PENGARUH PENERAPAN SIMULASI PHET TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X1 SMA NEGERI 2 NGAGLIK PADA POKOK BAHASAN HUKUM ARCHIMEDES BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan P

206 

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN SIMULASI PHET TERHADAP

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X1 SMA NEGERI 2 NGAGLIK PADA POKOK BAHASAN HUKUM ARCHIMEDES

BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

OLEH:

STEFANIA TESALONIKA DHIU 141424007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN MOTTO

Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

(1 Tesalonika 1: 3)

Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dipukul ombak.

Ia tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menentramkan amarah ombak dan

gelombang itu

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini saya persembahkan kepada:

1. Universitas Sanata Dharma

2. Keluarga: kedua orang tua saya yakni Bapak Benyamin Sina dan Ibu

Regina Wake Moi, ketiga adik saya yakni Yulius Jefrianto Kiko Sina,

Paskalis Alisandro Lengu Sina, dan Yoseph Freynademetz Rendy Bei Sina.

(6)
(7)
(8)

viii

ABSTRAK

Dhiu, Stefania Tesalonika. 2019. Pengaruh Penerapan Simulasi PhET Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Ngaglik Pada Pokok Bahasan Hukum Archimedes Berdasarkan Taksonomi Bloom. Skripsi. Yogyakarta : Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) hasil belajar awal siswa kelas XI SMA Negeri 2 Ngaglik tentang Hukum Archimedes sebelum penerapan simulasi PhET, (2) hasil belajar akhir siswa kelas XI SMA Negeri 2 Ngaglik tentang Hukum Archimedes sesudah penerapan simulasi PhET dan (3) peningkatan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Ngaglik pada materi Hukum Archimedes setelah menggunakan simulasi PhET.

Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 27 siswa kelas X1 MIPA 4 dan 24 siswa kelas X1 MIPA 3. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 12 September – 30 Oktober 2018 di SMA Negeri 2 Ngaglik. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan Pretest dan Posttest Countrol Group Design. Data pretest dan posttest dianalisis menggunakan uji t untuk kelompok independen dan kelompok dependen. Analisis menggunakan bantuan program SPSS.

Hasil penelian menunjukkan bahwa: 1) Tingkat hasil belajar awal siswa pada aspek kognitif dan psikomotorik masuk dalam kategori sangat rendah, dan pada aspek afektif menunjukan bahwa siswa setuju dengan adanya penerapan simulasi PhET. 2) Tingkat hasil belajar akhir siswa pada aspek kognitif dan psikomotorik masuk dalam kategori sangat tinggi, dan untuk aspek afektif menunjukkan bahwa siswa setuju dengan penerapan simulasi PhET. 3) Pembelajaran menggunakan simulasi PhET dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Hukum Archimedes pada aspek kognitif, psikomotorik dan aspek afektif.

(9)

ix

ABSTRACT

Dhiu, Stefania Tesalonika 2019. The Influence of PhET Simulation on Improving Student Result Learning in Class X1 SMA Negeri 2 Ngaglik on The Subject of The Law of Archimedes Based on Bloom’s Taxonomy. Thesis. Yogyakarta: Physics Education, Department of Mathematics and Natural Sciences Education, Faculty of Teachers Training and Education, Sanata Dharma University.

The purpose of this study is to know (1) the early result learning of students on class XI SMA Negeri 2 Ngaglik about the law of Archimedes before using PhET simulation; 2) the final result learning of students on class XI SMA Negeri 2 Ngaglik about the law of Archimedes after using PhET simulation; and 3) The improvement of student result learning in Class XI SMA Negeri 2 Ngaglik on the material the law of Archimedes after using PhET simulation.

The research used is 27 Students from Class X1 MIPA 4 and 24 students from Class X1 MIPA 3 to be samples. This research was conducted on 12 September to 30 Oktober 2018 in SMA Negeri 2 Ngaglik. Research design is quantitative by using Pretest and Posttest Countrol Group Design. Pretest and Posttest data were analyzed using T-test for independent groups and dependent groups. This analysis uses assistance of SPSS program.

The results showed that: 1) Level of student learning outcomes on cognitive and psychomotor aspects is very low, while affective aspects showed that all students agree to using PhET simulation. 2) The level of final learning outcomes on cognitive and phychomotor aspects is very high, while affective aspects showed that all students agree to using PhET simulation. 3) Learning by using PhET simulation can improve students learning outcomes on the material of the Archimedes Law refraction on the cognitivwe, phychomotor and affective aspects.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat kasih

dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

PENGARUH PENERAPAN SIMULASI PHET TERHADAP

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2

NGAGLIK PADA POKOK BAHASAN HUKUM ARCHIMEDES

BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM”.

Skripsi ini disusun untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan sesuai

kurikulum Program Studi Pendidikan Fisika. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat

bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak kepada penulis, maka penulis

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga proposal

skripsi ini dapat terselesaikan.

2. Bapak Dr.Ign. Edi Santosa, M.S., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Drs.Aufridus Atmadi M.Si. Selaku Dosen Pembimbing Akademik

Pendidikan Fisika 2014 yang selalu memberikan semangat dan dukungan

serta memperlancar proses belajar di Universitas Sanata Dharma.

4. Prof. Dr. Paulus Suparno, SJ., M.S.T., selaku Dosen Pembimbing yang

telah bersedia membimbing, memotivasi dan memberikan kritik serta saran

(11)

xi

5. Drs. Domi Severinus, M.Si selaku validator untuk soal tes, yang telah

bersedia memberikan waktu, saran dan masukan yang baik bagi penelitian..

6. Seluruh karyawan JPMIPA yang telah membantu peneliti dalam

menyiapkan surat ijin penelitian.

7. Drs. Agus Santosa selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Ngaglik yang

telah memberikan izin untuk penulis melakukan penelitian di sekolah

tersebut.

8. Bapak Panca Widada S.Pd selaku Guru Mata Pelajaran Fisika SMA Negeri

2 Ngaglik yang telah membimbing dan memberikan saran untuk penelitian

ini.

9. Siswa – siswi kelas X I MIPA 3 dan MIPA 4 yang telah berkenan menjadi

sampel dalam penelitian.

10. Kedua orangtua saya, Benyamin Sina dan Regina Wake yang selalu

mendukung, memberikan semangat dan doa selama perkuliahan sampai

pada penyusunan skripsi ini.

11. Adik-adik saya Yulius Jefrianto K. Sina, Paskalis Alisandro L.Sina,

Yoseph Freinademetz R. B. Sina dan keluarga besar saya yang telah

memberikan dukungan, doa dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Sabinus Sengi S.M yang telah memberikan motivasi untuk berjuang

bersama, doa, semangat dan dukungan serta selalu ada dalam membantu

(12)
(13)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN……….iii

HALAMAN MOTO………... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ………..v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB 1 PENDAHULUAN………...1

(14)

xiv

B. Ranah Kognitif ... 9

C. Ranah Afektif ... 15

D. Ranah Psikomotorik ... 16

E. Hasil Belajar ... 17

F. Pemahaman Konsep Fisika ... 21

G. Simulasi Komputer ... 22

H. Simulasi PhET ... 23

I. Materi Hukum Archimedes ... 26

BAB III METODE PENELITIAN... 35

A. Jenis Penelitian ... 35

B. Desain Penelitian ... 35

C. Subyek Penelitian ... 36

D. Variabel Penelitian ... 38

E. Treatment ... 38

F. Instrumen Penelitian ... 41

G. Validitas Instrumen ... 48

H. Metode Analisis Data ... 49

BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA ... 56

A. Deskripsi Penelitian ... 56

B. Data ... 68

C. Analisis Data ... 74

D. Pembahasan ... 93

E. Keterbatasan Penelitian ... 100

BAB V PENUTUP ... 103

A. Kesimpulan ... 103

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Rangkuman Dimensi Proses Kognitif ... 10

Tabel 3.1. Kisi-kisi soal pretest dan posttest ... 43

Tabel 3.2 Teknik Penskoran untuk Aspek Kognitif dan aspek Psikomotorik 49 Tabel 3.3. Klasifikasi tingkat hasil belajar siswa pada aspek kognitif ... 51

Tabel 3.4 Klasifikasi tingkat hasil belajar siswa pada aspek psikomotorik... 51

Tabel 4.1 Kegiatan Pelaksanaan Penelitian ... 57

Tabel 4.2 Data Nilai Pretest dan Posttest Kelas Treatment dan Kelas Kontrol pada Aspek Kognitif ... 68

Tabel 4.3 Data Nilai Pretest dan Posttest Kelas Treatment dan Kelas Kontrol pada Aspek Psikomotorik ... 70

Tabel 4.4 Hasil Angket Kelas Treatment... 72

Tabel 4.5 Hasil Angket Kelas Kontrol... 72

Tabel 4.6 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek Kognitif ... 74

Tabel 4.7 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek Psikomotorik………. ... 75

Tabel 4.8 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek Kognitif ... 75

Tabel 4.9 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek Psikomotorik ... 76

Tabel 4.10 Perbandingan Pretest Kelas Treatment dan Kelas Kontrol... 76

Tabel 4.11 Perbandingan Pretest dan Posttest Kelas Treatment ... 78

Tabel 4.12 Perbandingan Pretest dan Posttest untuk Kelas Kontrol ... 79

Tabel 4.13 Perbandingan Posttest Kelas Treatment dan Kelas Kontrol ... 80

(16)

xvi

Tabel 4.15 Perbandingan pretest kelas treatment dan Kelas Kontrol ... 82

Tabel 4.16 Perbandingan Pretest dan Posttest kelas Treatment ... 83

Tabel 4.17 Perbandingan Pretest dan Posttest Kelas Kontrol ... 84

Tabel 4.18 Perbandingan Posttets Kelas Treatment dan Kelas Kontrol ... 86

Tabel 4.19 Hasil Tanggapan Siswa pada Aspek Afektif Kelas Treatment .... 87

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tampilan awal simulasi PhET... 24

Gambar 2.2 Tampilan awal simulasi PhET Hukum Archimedes ... 25

Gambar 2.3 Menghitung gaya apung……….27

Gambar 2.4 Mengapung……….30

Gambar 2.5 Melayang………30

Gambar 2.6 Tenggelam………..31

Gambar 4.1 Pembelajaran menggunakan simulasi PhET I………...63

Gambar 4.2 Pembelajaran menggunakan simulasi PhET II………..64

Gambar 4.3 Siswa-siswi mengerjakan posttest………..65

Gambar 4.4 Peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran setelah pretest………….66

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat permohonan izin Penelitan ... …109

Lampiran 2 Surat perizinan pelaksanaan penelitian... 110

Lampiran 3 Surat Keterangan telah melaksanakan Penelitian ... 111

Lampiran 4 Absensi kelas treatment ... 112

Lampiran 5 Absensi kelas Kontrol ... 113

Lampiran 6 RPP kelas treatment ... 114

Lampiran 7 RPP kelas Kontrol ... 127

Lampiran 8 Validasi soal pretest dan soal posttest ... 139

Lampiran 9 Hasil validasi soal pretest dan soal posttest ... 144

Lampiran 10 Contoh hasil lembar kerja ... 151

Lampiran 11 Contoh hasil pretest kelas treatment ... 170

Lampiran 12 Contoh hasil posttest kelas treatment ... 174

Lampiran 13 Contoh hasil pretest kelas kontrol ... 178

Lampiram 14 Contoh hasil posttest kelas kontrol ... 182

Lampiran 13 Contoh transkrip wawancara kelas treatment ... 186

Lampiran 14 Contoh transkrip wawancara kelas kontrol ... 189

(19)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan

peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam

lingkungan tertentu (Sukmadinata, 2009). Menurut Sukmadinata, perbuatan

mendidik diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu yaitu tujuan

pendidikan dimana tujuan ini bisa menyangkut kepentingan peserta didik

sendiri atau kepentingan bersama.

Dalam pendidikan dibutuhan proses pembelajaran yang sesuai dan

diharapkan proses pembelajaran tersebut dapat memudahkan setiap orang

dalam belajar. Muhibbin (dalam Khairani, 2014) berpendapat bahwa belajar

merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku yang relatif menetap

sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan

proses kognitif. Sedangkan menurut Morgan dalam Introduction to Psychology

(Khairani, 2014) belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam tingkah

laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan.

Berkaitan dengan hal ini, peran guru sangatlah penting dalam membantu

proses belajar siswa. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta

didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu

objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan

(20)

2

didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan

satu pihak, yaitu pekerjaan pengaj ar saja sedangkan pembelajaran menyiratkan

adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik (Khairani, 2014: 6).

Metode yang baik dan menarik sangatlah penting diterapkan oleh seorang guru

dalam meningkatkan pemahaman siswa.

Pemahaman merupakan hasil akhir yang akan dicapai dalam setiap proses

pembelajaran sebagai bentuk perwujudan atas apa yang sudah dipelajari oleh

siswa. Akan tetapi, pada kenyataanya metode pembelajaran yang sering

digunakan oleh para guru belum menunjang aktivitas siswa dalam proses

memahami materi Fisika. Hal ini disebabkan karena metode pembelajaran yang

digunakan masih bersifat informatif sehingga siswa lebih cenderung bersifat

pasif dalam mengikuti proses belajar mengajar. Untuk itu seorang guru

diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan

memberikan pengajajaran semenarik mungkin untuk membantu siswa

mencapai tujuan-tujuannya dalam belajar sehingga memperoleh hasil belajar

yang juga baik. Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang dicapai oleh

siswa dalam mengikuti program belajar mengajar, sesuai dengan tujuan yang

ditetapkan. Menurut Nasution (2005: 56) hasil yang dicapai dalam bidang

kognitif ialah bahwa jumlah murid yang mendapat angka tertinggi atas dasar

penungasannya yang tuntas mengenai bahan pelajarn tertentu.

Fisika merupakan mata pelajaran yang mempelajari gejala dan fenomena

alam beserta interaksi yang terjadi di dalamnya. Dalam belajar Fisika,

(21)

dalam memahami materi Fisika yang dianggap sebagai mata pelajaran yang

susah bagi sebagian siswa. Oleh karena itu untuk mengembangkan pemahaman

tentang konsep fisika, siswa memerlukan seorang guru yang berperan untuk

membantu siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri secara aktif.

Pemanfaatan ilmu teknologi dan informasi di jaman yang sudah

berkembang ini, dapat dijadikan sebagai media pembelajaran oleh guru dalam

membantu siswa dalam memahami konsep-konsep Fisika. Salah satunya adalah

dengan menggunakan simulasi komputer. Simulasi komputer merupakan salah

satu model pembelajaran dengan menggunakan program komputer dimana

didalamnya terdapat beberapa eksperimen mengenai konsep fisika yang dapat

dicoba secara tidak langsung oleh siswa dimanapun dan kapanpun. Salah satu

simulasi komputer yang digunakan adalah PhET (Physic Educational

Technology). PhET (Physic Educational Technology) merupakan sebuah

aplikasi berupa simulasi komputer untuk Fisika yang terhubung dengan jaringan

internet yang juga menyediakan simulasi pembelajaran mengenai beberapa

konsep Fisika. Siswa dapat mempelajari materi Fisika dengan menggunakan

aplikasi ini untuk meningkatkan pemahaman mereka. Dalam simulasi PhET

terdapat berbagai alat ukur yang bisa menjamin siswa belajar konsep Fisika

dengan baik tanpa harus ke laboratorium untuk melakukan eksperimen.

Berdasarkan pengalaman peneliti selama menempuh pendidikan sejak SMP

hingga SMA, guru Fisika yang mengajar di kelas belum pernah menerapkan

metode pembelajaran dengan menggunakan simulasi PhET. Selain itu selama

(22)

4

metode ceramah dan demonstrasi dalam pelajaran sehingga terlihat siswa

lambat memahami materi yang disampaikan. Tempat PPL yang digunakan oleh

peneliti di semester sebelumnya dijadikan tempat penelitian yaitu SMA Negeri

2 Ngaglik. Peneliti menerapkan simulasi PhET dalam pembelajaran Fisika

terutama pada pokok bahasan Hukum Archimedes. Permasalahan yang diteliti

yaitu bagaimana pengaruh penerapan simulasi PhET yang digunakan siswa

dalam proses pembelajaran terhadap hasil belajar pada suatu materi Fisika.

Penelitian serupa telah dilakukan oleh Veranda Nova yang merupakan

mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma angkatan 2013.

Penelitian ini berjudul “Pengembangan Pemahaman Siswa Tentang Prinsip

Archimedes (Peristiwa Mengapung, Tenggelam, dan Melayang) melalui

Pembelajaran Menggunakan Simulasi PhET: Sebuah Studi Kasus. Responden

pada penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok pertama berjumlah

empat orang dari kelas XI IPA1 dan kelompok kedua terdiri dari dua orang

yaitu dari kelas XI IPA 3, keduanya dari SMA Negeri 10 Yogyakarta.

Perkembangan pemahaman siswa dianalisis berdasarkan kategori kognitif

taksonomi Bloom. Salah satu hasil dari penelitian ialah pembelajaran dengan

menggunakan simulasi PhET dan belajar kelompok dapat membantu

responden dalam mengembangkan pemahamannya jika peneliti merancang

proses belajar dengan baik dan membimbing responden dalam melaksanakan

proses belajar. Sedangkan pada penelitian ini, siswa melakukan pembelajaran

bersama peneliti dengan menggunakan simulasi PhET, dan penerapan

(23)

dianalisis berdasarkan kategori kognitif, psikomotorik dan afektif taksonomi

Bloom.

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, penelitian ini mengambil

judul “PENGARUH PENERAPAN SIMULASI PHET TERHADAP

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2

NGAGLIK PADA POKOK BAHASAN HUKUM ARCHIMEDES

BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai

berikut:

1. Bagaimana hasil belajar awal siswa kelas XI SMA Negeri 02 Ngaglik

tentang Hukum Archimedes sebelum penerapan simulasi PhET berdasarkan

taksonomi Bloom?

2. Bagaimana hasil belajar akhir siswa kelas XI SMA Negeri 02 Ngaglik

tentang Hukum Archimedes sesudah penerapan simulasi PhET berdasarkan

taksonomi Bloom?

3. Apakah penerapan simulasi PhET dapat meningkatkan hasil belajar siswa

(24)

6

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui:

1. Hasil belajar awal siswa kelas XI SMA Negeri 02 Ngaglik tentang Hukum

Archimedes sebelum penerapan simulasi PhET berdasarkan taksonomi

Bloom.

2. Hasil belajar akhir siswa kelas XI SMA Negeri 02 Ngaglik tentang Hukum

Archimedes sesudah penerapan simulasi PhET berdasarkan taksonomi

Bloom.

3. Peningkatan hasil belajar siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Ngaglik pada

materi hukum Archimedes setelah menggunakan simulasi PhET.

D. Manfaat

1. Bagi Guru

Guru-guru Fisika di sekolah dapat mengetahui adanya metode pembelajaran

baru dalam mengajar siswa yaitu dengan menggunakan simulasi PhET.

2. Bagi Penelitian

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi mereka yang akan

(25)

3. Bagi Siswa

Penelitian ini bermanfaat karena siswa dapat mempelajari materi Fisika

dengan cara yang baru dan bisa membuat mereka mengenal teknologi yang

(26)

8 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Filsafat Konstruktivisme

Dalam praktek pendidikan sains dan matematika konstruktivisme sangat berpengaruh. Banyak cara belajar mengajar di sekolah didasarkan

pada teori konstruktivisme, seperti cara belajar yang menekankan peranan

murid dalam membentuk pengetahuannya sedangkan guru lebih berperan

sebagai fasilitator yang membantu keaktifan murid tersebut dalam

pembentukan pengetahuannya (Suparno, 1997: 12). Filsafat pengetahuan

adalah bagian dari filsafat yang mempertanyakan pengetahuan dan juga

bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu. Sedangkan konstruktivisme

adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa

pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld

dalam Suparno, 1997:18). Pengetahuan bukanlah suatu yang lepas dari

subyek, tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari

pengalaman ataupin dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini

berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena

adanya suatu pemahaman yang baru (Piaget, 1971 dalam Suparno, 2007:

8).

Filsafat Konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat

pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu terjadi. Menurut Filsafat

(27)

pikiran yang menekuninnya (Battencourt dalam Suparno, 2007: 8). Orang

yang belajar itu tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan

atau yang ia baca, melainkan menciptakan pengertian (Bettencourt dalam

Suparno, 1997: 11). Oleh karena itu siswa diharapkan mampu memahami

apa yang dipelajari sehingga siswa tidak salah pengertian.

B. Ranah Kognitif

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk

tujuan pendidikan. Taksonomi pertama kali dikembangkan oleh Benjamin

S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini tujuan pendidikan dibagi menjadi

beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi

kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya

(Surya, 2013: 120).

Kategori-kategori pada dimensi proses kognitif merupakan

pengklasifikasian proses-proses kognitif siswa secara komprehensif yang

terdapat dalam tujuan-tujuan di bidang pendidikan (Anderson dan

Krathwohl, 2001: 43). Menurut hasil revisi taksonomi Bloom yang

dipublikasikan oleh Lorin Anderson dan David Krathwohl pada tahun 2001,

dimensi kognitif dikelompokkan menjadi enam yaitu mengingat,

memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta

(28)

10

Tabel 2.1 Rangkuman Dimensi Proses Kognitif Kategori dan Proses

Kognitif

Nama-nama lain Definisi dan Contoh

1. MENGINGAT- Mengambil pengetahuan dari memori jangka panjang

1.1 Mengingat Mengidentifikasi Menempatkan pengetahuan dalam

memori jangka panjang yang

sesuai dengan pengetahuan

tersebut. Misalnya, mengenali

tanggal terjadinya

peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah

Indonesia

1.2 Mengingat

kembali

Mengambil Mengambil pengetahuan yang

relevan dari memori jangka

panjang. Misalnya, mengingat

kembali tanggal

peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah

Indonesia.

2. MEMAHAMI-Mengkonstruksi makna dari materi pembelajaran,

termasuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambar oleh guru.

2.1 Menafsirkan Mengklarifikasi,

Memparafrasakan

,Merepresentasi,

Menerjemahkan

Mengubah satu bentuk

gambaran. Misalnya, angka jadi

bentuk lain (Misalnya kata-kata)

(Misalnya memparafrasakan

(29)

2.2 Mencontohkan Mengilustrasikan,

Memberi contoh

Menemukan contoh atau ilustrasi

tentang konsep atau prinsip.

Misalnya, memberi contoh

tentang aliran-aliran seni lukis.

2.3 Mengklarifikasi

-kan

Mengategorikan,

Mengelompokkan

Menentukan sesuatu dalam satu

kategori. Misalnya,

mengklarifikasikan

kelainan-kelainan mental yang telah

diteliti atau dijelaskan.

2.4 Merangkum Mengabstraksi,

Menggeneralisasi

Mengabstrasikan tema umum

atau poin-poin pokok. Misalnya,

menulis ringkasan pendek

tentang peristiwa-peristiwa yang

ditayangkan di televisi.

2.5 Menyimpulkan Menyarikan,

Mengekstrapolasi

, Menginterpolasi,

Memprediksi

Membuat kesimpulan yang logis

dari informasi yang diterima.

Misalnya, dalam belajar bahasa

asing, menyimpulkan tata bahasa

berdasarkan contoh-contohnya.

2.6 Membandingkan Mengontraskan,

(30)

12

2.7 Menjelaskan

Membuat model Membuat model sebab-akibat

dalam sebuah system. Misalnya,

menjelaskan sebab-sebab

terjadinya peristiwa-peristiwa

penting pada abad ke-18 di

Indonesia.

3. MENGAPLIKASIKAN- Menerapkan atau menggunakan suatu

prosedur dalam keadaan tertentu.

3.1 Mengeksekusi Melaksanakan Menerapkan suatu prosedur pada

tugas yang familier. Misalnya,

membagi suatu bilangan dan

bilangan lain, kedua bilangan ini

terdiri dari beberapa digit.

3.2

Mengimple-mentasikan

Menggunakan Menerapkan suatu prosedur pada

tugas yang tidak familier.

Misalnya, menggunakan hukum

Newton kedua dengan konteks

yang tepat.

4. MENGANALISIS- Memecah-mecah materi jadi bagian-bagian

penyusunnya dan menentukan hubungan-hubungan antarbagian itu

dan hubungan antara bagian-bagian tersebut dan keseluruhan struktur

(31)

4.1 Membedakan Menyendirikan,

Memilah

Memfokuskan,

Memilih

Membedakan bagian materi

pelajaran yang relevan dan yang

tidak relevan, bagian yang

penting dari yang tidak penting.

Membedakan bilangan yang

relevan dan yang tidak relevan

dalam soal cerita matematika.

4.2 Mengorganisasi Menemukan

koherensi,

elemen bekerja atau berfungsi

dalam sebuah struktur. Misalnya,

menyusun bukti-bukti dalam

cerita sejarah jadi bukti-bukti

yang mendukung dan menentang

suatu penjelasan historis.

4.3 Mengatribusikan Mendekonstruksi Menentukan sudut pandang, bias, nilai, atau maksud dibalik

materi pelajaran. Misalnya,

menunjukkan sudut pandang

penulis suatu esai suatu

(32)

14

5. MENGEVALUASI- Mengambil keputusan berdasarkan kriteria

dari/atau standar

5.1 Memeriksa Mengkoordinasi,

Mendeteksi,

memonitor,

Menguji

Menemukan inkonsistensi atau

kesalahan dalam suatu proses atau

produk; menentukan apakah suatu

produk atau proses memliki

konsistensi internal; menemukan

efektivitas suatu prosedur yang

sedang dipraktikkan. Misalnya,

memeriksa apakah

kesimpulan-kesimpulan seorang ilmuwan

sesuai dengan data data amatan

atau tidak.

5.2 Mengkritik Menilai Menentukan inkonsistensi antara

suatu produk dan kriteria

eksternal; menentukan apakah

suatu produk memiliki konsistensi

eksternal; menemukan ketepatan

suatu prosedur untuk

menyelesaikan suatu masalah.

Misalnya, menentukan suatu

metode terbaik dari dua metode

untuk menyelesaikan suatu

masalah.

6. MENCIPTA- Memadukan bagian-bagian untuk membentuk sesuatu

yang baru dan koheren atau untuk membuat suatu produk yang

(33)

6.1 Merumuskan Membuat

hipotesis

Membuat hipotesis-hipotesis

berdasarkan kriteria. Misalnya,

membuat hipotesis tentang

sebab-sebab terjadinya suatu

fenomenon.

6.2 Merencanakan Mendesain Merencanakan prosedur untuk

menyelesaikan suatu tugas.

Misalnya, merencanakan proposal

penelitian tentang topik sejarah

tertentu.

6.3 Memproduksi Mengkonstruksi Menciptakan suatu produk.

Misalnya, membuat habitat untuk

spesies tertentu demi suatu tujuan.

C. Ranah Afektif

Pembagian ranah afektif disusun Bloom bersama dengan David

Krathwol yang terdiri atas (Surya, 2013: 122):

a) Penerimaan (Receiving /Attending)

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya.

Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian,

(34)

16

b) Tanggapan (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya.

Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan

tanggapan.

c) Penghargaan (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek,

fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari

serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

d) Pengorganisasian (Organization)

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di

antaranya dan membentuk suatu sistem nilai.

D. Ranah Psikomotorik

Rincian dalam ranah psikomotorik ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi

oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom yang terdiri atas

beberapa unsur (Surya, 2013: 123):

a) Persepsi (Perception)

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu

gerakan.

b) Kesiapan (Set )

(35)

c) Respon Terpimpin (Guided Response)

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk

didalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

d) Mekanisme (Mechanism)

Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil

dengan menyakinkan dan cakap.

e) Respons Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response )

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola

gerakan yang kompleks.

f) Penyesuaian (Adaptation )

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan

dalam berbagai situasi.

g) Penciptaan (Origination)

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau

permasalahan tertentu.

E. Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap

orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau memperoleh

sesuatu. Belajar dapat didefinisikan secara sederhana sebagai “suatu

(36)

18

seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu

pengetahuan keterampilan, dan sebagainya (Khairani, 2014: 3-4). Para

pakar di bidang ilmu tentang belajar juga mengemukakan berbagai

variasi batasan tentang belajar, tentunya didasarkan pemahaman dan

aliran ilmu yang mereka anut. Berikut dijelaskan beberapa pendapat

para ahli tersebut (Khairani, 2014: 4).

Menurut Muhibbin (2006 dalam Khairani 2014: 4) belajar

merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku yang relative

menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan

yang melibatkan proses kognitif. Menurut Winkel (Khairani, 2014: 4)

belajar adalah proses mental yang mengarah pada penguasaan

pengetahuan, kecakapan skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya

diperoleh, disimpan dan dilakukan sehingga menimbulkan tingkah laku

yang progresif dan adaptif. Irwanto (1997 dalam Khairani, 2014: 4)

berpendapat bahwa belajar merupakan proses perubahan sebagaimana

dikatakan oleh Witherington, bahwa,”Belajar adalah perubahan dalam

diri individu yang dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan, kebiasaan,

pengertian, dan apresiasi”. Sedangkan menurut Mudzakir (1997 dalam

Khairani, 2014: 4) belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang

bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seeorang, mencakup

perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan,

(37)

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh beberapa pakar

tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses menuju

perubahan yang bersifat mantap/permanen melalui proses latihan dalam

interaksi dengan lingkungan dan meliputi perubahan baik fisik mauapun

mental (Khairani, 2014: 5).

2. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta

didik setelah mengalami kegiatan belajar (Khairani, 2014: 12). Hasil

belajar merupakan tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam

mengikuti program belajar mengajar, sesuai dengan tujuan yang

ditetapkan. Menurut Nasution (2005: 56) hasil yang dicapai dalam

bidang kognitif ialah bahwa jumlah murid yang mendapat angka

tertinggi atas dasar penungasannya yang tuntas mengenai bahan

pelajaran tertentu.

Guru tentu saja sudah menetapkan tujuan pembelajaran yang harus

dicapai setiap siswanya dalam proses pembelajaran. Tujuan

pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi,

dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan

(38)

20

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Usaha dan keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor.

Faktor-faktor tersebut dapat bersumber pada dirinya atau di luar dirinya

atau lingkungannya (Sukmadinata, 2009: 162).

a. Faktor-faktor dalam diri individu

Banyak faktor yang ada dalam diri individu atau si pelajar

yang mempengaruhi usaha dan keberhasilan belajarnya.

Faktor-faktor tersebut menyangkut aspek jasmaniah mauapun rohaniah dari

individu. Aspek jasmaniah mencakup kondisi dan kesehatan dari

individu. Kondisi fisik menyangkut pula kelengkapan dan kesehatan

indra penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan

pencecapan. Aspek psikis atau rohaniah tidak kalah pentingnya

dalam belajar dengan aspek jasmaniah. Aspek psikis menyangkut

kondisi kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual,

sosial, psikomotor, serta kondisi afektif dan konaktif dari individu

(Sukmadinata, 2009: 162)

b. Faktor-faktor lingkungan

Keberhasilan belajar juga sangat dipengaruhi oleh

faktor-faktor di luar diri siswa, baik faktor-faktor fisik maupun social-psikologis

yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam

pendidikan, memberikan landasan dasar bagi proses belajar pada

(39)

sekitar pasar atau terminal juga tempat-tempat hiburan berbeda

dengan di daerah khusus pemukiman. Suasana lingkungan rumah di

lingkungan pemukiman yang padat dan kurang bertata, juga berbeda

dengan pemukiman yang jarang dan tertata. Lingkungan sekolah

juga memegang peranan penting bagi perkembangan belajar para

siswanya. Sedangkan pada lingkungan masyarakat dimana sisw atau

individu berada juga berpengaruh terhadap semangat dan aktivitas

belajarnya (Sukmadinata, 2009: 163-165).

F. Pemahaman Konsep Fisika

Peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai

konsep yang dipelajari secara menyeluruh, bermakna, otentik, dan aktif.

Berdasarkan fakta di lapangan materi Fisika dianggap sulit oleh siswa.

Kecenderungan ini biasanya berawal dari pengalaman belajar siswa yang

cenderung menemukan kenyataan bahwa pelajaran Fisika adalah pelajaran

yang berhubungan dengan persoalan konsep, pemahaman konsep, dan

penyelesaian soal-soal yang rumit melalui pendekatan matematis (Mertha

Yasa, 2012 dalam Nursalam, 2016).

Pemahaman konsep dalam suatu pembelajaran sangatlah penting

ditanamkan kepada peserta didik agar materi yang diajarkan oleh guru

khususnya guru mata pelajaran Fisika dapat dicerna dengan baik oleh

(40)

22

G. Simulasi Komputer

Model pembelajaran modern yang sekarang banyak digunakan

dalam pembelajaran Fisika adalah simulasi komputer. Secara sederhana

simulasi komputer adalah model pembelajaran menggunakan program

komputer untuk mensimulasikan beberapa percobaan fisika, tidak lewat

percobaan di laboratorium, tetapi lewat monitor komputer dan siswa dapat

mempelajarinya dari simulasi itu (Suparno, 2007: 108). Penggunaan

simulasi ini sangat menguntungkan bagi guru maupun siswa. Siswa dapat

secara langsung mempelajari konsep-konsep Fisika tanpa harus ditunggui

oleh Guru dan dapat digunakan saat pelajaran berlangsung maupun di luar

jam pelajaran atau di luar kelas. Dengan adanya simulai ini siswa dapat

memahami konsep-konsep Fisika secara lebih mudah dan dapat

mengkonstruksi pengetahuannya sendiri secara baik dan lebih mudah.

Beberapa keuntungan pembelajaran dengan simulasi komputer

(Suparno, 2007: 110) yaitu:

a. Dapat dilakukan oleh siswa kapan pun termasuk di rumah sehingga

mereka dapat belajar lebih lama dan mengulangi bahan lebih lama

tanpa terikat guru, jam atau waktu;

b. Dapat menyajikan simulasi dari percobaan yang sulit dan alatnya

mahal, dengan cara yang murah dan mudah bahkan dapat dilihat siswa

lebih jelas. Misalnya percobaan nuklir, dapat dilihat dalam simulasi

(41)

c. Reaksi dan kejadian mikro dapat disimulasikan dengan jelas dalam

model sehingga siswa makin jelas menangkap konsepnya. Misalnya,

model gerak atom atau molekul yang sulit dilihat mata dapat dilakukan

dengan simulasi komputer;

d. Di internet banyak sekali percobaan dengan simulasi yang dapat

dijadikan tugas siswa untuk mengamati dan mempelajarinya;

e. Para ahli miskonsepsi menemukan bahwa simulasi computer dapat

membantu menghilangkan miskonsepsi siswa karena siswa dapat

membandingkan pemikirannya yang tidak benar dengan simulasi yang

mereka lakukan dan lihat.

H. Simulasi PhET

Physics Education Technology (PhET) adalah simulasi yang dapat

digunakan siswa dalam proses pembelajaran untuk memahami suatu konsep

fisika berbasis komputer dengan mengakses aplikasi yang telah disediakan

di website http://phet.colorado.edu (Perkins, 2006: 18). Simulasi PhET

dapat membantu untuk memperkenalkan topik baru, membangun konsep

atau keterampilan, memperkuat ide, memberikan resensi akhir dan refleksi

(Wieman, 2010: 225). Simulasi PhET merupakan aplikasi game yang

mengandung unsur pembelajaran dan menjelaskan tentang topik tertentu.

Simulasi PhET ini dapat diunduh dalam bentuk java dan flash. Selain itu,

juga dapat diunduh secara gratis dan dipasang pada komputer (perangkat

(42)

24

Simulasi PhET disediakan untuk membantu siswa memahami

konsep fisika yang tidak dapat dibayangkan. Simulasi ini memudahkan

siswa untuk mempelajari konsep fisika lebih dalam lagi tanpa harus

melakukan percobaan di laboratorium. Melalui simulasi PhET siswa

diharapkan lebih paham mengenai materi yang diajarkan (Wieman, 2010:

225). Simulasi PhET dapat diunduh di website http://phet.colorado.edu

maka akan muncul tampilan awal seperti pada gambar 2.1 di bawah ini:

Gambar 2.1 Tampilan awal simulasi PhET

Pada tampilan awal di atas akan muncul menu unduh pada gambar

dan beberapa menu lainnya. Sebelum menggunakan PhET dapat memilih

unduh maka akan terunduh dengan menggunakan menu pilihan Java

maupun Adobe Flash dalam perangkat komputer. Kemudian akan muncul

beberapa menu, klik physics maka akan muncul beberapa pilihan

berdasarkan kategori seperti beta decay (peluruhan beta) atau buoyancy

(43)

maka tampilan tenaga apung. Maka akan muncul simulasi PhET materi

hukum Archimedes. Untuk menggunakan program, bisa diunduh terlebih

dahulu atau langsung dioperasikan dengan adanya jaringan internet.

Dalam penelitian ini simulasi PhET akan digunakan untuk materi

hukum Archimedes. Untuk tampilan PhET pada materi hukum Archimedes

dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 Tampilan awal simulasi PhET hukum Archimedes

Pada tampilan awal simulasi PhET di atas terdapat terdapat beberapa

pilihan ikon yang telah disediakan. Untuk masing-masing ikon akan

memiliki fungsi yang berbeda-beda. Untuk fungsi-fungsi dan cara kerja

simulasi PhET pada materi hukum Archimedes ini akan dijelaskan secara

(44)

26

I. Materi Hukum Archimedes

Materi Hukum Archimedes ini diambil dari beberapa referensi buku

fisika diantaranya:

 Fisika Edisi kelima Jilid 1 yang ditulis oleh Giancoli dan

diterbitkan oleh penerbit Erlangga pada tahun 2001.

 Fisika untuk SMA/MA Kelas X kurikulum 2013 yang

ditulis oleh Kanginan dan diterbitkan oleh penerbit Erlangga pada

tahun 2013.

Ketika benda dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida, gaya

apung akan bekerja pada benda itu. Gaya apung tersebut berbanding lurus

dengan volume benda yang tercelup dan massa jenis fluida. Gaya ke atas atau

gaya apung bernilai maksimum jika seluruh bagian benda tercelup di dalam

fluida. Semakin besar massa jenis fluida, semakin besar gaya apungnya, dan

sebaliknya. Fakta ini pertama kali ditemukan oleh Archimedes. Berdasarkan

beberapa percobaan, Archimedes menyatakan suatu prinsip yang selanjutnya

dikenal sebagai prinsip Archimedes.

Benda-benda yang dimasukkan ke dalam fluida mempunyai berat yang

lebih kecil dari pada saat berada di luar fluida tersebut. Sebagai contoh sebuah

batu yang besar mungkin akan terasa sulit saat diangkat dari tanah dan terasa

mudah dari dasar sungai. Banyak benda, seperti kayu, mengapung di

permukaan air. Itu menunjukkan bahwa terdapat gaya lain yang bekerja

terhadap benda yang melawan gaya berat benda. Gaya ini adalah gaya apung

(45)

1. Gaya apung atau gaya ke atas

Ketika sebuah benda dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam

sebuah fluida (zat cair atau gas), maka fluida akan mengerjakan gaya ke atas

pada benda itu yang besarnya sama dengan berat fluida yang di pindahkan.

Gaya ke atas yang dialami oleh sebuah benda ketika tercelup sebagian atau

seluruhnya di dalam sebuah fluida disebut gaya apung.

Besar gaya apung bergantung pada volume benda yang tercelup dan fluida

yang dipindahkan (didesak). Suatu benda yang dicelupkan seluruhnya dalam

zat cair selalu menggantikan volume zat cair yang sama dengan volume benda

itu sendiri. Archimedes mengaitkan antara gaya apung dengan volume zat cair

yang dipindahkan benda (Kanginan, 2013: 270). Besarnya gaya apung juga di

pengaruhi oleh massa jenis fluida. Semakin besar massa jenis fluida, semakin

besar gaya apungnya, dan sebaliknya. Oleh karena itu, berat benda yang

tercelup dalam fluida selalu lebih kecil daripada berat benda sesungguhnya

akibat adanya gaya apung.

(46)

28

Perhatikan sebuah silinder dengan tinggi h dan luas A yang tercelup

seluruhnya di dalam zat cair dengan massa jenis

ρ

f (lihat gambar 2.3)

.

Fluida

melakukan tekanan hidrostatik P1 = ρf.g.h1 pada bagian atas silinder. Gaya yang

berhubungan dengan tekanan adalah F1 = P1.A sehingga F1 = ρf.g.h1.A dengan

arah ke bawah. Dengan cara yang sama fluida juga melakukan tekanan

hidrostatis F2 = P2A = ρf.g.h2.A dengan arah ke atas. Resultan kedua gaya ini

adalah gaya apung Fa.

Hukum Archimedes berlaku untuk semua fluida (zat cair atau gas). Vbf =

volume silinder yang tercelup dalam fluida. Jika benda tercelup semuanya, Vbf

= volume benda. Tetapi jika benda hanya tercelup sebagiannya, Vbf = volume

benda yang tercelup dalam fluida saja. Tentu saja kasus ini, Vbf < volume

benda. Karena massa jenis (ρ) adalah massa (m) dibagi volume (V), maka m =

ρ.V dengan m adalah massa zat cair yang dipindahkan. Dengan demikian gaya

apung pada silinder sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh silinder

tersebut. Hal ini merupakan penemuan Archimedes (218 – 212 SM) dan

(47)

“jika sebuah benda dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam suatu

fluida, maka benda tersebut mengalami gaya apung atau gaya ke atas yang

besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan.”

2. Mengapung, Melayang dan Tenggelam

Ada tiga peristiwa yang dapat terjadi apabila suatu benda dicelupkan ke

dalam zat cair atau fluida, yaitu:

a. Mengapung

Benda mengapung jika sebagian benda tercelup di dalam zat cair dan

sebagian lainnya masih berada di udara (lihat gambar 2.4). Jika volume

benda tercelup sebesar Vbf maka dalam keadaan setimbang berat benda

sama dengan gaya ke atas. Dalam keadaan ini, volume benda Vb lebih besar

dibandingkan volume fluida yang dipindahkan Vbf. Benda mengapung

terjadi apabila benda memiliki massa jenis lebih kecil daripada massa jenis

zat cair.

Jika ditulis dengan persamaan adalah:

FA = W

(48)

30

persamaan tersebut diketahui bahwa syarat benda mengapung adalah

massa jenis benda lebih kecil dari massa jenis fluida, dikarenakan hanya

sebagian volume benda yang tercelup dalam fluida.

Gambar 2.4 Mengapung

b. Melayang

Peristiwa melayang adalah keadaan dimana benda tercelup

seluruhnya namun tidak menyentuh dasar permukaan fluida (lihat gambar

2.5). Dalam keadaan melayang Fa = W, dimana volume benda Vb sama

dengan volume fluida yang dipindahkan (Vbf ). Sehingga benda akan

melayang apabila massa jenis benda bernilai sama dengan massa jenis zat

cair. Karena Vb = Vbf apabila dimasukkan ke persamaan (2.4) maka ρf = ρb

Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa syarat benda melayang adalah

perbandingan antara volume benda tercelup yang tidak mengenai dasar

permukaan fluida sama dengan volume benda seluruhnya dan massa jenis

benda sama dengan massa jenis fluida

(49)

c. Tenggelam

Peristiwa tenggelam adalah keadaan dimana suatu benda tercelup

sepenuhnya dan menyentuh dasar permukaan fluida (lihat gambar 2.6).

Pada benda tenggelam, besar gaya ke atas kurang dari berat bendanya. Saat

menyentuh dasar permukaan fluida, selain gaya apung terdapat gaya lain

yang searah dengan gaya apung yaitu gaya normal. Gaya normal adalah

gaya yang tegak lurus bidang yang ada ketika benda menyentuh zat padat.

Pada keadaan setimbang berlaku:

FA + N = W

mf. g + N = mb. g

ρf . g . Vbf + N = ρb . g . Vb

ρf = 𝜌𝑏𝑉𝑏

𝑉𝑏𝑓 – N (2.5)

karena Vb = Vbf maka ρb > ρf

Dari persamaan tersebut diketahui bahwa syarat benda tenggelam

adalah perbandingan volume benda tercelup yang menyentuh dasar

permukaan fluida sama dengan volume benda seluruhnya dan massa jenis

benda lebih besar dari massa jenis fluida.

(50)

32

3. Penerapan Hukum Archimedes dalam Kehidupan Sehari-hari a. Kapal Laut

Massa jenis besi lebih besar daripada massa jenis air laut, tetapi

mengapa kapal laut yang terbuat dari besi dapat mengapung di atas laut?

Badan kapal yang terbuat dari besi dibuat berongga. Ini menyebabkan

volume air laut yang dipindahkan oleh badan kapal menjadi sangat besar.

Gaya apung sebanding dengan volume air yang dipindahkan, sehingga

gaya apung terjadi sangat besar. Gaya apung ini mampu mengatasi berat

total kapal, sehingga kapal laut mengapung di permukaan laut. Jika

dijelaskan berdasarkan konsep massa jenis, massa jenis rata-rata besi

berongga dan udara yang menempati rongga masih lebih kecil daripada

massa jenis air laut. Itulah sebabnya kapal mengapung.

b. Kapal Selam

Sebuah kapal selam memiliki tangki pemberat yang terletak di

antara lambung sebelah dalam dan lambung sebelah luar. Tangki ini dapat

diisi udara atau air. Tentu saja udara lebih ringan daripada air. Mengatur

isi tangki pemberat berarti mengatur berat total kapal. Sesuai dengan

konsep gaya apung, berat total kapal selam akan menentukan apakah

kapal akan mengapung atau menyelam. Semakin dalam kapal selam

menyelam, maka akan makin besar tekanan hidrostatis yang dialaminya.

Manusia tidak dapat menyelam lebih dari kedalaman 120 m karena

(51)

menyelam jauh ke dalam laut karena memiliki lambung yang tebal untuk

menahan tekanan hidrostatis air yang besar.

c. Balon Udara

Seperti halnya zat cair, udara (termasuk fluida) juga melakukan gaya

apung seperti pada benda. Gaya apung yang dilakukan di udara pada

benda sama dengan berat udara yang dipindahkan oleh benda. Sebuah

balon udara yang diisi dengan gas panas memiliki prinsip kerja sebagai

berikut: Mula-mula balon diisi dengan gas panas hingga menggelembung

dan volumenya bertambah. Bertambahnya volume balon berarti

bertambah pula volume udara yang dipindahkan oleh balon. Hal ini berarti

gaya apung bertambah besar. Suatu saat gaya apung sudah lebih berat

daripada berat total balon (berat balon dan muatan), sehingga balon mulai

bergerak naik.

Awak balon udara terus menambah gas panas sampai balon itu

mencapai ketinggian tertentu. Setelah ketinggian yang diinginkan

tercapai, awak balon mengurangi gas panas sampai tercapai gaya apung

(52)

35 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif. Penelitian

kuantitatif adalah desain riset yang menggunakan data berupa skor atau angka,

lalu menggunakan analisis dengan statistika (Suparno, 2010: 135).

Pada penelitian ini, peneliti mengukur peningkatan hasil belajar siswa yang

dapat diukur dengan memberikan pretest dan posttest untuk masing-masing

sampel. Soal-soal pretest dan posttest dibuat berdasarkan tingkatan menurut

Taksonomi Bloom.

B. Desain Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan pretest-posttest group control (kelas

kontrol dan kelas eksperimen). Penelitian ini menggunakan sampel dua kelas,

satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas sebagai kelas treatment. Kelas

treatment adalah kelas yang diberikan perlakuan khusus yaitu simulasi PhET

dimana sebelum menggunakan simulasi PhET akan diberikan pretest untuk

mengukur pemahaman awal siswa terkait materi hukum Archimedes.

Sedangkan kelas kontrol merupakan kelas yang diberi perlakuan dengan metode

pembelajaran ceramah interaktif dan tetap diberikan soal pretest terlebih

(53)

diberikan sebelum kelas mendapat treatment dan posttest diberikan setelah

kelas mendapat treatment. Desain penelitian yang akan digunakan sebagai

berikut:

Kelas Treatment O1 X1 O1’

Kelas Kontrol O2 X2 O2’

Keterangan:

O1= Pretest kelas Treatment

O2= Pretest kelas Kontrol

O1= Posttest kelas Treatment

O2’= Posttest kelas Kontrol

X1= Pembelajaran dengan simulasi PhET

X2= Pembelajaran dengan ceramah interaktif

C. Subyek Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X1 SMA Negeri

2 Ngaglik tahun ajaran 2018/2019. Kelas yang digunakan untuk penelitian

(54)

37

2. Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 MIPA 3 dan XI

MPA 4 SMA Negeri 2 Ngaglik. Kelas XI MIPA 4 sebagai kelas treatment

sejumlah 32 siswa dan kelas XI MIPA 3 sebagai kelas kontrol sejumlah 31

siswa.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian - Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Ngaglik kelas X1 MIPA

semester ganjil. Lokasi ini dipilih karena beberapa pertimbangan,

diantaranya:

a) SMA Negeri 2 Ngaglik belum menerapkan metode PhET pada

pembelajaran fisika khusunya materi Hukum Archimedes.

b) Tersedianya fasilitas yang dibutuhkan oleh peneliti dalam

melaksanakan penelitian ini.

c) Kepala sekolah SMA Negeri 2 Ngaglik mendukung dilakukannya

penelitian ini karena peneliti pernah melaksanakan PPL di SMA

Negeri 2 Ngaglik dan jarang adanya penelitian yang dilakukan di

SMA Negeri 2 Ngaglik.

d) Guru mata pelajaran Fisika mendukung dilakukan penelitian ini

karena menggunakan metode pembelajaran yang baru dan dirasa

(55)

- Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2018.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2013, dimana lebih

menekankan pada metode saintifik.

D. Variabel Penelitian

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas merupakan variabel yang diukur, dimanipulasi, atau

dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu

gejala yang diobservasi (Sarwono, 2006: 54). Variabel bebas dalam

penelitian ini berupa model pembelajaran yang digunakan yaitu simulasi

Phet. Variabel terikat adalah variabel yang variabelnya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel

bebas (Sarwono, 2006: 54). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah

hasil belajar siswa.

E. Treatment

Treatment adalah perlakuan kepada subyek yang akan diteliti agar

nantinya didapatkan data yang diinginkan (Suparno, 2010: 51).

Treatment yang diberikan dalam penelitian ini adalah simulasi PhET.

Model pembelajaran ini mengajak siswa untuk memahami konsep

tentang gaya apung dan hukum archimedes. Siswa dapat memvariasikan

(56)

39

mengkontruksi sendiri pengetahuannya. Untuk proses pembelajaran

dengan simulasi PhET dapat dilihat dalam rencana proses pembelajaran.

Gambaran rencana pembelajaran yang akan dilakukan untuk kelas

treatment sebagai berikut:

1. Peneliti meng-instal aplikasi PhET disetiap komputer yang akan

digunakan untuk proses pembelajaran. Selain itu hal lain yang

dilakukan adalah memastikan komputer yang akan digunakan

apakah bisa terhubung dengan jaringan yang baik atau tidak.

2. Siswa-siswi kelas treatment diberikan soal pretest.

3. Sebelum menggunakan simulasi PhET, materi gaya apung dan

hukum Archimedes dijelaskan terlebih dahulu kepada siswa serta

mengenai simulasi PhET dan cara penggunaannya juga

dijelaskan.

4. Siswa dipersilahkan untuk mencoba simulasi PhET secara

individu dengan bantuan Lembar Kerja Siswa. Siswa harus

menjawab beberapa pertanyaan yang ada pada lembar kerja

siswa. Lembar kerja siswa yang digunakan berisi tentang materi

gaya apung dan hukum Archimedes.

5. Siswa diminta untuk menyimpulkan hasil dari pembelajaran yang

dilakukan dengan menggunakan simulasi PhET.

6. Siswa mengerjakan soal posttest.

Rencana Proses Pembelajaran yang lengkap untuk setiap pertemuan

(57)

Untuk kelas kontrol digunakan metode pembelajaran ceramah

interaktif. Kelas kotrol digunakan sebagai pembanding untuk kelas

treatment. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan antara

kelas treatment dan kelas kontrol. Gambaran rencana pembelajaran

yang akan dilakukan untuk kelas kontrol sebagai berikut:

1. Siswa mengerjakan soal pretest yang telah diberikan oleh

peneliti.

2. Materi gaya apung dan hukum Archimedes dijelaskan dengan

metode ceramah, yaitu dengan menampilkan video

pembelajaran yang berisi fenomena-fenomena fisika berkaitan

dengan materi gaya apung dan Hukum Archimedes.

3. Siswa diberikan beberapa soal latihan mengenai materi

pembelajaran yaitu gaya apung dan hukum archimedes agar

siswa dapat menerapkan konsep gaya apung dan hukum

archimedes dalam menyelesaikan suatu persoalan.

4. Siswa mengerjakan soal postest.

Rencana Proses Pembelajaran yang lengkap untuk setiap pertemuan

(58)

41

F. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Bentuknya dapat berupa: tes tertulis, angket,

wawancara, dokumentasi dan observasi (Suparno, 2007: 56). Dalam

penelitian ini instrumen yang digunakan dibagi menjadi 2 yaitu

instrument proses belajar dan instrument pengumupulan data.

1. Instrumen Proses Belajar

Instrumen pada proses belajar yang digunakan oleh peneliti adalah Lembar Kerja Siswa (LKS), LKS berisi tentang petunjuk

penggunaan simulasi PhET tentang gaya apung dan hukum

Archimedes. LKS yang digunakan memuat tujuan, dasar teori,

langkah percobaan penggunaan PhET, tabel data percobaan,

pertanyaan untuk bahan diskusi dan kesimpulan.

Selain LKS, juga digunakan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP). RPP dibuat untuk membantu peneliti selama

proses mengajar di kelas agar sesuai dengan Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar.

Lembar kerja siswa dapat dilihat pada lampiran 10 dan Rencana

(59)

2. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini berupa tes, angket dan wawancara.

a. Tes

Tes dapat berupa lembar kerja atau sejenisnya yang dapat

digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan

kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen berupa tes

ini berisi soal-soal tes yang terdiri atas butir-butir soal. Setiap

butir soal mewakili satu jenis variabel yang diukur (Trianto,

2011: 264).

Intrumen yang berbentuk tes, dapat terdiri dari dua kelompok

yaitu test standard dan test buatan sendiri (Suparno, 2007: 57).

Pada penelitian ini digunakan test buatan sendiri yaitu test

berbentuk essay. Test essay berbentuk pertanyaan dengan

jawaban bebas. Keuntungan model tes ini adalah siswa dapat

bebas mengeluarkan gagasannya, sehingga dapat dimengerti

sejauh mana siswa memahami persoalan (Suparno, 2007: 59)

Dalam penelitian ini soal tes yang digunakan berupa pretest

dan posttest. Soal dibuat berdasarkan kisi-kisi yang berpedoman

(60)

43

Tabel 3.1. Kisi-Kisi Soal Pretest dan Posttest

No. Aspek Indikator Soal Jawaban balok kayu melalui darat atau air, manakah kira-kira yang lebih berat baloknya?

Lebih berat saat di darat, hal ini terjadi karena saat balok ditimbang di dalam air, benda akan mengalami gaya apung sehingga menjadi lebih ringan saat ditimbang di dalam air.

Jika ¼ bagian benda tidak tercelup dalam

(61)

b). Dik: Berat benda di udara = berat benda (W): 5 Newton Berat benda di dalam

air : 3,2 Newton Berat benda di dalam

(62)

45

(63)

tiga wadah berisikan air

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis untuk

memperoleh informasi dari responden yang ingin diketahui

(Suparno, 2007: 61). Dalam penelitian bentuk angket yang

digunakan adalah angket terbuka, yaitu responden dapat

menjawab dengan kalimatnya sendiri. Angket ini berupa

pendapat responden terhadap pembelajaran yang telah dilakukan

oleh peneliti. Dalam penelitian angket diselipkan dalam soal

pretest maupun soal postest. Soal angket terdapat pada soal

nomor terakhir untuk pretest maupun postest. Angket ini berisi

pendapat siswa mengenai setuju atau tidaknya penerapan metode

(64)

47

c. Wawancara

Wawancara adalah semacam kuesioner lisan, suatu dialog

yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang

diperlukan. Wawancara dibedakan dalam pelaksanaan yaitu

wawancara bebas, wawancara terpimpin dan wawancara bebas

terpimpin (Suparno, 2007: 62).

Penelitian ini menggunakan wawancara yang dilakukan

secara terpimpin/ terstruktur dimana pewawancara membawa

sederetan pertanyaan lengkap dan terpimpin. Adapun contoh

daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa kelas

treatment adalah sebagai berikut:

1. Apakah kamu bisa mengerjakan soal pretest dengan baik? 2. Apa yang kamu ketahui tentang Hukum Archimedes? 3. Apakah kamu pernah mendengar tentang simulasi PhET? 4. Apa kesan pertamamu setelah mendengar bahwa pembelajaran

akan berlangsung dengan menggunakan simulasi PhET?

Berikan alasanmu!

5. Bagaimana tanggapanmu mengenai pembelajaran dengan menggunakan simulasi PhET?

6. Apakah kamu memahami materi hukum Archimedes setelah mengikuti pembelajaran menggunakan simulasi PhET?

(65)

7. Apakah kamu bisa mengerjakan soal posttest dengan baik setelah mengikuti pembelajaran menggunakan simulasi PhET?

Berikan alasanmu!

G. Validitas Instrumen

Validitas mengukur atau menentukan apakah suatu test sungguh

mengukur apa yang mau diukur, yaitu apakah sesuai dengan tujuan (valid

untuk). Validitas menunjuk pada kesesuaian, kepenuh-artian, bergunanya

kesimpulan yang dibuat peneliti berdasarkan data yang dikumpulkan. Suatu

tes disebut valid bila memang mengukur yang mau diukur (Suparno, 2007:

67-68).

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi

(Content Validity). Artinya mengukur apakah isi dari instrumen yang akan

digunakan sungguh mengukur isi dari domain yang mau diukur (Suparno,

2007: 68).

Instrumen yang akan divaliditas adalah soal pretest dan posttest.

Soal pretest dan posttest sudah dibuat berdasarkan kisi-kisi yang divalidasi

oleh Drs. Domi Severinus, M.Si selaku dosen yang ahli dalam bidang

(66)

49

H. Metode Analisis Data 1. Teknik Penskoran

Dalam penelitian ini penskoran untuk masing-masing kriteria dapat

dilihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Teknik Penskoran untuk Aspek Kognitif dan aspek Psikomotorik

1. Aspek Kognitif “Menjelaskan” soal nomor 1 :

No. Indikator yang dinilai Skor

1. Siswa dapat menjelaskan konsep pengaruh gaya apung terhadap berat benda.

15

2. Siswa menjawab 75% konsep pengaruh gaya apung terhadap berat benda. dengan benar

11

3. Siswa menjawab 50% konsep pengaruh gaya apung terhadap berat benda.dengan benar

7

4. Siswa menjawab 25 % konsep pengaruh gaya apung terhadap berat benda dengan benar

3

5. Menuliskan jawaban namun salah 1

Skor Maksimal 15

2. Aspek kognitif “Aplikasi Hitungan” nomor 2 :

(1) Menuliskan

No. Indikator yang dinilai Skor

(67)

(2) Penyelesaian

3. Aspek kognitif “Menjelaskan” soal nomor 3 :

No. Indikator yang dinilai Skor

A B

1. Siswa dapat menjelaskan hubungan massa jenis terhadap peristiwa Terapung, Melayang, dan Tenggelam.

15 15

2. Siswa menjawab 75% hubungan massa jenis terhadap peristiwa Terapung, Melayang, dan Tenggelam.. dengan benar

11 11

3. Siswa menjawab 50% hubungan massa jenis terhadap peristiwa Terapung, Melayang, dan Tenggelam dengan benar

7 7

4. Siswa menjawab 25 % hubungan massa jenis terhadap peristiwa Terapung, Melayang, dan Tenggelam dengan benar

1. Siswa dapat menyelesaikan perhitungan dengan rumus benar

15 20

2. Siswa dapat menyelesaika perhitungan dengan rumus benar namun ada kesalahan perhitungan

8 13

(68)

51

4. Aspek Psikomotorik soal nomor 4 :

No Indikator yang dinilai Skor

1. Siswa dapat merancang contoh nyata dengan benar 100

2. Siswa dapat merancang 75 % contoh nyata dengan

5 Siswa dapat merancang contoh nyata tetapi salah 2

6 Siswa tidak mengerjakan soal 0

2. Klasifikasi

Skor diklasifikasi dengan cara seperti pada tabel 3.3 dan tabel 3.4.

Tabel 3.3. Klasifikasi tingkat hasil belajar siswa pada aspek kognitif

Figur

Tabel 4.20 Hasil Tanggapan Siswa pada Aspek Afektif Kelas Kontrol ........ 89
Tabel 4 20 Hasil Tanggapan Siswa pada Aspek Afektif Kelas Kontrol 89 . View in document p.16
Tabel 2.1 Rangkuman Dimensi Proses Kognitif
Tabel 2 1 Rangkuman Dimensi Proses Kognitif . View in document p.28
Gambar 2.1 Tampilan awal simulasi PhET
Gambar 2 1 Tampilan awal simulasi PhET . View in document p.42
Gambar 2.2 Tampilan awal simulasi PhET hukum Archimedes
Gambar 2 2 Tampilan awal simulasi PhET hukum Archimedes . View in document p.43
Gambar 2.3 Menentukan rumus gaya apung
Gambar 2 3 Menentukan rumus gaya apung . View in document p.45
Gambar 2.4 Mengapung
Gambar 2 4 Mengapung . View in document p.48
Gambar 2.6 Tenggelam
Gambar 2 6 Tenggelam . View in document p.49
Tabel 3.1. Kisi-Kisi Soal Pretest dan Posttest
Tabel 3 1 Kisi Kisi Soal Pretest dan Posttest . View in document p.60
Tabel 3.2 Teknik Penskoran untuk Aspek Kognitif dan aspek
Tabel 3 2 Teknik Penskoran untuk Aspek Kognitif dan aspek . View in document p.66
Tabel 3.3. Klasifikasi tingkat hasil belajar siswa pada aspek
Tabel 3 3 Klasifikasi tingkat hasil belajar siswa pada aspek . View in document p.68
Tabel 4.1 Kegiatan Pelaksanaan Penelitian
Tabel 4 1 Kegiatan Pelaksanaan Penelitian . View in document p.74
gambar 4.1). Setelah mengerjakan LKS peneliti meminta 4 orang untuk
Setelah mengerjakan LKS peneliti meminta 4 orang untuk . View in document p.79
Gambar 4.5 Foto bersama kelas XI MIPA 3
Gambar 4 5 Foto bersama kelas XI MIPA 3 . View in document p.85
Tabel 4.3 Data Nilai Pretest dan Posttest Kelas Treatment dan
Tabel 4 3 Data Nilai Pretest dan Posttest Kelas Treatment dan . View in document p.87
Tabel 4.4 Hasil Angket Kelas Treatment
Tabel 4 4 Hasil Angket Kelas Treatment . View in document p.89
Tabel 4.6 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek
Tabel 4 6 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek . View in document p.91
Tabel 4.7 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek
Tabel 4 7 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada Aspek . View in document p.92
Tabel 4.9 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada
Tabel 4 9 Klasifikasi Tingkat Hasil Belajar Siswa pada . View in document p.93
Tabel 4.11 Perbandingan Pretest dan Posttest Kelas Treatment
Tabel 4 11 Perbandingan Pretest dan Posttest Kelas Treatment . View in document p.95
Tabel 4.12 Perbandingan Pretest dan Posttest untuk Kelas Kontrol
Tabel 4 12 Perbandingan Pretest dan Posttest untuk Kelas Kontrol. View in document p.96
Tabel 4.13 Perbandingan Posttest Kelas Treatment dan
Tabel 4 13 Perbandingan Posttest Kelas Treatment dan . View in document p.97
tabel 4.14.
tabel 4.14. . View in document p.98
Tabel 4.15 Perbandingan pretest kelas treatment dan Kelas
Tabel 4 15 Perbandingan pretest kelas treatment dan Kelas . View in document p.99
Tabel 4.16 Perbandingan Pretest dan Posttest kelas Treatment
Tabel 4 16 Perbandingan Pretest dan Posttest kelas Treatment . View in document p.100
Tabel 4.17 Perbandingan Pretest dan Posttest Kelas Kontrol
Tabel 4 17 Perbandingan Pretest dan Posttest Kelas Kontrol . View in document p.101
Tabel 4.18 Perbandingan Posttets Kelas Treatment dan Kelas Kontrol
Tabel 4 18 Perbandingan Posttets Kelas Treatment dan Kelas Kontrol . View in document p.103
Tabel 4.19 Hasil Tanggapan Siswa pada Aspek Afektif Kelas
Tabel 4 19 Hasil Tanggapan Siswa pada Aspek Afektif Kelas . View in document p.104
Tabel 4.20 Hasil Tanggapan Siswa pada Aspek Afektif
Tabel 4 20 Hasil Tanggapan Siswa pada Aspek Afektif . View in document p.106
tabel 4.7), menunjukkn hasil pretest siswa paling banyak masuk dalam
tabel 4.7), menunjukkn hasil pretest siswa paling banyak masuk dalam . View in document p.111
tabel 4.13 dapat dilihat bahwa hasil uji t independent posttest kelas
tabel 4.13 dapat dilihat bahwa hasil uji t independent posttest kelas . View in document p.114

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (206 Halaman)