BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. saham maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi

Teks penuh

(1)

10 2.1 Tinjauan Teoretis

2.1.1 Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan sangatlah penting karena dengan tingginya nilai perusahaan maka akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham. Semakin tinggi saham maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasi oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi pendanaan (financing) dan manajemen aset (Susanti, 2010).

Harga saham akan mencerminkan nilai perusahaan. Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual di saat terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan (Wahyudi dan Pawestri, 2006).

Nilai perusahaan dalam penelitian ini didefinisi sebagai nilai pasar, seperti halnya penelitian yang pernah dilakukan oleh Nurlela dan Islahudin (2008) karena

(2)

nilai perusahaan dapat memberi kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat. Semakin tinggi harga saham, maka semakin tinggi pula kemakmuran pemegang saham, untuk mencapai nilai perusahaan umumnya para pemodal menyerahkan pengelolaannya kepada para profesional. Para profesional diposisikan sebagai manajer ataupun komisaris (Nurlela dan Islahuddin, 2008).

Nurlela dan Ishaluddin (2008) menjelaskan bahwa enterprise value (EV) atau dikenal juga sebagai firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi investor, karena indikator bagi pasar menilai perusahaan secara keseluruhan dan menyebutkan juga bahwa nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli andai perusahaan tersebut dijual.

Menurut Susanti (2010), indikator-indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan diantaranya adalah:

1. PER (Price Earning Ratio) yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham (Usmandalam Mehendra, 2011). Rumus yang digunakanadalah:

Faktor-faktoryang mempengaruhi PER adalah: a. Tingkat pertumbuhan laba

b. Dividend payout ratio

c. Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal. PER =

Harga Pasar Saham Laba per Lembar Saham

(3)

Menurut Yusuf (2005), hubungan faktor-faktor tersebut terhadap price earning ratio dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Semakin tinggi pertumbuhan laba semakin tinggi price earning ratio-nya, dengan kata lain hubungan antara pertumbuhan laba dengan price earning ratio-nya bersifat positif. Hal ini dikarenakan bahwa prospek perusahaan di masa yang akan datang dilihat dari pertumbuhan laba, dengan laba perusahaan yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya yang dikeluarkan secara efisien. Laba bersih yang tinggi menunjukkan earning per share yang tinggi, yang berarti perusahaan mempunyai tingkat profitabilitas yang baik, dengan tingkat profitabilitas yang tinggi dapat meningkatkan kepercayaan pemodal untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut, sehingga saham-saham dari perusahaan yang memiliki price earning ratio yang tinggi pula, karena saham-saham akan lebih diminati di bursa sehingga kecenderungan harganya meningkat lebih besar.

b. Dividend payout ratio memiliki hubungan positif dengan price earning ratio, yang di dalamnya dividend payout ratio menentukan besarnya dividen yang diterima oleh pemilik saham dan besarnya dividen secara positif dapat mempengaruhi harga saham terutama pada pasar modal yang mempunyai strategi mengejar dividen sebagai target utama, maka semakin tinggi dividen semakin tinggi price earning ratio.

(4)

c. Semakin tinggi required rate of return (r) semakin rendah price earning ratio, (r) adalah tingkat keuntungan yang dianggap layak bagi investasi saham, atau disebut juga sebagai tingkat keuntungan yang diisyaratkan.

Price earning ratio adalah perubahan kemampuan laba yang diharap di masa yang akan datang. Semakin besar price earning ratio, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat meningkat nilai perusahaan.

2. PBV (Price Book Value) yaitu rasio harga pasar suatu saham terhadap nilai bukunya memberi indikasi pandangan investor atas perusahaan. Perusahaan dipandang baik oleh investor artinya perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman serta terus mengalami pertumbuhan (Brigham dan Houston, 2010:151).

2.1.2 Kinerja Keuangan

Kinerja perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individu yang dibuat secara terus menerus oleh pihak manajemen suatu perusahaan. Kinerja perusahaan sebagai emiten di pasar modal merupakan prestasi yang dicapai perusahaan yang menerbitkan saham yang mencerminkan kondisi keuangan dan hasil operasi (operating result) perusahaan tersebut dan biasanya diukur dalam rasio-rasio keuangan (Siregar, 2010).

Fabozzi (dalam Siregar, 2010) kinerja suatu perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara umum dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu faktor

PBV =

Harga Pasar per Saham Nilai Buku per Saham

(5)

internal dan faktor eksternal perusahaan. Faktor internal merupakan faktor-faktor yanng berada dalam kendali pihak manajemen perusahaan, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang berada di luar kendali manajemen.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan adalah: 1. Faktor Internal

a. Manajemen Personalia

Berkaitan dengan sumber daya manusia agar dapat didayagunakan seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan perusahaan secara manusiawi.

b. Manajemen Pemasaran

Berkaitan dengan program-program yang ditujukan untuk mencapai tujuan perusahaan.

c. Manajemen Produksi

Berkaitan dengan faktor-faktor produksi agar barang dan jasa sesuai dengan yang diharap.

d. Manajemen Keuangan

Berkaitan dengan perencanaan, mencari, dan memanfaatkan dana untuk memaksimumkan efisiensi perusahaan.

2. Faktor Eksternal

a. Kondisi perekonomian

Kondisi yang dipengaruhi kebijakan pemerintah, keadaan stabilitas politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain.

b. Kondisi Industri

(6)

Pengukuran kinerja perusahaan dengan menggunakan ukuran rasio sudah menjadi suatu parameter yang terbilang umum saat ini. Dalam penelitian-penelitian yang berkaitan dengan penilaian kinerja perusahaan dilakukan berdasarkan pada ketentuan: (1) hasil penelitian-penelitian sejenis sebelumnya, (2) menggunakan tolak ukur yang telah ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, (3) kelaziman dalam praktek, (4) mengembangkan model pengukuran melalui pengujian secara statistik terlebih dahulu dengan memilih tolak ukur yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Menurut Nainggolan (2004), kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu aspek penilaian yang fundamental mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dapat dilakukan berdasarkan analisis terhadap rasio-rasio keuangan perusahaan, antara lain: rasio likuiditas, rasio leverage, dan rasio profitabilitas yang dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu.

1. Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, laporan arus kas, dan catatan-catatan integral dari laporan keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2009).

Menurut Riyanto (1995), laporan keuangan memberi ikhtisar mengenai keadaan suatu perusahaan dan neraca mencerminkan nilai aset, hutang, dan modal sendiri pada suatu saat tertentu dan laporan laba rugi mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama periode tertentu.

Laporan keuangan merupakan data yang dapat memberi gambaran tentang keuangan perusahaan pada suatu perusahaan. Dengan interpretasi terhadap laporan

(7)

keuangan tersebut maka diharap laporan keuangan dapat memberi manfaat bagi pemakainya. Adanya analisi data keuangan pada periode tertentu memberi informasi tentang hasil-hasil yang telah dicapai dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan (Raharjo, 2005).

Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dengan segala keterbatasannya dapat menjadi alat dalam mengkomunikasi data keuangan suatu perusahaan dengan pihak-pihak berkepentingan. Pihak-pihak tersebut merupakan pihak yang ingin mengetahui secara mendalam tentang laporan keuangan suatu perusahaan, maka pihak-pihak tersebut akan memberi tekanan metode analisis yang berbeda-beda sesuai dengan kepentingan masing-masing (Raharjo, 2005).

Harmanto (dalam Raharjo, 2005) melalui laporan keuangan dapat diperoleh informasi-informasi yang penting suatu perusahaan yaitu:

a. Informasi tentang sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal perusahaan

b. Informasi mengenai sumber-sumber ekonomi, harta atau kekayaan bersih yang timbul dalam aktivitas perusahaan dalam rangka memperoleh laba.

c. Informasi mengenai hasil usaha perusahaan yang dapat dipakai sebagai dasar untuk menilai dan membuat estimasi tentang kemampuan perusahaaan dalam menghasilkan laba.

d. Informasi mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban yang disebabkan oleh aktivitas pembelanjaan dan investasi.

e. Informasi penting lainya yang berhubungan dengan laporan keuangan seperti kebijakan akuntansi yang diterapkan di perusahaan.

(8)

2. Rasio Keuangan

Rasio keuangan dirancang untuk membantu mengevaluasi laporan keuangan. Analisis laporan keuangan yang mencangkup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan, dan kekuatan dibidang finansial akan sangat membantu dalammenilai prestasi manajemen dimasa lalu dan prospeknya dimasa datang. Datang analisi keuangan ini dapat diketahui kekuatan serta kelemahan yang dimiliki oleh seorang business enterprise. Rasio tersebut dapat memeberi indikasi apakah perusahaan memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban finansialnya, besarnya piutang yang cukup rasional, efisiensi manajemen persediaan, perencanaan pengeluaran investasi yang baik, dan struktur modal yang sehat sehingga tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat dicapai (Andinata, 2010).

Dengan menganalisi prestasi keuangan, seorang analisi keuangan akan dapat menilai apakah manajer keuangan dapat merencanakan dan mengimplementasikan ke dalam setiap tindakan secara konsisten dengan tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Di samping itu, analisi semacam ini juga dapat dipergunakan oleh pihak lain bank, untuk menilai apakah cukup beralasan (layak) untuk memberikan tambahan dana atau kredit baru, dan calon investor untuk memproyeksikan prospek perusahaan di masa datang (Andinata, 2010).

Penggunaan analasis rasio keuangan ini sangat bervariasi dan tergantung oleh pihak yang memerlukan. Di samping itu juga perlu disadari bahwa analisis rasio keuangan ini hanya memberi gambaran satu sisi saja, oleh sebab itu masih diperlukan lagi tambahan data agar lebih baik. Analisis rasio keuangan ini hanya bermanfaat apabila dibanding dengan standar yang jelas, seperti standar industri,

(9)

kecendurangan atau standar tertentu sebagai tujuan manajemen. Selain itu perlu diperhatikan apabila membandingkan rasio satu perusahaan dengan perusahaan yang lain adalah menyangkut sistem akuntansi yang dipergunakan (Andinata, 2010).

Sartono (2001) menjelaskan bahwa analisis rasio keuangan dikelompokkan menjadi empat:

a. Rasio likuiditas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada waktunya.

b. Rasio aktivitas, menunjukkan sejauh mana efesiensi perusahaan dalam menggunakan aset untuk memperoleh penjualan.

c. Financial leverage ratio, menunjukkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban baik itu jangka pendek maupun jangka panjang.

d. Rasio profitabilitas, dapat mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan, aset maupun laba bagi modal sendiri.

Ang (1997) menyatakan bahwa rasio keuangan yang sering digunakan untuk memprediksi harga saham dikelompokkan dalam lima jenis yaitu:

a. Rasio likuiditas (liquidity ratio), rasio ini menyatakan kemampuan perusahaan jangka pendek untuk memenuhi obligasi (kewajiban) yang jatuh tempo.

1) Current ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset lancar.

(10)

2) Quick ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek melalui aset lancar selain persediaan.

3) Cash ratio adalah rasio yag digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi keawjiban jangka pendek dengan kasa yang tersedia dalam perusahaan.

b. Rasio aktivitas (activity ratio), rasio ini menunjukkan kemampuan efisiensi perusahaan didalam memanfaatkan harta-harta yang dimilikinya.

1) Total asset turnover, kemampuan modal yang di investasi untuk menghasilakn revenue.

2) Receivable turnover, kemampuan dana yang ditanam dalam piutang suatu periode tertentu.

3) Average collection period, periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang.

4) Inventory turnover, kemampuan berputarnya dana yang ditanamkan dalam inventory pada suatu periode tertentu.

5) Average days inventory, periode penahanan persediaan rata-rata.

6) Working capital turnover, kemampuan modal kerja (netto) berputar dalam suatu periode siklus kas dari perusahaan.

c. Rasio profitabilitas (profitability ratio), rasio ini menunjukkan keberhasilan perusahaan di dalam menghasilkan laba (keuntungan).

(11)

1) Return on investment (ROI) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkanaset yang dimiliki perusahaan.

2) Return on equity (ROE) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan modal saham yang dimiliki perusahaan.

3) Profit margin, rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian laba terhadap penjualan.

d. Rasio solvabilitas (solvancy ratio), rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Rasio ini disebut juga leverage ratio.

1) Debt equity ratio (DER), mengukur tingkat penggunaan hutang terhadap total kepemilikan saham yang dimiliki oleh perusahaan.

2) Time interest earned, mengukur seberapa banyak laba operasi mampu membayar bunga hutang.

3) Debt to asset ratio (DAR), mengukur beberapa bagian dari kebutuhan dana yang dibelanjai dengan hutang atau beberapa barang dari aset yang digunakan untuk menjamin hutang.

e. Rasio pasar (market ratio), rasio ini menunjukkan informasi penting perusahaan yang di ungkapkan dalam basis per saham.

1) Earning per share (EPS), perbandingan laba bersih setelah pajak dengan jumlah saham yang diterbitkan.

(12)

2) Price earning ratio (PER), mengukur kinerja saham suatu perusahaan yang dicerminkan dari laba per saham pada suatu periode tertentu.

3) Price to book value (PBV), mengukur kinerja saham menurut nilai bukunya.

2.1.3 Likuiditas

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dalam sebuah perusahaan pengendalian likuiditas sangat penting, karena bertujuan menguji kecukupan dana perusahaan dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi. Selain itu likuiditas sangat diminati oleh kreditur, karena kreditur sangat tertarik menilai kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang yang segera harus dilunasi.

Menurut Husnan dan Pudjiastuti (2006:14),likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya yang harus segera dipenuhi. Prastowo dan Rifka (2005) likuiditas adalah menggambarkan kemampuan perusahaan tersebut dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Di dalam penelitian ini, alat ukur dalam mengukur rasio likuiditas adalah dengan menggunakan cash ratio (CR).Cash ratio ini menunjukkan tingkat keamanan (margin of safety) kreditor jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut. Cash ratio yang terlalu tinggi menunjukkan kelebihan uang kas atau aset lancar lainnya dibanding dengan yang dibutuhkan sekarang atau tingkat likuiditas yang rendah dari pada aset lancar dan sebaliknya (Munawir dalam Mahendra, 2011). Semakin tinggi cash ratio, maka akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar berbagai

(13)

tangguhannya (Horne, 2005). Dengan demikian semakin besar cash ratio maka semakin kecil initial return (Ardiansyah dalam Mahendra, 2011).

2.1.4 Leverage

Leverage adalah penggunaan aset atau dana dan untuk menggunakannya perusahaan harus membayar biaya tetap (Riyanto, 2001). Terdapat dua macam leverage yaitu operating leverage dan financial leverage. Dalam operating leverage, penggunaan aset dengan biaya tetap mengharap revenue yang diperoleh mampu menutup biaya tetap dan biaya variabel, sedangkan dalam financial leverage, penggunaan dana dengan beban tetap diharap mampu meningkatkan pendapatan per lembar saham.

Weston dan Brigham (1998) mendefinisi financial leverage sebagai tingkat penggunaan hutang sebagai sumber pembiayaan perusahaan. Financial leverage dapat diukur dengan menggunakan rasio leverage. Rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aset perusahaan dibiayai dengan hutang. Rasio leverage yang digunakan dalam penelitian ini adalah debt to equity ratio (DER). DER adalah rasio yang mengukur tingkat penggunaan hutang (leverage) terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki oleh perusahaan (Ang, 1997).Shareholder’s equity atau modal sendiri merupakan modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya (Riyanto, 2001).

Menurut Weston dan Brigham (2001), sebuah perusahaan yang menggunakan pendanaan hutang memiliki tiga implikasi penting:

(14)

1. Dengan meningkat pendanaa melalui hutang, para pemilik perusahaan atau pemegang saham dapat mempertahankan kendali mereka atas perusahaan dengan investasi yang terbatas.

2. Kreditur mensyaratkan adanya dana yang disediakan oleh pemilik perusahaan sebagai suatu batas keamanan, sehingga semakin tinggi proporsi jumlah modal yang diberi oleh pemegang saham maka semakin kecil risiko yang akan dihadapi oleh kreditur.

3. Apabila perusahaan memperoleh laba yang lebih besar dari pada bunga yang dibayarkan, maka pengembalian modal pemilik akan lebih besar.

Perusahaan yang memiliki rasio hutang lebih tinggi akan menghadapi risiko kerugian yang lebih besar pada kondisi ekonomi yang buruk (masa resesi), namun mimiliki tingkat pengembalian yang lebih tinggi pada kondisi perekonomian normal. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki rasio hutang rendah tidak akan menghadapi risiko kerugian yang besar pada masa resesi, namun peluang untuk meningkatkant tingkat pengembalian atas ekuitas pada kondisi ekonomi normal juga rendah (Weston dan Brigham, 2001).

2.1.5 Profitabilitas

Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu (Kasmir,2012:114). Laba merupakan ringkasan hasil bersih aktivitas operasi usaha dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam istilah keuangan. Laba ditugaskan untuk menyediakan baik pengukuran perubahan kekayaan pemegang saham selama periode maupun mengestimasi laba usaha sekarang, yaitu sampai sejauh mana

(15)

perusahaan dapat menutupi biaya operasi dan menghasilkan pengembalian kepada pemegang saham sehingga laba dikatakan sebagai indikator profitabilitas perusahaan. Laba merupakan satu-satunya faktor penentu perubahan nilai saham yang menunjukkan prospek perusahaan di masa yang akan datang (Subramanyam, 2010).

Brigham dan Houston (2006) menyatakan, profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan hutang pada hasil operasi. Menurut Fahmi (2011:168), profitabilitas adalah mengukur efektifitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan dengan penjualan maupun investasi.

Berdasarkan kedua difinisi tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas merupakan perhitungan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Profitabilitas dimaksud untuk mengukur efisiensi penggunaan aset perusahaan (atau mungkin sekelompok aset perusahaan) mungkin juga efisiensi ingin dikaitkan dengan penjualan yang berhasil diciptakan (Husnan dan Pudjiastuti, 2006). Oleh karena itu, profitabilitas ini dapat memberi ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan.

Di dalam penelitian ini, alat ukur dalam mengukur rasio profitabilitas adalah dengan menggunakan return on equity (ROE). Profitabilitas mengukur kemampuan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan seperti aset, modal atau penjualan perusahaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Rasio ini penting bagi pihak

(16)

pemegang saham untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pengolahan modal sendiri yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan (Sudana, 2011:22).

Menurut Kasmir (2012:204),return on equity adalah rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri secara keseluruhan menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri, semakin tinggi rasio ini semakin baik.

Rasio ini bisa dikatakan sebagai rasio yang paling penting dalam keuangan perusahaan ROE mengukur pengembalian absolut yang akan diberikan perusahaan kepada para pemegang saham. Rasio ini menunjukkan efisiensi modal sendiri, semakin tinggi rasio ini akan semakin baik (Kasmir, 2012:204).

2.1.6 Kebijakan Dividen

Salah satu return yang akan diperoleh para pemegang saham adalah dividen. Dividen merupakan bagian dari laba bersih yang dibagi kepada para pemagang saham (pemilik modal sendiri) Napa (1999:151). Menurut Sunariyah (2004:48), dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dividen merupakan proporsi pembagian laba yang diperoleh perusahaan yang dibagi kepada para pemegang saham perusahaan.

Menurut Sunariyah (2004), dividen yang dibagi kepada pemegang saham bisa berupa:

1. Dividen tunai (cash dividend)

Dividen tunai adalah dividen yang dibayar oleh emiten kepada para pemegang saham secara tunai setiap lembarnya.

(17)

Dividen saham merupakan pembayaran dividen dalam bentuk saham yaitu berupa pemberian tambahan saham kepada pemegang saham dalam jumlah yang sebanding dengan saham-saham yang dimiliki.

1. Faktor–faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Menurut Sudjaja dan Berlian (2001:230-231), faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen, yaitu:

a. Peraturan Hukum

Peraturan mengenai laba bersih menentukan bahwa dividen dapat dibayar dari laba yang terdahulu dan laba sekarang. Melindungi para kreditor dengan melarang pembayaran dividen yang menyedot yaitu membagi investasinya bukan membagi keuntungan peraturan mengenai tak mampu bayar.

b. Faktor Keuangan dan Ekonomi 1) Posisi likuiditas

Laba ditahan biasanya diinvestasi dalam bentuk aset yang diperlukan untuk menjalankan usaha. Suatu perusahaan yang keuntungannya luar biasa mungkin saja tidak membayar dividen karena likuiditasnya.

2) Perlunya membayar kembali pinjaman

Jika perusahaan telah membuat pinjaman untuk memperluas usahanya atau untuk pembiayaan lainnya, maka perusahaan dapat melunasi pinjamannya pada saat jatuh tempo atau dapat menyisihkan cadangan-cadangan untuk melunasi pinjaman itu nantinya, diputuskannya bahwa pinjaman itu akan dilunasi, maka biasanya harus ada laba ditahan.

(18)

Kontrak pinjaman apalagi jika menyangkut pinjaman jangka panjang seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen tunai. Pembatasan-pembatasan itu dimaksud untuk melindungi para kreditur.

4) Tingkat penjualan aset

Semakin cepat pertumbuhan perusahaan, semakin banyak dana yang dibutuhkan dikemudian hari serta semakin banyak laba yang harus ditahan dan tidak dibayarkan.

5) Tingkat laba

Laba dibagi kepada para pemegang saham atau tetap ditahan diperusahaan untuk digunakan kembali.

6) Stabilitas laba

Perusahaan yang labanya relatif teratur seringkali dapat memperkirakan bagaimana laba dikemudian hari. Perusahaan seperti itu kemungkinan besar akan membagi labanya dalam bentuk dividen dengan presentasi yang lebih besar dibanding dengan perusahaan yang labanya berfluktuasi.

7) Keputusan kebijakan dividen

Hampir semua perusahaan ingin mempertahan dividen per lembar saham pada tingkat yang konstan. Nilai dividen selalu terlambat dibanding dengan nilai keuntungan, artinya dividen itu baru akan dinaikkan jika sudah jelas bahwa meningkatnya laba itu benar-benar mantap dan nampak cukup permanen.

2.2 Rerangka Pemikiran

(19)

Gambar 1

Rerangka Pemikiran Teoretis Keterangan:

= Pengaruh secara parsial = Pengaruh secara moderating

2.3 Perumusan Hipotesis

2.3.1 Pengaruh Likuiditas terhadap Nilai Perusahaan

Likuiditas yang diproksikan dengan cash ratio, rasio ini dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar dari kas yang tersedia dalam perusahaan. Rasio ini mencerminkan kemampuan perusahaan untuk

Kebijakan Dividen

Nilai Perusahaan

Meningkatkan Nilai TujuanPerusahaan

Mendapat Laba

Likuiditas Leverage Profitabilitas

(20)

melunasi hutang lancarnya lebih tepat waktu dibanding current ratio maupun quick ratio. Menurut Siregar (2010) pengaruh likuiditas terhadap nilai perusahaan baik secara parsial dan simultan likuiditas berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang tercermin melalui harga sahamnya.

H1: Likuiditas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2.3.2 Pengaruh Leverage terhadap Nilai Perusahaan

Leverage yang diproksi dengan debt to equity ratio, aturan struktur financial konservatif memberi batas imbangan yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya modal asing dan modal sendiri. Para kreditur umumnya senang bila rasio ini rendah, semakin rendah rasio tersebut berarti semakin tinggi tinggkat pembelanjaan perusahaan yang disediakan oleh para pemegang saham dan semakin besar tingkat perlindungan kreditur dari kehilangan uang yang di investasikan ke perusahaan tersebut. Menurut Jhojor (2009) pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan telah menunjukkan secara parsial variabel leverage tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, tetapi secara simultan leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

H2: Leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

2.3.3 Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Profitabilitas yang diproksikan dengan ROE. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan modal sendiri yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat laba yang diperoleh, maka kemampuan perusahaan untuk membayar dividen juga akan semakin tinggi dan harga saham yang akan dihasilkan

(21)

perusahaan akan semakin tinggi. Menurut Susilo (2009) profitabilitas terhadap nilai perusahaan secara parsial dan simultan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

H3: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2.3.4 Dampak Kebijakan Dividen pada Pengaruh Likuiditas terhadap Nilai Perusahaan

Murtini (2008) menyatakan likuiditas yang dinilai dari arus kas bebas perusahaan memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Arus kas bebas mencerminkan kinerja manajemen keuangan dalam mengambil keputusan keuangan. Menurut Erlangga (2009) dividend payout ratio pada hakikatnya menentukan porsi keuntungan yang akan dibagikan kepada para pemegang saham, dan yang akan ditahan sebagai bagian dari laba ditahan, dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan dividen mempunyai dampak pada likuiditas terhadap nilai perusahaan.

H4: Kebijakan dividen memoderasi pengaruh positif likuiditas terhadap nilai

perusahaan.

2.3.5 Dampak Kebijakan Dividen pada PengaruhLeverage terhadapNilai Perusahaan

Menurut Hartini (2010)dampak kebijakan dividen tersebut terdapat hubungan antara nilai perusahaan dengan pembayaran dividen, arus kas bersih, leverage,dan earnings per share (EPS). Semakin tinggi nilai kesehatan suatu perusahaan akan

(22)

memberi keyakinan kepada pemegang saham untuk memperoleh pendapatan (dividen atau capital gain) di masa yang akan datang, sedangkan penelitian yang dilakukan Erlangga (2009) menunjukkan bahwa kebijakan dividen dapat memoderasi hubungan antara kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan.

H5: Kebijakan dividen memoderasi pengaruh negatifleverage terhadap nilai

perusahaan.

2.3.6 Dampak Kebijakan Dividen pada Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Penelitian mengenai dampak kebijakan dividen tersebut telah diteliti oleh Erlangga (2009) menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dan kebijakan dividen dapat memoderasi hubungan antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

H6: Kebijakan dividen memoderasi pengaruh positif profitabilitas terhadap nilai

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :