SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN SKRIPSI

135 

Full text

(1)

SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN

SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Marantika Br Tarigan NIM: 071124030

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orangtuaku, kakak-kakak, adikku dan kepada semua orang yang mencintai kaum miskin.

(5)

MOTTO

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa.”

(Rm 12:12)

(6)
(7)
(8)

ABSTRAK

Judul skripsi ini adalah “SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA

SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN

SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN”. Judul ini dipilih berdasarkan pada fakta yang ada bahwa masih banyak katekis yang kurang memahami dan menghayati semangat pelayanannya bagi kaum miskin. Katekis cenderung lebih menutup diri terhadap kaum miskin karena menurut mereka melakukan pelayanan yang bersifat liturgis jauh lebih penting untuk dilaksanakan dibandingkan dengan melayani kaum miskin.

Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana para katekis dapat dibantu untuk semakin menyadari dan menghayati spiritualitas pelayanan bagi kaum miskin dengan belajar dari pelayanan yang dilakukan oleh Ibu Teresa. Dengan begitu katekis diharapkan semakin memahami dan menghayati makna panggilannya dalam melayani kaum miskin.

Dalam menanggapi persoalan tersebut, penulis merasa perlu adanya proses pengenalan lebih dekat akan sosok Ibu Teresa beserta karya-karyanya dalam melayani kaum miskin. Dalam skripsi ini penulis akan memaparkan riwayat hidup Ibu Teresa dan proses perjalanan karya pelayanannya, mulai dari panggilan pertamanya untuk menjadi suster biara Loreto sampai saat dia menerima panggilan kedua yang sering dia sebut sebagai “panggilan dalam panggilan”. Pengenalan lebih dekat terhadap sosok Ibu Teresa diharapkan memberikan inspirasi bagi katekis untuk meneladan karya-karya pelayanan Ibu Teresa. Selain itu juga penulis ingin memberikan penyadaran kepada katekis untuk semakin memahami arti pelayanan bagi kaum miskin, bahwa melayani kaum miskin itu bukanlah hanya kegitan sosial belaka yang wajib dilakukan untuk membantu sesama kita yang miskin, tetapi menyadarkan katekis untuk melihat Kristus yang hadir dalam diri kaum miskin, pelayanan yang dilakukan bukan semata-mata pelayanan sosial kemanusiaan, tetapi pelayanan kepada Kristus sendiri yang hadir bersama kaum miskin.

(9)

ABSTRACT

The title of this small thesis is “THE SPIRITUALITY OF MOTHER TERESA AS AN EXAMPLE FOR CATECHIST THEIR MAKING TO SERVE THE POOR”. The title was chosen based on the fact that many catechists do not understand and appreciate the spirit of their service to the poor. Catechist ten to be more closed to the poor. For them to serve the poor is not an obligation that is needed to be implemented. Chatechists ten to be more concerned with their own lives and give prioritize services that are liturgical, thus set aside the service for the poor.

The main issue in small this thesis is how the catechist can be helped to become more aware and appreciate the service to the poor by learning from the service that had been performed by Mother Teresa. By doing so, catechist are expected to increasingly understand and appreciate the meaning of their vocation, which in turn catechists are also able to appreciate and do the service for the poor.

In response to these issues, the writer felt the need for a closer identification process with the figure of Mother Teresa and all her works and service for the poor. This writing firs describes the life history of Mother Teresa and the way she followed the call. From the first time she entered the convent and became a Loreto’ sister until she received a second call that is often referred to as a “call within a call” and gave her whole life there. Introduction closer to the figure of Mother Teresa’s exsample and her services toward the poor. In addition, the writer also wold like to provide an awareness for catechists to further understand the meaning of the service to the poor: that serving the poor is not merely social activities that must be done in order to help the poor, but rather catechists realization that Chris loves the poor and is present and struggle in the life of the poor. Therefore, the service to the poor does not just merely humanitarian social service, but a Christian act and service to Christ himself who is present in the life of the poor.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah yang maha berbelas kasih dan kepada Bunda maria yang penuh cinta di mana atas berkat dan penyertaannya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN”.

Dalam skripsi ini penulis mengangkat keprihatinan yang selama ini terjadi di kalangan katekis di mana mereka masih sulit untuk melayani kaum miskin. Penulis menyadari bahwa banyak orang yang dapat dijadikan teladan dalam melayani kaum miskin tetapi penulis memilih Ibu Teresa karena Ibu Teresa merupakan sosok yang teguh dalam panggilan dan begitu mencintai kaum miskin, dan dia selalu menegaskan bahwa karya-karya yang dia lakukan bukan sekedar kegiatan sosial tetapi dia melakukan itu semua karena Yesus, dia melihat Yesus dalam diri orang miskin. Oleh karena itu penulis sebagai calon katekis merasa tergugah oleh sosok Ibu Teresa yang begitu sederhana dan penuh cinta dalam melayani kaum miskin.

Banyak pelajaran hidup yang penulis dapat dalam menyelesaikan skripsi ini dan penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini berkat bantuan dan dukungan dari banyak pihak yang telah memberikan perhatian, dorongan, motivasi dan inspirasi bagi penulis. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

(11)

2. Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A., selaku dosen penguji kedua dan sebagai dosen pembimbing akademik yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, pikiran untuk membimbing penulis selama studi sampai pada pertanggungjawaban skripsi ini.

3. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung., S.J., M.Ed., sebagai kaprodi IPPAK dan dosen penguji ketiga yang telah memberikan dukungan dan kesempatan kepada penulis dalam menyelesaikan skrispsi ini serta kesediaanya membimbing sekaligus memeriksa skripsi dan menguji penulis.

4. Bapak-Ibu dosen dan Segenap staf prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang telah mendampingi dengan setia serta menjadi rekan selama penulis melaksanakan studi di IPPAK-USD Yogyakarta.

5. Yakobus Naya Leoema yang dengan setia menemani, memperhatikan dan selalu memberi dorongan serta semangat untuk secepatnya menyelesaikan skripsi ini. 6. Teman-temanku Tarmilla Br Tarigan, Paskarada Gerada, Hermi Marbun, Santri

Dor, Niken Pratiwi, Ade Mardiana, Rosita Dangin, Yuniarti Ninu, Karolina Ohuiliun, Deslita Angelina Br Tarigan yang telah mendukung dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Grup Labo Piga Bagi Kam Eina yang beranggotakan Imalia Br Sembiring, Tarmilla Br Tarigan, Alan Dwinta Karo Sekali, Roy Yoseph Gomgom Sinambela, Harry Dwi Saputra Ginting, Dedi Silva Sinulingga, Mahendra Barus, Jefry Pinem yang selalu menyemangati penulis selama proses penulisan sampai terselesaikannya skripsi ini.

(12)
(13)

DATAR ISI

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii

BAB II. IBU TERESA DAN SPIRITUALITAS PELAYANANNYA ... 8

A. Riwayat hidup Ibu Teresa ... 8

B. Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa ... 13

1. Pengertian Spiritualitas ... 13

2. Spiritualitas Pelayanan ... 14

3. Ciri-ciri Pelayanan ... 15

4. Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa ... 16

C. Karya dan Pelayanan Ibu Teresa ... 18

1. Mengajar anak-anak miskin di Motijhil ... 18

(14)

3. Shisu Bhavan ... 22

4. Sealdah Stasion ... 23

5. Nirmal Hriday atau Wisma Hati nan Murni ... 23

6. Prem Daan ... 24

7. Shantinagar/ Rumah bagi Orang-orang Berkusta ... 25

8. Membangun Klinik Kesehatan ... 25

9. Protima Sen School ... 26

D. Hambatan yang dialami oleh Ibu Teresa pada Awal Karyanya ... 26

1. Perubahan Gaya Hidup ... 26

2. Tiadanya Bekal ... 27

3. “Ladang” yang Amat Berbeda ... 28

4. Memulai dengan Sendirian ... 28

E. Pandangan Ibu Teresa Terhadap Penderitaan ... 29

F. Cinta Kasih Ibu Teresa ... 31

1. Mencintai Kristus dengan Melayani Sesama ... 31

2. Melayani dengan Berbagi Kehidupan ... 33

G. Teladan Hidup Ibu Teresa ... 34

1. Ibu Teresa Teladan dalam Keheningan ... 34

2. Ibu Teresa Teladan dalam Doa ... 35

3. Ibu Teresa Teladan dalam Iman ... 36

4. Ibu Teresa Teladan dalam Cinta ... 36

5. Ibu Teresa Teladan dalam Melayani ... 37

6. Ibu Teresa Teladan dalam Perdamaian ... 39

BAB III. SEMANGAT PELAYANAN KATEKIS BAGI KAUM MISKIN ... 40

A. Pengertian Katekis ... 41

C. Kemampuan yang perlu dimiliki Katekis ... 48

(15)

2. Mampu Menjadi Teladan ………. ... 49

3. Mampu berefleksi dan Kehidupan Rohani yang Mendalam ……….. . 50

4. Mampu Menjadi Pemimpin ... 51

D. Peran Katerkis dalam Tugas Perutusannya ... 52

1. Panggilan dan Perutusan Katekis ……… 52

2. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya ………. .. 53

a. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di Sekolah ... 54

b. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di Paroki ... 54

c. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di dalam Struktur Pemerintahan ... 55

E. Pelayanan Katekis bagi Kaum Miskin ... 56

1. Pengertian Kaum Miskin ... 56

2. Gereja dan Kaum Miskin... 57

3. Peran Katekis dalam Pelayanan bagi Kaum Miskin ... 60

F. Ibu Teresa sebagai Teladan bagi Katekis dalam Mewujudkan Semangat Pelayanan bagi Kaum Miskin ... 62

BAB IV. USAHA MENINGKATKAN SEMANGAT PELAYANAN KATEKIS BAGI KAUM MISKIN BERDASARKAN TELADAN PELAYANAN IBU TERESA BAGI KAUM MELALUI KATEKESE UMAT ... 69

A. Arti Katekese Umat ... 70

B. Tujuan Katekese Umat ... 71

C. Shared Christian Praxis Sebagai Suatu Alternatif Model Katekese Umat 71 1. Pengertian Shared Christian Praxis ... 72

a. Praxis ... 73

b. Christian ... 74

c. Shared ... 75

2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis ... 76

a. Langkah 0: Pemusatan Aktivitas ... 76

b. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Peserta (Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta) ... 77

(16)

Lebih Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristian) ... 78

e. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan Tradisi dan Visi Peserta (Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkret) ... 79

f. Langkah V : Keterlibatan Baru demi Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia Ini (Mengusahakan Suatu Aksi Konkret) ... 80

D. Usaha Meningkatkan Pelayanan Katekis bagi Kaum Miskin Berdasarkan Teladan Pelayanan Ibu Teresa Melalui Katekese Umat ... 81

1. Latar Belakang Program Katekese Umat ... 81

2. Alasan Pemilihan Tema ... 81

3. Rumusan Tema dan Tujuan Katekese Umat ... 82

4. Penjabaran Usulan Program Katekese Model SCP ... 85

5. Petunjuk Pelaksanaan Program ... 89

6. Contoh Persiapan Katekese Umat ... 89

BAB V. PENUTUP ... 104

A. Kesimpulan ... 108

B. Saran ... 106

DAFTAR PUSTAKA ... 108

LAMPIRAN ... 110

Lampiran 1: Lagu “Bahasa Cinta”dan “Kasih Pasti Lemah Lembut” ... (1)

Lampiran 2: Film “Mother Teresa” ... (2)

Lampiran 3: Matius 22:34-40 ... (3)

Lampiran 4: Cerita “Aku Haus” ... (4)

Lampiran 5: Cerita “Pino Siapa Saudaramu?” ... (5)

(17)

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Kitab Suci

Daftar singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat (Dipersembahkan

kepada Umat Katolik Indonesia oleh Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam Rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus dan segenap umat beriman, tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979.

RN : Rerum Novarum, Ensiklik Paus Leo XIII mengenai kondisi kelas kerja dan nasib para buruh, Mei 1891.

C. Singkatan Lain

ASG : Ajaran Sosial Gereja Bdk : Bandingkan

DokPen : Dokumentasi dan Penerangan

FABC : Faderation of Asian Bishop Conferences

Hal : Halaman

IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KAS : Keuskupan Agung Semarang

(18)

KOPTARI : Konferensi Tarekat Religius Indonesia KWI : Konferensi Waligereja Indonesia

MASRI : Majelis Antar Serikat Religius Indonesia MAWI : Majelis Waligereja Indonesia

PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia SCP : Shared Christian Praxsis

St : Santa

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ibu Teresa merupakan sosok wanita yang tangguh dan tekun dalam menjalankan setiap tugas pelayanannya meskipun banyak permasalahan yang dihadapinya tetapi dia tetap tenang dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Dalam melaksanakan tugas pelayanan Ibu Teresa tidak hanya berbicara saja melainkan dia mewartakan Kristus dengan perbuatan yaitu dengan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan orang miskin, menderita, tertindas dan cacat. Sosok seperti Ibu Teresa sulit ditemukan pada saat ini karena memang tidak mudah menemukan orang yang benar-benar mencintai kaum miskin. Hal ini sungguh berbeda dengan Ibu Teresa karena Ibu Teresa melihat kemiskinan sebagai fakta hidup untuk mempraktekkan kasih Allah.

(20)

sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Ibu Teresa mengatakan bahwa apa yang Ibu Teresa lakukan bersama para suster Misionaris Cinta Kasih, mereka melakukannya demi Yesus, mereka berjumpa dengan Yesus 24 jam sehari melalui kaum miskin, mereka merasa bahwa perjumpaan mereka bersama Kristus melalui kaum miskin sangat mebahagiakan karena bagi mereka kaum miskin begitu menarik hati. Kaum tidak membutuhkan rasa simpati dan belas kasihan, tetapi mereka membutuhkan cinta kasih dan perhatian yang tulus (Hartono, 1998: 12). Di sini dapat dilihat bahwa Ibu Teresa sungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani kaum miskin, dia begitu bahagia ketika dia bisa melayani mereka. Ibu Teresa melakukan semuanya itu bukan karena rasa kasihan tetapi karena cinta kasihnya kepada Kristus dan dia wujudkan melalui mereka yang miskin dan menderita.

(21)

Ibu Teresa pernah mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2010: 220) bahwa “Tuhan memanggil kita bukan untuk

sukses, dia memanggil kita untuk setia”. Ini menunjukkan bahwa kesuksesan itu bukanlah hal yang utama dalam hidup ini tetapi kesetiaan pada jalan kita menapaki kehidupan ini, bersama Dia yang memanggil kita yang paling penting. Menemukan orang yang setia pada jalan Allah memang tidak mudah karena banyak adalah orang yang ingin sukses dan terkenal tanpa harus bersusah payah mengikuti apa yang sudah diminta oleh Allah kepadanya.

(22)

Zaman sekarang ini pribadi seperti Ibu Teresa tidak mudah untuk ditemukan karena pada kenyataannya banyak orang lebih mementingkan kehidupannya sendiri. Hal yang sama juga berlaku bagi katekis di mana penulis mendengar dan melihat bahwa banyak katekis yang begitu khawatir akan kehidupannya sehingga banyak katekis yang menutup mata untuk melayani kaum miskin. Banyak katekis yang merasa mereka tidak mampu melayani kaum miskin. Selain itu banyak katekis yang begitu mengutamakan pelayanan-pelayanan yang bersifat liturgis sehingga mengesampingkan pelayanan mereka bagi kaum miskin, bagi mereka melayani kaum miskin bukan kewajiban yang harus mereka lakukan.

Penulis merasa tertarik dengan semangat pelayanan Ibu Teresa karena di dalam melaksanakan pelayanannya dia selalu percaya dan berserah pada Tuhan. Ibu Teresa tidak pernah merasakan bahwa Tuhan tidak menyayanginya atau Tuhan meninggalkannya meskipun dia sedang mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Sumua masalah yang dialaminya dia jadikan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Semakin banyak masalah yang dialaminya semakin dia dekat dengan Tuhan. Baginya masalah itu adalah anugrah yang harus disyukuri karena semakin banyak masalah Allah semakin cinta dengan kita.

(23)

“SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI

TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN”. Harapan penulis, spiritualitas dan karya

Ibu Teresa dapat dijadikan teladan bagi katekis dalam melaksanakan tugas pelayanannya bagi kaum miskin serta katekis semakin menyadari bahwa mencintai dan melayani kaum miskin merupakan tugas yang penting dan tidak boleh dilupakan atau diabaikan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan spiritualitas pelayanan Ibu Teresa? 2. Apa yang dimaksud dengan pelayanan Katekis?

3. Bagaimana spiritualitas Ibu Teresa dijadikan sebagai inspirasi dan teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi kaum miskin?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk memahami spiritualitas pelayanan Ibu Teresa bagi kaum miskin. 2. Untuk mengetahui tugas pelayanan katekis bagi kaum miskin.

3. Untuk mengetahui karya-karya dan jalan hidup Ibu Teresa katekis semakin termotivasi untuk melayani kaum miskin.

(24)

D. Manfaat Penulisan

1. Meningkatkan pemahaman spiritualitas Ibu Teresa bagi katekis dalam melayani kaum miskin.

2. Memberikan sumbangan pemikiran bagi katekis untuk meningkatkan semangat pelayanan dalam perkembangan zaman dewasa ini dan sebagai acuan untuk menjadikan katekis lebih peka dengan situasi tersebut.

3. Katekis menghayati spiritualitas pelayanannya bagi kaum miskin dengan meneladani pelayanan Ibu Teresa.

E. Metode Penulisan

Skripsi ini disusun dengan memakai metode deskriptif analisis yang menggambarkan dan menganalisa permasalahan yang ada untuk menemukan jalan pemecahan yang memadai atas sebuah studi pustaka dari berbagai buku refrensi karangan ilmiah yang berkaitan dengan tema yang diangkat oleh penulis.

F. Sistematika Penulisan

Penulis memilih judul skripsi ”SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN” yang akan diuraikan dalam lima bab sebagai berikut:

Bab I merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang penulisan skripsi, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

(25)

Teresa yang terbagi dalam tujuh bagian pokok yakni riwayat hidup Ibu Teresa, spiritualitas pelayanan Ibu Teresa, karya dan pelayanan Ibu Teresa, hambatan yang dialami Ibu Teresa pada awal karyanya, pandangan Ibu Teresa terhadap penderitaan, cinta kasih Ibu Teresa dan teladan hidup Ibu Teresa.

Bab III menjelaskan mengenai semangat pelayanan katekis bagi kaum miskin berdasarkan teladan pelayanan Ibu yang terbagi dalam empat bagian pokok yakni pengertian katekis, spiritualitas katekis, kemampuan katekis, peran katekis dalam tugas perutusannya, pelayanan katekis bagi kaum miskin, Ibu Teresa sebagai teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi kaum miskin.

Bab IV merupakan sumbangan pendampingan bagi katekis dalam usaha meningkatkan pelayanan katekis bagi kaum miskin berdasarkan teladan pelayanan Ibu Teresa melalui katekese umat, dengan menggunakan model Shared Christian Praxsis.

Bab V merupakan bagian akhir dari penulisan yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

(26)

BAB II

IBU TERESA DAN SPIRITUALITAS PELAYANANNYA

Tokoh seperti Ibu Teresa merupakan sosok yang sulit ditemukan pada abad ini karena banyak karya-karya yang dia lakukan bagi kaum miskin. Karya pelayanan yang ia berikan bagi kaum miskin di Kalkuta mampu membuka mata dunia untuk mengenal lebih jauh sosok Ibu Teresa. Pribadi Ibu Teresa membuat hati setiap orang yang mengenalnya luluh dan simpatik akan apa yang ia lakukan bagi kaum miskin. Untuk lebih mengenal sosok dan spiritualitas pelayanan Ibu Teresa maka dalam bab ini akan diuraikan tentang riwayat hidup Ibu Teresa, spiritualitas pelayanan Ibu Teresa, karya dan pelayanan Ibu Teresa, hambatan yang dialami Ibu Teresa dan teladan hidup Ibu Teresa.

A. Riwayat Hidup Ibu Teresa

Buku yang berjudul Ibu Teresa (Langford, 2010: 10-16) menjelaskan mengenai sejarah singkat riwayat hidup Ibu Teresa.

(27)

pada umur 18 tahun, bulan September 1928, Agnes masuk Biara Suster-suster Loreto di Irlandia. Ia memilih nama Suster Maria Teresa sebagai kenangan akan St. Theresia Kecil dari Lisieux yang sering disebut sebagai “Bunga Kecil” (Beding, 1989: 94).

Pada bulan Desember, Sr. Teresa meninggalkan Irlandia dan berangkat ke India dan tiba di Kalkuta pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah mengucapkan Kaul Pertamanya pada tanggal 24 Mei 1931, Sr. Teresa ditugaskan untuk mengajar di sekolah lanjut atas untuk gadis-gadis Bengali yang dijalankan oleh suster Loreto di Entally sebelah timur Kalkuta. Selama kira-kira 20 tahun Sr. Teresa mengajar di sekolah itu, dia mengajar ilmu bumi dan sejarah. Bahkan Sr. Teresa sempat diangkat menjadi kepala sekolah. Suster Teresa juga mengajar di sekolah lain yang lingkungan sekolahnya berdekatan dengan biara Loreto yaitu St. Maria (Beding, 1989: 94).

Pada tanggal 10 September 1946, dalam perjalanan kereta api dari Kalkuta ke Darjeeling untuk menjalani retret tahunan, Ibu Teresa menerima “inspirasi”, “panggilan dalam panggilan”-nya. Pada hari itu, dengan suatu cara yang tidak pernah dapat dijelaskan, dahaga Yesus akan cinta dan akan jiwa-jiwa memenuhi hatinya. “Mari, jadilah cahaya bagi-Ku”. Sejak itu, Ibu Teresa dipenuhi hasrat “untuk memuaskan dahaga Yesus yang tersalib akan cinta dan akan jiwa

-jiwa” dengan berkarya demi keselamatan dan kekudusan orang-orang termiskin dari

yang miskin (Langford, 2010: 11).

(28)

1948 Ibu Teresa keluar melewati gerbang Biara Loreto yang tenteram yang amat dicintainya untuk memasuki dunia orang-orang miskin (Beding, 1989: 105).

Untuk pertama kalinya setelah keluar dari biara Loreto yang sangat dicintainya Ibu Teresa memulai karya pelayanannya dengan mengajar anak-anak miskin yang berada di kampung kumuh padat penduduk di Moti Jhil. Kemampuannya sebagai guru digunakannya untuk mengajar anak-anak miskin dengan menggunakan tanah sebagai papan tulis, dan sebatang pohon sebagai atap dan tempat berteduh. Sebagai hadiah atas kehadiran anak-anak yang dia ajari Ibu Teresa membagikan sabun kepada murid-muridnya (Langford, 2010: 12).

Pada bulan Februari 1949, keluarga Michael Gomes meminjaminya sebuah ruangan di Creek Lane. Ibu Teresa pindah ke rumah itu hanya dengan membawa tas kecil dan menata ruangan untuk tidur dan kerja, dengan sepasang prabot untuk meja dan kursi. Setelah berita tentang Ibu Teresa tersebar orang-orang yang mengenalnya mulai membantu karya perutusannya yang baru itu (Langford, 2010: 12).

(29)

akhirnya di setiap benua. Pada tahun 1980 hingga 1990, Ibu Teresa membuka rumah-rumah penampungan di hampir di seluruh negara-negara komunis, termasuk Uni Soviet, Albania dan Kuba. Agar dapat menanggapi kebutuhan kaum miskin, baik jasmani maupun rohani, Ibu Teresa melangkah lebih lanjut dengan mendirikan lima komunitas religius tersendiri bagi pelayanan pada kaum miskin. Bersama para Suster, yang didirikan pada tahun 1950, dia mulai dengan cabang pria, Bruder-bruder Misionaris Cinta Kasih, berdiri 1966, kemudian para Suster Kontemplatif pada tahun 1976, pada tahun 1979 didirikan Bruder-bruder Kontemplatif, dan yang terakhir pada tahun 1984 didirikan Imam Misionaris Cinta Kasih untuk melayani luka batin dan kemiskinan rohani dari mereka yang dilayani oleh para suster serta Bruder (Langford, 2010: 15).

Mata dunia mulai terbuka terhadap Ibu Teresa dan karyanya. Pada 6 Januari 1970 Paus Pius VI menganugrahinya dengan Penghargaan Perdamaian Paus Yohanes XXIII. Penghargaan ini telah dipersiapkan oleh almarhum Paus Yohanes XXIII untuk menghormati para pencipta perdamaian (Wellman, 2002: 204). Ia juga membentuk Kerabat Kerja Ibu Teresa dan Kerabat Kerja Sick and Suffering, yaitu orang-orang dari berbagai kalangan agama dan kebangsaan dengan siapa ia berbagi semangat doa, kesederhanaan, kurban silih dan karya sebagai pelayan cinta kasih. Semangat ini kemudian mengilhami terbentuknya Misionaris Cinta Kasih awam (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 217).

(30)

Pada tahun 1997, tarekat Misionaris Cinta Kasih hampir mencapai 4000 orang, tergabung dalam 610 cabang dan tersebar di 120 negara dari berbagai belahan duniam (Wellman, 2002: 230). Pada bulan Maret 1997, Ibu Teresa memberikan restu kepada Sr. Nirmala MC, penerusnya sebagai Superior Jenderal Misionaris Cinta Kasih. Setelah bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II untuk terakhir kalinya, ia kembali ke Kalkuta dan melewatkan minggu-minggu terakhir hidupnya dengan menerima kunjungan para tamu dan memberikan nasehat-nasehat terakhir kepada para biarawatinya (Langford, 2010: 14).

Pada tanggal 5 September 1997 jam 9:30 malam, hidup Ibu Teresa di dunia ini berakhir. Jenazahnya dipindahkan dari Rumah Induk ke Gereja St. Thomas, gereja dekat Biara Loreto di mana ia menjejakkan kaki pertama kalinya di India hampir 69 tahun yang lalu. Ratusan ribu pelayat dari berbagai kalangan dan agama, dari India maupun luar negeri, berdatangan untuk menyampaikan penghormatan terakhir mereka (Langford, 2010: 15).

Ibu Teresa mendapat kehormatan dimakamkan secara kenegaraan oleh Pemerintah India pada tanggal 13 September sebelum akhirnya dimakamkan di Rumah Induk Misionaris Cinta kasih. Segera saja makamnya menjadi tempat ziarah dan tempat doa bagi banyak orang dari berbagai kalangan agama, kaya maupun miskin (Wellman, 2002: 230).

(31)

yang tersebar luas karena kekudusan dan karya-karyanya, Paus Yohanes Paulus II memberikan persetujuan untuk dimulainya proses kanonisasi Ibu Teresa. Dengan melewati proses panjang dan juga kerja keras pada tanggal 20 Desember 2002 Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan keputusan untuk mengesahkan beatifikasi Ibu Teresa. Pada tanggal 19 Oktober 2003 dilaksanakan perayaan beatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II di lapangan Basilika St. Petrus Vatikan. (Krispurwana Cahyadi, 2004: 64).

B. Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa 1. Pengertian Spiritualitas

KOPTARI (1987: 4) menyatakan bahwa spiritualitas adalah “kenyataan konkret hidup yang mencakup keyakinan iman, keutamaan beserta perwujudannya”.

Definisi ini memberikan penjelasan bahwa spiritualitas bukanlah sesuatu yang abstrak, akan tetapi sesuatu yang nyata dapat dilihat realitasnya dalam sikap dan tindakan hidup sehari-hari. Di mana seseorang yang memiliki iman yang teguh dan kuat akan dapat terlihat dari perilaku dan tindakannya dalam hidup di tengah-tengah masyarakat.

Banawiratma (1990: 57-58) menyatakan bahwa spiritualitas merupakan “kekuatan atau Roh yang memberi daya tahan kepada seseorang atau kelompok untuk mempertahankan, memperkembangkan, mewujudkan kehidupan”. Di mana

(32)

Dalam Ensiklopedia Gereja Katolik III, Heuken (1991: 106) mengatakan bahwa spiritualitas berasal dari kata spirit yang berarti roh. Kata Spiritualitas berarti kerohanian atau hidup rohani. Dengan begitu spiritualitas dapat dirumuskan sebagai hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus sehingga orang dapat mengembangkan iman, harapan dan cinta kasih atau sebagai usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan ke dalam cara hidup yang secara sadar bertumpu pada iman akan Yesus Kristus atau sebagai pengalaman iman kristiani dalam situasi konkret masing-masing orang. Hal tersebut selalu bertumpu pada iman akan Yesus melalui perbuatan dan pengalaman iman dalam kehidupan sehari-hari.

Dari beberapa definisi di atas penulis menyimpulkan bahwa spiritualitas merupakan semangat yang berasal dari Allah yang menyelimuti hidup seseorang sehingga dalam segala prilakunya dapat terlihat bahwa Roh Allah yang berkarya dan diwujudkan oleh manusia dalam tindakan yang nyata dengan mencintai Allah melalui orang lain yang ada di sekitarnya terlebih mereka yang miskin dan kecil.

2. Spiritualitas Pelayanan

(33)

cinta, pengetahuan dan tindakan. Berdasarkan rahmatnya manusia mengalami kepenuhan hidup, kebahagiaan, dan damai sejahtera, seperti yang disabdakan Yesus sendiri (Yoh 10:10).

5. Ciri-Ciri Pelayanan Kristiani

(34)

4. Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa

Yesus adalah segala-galanya bagi Ibu Teresa sehingga dalam karya pelyanannya Ibu Teresa selalu mengutamakan Yesus alasannya melayani orang miskin adalah semata–mata karena Yesus sehingga Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2003a: 58) senantiasa mengatakan:

Aku melakukannya karena Yesus, bersama Yesus, dalam Yesus, dan untuk Yesus. Itu berarti mencintai sesama sebagaimana cara Yesus sendiri mencintai kita semua sampai mengorbankan diri-Nya sendiri demi cinta-Nya kepada kita. Oleh karena itu, tidaklah mungkin seseorang terlibat dalam kerasulan aktif jika tidak memiliki semangat dan jiwa pendoa. Kita harus menyadari kesatuan dengan Kristus, sebagaimana dia satu dengan Bapa-Nya…dengannya kita belajar mencari Allah dan kehendak-Nya. Relasi dengan mereka yang miskin merupakan sarana yang efektif bagi penyucian diri kita dan sesama.

(35)

Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa berakar dari kata-kata Yesus “Aku haus”. Dalam spiritualitas pelayanan Ibu Teresa, gambaran ketidak berdayaan Tuhan yang menjadi pusat perhatiannya adalah saat peristiwa salib, terlebih ketika Tuhan mengatakan “Aku haus” (Yoh 19:28). Bagi Ibu Teresa kata “Aku haus” bukan hanya menunjukkan bahwa Yesus haus akan air tetapi menurut Ibu Teresa Yesus senantiasa haus akan kasih dengan peristiwa salib Yesus ingin memperlihatkan bahwa semua orang yang menderita senantiasa merasa haus. Yesus mengangkat penderitaan umat manusia dan memperlihatkan betapa mereka yang menderita senantiasa merasa haus dan dengan itu mengundang siapa saja untuk memberikan rasa dahaga kepada mereka. Kehausan mereka adalah kehausan akan cinta kasih. Persatuannya yang mendalam dengan Allah menghantarnya kepada banyak keutamaan hidup rohani yang mengagumkan banyak orang. Pengalaman rohani Ibu Teresa yang mendalam, menggerakkannya untuk melakukan pelayanan di tengah-tengah orang miskin.

(36)

C. Karya dan Pelayanan Ibu Teresa

Sebelum memutuskan untuk keluar dari biara Loreto yang sangat dicintainya Suster Teresa mengabdikan diri untuk biaranya dan patuh akan perintah pimpinannya. Setelah suster pulang dari Darjeeling Suster Teresa diutus kembali oleh pimpinannya sebagai pendidik di sekolah suster Teresa dan kembali melanjutkan tugasnya mengajar di sekolah St. Maria dan sekolah Entally (Beding, 1989: 98).

Setelah kaul kekal Suster Teresa diangkat menjadi kepala sekolah di St. Mary’s School dan juga mengajar di St. Teresa’s School sebuah sekolah yang

terletak di luar biara. Ketika suster Teresa merasakan bahwa Yesus memanggil dia untuk kedua kalinya melayani orang miskin, melarat dan kelaparan suster Teresa memilih untuk meninggalkan biara yang paling ia cintai supaya dengan leluasa dia biasa melakukan karya pelayanannya bagi kaum miskin tanpa harus terikat dengan aturan biara Loreto (Krispurwana Cahyadi, 2010: 27-28).

Setelah keluar dari biara Loreto banyak karya dan pelayan yang Ibu Teresa berikan bagi kaum miskin yakni: mengajar anak-anak miskin di Motijhil, mendirikan Misionaris Cinta Kasih, Shisu Bhavan, Sealdah Stasion, Nirmal Hriday atau Wisma Hati Nan Murni, Prem Daan, Shantinagar/Rumah bagi Orang-Orang Berkusta, Membangun Klinik Kesehatan, Protima Sen School.

1. Mengajar Anak-anak Miskin di Motijhil

(37)

halaman terbuka di antara gubuk-gubuk. Tak ada papan tulis, tak ada bangku, tak ada kursi, tak ada apa-apa hanya satu lapangan terbuka. Ibu Teresa menulis di tanah, di lumpur dengan sebatang tongkat kecil, lalu Ibu Teresa mengajari anak-anak itu bahasa Bengali dan mengajari mereka bernyanyi (Krispurwana Cahyadi, 2010: 32).

Pada hari kedua Ibu Teresa sudah mendapat meja, kursi dan sebuah lemari. Dengan semangat yang luar biasa Ibu Teresa mengajar anak-anak, bagi Ibu Teresa apa saja yang bisa dia lakukan hari ini akan dia lakukan tanpa harus menunggu yang lain (Beding, 1989: 67).

2. Mendirikan Misionaris Cinta Kasih

Pada awal karyanya Ibu Teresa memulainya dengan sendiri, namun pada tanggal 19 Maret 1949 datanglah kepadanya muridnya dulu di Entally Subashini Das yang ingin bergabung dengannya. Kemudian, pada tanggal 26 Maret 1949 datang pula Magdalena, semakin hari pengikut Ibu Teresa semakin banyak dan pada akhirnya sampai pada 11 orang (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 183).

Ketika dalam kelompok barunya itu banyak yang datang untuk bergabung maka Ibu Teresa merasa perlu untuk memberi nama untuk kelompoknya ini, oleh karena itu ia memberi nama Misionaris Cinta Kasih. Ibu Teresa menyadari bahwa menyatakan cinta kasih merupakan tugas yang harus diembannya, atau misi yang harus disangganya (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 175).

(38)

agama yang disahkan dan didirikan dengan berkat Bapa Suci, Paus Paulus VI ini sangat membuat Ibu Teresa bahagia dan bangga. Pada tahun 1980 hingga 1990, Ibu Teresa membuka rumah-rumah penampungan di hampir di seluruh negara-negara komunis, termasuk Uni Soviet, Albania dan Kuba. Agar dapat menanggapi kebutuhan kaum miskin, baik jasmani maupun rohani, Ibu Teresa melangkah lebih lanjut dengan mendirikan lima komunitas religius tersendiri bagi pelayanan pada kaum miskin. Bersama para Suster, yang didirikan pada tahun 1950, dia mulai dengan cabang pria, Bruder-bruder Misionaris Cinta Kasih, berdiri 1966, kemudian para Suster Kontemplatif pada tahun 1976, pada tahun 1979 didirikan Bruder-bruder Kontemplatif, dan yang terakhir pada tahun 1984 didirikan komunitas Imam Misionaris Cinta Kasih untuk melayani luka batin dan kemiskinan rohani dari mereka yang dilayani oleh para suster serta bruder (Langford, 2010: 15).

Cara hidup Misionris Cinta Kasih memiliki kekhasan tersendiri yaitu adanya kaul keempat, selain kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Kaul keempat mereka adalah kaul untuk memberikan pelayanan dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih kepada mereka yang termiskin dari yang miskin. Ibu Teresa, seperti yang dikutip oleh Egan & Egan (2001: 26) mengatakan bahwa “dengan kaul keempat kita menanggapi panggilan Kristus yaitu dengan memberikan pelayanan sepenuh hati dan bebas kepada yang terpapa dari yang papa seturut kepatuhan. Dengan demikian kita akan dapat memuaskan dahaga Yesus tanpa henti”.

(39)

menyediakan diri sepenuhnya untuk Yesus, oleh karena itu Dia akan hidup di dalam kita dan melalui kita dalam kelembutan tanpa batas, dengan cinta kasih dan murah hati bagi yang terpapa dari yang papa baik rohaniah maupun jasmaniah. Dewasa ini mereka adalah para biarawan dan biarawati yang dapat pergi kemanapun, satu-satunya syarat yang harus mereka patuhi yang diberikan oleh kongregasi ialah pekerjaan yang mereka lakukan harus membumi mereka harus melayani “Terpapa dari yang papa” (Egan & Egan, 2001: 26-27).

(40)

dengan panggilan hidup sebagai Misionaris Cinta Kasih. Setelah itu mereka menjalani masa novisiat dimana mereka mempelajari Kitab Suci, dasar-dasar ajaran Gereja serta sejarah Gereja (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 189-190).

Pada akhir masa Novis mereka mengucapkan kaul sementara, lalu mereka disebut sebagai suster yunior. Masa yuniorat ini berlangsung selama lima tahun. Setiap tahun mereka harus membaharui kaulnya. Pada tahun keenam anggota Misionaris Cinta Kasih menjalani masa tersiat, sebelum mereka mengucapkan kaul kekal (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 191).

3. Shisu Bhavan

Ibu Teresa menyewa rumah untuk anak-anak terlantar rumah itu dinamakan Shisu Bhavan. Shisu Bhavan adalah bangunan bertingkat dua, dalam Shisu Bhavan selalu ada kegiatan meskipun Shisu Bhavan merupakan rumah untuk anak-anak terlantar tetapi rumah ini juga merupakan pusat kegiatan Misionaris Cinta Kasih. Tempat ini cukup berbeda dari ketenagaan rumah induk karena disinilah orang-orang kelaparan diberi makan, dan orang-orang sakit dirawat serta disini tempat untuk menampung ibu-ibu yang menunggu kelahiran anaknya yang tidak memiliki tempat (Beding, 1989: 43).

(41)

4. Sealdah Station

Sealdah Station adalah stasiun kereta api dari Estern Railway. Di dalam stasiun itu sepuluh ribu orang memasak, makan, tidur dan meninggal dunia beralaskan lantai batu ruang-ruang tunggu, sementara kereta-kereta api datang dari pagi kemudian melangkahkan kaki di sela-sela orang banyak itu. Setiap hari Ibu Teresa dan Misionaris Cinta Kasih membagi-bagikan bahan pangan berupa campuran bulgur dan kedelai kepada para wanita yang mempunyai kompor dan bagi mereka yang tidak mempunyai kompor Ibu Teresa memasak di tong-tong besar dan dibagikan kepada mereka (Beding, 1989: 166).

5. Nirmal Hriday atau Wisma Hati nan Murni

Nirmal Hriday atau Wisma Hati nan Murni adalah rumah yang didirikan oleh Ibu Teresa untuk menampung orang-orang yang sekarat, melarat dan menghadapi ajalnya. Rumah ini diberi nama Wisma Hati nan Murni karena rumah ini dipersembahkan kepada Hati Tak Bernoda Maria. Ibu Teresa mendirikan Nirmal Hriday karena banyak orang yang tidak peduli akan penderitaan orang yang sekarat yang meninggal di jalanan dan dijilati oleh anjing. Ibu Teresa menginginkan di akhir hidup orang-orang yang melarat dan sekarat itu mereka bisa merasakan cinta, perhatian dan kebahagiaan sehingga ketika ajal menjemput mereka bisa tersenyum dan mengatakan terima kasih. Setiap orang yang mengunjungi Nirmal Hriday akan memiliki suatu gambaran umum tentang tempat itu, tentang keindahan terhadap sikap pasrah maut yang tak dapat dielakkan (Beding, 1989: 152).

Ibu Teresa menyebut kematian itu sebagai pulang ke rumah, ia berkata

(42)

berangkat langsung menuju Tuhan. Dan kalau mereka pergi, meraka akan bercerita kepada-Nya tentang kita. Kami membantu mereka untuk mati dalam Tuhan. Kami membantu mereka untuk minta maaf pada Tuhan, sesuai dengan iman-Nya masing-masing” itulah yang dikatakan oleh Ibu Teresa. Beliau sangat mencintai dan

memperhatikan semua orang yang menderita termasuk orang yang sudah mendekati ajalnyapun berusaha Ibu perhatikan agar mereka merasakan kedekatan mereka dengan Tuhan tanpa harus memaksakan orang yang dirawatnya untuk menjadi Katolik seperti dirinya. Ibu Teresa memberikan kebebasan kepada mereka untuk berdoa sesuai dengan kepercayaannya. Bagi Ibu Teresa perbedaan bukan menjadi halangan untuk mengasihi Tuhan melalui sesama yang menderita (Beding, 1989: 160).

6. Prem Daan

(43)

Prem Daan juga juga memiliki tempat untuk pusat rehabilitasi. Untuk orang-orang miskin, mereka diajari untuk mengolah serabut kelapa menjadi barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti sikat, keset, tali dan kranjang. Sampah yang sebelumnya menjadi masalah dalam masyarakat dapat Ibu Teresa olah menjadi barang yang mempunyai nilai jual sehingga ini mampu menjadi biaya hidup bagi orang miskin (Beding, 1989: 215-217).

7. Shantinagar

Shantinagar adalah salah satu rumah untuk penderita kusta, Shantinagar yang berarti tempat ketentraman merupakan tempat yang dapat memberikan rasa aman dan hidup secara layak dan bermartabat bagi penderita kusta. Selain sebagai tempat perawatan orang-orang penderita kusta, Shantinagar juga memiliki pondok-pondok kecil untuk orang-orang penderita kusta yang ingin tinggal bersama keluarga mereka, pasien penderita kusta yang sudah menikah diijinkan untuk membawa keluarganya dan tinggal bersama-sama. Di tempat ini penderita kusta dapat hidup secara tenteram bersama keluarga mereka tanpa harus dijauhi oleh orang-orang (Beding, 1989: 243).

8. Membangun Klinik Kesehatan

(44)

klinik untuk penyandang kusta ada juga klinik untuk anak-anak cacat fisik dan mental, klinik untuk pasien AIDS dan TBC serta klinik untuk anak-anak yang kekurangan gizi serta klinik mobil yang masih berkeliling setiap hari di daerah Kalkuta (Vardey, 1997: 83).

9. Protima Sen School

Protima Sen School merupakan sekolah yang menolong anak-anak yang di buang dan yang tidak bisa diatur dan dikendalikan oleh orang tua mereka lagi, anak-anak yang berkeliaran di jalan-jalan, yang melakukan pencurian dan anak yang sering berurusan dengan polisi. Di protima Sen School mereka dilatih untuk bekerja untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan anak diajarkan untuk mengembangkan bakat mereka (Beding, 1989: 80).

D. Hambatan yang Dialami Oleh Ibu Teresa pada Awal Karyanya

Buku Teresa dari Kalkuta, Krispurwana Cahyadi (2010: 29-32) menyebutkan bahwa ada empat kendala yang dialami oleh Ibu Teresa pada awal karyanya diantaranya adalah perubahan gaya hidup, tiadanya bekal, “ladang” yang berbeda dan yang terakhir adalah semuanya dimulai dengan sendirian.

1. Perubahan Gaya Hidup

(45)

berangkat dari biara yang teratur, baik dari hidup dan karya semua teratur, dengan pekerjaan sebagai pendidik dengan jadwal yang jelas, dan interaksi dengan orang lain juga terbatas. Tentunya ini sangat jauh berbeda dengan karya pelayanan Ibu bagi kaum miskin. Ketika Ibu Teresa berkarya di tengah-tengah orang miskin tentunya tidak ada jadwal yang tertata dengan baik sehingga perubahan cara hidup yang dia jalani begitu berbeda dengan sebelumnya. Hal ini membuat Ibu Teresa sering merindukan biara Loreto dan membayangkan hidup teratur, terjamin, tentram dan aman disana. Perubahan ini sangat tidak mudah untuk dia jalankan sehingga perubahan ini menjadi pengalaman yang menyakitkan, pengalaman yang membawa masuk ke dalam kekeringan dan kesepian rohani bagi Ibu Teresa (Krispurwana Cahyadi, 2010: 30).

2. Tiadanya Bekal

(46)

3. “Ladang” yang Amat Berbeda

Dunia sekolah dan dunia kampung kumuh sangat berbeda, maka pertama kali masuk kecurigaan dan penolakan dialaminya apa lagi Ibu Teresa orang Barat dan suster, mengingat waktu itu konflik Hindu-Islam memanas. Tidak mudah membuktikan bahwa dia datang dengan tulus dan sungguh, dengan kasih dan hati. Banyak orang-orang menentang kehadiran Ibu Teresa dan bahkan ingin mencelakainya, hal ini membuat Ibu Teresa takut dan cemas tetapi dia tidak pernah mau mundur karena semuanya baru dimulai.

Pada awalnya Ibu Teresa tidak kuat untuk melihat darah dan merawat orang-orang yang sakit, tetapi seiring dengan berjalannya waktu Ibu Teresa bisa mengatasi masalahnya itu. Satu hal yang Ibu Teresa katakan yang membuatnya bisa kuat melayani dan mencintai kaum miskin adalah karena dia melihat Tuhan di dalam diri mereka yang miskin dan menderita. Hal itulah yang memberikan kekuatan untuk dia agar tetap bisa melayani, merawat dan mencintai orang yang sedang menderita. Baginya dia mencintai dan mengasihi Allah melalui mereka. Allahlah yang hadir secara tersamar melalui mereka yang menderita sehingga tidak ada alasan utuk mengabaikan mereka (Krispurwana Cahyadi, 2010: 31).

6. Memulai dengan Sendirian

(47)

Teresa tidak mudah panggilan itu diterimanya. Akan tetapi dia menyadari bahwa tidak ada panggilan yang mudah. Bagi Ibu Teresa kesulitan, tragedi merupakan jalan panggilan. Justru kemiskinan dan kesulitan, salib dan derita, kesepian dan kekeringan, penolakan dan kecurigaan, yang dialaminya semakin masuk ke dalam ajakan panggilan Allah, dan tidak menjadikannya malahan mundur. Di tengah salib, berkat memancar, ditengah tragedi, rahmat menyertai, namun semuanya itu akan didapat jika umat beriman memberikan diri kepada Allah untuk ikut serta dalam gerakan Yesus, memanggul salib dan masuk dalam derita. Konsekuensinya terlibat dalam kecemasan, duka, sakit, luka dan penderitaan umat manusia (Krispurwana Cahyadi, 2010: 32).

E. Pandangan Ibu Teresa terhadap Penderitaan

(48)

melihat kearah yang berlainan yaitu apa yang diharapkan oleh Tuhan dari masalah yang ada. Ibu Teresa pernah mengatakan bahwa janganlah kamu berkecil hati dan kecewa ketika kamu sudah berusaha untuk mendapatkan sesuatu dan kamu tidak bisa mendapatkannya.

Sebagai manusia biasa tentunya Ibu Teresa juga pernah mengalami masalah, mengalami penderitaan, dan kesedihan, tetapi Ibu Teresa mampu mengatasi semua karena dia percaya bahwa Allah selalu menyertainya. Ketika dia harus meninggalkan keluarganya untuk melayani Tuhan dia tetap memiliki kegembiraan, begitu juga ketika ia harus meninggalkan biara yang sangat dicintainya yaitu Loreto, Ibu Teresa juga merasa terluka tetapi demi panggilannya yang baru ia tetap mampu bertahan. Dalam buku hariannya seperti yang dikutip oleh Egan & Egan (2001: 71) Ibu Teresa menulis:

Tuhan menghendaki diri saya untuk menjadi biarawati yang kesepian, menanggung salib kemiskinan. Hari ini saya memetik pelajaran baik. Kemiskinan yang ditanggung orang-orang itu sedemikian berat. Ketika saya berjalan dan terus berjalan hingga kaki dan tangan terasa sakit, saya berpikir betapa berat penderitaan orang-orang itu ketika mereka mencari tempat berlindung.

(49)

F. Cinta Kasih Ibu Teresa

1. Mencintai Kristus dengan Melayani Sesama

Ibu Teresa sangat memahami bahwa cinta-Nya kepada Kristus membuat hidup-Nya berubah, baginya tidak ada artinya dia berkata bahwa dia mencintai Kristus tetapi tidak ikut ambil bagian dalam melayani Yesus. Apabila kita tidak dapat mencintai seseorang yang kelihatan, bagaimana mungkin kita bisa mencintai Kristus yang tidak kelihatan. Bagi Ibu Teresa mencintai saudara kita yang hadir secara nyata bersama kita merupakan perwujudan dari cinta kita kepada Kristus. Ibu Teresa sangat memahami bahwa cinta itu butuh pengorbanan tidak hanya sekedar kata-kata tetapi butuh tindakan nyata. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2003c: 57). mengatakan bahwa:

Cinta tidak bermakna jika tidak dibagikan. Cinta harus diletakkan dalam perbuatan nyata. Kita harus mencintai tanpa mengharapkan imbalan, semata-mata untuk cinta itu sendirian. Cinta yang dalam tidak mengharapkan apapun, cinta hanya memberi. Kita tidak perlu melakukan hal-hal yang besar kepada Tuhan dan sesama. Justru kemendalaman cinta yang kita nyatakan dalam perbuatanlah yang membuat perbuatan-perbuatan kita menjadi indah di mata Tuhan.

(50)

Yesus, bersama Yesus, dalam Yesus dan untuk Yesus. Itu berarti mencintai sesama, sebagaimana Yesus sendiri mencintai kita semua, sampai mengorbankan diri-Nya sendiri demi cinta-Nya kepada kita” (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 59).

Dahulu Yesus mengorbankan hidupNya demi kita dan sekarang apa yang dapat kita berikan untuk dia. Dia rela menjadi manusia dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa manusia. Itulah pelayanan yang Yesus berikan pada manusia dan itu bisa terjadi karena cinta-Nya kepada manusia. Pengorbanan Yesus membuat Ibu Teresa memahami bahwa cinta itu butuh pengorbanan dan harus siap untuk menderita, seperti Yesus yang rela menderita demi manusia itulah bukti cinta kasih-Nya kepada manusia. Oleh karena Kristus telah mau merendahkan diri demi manusia dan menyelamatkan seluruh umat manusia Ibu Teresa rela melakukan segalanya bagi Dia. Ibu Teresa juga percaya bahwa Kristuslah yang memanggil dia sehingga dia mampu melakukan semua karya pelayanannya, baginya Kristuslah yang berkarya dalam setiap karya yang dia kerjakan. Menurutnya semua orang dipanggil oleh Allah untuk meneruskan karya pelayanannya di dunia. Oleh karena itu jika kamu ingin mendengarkan panggilan Allah, kamu harus siap untuk mengosongkan diri supaya Allah yang mengisi (Krispurwana Cahyadi, 2003a: 59).

2. Melayani dengan Berbagi Kehidupan

(51)

nyawanya dan nyawa orang lain. Karena alasan ekonomi seorang ibu tega membunuh anaknya sendiri, bahkan banyak anak yang di bawah umur melakukan seks bebas, ini semua fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini dan semua ini seolah-olah gaya hidup dan suatu pembenaran oleh orang-orang pada saat ini. Hal yang sangat membuat Ibu Teresa prihatin dalam kehidupan ini adalah kemiskinan rohani yang dialami oleh orang-orang, bagi Ibu Teresa kemiskinan rohani jauh lebih sulit diatasi dari pada kemiskinan jasmani. Kemiskinan jasmani bisa diatasi dengan memberi makanan atau uang tetapi kemiskinan rohani lebih dari itu makanan dan materi tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, hidup-Nya hampa, merasa ditinggalkan, perasaan kesepian, tidak bermakna, ditolak, tidak diperhatikan kemiskinan yang sulit untuk diatasi sehingga Ibu Teresa dalam pelayanan-Nya tidak hanya memberi makanan jasmani tetapi dia juga memberikan makanan rohani. Ibu Teresa ingin mengatakan kepada semua orang bahwa tidak perlu takut untuk menjalani kehidupan ini karena Tuhan datang untuk memberikan kehidupan, ”Aku dating, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Ibu Teresa sangat meyakini hal itu sehingga di dalam menjalani panggilan-Nya dia tidak pernah takut dan khawatir karena Tuhan pasti akan memberi jalan (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 136-137).

(52)

kandungan. Bagi Ibu Teresa Allah juga hadir bersama mereka oleh karena itu meskipun dia belum lahir tidak ada orang yang berhak mengahiri kehidupannya termasuk ibunya sendiri. Oleh karena itu perbuatan aborsi adalah perbuatan yang paling fatal yang tidak boleh dilakukan oleh siapapun termasuk ibu yang mengandungnya. Karena seorang ibu bertugas untuk menjaga dan memelihara kehidupan anak yang dikandungnya dan seorang Ibu harus memahami bahwa anak adalah milik Allah bukan miliknya jadi dengan begitu dia bisa menyadari bahwa dia tidak memiliki hak untuk mengakhiri hidup anak itu. Selain itu aborsi juga merusak suara hati seorang ibu. Karena dengan melakukan pengguguran seorang ibu mengajarkan pembunuhan ini jauh dari kodrat seorang perempuan yang merupakan sosok yang pemberi kehidupan (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 140-141).

G. Teladan Hidup Ibu Teresa

Komitmen pada Kristus adalah inti dari segala karya yang dilakukan Ibu Teresa, secara sederhana Ibu Teresa menunjukkan enam jalan sederhana yang dilaluinya yang dapat kita jadikan teladan dalam melayani kaum miskin yaitu Ibu Teresa teladan keheningan, Ibu Teresa teladan dalam doa, Ibu Teresa teladan dalam iman, Ibu Teresa teladan dalam cinta, Ibu Teresa teladan dalam melayani, Ibu Teresa teladan dalam perdamaian.

1. Ibu Teresa Teladan dalam Keheningan

(53)

yang sepi untuk menciptakan keheningan. Menurut Ibu Teresa di dalam keheningan ia dapat membuka hati yang bersih dan mendengarkan Allah. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 274) mengatakan bahwa:

Kita harus berusaha bertemu dengan Allah. Tetapi Ia tidak bisa di jumpai dalam kebisingan dan hiruk pikuk. Allah itu sahabat keheningan. Lihat bagaimana bunga-bungaan, rumput dan pohon-pohon, semuanya tumbuh dalam keheningan. Allah kita bukan seorang yang mati melainkan yang hidup, yang penuh cinta. Semakin banyak kita terima dalam keheningan doa, maka semakin banyak juga yang dapat kita berikan dalam kehidupan kita yang aktif. Semua kita membutuhkan keheningan supaya dapat menyentuh jiwa-jiwa. Yang penting adalah bukanlah apa yang kita katakan tetapi apa yang disabdakan Allah kepada kita dan melalui kita. Tidak akan ada artinya kata-kata yang kita ucapkan jika tidak menyinarkan cahaya Kristus.

Bagi Ibu Teresa keheningan mengantarkannya untuk lebih dekat dengan Allah dan merasakan damainya hati. Melalui keheningan Ibu Teresa merasakan Allah menyentuh jiwanya dan melalui keheningan dia bisa mendengarkan apa yang disabdakan Allah kepadanya. Baginya yang terpenting bukanlah kata-kata yang kita ucapkan tetapi bagaimana kedekatan kita dengan Allah akan mempengaruhi segala yang kita lakukan dalam pelayanan kita. Dalam perjumpaan kita dengan Allah melalui keheningan kita tidak perlu meminta karena Dia baik dan maha kasih.

2. Ibu Teresa Teladan dalam Doa

(54)

hadapan Allah. Doa merupakan perkara hati di mana dengan berdoa dengan hati memudahkan kita bertemu dengan Allah. Oleh karena itu Ibu Teresa selalu memberikan teladan yang baik supaya kita mencintai doa. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 273) mengatakan “Hendaklah kita mencintai doa,

hendaknya kita sering merasakan kebutuhan untuk berdoa sepanjang hari dan berusaha berdoa. Doa melapangkan hati hingga ia mampu menampung Allah yang menyerahkan diri-Nya” Ibu Teresa merasakan, dengan berdoa dan melalui doa kita dapat bersatu dalam cinta dengan Kristus. Melalui doa juga kita akan lebih bisa terbuka kepada Allah. Berdoa kepada-Nya berarti bersama Dia duapuluh empat jam sehari. Doa juga mampu memberikan kedamaian bagi kita dan doa mampu memberikan kita kekuatan dalam menapaki jalan hidup ini. Begitulah pentingnya doa bagi Ibu Teresa.

3. Ibu Teresa Teladan dalam Iman

Dalam karyanya Ibu Teresa tidak mengajarkan tentang iman, tetapi dari cara berbuat dan melakukan suatu hal, Ibu Teresa sungguh menghayati imannya. Hal itu terlihat dari perbuatannya terhadap orang miskin Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 262) pernah juga mengatakan bahwa “di mana ada Misteri di sana ada Iman”. Bagi Ibu Teresa iman adalah menanggapi kasih Allah, menanggapi kasih Allah bukan berarti langsung mengasihi Allah, tetapi menanggapi kasih Allah berarti berbuat melakukan sesuatu untuk mereka. “iman sejati adalah iman yang terarah kepada manusia, bukan pada teks, iman yang menunjukkan Allah

yang menyapa dan menyelamatkan umat manusia” (Krispurwana Cahyadi, 2010:

(55)

itu mampu menunjukkan dengan perbuatan sesuai dengan iman yang dipercayainya. Begitu banyak orang yang mengaku beriman tetapi sedikit sekali orang yang menyatakan imannya dengan tindakan nyata. Ada begitu banyak agama dan masing-masing orang mempunyai jalan untuk mengikuti Allah dan saya mengikuti Yesus dan beriman kepadanya karena itu Yesus merupakan segala-galanya bagiku. Karena itu dia merasa tidak pernah takut dalam menghadapi segala ujian karena dia percaya bahwa Yesus selalu ada bersama dia dan dia begitu percaya pada Kristus sehingga dia selalu berkata bahwa semuanya yang dia lakukan karena Kristus dan untuk Kristus (Vardey, 1997: 29).

4. Ibu Teresa Teladan dalam Cinta

Cinta membuat Ibu Teresa rela meninggalkan cita-cita masa kecilnya, kebahagiaan masa depan yang menjaminnya demi orang-orang yang ditemuinya di jalan-jalan yaitu mereka yang menderita, miskin, tersingkir dan kurang diperhatikan, mereka yang kesepian, semua itu dilakukan oleh Ibu Teresa karena cintanya kepada Kristus. Bagi Ibu Teresa percuma kita mencintai orang lain jika kita tidak mampu menderita baginya, karena cinta sejati tidak pernah meminta tetapi selalu memberi sampai merasakan sakit. Bukankah Yesus sendiri menderita karena cinta-Nya pada manusia. Bagi Ibu Teresa panggilan mengikut Kristus merupakan pemberian diri. Pemberian diri merupakan tanda cinta. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2003c: 57) mengungkapkan demikian:

(56)

yang kita nyatakan dalam perbuatanlah yang membuat perbuatan-perbuatan kita indah di mata Tuhan.

Tidak ada artinya kita berkata jika kita mencintai Tuhan, jika tidak melakukan apa-apa bagi sesama, karena cinta kepada Tuhan harus dinyatakan dengan perbuatan baik kepada sesama yang membutuhkan karena sesungguhnya lebih indah melakukan satu tindakan nyata yang menunjukkan cinta kita kepada Tuhan dari pada mengucapkan seribu kata cinta tetapi tidak melakukan apa-apa bagi-Nya.

5. Ibu Teresa Teladan dalam Melayani

(57)

takut tidak ada uang karena jika Allah memberikan pekerjaan maka Ia juga akan menyediakan sarana. Tugas orang beriman hanyalah memberikan karya kasih agar dengan karya kasih itu umat manusia semakin beriman dan bisa merasakan kasih Allah dalam hidupnya sehingga dalam penderitaanpun dia mampu merasakan kehadiran Allah melalui karya yang kita lakukan.

6. Ibu Teresa Teladan dalam Perdamaian

Ibu Teresa banyak melakukan karya perdamaian, karya damai yang Ibu lakukan tidak hanya di sekitar kota India tetapi di luar India seperti Amerika, Inggris, Ethopia dan masih banyak yang lainnya. Semua yang Ibu Teresa lakukan untuk menciptakan kedamaian. Bagi Ibu Teresa dia akan merasakan damai jika dia bisa berbuat bagi orang lain. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 283) pernah mengatakan bahwa “Hendaknya kita memancarkan kedamaian

(58)

BAB III

SEMANGAT PELAYANAN KATEKIS BAGI KAUM MISKIN BERDASARKAN TELADAN PELAYANAN IBU TERESA

Kehidupan katekis tidak pernah dapat dipisahkan dari kaum miskin karena katekis hidup bersama dalam masyarakat. Oleh karena itu karya pelayanan katekis juga tidak dapat dipisahkan dari kaum miskin, karena selain mereka berada di satu tempat yang sama, mereka sebagai murid Kristus memiliki kewajiban untuk ikut ambil bagian dalam menjalankan sabda-sabdaNya. Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam menjalankan karya-Nya Yesus sendiri selalu memberikan perhatian kepada mereka yang miskin dan menyembuhkan yang sakit. Orang miskin memiliki tempat yang istimewa di dalam karya pelayanan-Nya, itu terlihat di dalam

sabda-Nya “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya

Kerajaan Allah, berbahagialah hai sekarang ini lapar karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah hai kamu yang sekarang ini menangis karena kamu akan tertawa” (Luk 6:20-21). “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25: 40).

(59)

lain sungguh mengenal dan mengimani Yesus Kristus serta mampu menghadirkan Kerajaan Allah bagi kaum miskin. Mencintai dan melayani mereka yang miskin, menderita, tertindas dan difabel merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah, mereka adalah orang-orang yang dihindari bahkan dianggap “sampah” oleh pemerintah.

Dari dulu sampai sekarang mereka tetap menjadi korban atas ketidakberdayaan mereka melawan pemerintah, mereka seolah-oleh dianggap sebagai masalah yang sulit untuk diselesaikan, oleh karena itu Yesus selalu mengajak orang yang mengikuti Dia untuk memberikan perhatian dan cinta kasih kepada mereka yang miskin. Oleh karena itu katekis sebagai pengikut Yesus sudah sepantasnya memberikan perhatian yang khusus kepada kaum miskin sehingga katekis mampu mewujudkan Kerajaan Allah bagi kaum miskin dan pada akhirnya katekis mampu mewujudkan keadilan kepada orang yang lemah dan anak yatim; membela orang miskin dan tertindas, meluputkan yang tidak berdaya dan berkekurangan; dan membebaskan mereka dari tangan orang jahat (Mzm 82:3-4). Berikut ini akan dibahas tentang siapa itu katekis, spiritualitasnya, kemampuan yang perlu dimiliki, peran katekis dalam tugas perutusannya dan pelayanannya bagi kaum miskin.

A. Pengertian Katekis

Katekis adalah “Orang beriman yang dipanggil secara khusus dan diutus

(60)

baik teritorial maupun kategorial” (Para Peserta Pertemuan Nasional Katekese Se-Tanah Air, 2005: 133).

Marseen (1981: 12) menyatakankan bahwa katekis adalah “orang yang pekerjaannya memperkenalkan Tuhan Allah”. Ini berarti bahwa katekis memiliki

tanggung jawab yang besar karena ia berbicara tentang Tuhan Allah. Tentunya katekis harus memahami dan memiliki kedekatan dengan Allah sehingga dalam pelayanannya ia mampu memperkenalkan Allah kepada semua orang tanpa pandang bulu. Selain itu Marssen menambahkan bahwa katekis adalah ”seorang yang mendapat panggilan dari Allah yang terus menerus mencintai dan memelihara Gerejanya, yang menolong umat, yang jalannya sulit serta membawa umat kepada Tuhan Allah”. Seorang katekis harus mencintai Gerejanya dan memberikan

pelayanan secara utuh demi kemuliaan Allah.

Menurut Indra Sanjaya (2011: 11) katekis adalah “mereka yang sebenarnya berhadapan langsung dengan jemaat beriman dengan segala macam problemanya”. Dimana katekis adalah orang yang paling mengerti dan mengenal

umat, dengan berbagai macam karakter orang, lengkap dengan berbagai macam masalah yang mereka hadapi, katekis sebagai orang yang paling tahu keadaan umat dibandingkan dengan yang lainnya.

Menurut Suhardo (1972: 10) katekis adalah “orang beriman yang secara khusus mendapat tugas untuk memberikan kesaksiannya atas imannya sendiri dalam masyarakat. Atau dapat dikatakan secara khusus membawa masyarakat kearah apa yang diimaninya, yaitu Kristus yang telah menderita sengasara, wafat dan bangkit”

(61)

untuk mewartakan Kabar Gembira bagi semua orang teristimewa bagi mereka yang miskin dan menderita.

B. Spiritualitas Katekis

Seorang katekis adalah pewarta Kabar Gembira Allah bagi semua orang, teristimewa bagi kaum miskin, oleh karena itu seorang katekis harus mempunyai aneka semangat hidup yang mewarnai isi pewartaannya. Di mana adanya keadaan yang senantiasa mendorong, menyemangati, dan memotivasi katekis. Ada empat macam ciri spiritualitas katekis (Komkat KWI, 1997: 23-30) yaitu keterbukaan terhadap Sabda, keutuhan dan keaslian hidup, semangat misioner dan devosi kepada Bunda Maria.

1. Keterbukaan terhadap Sabda

(62)

mampu mewujudkan apa yang diharapkan oleh Bapa yaitu membawa semua orang pada kebenaran dan keselamatan. Katekis harus percaya pada penyertaan Bapa dalam hidupnya sehingga dia bersedia untuk dituntun oleh Roh Kudus dan mampu menjadi pewarta sabda yang cemerlang.

Apa yang menjadi tugas Gereja secara tidak langsung itu menjadi tugas katekis, karena katekis adalah bagian yang tak terpisahkan dari Gereja dan katekis memiliki peran penting dalam tugas pelayanan Gereja. Katekis sebagai anggota Gereja memperoleh amanat untuk mewartakan Kabar Gembira Allah bagi semua orang. Jadi pelayanan katekis merupakan pelayanan gerejawi oleh karena itu kehadiran katekis harus menjadi tanda yang kelihatan dalam masyarakat. Para katekis harus ikut serta bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya. Hendaklah katekis memperhatikan pewartaan misteri Kristus kepada umat beriman, kepada mereka yang tidak percaya dan bukan Kristiani (KomKat KWI, 1997: 23).

(63)

2. Keutuhan dan Keaslian Hidup

Sebagai seseorang yang mewartakan Kabar Gembira Allah bagi semua orang katekis harus memiliki keutuhan dan keaslian hidup yang benar-benar mengutamakan Allah dalam hidupnya. Setiap gerak langkahnya terlihat bahwa Allah yang berkarya dalam hidupnya serta karya Allah itu benar-benar dia resapi sehingga semua orang dapat melihatnya dari perilaku dan perbuatan katekis di tengah-tengah masyarakat. Sebelum katekis mewartakan Sabda Alah terlebih dahulu dia harus menanamkan Sabda itu dalam hidupnya sehingga pada saat dia mewartakanya pada orang lain sabda itu bukan hanya sebagai bagian dari hidupnya tetapi sungguh-sungguh menjadi miliknya. Sebagai seorang pewarta, katekis perlu berkembang secara rohani dan memiliki sikap berani. Sehingga mampu membawa orang-orang menjadi semakin beriman dan percaya akan penyertaan Allah dalam hidup mereka (KomKat KWI, 1997: 26).

(64)

dia ajarkan atau katakan dapat dia lakukan melalui tindakannya, sehingga semangat hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi umat dan masyarakat. Menjadi saksi Kristus bukanlah tugas yang mudah karena katekis harus menyampaikan atau menunjukkan apa yang dialami dan diketahui tentang Kristus kepada orang lain. Gereja juga mewartakan Injil kepada dunia dengan kesaksian hidup yang setia pada Tuhan Yesus. Menjadi saksi Kristus dapat menuai banyak resiko. Dengan demikian dalam situasi apapun katekis harus tetap berpegang pada Kristus sehingga pada akhirnya nanti ketika katekis mendapat banyak ujian yang sulit untuk mereka pahami mereka tetap yakin bahwa berpegang pada Kristus adalah cara terbaik untuk mengatasi semua masalah (KomKat KWI, 1997: 27).

3. Semangat Misioner

(65)

baik kristiani maupun yang bukan kristiani, katekis harus menjadi hamba yang sanggup melayani dunia demi terwujudnya Kerajaan Allah. Katekis sebagai seorang awam lebih memiliki kebebasan mewartakan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat dibandingkan dengan para imam karena katekis hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian harapan akan terwujudnya Kerajaan Allah akan semakin nyata, karena Kerajaan Allah itu adalah Kerajaan cinta kasih, keadilan dan keselamatan. Dimana di situ hanya ada kedamaian dan keteduhan hati, inilah yang harus dihadirkan oleh katekis dalam melaksanakan tugas misionernya (Komkat KWI, 1997: 27-29).

4. Devosi kepada Bunda Maria

(66)

C. Kemampuan yang Perlu dimiliki Katekis

Kemampuan merupakan suatu hal yang tidak bisa dikesampingkan oleh katekis oleh karena itu dibutuhkan persiapan yang khusus untuk menjadikan katekis yang memiliki kemampuan. Persiapan menjadi seorang katekis tidaklah mudah, mengingat tugas yang dipercayakan kepada mereka sangat sukar. Oleh sebab itu, para katekis perlu dipersiapkan sedemikian rupa melalui pembinaan dan pendidikan yang tepat, sehingga menjadi pejuang-pejuang misi yang tangguh dan memiliki kemampuan dalam menjalankan tugas dalam segala karyanya. Karena itu katekis harus memiliki kemampuan dalam mendukung karyanya antara lain: Kemampuan berkomunikasi dan berdialog, mampu menjadi teladan, kemampuan berefleksi, mampu menjadi pemimpin.

1. Kemampuan Berkomunikasi dan Berdialog

(67)

mengusahakan adanya dialog di dalam masyarakat sehingga apa yang ingin kita capai dapat terwujud dengan baik, dialog akan menghasilkan satu kesepakatan yang tidak merugikan orang lain, karena pada akhirnya dialog yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula, oleh karena itu katekis harus memiliki kemampuan berkomunikasi dan berdialog yang baik sehingga ketika ada masalah yang terjadi di dalam masyarakat katekis mampu mengajak semua orang untuk berdialog (Para Peserta Pertemuan Nasional Katekese Se-Tanah Air, 2005: 135).

2. Mampu Menjadi Teladan

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (135 pages)
Related subjects : Cinta kepada Allah