengan teknik pengukurannya dengan menggunakan semantic

deferensial yang mempunyai skala point 1 sampai 7 yaituskala yang akan

memberikan petunjuk kepada responden untuk memberikan penilaian terhadap

sejumlah pertanyaan terlampir sebagai penelitian yang akan diteliti dan diukur

dengan lima skala yang ditampilkan berikut :

1 2 3 4 5 6 7

Sangat tidak setuju Sangat setuju sekali

Penilaian diatas berdasarkan asumsi bahwa apabila responden cenderung

memilih poin 1 sangat tidak setuju sampai pada poin 5 sangat setuju sekali.

3.1.3 Pengukuran Variabel

Adapun rincian pengukuran variabel dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

a. Prestasi belajar kewirausahaan (X1)

Variabel ini diukur dengan menggunakan skala rasio.Variabel prestasi

(38)

dirasiokan menjadi angka mutu sesuai standar yang ditetapkan pada buku

pedoman akademik UPN “Veteran” Jawa Timur (2011), seperti tabel berikut ini:

Tabel2.1 :KATEGORI PENILAIAN SKALA

Sumber : Buku Pedoman Akademik UPN “Veteran”Jatim, 2011

b. Minat berwirausaha (X2)

Variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen yang diadopsi dari

Priambodo (2010) dengan 5 item pertanyaan.Teknik pengukuran variabel

menggunakan semantic differential.

1 2 3 4 5 6 7

Sangat tidak setuju Sangat setuju sekali

Penilaian diatas berdasarkan asumsi bahwa apabila responden cenderung

memilih poin 1 sangat tidak setuju sekali berarti kurang berminat untuk

berwirausaha sampai dengan pilihan pada poin 7 sangat setuju sekali yang artinya

sangat berminat untuk berwirausaha.

Nilai Huruf Angka Mutu

A 4.00

A- 3.75

B+ 3.50

B 3.00

B- 2.75

C+ 2.50

C 2.00

C- 1.75

D+ 1.50

D 1.00

(39)

c. Motivasi untuk berwirausaha

Variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen yang diadopsi dari

Priambodo (2010) dengan 5 item pertanyaan.Teknik pengukuran variabel

menggunakan semantic differential.

1 2 3 4 5 6 7

Sangat tidak setuju Sangat setuju sekali

Penilaian diatas berdasarkan asumsi bahwa apabila responden cenderung

memilih poin 1 sangat tidak setuju sekali berarti kurang termotivasi sebagai

wirausaha atau kurang mempunyai jiwa kewirausahaan sampai dengan piihan

pada poin 7 sangat setuju sekali yang artinya sangat termotivasi sebagai wirausaha

dan memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi.

3.2 Teknik Penentuan Populasi dan Sampel

Obyek penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi yang ada di Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jatim TA.2007/2008 dan data yang diperoleh

adalah dari biro admik.

a. Populasi

Adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek / subyek yang

mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

1999:55).Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi angkatan

tahun ajaran 2007/2008 sebanyak 144 orang. . (Biro Admik, 2011). Alasan

peneliti mengambil sampel mahasiswa program studi akuntansi tahun ajaran

(40)

kuliah kewirausahaan dan praktek kewirausahaan, selain itu mahasiswa tahun

ajaran 2007/2008 akan selesai menempuh perkuliahan.

b. Sampel

Adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi

tersebut.(Sugiyono, 1999:56).Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah

teknik non probability sampling atau non acak. Pengambilan sampel secara

non acak adalah dengan cara ini semua elemen populasi belum tentu memiliki

peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel karena misalnya ada

bagian tertentu secara sengaja tidak dimasukkan dalam pemilihan untuk

mewakili populasi (Umar, 1997 : 83). Peneliti dalam pengambilan sampel

menggunakan cara dipermudah (Convenience Sampling). Sampel ini nyaris

tidak dapat diandalkan, tetapi biasanya paling murah dan cepat dilakukan

karena peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang mereka

temui. Meskipun tidak dapat diandalkan, cara ini bermanfaat, misalnya pada

tahap awal penelitian eksploratif saat mencari petunjuk-petunjuk penelitian.

Hasilnya dapat menunjukan bukti-bukti yang cukup berlimpah, sehingga

prosedur pengambilan sampel yang lebih canggih tidak diperlukan lagi (Umar,

1997 : 83).

n = N

1 + Ne2

n = 144

(41)

Keterangan :

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

E = Persentase kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan

pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir.

Jadi sampel minimal yang diperoleh 60 orang.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

3.3.1. Jenis dan Sumber data

3.3.1.1. Jenis Data

Data yang akan digunakan untukmendukung analisis dan pegujian

hipotesis dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dapat

diidentifikasikan sebagai sumber data yang lansung memberikan data kepada

peneliti. Pengumpulan data primer dilakukan melalui survey lapangan dan

wawancara mendalam (Sugiyono, 2003 : 156)

3.3.1.2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini berupa :

a. Sumber data intern data primer dan sekunder yang diperoleh dari Biro Admik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jatim.

b. Sumber data ektern yaitu berupa buku atau literature yang diperlukan untuk

penelitian.

3.3.2 Pengumpulan Data

a. Wawancara

(42)

dengan mahasiswa akuntansi angkatan 2007 dengan Tanya jawab antara peneliti

dengan responden (Nazir, 2005 : 194).

b. Kuesioner

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan

pertanyaan tentang fakta-fakta atau masalah yang ingin dipecahkan kepada

responden untuk dijawab (Nazir, 2005 : 203).

c. Kepustakaan

Kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan buku-buku, literatur, serta

tulisan ilmiah yang digunakan sebagai landasan teori yang mendukung

pelaksanaan penelitian.

3.4 Teknik Analisis Data

3.4.1 Uji Validitas

Uji validitas dilakukan mengetahui sejauh mana alat pengukur dapat

mengukur apa yang diinginkan. Valid atau tidaknya alat ukur tersebut dapat

dilihat pada Corrected Item–Total Correlation, nilai ini kemudian dibandingkan

dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada sig. 0,05 dengan uji satu sisi dan n = 60, k

= 2, maka didapat r tabel sebesar 0,214. Kriteria pengujian sebagai berikut:

- Jika r hitung ≥ r tabel (0,214) maka dinyatakan valid.

- Jika r hitung < r tabel (0,214) maka dinyatakan tidak valid. (Priyatno,

2008).

3.4.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah untuk mengukur suatu keusioner yang merupakan

(43)

handal jika jawaban seorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari

waktu ke waktu (Ghozali, 2005 : 41).Perhitungan kendala butir dalam penelitian

ini menggunakan fasilitas yang diberikan SPSS untuk mengukur reliabilitas

dengan uji statistik.Cronbach Alpha, yaitu konstruk atau variabel dikatakan

reliable jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Ghozali, 2005 : 42).

3.4.3. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data mengikuti

sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data tersebut mengikuti

sebaran normal dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya adalah

metode Kolmogrov Smirnov (Sumarsono, 2004 : 40) yang merupakan pedoman

dalam mengambil keputusan apakah sebuah distribusi data mengikuti distribusi

normal, berikut ini adalah pedomannya :

1. Jika nilai signifikan (nilai probabilitasnya) lebih kecil dari 5% maka distribusi

adalah tidak normal.

2. Jika nilai signifikan (nilai probabilitasnya) lebih besar dari 5% maka distribusi

adalah normal (Sumarsono, 2004 : 43).

3.4.4. Asumsi Klasik

Persamaan regresi harus bersifat BLUE (Best Liner Unbiased Estimator),

artinya pengambilan keputusan melaluib uji f dan uji t tidak boleh bias.Untuk

menghasilkan keputusan yang BLUE maka harus dipenuhi tiga asumsi dasar.

Tiga asumsi dasar yang tidak boleh dilanggar oleh regresi linier berganda, yaitu :

1. Tidak boleh ada autokorelasi

(44)

3. Tidak boleh ada heterokorelasitas

Apabila salah satu dari ketiga asumsi dasar tersebut dilanggar, maka

persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga pengambilan

keputusan melalui uji f dan uji t menjadi bias.

1. Autokorelasi

Autokorelasi dapat diidentifikasikan sebagai korelasi antara data observasi

yang diurutkan berdasarkan waktu (data time series) atau data yang diambil pada

waktu tertentu (Gujarati, 1995 : 201).Autokorelasi menunjukkan model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan

pada periode t-1 (sebelumnya).Model regresi yang baik adalah model regresi yang

bebas dari autokorelasi. Adanya autokorelasi dalam regresi dapat diketahui

dengan menilai besaran (Durbin Watson), tidak terjadi autokorelasi jika nilai

Durbin Watson berada antara -2 hingga +2 (Santoso, 2001 : 219).

2. Multikolinieritas

Sebelum melakukan analisis regresi berganda, perlu diperiksa beberapa

aspek, salah satunya tidak terdapat multikolinieritas atas data dari variabel –

variabel independen, maksudnya “tidak adanya korelasi yang sempurna atau

korelasi yang tidak sempurna tetapi relatif tinggi pada variabel – variabel bebas”.

Multikolinieritas sempurna akan mengakibatkan koefisien regresi tidak dapat

ditentukan, serta standart deviasi akan menjadi tak terhingga. Jika

multikolinieritas kurang sempurna, maka koefisien regresi meskipun sehingga

akan mempunyai standart deviasi yang besar, yang berarti pula koefisien –

(45)

Beberapa cara untuk memeriksa multikolinieritas, yaitu :

a. Korelasi yang tinggi memberikan petunjuk adanya kolinieritas, tetapi tidak

sebaliknya, kolinieritas dapat saja terjadi walaupun korelasi dalam keadaan

rendah.

b. Diajurkan untuk melihat koefisien korelasi parsial. Jika R2 sangat tinggi tetapi masing – masing r2parsial rendah, berarti variabel – variabel bebas

mempunyai korelasi yang tinggi dan paling tidak satu diantaranya berlebihan.

Tetapi, dapat saja R2tinggi dan masing – masing r2juga tinggi sehingga tidak ada jaminan terjadinya multikolinieritas (Umar, 2003 :151).

3. Heteroskedastisitas

Salah satu syarat lain regresi linear adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.

Yang diharapkan adalah terjadinya homoskedastisitas. Penting untuk menguji

apakah dalam sebuah model regresi telah terjadi “ketidaksamaan varian dari

residual” atas suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Maksud dari

penyimpangan heteroskedastisitas adalah variabel independen adalah tidak

konstan (berbeda) untuk setiap nilai tertentu variabel independen Jika yang terjadi

variannya tetap, maka disebut berada pada kondisi homoskedastisitas. Dalam

penelitian untuk melihat apakah kondisi terjadinya Heteroskedastisitas atau

homoskedastisitas dapat dilihat dengan menggunakan scatterplot yang mana

(titik-titik) penyebaran residual adalah tidak teratur maka kesimpulannya tidak terjadi

Heteroskedastisitas atau kondisinya homoskedastisitas. (purbaya,2005:243)

3.5 Teknik Analisis

(46)

tujuan analisis.Stelah dikelompokan kemudian diolah sesuai dengan tujuan

analisis. Setelah dikelompokkan kemudian diolah sesui dengan diagram kerangka

pikir. Analisis regresi dihasilkan dengan cara memasukkan input data variabel

kedalam fungsi regresi. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk

mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap satu variabel terikat. Berdasarkan

pernyataan diatas, maka model persamaan yang digunakan adalah :

Regresi Linear Berganda :

Y = βο + β1 X1 + β2 X2 + e ………(Anonim, 2009 : L-21)

Keterangan :

Y = Minat mahasiswa akuntansi untuk berwirausaha

βο = Konstanta

X1 = Prestasi belajar

X2 = Motivasi berwirausaha

β1-β2 = Koefisien regresi

e = Kesalahan baku

3.6 Uji Hipotesis

3.6.1 Uji Kesesuaian Model Regresi Linier Berganda (Uji F)

Uji F digunakan untuk menguji sesuai atau tidaknya model regresi yang

dihasilkan untuk melihat pengaruh dari prestasi belajar kewirausahaan (X1), dan

minat berwirausaha (X2) terhadap variabelmotivasi untuk berwirausaha (Y).

Adapun langkah – langkah pengujiannya sebagai berikut (Anonim, 2009 : L-21)

a.Ho : β1 = β2 = βj= 0 (tidak sesuai/tidak cocok model regresi yg digunakan)

(47)

c.Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikasi 0,05 dengan derajat bebas

[n-k], dimana n : jumlah pengamatan, dan k : jumlah variabel.

c. Dengan F hitung sebesar :

Fhit = R2 / (k – 1)

(1 – R2) / (n – k )

Keterangan :

Fhit = F hasil perhitungan

R2 = koefisien regresi

k = jumlah variabel

n = jumlah sampel

3.6.2 Uji Pengaruh Regresi Linier Berganda (Uji t)

Untuk menguji pengaruh variabel X terhadap variabel Y digunakan uji t

dengan prosedur sebagai berikut :

a. Hipotesis statistik

H0 : βj = 0 (tidak terdapat pengaruh X1 dan X2 terhadap Y)

H1 : βj≠ 0 (terdapat pengaruh X1 dan X2 terhadap Y)

Dimana j = 1, 2, ………., k : variabel ke j sampai dengan ke k.

b. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan 0,05 dengan derajat bebas

[n-k], dimana n : jumlah pengamatan, dan k : jumlah variabel.

c. Dimana nilai t hitung :

thit = b

j

(48)

Keterangan :

thit = t hasil perhitungan b

j

= koefisien regresi

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.

Deskripsi Objek Penelitian

4.1.1. Sejarah Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”Jatim

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi swasta di Indonesia yang

berdiri sejak 5 Juli 1959. Selama kurun waktu 52 tahun, UPN “Veteran”

Jawa Timur telah mengalami berbagai perubahan status, yaitu:

a.

Sejak Juli 1959 s/d 1965 Akademi Administrasi Perusahaan “Veteran”

Cabang Surabaya.

b.

Pada 17 Mei 1968 Perguruan Tinggi Pembangunan Nasional

(PTPN) “Veteran” Cabang Jawa Timur dengan 3 Fakultas (Ekonomi,

Pertanian dan Teknik Kimia), berdasarkan Surat Keputusan

Kementerian Transmigrasi, Urusan Veteran dan Demobilisasi.

c.

Periode 1976-1994, terjadi peralihan status PTPN “Veteran” Cabang

Jawa Timur sebagai Perguruan Tinggi Kedinasan di-bawah

Departemen Pertahanan Keamanan RI.

d.

Periode tahun 1977, terjadi perubahan nama PTPN “Veteran” Cabang

Jawa Timur menjadi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”

Cabang Jawa Timur.

(50)

f.

Berdasarkan Surat keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan

Tinggi No. 001/BAN-PT/Ak-1/VIII/1998 tanggal 11 Agustus 1998

telah memperoleh status terakreditasi penuh untuk semua

Jurusan/Program studi.

g.

Pada awal tahun akademik 2005/2006 jumlah mahasiswa yang

terdaftar mencapai 12.500 orang, yang berasal dari SMU

Negeri/Swasta, SMK Negeri/Swasta, Instansi Pemerintah dan swasta

yang berasal dari dalam/luar wilayah Propinsi Jawa Timur. Sampai

dengan akhir tahun 2005, UPN “Veteran” Jawa Timur telah

meluluskan Sarjana S-1 sejumlah 25.000 orang.

h.

Sejak bulan Desember 2007, dengan disatukannya beberapa yayasan di

bawah Departemen Pertahanan RI, maka pembinaan UPN "Veteran"

Jawa Timur beralih di bawah Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan

Perumahan (YKPP).

4.1.2. Visi dan Misi Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jatim

Visi :

Menjadi Universitas terdepan dalam pengembangan ilmu pengetahuan

serta sumberdaya manusia yang dilandasi nilai dan semangat kejuangan.

Misi :

1.

Menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki nilai-nilai

moralitas dan intelektualitas serta jasmani yang sehat.

2.

Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi menuju “Research

(51)

3.

Mengembangkan sisrem pemberdayaan masyarakat.

4.

Meningkatkan kerjasama dalam bidang akademik dan non akademik

dengan Perguruan Tinggi lainm\ pemerintah, dan swasta.

4.1.3. Tujuan :

Menunjang pembangunan nasional di bidang tinggi dalam rangka

terciptanya sumber daya manusia yang cakap, profesional, beriman dan

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki displin,

bertanggungjawab dan pengabdian yang tinggi serta rasa kepedulian

terhadap kesejahteraan masyarakat

4.1.4. Dosen dan Mahasiswa

Jumlah Tenaga Pengajar Tetap di UPN "Veteran" Jawa Timur

adalah 335 orang, Guru Besar : 11 orang, berpendidikan Doktor: 51 orang

dan 95 % telah bergelar S-2 (Magister), 54 Dosen telah bersertifikat Dosen

dari Kementrian Pendidikan Nasional. Berdasarkan Surat keputusan Badan

Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional

seluruh Program Studi telah memperoleh status terakreditasi A dan B.

(52)

4.1.5. Prestasi

1.

Perguruan Tinggi Swata Berprestasi di bidang Tata Kelola, Penelitian

dan Pengabdian kepada Masyarakat serta Kemahasiswaan se Kopertis

Wilayah VII Jawa Timur.

2.

Termasuk sebagai 58 Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia

pengimplentasi Penjaminan Manajemen Mutu Perguruan Tinggi

Indonesia.

3.

Mendapatkan sertifikat ISO 9001-2008 dan AIWA 2 di bidang Sistim

Manajemen Mutu (Quality Management System).

4.1.6. Struktur Organisasi

Organisasi merupakan salah satu wadah yang secara struktur

menggabungkan sejumlah manusia untuk mencapai tujuan titik,

berdasarkan mekanisme kerja dan pembagian tugas serta

mengkoordinasikan faktor-faktor sumber daya dengan maksud agar

tercipta efektivitas dan efisiensi kerja.

Organisasi Universitas terdiri dari :

a.

Unsur Pimpinan, yaitu :

1)

Rektor

2)

Pembantu Rektor I/Bidang Akademik

3)

Pembantu Rektor II/Bidang Administrasi Umum dan Keuangan

4)

Pembantu Rektor III/Bidang Kemahasiswaan

Figur

Gambar. 1.1G
Gambar 1 1G. View in document p.9
Gambar 4.1.  Struktur Organisasi UPN ”Veteran” Jawa Timur
Gambar 4 1 Struktur Organisasi UPN Veteran Jawa Timur . View in document p.54
Tabel 4.1 Rekapitulasi Jawaban Responden Variabel Prestasi Belajar Kewirausahaan (X1)
Tabel 4 1 Rekapitulasi Jawaban Responden Variabel Prestasi Belajar Kewirausahaan X1 . View in document p.55
Tabel 4.2.
Tabel 4 2 . View in document p.56
Tabel 4.3.
Tabel 4 3 . View in document p.57
Tabel 4.4.  Hasil Uji Validitas Variabel Minat Berwirausaha (X2) Putaran 1
Tabel 4 4 Hasil Uji Validitas Variabel Minat Berwirausaha X2 Putaran 1 . View in document p.58
Tabel 4.6.  Hasil Uji Validitas Variabel Motivasi Untuk Berwirausaha (Y) Putaran 1
Tabel 4 6 Hasil Uji Validitas Variabel Motivasi Untuk Berwirausaha Y Putaran 1 . View in document p.59
Tabel 4.8.  Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner
Tabel 4 8 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner . View in document p.60
Tabel 4.9.  Hasil Uji Normalitas
Tabel 4 9 Hasil Uji Normalitas . View in document p.61
Gambar 4.2. Hasil Pengujian Heteroskedastisitas
Gambar 4 2 Hasil Pengujian Heteroskedastisitas . View in document p.62
Gambar 4.3.  Distribusi Daerah Keputusan Autokorelasi
Gambar 4 3 Distribusi Daerah Keputusan Autokorelasi . View in document p.63

Referensi

Memperbarui...